Tag Archive | "usaha sektor riil"

Pasar 30, 60 dan 160 Juta Orang, Siapa Yang Punya?


Berdasarkan data dari Internet World Stats yang untuk Indonesia nampaknya menggunakan data APJII, penetrasi pengguna Internet di Indonesia masih menempati ranking paling rendah dibandingkan negara-negara ASEAN. Penetrasi kita baru mencapai 12.5%, dibandingkan Singapore yang mencapai 72.4% – bahkan pendatang baru Vietnam sudah mencapai 25.7%.

Rendah dalam penetrasi tidak berarti rendah dalam jumlah pengguna. Karena penduduk Indonesia mencapai lebih dari 240 juta tahun lalu, penetrasi yang hanya 12.5% ini ? kini telah mencapai 30 juta pengguna internet di Indonesia sampai kwartal ke 3 tahun lalu. Pengguna internet di Indonesia saja, kurang lebih sama dengan jumlah penduduk 3 negara tetangga digabung yaitu Malaysia, Singapore dan Brunei.

Dari sudut pandang seorang pemasar, hal ini adalah luar biasa! Bayangkan, bila kita bisa menggarap pengguna internet di Indonesia saja ? Anda seperti memiliki pasar yang segede 3 negara tersebut di atas. Dan jangan lupa, pengguna internet Indonesia adalah juga tergolong masyarakat menengah atas ? yang daya beli rata-ratanya saya yakin tidak kalah dengan daya beli rata-rata penduduk di ke-3 negara tersebut.

Nah sekarang masalahnya adalah apakah di dalam pasar yang besarnya tahun lalu saja mencapai 30 juta orang tersebut, kita sebagai pasar (pembeli) saja? atau kita juga dapat menjadi pemasar (penjual)? Di sinilah peluang itu!

asia2010topUntuk berjualan di internet, tidak harus dibutuhkan modal yang besar. Bahkan perbedaan perusahaan raksasa dengan perusahaan kecil ? tidak begitu nampak bila keduanya tampil di internet. Di internet orang lebih membutuhkan reliability informasi dan layanan ketimbang ukuran perusahaan.

Dinar adalah contohnya. Di Indonesia Dinar hanya diproduksi oleh Logam Mulia ? PT. Aneka Tambang Tbk (BUMN) ? yaitu raksasa BUMN di bidangnya. Namun dalam hal penjualan Dinar via internet ? meskipun DinarIslam.Com hanya menjual satu jenis produk dari produsen raksasa ini, insya Allah pasar DinarIslam.Com tidak kalah dengan pasar yang dijangkau oleh produsennya sendiri.

Peluang-peluang semacam ini belum terjadi 10 tahun lalu misalnya. Ketika itu kami meluncurkan situs KeluargaMuslim.Com ? yang ditangani team yang kuat ? dan bermitra dengan organisasi sosial yang sudah besar, namun karena saat itu pengguna internet masih kurang dari 2 juta orang ? maka tidak banyak yang bisa digarap, sehingga situs tersebut hanya bisa bertahan 2 tahun.

Gambaran betapa besarnya pasar internet ini juga dapat dilihat di situs-situs baru yang kami luncurkan sebulan terakhir. Di KambingOnline.Com misalnya, ada iklan peluang investasi di industri perkambingan yang sedang kami bangun ? belum sebulan iklan ini sudah diminati oleh 1,757 peminat investasi sampai pagi ini.

Di situs Dinar World ada mainan Islami Zakati yang dalam 2 pekan diminati oleh 356 pengunjung. Masalah berapa banyak yang benar-benar terjadi terjadi transaksi, ini hanya masalah teknis untuk membuat produk/iklan lebih menarik, reliable dan deliverable, namun peluang besar itu benar-benar ada.

Melihat peluang yang besar tersebut, dan agar umat ini tidak hanya jadi pasar ? tetapi juga menjadi pemasar, maka angkatan Pesantren Wirausaha berikutnya (angkatan 12) yang akan kita adakan awal bulan depan ? insya Allah akan menggarap tema Netpreneur ini.

Netpreneurship yang kita bangun tidak hanya membangun bisnis dunia maya seperti bisnis dotcom pada umumnya, tetapi kita ingin membangun sektor riil yang didukung teknologi dunia maya untuk menjangkau pasar dan sumber dayanya. Sama seperti ketika kita membangun DinarIslam.Com; Dinar Islam secara fisiknya benar-benar ada ? sehingga bagi masyarakat yang kurang comfortable dengan transaksi internet tetap dapat bertransaksi secara fisik.

Demikian pula dengan KambingOnline.Com, kita hanya luncurkan setelah kandang-kandang kambing bertaraf Internasional terbangun, terisi dengan kambing dan bahkan sudah menghasilkan bibit kambing dan susu kambing.

Dengan langkah-langkah ini, kita ingin mengajak umat agar menjadikan teknologi internet yang mau tidak mau telah hadir dalam kehidupan kita sebagai peluang untuk menggapai kedaulatan ekonomi. Bila pasar tersebut kini seukuran 30 juta orang, maka ketika penetrasi kita mencapai penetrasi yang sama dengan Vietnam saja di angka sekitar 25% – maka saat itu pasar ini ukurannya telah menjadi 60 juta orang minimal; ketika penetrasi internet kita menyamai Malaysia saat ini yaitu di angka sekitar 65%, maka pasar inipun minimal menjadi 160 juta orang!!! Lantas siapa lagi yang seharusnya menggarap pasar ini, selain kita?? Semoga Allah memudahan langkah kita ini. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Life Is A Beautiful Crochet


Tulisan kali ini terinspirasi oleh blog putri sulung saya crochetscorner.blogspot.com yang memuat hobinya yaitu membuat crochet (dibacanya krose), yaitu  sulaman atau rajutan benang untuk membuat baju, perlengkapan pribadi, peralatan rumah tangga, dlsb.

Awalnya dia hanya membuat baju untuk keperluan sendiri, baju wisudanya dia rajut sendiri dengan indah sehingga banyak menginspirasi orang lain. Kini bersama komunitas crochet-nya dia sedang memecahkan rekor untuk membuat masterpiece batik dari crochet yang terbesar di Indonesia ? yang otomatis juga di dunia.

Bagaimana dia merealisasikan idenya ini? Inilah yang menginspirasi saya untuk pengembangan bisnis sektor riil kita ke depan.

Membuat crochet sungguh pekerjaan yang memakan banyak waktu ? hanya para hobbyist yang bisa melakukannya dengan telaten. Untuk membuat material dari crochet seluas 1 m2 misalnya diperlukan waktu rata-rata 78 jam efektif ? tergantung tingkat keahlian dan kerapian kerjanya. Nah bisa dibayangkan waktu yang diperlukan untuk mencetak rekor batik crochet berpuluh meter persegi yang digagasnya tersebut ? bila harus dilakukannya sendiri.

Namun sekarang adalah era teknologi, dimana komunitas yang unique mudah sekali terbangun. Maka dia buatlah misi untuk memecahkan rekor ini bukan hanya pekerjaan dia, tetapi merupakan misi bersama komunitasnya. Melalui kontribusi seluruh komunitasnya-lah, insya Allah Juni 2010 ini rekor batik dari crochet terbesar di Indonesia dan dunia akan terpecahkan.

Lantas apa inspirasi penting yang bisa kita peroleh dari upaya putri saya bersama komunitas crochet-nya tersebut? Inspirasi kerja bareng bersama orang-orang yang memiliki kesamaan atau setidaknya kemiripan minat, untuk mewujudkan misi bersama ? inilah pelajaran yang kita petik.

Sebesar apapun pekerjaan ini, bila dilakukan bareng dengan saling melengkapi ? maka insya Allah akan terasa ringan dan lebih cepat tercapai.

Untuk proses membangun industri perkambingan yang ide awalnya dari gagasan para Santri Wirausaha di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin misalnya, sudah cukup jauh kami melangkah dalam 8 bulan terakhir. Sudah ada ratusan kambing yang kami pelihara, puluhan yang beranak, susu kambing segar-pun telah kami produksi dari kandang yang berstandar internasional ? namun ini semua masih sangat jauh dari yang kita ingin wujudkan.

Visi kita adalah membangun industri perkambingan nasional yang komplit, yang dengannya masyarakat kita bisa swasembada susu dan daging. Visi besar inilah yang terlalu berat bila kita ingin mencapainya sendirian.

Oleh karenanya terinspirasi proses pemecahan rekor crochet tersebut di atas, kami ingin membangun industri perkambingan ini bersama-sama dengan masyarakat yang memiliki ketertarikan yang sama atau mirip.

kambing-onlineBila putri saya menggunakan blog untuk membangun komunitasnya, maka saya gunakan web ini (yang sudah memiliki pengunjung banyak) untuk mulai menarik minat masyarakat. Kemudian untuk efektifitas sistem kerjasama antar para peminat industri perkambingan ini, kami telah siapkan pula portal khusus untuk industri perkambingan yaitu KambingOnline.Com.

Melalui situs kami yang terbaru ini para pelaku industri perkambingan dapat menawarkan atau mencari hal-hal yang diperlukan untuk usahanya. Misalnya kami sendiri di INDOLABAN saat ini masih memerlukan supply berbagai peralatan dan mesin-mesin untuk pengolahan susu, pengemasan dan pengolahan produk-produk turunannya seperti sabun susu, moisturizing, dlsb.

Kami yakin di luar sana banyak sekali supplier industri yang siap untuk menjadi mitra kami, hanya kami belum kenal saja…; nah melalui KambingOnline.Com kami berharap dapat mengenal lebih banyak pemain dari berbagai sisi untuk terwujudnya industri perkambingan nasional yang siap bersaing di pasar internasional.

Situs KambingOnline.Com tidak hanya bermanfaat bagi kami, bagi seluruh peminat industri perkambingan insya Allah situs ini akan memberi manfaat yang besar pula. Anda bisa memasang iklan gratis untuk mencari atau menawarkan barang atau jasa yang terkait dengan industri perkambingan. Melalui cara ini Anda akan mengenal dan kolaborasi dengan pemain yang lain di industri yang sama.

Insya Allah melalui kerjasama dengan ribuan anggota yang akan mendaftar di KambingOnline.Com ini nantinya, rajutan industri perkambingan nasional kita akan menghasilkan masterpiece industri ? Dari Kita Untuk Kita.

Life is a beautiful crochet; maka setiap kita bisa merajut karya bersama orang lain yang seminat ? untuk menghasilkan sebuah masterpiece dari bidang yang kita pilih yaitu kehidupan yang indah dan bermanfaat untuk sesama. Insya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Dinar Untuk Sektor Riil: Kini Bukan Hanya Teori


Di awal kami memperkenalkan Dinar, kami libatkan pengunjung situs ini untuk membiayai pencetakan Dinar agar tersedia cukup Dinar di masyarakat dengan program Qirad. Alhamdulillah dukungan para pengunjung lebih dari yang kami harapkan, sehingga program Qirad kini tidak lagi menerima peserta baru ? kecuali menggantikan peserta lama yang mundur.

Setelah kami tidak lagi menerima peserta Qirad baru; timbul banyak pertanyaan ke kami ? mengapa tidak diteruskan saja ? sehingga semakin banyak Dinar yang bisa dicetak dan diedarkan ke masyarakat? Ini betul, hanya kami tidak ingin kehilangan orientasi ? bahwa penggunaan Dinar sesungguhnya harus menjadi alat tukar yang adil yang mendorong berputarnya ekonomi masyarakat. Dengan kata lain, keberadaan Dinar harus bisa mendorong berputarnya sektor riil ? maka inilah yang kami fokuskan sekarang bersama para mitra kerja kami.

M-Dinar Saving Account

M-Dinar Saving Account

Dengan Mitra kerja BMT Daarul Muttaqiin misalnya; M-Dinar Saving Account yang kami perkenalkan pertengahan tahun lalu kini telah mulai membuahkan hasil. Bagi pemegang account M-Dinar; per pagi ini sudah bisa melihat bagi hasil yang diterima di accountnya masing-masing.

Bagi hasil ini sudah dihitung dalam bentuk Dinar dan dibagi berdasarkan saldo Dinar rata-rata harian para pemilik account. Anda akan melihatnya di rekening Anda dengan keterangan ?Bagi Hasil 01/10?, insya Allah kedepannya akan dibagikan setiap akhir bulan berdasarkan hasil bersih dari investasi dana yang dikelola BMT sampai bulan yang bersangkutan.

Jadi bagi Anda yang merasa ?ketinggalan? tidak bisa ikut program Qirad; insya Allah M-Dinar Saving Account-nya BMT Daarul Muttaqiin tidak kalah menariknya sekarang. Scope investasi yang didanainya lebih luas, tidak harus mengumpulkan 20 Dinar seperti di Qirad dan account ini sendiri lebih likuid dari Qirad karena bisa ditransaksikan setiap saat melalui fasilitas Dinar Exchange.

Piece by piece dari picture puzzle ekonomi berbasis Dinar atau Dinarnomics kini mulai tersusun. Dengan terus memohon bimbinganNya ? insya Allah nantinya akan terus disempurnakan gambar yang indah dari Ekonomi Islam dengan uangnya yang adil, dengan dijauhkannya riba, dengan berputarnya sektor riil, dlsb. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Jaga Mudamu Sebelum Pensiunmu


Pada tanggal 23 Februari 1950, ekonom kondang Ludwig Von Mises menggambarkan kondisi para pensiunan di Amerika Serikat sebagai orang-orang yang di-euthanasia-kan oleh pemerintahnya (seperti orang sakit keras yang dibiarkan meninggal tanpa pertolongan). Tulisannya yang berjudul Euthanasia of the Pension Funds intinya menguraikan bagaimana para pensiunan menderita dengan daya beli yang terus menurun karena faktor inflasi.

60 tahun kemudian sampai hari ini,  para pensiunan di Amerika dan juga para pensiunan di seluruh dunia yang mengikuti sistem ekonomi ribawi-nya ? tetap saja secara umum menderita secara finansial dan seolah masih juga di?euthanasia-kan oleh pemerintahnya masing-masing yang tidak mampu mengendalikan inflasi.

Ludwig Von Mises

Ludwig Von Mises

Bila inflasi menyengsarakan para pensiunan, apakah lantas kondisi sebaliknya bila terjadi deflasi akan memakmurkan mereka? Ternyata tidak juga. Di negeri yang sama Amerika Serikat, yang saat ini tingkat suku bunganya mendekati 0% ? ternyata para pensiunan juga malah terancam kelangsungan penerimaan dana pensiunannya.

Mengapa demikian? Karena selama ini para pengelola dana pensiun mengandalkan instrumen finansial seperti deposito, government bond dan sejenisnya sebagai unggulan investasinya. Ketika deposito dan bond memberikan hasil yang sangat rendah, maka putaran dana mereka tidak memadai lagi untuk menopang program santunan yang berkelanjutan kepada para pensiunan.

Contoh yang konkrit juga terjadi di Jepang yang sudah sejak lama menganut rezim suku bunga rendah. Pengelola dana pensiun dari maskapai penerbangan terbesar negeri itu sampai harus menegosiasikan ulang dengan para pensiunannya untuk menurunkan penerimaan mereka. Pilihan yang sangat berat karena kalau penerimaan pensiunan diturunkan akan lebih menyengsarakan mereka, sementara bila dilanjutkan seperti semula perusahaannya yang tidak akan survive.

Jadi buah simalakamanya inflasi dan deflasi bagi pensiunan adalah begini: “Bila inflasi tinggi, para pensiunan berkemungkinan untuk terus dapat menerima pensiunnya ? tetapi dengan daya beli yang terus menyusut. Sebaliknya bila terjadi deflasi, kemampuan para perusahaan/pengelola dana pensiun untuk secara berkelanjutan mampu membayarkan uang pensiun kepada yang berhak menerimanya yang terancam.”

Ketika Ludwig Von Mises menulis artikel tersebut di atas (60 tahun lalu) dicuekin oleh masyarakatnya, apa dampaknya? ya itu tadi sampai kini para pensiunan di Amerika Serikat tetap menderita.

pension-fundsNah bagaimana sekarang kita, agar sekian puluh tahun dari sekarang ketika kita pensiun tidak menghadapi simalakama inflasi dan deflasi ini? Berikut adalah beberapa poin yang bisa dilakukan:

  1. Mulai secara bertahap lindungi hasil jerih payah Anda dari risiko finansial inflasi dalam bentuk benda riil yang daya belinya bertahan.  Emas/Dinar; sawah, pohon, ternak, dlsb adalah beberapa diantaranya.
  2. Meskipun di tempat kerja Anda dapat jatah pensiun yang dikelola perusahaan/pengelola dana pensiun. Jangan terlalu mengandalkan dana pensiun ini ? kemungkinan besarnya tidak akan cukup untuk menopang hari tua Anda. Menabung benda riil tetap Anda perlukan.
  3. Bila perusahaan/pengelola dana pensiun Anda mempunyai program yang mengijinkan Anda mengelola dana pensiun Anda sendiri ? ambil program ini dan kelola sendiri di sektor riil. Bila belum mampu mengelola sendiri, cari mitra yang bisa mengelolanya sambil Anda belajar sektor-sektor usaha yang menjadi minat Anda.
  4. Banyak-banyak investasi pada diri Anda sendiri sedari muda. Ikut pelatihan-pelatihan bidang usaha yang menjadi minat Anda, banyak-banyak belajar berusaha.  Mencoba dan gagal di usia muda ? masih lebih baik dibandingkan mencoba dan gagal di usia tua ketika sumber daya dan dana kita sudah tidak ada lagi. Tidak semua eksperimen usaha ini membutuhkan biaya; di Pesantren Wirausaha Anda bisa belajar berusaha tanpa harus mengeluarkan biaya satu sen-pun (alias GRATIS)!
  5. Banyak-banyak investasi pada orang-orang di sekitar kita; mendidik mereka dan membimbingnya. Mereka inilah yang akan menjalankan dan meneruskan usaha kita setelah kita lanjut dimakan usia.

?Allhummaj?al khoyro ?umry aakhirohu wa khoyro ?amaly  khowaatimahu wa khoyro ayyaami yawma alqooka fiih?, ?Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan  yang terbaik dari hariku  adalah hari ketika aku bertemu denganMu.? Amin.

Posted in Financial PlanComments (0)

Entrepreneurship 2.0: Peluang Wirausaha di Era Informasi


Tulisan kali ini saya ambilkan dari isi salah satu bab di buku Six Pixels of Separation karya Mitch JoelPresident of Twist Image (Business Pluss, New York ? 2009). Buku yang membahas bisnis berbasis teknologi informasi ini secara umum sangat menarik (lihat video “Interview with Mitch Joel”), tetapi yang satu bab tentang Entrepreneurship 2.0 mudah untuk dicerna dan diterapkan oleh siapapun ? tanpa harus berlatar belakang IT.

Berbeda ternyata dengan anggapan masyarakat luas bahwa untuk bisa sukses berbisnis di era informasi ini haruslah sangat menguasai IT dan seluk beluknya. Mitch Joel sendiri juga orang yang gaptek ? gagap teknologi; tetapi nampaknya dia sangat sukses dengan new media ini.

Begitu banyak tools yang bisa kita manfaatkan untuk mulai berbisnis dengan menggunakan teknologi ini ? bahkan tanpa kita harus membayar satu sen-pun. Anda bisa mempromosikan produk Anda sepuasnya melalui blog misalnya, mengupdate ?clientbase? Anda di facebooktwitter dan berbagai media gratisan lainnya.

Karena saking banyaknya media yang bisa dipakai, kita malah justru sering bingung ? menggunakan yang mana yang efektif untuk tujuan bisnis kita. Nah melalui Entrepreneurship 2.0 inilah Mitch Joel memformulasikan apa yang kita butuhkan dengan sederhana.

Intinya adalah apa yang dia sebut sebagai 5 C?s of Entrepreneurship 2.0 sebagai berikut:

1) Connectinghari gini kita tidak bisa lagi untuk tidak selalu connect dengan sumber informasi ? internet, email dan sejenisnya. Begitu banyak opportunity kita hilang bila kita kehilangan connection ini.

2) Creating: setiap kita sebenarnya punya banyak kemampuan untuk meng-create sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Creation ini bisa berupa tulisan (seperti yang saya lakukan di web ini), ide, gambar, film, ataupun barang dan jasa yang kemungkinan akan dibutuhkan oleh orang lain.

3) Conversation: melalui media yang mayoritas gratisan ini ? kita bisa mengkomunikasikan hasil kreasi kita di butir 2 dan memperoleh response/masukan yang juga gratis.

4) Community: dari kreasi kita yang secara kontinyu kita komunikasikan dengan audien kita tersebut ? akan terbentuklah komunitas yang sudah tersaring dengan minat yang relatif sama.

5) Commercial: Setelah komunitas terbentuk, maka barulah  kita ataupun anggota komunitas kita dapat saling memberi manfaat dalam bentuk bisnis, sosial, keagamaan, dlsb.

Nah mari sekarang kita lihat aplikasi dari teori 5 C?s tersebut pada contoh kasus riil yang kita lakukan di Pesantren Wirausaha. Saya ambil contoh kasus ini karena ?produk? yang namanya Pesantren Wirausaha ini baru dan masih di titik yang sangat awal, namun hasilnya mulai kelihatan sehingga bisa diikuti siapapun secara gratis.

Pada akhir Agustus 2009 saya menulis tentang Berwirausaha Sebagai Wasilah Untuk Mendekatkan Diri Pada Allah inilah kreasi awal tersebut yaitu ide tentang Pesantren Wirausaha; karena banyaknya response dan pertanyaan ? 2 hari kemudian di bulan yang sama saya per jelas dengan tulisan Pesantren Wirausaha: Training, Coaching & Mentoring?

Response yang terus berdatangan membuat kita bersemangat untuk benar-benar memulai program Pesantren Wirausaha ini, tidak sampai 2 bulan kemudian alhamdulillah Pesantren Wirausaha Angkatan I-pun kick off. Saat ini program Pesantren Wirausaha ini sudah diikuti oleh lebih dari 120 orang dan insya Allah akan terus bertambah.

Bisnis riil yang benar-benar kita mulai-pun lahir setelah komunitas ini terbentuk; peternakan kambing di Jonggol, Bogor adalah salah satunya.

Yang kita ingin contohkan disini adalah ? di era informasi ini ? betapa cepatnya kita bisa meng-create ide-ide, menyebar luaskannya, mengumpulkan response, dan mengimplementasikannya menjadi suatu ?produk?. Dalam kasus ?produk? Pesantren Wirausaha ? waktu yang dibutuhkan hanya 4 bulan ? dari ide sampai produk benar-benar jalan.

Pendekatan yang sama bisa dilakukan juga untuk produk-produk barang dan jasa lainnya, mau coba?? Insya Allah Anda juga bisa!

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Psikologi Pasar: Seperti Pelari Marathon


Beberapa hari sejak akhir pekan lalu harga emas dunia terus mengalami penurunan. Setelah mencapai titik tertinggi diatas angka US$ 1,200 pekan lalu, pagi ini harga emas internasional diperdagangkan dikisaran  US$ 1,128 atau mengalami penurunan sekitar 6% dalam 3 hari perdagangan. Apa yang terjadi sebenarnya? Menurut data di Kitco pagi ini, penyebab mayoritasnya adalah aksi jual ? selain juga disebabkan oleh faktor penguatan US Dollar.

Lantas bagaimana kita menyikapi pergerakan pasar yang sangat fluktuatif seperti dalam 2 pekan terakhir? Tergantung type investor seperti apa kita ini. Ibarat lomba lari, ada type pelari sprint yang bisa berlari sangat kencang untuk jangka pendek ? misalnya 100 m. Rekor dunia untuk ini dipegang oleh Usain Bolt dari Jamaica dengan waktu 9.58 detik ? lebih cepat dari kebanyakan mobil untuk menempuh 0 ? 100 m yang pertama! Kecepatan rata-rata untuk pelari sprint rekor dunia ini adalah sekitar 38 km/jam.

Ada pula pelari marathon, yang jarak standarnya adalah 42.195 km atau 26 mil plus 385 yards. Record dunia untuk ini dipegang oleh pelari Ethiopia Haile Gebrselassie dengan waktu 02:03:59 atau kecepatan rata-rata sekitar 20 km/jam.

Pelari sprint bisa berlari sangat kencang untuk periode yang pendek ? tetapi dia belum tentu unggul untuk lari jarak jauh seperti marathon. Sebaliknya pelari marathon, piawai dalam mengelola tenaganya ? sehingga mampu menjaga kecepatan larinya untuk jarak tempuh yang sangat panjang ? meskipun dia kemungkinan besarnya tidak unggul bila diadu lari jarak pendek.

Dalam investasi, Anda bisa mengukur diri Anda sendiri dengan melihat 2 contoh pelari tersebut. Ingin mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu sesingkat-singkatnya atau ingin memenangkan masa depan Anda dan keluarga dengan investasi yang unggul dalam jangka panjang?

Bila Anda type investor yang pertama (pelari sprint), maka investasi emas dan investasi sektor riil pada umumnya kurang cocok untuk Anda. Investasi di bursa saham mungkin lebih tepat untuk Anda.

Bila Anda type investor yang kedua (pelari marathon), maka sektor riil yang dikelola dengan baik akan lebih cocok untuk Anda; atau kalau mengembangkan bisnis sektor riil ini sulit ? maka investasi di emas atau Dinar akan lebih aman bagi Anda.

Untuk para pelari marathon, kepada mereka antara lain diajarkan teknik-teknik menghemat energi yaitu sesedikit mungkin melakukan gerakan yang tidak perlu, membiarkan gerakan bagian-bagian tubuh, tangan dan kaki secara bebas, memfokuskan pandangan ke arah yang jauh dan lain sebagainya.

Belajar dari teknik berlari marathon tersebut, Anda yang investor jenis ini juga dapat unggul dengan mengelola energi investasi Anda (sumber dana) dan fokus pandangan jangka panjang. Ketika para pelari (baca: investor) lain kelelahan dan mulai melepaskan investasinya seperti yang terjadi 3 hari terakhir di pasar emas dunia ? maka ini waktu menabung yang baik untuk masa depan Anda! Wa Allahu A?lam.

Posted in Financial PlanComments (0)

Sanering Uang Kertas, Lho Kok Masih Ada?


Waktu saya balita, ada 2 peristiwa menggegerkan yang terkait satu sama lain yaitu Gestapu 1965 di bidang politik dan Sanering Rupiah. Untuk urusan politik, biarlah situs-situs politik yang mengulasnya.  Saya hanya tertarik mengulas yang terkait dengan sektor finansial.

Waktu itu uang kertas Indonesia-Rupiah lagi mengalami nasib yang tragis setelah dalam periode 5 tahun antara tahun 1960 -1965  mencapai 650 % dan indeks biaya mencapai angka 438. Index harga beras mencapai 824, tekstil 717, dan harga Rupiah anjlok tinggal 1/75 (seper tujuh puluh lima) dari angka Rp 160/US$ menjadi Rp 120,000 /US$.

Karena Rupiah yang sudah tidak tertolong lagi ini, pemerintah waktu itu terpaksa mengeluarkan kebijakan yang disebut Sanering Rupiah yaitu memotong 3 angka nol terakhir dari Rupiah lama menjadi Rupiah baru. Kebijakan ini dituangkan dalam Penetapan Presiden atau Penpres No 27/1965 yang menjadikan Rp 1,000 (uang lama) = Rp 1,- (uang baru).

Sanering Rupiah (1965)

Sanering Rupiah (1965)

Isu Sanering Rupiah juga sempat mencuat di puncak krisis politik bersamaan dengan Krisis Moneter Indonesia 32 tahun kemudian yaitu antara tahun 1997-1998. Meskipun akhirnya Sanering Rupiah tidak dilakukan, seandainya hal itu dilakukan pada tahun tersebut ? ini juga bukan hal yang mengejutkan ? karena 3 angka nol yang pernah dihilangkan pada tahun 1965 ? ternyata balik kembali dalam waktu hanya 32 tahun tersebut.

Masih kuat diingatan kita ketika kita kecil membawa uang Rp 1,- cukup untuk bekal sekolah, saat ini anak kecil mana yang cukup berbekal Rp 1,000 untuk ke sekolah? Sanering Rupiah memang bukanlah kebijakan yang populer untuk menjaga nilai Rupiah, disisi lain membiarkan Rupiah pada angka ribuan atau bahkan puluhan ribu seperti sekarang juga bukan hal yang praktis sebenarnya. Bisa dibayangkan betapa seluruh sistem komputer keuangan Dunia harus mengakomodasi empat digit tambahan karena ada mata uang yang memerlukan empat digit memory lebih banyak dibandingkan dengan mata uang lain di dunia.

Bila sanering tidak ada dalam kamus moneter kita dewasa ini, tidak demikian halnya dengan Korea Utara. Negeri yang diisolir oleh negara-negara lain gara-gara bermain-main dengan nuklir tersebut, awal pekan ini men-sanering uang Won-nya dengan menghapus 2 digit dalam uang Won ? Korea Utara. Uang 100 Won menjadi 1 Won; 1,000 Won menjadi 10 Won; dst.

Yang lebih mengerikan adalah tidak semua uang Won lama bisa ditukar dengan Won baru; Per orang hanya boleh menukarkan maksimum 100,000 Won. Bagi rakyat yang memiliki uang lebih dari 100,000 Won; maka kelebihan uang diatas 100,000 menjadi kertas sampah ? yang tidak bisa ditukar lagi menjadi uang. Inilah perampasan kekayaan rakyat secara besar-besaran yang dilakukan oleh rejim pemerintah komunis negeri itu. Memang akhirnya batasan tersebut dinaikkan menjadi 150,000 Won untuk tunai dan 300,000 Won untuk rekening di bank; tetap saja perampasan besar-besaran terjadi melalui mekanisme ?penghilangan? nilai uang kertas ini.

Memang ini terjadi di Korea Utara, negeri yang kacau balau dalam segala hal. Tetapi sesungguhnya sistem uang kertas mereka tidak jauh berbeda dengan sistem uang kertas lain yang dipakai di seluruh dunia saat ini. Nilai tukar Won sebenarnya juga tidak buruk-buruk amat, nilai resminya sebelum sanering adalah 1 US$ sekitar 135 Won ? hanya nilai realistisnya kira-kira 1/20 dari nilai resminya ? karena di pasar gelap orang menukar  2,000 Won ? 3,000 Won untuk memperoleh 1 Dollar.

Katakanlah nilai realistik tersebut yang valid 2,000 Won s/d 3,000 Won per US$ ; ini masih 3-4 kali lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan uang negeri lain yang kadang perlu angka 10,000 untuk mendapatkan 1 Dollar-nya.

Dengan membuat perbandingan ini, tentu saya tidak berharap sama sekali akan adanya sanering di negeri ini seperti yang terjadi di tahun 1965 tersebut di atas ? karena kalau hal ini terjadi ? pastilah chaos yang akan timbul.

Yang perlu kita sadari dan dilakukan oleh masing-masing kita adalah mempertahankan ? syukur kalau bisa meningkatkan ? daya beli bukan mempertahankan atau meningkatkan angka-angka. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk ini, seperti mempertahankan asset terbesar Anda dalam bentuk stok atau komoditi (bila Anda pandai berdagang); menanam pohon, pelihara kambing dan sejenisnya (bila Anda petani/peternak); dst. Hanya bila Anda belum ketemu sektor riil yang pas yang bisa Anda tekuni dengan baik, mempertahankan dalam bentuk Dinar/emas adalah salah satu pilihannya yang mudah. Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

Dinar Investment Yield: Mistar Pengukur Hasil Investasi Riil


Selama ini para pelaku bisnis dan juga individu menggunakan referensi suku bunga perbankan, SBI dan sejenisnya untuk mengukur apakah suatu investasi memberikan hasil yang baik atau kurang. Kalau hasil investasi tersebut lebih tinggi dari bunga deposito atau lebih tinggi dari SBI, maka investasi tersebut dikatakan berhasil dan sebaliknya.

Masalahnya adalah alat ukur yang kita pakai tersebut menyusut nilainya dari waktu ke waktu ? jadi hasil investasi yang diukur dengan alat ukur yang menyusut tentu juga tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya. Mengenai penyusutan nilai uang kertas ini saya sudah bahas di tulisan sebelumnya.

Lantas apa alat ukur investasi kita yang lebih mencerminkan nilai daya beli yang sesungguhnya? Lagi-lagi ya menggunakan Dinar sebagai pembanding. Namun kalau kita katakan tahun ini Dinar mengalami penguatan 32 % terhadap Rupiah maupun Dollar, apa artinya ini terhadap hasil investasi kita yang di Rupiah ataupun Dollar? Tidak mudah untuk mengkaitkannya.

Nah saya mencoba membuat alat ukur sederhana untuk keperluan tersebut, alat ini saya pakai sendiri untuk menilai investasi saya di beberapa usaha kecil-kecilan yang saya tangani. Saya share disini untuk para pembaca siapa tahu bermanfaat juga bagi orang lain.

Cara kerjanya sederhana saja, semua dibandingkannya dengan harga Dinar berdasarkan statistik rata-rata 40 tahun yang kita miliki, Dinar yang diam saja (tidak diinvestasikan = 0% hasil investasi dalam Dinar) memberikan hasil yang setara dengan hasil investasi dalam Rupiah rata-rata 30.04%/tahun. Sedangkan terhadap hasil investasi dalam Dollar, ini setara dengan hasil investasi rata-rata 11.29%/tahun. Memang tahun 2007 lalu Dinar memberikan hasil yang exceptional 32%/tahun terhadap US$ Dollar ? tetapi rata-ratanya 40 tahun ya 11.29% itu tadi.

Kalau diamnya Dinar saja memberikan hasil 4 kali lebih besar dari hasil deposito dalam Rupiah (setelah dipotong pajak Deposito Rupiah memberikan bagi hasil sekitar 7.5%/tahun) dan 3 kali deposito dalam US$ (setelah dipotong pajak Deposito US$ memberikan hasil sekitar 3.6%/tahun), maka alangkah baiknya kalau Dinar tersebut juga berputar untuk investasi. Kalau kita bisa berinvestasi dengan hasil rata-rata 10% saja dalam Dinar, maka berdasarkan mistar Dinar Investment Yield tersebut hasil 10% dalam Dinar setara dengan 22.42 % dalam US$ dan setara dengan 43.04% dalam Rupiah.

Kalau deposito bagi hasilnya hanya antara 1/4 sampai 1/3 dari Dinar yang disimpan saja, lantas apa investasi yang baik? Jawabannya adalah usaha sektor riil yang dijalankan dengan baik. Kalau belum ketemu bisnis yang baik atau mudharib yang bisa menjalankannnya, pertahankan dalam tangkainya (lihat QS. Yusuf (12): 47-48) atau bahasa investasinya pegang dulu dalam bentuk asset yang paling aman – apa itu? ya lagi-lagi Dinar. Lihat juga di 2 tulisan saya sebelumnya mengenai Investasi Dinar dan Bangun Ketahanan Ekonomi. Wa Allahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Contagion: Epidemi Finansial Dan Cara Mengatasinya


Judul tulisan ini saya ambilkan dari buku CONTAGION: The Financial Epidemic That Is Sweeping The Global Economy? And How To Protect Yourself From It, karya John R. Talbott (John Wiley & Sons, 2009). Karya dari penulis ini sebelumnya yang terkenal adalah The Coming Crash In The Housing Market (2003) yang berisi prediksinya tentang krisis perumahan Amerika yang ternyata terbukti benar dalam krisis finansial satu setengah tahun terakhir.

Bila kita buka di kamus, contagion berarti penularan penyakit secara langsung maupun tidak langsung. John Talbott dalam bukunya yang baru tersebut menggunakan istilah ini untuk menggambarkan betapa luasnya penyebaran penyakit krisis finansial global yang diawali dari krisis subprime mortgage di Amerika satu setengah tahun lalu itu.

Epidemi finansial ini mulanya menular dari subprime ke prime (dari kredit-kredit yang buruk menular ke kredit yang baik sekalipun), dari wall street ke main street (dari bursa saham ke sektor riil) dan dari Amerika ke seluruh dunia. Masih menurut penulis ini pula, krisis ini belum akan berakhir dalam waktu dekat ? jurang resesi yang ditimbulkannya belum ketahuan ujungnya.

Penyebabnya adalah, orang-orang yang kehilangan pekerjaan di Amerika dan negara-negara yang ketularan epidemi ini ? saat ini masih memiliki uang sisa-sisa pesangonnya untuk membeli kebutuhan mereka sehari hari. Orang-orang yang harus menjual rumahnya sebagai dampak dari krisis, masih pula memiliki sisa-sisa ?keuntungan? dari harga rumah yang sempat booming sebelum krisis terjadi.

Namun kemampuan bertahan menggunakan sisa-sisa ?tabungan? tersebut tentu tidak berkelanjutan, tahun-tahun mendatang akan diwarnai oleh daya beli yang semakin rendah. Daya beli yang rendah akan mengurangi konsumsi, yang berarti juga menurunkan produksi. Penurunan produksi secara massal akan menurunkan putaran ekonomi, yang berarti krisis demi krisis yang semakin dalam masih mungkin sekali terjadi.

Nah sekarang yang penting sebenarnya bukan pemahaman akan krisisnya sendiri, tetapi bagaimana kita bisa keluar dari skenario buruk epidemi finansial ini? Yang menarik adalah penggunaan emas sebagai salah satu solusi yang ditawarkan oleh penulis yang saya terjemahkan langsung di alinea berikut :

?Komoditi yang paling murni yang cukup untuk melindungi daya beli Anda adalah investasi di emas. Karena ada cukup tersedia cadangan emas di dunia, namun pertambahan produksi pertambangannya yang relatif terbatas terhadap cadangan emas yang sudah ada, membuat emas akan menjadi uang yang baik. Emas tidak bisa di-inflasi-kan karena jumlahnya tidak bisa ditambah/diperbesar begitu saja. Bahkan emas lebih baik dari Dollar??. (hal 173).

Sayangnya John Talbott tidak memberikan solusi yang lebih berarti, yang bersifat kuratif atau mengobati krisis ? yang ditawarkannya baru sebatas preventif, bagaimana bertahan untuk tidak menjadi korban dari krisis.

Menurut saya sendiri, emas memang memadai untuk membentengi diri dari bencana krisis ini. Emas juga dapat berperan sebagai senjata untuk bertahan (preventif) ? dia mampu untuk mempertahankan daya belinya dalam krisis sekalipun, tetapi emas sendiri tidak menggerakkan ekonomi atau menyembuhkan ekonomi (kuratif) dari serangan epidemi finansial ? bila emas tidak diputar atau digunakan untuk memutar ekonomi.

Cara yang pasti mujarab untuk mengantisipasi dan melawan penyakit epidemi finansial global adalah cara yang bisa kita ambil dari sumber yang kebenarannya dijamin sampai akhir jaman yaitu Al-Qur?an. Resep ini adanya di Surat Yusuf Ayat 47 yang terjemahannya sebagai berikut :

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.?

Inti dari solusi Qur?ani ini adalah menanam atau bekerja secara sungguh-sungguh untuk secara cukup bisa memproduksi kebutuhan kita, lebih dari cukup sehingga bisa dikonsumsi saat ini sebagian dan sebagiannya lagi disimpan. Ketika menyimpan-nya ?pun harus ?dibulirnya? yaitu berupa sesuatu yang tidak busuk dan tetap subur sampai kelak siap ditanam kembali.

Kalau ?hasil panen? atau penghasilan orang zaman sekarang adalah berupa uang, maka uang kertas adalah uang yang mudah rusak nilainya. Ketika disimpan untuk ditanam kembali kelak sekian tahun yang akan datang, ?daya tumbuh?nya rendah.  Sebaliknya uang yang tidak rusak dan nilainya tetap ?subur? atau uang yang bertahan  ?dibulirnya? tersebut antara lain adalah uang emas (Dinar) ? jadi John Talbott benar dalam hal ini karena yang disampaikannya sama dengan Al-Qur?an.

Namun ingat bahwa emas atau Dinar hanyalah hasil ?panenan? yang untuk sementara kita pertahankan ?dibulirnya?. Pada waktunya haruslah ?ditanam? atau diinvestasikan kembali untuk menggerakkan sektor riil, yang hasilnya sebagian dikonsumsi ? sebagian lagi disimpan ?dibulirnya?. Demikian terus berputar sehingga krisis epidemi finansial bisa kita lawan dengan resep yang benar.

Jadi bagi Anda yang sudah menyimpan hasil panen Anda ?dibulirnya?, pada waktu yang baik Anda hendaknya menanam kembali simpanan tersebut ke sektor riil untuk menggerakkan ekonomi. Tidak mudah memang, maka dari itulah kita lahirkan program Pesantren Wirausaha ? agar kita bisa belajar bareng untuk menggerakkan sektor riil ini, sebagai pengusaha ? bukan sebagai pegawai.

Simpanan Anda yang sekarang ada ?dibulirnya? berupa emas atau Dinar akan bernilai lebih bila diputar dalam bentuk usaha sektor riil yang berjalan baik; Sebaliknya bila ditukar kembali ke bentuk investasi finansial seperti tabungan, deposito, reksa dana dan sejenisnya ? meskipun Anda mendapat nilai/angka yang besar ? sejatinya Anda melepas hasil panen Anda dari bulirnya, menjadi rentan dan mudah rusak nilainya. Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

New Business Model: Bisnis Yang Tidak Pernah Merugi?


Di dunia business modern, sukses tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan produk baik berupa barang atau jasa. Sukses bisnis bisa dilahirkan dari produk barang atau jasa yang ?biasa-biasa? saja tetapi yang dibawakan secara luar biasa.

Di masa kecil saya sampai SMA misalnya, tidak kebayang kita minum air putih harus beli.  Di kantin sekolah yang harus beli kalau kita minum cendol, dawet, es sirup dan sejenisnya. Tetapi sejak air putih dikemas dalam botol dan kemudian juga dalam gelas, maka air putih yang biasanya gratis ini kini menjadi barang dagangan yang laris manis lebih laris dari kacang goreng.

Contoh lain business model yang dekat dengan kita adalah koin emas. Di pusat-pusat perdagangan emas di Jakarta, di Melawai, Cikini dan lain sebagainya ? Anda bisa jumpai banyak koin emas dari berbagi model di toko-toko. Kalau Anda tanya si engkoh yang jaga toko ? apakah koin-koin emas tersebut laris dibeli orang? Jawabannya pasti tidak. Terkadang kolektor datang mencari koin tertentu, tetapi ini sangat jarang. Jadi tempatnya sudah berada di pusat perdagangan emas yang mudah dijangkau, produknya indah dengan kadar yang bagus ? tetapi jarang dibeli orang.

Sebaliknya, kami tidak memajang barang dagangan kami berupa koin emas yang sama ? lokasi kamipun ?ngumpet? di Depok yang tidak mudah dijangkau oleh pasar utama kami penduduk menengah atas  Jakarta, tetapi koin emas kami laris dibeli orang. Mengapa? Karena koin emas yang sama ini kami bawakan secara berbeda. Koin emas kami istilah bisnisnya memiliki Value Proposition yang fit dengan kebutuhan pasar kami.

Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan instrumen investasi alternatif yang juga berperan sekaligus sebagai store of value yang sempurna yang tidak dimiliki oleh instrumen investasi lainnya selain bisnis sektor riil. Kita semua kenal ada instrumen investasi tabungan, deposito, reksadana,  dlsb; yang semuanya berperan sebagai instrumen investasi tetapi tidak dapat berperan sebagai proteksi nilai ? store of value ? karena hasilnya akan tergerus inflasi.

Model bisnis yang tidak biasa, seperti mengemas air dalam botol atau gelas, memperkenalkan koin emas sebagai instrumen investasi dan proteksi nilai dlsb; awalnya kelihatan ?konyol? tetapi setelah pasar bisa menerimanya ? hasilnya insya Allah akan luar biasa. Dalam dunia saya yang dulu, saya banyak sekali mengenal ahli-ahli investasi ? yang mentertawakan ide tentang Dinar saya. Di benak mereka saya akan membuka toko emas, tetapi tidak di pusat perdagangan emas ? dagangannya cuma satu pula ? koin emas yang diberi nama Dinar ? apa menariknya? Hal yang sama saya pikir juga pasti terjadi ketika seorang pengusaha brillian mengungkapkan idenya akan mengemas air dalam botol dan menjualnya, apa menariknya??

Dua contoh business model tersebut di atas sudah luar biasa?namun keduanya masih bisa saja merugi. Sekarang maukah Anda saya bawa ke business model yang lebih luar biasa lagi? Business model yang tidak akan pernah merugi? yaitu berbisnis dengan Allahbusiness model amal shalih namanya.

Berbeda dengan bisnis duniawi yang hanya berjalan 2 arah; si pengusaha dengan value proposition-nya mencari untung langsung dari pembeli barang atau jasanya; dalam bisnis model amal shalih ada pembeli lain yang Dia tidak memerlukan barang atau jasa yang kita tawarkan, tetapi Dia pula yang akan membayar dengan sangat mahal. Siapa pembeli ini? Dialah Allah Yang Maha Pemurah.

Barang dagangan apa yang Dia tertarik membeli dengan harga yang luar biasa ini? Harta dan jiwa kita yang kita pergunakan untuk berjuang di jalanNya. Untuk 2 barang dagangan ini, bahkan dalam Al-Quran Allah benar-benar menggunakan istilah “…membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka, dengan memberi mereka surga?” (QS At-Taubah: 111).  Di tempat lain Allah menggunakan istilah perniagaan (atau bisnis), “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ?” (QS As-Shaf: 10)

Memang barang dagangan yang luar biasa yang ditawar Allah tersebut adalah konteks-nya jihad dalam arti perang di jalan Allah. Namun kalau jihad ini belum menjadi kesempatan kita, maka  kini juga sangat banyak ?pasar? lain yang memerlukan inovasi kita untuk melayaninya; pasar ini mungkin tidak sedang memiliki daya beli untuk membeli barang dan jasa yang akan kita tawarkan; tetapi yang akan membeli tetap Dia Yang Maha Kaya, Yang Maha Benar janjiNya?

Melayani orang-orang miskin, menciptakann lapangan kerja untuk mereka; membantu saudara-saudara kita yang lagi terkena musibah; membela saudara-saudara kita yang lagi didhalimi; memperjuangkan keadilan dan kedaulatan ekonomi yang kini masih ?terjajah? dan masih banyak lagi pasar-pasar amal yang insya Allah pembelinya tidak pernah mengingkari janjiNya.

Inilah model bisnis baru yang di dunia barat dicoba dilahirkan dengan istilah social business, kita menyebutnya business amal shalih?bisnis yang tidak akan pernah merugi sebagaimana janji Allah berikut:

?Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu menghar apkan perniagaan yang tidak akan merugi,? (QS Faathir: 29)

Jadi bila kita ingin bisnis yang tidak pernah merugi, jawabannya hanya satu yaitu berbisnis dengan Allah?, Mau?? Insya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes