Tag Archive | "usaha"

7 “I” Untuk Para (Calon) Entrepreneur


Mengikuti anjuran Rasulullah SAW melalui hadits yang berbunyi: ?Kalimat hikmah (perkataan yang baik/bijaksana) adalah senjatanya orang mukmin, dimanapun ia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya? (HR. At-Tirmidzi/Ibnu Majjah), maka kali ini kita mengambil pelajaran dari kiat sukses salah seorang pengusaha keturunan yang terkenal di Indonesia.  Setelah saya selaraskan dengan nilai-nilai Islam, maka kiat sukses ini saya sajikan dalam 7 “I” berikut:

1. Informasi

Ayat pertama di Al-Qur?an yang turun ke Rasulullah SAW adalah Iqra?...(bacalah…), ini untuk menggambarkan betapa pentingnya membaca atau menangkap informasi ini. Membaca apa yang tersurat seperti yang ada di Al-Qur?an ataupun membaca apa yang tersirat di alam sekitar kita.

Hasil dari ?bacaan? tersebut terkumpullah informasi di otak kita yang kemudian sebagian bisa menjadi peluang untuk berusaha. Bila Anda tahu misalnya masyarakat sekitar Anda membutuhkan sesuatu, dan Anda-pun tahu bagaimana atau dimana sesuatu tersebut bisa diperoleh ? maka Anda sudah bisa jadi pengusaha dalam pemenuhan sesuatu kebutuhan tersebut.

Beberapa dekade lalu contohnya ada pengusaha di Indonesia yang menangkap informasi bahwa masyarakat perlu cara minum yang mudah, maka mulailah dia membotolkan air yang terus kemudian berkembang menjadi air dalam kemasan gelas plastik, dalam galon, dlsb. Tanpa kita sadari inilah hasil informasi yang diolah oleh pengusaha tersebut sehingga kita begitu mudah menyajikan minum untuk tamu kita misalnya. Seandainya produk air dalam kemasan ini belum ada, maka mungkin kita masih harus merebus air setiap saat ada tamu di rumah!

2. Intelligence

Intelligence adalah kemampuan untuk menangkap dan mempelajari fakta kemudian trampil pula mengolahnya. Informasi yang sama berseliweran di depan kita semua, namun sebagian kita bisa menangkap kemudian mengolahnya menjadi suatu usaha ? sebagian yang lain tidak menangkap apa-apa, faktor intelligence inilah yang sangat berperan dalam hal ini.

Karena berupa ketrampilan atau skills otak, maka intelligence ini bisa diasah atau dilatih. Bila diasah untuk ketrampilan mengolah peluang usaha misalnya, maka pemilik intelligence ini akan memiliki apa yang disebut business acumen yaitu kemampuan untuk secara cepat memahami situasi kemudian cepat pula mengambil keputusan bisnisnya.

Bagaimana melatihnya? Sesi-sesi idea brainstorming seperti yang kami adakan di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin adalah salah satu contohnya.

3. Intuisi

Kadang sebuah informasi tidak begitu jelas, antara ada dan tiada. Namun bagi entrepreneur yang berbakat dan berketrampilan, dia sudah bisa mengambil keputusan berdasarkan intuisi-nya.

Intuisi adalah pengetahuan atau kepercayaan tentang sesuatu berdasarkan insting, tanpa harus membuktikan bahwa sesuatu itu ada beneran atau tidak. Intuisi tentang suatu bidang usaha ? lagi-lagi bisa diasah dengan pengalaman dan praktek di lapangan.

4. Ilham

Setiap kita sebenarnya telah diberi ilham untuk mampu membedakan sesuatu itu buruk atau baik ?fa alhamahaa fujuu ra haa wa takwahaa? (QS. Asy-Syams [91]: 8), jadi tanpa bertanya ke siapapun sebenarnya hati kecil kita bisa berfatwa untuk diri kita sendiri apakah suatu jalan itu akan membawa kepada suatu kebajikan/ketakwaan atau membawa keburukan.

Hanya saja lagi-lagi bila hati ini tidak dilatih untuk menggunakan ilham tersebut, maka hati ini akan mati ? tidak mampu  lagi membedakan mana suatu kejahatan dan mana suatu kebajikan.

Seorang muslim yang bekerja/berusaha dalam lingkungan ribawi misalnya, awalnya hati kecil menolak, gelisah, dlsb. Namun karena tidak ditinggalkannya pekerjaan/usaha tersebut lama kelamaan hatinya tidak bekerja lagi ? dia enjoy saja di lingkungan ribawi tersebut.

5. Inisiasi

Setelah kita menangkap peluang, mengolahnya dengan cerdas, intuisi kita mengatakan ini peluang yang baik dan hati kecil kita pun comfortable dengan ide tersebut ? maka ini belum apa-apa dan tidak akan menjadi apa-apa sebelum pekerjaan mengolah peluang tersebut benar-benar diinisiasi atau dimulai.

Inilah yang paling berat, banyak orang pinter dengan berjuta ide ?man of ideas? tetapi tidak menjadikan satupun ide-nya diterapkan. Di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi tersedia ratusan ribu atau bahkan jutaan thesis-thesis dari S1 sampai S3, namun hanya sebagian sangat kecil saja dari pemikiran-pemikiran cemerlang tersebut ter-inisiasi-kan dalam sesuatu yang riil.

Tidak ada cara lain untuk melawan ketakutan terhadap sesuatu selain menghadapinya, maka inisiasi inilah cara kita untuk melawan ketakutan akan gagal dalam mengimplementasikan rencana, dalam membangun usaha dan seterusnya.

6. Istiqamah

Setelah kita mulai mengimplementasikan rencana-rencana usaha kita, berbagai masalah akan bermunculan. Peluang itu berkorelasi langsung dengan risiko, artinya di setiap risiko yang kita hadapi ? ada peluang bagi kita bila kita berhasil mengatasi risiko tersebut.

masjid-pasca-tsunami

Bila Allah berkehendak...

Yang diperlukan adalah sikap istiqamah dalam implementasi usaha, yaitu kemampuan kita untuk secara tekun dan terus menerus mengatasi masalah-masalah yang muncul dari rencana yang diimplementasikan dan tidak lari dari masalah atau kesulitan, ?maka sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan? (QS. Al-Inshirah [94]: 5-6).

Lebih dari itu bila usaha yang kita implementasikan adalah dalam rangka ketaatan kita kepada Sang Pencipta, misalnya diniatkan untuk menciptakan lapangan kerja yang banyak, diniatkan untuk memberi makan di hari kelaparan, maka insya Allah Allah akan menurunkan malaikatnya membantu kelancaran usaha kita.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Al-Fushshilat [41]: 30)

7. Insya Allah

Sebagai orang beriman, kita yakin betul bahwa segala sesuatu hanya terjadi bila Allah menghendakinya terjadi. Sebaliknya, sekeras apapun kita mengusahakannya bila Allah tidak menghendaki sesuatu itu terjadi ? maka pasti tidak akan terjadi. Maka tidak ada yang bisa kita sombongkan dari segala upaya ini, karena hanya Dia-lah yang menetukan keberhasilan atau kegagalannya, yang kita bisa lakukan adalah sekedar berusaha.

Lantas bagaimana kita menyikapi dengan I yang ke-7 ini  untuk menunjang keberhasilan kita? Kiat-nya adalah menyelaraskan usaha kita dengan kehendak Allah; karena yang Dia kehendaki pasti terjadi ? maka bila kita bisa menangkap kehendakNya di alam ini, itulah peluang sukses terbesar kita.

Lantas bagaimana kita bisa menangkap kehendak Allah ini? Kembali ke I yang pertama ? yaitu informasi atau membaca apa yang tersurat (di Al-Qur?an) dan yang tersirat di alam. Insya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Jalan Yang Mendaki Lagi Sukar


Harian Republika edisi kemarin Rabu 21 Juli 2010 memuat data statistik yang sepintas menggembirakan, yaitu statistik Produk Domestik Bruto Per Kapita dalam 10 tahun terakhir yang naik hampir 4 kalinya. Statistik yang diambil dari BPS ini menunjukkan bahwa pada tahun 2000 PDB Per Kapita kita hanya Rp 6,751,000, akhir tahun lalu (2009) angka ini telah mencapai Rp 24,261,000.

Bertambah makmur kah rata-rata rakyat Indonesia selama 10 tahun terakhir ini? Di sinilah masalahnya. Bila kita melihat angka dalam Rupiah tersebut di atas yang kemudian saya sajikan ulang secara grafik di bawah, seharusnya kita telah jauh bertambah makmur selama 10 tahun terakhir.

PDB Per Kapita dalam Rupiah

PDB Per Kapita dalam Rupiah

Tetapi kenyataan yang dirasakan oleh mayoritas rakyat mungkin berbeda dengan grafik tersebut. Perasaan hidup terasa tambah berat karena barang-barang kebutuhan yang semakin mahal ? sangat bisa dipahami karena mungkin memang itulah yang terjadi di lapangan.

Untuk dapat melihat realita ini secara akurat, lagi-lagi Islam punya tools-nya yaitu Nishab Zakat. Orang yang penghasilannya melebihi Nishab Zakat dianggap mampu dan dia harus bayar zakat. Sebaliknya, yang penghasilannya di bawah Nishab Zakat dia berhak untuk menerima uang zakat. Nishab Zakat ini dinyatakan dalam Dinar yaitu 20 Dinar.

Bila PDB Per Kapita kita anggap merepresentasikan penghasilan penduduk Indonesia rata-rata; maka ketika grafik di atas saya konversikan dengan Dinar hasilnya akan seperti pada grafik di bawah.

PDB Per Kapita dalam Dinar

PDB Per Kapita dalam Dinar

Selama 10 tahun terakhir, hanya 2 tahun dimana PDB Per Kapita kita mampu melampaui Nishab Zakat yaitu tahun 2001 (20.35 Dinar) dan 2002 (21.20 Dinar). Tahun-tahun berikutnya cenderung menurun dan terendah tahun 2009 yang tinggal 16.55 Dinar. Apa maknanya PDB Per Kapita yang di bawah Nishab Zakat ini? Artinya rata-rata penduduk negeri ini berhak menerima zakat dan belum wajib zakat.

Maknanya adalah rata-rata penduduk negeri ini masih tergolong miskin menurut standar Islam, dengan timbangan yang kita yakini akurat sepanjang zaman yaitu Nishab Zakat yang 20 Dinar tersebut.

Namun realita ini tidak perlu membuat kita bersedih atau berkecil hati karena kemiskinan tidak teratasi dengan hanya bersedih, bahkan akan bertambah parah bila kita berkecil hati. Yang kita perlukan adalah setelah sadar akan realita ini adalah apa yang bisa kita perbuat untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.

Inilah peluang itu, kini terbuka peluang lebar bagi kita untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar untuk bisa berbuat sesuatu dalam ikut memerangi kemiskinan. Membangun usaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya tentu tidak mudah, lebih mudah bekerja di perusahaan atau instansi yang mapan ? dengan berbagai fasilitasnya.

Namun kalau mayoritas kita berpikiran demikian lantas tugas siapa untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya ini? Tugas pemerintahkah? Para pemimpin negeri ini tentu akan ditanya nanti atas kepemimpinannya, namun kita sebagai individu juga akan tetap ditanya atas apa yang kita lakukan.

Ayat-ayat di bawah bukan hanya ditujukan untuk para pemimpin negeri ini, tetapi untuk kita semua. Punya jawabankah kita bila waktunya kelak kita ditanya akan hal ini?

?????????????? ????????????? (???) ????? ????????? ??????????? (???) ????? ?????????? ??? ??????????? (???) ????? ???????? (???) ???? ??????????? ??? ??????? ??? ??????????? (?(??

?Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan,? (QS. Al-Balad (90): 10-14)

Posted in Islamic ViewComments (0)

Planned But Not Executed (PBNE) or Executed But Never Planned (EBNP)


Dalam sejarah Perang Dunia II; titik balik dari agresi Jerman konon karena mereka tidak melaksanakan apa yang direncanakannya sendiri (Planned But Not Executed-PBNE), yaitu tidak meng-invasi Inggris lewat laut seperti rencana semula; mereka malah memilih jalur konfrontasi udara yang dikenal dengan Battle of Britain yang tidak pernah mereka rencanakan (Executed But Never Planned ?EBNP).

Dalam perjalanan hidup kita, inilah yang sering terjadi. Kita merencanakan sesuatu matang-matang, tetapi kemudian tidak melaksanakannya (PBNE). Atau sebaliknya, kita terpaksa melaksanakan sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan (EBNP). Baik PBNE maupun EBNP, keduanya adalah sumber kegagalan. Bila kita dapat meminimise keduanya, maka insya Allah dapat memaximise peluang sukses kita.

Dalam usaha atau karir, bila kita kebanyakan PBNE maka inilah yang dalam bahasa sehari-hari kita kenal sebagai OmDo (Omong Doang). Sebaliknya bila terlalu banyak EBNP, maka ini manajemen a la pemadam kebakaran ? hanya sibuk ketika timbul api. Keduanya harus semaksimal mungkin kita hindari bila ingin sukses..

battle-of-britainBanyak sekali (mantan) karyawan, manajer, eksekutif yang kelabakan belajar berwirausaha ketika karir atau pekerjaannya terancam atau ketika pensiun tiba. Mereka terpaksa berusaha ini ? itu yang sebenarnya tidak pernah direncanakannya (EBNP). Hasilnya tentu tidak banyak yang sukses.

Sebaliknya juga terjadi, banyak sekali diantara mereka ? terutama tenaga-tenaga muda fresh graduate cemerlang yang punya cita-cita tinggi. Mereka ingin membangun usaha impiannya selagi mereka muda, namun untuk ini mereka butuh pengalaman kerja, butuh modal awal, dlsb. sehingga mereka memutuskannya untuk bekerja dahulu di perusahaan yang sudah mapan. Sayangnya ketika mereka keenakan bekerja di perusahaan besar, gaji baik, tunjangan melimpah ? mereka lupa dengan cita-cita semula,  mereka tidak melaksanakan apa yang dicita-citakannya (PBNE). Kemudian tibalah masanya pekerjaan/karir terancam atau usia pensiun tiba ? mereka terpaksa harus berusaha ini ? itu ketika resources sudah banyak berkurang (EBNP).

Demikianlah siklus lingkaran setan EBNP-PBNE-EBNP-PBNE terus mengungkung kita dari pencapaian yang maksimal dalam hidup, karir, keluarga, usaha, dlsb. Lingkaran setan ini terjadi pada tingkat individu, keluarga, perusahaan dan bahkan negara.

Dalam tingkat negara, negara ini pernah mentas dari keterpurukan akhir 1960-an sampai puncak pencapaian tahun 1990-an karena saat itu ada rencana jangka panjang yang dikomunikasikan dan diimplementasikan dengan cukup disiplin yaitu apa yang dikenal dengan REPELITA I, II, III,IV, V, dst. Sampai anak-anak SD dan SMP pun tahu apa isi dan sasaran REPELITA-REPELITA tersebut.

Sejak era reformasi, 4 pemerintahan silih berganti ? masing-masing punya rencananya sendiri. Wa Allahu A?lam, mungkin hanya para birokrat  dan legislator yang tahu apakah rencana-rencana tersebut dilaksanakan dengan baik; atau sebaliknya terjebak dalam lingkaran EBNP-PBNE-EBNP-PBNE.

Lantas bagaimana kita bisa keluar dari lingkaran EBNP-PBNE-EBNP-PBNE tersebut?

PLAN1) Buatlah RENCANA; apapun rencana itu. Dalam dunia perencanaan, ada istilah ?gagal untuk membuat rencana sama dengan merencanakan untuk gagal?. Bila Anda ingin sebagai professional sampai pensiun misalnya ? maka rencanakanlah dengan baik dan bangun kompetensi Anda di profesi yang Anda pilih.

Bila Anda kini karyawan, manager atau eksekutif yang merencanakan untuk pindah kwadrant, maka rencanakanlah dengan baik dibidang usaha apa Anda akan terjun dan pada usia berapa akan membakar kapal Anda, dst.

2) Disiplinlah dalam mengimplementasikan rencana Anda. Tanpa disiplin dalam implementasi ini, yang terjadi adalah lingkaran EBNP-PBNE-EBNP-PBNE tersebut.

3 ) Setelah kita merencanakan dan berusaha mengimplementasikan secara maksimal, maka bersamaan dengan itulah dengan bertawakkal kepada Allah ? insya Allah Allah akan menyempurnakan upaya dan rizki kita ? rizki yang tidak harus berarti materi, bisa berupa keimanan, sakinah dan amal ibadah yang diridloi-Nya.

?… Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya…? (QS. Ath-Thalaaq (65): 3)

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Déjà vu: Membumikan Ide Menjadi Realitas


Déjà vu adalah sebuah frasa Perancis yang artinya secara harfiah adalah “pernah lihat”. Maksudnya mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Fenomena ini juga disebut dengan istilah paramnesia dari bahasa Yunani para yang artinya adalah “sejajar” dan mnimi yang artinya  ”ingatan”.

Ketika di akhir pekan ini saya menemukan buku dengan judul Your Idea, Inc. (Adamsmedia, 2010) karya orang biasa yang kemudian menjadi pengusaha Sandy Abrams setelah mendirikan dan mengkomandoi sendiri perusahaan yang kini raksasa bernama Moisture Jamzz, Inc ? saya seperti mengalami déjà vu tersebut. 12 langkah yang diuraikan Sandy yang menuturkan pengalamannya dalam mengaktualisasikan ide besar dia menjadi sebuah realitas pasar ? bagi saya istilah anak betawinya ?gue banget? ? karena hampir keseluruhan hal yang dia tuturkan tersebut juga pernah saya alami/lakukan.

Kalau langkah-langkah ini cocok untuk Sandy Abrams, cocok untuk saya ? maka barangkali  langkah-langkah inipun bisa memandu Anda dalam membumikan ide besar Anda menjadi realitas. Berikut 12 langkah yang dilakukan oleh Sandy tersebut setelah saya fine-tune dengan pengalaman saya.

1 ) Langkah Pertama adalah berani melompat untuk menjadi entrepreneur. Tidak ada waktu yang salah dalam memulai usaha. Tidak sedikit perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang ada sekarang lahir di masa krisis.  Tidak juga diharuskan kemampuan akademis tertentu untuk menjadi pengusaha yang sukses, bahkan banyak raksasa-raksasa industri modern berbasis teknologipun ? seperti Microsoft, Dell dan Apple ? semuanya didirikan oleh orang-orang yang tidak berhasil menyelesaikan kuliah di bidangnya.

2 ) Mulai wujudkan ide Anda menjadi realitas. Berjuta produk barang dan jasa ada di sekitar Anda, sebagian memenuhi kebutuhan Anda sebagian yang lainnya tidak. Sebagian kebutuhan Anda dapat dipenuhi oleh barang/jasa yang sudah ada sebagian yang lainnya tidak. Barangkali Anda bisa memperbaiki produk barang dan jasa yang sudah ada yang belum memenuhi harapan Anda; atau barangkali Anda bahkan bisa menciptakan produk barang atau jasa yang sama sekali baru yang dapat menjawab kebutuhan pasar. Bila ide besar ini ada di Anda, mengapa tidak tertantang untuk benar-benar mewujudkannya?

3 ) Bootstrapping, maksimalkan kemampuan sendiri. Meyakinkan orang lain untuk setuju dengan ide Anda ? tidaklah mudah, apalagi kalau yang Anda coba yakinkan ini adalah orang yang Anda perlukan uangnya untuk ?coba-coba? usaha. Namun jangan berkecil hati, berdasarkan data dari Inc Magazine tahun 2002; peluang sukses untuk mendatangkan keuntungan perusahaan yang dimulai dengan modal US$ 1,000 tidak kalah dari perusahaan yang dimulai dengan modal 100 kalinya. Seandainya toh ide Anda memang benar-benar brilliant, dan Anda benar-benar memerlukan uang orang lain untuk memulainya ? cari investor yang kira-kira mudah memahami ide Anda tersebut.

4 ) Pahami aspek legal dari ide atau usaha Anda. Lakukanlah riset kecil-kecilan untuk mengetahui apakah sudah ada ide sejenis di pasar, apakah sudah dipatenkan orang, apakah produk barang atau jasa yang akan Anda hasilkan tidak melanggar hukum, apakah diperlukan perijinan khusus untuk memproduksi dan atau memakai produk Anda, dlsb.

5 ) Pabrikasi ide Anda menjadi produk. Di zaman networking ini, untuk menghasilkan produk yang hebat tidak harus Anda produksi sendiri. Bisa jadi diproduksi orang lain atas pesanan Anda lebih baik dan lebih ekonomis ketimbang Anda memproduksinya sendiri. Dinar yang kami pasarkan misalnya, belum pernah kami berpikir untuk memproduksinya sendiri ? karena Logam Mulia ? PT. Aneka tambang TBK (BUMN) telah memiliki segala kemampuan, peralatan, bahan baku, pengakuan internasional dan hal lainnya yang diperlukan untuk memproduksi Dinar ketimbang kami memproduksinya sendiri.

6 ) Persiapkan kantor/ruang kerja yang Anda merasa nyaman dalam mengimplementasikan ide Anda. Berbeda dengan ketika Anda bekerja di perusahaan/instansi lain ? bekerja untuk mengaktualisasikan ide Anda tidak mengenal tempat dan waktu. Bila semangat Anda lagi meluap-lupa dengan ide Anda, maka saat dan di tempat itulah waktu dan tempat terbaik untuk Anda mengerjakan ide Anda. Untuk saya tempat terbaik ini adalah di rumah, selain murah ? nggak perlu sewa/beli; saya juga bisa bekerja kapan saja saya mau.

Sandy Abrams

Sandy Abrams

7 ) Pelajari dan bangun ketrampilan dalam berbagai seluk beluk pemasaran. Semua produk baik dari kategori barang maupun jasa, ujungnya harus dipasarkan. Ide Anda tidak ada manfaatnya setelah bisa diproduksi sekalipun bila akhirnya tidak dapat dipasarkan. Penguasaan Anda terhadap pasar mutlak perlu.

8 ) Manfaatkan seluruh peluang yang Anda jumpai untuk pemasaran produk Anda. Bila Anda memang expert di bidang yang terkait dengan  ide Anda, maka akan banyak kesempatan untuk Anda bicara di publik, menulis di web, dlsb. Manfaatkanlah seluruh peluang ini untuk mendongkrak kemampuan pemasaran Anda.

9 ) Temukan pembeli Anda dan lakukan penjualan yang sesungguhnya kepada mereka. Selain pasar dan strategi pemasaran, Anda harus siap untuk bener-bener menemukan by name siapa pembeli-pembeli produk Anda yang sesungguhnya. Mereka inilah yang akan benar-benar membeli produk Anda. Potensi pasar yang besar tidak jaminan bahwa produk Anda bisa terjual, produk Anda baru terjual setelah Anda benar-benar tahu siapa yang benar-benar butuh dan membeli produk Anda.

10 ) Partisipasi dalam pameran-pameran yang memungkinkan produk Anda dikenal. Hampir setiap saat ada pameran-pameran dengan berbagai tema yang diorganisir oleh bermacam-macam institusi. Bisa jadi tidak ada yang 100% pas dengan produk Anda, tetapi bila potensi pengunjung pameran-pameran tersebut juga mirip dengan potensi pasar yang Anda bidik ? maka boleh jadi pameran-pameran yang sepintas lalu tidak terkait dengan produk Anda ? bisa jadi peluang Anda untuk dikenal.

11 ) Mempersiapkan produk Anda untuk dikenal di industrinya. Bergaul dengan industri sejenis melalui pameran, pertemuan, networking, kerjasama, dlsb akan selalu banyak manfaatnya untuk memperkenalkan produk Anda. Bisa jadi karena produk Anda baru, belum ada yang pas tempatnya untuk bergabung ? namun ini juga malah bisa menjadi peluang yang luas karena Anda bisa bergabung di beberapa industri sekaligus. Untuk produk Dinar misalnya, kita bergaul dan bekerjasama secara akrab dengan berbagai pemain di industri per-emas-an. Tetapi karena Dinar juga kita presentasikan sebagai Solusi Finansial, maka kita juga bekerjasama erat dengan perbankan dan berbagai lembaga keuangan/permodalan lainnya.

12 ) Menjaga keseimbangan. Dalam arti luas keseimbangan ini selalu kita perlukan; baik antara keluarga dan usaha, kesehatan dan produktifitas diri, komersial dan sosial dlsb. Bagi kita yang beragama Islam, keseimbangan waktu antara berusaha dan kewajiban beribadah kepadaNya juga perlu sangat dijaga. Ini nampaknya sepele, namun kalau kita tidak menjaganya ? mudah sekali passion kita dalam mengejar ide-ide besar malah melalaikan kita dengan tujuan hidup yang utama yaitu mencari keridloannya. Alhamdulillah kini banyak software kecil yang bisa kita install di hp kita untuk mengingatkan waktu shalat misanya; semaju apapun usaha Anda, menjadi tidak bermanfaat bila Anda lupa waktu shalat.

Dalam mengimplementasikan ide-ide kita, hambatan terbesarnya justru lebih sering  datang dari dalam diri kita sendiri. Tidak cukup PD (percaya diri) untuk mulai melakukannya, tidak tahu harus mulai dari mana, tidak tahu siapa yang ditanya, tidak ada sparring partner untuk menguji ide kita, dlsb. Karena alasan inilah keberadaan institusi semacam yang kita miliki di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin menjadi semakin dibutuhkan.

Selain semua fasilitas pelatihan/magang di pesantren ini GRATIS (agar semua orang berkesempatan yang sama untuk menjadi pengusaha); disana Anda juga dapat merasakan langsung bagaimana kami beserta para Santri Wirausaha berjibaku mengimplementasikan ide-ide besar seperti mengembalikan minuman sehat anak-anak kita dengan susu segar dari proyek Kambing Ettawa kita, menghadirkan makanan sehat dan terjangkau dengan project Planet Jamur, dlsb. Semoga Allah memudahkan kita untuk  dapat beramal shaleh yang diridloiNya.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes