Tag Archive | "uang"

Antisipasi Quantitative Easing 2: Belajar Sampai Negeri China


Saya pernah menulis tentang Quantitative Easing ini di bulan Maret 2009 ketika dunia sedang berada di puncak krisis finansial. Saya tulis kembali sekarang dengan judul Quantitative Easing 2 (QE 2) sebagaimana para pengamat ekonomi menyebutnya akhir-akhir ini, karena mulai bermunculannya wacana atau lebih tepatnya analisa kemungkinan beberapa bank sentral dunia melakukannya lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Quantitative Easing adalah kebijakan bank sentral untuk menambah supply uang dengan meng-credit-kan di account-nya sendiri uang dalam jumlah besar secara ex-nihilo atau out of nothing atau dalam bahasa kita dari awang-awang. Bahkan uang ini juga tidak perlu dicetak, karena cukup di entry di account bank sentral ? bahwa uang mereka bertambah ? maka bertambahlah uangnya.

Uang yang diketikan dari awang-awang ini kemudian beredar melalui apa yang disebut open market operation, yaitu ketika uang (yang hanya ada di data komputer) tersebut kemudian benar-benar digunakan untuk membeli financial assets berupa government bonds, corporate bonds, dlsb serta  mengalir ke bank-bank dan institusai finansial lainnya.

Pencetakan Uang dari Awang-Awang

Pencetakan Uang dari Awang-Awang

Langkah bank-bank sentral melakukan quantitative easing ini tidak terlalu bermasalah selagi pelaku pasar dan pengguna uang pemerintah tersebut masih mempercayainya. Masalahnya adalah ketika hal ini semakin sering dilakukan ? maka nilai mata uang dari negara tersebut akan terus tergerus dengan cepat dan merugikan siapapun yang memegangnya.

China misalnya yang memegang US$ terbesar, sejak beberapa tahun terakhir mulai khawatir akan menurunnya daya beli aset mereka yang berupa US$ tersebut. Karena kekhawatiran inilah maka China terus mendiversifikasi cadangan devisanya dari US Dollars, mereka kini aktif membeli mata uang negara lain selain AS, seperti Jepang, Thailand, Korea dan bahkan beberapa negara latin.

Pemerintah China dan perusahaan-perusahaan negara-nya juga mulai mengumpulkan aset riil di luar mata uang. Di antara yang mereka kumpulkan adalah emas, biji besi, cadangan gas, batubara dan bahkan cadangan kayu dari hutan-hutan di Guyana. Dari perbagai persiapan ini, maka bila nilai US$ terus mengalami penurunan ? dan bahkan suatu saat bisa benar-benar kehilangan nilainya sama sekali, maka bisa jadi China adalah negara yang paling siap menghadapinya. China bahkan juga sudah mendorong dan memfasilitasi rakyatnya untuk rame-rame membeli emas.

Paling tidak langkah China ini pasti menggembirakan rakyatnya karena setahun terakhir rakyat China yang memindahkan tabungan US$-nya menjadi emas mengalami keuntungan rata-rata sekitar 30% – yaitu rata-rata appresiasi harga emas dunia dalam US$ setahun terakhir.

Dengan semakin ramenya wacana atau analisa akan kemungkinan terjadinya Quantitative Easing Gelombang ke 2 (QE 2), sangat mungkin trend kenaikan harga emas dunia masih akan terus berlanjut ? apalagi minggu ini kita sudah akan memasuki bulan September ? dimana kenaikan harga emas musiman biasa juga terjadi.

Bila China beserta rakyatnya telah melakukan antisipasi yang proper terhadap kebijakan negara lain terhadap uangnya ? khususnya AS, mengapa tidak kita juga ?belajar sampai negeri China? dalam pengelolaan aset ini? Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

Trend Harga Emas: Sejauh Mana Mata Memandang


Pertanyaan yang terus sampai ke saya, khususnya dari para pengguna Dinar baru adalah?…kapan membeli Dinar yang paling tepat??. Pertanyaan sejenis pada saat harga lagi rendah seperti sekarang adalah ?…apakah harga akan turun lagi?? , kemudian pada saat harga lagi tinggi pertanyaannya adalah ?…apakah harga akan terus naik?? dan seterusnya.

Jawaban saya selalu sama yaitu Wa Allahu A?lam ? dan Allah-lah yang Maha Tahu, karena seberapa ahli-pun kita, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Paling banter kita memahami apa yang sudah terjadi sampai saat ini, kemudian menduga-duga apa yang selanjutnya akan terjadi. Berbagai teknik forecasting dikembangkan orang, tetap saja tidak ada yang menjamin keakuratan hasilnya.

Trend Harga Emas (2 Tahun)

Trend Harga Emas (2 Tahun)

Dari sekian banyak teknik ?duga-menduga? tersebut yang saya suka menggunakannya adalah analisa trendline, karena selain sederhana ? di standar grafik Excel ada fasilitas ini. Anda juga bisa mengolahnya sendiri berdasarkan harga-harga emas dan nilai tukar Rupiah yang ada di pasar.

Perhatikan 2 grafik contoh yang saya olah berdasarkan data harga emas dalam US$/Oz dan harga dalam Rupiah/Gram. Grafik pertama saya ambil dari data 2 tahun terakhir, trendline untuk harga emas dalam Rupiah cembung ke bawah yang dapat diartikan bahwa untuk 2 tahun terakhir cenderung stabil atau bahkan menurun. Sebaliknya trendline dalam US$, cekung ke atas yang dapat diartikan bahwa harga dalam US$ cenderung naik secara significant.

Trend Harga Emas (10 Tahun)

Trend Harga Emas (10 Tahun)

Grafik kedua saya ambilkan data yang sama, hanya untuk periode yang lebih panjang yaitu 10 tahun terakhir. Perhatikan sekarang trendline-nya baik dalam US$ maupun dalam Rupiah; keduanya menunjukkan cekung ke atas secara tajam. Artinya dalam 10 tahun terakhir harga emas baik dalam US$ maupun dalam Rupiah mengalami kecenderungan naik yang significant.

Lantas apa makna dari kedua grafik tersebut pada keputusan kita? Untuk dana-dana jangka panjang seperti tabungan untuk pergi haji, biaya anak sekolah, dana pensiun, tabungan untuk membeli atau memperbaiki rumah, tabungan modal usaha, dlsb. insya Allah akan selalu cocok untuk dikonversikan ke Dinar kapan saja.

Untuk dana jangka menengah, seperti rencana anak masuk sekolah dalam 1-2 tahun ini misalnya ? maka dapat dikonversikan ke Dinar atau tetap dalam Rupiah, tidak terlalu banyak perbedaannya dari sisi daya beli ? meskipun dari sisi ketenangan pikiran bisa jadi berbeda.

Untuk dana jangka pendek yaitu biaya kebutuhan rutin bulanan misalnya, atau biaya lain yang akan digunakan kurang dari setahun ini ? kecuali kebutuhan tersebut dapat dibeli/dibayar dengan Dinar ? maka untuk dana jangka pendek ini tetap dipertahankan dalam Rupiah akan lebih ekonomis.

US$ Money Supply

US$ Money Supply

Bila uang Anda saat ini masih dalam US$ ceritanya lain lagi; saya termasuk yang sangat tidak menganjurkan Anda memegang US$ baik untuk kepentingan jangka pendek maupun kepentingan jangka panjang. 2 grafik di atas menyampaikan pesan yang loud and clear (suara keras dan sangat jelas) bahwa ibarat pilot tempur dengan pesawat Dollar, kini saatnya Anda menekan tombol penyelamat dan tinggalkan pesawat Dollar Anda. Pesan yang sama-pun disampaikan PBB sebulan lalu; jadi bukan pendapat saya yang subjektif.

Pesan inipun juga tidak terlepas dari realita US$ sendiri yang di ? ?cetak? dalam berbagai bentuknya dengan jumlah yang sangat-sangat berlebihan 2 tahun terakhir seperti ditunjukkan oleh grafik di atas. Lagi pula kita-pun tidak membutuhkan US$ sebagai alat tukar, untuk apa pula kita pegang?

Jadi, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sangat tergantung dari rencana investasi Anda atau kapan dana-dana tersebut Anda akan gunakan, dan tergantung pula dengan currency uang yang sekarang Anda pegang. Wa Allahu A?lam.

Posted in Financial PlanComments (0)

Balon Yang Diputus Talinya, Hendak Pergi Kemana?


Selama 2500 tahun lebih emas adalah uang bagi seluruh peradaban manusia. Bahkan setelah Perang Dunia II-pun melalui Bretton Woods Agreement 1945, uang masih dikaitkan dengan emas. Seperti dalam rangkaian balon di samping, balon pertama US$ diikat dengan emas ? 1 oz setara dengan US$ 35. Kemudian rangkaian balon berikutnya (Rupiah, Yen, dlsb) diikat dengan US$ atau langsung terhadap emas.

Lantas apa jadinya ketika ikatan terhadap emas tersebut diputus sejak 15 Agustus 1971 melalui kejadian yang mengguncang dunia yang disebut Nixon Shock? Seperti balon yang dilepas dari ikatannya ? harga emas terus membubung tinggi. Bila pada tahun-tahun sebelum ikatan tersebut dilepas harga emas dunia berada pada kisaran US$ 35/Oz; pada tahun 1971 ketika ikatan dilepas, harga emas mulai merangkak ke angka US$ 40/Oz ? kini harga itu telah mencapai US$ 1.200-an/Oz atau dalam US$ naik 30 kali-nya selama kurun waktu 40 tahun saja.

Balon Rupiah lebih tinggi lagi terbangnya. Bila pada tahun pelepasan ikatan tersebut harga emas masih dikisaran Rp 500/gram; kini harga itu di kisaran Rp 350,000/gram atau naik  700 kalinya selama 40 tahun terakhir!

Well, itu sejarah mata uang dan harga emas ? suka atau tidak suka itulah realitanya. Yang lebih penting bagi kita adalah bukan sejarah masa lalunya, tetapi memahami kemana arah terbangnya balon-balon tersebut ke depan, sehingga kita bisa mengambil keputusan yang bijak untuk diri, anak cucu dan generasi yang akan datang. Berikut adalah poin-poin yang akan menentukan arah terbang balon-balon tersebut:

US-Treasury-Debt-for-gold

  • Sampai saat ini yang nampak di depan mata adalah uang akan terus dicetak tanpa ikatan apapun di seluruh dunia ? persis seperti balon, isinya adalah awang-awang (udara).
  • Negara-negara di dunia terus menambah hutang, di Amerika yang uangnya (US$) digunakan untuk harga emas dunia ? hutang tersebut kini telah mencapai US$ 12.8 trilyun, naik sekitar US$ 3 trilyun dari tahun sebelumnya.
  • Rule of Thumb-nya setiap kenaikan hutang Amerika US$ 1 trilyun, harga emas naik sekitar US$ 125/Oz, perhatikan pada grafik di samping untuk memahami hubungan antara US Treasury Debt ini dengan harga emas.
  • Untuk memberikan hasil yang berubah, diperlukan cara yang berubah pula. Maka bila belum ada perubahan dalam sistem pengelolaan uang dunia ? kita juga belum bisa mengharapkan adanya perubahan dalam trend harga barang-barang tidak terkecuali emas.

Dari fakta-fakta tersebut di atas, saya melihatnya bahwa balon-balon tersebut rasanya belum akan turun dan balik ke pengikatnya. Yang terjadi mungkin malah sebaliknya, mereka akan semakin terbang tinggi dan kemudian menghilang. Barangkali inipula yang dilihat oleh Bank for International Settlements (BIS) sehingga secara diam-diam mereka mulai ?memasukkan? emas sebagai ?alat tukar? swap-nya, mereka mulai memerlukan kembali ikatan itu! Wa Allahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Future World Currency & Uang Yang Namanya Disebut di Al-Qur?an


Di dunia yang didominasi oleh uang Fiat murni sejak Agustus 1971, uang emas menjadi seperti isi lagu tahun 1980-an ? dibenci namun pada saat yang bersamaan juga banyak dirindukan.

Uang emas dibenci oleh bank-bank sentral dunia dengan alasan yang tidak jelas ? konon kalau uang emas dibiarkan exist ? uang fiat akan kelihatan tidak bernilainya. Bahkan bukan hanya dibenci, dalam Article of Agreement of the IMF ada larangan bagi negara-negara anggotanya untuk menggunakan emas sebagai dasar nilai tukar uangnya (Article IV, Section 2. B).

Lantas siapa yang merindukan uang emas? Bagi kita umat Islam ? uang emas ini bukan hanya sekedar uang untuk kepentingan transaksi, tetapi juga sebagai alat untuk implementasi beberapa ketentuan syariah seperti nishab zakat, nishab hukuman bagi pencuri, nilai uang diyat, dlsb. Jadi kita tentu merindukan kehadiran uang yang adil ini.

Namun ternyata umat di luar Islam-pun yang cerdas dan memahami betul problem yang terbawa dengan uang kertas, mereka juga mulai merindukan hadirnya kembali uang emas ini. Di Amerika ada Gold Anti Trust Action Committee (GATA) dan Foundation of Advance Monetary Education (FAME) , keduanya gencar mengkritisasi ketidak beresan uang kertas mereka dan pentingnya kembali ke emas.

United Future World Currency (UFWC)

United Future World Currency (UFWC)

Yang lebih hebat adalah di Eropa ada United Future World Currency (UFWC) yang sangat serius mempersiapkan uang baru berbasis emas ini; Akses mereka ke para pemimpin dunia juga sangat baik sehingga dalam pertemuan G-8 yang berlangsung di Italy tahun 2009 lalu ? mereka berhasil secara symbolic menyerahkan uang emas mereka kepada para pemimpin dunia tersebut.

Dalam kebingungannya, uang yang diberikan kepada para pemimpin G-8 ini diberi nama ?eurodollars? dan bernilai setara 2,800 Euro atau US$ 3,900 per kepingnya. Gambar yang saya sajikan di atas adalah koin yang diserahkan kepada Barrack H. Obama.

Bukan hanya berhasil menyerahkan koin emas-nya pada para pemimpin dunia, UFWC juga melombakan design uang masa depan ini pada anak-anak di seluruh dunia ? karena generasi merekalah yang nantinya akan menggunakan uang ini. Lomba design uang masa depan  ini melibatkan juri dari berbagai latar belakang seperti para pemenang hadiah nobel, para ahli percetakan uang logam, para ekonom, dlsb.

Lagi-lagi kita umat Islam sebenarnya punya solusi yang sudah sangat terbukti keunggulannya selama ribuan tahun ? kalau saja kita mau kembali ke uang kita sendiri. Kita tidak perlu kebingungan mencari nama baru bagi uang kita karena uang kita namanya sudah disebut di Al-Qur?an (QS. Al-Imran (3): 75) dan berbagai hadits Rasulullah SAW.

Kita juga tidak perlu capai-capai menentukan designnya karena yang diatur dalam uang kita hanya beratnya (1 Mitsqal emas = 1 Dinar) dan ancaman yang tegas bagi yang menurunkan kadar standarnya.

Penggunaan Dinar juga tidak memerlukan kesepakatan khusus dari para pemimpin dunia; aturan main dalam syariah yang sudah baku dan sudah tested lebih dari 1.000 tahun terkait dengan emas dan perak sangatlah mencukupi untuk mengatur penggunaan emas dan perak sebagai uang ini.

Jadi kalau kita kembali kepada solusi Islam; justru kita akan berada di depan dari bangsa-bangsa lain di dunia. Ketika bangsa-bangsa lain masih sibuk mencari nama dan bentuk uang baru mereka, kita sudah diberi tahu nama dan bentuk uang kita dari 2 pegangan utama kita yaitu Al-Qur?an dan Hadits. Wa Allahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Aurum Et Argentum Comparenda Sunt?


Judul tulisan ini saya ambilkan dari pepatah latin yang terjemahan bebasnya kurang lebih berarti ?Emas dan Perak Adalah Untuk Dibeli??.  Pepatah ini sebenarnya tidak hanya berlaku pada emas dan perak; dalam ilmu pemasaran, produk-produk yang baik akan selalu dicari dan ?dibeli? orang. Sebaliknya produk yang buruk akan dengan susah payah harus ?dijual? oleh si penjual sebelum akhirnya ?dibeli? orang .

Emas sebagai salah satu produk yang baik, dalam sejarah peradaban manusia menempati tempat tersendiri baik sebagai simpanan barang berharga, sebagai uang, sebagai alat investasi, sebagai instrumen untuk membangun ketahanan ekonomi dan berbagai fungsi lainnya. Di zaman ini ketika  rezim uang dunia di dominasi oleh uang fiat yang rentan inflasi dan rentan isu; dan investasi dunia-pun didominasi oleh instrumen investasi yang berbasis spekulasi ? maka emas tetap memiliki tempat tersendiri yaitu sebagai tempat bersandar yang aman (safe haven) ? yang setiap saat selalu dibutuhkan, terutama ketika uang dan investasi yang lain menjadi terlalu berisiko.

Masalahnya adalah kalau kebutuhan terhadap emas terus tumbuh ? karena emas terus dicari orang untuk dibeli, lantas dari mana supply emas tersebut akan dipenuhi? Inilah masalah dan sekaligus peluangnya.

Masalah karena pertumbuhan emas yang ada di permukaan bumi hanya berkisar antara 2,000 ton ? 2,500 ton per tahun, jumlah yang jelas tidak cukup bila dunia usaha rame-rame beralih ke emas sebagai safe haven-nya. Apalagi bila negeri-negeri yang persentase cadangan emasnya masih sangat rendah seperti China dan Jepang mengoreksi (menambah) cadangan emasnya.

gold-reserve

Gold Reserve

Selain dari hasil penambangan baru dan daur ulang emas scrap, kebutuhan emas sebagai instrumen investasi ini selama beberapa decade terakhir di supply oleh penjualan Cadangan Emas Negara. Namun supply dari sumber yang satu ini juga tidak akan bertahan lama ? lihat pada grafik di samping untuk buktinya. Amerika sudah tidak menjual lagi emasnya lebih dari ¼ abad terakhir (terlihat dari cadangannya yang tetap), Indonesia yang punya sedikit (hanya sekitar 96 ton sampai 2006) ? penjualan terakhirnya (maksud saya mudah-mudahan tidak menjual lagi) 23 ton terjadi 4 tahun lalu (cadangan emas kita di BI kini tinggal sekitar 73.1 ton); hanya Eropa nampaknya yang masih melakukan penjualan sampai sekarang meskipun jumlah yang bisa dijual akan semakin sedikit dari waktu ke waktu.

Lantas darimana lagi emas kebutuhan investasi akan di supply? Inilah peluang pertamanya ? yaitu karena supply akan semakin tidak sebanding dengan demand ? maka kecil kemungkinan harga emas akan turun di pasar dunia di tahun-tahun mendatang, sebaliknya harga emas akan secara fundamental cenderung naik karena keterbatasan supply.

Lantas apa yang akan terjadi setelah itu? orang tetap butuh emas ? tetapi supply emasnya tidak ada atau tidak cukup. Ada 2 kemungkinannya:

1) Pertama dengan hard-way orang akan berburu emas melalui cara-cara perang, penyitaan emas rakyat oleh Negara (seperti terjadi di Amerika tahun 1930-an) dan cara-cara primitif lainnya untuk sekedar menguasai emas.

2) Atau dengan cara yang elegance yaitu umat manusia akan dapat mencukupi kebutuhan emasnya melalui guidance atau petunjukNya. Jumlah yang sedikit akan selalu cukup bila emas itu beredar/berputar; jumlah berapapun tidak akan pernah cukup bila emas disimpan/ditimbun.  Jadi ketersediaan emas yang cukup untuk ?dibeli? oleh manusia yang membutuhkannya, akan terjamin bila:

  • Emas tidak ditimbun
  • Emas tidak digunakan untuk perhiasan laki-laki
  • Emas tidak dipakai untuk bermewah-mewah membuat tempat makan, minum, dlsb.
  • Emas tidak dipakai untuk bangunan.
  • Dlsb.

Dimana aturan-aturan tersebut ada? Hanya Syariah Islam yang memiliki aturan sedetil ini?

Jadi, bahkan untuk menjamin kelangsungan pepatah latin kuno yang artinya ?Emas dan Perak Untuk Dibeli?? tersebut di atas ? diperlukan syariah untuk mengawalnya. Disinilah rahmatan lil ‘alamin-nya agama akhir zaman ini. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?? Wa Allahu A?lam.

Posted in Islamic ViewComments (0)

Gold Wars: Perang Terhadap Emas Dari Kacamata Swiss Banker


Tulisan ini saya sarikan dari buku Gold Wars: The Battle Against Sound Money As Seen From Swiss Perspective, karya Ferdinand Lips (Foundation for Advancement of Monetary Education, 2001). Menariknya, buku ini ditulis oleh seorang Swiss Banker – yang bahkan sempat mendirikan bank sendiri menggunakan namanya ? yang sangat tahu seluk beluk permainan terhadap emas dunia.

Menurut Lips ini perang terhadap emas dimulai tahun 1933 ketika President Amerika waktu itu Franklin D. Roosevelt menyita seluruh emas yang dimiliki warga negaranya, dan menaikan harga emas di negeri itu dari US$ 20.67/ounce ke US$ 35.00/ounce. Perang ini menjadi semakin serius sejak ditinggalkannya Bretton Woods Agreement 1971 ? dimana sejak saat itu praktis tidak ada satu uang-pun di dunia yang dikaitkan dengan emas ? kecuali Swiss.

Swiss merupakan negara yang bertahan mengkaitkan uangnya dengan emas sampai tahun 1992 ? itulah sebabnya sampai tahun tersebut mata uang Swiss yaitu Swiss Franc adalah yang paling kuat di dunia. Swiss dahulu juga merupakan surga bagi warga dunia yang ingin mengamankan asetnya.

Namun sejak tahun 1992, Swiss juga menjadi anggota IMF, dan sebagai anggota IMF mereka wajib tunduk pada aturan-aturan IMF yang antara lain melarang anggota IMF mengkaitkan uangnya dengan emas. Uang boleh dikaitkan dengan hasil-hasil peternakan, pertanian dan lain sebagainya atau apapun tetapi tidak boleh dikaitkan terhadap emas.

Lantas mengapa bank-bank sentral dunia dalam koordinasi IMF ini memerangi emas? Menurut Ferdinand Lips ini adalah karena emas merupakan barometer standar yang dengan mudah dapat mendeteksi bila ada yang salah dalam sistem keuangan yang ada di dunia ? dan para otoritas keuangan dunia tentu tidak suka kesalahannya mudah dibaca hanya dengan melihat harga emas!

Ferdinand Lips (1931 - 2005)

Ferdinand Lips (1931 - 2005)

Dia mencontohkan apa yang terjadi di Amerika pada tahun 1960-an. Awal kesalahan sistem keuangan negeri itu terbaca dari naiknya harga emas dari US$ 35/ounce ke US$ 40/ounce pada masa pemerintahan Kennedy. Situasi memburuk pada akhir dasawarsa 60-an tersebut ketika Amerika terjerumus dalam perang yang tidak pernah bisa dimenangkannya yaitu Perang Vietnam.

Puncaknya tahun 1971 ketika Amerika benar-benar tidak bisa mengendalikan sistem keuangannya dan terpaksa melepaskan kaitan antara US$ dengan emas. Hari-hari yang mencekam dalam sistem keuangan Amerika yang belakangan menular ke seluruh dunia ini ? terekam dari cerita para pelaku langsung yang ditulis oleh Ferdinand Lips ini sebagai berikut:

?Pada tanggal 10 Agustus 1971 sekolompok bankers dan economist berkumpul membicarakan krisis moneter yang genting di negeri itu, termasuk di antara yang hadir adalah Paul Volker yang saat itu menjabat Under-secretary of the Treasury for Monetary Affairs.

Ada 2 opsi solusi yang saat itu dibicarakan; pertama menaikkan suku bunga atau menaikkan harga emas ? namun nampaknya Paul Volker tidak mengambil salah satunya. Dia mengambil solusi yang tidak terbayangkan waktu itu yaitu meninggalkan emas sama sekali dari referensi uang US$ Amerika. Sepekan kemudian keputusan ini diumumkan oleh presiden AS saat itu Nixon yang kemudian menimbulkan kejadian yang mengguncang dunia yang dikenal sebagai Nixon Shock 1971.?

Sejak saat itu perang terhadap emas semakin hari semakin meningkat yang digambarkan digambarkan oleh Lips (meninggal 2005, konon meninggal tidak wajar karena terlalu banyak tahu!) antara lain sebagai berikut:

?Dengan bantuan pemerintahan-pemerintahan dunia, di tahun 1990-an, perang terhadap emas memasuki fase yang sangat destructive. Bank-bank sentral menjual atau meminjamkan emasnya untuk menghancurkan harga emas?

Bila ?perang? yang diungkapkan oleh Ferdinand Lips tersebut benar adanya ?  kemungkinannya memang begitu karena sebagai ?orang dalam? dari sistem perbankan dunia tentu apa yang ditulisnya memiliki dasar yang kuat ? maka dalam ?perang? ini hanya ada 2 pihak, yaitu Sistem Uang yang Adil berbasis Emas dan Sistem Uang yang Destructive yang berbasis Uang Kertas. Hati kecil kitalah yang bisa menjawab, sistem yang mana yang seharusnya kita bela… Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

Economics Outside The Box: Project Ngecat Langit Bernama Barter


Sejak saya menulis tentang peluang transaksi tanpa uang atau barter hampir setahun lalu dalam tulisan Dinar Equity Exchange, tidak hentinya team kami terus bekerja mewujudkan ide tersebut dalam suatu project. Project ini sendiri secara berkelakar kami sebut sebagai Project Ngecat Langit ? untuk menggambarkan betapa besar pekerjaan dan juga peluangnya.

Barter sebenarnya sama sekali bukan hal baru karena bentuk perdagangan yang paling basic ya barter ini. Manusia modern kemudian menemukan cara yang lebih sederhana dari barter yaitu dengan berjual beli menggunakan uang. Banyak masalah teratasi dengan menggunakan uang ini, namun banyak pula masalah baru yang timbul terutama ketika uang yang digunakan adalah uang fiat ? yaitu uang yang tidak memiliki nilai intrinsik.

Terlepas dari kendala-kendala yang dihadapi dalam barter, Transaksi barter di zaman modern ini sebenarnya terus terjadi baik antar individu, perusahaan dan bahkan antar negara. Barternews memperkirakan bahwa transaksi barter tahunan di seluruh dunia saat ini telah mencapai US$ 3.7 trilyun dengan perincian seperti pada tabel di bawah.

barter

Mengapa transaksi barter yang terkesan ?kuno? ini masih dilakukan orang dalam skala besar? Hal ini tidak terlepas dari masalah yang timbul dalam jual beli menggunakan uang fiat dimana nilai uang fiat sendiri yang cenderung turun dari waktu ke waktu. Nilai uang fiat juga rentan terhadap manipulasi, spekulasi dan ketidak adilan, uang salah satu negara bisa seolah lebih penting (lebih tinggi nilainya) dari uang negara lain.

Pengelolaan uang fiat di berbagai negara juga sering menimbulkan krisis dimana uang fiat menjadi langka atau turun drastis nilainya. Bilamana hal ini terjadi maka transaksi kebutuhan antar manusia juga terganggu. Ingat kita pada peristiwa krismon 97/98 ; dan juga krisis finansial di Amerika 2 tahun lalu. Kebutuhan basic kita akan sandang, pangan dan papan tidak menghilang dengan adanya krisis ? hanya uang yang menjadi alat tukarnya yang menghilang.

Di daerah Sentul yang jaraknya kurang dari 1 jam perjalanan dari Jakarta; ada sebuah komplek perumahan yang kini mirip kota hantu. Perumahan mewah untuk kalangan berduit ini mulai dibangun beberapa tahun sebelum krisis moneter 97/98; karena semua harus dibayar dengan uang dan sebagian terbesarnya adalah kredit ? maka ketika uang dan kredit menghilang selama krisis moneter, proses pembangunan perumahan ini-pun terhenti.

Rumah-rumah yang sudah jadi atau setengah jadi dibiarkan ngangkrak terbengkalai; pintu-pintu, besi dan apa saja yang berharga dari komplek tersebut kemudian dijarah orang dan kini tinggal puing-puing yang tidak ada harganya.

Ini ironi karena jutaan orang di negeri ini belum bisa memiliki rumah ? tetapi ada rumah-rumah dalam suatu komplek besar yang dibiarkan ngangkrak. Tidak bisa dimanfaatkan oleh orang lain karena semuanya harus dibeli dengan uang ? yang justru tidak tersedia cukup  pada waktu itu.

Kejadian serupa terjadi dengan para peternak sapi susu, para petani tomat, cabe dan sejenisnya. Mereka kadang harus membuang susu atau hasil panennya karena tidak ada yang membeli produknya dengan uang yang layak. Padahal negeri ini masih harus impor susu karena kebutuhan dalam negeri lebih besar dari produksinya. Banyak ?saus tomat? pula di pasaran yang isinya bukan tomat karena pabrik saos tomat tersebut tidak bisa membeli dengan layak tomat yang sesungguhnya.

Problem-problem tersebut setidaknya bisa dikurangi atau diatasi sama sekali bila kita bisa mempertukarkan barang atau jasa yang satu dengan yang lain tanpa harus melalui uang lebih dahulu, inilah barter itu.

Memang diperlukan banyak sekali effort untuk membuat barter ini praktis dan applicable di zaman modern ini, oleh sebab itulah Project Ngecat Langit ini kita rintis. Bila barter kuno terkendala dengan syarat yang disebut coincidence of want,  maka di zaman teknologi ini kita bisa men-create coincidence of wants melalui teknik-teknik barter modern seperti multileg exchanges yang diolah melalui sistem teknologi informasi yang canggih, dlsb.

Meskipun jauh dari selesai, namun sudah cukup jauh kami melangkah ? keterlibatan Anda sekalian pembaca situs ini insya Allah akan dapat mempercepat progress dari project ini. Sudah banyak yang mendaftar ikut project ini sejak tulisan saya yang pertama tersebut di atas, namun agar komunikasi terus terbangun secara luas ? kami undang Anda yang tertarik dengan project ini untuk bergabung di Group Facebook yang sengaja kita buat untuk ini yaitu grup BarterClub.

Siapa tahu dengan kerja rame-rame; kita bisa benar-benar mengecat langit kita dengan warna kita sendiri… bukan warna yang dikehendaki orang lain untuk kita. Insya Allah.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Dunia Akan Membutuhkan Uang Baru Atau Sistem Barter Yang Canggih


Dalam tulisan saya awal pekan ini tentang bagaimana kita bisa mengalahkan inflasi, saya telah memberi gambaran betapa daya beli umat manusia di seluruh dunia tergerus oleh inflasi yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintahan negerinya masing-masing.

Kalau ada yang masih berpikir bahwa ada uang kertas dunia yang bertahan daya belinya, maka perhatikanlah kinerja uang kertas yang selama ini dipandang kuat di dunia seperti grafik di samping. Daya beli terhadap emas untuk Rupiah misalnya tinggal 20% selama 10 tahun terakhir, bila di awal tahun 2000 Anda bisa membeli 1 gram emas seharga Rp 66,000,- maka kini dengan uang yang sama Anda hanya bisa membeli 0.2 gram emas karena per gramnya kini telah menjadi Rp 330,000,-.

Bukan hanya Rupiah tetapi berbagai mata uang perkasa dunia-pun nasibnya hanya sedikit lebih baik dari Rupiah; dalam kurun waktu 10 tahun yang sama daya beli Poundsterling terhadap emas tinggal 23%, US Dollars tinggal 25%, Yen dan Sing Dollar tinggal 30% dan Euro tinggal 34%.

Mengapa emas pembandingnya? bukan data inflasi di masing-masing negara? Sederhana, di negara maju sekalipun seperti di Amerika yang katanya paling transparan dalam informasi ? data inflasi resmi pemerintah negeri itu diragukan oleh rakyatnya sendiri sehingga munculah Shadow Government Statistic misalnya ? pemerintah dianggap mempunyai ?kepentingan? terhadap data inflasi ini sehingga data yang dikeluarkan bisa jadi bukanlah data yang sebenarnya.

Di lain pihak daya beli emas sudah terbukti stabil selama lebih dari 1,400 tahun – bahwa 4.25 gram emas yang disebut 1 Dinar, selalu cukup untuk membeli 1 ekor kambing. Sehingga emas (bersama perak) memang layak sebagai satu-satunya timbangan yang adil dalam bermuamalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam ?Ihya Ulumuddin sejak 10 abad lalu.

Dengan penurunan daya beli uang kertas seperti tersebut di atas, disadari atau tidak umat manusia akan semakin banyak yang merindukan hadirnya uang yang adil yang nilainya bebas inflasi ? meskipun bisa jadi uang ini tidak diakui sebagai uang oleh sistem moneter yang dianut dunia saat ini.

Bila otoritas-otoritas keuangan dunia menerima kembali uang bernilai intrinsik seperti emas/Dinar atau perak/Dirham, maka urusan pencarian uang baru ini selesai sudah. Tinggal copy paste dari Syariah Islam tentang bagaimana penggunaan emas dan perak ini diatur ? semuanya sudah komplit dan sudah dijalankan selama lebih dari 1000 tahun.

Masalahnya adalah sistem keuangan dunia saat ini yang dikomandoi IMF menolak kehadiran uang emas ini, jadi apa kira-kira yang akan terjadi? Masyarakat akan semakin tidak mempercayai rezim uang kertas dunia, tetapi uang bernilai intrinsik yang didambakan terhambat kehadirannya sehingga sulit untuk tersedia secara cukup di masyarakat. Maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah Sistem Barter yang akan berkembang.

Sistem Barter

Sistem Barter

Dengan berbagai perkembangan teknologi data processing yang semakin cepat dan murah, tidak mustahil sistem barter nan canggih akan segera tersedia di pasar. Bahkan di negeri tetangga misalnya sudah ada perusahaan yang menawarkan sistem barter ini untuk transaksi perdagangan business to business. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan ini telah meng-klaim memiliki ratusan ribu customer based dan telah memiliki ?uang?-nya sendiri yang disebut Barter Trade Credit.

Bila sistem barter berkembang (ketika uang kertas terus menurun legitimasinya), maka benda-benda riil lah yang berharga dan bukan lagi uang kertas. Dahulu saya sulit memahami mengapa sampai garam-pun disebut dalam Hadits Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa?i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ?Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: ?(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya?ir dengan sya?ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.?

Setelah mempelajari sistem barter ini, kini saya tahu rupanya tidak ada yang tidak penting dalam setiap benda yang disebut di dalam hadits barter tersebut di atas – jadi bukan hanya emas dan perak yang berharga tetapi garam-pun sangat berharga. Hidup menjadi sungguh hambar tanpa garam ? karena makanan yang seharusnya enak-pun menjadi tidak ada rasanya, otak yang seharusnya cerdas menjadi tidak berfungsi (iodium dalam garam juga berfungsi mencerdaskan otak).

Jadi kalau garam-pun bernilai untuk barter, benda-benda lain yang Anda miliki dan peroleh dengan susah payah ? tentu bernilai dan bermanfaat untuk Anda. Kalaupun toh Anda sudah tidak membutuhkannya lagi, bisa jadi ada orang lain yang membutuhkannya ? mengapa tidak berfikir untuk dibarter saja? Wa allahu A?lam.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Barter Di Ekonomi Modern, Mungkinkah?


Dalam sejarah peradaban manusia; penemuan konsep uang sejak sekitar 5,000 tahun lalu oleh bangsa Mesopotamia (3000 SM) merupakan penemuan yang  paling penting untuk mempermudah terjadinya perdagangan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.

?Uang? Shekel yang diperkenalkan zaman itu adalah setara berat 180 butir gandum untuk benda-benda yang dianggap berharga seperti perak, perunggu, tembaga, dlsb. Tercatat dalam sejarah 13 Abad kemudian (1760 SM) bahkan uang juga mulai secara resmi masuk dalam sistem hukum yang dikenal dengan Hukum Hammurabi – karena diperkenalkan oleh Raja ke 6 dari bangsa Babylonia yang bernama Hammurabi.

prasasti Hukum Hammurabi

prasasti Hukum Hammurabi

Sebelum uang dikenal, perdagangan antar umat manusia mengandalkan Sistem Barter. Karena barter saat itu hanya dilakukan antar 2 belah pihak yang secara kebetulan saling membutuhkan barang atau jasa pihak lain, maka perdagangan tentu sulit untuk terjadi secara aktif. Hambatan perdagangan ini adalah karena kondisi yang disebut coincidence of wants (kebutuhan yang secara kebetulan saling sesuai) sebagai prasyarat terjadinya barter ? tidak mudah terpenuhi.

Kemudahan yang difasilitasi oleh adanya konsep uang inilah yang kemudian selama beribu tahun kemudian ? hingga kini ? menjadi mesin penggerak perdagangan yang utama. Dalam perdagangan yang menggunakan konsep uang, tidak harus lagi ada kondisi coincidence of wants.

Hanya saja dalam perkembangannya, manusia modern yang kelewat tergantung pada uang ? kemudian menjadikan uang bukan semata sebagai alat tukar dalam perdagangan. Sejak manusia modern menggunakan uang kertas yang semakin canggih; bahkan sekarang uang kertas-nya pun tidak harus  dicetak lagi ? cukup diketikkan dalam angka-angka komputer di bank sentral yang disebut Quantitative Easing misalnya, selain sebagai solusi uang juga dapat menjadi musibah bagi sesama.

Uang dapat menjadi satu alat untuk menjajah satu bangsa oleh bangsa lain; uang juga dapat menjadi alat yang efektif bagi penguasa untuk menarik ?pajak? secara tersembunyi kepada seluruh rakyat tanpa kecuali melalui apa yang disebut inflasi. Ketergantungan kepada uang juga dapat membuat sebagian manusia menjadi sangat miskin karena ulah sebagian yang lain ? ingat apa yang kita alami di Indonesia selama puncak krisis tahun 1997-1998.

Lantas apakah dengan efek samping-efek samping yang saya sebutkan di atas, uang harus ditinggalkan dan kita kembali ke zaman barter seperti sebelum 5000 tahun lalu? Tentu jawabannya juga tidak sedemikian ekstrim. Hal-hal positif yang terkait dengan uang (seperti fleksibilitasnya dalam menjembatani kebutuhan antara manusia yang tidak selalu bisa memenuhi syarat coincidence of wants) tetap terus dapat dipakai; pada saat yang bersamaan efek samping-nya harus diminimalisir. Dinar (uang emas) dan Dirham (uang peraklah) yang sebenarnya mampu membuktikan fungsi uang yang sesungguhnya ini selama ribuan tahun ? tanpa berbagai efek samping seperti yang kita kenal sekarang.

Di sisi lain seefektif apapun uang dapat berfungsi memfasilitasi perdagangan; konsep barter sesungguhnya juga tetap menjadi konsep perdagangan yang valid sepanjang zaman. Dalilnya adalah Hadits Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa?i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ?Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: ?(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya?ir dengan sya?ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.?

barter-modernKarena Islam adalah agama akhir zaman, maka apa-apa yang diajarkan dalam Islam tentu juga valid sampai akhir zaman. Penggalan kalimat terakhir dari Hadits di atas yang berbunyi ??Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai? ini mengisyaratkan kita dapat melakukan barter sampai akhir zaman.

Bukti empiris keberadaan barter di zaman modern inipun pernah saya tulis dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Dinar Equity Exchange?”; dan bahkan Negara-negara kuat dunia saat ini sedang mempersiapkan sistem barter yang canggih untuk bisa memfasilitasi perdagangan diantara mereka tanpa harus tergantung pada mata uang tertentu, untuk ini lihat tulisan saya lainnya seperti “China Bersiap Memimpin Perdagangan Dunia??.

2 sistem barter modern yang saya perkenalkan dalam tulisan-tulisan tersebut di atas, keduanya bisa berjalan efektif bila bisa menciptakan – kondisi yang ribuan tahun lalu bermasalah – kondisi coincidence of wants.

Dengan teknologi data processing yang bisa bekerja sangat cepat dan murah seperti sekarang ini, maka coincidence of wants ini bisa dipertemukan dari sejumlah besar pihak peserta barter ? tidak terbatas pada hanya 2 pihak seperti ribuan tahun lalu.  Dari sinilah teknik-teknik barter modern yang kemudian disebut Multileg Exchange atau Multileg Barter berkembang.

Dengan perkembangan-perkembangan perdagangan modern tersebut; visi gerakan Dinar kami tidak hanya terbatas pada menyediakan Dinar yang dibutuhkan oleh masyarakat dan menjadikan Dinar sebagai penggerak sektor riil ? tetapi kita juga terus melakukan riset dan pengembangan yang terkait dengan perdagangan pada umumnya.

Dalam kaitan dengan kepeloporan di bidang barter modern ini misalnya, kami bekerjasama dengan beberapa pihak kini tengah mengkajinya dan menyiapkannya dalam project yang kita sebut IndoBarter Project ? agar kita tidak ketinggalan dari China, India, Brasil, Rusia, Jerman, dlsb dalam hal perdagangan global kelak yang bisa jadi tidak lagi akan mengandalkan keberadaan sistem keuangan dunia yang kini semakin rapuh.

Talent- talent terbaik negeri ini di bidang finansial, taxation, IT, legal, trading, dlsb. silahkan menghubungi kami (indo...@dinarislam.com) dengan mengirimkan CV-nya bila tertarik untuk terlibat dalam Project Indobarter ini. Hanya yang benar-benar bisa memberikan kontribusi pada project ini yang akan diundang untuk bergabung dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya. Semoga kita bisa belajar walau sampai negeri China untuk hal ini?

Posted in Business OpportunityComments (0)

Quantitative Easing: Cara Baru Bank Sentral Dunia Mencetak Uang


Mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah tentang bagaimana seharusnya penguasa negeri mencetak fulus?Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka?.

Andai saja pemikiran Ibnu Taimiyyah tersebut dijadikan rujukan oleh para pemegang otoritas moneter dan keuangan dunia; Insya Allah berbagai krisis yang mendera umat seluruh dunia ini tidak akan terjadi. Karena kesombongan manusia, mereka enggan mencari petunjuk yang benar ? alih-alih belajar dari kekeliruan sebelumnya ? mereka malah membenamkan umat manusia ke potensi krisis yang lebih besar lagi.

Saya ambilkan bukti nyatanya dari apa yang dilakukan oleh pemerintah Inggris tahun lalu. Ketika upaya penyelamatan ekonomi melalui pengendalian suku bunga yang saat itu sudah mencapai 0.5% – TERENDAH dalam 315 tahun terakhir! ? dirasa belum juga menyembuhkan krisis yang ada, mereka mulai mencari akal (-akalan) untuk memoles ekonomi mereka.

Maka diketemukanlah caranya yang diberi nama keren Quantitative Easing ? yang terkesan canggih, sehingga tidak mudah dipahami rakyat. Apa sih Quantitative Easing ini sebenarnya? Berikut adalah pemahaman saya yang awam ? mohon maaf kepada para ekonom karena saya berusaha menyederhanakan ilmu Anda yang canggih.

Bank of England

Bank of England

Quantitative Easing adalah salah satu cara bank sentral ? di Inggris berarti Bank of England ? ?mencetak? sejumlah besar ?uang baru? di Balance Sheet-nya. Tidak perlu repot-repot mencetak secara fisik uang kertas atau koin-nya ? tetapi semata-mata hanya menambahkan angka baru secara elektronik di neraca bank sentral tersebut.

Setelah terbentuk, lalu untuk apa ?catatan? uang ini? Untuk membeli aset-aset bermasalah dari dunia perbankan (seperti kredit perumahan), surat utang negara, dlsb. Dengan cara ini ?uang? yang tadinya hanya khayalan yang hanya diketikkan di neraca bank sentral, kini telah memasuki sistem keuangan negeri itu.

Karena setiap bank memiliki account di bank sentral, maka bank sentral juga tidak perlu repot-repot memindahkan uang fisik (yang memang nggak ada fisiknya) ke bank-bank tersebut, semua hanya entry di data komputer.

Di Inggris ada komite yang disebut The Bank?s Monetary Policy Committee yang memiliki otoritas untuk mencetak ?tambahan uang? dalam khayalan tersebut. Saat ini komite ini memiliki izin untuk menambah ?uang? di balance sheet bank sentral sampai sejumlah 150 milyar poundsterling atau US$ 207 milyar! Dari batas yang diizinkan tersebut, saat ini komite telah menggunakan ½ dari jatah yang ada.

Lantas apa dampaknya bagi rakyat Inggris? Sementara solusi ini belum tentu bisa menyelamatkan mereka dari krisis ? yang sudah jelas adalah sebaliknya yaitu nilai uang yang ada di masyarakat akan terus turun ? inilah yang dilarang oleh Ibnu Taimiyyah tersebut di atas.

Teknik-teknik canggih dalam mengatasi krisis semacam ini, sangat mungkin dilakukan oleh negara-negara lain juga; oleh karenanya rakyat atau melalui wakil-wakilnya hendaknya memiliki akses terhadap para pengambil kebijakan-kebijakan publik sehingga ada yang memahami dan mengawasi mereka.

Kalau kita tidak yakin tentang pengawasan ini, rakyat tetap bisa berbuat mengamankan hasil jerih payahnya yaitu dengan mempertahankan aset fisik atau uang dengan nilai intrinsik yang bisa berupa Dinar, Dirham, kebun, ternak, dlsbWa Allahu A?lam.

Posted in Islamic ViewComments (0)

Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes