Tag Archive | "timbangan"
Posted on 04 August 2010. Tags: 1 Dinar, 1 kambing, 20 Dinar, adil, angka besar, angka nol, Bank Indonesia, Bank Sentral, bayar parkir, daya beli stabil, Dinar, Gubernur BI, harga kacau, Indonesia, inflasi, ironi, Islam, jutawan, Ka'bah, kaya, kencleng infaq, kiamat, masyarakat, mata uang, miskin, nishab zakat, Pak Ogah, pemerintah, pemotongan nilai, penurunan daya beli, Redenominasi, Reorientasi Nilai, Rupiah, sanering, Sanering Rupiah, shalat, timbangan, Unit of Account, zakat
Adalah konsekwensi logis dari mata uang yang terus mengalami inflasi akan bertambah terus nol-nya dari waktu ke waktu. Untuk Rupiah, 3 angka nol yang pernah dibuang dengan susah payah tahun 1965/1966 melalui apa yang dikenal dengan Sanering Rupiah, 3 angka nol (000) tersebut 32 tahun kemudian kembali memenuhi angka uang kita bahkan kembalinya cenderung tidak cukup 3 angka nol, melainkan malah menjadi 4 atau bahkan 5 angka nol. Mau bukti? Lihat di dompet Anda ? kemungkinan besar hanya uang dengan 4 atau 5 angka nol yang ada di dompet ? karena yang nolnya hanya 3 kemungkinan sudah untuk bayar parkir, masuk kencleng infaq atau diberikan ke Pak Ogah…
Akibat dari bertambahnya angka nol terus menerus tersebut, secara berkala memang dibutuhkan otoritas yang berani mengambil keputusan untuk me-reset kembali agar angka-angka nol tersebut kembali ke jumlah semula. Proses me-reset ini bisa melalui Sanering bila ekonomi lagi gonjang-ganjing, atau melalui proses Redenominasi bila ekonomi lagi stabil. Yang pertama (Sanering) disertai penurunan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai, yang kedua (Redenominasi) hanya pencatatan beberapa angka nol-nya yang dihilangkan sedangkan daya beli masyarakat seharusnya tidak berubah.
Proses keduanya membuat panik, menyakitkan, membingungkan dan segala macam konsekwensinya ? tetapi saya sendiri berpandangan justru harus dilakukan dengan berani dan cepat. Bila berlama-lama, justru akan membuat kebingungan dan ketidak pastian yang lama. Bila kita menutup mata, justru angka-angka nol yang bisa terus bertambah tersebut akan berlama-lama merepotkan dan menghantui kita semua.

Redenominasi Rupiah?
Bila dilakukan dengan berani dan cepat; rasa sakit tersebut akan berlangsung cepat ? namun setelah itu kita akan bersyukur telah melalui masa yang menyakitkan tersebut. Bayangkan bila tahun 1965 (diimplementasikan sampai 1966) pemerintah negeri ini tidak berani mengambil keputusan Sanering ? Indonesia mungkin tidak akan pernah bisa membangun ? dan bisa Anda bayangkan berapa angka nol uang kita sekarang?
Demikian pula bila otoritas sekarang tidak berani mengambil keputusan untuk meng-implementasikan proses Redenominasi ini; berapa angka nol uang kita pada saat Anak Anda yang baru lahir sekarang masuk perguruan tinggi 18 tahun yang akan datang? Jadi Redenominasi tetap harus dilakukan, tinggal masalahnya kapan dan siapa yang berani mengambil keputusan tidak popular tetapi perlu ini. Saya mengenal cukup baik (Pjs) Gubernur BI yang sekarang dan sungguh saya berharap beliau berani melakukannya, karena bila tidak maka yang terjadi adalah membiarkan hantu Redenominasi ini berlarut-larut ke pejabat berikutnya, kemudian pejabat berikutnya lagi, dst.
Bila Redenominasi tidak dilakukan, ironi yang terjadi seperti yang kita alami sekarang akan terus berlanjut. Ironi karena rata-rata penduduk Indonesia secara harfiah dapat disebut ?Jutawan? (Millionaire) karena PDB Per Kapita kita mencapai lebih dari Rp 24,000,000/tahun, tetapi rata-rata ?Jutawan? tersebut adalah orang miskin menurut standar Islam ? karena nilai Rp 24,000,000,- ini hanya setara sekitar 16.50 Dinar atau tidak mencapai Nishab Zakat yang 20 Dinar.
Bila keputusan Redenominasi benar-benar dilaksanakan, yang perlu dipersiapkan oleh masyarakat adalah proses Reorientasi Nilai. Mengapa proses ini perlu? Berikut saya berikan ilustrasinya.
Saya pernah mendengar keluhan pelayan hotel di daerah wisata negeri ini yang dikunjungi banyak turis asing. Ketika mereka mengantarkan pesanan room service, sering diberi tips hanya Rp 1,000,- atau bahkan koin Rp 500,-. Hal yang sama yang terjadi pada sopir taksi, para wisatawan asing tersebut tidak jarang yang menagih kembalian meskipun kembalian tersebut hanya Rp 1,000,- atau bahkan Rp 500,-.
Mengapa kesan pelitnya beberapa turis asing tersebut terjadi? Inilah masalah Reorientasi Nilai itu. Meskipun sebelum datang ke Indonesia mereka sudah pelajari angka-angka di uang kita ini dan konversinya ke nilai uang mereka; Orientasi Nilai dibenak mereka masih tetap menyatakan bahwa angka 1,000 atau 500 adalah angka yang besar. Karena ketika membayar tips dan menagih kembalian, otak mereka tidak selalu sempat mengkonversi nilai ke angka nilai yang benar ? maka itulah yang terjadi, nilai tips hanya Rp 1,000 dan uang kembalian taksi secara recehan ?pun diminta.
Ini pula yang akan terjadi pada proses Redenominasi, orientasi di otak kita telah terbiasa dengan angka-angka besar. Ketika angka-angka tersebut berubah menjadi kecil, kita harus melatih otak kita untuk terbiasa dengan angka-angka yang menjadi kecil ini. Nampaknya mudah, tetapi karena ini harus terjadi secara massal bagi seluruh pengguna Rupiah ? maka diperlukan sosialisasi yang efektif.
Apa dampaknya bila Reorientasi Nilai tidak berjalan efektif? Harga-harga bisa kacau. Misalnya si embok tukang bayem biasa menjual satu ikat bayemnya Rp 2,500,-. Dalam mata uang Rupiah baru angka tersebut seharusnya menjadi Rp 2.5,- tetapi di benak si embok menyatakan bahwa angka Rp 2.5 ini terlalu kecil, maka dinaikanlah harga bayem dinaikkan menjadi Rp 3,-. Tanpa sadar Anda sebagai pembeli-pun meresponse angka Rp 3 tersebut dapat diterima karena lebih mudah membayarnya ? dan terasa kecil oleh Anda. Maka apa yang terjadi sesungguhnya adalah inflasi 20% terhadap harga bayem.
Jadi baik produsen, pedagang mapun konsumen harus membiasakan kembali response otomatisnya yang akurat terhadap harga atau nilai barang-barang yang wajar ? inilah Reorientasi yang saya maksud.
Disinilah sebenarnya keunggulan dan kebenaran Islam itu dapat terbukti dengan jelas. Kita tidak perlu kehilangan orientasi dalam hal apapun dan kapanpun ? karena tuntunannya, arahannya, nilai-nilainya berlaku baku sepanjang zaman. Seperti shalat yang kita tidak perlu lagi bertanya menghadap kemana, tinggal kita tahu dimana kita berada dan dimana Ka?bah berada ? maka seluruh umat sepakat ke situlah kita menghadap.
Demikian pula dalam hal nilai, kita bisa dengan mudah dan jelas dengan timbangan yang tidak pernah berubah untuk menimbang siapa yang kaya dan siapa yang miskin dengan Nishab Zakat yang 20 Dinar. Yang kaya wajib membayar zakat, yang miskin berhak menerima zakat ? betapa kacaunya hak dan kewajiban ini seandainya nilai Nishab tersebut perlu Sanering ataupun Redenominasi dari waktu kewaktu.
Maka saya-pun berandai-andai, Seandainya saja otoritas yang ada sekarang berani menggunakan satuan Dinar setidaknya sebagai unit of account atau timbangan yang adil ? maka generasi-generasi yang akan datang dan gubernur-gubernur bank sentral yang akan datang sampai hari kiamat akan bersyukur ? betapa mudahnya tugas mereka karena tidak harus lagi dari waktu ke waktu mengambil keputusan yang amat sangat sulit seperti Redenominasi Rupiah ini.
Sekali Dinar digunakan, nilai/daya belinya stabil ? 1 Dinar = 1 kambing tetap sampai akhir zaman, maka tidak akan lagi pernah diperlukan Redenominasi atau bahkan Sanering. Bila ini terjadi maka Reorientasi juga tidak akan perlu dilakukan lagi. WaAllahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 19 May 2010. Tags: Bank Sentral, Buruk Muka Cermin Dibelah, cermin, daya beli uang, dunia, ekonomi, emas, epicentrum, Euro, European Union, Ferdinand Lips, Gold Wars, grafik, Greek Drachmas, harga emas, Imam Al Ghazali, Indonesia, krisis, mata uang, penurunan daya beli, perang, PIIGS Flu, Rupiah, timbangan, wabah, wajah, Yunani
Sekitar 9 abad yang lalu Imam Al Ghazali (1058 – 1111) dengan kejernihan pemikirannya mengungkapkan bahwa sejatinya emas sebagai timbangan yang adil, dirinya sendiri ibarat cermin yang dengannya barang-barang dapat ditentukan nilainya dengan akurat.
Sekarang saya akan gunakan cermin Imam Ghazali ini untuk melihat krisis yang sekarang sedang menghebohkan dunia. Kita lihat krisis tersebut dari kacamata harga emas yang mencerminkan daya beli uang negara-negara di dunia. Saya ambil case negara kita dibandingkan negara yang menjadi epicentrum krisis sekarang ini yaitu Yunani secara khusus dan European Union secara umum.
Perhatikan grafik di samping, dalam mata uang Greek Drachmas (GRD) yaitu mata uang Yunani ? harga emas setahun terakhir mengalami kenaikan 41%. Dalam Euro kenaikan ini bahkan mencapai 44%, sedangkan dalam Rupiah hanya mengalami kenaikan 16%.
Dari kacamata kenaikan harga emas ini kita bisa tahu bahwa krisis yang melanda Yunani setahun terakhir memang sangat parah, sehingga daya beli uangnya terhadap emas anjlog sekitar 30% (100%/141%). Karena emas ini cerminan harga barang-barang di sekitarnya ? maka daya beli uang mereka terhadap barang-barang juga turun kurang lebih pada persentase yang sama. Bisa dibayangkan penderitaan rakyat negeri itu sebagai dampak dari penurunan daya beli uangnya ini.
Namun ternyata Yunani tidak sendirian mengalami krisis ini, secara bersama-sama negara-negara yang tergabung dalam European Union ? juga lagi tenggelam bersama. Ini bisa dilihat dari kenaikan harga emas dalam Euro bahkan lebih tinggi ketimbang dalam Drachmas ? yaitu mencapai 44%, atau daya beli Euro mengalami penurunan sekitar 31%.
Kita yang di Indonesia, juga tentu tidak terlepas dari wabah PIIGS ini; tetapi dalam Rupiah rata-rata harga emas setahun terakhir hanya naik sekitar 16% saja. Maka bersyukur memang sudah sepatutnya bahwa ekonomi kita lagi perkasa, namun untuk berbangga dengan kinerja kita ? ini yang tidak boleh.
Selain berbangga menimbulkan kesombongan yang dilarang agama, kenyataannya memang belum ada yang bisa kita banggakan. Mengapa demikian? Coba kita bercermin kembali dengan cerminnya Imam Ghazali tersebut di atas ? sekarang kita lihat harga emas 10 tahun terakhir.
Dalam 10 tahun terakhir, di Yunani yang menjadi epicentrum krisis saja - harga emasnya hanya naik sebesar 253% (dalam Drachmas); dalam Euro kenaikan ini hanya 249% ; dalam Rupiah kenaikan ini mencapai 445%. Bila pada Januari 2000 kita bisa membeli emas 1 gram seharga Rp 66,000,- ; kini harga emas tersebut menjadi Rp 360,000/gram.
Maka bercermin dengan cermin yang utuh kita perlu ? agar kita tahu seperti apa kinerja kita sesungguhnya; dengan cermin itu pula kita bisa memperbaiki diri ? agar dari waktu-kewaktu semakin indah wajah kita.
Jangan pula sampai terjadi ?Buruk Muka Cermin Dibelah? seperti yang diungkapkan oleh Ferdinand Lips dalam “Gold Wars” ; bahwa bank sentral dari negara-negara di dunia memerangi emas karena ingin membelah cermin ini; mereka tidak mau wajahnya terlihat buruk di depan cermin yang adil. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 17 May 2010. Tags: Al-Qur'an, Alat Tukar, angin, bercocok tanam, beternak kambing, Beyond Currency, Beyond Petroleum, BP, BP Alternative Energy, British Petroleum, business unit, corporate identity, currency, daya beli, Dinar, dunia, emas, energi minyak, energi surya, fungsi uang, garam, Hadits, hasil jerih payah, hydrogen, intrinsik, jangka panjang, kambing, komunikasi, Konsep Waktu Paruh, krisis, Krisis Moneter, Krismon, Medium of Exchange, penurunan daya beli, perusahaan minyak, PIIGS Flu, pohon, prognosis, Rupiah, sawah, statistik, Store of Value, Survival Kit, Survival Strategy, survive, tabungan, tagline, timbangan, uang kertas, Unit of Account, US$, wabah
Yang paling sering disalah pahami orang tentang gerakan saya menyebarluaskan Dinar ? adalah seolah saya menafikan keberadaan uang kertas. Padahal tulisan saya yang paling popular di web ini dengan judul ?Mengelola Uang Berdasarkan Fungsinya?? yang telah dibaca lengkap (bukan hanya penggalannya) oleh lebih dari 10,000 orang, justru mengakui fungsi uang kertas sebagai alat tukar ini.
Untuk meminimise kesalahpahaman ini, saya tidak malu untuk menyontek komunikasi yang digunakan oleh salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia yang dahulu dikenal orang sebagai British Petroleum (BP). Pada tahun 2002 ketika mereka merubah namanya menjadi BP plc. ; mereka menambahkan tagline ?Beyond Petroleum? dalam corporate identity-nya.
Nampaknya BP ingin mengkomunikasikan ke masyarakat dunia bahwa mereka tidak hanya bergerak di bidang perminyakan; karena setelah ber-identitas baru tersebut BP juga meluncurkan business unit baru yang disebut BP Alternative Energy. Business Unit baru inilah yang kemudian mengembangkan energi lain di luar minyak seperti energi surya, angin, hydrogen, dlsb. Jadi meskipun business utama BP yang juga memberikan income terbesarnya masih dari industri perminyakan, mereka sudah berpikir di luar perminyakan ? karena boleh jadi minyak tidak akan selamanya tersedia untuk mereka explore ? mereka tentu ingin tetap survive meskipun sumber energi utama kelak berubah dari minyak ke energi-energi lain di luar minyak.

"Beyond Petroleum"
Mirip dengan yang dilakukan oleh BP tersebut di atas ? inilah yang kita lakukan dengan gerakan penyebar luasan Dinar. Kalau BP mengembangkan strateginya barangkali berdasarkan prognosis bahwa minyak tidak akan selamanya tersedia; maka gerakan Dinar menggunakan prognosis bahwa uang kertas tidak akan bisa bertahan dalam jangka panjang.
Prognosis terhadap uang kertas ini didukung oleh statistik yang sangat kuat, sampai-sampai kita bisa menghitung waktu paruh daya beli uang kertas Rupiah yang hanya 4.3 tahun; US$ hanya 5.0 tahun, dlsb. Jadi bila anak Anda lahir hari ini dan Anda mulai menabung uang kertas Rupiah untuk masa depannya; maka daya beli uang tabungan Anda tersebut tinggal 1/16 (½^4) pada saat anak Anda berulang tahun ke 17! Bila Anda menabungnya dalam US$, maka tabungan Anda nilai daya belinya juga tinggal 1/16 pada saat anak Anda tersebut berusia 20 tahun.
Karena statistiknya demikian ? bahwa daya beli uang kertas meluruh bersamaan dengan waktu ? dan zat yang meluruh pasti akhirnya habis; maka kita butuh alternatif lain dari uang kertas ini. Alternatif lain inilah yang saya sebut Beyond Currency.
Bila uang kertas hanya berfungsi sebagai currency ? yaitu alat tukar yang hanya berfungsi sesaat; maka yang kita butuhkan untuk survive dalam jangka panjang adalah uang yang sesungguhnya ? Beyond Currency ? yaitu uang yang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar atau Medium of Exchange atau currency, tetapi juga berfungsi sebagai unit pencatatan/timbangan yang adil (Unit of Account) dan sekaligus juga mampu mempertahankan nilai dari hasil jerih payah kita (Store of Value).
Uang yang sesungguhnya inipun tidak harus emas; benda-benda lain yang bernilai intrinsik sampai garam sekalipun dapat menjadi uang dalam arti luas tersebut.
Kita pernah mengalami krisis 97/98 dimana saat itu uang kita tiba-tiba anjlog daya belinya tinggal ¼-nya dalam beberapa bulan saja (padahal seharusnya daya beli uang kita baru turun tinggal ¼-nya setelah 2 kali waktu paruh atau 8.6 tahun!), bukan hanya daya belinya yang anjlog ? saat itu barang-barang kebutuhan kita juga menghilang di pasaran. Minyak goreng, susu bubuk, dlsb menjadi rebutan di toko-toko yang masih memiliki stok.
Pada saat krisis, uang bisa saja menghilang atau turun daya belinya; tetapi kebutuhan kita akan makan minum, kebutuhan anak-anak kita untuk susu, dlsb tetap perlu dipenuhi.
Jadi ?uang? selain uang kertas yang rentan krisis ? harus juga menjadi bagian dari survival kit kita ? bila kita ingin survive dalam jangka panjang. Selain emas atau Dinar yang praktis, kita bisa juga menggunakan ternak kambing misalnya sebagai cadangan ?tabungan? kita di masa yang sangat sulit sekalipun.
Juga bukan hanya ternak kambing yang di-resep-kan dalam hadits sahih sebagai sumber penghasilan jangka panjang yang bisa diandalkan; antisipasi krisis melalui bercocok tanam dengan sungguh-sungguh selama 7 tahun ? bahkan resepnya ada di Al-Qur?an.
Maka tidak heran bila daya tahan masyarakat pedesaan terhadap krisis seperti yang kita alami tahun 1997/1998 lebih besar ketimbang masyarakat perkotaan. Sampai-sampai ketika saya masih rajin pulang kampung di masa krismon tersebut ? embok-embok di desa suka bertanya ?krismon iki opo to le?? ? (Krismon ini apa sih nak?). Mereka tidak terganggu dengan krisis moneter karena mereka memang sudah terbiasa hidup beyond currency.
Jadi mari kita rame-rame menghidupkan kehidupan desa, dengan kambing dan ternak lainnya, dengan pohon-pohonnya, dengan sawah-sawahnya ? maka bila wabah PIIGS meluas ke seluruh dunia ? Insya Allah kita bisa survive. Sekarang memang kita masih butuh uang kertas sebagai currency atau alat tukar, tetapi ketika uang kertas ini kehilangan daya belinya seperti yang sudah-sudah ? kitapun harus siap hidup Beyond Currency. Amin
Posted in Financial Plan
Posted on 25 March 2010. Tags: 'Urwah, 1 Dinar, 300 Dinar, Aisyah, Alat Transaksi, Allah, baju & makanan, benda riil, biaya cetak, BMT Daarul Muttaqiin, boros, daya beli, daya beli tetap, Dinar, dirham, domba, fluktuasi, HR. Abu Dawud, HR. Bukhari, IndoBarter Project, investasi, Investasi & Proteksi Nilai, Islam, Jangan Menimbun, kambing, kebiasaan masyarakat, keluarga, kendaraan mewah, ketahanan ekonomi keluarga, konsumtif, Lembu Ageng, m-Dinar, Madinah, Nabi, pesantren wirausaha, Pinjaman Tanpa Beban, Planet Jamur, produktif, qurban, Rasulullah SAW, Solusi Pembiayaan, susu kambing, teknologi, timbangan, transaksi barang modal, transaksi perdagangan, uang fiat, Umar bin Khattab, Unit of Account, unta Bukhti
Dari Aiman r.a berkata : ?Saya masuk ke rumah Aisyah, di situ ada baju perempuan yang terbuat dari benang seharga lima Dirham. Kata Aisyah: ?Lihatlah sahaya perempuanku, perhatikanlah dia!, dia merasa megah karena memakai pakaian itu dalam rumah. Saya pernah memakai baju itu pada masa Rasulullah SAW. Setiap wanita yang ingin berdandan di Madinah, selalu mengirimkan utusannya kepadaku buat meminjamnya?. (Shahih Bukhari, Kitab 47, Hadits no 796)
Diriwayatkan dari ?Urwa : ?Bahwa Nabi memberinya satu Dinar untuk membeli domba untuk beliau. ?Urwa membeli dua ekor domba untuk beliau dengan uang tersebut. Kemudian dia menjual satu ekor domba seharga satu Dinar, dan membawa satu Dinar tersebut bersama satu ekor dombanya kepada Nabi. Atas dasar ini Nabi berdoa kepada Allah untuk memberkahi transaksi ?Urwa. Sehingga ?Urwa selalu memperoleh keuntungan (dari setiap perdagangannya) ? bahkan seandainya dia membeli debu?. (Di riwayat lain) ?Urwa berkata: ?Saya mendengar Rasulullah SAW berkata, ?Selalu ada kebaikan pada kuda sampai hari kiamat??. (Periwayat lainnya lagi menambahkan ?saya melihat 70 ekor kuda di rumah ?Urwa.?) (Sufyan berkata, ?Nabi menyuruh ?Urwa untuk membeli domba untuk beliau sebagai hewan qurban?.) (Shahih Bukhari, Kitab 56, Hadits No 836)
Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Umar: Umar ibn Al Khattab memberi nama untanya Bukhti untuk qurban. Ada yang menawar 300 Dinar untuk unta ini. Ia datang kepada Nabi SAW dan berkata : ? Ya Rasulullah, unta saya Bukhti yang saya niatkan untuk qurban ditawar 300 Dinar. Boleh kah saya jual kemudian saya membeli unta lain dengan uang tersebut? Jangan, qurban kan saja yang ini.? (Hadits Sunan Abudawud, Kitab 10, hadits no 1752)
Banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik dari serangkaian hadits tersebut di atas, diantaranya adalah:
1) Kita bisa memperoleh perpektif yang lebih jelas tentang kehidupan Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Bahwa keluarga beliau dan para sahabatnya hidup sederhana dan begitu akrab satu sama lain ? sampai baju Aisyah yang indah sering dipinjamkan kepada kepada wanita-wanita Madinah.
2) Daya beli Dirham juga relatif stabil meskipun kursnya terhadap Dinar bisa saja berfluktuasi; yang disebut baju yang indah namun tidak berlebihan untuk Aisyah yang hidup sederhana ? adalah seharga 5 Dirham. Dengan 5 Dirham, sekarang Anda-pun masih bisa memperoleh baju yang relatif indah yang tidak berlebihan.
3) Harga yang wajar untuk kambing standar saat itu adalah 1 Dinar; bahwasanya ?Urwah bisa membeli 2 ekor kambing dengan 1 Dinar ? ini nampaknya karena kepandaian ?Urwah berdagang sehingga beliau dido?akan secara khusus oleh Rasulullah SAW. 2 ekor kambing yang dibeli ?Urwah kemudian salah satunya dijual lagi dengan harga 1 Dinar dan 1 ekor yang lain dipertahankan untuk keperluan qurban Rasulullah SAW ? ini menguatkan fakta bahwa baik kambing yang dijual maupun yang diserahkan ke Rasulullah SAW adalah kambing yang wajar ukurannya untuk harga 1 Dinar (buktinya orang lain mau membeli 1 Dinar, dan Rasulullah-pun mau menerima kambing yang diperuntukkan sebagai hewan qurban beliau seharga 1 Dinar tersebut). 1 Dinar saat ini tetap dapat untuk membeli 1 ekor kambing dengan standar yang baik ? ini membuktikan betapa stabilnya daya beli Dinar terhadap benda riil.
4) Kita jadi tahu ukuran atau nilai ?kendaraan mewah? saat itu yaitu unta terbaik seharga 300 Dinar. Atau kalau saat ini kira-kira setara SUV menengah atas Toyota Fortuner atau Mitsubishi Pajero Sport. Nilai seperti inilah yang dijadikan qurban oleh sahabat Rasulullah SAW yang mampu seperti Umar. Jadi bila Anda tergolong orang yang mampu berqurban dengan hewan qurban pilihan; lakukanlah itu ? ( www.lembuageng.com menyediakan hewan-hewan qurban top end ini).
5) Pelajaran yang tidak kalah menariknya adalah customary atau kebiasaan masyarakat saat itu ? kapan menggunakan Dinar untuk transaksi dan kapan menggunakan Dirham.
Untuk kebutuhan transaksi yang nilainya tidak terlalu besar seperti untuk membeli baju, makanan sehari-hari dan lain sebagainya tentu tidak praktis menggunakan Dinar ? maka digunakanlah Dirham. Jadi kalau sekarang-pun kita hendak mengganti uang fiat dengan uang riil untuk kebutuhan transaksi sehari-hari seperti membeli makanan dan belanja sehari-hari lainnya, Dirham insya Allah akan lebih sesuai ketimbang Dinar.
Memang dengan teknologi yang kita miliki teknologi M-Dinar, bisa saja kita membeli buku di Dinar World seharga 0.075 Dinar misalnya ; namun penggunaan Dinar untuk transaksi kecil di luar pasar yang sudah terintegrasi dengan sistem elektronik semacam Dinar World dan M-Dinar ini kemungkinan masih perlu waktu untuk bisa berjalan praktis.
Di luar transaksi dengan nilai kecil tersebut, sudah sangat banyak transaksi lain yang bisa kita fasilitasi dengan menggunakan Dinar ? yaitu transaksi barang/jasa yang bernilai cukup besar. Karena Islam tidak mengajari kita untuk boros, tentu transaksi yang bernilai cukup besar ini arahnya bukan untuk kebutuhan konsumtif tetapi untuk kebutuhan produktif.
?Urwah menggunakan Dinar untuk perdagangan kambingnya dan unta Umar juga dinilai dalam satuan Dinar ? ini contoh yang baik untuk penggunaan Dinar sebagai transaksi perdagangan dan sebagai timbangan yang adil atau unit of account yang saat itupun sudah praktis apalagi sekarang. Dalam bahasa ekonomi, transaksi-transaksi atau penilaian yang sudah praktis dilakukan dengan Dinar seperti dalam 2 contoh hadits tersebut adalah masuk kategori transaksi barang modal.
Karena Dinar kita arahkan untuk transaksi barang modal ? artinya untuk menggerakkan kegiatan produktif ? bukan konsumtif, maka tema sentral yang diusung kami adalah Investasi & Proteksi Nilai. Tema inilah yang sering disalah pahami oleh pihak yang tidak bosan-bosannya mengkritisi kami, dalam pandangan mereka investasi ini diartikan sekedar membeli Dinar terus disimpan atau sekedar menumpuk Dinar untuk ditunggu naik nilainya. Tuduhan ini sama sekali tidak berdasar, karena sejak awal sekali kami memperkenalkan Dinar ? para pengguna Dinar sudah kami ingatkan untuk tidak menimbun. Lihat tulisan kami “Bangun Ketahanan Ekonomi Keluarga Tetapi Jangan Menimbun“ misalnya.
Justru karena kami melihat bahwa transaksi dengan menggunakan Dinar yang paling mungkin untuk dilakukan saat ini adalah transaksi barang modal atau investasi tersebut, maka tidak terlepas dari gerakan sosialisasi Dinar ini ? kita juga mendorong kegiatan produktif masyarakat yang bisa didanai atau digerakkan dengan Dinar.
Pesantren Wirausaha, Pinjaman Modal Usaha Tanpa Beban, Project Planet Jamur, Project Susu Kambing, IndoBarter, dan Berbagai Solusi Pembiayaan Berbasis Dinar yang kami lakukan bersama BMT Daarul Muttaqiin, dlsb. adalah upaya konkrit untuk mendorong penggunaan Dinar untuk transaksi produktif barang modal atau investasi. Di sini investasi artinya memutar aset atau menjadikan aset bergerak memutar roda kegiatan produktif lainnya.
Jadi saat ini Dinar telah secara praktis digunakan untuk kebutuhan transaksi-transaksi yang bersifat produktif, sedangkan untuk transaksi yang bersifat konsumtif ? ini sebenarnya lebih tepat dilakukan dengan Dirham. Namun karena nilai Dirham saat ini masih didominasi oleh biaya cetaknya yang mahal, sementara kami belum fokuskan di sini. Semoga Allah memudahkan kita kepada jalan amal sholeh yang diridloiNya?
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 22 March 2010. Tags: ABG, biaya sekolah anak, CNBC, daya beli, dunia, emas, Euro, Europian Union, GDP, investor, jangka panjang, Jim Rogers, masa depan, mata uang, menabung, nilai tukar, perkasa, reserve currencies, teknologi, timbangan, uang fiat, Unit of Account
Meskipun kelahirannya menghebohkan dunia dan sempat menjadi harapan bangsa-bangsa di dunia untuk menjadi alternative reserve currency, Euro yang ibarat usia manusia sekarang baru memasuki usia ABG ? ternyata tidak tumbuh sehat. Bahkan menurut investor legendaris Jim Rogers dalam siaran televisi business terkemuka CNBC pekan lalu menyatakan bahwa usia Euro paling-paling hanya bisa bertahan sekitar 15 tahun lagi dari sekarang (lihat video di link ini).
Jadi kalau dihitung sejak kelahirannya mulai digunakan resmi sebagai unit of account 1 Januari 1999 ? dan jika prediksi Jim Rogers benar berarti usia Euro secara keseluruhan tidak akan lebih dari 30 tahun saja.
Di luar prediksi Jim Rogers tersebut, sebenarnya kita bisa melihat masa depan Euro ini secara lebih jelas bila kita gunakan timbangan emas. Sejak kelahirannya 11 tahun lalu itu, sampai sekarang nilai tukar Euro terhadap emas tinggal 30% saja. Bila trend menurun ini berlanjut, maka 15 tahun yang akan datang ? daya beli Euro terhadap emas akan tinggal di kisaran 5% dibandingkan dengan saat kelahirannya.

Jim Rogers di CNBC
Euro yang semula diharapkan menjadi mata uang modern yang hebat dan perkasa, ternyata kini memiliki masa depan yang sama suramnya dengan berbagai mata uang fiat lain di dunia. Lantas pelajaran apa yang mestinya dapat kita petik dari uang paling modern ? yang lahir di era teknologi ini?
Bayangkan bila uang yang digunakan sehari-hari oleh setidaknya 16 negara yang konon tergolong paling maju, dengan total penduduk di atas 327 juta dan dengan GDP terbesar di dunia (sekitar EUR 12.25 trilyun atau sekitar USD 16.52 trilyun) saja bisa jadi tidak akan survive dalam waktu yang lama ? maka apa jadinya nasib uang fiat lain yang dikeluarkan oleh negara-negara yang lebih lemah ekonominya.
Dengan fakta tersebut di atas, maukah Anda menabung dalam Euro untuk biaya sekolah anak Anda sekian belas tahun yang akan datang? Saya rasa tidak. Nah bila dengan Euro saja Anda tidak tertarik, bagaimana dengan mata uang lain yang ?tidak lebih perkasa? dari Euro dalam jangka panjang? Anda kini punya pilihan Anda sendiri. Mata uang negara-negara di dunia di luar European Union rata-rata telah berusia lebih panjang dari Euro ? dalam arti namanya telah bertahan lebih lama, tetapi dalam arti daya beli rata-rata tidak bernasib lebih baik dari nasib Euro tersebut untuk kurun waktu yang sama. Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 18 March 2010. Tags: 1 Dinar, barter, Barter Trade Credit, bebas inflasi, benda riil, business to business, data inflasi, data processing, daya beli, daya beli tetap, Dinar, dirham, dunia, emas, Euro, gandum, garam, grafik, Hadits, hasil jerih payah, HR. Muslim, Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali, IMF, inflasi, iodium, kambing, kurma, muamalah, nilai intrinsik, otak, pasar, pemerintah, penurunan daya beli, perak, Poundsterling, Rasulullah SAW, Rupiah, shadow government statistics, Sing Dollar, Sistem Barter, sistem moneter, sya'ir, Syariah Islam, teknologi, timbangan, tunai, uang, uang baru, uang emas, uang kertas, US Dollar, Yen
Dalam tulisan saya awal pekan ini tentang bagaimana kita bisa mengalahkan inflasi, saya telah memberi gambaran betapa daya beli umat manusia di seluruh dunia tergerus oleh inflasi yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintahan negerinya masing-masing.
Kalau ada yang masih berpikir bahwa ada uang kertas dunia yang bertahan daya belinya, maka perhatikanlah kinerja uang kertas yang selama ini dipandang kuat di dunia seperti grafik di samping. Daya beli terhadap emas untuk Rupiah misalnya tinggal 20% selama 10 tahun terakhir, bila di awal tahun 2000 Anda bisa membeli 1 gram emas seharga Rp 66,000,- maka kini dengan uang yang sama Anda hanya bisa membeli 0.2 gram emas karena per gramnya kini telah menjadi Rp 330,000,-.
Bukan hanya Rupiah tetapi berbagai mata uang perkasa dunia-pun nasibnya hanya sedikit lebih baik dari Rupiah; dalam kurun waktu 10 tahun yang sama daya beli Poundsterling terhadap emas tinggal 23%, US Dollars tinggal 25%, Yen dan Sing Dollar tinggal 30% dan Euro tinggal 34%.
Mengapa emas pembandingnya? bukan data inflasi di masing-masing negara? Sederhana, di negara maju sekalipun seperti di Amerika yang katanya paling transparan dalam informasi ? data inflasi resmi pemerintah negeri itu diragukan oleh rakyatnya sendiri sehingga munculah Shadow Government Statistic misalnya ? pemerintah dianggap mempunyai ?kepentingan? terhadap data inflasi ini sehingga data yang dikeluarkan bisa jadi bukanlah data yang sebenarnya.
Di lain pihak daya beli emas sudah terbukti stabil selama lebih dari 1,400 tahun – bahwa 4.25 gram emas yang disebut 1 Dinar, selalu cukup untuk membeli 1 ekor kambing. Sehingga emas (bersama perak) memang layak sebagai satu-satunya timbangan yang adil dalam bermuamalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam ?Ihya Ulumuddin sejak 10 abad lalu.
Dengan penurunan daya beli uang kertas seperti tersebut di atas, disadari atau tidak umat manusia akan semakin banyak yang merindukan hadirnya uang yang adil yang nilainya bebas inflasi ? meskipun bisa jadi uang ini tidak diakui sebagai uang oleh sistem moneter yang dianut dunia saat ini.
Bila otoritas-otoritas keuangan dunia menerima kembali uang bernilai intrinsik seperti emas/Dinar atau perak/Dirham, maka urusan pencarian uang baru ini selesai sudah. Tinggal copy paste dari Syariah Islam tentang bagaimana penggunaan emas dan perak ini diatur ? semuanya sudah komplit dan sudah dijalankan selama lebih dari 1000 tahun.
Masalahnya adalah sistem keuangan dunia saat ini yang dikomandoi IMF menolak kehadiran uang emas ini, jadi apa kira-kira yang akan terjadi? Masyarakat akan semakin tidak mempercayai rezim uang kertas dunia, tetapi uang bernilai intrinsik yang didambakan terhambat kehadirannya sehingga sulit untuk tersedia secara cukup di masyarakat. Maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah Sistem Barter yang akan berkembang.

Sistem Barter
Dengan berbagai perkembangan teknologi data processing yang semakin cepat dan murah, tidak mustahil sistem barter nan canggih akan segera tersedia di pasar. Bahkan di negeri tetangga misalnya sudah ada perusahaan yang menawarkan sistem barter ini untuk transaksi perdagangan business to business. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan ini telah meng-klaim memiliki ratusan ribu customer based dan telah memiliki ?uang?-nya sendiri yang disebut Barter Trade Credit.
Bila sistem barter berkembang (ketika uang kertas terus menurun legitimasinya), maka benda-benda riil lah yang berharga dan bukan lagi uang kertas. Dahulu saya sulit memahami mengapa sampai garam-pun disebut dalam Hadits Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa?i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ?Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: ?(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya?ir dengan sya?ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.?
Setelah mempelajari sistem barter ini, kini saya tahu rupanya tidak ada yang tidak penting dalam setiap benda yang disebut di dalam hadits barter tersebut di atas – jadi bukan hanya emas dan perak yang berharga tetapi garam-pun sangat berharga. Hidup menjadi sungguh hambar tanpa garam ? karena makanan yang seharusnya enak-pun menjadi tidak ada rasanya, otak yang seharusnya cerdas menjadi tidak berfungsi (iodium dalam garam juga berfungsi mencerdaskan otak).
Jadi kalau garam-pun bernilai untuk barter, benda-benda lain yang Anda miliki dan peroleh dengan susah payah ? tentu bernilai dan bermanfaat untuk Anda. Kalaupun toh Anda sudah tidak membutuhkannya lagi, bisa jadi ada orang lain yang membutuhkannya ? mengapa tidak berfikir untuk dibarter saja? Wa allahu A?lam.
Posted in Business Opportunity
Posted on 08 March 2010. Tags: 20 Dinar, Allah, Article of Agreement of IMF, Bangladesh, cadangan emas, China, China Central Television, Dinar, ekonomi, ekonomi ala IMF, emas, gelang emas, gigi emas, iklan, IMF, Indonesia, instrumen efektif, investasi, investasi emas, Iraq, Islam, kampanye, keadilan, kekayaan riil, kemakmuran, kemerdekaan, ketahanan ekonomi, Malaysia, misi, muamalah, muslim, nishab zakat, Oil Boom, otoritas pasar modal, pasar modal, pemerintah, penggerak sektor riil, perak, propaganda anti emas, rakyat, rujukan mata uang, Shanghai Gold Exchange, Solusi Pembiayaan, suka pamer, timbangan, Yuhsinun
Pada dasawarsa pertama kemerdekaan RI, negeri ini pernah memiliki cadangan emas sebesar 248 ton tetapi kemudian cadangan emas ini juga pernah nyaris habis tahun 1971 menjadi tinggal 1.8 ton saja. Ketika Oil Boom tahun 70-an sampai puncaknya 1981, negeri ini alhamdulillah berhasil kembali membangun cadangan emasnya sampai mencapai sekitar 96 ton.
Sayangnya selama ¼ abad kemudian tepatnya sampai 2006, cadangan emas ini tidak berhasil dinaikkan dan bahkan berkurang 24%-nya pada akhir 2006 sehingga tinggal 73 ton saja. Lihat detilnya di tulisan saya sebelumnya dengan judul Emas & Kemakmuran Negeri Ini.
Mengapa sampai bangsa ini tidak menganggap penting cadangan emas yang bisa menjadi instrumen untuk membangun ketahanan ekonomi (Yuhsinun) selama lebih dari ¼ abad terakhir? Dugaan saya sendiri adalah karena ekonomi kita adalah ekonomi ala IMF banget. Kita tahu dalam sistem IMF, bahkan mereka melarang negara-negara anggotanya menggunakan emas sebagai rujukan mata uangnya (Article IV, Section 2. B).
Akibat pelarangan ini sampai-sampainya otoritas pasar modal kita beberapa tahun lalu ketika ingin mempromosikan dagangannya menggunakan iklan yang memojokkan emas. Dalam iklan tersebut investasi emas digambarkan sebagai investasinya ibu-ibu yang suka pamer, yang lagi meringis menunjukkan gigi emasnya sambil mengangkat tangannya yang dipenuhi gelang emas.
Inilah gambaran betapa kita ter-makan oleh propaganda anti emas yang di stimulir oleh IMF melalui salah satu pasal di Articles of Agreement tersebut. Negara-negara yang tidak termakan propaganda oleh IMF ini melakukan hal yang exactly sebaliknya. Kita bisa belajar dari China misalnya untuk yang terakhir ini.
Ketika kita mengurangi cadangan emas kita sampai 24%-nya; China berhasil meningkatkan cadangan emasnya dari 600-an ton tahun 2003, sampai mencapai 1,054 ton akhir tahun lalu. Ketika institusi resmi pasar modal kita membuat iklan yang memojokkan orang-orang yang berinvestasi pada emas, pemerintah China bahkan mendorong rakyatnya agar rame-rame membeli emas melalui kampanye besar-besaran yang disiarkan oleh China Central Television. Lebih jauh lagi pemerintah China juga mendirikan Shanghai Gold Exchange untuk mempermudah rakyatnya dalam berinvestasi emas.
Mengapa China melakukan hal yang berlawanan dengan resep umum IMF ini? Dugaan saya lagi karena China tahu bahwa sesungguhnya emas itulah instrumen yang paling efektif dalam mengamankan kekayaan negeri itu beserta kekayaan rakyatnya.
Di antara negara-negara yang paling drastis penurunan cadangan emasnya, mayoritasnya justru negara yang penduduk mayoritasnya muslim seperti Indonesia. Bangladesh contohnya saat ini tinggal memiliki cadangan emas sebesar 3.5 ton saja; Iraq tinggal 5.9 ton; dan negeri jiran kita kini hanya memiliki 36.4 ton padahal sebelum krisis 1997/1998 mereka memiliki cadangan emas sekitar 2 kali dari yang dimilikinya sekarang.
Mungkin Anda bertanya, lho kan memang menimbun emas adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam? Betul, menimbun emas dan perak dan tidak dinafkahkan di jalan Allah diancam dengan siksa yang sangat pedih. Tetapi di sisi lain, emas dan perak juga dijadikan hakim/timbangan yang adil dalam bermuamalah. Bahkan batas kewajiban orang kaya dengan hak orang miskin juga ditentukan dengan emas ini yaitu dalam bentuk nishab zakat yang 20 Dinar.
Artinya membangun cadangan emas baik oleh negara maupun rakyat, tidak harus identik dengan menimbun. Ketika kita berhasil menjadikan emas/Dinar kita sebagai hakim yang adil dalam menggerakkan ekonomi; maka di situlah ketahanan ekonomi umat dan bangsa ini insya Allah akan terbangun.
Misi untuk menjadikan emas/Dinar sebagai penggerak sektor riil seperti yang pernah saya tulis misalnya, adalah salah satu upaya kecil yang bisa kita lakukan untuk membangun ketahanan ekonomi agar kita tidak mudah terjajah ? dan pada saat bersamaan kita juga terlibat langsung dalam mempercepat putaran ekonomi.
6 bulan sejak tulisan tersebut kita luncurkan, kini produk-produk solusi pembiayaan berbasis emas/Dinar benar-benar telah dapat ditangani dengan baik oleh kami beserta mitra-mitranya. Semoga Allah selalu menunjuki kita jalanNya. Amin.
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 02 March 2010. Tags: 15 Agustus 1971, Article of Agreement of IMF, benda riil, Bretton Woods Agreement, Dominique Strauss-Kahn, dunia, emas, Euro, gandum, IMF, International Monetary Fund, Islam, kegagalan IMF, kurma, lubang biawak, mata uang, nilai intrinsik, Nixon, Nixon Shock, perak, Poundsterling, reserve asset, rujukan mata uang, SDR, Smithsonian Institute, sosialisasi, Special Drawing Rights, timbangan, tinggalkan US$, uang kertas, US Dollar, US$, World's Reserve Currency, Yen
Ada berita menarik yang bisa Anda baca pada harian Republika yang terbit kemarin (02/03/2010) bahwa IMF menyerukan untuk meninggalkan US$!! Berita ini sendiri tentu saja valid karena merujuk pernyataan Dominique Strauss-Kahn, the head of the International Monetary Fund (IMF) pada jum?at pekan lalu.
Bukannya saya lebih tahu atau lebih pintar dari pimpinan tertinggi IMF tersebut; namun kalau Anda baca tulisan saya hampir 6 bulan lalu dengan judul Tinggalkan Dollar Selagi Sempat , maka Anda akan tahu bahwa seruan atau wacana yang dilontarkan oleh orang nomor 1 di IMF ini adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan dan tidak akan mengejutkan Anda.
Masalahnya yang perlu diwaspadai oleh umat dan juga bangsa-bangsa lain di dunia adalah ? ada apa dibalik pernyataan ini. Mengapa baru sekarang wacana mengganti US$ dimunculkan? Dan apa pengganti US$ yang mereka pikirkan?
Saya mencoba menduga-duga apa kira-kira jawaban atas 2 pertanyaan tersebut di atas. Mengenai mengapa baru sekarang wacana ini dimunculkan; dugaan saya karena mereka (para petinggi IMF) juga tahu kalau US$ tidak akan survive dalam waktu yang lebih lama lagi ? wacana ini dimunculkan untuk semacam sosialisasi ke dunia akan kondisi yang sangat mungkin akan terjadi.
Nampaknya mereka ingin memperbaiki sejarah kegagalan IMF pertama, ketika terjadi kejutan Nixon Shock Agustus 1971 ? dimana secara sepihak dan mendadak ? Nixon mengguncang Dunia dengan meninggalkan emas sebagai rujukan mata uang US Dollar-nya. Kali ini mereka ingin masyarakat dunia tahu dulu ? bahwa US Dollar berkemungkinan gagal (lagi) dan dunia tidak akan bisa mengandalkannya.
Lantas mengapa mereka ?berbaik hati? memberi isyarat pada dunia bahwa US$ akan gagal? Sederhana ? karena mereka juga masih ingin (tetap) memimpin dunia dengan aturannya. Ingat ketika IMF gagal pertama dengan kejadian Nixon Shock Agustus 1971; penggantinya tetap IMF juga hanya ?undang-undang?-nya yang berganti dari Bretton Woods Agreement (1945) menjadi Article of Agreement of IMF yang ditandatangani di Smithsonian Institute ? December 1971. Dari lokasi penanda tangananan ini saja sebenarnya umat Islam yang cerdas sudah harus tahu siapa di belakang mereka ini dan untuk kepentingan siapa program-program mereka dibuat.
Pertanyaan ke-2 mengenai apa pengganti US$ yang mereka pikirkan? Terungkap dari pernyataan Dominique bahwa pengganti US$ sebagai reserve currency yang akan datang adalah ?similar to but distinctly different from the IMF’s Special Drawing Rights, or SDRs?.
SDR adalah reserve asset yang diciptakan oleh IMF tahun 1969; awalnya nilai 1 SDR setara dengan 0.888671 gr emas ? yang seharusnya saat itu juga bernilai 1 US$. Setelah kejadian Nixon Shock tersebut di atas, ?uang? SDR yang tadinya setara emas tersebut-pun berganti menjadi setara dengan sekeranjang mata uang kuat dunia. Untuk saat ini isi keranjang tersebut terdiri dari US$, Poundsterling, Euro dan Yen.
Lantas berapa nilai SDR tersebut sekarang? Hari Senin kemarin (01/03/2010) 1 SDR nilainya setara dengan US$ 1.52771 atau kalau dibelikan emas hanya dapat 0.0425 gram. Jadi uang SDR itu-pun kini nilainya tinggal sekitar 1/20 dari nilai awal ketika diperkenalkan 41 tahun lalu.
Maknanya apa ini semua? Bila US$ sebagai reserve asset diganti dengan SDR bentuk baru sekalipun (yang dikatakan Dominique sebagai similar but distinctly different dengan SDR yang sekarang) ? tetap tidak dapat menjadi reserve asset yang sesungguhnya ? karena nilainya juga mengalami keruntuhan sebagaimana sekeranjang mata uang kertas yang digunakan untuk menghitung nilainya.
Kita umat Islam tidak seharusnya menggunakan timbangan yang mereka ciptakan; kita memiliki timbangan yang adil sepanjang masa ? yaitu emas, perak, gandum, kurma dan benda-benda riil yang memiliki nilai instrinsik lainnya. Waktunya kita mengikuti petunjuk jalan kita sendiri dan tidak mengikuti mereka memasuki “lubang biawak” berikutnya. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 28 February 2010. Tags: Abdullah, Abdurrahman, Abdurrazak, ahli penilai, ahli property, Amerika, aspek legal, barter, barter property, benda riil, brainstorming session, DEE, Dinar, Dinar Equity Exchange, EMS, Equity Marketing Specialist, Exchangor, fasilitator perdagangan barter, inflasi 0%, KPR, krisis finansial, likuiditas, mata uang, Multileg Exchange, National Council of Exchangors, nilai intrinsik, pembiayaan, penurunan daya beli, perpajakan, pertanahan, pinjaman, Robert Kiyosaki, rumah, Society of Exchange, tanah, team, teknologi, The Real Book of Real Estate, timbangan, uang, uang kertas, US$, Wayne Palmer
Krisis finansial global sungguh memberikan banyak hikmah bagi yang mau mengambil pelajaran darinya, salah satunya adalah pasar property di Amerika Serikat seperti yang ditulis oleh penulis kondang Robert Kiyosaki dalam bukunya The Real Book of Real Estate (Vanguard Press, 2009).
Dalam buku tersebut sebenarnya Robert Kiyosaki tidak menulisnya sendiri, dia hanya meng-compile pengalaman-pengalaman dari para praktisi real estate terbaik di negeri itu. Dari sekian banyak pengalaman-pengalaman tersebut, di sini saya hanya ambil satu saja yang menurut saya paling menarik yaitu pengalaman yang ditulis oleh Wayne Palmer seorang Exchangor atau Equity Marketing Specialist (EMS).
Profesi apakah EMS ini sebenarnya? Saya kesulitan mencari padanannya yang pas tetapi kurang lebih adalah semacam fasilitator perdagangan barter terutama untuk asset-aset bernilai tinggi seperti rumah, hotel, perkantoran, tanah perkebunan, dlsb.
Profesi EMS ini menjadi semakin penting belakangan ini di Amerika justru setelah mereka dilanda krisis. Begitu banyak orang ingin menjual atau mengganti rumahnya tetapi begitu sedikit pembeli yang punya uang. Uang (likuiditas) menyusut dengan drastis sehingga kalau hanya mengandalkan harus adanya uang untuk terjadi transaksi property, maka sangat sedikit property yang bisa berganti tangan semasa krisis ini.
Lantas apa solusinya? Barter antara pemilik rumah yang satu dengan pemilik rumah yang lain menjadi pilihan yang sangat menarik. Hanya saja barter rumah bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena seandainya si A dan si B sama-sama ingin menukar rumahnya ? belum tentu A cocok dengan rumah si B dan sebaliknya.
Disinilah dibutuhkan keahlian khusus untuk meng-arrange sejumlah orang yang ingin menukar rumahnya satu sama lain, yang masing-masing mendapatkan apa yang diinginkannya dan sekaligus memperoleh orang yang mau menerima apa yang ingin ditawarkannya.
Sebelum saya memberikan contoh, saya ganti dahulu mata uang atau timbangannya menjadi Dinar dan bukannya US$ – Mengapa? Karena sifat uang kertas yang nilainya terus menurun termasuk US$ – membuat mata uang US$ ini sebenarnya tidak dapat digunakan sebagai penilai yang adil bagi objek-objek yang akan di-barter-kan.
Sebaliknya Dinar adalah benda riil yang memiliki nilai intrinsik dan terbukti memiliki tingkat inflasi rata-rata 0% lebih dari 1400 tahun, akan menjadi penilai yang sempurna bagi sistem Equity Marketing yang di Amerka Serikat bahkan sudah ada asosiasinya yaitu National Council of Exchangors dan Society of Exchange Counselors ini.
Karena berbasis Dinar, maka sistem barter property ini saya namakan saja Dinar Equity Exchange (DEE). Bagaimana cara kerjanya? Berikut sebagai contoh.
Perhatikan gambar di atas; Pak Abdullah saat ini memiliki rumah setara 160 Dinar yang sebagian masih hutang KPR setara 60 Dinar. Karena naik pangkat dan pekerjaannya menuntut Pak Abdullah pindah rumah ke dekat kantor, maka beliau ingin pindah ke rumah di pusat kota meskipun harus menambah/memperbesar pinjaman rumahnya.
Pak Abdurahman juga demikian, disamping ingin memperbesar rumah dari rumahnya yang sekarang setara 100 Dinar, Pak Abdurahman perlu uang tunai setara 20 Dinar. Karena gajinya lumayan besar, Pak Abdurahman tidak keberatan untuk mengambil KPR untuk menutupi kekurangan dari pembelian rumahnya yang baru.
Pak Abdurrahman tertarik dengan rumah pak Abdullah, tetapi Pak Abdullah tentu tidak tertarik dengan rumah Pak Abdurrahman karena yang dibutuhkan Pak Abdullah adalah Rumah yang lebih besar di pusat kota, bukan rumah yang lebih kecil. Jadi barter belum bisa terjadi hanya 2 orang antara pak Abdullah dengan pak Abdurrahmann.
Maka perlu kehadiran pihak ke-3, katakanlah namanya pak Abdurrazak yang sudah pensiun dan pingin rumah di pinggiran kota. Pak Abdurrazak ini punya rumah yang besar, namun juga punya hutang yang banyak. Dia hanya ingin pindah ke rumah yang kecil saja, dan juga ingin seluruh hutangnya lunas. Rumah Pak Abdurrahman sudah memadai bagi Pak Abdurrazak sekarang. Secara kebetulan rumah Pak Abdurrazak juga diminati oleh Pak Abdullah. Maka 3 orang tersebut bisa saling melakukan barter dalam 1 scheme dan hasilnya seperti pada gambar di samping.
Karena terdiri dari 3 pihak, maka solusi ini disebut Three-Way Exchange, sangat langka barter bisa terjadi antara 2 pihak saja atau Two-Way Exchange. Yang lebih sering diperlukan keterlibatan banyak pihak untuk bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Kalau tiga juga tidak cukup, dicari orang ke-4, kalau 4 belum cukup maka dicari orang ke-5 dan seterusnya. Barter yang melibatkan sejumlah besar orang ini disebut Multileg Exchange.
Di zaman informasi ini, urusan me-matching-kan antara sekian banyak kebutuhan dan sekian banyak penawaran dapat dilakukan dengan teknologi ? minimal untuk identifikasi awal calon-calon exchangor yang diperkirakan tepat untuk diajak dalam 1 exchange scheme. Jadi secara teknis tidak terlalu sulit untuk mengimplementasikan Dinar Equity Exchange ini.
Namun sebelum Anda keburu ingin menukar rumahnya melalui sistem ini ke rumah yang lebih besar atau sebaliknya; tunggu dahulu kesiapan kita untuk merapikan segala sesuatunya.
Di antara yang masih kita perlukan adalah team yang mengurusi aspek legal, perpajakan, pembiayaan, pertanahan, ahli penilai, ahli properti, dlsb. Setelah team ini ada, teknologi siap ? maka insya Allah konsep Dinar Equity Exchange ini akan jalan pada waktunya. Bila Anda memiliki salah satu keahlian tersebut dan ingin aktif mengimplementasikan konsep ini, kami akan dengan senang hati mengundang Anda pada acara brainstorming session dan pembentukan team inti kita (team@dinarislam.com). Insya Allah.
Posted in Business Opportunity
Posted on 22 February 2010. Tags: alat ukur, Amerika, daya beli, daya beli tetap, Dinar, ekonomi, emas, Euro, fundamental, harga emas, harga naik, harga turun, hasil jerih payah, Indonesia, jangka menengah, jangka pendek, Jepang, kekuatan, mata uang, minus, penurunan daya beli, perkasa, Rupiah, stamina, The Winner, timbangan, uang kertas, Uni Eropa, universal, US$, waspada, Yen
Untuk bisa melihat kinerja uang kertas kita dalam perspektif yang lebih luas, pada kesempatan ini saya ingin menyajikan perkembangan harga emas sampai 5 tahun terakhir dilihat dari kaca mata uang Rupiah, US$, Euro dan Yen.
Kita gunakan harga emas dalam mata uang masing-masing ? karena harga emas inilah alat ukur yang paling universal dan stabil sepanjang zaman. Kita patut bersyukur bahwasanya dalam 6 ? 12 bulan terakhir, mata uang kita jauh lebih perkasa dibandingkan dengan 3 mata uang kuat dunia yaitu US$, Euro dan Yen.
Hal ini dapat kita lihat bahwa di antara 4 mata uang yang kita observasi daya belinya terhadap emas; dalam 6 ? 12 bulan terakhir harga emas dalam Rupiah-lah yang kenaikannya paling rendah. Dalam Rupiah kenaikan harga emas malah minus atau mengalami penurunan selama 12 bulan terakhir.
Meskipun kita dapat berbangga dengan Rupiah kita dalam jangka pendek, namun kita tetap harus mewaspadai daya beli uang kita ini karena dalam jangka menengah 5 tahun saja Rupiah berkinerja paling lemah bila dibandingkan dengan 3 mata uang kuat dunia Yen, US$ dan Euro tersebut di atas. Dalam timbangan emas, harga emas dunia telah mengalami kenaikan 161% selama 5 tahun terakhir bila dibeli dengan Rupiah. Sementara bila dibeli dengan Yen, US$ dan Euro masing-masing hanya mengalami kenaikan 125%, 157% dan 150%.
Apa maknanya ini semua? Karena mata uang merepresentasikan kekuatan ekonomi suatu negara. Maka selama kurun waktu 5 tahun terakhir, Jepang masih paling kuat fundamental ekonominya dibandingkan dengan negara-negara Uni Eropa, Amerika dan Indonesia.
Kita tentu berharap stamina kita yang lagi fit sehingga memiliki ke-unggul-an dalam 6-12 bulan terakhir dibandingkan dengan negara-negara yang secara umum memiliki fundamental ekonomi yang lebih kuat dari kita tersebut ? dapat bertahan lama sampai bertahun-tahun mendatang.
Bagaimana kalau kondisi unggul ini tidak bisa bertahan lama? Ada cara lain untuk mempertahankan hasil jerih payah kita agar tetap memiliki daya beli unggul sepanjang zaman ? yaitu emas atau Dinar. Selagi Rupiah perkasa seperti hari-hari ini, harga emas sesungguhnya lagi rendah-rendahnya dalam Rupiah ? relatif terhadap mata uang lain di dunia. Wa Allahu A?lam.
Posted in Dinar Prospecting