Posted on 25 August 2010. Tags: Amerika, awang-awang, biang keladi, BUMN, China, collapse, Competitive Devaluation, daya beli, ekspor, Euro, Fannie Mae, Federal Reserve, Freddy Mac, Gajah, harga emas, harga naik, inflasi, investasi, investasi sektor riil, jabon, Jepang, jeruk makan jeruk, kampung, korban, krisis finansial, lahan produktif, masyarakat, mata uang, mencetak uang, Nusantara, otoritas moneter, Pelanduk, pemerintah, penabung, penurunan daya beli, perdagangan, perkasa, pisang, SD, Sengon, tabungan, the Wall Street Journal, trend, uang kertas, Uni Eropa, US Dollar, Yen, Yuan
Dahulu di waktu Sekolah Dasar kita belajar pepatah yang kurang lebih berbunyi ?gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah?. Apes bener jadi pelanduk, dia tidak tahu menahu tentang urusan apa gerangan yang membuat para gajah tersebut bertarung ? tetapi dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula ? maka matilah dia karena pertarungan ini. Sebuah artikel di The Wall Street Journal kemarin yang diberi judul Getting Ready for A Dollar Collapse? bercerita tentang pertarungan gajah US Dollar melawan gajah-gajah Yuan, Euro, Yen dan berbagai mata uang kuat lainnya ? yang membuat mati para pelanduk, yaitu para penabung atau pemegang uang kertas dunia.
Pertarungan yang disebut Competitive Devaluation ini bermula dari krisis finansial global dalam 2 tahun terakhir. Biang keladinya adalah Amerika, dimana 2/3 isi balance sheet dari Federal Reserve-nya berasal dari surat berharga yang dikeluarkan oleh government sponsored enterprises ? semacam BUMN kitalah ? yaitu Fannie Mae dan Freddy Mac yang dibailed out pemerintahnya 2 tahun silam. Ini situasi ?jeruk makan jeruk?, yang hakekatnya pemerintah negeri ini sedang mencetak uang baru dari awang-awang.
Akibat perbuatannya ini ? karena uang baru terus dicetak dari awang-awang – maka ada proses penurunan daya beli US$ secara terus menerus. Hal ini nampak jelas pada perkembangan harga emas dunia dalam US$, bila rata-rata bulanan bulan Agustus 2008 harga emas berada pada angka US$ 839.02/Oz kini naik sekitar 44% pada bulan Agustus 2010 ini menjadi rata-rata US$ 1,209.66/Oz dengan trend masih ke atas. Mungkin saja akan terbatas efeknya apabila penurunan daya beli ini hanya terjadi di AS, namun ternyata efek penurunan daya beli ini tidak akan terhenti di AS. Negara-negara lain yang nilai perdagangannya sangat tinggi dengan AS, seperti: China, Uni Eropa, Jepang, dlsb akan kehilangan daya saingnya bila uang mereka terlalu PERKASA terhadap US Dollars.
Akibatnya otoritas moneter negara-negara tersebut akan menempuh caranya sendiri-sendiri untuk menurunkan daya beli uangnya dengan perbagai program Quantitative Easing atau cara-cara ?creative? lainnya dalam mencetak uang dari awang-awang. Negara-negara lain yang tadinya tidak terimbas secara langsung-pun kemudian akan terpaksa mengikuti gerakan global dalam penurunan daya beli uang kertas ini, karena bila tidak maka mereka akan semakin tidak bisa bersaing dengan produk ekspor-nya.
Wal hasil, seluruh dunia kini seperti berpacu dalam menurunkan daya beli uang kertasnya ? atau berarti juga berpacu dalam inflasi. Lantas siapa yang jadi pelanduk-nya? Masyarakat secara umum yang tidak tahu menahu menjadi korban dalam bentuk harga barang-barang yang terus melambung, secara khusus para penabung yang meskipun angka uang yang ditabungnya bertambah ? daya beli uang yang ditabung tersebut semakin lama semakin turun karena hasil tabungannya kalah berpacu dengan inflasi.
Terus bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi hal ini? Yang terbaik adalah apabila terjadi perubahan paradigma cara berfikir dari kegemaran menabung menjadi kegemaran ber-investasi di sektor riil. Bagi Anda yang masih mempunyai kampung, menginvestasikan uang Anda di kampung dalam bentuk lahan-lahan yang diproduktifkan dengan berbagai tanaman sengon, jabon dan bahkan pisang, dlsb insya Allah akan lebih memberi manfaat bagi Anda dan masyarakat sekitar Anda. Bagi yang sudah tidak memiliki kampung, masih banyak terbuka lahan di Nusantara ini untuk Anda produktifkan baik untuk pertanian, perikanan, peternakan maupun kegiatan produktif lainnya.
Mengapa sektor riil ini lebih baik dari pada memegang uang kertas atau tabungan di era competitive devaluation ini? Sederhana alasannya, benda riil apapun yang Anda pegang dengan sendirinya akan melonjak nilainya ? ketika dunia rame-rame menurunkan daya beli mata uangnya.
Ketika kita tidak menjadi pelanduk, pertarungan para gajah tidak akan membuat kita mati ? maka jangan mau jadi pelanduk! Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 14 July 2010. Tags: Alat Tukar, Amerika, Article of Agreement of IMF, Bank for International Settlements, Bank Sentral, bank swasta, Basel, BIS, cadangan emas, currency, diam-diam, ekonomi, emas, emas fisik, Gold Swap, IMF, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italy, jatuh, Kitco, krisis finansial, laporan tahunan, mata uang, Portugal, sistem finansial global, Spanyol, Switzerland, the Wall Street Journal, Yunani
Meskipun secara formal sistem keuangan global yang dikomandoi IMF masih melarang penggunaan emas dalam salah satu Article of Agreement-nya yang mengikat pada seluruh anggota IMF, namun rupanya secara diam-diam emas telah kembali masuk ke dalam sistem keuangan global yang dikelola oleh IMF sendiri. Tepatnya melalui jalur Bank for International Settlements (BIS), yaitu ?bank?-nya bank-bank sentral dunia yang bermarkas di Basel ? Switzerland.
Adalah laporan BIS tutup tahun buku 31/03/2010 yang di publikasikan akhir bulan lalu (28/06/2010) yang pertama kalinya mengungkap masalah tersebut. Meskipun ngumpet dalam catatan keterangan laporan keuangannya seperti yang saya copy-kan dari laporan tahunan BIS 2010 dibawah (laporan detailnya dapat Anda download sendiri dari situs resmi BIS dengan klik disini), realita ini mengundang berbagai pertanyaan besar dan spekulasi serius tentang masa depan sistem keuangan global.

Gold Swap in BIS
Di bagian yang saya beri tanda di samping, disana dijelaskan bahwa the Bank (maksudnya BIS) memegang 346 ton emas tahun buku terakhir ini (yang tahun sebelumnya masih Nol!) terkait dengan operasi Gold Swap ? dimana bank menukar currencies dengan emas fisik. Pertanyaan besarnya adalah emas siapa ini? Harian ekonomi terkemuka the Wall Street Journal misalnya memberitahu analis Kitco ? bahwa Gold Swap tersebut dilakukan antara BIS dengan bank swasta.
Justru tambah mencurigakan karena dari data yang dimiliki Kitco (pemain emas yang database-nya paling menjadi referensi dunia) tidak ada satu bank swasta-pun di dunia yang di dalam kekayaannya memiliki asset emas secara fisik senilai 346 Ton tersebut (dengan harga emas sekarang kurang lebih senilai US$ 13.5 Milyar!). Jumlah ini juga setara kurang lebih 4.7 kali cadangan emas yang dimiliki bank sentral Indonesia.
Walhasil besar kemungkinan bahwa emas tersebut adalah milik suatu negara atau beberapa negara yang mengalami kesulitan keuangan serius sepanjang tahun buku 2009/2010. Kita tahu yang mengalami kesulitan keuangan pada periode tersebut dengan berbagai tingkatannya antara lain adalah Yunani, Portugal, Irlandia, Spanyol, Italy, Inggris dan bahkan Amerika ? maka boleh jadi emas di kantong BIS tersebut berasal dari salah satu atau beberapa negara tersebut.
Lantas mengapa yang di swap bukan antar beberapa currency seperti pada umumnya, tetapi kali ini suatu currency dengan emas? Disinilah proses kembalinya emas dalam sistem keuangan global itu mulai; ketika satu atau beberapa currency ? alat tukar sesaat ? dari suatu negara atau beberapa negara tidak lagi bisa dipercayai ? maka apa yang bisa disetor oleh negara tersebut untuk ditukar dengan currency negara lain yang masih bisa dipercayai? Emas-lah jawabannya yang paling mudah, paling praktis dan paling bisa dipercaya.
Karena hal ini sudah terjadi pada tingkat BIS secara diam-diam; maka besar kemungkinan ini akan juga bisa terjadi pada sistem keuangan di tingkat bawahnya (dalam suatu negara) dan seterusnya.
Lantas mengapa pula hal-hal tersebut seolah dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi di zaman yang serba transparan ini? Bisa dibayangkan memang betapa dahsyat-nya dampak dari tidak dipercayai-nya currency suatu negara ? bagi ekonomi negara tersebut ? bila hal ini dilakukan secara terang-terangan. Mata uang negara-negara tersebut bisa langsung jatuh seperti yang kita alami tahun 1997/1998 atau bahkan lebih buruk lagi.
Jadi memang tidak terlalu penting bagi kita untuk tahu siapa yang mata uangnya tidak lagi dipercayai oleh BIS tersebut di atas – sehingga harus menyetorkan emasnya untuk ditukar currency lain yang dibutuhkan, namun yang jelas kini kita telah mendapatkan lagi satu tambahan bukti ? bahwa mata uang yang sesungguhnya, yang paling bisa dipercayai ketika yang lain tidak bisa dipercayai adalah mata uang yang berupa emas ini. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy