Tag Archive | "survey"

Green Investment & Green Lifestyle: Membangun Tanpa Menebang Pohon, Bisakah?


Beberapa hari lalu di siang hari saya berjalan di jalan utama kota Depok yaitu Jalan Margonda Raya. Ada perasaan aneh yang luar biasa saya rasakan, saya tidak merasa ini Depok yang dulu saya kenal atau bahkan ini bagian Indonesia yang bercitra hijau pepohonan negeri tropis yang dahulu kita banggakan. Saya merasa seperti di kota-kota arab Damaskus, Dubai, Abu Dhabi, dlsb. Dalam hal apa kesamaan perasaan ini? Dalam hal puaanas-nya dan gueersang-nya yang minta ampun.

Bagaimana ini terjadi? Beberapa tahun terakhir Pemda kota Depok berusaha mengatasi masalah klasik yaitu kemacetan jalan di pagi hari ketika orang-orang Depok berangkat kerja ke Jakarta dan sore hari ketika mereka balik ke rumah. Lebar jalan dipandang tidak cukup maka harus ditambah satu jalur lagi di kiri dan kini juga di kanan.

Akibatnya pohon-pohon yang dahulu masih ada beberapa di pinggir jalan, kini harus ditebang semua. Menangis rasanya melihat pohon-pohon terakhir tersebut ditumbangkan satu demi satu dengan buldoser. Berapa puluh tahun diperlukan untuk menumbuhkan pohon tersebut? Hanya diperlukan waktu beberapa jam saja untuk meratakannya dengan tanah.

Pemda Depok tentu punya alasan dengan apa yang dilakukannya, agar warganya nyaman ketika berangkat dan pulang kerja karena tidak dihantui kemacetan. Benarkah sasaran ini tercapai? Mungkin perlu survey untuk menjawabnya. Namun dari pengamatan saya pribadi kemacetan tidak teratasi dengan menebang pohon dan melebarkan jalan ini.

Jalan yang sisi kiri (dari arah Jakarta menuju kota Depok) yang sudah selesai dilebarkan sejak beberapa bulan lalu, ketika sore hari bertepatan dengan karyawan pulang kantor dari Jakarta ? malah diisi oleh para pedagang dan parkir mobil dan sepeda motor dari pengunjung toko atau restoran yang kini rata-rata kekurangan tempat parkir di sepanjang jalan ini. Walhasil kemacetan yang berusaha diatasi dengan mengorbankan pohon-pohon-pun juga tidak sepenuhnya teratasi.

Seandainya toh Pemda Depok berhasil mengatasi kemacetan ini, di ujungnya sana yaitu Jakarta ? problem serupa atau bahkan lebih serius tengah menghadang para pekerja yang melajo Depok ? Jakarta setiap hari.

Bedasarkan perhitungan pengamat transportasi dari Universitas Trisakti yang di publikasikan di Kompas kemarin (19/07/2010), diperkirakan tinggal 2 tahun lagi yaitu tahun 2012 (maju dari perkiraan semula 2015) di Jakarta akan terjadi kemacetan total atau stagnasi di jalan. Kita bisa membeli mobil tetapi kita tidak bisa pergi kemana-mana karena tidak ada jalan untuk mobil kita.

Begini dramatiskah? Sang pengamat nampaknya punya data akurat untuk ini. Antara lain adalah pertumbuhan jumlah kendaraan yang mencapai 8% per tahun, sedangkan pertumbuhan jalan hanya 0.01 %per tahun. Jadi pada tahun 2012 tersebut  jumlah ruang yang ada di jalan sudah tertutup oleh jumlah mobil dan motor yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

Tanda-tanda akan terjadinya stagnasi total di jalan ini sudah ada, yaitu ketika kita berada di lampu merah pada jam-jam tertentu. Ketika giliran kita sudah mendapatkan lampu hijau, kita tetap belum bisa jalan karena dari arah yang lain ? yang lampunya sudah merah ? ekor kendaraannya masih menghalangi jalan kita.

Pertumbuhan kendaraan yang tidak sepadan dengan pertumbuhan jalan inilah yang menyebabkan kemacetan akan terus bertambah parah di Jakarta maupun kota-kota penunjangnya seperti Depok ini. Jadi selama tidak ada kebijakan yang bisa menjadi tuas pengungkit dalam mengatasi kemacetan ini, kemacetan tidak akan selesai dengan menebang berapapun pohon.

Padi di halaman Jonggol Farm

Padi di halaman Jonggol Farm

Tuas pengungkit tersebut bukannya tidak ada atau tidak terpikirkan. Setidaknya pertengahan tahun 1990-an, pemerintah Orde Baru waktu itu pernah memikirkan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Jonggol agar terjadi pemecahan konsentrasi kepadatan aktivitas di Jakarta. Pemisahan pusat pemerintahan dari pusat perdagangan atau bisnis ini juga sudah lama terjadi di negara-negara lain di dunia seperti Malaysia, Australia, Amerika, Arab Saudi, dlsb. Sekitar 30 tahun sebelumnya bahkan di negeri ini pada jaman Orde Lama juga pernah ada pemikiran yang lebih visioner lagi yaitu memindahkan pusat pemerintahan dari Jawa ke Kalimantan Tengah.

Kalau saja ide-ide cerdas tersebut dijalankan sejak tahun 1960-an atau paling tidak tahun 1990-an ; mungkin kita tidak perlu menghadapi benang kusut kemacetan JaBoDeTaBek seperti yang sedang kita hadapi ini. Kalau saja ide-ide tersebut dijalankan, barangkali kita tetap bisa tinggal di Jakarta atau Depok yang sejuk penuh pepohonan yang rindang di jalan-jalan.

Well, tetapi dalam hidup kita tidak bisa dan tidak boleh ber-andai-andai; bila pemerintah pusat atau daerah tidak bisa mengatasi problem yang ada, kita sebagai warga bisa ikut membantunya. Dengan apa kita membantunya? Setidaknya dengan tidak ikut menambah parah masalah yang ada.

Kalau toh pemerintah tidak jadi memindahkan pusat pemerintahannya ke Jonggol misalnya, biarlah kita-kita sebagian penduduk yang pindah kesana. Bukan hanya pindah dalam arti rumahnya saja yang  disana, tetapi pusat aktivitas bisnis-pun bisa disana. Di era teknologi telekomunikasi seperti sekarang ini, apa sih yang tidak bisa dilakukan dari jarak jauh? Apalagi Jonggol hanya sekitar 25 Km dari Jakarta Timur/Cibubur.

Pohon Jinjing usia 8 bulan

Pohon Jinjing usia 8 bulan

Tulisan ini misalnya saya tulis dan saya upload dari Jonggol, dari gubug di sekitar tanaman padi yang siap panen minggu depan insya Allah. Di lahan yang di dalamnya kita tanami kembali dengan ribuan pohon dalam 8 bulan terakhir, yang insya Allah 3 atau 4 tahun lagi tanah ini telah menjadi hutan tanaman produktif. Di areal yang sama ada kandang-kandang kambing yang siap memenuhi seluruh kebutuhan daging dan susu sehat untuk restorasi generasi yang akan datang.

Generasi Hijau yang tidak harus tumbuh dewasa dan tua di tengah kemacetan jalan, generasi yang tidak harus menghirup udara bertimbal, generasi yang tidak harus tumbuh dengan memakan junk-food dan soft-drink yang membahayakan kesehatan.

Mulai dari yang kita tahu dan kita bisa, insya Allah Allah akan memberi tahu apa yang kita belum tahu dan menuntun kita terhadap yang apa kita belum bisa. Amin.

Posted in Political EconomyComments (0)

Sophie?s Choice: Ketika Dunia Harus Memilih Dollar Atau…


Pada tahun 1982 ada film dengan latar belakang Perang Dunia ke II yang diberi judul Sophie?s Choice. Film yang meraih banyak piala ini, menceritakan pengalaman seorang ibu (Sophie) dengan dua anaknya ? laki (Jan) dan perempuan (Eva) ? yang ditahan oleh serdadu musuh. Si ibu diberi tawaran oleh serdadu musuh, salah satu dari anaknya hendak dibunuh ? tetapi si ibu disuruh memilih yang mana. Bila dia tidak mau memilih ? maka keduanya akan dibunuh.

Si ibu tidak bisa memilih, tetapi harus memilih ? maka dipilihlah anak laki-lakinya Jan yang tetap hidup dan anak perempuannya Eva yang dibunuh musuh. Pilihan yang amat sangat sulit ? sehingga sepanjang sisa hidupnya siibu ini hanya bisa menyesali keputusan yang harus diambilnya.

Sophie's Choice

Sophie's Choice

Judul film ini begitu terkenalnya sehingga istilah Sophie?s Choice menjadi istilah baru saat itu untuk menggambarkan bila kita dihadapkan pada suatu kondisi yang sama tidak enaknya ? sama seperti istilah ?Buah Simalakama? yang kita kenal.

Istilah ini-pun belakangan digunakan oleh para pengamat Dollar untuk menggambarkan kesulitan dunia untuk memilih antara mempertahankan Dollar sebagai reserve currency atau menggantinya dengan mata uang lain yang belum diketahui apa bentuknya.

Seperti China misalnya; mereka tahu US$ akan ambruk ? namun bila dia berbuat sesuatu yang drastis untuk mengganti US$ dengan mata uang lain ? maka cadangan devisanya yang sangat besar akan hancur nilainya bersamaan dengan hancurnya nilai US$. Demikian pula dengan export-nya ke Amerika akan runtuh bersamaan dengan runtuhnya ekonomi Amerika.

Lantas tidak berbuat sesuatu? Bukan juga pilihan. Ketika US$ perlahan turun nilainya ? perlahan tetapi pasti China menurun pula daya saing ekspor-nya ke Amerika; dan devisa yang terkumpul dalam US$ juga terus tergerus nilainya.

Dihadapkan situasi dilematis tersebut, China melakukan hal yang cerdik dengan diam-diam meningkatkan cadangan emasnya dan rakyatnya-pun didorong untuk mengamankan asetnya dalam bentuk emas. Minggu lalu China juga membuat langkah yang penuh misteri dengan memperlebar rentang harga nilai tukar antara Yuan dengan US$ – sebagian pengamat mengartikan ini sebagai langkah cerdik berikutnya untuk secara perlahan China mempersiapkan pengganti US$.

Langkah serupa juga dilakukan oleh Rusia; di minggu yang sama Rusia mengumumkan keinginannya untuk memimpin rezim baru dunia dalam hal reserve currency. Rusia memulainya dengan menambahkan Dollar Cananda dan Dollar Australia di keranjang reserve currency-nya, jadi tidak hanya tergantung US Dollars.

Langkah diam-diam meningkatkan cadangan emas oleh Bank Sentral juga akhirnya terkuak, setidaknya ini diakui China tahun lalu yang mengungkapkan bahwa cadangan emasnya telah menjadi double dibandingkan dengan data publik sebelumnya. Demikian pula Saudia Arabia yang sepekan lalu akhirnya mengakui juga langkah diam-diamnya yang telah menaikkan cadangan emas Bank Sentral-nya menjadi 2x dari cadangan yang selama ini diketahui publik.

UBS-LogoYang mengejutkan adalah hasil survey yang dilakukan oleh UBS terhadap para pimpinan Bank Sentral di seluruh dunia; lebih dari separuh ternyata berpendapat bahwa dominasi US$ sebagai reserve currency tidak akan bertahan sampai ¼ abad yang akan datang atau tepatnya tahun 2035.

Lantas apa gantinya? Ada yang berpendapat gantinya adalah mata uang negara Asia (mungkin maksudnya China?), ada yang berpendapat Euro, tetapi mayoritas terbesarnya adalah yang berpendapat bahwa emas-lah mata uang pengganti itu.

Mungkin inilah penyebabnya; meskipun saat ini emas dipojok-pojokkan ? tetapi Bank Sentral dunia rupaya pada diam-diam juga membeli kembali emas. Setelah 2 dekade sebagai net sellers; kini mereka menjadi net buyers.

Apa makna ini semua sebenarnya? Kebenaran Islam bahwa mata uang yang adil adalah Dinar atau Dirham seperti diungkapkan oleh Imam Ghazali ? cepat atau lambat akan terbukti kembali di zaman modern ini.  Kita tidak perlu menghadapi situasi pilihan yang amat sulit seperti Sophie?s Coice tersebut di atas; pilihan itu sudah ada di 2 petunjuk kita ? dan ulama-ulama besar kita-pun telah mengungkapkan kebenarannya.

Entah kapan itu terjadinya, di zaman kita, anak kita atau cucu kita tidak masalah. Tetapi apa yang kita mulai rintis untuk pengadaannya, mengatasi masalahnya, mencari solusi aplikasinya, dst. ? insya Allah akan menjadi bekal yang baik sehingga generasi berikutnya tinggal menyempurnakannya bila waktunya tiba. Insya Allah.

Posted in Political EconomyComments (0)

Tantangan Untuk Negeri Dengan Rangking 122!


Kemarin sore saya tersentak dengan acara di salah satu TV swasta nasional yang lagi menyoroti kinerja 100 hari pemerintahan RI yang menghadirkan nara sumber ketua BKPM. Dalam acara tersebut antara lain disajikan data dari World Bank terakhir yang menyatakan bahwa Indonesia berada pada ranking 122 dalam hal kemudahan berusaha. Begitu burukkah negeri kita ini dalam memfasilitasi para pengusaha/investor?

Setengah tidak percaya saya cari laporan lengkapnya dari World Bank dan alhamdulillah bisa saya peroleh gratis dalam bentuk laporan lengkap yang dapat di download di www.doingbusiness.org. Laporan yang paling mutakhir diberi judul Doing Business 2010, berdasarkan data yang dikumpulkan dari 183 negara sampai Mei 2009.

Laporan ini pertama kali diterbitkan tahun 2003 lalu yang saat itu hanya mendasarkan pada 5 indikator. Laporan terakhir menggunakan 10 indikator kemudahan usaha yang terdiri dari:

  1. Kemudahan memulai usaha.
  2. Ijin konstruksi.
  3. Tenaga kerja.
  4. Pendaftaran property.
  5. Kredit.
  6. Perlindungan investor.
  7. Pajak.
  8. Perdagangan lintas batas.
  9. Penegakan hukum kontrak.
  10. Penutupan usaha.

Dari 10 indikator tersebutlah Indonesia jatuhnya berada di ranking 122 dari 183 negara yang di Survey. Di negeri ASEAN saja, Indonesia hanya lebih baik dari Philippines yang berada di urutan 144. Sementara Singapore adalah ranking 1, Thailand 12,  Malaysia 23 dan Vietnam 93.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah apabila dilihat satu persatu dari 10 indikator tersebut, beberapa indikator menunjukkan hal yang jauh lebih buruk dari rata-rata yang 122 ini. Indikator kemudahan memulai usaha misalnya berada pada ranking 161, kemudahan urusan pegawai berada pada ranking 149 dan kemudahan dalam penegakan hukum kontrak berada pada urutan 146.

Anda bisa bayangkan sekarang seandainya Anda bukan warga negeri ini, Anda investor asing yang ingin investasi ? Apakah Anda akan investasi di Negara yang rangking kemudahan usahanya berada pada angka 122? Atau pada negeri tetangganya yang berada di ranking 1, 12,  23 atau bahkan 93? Inilah yang menyebabkan investasi seret di negeri ini, dan lapangan kerja sulit tercipta.

Dampaknya adalah meskipun negeri ini konon gemah ripah loh jinawi, tongkat dan batu jadi tanaman ? tetapi realitanya tidak terhitung jumlah tenaga kerja kita yang harus mencari rizki-nya di negeri lain, termasuk sejumlah besar wanita-wanita kita harus pergi meninggalkan suami dan anak-anak nya untuk bekerja di negeri yang kadang sangat tidak bersahabat dengan mereka, tahun lalu saja lebih dari 40 TKI kita yang menghadapi masalah dengan pekerjaannya.

Meskipun bisa saja data Bank Dunia tersebut bias, tetapi tidak ada salahnya untuk menggunakan data ini sebagai acuan agar kita semua bekerja keras membangun negeri. Stop perdebatan-perdebatan politik yang tidak berkesudahan, serahkan masing-masing urusan pada ahlinya. Masalah hukum misalnya biarlah ditangani para penegak hukum, sehingga tidak mengalihkan fokus seluruh elemen masyarakat dari kegiatan produktif.

Sebagai negeri di ranking 122, kita tidak bisa mengharapkan investor asing untuk membangun negeri ini; ambil hikmahnya dari kenyataan ini bahwa kita sendirilah yang harus membangunnya.  Ini bukan hanya tugas pemerintah ? meskipun pemimpin-pemimpin tersebut tentu yang paling bertanggung jawab,  karena mereka dahulu minta dipilih dan mereka telah berjanji untuk menciptakan lapangan kerja dan  memakmurkan negeri ini.

Mulai dari diri kita, mulai dari yang kita bisa? Insya Allah, Allah akan mengajari kita dengan apa yang kita belum bisa.  Bagi Anda yang tergugah untuk berusaha menciptakan lapangan kerja bagi saudara-saudari kita,  kami ada program yang sepenuhnya FREE ? yaitu Program Pesantren Wirausaha yang Angkatan ke 8-nya insya Allah kick off akhir bulan ini. Saat ini sudah ada 200-an Santri Eksekutif yang insya Allah siap berkontribusi untuk membangun negeri yang saat ini masih di ranking 122 ini. Semoga Allah memudahkan langkah kita.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes