Tag Archive | "surga"

Setelah Masjid Dari Pelepah Kurma & Tatal, Insya Allah Akan Ada Masjid Dari Gedebog Pisang


Masjidnya Rasulullah SAW dahulu pertama kalinya dibangun dari pohon dan pelepah kurma. Kemudian para Wali ? penyebar agama Islam di negeri ini, konon membuat tiang Masjid Demak dengan tatal atau serbuk kayu. Maka kini umat yang berusaha mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para Wali tersebut, berniat untuk membangun Masjid dari bahan yang tersedia melimpah dan dengan teknologi yang tersedia pada zamannya… Masjid dari Gedebog Pisang dengan teknologi composites.

Mesjid yang akan kita juluki dengan nickname Masjid ?Gedebog? namun nama resminya Masjid Daarul Muttaqqiin ini insya Allah akan segera dimulai pembangunannya. Masjid ini akan berada di lingkungan Pesantren Wirausaha Daarul MuttaqiinJonggol Farm, Jonggol, Bogor ? Jawa Barat, sekitar 26 km ke arah tenggara dari Jakarta.

Sebagaimana fungsi masjid pada umumnya yaitu tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT semata; termasuk namun tidak terbatas pada aktifitas shalat, mengaji, i’tikaf, menuntut ilmu, dlsb, Masjid ?Gedebog? ini juga kami visikan sebagai sumber inspirasi dalam membangun kemakmuran umat.

Dasarnya adalah mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dalam hadits yang Diriwayatkan oleh Annas RA., ?Beberapa  barang  datang kepada Rasulullah dari Bahrain.  Rasulullah memerintahkan  kepada para sahabat untuk membagikannya di masjid, dan barang itu  merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima Rasulullah SAW. Ia meninggalkannya  untuk  shalat  tanpa menengoknya sama sekali. Setelah usai shalat, Nabi duduk  di depan barang-barang tersebut dan membagikannya kepada siapa saja yang ia lihat. Al Abbas datang kepada beliau dan berkata, ?Wahai Rasulullah berikan padaku sebagian barang-barang itu, karena saya perlu memiliki bekal untuk saya dan Aqil.? Rasulullah lalu meminta ia untuk meng- ambilnya sendiri…?. (HR. Bukhari)

masjid-gedebog-pisang2Visi kemakmuran dunia dan akhirat sebagaimana tertuang dalam do?a yang paling mashur ?Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ?adzabannar? ini kemudian kami artikulasikan dalam langkah-langkah konkrit sebagai berikut:

  • Pembangunan Masjid ?Gedebog? ini akan melibatkan aktifitas ekonomi dari ribuan atau bahkan puluhan ribu masyarakat langsung maupun tidak langsung. Yang langsung adalah aktifitas para ahli, pekerja, supplier, konsultan, kontraktor dan sub kontraktor;  sedangkan yang tidak langsung adalah para petani yang mengumpulkan gedebog kemudian mengolahnya menjadi anyaman atau tali, para pengumpulnya, jasa transportasinya, dst.
  • Pengalaman membangun masjid dengan teknologi material composites ini akan menjadi pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan kolektif masyarakat yang terlibat di dalamnya. Dengan ketrampilan tersebut, insya Allah secara bersama-sama kita bisa menggarap pasar yang lebih luas ? yaitu industri konstruksi secara umum, tidak hanya masjid ? tetapi sesudah ini rumah-rumah, gedung-gedung dan bahkan kapal-kapal yang dibutuhkan sangat banyak untuk negeri kepulauan inipun bisa kita bangun sendiri dengan teknologi composites yang sama.
  • Para jamaah dan peziarah yang akan mengunjungi masjid ini insya Allah kelak akan selalu terstimulasi pikiran dan kreatifitasnya, bahwa dari bahan gedebog yang selama ini dipandang tidak berguna, dengan izin Allah bisa dibangun bangunan yang kokoh ? tempat mengagungkan namaNya.  Insya Allah generasi masyarakat yang kreatif mensyukuri nikmat Allah, mengolah dan memakmurkan bumi akan benar-benar  lahir. Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud [11]: 61).
  • Setelah masjid ini jadi nantinya; berbagai program untuk memakmurkannya telah menanti. Sekolah Tahfidz Al-Quran sejak usia dini, pesantren wirausaha kelas reguler dan eksekutif, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Pusat Pemberdayaan Umat, dlsb adalah beberapa program untuk kemakmuran masjid yang telah hampir tuntas kami susun.
  • Lokasi Masjid yang berada di pusat kegiatan Jonggol Farm yang di dalamnya sudah mulai berjalan embrio industri kambing susu dan kambing pedaging, industri susu kambing dan produk-produk turunannya, industri jamur dan pengolahan produk jamur, industri pengolahan buah dan hasil pertanian, dlsb insya Allah akan mendekatkan program pemakmuran umat ini dengan realitas ekonomi modern.
  • Masjid yang dibangun dari Gedebog Pisang yang merupakan salah satu tanaman surga ini insya Allah juga akan membawa nuansa tidak terputusnya urusan dunia kita dengan urusan akhirat, surga menjadi nampak begitu dekat setiap kali kita memandangi dan mengolah pohon-pohon pisang ini – semoga dengan pohon pisang yang kita olah menjadi rumahNya ini, kelak di akhirat kita benar-benar diizinkanNya untuk sampai kesana ?…berada di antara  pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…?. (QS. Al-Waqi?ah [56]: 28-30)

masjid-gedebog-pisang3Bagaimana Anda dapat terlibat dalam program ini? Sebagai individu Anda dapat membantu kami dengan dana, sumber daya, material, pemikiran dan minimal do?a. Bila Anda bekerja di perusahaan-perusahaan atau institusi-institusi yang memiliki program Corporate Social Responsibility, Anda dapat menjadi penghubung kami agar person in charge untuk CSR di korporasi atau institusi Anda setidaknya aware atas apa yang sedang kami usahakan ? dan siapa tahu, apa yang kami lakukan in line dengan yang mereka pikirkan sehingga kita bisa bersinergi.

Penjelasan lebih detil dari Masjid ?Gedebog? Daarul Muttaqiin ini tersedia dalam bentuk file PDF yang dapat Anda unduh dengan klik disini. Bila diperlukan penjelasan lebih detil atau bahkan presentasi khusus, insya Allah dengan senang hati kami akan dapat lakukan.

Bila kelak masjid ini selesai terbangun, insya Allah ini akan menjadi pencapaian maksimal dari upaya hamba-hamba Allah yang lemah ini dalam memahami dan mensyukuri nikmatNya, mencerna sebagian kecil dari ilmu yang diberikan olehNya, menerapkan teknologi yang telah dimudahkanNya dan memadukan serta menggalang kekuatan umat yang telah digerakkan hatinya oleh Dia yang menguasai hati.

LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH…

Posted in Islamic ViewComments (0)

Pisang: Tanaman Surga Untuk Memakmurkan Negeri


Pasti bukan suatu kebetulan kalau Allah mengabarkan ke kita bahwa para penghuni surga dari golongan kanan ? yaitu golongan yang dimuliakan oleh Allah, kelak akan menikmati pahalanya ?…berada di antara  pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…?(QS. Al-Waqi?ah [56]:  28-30). Allah rupanya menginginkan kita menikmati sebagian kecil dari kenikmatan surgawi tersebut selagi kita masih di dunia ? dengan mudahnya Tanaman Pisang ini tumbuh di bumi pertiwi.

Istimewanya benda-benda di surga adalah semuanya baik-baik dan tidak ada yang buruk. Jadi kalau ada tetesan kecil dari benda yang ada di surga ? yaitu Pohon Pisang tersebut ? di sekitar kita, pastilah manfaatnya sangat besar untuk kemakmuran kita di dunia ini. Bahwasanya selama ini kita belum menyadarinya, bisa jadi ini karena 3 hal:

  1. Karena keimanan kita belum cukup kuat untuk meyakini bahwa surga itu ada dan apa-apa yang dikabarkan oleh Allah tentang surga tersebut adalah benar.
  2. Karena kita kurang mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkannya ke negeri ini ? dari setetes kenikmatan surga yang ada.
  3. Karena ilmu kita yang belum sampai untuk memahami nikmat berupa manfaat yang begitu besar dari pohon surga yang dengan izinNya ? sangat mudah tumbuh di negeri ini.

Pada tulisan ini saya akan fokus ke masalah ke-3, yaitu memahami manfaat yang begitu besar dari pisang ini untuk memakmurkan negeri. Kita tahu bahwa salah satu indikator kemakmuran suatu bangsa adalah Pendapatan Domestik Bruto atau PDB-nya. Di dalam tulisan saya sebelumnya saya jelaskan bahwa unsur yang membentuk PDB adalah Konsumsi, Investasi, Belanja Pemerintah, Ekspor dan Impor4 unsur pertama positif, dan 1 unsur terakhir negatif.

Artinya bila kita banyak konsumsi (tentu banyak karena kita ada 235 juta penduduk!), tetapi kita tidak kunjung makmur (tidak kunjung tinggi PDB-nya) ini adalah karena ada porsi yang amat besar dari konsumsi tersebut yang harus diimpor. Untuk kebutuhan bahan pangan berupa gandum misalnya, tahun lalu negeri ini perlu mengimpor sampai 4.66 juta ton senilai kurang lebih Rp 22.5 trilyun! Untuk kebutuhan pakaian kita yang berasal dari kapas, 99.5 %-nya masih harus diimpor!

Lantas apa kaitannya tanaman pisang dengan kemakmuran tersebut? Rupanya disinilah rahasianya. Tanaman dari surga yang tidak menyisakan sedikit-pun barang yang tidak berguna ini, sesungguhnya bisa memenuhi 3 kategori kebutuhan pokok kita sekaligus yaitu sandang, pangan dan papan.

Serat batang pisang yang diolah dengan baik, dapat menjadi serat untuk bahan tekstil yang kwalitasnya bahkan lebih baik dari kapas ? dia mendekati sutera. Bila kita paksakan tanam kapas – produksi kita hanya dapat memenuhi 0.5% dari kebutuhan kapas kita ? lantas mengapa tidak kita beralih ke Gedebog Pisang sebagai sumber serat tekstil kita? Pisang tumbuh dimana saja di seantero negeri, dan setiap satu batang pisang mengandung serat yang sangat banyak ? insya Allah kebutuhan serat untuk pakaian ini akan dapat digantikan oleh Serat Gedebog Pisang. Bila ini dapat kita lakukan, maka kita dapat memutus kebutuhan impor kita akan kapas.

Bila kita belum bisa mengolah Serat Pisang secara halus untuk bahan tekstil, pengolahan Gedebog Pisang secara sederhana sudah akan dapat menghasilkan bahan bangunan yang perkasa dengan teknologi composites yang kita punya. Ini dapat mendorong Konsumsi, Investasi dan bahkan Ekspor yang semuanya berdampak positif pada PDB yang berarti juga kemakmuran.

Republik PISANG = Negeri yang Makmur

Republik PISANG = Negeri yang Makmur

Buah Pisang yang selama ini hanya dikonsumsi sebagai buah, dan cenderung dihargai murah pada saat panen pisang di sentra-sentra produksinya ? sesungguhnya dapat diolah menjadi Tepung Pisang yang bergizi tinggi dan rasa dasar yang enak. Tepung Pisang ini dapat menjadi substitusi Tepung Terigu/Gandum yang selama ini sepenuhnya kita impor. Bila sedikit demi sedikit impor Tepung Gandum tersebut dikurangi dan menggantinya dengan Tepung Pisang ? maka disitulah proses kemakmuran itu akan dimulai.

Karakter Pisang yang bisa tumbuh dimana saja, juga akan merupakan alat untuk menyebar luaskan kemakmuran ke sejumlah besar petani.

Walhasil dengan membudidayakan Pohon Pisang secara luas dan memanfaatkan gedebog maupun buahnya untuk menutupi kebutuhan sandang, pangan dan papan dari 235 juta penduduk negeri ini ? pasti ini adalah proyek RAKSASA yang akan mampu mengdongkrak PDB (kemakmuran negeri ini) dari peningkatan Konsumsi, Investasi, Belanja Pemerintah dan Bahkan Ekspor. Pada saat yang bersamaan  impor akan menurun karena kebutuhan impor terigu dan kapas dapat ditekan seminimal mungkin.

Realistiskah proyek Pisangisasi ini? Tergantung iman dan ilmu kita untuk menjawabnya. Bila iman kita kuat dan yakin betul bahwa Allah telah melimpahkan nikmatnya ke kita, maka itulah yang diberikan Allah. Dalam sebuah hadits Qudsy dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi SAW bersabda : ?Allah Ta?ala berfirman: ?Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok, Aku mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil?. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari sisi keilmuan sebagian kita kuasai, sedangkan sebagian lain mungkin memang kita masih harus banyak belajar. Mengolah pisang menjadi Tepung Pisang misalnya, saya rasa sarjana-sarjana teknologi pangan di negeri ini yang jumlahnya sudah puluhan ribu insya Allah sudah dengan mudah dapat mengolahnya.

Mengolah Gedebog menjadi bahan bangunan yang kokoh, insya Allah kami di kelompok Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) dalam waktu dekat juga sudah akan menguasai teknologinya.

Mengolah gedebog menjadi bahan tekstil kwalitas tinggi, ini kita yang masih perlu banyak belajar. Di India sebagai produsen Pisang terbesar di dunia, hal ini sudah dilakukan orang ? bahkan kami juga sudah berhasil menemukan ahlinya disana, hanya karena dilindungi oleh Intelectual Property Right ? kami masih kesulitan untuk belajar ilmunya.

Namun ilmu-ilmu ini semua saya yakin tidak ada yang terlalu sulit untuk dikuasai, oleh karenanya melalui tulisan ini saya mengundang para peneliti maupun mahasiswa S1, S2 atau S3 yang tertarik untuk mendalami serat tekstil berkwalitas tinggi dari Gedebog Pisang ini untuk bergabung dengan team kami ? PWDM insya Allah bersedia menjadi sponsor penelitian Anda.

Melalui tulisan ini pula saya ingin mengajak kita semua untuk rame-rame menanam tanaman dari surga ini di tanah-tanah kita yang selama ini belum diproduktifkan, bersamaan dengan tumbuhnya Pohon Pisang tersebut ? kita cari teknologinya bersama-sama untuk mengolah hasilnya baik Gedebog maupun Buah Pisangnya.

Sungguh akan menjadi ironi besar bila sampai beberapa tahun ke depan bangsa ini masih tetap miskin, sedangkan tanaman dari surga-pun dapat leluasa tumbuh di sekitar kita. Semoga Allah menunjuki jalanNya yang terang benderang ke kita semua. Amin.

Posted in Islamic ViewComments (0)

Apa Yang Dilakukan Penghuni Surga Ketika Mereka Masih Di Dunia?


?Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta. Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.? (QS. Adz-Dzariyaat (51): 15 ? 23)

Surga adalah cita-cita setiap muslim dan kita semua tentu sangat menginginkannya untuk bisa sampai kesana kelak. Surga adalah rakhmat dariNya semata, namun rakhmat ini juga harus diraih dengan perbuatan baik ketika kita masih hidup di dunia. Tantangannya adalah bagaimana kita men-design aktifitas hidup kita sehingga semoga  di akhirat nanti atas rakhmatNya kita bisa sampai surga ini.  Nah rangkaian ayat-ayat di atas adalah salah satu resep perbuatan baik yang akan dapat membawa pelakunya menuju surga.

Intinya adalah para penghuni surga ini dahulunya ? ketika hidup di dunia ? mereka adalah orang-orang yang berbuat baik. Perbuatan baik apa yang membuat mereka sampai ke sana? Dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya yang antara lain adalah:

  1. Sedikit sekali tidur di waktu malam, maksudnya banyak beribadah (bertahajud).
  2. Banyak-banyak memohon ampun kepadaNya, terutama di akhir-akhir malam.
  3. Menyisihkan sebagian hartanya, untuk diberikan kepada orang miskin yang meminta maupun yang tidak meminta.
  4. Berbagai tanda-tanda yang ada di bumi, menguatkan keimananNya akan Sang Pencipta.
  5. Memperhatikan yang ada pada diri sendiri (juga untuk meningkatkan keimanan kepadaNya).
  6. Sebab-sebab rizki-nya ada di langit, dan di langit pula adanya apa yang dijanjikan kepadanya.

Di antara 6 perbuatan baik yang diresepkan Al-Qur?an tersebut, nomor 6 mungkin yang paling sulit dipahami, dihayati dan apalagi di amalkan. Karena ini pula yang terkait dengan tema sentral situs ini, maka perbuatan baik nomor 6 ini yang kita elaborate.

Meskipun jelas-jelas di akhir rangkaian ayat-ayat tersebut Allah memastikan bahwa yang dijanjikanNya pasti benar-benar terjadi ? dus termasuk (sebab-sebab) rizki dari langit; berapa  banyak diantara kita yang bisa meng-imani ini secara sungguh-sungguh? Karena begitu banyak orang yang tidak yakin akan rizki dari langit ini, berbagai masalah muncul dalam masyarakat kita sehari-hari.

  1. Kasus korupsi demi korupsi yang terbongkar secara berurutan akhir-akhir ini, tidak lain penyebabnya karena orang mengira bahwa rizki-nya hanya bisa diperoleh melalui jalan korupsi.
  2. Ratusan ribu saudari-saudari kita, terpaksa pergi ke negara lain tanpa muhrim untuk bekerja menyongsong rizki-nya karena mereka mengira sumber-sumber rizkinya ada di negeri-negeri yang jauh tersebut.
  3. Entah berapa juta saudara muslim kita harus bekerja menyerempet bahaya bergelut dengan riba, karena mereka mengira bahwa rizki-nya hanya datang melalui tempat kerjanya yang masih ribawi.
  4. Berapa juta lagi saudara-saudara kita yang kehilangan kemerdekaannya, terpaksa melaksanakan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya ? karena takut kehilangan rizki pula.
  5. Berapa banyak orang yang mengira bahwa rizki-nya adalah rizki yang di tangan orang lain, sehingga tidak segan-segan merampas hak orang lain tersebut.
  6. Berapa banyak orang yang mengira bahwa rizkinya bisa disabot atau direbut oleh orang lain, sehingga mereka pelit berbagi ilmu dan ketrampilan ? karena takut ilmu dan ketrampilan yang diajarkan kepada orang lain tersebut menjadi pengurang rizki (menjadi pesaing).
  7. Berapa banyak orang yang mengira rizkinya ada di pangkat dan jabatan, sehingga mereka rela menempuh hal-hal yang tidak HALAL demi untuk mendapatkan pangkat dan jabatannya.
  8. dlsb.

OK, katakanlah kita ingin secara sungguh-sungguh mengikuti resep-resep perbuatan baik tersebut di atas yang dengan rakhmatNya insya Allah dapat membawa kita sampai ke surga. Lantas bagaimana konkritnya dengan poin ke 6 tersebut yaitu bagaimana kita menangkap rizki dari langit? Salah satunya pernah saya ulas dalam tulisan terpisah dengan judul “Dan di Langit Terdapat Rizkimu?”; tentu masih banyak lagi cara- cara menangkap rizki dari langit ini; apalagi bila dikaitkan dengan 2 ayat sebelumnya yaitu potensi yang ada di bumi dan yang ada pada diri kita masing-masing.

Bagi yang belum PD (Percaya Diri) untuk mengangkap rizki dari langit ini; kami di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin memberikan fasilitas untuk Pelatihan GRATIS baik dalam bentuk kelas berkelompok, in-house training maupun konsultasi individual.

Di luar itu semua, kita juga harus yakin dengan ayat penutupnya; bahwa yang dijanjikanNya adalah pasti benar! Jadi mari kita songsong rizki kita langsung dari Sang Maha Pemberi :) .

Posted in Islamic ViewComments (0)

Dinar Untuk Transaksi Modal: Bagaimana Lapangan Kerja & Kemakmuran Tercipta


Sejak tulisan saya tanggal 30 September 2009 lalu dengan judul “Susu Bersih Diantara Kotoran Dan Darah” ; disusul dengan tulisan tanggal 23 Oktober tahun yang sama dengan judul “Investasi Sehat Untuk Minuman Sehat”, tidak hentinya kami berusaha merealisasikan ide-ide tersebut untuk menjadikan karya nyata yang dapat menciptakan lapangan kerja dan membangun kemakmuran.

Meskipun belum bisa dikatakan berhasil sepenuhnya, namun patut disyukuri bahwa upaya tersebut kini – 7 bulan setelah ide pertama muncul – sudah mulai memberikan hasil. Kambing-kambing yang kami ternakkan di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin ? kini sudah puluhan yang beranak dan otomatis menghasilkan susu. Insya Allah dalam 5 bulan ke depan akan ada ratusan kambing yang menghasilkan susu di lokasi ini.

Saat ini di Pesantren Wirausaha ada sekitar 25 orang bekerja dalam berbagai bidang mulai membangun kandang dan infrastruktur lainnya, memelihara kambing, mencari rumput, dlsb. Namun kalau hanya 1 lokasi produksi susu kambing ini yang kami gerakkan dengan modal Dinar; maka lapangan kerja dan kemakmuran yang tercipta tidak akan banyak ? ya hanya sekitar 25 orang tersebut yang dapat pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Nah langkah berikutnya yang diperlukan adalah menciptakan multiplier effect dari penciptaan lapangan kerja ini. Ada 2 yang akan kami lakukan dalam waktu dekat untuk tujuan ini.

1.) Yang pertama adalah membangun kandang-kandang kambing untuk produksi susu ini satu demi satu ? sehingga nantinya terbangun puluhan atau bahkan ratusan kandang sejenis. Dari mana dananya? Ini yang akan menarik.

Karena dana kami sendiri terbatas, maka baru 1 lokasi ini yang bisa kami bangun; lokasi-lokasi berikutnya akan kami bangun melalui konsep Build and Sell berbasis Dinar. Misalkan 1 lokasi seperti ini memerlukan total investasi 500 Dinar (tanah, bangunan, 100 kambing), maka investor kami (yang selanjutnya kami sebut investor pertama) yang akan membangun sampai jadi lokasi tersebut dan sampai kambing-kambingnya menghasilkan susu.

Setelah semuanya berjalan baik, maka tanah beserta bangunan plus kambing-kambing produktif tersebut dijual ke investor ke-2 dengan harga investasi plus margin keuntungan yang wajar ? misalnya menjadi 600 Dinar.

Maka investor pertama dalam projek ini mendapatkan keuntungan 20% (sebelum bagi hasil). Sedangkan investor ke-2 mendapatkan bisnis yang sudah jalan, termasuk kambing-kambing yang produktif yang saat itu jumlahnya tentu sudah lebih dari 100 ekor ? karena selama project di tangan investor pertama-pun akan banyak kambing yang lahir.

Hasil penjualan peternakan kambing ke investor ke-2; kemudian digunakan untuk membangun komplek peternakan berikutnya. Setelah semuanya berjalan baik, baru dijual ke investor ke-2 berikutnya. Begitu seterusnya project ini sehingga kelak akan terbangun puluhan atau ratusan kandang kambing tergantung seberapa besar dana yang bisa kami kumpulkan untuk projek perkambingan ini.

2.) Lantas dijual kemana susu-susu kambing dari puluhan atau ratusan kandang tersebut tersebut? Disinilah letak peluang dan tantangan berikutnya. Selama ini petani dan peternak di Indonesia selalu menjadi korban karena lemahnya penguasaan pasar.

Untuk tidak mengulangi kelemahan yang sama; sedari dini kita juga akan bangun jaringan pasar susu kambing kita sendiri. Untuk ini kini mulai kita bangun merek dagang untuk susu kambing ini dengan nama Indolaban ? yang artinya “susu dari Indonesia”. Laban adalah bahasa Al-Qur?an untuk “air susu dari sungai di surga” (QS. Muhammad (47):15).

direct1st: First in Wealth Distribution

direct1st: First in Wealth Distribution

Jaringan pemasaran Indolaban tidak akan mengandalkan minimarket atau supermarket ? tetapi akan menggunakan jaringan penjualan langsung Direct1st® yang sistemnya juga alhamdulillah sudah siap operasi.

Bila ini semua berjalan baik, maka ribuan lapangan kerja insya Allah akan tercipta baik di sektor produksi maupun distribusi. Manfaat lain bagi bangsa ini adalah tersedianya susu produksi dalam negeri yang jumlahnya cukup ? sehingga diharapkan mengurangi ketergantungan kita pada susu impor. Bahkan siapa tahu kelak Indolaban juga menjadi andalan ekspor susu kambing ke negara-negara lain; why not? lha wong segala sumber daya yang diperlukannya ada ? baik alam, dana, maupun SDM yang melimpah.

Sama seperti project Planet Jamur yang sudah kami luncurkan lebih dahulu; untuk project Susu Kambing ini kami juga akan memberikan kesempatan seluasnya kepada para pembaca yang ingin terlibat langsung dan tumbuh bersama kami ? baik di sektor produksi/peternakannya, maupun sektor distribusi susunya; silahkan bergabung ke group Susu Kambing yang kini sudah kami buat di facebook. Semoga Allah memudahkan jalan untuk kita beramal yang diridloiNya. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Strength In Numbers: Keberkahan Dari Kebersamaan


Dari sebuah hadits panjang yang saya ambilkan dari kitab Riyadus Shalihin, dari Abu Hurairah R.A. atau dari Abu Sa?id R.A. (perawi ragu namun tidak bermasalah karena keduanya adil), beliau berkata: ?Ketika perang Tabuk, orang-orang pada kelaparan? mereka berkata: ?Wahai Rasulullah, seandainya engkau memberi izin ? kami akan menyembelih unta kami, lantas kami makan dan lemaknya buat minyak.? Rasulullah bersabda: ?Lakukanlah? ; Umar datang lalu berkata: ?Wahai Rasulullah, bila engkau lakukan yang semacam itu kendaraan akan jadi sedikit. Tetapi perintahkanlah mereka untuk mengambil bekal mereka yang tersisa lalu taruhlah di depan engkau. Kemudian berdo?alah kepada Allah agar makanan tersebut berkah. Barangkali Allah mengabulkan sehingga makanan tersebut menjadi berkah?.

Lantas Rasulullah SAW bersabda: ?Ya? lalu beliau memerintahkan untuk digelar alas lantai, kemudian memerintahkan agar kelebihan bekal mereka dikumpulkan. Lantas seorang laki-laki datang dengan membawa segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kurma dan ada yang membawa segenggam roti. Sehingga terkumpullah di atas tikar sesuatu yang sedikit.

Kemudian Rasulullah SAW mendoakan agar diberi berkah. Lalu beliau bersabda: ?Ambillah, lalu taruhlah di wadah kalian?. Lantas mereka mengambil makanan tersebut, lalu ditaruh di kantong, bejana atau wadah mereka. Seluruh tempat yang di perkemahan itu dipenuhi dengan makanan. Mereka makan hingga perutnya kenyang. Sisanya-pun masih ada.

Saat itu Rasul SAW bersabda: ?Aku bersaksi, bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Bila seorang hamba berjumpa dengan Allah (kelak di hari kiamat) dan dia telah membacanya (bersyahadat), dia tidak ragu, maka dimasukkan ke surga.? (HR. Muslim)

Strength-in-NumbersDi antara  pelajaran dari hadits tersebut di atas yang bisa kita petik adalah, bahkan Rasulullah SAW memerlukan ikhtiar selain juga berdo?a untuk dapat menyelamatkan pasukannya dari kelaparan di medan perang. Jenis ikhtiar-nyapun adalah sesuatu yang dapat kita contoh, yaitu melibatkan anggota pasukan untuk berkontribusi. Betapapun sedikitnya kontribusi ini tidak terlalu masalah, karena dengan sedikit yang diberkahi ? maka problem seluruh pasukan teratasi.

Kebersamaan umat dewasa ini-pun mestinya bisa menyelesaikan berbagai permasalahan dunia modern. Ambil contoh permasalahan dalam bidang ekonomi. Seperti yang saya tulis tentang Muhammad Yunus, bahwasanya penyebab kemiskinan yang utama adalah timpangnya akses terhadap kapital. Bila akses terhadap kapital ini diatasi, maka insya Allah kemakmuran akan tumbuh merata.

Karena alasan ini pula para pendiri bangsa ini sebenarnya sudah memiliki pemikiran yang konkrit, yaitu menjadikan Koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia. Ide dasar koperasi adalah dari anggota ke anggota, jadi seperti pada hadits tersebut di atas ? bila masing-masing anggota berkontribusi sesuai kemampuannya ? maka kapital yang terkumpul akan menjadi sangat berguna untuk mengangkat kemakmuran para anggota.

Saya pernah berceramah di sebuah Pesantren Putri di perbatasan Jawa Tengah ? Jawa Timur yang diasuh oleh seorang Kyai. Saya belajar dari pak Pak Kyai yang bukan ekonom dan bukan pula pengusaha ini, bahwa dengan mengelola segala kebutuhan santriwati-nya yang ?hanya? sekitar 4000 orang secara bersama-sama setiap tahun Koperasi Pesantren-nya menghasilkan milyaran Rupiah Sisa Hasil Usaha.

Lha umat Islam di Indonesia ini kan jumlahnya tidak kurang dari 190 juta orang, masak nggak bisa makmur bila dikelola dengan baik secara bersama-sama seperti hadits di atas dan juga yang dicontohkan Pak Kyai? Ok mungkin ngurus orang banyak memang lebih sulit (sebenarnya juga bukan alasan karena sekian banyak juga resourcesnya), maka kita bisa mulai dari yang ada di sekitar kita.

Jumlah seperti yang dikelola Pak Kyai sekitar 4000-orang tersebut dengan mudah kita jumpai di lingkungan perusahaan tempat kita bekerja, lingkungan gedung tempat kantor berada, lingkungan perumahan tempat kita tinggal, dlsb.

Bayangkan kalau Anda bisa mengelola kebutuhan sehari-hari, kebutuhan investasi dan kebutuhan lainnya dari 4,000 orang ? maka akan sangat besar kemungkinannya Anda bersama-sama anggota lain yang bergabung di dalamnya akan menikmati kemakmuran bersama. Usaha bersama secara berkelompok dari anggota untuk anggota inilah yang di Indonesia dicita-citakan menjadi sokoguru perekonomian, dalam bentuknya koperasi biasa ataupun Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) atau BMT.

Dalam konteks Koperasi/BMT berbasis Dinar, bila Koperasi/BMT Anda bisa mengumpulkan 4,000 orang yang masing-masing menabung 1 Dinar saja akan terkumpul 4,000 Dinar kapital yang akan sangat memadai untuk mulai memutar perdagangan yang barokah memenuhi kebutuhan para anggota Koperasi/BMT Anda.

Mungkin tidak banyak yang bisa dilakukan dengan 1 (satu) koin Dinar yang tersimpan di rumah, namun kalau digabung dalam 1 BMT yang beranggotakan 4,000 ? maka 4,000 Dinar menjadi kekuatan ekonomi yang sudah cukup berarti; bagaimana kalau 4 juta Dinar?, dst. Inilah yang di dalam psikologi massa disebut Strength in Numbers, kekuatan yang hanya muncul bila dilakukan secara bersama-sama. Insya Allah.

Posted in Islamic ViewComments (0)

Long Term Investment Focus: Dinar, Sapi atau Surga?


Semalam harga emas dunia mengalami penurunan yang cukup significant, yaitu mencapaipenurunan US$ 17/oz dari kisaran angka US$ 1,054/oz ke kisaran angka US$ 1,037/oz.

Bagi Anda yang baru membeli emas atau Dinar kemarin, mungkin akan ?merasa rugi? karena penurunan ini. Tetapi bagi Anda yang telah mulai membeli Dinar tahun lalu pada kisaran harga emas dunia US$ 800 ?an/oz; tentu tidak akan merasakan penurunan harian ini sebagai kerugian; apalagi yang sudah mulai membeli Dinar 2 tahun lalu di awal-awal kita memperkenalkan Dinar pada saat emas masih berada di kisaran US$ 700-an/oz.

Kita akan senantiasa merasa ?rugi? manakala investasi kita berorientasi jangka pendek. Bila orientasi kita jangka panjang, maka insya Allah kita tidak akan pernah merasa ‘rugi‘.

Untuk tataran investasi duniawi misalnya, perhatikan grafik di atas yang menunjukkan hargaemas sejak awal tahun 70-an ketika pertama kalinya uang kertas mulai tidak dikaitkan lagi dengan harga emas dunia. Sejak saat itu harga emas dunia sudah berpuluh kali lipat mengalami kenaikan.

Demikian pula dengan investasi sektor riil yang disini saya ambilkan sapi sebagai contoh. Data dari Moore Research Center pada grafik di bawah menunjukkan trend kenaikan harga sapi hidup sejak awal tahun 1970-an hingga kini. Bisa dibayangkan bila Anda mulai membeli sapi tahun 70-an dan beranak setiap 2 tahun? pasti sapi Anda sangat banyak saat ini, padahal setiap ekor sapi ukuran sedang harganya di kisaran 7 Dinar!

Harga Sapi (1970 - 2009)

Dengan contoh tersebut di atas, kita bisa melihat bahwa untuk standar dunia saja kita sudah dengan mudah ?merugi? bila fokus kita jangka pendek ? dan sebaliknya kita tidak ?merugi? bila fokus investasi kita jangka panjang.

Analogi seperti investasi duniawi tersebut juga berlaku untuk investasi yang lebih panjang lagi ? yaitu investasi untuk hidup yang abadi sesudah kita mati. Seluruh keuntungan atau kerugian yang kita alami di dunia ini, tidak akan sepadan bila dibandingkan dengan keuntungan/kerugian di akhirat kelak. Oleh karenanya, fokus investasi kita harus memiliki orientasi jangka waktu yang sangat panjang ? meliputi dunia dan akhirat ? bila kita tidak ingin merugi.

Lantas apakah dengan demikian kita harus membuat dikotomi mana untuk investasi dunia dan mana untuk investasi akhirat? Tidak juga, karena dikotomi ini tidak perlu bila kita bisa menyelaraskan kehidupan dunia kita dengan tujuan jangka panjang kita yaitu hidup yang abadi di akhirat kelak. Bahkan salah satu do?a sapu jagad yang kita semua hafal adalah digabungkannya 2 kebaikan ini yaitu kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat.

Jadi bagaimana mengatur komposisi investasi kita agar bisa memperoleh 2 kebaikan tersebut di atas? Silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang Prinsip 1/3 Dalam Pengelolaan Harta, kalau prinsip ini bisa kita terapkan ? maka insya Allah kebaikan hidup di dunia dan di akhirat akan bisa kita peroleh secara bersama.

Bagaimana prakteknya? Selain hasil investasinya yang sebagian kita shadaqah-kan ? investasi kita haruslah di jalan yang dibenarkan secarasyariah. Kita dapat  investasikan harta kita untuk proyek-proyek yang memberi kemaslahatan ummat secara luas, antara lain bisa dalam beberapa contoh berikut :

  • Semilyar lebih manusia di dunia saat ini kelaparan, maka investasi untuk menghasilkan/meningkatkan produksi pangan dunia ? insya Allahbila dengan niat yang lurus akan dapat bernilai ?memberi makan? umat manusia secara luas. Contoh konkrit: menanam ketela ungguluntuk bahan MOCAF (modified cassava flour) ? produk ini insya Allah kelak akan menggantikan gandum yang berusaha memonopoli makanan dunia – padahal di negeri ini gandum ini tidak tumbuh.
  • Generasi kita dan anak-anak kita adalah generasi yang salah minum dan salah makan; orang dewasanya minum minuman kaleng dan minuman botol dengan gula yang buruk bagi kesehatan, makanannya adalah makanan instant kering yang tidak mengandung kadar gizi yang memadai, anak-anaknya sejak bayi minum susu bubuk yang kita tidak tahu persis apa isinya. Maka investasi untuk memperbaikipola makan dan pola minum ini, insya Allah juga akan bernilai ?meninggalkan generasi yang kuat? kedepan.
  • Begitu banyak negeri ini harus mengimpor barang-barang kebutuhan sehari-hari, maka investasi yang dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan penduduk negeri ini insya Allah akan dapat ?memerdekakan? bangsa ini dari penjajahan sesama manusia.
  • Puluhan juta orang menganggur di Indonesia saat ini, sementara banyak sekali peluang usaha ataupun peluang kerja yang tidak tertangani. Maka investasi dalam pendidikan/pelatihan kerja atau pelatihan wiraswasta yang bisa me-link-kan dunia kerja/usaha dengan sumber daya manusia yang ada ? insya Allah akan dapat menyebarkan kemakmuran secara luas.
  • Dan masih banyak lagi peluang investasi yang bisa di?align?kan dengan tujuan hidup kita sesudah mati.

Tentu dalam berbagai investasi tersebut ada risikonya, namun dengan niat lurus insya Allah risiko ini bersifat jangka pendek ? karena niat yang baik-pun sudah mendapatkan pahala satu kebaikan. Meskipun demikian kita juga perlu meminimalisasikan risiko ini, agar bila investasi sektor riil kita gagal ? kita masih tetap bisa menyekolahkan anak, bisa membayar biaya kesehatan hari tua tanpa menjadi beban orang lain dan lain sebagainya ? maka tidak juga salah bila sebagian saja harta kita yang digunakan untuk membangun ketahanan ekonomi dalam bentuk Dinar danDirham.

Jadi mana di antara 3 investasi tersebut yang kita pilih? Kalau saya sih pinginnya bisa memilih semuanya. Rabbana aatinaa fid dunya hasanah wafil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaa bannaar. Amin.

Posted in Financial PlanComments (0)

Dialog Penghuni Surga Dengan Penghuni Neraka


“Kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin” (QS 74 : 39 ? 44)

Beberapa ayat tersebut di atas saya ambil dari Surat Al Muddatstsir yang menggambarkan betapa memberi makan orang miskin memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Orang yang melalaikannya mendapatkan ancaman yang sama dengan meninggalkan shalat yang merupakan tiang agama.

Sudahkah kita melaksanakan salah satu tugas kita yang amat penting ini? Secara individu masing-masing kita mungkin bisa menjawab apa yang sudah kita lakukan. Namun sebagai bangsa dan negara secara keseluruhan, nampaknya secara bersama-sama kita belum melaksanakan tugas ini dengan baik.

Mau lihat buktinya? Perhatikan grafik di atas yang menggambarkan salah satu indikator ekonomi yang saya olah dari data Kompas ( 18/06/09). Kompas sendiri mengambil data dari World Bank, Bank Indonesia dan BPS, jadi insya Allah datanya cukup akurat dan up-to-date.

Perhatikan PDB dalam US$ di grafik tersebut, nampak kenaikan PDB dari US$ 1,237 (2005) menjadi US$ 1,600 (2009). Bila menggunakan standar World Bank yang menyatakan bahwa orang yang hidup dalam kondisi extreme poverty (miskin banget) adalah yang hidup dengan kurang dari US$ 1.25 per hari (US$ 450 per tahun), dan moderate poverty (miskin sedang) US$ 2.00 per hari (US$ 720 per tahun), maka Indonesia bisa berbangga bahwa kita sudah lepas dari dua level kemiskinan tersebut selama lima tahun ini.

Namun Islam punya standar yang tinggi untuk kemiskinan ini, standar tersebut adalah nishab zakat yang 20 Dinar. Dari grafik tersebut diatas kita tahu bahwa dalam lima tahun terakhir PDB per kapita kita tidak pernah mencapai 20 Dinar per tahun, bahkan terus mengalami penurunan hingga saat ini berada pada kisaran 11 Dinar per tahun. Artinya apa ini? Artinya rata-rata rakyat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan menurut standar Islam.

Lantas tugas siapa untuk mengentaskan kemiskinan ini? Tentu yang paling bertanggung jawab adalah pimpinan tertinggi negeri ini. Terus turun ke level di bawahnya dan seterusnya ? termasuk kita semua mempunyai tanggung jawab untuk mengentaskan kemiskinan yang dalam Al-Qur?an diistilahkan dengan ?memberi makan orang miskin? ini.

Tugas mengentaskan kemiskinan ini tempo hari jadi komoditi kampanye para Capres, mudah-mudahan saja mereka ingat janjinya setelah mereka terpilih. Namun dari pengalaman lapangan, kita belum bisa melihat praktek mengentaskan kemiskinan ini dijalankan dengan sungguh-sungguh ? yang saya lihat justru cenderung sebaliknya.

Ambil contoh berita-berita di koran. Dikala para capres mempromosikan program-program ekonominya ? yang semua ingin popular dimata rakyat kecil, pemerintah daerah yang sudah berkuasa di DKI misalnya lagi sibuk merazia atau merencanakan untuk merazia perumahan-perumahan di Jakarta yang dijadikan tempat kerja.

Ketika pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang mencukupi, usaha swasta untuk menciptakan lapangan kerja dari rumah-rumah mereka ini bukankah harus didukung? Tidak semua usaha bisa langsung jalan dan besar sehingga mampu menyewa tempat khusus untuk kantor atau tokonya. Jadi bekerja atau berjualan dari rumah justru harus didorong, kalau perlu dilatih masyaralat untuk rame-rame melakukannya ? bukan malah di razia.

Ok yang sudah di razia memang rumah-rumah orang kaya yang dipakai usaha, tetapi yang bekerja disana kan mayoritas orang miskin? Apa jadinya kalau tempat-tempat kerja mereka ditutup? Mereka kembali tidak bekerja ? artinya pemerintah menambah jumlah kemiskinan bukan menguranginya.

Perlu juga kita belajar, bahwa perusahaan-perusahaan raksasa dunia seperti Microsoft, Apple, dlsb; dulunya lahir di garasi-garasi rumah pendirinya. Industri kreatif yang saat ini juga digadang-gadang para kontestan pemilu, juga rata-rata justru tumbuh dari rumah-rumah.

Mudah-mudahan (calon) pemimpin-pemimpin kita ingat janjinya pada saat kampanye yang membujuk rakyat kecil untuk memilih mereka; semoga kita semua bisa menjadi orang yang ?bertanya? di akhirat kelak, bukan orang yang ?ditanya? seperti dalam ayat tersebut diatas. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes