Tag Archive | "shadow government statistics"

Dunia Akan Membutuhkan Uang Baru Atau Sistem Barter Yang Canggih


Dalam tulisan saya awal pekan ini tentang bagaimana kita bisa mengalahkan inflasi, saya telah memberi gambaran betapa daya beli umat manusia di seluruh dunia tergerus oleh inflasi yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintahan negerinya masing-masing.

Kalau ada yang masih berpikir bahwa ada uang kertas dunia yang bertahan daya belinya, maka perhatikanlah kinerja uang kertas yang selama ini dipandang kuat di dunia seperti grafik di samping. Daya beli terhadap emas untuk Rupiah misalnya tinggal 20% selama 10 tahun terakhir, bila di awal tahun 2000 Anda bisa membeli 1 gram emas seharga Rp 66,000,- maka kini dengan uang yang sama Anda hanya bisa membeli 0.2 gram emas karena per gramnya kini telah menjadi Rp 330,000,-.

Bukan hanya Rupiah tetapi berbagai mata uang perkasa dunia-pun nasibnya hanya sedikit lebih baik dari Rupiah; dalam kurun waktu 10 tahun yang sama daya beli Poundsterling terhadap emas tinggal 23%, US Dollars tinggal 25%, Yen dan Sing Dollar tinggal 30% dan Euro tinggal 34%.

Mengapa emas pembandingnya? bukan data inflasi di masing-masing negara? Sederhana, di negara maju sekalipun seperti di Amerika yang katanya paling transparan dalam informasi – data inflasi resmi pemerintah negeri itu diragukan oleh rakyatnya sendiri sehingga munculah Shadow Government Statistic misalnya – pemerintah dianggap mempunyai ‘kepentingan’ terhadap data inflasi ini sehingga data yang dikeluarkan bisa jadi bukanlah data yang sebenarnya.

Di lain pihak daya beli emas sudah terbukti stabil selama lebih dari 1,400 tahun – bahwa 4.25 gram emas yang disebut 1 Dinar, selalu cukup untuk membeli 1 ekor kambing. Sehingga emas (bersama perak) memang layak sebagai satu-satunya timbangan yang adil dalam bermuamalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam ‘Ihya Ulumuddin sejak 10 abad lalu.

Dengan penurunan daya beli uang kertas seperti tersebut di atas, disadari atau tidak umat manusia akan semakin banyak yang merindukan hadirnya uang yang adil yang nilainya bebas inflasi – meskipun bisa jadi uang ini tidak diakui sebagai uang oleh sistem moneter yang dianut dunia saat ini.

Bila otoritas-otoritas keuangan dunia menerima kembali uang bernilai intrinsik seperti emas/Dinar atau perak/Dirham, maka urusan pencarian uang baru ini selesai sudah. Tinggal copy paste dari Syariah Islam tentang bagaimana penggunaan emas dan perak ini diatur – semuanya sudah komplit dan sudah dijalankan selama lebih dari 1000 tahun.

Masalahnya adalah sistem keuangan dunia saat ini yang dikomandoi IMF menolak kehadiran uang emas ini, jadi apa kira-kira yang akan terjadi? Masyarakat akan semakin tidak mempercayai rezim uang kertas dunia, tetapi uang bernilai intrinsik yang didambakan terhambat kehadirannya sehingga sulit untuk tersedia secara cukup di masyarakat. Maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah Sistem Barter yang akan berkembang.

Sistem Barter

Sistem Barter

Dengan berbagai perkembangan teknologi data processing yang semakin cepat dan murah, tidak mustahil sistem barter nan canggih akan segera tersedia di pasar. Bahkan di negeri tetangga misalnya sudah ada perusahaan yang menawarkan sistem barter ini untuk transaksi perdagangan business to business. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan ini telah meng-klaim memiliki ratusan ribu customer based dan telah memiliki ‘uang’-nya sendiri yang disebut Barter Trade Credit.

Bila sistem barter berkembang (ketika uang kertas terus menurun legitimasinya), maka benda-benda riil lah yang berharga dan bukan lagi uang kertas. Dahulu saya sulit memahami mengapa sampai garam-pun disebut dalam Hadits Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”

Setelah mempelajari sistem barter ini, kini saya tahu rupanya tidak ada yang tidak penting dalam setiap benda yang disebut di dalam hadits barter tersebut di atas – jadi bukan hanya emas dan perak yang berharga tetapi garam-pun sangat berharga. Hidup menjadi sungguh hambar tanpa garam – karena makanan yang seharusnya enak-pun menjadi tidak ada rasanya, otak yang seharusnya cerdas menjadi tidak berfungsi (iodium dalam garam juga berfungsi mencerdaskan otak).

Jadi kalau garam-pun bernilai untuk barter, benda-benda lain yang Anda miliki dan peroleh dengan susah payah – tentu bernilai dan bermanfaat untuk Anda. Kalaupun toh Anda sudah tidak membutuhkannya lagi, bisa jadi ada orang lain yang membutuhkannya – mengapa tidak berfikir untuk dibarter saja? Wa allahu A’lam.

  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (0)

Mungkinkah Harga Emas Akan Turun Terus Seperti Tahun 1980-an?


Saya pernah menulis tentang Misery Index atau Index Kesengsaraan suatu negara yang diukur dengan 4 komponen yaitu Inflasi, Pengangguran, Interest Rate dan GDP. Kali ini saya ingin meng-elaborate salah satu dari unsur yang menyengsarakan rakyat tersebut yaitu inflasi.

Banyak cara untuk mengukur inflasi, namun di negara maju sekalipun data inflasi dari pemerintah sering diragukan oleh rakyatnya. Di Amerika misalnya yang menganggap dirinya paling transparan, data inflasinya dibantah oleh seorang kakek-kakek John Williams dari Shadow Government Statistics.

Ada data inflasi yang sebenarnya tidak bisa berbohong yaitu harga barang yang satu dibandingkan dengan barang yang lain yang bersifat baku. Yang selalu kita contohkan di sini adalah harga emas1 Dinar terbukti stabil cukup untuk membeli seekor kambing selama lebih dari 1400 tahun. Jadi harga emas ini bisa untuk mendeteksi apakah suatu negara mampu mengendalikan inflasi atau tidak, bila negara tidak bisa mengendalikan inflasi – maka negara tersebut tidak akan bisa memakmurkan rakyatnya – lihat di tulisan saya mengenai Misery Index tersebut untuk detilnya.

Contoh konkrit dari korelasi antara harga emas dengan inflasi yang juga merupakan indikator kemakmuran ini dapat dilihat dari sejarah harga emas di Amerika 100 tahun terakhir seperti dalam grafik di bawah. Sampai tahun 1971 ketika harga emas dipatok pada nilai US$ 35/Oz (US$ 21/Oz sampai 1930) – rakyat seharusnya cukup makmur karena daya beli uang mereka tetap.

us-gold-historyNamun perhatikan setelah tahun 1971 ketika negeri itu tidak lagi mengkaitkan pencetakan uangnya dengan emas; inflasi langsung melonjak dan puncaknya tahun 1980 ketika negeri itu berada dalam keterpurukan yang serius yang ditandai dengan inflasi yang mencapai angka 13.2%.

Yang menarik adalah negeri itu pernah berhasil mengendalikan inflasi ini dengan sangat baik yaitu ketika presidennya Ronald Reagan. 3 tahun di awal pemerintahannya dia berhasil menurunkan tingkat inflasinya menjadi tinggal 3.2% saja. Anda bisa perhatikan dari grafik di atas bahwa puncak inflasi bersamaan dengan puncak harga emas tertinggi tahun 80-an yaitu US$ 615/Oz; kemudian awal penurunan harga emas dimulai dari keberhasilan Reagan mengendalikan inflasi ini.

Di awali dengan kemampuan pemerintah AS mengendalikan inflasi ini, harga emas terus turun dan mencapai titik terendahnya tahun 2001 ketika harga emas tinggal hanya US$ 278/Oz saja.

Pertanyaannya adalah, kalau harga emas dalam US$ pernah begitu lama mengalami penurunan (bearish) – mungkinkah ini akan terjadi kembali ke depan diawali dengan era Obama sekarang? Saya berpendapat hal ini kecil sekali kemungkinannya terjadi, karena Obama dan pemerintahan dunia saat ini tidak melakukan 4 hal esensial yang dilakukan oleh Reagan yaitu:

1) Di awal pemerintahannya Reagan mencanangkan pemotongan pajak untuk merangsang investasi, tumbuhnya enterpreneurship dan membangkitkan etos kerja. Kita tahu kemudian dalam sejarah bahwa raksasa-raksasa industri teknologi tumbuh pesat saat itu dan mereka tetap ada sampai sekarang.

2) Langkah kedua adalah menghilangkan unnecessary cost on the economy. (Kita perlu belajar banyak dari langkah kedua ini bila kita ingin bangun dari keterpurukan kita saat ini yang dalam skala dunia berada di urutan 122 dari 183 negara dalam hal kemudahan berusaha.)

3) Mengendalikan anggaran belanja pemerintah. (Lagi –lagi di bidang ini kita juga perlu belajar; ketika kita lagi terpuruk ya jangan membeli mobil baru yang mahal untuk para pejabat, jangan memekarkan daerah karena akan menambah beban negara, jangan memperbanyak Pilkada, Pileg , Pilpres, dlsb. yang semuanya berdampak pada beban biaya yang harus ditanggung rakyat.)

4) Yang ke-4 Reagan mencanangkan anti-inflation monetary policy yang kemudian terbukti ampuh menurunkan tingkat inflasi tinggal ¼-nya saja hanya dalam waktu 3 tahun.

4 hal tersebut di atas tidak dilakukan oleh pemerintahan Obama sekarang dan negara-negara lain yang senangnya meniru apa yang mereka lakukan, kini mereka mendapatkan guru yang ‘…’ berdiri, maka muridpun ‘…’ berlari.

Harga emas yang menjulang selama dasawarsa terakhir belum ada tanda-tanda berakhir, karena ini juga cerminan inflasi yang sesungguhnya dari uang kertas maka rakyat di seluruh dunia harus mulai berikhtiar sekuat tenaga untuk bisa memakmurkan diri dan keluarganya karena policy pemerintahnya masing-masing nampaknya tidak atau belum akan membawa kemakmuran bagi mereka dalam waktu dekat. Wa Allahu A’lam dan saya bisa saja keliru.

  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Daya Dorong Ekonomi & Politik Global Pada Harga Emas


Di dunia perdagangan emas (sebenarnya juga pada dunia perdagangan lainnya), tidak ada satu ahli-pun yang bisa memperkirakan dengan pasti akan kemana harga emas pada hari esok. Yang bisa dilakukan hanyalah analisa terhadap apa-apa yang sudah atau sedang terjadi dan kemungkinan pengaruhnya untuk waktu yang akan datang.

Analisa statistik semacam ini sering saya buat dalam beberapa kali tulisan, seperti yang saya tulis beberapa waktu lalu yang kemudian menjadi salah satu tulisan favorit pembaca:  Musim MembeliEmas/Dinar. Meskipun analisa statistik semacam ini terbukti relatif akurat untuk memprediksi pergerakan harga emas ke depan, ilmu masa depan tetap milik Allah semata.

Memprediksi harga emas dunia dalam pasar yang sangat global seperti di zaman teknologi ini menjadi semakin sulit karena tidak hanya faktor-faktor ekonomi saja yang mempengaruhi harga emas dunia; tetapi faktor politik tidak kalah pentingnya.

Untuk faktor ekonomi, kita tahu bahwa karena harga emas dunia umumnya dinilai dalam US$ – maka ekonomi negara Paman Sam tersebut sangat dominan perannya dalam harga emas dunia. Masalahnya adalah meskipun mereka mengajari dunia tentang keterbukaan dan tanggung jawab, realitanya ekonomi mereka sendiri tetap gelap.

Tingkat pengangguran resmi menurut data pemerintah dibawah 10%; sedangkan salah satu orang pintar negeri itu John Williams menunjukkan data yang lain dalam Shadow Government Statistics (SGS), dimana angka pengangguran sesungguhnya mencapai 20%. Contoh lain adalah inflasi yang menurut  pemerintah angkanya hanya 2%;  menurut SGS angka inflasi ini sesungguhnya telah mencapai 6.5% di AS.

Entah siapa yang benar, tetapi yang jelas kenaikan harga emas dunia dalam US$ setahun terakhir telah mencapai 42.66% (data resmi Kitco.com  pada saat artikel ini saya tulis 28/10/09) menunjukkan bahwa ada masalah yang sangat serius dalam US$ – yang berarti juga ekonomi Amerika.

Di luar masalah ekonomi tersebut di atas, tidak kalah pentingnya adalah faktor politik global yang saat ini menunjukkan potensi-potensi masalah di beberapa bagian dunia. Tendensi menyatunya sikap antara Russia, China dan Iran – dapat mengubah keseimbangan kekuatan politik Dunia. Russia dan China sudah menyampaikan sikapnya ke Amerika bahwa mereka tidak setuju sangsi ekonomi terhadap Iran – atas non-compliance-nya Iran terhadap perjanjian nuklir dunia.

Dalam dunia politik, ketidak setujuan 2 negara besar tersebut dapat berarti mereka akan berada di belakang Iran bila terjadi konflik antara Iran dengan sekutu  Amerika. Sekutu Amerika Israel yang merasa terancam keamannya dengan adanya program nuklir Iran tersebut, bisa saja berbuat konyol dengan menyerang Iran – karena mereka toh sudah berbuat konyol sebelumnya dengan menyerang jalur Gaza.

Kemungkinan-kemungkinan gejolak regional tersebut tentu tidak dikesampingkan oleh para pelaku usaha global – termasuk para pedagang dan investor emas besar dunia. Bukan masalah perangnya sendiri yang bisa terjadi dan bisa juga tidak, kekhawatiran terhadap perang ini saja cukup untuk mendorong harga emas dunia ke atas.

Semakin khawatir orang terhadap potensi perang, semakin tinggi harga emas akan terdorong ke atas. Mengapa demikian? Karena bila perang terjadi – uang kertas yang menjadi alat tukar masing-masing negara yang terlibat perang bisa sangat terganggu daya belinya – lihat yang terjadi dengan uang Iraq misalnya.

Memang dalam krisis Iraq, sepertinya Iraq dibiarkan sendirian oleh dunia sehingga dengan mudah diluluh lantakkan oleh Amerika bersama para sekutunya. Akibatnya yang ikut luluh lantak hanya mata uang Iraq. Lain halnya bila konflik Iran pecah dan minimal  Russia bersama China berada di pihak mereka, maka bisa jadi seluruh yang terlibat perang termasuk Amerika dan sekutunya, Russia, China, dlsb akan ikut luluh lantak uangnya.

Jadi kemana investasi kita untuk jangka waktu yang panjang? Selain waspada pada perkembangan ekonomi, waspadai pula perkembangan politik duniaWa Allahu A’lam.

  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Mana Yang Lebih Bisa Dipercaya: Data Inflasi Atau Data Harga Emas?


John Williams adalah seorang kakek dari lima cucu yang tinggal di Oakland, California. Kakek ini memiliki profesi yang aneh bagi sebagian orang – namun sangat diperlukan bagi sebagian yang lain. Dagangan si kakek adalah  hal yang tidak biasa yaitu STATISTIK– di luar statistik resmi yang di release oleh pemerintah. John Williams memang bukan sembarang kakek, dulunya ia adalah praktisi bisnis dan juga consultant di perusahaan-perusahaan raksasa dunia.

Anda bisa kunjungi situsnya di Shadow Government Statistics, bahkan kalau ingin lebih detil memperoleh data statistik si kakek – Anda dapat berlangganan dengan biaya  US$ 175 / tahun – maka Anda sudah memiliki akses ke sumber statistik lain di luar statistik resmi pemerintah Amerika Serikat – sepanjang tahun.

Apakah data yang dikeluarkan oleh kakek Williams ini lebih akurat dibandingkan data resmi pemerintah?, nampaknya sebagian orang berpendapat demikian – makanya kakek yang satu ini menjadi sangat terkenal sepanjang krisis satu setengah tahun terakhir. Para statistician pemerintah-pun pada kebakaran jenggot karena media masa nampaknya cenderung mempercayai teori konspirasi dalam bidang statistik yang dilontarkan kakek Williams. Teorinya demikian:

Awalnya para surveyor mengumpulkan data secara nasional, kemudian data ini diolah oleh para statistician – sampai disini masih ok. Namun sebelum di release untuk umum, para politisi menginginkan data yang keluar menunjukkan suatu kemajuan (yang sangat penting untuk citra mereka di masyarakat) , maka kalau-pun mereka tidak bisa mengubah fakta, maka target-nya mereka dapat ‘mengelola’ fakta . Inilah yang membuat seorang John Williams tidak pernah bisa percaya statistik resmi pemerintah.

Ketika data resmi pengangguran pemerintah saat ini masih berada dibawah 9 %; datanya John Williams menunjukkan angka ini sudah berada diatas 20%.  Data inflasi resmi pemerintah yang saat ini berada pada angka – 1.43%, menurut John Williams data ini berada pada angka diatas 6%.

Sayangnya untuk kita di Indonesia, kita tidak memiliki orang seperti  John Williams yang bisa menyajikan statistik alternatif di luar yang resmi keluaran pemerintah. Namun sebenarnya ada tolok ukur yang baku, yang bisa menimbang harga-harga secara adil dan akurat sepanjang masa di seluruh dunia – yaitu harga emas atau Dinar.

Teorinya sederhana saja yaitu kembali ke harga kambing yang stabil di kisaran 1 Dinar sepanjang masa (setidaknya sejak lebih dari 1400 tahun lalu); harga kambing bisa berfluktuasi (karena supply & demand) tetapi akan tetap dikisaran 1 Dinar. Bila harga kambing berfluktuasi dikisaran harga 1 Dinar sepanjang masa, maka demikian pula kurang lebih harga-harga kebutuhan pokok manusia yang bersifat renewable dan tidak mengalami kelangkaan (scarcity) . Ketika teori harga kambing dalam Dinar ini kita terapkan di angka inflasi Amerika misalnya, hasilnya lebih mendekati hitungan John Williams ketimbang statistik resmi pemerintah.

Untuk saat ini data inflasi pemerintah AS yang menunjukkan angka -1.43% di atas; dan datanya John Williams 6% ; data versi harga kambing/Dinar adalah 5.46% ! Jika koreksi angka inflasi ini kita terapkan dalam jangka panjang, maka akan semakin jelas versi harga kambing/Dinar-lah yang lebih akurat mencerminkan tingkat harga ini.

Seandainya Anda membeli barang  X di Amerika tahun 71 seharga $ 100, berdasarkan data resmi inflasi negeri itu saat ini (Agustus, 2009) harganya ‘hanya’ pada kisaran $ 520.  Padahal kenyataanya tidak akan demikian, Anda baru dapat membeli barang yang sama di kisaran harga US$ 2,500. Inilah yang ditunjukkan oleh alat ukur atau timbangan harga yang adil yaitu Dinar seperti yang nampak dalam grafik diatas.

Dinar bukan hanya akurat untuk mengukur harga-harga, tetapi juga sangat akurat untuk mengukur tingkat kemiskinan misalnya. Nishab zakat yang 20 Dinar adalah contoh betapa langgengnya standar batas si kaya dan si miskin versi Islam ini, batas si kaya dan si miskin ini akan terus bergerak bila tolok ukurnya uang kertas atau tingkat inflasi.

Jadi sebenarnya kita memiliki alat ukur atau timbangan yang adil untuk memahami kondisi ekonomi kita secara lebih akurat dalam rentang waktu yang sangat panjang, hanya memang data yang akurat dan adil ini kadang terasa pahit. Wa Allahu A’lam.

  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Memahami Hasil Investasi Dengan Dinar Benchmarking Radar


Dalam tulisan sebelumnya saya mengutip salah satu hasil konferensi pers PBB tiga tahun lalu yang mengungkapkan bahwa 50 % asset kemakmuran dunia dikuasai oleh 2% penduduk dunia, dan sebaliknya 50% penduduk dunia hanya menguasai 1 % asset kemakmuran dunia.

Proses pemiskinan global bagi sebagian besar penduduk bumi ini tentu saja tidak terjadi secara ujug-ujug (tiba-tiba), tetapi sebuah proses panjang yang antara lain adalah melalui penurunan nilai uang kertas (inflasi) yang berdampak langsung pada penurunan daya beli masyarakat secara umum.

Ambil contoh kita yang hidup di Indonesia, dalam sembilan tahun terakhir sejak 2001 – data yang saya kumpulkan dari Biro Pusat Statistik menujukkan rata-rata inflasi kita mencapai angka 8.45%. Tertinggi tahun 2005 (17.11%), terendah insya Allah tahun ini karena sampai Juli inflasi kita baru mencapai 0.66%.

Dengan angka inflasi rata-rata 8.45%, bila penghasilan kita sembilan tahun terakhir tumbuh lebih rendah dari angka tersebut berarti daya beli kita menurun atau dalam bahasa lain kita tambah miskin. Demikian pula bila tabungan atau deposito kita memberikan hasil rata-rata kurang dari angka 8.45%, berarti sesungguhnya daya beli riil dari dana yang kita investasikan menyusut.

Penyusutan asset atau penurunan daya beli ini tidak hanya dialami oleh masyarakat perorangan, tetapi juga dialami oleh perusahaan-perusahaan atau investor-investor yang berkinerja biasa-biasa saja. Misalkan Anda menjalankan perusahan  publik dengan rata-rata return 15% per tahun dalam 9 tahun terakhir, Anda mungkin sudah bangga dengan kinerja ini karena berhasil melawan inflasi. Tetapi apakah demikian menurut pemegang saham Anda ?, dengan asumsi  Dividend Ratio 50% saja pemegang saham hanya memperoleh rata-rata 7.5% hasil – atau masih lebih rendah dari inflasi rata-rata.

Seandainya kita berhasil melawan inflasi-pun, belum berarti kita tambah makmur. Pasalnya adalah data  inflasi yang dikeluarkan oleh pemerintahan-pemerintahan dunia, belum tentu mencerminkan kenaikan harga-harga riil yang sesungguhnya di negeri itu. Di negeri yang katanya memiliki data  paling canggih sekalipun -Amerika Serikat, data statistik mereka tetap diragukan oleh warganya sampai muncul statistik bayangan pemerintah atau Shadow Government Statistics.

Di lain pihak ada bukti yang kasat mata, bahwa di dunia ini ada timbangan yang paling adil dan stabil untuk mengukur daya beli masyarakat seluruh dunia sepanjang zaman.  Kita memiliki sumber datanya yang valid untuk ini yaitu hadits –hadits Rasulullah SAW. Ketika hadits-hadits tersebut menyampaikan data yang ghaib saja seperti peristiwa sesudah kematian, peristiwa di padang maqsar, surga dan neraka, dst. kita sepenuhnya percaya, apalagi ketika mengabarkan sesuatu yang bersifat duniawi yang bisa kita buktikan sekarang juga – pasti kita juga percaya.

Data duniawi yang antara lain dikabarkan melalui hadits tersebut adalah daya beli Dinar yang cukup untuk membeli seekor kambing di jaman Rasulullah SAW hidup, kinipun 1 Dinar tetap cukup untuk membeli seekor kambing. Hal ini membuktikan hawa setelah lebih dari 1400 tahun daya beli Dinar terhadap barang riil adalah tetap. Maka Dinar inilah yang seharusnya menjadi tolok ukur atau benchmark kita untuk membangun kemakmuran umat  sekaligus mempertahankannya dari proses pemiskinan global.

Untuk memudahkan Anda memahmi tolok ukur dengan Dinar ini, saya buat alat bantu berupa grafik diatas yang saya sebut Dinar Benchmarking Radar. Grafik type radar (rata-rata ada di program standar excel), kita bangun dari tiga lapis data. Lapis pertama adalah data appresiasi Dinar dari tahun ketahun (year on year) sejak desember 2001 – Juli 2009 (khusus untuk tahun 2009 adalah baru dari Januari sampai July), lapis kedua adalah data inflasi tahunan untuk periode yang sama; lapis ketiga adalah tingkat hasil dari investasi kita .

Bila luas bidang kita gunakan untuk mencerminkan pertumbuhan dan kita ambil titik awal adalah 2001 pada luas bidang nol ( pusat grafik), maka pada bulan Juli 2009 lalu pertumbuhan Dinar dalam Rupiah tercermin dari luas bidang kuning yang diwakilinya. Kemudian bidang hijau mencerminkan inflasi, dan bidang merah mencerminkan hasil investasi tertentu kita ( saya gunakan hasil rata-rata tabungan saya sebagi contoh).

Dari sini kita bisa tahu bahwa Dinar lebih dari cukup untuk meng-cover- inflasi (bidang kuning jauh lebih luas dari bidang hijau), sedangkan tabungan saya tidak mampu melawan inflasi (bidang merah lebih sempit dari bidang hijau). Teknik penggunaan grafik radar ini bisa kita gunakan untuk perbandingan berbagai bentuk investasi lainnya.

Kegunaan grafik Dinar Benchmarking Radar ini mirip dengan radar untuk navigasi di pesawat; dia hanya membidik sasaran yang kita tentukan sendiri. Bila sasaran yang kita tentukan dalam investasi benar (misalnya tumbuh minimal sama dengan appresiasi harga emas/dinar) – maka kita akan berusaha dan insya Allah bener-bener bisa mencapai sasaran tersebut. Sebaliknya kalau sasaran kita keliru (misalnya hanya membidik tingkat inflasi), maka hasil investasi kita paling banter juga hanya akan cukup meng-cover tingkat inflasi tersebut – atau bahkan lebih sering kurang. Wa Allahu A’lam.

  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)


Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes