Tag Archive | "September"

Antisipasi Quantitative Easing 2: Belajar Sampai Negeri China


Saya pernah menulis tentang Quantitative Easing ini di bulan Maret 2009 ketika dunia sedang berada di puncak krisis finansial. Saya tulis kembali sekarang dengan judul Quantitative Easing 2 (QE 2) sebagaimana para pengamat ekonomi menyebutnya akhir-akhir ini, karena mulai bermunculannya wacana atau lebih tepatnya analisa kemungkinan beberapa bank sentral dunia melakukannya lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Quantitative Easing adalah kebijakan bank sentral untuk menambah supply uang dengan meng-credit-kan di account-nya sendiri uang dalam jumlah besar secara ex-nihilo atau out of nothing atau dalam bahasa kita dari awang-awang. Bahkan uang ini juga tidak perlu dicetak, karena cukup di entry di account bank sentral ? bahwa uang mereka bertambah ? maka bertambahlah uangnya.

Uang yang diketikan dari awang-awang ini kemudian beredar melalui apa yang disebut open market operation, yaitu ketika uang (yang hanya ada di data komputer) tersebut kemudian benar-benar digunakan untuk membeli financial assets berupa government bonds, corporate bonds, dlsb serta  mengalir ke bank-bank dan institusai finansial lainnya.

Pencetakan Uang dari Awang-Awang

Pencetakan Uang dari Awang-Awang

Langkah bank-bank sentral melakukan quantitative easing ini tidak terlalu bermasalah selagi pelaku pasar dan pengguna uang pemerintah tersebut masih mempercayainya. Masalahnya adalah ketika hal ini semakin sering dilakukan ? maka nilai mata uang dari negara tersebut akan terus tergerus dengan cepat dan merugikan siapapun yang memegangnya.

China misalnya yang memegang US$ terbesar, sejak beberapa tahun terakhir mulai khawatir akan menurunnya daya beli aset mereka yang berupa US$ tersebut. Karena kekhawatiran inilah maka China terus mendiversifikasi cadangan devisanya dari US Dollars, mereka kini aktif membeli mata uang negara lain selain AS, seperti Jepang, Thailand, Korea dan bahkan beberapa negara latin.

Pemerintah China dan perusahaan-perusahaan negara-nya juga mulai mengumpulkan aset riil di luar mata uang. Di antara yang mereka kumpulkan adalah emas, biji besi, cadangan gas, batubara dan bahkan cadangan kayu dari hutan-hutan di Guyana. Dari perbagai persiapan ini, maka bila nilai US$ terus mengalami penurunan ? dan bahkan suatu saat bisa benar-benar kehilangan nilainya sama sekali, maka bisa jadi China adalah negara yang paling siap menghadapinya. China bahkan juga sudah mendorong dan memfasilitasi rakyatnya untuk rame-rame membeli emas.

Paling tidak langkah China ini pasti menggembirakan rakyatnya karena setahun terakhir rakyat China yang memindahkan tabungan US$-nya menjadi emas mengalami keuntungan rata-rata sekitar 30% – yaitu rata-rata appresiasi harga emas dunia dalam US$ setahun terakhir.

Dengan semakin ramenya wacana atau analisa akan kemungkinan terjadinya Quantitative Easing Gelombang ke 2 (QE 2), sangat mungkin trend kenaikan harga emas dunia masih akan terus berlanjut ? apalagi minggu ini kita sudah akan memasuki bulan September ? dimana kenaikan harga emas musiman biasa juga terjadi.

Bila China beserta rakyatnya telah melakukan antisipasi yang proper terhadap kebijakan negara lain terhadap uangnya ? khususnya AS, mengapa tidak kita juga ?belajar sampai negeri China? dalam pengelolaan aset ini? Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

Penggunaan Emas/Dinar Dalam Pengelolaan Risiko


Waktu saya belajar tentang Manajemen Risiko dahulu, hal yang mendasar yang kita pelajari antara lain adalah bagaimana memilah-milah risiko dari yang bisa terjadi dengan yang pasti terjadi.  Untuk risiko yang masuk kategori bisa terjadi (kecelakaan misalnya), kemudian dipilah berdasarkan severity dan frequency-nya untuk kemudian dihindari, diminimisasi atau dihadapi. Untuk risiko yang pasti terjadi (kematian misalnya) ? tidak ada pilihan lain kecuali harus dihadapi.

Naik turunnya harga emas dunia adalah juga merupakan suatu risiko; tetapi masuk kategori yang mana? Tergantung dari seberapa jauh kita memandangnya, untuk jangka pendek dia adalah risiko yang bisa terjadi (bisa naik atau turun), tetapi untuk jangka panjang dia lebih mendekati risiko yang pasti terjadi ? uang fiat hampir pasti turun daya belinya terhadap emas. Sampai saat ini belum ada satupun uang kertas dunia yang mampu bertahan daya belinya terhadap emas dalam rentang waktu yang panjang.

Ambil contoh kasus harga emas tahun ini misalnya; bila dilihat dari statistik seharusnya sejak akhir Maret lalu sampai awal September nanti harga emas mestinya berada pada musim rendah. Namun untuk tahun ini nampaknya pola pergerakan harga musiman ini tidak berlaku, bahkan bulan Juni lalu harga emas dunia sempat berada di kisaran angka US$ 1,266/Oz.  Per pagi ini harga emas dunia berada pada kisaran angka US$ 1,225/Oz – mengalami penurunan US$ 42/Oz atau turun 3% dari harga tertingginya 2 bulan lalu, namun angka ini masih US$ 270/Oz lebih tinggi atau mengalami kenaikan 28.33% dari harga emas Dunia yang pada bulan yang sama tahun lalu yang berada di kisaran US$ 955/Oz.

Semakin panjang kita menarik rentang waktu yang kita lihat, akan semakin jelas penurunan daya beli uang kertas terhadap emas ini. Anda bisa perhatikan misalnya pada grafik 10 tahunan yang ada pada situs ini (statistik Dinar Islam Growth” sebelah kanan bawah) ? trend naiknya dalam rentang waktu yang panjang menjadi amat sangat jelas.

penurunan-daya-beliSetelah apa yang terjadi dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara 1997/1998, Amerika tahun 2008 dan Eropa tahun 2010 ini, kita semua baik individu, perusahaan maupun negara nampaknya kini memang perlu mengkaji kembali Strategi Pengendalian Risiko yang dihadapinya. Satu aspek risiko yang begitu nyata mendekati kepastian, yaitu risiko penurunan daya beli uang kita ? sangat bisa jadi masih luput dari konsideran kita dalam konteks implementasi Pengendalian Risiko.

Akan tidak ada gunanya misalnya suatu usaha mencapai sukses luar biasa dan menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi para investornya ? bila keuntungan tersebut dihargai dengan suatu nilai uang kertas yang nilainya sendiri mengalami peluruhan dengan cepat. Demikian pula dengan hasil jerih payah kita; tidak ada gunanya kita tabung bila nilai daya belinya tidak bisa kita pertahankan.

Karena risiko penurunan nilai (baca: inflasi) uang kertas adalah suatu keniscayaan atau mendekati kategori risiko jenis kedua ? yaitu risiko yang pasti terjadi, maka mau tidak mau kudu kita hadapi. Dengan apa kita menghadapinya? Ya antara lain menggunakan emas atau Dinar ini. Seandainya toh karena satu dan lain hal emas atau Dinar belum bisa difungsikan sebagai Alat Tukar atau Medium of Exchange; penggunaan emas atau Dinar sebagai Unit of Account dan Store of Value akan dapat sangat efektif dalam pengelolaan risiko penurunan daya beli uang kertas atau inflasi. Wa Allahu A?lam

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Kemana Harga Emas Akan Didorong Oleh Pasar?


Seperti bandul jam dinding yang berayun beraturan di sekitar posisi jam 6 karena gravitasi bumi? jam 6 adalah titik terendah dalam lingkaran jam; demikian pula mekanisme pasar membentuk harga. Untuk pasar emas saya pernah menjelaskan hal ini dalam tulisan saya pada pertengahan tahun lalu dengan judul “Kemana Harga Emas Akan Berayun“.

Tulisan kali ini menyempurnakan tulisan sebelumnya tersebut dengan fokus pada upaya memahami dimana titik ?jam 6? tersebut pada pasar emas. Untuk ini saya gunakan harga emas rata-rata harian untuk 180 hari (6 bulan) dan rata-rata harian untuk 360 hari (1 tahun). Dalam istilah teknis disebut Daily Moving Average (DMA), jadi ada 2 DMA yang kita gunakan 180 DMA dan 360 DMA.

Dasar pemikirannya adalah harga emas akan bergerak naik turun di sekitar angka rata-rata-nya. Bila terlalu tinggi akan tertarik ke bawah mendekati harga rata-rata oleh supply dari aksi jual masyarakat, dan sebaliknya bila terlalu rendah akan tertarik ke atas oleh kenaikan demand dari aksi beli masyarakat.

Dari data harga emas di pasar Indonesia yang dikumpulkan oleh kami sejak pertengahan September 2007, kita bisa sajikan pergerakan harga ini lengkap dengan grafik 180 DMA dan 360 DMA-nya seperti di atas. Lantas bagaimana kita membaca grafik tersebut?

Pada posisi penutupan pekan lalu, harga jual emas di emas24.com maupun DinarIslam.com adalah berada pada angka Rp 339,196/gram; sedangkan angka DMA pada tanggal penutupan tersebut masing-masing berada pada Rp 332,091/gram (180DMA) dan Rp 330,068/gram (360DMA).

Jadi seperti bandul jam saja, harga emas sekarang masih lebih tinggi dari DMA-nya atau masih mungkin berayun ke bawah ke arah Rp 332 ribu, Rp 330 ribu atau bahkan lebih rendah dari itu ? sebelum akhirnya terayun balik ke atas.

Bagi investor jangka panjang, ayunan ini tidak perlu menjadi pikiran karena DMA untuk jangka panjang (360 DMA) cenderung lurus ke atas. Artinya semakin panjang fokus investasi kita, semakin jelas arah hasilnya ? yaitu positif ke atas.

Sebaliknya untuk jangka pendek ? 6 bulan atau kurang misalnya; arah gerakan harga ini masih naik turun seperti yang ditunjukkan oleh grafik 180 DMA tersebut. Itulah sebabnya saya tidak pernah menganjurkan Anda untuk berspekulasi dengan harga emas jangka pendek. Wa Allahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Apa Yang Terjadi Dengan Harga Dinar/Emas?


Hampir empat minggu sejak tulisan saya tentang pasar emas terakhir,  saya pikir kini waktunya saya menulis kembali tentang perkembangan harga emas akhir-akhir ini. Agar agak panjang perspektif kita, saya akan tinjau sekilas harga emas dalam US$ dan harga Dinar dalam Rupiah dalam rentang waktu dua bulan sejak awal Agustus 2009.
Secara umum harga emas dalam US$, cenderung naik di bulan September seperti yang sudah diperkirakan dalam tulisan Musim Membeli Emas yang saya munculkan 31 Maret 2009 lalu.
Kompleks sekali memang penyebabnya, namun harga emas international dalam US$ tentu sangat terpengaruh oleh daya beli US$ itu sendiri. Ketika daya beli US$ menurun yang ditunjukkan oleh menurunnya US$ Index, maka harga emas dari kacamata US$ akan kelihatan naik. Perhatikan grafik disamping untuk ini, harga emas dalam US$ bergerak berlawanan arah dengan grafik US$ Index di latar belakang.
Akan halnya harga emas atau Dinar dalam Rupiah; selain faktor pergerakan harga emas international (dalam US$) ada satu faktor lagi yang ikut berperan ? yaitu nilai tukar Rupiah itu sendiri. Bila nilai tukar Rupiah menguat, akan turun-lah harga emas/Dinar dalam Rupiah dan sebaliknya.
Beberapa pekan terakhir memang ada kecenderungan menguatnya nilai tukar Rupiah ini, sehingga efek kenaikan harga emas internasional terimbangi oleh penguatan Rupiah. Kalau dalam harga emas intenational (US$) emas naik sekitar 3% dalam dua bulan terakhir, dalam Rupiah emas/Dinar hanya naik sekitar 2 % pada periode yang sama. Hubungan antara harga emas, US$ dan Rupiah ini pernah saya munculkan dalam tulisan tanggal 23 November 2008 lalu.
Saya tentu berharap keperkasaan Rupiah ini bisa bertahan cukup lama, karena kalau Rupiah kembali melemah pada saat harga emas internasional cenderung tinggi seperti saat ini ? harga Dinar akan menjadi mahal, hal ini bisa menghambat penyebar luasan Dinar di masyarakat.
Kalau tidak ada gejolak pelemahan Rupiah kembali – berdasarkan statistik yang saya sajikan di tulisan saya tanggal 3 Maret lalu – beberapa hari mendatang kita akan memasuki bulan Oktober yaitu bulan yang insyaallah baik untuk membeli emas/Dinar.
Namun saya juga terus mengingatkan bahwa investasi emas/Dinar tetap berpeluang rugi bila untuk orientasi jangka pendek (kurang dari enam bulan), semakin panjang rentang waktu investasi peluang rugi ini menjadi semakin kecil. Wa Allahu A?lam

Hampir 4 minggu sejak tulisan saya tentang pasar emas terakhir, saya pikir kini waktunya saya menulis kembali tentang perkembangan harga emas akhir-akhir ini. Agar agak panjang perspektif kita, saya akan tinjau sekilas harga emas dalam US$ dan harga Dinar dalam Rupiah dalam rentang waktu 2 bulan sejak awal Agustus 2009.

Secara umum harga emas dalam US$, cenderung naik di bulan September seperti yang sudah diperkirakan dalam tulisan Musim Membeli Emas yang saya tulis sebelumnya.

Kompleks sekali memang penyebabnya, namun harga emas international dalam US$ tentu sangat terpengaruh oleh daya beli US$ itu sendiri. Ketika daya beli US$ menurun yang ditunjukkan oleh menurunnya US$ Index, maka harga emas dari kacamata US$ akan kelihatan naik. Perhatikan grafik di samping untuk ini, harga emas dalam US$ bergerak berlawanan arah dengan grafik US$ Index di latar belakang.

Akan halnya harga emas atau Dinar dalam Rupiah; selain faktor pergerakan harga emas international (dalam US$) ada satu faktor lagi yang ikut berperan ? yaitu nilai tukar Rupiah itu sendiri. Bila nilai tukar Rupiah menguat, akan turun-lah harga emas/Dinar dalam Rupiah dan sebaliknya.

Beberapa pekan terakhir memang ada kecenderungan menguatnya nilai tukar Rupiah ini, sehingga efek kenaikan harga emas internasional terimbangi oleh penguatan Rupiah. Kalau dalam harga emas intenational (US$) emas naik sekitar 3% dalam 2 bulan terakhir, dalam Rupiah emas/Dinar hanya naik sekitar 2 % pada periode yang sama.

dinar-rupiahSaya tentu berharap keperkasaan Rupiah ini bisa bertahan cukup lama, karena kalau Rupiah kembali melemah pada saat harga emas internasional cenderung tinggi seperti saat ini ? harga Dinar akan menjadi mahal, hal ini bisa menghambat penyebar-luasan Dinar di masyarakat.

Kalau tidak ada gejolak pelemahan Rupiah kembali – berdasarkan statistik yang saya sajikan di tulisan saya tanggal 3 September lalu – beberapa hari mendatang kita akan memasuki bulan Oktober yaitu bulan yang insya Allah baik untuk membeli emas/Dinar.

Namun saya juga terus mengingatkan bahwa investasi emas/Dinar tetap berpeluang rugi bila untuk orientasi jangka pendek (kurang dari 6 bulan), semakin panjang rentang waktu investasi peluang rugi ini menjadi semakin kecil. Wa Allahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Ini September Bung?!


Seperti membaca sejarah yang berulang, semalam harga emas dunia melonjak sampai sempat diatas US$ 980/oz. Bagi pembaca rutin situs DinarIslam.com , kenaikan ini bukan hal yang baru sama sekali karena dalam berbagai kesempatan sudah saya ungkapkan berdasarkan statistik bahwa September-lah awal reli panjang kenaikan harga emas dunia yang biasanya berlangsung sampai Maret tahun berikutnya. Lihat misalnya tulisan saya tentang Musim Membeli Emas/Dinar tempo hari.

Meskipun tulisan saya tersebut hanya saya buat berdasarkan analisa statistik harga emas dunia 5 tahun, ternyata statistik 40 tahun (1969-2009) yang diolah oleh Frank Holmes dari Kitco berdasarkan data dari US Global Research menunjukkan kecenderungan yang sama. Lihat grafik di samping yang saya sajikan dari tulisan si Frank ini.

Menariknya dari data 40 tahun tersebut, ternyata rata-rata hanya ada 2 bulan dalam setahun dimana harga emas turun yaitu Oktober dan Maret; sementara 10 bulan rata-ratanya naik. Rata-rata kenaikan harga emas bulanan adalah  0.85% dan rata-rata kenaikan tahunan 10.2%, semuanya adalah dalam harga US$ – angka dalam Rupiah bisa jauh berbeda.

Apa maknanya ini? Tetap seperti yang sering saya ungkapkan di situs ini; kalau Anda ingin menggunakan emas atau Dinar sebagai salah satu instrumen investasi ? maka jangan berorientasi jangka pendek. Bila beli sekarang dan Anda jual bulan depan, maka besar kemungkinannya Anda akan rugi. Namun bila orientasi Anda jangka panjang – setahun atau lebih, maka kenaikan nilai rata-rata emas atau Dinar dalam US$ yang 10.2% tersebut sekitar 4 kali lebih besar dibanding bila Anda menabung atau deposito dalam US$.

Jadi meskipun bulan-bulan ini harga emas atau Dinar akan cenderung tinggi, sebagai instrumen investasi jangka panjang tetap saja dia jauh lebih menarik dari tabungan, deposito dan sejenisnya. Emas atau Dinar hanya kalah menarik bila dibandingkan dengan usaha sektor riil yang berjalan dengan baik, inilah sebabnya kita ingin membangun kompetensi usaha sektor riil melalui program Pesantren Wirausaha.

Dan masih ada yang lebih menarik lagi bila Anda juga menginvestasikan untuk kepentingan yang lebih abadi, yaitu infaq?Tidak Ada Balasan Untuk Kebaikan Selain Kebaikan Pula?, maka berinfaq-lah banyak-banyak karena inilah investasi terbaik bagi kita semua – apalagi ini bulan Ramadhan?Amin.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Harga Emas/Dinar Dalam Rupiah: Dorongan Bulan September dan Anomali Positif


Dalam tulisan saya sebelumnya tentang Musim Membeli Emas/Dinar saya menyebutkan bahwa musim harga rendah untuk emas dunia terjadi antara akhir Maret sampai September, sebaliknya akhir September sampai Maret ? harga akan cenderung tinggi.

Sinyalemen ini kini dapat dibuktikan dengan analisa statistik harga emas dunia dalam US$ selama 10 tahun terakhir sejak Januari 2000.  Puncak harga emas (US$)  rata-rata bulanan tertinggi seluruhnya terjadi diantara bulan September ke Maret. Dalam Rupiah bisa berbeda karena satu faktor lagi ikut berpengaruh yaitu nilai tukar Rupiah terhadap US$.

Ketika Rupiah melemah terhadap US$ maka harga emas dalam Rupiah akan naik meskipun harga emas dunia dalam US$ menurun. Kondisi ini saya sebut Anomali Negatif karena kita cenderung rugi untuk membeli emas saat itu. Mengapa rugi? Karena namanya anomali ? terjadinya tentu tidak terus menerus, pada waktunya menjadi normal kembali ? harga akan terkoreksi ke arah normal yang lebih rendah. Anomali Negatif ini bisa kita lihat jelas di grafik pada periode pertengahan 2001 ketika Rupiah berada di atas Rp 11,000/US$.

Hari-hari ini yang terjadi sebaliknya yaitu harga emas dalam Rupiah cenderung menurun ? di tengah harga emas dunia (dalam US$) yang mulai merangkak naik, kondisi ini  yang kita kita sebut Anomali Positif. Penyebab Anomali Positif saat ini tidak lain karena Rupiah sedang dalam proses recovery setelah beberapa bulan lalu juga menyentuh angka di atas Rp 11,000/US$.

Ketika Anomali Positif terjadi seperti sekarang ini, insya Allah ini menjadi waktu yang paling baik untuk membeli emas atau Dinar ? karena ketika periode anomali ini berakhir, harga emas dalam Rupiah akan kembali normal ke angka yang cenderung lebih tinggi.

Jadi untuk saat ini ada 2 pendorong naiknya harga emas/Dinar (Rupiah) dalam waktu dekat, pertama efek normalisasi harga dalam Rupiah ? setelah Rupiah berada pada keseimbangannya yang baru terhadap US$ – sehingga harga emas dalam Rupiah akan cenderung parallel terhadap harga dalam US$ seperti yang ditunjukkan pada grafik di luar zone anomali.

Kedua adalah efek musiman bulan September seperti yang sudah saya uraikan pada tulisan sebelumnya di atas. Wa Allahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Fenomena Pembentukan Segitiga Simetris Dalam Harga Emas Dunia


Dalam tulisan saya sebelumnya tentang Musim Membeli Emas saya membuat analisa bahwa berdasarkan statistik beberapa tahun terakhir, pada umumnya harga emas dunia cenderung rendah antara akhir Maret sampai September dan sebaliknya cenderung meninggi akhir September sampai Maret. Akankah statistik berulang tahun ini?

Saya tetap konsisten dengan pendapat-pendapat saya sebelumnya, bahwa insya Allah statistik akan kembali berulang tahun ini.  Sekali lagi hanya Allah-lah yang tahu ilmu masa depan, kita hanya berusaha memahami fenomena statistik harga emas yang ada. Salah satu dari fenomena pasar ini adalah fenomena Segitiga Simetris atau Coil ? yang antara lain analisanya ditulis oleh Michael J. Kosares dkk dari USA Gold.

Segitiga ini dibentuk dari satu sisi yang menghubungkan titik-titik tertinggi harga emas harian dalam beberapa bulan terakhir, sedangkan sisi yang lain menghubungkan titik-titik terendahnya. Hasilnya kita bisa lihat pada grafik di samping. Cara kerjanya seperti per atau Coil, bila kita tekan terus menerus pada suatu titik kita tidak bisa menekannya lagi ? dan per atau Coil akan memantul (melar) secara maksimal. Saat itulah akan ada lonjakan harga emas yang significant.

Terbentuknya segi tiga simetris dalam harga emas dunia mendahului lonjakan besar yang terjadi kemudian. Pola semacam ini bisa dilihat dalam lonjakan-lonjakan harga emas dunia yang terjadi dalam beberapa tahun  terakhir yang disajikan pada grafik di bawah. Perhatikan lonjakan akhir 2007/awal 2008 yang didahului oleh segitiga sama sisi yang mulai terbentuk selama beberapa bulan sebelumnya, demikian pula lonjakan akhir 2005/awal 2006 , lonjakan akhir 2004 dan juga akhir 2003.

Bila statistik ini akan berulang, maka kemungkinan waktunya sudah dekat karena sekarang kita sudah berada di akhir bulan Agustus dan fenomena segitiga sama sisinya sudah terbentuk dengan jelas. Kenaikan harga emas dunia dalam US$ yang mencapai 1.37% Jumat malam misalnya, bisa jadi merupakan awal dari memantulnya Coil ini. Wa Allahu A?lam.

Segitiga Simetris Tahun 2003 - ...

Segitiga Simetris Tahun 2003 - ...

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Musim Membeli Emas/Dinar


Meskipun saya sudah berusaha menjawab secara umum kapan waktu yang baik untuk menukar Dinar pada tulisan saya terdahulu, masih sangat banyak pertanyaan diajukan ke saya terutama dari kalangan pengguna Dinar yang relatif baru.  Pertanyaan tersebut adalah apakah sekarang waktu yang baik untuk menukar investasi saya ke Dinar?, dan berbagai pertanyaan sejenis.

Jawaban saya selalu saya arahkan untuk membaca tulisan saya tersebut diatas; Namun tergelitik juga saya untuk melengkapi tulisan tersebut diatas dengan data-data yang barangkali juga bermanfaat sebagai tambahan bahan pertimbangan.

Data ini saya kumpulkan dari Kitco untuk harga emas selama lima tahun terakhir dan saya kelompokkan berdasarkan empat musim yaitu Musim Semi (Spring); Musim Panas (Summer), Musim Gugur (Fall) dan Musim Dingin (Winter).  Musim yang saya pakai adalah musim-musim belahan bumi utara, karena konsentrasi aktifitas pasar emas jauh lebih banyak terjadi di belahan bumi utara dibandingkan dengan selatan.

Kemudian agar bisa dibandingkan secara konsisten dari tahun-tahun yang berbeda, maka saya buat index harga 100 untuk bulan Juni (awal musim panas).

Hasilnya saya sajikan dalam grafik diatas; cukup menarik bukan? Perhatikan pada garis rata-rata (average) yang berwarna emas; ternyata memang secara  statistik harga emas yang berarti juga Dinar cenderung rendah pada Musim Semi dan Musim Panas. Sebaliknya, harga emas di Musim Gugur cenderung meningkat dan puncaknya di Musim Dingin.

Statistik lima tahun terakhir dalam grafik tersebut menunjukkan angka rata-rata harga emas dunia pada akhir Musim Gugur adalah 10% lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada awal Musim Panas sebelumnya. Pada akhir Musim Dingin, rata-rata ini malah mencapai 20% di atas harga pada awal Musim Panas  sebelumnya.

Kebetulan kah angka-angka ini? Saya tetap berpendapat tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Pada Musim Dingin manusia memiliki kebutuhan lebih setidaknya dalam hal kebutuhan energi, pakaian dan makanan. Karena harga emas merupakan cerminan harga barang-barang yang dibutuhkan manusia, maka ketika kebutuhan akan barang-barang tersebut meningkat ? harga naik, maka demikian pula harga emas.

Dari statistik 5 tahun tersebut kita akan lebih mudah memahami apabila hari-hari ini yang bertepatan dengan awal Musim Semi di belahan bumi utara, harga emas dunia akan cenderung rendah. Secara statistik, posisi rendah ini akan bertahan sampai akhir musim panas yaitu September mendatang. Kemudian akhir September sampai Akhir Maret tahun depan, harga emas dunia akan cenderung tinggi.  Meskipun demikian sangat perlu dipahami bahwa yang terjadi di pasar bisa saja sangat berbeda dengan statistik, anomali-anomali selalu bisa terjadi oleh berbagai faktor – baik faktor ekonomi, politik, kemanan dan berbagai issue global lainnya.

Perlu juga  diketahui bahwa statistik harga yang saya gunakan tersebut adalah harga dalam US Dollar; pola harga emas/Dinar dalam Rupiah bisa  berbeda karena fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dollar yang sulit diprediksi. Wallahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes