Tag Archive | "sapi"

Swasembada Daging Nasional Dari Kambing, Mengapa Tidak?


Dalam tulisan saya sebelumnya dengan judul Dicari: Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang saya ungkapkan bahwa untuk menurunkan kebutuhan daging impor hanya tinggal 10% saja tahun 2010 (yang tinggal seminggu lagi), Indonesia membutuhkan tambahan 2.5 juta ekor sapi. Akan tercapaikah target ini? Wa Allahu A?lam ? Departemen Pertanian mungkin yang bisa menjawabnya karena saya cari datanya tidak ketemu.

Ketergantungan kita pada daging impor selama ini, bisa jadi karena persepsi yang terbangun selama ini di masyarakat adalah bahwa daging sapi-lah yang paling aman. Karena pertumbuhan peternakan sapi membutuhkan modal yang besar, dan tingkat kelahiran anak sapi yang relatif rendah ? membuat upaya mengejar kebutuhan daging secara nasional ini menjadi berat.

Sebenarnya ada sumber daging lain yang tidak kalah menariknya dari daging sapi, yaitu daging kambing. Hanya daging kambing ini selama ini sering dipersepsikan sebagai daging yang berbahaya bagi kesehatan, seperti koleterol tinggi dan lain sebagainya sehingga banyak dihindari.

Hal inilah yang harus diluruskan oleh pihak-pihak yang terkait di negeri ini, dengan riset yang memadai, penyuluhan ke masyarakat, dlsb. Di Amerika misalnya, United State Department of Agriculture (USDA) telah mempublikasikan kajiannya seperti dalam tabel di atas.

Dari tabel di atas kita tahu bahwa dari kajian mereka ini, ternyata setiap berat yang sama daging kambing mengandung lebih sedikit lemak, lemak jenuh dan kolesterol dibandingkan dengan daging sapi dan bahkan lebih rendah juga dari daging ayam!

Apakah daging kambing, sapi dan ayam di Indonesia berbeda dari yang di Amerika? Perlu diteliti lebih detil ? tetapi dugaan saya sendiri mestinya tidak jauh berbeda. Asumsinya  data dari USDA tersebut memang benar; bukankah ini peluang besar bagi negeri ini untuk bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan dagingnya dari dalam negeri sendiri?

Kambing Jantan PEKambing lebih mudah diproduksi secara massal, karena untuk beternak kambing tidak dibutuhkan modal yang besar. Kemudian kecepatan pertumbuhannya yang mencapai 3/2 (3  kali beranak dalam 2 tahun) insya Allah akan semakin memudahkan pencapaian pemenuhan kebutuhan daging nasional ini.

Efek ekonominya akan luar biasa bagi bangsa ini; pertama kita tidak akan lagi menghambur-hamburkan devisa setiap tahunnya untuk mengimpor kebutuhan daging nasional; kedua akan ada penyebaran kesejahteraan yang meluas ke masyarakat ? asal mau saja ? masyarakat kita pasti bisa pelihara kambing!

Lagi pula memelihara (menggembala) kambing ini juga profesi para nabi sebelum mereka menjadi nabi; pasti banyak pesan yang terkandung di dalamnya ? yang barangkali belum semuanya bisa kita pahami, tetapi sedikit-demi sedikit pesan tersebut terkuak bila kita terjun ke dalamnya.

Bagi masyarakat yang ingin belajar perkambingan ini, kami menyediakan fasilitas di lokasi Pesantren Wirausaha kami yang juga secara berkelakar kita sebut sebagai Center of Kambingnomics ? di Jonggol, Bogor.  BELAJAR perkambingan di tempat ini adalah GRATIS dan Anda bisa membawa anak-anak sambil BERLIBUR?; bagi yang datang dari luar kota tersedia PENGINAPAN ? hanya harus kontak kami sebelumnya agar tidak bentrok dengan jadwal rombongan lain yang kemungkinan menggunakan fasilitas yang sama.

Semoga dengan langkah kecil ini, kita bisa berkontribusi dalam mengerem kebutuhan impor daging nasional sekaligus juga menyebar luaskan kemakmuran ke masyarakatHal jazaa ul? ihsaani illal ihsaan.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Dicari: Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang


Allahumma innii a?udzubika minal hammi wal khazan, wa a?udzubika minal ?adzji wal kasal, wa a?udzubika minal jubni wal bukhl, wa a?udzubika min ghalabati al-daini wa khohri al rijaal.

?Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.?

Kalau saja hutang itu baik untuk membangun negeri, mungkin kita tidak diajari oleh Uswatun Hasanah kita untuk berlindung dari lilitan hutang seperdi do?a yang matsur (dicontohkan) tersebut di atas setiap pagi dan petang. Tetapi karena hutang ini bisa melilit kita dan membuat kita terjebak dalam tekanan orang lain, maka penting sekali bagi kita untuk berlindung dari hutang ini.

10 tahun lalu ekonomi negeri ini porak poranda sampai uang kita tinggal bernilai 1/4-nya, antara lain penyebabnya adalah besarnya hutang luar negeri kita. Kebutuhan akan Dollar yang begitu tinggi dibandingkan dengan kemampuan kita untuk menghasilkan Dollar telah menyebabkan mata uang Dollar naik lebih dari 4 kali lipat selama krisis.

Kini kesalahan yang sama terulang ? seolah kita begitu mudah melupakan kesalahan sebelumnya. Kalau keledai saja tidak terperosok dalam lubang yang sama 2 kali, kita bisa terperosok ke lubang yang sama berulang-ulang.

Prihatin saya membaca berita di Republika yang mengungkap hutang korporasi kita telah mencapai kisaran US$ 50 ? 60 milyar, sedikit saja dibawah hutang negara yang mencapai US$ 62 milyar.  Yang lebih menyedihkan lagi adalah jumlah hutang yang akan jatuh tempo tahun ini saja akan mencapai US$ 17.4 Milyar, jumlah yang berpotensi untuk menggerus cadangan devisa kita yang per maret hanya US$ 53.7 Milyar.

Seingat saya pada saat kita mengalami krisis dulu, ada komitmen  (pemimpin) negeri ini untuk mengawasi hutang-hutang swasta ke luar negeri ini; Wallahu A?lam ? apakah pengawasan tersebut jalan? Siapa yang bertanggung jawab untuk ini? Mengapa rakyat seperti kita harus sering-sering terkejut dengan masalah yang sudah sangat serius dan akhirnya hanya menjadi korban?

Besar kemungkinan masalah-masalah semacam ini akan terus berulang selama kita masih salah dalam memilih uswah (contoh); Kalau Rasulullah SAW ? Uswatun Hasanah kita memberi contoh utnuk berlindung dari hutang seperti dalam do?a tersebut diatas; negeri ini lebih suka mencontoh guru-gurunya yang di barat yang mengajarkan hutang itulah solusi.

Ben BernankeChairman dari the Federal Reserve yaitu bank sentralnya Amerika yang menjadi contoh/rujukan bank-bank sentral dari negara-negara di dunia mencontohkan bahwa dalam prediksinya negeri itu akan bisa bebas dari resesi akhir tahun ini atau awal tahun depan dengan syarat Perbankan Mau Meminjamkan Lebih Banyak Dana Secara Bebas?!. Artinya lebih banyak hutang ditebar?.

Sekarang ada 2 contoh, yang satu Uswatun Hasanah kita mengajarkan kita untuk berlindung dari hutang pagi dan petang (artinya semaksimal mungkin menghindar dari hutang). Yang kedua Ben Bernanke yang merepresentasikan ekonomi dunia saat ini yang mendorong banyak-banyak hutang, lantas siapa yang yang seharusnya kita pilih sebagai contoh?

Sudah seharusnya kita pilih contoh dari  Uswatun Hasanah kita Rasulullah SAW; pertanyaan berikutnya adalah  apa bisa proyek-proyek besar negeri ini di danai tanpa hutang? Jawabannya adalah pasti bisa! Agama ini adalah agama akhir zaman, uswah kita adalah Nabi Akhir Zaman ? maka solusinya pasti valid sampai akhir zaman.

Contoh yang sudah kita mulai adalah pencetakan Dinar (emas) yang kita sebar luaskan ke masyarakat; meskipun modal kita tidak banyak ? alhamdulillah kita bisa terus mencetak Dinar yang dibutuhkan oleh masyarakat tanpa sedikitpun ?hutang? seperti dalam pengertian bisnis konvensional. Solusi Qirad atau Mudharabah sudah cukup bagi kami untuk terus dapat berkarya memenuhi kebutuhan yang ada di masyarakat.

Contoh lain adalah krisis daging nasional. Untuk menurunkan kebutuhan daging impor tinggal 10% saja seperti tagetnya Departemen Pertanian RI untuk tahun 2010 misalnya, negeri ini membutuhkan 2.5 juta tambahan sapi dalam 2 tahun kedepan. Bagaimana mengatasi kekurangan ini? Pendekatan konvensionalnya adalah cari pemodal besar yang dia tidak harus punya uang ? toh bisa pinjam bank! untuk memodali pengadaan bibit sapi yang dibutuhkan; maka peluang besar penambahan 2.5 juta sapi tersebut akan menjadi kesempatan bagi pemodal besar. Kelak kalau dia tidak bisa mengembalikan pinjamannya ? rakyatlah yang jadi korban dengan kredit macet perbankan, atau tergerusnya devisa bila pinjaman tersebut adalah pinjaman luar negeri.

Bagaimana kalau pendekatannya kita ubah sekarang; bukan mengandalkan pemodal besar tetapi mengandalkan pemodal individual yang kita mitrakan dengan peternak sapi yang juga individual ? bukan korporasi. Kalau saja satu orang individu yang terlatih dapat mengelola 5 sapi, kemudian masing-masing investor individu juga dapat berinvestasi rata-rata 5 ekor sapi ; maka problem daging nasional tersebut kini berubah menjadi kesempatan baru bagi 500,000 peternak dan 500,000 investor individual!!!

Teorikah ini? insya Allah tidak terbatas teori, kita akan terus mencari jalan agar ide-ide kita tidak berhenti di tataran teori semata. Insya Allah.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Long Term Investment Focus: Dinar, Sapi atau Surga?


Semalam harga emas dunia mengalami penurunan yang cukup significant, yaitu mencapaipenurunan US$ 17/oz dari kisaran angka US$ 1,054/oz ke kisaran angka US$ 1,037/oz.

Bagi Anda yang baru membeli emas atau Dinar kemarin, mungkin akan ?merasa rugi? karena penurunan ini. Tetapi bagi Anda yang telah mulai membeli Dinar tahun lalu pada kisaran harga emas dunia US$ 800 ?an/oz; tentu tidak akan merasakan penurunan harian ini sebagai kerugian; apalagi yang sudah mulai membeli Dinar 2 tahun lalu di awal-awal kita memperkenalkan Dinar pada saat emas masih berada di kisaran US$ 700-an/oz.

Kita akan senantiasa merasa ?rugi? manakala investasi kita berorientasi jangka pendek. Bila orientasi kita jangka panjang, maka insya Allah kita tidak akan pernah merasa ‘rugi‘.

Untuk tataran investasi duniawi misalnya, perhatikan grafik di atas yang menunjukkan hargaemas sejak awal tahun 70-an ketika pertama kalinya uang kertas mulai tidak dikaitkan lagi dengan harga emas dunia. Sejak saat itu harga emas dunia sudah berpuluh kali lipat mengalami kenaikan.

Demikian pula dengan investasi sektor riil yang disini saya ambilkan sapi sebagai contoh. Data dari Moore Research Center pada grafik di bawah menunjukkan trend kenaikan harga sapi hidup sejak awal tahun 1970-an hingga kini. Bisa dibayangkan bila Anda mulai membeli sapi tahun 70-an dan beranak setiap 2 tahun? pasti sapi Anda sangat banyak saat ini, padahal setiap ekor sapi ukuran sedang harganya di kisaran 7 Dinar!

Harga Sapi (1970 - 2009)

Dengan contoh tersebut di atas, kita bisa melihat bahwa untuk standar dunia saja kita sudah dengan mudah ?merugi? bila fokus kita jangka pendek ? dan sebaliknya kita tidak ?merugi? bila fokus investasi kita jangka panjang.

Analogi seperti investasi duniawi tersebut juga berlaku untuk investasi yang lebih panjang lagi ? yaitu investasi untuk hidup yang abadi sesudah kita mati. Seluruh keuntungan atau kerugian yang kita alami di dunia ini, tidak akan sepadan bila dibandingkan dengan keuntungan/kerugian di akhirat kelak. Oleh karenanya, fokus investasi kita harus memiliki orientasi jangka waktu yang sangat panjang ? meliputi dunia dan akhirat ? bila kita tidak ingin merugi.

Lantas apakah dengan demikian kita harus membuat dikotomi mana untuk investasi dunia dan mana untuk investasi akhirat? Tidak juga, karena dikotomi ini tidak perlu bila kita bisa menyelaraskan kehidupan dunia kita dengan tujuan jangka panjang kita yaitu hidup yang abadi di akhirat kelak. Bahkan salah satu do?a sapu jagad yang kita semua hafal adalah digabungkannya 2 kebaikan ini yaitu kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat.

Jadi bagaimana mengatur komposisi investasi kita agar bisa memperoleh 2 kebaikan tersebut di atas? Silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang Prinsip 1/3 Dalam Pengelolaan Harta, kalau prinsip ini bisa kita terapkan ? maka insya Allah kebaikan hidup di dunia dan di akhirat akan bisa kita peroleh secara bersama.

Bagaimana prakteknya? Selain hasil investasinya yang sebagian kita shadaqah-kan ? investasi kita haruslah di jalan yang dibenarkan secarasyariah. Kita dapat  investasikan harta kita untuk proyek-proyek yang memberi kemaslahatan ummat secara luas, antara lain bisa dalam beberapa contoh berikut :

  • Semilyar lebih manusia di dunia saat ini kelaparan, maka investasi untuk menghasilkan/meningkatkan produksi pangan dunia ? insya Allahbila dengan niat yang lurus akan dapat bernilai ?memberi makan? umat manusia secara luas. Contoh konkrit: menanam ketela ungguluntuk bahan MOCAF (modified cassava flour) ? produk ini insya Allah kelak akan menggantikan gandum yang berusaha memonopoli makanan dunia – padahal di negeri ini gandum ini tidak tumbuh.
  • Generasi kita dan anak-anak kita adalah generasi yang salah minum dan salah makan; orang dewasanya minum minuman kaleng dan minuman botol dengan gula yang buruk bagi kesehatan, makanannya adalah makanan instant kering yang tidak mengandung kadar gizi yang memadai, anak-anaknya sejak bayi minum susu bubuk yang kita tidak tahu persis apa isinya. Maka investasi untuk memperbaikipola makan dan pola minum ini, insya Allah juga akan bernilai ?meninggalkan generasi yang kuat? kedepan.
  • Begitu banyak negeri ini harus mengimpor barang-barang kebutuhan sehari-hari, maka investasi yang dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan penduduk negeri ini insya Allah akan dapat ?memerdekakan? bangsa ini dari penjajahan sesama manusia.
  • Puluhan juta orang menganggur di Indonesia saat ini, sementara banyak sekali peluang usaha ataupun peluang kerja yang tidak tertangani. Maka investasi dalam pendidikan/pelatihan kerja atau pelatihan wiraswasta yang bisa me-link-kan dunia kerja/usaha dengan sumber daya manusia yang ada ? insya Allah akan dapat menyebarkan kemakmuran secara luas.
  • Dan masih banyak lagi peluang investasi yang bisa di?align?kan dengan tujuan hidup kita sesudah mati.

Tentu dalam berbagai investasi tersebut ada risikonya, namun dengan niat lurus insya Allah risiko ini bersifat jangka pendek ? karena niat yang baik-pun sudah mendapatkan pahala satu kebaikan. Meskipun demikian kita juga perlu meminimalisasikan risiko ini, agar bila investasi sektor riil kita gagal ? kita masih tetap bisa menyekolahkan anak, bisa membayar biaya kesehatan hari tua tanpa menjadi beban orang lain dan lain sebagainya ? maka tidak juga salah bila sebagian saja harta kita yang digunakan untuk membangun ketahanan ekonomi dalam bentuk Dinar danDirham.

Jadi mana di antara 3 investasi tersebut yang kita pilih? Kalau saya sih pinginnya bisa memilih semuanya. Rabbana aatinaa fid dunya hasanah wafil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaa bannaar. Amin.

Posted in Financial PlanComments (0)

Dinar Emas Sebagai Personal Purchasing Power Protection


Dari 20 tahun pengalaman saya di industri asuransi dan bergelut dengan berbagai produk proteksi risiko; ada 1 risiko yang pasti kita alami tetapi tidak ada satupun proteksi asuransi untuk men-cover-nya, risiko ini adalah menyusutnya daya beli uang kita yang kita kumpulkan dengan keringat dan kadang air mata bertahun-tahun.

Agar tidak ada yang tersinggung di negeri ini, saya ambilkan contoh uang negeri Paman Sam yang dijadikan sebagai rujukan uang lain di dunia sampai saat ini. Perhatikan grafik dari Casey Research di samping. Sejak Amerika tidak lagi menggunakan emas sebagai standard uangnya tahun 1971 sampai  sekarang, uang US$ telah kehilangan 82% daya belinya. Dengan kata lain Dollar Amerika sekarang hanya memiliki 18 % daya beli ketimbang Dollar yang sama tahun 1971.

Penyusutan daya beli US$ ini akan terus terjadi dan bahkan akan cenderung lebih cepat karena laju ?pencetakan uang? mereka melonjak sejak krisis finansial 2 tahun terakhir. Perhatikan grafik di bawah untuk ini. Laju menurunnya daya beli US$ ini juga dipercepat oleh realita ? realita berikut :

  • Hutang nasional mereka sebesar US$ 11.6 trilyun yang melebihi GDP 2009 yang hanya US$ 8.3 trilyun.
  • Pengeluaran pemerintah sampai saat ini (YTD) US$ 2.4 trilyun yang 2 kali dari pendapatan pajak US$ 1.2 trilyun.
  • Unfunded liability (tanggungan pemerintah yang tidak di back-up dengan asset yang mencukupi) mencapai US$ 58.7 trilyun yang terdiri dari  Biaya kesehatan US$ 39.6 trilyun; biaya sosial 10.6 trilyun; biaya lain-lain US$ 8.5 trilyun.

Realita-realita tersebut-lah yang akan mendorong US$ terus menurun daya belinya dan bukan menaik seperti pendapat di beberapa blog yang tidak sependapat dengan pendapat saya.

Board of Governors Monetary Base

Memang dalam jangka pendek bisa saja daya beli US$ ini naik sesaat, seperti yang pernah terjadi awal Maret 2009 lalu ketika dunia berburu US$ yang langka saat itu ? US$ Index sempat mencapai angka diatas 89. Namun setelah kondisi normal, kekuatan US$ yang diukur dengn US$ Index terus mengalami penurunan hingga saat ini yang angkanya hanya berada di kisaran 75.  Angka US$ Index ini 5 tahun lalu berada di kisaran 90-an ke atas.

Nasib yang dialami US$ ini sebenarnya juga cerminan apa yang dialami oleh mata uang-mata uang negara lain yang menjadikan US$ sebagai gurunya. Bahkan sebagai murid, kondisinya kebanyakan lebih buruk dari apa yang dilakukan oleh sang guru; ingat pepatah ?Guru?Berdiri, Murid?Berlari??.

Jadi risiko penurunan daya beli uang kita ? apapun nama mata uang kertas kita ? adalah risiko yang pasti terjadi. Lantas bagaimana kita menyikapi risiko yang satu ini? Lha wong tidak ada 1 asuransi-pun yang bisa menjamin atau memberi proteksi kita terhadap risiko penurunan daya beli uang kita ini.

Secara pribadi, kita bisa membuat sendiri proteksi terhadap hasil jerih payah kita dengan apa yang disebut 4P singkatan dari Personal Purchasing Power Protection; yaitu perlindungan pribadi untuk daya beli uang kita.

Salah satu 4P yang paling sederhana namun sangat efektif dan sudah terbukti reliabilitasnya ya Dinar atau emas. Dibandingkan US$ yang kehilangan 82% daya belinya sejak 1971 misalnya; daya beli emas malah naik 3.5 kalinya sejak saat itu.

Kalau mau repot sedikit, tetapi hasilnya insya Allah bisa lebih baik dari emas sebagai 4P ya investasi di sektor riil. Pelihara kambing, pelihara sapi, menanam pohon; memproduktifkan lahan-lahan yang nganggur, dlsb.

Jadi yang tidak setuju dengan saya silahkan saja kalau mau tetap pakai US$; saya akan tetap pilih Dinar sebagai 4P saya, selain juga pelihara sapi, pelihara kambing, dst. Wa Allahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (2)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes