Tag Archive | "riba"
Posted on 26 July 2010. Tags: Al-Qur'an, bapak para nabi, baru belajar, bibit padi, budaya suap, bulir padi, Daarul Muttaqiin, dialog ketauhidan, ekonomi, gagal panen, ilmu perpadian, Karyawan, kekuatan, korupsi, kuasa Allah, memberi makan, memberi minum, Nabi Ibrahim, panen padi, pekerjaan, pelajaran, Pemberi Rizki, pesantren wirausaha, petak sawah, petani, pupuk organic, riba, ribawi, rizki, sumber air, sumber rizki, surat Asy-SYu'araa', syariah, takut dipecat, tauhid
Kemarin adalah hari yang luar biasa bagi kami di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin, hari dimana kami kembali memanen padi yang kami tanam sendiri – setelah 40 tahun saya sendiri tidak melakukannya, karena sebelum ini panen padi terakhir yang saya ingat adalah panen padi semasa kecil di tahun 1970-an. Namun bukan panen padi-nya sendiri yang menjadikan ini luar biasa, tetapi pelajaran yang bisa kami peroleh dari padi-padi yang kami tuai tersebut.
2 minggu sebelumnya, petak-petak sawah tetangga kami juga dipanen. Tentu petaninya lebih berpengalaman dari kami sendiri karena seumur-umur memang ini pekerjaan mereka. Ketika sama-sama belum dipanen, hamparan padi merekapun nampak lebih hijau karena memang dipupuk dengan sangat memadai. Namun rupanya Allah berkehendak lain, ketika padi dipanen oleh tetangga kami tersebut – sangat sedikit yang ada isinya. Panenannya gagal tahun ini tanpa bisa dijelaskan – apa yang menyebabkan padinya tidak berisi.
Padi kami sendiri alhamdulillah, meskipun dipupuk seadanya dengan pupuk organik – hasilnya menunjukkan panenan yang baik karena mayoritas padinya berisi. Apakah ini karena kami lebih mengetahui tentang ilmu perpadian dari tetangga-tetangga kami? Tentu tidak – karena kami baru belajar kembali tentang ilmu perpadian ini. Yang jelas tidak ada kekuatan lain dalam hal ini selain kekuatanNya, siapa yang bisa memberi isi ke dalam bulir-bulir padi tersebut bila Dia tidak menghendakiNya?
Disinilah letak pelajaran itu; ketika melihat bulir padi yang berisi dan bulir padi yang tidak berisi, kita begitu mudah memahami bahwa hanya Allah-lah yang bisa membuatnya demikian. Bisa saja padi ditanam di hamparan sawah yang sama, menggunakan bibit padi yang sama, diairi dari sumber air yang sama – tetapi yang satu tidak diberi isi sedangkan yang lain diberi isi – siapa yang kuasa melakukan ini? Hanya Dia-lah yang kuasa melakukannya.

Siapa yang memberi bulir padi, bila Dia tidak menghendakinya?
Bagaimana kalau pemahaman yang sama kita terapkan dalam berbagai usaha atau pekerjaan kita yang lain? Bisakah kita melihatnya seyakin melihat bulir-bulir padi tersebut? Bisakah kita hentikan aktifitas suap menyuap, korupsi, riba, kecurangan dalam ekonomi, dlsb karena kita yakin semua hal tersebut tidak akan bisa membuat ‘padi’ (baca: pundi-pundi harta) kita berisi – bila Allah tidak menghendakinya demikian. Bisakah kita yakin bahwa rizki itu hanya Allah-lah yang kuasa memperluas dan mempersempitnya? Bukan perusahaan atau instansi tempat kita bekerja, juga bukan penguasa yang bisa membuat aturan main usaha.
Keyakinan terhadap sumber rizki tersebut akan sangat mempengaruhi sikap dan tindak kita dalam mencari rizki. Karena orang yakin dengan korupsilah sumber rizkinya yang melimpah, maka begitu banyak kasus korupsi di negeri ini. Karena pelaku bisnis yakin sumber dana ribawi adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh modal, maka riba begitu sulit dihilangkan atau sekedar dikurangi di negeri ini.
Karena mengira perusahaan/instansi tempatnya bekerja adalah sumber rizki, banyak karyawan-karyawati shaleh/shalehah rela disuruh ini itu yang melanggar syariah seperti riba , riswah dan sejenisnya. Hati kecilnya menolak, tetapi imannya tidak cukup kuat untuk bilang tidak pada atasannya karena takut dipecat, takut tidak mendapatkan rizki.
Untuk inilah kita perlu belajar menguatkan ke-tauhid-an termasuk dalam hal pencarian rizki ini. Allah menceritakan dialog antara Nabi Ibrahim A.S dengan bapaknya di Al-Qur’an, agar menjadi contoh dan pelajaran bagi kita. Dialog ketauhidan yang indah tersebut saya kutipkan disini agar yang menulis dan yang membaca sama-sama mendapatkan manfaat. Amin.
Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.
Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa) mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?” Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.
Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’araa’ (26): 69-82)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 14 July 2010. Tags: Allah, Ayub-Ayuben, bank konvensional, beban berat, budaya suap, bumi, bunga bank, fatwa MUI, hijrah, Islam, jaringan persahabatan, jujur & tulus, Karyawan, kongkalikong, malaikat, Mekkah, mitra diskusi, mitra usaha, momentum, niche market, pasangan hidup, Pengungkit, perubahan, politik, posisi, pusat pusaran, repositioning, riba, riswah, SMP, solusi, sosial, syariat Islam, teknologi, tongkat, Tuas, visioner, wafat, wiraswasta
Dahulu waktu SMP kita pernah belajar tentang cara kerja tuas (pengungkit), yaitu tongkat yang dapat dipakai untuk memindahkan beban berat. Semakin panjang lengan kuasa dari tongkat tersebut, akan semakin kecil gaya yang dibutuhkan untuk memindahkan beban yang ada. Atas prinsip kerja tuas atau pengungkit inilah maka mobil-mobil besar seperti truk dan bus, perlu dilengkapi dengan besi panjang untuk membuka ban-nya. Sementara hal yang sama tidak dibutuhkan untuk mobil yang kecil, sedan, jip, dlsb.
Lantas apa hubungannya, pelajaran SMP tentang tuas atau pengungkit tersebut dengan problem yang kita hadapi sehari-hari? Hubungannya terletak pada kesamaan dalam 2 hal:
- Posisi dimana kita berdiri yang mempengaruhi berapa banyak gaya (usaha) yang dibutuhkan untuk mengatasi problema yang ada;
- Diperlukannya alat yang bernama tuas atau pengungkit tersebut.

Cara Kerja Tuas (ilustrasi)
Untuk masalah pertama adalah posisi dimana kita berpijak. Terkadang masalah itu menjadi sangat besar dan kita sulit melihat jalan keluarnya karena kita berada terlalu dekat (titik O) atau bahkan di dalam pusat pusaran dari masalah tersebut (titik A).
Ambil contoh misalnya Anda bekerja dalam suatu perusahaan yang kerjanya membangun project. Untuk pendanaan project-project tersebut perusahaan Anda harus menggunakan uang bank konvensional yang tentu saja membebankan Anda bunga – yang menurut fatwa MUI adalah Riba.
Kemudian untuk memenangkan tender-tender project Anda, perusahaan Anda-pun harus sering suap-sana suap-sini, kong-kalikong mengatur siapa yang menang tender dan siapa yang tidak, dlsb.
Baik riba, maupun suap atau riswah dan sejenisnya adalah hal yang sangat terlarang dalam Islam – namun karena Anda berada dalam perusahaan yang ‘merasa’ harus hidup dengan cara ini, maka upaya untuk keluar dari 2 masalah besar ini menjadi terlalu berat.
Lantas apa solusinya? Merubah posisi (repositioning) dimana kita berpijak, jangan lagi berada di pusat pusaran masalah. Kalau masalah tersebut dalam contoh adalah riba dan riswah, maka menjauhlah dari keduanya dahulu. Takut ‘sulit’ hidup di tempat berpijak yang baru? Temukan ‘tuas’ Anda – maka Insya Allah perubahan besar akan dapat Anda lakukan.
‘Tuas’ Anda bisa berupa hal-hal berikut misalnya ;
- Keahlian yang unique, yang dengan itu Anda dapat menemukan niche market tersendiri.
- Jaringan persahabatan dengan orang-orang yang berprestasi, visioner sehingga Anda ikut ‘terlempar’ ke atas.
- Bila Anda berwiraswasta, menemukan karyawan-karyawan yang jujur dan tulus ikut membangun usaha Anda – bukannya menggerogoti dari dalam.
- Pasangan hidup (suami/istri) yang secara proaktif menjadi mitra diskusi Anda yang produktif, bukan pasangan hidup yang membuat Anda stress atau ayub-ayuben.
- Mitra kerja/usaha yang bisa mengisi kekurangan Anda.
- Momentum perubahan lingkungan (teknologi, sosial, politik, dlsb) yang dapat Anda manfaatkan.
- Dlsb.
Namun perlu diingat bahwa tuas tersebut hanya bermanfaat bila Anda berpijak di tempat yang benar. Dalam ilustrasi di atas, Anda harus berada di titik B, bukannya O apalagi A. Tuas menjadi tidak berguna ketika Anda berada di titik O atau A. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak orang hebat, dengan ilmu yang hebat – dan juga pasangan hidup yang hebat, tetapi tidak berhasil membuat karya yang hebat – karena mereka berada di tempat berpijak yang salah.
Untuk bumi tempat berpijak ini, Islam mempunyai syariat berhijrah yang Indah. Bahkan kita tidak bisa excuse bahwa kita terpaksa harus melakukan ini dan itu yang dilarang agama (riba dan riswah misalnya) hanya karena kita hidup di dalam negeri dimana hal-hal yang terlarang tersebut masih menjadi budaya.
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? …” (QS. An-Nisaa’ (4): 97)
Ayo kita ‘berhijrah’ dan menemukan ‘tuas’ kita masing-masing; maka insya Allah problem besar umat ini bisa diatasi… Amin.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Entrepreneurship
Posted on 02 July 2010. Tags: Abu Bakar Siddiq, Al-Qur'an, amar ma'ruf, Amr bin Al-'As, Anthokia, berbuat adil, berbuat kerusakan, budaya suap, demokrasi, dhalim, Do's & Don'ts, dosa, Hadits, Heraklius, jaman edan, kemenangan, Khalifah, khamr, korupsi, melanggar janji, menabur kebencian, nahi munkar, pasukan Muslimin, pasukan Romawi, pemimpin, perang, puasa, riba, shalat malam, suka marah, surat Al-Baqarah, Tips, usaha & karir, zaman gila, zina
Dampak dari hidup di alam ‘demokrasi’ khususnya dalam dasawarsa terakhir – ternyata tidak semuanya baik bagi keyakinan kita. Pikiran kita – termasuk pikiran para pemimpin umat yang tadinya kita sangat hormati - bisa terbawa arus karena berpikir bahwa banyaknya pengikut-lah yang akan membawa kemenangan.
Bayangkan kalau sekarang semua orang berpikir yang banyaklah yang memang; maka tidak akan ada lagi golongan sedikit umat yang dengan keyakinannya berpegang teguh pada prinsip-prinsip perjuangannya di bidang apapun. Yang di politik, meninggalkan cita-cita awalnya karena berpikir dengan itu mereka tidak akan menang – karena tidak akan berhasil memperoleh suara yang banyak.
Dalam ekonomi akhirnya mengikuti prinsip “jaman edan – sopo sing ora edan ora kumanan” (zaman gila – siapa yang tidak gila tidak kebagian). Riba ditabrak, korupsi – suap menjadi budaya, semua karena orang mengikuti kebiasaan golongan yang banyak. Bila golongan yang banyak melakukan suap dan korupsi untuk untuk memenangkan project atau memajukan usahanya – maka seolah hanya ini jalan kemenangan itu.
Tetapi alhamdulillah kita masih punya Al-Qur’an dan Al Hadits yang bila kita berpegang pada keduanya kita tidak akan tersesat – bahkan tidak akan bisa disesatkan oleh golongan yang banyak sekalipun. Ketika Panglima perang Islam Amr bin al-’As memberi tahu Khalifah Abu Bakar Siddiq mengenai banyaknya jumlah tentara Romawi yang harus dihadapinya, Abu Bakar menjawab, ”Kalian orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kalian dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh jikalau kalian terlibat di dalam dosa-dosa.”
Al-Qur’an yang dibaca oleh Abu Bakar, tentu masih sama dengan Al-Qur’an yang kini kita baca. Ketika keyakinan atas kebenaran ayat “…Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah (2): 249), diterapkan oleh Abu Bakar dan mampu membawa kemenangan pada tentara Islam – maka keyakinan terhadap Al–Qur’an yang sama tersebut juga insya Allah bisa membawa kita yang hidup di zaman ini untuk menang di segala bidang. Hanya perbuatan dosa yang bisa membuat umat ini kalah – walaupun jumlahnya banyak!
Penyebab kemenangan Islam di masa lalu, bahkan juga terungkap dari pengakuan musuh. Ketika Heraklius tiba di Anthokia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan. Bukankah mereka manusia seperti kalian?”; Mereka menjawab, “Ya!”; “Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataukah mereka?” “Kamilah yang lebih banyak jumlahnya di manapun kami saling berhadapan.” “Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?” Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, “Karena mereka biasa shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran, dan saling berbuat adil di antara sesamanya. Sementara kami suka minum arak, berzinah, melakukan hal-hal terlarang, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena, menyuruh kepada kebencian, dan berbuat kerusakan di bumi.”
Jadi belajar dari kemenangan umat ini di masa lampau; kini kita punya tips untuk meraih kemenangan – dalam bidang apapun, termasuk untuk usaha dan karir – meskipun kita dari golongan yang sedikit. Tips itu saya ringkaskan dalam bentuk “Do’s” yaitu hal-hal yang harus dilakukan, dan “Don’ts” yaitu hal-hal yang jangan dilakukan!
“Do’s” – nya adalah :
- Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits
- Shalat malam (sebagai tambahan yang wajib)
- Puasa (baik yang wajib maupun yang sunat)
- Menepati janji
- Menyuruh kepada kebajikan (amar ma’ruf)
- Mencegah kemungkaran (nahi munkar)
- Berbuat Adil
“Don’ts”-nya adalah :
- Minum Khamr
- Berzina
- Melakukan hal-hal yang terlarang
- Melanggar janji
- Suka marah
- Berbuat dhalim
- Menabur kebencian
- Berbuat kerusakan di bumi
Semoga bermanfaat bagi yang menulis dan juga yang membacanya. Amin
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 03 May 2010. Tags: Abu Hurairah R.A., Abu Said, akhir zaman, akhirat, Al-Qur'an, Allah, bercocok tanam, Boleh Jadi Kiamat Sudat Dekat, commercially feasible, fitnah, gembala kambing, Hadits, haram, HR. Bukhari, HR. Muslim, hujan, Imam Nawawi, Jonggol, kiamat, muslim, pekerjaan, profesi Akhir Zaman, profesi para Nabi, Rasulullah SAW, riba, riswah, Riyadhush Shalihin, shahih, surat Adz-Dzariyaat, syubhat, taubat, Ustadz Ihsan Tandjung, uzlah, valid
Ada salah satu Ustadz saya yaitu Ustadz Ihsan Tandjung yang sangat mendalami subject akhir zaman. Mulai dari tanda-tandanya, rujukannya sampai hal-hal yang perlu kita persiapkan untuk menghadapinya. Saking banyaknya referensi beliau dalam masalah ini, beliau sampai menulis satu situs khusus yang alamatnya di internet sudah self-explanatory yaitu www.bolehjadikiamatsudahdekat.com.
Mendalami masalah akhir zaman, tidak harus membuat kita pesimistis dalam menghadapi kehidupan ini. Justru sebaliknya, bila kita sadar bahwa Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat – maka kita akan berusaha mencari bekal sebanyaknya untuk hidup sesudah itu – yaitu kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
Kesadaran akan akhir zaman juga akan membuat kita buru-buru bertaubat bila dalam perjalanan hidup kita ada hal-hal yang kita langgar – mumpung masih ada waktu! Buru-buru kita ke kembali ke jalan Allah menyambut seruanNya: “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyaat (51): 50)
Nah bagaimana dalam konteks bidang pekerjaan, bila dalam pekerjaan yang kita tekuni tersebut kita masih terlibat dalam hal yang sangat terlarang seperti riba, riswah (suap), mengambil hak orang lain, berbuat kerusakan di bumi, mendholimi rakyat, dlsb?
Banyak potensi pekerjaan yang bisa kita pilih, yang aman dari hal-hal yang terlarang tersebut. Bahkan banyak pula jenis pekerjaan yang bisa kita lakukan tersebut yang memiliki dasar yang kuat di Al-Qur’an ataupun di Hadits. Kaidahnya adalah apa yang disebutkan di Al-Qur’an ataupun Hadits yang shoheh adalah benar ketika diturunkan, benar saat ini, dan akan tetap benar sampai akhir zaman.
Mengapa demikian? Karena agama ini adalah agama Akhir zaman – maka segala tuntunannya pasti valid sampai akhir zaman. Termasuk tuntunannya dalam hal pekerjaan ini.
Pekerjaan bertani atau bercocok tanam misalnya, akan selalu baik sampai akhir zaman karena kita bahkan diperintahkan untuk tetap menanam benih yang ada di tangan kita walaupun seandainya proses terjadinya kiamat sudah mulai.

Gembala Kambing
Contoh pekerjaan lain yang juga insya Allah valid sampai akhir zaman adalah menggembala (memelihara) kambing. Untuk yang satu ini, Imam Nawawi yang sangat mashur dengan kitab yang menjadi rujukan para juru dakwah hingga kini – membahas secara khusus dalam kitabnya Riyadhush Shalihin.
Dalam bab Beruzlah beliau menyampaikan bahwa beruzlah atau menyendiri ketika moral manusia sudah rusak, takut agama ini terfitnah dan takut terjerumus dalam keharaman dan syubhat adalah hal yang disunahkan. Nah ketika kita menyendiri dan takut kepada hal yang haram, lantas apa pekerjaan kita untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Memelihara kambing, itulah salah satu jawabannya.
Untuk jawaban ini tidak tanggung-tanggung, Imam Nawawi memberikan 3 Hadits shoheh sebagai rujukannya. Berikut adalah hadits-hadits tersebut:
1) Dari Abu Hurairah R.A. dari Nabi SAW, dia bersabda: “Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala kambing”. Sahabat-sahabat beliau bertanya : “Begitu juga engkau?” ; Rasulullah bersabda : “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekah”. (HR. Bukhari)
2) Dari Abu Said berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim)”. (HR. Bukhari)
3) Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang di atasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang di atasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa. Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan sholat, memberikan zakat dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (HR. Muslim)
Jadi menggembala (memelihara) kambing bukan hanya commercially feasible seperti yang sudah saya tulis sebelumnya; tetapi juga memiliki dasar yang shahih. Maka tidak malu saya berulang kali mengajak para pembaca untuk belajar menekuni profesi yang sering dianggap kuno oleh sebagian orang di zaman teknologi ini. Bagi yang berminat, silahkan datang ke lokasi kandang kami di Jonggol dan mulai belajar mempersiapkan diri dengan profesi Akhir Zaman. Insya Allah.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 1.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 15 April 2010. Tags: akhirat, Allah, bumi, dunia, Halal, hati nurani, in-house training, kemerdekaan, konsultasi individual, korupsi, langit, mata air, miskin, muhrim, muslim, Pelatihan GRATIS, Pemberi Rizki, pengelolaan harta, percaya diri, pesaing, rakhmat, riba, ribawi, rizki, surat Adz-Dzariyaat, surga
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta. Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (QS. Adz-Dzariyaat (51): 15 – 23)
Surga adalah cita-cita setiap muslim dan kita semua tentu sangat menginginkannya untuk bisa sampai kesana kelak. Surga adalah rakhmat dariNya semata, namun rakhmat ini juga harus diraih dengan perbuatan baik ketika kita masih hidup di dunia. Tantangannya adalah bagaimana kita men-design aktifitas hidup kita sehingga semoga di akhirat nanti atas rakhmatNya kita bisa sampai surga ini. Nah rangkaian ayat-ayat di atas adalah salah satu resep perbuatan baik yang akan dapat membawa pelakunya menuju surga.
Intinya adalah para penghuni surga ini dahulunya – ketika hidup di dunia – mereka adalah orang-orang yang berbuat baik. Perbuatan baik apa yang membuat mereka sampai ke sana? Dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya yang antara lain adalah:
- Sedikit sekali tidur di waktu malam, maksudnya banyak beribadah (bertahajud).
- Banyak-banyak memohon ampun kepadaNya, terutama di akhir-akhir malam.
- Menyisihkan sebagian hartanya, untuk diberikan kepada orang miskin yang meminta maupun yang tidak meminta.
- Berbagai tanda-tanda yang ada di bumi, menguatkan keimananNya akan Sang Pencipta.
- Memperhatikan yang ada pada diri sendiri (juga untuk meningkatkan keimanan kepadaNya).
- Sebab-sebab rizki-nya ada di langit, dan di langit pula adanya apa yang dijanjikan kepadanya.
Di antara 6 perbuatan baik yang diresepkan Al-Qur’an tersebut, nomor 6 mungkin yang paling sulit dipahami, dihayati dan apalagi di amalkan. Karena ini pula yang terkait dengan tema sentral situs ini, maka perbuatan baik nomor 6 ini yang kita elaborate.
Meskipun jelas-jelas di akhir rangkaian ayat-ayat tersebut Allah memastikan bahwa yang dijanjikanNya pasti benar-benar terjadi – dus termasuk (sebab-sebab) rizki dari langit; berapa banyak diantara kita yang bisa meng-imani ini secara sungguh-sungguh? Karena begitu banyak orang yang tidak yakin akan rizki dari langit ini, berbagai masalah muncul dalam masyarakat kita sehari-hari.
- Kasus korupsi demi korupsi yang terbongkar secara berurutan akhir-akhir ini, tidak lain penyebabnya karena orang mengira bahwa rizki-nya hanya bisa diperoleh melalui jalan korupsi.
- Ratusan ribu saudari-saudari kita, terpaksa pergi ke negara lain tanpa muhrim untuk bekerja menyongsong rizki-nya karena mereka mengira sumber-sumber rizkinya ada di negeri-negeri yang jauh tersebut.
- Entah berapa juta saudara muslim kita harus bekerja menyerempet bahaya bergelut dengan riba, karena mereka mengira bahwa rizki-nya hanya datang melalui tempat kerjanya yang masih ribawi.
- Berapa juta lagi saudara-saudara kita yang kehilangan kemerdekaannya, terpaksa melaksanakan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya – karena takut kehilangan rizki pula.
- Berapa banyak orang yang mengira bahwa rizki-nya adalah rizki yang di tangan orang lain, sehingga tidak segan-segan merampas hak orang lain tersebut.
- Berapa banyak orang yang mengira bahwa rizkinya bisa disabot atau direbut oleh orang lain, sehingga mereka pelit berbagi ilmu dan ketrampilan – karena takut ilmu dan ketrampilan yang diajarkan kepada orang lain tersebut menjadi pengurang rizki (menjadi pesaing).
- Berapa banyak orang yang mengira rizkinya ada di pangkat dan jabatan, sehingga mereka rela menempuh hal-hal yang tidak HALAL demi untuk mendapatkan pangkat dan jabatannya.
- dlsb.
OK, katakanlah kita ingin secara sungguh-sungguh mengikuti resep-resep perbuatan baik tersebut di atas yang dengan rakhmatNya insya Allah dapat membawa kita sampai ke surga. Lantas bagaimana konkritnya dengan poin ke 6 tersebut yaitu bagaimana kita menangkap rizki dari langit? Salah satunya pernah saya ulas dalam tulisan terpisah dengan judul “Dan di Langit Terdapat Rizkimu…”; tentu masih banyak lagi cara- cara menangkap rizki dari langit ini; apalagi bila dikaitkan dengan 2 ayat sebelumnya yaitu potensi yang ada di bumi dan yang ada pada diri kita masing-masing.
Bagi yang belum PD (Percaya Diri) untuk mengangkap rizki dari langit ini; kami di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin memberikan fasilitas untuk Pelatihan GRATIS baik dalam bentuk kelas berkelompok, in-house training maupun konsultasi individual.
Di luar itu semua, kita juga harus yakin dengan ayat penutupnya; bahwa yang dijanjikanNya adalah pasti benar! Jadi mari kita songsong rizki kita langsung dari Sang Maha Pemberi
.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +2 (from 2 votes)
Posted in Islamic View
Posted on 04 April 2010. Tags: Amerika, Andrew G. Marshal, anti barat, bank, Bank of Amerika, Bank Sentral, budaya, Credit Card, disposable income, dunia, Economic Crisis, gali lubang tutup lubang, gaya hidup, hutang, impoverishment, infaq, Inggris, jebakan hutang, kebijakan fiskal, Kelas Menengah, Kelas Pekerja, konsumtif, korban Class Default, lapangan kerja, late payment fees, lubang biawak, Master Card, Memiskinkan, Middle Class, outstanding balance, pemerintah, pengangguran, Peradaban Barat, produktif, rakyat, riba, shadaqah, Signal, sistem finansial ribawi, suku bunga, teknologi, The Market Oracle, Visa, Western Civilization
Kalau saja judul di atas murni dari pandangan seorang Muslim seperti saya, orang mungkin segera men-cap saya sebagai anti barat. Tetapi kali ini pandangan tersebut bukanlah dari saya, judul tulisan ini saya ambilkan dari karya columnist handal di The Market Oracle, Andrew G Marshall dengan judul aslinya “Western Civilization and the economic Crisis, The Impoverishment of the Middle Class”.
Awalnya, menurut Andrew – Peradaban Barat nampak bekerja dengan baik. Diawali dengan revolusi industri abad 18 dan 19, tumbuhlah kelas menengah yang semakin banyak jumlahnya dan semakin makmur. Namun Peradaban Barat ini, ternyata tidak akan berusia lama. Beberapa puluh tahun terakhir, yang namanya kelas menengahnya hanya berusaha bertahan melalui pemupukan hutang.
Diawali dengan tahun 1958 yang merupakan awal kemunculan credit card modern oleh Bank of Amerika yang kemudian berevolusi menjadi Visa, kemudian disusul oleh Master Card tahun 1966 – maka dekade-dekade berikutnya terjadilah pertumbuhan eksponensial dari credit card ini.
Sejak di Amerika dicabut batasan tingkat bunga yang bisa dikenakan pada para pemegang credit card tahun 1979, kombinasi dari deregulasi ini dan kemajuan teknologi membuat penyebar luasan credit card di masyarakat menjadi tidak terbendung lagi.
Tidak perduli lagi apakah pemegang kartu tersebut benar-benar membutuhkannya; tidak juga terlalu perlu apakah dia mampu membayarnya; yang penting member mereka terus bertambah dan bertambah pula pendapatan mereka. Tidak hanya dari pembayaran bunga, issuer credit card juga memperoleh tambahan penghasilan dari late payment fees, dlsb; sehingga pendapatan mereka juga menggelembung.
Budaya credit card, juga telah mendorong perilaku ngutang bahkan untuk barang-barang yang tidak terlalu penting sekalipun, seperti: membeli TV, membayar liburan, dlsb.
Walhasil, budaya ini telah menjebak masyarakat menengah dalam jebakan hutang yang melilit dari tahun ke tahun. Bila pada tahun 2001, masyarakat Amerika ‘baru’ berhutang 96% dari disposable income-nya ; 5 tahun kemudian persentase ini telah naik menjadi 129%. Bukan hanya di Amerika, pada tahun tersebut masyarakat Inggris telah berhutang Pounsterling 1.3 trilyun.
Kini 5 tahun setelah signal ketidak beresan budaya ngutang tersebut mulai terdeteksi (2006), bank-bank sentral dunia berada dalam situasi yang sangat dilematis. Mereka hanya bisa mengerem arus ‘peminjam’ ini bila suku bunga dinaikkan. Namun bila suku bunga dinaikkan – akan semakin banyak yang tidak bisa membayar. Ini terbukti bahwa pada tahun 2009, hanya 10% penurunan outstanding balance dari credit card di AS yang berasal dari pembayaran credit card balance-nya. Yang terjadi adalah masyarakat yang gali lubang tutup lubang, membuka credit card baru untuk menutup yang lama.
Masalah ini mungkin bisa diatasi bila pemerintah berhasil meningkatkan lapangan kerja dan meningkatkan penghasilan rakyatnya – sehingga mereka mampu membayar hutang. Namun kenyataan menunjukkan hal yang sebaliknya; karena pemerintah sibuk menalangi bank-bank dan lembaga keuangan yang gagal sampai trilyunan Dollars – juga karena kegalan peminjam yang lain! Pemerintah terpaksa mengamankan kebijakan fiskalnya dengan memotong anggaran – yang berarti bukan mengurangi pengangguran tetapi malah menambah pengangguran.
Akibat dari lingkaran setan proses pemiskinan melalui gaya hidup ngutang ini, menurut Andrew tersebut di atas “Masyarakat kelas menengah di dunia barat, bertahan hidup (surviving) hanya dengan berhutang, mereka akan menjadi korban Class Default. Masyarakat kelas atas akan semakin konsumtif, sedangkan masyarakat kelas menengah akan tenggelam ke kelas di bawahnya atau kelas pekerja”.
Well, apakah budaya kita mirip dengan budaya yang digambarkan oleh Andrew tersebut? Kalau iya – ini mungkin waktu terbaik kita untuk keluar dari sistem ribawi ke sistem perdagangan tanpa riba. Keluar dari gaya hidup ngutang, ke gaya hidup produktif. Keluar dari gaya hidup konsumtif ke gaya hidup infaq dan shadaqah.
Insya Allah kita tidak akan ikut terjerembab di lubang biawak, bila kita tidak mengikuti mereka. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Political Economy
Posted on 28 February 2010. Tags: big picture, Brasil, BRIC, China, Dinar, Dunia Islam, ekonomi, Eropa, EU, Euro, Europian Union, GDP, Gross Domestic Product, IMF, IMF minded, India, inflasi, kekayaan alam, kesamaan ideologis, mata uang, MDC, muslim, Muslim Dominated Countries, pemimpin, penjajahan ekonomi, riba, Rusia, sistem finansial global, sistem keuangan, uang, Ural, US$, visi, Yekaterinburg
BRIC adalah sebutan untuk 4 negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia yaitu Brasil, Rusia, India dan China. Pada pertengahan tahun lalu (Juni 2009) para pemimpin negara mereka bertemu di Yekaterinburg, wilayah pegunungan Ural – Rusia.
Yang menarik sekali kita ikuti adalah agenda pertemuan mereka ini, yaitu membahas rencana penggantian mata uang US$ sebagai alat transaksi Global. Ke-4 negara tersebut juga bertekad untuk membentuk sistem finansial global baru, menggantikan sistem finansial yang selama ini dianut oleh seluruh negara-negara di dunia.
Entah kapan uang dan sistem finansial baru versi BRIC ini bisa terwujud, namun pertemuan para pemimpin negara-negara BRIC tersebut sudah selayaknya menjadi pelajaran bagi negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang juga sering disebut MDC (Muslim Dominated Countries) ini.
Pelajaran pertama adalah kenyataan bahwa mata uang US$ tidak akan selamanya bisa bertahan sebagai mata uang utama dunia, sehingga harus secara serius segera dipikirkan penggantinya – sampai melibatkan pertemuan tingkat tinggi antar pimpinan Negara. Bersamaan dengan penggantian mata uang ini, sistem finansial dunia yang selama ini IMF minded juga selayaknya diganti.
Pelajaran kedua adalah, kalau pemimpin-pemimpin dunia yang sama sekali tidak memiliki kesamaan ideologis satu sama lain saja bisa bertemu untuk mencari solusi bersama yang terkait dengan uang dan sistem finansial; sudah selayaknya pemimpin-pemimpin Dunia Islam lebih potensi lagi untuk bertemu mengatasi masalah uang dan sistem finansial ini.

Gross Domestic Product (GDP)
Para pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini setidaknya memiliki kesamaan ideologis dan memiliki kesamaan tanggung jawab terhadap rakyatnya, yaitu membebaskan rakyatnya dari penindasan/penjajahan ekonomi yang antara lain termanifestasikan dalam bentuk penggunaan mata uang negara lain sebagai alat transaksi antar mereka.
Bagi Dunia Islam pencarian mata uang pengganti US$ dan sistem keuangan ala IMF ini jauh lebih mudah ketimbang negara-negara di Eropa membentuk Euro atau negara-negara BRIC dalam melakukan pencarian mata uang barunya. Dunia Islam sudah memiliki Dinar yang telah dipakai lebih dari 1400 tahun, dan satu-satunya mata uang dunia yang bebas dari inflasi sepanjang sejarah.
Dari sisi ukuran-pun kalau negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim ini bergabung, skala ekonomi yang diukur dari total GDP-nya juga lumayan besar; lihat grafik-grafik di atas yang menujukkan total GDP dari MDC, untuk data tahun 2008 memang baru sekitar ½ total GDP dari BRIC, dan ¼ total GDP dari EU; tetapi potensinya tidak kalah besar dengan Negara-negara di EU maupun BRIC karena kekayaan alam yang melimpah di MDC ini.
Kendalanya memang mungkin tidak mudah menyatukan visi 32 negara-negara MDC; tetapi lagi-lagi negara yang tidak memiliki kesamaan ideologis seperti 27 negara-negara yang tergabung dalam European Union (EU) saja bisa bersatu dalam masalah uang dan perdagangan; masa kita tidak dapat bersatu?
Well, kalau toh pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini belum memiliki visi untuk bersatu seperti yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin EU dan BRIC – tidak ada salahnya juga kita memulai sesuatu yang sudah bisa kita lakukan yang kelak insya Allah bisa menjadi alat pemersatu umat – setidaknya dalam masalah uang dan sistem keuangan ini.
Inilah big picture dari sistem keuangan bebas Riba berbasis Dinar yang mulai kita rintis dalam beberapa tahun terakhir. Semoga Allah memudahkan jalan yang kita tempuh ini. Amin
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Political Economy
Posted on 28 January 2010. Tags: 20 Dinar, Alat Tukar, bagi hasil, Baitul Mal wa Tamwil (BMT), BMT Daarul Muttaqiin, Dinar, Dinar Exchange, Dinarnomics, ekonomi Islam, m-Dinar, M-Dinar Saving Account, pencetakan emas, qirad, riba, teori, uang, usaha sektor riil
Di awal kami memperkenalkan Dinar, kami libatkan pengunjung situs ini untuk membiayai pencetakan Dinar agar tersedia cukup Dinar di masyarakat dengan program Qirad. Alhamdulillah dukungan para pengunjung lebih dari yang kami harapkan, sehingga program Qirad kini tidak lagi menerima peserta baru – kecuali menggantikan peserta lama yang mundur.
Setelah kami tidak lagi menerima peserta Qirad baru; timbul banyak pertanyaan ke kami – mengapa tidak diteruskan saja – sehingga semakin banyak Dinar yang bisa dicetak dan diedarkan ke masyarakat? Ini betul, hanya kami tidak ingin kehilangan orientasi – bahwa penggunaan Dinar sesungguhnya harus menjadi alat tukar yang adil yang mendorong berputarnya ekonomi masyarakat. Dengan kata lain, keberadaan Dinar harus bisa mendorong berputarnya sektor riil – maka inilah yang kami fokuskan sekarang bersama para mitra kerja kami.

M-Dinar Saving Account
Dengan Mitra kerja BMT Daarul Muttaqiin misalnya; M-Dinar Saving Account yang kami perkenalkan pertengahan tahun lalu kini telah mulai membuahkan hasil. Bagi pemegang account M-Dinar; per pagi ini sudah bisa melihat bagi hasil yang diterima di accountnya masing-masing.
Bagi hasil ini sudah dihitung dalam bentuk Dinar dan dibagi berdasarkan saldo Dinar rata-rata harian para pemilik account. Anda akan melihatnya di rekening Anda dengan keterangan ‘Bagi Hasil 01/10’, insya Allah kedepannya akan dibagikan setiap akhir bulan berdasarkan hasil bersih dari investasi dana yang dikelola BMT sampai bulan yang bersangkutan.
Jadi bagi Anda yang merasa ‘ketinggalan’ tidak bisa ikut program Qirad; insya Allah M-Dinar Saving Account-nya BMT Daarul Muttaqiin tidak kalah menariknya sekarang. Scope investasi yang didanainya lebih luas, tidak harus mengumpulkan 20 Dinar seperti di Qirad dan account ini sendiri lebih likuid dari Qirad karena bisa ditransaksikan setiap saat melalui fasilitas Dinar Exchange.
Piece by piece dari picture puzzle ekonomi berbasis Dinar atau Dinarnomics kini mulai tersusun. Dengan terus memohon bimbinganNya – insya Allah nantinya akan terus disempurnakan gambar yang indah dari Ekonomi Islam dengan uangnya yang adil, dengan dijauhkannya riba, dengan berputarnya sektor riil, dlsb. Amin.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Business Opportunity
Posted on 27 January 2010. Tags: AIG, aksi penyelamatan, Amerika Serikat, bailout, bangkrut, Bank Century, bankrupt, CNBC, Congress, dana talangan, demo besar, Extinction Event, Guru ‘…’ Berdiri, hubungan guru & murid, investigasi, Islam, kaya, lubang biawak, maisir, Menteri Keuangan, Murid ‘…’ Berlari, Pansus DPR, riba, risiko sistemik, sistem finansial global, surat Al-Hasyr, syariah, systemic risks, Treasury Secretary
Hari ini isu-nya bakal ada demo besar di negeri ini, yang inti permasalahannya berawal dari upaya penyelamatan bank kecil Century dari apa yang disebut-sebut pihak pengambil keputusan sebagai memiliki risiko sistemik bila tidak diselamatkan. Masyarakat awam yang mengikuti tontonan investigasinya oleh Pansus DPR di televisi sebenarnya sudah bisa cukup paham tentang apa yang nampaknya terjadi.
Pada waktu yang bersamaan, nun jauh disana – ada negeri yang para pembuat hukumnya (lawmakers) juga lagi menginvestigasi Menteri Keuangannya (Treasury Secretary), untuk kasus yang sangat mirip – yaitu bailout AIG akhir 2008 yang menyebabkan rakyat negeri itu harus nombok US$ 180 Milyar sebagai komitmen dana talangan aksi penyelamatan ini.
Investigasi ini juga disiarkan di televisi secara langsung tadi malam, saya sendiri mengikutinya dari CNBC yang menyajikan kasus ini sebagai tontonan menarik dalam skala global.
Dari apa yang saya lihat melalui 2 tontonan televisi tersebut – investigasi Century di Pansus DPR RI dan investigasi bailout AIG di Congress AS – sangat-sangat banyak kemiripannya sehingga saya yakin bahwa 2 hal ini bukan suatu kebetulan.
AIG terpaksa diselamatkan pemerintahnya dengan alasan risiko sistemik yang dihadapi negeri itu jauh lebih besar dibanding bila AIG dibiarkan bankrupt. Bank Century-pun di Indonesia diselamatkan dengan alasan yang persis sama.
Kalau 2 kejadian tersebut bukanlah kebetulan, lantas apa sebenarnya hubungan keduanya? Terlepas dari berbagai hubungan yang saling terkait dari sistem finansial global; saya memahaminya sebagai hubungan yang lebih sederhana saja – yaitu hubungan guru dan murid.
Ketika sang guru mengatakan bahwa inilah sistem finansial yang harus dianut di seluruh dunia, maka murid-pun serta merta mengikuti. Ketika gurunya terperosok ke lubang biawak, pada saat yang bersamaan sang murid-pun mengikuti masuk lubang biawak yang sama.
Alasan risiko sistemik bisa benar bisa salah, namun katakanlah risiko ini benar ada – dan konon dampaknya bisa begitu besar; di Amerika sendiri risiko sistemik yang ditimbulkan oleh bangkrutnya AIG – bila tidak diselamatkan – bisa mencapai derajat yang disebut sebagai Extinction Event (kejadian yang memusnahkan); lantas apa yang telah dilakukan oleh dunia dan negeri ini?
Saya secara pribadi belum melihat ada upaya dunia dan negeri ini untuk menghindar dari risiko yang memusnahkan tersebut.
Resep untuk menghindari risiko tersebut sebenarnya sudah ada dan sangat komplit di Syariah Islam – hanya sebagian kita umat Islam sendiri yang menyebut syariah-pun enggan apalagi menerapkannya.
Bila syariah diterapkan, maka tidak akan ada produk-produk finansial yang mengandung unsur riba, maisir dan gharar yang menjadi pangkal seluruh kebangkrutan dan risiko sistemik tersebut.
Bila harta tidak hanya berputar di golongan yang kaya, tetapi berputar secara luas di masyarakat (QS. Al-Hasyr (59):7) – maka tidak ada konsentrasi kekayaan dunia yang berpusat di segelintir orang atau institusi. AIG di negerinya bisa menimbulkan risiko pada tingkat Exctinction Level karena besarnya organisasi ini yang tidak ketulungan. Untuk bailout-nya saja dibutuhkan komitmen sampai US$ 180 Milyar atau sekitar Rp 1,700 trilyun atau setara lebih dari 250 kali dana yang dibutuhkan untuk menyelamatkan Century.
Jadi sungguh kita punya solusi itu, mengapa pula kita mengambil solusi dari Guru Yang ‘….’ Berlari? Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Political Economy
Posted on 04 January 2010. Tags: Amerika, benda riil, dana pensiun, deflasi, deposito, Dinar, emas, euthanasia, Euthanasia of the Pension Funds, finansial, government bond, hari tua, inflasi, investasi, jaga mudamu, Jepang, Ludwig von Mises, pensiun, penurunan daya beli, pesantren wirausaha, pohon, riba, sawah, sistem ekonomi, suku bunga simpanan, ternak, usaha sektor riil
Pada tanggal 23 Februari 1950, ekonom kondang Ludwig Von Mises menggambarkan kondisi para pensiunan di Amerika Serikat sebagai orang-orang yang di-euthanasia-kan oleh pemerintahnya (seperti orang sakit keras yang dibiarkan meninggal tanpa pertolongan). Tulisannya yang berjudul Euthanasia of the Pension Funds intinya menguraikan bagaimana para pensiunan menderita dengan daya beli yang terus menurun karena faktor inflasi.
60 tahun kemudian sampai hari ini, para pensiunan di Amerika dan juga para pensiunan di seluruh dunia yang mengikuti sistem ekonomi ribawi-nya – tetap saja secara umum menderita secara finansial dan seolah masih juga di–euthanasia-kan oleh pemerintahnya masing-masing yang tidak mampu mengendalikan inflasi.

Ludwig Von Mises
Bila inflasi menyengsarakan para pensiunan, apakah lantas kondisi sebaliknya bila terjadi deflasi akan memakmurkan mereka? Ternyata tidak juga. Di negeri yang sama Amerika Serikat, yang saat ini tingkat suku bunganya mendekati 0% – ternyata para pensiunan juga malah terancam kelangsungan penerimaan dana pensiunannya.
Mengapa demikian? Karena selama ini para pengelola dana pensiun mengandalkan instrumen finansial seperti deposito, government bond dan sejenisnya sebagai unggulan investasinya. Ketika deposito dan bond memberikan hasil yang sangat rendah, maka putaran dana mereka tidak memadai lagi untuk menopang program santunan yang berkelanjutan kepada para pensiunan.
Contoh yang konkrit juga terjadi di Jepang yang sudah sejak lama menganut rezim suku bunga rendah. Pengelola dana pensiun dari maskapai penerbangan terbesar negeri itu sampai harus menegosiasikan ulang dengan para pensiunannya untuk menurunkan penerimaan mereka. Pilihan yang sangat berat karena kalau penerimaan pensiunan diturunkan akan lebih menyengsarakan mereka, sementara bila dilanjutkan seperti semula perusahaannya yang tidak akan survive.
Jadi buah simalakamanya inflasi dan deflasi bagi pensiunan adalah begini: “Bila inflasi tinggi, para pensiunan berkemungkinan untuk terus dapat menerima pensiunnya – tetapi dengan daya beli yang terus menyusut. Sebaliknya bila terjadi deflasi, kemampuan para perusahaan/pengelola dana pensiun untuk secara berkelanjutan mampu membayarkan uang pensiun kepada yang berhak menerimanya yang terancam.”
Ketika Ludwig Von Mises menulis artikel tersebut di atas (60 tahun lalu) dicuekin oleh masyarakatnya, apa dampaknya? ya itu tadi sampai kini para pensiunan di Amerika Serikat tetap menderita.
Nah bagaimana sekarang kita, agar sekian puluh tahun dari sekarang ketika kita pensiun tidak menghadapi simalakama inflasi dan deflasi ini? Berikut adalah beberapa poin yang bisa dilakukan:
- Mulai secara bertahap lindungi hasil jerih payah Anda dari risiko finansial inflasi dalam bentuk benda riil yang daya belinya bertahan. Emas/Dinar; sawah, pohon, ternak, dlsb adalah beberapa diantaranya.
- Meskipun di tempat kerja Anda dapat jatah pensiun yang dikelola perusahaan/pengelola dana pensiun. Jangan terlalu mengandalkan dana pensiun ini – kemungkinan besarnya tidak akan cukup untuk menopang hari tua Anda. Menabung benda riil tetap Anda perlukan.
- Bila perusahaan/pengelola dana pensiun Anda mempunyai program yang mengijinkan Anda mengelola dana pensiun Anda sendiri – ambil program ini dan kelola sendiri di sektor riil. Bila belum mampu mengelola sendiri, cari mitra yang bisa mengelolanya sambil Anda belajar sektor-sektor usaha yang menjadi minat Anda.
- Banyak-banyak investasi pada diri Anda sendiri sedari muda. Ikut pelatihan-pelatihan bidang usaha yang menjadi minat Anda, banyak-banyak belajar berusaha. Mencoba dan gagal di usia muda – masih lebih baik dibandingkan mencoba dan gagal di usia tua ketika sumber daya dan dana kita sudah tidak ada lagi. Tidak semua eksperimen usaha ini membutuhkan biaya; di Pesantren Wirausaha Anda bisa belajar berusaha tanpa harus mengeluarkan biaya satu sen-pun (alias GRATIS)!
- Banyak-banyak investasi pada orang-orang di sekitar kita; mendidik mereka dan membimbingnya. Mereka inilah yang akan menjalankan dan meneruskan usaha kita setelah kita lanjut dimakan usia.
“Allhummaj’al khoyro ‘umry aakhirohu wa khoyro ‘amaly khowaatimahu wa khoyro ayyaami yawma alqooka fiih”, “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan yang terbaik dari hariku adalah hari ketika aku bertemu denganMu.” Amin.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Financial Plan