Tag Archive | "riba"

Bila BRIC Membuat Uangnya Sendiri, Bagaimana Dengan Kita?


BRIC adalah sebutan untuk 4 negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia yaitu Brasil, Rusia, India dan China. Pada pertengahan tahun lalu (Juni 2009) para pemimpin negara mereka bertemu di Yekaterinburg, wilayah pegunungan Ural – Rusia.

Yang menarik sekali kita ikuti adalah agenda pertemuan mereka ini, yaitu membahas rencana penggantian mata uang US$ sebagai alat transaksi Global. Ke-4 negara tersebut juga bertekad untuk membentuk sistem finansial global baru, menggantikan sistem finansial yang selama ini dianut oleh seluruh negara-negara di dunia.

Entah kapan uang dan sistem finansial baru versi BRIC ini bisa terwujud, namun pertemuan para pemimpin negara-negara BRIC tersebut sudah selayaknya menjadi pelajaran bagi negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang juga sering disebut MDC (Muslim Dominated Countries) ini.

Pelajaran pertama adalah kenyataan bahwa mata uang US$ tidak akan selamanya bisa bertahan sebagai mata uang utama dunia, sehingga harus secara serius segera dipikirkan penggantinya – sampai melibatkan pertemuan tingkat tinggi antar pimpinan Negara. Bersamaan dengan penggantian mata uang ini, sistem finansial dunia yang selama ini IMF minded juga selayaknya diganti.

Pelajaran kedua adalah, kalau pemimpin-pemimpin dunia yang sama sekali tidak memiliki kesamaan ideologis satu sama lain saja bisa bertemu untuk mencari solusi bersama yang terkait dengan uang dan sistem finansial; sudah selayaknya pemimpin-pemimpin Dunia Islam lebih potensi lagi untuk bertemu mengatasi masalah uang dan sistem finansial ini.

Gross Domestic Product (GDP)

Gross Domestic Product (GDP)

Para pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini setidaknya memiliki kesamaan ideologis dan memiliki kesamaan tanggung jawab terhadap rakyatnya, yaitu membebaskan rakyatnya dari penindasan/penjajahan ekonomi yang antara lain termanifestasikan dalam bentuk penggunaan mata uang negara lain sebagai alat transaksi antar mereka.

Bagi Dunia Islam pencarian mata uang pengganti US$ dan sistem keuangan ala IMF ini jauh lebih mudah ketimbang negara-negara di Eropa membentuk Euro atau negara-negara BRIC dalam melakukan pencarian mata uang barunya. Dunia Islam sudah memiliki Dinar yang telah dipakai lebih dari 1400 tahun, dan satu-satunya mata uang dunia yang bebas dari inflasi sepanjang sejarah.

Dari sisi ukuran-pun kalau negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim ini bergabung, skala ekonomi yang diukur dari total GDP-nya juga lumayan besar; lihat grafik-grafik di atas yang menujukkan total GDP dari MDC, untuk data tahun 2008 memang baru sekitar ½ total GDP dari BRIC, dan ¼ total GDP dari EU; tetapi potensinya tidak kalah besar dengan Negara-negara di EU maupun BRIC karena kekayaan alam yang melimpah di MDC ini.

Kendalanya memang mungkin tidak mudah menyatukan visi 32 negara-negara MDC; tetapi lagi-lagi negara yang tidak memiliki kesamaan ideologis seperti 27 negara-negara yang tergabung dalam European Union (EU) saja bisa bersatu dalam masalah uang dan perdagangan; masa kita tidak dapat bersatu?

Well, kalau toh pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini belum memiliki visi untuk bersatu seperti yang dilakukan  oleh pemimpin-pemimpin EU dan BRIC – tidak ada salahnya juga kita memulai sesuatu yang sudah bisa kita lakukan yang kelak insya Allah bisa menjadi alat pemersatu umat – setidaknya dalam masalah uang dan sistem keuangan ini.

Inilah big picture dari sistem keuangan bebas Riba berbasis Dinar yang mulai kita rintis dalam beberapa tahun terakhir. Semoga Allah memudahkan jalan yang kita tempuh ini. Amin

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Dinar Untuk Sektor Riil: Kini Bukan Hanya Teori


Di awal kami memperkenalkan Dinar, kami libatkan pengunjung situs ini untuk membiayai pencetakan Dinar agar tersedia cukup Dinar di masyarakat dengan program Qirad. Alhamdulillah dukungan para pengunjung lebih dari yang kami harapkan, sehingga program Qirad kini tidak lagi menerima peserta baru – kecuali menggantikan peserta lama yang mundur.

Setelah kami tidak lagi menerima peserta Qirad baru; timbul banyak pertanyaan ke kami – mengapa tidak diteruskan saja – sehingga semakin banyak Dinar yang bisa dicetak dan diedarkan ke masyarakat? Ini betul, hanya kami tidak ingin kehilangan orientasi – bahwa penggunaan Dinar sesungguhnya harus menjadi alat tukar yang adil yang mendorong berputarnya ekonomi masyarakat. Dengan kata lain, keberadaan Dinar harus bisa mendorong berputarnya sektor riil – maka inilah yang kami fokuskan sekarang bersama para mitra kerja kami.

M-Dinar Saving Account

M-Dinar Saving Account

Dengan Mitra kerja BMT Daarul Muttaqiin misalnya; M-Dinar Saving Account yang kami perkenalkan pertengahan tahun lalu kini telah mulai membuahkan hasil. Bagi pemegang account M-Dinar; per pagi ini sudah bisa melihat bagi hasil yang diterima di accountnya masing-masing.

Bagi hasil ini sudah dihitung dalam bentuk Dinar dan dibagi berdasarkan saldo Dinar rata-rata harian para pemilik account. Anda akan melihatnya di rekening Anda dengan keterangan ‘Bagi Hasil 01/10’, insya Allah kedepannya akan dibagikan setiap akhir bulan berdasarkan hasil bersih dari investasi dana yang dikelola BMT sampai bulan yang bersangkutan.

Jadi bagi Anda yang merasa ‘ketinggalan’ tidak bisa ikut program Qirad; insya Allah M-Dinar Saving Account-nya BMT Daarul Muttaqiin tidak kalah menariknya sekarang. Scope investasi yang didanainya lebih luas, tidak harus mengumpulkan 20 Dinar seperti di Qirad dan account ini sendiri lebih likuid dari Qirad karena bisa ditransaksikan setiap saat melalui fasilitas Dinar Exchange.

Piece by piece dari picture puzzle ekonomi berbasis Dinar atau Dinarnomics kini mulai tersusun. Dengan terus memohon bimbinganNya – insya Allah nantinya akan terus disempurnakan gambar yang indah dari Ekonomi Islam dengan uangnya yang adil, dengan dijauhkannya riba, dengan berputarnya sektor riil, dlsb. Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (0)

Systemic Risks: Guru ‘…’ Berdiri, Murid ‘…’ Berlari


Hari ini isu-nya bakal ada demo besar di negeri ini, yang inti permasalahannya berawal dari upaya penyelamatan bank kecil Century dari apa yang disebut-sebut pihak pengambil keputusan sebagai memiliki risiko sistemik bila tidak diselamatkan. Masyarakat awam yang mengikuti tontonan investigasinya oleh Pansus DPR di televisi sebenarnya sudah bisa cukup paham tentang apa yang nampaknya terjadi.

Pada waktu yang bersamaan, nun jauh disana – ada negeri yang para pembuat hukumnya (lawmakers) juga lagi menginvestigasi Menteri Keuangannya  (Treasury Secretary), untuk kasus yang sangat mirip – yaitu bailout AIG akhir 2008 yang menyebabkan rakyat negeri itu harus nombok US$ 180 Milyar sebagai komitmen dana talangan aksi penyelamatan ini.

Investigasi ini juga disiarkan di televisi secara langsung tadi malam, saya sendiri mengikutinya dari CNBC yang menyajikan kasus ini sebagai tontonan menarik dalam skala global.

Dari apa yang saya lihat melalui 2 tontonan televisi tersebut – investigasi Century di Pansus DPR RI dan investigasi bailout AIG di Congress AS – sangat-sangat banyak kemiripannya sehingga saya yakin bahwa 2 hal ini bukan suatu kebetulan.

AIG terpaksa diselamatkan pemerintahnya dengan alasan risiko sistemik yang dihadapi negeri itu jauh lebih besar dibanding  bila AIG dibiarkan bankrupt.  Bank Century-pun di Indonesia diselamatkan dengan alasan yang persis sama.

Kalau 2 kejadian tersebut bukanlah kebetulan, lantas apa sebenarnya hubungan keduanya? Terlepas dari berbagai hubungan yang saling terkait dari sistem finansial global; saya memahaminya sebagai hubungan yang lebih sederhana saja – yaitu hubungan guru dan murid.

Ketika sang guru mengatakan bahwa inilah sistem finansial yang harus dianut di seluruh dunia, maka murid-pun serta merta mengikuti. Ketika gurunya terperosok ke lubang biawak, pada saat yang bersamaan sang murid-pun mengikuti masuk lubang biawak yang sama.

TIME: The Bailout BombAlasan risiko sistemik bisa benar bisa salah, namun katakanlah risiko ini benar ada – dan konon dampaknya bisa begitu besar; di Amerika sendiri risiko sistemik yang ditimbulkan oleh bangkrutnya AIG – bila tidak diselamatkan – bisa mencapai derajat yang disebut sebagai  Extinction Event (kejadian yang memusnahkan); lantas apa yang telah dilakukan oleh dunia dan negeri ini?

Saya secara pribadi belum melihat ada upaya dunia dan negeri ini untuk menghindar dari risiko yang memusnahkan tersebut.

Resep untuk menghindari risiko tersebut sebenarnya sudah ada dan sangat komplit di Syariah Islam – hanya sebagian kita umat Islam sendiri yang menyebut syariah-pun enggan apalagi menerapkannya.

Bila syariah diterapkan, maka tidak akan ada produk-produk finansial yang mengandung unsur riba, maisir dan gharar yang menjadi pangkal seluruh kebangkrutan dan risiko sistemik tersebut.

Bila harta tidak hanya berputar di golongan yang kaya, tetapi berputar secara luas di masyarakat (QS. Al-Hasyr (59):7) – maka tidak ada konsentrasi kekayaan dunia yang berpusat di segelintir orang atau institusi. AIG di negerinya bisa menimbulkan risiko pada tingkat Exctinction Level karena besarnya organisasi ini yang tidak ketulungan. Untuk bailout-nya saja dibutuhkan komitmen sampai US$ 180 Milyar atau sekitar  Rp 1,700 trilyun atau setara lebih dari 250 kali dana yang dibutuhkan untuk menyelamatkan Century.

Jadi sungguh kita punya solusi itu, mengapa pula kita mengambil solusi dari Guru Yang ‘….’ Berlari? Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Jaga Mudamu Sebelum Pensiunmu


Pada tanggal 23 Februari 1950, ekonom kondang Ludwig Von Mises menggambarkan kondisi para pensiunan di Amerika Serikat sebagai orang-orang yang di-euthanasia-kan oleh pemerintahnya (seperti orang sakit keras yang dibiarkan meninggal tanpa pertolongan). Tulisannya yang berjudul Euthanasia of the Pension Funds intinya menguraikan bagaimana para pensiunan menderita dengan daya beli yang terus menurun karena faktor inflasi.

60 tahun kemudian sampai hari ini,  para pensiunan di Amerika dan juga para pensiunan di seluruh dunia yang mengikuti sistem ekonomi ribawi-nya – tetap saja secara umum menderita secara finansial dan seolah masih juga di–euthanasia-kan oleh pemerintahnya masing-masing yang tidak mampu mengendalikan inflasi.

Ludwig Von Mises

Ludwig Von Mises

Bila inflasi menyengsarakan para pensiunan, apakah lantas kondisi sebaliknya bila terjadi deflasi akan memakmurkan mereka? Ternyata tidak juga. Di negeri yang sama Amerika Serikat, yang saat ini tingkat suku bunganya mendekati 0% – ternyata para pensiunan juga malah terancam kelangsungan penerimaan dana pensiunannya.

Mengapa demikian? Karena selama ini para pengelola dana pensiun mengandalkan instrumen finansial seperti deposito, government bond dan sejenisnya sebagai unggulan investasinya. Ketika deposito dan bond memberikan hasil yang sangat rendah, maka putaran dana mereka tidak memadai lagi untuk menopang program santunan yang berkelanjutan kepada para pensiunan.

Contoh yang konkrit juga terjadi di Jepang yang sudah sejak lama menganut rezim suku bunga rendah. Pengelola dana pensiun dari maskapai penerbangan terbesar negeri itu sampai harus menegosiasikan ulang dengan para pensiunannya untuk menurunkan penerimaan mereka. Pilihan yang sangat berat karena kalau penerimaan pensiunan diturunkan akan lebih menyengsarakan mereka, sementara bila dilanjutkan seperti semula perusahaannya yang tidak akan survive.

Jadi buah simalakamanya inflasi dan deflasi bagi pensiunan adalah begini: “Bila inflasi tinggi, para pensiunan berkemungkinan untuk terus dapat menerima pensiunnya – tetapi dengan daya beli yang terus menyusut. Sebaliknya bila terjadi deflasi, kemampuan para perusahaan/pengelola dana pensiun untuk secara berkelanjutan mampu membayarkan uang pensiun kepada yang berhak menerimanya yang terancam.”

Ketika Ludwig Von Mises menulis artikel tersebut di atas (60 tahun lalu) dicuekin oleh masyarakatnya, apa dampaknya? ya itu tadi sampai kini para pensiunan di Amerika Serikat tetap menderita.

pension-fundsNah bagaimana sekarang kita, agar sekian puluh tahun dari sekarang ketika kita pensiun tidak menghadapi simalakama inflasi dan deflasi ini? Berikut adalah beberapa poin yang bisa dilakukan:

  1. Mulai secara bertahap lindungi hasil jerih payah Anda dari risiko finansial inflasi dalam bentuk benda riil yang daya belinya bertahan.  Emas/Dinar; sawah, pohon, ternak, dlsb adalah beberapa diantaranya.
  2. Meskipun di tempat kerja Anda dapat jatah pensiun yang dikelola perusahaan/pengelola dana pensiun. Jangan terlalu mengandalkan dana pensiun ini – kemungkinan besarnya tidak akan cukup untuk menopang hari tua Anda. Menabung benda riil tetap Anda perlukan.
  3. Bila perusahaan/pengelola dana pensiun Anda mempunyai program yang mengijinkan Anda mengelola dana pensiun Anda sendiri – ambil program ini dan kelola sendiri di sektor riil. Bila belum mampu mengelola sendiri, cari mitra yang bisa mengelolanya sambil Anda belajar sektor-sektor usaha yang menjadi minat Anda.
  4. Banyak-banyak investasi pada diri Anda sendiri sedari muda. Ikut pelatihan-pelatihan bidang usaha yang menjadi minat Anda, banyak-banyak belajar berusaha.  Mencoba dan gagal di usia muda – masih lebih baik dibandingkan mencoba dan gagal di usia tua ketika sumber daya dan dana kita sudah tidak ada lagi. Tidak semua eksperimen usaha ini membutuhkan biaya; di Pesantren Wirausaha Anda bisa belajar berusaha tanpa harus mengeluarkan biaya satu sen-pun (alias GRATIS)!
  5. Banyak-banyak investasi pada orang-orang di sekitar kita; mendidik mereka dan membimbingnya. Mereka inilah yang akan menjalankan dan meneruskan usaha kita setelah kita lanjut dimakan usia.

Allhummaj’al khoyro ‘umry aakhirohu wa khoyro ‘amaly  khowaatimahu wa khoyro ayyaami yawma alqooka fiih, Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan  yang terbaik dari hariku  adalah hari ketika aku bertemu denganMu.” Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Waktunya Dinar Mendorong Investasi Sektor Riil Yang Adil


Banyak orang beranggapan bahwa Dinar atau emas adalah bukan alat investasi; alasannya adalah membeli Dinar atau emas tidak membuat Dinar atau emas tersebut bisa tumbuh atau bertambah dengan sendirinya.

Pendapat ini benar adanya bila sudut pandang atau satuan (unit of account) yang kita pakai adalah Dinar atau emas itu sendiri. Kalau saya membeli 1 Dinar dan saya simpan saja – Dinar ini tetap 1 Dinar sampai kapan-pun, maka dengan hitungan Dinar - dia bukan investasi.

Sebaliknya bila satuan yang kita pakai adalah Rupiah atau mata uang kertas lainnya; 1 Dinar yang saya beli akhir 2006 harganya hanya Rp 750,000,- ; sekarang harganya telah mencapai Rp 1,5 juta. Maka dengan satuan Rupiah, bagaimana mungkin nilai yang tumbuh seratus persen dalam 3 tahun tersebut tidak bisa dikatakan sebagai investasi? Lha wong deposito yang tumbuh 1/5-nya dari Dinar ini saja dalam 3 tahun terakhir sudah bisa dikatakan sebagai instrumen investasi kok

Meskipun dengan satuan Rupiah kenaikan nilai Dinar begitu tinggi dalam beberapa tahun terakhir; bukan ini tujuan utama pengadaan Dinar di masyarakat. Dinar bukan hanya untuk disimpan, tetapi Dinar harus dapat menggerakkan sektor riil yang sesungguhnya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Perhatikan grafik di atas untuk solusinya.

Bila Anda ingin memodali saudara Anda untuk usaha dalam waktu yang lama, dapatkah Anda lakukan dengan Adil menggunakan uang kertas Rupiah misalnya?

Coba Anda pinjami saudara Anda Rp 1 Milyar untuk modal usaha dan Anda minta dikembalikan 3 tahun lagi. Berapa pengembalian yang Anda minta? Kalau Anda minta tetap Rp 1 Milyar, maka Anda yang rugi – karena nilai uang Rp 1 milyar tersebut dalam 3 tahun telah banyak sekali menyusut. Sebaliknya bila Anda minta dikembalikan dengan nilai tambahan tertentu dalam 3 tahun – agar Anda tidak rugi, maka ini namanya Riba.

Lantas beberapa lembaga keuangan syariah tidak menggunakan aqad pinjaman atau Qard, tetapi bagi hasil (Mudharabah) atau jual beli dengan margin (Murabahah) untuk menghindari situasi tersebut di atas.

Dengan menggunakan aqad Mudharabah misalnya Anda sekarang memodali usaha saudara Anda tersebut Rp 1 Milyar. Tahun berikutnya uang ini telah menjadi Rp 1.2 Milyar – wah hebat untung 20% dalam setahun! Tapi nanti dahulu….; setelah bagi hasil 50/50; maka Anda dapat hasil bersih Rp 100 juta dan saudara Anda mendapatkan Rp 100 juta pula. Sudah adilkah? Kalau dilihat dari angka Rupiahnya nampaknya adil, tetapi coba dilihat dari daya belinya. Inflasi tahun lalu adalah 11.8% ; jadi meskipun uang Anda kini menjadi Rp 1.1 Milyar – daya belinya lebih rendah dari uang Anda semula Rp 1 milyar tahun lalu – jadi Mudharabah dengan satuan Rupiah ini-pun berpotensi untuk tidak adil satu sama lain.

Nah bagaimana agar Muamalah Anda dengan saudara Anda bisa adil? Gunakan-lah Dinar atau Dirham sebagai satuan pencatatannya. Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Ghazali dalam Ihya Ulmuddin – bahwa hanya emas dan perak-lah yang bisa menjadi timbangan atau hakim yang adil dalam muamalah.

Jadi baik Aqad pinjaman (Qard) maupun bagi hasil (Qirad/Mudharabah ) insya Allah akan selalu bisa berjalan dengan adil dengan menggunakan satuan pencatatan Dinar ini.

Lantas bagaimana caranya agar Dinar yang digunakan dalam aqad pinjam meminjam atau bagi hasil tersebut – dapat ditukar ke Rupiah untuk investasi sektor riil (membangun pabrik, membeli bahan baku, membeli barang dagangan, dlsb.) yang saat ini baru mengenal Rupiah?

Ada 2 mekanisme untuk ini yang saat ini sudah dapat dilakukan dengan baik di negeri ini. Cara pertama Anda dapat menukar Dinar Anda menjadi Rupiah di jaringan kami – kemudian menggunakan Rupiah untuk transaksi Anda di sektor riil tersebut di atas. Pada saat Anda mau mengembalikan modal ke pemodal pada akhir masa aqad –  Anda dapat menukar kembali Rupiah hasil usaha Anda dengan Dinar – untuk diserahkan ke pemodal dalam bentuk Dinar.

Atau cara kedua, Anda dapat menggadaikan Dinar dari pemodal ke pegadaian atau bank-bank syariah yang saat ini hampir semua punya program gadai emas. Uang dari gadai ini kemudian untuk membiayai transaksi sektor riil Anda. Pada akhir masa aqad, Anda tebus Dinar yang Anda gadaikan dengan uang hasil usaha Anda di sektor riil tersebut.

Cara pertama (menjual dan membeli kembali) lebih cocok pada saat harga emas relatif stabil; sebaliknya cara kedua (gadai) akan lebih aman pada saat harga emas bergejolak seperti saat ini.

Optimalisasinya bisa dihitung dengan relatif mudah berdasarkan margin jual beli, biaya gadai, statistik harga emas dan informasi-informasi lain yang terkait dengan usaha yang akan dibiayai dengan Dinar ini.  Kalau ada instrumen yang adil, mengapa masih memilih yang tidak adil? Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (0)

Modified Misery Index: Kesengsaraan Rakyat karena Riba & Inflasi


Misery Index (Indeks Kesengsaraan) adalah indikator ekonomi yang diperkenalkan oleh Professor Arthur Melvin Okun ekonom dari Yale University. Index ini awalnya sederhana saja yaitu menjumlahkan antara tingkat  inflasi dan tingkat pengangguran di suatu negara – 2 hal yang mencerminkan biaya ekonomi dan sosial suatu negara.

Index ini kemudian diubah oleh Professor Robert Joseph Barro dari Harvard University dengan menambahkan unsur tingkat bunga bank dan Gross Domestic Product (GDP) untuk melihat dinamika kesengsaraan masyarakat dari waktu ke waktu. Index yang sudah diubah ini kemudian disebut Modified Misery Index.

Di Amerika, Index ini dengan mudah dipakai untuk menilai secara kwantitatif apakah seorang presiden bisa memakmurkan rakyat selama pemerintahannya atau sebaliknya. Ronald Reagan pada masa pemerintahannya yang pertama misalnya tercatat sebagai presiden yang paling bisa memakmurkan rakyatnya (Index =  – 4.90), sedangkan Jimmy Carter tercatat sebagai presiden yang paling menyengsarakan rakyatnya (index  = + 9.40).

US-miseryUntuk Indonesia, ekonom dunia yang secara khusus nampak punya ‘kepentingan’ di Indonesia adalah Prof . Steve H. Hank yang di akhir masa pemerintahan Orde Baru 1998 dulu berbicara intensif dengan presiden Indonesia waktu itu dengan ide Currency Board System-nya.

Dalam pengamatan dan data 2 dasa warsa yang dikumpulkan oleh  ekonom yang satu ini, rakyat Indonesia sampai sekarang masih sama sengsaranya dengan kondisi tahun 80-an dan 90-an. Memang kita pulih dari puncak krisis moneter yang terkenal dengan Krismon tahun 1998; tetapi kepulihan ini tidak membuat Indonesia lebih baik dari sebelum Krismon.

Grafik di atas yang merepresentasikan penjumlahan tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan tingkat pengangguran kemudian dikurangi perubahan GDP year on year – menggambarkan tingkat kesengsaraan rakyat Indonesia dari waktu ke waktu. Semakin tinggi Index, semakin sengsara rakyat.

Teori Modified Misery Index ini sesungguhnya juga menggambarkan bahwa semakin tinggi tingkat bunga (riba) dan inflasi yang berlaku dalam suatu negara, semakin sengsara rakyat di negara tersebut. Sebaliknya semakin rendah tingkat suku bunga (riba) dan semakin rendah inflasi – maka akan semakin makmur rakyat di negara tersebut.

Jadi jelas bukan? Bahwa untuk memakmurkan rakyat tingkat suku bunga (riba) harus ditekan serendah mungkin – dan ini hanya bisa dilakukan bila suatu negeri meninggalkan riba.

Demikian pula halnya bahwa inflasi juga harus ditekan serendah mungkin, dan ini hanya bisa terjadi bila uang di suatu negara tidak mudah dicetak begitu saja – karena inflasi terjadi oleh sebab uang yang dicetak terus menerus tidak sepadan dengan transaksi riil yang memerlukan keberadaan uang tersebut. Hanya uang emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang telah terbukti selama ribuan tahun tidak mengalami inflasi, karena Dinar maupun Dirham adalah uang dari benda riil – harus benar-benar ada emas untuk mencetak Dinar dan ada perak untuk mencetak Dirham.

Bila 2 dari 4 unsur dalam Modified Misery Index yaitu tingkat bunga dan inflasi sudah teratasi dengan ditinggalkannya riba dan digunakannya Dinar dan Dirham; maka tugas pemerintah tinggal 2 saja untuk meciptakan kemakmuran – yaitu menciptakan lapangan kerja dan fokus pada pertumbuhan ekonomi (GDP).

Jadi diuji dari teori ekonomi manapun, sistem Islam yang lahir dari petunjuk Yang Maha Tahu – terbukti paling sesuai dan mudah untuk menciptakan kemakmuran bagi  umat sepanjang zaman. Masihkah kita meragukannya? Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

The Dollar Meltdown: Bila Dollar Melumer


The Dollar Meltdown (Penguin Group, NY 2009) adalah judul buku karya Charles Goyette yang mendapatkan perhatian luas di Amerika akhir-akhir ini; sampai anggota congress senior negeri itu yang punya perhatian khusus pada moneter Ron Paul memberikan catatannya yang berbunyi: Goyette telah melakukan pekerjaan hebat dalam menjelaskan mengapa Amerika menuju krisis finansial hebat kedepan, dan mengajari strategi yang masuk akal bagi warga Amerika untuk melindungi diri dan keluarganya. Sungguh buku ini wajib dibaca (bagi warga Negara Amerika tentunya).

Buku yang terdiri dari 4 Bab ini terus terang juga menarik bagi saya – meskipun isinya sendiri tidak banyak yang baru – karena mayoritas pokok-pokok pemikirannya juga sudah saya tulis di situs ini sejak lama, jauh sebelum buku ini terbit.

Pada 2 bab Pertama banyak membahas dengan detil tentang krisis finansial yang terjadi selama 2 tahun terakhir, bagaimana terjadinya, upaya-upaya bailout yang dilakukan pemerintah yang dianggapnya gagal dan justru membuat blunders, tumpukan hutang yang menggunung dan semakin menggunung (dalam bahasa penulis disebut: First there is a mountain… then there is a bigger mountain) yang akhirnya nanti akan membawa kepada kebangkrutan.

Bab III menguraikan dengan jelas tentang prediksi penulis akan masa depan ekonomi Amerika yang direpresentasikan dengan US Dollar-nya. Menurut Goyette ini, kemungkinan besar terjadi (likely scenarios) bahwa US$ akan runtuh hanya dalam beberapa tahun mendatang.

Mengenai timing-nya ini, Goyette menjelaskan keberulangan sejarah. Dollar yang kita kenal sekarang adalah Dollar yang tidak lagi dikaitkan dengan emas – ini merupakan pengingkaran Amerika atas perjanjian yang digagasnya sendiri yaitu Bretton Woods Agreement. Amerika terpaksa melepaskan kaitan uangnya dengan emas secara resmi tahun 1971 setelah didahului oleh kebangkrutan ekonomi akibat membiayai perang yang tidak bisa dimenangkannya – yaitu Perang Vietnam.

Hal serupa kini sudah terjadi selama bertahun-tahun; Amerika menguras sumber-sumber keuangannya untuk membiayai The Three Trillion Dollar War (bahkan konon dana yang dikeluarkan telah membengkak menjadi US$ 4 – 5 trilyun), berupa Perang Iraq yang tidak memberi manfaat pada bangsa Amerika sendiri.

Dia mengibaratkan kondisi yang dihadapi oleh Dollar saat ini sebagai sebuah kereta yang diberi nama Dollar/Debt Express (DDE). Kereta ini berjalan dengan sangat kencang pada rel buntu yang menuju pada satu arah yaitu tempat rongsokan; sudah sangat terlambat sekarang untuk bisa mengurangi kecepatan kereta, apalagi mengerem-nya. Benturan yang sangat keras akan segera terjadi pada tikungan yang akan dilaluinya – yaitu ketika kereta Dollar/Debt Express ini harus bertabrakan dengan realitas ekonomi.

Kereta akan musnah karena dia melaju pada 2 rel kehancuran. Rel pertama namanya fiscal policy, dan rel ke-2 bernama monetary policyFiscal policy menyangkut kebijakan anggaran yang ditempuh pemerintah yang boros dan mengeluarkan uang tidak pada tempatnya – seperti perang Iraq diatas, sedangkan monetary policy menyangkut apa yang dilakukan oleh Federal Reserve – yang keduanya mendorong supply uang kertas yang terus bertambah.

Ketika supply uang sangat banyak, namun kepercayaan di pasar sudah runtuh oleh berbagai kasus seperti real estate bubble yang memicu credit contraction 2 tahun terakhir; maka uang tersebut sejatinya tidak menggerakkan sector riil. Maka selanjutnya yang akan terjadi adalah apa yang disebut stagflation stagnation and inflation.

Ekonomi tidak tumbuh, otomatis lapangan kerja tidak tersedia – uang dicetak banyak tetapi tidak bisa diperoleh oleh masyarakat – dan kalau masyarakat-pun akhirnya mendapatkan uang tersebut – uang ini memiliki daya beli yang rendah karena inflasi yang sangat tinggi.

Ludwig von Mises (1881-1973)

Ludwig von Mises (1881-1973)

Yang terjadi selanjutnya lagi menurut penulis adalah The Crack-up Boom atau ledakan kehancuran; dimana penulis mengambil kata-kata dari ekonom besar Ludwig von Mises untuk menggambarkannya sebagai berikut:

Masyarakat akhirnya akan sadar pada suatu fakta bahwa inflasi adalah kebijakan yang disengaja (deliberate policy) yang akan terus berulang tiada akhir (go on endlessly); ketika ledakan kesadaran ini muncul serentak, semua orang ingin secepatnya menukar uang yang dipegangnya dengan benda riil – tidak perduli mereka membutuhkannya atau tidak, tidak perduli pula berapa banyak uang kertas yang mereka butuhkan untuk ditukarkan ke benda riil tersebut.

Dalam waktu yang sangat singkat, dalam bilangan minggu atau bahkan hari, apa yang dahulunya disebut sebagai uang, kini tidak lagi berlaku sebagai alat tukar. Uang kertas telah menjadi kertas bekas, yang orang tidak lagi mau menukar barang apapun dengan kertas bekas ini.

Inilah yang sudah pernah terjadi di Amerika tahun 1781 dengan uang Continental, di Perancis tahun 1796 dengan uang Territoriaux dan dengan uang Mark Jerman pada tahun 1923. Kejadian serupa akan terjadi lagi bila kondisi yang sama muncul.

Setelah menulis prediksi yang mengerikan di Bab III tersebut; penulis menghibur bangsa Amerika di Bab IV yaitu solusi menghadapi krisis ini. Apa yang dia sarankan? Tidak sulit menduganya; dia menyarankan untuk melindungi asset diri dan keluarga hendaknya warga Amerika berinvestasi pada emas, perak, minyak, bahan-bahan kebutuhan pokok seperti produk pertanian dan sejenisnya.

Dalam kesimpulan akhirnya penulis ini juga menjelaskan prediksinya akan uang alternatif yang kedepannya akan sangat dominan perannya yaitu apa yang dia sebut sebagai Digital Gold Currency; yang dia jadikan contoh adalah GoldMoney yang sudah mulai ada di pasar sejak tahun 2001. Sayang si penulis nampaknya belum mengenal M-Dinar ; kalau seandainya dia sudah mengenal M-Dinar ini, dia akan tahu betapa dekat prediksi dia dengan realita di hampir seluruh penjuru dunia.

Isi buku karya Charles Goyette ini memang sangat dekat dengan pemikiran utama di DinarIslam.com; bukan karena kami nyontek dia (karena tulisan-tulisan kami lahir lebih dulu dari tulisan dia!), bukan pula sebaliknya dia nyontek pemikiran kami (kecil sekali kemungkinannya dia membaca dan memahami DinarIslam.com!) ; tetapi adalah karena sifat kebenaran yang fitrah.

Ketika kami mengungkapkan kebenaran dari sudut pandang keIslaman kami yang berasal dari Qur’an dan Hadits (misalnya Riba yang pasti dihancurkan Allah QS 2: 276) ;  orang lain yang mengkaji kebenaran berdasarkan ilmunya dengan jujur seperti Charles Goyette – kemungkinan besarnya memang akan berkesimpulan yang sama dengan kesimpulan kami tersebut.

Jadi kalau di Al-Qur’an sudah dikabarkan bahwa Riba akan dihancurkan oleh Allah (QS 2 :276), kemudian secara ilmiah oleh Charles Goyette juga disimpulkan yang sama bahwa Dollar nan ribawi akan hancur – maka apakah kita masih akan percayai US Dollar? Maukah kita naik kereta Dollar/Debt Express menuju tempat yang namanya The Crack-up Boom? Saya rasa tidak. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Prediksi Harga Emas Mengikuti Deret Fibonacci


Bahwasanya uang kertas yang menjadi salah satu pangkal Riba pasti hancur, ini sudah dijanjikan Allah dalam surat Al Baqarah (2) 276: Allah Memusnahkan Riba dan Menyuburkan Shadaqah…”.

Namun karena para ekonom dan ilmuwan sering mengabaikan peringatan Al-Qur’an dan mengandalkan teori dan analisa ilmiah semata, maka pada tulisan ini saya berusaha menjelaskan proses ilmiah kehancuran mata uang kertas (US Dollar, Rupiah atau apapun namanya) dengan menggunakan analisa statistik harga Dinar dalam Rupiah dan US$ untuk jangka waktu beberapa tahun terakhir.

Dalam Ilmu Statistik ada yang dikenal sebagai Deret Fibonacci, yaitu deret angka-angka 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89,144, 233, 377, 610, 987, 1597, 2584, 4181, 6765, dst. Angka-angka ini dihasilkan dengan cara menjumlahkan 2 angka sebelumnya menjadi angka berikutnya. Contoh angka 5 adalah 2+3 ; angka 8 adalah 5+3, dst.

Apa istimewanya bilangan tersebut? Coba Anda bagi mulai angka 34:21 kemudian 55:34 gunakan kalkulator Anda dan set menjadi 3 digit di belakang koma – maka hasil pembagian akan menjadi angka 1.618. Begitupun angka-angka sesudahnya apabila dibagi dengan angka sebelumnya hasilnya akan menuju angka 1.618 tersebut.

Nah sekarang sebaliknya, bagi angka sebelumnya dengan angka sesudahnya… maka Anda akan selalu mendapatkan hasil angka 0.618.

Lantas apa istimewanya angka 1.618 dan 0.618 ini? Ternyata angka ini banyak sekali kita jumpai di alam dan di tubuh kita. Barangkali ini antara lain yang diperintahkan Allah kepada kita untuk berpikir dalam surat Adz-Dzaariyaat (51) 21: “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. Ternyata bilangan tersebut juga digunakan Allah untuk menciptakan keindahan tubuh kita.

Coba ukur bagian tubuh Anda di area-area berikut, maka Anda akan menjumpai angka Fibonacci tersebut:

  1. Jarak antara ujung jari dan siku/jarak antara pergelangan tangan dan siku.
  2. Jarak antara garis bahu dan ujung atas kepala/panjang kepala.
  3. Jarak antara pusar dan ujung atas kepala/jarak antara garis bahu dan ujung atas kepala.
  4. Jarak antara pusar dan lutut/jarak antara lutut dan telapak kaki.
  5. dst.

Lantas apa hubungannya ini semua dengan kehancuran Rupiah dan Dollar?

Allah menjanjikan keteraturan di bumi ini; coba perhatikan ayat berikut “Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah”. (QS. Al-Mulk (67): 3-4).

Dengan keteraturan pulalah Allah menghancurkan apa-apa yang di bumi, termasuk dalam memusnahkan Riba tersebut. Bahkan proses terjadinya kiamat-pun terurai secara rinci di Al-Quran dan Al Hadits, kejadiannya tahap demi tahap.

Di pasar modal, tahun 1937 ada ekonom yang terkenal Ralph Nelson Elliot yaang memperkenalkan teori gelombang yang disebut Elliot Wave Theory. Intinya naik turunnya harga saham juga mengikuti Deret Fibonacci tadi. Apabila kita bisa mengetahui kapan puncak yang satu, maka puncak berikutnya akan mendekati 1.618 kali puncak sebelumnya.

Prediksi Harga Emas Mengikuti Deret Fibonacci

Prediksi Harga Emas Mengikuti Deret Fibonacci

Berdasarkan teori Deret Fibonacci ini,  maka harga emas akan melalui puncak angka di kisaran US$ 1,630-an dahulu, turun lagi – baru naik kembali ke angka di kisaran US$ 2,600-an dst…

Tetapi kapan ini terjadi? Wa Allahu A’lam, berdasarkan rentang Fibonacci 1 yang hanya 8 bulan, maka Fibonacci 2 bisa jadi dalam waktu dekat… sekali lagi hanya Allah yang tahu ilmu masa depan ini, saya sekedar berusaha memahami fenomena yang sedang terjadi.

Mengapa angka US$ 1,630-an (atau tepatnya angka US$ 1,636) yang saya pilih? Karena angka tertinggi sebelumnya yang sudah terjadi adalah angka US$ 1,011/troy oz yang terjadi pada tanggal 17 Maret 2008 lalu. Bilangan Fibonacci 1.618 dikalikan US$ 1,011/troy oz jadinya US$ 1,636/troy oz.

Analisa kwantitatif semacam ini tentu tidak afdhol bila tidak didukung analisa kwalitatif, yang dapat dilihat pada tulisan saya sebelumnya bahwa mengapa US$ (dan uang kertas lainnya) akan cenderung memburuk – yang berarti semua benda riil terutama emas akan terus naik harganya.

Saya bisa saja keliru dalam membuat prediksi ini, tetapi yang jelas saya lebih percaya pada emas dibandingkan US$ ataupun berbagai mata uang kertas lainnya – terutama dalam krisis yang seperti sumur tanpa dasar ini. Wa Allahu A’lam.

*Catatan: Di pasar Internasional yang pernah secara ringkas menggunakan Deret Fibonacci untuk analisa harga emas adalah Gold Price Organization, Ilmu duniawinya tulisan ini diilhami oleh analisa di situs mereka www.goldprice.org – saya hanya berusaha menambahkan sudut pandang saya sebagai seorang muslim melihat fenomena tersebut.

Disclaimer:

Meskipun seluruh tulisan dan analisa di website ini adalah produk dari kajian yang hati-hati dan dari sumber-sumber yang umumnya dipercaya di dunia bisnis, pasar modal dan pasar uang; kami tidak bertanggung jawab atas kerugian dalam bentuk apapun  yang ditimbulkan oleh penggunaan analisa dan tulisan di website ini baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menjadi tanggung jawab pembaca sendiri untuk melakukan kajian yang diperlukan dari sumber website ini maupun sumber-sumber lainnya, sebelum mengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan investasi emas, Dinar maupun investasi lainnya.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: -1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Musibah Terjadi Lagi: Waktunya Untuk Beristighfar dan Terus Beristighfar


“Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari”. (QS 16 :26)
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. (QS 8 : 33)
Belum satu bulan negeri ini dikejutkan oleh gempa skala besar (7.3 skala Richter)  di Tasikmalaya dan sekitarnya (02/09/09), kembali negeri ini diguncang oleh gempa yang tidak kalah dasyatnya ( 7.6 skala Richter) di Padang dan sekitarnya kemarin (30/09/09). Para ahli tentu dengan mudah bisa menjelaskan apa dan bagaimana gempa ini sehingga saya tidak perlu menguraikan tentang gempa ini sendiri.
Yang perlu kita renungkan secara sangat-sangat serius adalah mengapa sampai gempa dan berbagai musibah lain seolah tidak henti-hentinya menghujani negeri ini ?. Padahal tuntunan kita yang agung Al-Qur’an Al Karim telah memberikan formulanya untuk ini, baik mengenai penyebab maupun solusi untuk mengatasinya.
Beberapa jam setelah gempa semalam, saya ngobrol sampai larut dengan sahabat saya Dr. Adian Husaini dan beberapa teman lainnya membicarakan antara lain masalah gempa ini. Kesimpulan kita sederhana, kembali ke Al-Quran –lah jawabannya. Dua ayat tersebut diatas yang pertama menjelaskan mengapa gempa dan musibah lain menimpa kita; Ayat yang kedua menjelaskan bagaimana kita bisa menghindari musibah yang terus berulang ini.
Bila menurut Al-Qur’an gempa ditimpakan ke kaum yang melakukan makar kepada Allah, maka instrospeksinya adalah bangsa ini harus memahami ke-makaran apa yang telah dilakukan secara rame-rame ?. Makar artinya mengambil hak – makar kepada Allah artinya mengambil hak atau melawan Allah – berikut adalah contoh-contoh area yang perlu kita renungkan.
Allah melarang kita makan riba, bila kita terus melakukannya Allah dan RasulNya menyatakan perang kepada kita (QS 2 : 279). Porsi ekonomi syariah khususnya sektor keuangan di Indonesia masih sekitar 2.5%; lantas berarti ekonomi kita 97.5%-nya adalah Riba ?. Keimanan kita menyatakan bahwa kebenaran Al-Quran’an abadi, dan janji Allah pasti benarnya. Lantas bila kenyataannya dalam bidang finansial saja 97.5% kita memenuhi syarat untuk diperangi Allah dan RasulNya yang diancamkan dalam ayat tersebut, apakah Allah tidak akan melakukannya ?.
Belum lagi kalau kita masuk masalah-masalah hukum, kesusilaan, keadilan ekonomi, perlakuan terhadap orang miskin dan ekonomi lemah dlsb.dlsb.; maka kita akan dapati negeri ini penuh kemungkinan untuk mendapatkan azabnya.
Namun Allah juga Maha Pengasih, Maha Pengampun – kasih sayangNya jauh melebihi kemurkaanNya. Maka kita juga sangat besar kemungkinannya untuk tidak di azab bahkan juga diampuni, syaratnya kita mau mohon ampun atau beristigfar seperti yang di-resep-kan di ayat diatas.
Untuk bisa di-ampuni inipun Allah memberikan resep berikutnya dalam ayat berikut : “Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya); sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 16 :119)
Mari kita bantu dengan sekuat tenaga saudara-saudara kita yang terkena musibah – yang bisa jadi timbul karena kesalahan kita semua, selanjutnya juga mari kita cegah timbulnya musibah-musibah lain dengan cara yang sudah ditunjukkanNya – yaitu banyak-banyak mohon ampun…Astagfirullah hal Adzim… Astagfirullah hal Adzim… Astagfirullah hal Adzim…

“Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.” (QS. An-Nahl (16): 26)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfaal (8): 33)

Belum 1 bulan negeri ini dikejutkan oleh gempa bumi skala besar (7.3 skala Richter)  di Tasikmalaya dan sekitarnya (02/09/09), kembali negeri ini diguncang oleh gempa yang tidak kalah dasyatnya (7.6 skala Richter) di Padang dan sekitarnya kemarin (30/09/09). Para ahli tentu dengan mudah bisa menjelaskan apa dan bagaimana gempa ini sehingga saya tidak perlu menguraikan tentang gempa ini sendiri.

Yang perlu kita renungkan secara sangat-sangat serius adalah mengapa sampai gempa dan berbagai musibah lain seolah tidak henti-hentinya menghujani negeri ini? Padahal tuntunan kita yang agung Al-Qur’an Al Karim telah memberikan formulanya untuk ini, baik mengenai penyebab maupun solusi untuk mengatasinya.

Beberapa jam setelah gempa semalam, saya ngobrol sampai larut dengan sahabat saya Dr. Adian Husaini dan beberapa teman lainnya membicarakan antara lain masalah gempa ini. Kesimpulan kita sederhana, kembali ke Al-Qur’an –lah jawabannya. Dua ayat tersebut di atas yang pertama menjelaskan mengapa gempa dan musibah lain menimpa kita; Ayat yang kedua menjelaskan bagaimana kita bisa menghindari musibah yang terus berulang ini.

Bila menurut Al-Qur’an gempa ditimpakan ke kaum yang melakukan makar kepada Allah, maka instrospeksinya adalah bangsa ini harus memahami ke-makaran apa yang telah dilakukan secara rame-rame? Makar artinya mengambil hakmakar kepada Allah artinya mengambil hak atau melawan Allah – berikut adalah contoh-contoh area yang perlu kita renungkan.

Allah melarang kita makan riba, bila kita terus melakukannya Allah dan RasulNya menyatakan perang kepada kita (QS. Al-Baqarah (2): 279). Porsi ekonomi syariah khususnya sektor keuangan di Indonesia masih sekitar 2.5%; lantas berarti ekonomi kita 97.5%-nya adalah Riba? Keimanan kita menyatakan bahwa kebenaran Al-Qur’an abadi, dan janji Allah pasti benarnya. Lantas bila kenyataannya dalam bidang finansial saja 97.5% kita memenuhi syarat untuk diperangi Allah dan RasulNya yang diancamkan dalam ayat tersebut, apakah Allah tidak akan melakukannya?

Belum lagi kalau kita masuk masalah-masalah hukum, kesusilaan, keadilan ekonomi, perlakuan terhadap orang miskin dan ekonomi lemah, dlsb; maka kita akan dapati negeri ini penuh kemungkinan untuk mendapatkan azabNya.

Namun Allah juga Maha Pengasih, Maha Pengampun – kasih sayangNya jauh melebihi kemurkaanNya. Maka kita juga sangat besar kemungkinannya untuk tidak diazab bahkan juga diampuni, syaratnya kita mau mohon ampun atau beristighfar seperti yang di-resep-kan di ayat di atas.

Untuk bisa diampuni inipun Allah memberikan resep berikutnya dalam ayat berikut: “Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya); sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl (16): 119)

Mari kita bantu dengan sekuat tenaga saudara-saudara kita yang terkena musibah – yang bisa jadi timbul karena kesalahan kita semua, selanjutnya juga mari kita cegah timbulnya musibah-musibah lain dengan cara yang sudah ditunjukkanNya – yaitu banyak-banyak mohon ampun… Astagfirullah hal Adzim… Astagfirullah hal Adzim… Astagfirullah hal Adzim…

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Islamic ViewComments (1)

Financial Freedom: Sudahkah Kita Merdeka?


Kemarin tanggal 17 agustus 2009, 64 tahun sejak Indonesia merdeka. Seluruh negeri hiruk pikuk dengan perbagai peringatan, rumah-rumah dan kantor-kantor berhias, anak-anak ceria dengan berbagai lomba. Pertanyaannya adalah “Apakah kita sudah benar-benar merdeka?”, oke kemerdekaan ini terlalu luas maknanya kalau kita mau tulis semua, maka yang relevan dengan tema sentral situs ini adalah keuangan – maka pertanyaannya saya persempit “Sudahkah kita merdeka dari sisi financial?”.

Pertama yang akan saya jadikan tolok ukur kemerdekaan adalah definisi kemerdekaan yang terlontar dari seorang prajurit Islam Rub’i  bin Amir - ketika berhadapan dengan panglima Persia – Rustum : “Sungguh Allah mengutus kami, agar kami memerdekakan manusia dari mengabdikan diri pada sesama manusia kepada mengabdikan diri kepada Allah, dari kezaliman agama (di luar Islam) kepada keadilan Islam dan dari kesempitan dunia kepada keluasan dunia dan akhirat.”

Hanya diri kita sendiri yang tahu, ketika kita bekerja untuk menafkahi diri kita dan keluarga – apakah kita terpaksa ‘mengabdi’-kan diri pada tempat kerja kita – atau kita tetap teguh hanya mengabdikan diri kepada Allah semata. Insya Allah kita hanya mengabdikan diri kepada Allah semata bila segala perintah dan laranganNya kita patuhi, sebaliknya kita me’-ngabdi-’kan diri pada pekerjaan kita bila yang kita ikuti adalah perintah dan larangan tempat kita bekerja.

Bila keduanya berjalan seiring, ini yang kita harapkan semua. Namun tes-nya justru terjadi ketika keduanya tidak berjalan seiring – mana yang kita pilih itulah fokus pengadian kita. Berikut adalah tes sederhana yang bisa kita pakai untuk muhasabah kepada siapa kita mengabdi :

  1. Tempat kerja saya sebagian pendapatannya atau seluruhnya berasal dari riba, jadi gaji yang saya terima juga berasal (sebagian) dari riba.
  2. Tempat kerja saya sering harus melakukan apa yang dilakukan perusahaan lain dalam memperoleh pekerjaannya seperti harus menyuap, harus kolusi dan sejenisnya.
  3. Perusahaan saya terlibat dalam kegiatan yang bersifat untung-untungan (gharar) atau bahkan cenderung mirip perjudian (maisir).
  4. Pekerjaan saya sering membuat saya lalai untuk melaksanakan sholat di awal waktu.
  5. Perusahaan saya sering tidak jujur dan tidak adil pada stakeholders (pemegang saham, nasabah, karyawan dlsb).
  6. Saya takut kehilangan pekerjaan saya sekarang sampai terkadang saya harus mendahulukan pekerjaan – ketimbang melaksanakan panggilan Allah (untuk sholat, untuk berbuat adil, dslb).
  7. Saya merasa tergantung rizki saya pada perusahaan/institusi tempat saya bekerja.
  8. Atasan-atasan saya banyak melanggar peraturan agama (syariah), tetapi saya tetap patuhi perintahnya meskipun hati kecil saya menolak.
  9. Banyak kemaksiyatan yang terlibat dalam konteks pekerjaan saya, tetapi tetap saya laksanakan demi untuk tercapainya target pekerjaan saya.
  10. Saya harus sering mengobral janji dan bahkan juga berbohong demi terlaksananya tugas pekerjaan saya.

Bila satu saja dari statements tersebut di atas cocok dengan diri kita, maka ada kemungkinan kita belum mengambdi kepada Allah semata. Kita masih terlibat dalam kesempitan dunia dan belum melihat keluasan dunia dan akhirat.

Dari sudut pandang Islam,  kemerdekaan financial baru bisa kita capai bila dalam mencari rizki kita – kita tidak harus melaksanakan sesuatu yang bertentangan dengan syariah. Lantas bagaimana kalau kita sekarang masih berada pada posisi ‘mengabdi’ pada pekerjaan tersebut dan belum merdeka yang ditunjukkan oleh pengabdian kepada Allah semata?

Pertama kita harus punya niat yang sangat kuat untuk meninggalkan pekerjaan yang sekarang dan berganti kepada pekerjaan yang sejalan dengan target pengabdian kepada Allah semata. Kedua kita harus mempunyai target waktu, sehingga dengan ini mudah-mudahan bisa menunjukkan kesungguhan kita untuk menuju jalan Allah dan untuk mendapatkan kemudahan dariNya.  Kalau target waktu ini tidak kita buat, bisa-bisa tanpa terasa  kita baru meninggalkan pekerjaan tersebut setelah terpaksa karena pensiun – bagaimana kalau kita dipanggil sebelum waktu itu? naudzubillahi min dzalik.

Mari kita maknai kemerdekaan kali ini dengan hakekat kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu merdeka dari mengabdi ke sesama hamba – ke mengabdi hanya kepada Allah semata. Bila saat ini kita belum merdeka, marilah kita raih kemerdekaan sejati tersebut. Merdeka!!!

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (1)


Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes