Tag Archive | "Republika"

Jalan Yang Mendaki Lagi Sukar


Harian Republika edisi kemarin Rabu 21 Juli 2010 memuat data statistik yang sepintas menggembirakan, yaitu statistik Produk Domestik Bruto Per Kapita dalam 10 tahun terakhir yang naik hampir 4 kalinya. Statistik yang diambil dari BPS ini menunjukkan bahwa pada tahun 2000 PDB Per Kapita kita hanya Rp 6,751,000, akhir tahun lalu (2009) angka ini telah mencapai Rp 24,261,000.

Bertambah makmur kah rata-rata rakyat Indonesia selama 10 tahun terakhir ini? Di sinilah masalahnya. Bila kita melihat angka dalam Rupiah tersebut di atas yang kemudian saya sajikan ulang secara grafik di bawah, seharusnya kita telah jauh bertambah makmur selama 10 tahun terakhir.

PDB Per Kapita dalam Rupiah

PDB Per Kapita dalam Rupiah

Tetapi kenyataan yang dirasakan oleh mayoritas rakyat mungkin berbeda dengan grafik tersebut. Perasaan hidup terasa tambah berat karena barang-barang kebutuhan yang semakin mahal ? sangat bisa dipahami karena mungkin memang itulah yang terjadi di lapangan.

Untuk dapat melihat realita ini secara akurat, lagi-lagi Islam punya tools-nya yaitu Nishab Zakat. Orang yang penghasilannya melebihi Nishab Zakat dianggap mampu dan dia harus bayar zakat. Sebaliknya, yang penghasilannya di bawah Nishab Zakat dia berhak untuk menerima uang zakat. Nishab Zakat ini dinyatakan dalam Dinar yaitu 20 Dinar.

Bila PDB Per Kapita kita anggap merepresentasikan penghasilan penduduk Indonesia rata-rata; maka ketika grafik di atas saya konversikan dengan Dinar hasilnya akan seperti pada grafik di bawah.

PDB Per Kapita dalam Dinar

PDB Per Kapita dalam Dinar

Selama 10 tahun terakhir, hanya 2 tahun dimana PDB Per Kapita kita mampu melampaui Nishab Zakat yaitu tahun 2001 (20.35 Dinar) dan 2002 (21.20 Dinar). Tahun-tahun berikutnya cenderung menurun dan terendah tahun 2009 yang tinggal 16.55 Dinar. Apa maknanya PDB Per Kapita yang di bawah Nishab Zakat ini? Artinya rata-rata penduduk negeri ini berhak menerima zakat dan belum wajib zakat.

Maknanya adalah rata-rata penduduk negeri ini masih tergolong miskin menurut standar Islam, dengan timbangan yang kita yakini akurat sepanjang zaman yaitu Nishab Zakat yang 20 Dinar tersebut.

Namun realita ini tidak perlu membuat kita bersedih atau berkecil hati karena kemiskinan tidak teratasi dengan hanya bersedih, bahkan akan bertambah parah bila kita berkecil hati. Yang kita perlukan adalah setelah sadar akan realita ini adalah apa yang bisa kita perbuat untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.

Inilah peluang itu, kini terbuka peluang lebar bagi kita untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar untuk bisa berbuat sesuatu dalam ikut memerangi kemiskinan. Membangun usaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya tentu tidak mudah, lebih mudah bekerja di perusahaan atau instansi yang mapan ? dengan berbagai fasilitasnya.

Namun kalau mayoritas kita berpikiran demikian lantas tugas siapa untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya ini? Tugas pemerintahkah? Para pemimpin negeri ini tentu akan ditanya nanti atas kepemimpinannya, namun kita sebagai individu juga akan tetap ditanya atas apa yang kita lakukan.

Ayat-ayat di bawah bukan hanya ditujukan untuk para pemimpin negeri ini, tetapi untuk kita semua. Punya jawabankah kita bila waktunya kelak kita ditanya akan hal ini?

?????????????? ????????????? (???) ????? ????????? ??????????? (???) ????? ?????????? ??? ??????????? (???) ????? ???????? (???) ???? ??????????? ??? ??????? ??? ??????????? (?(??

?Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan,? (QS. Al-Balad (90): 10-14)

Posted in Islamic ViewComments (0)

Banjir Dollar 2010: Apa Dampaknya Pada Harga Emas Dunia?


Hari ini ada tulisan menarik di harian Republika (11/01/10) dengan judul Meraba Likuiditas 2010.  Dalam tulisan ini antara lain dikutip pernyataan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa tahun 2010 akan diwarnai ?banjir? Dollar AS dalam jumlah yang sangat besar, mencapai US$ 2.4 trilyun!

Saya berasumsi bahwa sebagai Menteri Keuangan, Ibu Menteri tentu tidak sembarang mengeluarkan pernyataan. Pernyataannya sudah seharusnya didasari oleh pengetahuan yang sangat dalam dan disupport oleh team yang juga sangat menguasai bidangnya. Maka saya dalam tulisan ini menganggap pernyataan tersebut sebagai prediksi yang peluang kebenarannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peluang kelirunya.

Dengan asumsi bahwa benar tahun 2010 Dollar AS akan membanjiri pasar internasional, lantas apa dampak ?banjir? Dollar tersebut pada harga emas dunia? Untuk menjawab pertanyaan ini saya menggunakan Teori Kwantitas yang terkenal dengan Equation of Exchange-nya seperti dalam rumus di atas.

M adalah jumlah uang yang beredar, berdasarkan pernyataan Ibu Menteri tersebut di atas, maka M inilah yang akan melonjak tinggi di tahun ini 2010. V adalah kecepatan uang berputar, para ahli secara umum meragukan akan ada perubahan yang berarti karena ekonomi secara global sesungguhnya belum benar-benar pulih dari krisis sejak tahun lalu.

Karena V yang tidak berputar lebih cepat dari sebelumnya, output sektor riil berupa barang dan jasa (Q) juga tidak akan banyak berubah. Bila dalam satu persamaan, sisi kiri melonjak tajam ? maka sisi kanan juga akan mengikuti. Karena satu unsur di sisi kanan akan relatif tetap (Q), maka tinggal satu unsur lagi di sisi kanan yang bisa mengimbangi kenaikan M di sisi kiri. Unsur ini adalah P atau tingkat harga barang-barang dan jasa secara umum.

Jadi melonjaknya jumlah Uang US$ di pasar tahun ini, yang kemungkinan besarnya tidak diikuti oleh kenaikan output sektor riil yang sepadan ? akan berdampak pada naiknya harga barang dan jasa secara significant ? dalam satuan mata uang US$.

Harga emas internasional selama ini masih dibeli (dinilai) dengan US$; maka harga emas dalam US$ juga akan mengalami kenaikan yang siginificant sepanjang tahun ini sejalan dengan kenaikan harga-harga barang dan jasa lainnya.

Harga emas pada pembukaan di pasar Sydney pagi ini yang melonjak sampai angka US$ 1,156.90/Oz bisa jadi adalah bagian dari symptoms ?banjir? Dollar AS tersebut di atas. Wa Allahu A?lam.

Posted in Financial PlanComments (0)

Dicari: Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang


Allahumma innii a?udzubika minal hammi wal khazan, wa a?udzubika minal ?adzji wal kasal, wa a?udzubika minal jubni wal bukhl, wa a?udzubika min ghalabati al-daini wa khohri al rijaal.

?Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.?

Kalau saja hutang itu baik untuk membangun negeri, mungkin kita tidak diajari oleh Uswatun Hasanah kita untuk berlindung dari lilitan hutang seperdi do?a yang matsur (dicontohkan) tersebut di atas setiap pagi dan petang. Tetapi karena hutang ini bisa melilit kita dan membuat kita terjebak dalam tekanan orang lain, maka penting sekali bagi kita untuk berlindung dari hutang ini.

10 tahun lalu ekonomi negeri ini porak poranda sampai uang kita tinggal bernilai 1/4-nya, antara lain penyebabnya adalah besarnya hutang luar negeri kita. Kebutuhan akan Dollar yang begitu tinggi dibandingkan dengan kemampuan kita untuk menghasilkan Dollar telah menyebabkan mata uang Dollar naik lebih dari 4 kali lipat selama krisis.

Kini kesalahan yang sama terulang ? seolah kita begitu mudah melupakan kesalahan sebelumnya. Kalau keledai saja tidak terperosok dalam lubang yang sama 2 kali, kita bisa terperosok ke lubang yang sama berulang-ulang.

Prihatin saya membaca berita di Republika yang mengungkap hutang korporasi kita telah mencapai kisaran US$ 50 ? 60 milyar, sedikit saja dibawah hutang negara yang mencapai US$ 62 milyar.  Yang lebih menyedihkan lagi adalah jumlah hutang yang akan jatuh tempo tahun ini saja akan mencapai US$ 17.4 Milyar, jumlah yang berpotensi untuk menggerus cadangan devisa kita yang per maret hanya US$ 53.7 Milyar.

Seingat saya pada saat kita mengalami krisis dulu, ada komitmen  (pemimpin) negeri ini untuk mengawasi hutang-hutang swasta ke luar negeri ini; Wallahu A?lam ? apakah pengawasan tersebut jalan? Siapa yang bertanggung jawab untuk ini? Mengapa rakyat seperti kita harus sering-sering terkejut dengan masalah yang sudah sangat serius dan akhirnya hanya menjadi korban?

Besar kemungkinan masalah-masalah semacam ini akan terus berulang selama kita masih salah dalam memilih uswah (contoh); Kalau Rasulullah SAW ? Uswatun Hasanah kita memberi contoh utnuk berlindung dari hutang seperti dalam do?a tersebut diatas; negeri ini lebih suka mencontoh guru-gurunya yang di barat yang mengajarkan hutang itulah solusi.

Ben BernankeChairman dari the Federal Reserve yaitu bank sentralnya Amerika yang menjadi contoh/rujukan bank-bank sentral dari negara-negara di dunia mencontohkan bahwa dalam prediksinya negeri itu akan bisa bebas dari resesi akhir tahun ini atau awal tahun depan dengan syarat Perbankan Mau Meminjamkan Lebih Banyak Dana Secara Bebas?!. Artinya lebih banyak hutang ditebar?.

Sekarang ada 2 contoh, yang satu Uswatun Hasanah kita mengajarkan kita untuk berlindung dari hutang pagi dan petang (artinya semaksimal mungkin menghindar dari hutang). Yang kedua Ben Bernanke yang merepresentasikan ekonomi dunia saat ini yang mendorong banyak-banyak hutang, lantas siapa yang yang seharusnya kita pilih sebagai contoh?

Sudah seharusnya kita pilih contoh dari  Uswatun Hasanah kita Rasulullah SAW; pertanyaan berikutnya adalah  apa bisa proyek-proyek besar negeri ini di danai tanpa hutang? Jawabannya adalah pasti bisa! Agama ini adalah agama akhir zaman, uswah kita adalah Nabi Akhir Zaman ? maka solusinya pasti valid sampai akhir zaman.

Contoh yang sudah kita mulai adalah pencetakan Dinar (emas) yang kita sebar luaskan ke masyarakat; meskipun modal kita tidak banyak ? alhamdulillah kita bisa terus mencetak Dinar yang dibutuhkan oleh masyarakat tanpa sedikitpun ?hutang? seperti dalam pengertian bisnis konvensional. Solusi Qirad atau Mudharabah sudah cukup bagi kami untuk terus dapat berkarya memenuhi kebutuhan yang ada di masyarakat.

Contoh lain adalah krisis daging nasional. Untuk menurunkan kebutuhan daging impor tinggal 10% saja seperti tagetnya Departemen Pertanian RI untuk tahun 2010 misalnya, negeri ini membutuhkan 2.5 juta tambahan sapi dalam 2 tahun kedepan. Bagaimana mengatasi kekurangan ini? Pendekatan konvensionalnya adalah cari pemodal besar yang dia tidak harus punya uang ? toh bisa pinjam bank! untuk memodali pengadaan bibit sapi yang dibutuhkan; maka peluang besar penambahan 2.5 juta sapi tersebut akan menjadi kesempatan bagi pemodal besar. Kelak kalau dia tidak bisa mengembalikan pinjamannya ? rakyatlah yang jadi korban dengan kredit macet perbankan, atau tergerusnya devisa bila pinjaman tersebut adalah pinjaman luar negeri.

Bagaimana kalau pendekatannya kita ubah sekarang; bukan mengandalkan pemodal besar tetapi mengandalkan pemodal individual yang kita mitrakan dengan peternak sapi yang juga individual ? bukan korporasi. Kalau saja satu orang individu yang terlatih dapat mengelola 5 sapi, kemudian masing-masing investor individu juga dapat berinvestasi rata-rata 5 ekor sapi ; maka problem daging nasional tersebut kini berubah menjadi kesempatan baru bagi 500,000 peternak dan 500,000 investor individual!!!

Teorikah ini? insya Allah tidak terbatas teori, kita akan terus mencari jalan agar ide-ide kita tidak berhenti di tataran teori semata. Insya Allah.

Posted in Business OpportunityComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes