Tag Archive | "puasa"

Empathy dan La Défense a la Indonesia


Empathy berasal dari bahasa Yunani Empatheia yang artinya secara ringkas adalah kemampuan untuk dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain ? secara emosi, pengalaman maupun perasaan. Bulan puasa sebenarnya adalah bulan yang tepat bagi kita semua untuk melatih diri kita masing-masing, agar kita mampu ber-empathy terhadap apa yang dialami orang-orang lain yang tidak seberuntung kita-kita yang terbiasa mengakses internet ini.

Bagi kita lapar hanya siang hari, itupun kebanyakan hanya selama sebulan Ramadhan ini. Di negeri yang rata-rata penduduknya masih di bawah garis kemiskinan menurut standar Islam yaitu di bawah Nishab Zakat ini, berjuta-juta orang bisa jadi lapar dalam kondisi kesehariannya, siang dan malam sepanjang tahun. Kebanyakan kita tidak bisa ikut merasakan apa yang mereka alami secara perasaan dan emosi karena kita belum mampu melatih empathy kita terhadap mereka.

Segelintir orang-orang hebat di sekitar kita, mampu ber-empathy ini secara penuh ? bahkan ketika mereka sering menangis pun bukan karena merasa kesedihan untuk dirinya sendiri; mereka menangis karena merasakan penderitaan orang-orang yang diurusnya. Mereka bukan pejabat yang kita pilih karena janji-janjinya untuk mensejahterakan rakyat, mereka tergerak untuk berbuat karena dorongan empathy tadi.

Kalau saja yang kita pilih sebagai para wakil kita, para pimpinan daerah sampai presiden adalah orang-orang yang mampu ber-empathy seperti suami istri yang saya ceritakan dalam tulisan “Belajar dari Orang Hebat Di Sekitar kita“, maka besar kemungkinan rakyat ini tidak ada lagi yang sampai harus kelaparan sepanjang tahun.

Mungkin karena salah kita sendiri, memilih orang-orang yang tidak mampu ber-empathy terhadap penderitaan rakyat sehingga baik wakil kita maupun pemimpin-pemimpin kita ? nampaknya memang tidak peduli dengan kita – rakyatnya. Ketika rakyat rame-rame menolak wakil kita membuat gedung baru misalnya, pagi ini untuk pertama kalinya saya lihat rancangan bangunan yang mulai disosialisasikan.

Entah ide siapa ini, tetapi sepintas nampaknya DPR kita ingin berkantor di kantor yang mirip dengan bangunan La Défense ? Paris, dikala rakyatnya masih banyak yang kelaparan. Lihat perbandingan design gedung baru DPR-RI dengan La Défense di atas ? mirip bukan? Mungkinkah ini oleh-oleh dari salah satu studi banding mereka?

empathyTetapi tidak ada gunanya juga kita menyesali pilihan kita terhadap wakil-wakil kita di DPR maupun pimpinan pemerintahan di daerah sampai pusat. Sebagai pribadi, sebagai karyawan swasta, sebagai pimpinan di perusahaan ? kita semua insya Allah masih bisa mengasah empathy kita untuk peka terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar ? antara lain melalui puasa Ramadhan ini..

Bila empathy ini tumbuh secara menjamur di masyarakat, maka insya Allah segala beban penderitaan bangsa ini akan bisa diatasi. Bila empathy tumbuh di masyarakat pula, maka insya Allah di tahun 2014 kelak ketika kita memilih wakil kita kembali dan juga pimpinan-pimpinan negeri ini ? kita bisa mendapatkan orang-orang yang tumbuh juga kemampuan nya untuk ber-empathy terhadap kita yang diwakili atau dipimpinnya.

Cukuplah uswatun hasanah kita Rasulullah SAW sebagai suri tauladan, kemampuan beliau ber-empathy terhadap umatnya sampai diceritakan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur?an: ?Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.? (QS. At-Taubah [9]: 128)

Posted in Islamic ViewComments (0)

Inspirasi Usaha: Menu Lezat Tanpa Batas Ruang & Waktu


Ada 2 makanan yang menurut saya sendiri sangat lezat di daerah Jakarta dan sekitarnya. Pertama adalah sop kaki kambing di sebuah restaurant arab di Jalan Raden Saleh. Saking lezatnya sop kaki kambing yang satu ini, tamu-tamu arab yang saya ajak makan disini pada keheranan ? karena menurut mereka di Arab sendiri tidak ada sop kaki kambing yang seenak ini. Bahkan ketika mereka balik kenegaranya, mereka pada cerita bahwa di Jakarta ada sop kaki kambing yang sangat lezat ? maka bertambahlah orang-orang arab manca negara yang mengenal restaurant ini dari waktu ke waktu.

Satu lagi adalah sop sapi dari restaurant kecil di dekat taman buah Mekarsari.  Saking banyaknya penggemar sop sapi dari warung nasi ini ? mereka hanya buka sekitar 3 jam setiap harinya yaitu jam makan siang 11-14.  Sebelum jam 11 mereka belum buka, setelah jam 14 ? dagangannya habis. Hari Sabtu dan Ahad mereka tutup karena nampaknya mereka hanya mentarget orang kantoran dan pabrik di sepanjang jalan alternatif Cibubur sampai Jonggol.

planet-beku-sop-daging-sop-igaBetapa-pun lezatnya, saya tidak bisa sering-sering makan kedua sop ini ? karena terkendala oleh 2 hal yaitu ruang dan waktu. Diperlukan perjalanan mobil 1.5 ? 3 jam (tergantung kemacetan Jakarta) dari rumah saya untuk sampai Raden Saleh tempat restaurant sop kaki kambing tersebut berada. Jadi saya hanya makan di restaurant ini bila sedang menghormati tamu-tamu arab saya.

Demikian pula hal-nya dengan sop sapi dari warung nasi dekat Mekarsari tersebut, saya hanya makan sop sapi yang istimewa ini bila sedang berada di daerah tersebut pada saat jam makan siang. Walhasil kedua sop yang sangat lezat ini jarang sekali bisa saya nikmati karena kendala ruang dan waktu tersebut di atas.

Di waktu sahur hari-hari pertama bulan Ramadhan seperti ini (saat tulisan ini saya buat), rasanya akan sangat enak kalau bisa makan salah satu dari sop tersebut ? tetapi apa boleh buat lokasi keduanya sangat jauh dan pasti mereka tidak buka pada jam sahur begini.

Namun alhamdulillah, sudah sekitar 10 bulan ini para peserta Pesantren Wirausaha angkatan I bekerja keras untuk memecahkan masalah kendala ruang dan waktu tersebut di atas. Hasilnya adalah project Planet Beku yang insya Allah siap trial-run di bulan Ramadhan ini juga.

Prinsipnya sederhana saja, bahwa teknik pembekuan bisa digunakan untuk hampir semua jenis makanan. Selain mudah, teknik ini juga tergolong aman sekali karena tidak menggunakan zat pengawet apapun. Makanan-makanan lezat yang dibekukan, akan dapat dikonsumsi kapanpun dan dimanapun, jadi kendala ruang dan waktu kini telah teratasi melalui teknik pembekuan.

planet-beku-sop-jamur-soto-dagingSelama tes pasar ini, insya Allah sudah tersedia 8 menu makanan lezat yang bisa dikonsumsi dimanapun dan kapan-pun (dalam tes masih di sekitar JaBoDeTaBek). Menu-menu tersebut adalah gulai kambing, rendang, sambel goreng ati, sop buntut, sop daging, sop iga, sop jamur dan soto daging. Foto-foto di halaman ini adalah label kemasan dari produk-produk awal Makanan Beku dari project Planet Beku ini.

Nampaknya project Makanan beku ini adalah sederhana; namun kalau bisa ditangani dengan baik ? insya Allah akan bisa membawa perubahan besar tidak terbatas pada aspek ekonomi tetapi juga menyangkut aspek sosial masyarakat.

Perubahan di aspek ekonomi yang dapat di-trigger oleh project Planet Beku ini antara lain adalah:

  1. Masyarakat luas bisa terlibat dalam project ini baik sebagi supplier, distributor, juru masak, penjualan, dlsb.
  2. Terbukanya peluang untuk ?buka restaurant? dengan initial cost yang sangat rendah. Secara harfiah Anda bisa benar-benar punya restaurant dengan masakan-masakan yang lezat tanpa harus memiliki seorang juru masak-pun, karena makanan bisa di-supply oleh Planet Beku dalam kondisi siap saji.
  3. Sebaliknya para jagoan masak, Anda bisa memiliki jaringan restaurant yang sangat luas tanpa harus membuka sendiri satu outlet-pun. Yaitu dengan membekukan hasil masakan Anda dan memasarkannya lewat jaringan Planet Beku, maka jadilah makanan olahan Anda menyebar ke berbagai tempat.
  4. Petani dan peternak akan memilik akses terhadap pasar yang lebih luas berupa commercial end-user yaitu para juru masak Planet Beku ini.
  5. Peluang maju bersama dengan sistem direct1st , dimana tidak ada satu pihak yang merupakan down-line atau up-line bagi yang lain.
  6. Tumbuhnya industri penunjang seperti produsen TAS Makanan Bekucold-chain distribution, dlsb.
  7. Dlsb.

planet-beku-sambel-goreng-ati-sop-buntutAspek sosialnya antara lain adalah:

  • Peluang bagi wanita karir; dia bisa fokus pada keahliannya sebagai dokter, akuntan, programmer, penulis, dlsb, tanpa dihantui beban harus bisa memasak enak untuk suami dan anak-anaknya. Makanan lezat yang siap saji selalu bisa disediakan dengan cepat kapan saja dan dimana saja.
  • Pembagian waktu menjadi efektif karena tidak lagi harus berjam-jam di dapur setiap hari untuk masak makanan harian.
  • Peluang ibadah-pun menjadi sama antara laki-laki dan perempuan; yang selama ini di bulan Ramadhan misalnya para ibu rumah tangga sibuk memasak berjam-jam sebelum maghrib dan sebelum sahur, maka kini mereka bisa sibuk ibadah yang khusus dengan membaca Al-Qur?an lebih banyak, shalat malam, dlsb. karena menyiapkan makanan untuk berbuka dan sahur cukup beberapa menit saja.
  • Berkembangnya spesialisasi yang akan meningkatkan kwalitas dari kebutuhan kita sehari-hari. Ibu-ibu yang tidak biasa masak, bila dia memaksakan diri untuk bisa memasak sop buntut untuk suaminya misalnya, maka ongkosnya akan lebih mahal dan belum tentu enak. Sebaliknya sop buntut yang enak bisa dperoleh dengan mudah dan murah dari jaringan Planet Beku, sehingga waktu dari ibu tersebut bisa lebih difokuskan pada bidang keahliannya.
  • Para pekerja di remote area lebih bisa merasa kerasan di tempat kerjanya karena tetap dapat makan makanan kesukaannya, produktifitas kerjanya-pun insya Allah meningkat.
  • Para professional masakan di daerah juga memiliki kesempatan yang sama, karena insya Allah project Makanan Beku ini juga akan hadir di kota Anda dalam waktu yang tidak terlalu lama.
  • Dlsb.

Meskipun telah 10 bulan disiapkan oleh para peserta Pesantren Wirausaha angkatan I project Planet Beku ini, tentu masih banyak yang perlu penyempurnaan. Namun melihat manfaat dan peluangnya yang sangat luas tersebut, why not Anda juga mencoba produk-produk dari Planet Beku ini ? siapa tahu Anda juga dapat berpartisipasi dalam meng-eksplorasi peluang ini ke depan. Insya Allah.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Target Puasa Tahun Ini: Ketakwaan & Kemakmuran


Pada bulan Ramadhan seperti ini, ayat yang paling banyak kita dengar dari ceramah-ceramah adalah ayat ?Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,? (QS Al-Baqarah [2]: 183). Lantas sekian puluh tahun kita berpuasa di bulan Ramadhan, adakah kita sudah mencapai derajat orang-orang yang bertakwa ini?

Mungkin hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya; namun untuk menjawab ini kita butuhkan tolok ukur yang baku tentang siapa orang-orang yang bertakwa ini. Tolok ukur yang baku ini ada di 6 ayat sebelum ayat tersebut di atas yaitu tepatnya berbunyi ?Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.? (QS Al-Baqarah [2]: 177)

Secara individu di antara 235 juta penduduk Indonesia, sangat mungkin ada sekian juta orang yang mencapai atau mendekati derajat takwa ? namun secara nasional nampaknya derajat ketakwaan ini masih rendah. Mengapa demikian? Perhatikan tulisan saya sebelumnya ?Jalan Mendaki Lagi Sukar? yang didalamnya terdapat statistik bahwa rata-rata penduduk Indonesia ternyata tergolong miskin berdasarkan standar Nishab Zakat.

Kalau rata-rata miskin, lantas siapa yang bisa memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya? Lha wong sama-sama miskin, lebih banyak yang sama-sama berhak diberi ketimbang yang memberi.

Perhatikan salah satu kata kunci ?memberi…? untuk mencapai ?…orang-orang yang bertakwa? dalam ayat di atas, artinya adalah diperlukan derajat kemakmuran sedemikian rupa bagi bangsa ini sehingga rata-rata penduduknya berpenghasilan lebih besar dari Nishab Zakat. Bila sekarang rata-ratanya hanya sekitar 82.5% dari Nishab Zakat, maka diperlukan kenaikan PDB per Kapita sekitar 21% dari angka sekarang agar rata-rata penduduk negeri ini masuk kategori orang yang bisa memberi.

PDB per Kapita adalah Produk Domestik Bruto (PDB) dibagi dengan jumlah penduduk. PDB sendiri adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. Jadi untuk menaikkan PDB per Kapita minimal 21 % dari kondisi yang ada, diperlukan kenaikan dengan persentasi yang sama untuk PDB secara nasional.

Lantas bagaimana kita bisa secara bersama-sama meningkatkan PDB yang merupakan representasi dari kemakmuran ini? Pertama kita harus tahu apa-apa yang bisa menaikkan PDB dan apa-apa yang menurunkannya. Salah satu pendekatan perhitungan PDB adalah menggunakan pendekatan pengeluaran sebagai berikut:

PDB KonsumsiInvestasiPengeluaran PemerintahEksporImpor

Ketika orang-orang yang kaya memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, maka kemungkinannya adalah harta tersebut akan dikonsumsi ? karena inilah kebutuhan utama bagi orang yang tidak mampu. Ketika Konsumsi meningkat ? maka PDB akan meningkat.

Tetapi nanti dulu, bila  barang-barang yang dikonsumsi oleh penduduk tersebut ternyata adalah produk impor atau produk yang bahan bakunya impor; bersamaan dengan konsumsi naik ? maka impor-pun naik sehingga PDB belum tentu meningkat. Karena nilai Impor menjadi faktor pengurang dalam perhitungan PDB tersebut di atas, maka semakin besar Impor ? semakin rendah PDB atau semakin miskinlah kita semua.

Umat Islam 'bisa' berSINERGI?

Umat Islam 'bisa' berSINERGI?

Inilah problem kita. Ketika kita membagi-bagikan makanan dalam berbagai kesempatan, kita sering membagi-bagikan mie instant yang berbahan baku terigu ? yang mayoritasnya berbahan baku Impor. Ketika kita membagi pakaian, pakaian tersebut terbuat sebagian besarnya dari kapas. Kapas yang dipakai untuk memproduksi pakaian-pakaian kita 99.5%-nya adalah Impor.

Jadi, selagi ketergantungan kita begitu besar pada sandang dan pangan yang berbasis bahan baku Impor ? maka PDB tersebut menjadi sulit terangkat. Setiap kali Konsumsi meningkat, Impor juga meningkat.

Maka yang diperlukan berikutnya adalah diperbanyak Investasi untuk mengolah potensi-potensi yang ada di sekitar kita ? yang ada di negeri ini ? minimal untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Diperlukan pula Pengeluaran Pemerintah yang mendorong atau memfasilitasi Investasi tersebut. Investor yang mengolah bahan baku lokal harus dipermudah dengan kemudahan peraturan dan fasilitas, agar PDB terangkat.

Investasi dan Pengeluaran Pemerintah hendaknya difokuskan untuk mencari solusi pengganti dari ketergantungan produk atau bahan baku Impor. Bila selama ini kita diserbu oleh bahan baku pangan berupa terigu yang harus diImpor misalnya, mengapa tidak didorong usaha-usaha yang meng-eksplorasi bahan pangan lokal seperti jamur, tepung pisang, tepung garut, sagu, mocaf (modified cassava flour), dlsb?

Demikian juga untuk sandang, Indonesia hanya sedikit sekali produksi kapasnya ? hanya sekitar 0.5% dari kebutuhan. Lantas mengapa tidak difokuskan mencari bahan baku sandang yang tidak tergantung pada kapas yang harus diimpor 99.5%-nya, kita ganti dengan serat dari Gedebog Pisang yang tumbuh dengan mudah di seluruh negeri misalnya.

Dengan kita menyadari apa-apa yang meningkatkan PDB dus meningkatkan pula PDB per Kapita atau kemakmuran tersebut di atas ? dan apa-apa pula yang menurunkannya; maka insya Allah kita bisa berbuat searah dengan upaya peningkatannya ? dan bukan sebaliknya.

Tentu hal ini tidak ada yang mudah dan inilah ?Jalan Mendaki Lagi Sukar? itu; juga tidak akan terjadi secara instant, perlu kerja keras bertahun-tahun dengan mensinergikan seluruh elemen umat. Namun bila kita tidak mulai-nya dari sekarang, sulit membayangkan kapan kemakmuran akan datang kepada umat ini?

Maka melalui ibadah puasa kita tahun ini, marilah kita berlomba mencapai derajat takwa yang sesungguhnya, derajat takwa yang membawa kita untuk mampu ?memberi…?, derajat takwa yang memakmurkan!!! Insya Allah…

Posted in Islamic ViewComments (0)

Do?s & Don?ts: Agar Yang Sedikit Bisa Menang


Dampak dari hidup di alam ?demokrasi? khususnya dalam dasawarsa terakhir ? ternyata tidak semuanya baik bagi keyakinan kita. Pikiran kita ? termasuk pikiran para pemimpin umat yang tadinya kita sangat hormati -  bisa terbawa arus karena berpikir bahwa banyaknya pengikut-lah yang akan membawa kemenangan.

Bayangkan kalau sekarang semua orang berpikir yang banyaklah yang memang; maka tidak akan ada lagi golongan sedikit umat yang dengan keyakinannya berpegang teguh pada prinsip-prinsip perjuangannya di bidang apapun. Yang di politik, meninggalkan cita-cita awalnya karena berpikir dengan itu mereka  tidak akan menang ? karena tidak akan berhasil memperoleh suara yang banyak.

Dalam ekonomi akhirnya mengikuti prinsip ?jaman edan ? sopo sing ora edan ora kumanan? (zaman gila ? siapa yang tidak gila tidak kebagian). Riba ditabrak, korupsi – suap menjadi budaya, semua karena orang mengikuti kebiasaan golongan yang banyak. Bila golongan yang banyak melakukan suap dan korupsi untuk untuk memenangkan project atau memajukan usahanya  ? maka seolah hanya ini jalan kemenangan itu.

Tetapi alhamdulillah kita masih punya Al-Qur?an dan Al Hadits yang bila kita berpegang pada keduanya kita tidak akan tersesat ? bahkan tidak akan bisa disesatkan oleh golongan yang banyak sekalipun. Ketika Panglima perang Islam Amr bin al-?As memberi tahu Khalifah Abu Bakar Siddiq mengenai banyaknya jumlah tentara Romawi yang harus dihadapinya, Abu Bakar menjawab, ?Kalian orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kalian dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh jikalau kalian terlibat di dalam dosa-dosa.?

Al-Qur?an yang dibaca oleh Abu Bakar, tentu masih sama dengan Al-Qur?an yang kini kita baca. Ketika keyakinan atas kebenaran ayat ??Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah (2): 249), diterapkan oleh Abu Bakar dan mampu membawa kemenangan pada tentara Islam ? maka keyakinan terhadap Al?Qur?an yang sama tersebut juga insya Allah bisa membawa kita yang hidup di zaman ini untuk menang di segala bidang. Hanya perbuatan dosa yang bisa membuat umat ini kalah ? walaupun jumlahnya banyak!

Penyebab kemenangan Islam di masa lalu, bahkan juga terungkap dari pengakuan musuh. Ketika Heraklius tiba di Anthokia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, ?Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan. Bukankah mereka manusia seperti kalian??; Mereka menjawab, ?Ya!?; ?Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataukah mereka?? ?Kamilah yang lebih banyak jumlahnya di manapun kami saling berhadapan.? ?Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?? Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, ?Karena mereka biasa shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran, dan saling berbuat adil di antara sesamanya. Sementara kami suka minum arak, berzinah, melakukan hal-hal terlarang, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena, menyuruh kepada kebencian, dan berbuat kerusakan di bumi.?

Jadi belajar dari kemenangan umat ini di masa lampau; kini kita punya tips untuk meraih kemenangan ? dalam bidang apapun, termasuk untuk usaha dan karir ? meskipun kita dari golongan yang sedikit. Tips itu saya ringkaskan dalam bentuk ?Do?s? yaitu hal-hal yang harus dilakukan, dan ?Don?ts? yaitu hal-hal yang jangan dilakukan!

?Do?s? ? nya adalah :

  • Berpegang teguh pada Al-Qur?an dan Hadits
  • Shalat malam (sebagai tambahan yang wajib)
  • Puasa (baik yang wajib maupun yang sunat)
  • Menepati janji
  • Menyuruh kepada kebajikan (amar ma?ruf)
  • Mencegah kemungkaran (nahi munkar)
  • Berbuat Adil

?Don?ts?-nya adalah :

  • Minum Khamr
  • Berzina
  • Melakukan hal-hal yang terlarang
  • Melanggar janji
  • Suka marah
  • Berbuat dhalim
  • Menabur kebencian
  • Berbuat kerusakan di bumi

Semoga bermanfaat bagi yang menulis dan juga yang membacanya. Amin

Posted in Islamic ViewComments (0)

1 Dari 10 Hasil Puasa: Gerakan Umat Produktif


Mumpung suasana lebaran dan liburan masih menyelimuti kita, saya belum akan menulis tentang perkembangan pasar emas dan sejenisnya. Saya masih ingin menyentuh hal-hal yang mendasar yang menumpuk di kepala selama menjalani i?tikaf sampai akhir pekan lalu. Kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan dua ayat berikut :
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS 2:183)
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS 2:177)
Ayat pertama adalah ayat yang sangat popular sepanjang bulan puasa lalu, yaitu ayat tentang kewajiban puasa dan target dari puasa itu sendiri agar kita menjadi orang yang bertakwa. Lantas ayat kedua menjelaskan tentang siapa atau seperti apakah orang yang bertakwa itu. Penafsiran ayat Al-Qur?an dengan ayat Al-Qur?an lainnya seperti ini menjadi pilihan pertama bila kita ingin memahami makna suatu ayat.
Jadi dari dua ayat tersebut kita paham target puasa kita dan paham pula menjadi orang seperti apa kita pasca Ramadhan seharusnya. Karena parameter orang bertakwa ini jelas, insyaallah kita sendiri yang bisa mengukur sedekat apa kita bisa mendekati target ini. Untuk ini mari kita list 10 sifat orang bertakwa berdasarkan QS 2 :177 tersebut diatas :
1.     Beriman kepada Allah
2.     Beriman kepada hari kemudian
3.     Beriman kepada malaikat-malaikat
4.     Beriman kepada kitab-kitabNya
5.     Beriman kepada nabi-nabi
6.     Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya
7.     Mendirikan sholat
8.     Menunaikan zakat
9.     Orang yang menepati janjinya apabila berjanji
10.   Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan.
Terlalu panjang tulisan ini bila saya mengulas ke 10 sifat orang bertakwa yang antara lain dihasilkan melalui proses puasa ini, maka pada kesempatan ini saya hanya ingin mengulas satu saja yaitu sifat ke 6 dari orang yang bertakwa : ??Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya?.
Perhatikan kata kunci ??memberikan?? di penggalan ayat tersebut, siapa yang bisa ??memberikan?? ini ?, pertama pastilah dia orang yang memiliki kelebihan.  Kalau dia pas-pasan, maka dia tidak akan dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, semua yang dimilikinya hanya cukup untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau dia kekurangan, jangankan bisa ??memberikan??, sebaliknya dia akan cenderung ??menerima?? atau bahkan ??meminta?? dari yang lain. Kedua, selain ada dia juga mau memberikan sesuatu yang dicintainya ? ini akan terjadi bila ada keimanan dalam hatinya (sifat 1 ? 5).
Jadi puasa seharusnya menghasilkan orang-orang yang bertakwa yang salah satu sifatnya dia dapat ??memberikan?? yang dicintainya ke orang lain yang berhak, utamanya kerabat. Pemberian ini juga lebih dari apa yang diwajibkan dalam zakat, karena zakat disebut sebagai sifat yang lain dalam ayat ini.
Dari men-tadaburi dua ayat diatas, saya terus berfikir?di Indonesia ada 240 juta penduduk, 85 %-nya muslim, maka ada 204 juta penduduk muslim di Indonesia. Kalau asumsinya yang berada di usia produktif 50% saja, maka ada 102 juta muslim produktif di negeri ini. Bayangkan kalau yang 102 juta ini puasanya berhasil dan derajat takwa tercapai, wow? akan betapa banyak muslim-muslim yang berproduksi berlebih di negeri ini sehingga mampu memberikan sesuatu bagi yang lain.
Kalau ini yang bisa kita hasilkan, pastilah negeri ini tidak perlu tergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti yang saya tulis awal pekan ini.
Dengan prasangka baik ini, bahwa begitu besar potensi-potensi  produksi sebagai buah dari ketakwaan yang akan terus meningkat setiap tahun sehabis Ramadhan, maka gerakan GeraiDinar dan BMT Daarul Muttaqqin yang awalnya hanya seputar penyebar luasan pengetahuan tentang Dinar, kemudian meningkat menjadi pengadaan dan pengelolaannya, insyaallah akan kita tingkatkan lagi menjadi pendorong peningkatan produktifitas umat kedepannya.
Agar ilmu yang diberikan olehNya ini tidak hanya berhenti di tenggorokan, maka dalam beberapa bulan kedepan insyaallah kami akan luncurkan Gerakan Umat Produktif yang merupakan sebuah Social Network yang Islami. Apa dan bagaimana-nya akan kami jelaskan tahap demi tahap pada waktunya, saat ini platform teknologi untuk ini sedang kami persiapkan. Program Pesantren Wirausaha yang insyaallah akan kick off untuk kelas eksekutif tanggal 10 Oktober 2009 mendatang juga merupakan bagian tak terpisahkan dari master plan peningkatan produktifitas umat ini.
Semoga Allah memudahkan dan menyempurnakan apa yang kita mulai dengan penuh kelemahan ini?.Amin.

Mumpung suasana lebaran dan liburan masih menyelimuti kita, saya belum akan menulis tentang perkembangan pasar emas dan sejenisnya. Saya masih ingin menyentuh hal-hal yang mendasar yang menumpuk di kepala selama menjalani i?tikaf sampai akhir pekan lalu. Kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan 2 ayat berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah (2): 183)

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.(QS. Al-Baqarah (2): 177)

Ayat pertama adalah ayat yang sangat popular sepanjang bulan puasa lalu, yaitu ayat tentang kewajiban puasa dan target dari puasa itu sendiri agar kita menjadi orang yang bertakwa. Lantas ayat kedua menjelaskan tentang siapa atau seperti apakah orang yang bertakwa itu. Penafsiran ayat Al-Qur?an dengan ayat Al-Qur?an lainnya seperti ini menjadi pilihan pertama bila kita ingin memahami makna suatu ayat.

Jadi dari 2 ayat tersebut kita paham target puasa kita dan paham pula menjadi orang seperti apa kita pasca Ramadhan seharusnya. Karena parameter orang bertakwa ini jelas, insya Allah kita sendiri yang bisa mengukur sedekat apa kita bisa mendekati target ini. Untuk ini mari kita list 10 sifat orang bertakwa berdasarkan QS. Al-Baqarah (2): 177 tersebut di atas:

  1. Beriman kepada Allah.
  2. Beriman kepada hari kemudian.
  3. Beriman kepada malaikat-malaikat.
  4. Beriman kepada kitab-kitabNya.
  5. Beriman kepada nabi-nabi.
  6. Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya.
  7. Mendirikan shalat.
  8. Menunaikan zakat.
  9. Orang yang menepati janjinya apabila berjanji.
  10. Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan.

Terlalu panjang tulisan ini bila saya mengulas ke 10 sifat orang bertakwa yang antara lain dihasilkan melalui proses puasa ini, maka pada kesempatan ini saya hanya ingin mengulas satu saja yaitu sifat ke 6 dari orang yang bertakwa : ??Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya?.

Perhatikan kata kunci ??memberikan?? di penggalan ayat tersebut, siapa yang bisa ??memberikan?? ini? Pertama pastilah dia orang yang memiliki kelebihan.  Kalau dia pas-pasan, maka dia tidak akan dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, semua yang dimilikinya hanya cukup untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau dia kekurangan, jangankan bisa ??memberikan??, sebaliknya dia akan cenderung ??menerima?? atau bahkan ??meminta?? dari yang lain. Kedua, selain ada dia juga mau memberikan sesuatu yang dicintainya ? ini akan terjadi bila ada keimanan dalam hatinya (sifat 1 ? 5).

Jadi puasa seharusnya menghasilkan orang-orang yang bertakwa yang salah satu sifatnya dia dapat ??memberikan?? yang dicintainya ke orang lain yang berhak, utamanya kerabat. Pemberian ini juga lebih dari apa yang diwajibkan dalam zakat, karena zakat disebut sebagai sifat yang lain dalam ayat ini.

Dari men-tadaburi 2 ayat di atas, saya terus berfikir? di Indonesia ada 240 juta penduduk dan 85 %-nya muslim, maka ada 204 juta penduduk muslim di Indonesia. Kalau asumsinya yang berada di usia produktif 50% saja, maka ada 102 juta muslim produktif di negeri ini. Bayangkan kalau yang 102 juta ini puasanya berhasil dan derajat takwa tercapai, wow? akan betapa banyak muslim-muslim yang berproduksi berlebih di negeri ini sehingga mampu memberikan sesuatu bagi yang lain.

Kalau ini yang bisa kita hasilkan, pastilah negeri ini tidak perlu tergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti yang saya tulis awal pekan ini.

Dengan prasangka baik ini, bahwa begitu besar potensi-potensi  produksi sebagai buah dari ketakwaan yang akan terus meningkat setiap tahun sehabis Ramadhan, maka gerakan Dinar Islam dan BMT Daarul Muttaqqin yang awalnya hanya seputar penyebar luasan pengetahuan tentang Dinar, kemudian meningkat menjadi pengadaan dan pengelolaannya, insya Allah akan kita tingkatkan lagi menjadi pendorong peningkatan produktifitas umat ke depannya.

Agar ilmu yang diberikan olehNya ini tidak hanya berhenti di tenggorokan, maka dalam beberapa bulan ke depan insya Allah kami akan luncurkan Gerakan Umat Produktif yang merupakan sebuah Social Network yang Islami. Apa dan bagaimana-nya akan kami jelaskan tahap demi tahap pada waktunya, saat ini platform teknologi untuk ini sedang kami persiapkan. Program Pesantren Wirausaha yang insya Allah akan kick off untuk kelas eksekutif tanggal 10 Oktober 2009 mendatang juga merupakan bagian tak terpisahkan dari master plan peningkatan produktifitas umat ini.

Semoga Allah memudahkan dan menyempurnakan apa yang kita mulai dengan penuh kelemahan ini? Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes