Tag Archive | "Produk Domestik Bruto"

Target Puasa Tahun Ini: Ketakwaan & Kemakmuran


Pada bulan Ramadhan seperti ini, ayat yang paling banyak kita dengar dari ceramah-ceramah adalah ayat ?Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,? (QS Al-Baqarah [2]: 183). Lantas sekian puluh tahun kita berpuasa di bulan Ramadhan, adakah kita sudah mencapai derajat orang-orang yang bertakwa ini?

Mungkin hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya; namun untuk menjawab ini kita butuhkan tolok ukur yang baku tentang siapa orang-orang yang bertakwa ini. Tolok ukur yang baku ini ada di 6 ayat sebelum ayat tersebut di atas yaitu tepatnya berbunyi ?Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.? (QS Al-Baqarah [2]: 177)

Secara individu di antara 235 juta penduduk Indonesia, sangat mungkin ada sekian juta orang yang mencapai atau mendekati derajat takwa ? namun secara nasional nampaknya derajat ketakwaan ini masih rendah. Mengapa demikian? Perhatikan tulisan saya sebelumnya ?Jalan Mendaki Lagi Sukar? yang didalamnya terdapat statistik bahwa rata-rata penduduk Indonesia ternyata tergolong miskin berdasarkan standar Nishab Zakat.

Kalau rata-rata miskin, lantas siapa yang bisa memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya? Lha wong sama-sama miskin, lebih banyak yang sama-sama berhak diberi ketimbang yang memberi.

Perhatikan salah satu kata kunci ?memberi…? untuk mencapai ?…orang-orang yang bertakwa? dalam ayat di atas, artinya adalah diperlukan derajat kemakmuran sedemikian rupa bagi bangsa ini sehingga rata-rata penduduknya berpenghasilan lebih besar dari Nishab Zakat. Bila sekarang rata-ratanya hanya sekitar 82.5% dari Nishab Zakat, maka diperlukan kenaikan PDB per Kapita sekitar 21% dari angka sekarang agar rata-rata penduduk negeri ini masuk kategori orang yang bisa memberi.

PDB per Kapita adalah Produk Domestik Bruto (PDB) dibagi dengan jumlah penduduk. PDB sendiri adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. Jadi untuk menaikkan PDB per Kapita minimal 21 % dari kondisi yang ada, diperlukan kenaikan dengan persentasi yang sama untuk PDB secara nasional.

Lantas bagaimana kita bisa secara bersama-sama meningkatkan PDB yang merupakan representasi dari kemakmuran ini? Pertama kita harus tahu apa-apa yang bisa menaikkan PDB dan apa-apa yang menurunkannya. Salah satu pendekatan perhitungan PDB adalah menggunakan pendekatan pengeluaran sebagai berikut:

PDB KonsumsiInvestasiPengeluaran PemerintahEksporImpor

Ketika orang-orang yang kaya memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, maka kemungkinannya adalah harta tersebut akan dikonsumsi ? karena inilah kebutuhan utama bagi orang yang tidak mampu. Ketika Konsumsi meningkat ? maka PDB akan meningkat.

Tetapi nanti dulu, bila  barang-barang yang dikonsumsi oleh penduduk tersebut ternyata adalah produk impor atau produk yang bahan bakunya impor; bersamaan dengan konsumsi naik ? maka impor-pun naik sehingga PDB belum tentu meningkat. Karena nilai Impor menjadi faktor pengurang dalam perhitungan PDB tersebut di atas, maka semakin besar Impor ? semakin rendah PDB atau semakin miskinlah kita semua.

Umat Islam 'bisa' berSINERGI?

Umat Islam 'bisa' berSINERGI?

Inilah problem kita. Ketika kita membagi-bagikan makanan dalam berbagai kesempatan, kita sering membagi-bagikan mie instant yang berbahan baku terigu ? yang mayoritasnya berbahan baku Impor. Ketika kita membagi pakaian, pakaian tersebut terbuat sebagian besarnya dari kapas. Kapas yang dipakai untuk memproduksi pakaian-pakaian kita 99.5%-nya adalah Impor.

Jadi, selagi ketergantungan kita begitu besar pada sandang dan pangan yang berbasis bahan baku Impor ? maka PDB tersebut menjadi sulit terangkat. Setiap kali Konsumsi meningkat, Impor juga meningkat.

Maka yang diperlukan berikutnya adalah diperbanyak Investasi untuk mengolah potensi-potensi yang ada di sekitar kita ? yang ada di negeri ini ? minimal untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Diperlukan pula Pengeluaran Pemerintah yang mendorong atau memfasilitasi Investasi tersebut. Investor yang mengolah bahan baku lokal harus dipermudah dengan kemudahan peraturan dan fasilitas, agar PDB terangkat.

Investasi dan Pengeluaran Pemerintah hendaknya difokuskan untuk mencari solusi pengganti dari ketergantungan produk atau bahan baku Impor. Bila selama ini kita diserbu oleh bahan baku pangan berupa terigu yang harus diImpor misalnya, mengapa tidak didorong usaha-usaha yang meng-eksplorasi bahan pangan lokal seperti jamur, tepung pisang, tepung garut, sagu, mocaf (modified cassava flour), dlsb?

Demikian juga untuk sandang, Indonesia hanya sedikit sekali produksi kapasnya ? hanya sekitar 0.5% dari kebutuhan. Lantas mengapa tidak difokuskan mencari bahan baku sandang yang tidak tergantung pada kapas yang harus diimpor 99.5%-nya, kita ganti dengan serat dari Gedebog Pisang yang tumbuh dengan mudah di seluruh negeri misalnya.

Dengan kita menyadari apa-apa yang meningkatkan PDB dus meningkatkan pula PDB per Kapita atau kemakmuran tersebut di atas ? dan apa-apa pula yang menurunkannya; maka insya Allah kita bisa berbuat searah dengan upaya peningkatannya ? dan bukan sebaliknya.

Tentu hal ini tidak ada yang mudah dan inilah ?Jalan Mendaki Lagi Sukar? itu; juga tidak akan terjadi secara instant, perlu kerja keras bertahun-tahun dengan mensinergikan seluruh elemen umat. Namun bila kita tidak mulai-nya dari sekarang, sulit membayangkan kapan kemakmuran akan datang kepada umat ini?

Maka melalui ibadah puasa kita tahun ini, marilah kita berlomba mencapai derajat takwa yang sesungguhnya, derajat takwa yang membawa kita untuk mampu ?memberi…?, derajat takwa yang memakmurkan!!! Insya Allah…

Posted in Islamic ViewComments (0)

Jalan Yang Mendaki Lagi Sukar


Harian Republika edisi kemarin Rabu 21 Juli 2010 memuat data statistik yang sepintas menggembirakan, yaitu statistik Produk Domestik Bruto Per Kapita dalam 10 tahun terakhir yang naik hampir 4 kalinya. Statistik yang diambil dari BPS ini menunjukkan bahwa pada tahun 2000 PDB Per Kapita kita hanya Rp 6,751,000, akhir tahun lalu (2009) angka ini telah mencapai Rp 24,261,000.

Bertambah makmur kah rata-rata rakyat Indonesia selama 10 tahun terakhir ini? Di sinilah masalahnya. Bila kita melihat angka dalam Rupiah tersebut di atas yang kemudian saya sajikan ulang secara grafik di bawah, seharusnya kita telah jauh bertambah makmur selama 10 tahun terakhir.

PDB Per Kapita dalam Rupiah

PDB Per Kapita dalam Rupiah

Tetapi kenyataan yang dirasakan oleh mayoritas rakyat mungkin berbeda dengan grafik tersebut. Perasaan hidup terasa tambah berat karena barang-barang kebutuhan yang semakin mahal ? sangat bisa dipahami karena mungkin memang itulah yang terjadi di lapangan.

Untuk dapat melihat realita ini secara akurat, lagi-lagi Islam punya tools-nya yaitu Nishab Zakat. Orang yang penghasilannya melebihi Nishab Zakat dianggap mampu dan dia harus bayar zakat. Sebaliknya, yang penghasilannya di bawah Nishab Zakat dia berhak untuk menerima uang zakat. Nishab Zakat ini dinyatakan dalam Dinar yaitu 20 Dinar.

Bila PDB Per Kapita kita anggap merepresentasikan penghasilan penduduk Indonesia rata-rata; maka ketika grafik di atas saya konversikan dengan Dinar hasilnya akan seperti pada grafik di bawah.

PDB Per Kapita dalam Dinar

PDB Per Kapita dalam Dinar

Selama 10 tahun terakhir, hanya 2 tahun dimana PDB Per Kapita kita mampu melampaui Nishab Zakat yaitu tahun 2001 (20.35 Dinar) dan 2002 (21.20 Dinar). Tahun-tahun berikutnya cenderung menurun dan terendah tahun 2009 yang tinggal 16.55 Dinar. Apa maknanya PDB Per Kapita yang di bawah Nishab Zakat ini? Artinya rata-rata penduduk negeri ini berhak menerima zakat dan belum wajib zakat.

Maknanya adalah rata-rata penduduk negeri ini masih tergolong miskin menurut standar Islam, dengan timbangan yang kita yakini akurat sepanjang zaman yaitu Nishab Zakat yang 20 Dinar tersebut.

Namun realita ini tidak perlu membuat kita bersedih atau berkecil hati karena kemiskinan tidak teratasi dengan hanya bersedih, bahkan akan bertambah parah bila kita berkecil hati. Yang kita perlukan adalah setelah sadar akan realita ini adalah apa yang bisa kita perbuat untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.

Inilah peluang itu, kini terbuka peluang lebar bagi kita untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar untuk bisa berbuat sesuatu dalam ikut memerangi kemiskinan. Membangun usaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya tentu tidak mudah, lebih mudah bekerja di perusahaan atau instansi yang mapan ? dengan berbagai fasilitasnya.

Namun kalau mayoritas kita berpikiran demikian lantas tugas siapa untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya ini? Tugas pemerintahkah? Para pemimpin negeri ini tentu akan ditanya nanti atas kepemimpinannya, namun kita sebagai individu juga akan tetap ditanya atas apa yang kita lakukan.

Ayat-ayat di bawah bukan hanya ditujukan untuk para pemimpin negeri ini, tetapi untuk kita semua. Punya jawabankah kita bila waktunya kelak kita ditanya akan hal ini?

?????????????? ????????????? (???) ????? ????????? ??????????? (???) ????? ?????????? ??? ??????????? (???) ????? ???????? (???) ???? ??????????? ??? ??????? ??? ??????????? (?(??

?Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan,? (QS. Al-Balad (90): 10-14)

Posted in Islamic ViewComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes