Tag Archive | "Portugal"
Posted on 14 July 2010. Tags: Alat Tukar, Amerika, Article of Agreement of IMF, Bank for International Settlements, Bank Sentral, bank swasta, Basel, BIS, cadangan emas, currency, diam-diam, ekonomi, emas, emas fisik, Gold Swap, IMF, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italy, jatuh, Kitco, krisis finansial, laporan tahunan, mata uang, Portugal, sistem finansial global, Spanyol, Switzerland, the Wall Street Journal, Yunani
Meskipun secara formal sistem keuangan global yang dikomandoi IMF masih melarang penggunaan emas dalam salah satu Article of Agreement-nya yang mengikat pada seluruh anggota IMF, namun rupanya secara diam-diam emas telah kembali masuk ke dalam sistem keuangan global yang dikelola oleh IMF sendiri. Tepatnya melalui jalur Bank for International Settlements (BIS), yaitu ?bank?-nya bank-bank sentral dunia yang bermarkas di Basel ? Switzerland.
Adalah laporan BIS tutup tahun buku 31/03/2010 yang di publikasikan akhir bulan lalu (28/06/2010) yang pertama kalinya mengungkap masalah tersebut. Meskipun ngumpet dalam catatan keterangan laporan keuangannya seperti yang saya copy-kan dari laporan tahunan BIS 2010 dibawah (laporan detailnya dapat Anda download sendiri dari situs resmi BIS dengan klik disini), realita ini mengundang berbagai pertanyaan besar dan spekulasi serius tentang masa depan sistem keuangan global.

Gold Swap in BIS
Di bagian yang saya beri tanda di samping, disana dijelaskan bahwa the Bank (maksudnya BIS) memegang 346 ton emas tahun buku terakhir ini (yang tahun sebelumnya masih Nol!) terkait dengan operasi Gold Swap ? dimana bank menukar currencies dengan emas fisik. Pertanyaan besarnya adalah emas siapa ini? Harian ekonomi terkemuka the Wall Street Journal misalnya memberitahu analis Kitco ? bahwa Gold Swap tersebut dilakukan antara BIS dengan bank swasta.
Justru tambah mencurigakan karena dari data yang dimiliki Kitco (pemain emas yang database-nya paling menjadi referensi dunia) tidak ada satu bank swasta-pun di dunia yang di dalam kekayaannya memiliki asset emas secara fisik senilai 346 Ton tersebut (dengan harga emas sekarang kurang lebih senilai US$ 13.5 Milyar!). Jumlah ini juga setara kurang lebih 4.7 kali cadangan emas yang dimiliki bank sentral Indonesia.
Walhasil besar kemungkinan bahwa emas tersebut adalah milik suatu negara atau beberapa negara yang mengalami kesulitan keuangan serius sepanjang tahun buku 2009/2010. Kita tahu yang mengalami kesulitan keuangan pada periode tersebut dengan berbagai tingkatannya antara lain adalah Yunani, Portugal, Irlandia, Spanyol, Italy, Inggris dan bahkan Amerika ? maka boleh jadi emas di kantong BIS tersebut berasal dari salah satu atau beberapa negara tersebut.
Lantas mengapa yang di swap bukan antar beberapa currency seperti pada umumnya, tetapi kali ini suatu currency dengan emas? Disinilah proses kembalinya emas dalam sistem keuangan global itu mulai; ketika satu atau beberapa currency ? alat tukar sesaat ? dari suatu negara atau beberapa negara tidak lagi bisa dipercayai ? maka apa yang bisa disetor oleh negara tersebut untuk ditukar dengan currency negara lain yang masih bisa dipercayai? Emas-lah jawabannya yang paling mudah, paling praktis dan paling bisa dipercaya.
Karena hal ini sudah terjadi pada tingkat BIS secara diam-diam; maka besar kemungkinan ini akan juga bisa terjadi pada sistem keuangan di tingkat bawahnya (dalam suatu negara) dan seterusnya.
Lantas mengapa pula hal-hal tersebut seolah dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi di zaman yang serba transparan ini? Bisa dibayangkan memang betapa dahsyat-nya dampak dari tidak dipercayai-nya currency suatu negara ? bagi ekonomi negara tersebut ? bila hal ini dilakukan secara terang-terangan. Mata uang negara-negara tersebut bisa langsung jatuh seperti yang kita alami tahun 1997/1998 atau bahkan lebih buruk lagi.
Jadi memang tidak terlalu penting bagi kita untuk tahu siapa yang mata uangnya tidak lagi dipercayai oleh BIS tersebut di atas – sehingga harus menyetorkan emasnya untuk ditukar currency lain yang dibutuhkan, namun yang jelas kini kita telah mendapatkan lagi satu tambahan bukti ? bahwa mata uang yang sesungguhnya, yang paling bisa dipercayai ketika yang lain tidak bisa dipercayai adalah mata uang yang berupa emas ini. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 29 June 2010. Tags: Bank Sentral, Canada, Dubai, ekonomi dunia, emas, G-20, Gold, harga emas, harga naik, harga turun, investor, Irlandia, Italy, krisis, massal, masyarakat, pasar dunia, pelaku usaha, pemimpin, Portugal, Recovery and New Beginnings, safe haven, Spanyol, stabilitas ekonomi, Stability; Growth & Job, supply and demand, tersirat, tersurat, Toronto, Yunani
Pertemuan para pemimpin dunia kelompok G-20 baru berlangsung akhir pekan lalu 26-27 Juni 2010 di Toronto, Canada. Di permukaan, pertemuan reguler dari para pemimpin dunia tersebut mengusung tema yang keren ?Recovery and New Beginnings?. Itu setidaknya yang tersurat, lantas apa yang tersirat dari pertemuan tersebut?
Namanya juga tersirat ? tidak tertulis hitam di atas putih ? maka sifatnya multi tafsir. Bagi saya sendiri melihat temanya yang ?Recovery and New Beginnings? ini menyiratkan bahwa sejak krisis berlangsung 2 tahun lalu, berbagai pertemuan dalam berbagai tingkat belum berhasil membuat ekonomi dunia recover dan memulai hal yang baru ? makanya baru berniat recover dan memulai yang baru sekarang.
Bila belajar dari pertemuan sebelumnya dengan tema ?Stability, Growth & Job?; yang ternyata tidak memberi hasil yang diharapkan, karena tidak lama setelah pertemuan ini, justru guncangan demi guncangan malah menyusul seperti krisis di Dubai, Yunani, Portugal, Irlandia, Italy, Spanyol, dlsb ? maka akankah dunia berharap hasil konkrit dari pertemuan?pertemuan semacam ini?
Nampaknya para pelaku usaha secara global lebih banyak yang tidak berharap pada pertemuan semacam ini. Dari kacamata harga emas hal ini nampak jelas bisa dilihat. Bila pertemuan G-20 sebelumnya (April 2009) diadakan pada saat harga emas berada pada angka rata-rata sekitar US$ 890/oz; pada saat G-20 kali ini diadakan, harga emas sudah berada di kisaran US$ 1,255 /oz atau naik lebih dari 40%!!

Harga Emas Dunia: Dari Pertemuan G-20 ke Pertemuan Berikutnya
Artinya ketika para pemimpin dunia menjanjikan Stability, Growth and Job; tidak demikian yang dirasakan pasar. Pasar masih terus cemas dengan realita stabilitas ekonomi yang tidak kunjung datang. Kecemasan ini membuat mereka mencari tempat untuk melabuhkan dananya secara aman (safe haven), yaitu antara lain ke emas.
Ketika supply emas relatif tetap (hanya tumbuh sekitar 1.5% per tahun), sementara permintaan meningkat ? maka mekanisme supply and demand yang mendorong harga emas di pasaran dunia meningkat lebih dari 40% sejak pertemuan G-20 tahun lalu ke pertemuan G-20 tahun ini.
Lebih-lebih kini yang cemas bukan hanya investor perorangan, tetapi juga investor institusional dan bahkan Bank Sentral dunia mulai diam-diam juga membeli emas di pasar.
Jadi sebenarnya para pemimpin negara-negara di dunia apalagi kelompok G-20 ini, mereka bisa mengendalikan harga emas dengan baik secara elegan bila mereka mau, yaitu dengan cara menstabilkan ekonomi di negaranya masing-masing. Bila ini tercapai, pelaku ekonomi dan masyarakat luas akan merasa nyaman berusaha dan tidak merasa perlu memperbanyak dananya yang disimpan di safe haven ? emas.
Sebaliknya bila mereka tidak berhasil mengendalikan ekonominya, pelaku usaha, masyarakat luas dan bahkan bank sentral mereka sendiri akan cemas dan terus berusaha maksimal mengamankan hartanya di safe haven emas. Perilaku massal inilah yang mendongkrak harga emas dunia sampai tumbuh diatas 40% sejak pertemuan G-20 sebelumnya.
Apakah sampai pertemuan G-20 berikutnya tahun depan harga emas dunia akan terus tumbuh sampai di atas 40% mengikuti periode yang lewat? Sangat tergantung seberapa jauh para pemimpin tersebut bisa meyakinkan pelaku pasar dan masyarakat luas bahwa ?Recovery and New Beginning? yang mereka janjikan kali ini benar-benar terjadi. Bila mereka berhasil harga emas bisa turun, bila sebaliknya maka kenaikanlah yang akan terjadi. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 12 May 2010. Tags: Amerika, bailout, banyak hutang, budaya, Canada, defisit anggaran, dunia, emas, epicentrum, EU, European Union, Flu Babi, gaji, GDP, gejolak ekonomi, grafik, gratis, Greece, harga emas, harga naik, hutang, IMF, inflasi, investasi, Ireland, Italy, jaring penyelamat, krisis finansial, layanan publik, Mexico, obat, pasar, pemain pasar, pemerintah, pertumbuhan ekonomi rendah, PIG Flu, PIIGS Flu, Portugal, Spain, Swine Flu, wabah global, Yunani
Tahun lalu wabah FLU BABI (Swine Flu atau Pig Flu) sempat membuat panik dunia setelah ditemukannya flu ini menjalar ke manusia di Amerika, Mexico dan Canada. Hari?hari ini dunia kembali dibuat panik tetapi bukan oleh PIG tetapi oleh PIIGS, acronym dari Portugal, Ireland, Italy, Greece dan Spain.
?Flu? di pasar uang dunia begitu terasa dalam beberapa hari perdagangan terakhir, bahkan ketika bailout senilai 750 Milyar Euro terhadap Yunani atau Greece sudah di commit oleh European Union dan IMF. Komitmen raksasa untuk mengatasi kebolongan di epicentrum krisis tersebut nampaknya tidak membuat para pemain pasar lega.
Hanya 2 hari setelah bailout tersebut diumumkan, para pemain pasar kembali memburu jaring penyelamat untuk investasinya ? yaitu antara lain emas. Karena permintaan yang melonjak inilah maka pagi ini ? saat artikel ini saya tulis – harga emas berada di atas US$ 1,230/Oz atau dalam US$ telah mengalami peningkatan lebih dari 34% dibanding harga emas dunia tahun lalu. Harga ini memecahkan rekor tertinggi sebelumnya yang berada di kisaran US$ 1,226/Oz yang tercapai di awal Desember tahun lalu.
Mengapa seolah pasar tidak percaya terhadap upaya?upaya negara yang dilanda krisis tersebut untuk dapat mengatasi masalahnya? Ada 2 hal yang sangat mendasar yang menyebabkan hal ini:
- Hutang yang sudah begitu besar yang diderita oleh negara-negara yang dilanda krisis tersebut, perhatikan faktanya di grafik atas. Yunani dan Italy bahkan hutangnya per akhir tahun lalu saja sudah melebihi GDP-nya. Nenek-nenek kita dahulu juga tahu kalau problem hutang ini tidak bisa diatasi dengan hutang baru, semua bantuan baik dari EU, IMF, dlsb TIDAK ADA yang GRATIS ? pada waktunya harus dibayar.
- Negara-negara tersebut juga mengalami defisit pada anggaran belanjanya, sekaligus juga perekonomiannya tidak tumbuh ? sebagian malah merosot seperti yang dialami Spanyol.
Masalah defisit ini sungguh tidak mudah diatasi karena menyangkut budaya. Pegawai-pegawai pemerintah di negara tersebut misalnya tidak akan mudah bisa diturunkan gajinya. Layanan publik juga tidak mudah diturunkan standarnya (dipotong anggarannya).
Walhasil bailout dari EU dan IMF untuk Yunani nampaknya hanya semacam obat untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi bukan obat untuk menyembuhkan penyakit. PIIGS ?FLU? (krisis) mungkin masih akan terus kambuh, bukan hanya terhadap Greece dan PIIGS tetapi terhadap semua negara yang memiliki ketahanan ?tubuh? (ekonomi) yang sama.
Symptoms atau gejala-gejala ketahanan ekonomi yang lemah ini antara lain ya 3 hal di atas yaitu:
- Hutangnya banyak.
- Anggarannya defisit.
- Pertumbuhan ekonominya rendah atau bahkan turun atau tidak tumbuh.
Jadi harga emas masih akan terus bergejolak karena dari waktu ke waktu orang butuh jaring penyelamat, dan emas-lah yang terbukti dapat berperan sebagai jaring penyelamat yang mudah diperoleh, efektif dalam mengatasi masalah inflasi dan gejolak ekonomi lainnya. Wa Allahu A?lam.
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 07 May 2010. Tags: Allah, aset, aset bangsa, bank swasta, BUMN, bursa dunia, Dinar, emas, epicentrum, Eropa, Euro, Gold Wars, harga emas, harga naik, harga turun, Index Dow Jones Industrial, investor asing, isu, jatuh, kemerdekaan, komplikasi parah, krisis finansial, mata uang, menular, otoritas dunia, pejabat, pemerintah, perdagangan dunia, perkasa, pertahankan nilai kekayaan, perusahaan asing, Portugal, Rupiah, sistem finansial global, sistem keuangan, Spanyol, telekomunikasi, uang kertas, Unit of Account, US$, wabah global, Yunani
Dalam tulisan saya 2 hari lalu tentang Gold Wars saya ungkapkan bahwa emas ?dibenci? pemerintah dan otoritas dunia, karena begitu mudah digunakan untuk membaca masalah-masalah yang melanda sistem finansial yang ada. Melesatnya harga emas dunia semalam yang menembus angka di atas US$ 1,200/Oz membuktikan hal ini, bahwa sistem keuangan dunia lagi sakit dan ada kemungkinan komplikasi yang parah.
Awalnya penyakit itu berasal dari krisis yang melanda Yunani, kemudian menular ke tetangganya yang pertahanan ?tubuh? ekonominya juga lemah seperti Portugal dan Spanyol, kemudian seluruh Eropa terpengaruh dengan anjloknya Euro mendekati 9% sejak awal tahun ini.
Dan puncaknya semalam ketika dalam beberapa jam perdagangan saja Index Dow Jones Industrial terpangkas hampir 1000 points. Secara umum dalam perdagangan bursa dunia kemarin, rata-rata indexs turun di atas 3%.
Dengan wabah yang ditularkan oleh Yunani ini, semua nilai aset yang ditentukan dengan mata uang kertas menjadi semu. US$ yang nampak relatif perkasa saja bila dibandingkan dengan mata uang kertas lainnya, setahun terakhir nilainya turun sebesar hampir 25% dibandingkan dengan emas ? atau per pagi ini harga emas dalam US$ setahun terakhir naik sekitar 32%.
Apakah dampak krisis ini juga akan menjangkau kita yang ribuan miles jauhnya dari Yunani? secara fisik memang kita berjauhan dari epicentrum krisis. Namun secara sistem, semua saling terkait. Ketika bursa dunia berjatuhan, maka bursa kita-pun ikut jatuh.
Selain sistem yang saling terkait, komplikasi lain yang sifatnya internal kita juga ada, yaitu pertahanan ?tubuh? dari sistem keuangan kita lagi rentan isu pergantian pejabat otoritas keuangan negeri ini. Karena berbagai hal inilah nilai uang Rupiah kita dalam sepekan terakhir turun sampai sekitar 4% bila dibandingkan dengan US$, dan turun sekitar 8% bila dibandingkan dengan harga emas.
Karena selama ini kita menggunakan unit of account Rupiah dalam menilai aset-aset atau transaksi kita, maka ketika nilai mata uang kertas kita jatuh ? nilai aset-aset tersebut juga ikut jatuh. Misalkan sepekan lalu Anda bernegosiasi untuk membeli rumah seharga Rp 1 Milyar ? saat itu nilainya setara dengan 685 Dinar; bila Anda selesaikan transaksi tersebut hari ini maka rumah yang harganya Rp 1 Milyar tersebut ? kini cukup Anda beli seharga 628 Dinar. Dalam Rupiah tetap, tetapi dalam Dinar rumah tersebut telah turun nilainya sebesar 8% lebih ? dalam sepekan!

A banner says "We are struggling to live"
Proses yang sama inilah yang membuat aset-aset negeri ini, baik yang berasal dari BUMN maupun swasta ? berpindah tangan dari kepemilikan bangsa ini ketangan asing paska krisis 1997/1998. Ketika nilai uang kita paska krisis tinggal ¼-nya dibandingkan dengan sebelum krisis, betapa murahnya aset-aset bangsa ini bila dibeli dengan mata uang asing yang lebih perkasa melalui masa krisis.
Sehingga jangan heran bila Anda sempat berjalan di sepanjang jalan protokol ibukota yaitu dari ujung Jl. Thamrin di utara sampai ke ujung Jl. Sudirman di selatan ? tengoklah kiri kanan dan lihatlah papan nama ? panan nama yang menjulang indah di pencakar langit ? pencakar langit pusat bisnis kebanggaan kita tersebut, lalu bertanyalah siapa yang memiliki saham (mayoritas) perusahaan-perusahaan tersebut? jawabannya kemungkinan besar bukan kita lagi.
Di pintu gerbang Jalan Thamrin ada perusahaan telekomunikasi kebanggaan bangsa ini (dahulu) ? kini negeri ini tinggal memiliki saham 14.29 % saja; 65 %-nya milik asing dan sisanya 20.71% publik ? yang bisa jadi sebagiannya juga asing.
Mendekati ujung Jalan Sudirman ada bank swasta kebanggaan kita (dahulu), bank ini didirikan oleh para pengusaha pejuang yang sebagian besarnya saya kenal pribadi dengan sangat baik. Bahkan waktu mereka mendirikan bank tersebut tahun 1955 ? motifnya bukan untuk mencari keuntungan, tetapi ingin mengisi kemerdekaan! Ironi sekali, karena bank tersebut kini ultimate shareholder-nya adalah suatu group perusahaan dari negeri jiran.
Pengalaman-pengalaman memilukan banyak terjadi dialami oleh temen-temen yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang diambil alih pihak asing ini, bukan masalah materi ? tetapi lebih kepada masalah harga diri. Setelah 65 tahun merdeka, ternyata yang banyak ?mengisi? kemerdekaan ini bukan lagi kita ? tetapi para investor asing baik dari negeri jiran maupun dari negeri yang jauh :(
Lantas bagaimana kita menghindari pengalaman ini terus dan terus terulang, baik dalam skala pribadi maupun dalam skala bangsa? Jawabannya adalah pertahankan nilai kekayaan kita dengan unit of account yang sesungguhnya, yang nilainya tidak mudah rusak oleh isu dan tidak terpengaruh oleh wabah penyakit global seperti penyakit yang ditularkan oleh negeri nun jauh disana ? Yunani.
Dinar bisa menjadi solusi yang konkrit untuk hal ini, kalau toh di tingkat perusahaan atau negara belum bisa mengambil Dinar ini sebagai solusi ? toh kita sudah bisa mengamankan aset kita sendiri dengan Dinar ini. Mulai yang kita bisa, mulai yang kita tahu ? insya Allah, Allah akan membimbing kita terhadap apa yang kita belum tahu… Amin.
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 06 May 2010. Tags: Amerika, aset, Baht, Bank Sentral, ekonomi, emas, Eropa, grafik, harga naik, hasil jerih payah, hutang pemerintah, Indonesia, investor, jangka panjang, jatuh, jatuh tempo, kenaikan demand, krisis finansial, mata uang, menular, nilai tukar, penularan krisis, penurunan daya beli, Portugal, Rupiah, sistem finansial global, Spanyol, Thailand, uang kertas, US$, Yunani
Sekitar 13 tahun lalu di awal 1997 serentetan krisis dalam skala regional bermula di Thailand. Diawali dengan hengkangnya para investor karena penurunan pertumbuhan ekonomi negeri itu, krisis kemudian diperburuk dengan ulah spekulator mata uang sampai-sampai Bank Sentral Thailand harus menguras sampai 90% dari cadangan devisanya hanya untuk mempertahankan nilai tukar uang Baht-nya.
Celakanya, krisis ini tidak berhenti di Thailand. Negara-negara tetangganya segera tertular dan bahkan yang terparah dan paling sulit sembuhnya adalah negeri kita. Pada puncak krisis nilai uang kertas kita pernah tinggal kurang lebih 1/6-nya dari nilai sebelum krisis (Akhir 1996 US$ 1 = Rp 2,350; Juli 1998 US$ 1 = Rp 14,000) bila dibandingkan dengan US Dollar. Padahal di negeri dimana krisis berawal; uangnya hanya mengalami koreksi 61% saja (Akhir 1996 US$ 1 = Baht 25.50; Juli 1998 US$ 1 = Baht 41.12).
Pelajaran pertama yang kita ambil dari krisis 1997/1998 tersebut adalah bahwa krisis finansial bersifat sangat menular karena kelemahan sistem finansial global saat ini. Pelajaran keduanya adalah negara-negara yang tertular oleh krisis finansial, bisa menjadi korban yang bahkan lebih parah dari negara yang mengalami krisis yang pertama.
Kini 13 tahun kemudian, kita melihat proses penularan krisis berulang. Belum juga dunia sembuh oleh menularnya krisis di Amerika 2 tahun lalu, krisis sejenis sekarang siap mewabah di Eropa. Yunani yang menjadi pemicu pertamanya, per kemarin hutang pemerintahnya sudah jatuh ke nilai terendah pada tingkat Junk (sampah!). Krisis Yunani sudah menulari Portugal, Spanyol dan bisa jadi akan segera pula menular ke negara-negara lain.

A Greek crisis is coming to America?
Pada setiap krisis tersebut; uang kertas selalu hancur di negara-negara yang terkena krisis. Setiap kali pula uang kertas hancur, pelarian utama yang paling mudah bagi masyarakat yang ingin menyelamatkan asetnya adalah ke emas. Tidak heran bila harga emas justru melonjak pada setiap krisis terjadi; pertama karena daya beli uang kertas yang dipakainya menurun, kedua karena dorongan naiknya permintaan.
Sebelum krisis melanda negeri ini 1997/1998; harga emas di Indonesia pada awal 1997 hanya di kisaran Rp 23,400/gram; di puncak krisis 1998 emas berada pada kisaran harga Rp 147,000/gram. Meskipun akhirnya sempat membaik ke kisaran angka Rp 65,000-an akhir 1999/awal 2000; perlahan namun pasti harga emas menjulang sampai Rp 340,000/gram kini. Harga emas saat ini sudah lebih dari 5 kalinya bila dibandingkan harga emas paska krisis, dan 14.5 kalinya dibandingkan harga emas sebelum krisis!
Grafik yang saya sajikan di atas adalah kenaikan harga emas gradual yang terjadi dalam kondisi normal. Bila dalam kondisi normal saja harga emas naik menjadi lebih 5 kalinya dalam 10 tahun terakhir; apa jadinya bila krisis Yunani meluas?
Dalam beberapa pekan ke depan seluruh dunia finansial akan melototi bagaimana krisis Yunani ini di handled oleh pemerintahnya dan juga pemerintah negeri-negeri yang saling terkait. Puncaknya adalah tanggal 19 Mei 2010 dimana hutang Yunani senilai 8.5 Milyar Euro akan jatuh tempo!
Kita memang jauh dari Yunani baik secara fisik maupun keterkaitan ekonomi, ekonomi kita juga lagi baik-baiknya, namun karena tanpa krisispun harga emas naik seperti yang tercermin dari grafik tersebut di atas ? maka penyelamatan aset ke emas/Dinar untuk mengamankan hasil jerih payah jangka panjang selalu advisable untuk dilakukan kapan saja. Jangan menunggu krisis menular…!!! Wa Allahu A?lam.
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 04 May 2010. Tags: abstract, akses informasi, Amerika, bank, Bank for International Settlements, Bank Sentral, Basel, BIS, Dubai, dunia, emas, grafik, harga emas, hutang, hutang pemerintah, Iceland, inflasi, Inggris, instabilitas moneter, jangka panjang, kekuatan, kenaikan demand, krisis, krisis finansial, laporan resmi, Latvia, negara industri, pemerintah, pendorong kenaikan eksponensial, penurunan nilai, Portugal, problem fiskal, Prospects and Implications, riset, sistem keuangan, Spanyol, Switzerland, tata kelola uang, The Future of Public Debt, uang kertas, Yunani
The Bank for International Settlements (BIS) adalah organisasi internasional yang anggotanya para bank sentral dari negara-negara di dunia. Tujuan dari organisasi ini adalah untuk meningkatkan kerjasama antara bank-bank sentral tersebut, disamping juga berfungsi menjadi semacam bank-nya para bank sentral dunia.
Dengan anggota dan fungsinya tersebut, kita bisa bayangkan betapa powerful-nya pengaruh organisasi yang bermarkas di Basel ? Switzerland ini dalam up and down-nya sistem keuangan dunia di zaman ini. Peran mereka yang sentral dalam tata kelola uang di dunia ? juga membuat mereka memiliki akses informasi yang sangat comprehensive dalam setiap aspek keuangan dari para anggotanya.
Dengan kekuatan dan akses informasinya tersebut, laporan hasil riset dan pernyataan-pernyataan dari BIS ini layak untuk menjadi masukan yang serius bagi para pengambil keputusan keuangan atau ekonomi di semua negara ? termasuk kita.
Di antara laporan-laporan tersebut yang menurut saya sangat perlu kita pahami adalah laporan hasil riset bulan Maret lalu dengan judul The Future of Public Debt: Prospects and Implications yang dapat kita unduh dari situs resmi mereka.
Berikut adalah statement inti dari laporan tersebut yang implikasinya bisa sangat serius di masa-masa yang akan datang. Abstract dari laporan ini sudah diawali dengan (dalam terjemahan bebas saya): ?Sejak awal krisis finansial, hutang negara-negara industri terus meningkat secara dramatis, dan sejauh yang dapat dilihat ke depan (foreseeable future) hutang ini akan terus naik di masa-masa mendatang…?.
Kemudian hasil riset ini menyimpulkan 4 hal sebagai berikut:
- Problem fiskal dari negara industri sesungguhnya lebih serius dari laporan resmi pemerintah di negara-negara tersebut. ?Sungguh menakutkan bahwa hutang publik mereka akan tumbuh diatas 100% dari GDP…?. Lihat grafik di atas untuk trend-nya (klik untuk melihat lebih jelasnya).
- Meningkatnya hutang publik tersebut di atas telah merubah persepsi selama ini bahwa hutang jangka panjang negara dalam berbagai bentuknya yang selama ini dianggap berisiko rendah, ke depannya akan menjadi berisiko tinggi. Hutang pemerintah Yunani misalnya, kini sudah menjadi junk - yaitu yang sangat rendah nilainya.
- Problem hutang yang terlalu tinggi akan menekan akumulasi modal, menurunkan pertumbuhan produktifitas dan menurunkan potensi pertumbuhan jangka panjang.
- Mendung ketimpangan fiskal jangka panjang menimbulkan risiko instabilitas moneter. Dinamika hutang yang tidak stabil akan meningkatkan inflasi yang disebabkan oleh godaan pada para pengelola keuangan negara untuk menurunkan tingkat hutang dengan mencetak uang dalam berbagai bentuknya.
Puncak gunung es yang merupakan tanda-tanda problem yang sangat besar tersebut juga sudah bermunculan dalam bentuk krisis di berbagai negara dalam 2 tahun terakhir. Krisis di Amerika, Inggris, Iceland, Dubai, Latvia, Yunani, Portugal, Spanyol… - dan entah negara mana lagi yang akan segera menyusul – adalah bukti-bukti kebenaran laporan tersebut di atas.
Lantas apa kaitannya ini semua dengan harga emas? Emas akan menjadi semakin penting perannya dalam memberikan perlindungan terhadap inflasi. Karena kesadaran terhadap hal ini akan meluas, maka sangat mungkin emas akan mengalami kenaikan harga yang eksponensial ke depan.
2 hal yang akan menjadi pendorong kenaikan eksponensial harga emas ini yaitu yang pertama adalah karena penurunan nilai uang kertas, dan yang kedua adalah karena kenaikan demand:
- Ketika nilai uang kertas jatuh harga emas akan menjadi sangat mahal bila dibeli dengan uang kertas tersebut.
- Harga emas yang mahal tidak akan menurunkan minat orang untuk membeli emas, malah justru sebaliknya akan semakin banyak orang memburunya karena dalam situasi inflasi tinggi ? emas inilah jaring penyelamatnya. Demand yang tinggi inilah yang mendorong kenaikan harga emas berikutnya.
Well, kabar baiknya adalah kenaikan ini mungkin tidak terjadi sekarang atau dalam waktu dekat, tetapi akan seiring dengan garis-garis merah di grafik tersebut di atas. Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 04 February 2010. Tags: Armored Wolf LLC, Bloomberg, budget crisis, collapse, Greece, John Brynjolfsson, Julie Hyman, krisis hutang, Mark Crumpton, Portugal, Spain, Spanyol, US Dollar, US Treasury, Yunani
John Brynjolfsson, Chief Investment Officer (CIO) of Armored Wolf LLC, talks with Bloomberg’s Mark Crumpton and Julie Hyman about the outlook for the US Dollar. Brynjolfsson also discusses Greece’s budget crisis and the U.S. Treasury market. (Source: Bloomberg)
Posted in Video
Posted on 04 February 2010. Tags: analisa statistik, defisit, dunia keuangan, emas, Eropa, Eropa Timur, grafik, harga emas, harga saham jatuh, harga saham naik, harga turun, jangka panjang, jangka pendek, jatuh, keseimbangan baru, krisis hutang, likuiditas, mengejutkan, panik, pasar dunia, pelaku pasar, peluang harga naik, piutang, Portugal, Spanyol, Tahapan dalam Krisis, US$, World's Reserve Currency, Yunani
Meskipun sudah saya prediksikan dalam serangkaian tulisan pekan ini tanggal 01/02/10; 02/02/10; 04/02/10; penurunan harga emas yang tajam semalam terus terang juga mengejutkan saya sendiri. Memang di tulisan-tulisan tersebut saya estimasikan harga emas dalam jangka pendek bisa turun hingga kisaran US$ 975/Oz; saya sendiri tidak menduga bahwa harga emas bisa turun di atas 4% ke angka US$ 1,057.40 semalam.
Di luar kebiasaan pula, pada umumnya bila harga emas turun ? harga saham naik karena dana dari penjualan emas di pasar sebagian lari ke saham. Tidak demikian yang terjadi semalam, harga saham dunia juga jatuh. Semua dana untuk sementara nampaknya lari ke US$.
Apa yang menjadi penyebab kejadian yang tidak biasa ini? Saya coba telusuri penyebabnya ternyata bermuara di krisis hutang beberapa negara Eropa. Kekhawatiran yang meluas atas krisis hutang dan defisit Yunani, Spanyol, Portugal dan beberapa negara kecil di Eropa Timur telah membuat seluruh pasar dunia mengkawatirkan likuiditas.
Ini yang disebut systemic yang sesungguhnya; bila ada negara yang gagal ? maka akan sangat cepat merembet ke negara-negara lain atau institusi keuangan dunia karena piutang mereka yang tidak tertagih, likuiditas yang tersedot dan seterusnya.
Kekhawatiran akan likuiditas inilah yang membuat orang memborong US$. Terlepas bahwa US$ sebenarnya juga memiliki masalahnya sendiri ? bagaimanapun sampai sekarang US$ masih dianggap sebagai World?s Reserve Currency.
Apakah penurunan ini akan berlanjut? Untuk sementara mungkin. Tetapi sekian banyak analisa yang saya baca dan analisa saya sendiri ? untuk jangka panjang tetap peluang naiknya harga emas lebih tinggi dari peluang menurunnya.
Kejadian semalam mirip dengan kejadian November 2008 yang saya tulis dalam judul ?Tahapan Dalam Krisis Dan Pengaruhnya Terhadap Harga Emas?? ; untuk memudahkan pembaca saya tampilkan lagi ilustrasinya pada grafik di atas.
Seperti berlalunya kekhawatiran likuiditas US$ pada akhir 2008 tersebut, selepas panik pelaku pasar dan juga negara-negara akan kembali berpikir logis dan harga-harga akan menuju keseimbangan baru. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy