Tag Archive | "peternakan"

Model Matematika Kambing: Work Smart-nya Para Nabi


Bahwasanya seluruh nabi-nabi menggembala kambing, ini hadits-nya shahih dan sudah pernah saya tulis dalam tulisan saya sebelumnya. Namun potensi ekonomi yang luar biasa yang terbawa dari ekonomi berbasis kambing ini yang belum banyak diungkap oleh para pakar perkambingan sekalipun. Dalam tulisan ini saya ingin share potensi tersebut dengan menggunakan model matematika, yang kemudian hasilnya saya tuangkan dalam grafik agar mudah dipahami.

Untuk membuat model ini, perlu diketahui karakter kambing ini antara lain kemampuan beranaknya yang 3 kali dalam 2 tahun; rata-rata anak 2 meskipun bisa 3, 4 atau 1. Kemudian kambing adalah juga merupakan hewan yang mudah mati bila terkena penyakit, rasio kematian yang dianggap wajar adalah 5%.

Nah kalau sebagai contoh Anda pelihara 100 ekor kambing sekarang, berapa ekor kambing akan Anda miliki 10 tahun yang akan datang bila diambil rata-rata beranak 3 kali dalam 2 tahun, rata-rata sekali beranak 2 dan rasio kematian 5%? Anda akan terkejut dengan jumlahnya, pada akhir tahun ke 10 jumlah kambing di kandang Anda bisa mencapai  681,000 ekor! Wow, nggak masuk akal? Berikut penjelasannya.

Skenario #1: Bila 3 x kali beranak dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Skenario #1: Beranak 3x dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Dengan rasio kematian 5% per tahun; kambing indukan awal yang tadinya 100 ? akan tinggal 63 ekor pada tahun ke 10. Tetapi kambing turunan 1, sudah ada 300-ekor pada akhir tahun ke 2 dan telah menjadi 1790-an ekor pada akhir tahun ke 10. Kemudian mulai tahun ke 4 lahir kambing turunan ke 2, yang pada akhir tahun ke 10 telah menjadi sekitar 22,000 ekor.

Mulai tahun ke 6 lahir turunan ke 3, yang kemudian pada akhir tahun ke 10 jumlah turunan ke 3 ini telah mencapai sekitar 149,000 ekor. Pada tahun ke 8 lahir turunan ke 4, yang 2 tahun kemudian yaitu akhir tahun ke 10 turunan ke 4 ini telah mencapai 509,000 ekor.

Skenario #2: Beranak 3x dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Skenario #2: Beranak 3x dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Jadi kambing Anda saat itu dari induk awal sampai turunan ke 4-nya adalah 63+1,790+22,000+149,000+509,000 = 681,853 ekor. Apakah semudah ini kita beternak kambing? Tentu tidak. Untuk menggarap potensi yang besar tersebut tantangannya tidak kalah besarnya:

  • Untuk menjaga agar kematian rata-rata berada disekitar angka 5% saja ? ini dibutuhkan berbagai keahlian dokter hewan untuk mengatasi berbagai penyakit yang bisa menyerang kambing.
  • Untuk membuat kambing hamil dan beranak tepat waktu setiap 8 bulan, dibutuhkan serangkaian ahli-ahli reproduksi hewan yang canggih.
  • Untuk menjaga kesehatan kambing agar dapat hidup sampai usia 10 tahun, dibutuhkan ahli-ahli pakan dan nutrisi hewan yang paripurna.
  • Walhasil intinya tidak mudah, namun potensi tersebut riil dan bisa dicapai.
Skenario #3: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Skenario #3: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Saya sendiri optimis, bahwa seluruh keahlian tersebut pasti ada di anak-anak bangsa ini. Tinggal menemukan saja orang-orang yang tepat untuk ini.

Katakanlah kita tidak berhasil membuat tingkat kematian hanya 5% tetapi 10%, maka kambing kita pada tahun ke 10 masih akan mencapai di atas 500,000 ekor. Bila kita gagal membuat kambing beranak tepat waktu setiap 8 bulan dengan anak rata-rata 2; tetapi hanya tercapai separuhnya saja; maka kambing kita pada akhir tahun ke 10 akan turun drastis tetapi masih di atas 58,000 ekor.

Skenario #4: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Skenario #4: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Anggap kita gagal keduanya, yaitu kambing hanya beranak ½ dari target (3 ekor dalam 2 tahun, bukan 6 ekor dalam 2 tahun), kemudian kita juga hanya bisa menekan kematian pada tingkat 10% populasi per tahun ? maka kambing kita di akhir tahun ke 10 masih berjumlah di kisaran 43,000 ekor.

Jadi rentang hasil peternak yang biasa saja dengan peternak yang berhasil sampai akhir tahun ke 10 adalah antara 43,000 ? 680,000 ekor. Seandainya toh kita hanya menjadi peternak yang biasa-biasa saja tetapi benar-benar dilakukan, maka problem daging dan susu nasional yang sampai sekarang masih mengandalkan produk import insya Allah bisa kita atasi.

Inilah barangkali salah satu rahasia ekonomi para nabi, mereka bekerja dengan cerdas menggembala kambing karena multiplier effect yang luar biasa ini. Apa yang kami lakukan di peternakan kambing kami di Jonggol, adalah baru langkah awal untuk mengikuti jejak para nabi tersebut.

Meskipun 4 piala dalam kontes ternak se Jawa Barat telah bisa kami raih, tidak berarti apa yang kami lakukan sudah berhasil. Masalah-masalah seperti menekan rasio kematian, masalah pakan, masalah reproduksi tetap masih harus diatasi sekuat tenaga agar minimal kita bisa menjadi peternak yang biasa-biasa saja.

Karena risiko besar yang masih harus diatasi tersebutlah yang membuat kami selama ini belum menerima ? titipan? investasi kambing; namun bagi (calon) investor yang mau mempelajari perkambingan ini dan mau menangung risiko sama seperti yang kami hadapi ? insya Allah kami mulai bisa libatkan segera.

Ada 2 pola investasi yang segera kami buka ? dan bagi yang berminat mulai bisa menghubungi kami untuk mendaftarkan minatnya (Letter of Intent), yaitu:

  1. Investor hanya bertindak sebagai Shahibul Mal dalam aqad Mudharabah Muqayyadah. Melalui pola ini investor bisa menyimpan dananya di BMT mitra kami seperti BMT Daarul Muttaqiin atau Bank Syariah yang ada kerjasama dengan kami, secara spesifik dalam simpanan tersebut diaqadkan untuk berternak kambing di peternakan kambing Indolaban – Jonggol Farm (karena insya Allah nantinya ada peternakan-peternakan lainnya).
  2. Investasi langsung dimana (calon) investor benar-benar terlibat dalam peternakannya. Investor bisa membeli kavling di Jonggol Farm yang cukup untuk membuat kandang, dlsb. Tanah, kandang lengkap isinya menjadi milik penuh investor. Bila diperlukan support dari sisi pemeliharaan kambing, kesehatan, pakan, dlsb. dapat di outsourced ke team kami yang ada di lokasi; demikian pula dengan pengolahan dan pemasaran produknya.

Sama dengan Pola Investasi Syariah pada umumnya; tidak ada jaminan apapun dari kami mengenai hasil atau return-nya; yang ada adalah usaha bersama untuk menekan risiko dan ber-amal jama?i secara maksimal ? agar kelak kita bisa berdaulat dari sisi ekonomi ? mulai dari kambing ini.

Lantas bagaimana prosedurnya bila Anda berminat? Selain mengirim surat/email yang menyatakan minat tersebut ke indo...@dinarislam.com, Anda kami undang untuk berkunjung ke Jonggol agar Anda bener-bener tahu apa yang kami lakukan disana, tahu risiko-nya selain juga tahu potensi hasilnya. Semoga Allah memudahkan kita untuk beramal yang diridloi-Nya. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Kita Butuh Lebih Banyak Captain of Industry, Bukannya Robber Baron


Captain of Industry adalah istilah yang awalnya muncul di Inggris di masa revolusi industri untuk menggambarkan karakter para pemimpin usaha yang unggul. Mereka-mereka ini adalah orang yang mampu menggunakan pengetahuan, bakat dan kemampuannya untuk meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, menciptakan lapangan kerja dan menyumbangkan sebagian hartanya untuk menolong orang lain. Keberadaan para Captain of Industry inilah yang konon berhasil memajukan belahan bumi bagian utara pada umumnya sampai kondisi mereka sekarang.

Sebaliknya, di belahan bumi selatan ? yang digambarkan sebagai belahan yang kalah maju dengan belahan bumi utara; keterlambatan kemajuan mereka sebagian besar karena kesalahannya sendiri. Ekonomi mereka tidak dibangun oleh para Captain of Industry tetapi oleh para Robber Baron. Kebalikan dengan Captain of Industry, Robber Baron adalah pemimpin-pemimpin usaha yang menggunakan kekuatan lobi-nya untuk mempengaruhi para pembuat Undang-Undang dan pengambil keputusan dalam suatu negara ? untuk kepentingan usahanya ? bukan untuk kepentingan bangsanya.

Bila kita mau introspeksi pada negeri kita ini, kita akan bisa menyimpulkan sendiri jawabannya. Mengapa begitu banyak pejabat publik yang akhirnya harus mendekam di penjara? Karena mereka-mereka tersebut telah menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan usaha tertentu. Tidak hanya para eksekutif-nya, banyak juga dari kalangan legislative di daerah sampai pusat yang harus berhadapan dengan hukum karena mereka terpengaruh oleh para Robber Baron ? atau bahkan yang lebih buruk menciptakan para Robber Baron baru.

Robber-BaronsKarena ulah para Robber Baron inilah, hutan-hutan kita gundul, bumi kita menjadi gersang, sumber-sumber kekayaan alam kita habis tidak jelas kemana hasilnya. Kita harus mengimpor begitu banyak kebutuhan kita mulai dari terigu, daging sapi, susu, gula dan bahkan beras dan garam ? ya karena ulah para Robber Baron ini pula.

Ulah para Robber Baron inipun semakin menjadi-jadi sejak era reformasi yang kemudian berlanjut pada otonomi daerah.

Suatu saat saya pernah diundang makan siang oleh seorang teman warga asing yang dahulu saya kenal semasa kami sama-sama bekerja di perusahaan Inggris di bidang finansial. Karena kerasannya dia di Indonesia, sampai saat ini dia tetap di Indonesia ? tetapi profesinya bukan lagi sebagai ahli keuangan, dia kini broker politik mewakili sejumlah kepentingan usaha dari negerinya.

Uniknya dia punya spesialisasi sendiri, dia tidak menggarap eksekutif dan legislative di tingkat pusat ? tetapi justru menggarap para calon kepala daerah khususnya di Tingkat II. Di daerah-daerah yang potensi alamnya besar, mereka menerjunkan tim untuk membiayai para calon kepala daerah Tingkat II tersebut dengan kompensasi-kompensasi tertentu bila kelak mereka benar-benar terpilih. Bisa kita bayangkan apa jadinya daerah tersebut, bila pada Pilkada yang menang adalah para calon yang didanai oleh ?investor? asing tersebut. Kekayaan alam daerah itu bisa ?tergadai? oleh komitmen sang kepala daerah terpilih.

Well, tidak semuanya seburuk itu. Kita masih bisa optimis, karena kita masih melihat banyak (calon) Captain of Industry di negeri ini. Diantaranya yang saya kenal pribadi adalah temen se-fakultas yang berhasil membangun jaringan inti-plasma pengolahan hasil laut. Jaringan usahanya ini 5 tahun lalu saja sudah memiliki 27 pabrik ? yang secara total tenaga kerja dan anggota plasma-nya telah lebih dari 100,000 orang.

Menariknya si kawan ini adalah ketika dia di dekati oleh salah satu partai politik untuk menjadi pendukungnya (dengan pengaruhnya pada 100,000-an pemilih, partai mana yang tidak tertarik?),  dia menolak bergabung. Padahal kalau dia bergabung, dia akan mendapatkan konsesi-konsesi tertentu untuk kemajuan usahanya ke depan. Sikap penolakan seperti inilah yang akan membuat dia tetap menjadi Captain of Industry, dan tidak menjadi Robber Baron yaitu bila dia bergabung dengan kekuatan politik untuk membesarkan usahanya.

Piala Indolaban

Piala Indolaban

Memang banyak sudah anak terbaik bangsa ini yang seperti dia, tetapi kita butuh sangat lebih banyak lagi orang-orang seperti dia yaitu para (calon) Captain of Industry di negeri ini ? untuk menyaingi keberadaan para Robber Baron yang juga tumbuh pesat sejak era reformasi. Inilah antara lain sasaran kwalitas entrepreneurs dan business leaders yang ingin kita hasilkan melalui program Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin.

Meskipun baru dirintis sekitar 10 bulan lalu, Alhamdulillah Pesantren ini telah mulai menunjukkan hasilnya. Peternakan yang kita bangun dari kajian di Pesantren ini, kemarin (15/6) pada event Kontes Ternak Tingkat Jawa Barat yang juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat ? langsung menyabet 4 piala dari 4 kambing yang kita kirimkan ke Kontes.

Ke-4 Piala tersebut adalah Juara Pertama untuk Pejantan Bibit (Raja Pejantan); Juara Pertama untuk Betina Bibit (Ratu Bibit), Juara Kedua Untuk Betina Bibit dan Juara Ketiga Untuk Pejantan Bibit semua untuk kategori Kambing PE (Peranakan Ettawa). Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik untuk memberikan kontribusi kami dengan menyediakan bibit-bibit unggul industri peternakan umumnya, dan khususnya industri kambing di Indonesia. Dari sinilah antara lain diharapkan Captain of Industry itu lahir. Semoga Allah memudahkan jalanNya untuk kita bisa beramal shalih yang diridloiNya, dan melindungi kita dari amal buruk yang dimurkaiNya. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Gold Wars: Perang Terhadap Emas Dari Kacamata Swiss Banker


Tulisan ini saya sarikan dari buku Gold Wars: The Battle Against Sound Money As Seen From Swiss Perspective, karya Ferdinand Lips (Foundation for Advancement of Monetary Education, 2001). Menariknya, buku ini ditulis oleh seorang Swiss Banker – yang bahkan sempat mendirikan bank sendiri menggunakan namanya ? yang sangat tahu seluk beluk permainan terhadap emas dunia.

Menurut Lips ini perang terhadap emas dimulai tahun 1933 ketika President Amerika waktu itu Franklin D. Roosevelt menyita seluruh emas yang dimiliki warga negaranya, dan menaikan harga emas di negeri itu dari US$ 20.67/ounce ke US$ 35.00/ounce. Perang ini menjadi semakin serius sejak ditinggalkannya Bretton Woods Agreement 1971 ? dimana sejak saat itu praktis tidak ada satu uang-pun di dunia yang dikaitkan dengan emas ? kecuali Swiss.

Swiss merupakan negara yang bertahan mengkaitkan uangnya dengan emas sampai tahun 1992 ? itulah sebabnya sampai tahun tersebut mata uang Swiss yaitu Swiss Franc adalah yang paling kuat di dunia. Swiss dahulu juga merupakan surga bagi warga dunia yang ingin mengamankan asetnya.

Namun sejak tahun 1992, Swiss juga menjadi anggota IMF, dan sebagai anggota IMF mereka wajib tunduk pada aturan-aturan IMF yang antara lain melarang anggota IMF mengkaitkan uangnya dengan emas. Uang boleh dikaitkan dengan hasil-hasil peternakan, pertanian dan lain sebagainya atau apapun tetapi tidak boleh dikaitkan terhadap emas.

Lantas mengapa bank-bank sentral dunia dalam koordinasi IMF ini memerangi emas? Menurut Ferdinand Lips ini adalah karena emas merupakan barometer standar yang dengan mudah dapat mendeteksi bila ada yang salah dalam sistem keuangan yang ada di dunia ? dan para otoritas keuangan dunia tentu tidak suka kesalahannya mudah dibaca hanya dengan melihat harga emas!

Ferdinand Lips (1931 - 2005)

Ferdinand Lips (1931 - 2005)

Dia mencontohkan apa yang terjadi di Amerika pada tahun 1960-an. Awal kesalahan sistem keuangan negeri itu terbaca dari naiknya harga emas dari US$ 35/ounce ke US$ 40/ounce pada masa pemerintahan Kennedy. Situasi memburuk pada akhir dasawarsa 60-an tersebut ketika Amerika terjerumus dalam perang yang tidak pernah bisa dimenangkannya yaitu Perang Vietnam.

Puncaknya tahun 1971 ketika Amerika benar-benar tidak bisa mengendalikan sistem keuangannya dan terpaksa melepaskan kaitan antara US$ dengan emas. Hari-hari yang mencekam dalam sistem keuangan Amerika yang belakangan menular ke seluruh dunia ini ? terekam dari cerita para pelaku langsung yang ditulis oleh Ferdinand Lips ini sebagai berikut:

?Pada tanggal 10 Agustus 1971 sekolompok bankers dan economist berkumpul membicarakan krisis moneter yang genting di negeri itu, termasuk di antara yang hadir adalah Paul Volker yang saat itu menjabat Under-secretary of the Treasury for Monetary Affairs.

Ada 2 opsi solusi yang saat itu dibicarakan; pertama menaikkan suku bunga atau menaikkan harga emas ? namun nampaknya Paul Volker tidak mengambil salah satunya. Dia mengambil solusi yang tidak terbayangkan waktu itu yaitu meninggalkan emas sama sekali dari referensi uang US$ Amerika. Sepekan kemudian keputusan ini diumumkan oleh presiden AS saat itu Nixon yang kemudian menimbulkan kejadian yang mengguncang dunia yang dikenal sebagai Nixon Shock 1971.?

Sejak saat itu perang terhadap emas semakin hari semakin meningkat yang digambarkan digambarkan oleh Lips (meninggal 2005, konon meninggal tidak wajar karena terlalu banyak tahu!) antara lain sebagai berikut:

?Dengan bantuan pemerintahan-pemerintahan dunia, di tahun 1990-an, perang terhadap emas memasuki fase yang sangat destructive. Bank-bank sentral menjual atau meminjamkan emasnya untuk menghancurkan harga emas?

Bila ?perang? yang diungkapkan oleh Ferdinand Lips tersebut benar adanya ?  kemungkinannya memang begitu karena sebagai ?orang dalam? dari sistem perbankan dunia tentu apa yang ditulisnya memiliki dasar yang kuat ? maka dalam ?perang? ini hanya ada 2 pihak, yaitu Sistem Uang yang Adil berbasis Emas dan Sistem Uang yang Destructive yang berbasis Uang Kertas. Hati kecil kitalah yang bisa menjawab, sistem yang mana yang seharusnya kita bela… Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

Perkiraan Harga Emas Versi National Inflation Association (NIA)


The National Inflation Association (NIA) adalah organisasi yang didedikasikan untuk mempersiapkan warga Amerika dalam menghadapi hyperinflasi. Targetnya bukan hanya mampu bertahan (survive) tetapi sedapat mungkin juga tetap makmur ketika hyperinflasi terjadi.

Kekhawatiran akan segera terjadinya hyperinflasi di Amerika ini bukannya tanpa alasan mengingat saat ini Amerika terlibat dalam hutang yang nilainya tidak kurang dari US$ 12 trilyun; disamping memiliki kewajiban yang tidak ada dananya (unfunded liability) sebesar US$ 55 trilyun.

Dengan commitment bailout US$ 11.8  trilyun dan sudah direalisir US$ 3.6 trilyun; maka para pendiri NIA ini yakin Amerika akan segera bangkrut. Hyperinflasi sudah di depan mata karena Federal Reserve hanya memiliki 1 cara untuk membiayai deficit yang ada yaitu mencetak uang dari awang-awang.

Ada 3 pilihan investasi yang menurut NIA harus dilakukan oleh warga negara Amerika untuk selamat dan bahkan tetap makmur meskipun hyperinflasi melanda. Ke-3 investasi ini meliputi segala sesuatu yang terkait dengan emas, perak dan pertanian dalam arti luas (termasuk perikanan, peternakan, kehutanan, dlsb).

Pola pemikiran alternative investasi masa depan selain emas/perak yaitu investasi sektor pertanian dalam arti luas tersebut banyak kemiripannya dengan yang juga kami tengah coba dalam berbagai project seperti project Planet Jamur dan project Susu Kambing.

Kekawatiran NIA akan terjadinya hyperinflasi ini sebenarnya juga nampak jelas bila kita melihat harga emas dalam dasawarsa terakhir. Lihat trendnya yang cenderung exponential, khususnya sejak pertengahan dasawarsa ini. Ternyata kecenderungan hyperinflasi ini tidak hanya terhadap US$ saja, tetapi juga terhadap Euro dan Poundsterling seperti grafik di atas.

Bila US$, Euro dan Poundsterling mengalami kecenderungan hyperinflasi yang sama; maka kecil kemungkinan mata uang lainnya akan bebas dari risiko hyperinflasi yang sama.

Lantas apa kaitannya potensi hiperinflasi ini dengan harga emas? Menurut NIA, harga emas yang ada sekarang terlalu rendah dibandingkan dengan harga yang seharusnya. Menurut mereka ini saat inipun harga emas sudah seharusnya well above US$ 2,000/Oz.

Percaya? Well kita lihat saja nanti bersamaan dengan berlalunya waktu. Wa Allahu A?lam.

Posted in Financial PlanComments (0)

Blue Ocean Mindset, Bukan Bersaing Tetapi Berlomba Dalam Kebajikan


5 tahun lalu Harvard Business School Press menerbitkan buku yang legendaris bagi dunia usaha dengan judul Blue Ocean Strategy dan sub judul How To Create Uncontested Market Space and Make the Competition Irrelevant. Buku ini ditulis oleh Chan Kim dan Renee Mauborgne yang keduanya adalah professor di INSEAD.

Inti dari isi buku ini adalah strategi bagi para pelaku usaha untuk bisa keluar dari medan persaingan yang tidak sehat ? yang digambarkan sebagai red ocean karena berdarah-darahnya pertempuran di pasar ? menuju pasar yang boleh dikatakan tanpa pesaing yang digambarkan sebagai blue ocean ? karena tidak adanya setetes-pun darah yang tercecer.

Selain menginspirasi para pelaku dunia usaha; buku ini sebenarnya bisa juga memberi inspirasi bagi  para aktifis gerakan sosial, keagamaan dan bahkan pada para ustad dan juru dakwah.

Dulu ada Da?i kondang yang sering memberikan pencerahan kita untuk meninggalkan persaingan yang tidak sehat. Dengan arif Da?i tersebut menceritakan betapa naifnya persaingan antara tukang ojek dengan tukang ojek, tukang cukur dengan tukang cukur, bahkan Da?i-pun katanya bersaing dengan Da?i lainnya.

Nasihat Da?i ini esensinya sama dengan isi buku tersebut di atas; bila kita jumud pada segmen kita, menganggap orang lain yang juga menggarap segmen ini adalah pesaing yang harus diserang ? maka kita akan berdarah-darah kehabisan tenaga, sementara kita sendiri akan kehabisan sumber daya kreatif kita untuk melihat adanya segmen lain yang perlu penggarapan.

Dengan wawasan tersebut di ataslah maka kami tidak pernah merasa bersaing dengan penggerak Dinar lainnya; meskipun ada yang mungkin menganggap kami sebagai pesaing dan ofensif terhadap apa yang kami lakukan ? kami tidak merasa perlu untuk membalasnya, karena ini hanya akan mengurangi kemampuan kreatif kita.

Belajar bersama di Pesantren Wirausaha

Belajar bersama di Pesantren Wirausaha

Medan amal Islami ini terlalu luas untuk kita, sehingga kita tidak harus tetap berada di red ocean; begitu banyak blue ocean di luar sana yang bisa menjadi lapangan kita untuk berbuat kreatif dan beramal secara maksimal. Bahwasanya orang lain melakukan hal yang sama, kami anggap dia bukanlah pesaing ? mereka adalah sparring partners kita untuk bisa berlomba-lomba dalam kebajikan atau fastabiqul khairat.

Bahkan kini istilah blue ocean yang menyegarkan sebagai lawan kata red ocean yang panas berdarah-darah, seolah terwujud secara lahiriah di project Pesantren Wirausaha yang kami cetuskan sejak beberapa bulan lalu. Bila Anda berkunjung kesana, Anda akan menemukan saudara-saudara Anda yang dengan tulus ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman di berbagai bidang usaha mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan dan berbagai bidang lainnya; tidak ada yang menganggap Anda pesaing atau calon pesaing.

Semua adalah saudara yang masing-masing menjadi sparring partners bagi yang lain untuk fastabiqul khairat. Dengan Blue Ocean Mindset ini, dunia terasa sejuk bagi kita sesejuk komplek Pesantren kita di atas. Semoga sparring partners kita dapat merasakan kesejukan yang sama. Wa Allahu A?lam.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Entrepreneurship 2.0: Peluang Wirausaha di Era Informasi


Tulisan kali ini saya ambilkan dari isi salah satu bab di buku Six Pixels of Separation karya Mitch JoelPresident of Twist Image (Business Pluss, New York ? 2009). Buku yang membahas bisnis berbasis teknologi informasi ini secara umum sangat menarik (lihat video “Interview with Mitch Joel”), tetapi yang satu bab tentang Entrepreneurship 2.0 mudah untuk dicerna dan diterapkan oleh siapapun ? tanpa harus berlatar belakang IT.

Berbeda ternyata dengan anggapan masyarakat luas bahwa untuk bisa sukses berbisnis di era informasi ini haruslah sangat menguasai IT dan seluk beluknya. Mitch Joel sendiri juga orang yang gaptek ? gagap teknologi; tetapi nampaknya dia sangat sukses dengan new media ini.

Begitu banyak tools yang bisa kita manfaatkan untuk mulai berbisnis dengan menggunakan teknologi ini ? bahkan tanpa kita harus membayar satu sen-pun. Anda bisa mempromosikan produk Anda sepuasnya melalui blog misalnya, mengupdate ?clientbase? Anda di facebooktwitter dan berbagai media gratisan lainnya.

Karena saking banyaknya media yang bisa dipakai, kita malah justru sering bingung ? menggunakan yang mana yang efektif untuk tujuan bisnis kita. Nah melalui Entrepreneurship 2.0 inilah Mitch Joel memformulasikan apa yang kita butuhkan dengan sederhana.

Intinya adalah apa yang dia sebut sebagai 5 C?s of Entrepreneurship 2.0 sebagai berikut:

1) Connectinghari gini kita tidak bisa lagi untuk tidak selalu connect dengan sumber informasi ? internet, email dan sejenisnya. Begitu banyak opportunity kita hilang bila kita kehilangan connection ini.

2) Creating: setiap kita sebenarnya punya banyak kemampuan untuk meng-create sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Creation ini bisa berupa tulisan (seperti yang saya lakukan di web ini), ide, gambar, film, ataupun barang dan jasa yang kemungkinan akan dibutuhkan oleh orang lain.

3) Conversation: melalui media yang mayoritas gratisan ini ? kita bisa mengkomunikasikan hasil kreasi kita di butir 2 dan memperoleh response/masukan yang juga gratis.

4) Community: dari kreasi kita yang secara kontinyu kita komunikasikan dengan audien kita tersebut ? akan terbentuklah komunitas yang sudah tersaring dengan minat yang relatif sama.

5) Commercial: Setelah komunitas terbentuk, maka barulah  kita ataupun anggota komunitas kita dapat saling memberi manfaat dalam bentuk bisnis, sosial, keagamaan, dlsb.

Nah mari sekarang kita lihat aplikasi dari teori 5 C?s tersebut pada contoh kasus riil yang kita lakukan di Pesantren Wirausaha. Saya ambil contoh kasus ini karena ?produk? yang namanya Pesantren Wirausaha ini baru dan masih di titik yang sangat awal, namun hasilnya mulai kelihatan sehingga bisa diikuti siapapun secara gratis.

Pada akhir Agustus 2009 saya menulis tentang Berwirausaha Sebagai Wasilah Untuk Mendekatkan Diri Pada Allah inilah kreasi awal tersebut yaitu ide tentang Pesantren Wirausaha; karena banyaknya response dan pertanyaan ? 2 hari kemudian di bulan yang sama saya per jelas dengan tulisan Pesantren Wirausaha: Training, Coaching & Mentoring?

Response yang terus berdatangan membuat kita bersemangat untuk benar-benar memulai program Pesantren Wirausaha ini, tidak sampai 2 bulan kemudian alhamdulillah Pesantren Wirausaha Angkatan I-pun kick off. Saat ini program Pesantren Wirausaha ini sudah diikuti oleh lebih dari 120 orang dan insya Allah akan terus bertambah.

Bisnis riil yang benar-benar kita mulai-pun lahir setelah komunitas ini terbentuk; peternakan kambing di Jonggol, Bogor adalah salah satunya.

Yang kita ingin contohkan disini adalah ? di era informasi ini ? betapa cepatnya kita bisa meng-create ide-ide, menyebar luaskannya, mengumpulkan response, dan mengimplementasikannya menjadi suatu ?produk?. Dalam kasus ?produk? Pesantren Wirausaha ? waktu yang dibutuhkan hanya 4 bulan ? dari ide sampai produk benar-benar jalan.

Pendekatan yang sama bisa dilakukan juga untuk produk-produk barang dan jasa lainnya, mau coba?? Insya Allah Anda juga bisa!

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Gerak Cepat Pesantren Wirausaha: Yes, There Is A Free Lunch


Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) Mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (QS. Al-Insan (76): 5-10)

Alhamdulillah program Pesantren Wirausaha yang kami canangkan 3 bulan lalu, hari Sabtu (14/11) kemarin telah memasuki kick off angkatan ke-3 untuk kelompok eksekutif; meskipun program kick off ini berlangsung seharian ? tidak nampak wajah lelah dari para peserta ? bahkan beberapa diantara mereka tidak ingin segera pulang setelah program usai.

Berbeda dengan Angkatan 1 dan Angkatan 2 yang kami batasi jumlahnya sampai 15 orang per angkatan; Angkatan ke-3 ini diikuti oleh sekitar 40-an peserta. Karena jumlahnya yang besar, Angkatan ke-3 ini tidak lagi kami adakan di kantor kami, tapi diadakan di lokasi peternakan Lembu Ageng ? Tapos. Lokasi kick off yang langsung di lapangan ini selain lebih leluasa dari sisi ruangan, tempat parkir,  dlsb; juga lebih mendekatkan peserta dengan environment usaha yang riil ? lengkap dengan bau-bau sapinya… :) .

Selain kiat-kiat untuk mencapai sukses usaha, ada upaya penting yang selalu kita ajak kepada para peserta Pesantren Wirausaha di seluruh angkatan untuk belajar bersama kami yaitu bagaimana kita bisa berbisnis dengan bisnis model ke-3. Bisnis model ke-1 adalah apa yang disebut Profit Maximizing Business ? bisnis yang hanya mengejar untung semata; Bisnis model ke-2 adalah yang disebut Social Business; Bisnis model ke-3 adalah bisnis yang mengejar Ridha Allah.

Pada business model ke-1, para pebisnis mengejar keuntungan/balasan dari manusia lain yang menjadi pelanggannya; Bisnis model ke-2 pebisnisnya mencari kepuasan pribadi dalam berbagai bentuknya (pengakuan masyarakat, nama, popularitas, dukungan politik, dlsb); Busines model ke-3 ? para pebisnisnya sama sekali tidak mengharapkan apapun dari manusia lain ? karena hanya Ridha Allah yang dikejar.

Pesantren Wirausaha Angkatan ke-3

Pesantren Wirausaha Angkatan ke-3

Bila di dalam business model ke-1 dan ke-2 ada istilah no free lunch ? yang artinya setiap perbuatan (yang dikiaskan dengan memberi makan siang) seseorang pada orang lain ? pasti ada pamrihnya; bagaimana dalam bisnis model ke-3 kita? Yes, there is a free lunch dalam arti harfiah maupun kiasan. Segala yang kita lakukan tidak mengharapkan balasan ataupun ucapan terima kasih kecuali hanya untuk mencari keridlaan Allah semata, yang kita lakukan dilandasi rasa takut kepada Allah ? seperti dalam ayat tersebut di atas.

Dengan penjiwaan konsep model bisnis ke-3 ini, insya Allah para peserta akan rela bercapai-capai untuk mengejar suatu pengalaman kemudian dengan suka rela pula menyebarkannya ke anggota lain yang berhalangan, dan juga kemudian ke masyarakat luas. Dengan kerelaan untuk berbagi dan saling melengkapi, program-program usaha kita insya Allah bisa berjalan sangat cepat atas kemudahan dan bimbingan dariNya.

Foto di atas adalah contohnya, kandang kambing ini adalah ?prakteknya? angkatan ke-2 yang kick off 2 pekan lalu. Kini bukan hanya kandang yang sudah terisi kambing yang ada; di latar belakang nampak hamparan ladang yang sedang diolah untuk siap kita tanami rumput gajah. Insya Allah kambing-kambing yang kita pelihara di kandang ini, tercukupi pakannya dari rumput yang kita tanam sendiri di sekitar kandang nantinya.

Model business berbasis kambing karya peserta Pesantren Wirausaha angkatan ke-2 ini rupanya tidak hanya diminati angkatan ini, angkatan lain dan bahkan pembaca tulisan saya tanggal 10/11/09 tentang Kambingnomics juga ikut meminati program ini.

Hanya saja di awal-awal usaha ini, banyak risiko yang mesti siap kita hadapi ? oleh karenanya para peminat investasi murni di bidang ini masih kita minta bersabar dahulu ? sampai kita yakin betul bahwa investasi ini bisa sebaik hitungan di atas kertas atau paling tidak mendekatinya. Yang sudah kami libatkan dalam investasi ini saat ini baru para investor yang sekaligus entrepreneur ? ya para peserta Pesantren Wirausaha itu tadi ? karena mereka-mereka ini selain siap berinvestasi juga siap terjun ke lapangan dan menanggung risiko bersama kami.

Beberapa bulan kedepan, bila upaya ini telah memberikan tingkat hasil yang lebih riil dan risiko awal usaha sudah di-minimize ? insya Allah baru kita akan libatkan para investor murni (tidak harus terlibat dalam pengusahaannya). Salah satu mekanismenya misalnya melalui aqad Mudharabah Muqayyadah untuk investasi kambing di BMT Daarul Muttaqiin, dan berbagai mekanisme lain yang dimungkinkan untuk ini. Mudah-mudahan upaya ini terus mendapatkan kemudahan dan bimbinganNya. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes