Tag Archive | "pesantren wirausaha"
Posted on 06 September 2010. Tags: akses pasar, Al-Qur'an, Allah, baju & makanan, bekerja, Berlomba dalam Kebajikan, Daarul Muttaqiin, ekonomi, ekonomi Islam, fastabiqul khairat, Food Court, Hadits, Halal, hijrah, HR. Ibnu Majah, ibadah, infaq, Jabodetabek, kaum Muhajirin, keadilan, kebersahajaan, kecurangan, kehati-hatian, kejujuran, kesetaraan, Khalifah, liability, Madinah, mahal, Mall, masjid, mayoritas umat, Medina Market, Muhammad SAW, Muhtasib, muslimin, Nabi, Nilai-Nilai, orang kaya, pasar, Pasar Madinah, Pengawas Pasar, pengelolaan, pengemis, perdagangan, pesantren wirausaha, pinggir jalan, preman, produksi, Rasulullah SAW, riba, Satpol PP, Suq Al-Madinah, surat Al-Imran, tramtib, tukang ngamen, Umar bin Khattab, Yahudi
Salah satu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Madinah yang kemudian membuat perubahan besar dalam penguasaan ekonomi adalah konsep bahwa bekerja adalah Ibadah. Melalui konsep inilah kaum Muhajirin yang berhijrah mengikuti Rasulullah SAW tanpa membawa harta-pun segera menjadi asset bagi umat dan bukannya liability – karena mereka dapat mengoptimalkan kemampuannya baik dalam kegiatan produksi maupun kegiatan perdagangan.
Digambarkan dalam sejarah bahwa setelah Hijrahnya Rasulullah SAW dan para pengikutnya, bumi-bumi yang semula gersang-pun kemudian terolah menjadi kebun-kebun yang subur dan taman-taman yang indah. Karena konsep bekerja adalah ibadah pula, maka hal-hal positif yang terkait dengan peribadatan seperti keadilan, kejujuran, kesetaraan, kehati-hatian, kebersahajaan, infaq, dlsb dapat termanifestasikan dalam kehidupan umat sehari-hari ketika mereka bekerja.
Awalnya tentu tidak mudah karena ketika kaum Muhajirin mulai aktif berdagang di Madinah misalnya, mereka berdagang di pasar yang sudah ada waktu itu yaitu pasar yang dikelola oleh Yahudi. Pengelolaan pasar oleh Yahudi yang di Al-Qur?an digambarkan bahwa mereka menganggap HALAL untuk mengambil harta orang lain ini (orang-orang umi, QS. Al-Imran [3]: 75), tentu saja bermasalah.
Oleh karena penguasaan pasar oleh kaum yahudi tersebut pula maka umat Islam semula tidak bisa sepenuhnya mengimplementasikan nilai-nilai Islam di pasar ? maka kemudian Rasulullah SAW-pun memandang penting untuk segera mendirikan pasar bagi kaum muslimin di awal-awal terbentuknya masyarakat yang akan hidup dengan nilai-nilai Islam yang menyeluruh di Madinah.
Di suatu tempat yang berjarak hanya beberapa rumah arah barat laut dari Masjid Nabi – yang telah didirikan terlebih dahulu, Rasulullah SAW mendirikan pasar dangan sabdanya ?Ini pasarmu, tidak boleh dipersempit (dengan mendirikan bangunan, dlsb di dalamnya) dan tidak boleh ada pajak di dalamnya?. (HR. Ibn Majah)
Pasar di area terbuka ini memiliki panjang sekitar 500 meter dan lebar sekitar 100 meter (luas sekitar 5 ha), jadi cukup luas untuk mengakomodasi kebutuhan penduduk kota yang kemudian berkembang pesat ? paska Hijrah. Lokasinya juga dipilih sedemikian rupa sehingga penduduk yang datang dari berbagai wilayah ? mudah mencapai pasar tersebut. Pasar Madinah inilah yang kemudian menjadi urat nadi perekonomian negara Islam yang pertama, yang berpusat di Madinah.
Lokasinya yang tidak jauh dari Masjid Nabi tetapi juga tidak terlalu dekat (selang beberapa rumah) juga memiliki nilai strategis sendiri. Nilai-nilai yang terbawa dari ketaatan beribadah di masjid dapat mewarnai aktifitas perdagangan di pasar, namun hal-hal yang buruk dari pasar seperti keramaiannya tidak mempengaruhi aktifitas dan kekhusukan umat yang beribadah di masjid.

Pasar Madinah / Medina Market / Suq Al-Madinah
Bahkan cara-cara pengelolaan pasar-pun memiliki kemiripan dengan pengelolaan Masjid. Hal ini disampaikan oleh Umar Ibn Khattab yang menjadi Muhtasib ? Pengawas Pasar ? setelah Rasulullah SAW dengan perkataaannya bahwa ?Pasar itu menganut ketentuan masjid, barang siapa datang terlebih dahulu di satu tempat duduk, maka tempat itu untuknya sampai dia berdiri dari situ dan pulang ke rumahnya atau selesai jual belinya?.
Nilai pesan yang terkandung di dalam perkataan Umar ini sejalan dengan hadits Nabi SAW tersebut di atas yang intinya adalah akses ke pasar harus sama bagi seluruh umat; tidak boleh meng-kapling-kapling pasar. Hal ini diimplemantasikan Umar dengan melarang orang membangun bangunan di pasar, menandai tempatnya, atau mempersempit jalan masuk ke pasar. Bahkan dengan tongkatnya Umar menyeru ?enyahlah dari jalan? kepada orang-orang yang menghalangi orang lain masuk ke pasar.
Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sunah Rasulullah SAW mendirikan pasar ? yang kemudian juga terus ditegakkan oleh para Khalifah tersebut di atas?
Yang jelas situasi pasar-pasar yang ada dewasa ini tidak jauh berbeda dengan kondisi pasar di Madinah yang dikelola Yahudi sebelum didirikannya pasar bagi kaum muslimin oleh Rasulullah SAW tersebut di atas. Segala macam kecurangan a la yahudi terjadi di pasar kini, dan yang paling menyolok adalah akses pasar yang tidak mudah dijangkau oleh mayoritas umat.
Di JaBoDeTabBek misalnya, Anda bisa membuat baju-baju yang indah dan makanan-makanan yang enak. Tetapi tidak berarti Anda dengan mudah bisa menjualnya ke pasar. Untuk menyewa tempat di mall atau food court pada umumnya sangat mahal ? sehingga hanya bisa dijangkau segelintir orang saja ? yang justru sudah kaya.
Bila Anda berusaha jualan di tempat-tempat terbuka, di pinggir-pinggir jalan ? maka bila tidak digusur oleh tramtib atau Satpol PP ? Anda akan menjadi bulan-bulanan para preman, tukang ngamen, pengemis, dlsb. Walhasil, kesejahteraan umat secara luas ? sulit sekali diangkat karena antara lain terbatasnya akses ke pasar ini.
Maka selain perjuangan-perjuangan lainnya seperti perjuangan melawan riba, ketidak adilan ekonomi dan sejenisnya, kini saatnya para pejuang ekonomi Islam juga harus mulai memperjuangkan pasar bagi kaum muslimin ini.
Tentu juga tidak mudah, dan juga tidak langsung sempurna seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan Para Khalifah tersebut di atas, tetapi langkah menuju kesana harus ada yang memulai.
Dengan semangat mengikuti jejak Nabi tersebut di ataslah, kami ? Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin (PWDM) ? ingin mulai melangkah merintis embrio terwujudnya pasar bagi kaum muslimin ini dengan proyek-proyek yang kami sebut Pasar Madinah, Medina Market atau Suq Al- Madinah. Pemilihan nama ini adalah wujud kerinduan kita semua ? akan lahirnya umat yang makmur ? mengikuti sunah-sunah Nabi SAW termasuk dalam hal mendirikan dan mengelola pasar.
Kami tahu, beberapa pihak juga telah mulai melakukannya lebih dahulu ? sama sekali tidak bersaing dengan apa yang telah mereka rintis, tetapi pendekatan yang kami lakukan memang akan agak berbeda. Ini hanya perlombaan dalam kebajikan ? fastabiqul khayrat, semoga memberi manfaat yang maksimal bagi umat ke depan.
Bagi yang tertarik untuk terlibat dalam project Medina Market ini, brosur yang lebih detil dari tulisan ini dapat didownload di sini.
Semoga Allah senantiasa memudahkan kita pada amal yang diridloiNya…
Posted in Entrepreneurship
Posted on 03 September 2010. Tags: 15 Dinar, aktifitas outdoors, alam bebas, Allah, aqad Mudharabah Muqayyadah, bakteri, beban berat, Bekasi, belajar, binatang, Bogor, Bungi Jumping, business practitioners, CI, Cognition, Collective Intelligence, composites, Cooperation, Coordination, crash test, Daarul Muttaqiin, Depok, DinarIslam.com, encyclopedia, Flying Fox, Food Court, hijrah, investor, Islam, Jabodetabek, Jakarta, Jamur, Kambing Ettawa, Kambing Hot Rock, kaya, kebersamaan, kelompok, kemakmuran, kick-off, kompetensi, kota satelit, Lebaran, Linux, Madinah, makanan, Mall, masjid, Masjid Gedebog, masyarakat, Medina Market, muslimin, pasar, pekerjaan, pemodal, pengalaman, pengetahuan, perdagangan, pesantren wirausaha, Planet Beku, Ramadhan, Rasulullah SAW, Ready To Cook, Ready To Eat, RTC, RTE, Santri Wirausaha, Sate Balibul, Semut, software, Strategies, supplier, Tangerang, ustadz, vision sharing, Wikipedia
Pasar memiliki kedudukan strategis dalam membangun masyarakat Islam yang utuh; begitu strategisnya masalah ini sehingga Rasulullah SAW sendiri mencontohkan membangun pasar bagi kaum muslimin di Madinah sejak masa-masa awal Hijrah. Kelemahan dalam penguasaan pasar ini pula yang membuat umat Islam kini meskipun besar dari segi jumlah namun tidak memiliki kekuatan strategis dalam perdagangan. Di mall, di pasar modern maupun tradisional, di food court, dlsb, nuansa Islami hanya muncul di bulan Ramadhan khususnya menjelang Lebaran.
Pasar tidak muncul dengan sendirinya, harus ada yang memulai – lebih banyak yang mulai akan lebih berpeluang terbentuk secara lebih cepat. Oleh karena itu saya ingin mengajak para pembaca sekalian untuk secara kolektif memikirkan dan langsung bertindak untuk mulai membangun embrio pasar bagi kaum muslimin ini. Awalnya tidak harus besar dan tidak harus langsung sempurna ? setidaknya kita mulai dengan serius menyiapkan instrumen pokok dalam membangun kemakmuran umat ini.
Untuk pekerjaan besar ini kita bisa belajar dari sekelompok semut yang sedang mengangkat makanan berupa binatang atau lainnya yang beratnya puluhan kali berat semut itu sendiri. Bagaimana semut-semut ini melaksanakan pekerjaan besar tersebut? Siapa yang punya gagasan terus kemudian mengajak yang lain? Dengan bahasa apa mereka berkomunikasi? Bagaimana mereka menyepakati arah kemana makanan dibawa? dst. Mereka dapat melakukan ini karena hewan terkecil sekalipun, bahkan sampai sekelas bakteri-pun oleh Allah diberi kemampuan untuk ?berpikir? maupun ?bertindak? secara bersama-sama dengan kelompoknya. Ilmu manusia modern kemudian menyebut hal ini sebagai Collective Intelligence (CI).

Belajar dari Semut...
Bila dengan CI-nya, semut dan bakteri-bakteri yang kecil tidak kasat mata-pun dapat membunuh manusia yang besar ini ? maka dapat kita bayangkan pekerjaan besar apa yang bisa dilakukan oleh sekelompok manusia-manusia yang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi-nya yang pasti memiliki CI yang sangat perkasa ketimbang CI-nya bakteri, semut, dlsb.
Karena potensi pemanfaatan CI yang sangat besar tersebut, maka berbagai pihak kini rame-rame berusaha mengelola CI untuk berbagai tujuan. Linux misalnya menggunakan CI untuk menghasilkan software yang gratis dan sangat bermanfaat. Wikipedia untuk menghasilkan encyclopedia yang juga gratis ? yang encyclopedia semacam ini sebelumnya hanya dibeli oleh kalangan teknokrat yang kaya.
Secara tidak langsung dalam penerapannya yang masih terbatas, Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) juga menggunakan CI ini untuk mengembangkan berbagai project, mulai dari project Kambing Ettawa, Jamur, Composites, Planet Beku, Masjid ?Gedebog?, Sate Balibul, Kambing Hot Rock dan berbagai project lain yang insya Allah semakin meaningful ke depan.
Bagaimana kami mengelola CI-ini? ya antara lain melalui tulisan-tulisan yang kami lontarkan di web ini kemudian menuai masukan; juga melalui pertemuan-pertemuan fisik yang tidak hanya melibatkan para santri wirausaha tetapi juga pihak-pihak lain yang kami pandang bisa melengkapi CI yang dibutuhkan. Pertemuan ini bisa berupa vision sharing (bila kami baru melontarkan ide), crash test (bila kami telah siap dengan suatu produk) ataupun acara kick-off (bila kami mulai sesuatu).
Nah sekarang kita juga akan menggunakan CI untuk membangun pasar kita tersebut di atas. Rencana membangun pasar ini, sengaja saya lontarkan di tulisan ini karena kita ingin mengumpulkan dan menyaring CI dari puluhan ribu pembaca setia DinarIslam.com ? yang sangat bisa jadi sebagiannya memiliki minat yang sama. Berikut adalah deskripsi ringkas dari project yang kita beri nama Medina Market ini:
Kita tahu bahwa Jakarta kini sudah semakin padat, kota-kota satelit di seputar Jakarta semakin menjamur yang kemudian dikenal dengan JaBoDeTaBek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Di salah satu wilayah ini, masih di mulut pintu tol-nya ? ada sebuah mall yang memiliki lokasi ideal untuk target Medina Market yang pertama. Mall ini berada di gerbang pusat kegiatan berbagai perumahan yang kini bermunculan di daerah tersebut.
Ada sederet foot court yang masih kosong di mall ini ? menghadap keluar ke alam bebas sehingga mempunyai pemandangan yang indah. Lebih indah lagi bila dikelola dengan berbagai aktifitas outdoors yang sekarang juga semakin marak. Inilah calon target pasar pertama kita, yang dari sekian banyak lokasi nampaknya paling cocok untuk mulai. Lokasinya juga kurang lebih di antara 2 masjid besar bertaraf internasional yang dikelola ustadz-ustadz kondang negeri ini, jadi ideal sekali untuk memulai membangun masyarakat muslim yang utuh.

Collective Intelligence untuk Medina Market
Peluangnya adalah bila seluruh counter yang menghadap ke alam bebas tersebut bersama-sama kita kelola, maka nuansanya bisa kita warnai. Dengan banyaknya pedagang sekaligus (lokasi ini hanya untuk makanan atau food court), maka banyak pilihan yang langsung hadir di lokasi ini ? sehingga juga akan segera menjadi daya tarik bagi masyarkat untuk mengunjunginya.
Karena ?mengelola? pasar secara utuh ini jelas belum menjadi kompetensi kita saat ini, maka CI tersebut di ataslah yang kami butuhkan.
1. Coordination akan kami gunakan untuk mengumpulkan para pemodal yang tertarik di project ini. Agar tidak terlalu berisiko bagi para pemodal tersebut, maka lokasi ini cukup kita sewa dahulu sehingga tahun pertama hanya butuh dana mulai dari sekitar 15 Dinar untuk 1 counter. Untuk kategori pemodal ini, kami hanya butuh sekitar 20 orang.
2. Cooperation akan kami gunakan untuk mengelola suppliers dan pihak ketiga yang produk atau jasa-nya kita butuhkan tetapi bukan bagian dari pemodal yang terlibat secara langsung di tipe pertama. Kategori ini antara lain yang kita butuhkan adalah supplier makanan RTC (Ready To Cook) ataupun RTE (Ready To Eat), pengelola Bungi Jumping, Flying Fox dan aktivitas outdoors lainnya yang berpengalaman. Dengan adanya mereka ini, pemodal counter tidak harus mampu memasak masakan yang enak sendiri ? dapat di outsourced ke provider RTC ataupun RTE.
3. Cognition kami perlukan dari para business practitioners untuk mem- ?verifikasi? dan ?fine-tuning? peluang besar yang kami lihat tersebut di atas ? yang sudah barang tentu tantangannya juga besar. Dengan adanya mereka ini, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan kita yang terbatas dalam mengelola pasar dapat disempurnakan dari waktu ke waktu.
Ibarat sekumpulan semut di atas, kita akan mengangkat segumpal bahan makanan yang sangat besar untuk ukuran tubuh kita ? maka dengan CI inilah insya Allah kita akan bisa mengangkat beban tersebut secara bersama-sama. Bila kita bisa benar-benar wujudkan pasar yang satu ini, insya Allah pasar-pasar yang lain bisa kita bangun bersama di berbagai wilayah dan berbagai kota. Pasar yang terjangkau inilah salah satu jalan untuk menuju kemakmuran yang lebih luas bagi umat, jadi harus ada yang memulai. Ayo sekarang kita mulai, siapa mau ikut?
Semoga Allah senantiasa memudahkan kita pada amal yang diridhloiNya… Amin.
NB: Untuk peminat kategori investor, kami berlakukan first come first ? sampai 20 orang pertama kemudian stop ? sama dengan peserta Mudharabah Muqayyadah gelombang I. Bila ada peminat yang lebih dari 20, maka akan dicadangkan untuk lokasi lain yang akan kita bidik kemudian. Peminat bisa menghubungi kami di menu “Contact” dari situs ini.
Posted in Business Opportunity
Posted on 02 September 2010. Tags: akhirat, aktivitas ekonomi, Allah, anyaman, bahan material, Bahrain, bangunan, Bogor, buah, bumi, composites, Corporate Social Responsibility, CSR, Daarul Muttaqiin, dana, do'a, Gedebog Pisang, gedung, Hadits, HR. Bukhari, i'tikaf, ilmu, industri jamur, industri kambing, industri konstruksi, industri pertanian, Islam, Jawa Barat, Jonggol Farm, kambing pedaging, kapal, kelas eksekutif, kemakmuran, ketrampilan, konsultan, kontraktor, masjid, Masjid Demak, Masjid Gedebog, masyarakat, mengaji, menuntut ilmu, para ahli, pasar, pelepah kurma, pemikiran, pengalaman, pengetahuan, pesantren wirausaha, petani, peziarah, Rasulullah SAW, reguler, rumah, serbuk kayu, shalat, sinergi, sumber daya, sumber inspirasi, supplier, surat Huud, surga, Tahfidz Al-Qur'an, tali, tatal, teknologi, Wali
Masjidnya Rasulullah SAW dahulu pertama kalinya dibangun dari pohon dan pelepah kurma. Kemudian para Wali ? penyebar agama Islam di negeri ini, konon membuat tiang Masjid Demak dengan tatal atau serbuk kayu. Maka kini umat yang berusaha mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para Wali tersebut, berniat untuk membangun Masjid dari bahan yang tersedia melimpah dan dengan teknologi yang tersedia pada zamannya… Masjid dari Gedebog Pisang dengan teknologi composites.
Mesjid yang akan kita juluki dengan nickname Masjid ?Gedebog? namun nama resminya Masjid Daarul Muttaqqiin ini insya Allah akan segera dimulai pembangunannya. Masjid ini akan berada di lingkungan Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin ? Jonggol Farm, Jonggol, Bogor ? Jawa Barat, sekitar 26 km ke arah tenggara dari Jakarta.
Sebagaimana fungsi masjid pada umumnya yaitu tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT semata; termasuk namun tidak terbatas pada aktifitas shalat, mengaji, i’tikaf, menuntut ilmu, dlsb, Masjid ?Gedebog? ini juga kami visikan sebagai sumber inspirasi dalam membangun kemakmuran umat.
Dasarnya adalah mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dalam hadits yang Diriwayatkan oleh Annas RA., ?Beberapa barang datang kepada Rasulullah dari Bahrain. Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk membagikannya di masjid, dan barang itu merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima Rasulullah SAW. Ia meninggalkannya untuk shalat tanpa menengoknya sama sekali. Setelah usai shalat, Nabi duduk di depan barang-barang tersebut dan membagikannya kepada siapa saja yang ia lihat. Al Abbas datang kepada beliau dan berkata, ?Wahai Rasulullah berikan padaku sebagian barang-barang itu, karena saya perlu memiliki bekal untuk saya dan Aqil.? Rasulullah lalu meminta ia untuk meng- ambilnya sendiri…?. (HR. Bukhari)
Visi kemakmuran dunia dan akhirat sebagaimana tertuang dalam do?a yang paling mashur ?Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ?adzabannar? ini kemudian kami artikulasikan dalam langkah-langkah konkrit sebagai berikut:
- Pembangunan Masjid ?Gedebog? ini akan melibatkan aktifitas ekonomi dari ribuan atau bahkan puluhan ribu masyarakat langsung maupun tidak langsung. Yang langsung adalah aktifitas para ahli, pekerja, supplier, konsultan, kontraktor dan sub kontraktor; sedangkan yang tidak langsung adalah para petani yang mengumpulkan gedebog kemudian mengolahnya menjadi anyaman atau tali, para pengumpulnya, jasa transportasinya, dst.
- Pengalaman membangun masjid dengan teknologi material composites ini akan menjadi pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan kolektif masyarakat yang terlibat di dalamnya. Dengan ketrampilan tersebut, insya Allah secara bersama-sama kita bisa menggarap pasar yang lebih luas ? yaitu industri konstruksi secara umum, tidak hanya masjid ? tetapi sesudah ini rumah-rumah, gedung-gedung dan bahkan kapal-kapal yang dibutuhkan sangat banyak untuk negeri kepulauan inipun bisa kita bangun sendiri dengan teknologi composites yang sama.
- Para jamaah dan peziarah yang akan mengunjungi masjid ini insya Allah kelak akan selalu terstimulasi pikiran dan kreatifitasnya, bahwa dari bahan gedebog yang selama ini dipandang tidak berguna, dengan izin Allah bisa dibangun bangunan yang kokoh ? tempat mengagungkan namaNya. Insya Allah generasi masyarakat yang kreatif mensyukuri nikmat Allah, mengolah dan memakmurkan bumi akan benar-benar lahir. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud [11]: 61).
- Setelah masjid ini jadi nantinya; berbagai program untuk memakmurkannya telah menanti. Sekolah Tahfidz Al-Quran sejak usia dini, pesantren wirausaha kelas reguler dan eksekutif, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Pusat Pemberdayaan Umat, dlsb adalah beberapa program untuk kemakmuran masjid yang telah hampir tuntas kami susun.
- Lokasi Masjid yang berada di pusat kegiatan Jonggol Farm yang di dalamnya sudah mulai berjalan embrio industri kambing susu dan kambing pedaging, industri susu kambing dan produk-produk turunannya, industri jamur dan pengolahan produk jamur, industri pengolahan buah dan hasil pertanian, dlsb insya Allah akan mendekatkan program pemakmuran umat ini dengan realitas ekonomi modern.
- Masjid yang dibangun dari Gedebog Pisang yang merupakan salah satu tanaman surga ini insya Allah juga akan membawa nuansa tidak terputusnya urusan dunia kita dengan urusan akhirat, surga menjadi nampak begitu dekat setiap kali kita memandangi dan mengolah pohon-pohon pisang ini – semoga dengan pohon pisang yang kita olah menjadi rumahNya ini, kelak di akhirat kita benar-benar diizinkanNya untuk sampai kesana ?…berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…?. (QS. Al-Waqi?ah [56]: 28-30)
Bagaimana Anda dapat terlibat dalam program ini? Sebagai individu Anda dapat membantu kami dengan dana, sumber daya, material, pemikiran dan minimal do?a. Bila Anda bekerja di perusahaan-perusahaan atau institusi-institusi yang memiliki program Corporate Social Responsibility, Anda dapat menjadi penghubung kami agar person in charge untuk CSR di korporasi atau institusi Anda setidaknya aware atas apa yang sedang kami usahakan ? dan siapa tahu, apa yang kami lakukan in line dengan yang mereka pikirkan sehingga kita bisa bersinergi.
Penjelasan lebih detil dari Masjid ?Gedebog? Daarul Muttaqiin ini tersedia dalam bentuk file PDF yang dapat Anda unduh dengan klik disini. Bila diperlukan penjelasan lebih detil atau bahkan presentasi khusus, insya Allah dengan senang hati kami akan dapat lakukan.
Bila kelak masjid ini selesai terbangun, insya Allah ini akan menjadi pencapaian maksimal dari upaya hamba-hamba Allah yang lemah ini dalam memahami dan mensyukuri nikmatNya, mencerna sebagian kecil dari ilmu yang diberikan olehNya, menerapkan teknologi yang telah dimudahkanNya dan memadukan serta menggalang kekuatan umat yang telah digerakkan hatinya oleh Dia yang menguasai hati.
LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH…
Posted in Islamic View
Posted on 30 August 2010. Tags: 7 'I', Al-Qur'an, alam, Allah, bersama kesulitan ada kemudahan, business acumen, Daarul Muttaqiin, entrepreneur, Hadits, hikmah, HR. at-Tirmidzi & Ibnu Majah, idea brainstorming, ilham, implementasi, Indonesia, informasi, inisiasi, insya Allah, intelligence, intuisi, Iqra', Islam, istiqamah, kehendak Allah, keputusan, malaikat, membaca, memberi makan, menciptakan lapangan kerja, mukmin, muslim, peluang usaha, pengalaman, pengetahuan, pengusaha keturunan, pesantren wirausaha, praktek langsung, Rasulullah SAW, rencana, ribawi, risiko, surat Al-Fushshilat, surat Al-Inshirah, surat Asy-Syams, takwa, tersirat, tersurat, usaha
Mengikuti anjuran Rasulullah SAW melalui hadits yang berbunyi: ?Kalimat hikmah (perkataan yang baik/bijaksana) adalah senjatanya orang mukmin, dimanapun ia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya? (HR. At-Tirmidzi/Ibnu Majjah), maka kali ini kita mengambil pelajaran dari kiat sukses salah seorang pengusaha keturunan yang terkenal di Indonesia. Setelah saya selaraskan dengan nilai-nilai Islam, maka kiat sukses ini saya sajikan dalam 7 “I” berikut:
1. Informasi
Ayat pertama di Al-Qur?an yang turun ke Rasulullah SAW adalah Iqra?...(bacalah…), ini untuk menggambarkan betapa pentingnya membaca atau menangkap informasi ini. Membaca apa yang tersurat seperti yang ada di Al-Qur?an ataupun membaca apa yang tersirat di alam sekitar kita.
Hasil dari ?bacaan? tersebut terkumpullah informasi di otak kita yang kemudian sebagian bisa menjadi peluang untuk berusaha. Bila Anda tahu misalnya masyarakat sekitar Anda membutuhkan sesuatu, dan Anda-pun tahu bagaimana atau dimana sesuatu tersebut bisa diperoleh ? maka Anda sudah bisa jadi pengusaha dalam pemenuhan sesuatu kebutuhan tersebut.
Beberapa dekade lalu contohnya ada pengusaha di Indonesia yang menangkap informasi bahwa masyarakat perlu cara minum yang mudah, maka mulailah dia membotolkan air yang terus kemudian berkembang menjadi air dalam kemasan gelas plastik, dalam galon, dlsb. Tanpa kita sadari inilah hasil informasi yang diolah oleh pengusaha tersebut sehingga kita begitu mudah menyajikan minum untuk tamu kita misalnya. Seandainya produk air dalam kemasan ini belum ada, maka mungkin kita masih harus merebus air setiap saat ada tamu di rumah!
2. Intelligence
Intelligence adalah kemampuan untuk menangkap dan mempelajari fakta kemudian trampil pula mengolahnya. Informasi yang sama berseliweran di depan kita semua, namun sebagian kita bisa menangkap kemudian mengolahnya menjadi suatu usaha ? sebagian yang lain tidak menangkap apa-apa, faktor intelligence inilah yang sangat berperan dalam hal ini.
Karena berupa ketrampilan atau skills otak, maka intelligence ini bisa diasah atau dilatih. Bila diasah untuk ketrampilan mengolah peluang usaha misalnya, maka pemilik intelligence ini akan memiliki apa yang disebut business acumen yaitu kemampuan untuk secara cepat memahami situasi kemudian cepat pula mengambil keputusan bisnisnya.
Bagaimana melatihnya? Sesi-sesi idea brainstorming seperti yang kami adakan di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin adalah salah satu contohnya.
3. Intuisi
Kadang sebuah informasi tidak begitu jelas, antara ada dan tiada. Namun bagi entrepreneur yang berbakat dan berketrampilan, dia sudah bisa mengambil keputusan berdasarkan intuisi-nya.
Intuisi adalah pengetahuan atau kepercayaan tentang sesuatu berdasarkan insting, tanpa harus membuktikan bahwa sesuatu itu ada beneran atau tidak. Intuisi tentang suatu bidang usaha ? lagi-lagi bisa diasah dengan pengalaman dan praktek di lapangan.
4. Ilham
Setiap kita sebenarnya telah diberi ilham untuk mampu membedakan sesuatu itu buruk atau baik ?fa alhamahaa fujuu ra haa wa takwahaa? (QS. Asy-Syams [91]: 8), jadi tanpa bertanya ke siapapun sebenarnya hati kecil kita bisa berfatwa untuk diri kita sendiri apakah suatu jalan itu akan membawa kepada suatu kebajikan/ketakwaan atau membawa keburukan.
Hanya saja lagi-lagi bila hati ini tidak dilatih untuk menggunakan ilham tersebut, maka hati ini akan mati ? tidak mampu lagi membedakan mana suatu kejahatan dan mana suatu kebajikan.
Seorang muslim yang bekerja/berusaha dalam lingkungan ribawi misalnya, awalnya hati kecil menolak, gelisah, dlsb. Namun karena tidak ditinggalkannya pekerjaan/usaha tersebut lama kelamaan hatinya tidak bekerja lagi ? dia enjoy saja di lingkungan ribawi tersebut.
5. Inisiasi
Setelah kita menangkap peluang, mengolahnya dengan cerdas, intuisi kita mengatakan ini peluang yang baik dan hati kecil kita pun comfortable dengan ide tersebut ? maka ini belum apa-apa dan tidak akan menjadi apa-apa sebelum pekerjaan mengolah peluang tersebut benar-benar diinisiasi atau dimulai.
Inilah yang paling berat, banyak orang pinter dengan berjuta ide ?man of ideas? tetapi tidak menjadikan satupun ide-nya diterapkan. Di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi tersedia ratusan ribu atau bahkan jutaan thesis-thesis dari S1 sampai S3, namun hanya sebagian sangat kecil saja dari pemikiran-pemikiran cemerlang tersebut ter-inisiasi-kan dalam sesuatu yang riil.
Tidak ada cara lain untuk melawan ketakutan terhadap sesuatu selain menghadapinya, maka inisiasi inilah cara kita untuk melawan ketakutan akan gagal dalam mengimplementasikan rencana, dalam membangun usaha dan seterusnya.
6. Istiqamah
Setelah kita mulai mengimplementasikan rencana-rencana usaha kita, berbagai masalah akan bermunculan. Peluang itu berkorelasi langsung dengan risiko, artinya di setiap risiko yang kita hadapi ? ada peluang bagi kita bila kita berhasil mengatasi risiko tersebut.

Bila Allah berkehendak...
Yang diperlukan adalah sikap istiqamah dalam implementasi usaha, yaitu kemampuan kita untuk secara tekun dan terus menerus mengatasi masalah-masalah yang muncul dari rencana yang diimplementasikan dan tidak lari dari masalah atau kesulitan, ?maka sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan? (QS. Al-Inshirah [94]: 5-6).
Lebih dari itu bila usaha yang kita implementasikan adalah dalam rangka ketaatan kita kepada Sang Pencipta, misalnya diniatkan untuk menciptakan lapangan kerja yang banyak, diniatkan untuk memberi makan di hari kelaparan, maka insya Allah Allah akan menurunkan malaikatnya membantu kelancaran usaha kita.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Al-Fushshilat [41]: 30)
7. Insya Allah
Sebagai orang beriman, kita yakin betul bahwa segala sesuatu hanya terjadi bila Allah menghendakinya terjadi. Sebaliknya, sekeras apapun kita mengusahakannya bila Allah tidak menghendaki sesuatu itu terjadi ? maka pasti tidak akan terjadi. Maka tidak ada yang bisa kita sombongkan dari segala upaya ini, karena hanya Dia-lah yang menetukan keberhasilan atau kegagalannya, yang kita bisa lakukan adalah sekedar berusaha.
Lantas bagaimana kita menyikapi dengan I yang ke-7 ini untuk menunjang keberhasilan kita? Kiat-nya adalah menyelaraskan usaha kita dengan kehendak Allah; karena yang Dia kehendaki pasti terjadi ? maka bila kita bisa menangkap kehendakNya di alam ini, itulah peluang sukses terbesar kita.
Lantas bagaimana kita bisa menangkap kehendak Allah ini? Kembali ke I yang pertama ? yaitu informasi atau membaca apa yang tersurat (di Al-Qur?an) dan yang tersirat di alam. Insya Allah.
Posted in Entrepreneurship
Posted on 27 August 2010. Tags: Abu Hurairah R.A., Allah, anggaran belanja, bangunan, batang pisang, composites, Daarul Muttaqiin, ekspor, gandum, Gedebog Pisang, Hadits Qudsi, ilmu, impor, India, Indonesia, Intelectual Property Right, investasi, ironi, kapas, keimanan, kemakmuran, konsumsi, mahasiswa, miskin, Nabi, PDB, pemerintah, pesantren wirausaha, pisang, pohon pisang, serat, sponsor penilitian, surat Al-Waqi'ah, surga, sutera, syukur nikmat, tanah, tanaman, teknologi, tekstil, tepung pisang, tepung terigu
Pasti bukan suatu kebetulan kalau Allah mengabarkan ke kita bahwa para penghuni surga dari golongan kanan ? yaitu golongan yang dimuliakan oleh Allah, kelak akan menikmati pahalanya ?…berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…?(QS. Al-Waqi?ah [56]: 28-30). Allah rupanya menginginkan kita menikmati sebagian kecil dari kenikmatan surgawi tersebut selagi kita masih di dunia ? dengan mudahnya Tanaman Pisang ini tumbuh di bumi pertiwi.
Istimewanya benda-benda di surga adalah semuanya baik-baik dan tidak ada yang buruk. Jadi kalau ada tetesan kecil dari benda yang ada di surga ? yaitu Pohon Pisang tersebut ? di sekitar kita, pastilah manfaatnya sangat besar untuk kemakmuran kita di dunia ini. Bahwasanya selama ini kita belum menyadarinya, bisa jadi ini karena 3 hal:
- Karena keimanan kita belum cukup kuat untuk meyakini bahwa surga itu ada dan apa-apa yang dikabarkan oleh Allah tentang surga tersebut adalah benar.
- Karena kita kurang mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkannya ke negeri ini ? dari setetes kenikmatan surga yang ada.
- Karena ilmu kita yang belum sampai untuk memahami nikmat berupa manfaat yang begitu besar dari pohon surga yang dengan izinNya ? sangat mudah tumbuh di negeri ini.
Pada tulisan ini saya akan fokus ke masalah ke-3, yaitu memahami manfaat yang begitu besar dari pisang ini untuk memakmurkan negeri. Kita tahu bahwa salah satu indikator kemakmuran suatu bangsa adalah Pendapatan Domestik Bruto atau PDB-nya. Di dalam tulisan saya sebelumnya saya jelaskan bahwa unsur yang membentuk PDB adalah Konsumsi, Investasi, Belanja Pemerintah, Ekspor dan Impor. 4 unsur pertama positif, dan 1 unsur terakhir negatif.
Artinya bila kita banyak konsumsi (tentu banyak karena kita ada 235 juta penduduk!), tetapi kita tidak kunjung makmur (tidak kunjung tinggi PDB-nya) ini adalah karena ada porsi yang amat besar dari konsumsi tersebut yang harus diimpor. Untuk kebutuhan bahan pangan berupa gandum misalnya, tahun lalu negeri ini perlu mengimpor sampai 4.66 juta ton senilai kurang lebih Rp 22.5 trilyun! Untuk kebutuhan pakaian kita yang berasal dari kapas, 99.5 %-nya masih harus diimpor!
Lantas apa kaitannya tanaman pisang dengan kemakmuran tersebut? Rupanya disinilah rahasianya. Tanaman dari surga yang tidak menyisakan sedikit-pun barang yang tidak berguna ini, sesungguhnya bisa memenuhi 3 kategori kebutuhan pokok kita sekaligus yaitu sandang, pangan dan papan.
Serat batang pisang yang diolah dengan baik, dapat menjadi serat untuk bahan tekstil yang kwalitasnya bahkan lebih baik dari kapas ? dia mendekati sutera. Bila kita paksakan tanam kapas – produksi kita hanya dapat memenuhi 0.5% dari kebutuhan kapas kita ? lantas mengapa tidak kita beralih ke Gedebog Pisang sebagai sumber serat tekstil kita? Pisang tumbuh dimana saja di seantero negeri, dan setiap satu batang pisang mengandung serat yang sangat banyak ? insya Allah kebutuhan serat untuk pakaian ini akan dapat digantikan oleh Serat Gedebog Pisang. Bila ini dapat kita lakukan, maka kita dapat memutus kebutuhan impor kita akan kapas.
Bila kita belum bisa mengolah Serat Pisang secara halus untuk bahan tekstil, pengolahan Gedebog Pisang secara sederhana sudah akan dapat menghasilkan bahan bangunan yang perkasa dengan teknologi composites yang kita punya. Ini dapat mendorong Konsumsi, Investasi dan bahkan Ekspor yang semuanya berdampak positif pada PDB yang berarti juga kemakmuran.

Republik PISANG = Negeri yang Makmur
Buah Pisang yang selama ini hanya dikonsumsi sebagai buah, dan cenderung dihargai murah pada saat panen pisang di sentra-sentra produksinya ? sesungguhnya dapat diolah menjadi Tepung Pisang yang bergizi tinggi dan rasa dasar yang enak. Tepung Pisang ini dapat menjadi substitusi Tepung Terigu/Gandum yang selama ini sepenuhnya kita impor. Bila sedikit demi sedikit impor Tepung Gandum tersebut dikurangi dan menggantinya dengan Tepung Pisang ? maka disitulah proses kemakmuran itu akan dimulai.
Karakter Pisang yang bisa tumbuh dimana saja, juga akan merupakan alat untuk menyebar luaskan kemakmuran ke sejumlah besar petani.
Walhasil dengan membudidayakan Pohon Pisang secara luas dan memanfaatkan gedebog maupun buahnya untuk menutupi kebutuhan sandang, pangan dan papan dari 235 juta penduduk negeri ini ? pasti ini adalah proyek RAKSASA yang akan mampu mengdongkrak PDB (kemakmuran negeri ini) dari peningkatan Konsumsi, Investasi, Belanja Pemerintah dan Bahkan Ekspor. Pada saat yang bersamaan impor akan menurun karena kebutuhan impor terigu dan kapas dapat ditekan seminimal mungkin.
Realistiskah proyek Pisangisasi ini? Tergantung iman dan ilmu kita untuk menjawabnya. Bila iman kita kuat dan yakin betul bahwa Allah telah melimpahkan nikmatnya ke kita, maka itulah yang diberikan Allah. Dalam sebuah hadits Qudsy dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi SAW bersabda : ?Allah Ta?ala berfirman: ?Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok, Aku mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil?. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Dari sisi keilmuan sebagian kita kuasai, sedangkan sebagian lain mungkin memang kita masih harus banyak belajar. Mengolah pisang menjadi Tepung Pisang misalnya, saya rasa sarjana-sarjana teknologi pangan di negeri ini yang jumlahnya sudah puluhan ribu insya Allah sudah dengan mudah dapat mengolahnya.
Mengolah Gedebog menjadi bahan bangunan yang kokoh, insya Allah kami di kelompok Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) dalam waktu dekat juga sudah akan menguasai teknologinya.
Mengolah gedebog menjadi bahan tekstil kwalitas tinggi, ini kita yang masih perlu banyak belajar. Di India sebagai produsen Pisang terbesar di dunia, hal ini sudah dilakukan orang ? bahkan kami juga sudah berhasil menemukan ahlinya disana, hanya karena dilindungi oleh Intelectual Property Right ? kami masih kesulitan untuk belajar ilmunya.
Namun ilmu-ilmu ini semua saya yakin tidak ada yang terlalu sulit untuk dikuasai, oleh karenanya melalui tulisan ini saya mengundang para peneliti maupun mahasiswa S1, S2 atau S3 yang tertarik untuk mendalami serat tekstil berkwalitas tinggi dari Gedebog Pisang ini untuk bergabung dengan team kami ? PWDM insya Allah bersedia menjadi sponsor penelitian Anda.
Melalui tulisan ini pula saya ingin mengajak kita semua untuk rame-rame menanam tanaman dari surga ini di tanah-tanah kita yang selama ini belum diproduktifkan, bersamaan dengan tumbuhnya Pohon Pisang tersebut ? kita cari teknologinya bersama-sama untuk mengolah hasilnya baik Gedebog maupun Buah Pisangnya.
Sungguh akan menjadi ironi besar bila sampai beberapa tahun ke depan bangsa ini masih tetap miskin, sedangkan tanaman dari surga-pun dapat leluasa tumbuh di sekitar kita. Semoga Allah menunjuki jalanNya yang terang benderang ke kita semua. Amin.
Posted in Islamic View
Posted on 19 August 2010. Tags: Allah, bangunan, barisan yang teratur, BMT, BMT Daarul Muttaqiin, Business Ecosystem, composite materials, Cysco, Daarul Muttaqiin, Dinar, Gedebog Pisang, HR. Abu Dawud, imam, industri composites, industri jamur, industri pangan, industri perkambingan, installers, James F. Moore, Jangan Menimbun, Jonggol, kambing potong, kiblat, komunitas ekonomi, koperasi, Makanan Beku, Mall, manufacturers, marketers, masjid, McKinsey Award, Microsoft, miskin, mushalla, pakan ternak, pesantren wirausaha, Qowiyyun Amin, Rasulullah SAW, rumah, Sate Kambing, sawu sufufakum, shaf, shalat, shalat jamaah, supplier, surat Al-Imran, surat As-Shaf, visi
Bagi yang rajin shalat jamaah 5 waktu, 5 kali sehari kita mendengar ucapan sawu sufufakum…dari para imam yang memimpin shalat. Tuntunan ucapan ini berasal dari hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: ?Luruskan (samakanlah) shaf-shaf kalian (beliau mengulangi 3 kali), maka demi Allah hendaklah kalian meluruskan shaf kalian atau sungguh Allah akan menyelisihkan di antara hati-hati kalian.? (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud). Jadi 5 kali sehari kita diingatkan untuk merapatkan barisan, bahkan Allah-pun menyukai rapatnya barisan ini seperti dalam ayat ?Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti bangunan yang tersusun kokoh? (QS As-Shaf [61]: 4).
Maka seandainya saja umat ini, dapat mengimplementasikan rapatnya barisan shalat ini kedalam kehidupan sehari-hari ? pastilah umat ini unggul di segala bidang seperti yang dijanjikan pula oleh Allah dalam ayat ?Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman? (QS Al-?Imran [3]: 139).
Ketika rapatnya barisan ini diimplementasikan dalam lingkungan usaha yang kemudian dikenal dengan istilah Business Ecosystem ? pun menjadikan business tersebut unggul ? meskipun yang menerapkan bukan orang yang beriman. Menurut penggagas teori Business Ecosystem ini – James F. Moore ? kekuatan business-business besar dunia terletak pada kokohnya Business Ecosystem yang berhasil dibangunnya.

James F. Moore
Teorinya yang memenangkan McKinsey Award ini menjelaskan Business Ecosystem sebagai berikut: ?Komunitas ekonomi yang didukung oleh organisasi-organisasi dan individu-individu yang saling berinteraksi – mereka adalah organism (makhluk hidup) dalam dunia business. Organism ini terdiri dari suppliers, producers, competitors dan semua stakeholders. Dari waktu ke waktu mereka ber-evolusi dalam peran dan kemampuan. Mereka merapat dalam barisannya masing-masing dengan dipimpin oleh satu atau lebih perusahaan inti. Perusahaan inti ini bisa saja berganti peran dari waktu ke waktu, kepemimpinan dari ecosystem ini ditentukan oleh kemampuannya menggerakkan organism-organism di dalamnya, berbagi visi, merapatkan investasi dan memfasilitasi peran yang saling menunjang?.
Besarnya raksasa-raksasa usaha seperti Microsoft, Cysco dan lain sebagainya menurut Moore adalah karena mereka berhasil membangun ecosystem ini. Ecosystem mereka ini terdiri dari ribuan organism berupa suppliers, marketers, manufacturers, installers, dlsb yang saling ?menghidupi? satu sama lain.
Nah, bila teori ?rapatnya barisan? ini sukses diterapkan oleh orang-orang yang tidak pernah shalat, seharusnya umat ini dapat lebih unggul dari mereka karena kita setiap hari belajar merapatkan barisan ini 5 kali. Maka tidak seharusnya negeri yang mayoritas penduduknya rajin belajar merapatkan barisan ini menjadi negeri yang rata-rata penduduknya miskin.
Lantas bagaimana kita memulai membangun ecosystem kita sendiri yang sesungguhnya diambil dari nilai-nilai shalat berjamaah ini? Kita bisa mulai dari diri kita sendiri, mulai dari yang kita bisa. Kemudian dari yang kita bisa tersebut, kita tempatkan diri kita dalam barisan jamaah yang sesuai ? bisa sebagai imam maupun sebagai makmum. Sebagai imam harus memiliki visi yang jelas kemana ?jamaah? (business ecosystem) akan dibawa, sebagai makmum kita merapat di barisan dan mengisi shaf-shaf yang masih kosong. Imam selalu bisa salah/batal dan bisa diganti, makmum yang dibelakangnya harus mampu setiap saat menggantikan imam bila perlu.
Contoh aplikasinya yang sangat kecil tetapi sedang membangun ecosystem adalah situs ini. Awalnya adalah hanya ada Gerai Dinar yang menyebar-luaskan Dinar emas secara fisik maupun know how yang menunjangnya. Kemudian merapat di belakangnya puluhan agen yang rata-rata capable menggantikan peran kami kapan saja bila diperlukan.
Karena Dinar tidak untuk ditimbun, tetapi harus mampu menggerakkan ekonomi ? maka muncullah institusi keuangan BMT ? Daarul Muttaqiin (DM) dan jaringan-jaringan BMT/Koperasi lain yang bekerjasama dengannya. Kemudian karena kami dan DM membutuhkan mitra-mitra usaha yang professional dan terpercaya - Qowiyyun Amin ? maka lahirlah Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM).
Melalui program-program PWDM inilah kemudian Business Ecosystem yang lebih besar mulai ter-visi-kan. Dari berbagai angkatan (sekarang sudah 12 angkatan) kini telah lahir embrio-embrio dari industri perkambingan nasional, industri jamur, industri makanan berbasis kambing, industri makanan beku, industri composite materials dan insya Allah berbagai industri lain ke depan.
Selain masing-masing industri tersebut saling terkait dan saling membutuhkan layaknya sebuah ecosystem atau shaf dalam shalat, berbagai institusi lain kini tengah mulai bergabung ? mengisi shaf-shaf yang sebelumnya kosong. Ada beberapa perguruan tinggi negeri ternama yang kini mengolah pakan ternak untuk industri kambing kami, perguruan tinggi lain membuatkan pabrik pengolahan susu, ada pemain industri pangan besar yang siap mendukung project Planet Beku, ada perusahaan pembuat tas yang siap melengkapinya dengan tas khusus makanan beku, dlsb.
Sejauh ini memang baru beberapa ratus tenaga kerja yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam berbagai project tersebut. Namun di depan mata insya Allah kami juga siap membesarkan ecosystem ini menjadi ecosystem yang menampung ribuan atau puluhan ribu organism yang hidup di dalamnya baik dari kategori institusi atau individu. Bagaimana caranya?
Salah satu program kami sate kambing masuk mal ? urusan pemasarannya sudah ditampung oleh team yang dikepalai oleh seorang Doktor ekonomi dari institusi kenamaan. Mereka sanggup memasarkan 200 ekor kambing potong setiap hari, atau 6,000 ekor setiap bulan dan 72,000 setiap tahun. Bila rata-rata petani kambing bisa memelihara 12 ekor kambing setahun dan menjualnya 1 ekor setiap bulan; maka pengadaan kambing potong tersebut bisa menciptakan 6,000 lapangan pekerjaan bagi peternak kambing.

Shalat Berjamaah: Shaf Lurus & Rapat
Lantas project composites untuk membangun rumah dari Gedebog Pisang yang juga sangat banyak diresponse positif oleh pembaca; project percontohannya akan segera dimulai. Bahkan untuk pertama kalinya Rumah Gedebog yang akan kami bangun bukanlah rumah kita-kita, tetapi rumahnya Allah alias sebuah Masjid di Jonggol. Pembuatan mesin untuk mengolah gedebog menjadi bahan bangunan yang kokoh kini telah mulai, design masjid-nya pun insya Allah rampung dalam beberapa pekan ke depan.
Bersamaan dengan dimulainya pembangunan Masjid dari Gedebog Pisang inilah, insya Allah business ecosystem yang kita bangun bersama tersebut akan semakin membengkak ukurannya. Ribuan ibu-ibu di desa akan dapat segera mengolah Gedebog Pisang menjadi anyaman-anyaman yang kemudian kita beli untuk bahan baku industri composites tersebut di atas. Bahkan kalau mau, Anda sekarang sudah dapat mulai menanam pisang atau mengajak orang lain menanam pisang. Buahnya Anda jual ke pasar seperti biasa, Gedebog Pisangnya Anda olah menjadi anyaman ? kemudian Anda jual ke kami.
Bila tadinya kita hanya shalat di mushalla yang kecil dengan beberapa puluh jamaah (agen Dinar awalnya), saat ini kita sedang siap-siap shalat hari raya di lapangan yang akan melibatkan ribuan atau bahkan puluhan ribu jamaah. Tentu saja selain imam harus tahu betul kemana arah kiblat dan jamaah-jamaah pinter yang siap menggantikan imam kapan saja bila dibutuhkan, kita juga butuh jamaah umum yang tertib dan mau merapatkan barisan ? mengisi shaf-shaf yang masih kosong di depan… Sawu Sufufakum…! Allahu Akbar!!!
Posted in Entrepreneurship
Posted on 13 August 2010. Tags: akses pasar, akuntan, Al-Qur'an, Arab, aspek ekonomi, aspek sosial masyarakat, Cibubur, Direct1st®, distributor, dokter, gulai kambing, Inspirasi Usaha, Jabodetabek, Jakarta, juru masak, kemacetan, Makanan Beku, manca negara, masakan, Mekarsari, menu lezat, outlet, penulis, pesantren wirausaha, petani, peternak, Planet Beku, programmer, puasa, Raden Saleh, Ramadhan, rendang, restaurant, ruang & waktu, sahur, sambel goreng ati, shalat malam, sop buntut, sop daging, sop iga, sop jamur, sop kaki kambing, sop sapi, soto daging, supplier, teknik pembekuan, wanita karir
Ada 2 makanan yang menurut saya sendiri sangat lezat di daerah Jakarta dan sekitarnya. Pertama adalah sop kaki kambing di sebuah restaurant arab di Jalan Raden Saleh. Saking lezatnya sop kaki kambing yang satu ini, tamu-tamu arab yang saya ajak makan disini pada keheranan ? karena menurut mereka di Arab sendiri tidak ada sop kaki kambing yang seenak ini. Bahkan ketika mereka balik kenegaranya, mereka pada cerita bahwa di Jakarta ada sop kaki kambing yang sangat lezat ? maka bertambahlah orang-orang arab manca negara yang mengenal restaurant ini dari waktu ke waktu.
Satu lagi adalah sop sapi dari restaurant kecil di dekat taman buah Mekarsari. Saking banyaknya penggemar sop sapi dari warung nasi ini ? mereka hanya buka sekitar 3 jam setiap harinya yaitu jam makan siang 11-14. Sebelum jam 11 mereka belum buka, setelah jam 14 ? dagangannya habis. Hari Sabtu dan Ahad mereka tutup karena nampaknya mereka hanya mentarget orang kantoran dan pabrik di sepanjang jalan alternatif Cibubur sampai Jonggol.
Betapa-pun lezatnya, saya tidak bisa sering-sering makan kedua sop ini ? karena terkendala oleh 2 hal yaitu ruang dan waktu. Diperlukan perjalanan mobil 1.5 ? 3 jam (tergantung kemacetan Jakarta) dari rumah saya untuk sampai Raden Saleh tempat restaurant sop kaki kambing tersebut berada. Jadi saya hanya makan di restaurant ini bila sedang menghormati tamu-tamu arab saya.
Demikian pula hal-nya dengan sop sapi dari warung nasi dekat Mekarsari tersebut, saya hanya makan sop sapi yang istimewa ini bila sedang berada di daerah tersebut pada saat jam makan siang. Walhasil kedua sop yang sangat lezat ini jarang sekali bisa saya nikmati karena kendala ruang dan waktu tersebut di atas.
Di waktu sahur hari-hari pertama bulan Ramadhan seperti ini (saat tulisan ini saya buat), rasanya akan sangat enak kalau bisa makan salah satu dari sop tersebut ? tetapi apa boleh buat lokasi keduanya sangat jauh dan pasti mereka tidak buka pada jam sahur begini.
Namun alhamdulillah, sudah sekitar 10 bulan ini para peserta Pesantren Wirausaha angkatan I bekerja keras untuk memecahkan masalah kendala ruang dan waktu tersebut di atas. Hasilnya adalah project Planet Beku yang insya Allah siap trial-run di bulan Ramadhan ini juga.
Prinsipnya sederhana saja, bahwa teknik pembekuan bisa digunakan untuk hampir semua jenis makanan. Selain mudah, teknik ini juga tergolong aman sekali karena tidak menggunakan zat pengawet apapun. Makanan-makanan lezat yang dibekukan, akan dapat dikonsumsi kapanpun dan dimanapun, jadi kendala ruang dan waktu kini telah teratasi melalui teknik pembekuan.
Selama tes pasar ini, insya Allah sudah tersedia 8 menu makanan lezat yang bisa dikonsumsi dimanapun dan kapan-pun (dalam tes masih di sekitar JaBoDeTaBek). Menu-menu tersebut adalah gulai kambing, rendang, sambel goreng ati, sop buntut, sop daging, sop iga, sop jamur dan soto daging. Foto-foto di halaman ini adalah label kemasan dari produk-produk awal Makanan Beku dari project Planet Beku ini.
Nampaknya project Makanan beku ini adalah sederhana; namun kalau bisa ditangani dengan baik ? insya Allah akan bisa membawa perubahan besar tidak terbatas pada aspek ekonomi tetapi juga menyangkut aspek sosial masyarakat.
Perubahan di aspek ekonomi yang dapat di-trigger oleh project Planet Beku ini antara lain adalah:
- Masyarakat luas bisa terlibat dalam project ini baik sebagi supplier, distributor, juru masak, penjualan, dlsb.
- Terbukanya peluang untuk ?buka restaurant? dengan initial cost yang sangat rendah. Secara harfiah Anda bisa benar-benar punya restaurant dengan masakan-masakan yang lezat tanpa harus memiliki seorang juru masak-pun, karena makanan bisa di-supply oleh Planet Beku dalam kondisi siap saji.
- Sebaliknya para jagoan masak, Anda bisa memiliki jaringan restaurant yang sangat luas tanpa harus membuka sendiri satu outlet-pun. Yaitu dengan membekukan hasil masakan Anda dan memasarkannya lewat jaringan Planet Beku, maka jadilah makanan olahan Anda menyebar ke berbagai tempat.
- Petani dan peternak akan memilik akses terhadap pasar yang lebih luas berupa commercial end-user yaitu para juru masak Planet Beku ini.
- Peluang maju bersama dengan sistem direct1st , dimana tidak ada satu pihak yang merupakan down-line atau up-line bagi yang lain.
- Tumbuhnya industri penunjang seperti produsen TAS Makanan Beku, cold-chain distribution, dlsb.
- Dlsb.
Aspek sosialnya antara lain adalah:
- Peluang bagi wanita karir; dia bisa fokus pada keahliannya sebagai dokter, akuntan, programmer, penulis, dlsb, tanpa dihantui beban harus bisa memasak enak untuk suami dan anak-anaknya. Makanan lezat yang siap saji selalu bisa disediakan dengan cepat kapan saja dan dimana saja.
- Pembagian waktu menjadi efektif karena tidak lagi harus berjam-jam di dapur setiap hari untuk masak makanan harian.
- Peluang ibadah-pun menjadi sama antara laki-laki dan perempuan; yang selama ini di bulan Ramadhan misalnya para ibu rumah tangga sibuk memasak berjam-jam sebelum maghrib dan sebelum sahur, maka kini mereka bisa sibuk ibadah yang khusus dengan membaca Al-Qur?an lebih banyak, shalat malam, dlsb. karena menyiapkan makanan untuk berbuka dan sahur cukup beberapa menit saja.
- Berkembangnya spesialisasi yang akan meningkatkan kwalitas dari kebutuhan kita sehari-hari. Ibu-ibu yang tidak biasa masak, bila dia memaksakan diri untuk bisa memasak sop buntut untuk suaminya misalnya, maka ongkosnya akan lebih mahal dan belum tentu enak. Sebaliknya sop buntut yang enak bisa dperoleh dengan mudah dan murah dari jaringan Planet Beku, sehingga waktu dari ibu tersebut bisa lebih difokuskan pada bidang keahliannya.
- Para pekerja di remote area lebih bisa merasa kerasan di tempat kerjanya karena tetap dapat makan makanan kesukaannya, produktifitas kerjanya-pun insya Allah meningkat.
- Para professional masakan di daerah juga memiliki kesempatan yang sama, karena insya Allah project Makanan Beku ini juga akan hadir di kota Anda dalam waktu yang tidak terlalu lama.
- Dlsb.
Meskipun telah 10 bulan disiapkan oleh para peserta Pesantren Wirausaha angkatan I project Planet Beku ini, tentu masih banyak yang perlu penyempurnaan. Namun melihat manfaat dan peluangnya yang sangat luas tersebut, why not Anda juga mencoba produk-produk dari Planet Beku ini ? siapa tahu Anda juga dapat berpartisipasi dalam meng-eksplorasi peluang ini ke depan. Insya Allah.
Posted in Business Opportunity
Posted on 29 July 2010. Tags: ahli logistik, aktifis LSM, banana pseudostem fibre, basic needs, batang pisang, China, composites, Daarul Muttaqiin, daging kambing, Gedebog Pisang, gempa bumi, India, Indonesia, kebutuhan pokok, mahasiswa teknik, Malaysia, masyarakat, menciptakan lapangan kerja, Musa Acuminata Colla, pangan, papan, pesantren wirausaha, Planet Jamur, politikus, riset, rumah, sandang, serat, serat bambu, skripsi, susu kambing, tahan gempa, teknologi tinggi, thesis
Salah satu wisdom dalam berwirausaha yang saya pelajari dari para wirausahawan sukses Indonesia adalah kemampuan mereka menggarab basic needs atau kebutuhan pokok. Ini ciri khas potensi besar di negara-negara yang memang basic needs-nya masih mendominasi belanja masyarakat. Di negeri kita basic need ini tidak terlepas dari 3 hal yaitu Sandang, Pangan dan Papan.
Di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin hanya sandang yang belum kita garap karena kita belum menemukan celah yang pas untuk bersaing dengan serbuan produk murah yang berasal dari China. Untuk pangan kita masuk melalui sudut pandang dan peluang yang unique antara lain melalui project Planet Jamur, Susu Kambing dan Daging Kambing.
Untuk papan, lagi-lagi insya Allah kita akan masuk melalui celah peluang yang unique pula yaitu melalui bahan-bahan bangunan berteknologi tinggi namun murah sehingga terjangkau oleh seluas mungkin masyarakat Indonesia. Selain terjangkau, kami juga mencanangkan bangunan tahan gempa ? karena gempa bumi kini di Indonesia sudah menjadi rutinitas yang bisa terjadi kapan saja.
Bahan bangunan apa yang memenuhi kriteria tersebut? Bahan bangunan berbasis composites yang teknologinya kini kami dalami dan bahkan pabrik composites kami yang pertama telah dalam proses instalasi ? insya Allah bisa menjawab tantangan tersebut. Awalnya pabrik composites ini memang akan membangun kandang-kandang kambing berteknologi tinggi dengan serat alami dari bambu.
Namun teknologi dan pabrik yang sama sesungguhnya dapat juga dipakai untuk memproduksi berbagai bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan dari berbagai material. Salah satunya yang kami bidik adalah gedebog pisang atau dalam bahasa inggris disebut banana pseudostem (maaf saya belum ketemu bahasa Indonesia yang pas untuk gedebog pisang ini karena umumnya disebut batang pisang ? tetapi kurang pas karena dia sesungguhnya bukan batang).

Gedebog/Batang Pisang
Mengapa gedebog pisang?
- Karena pisang (Musa Acuminata Colla) adalah tumbuhan rakyat yang bisa tumbuh dimana saja dengan melimpah di negeri ini.
- Gedebog pisang selama ini lebih banyak dianggap sebagai sampah ketimbang bahan baku yang bisa jadi bernilai ekonomi tinggi.
- Penyebarannya di masyarakat luas memungkinkan pemberdayaannya akan menimbulkan lapangan kerja yang luas pula.
- Serat yang dihasilkan dari gedebog pisang atau banana pseudostem fibre dari berbagai riset yang dilakukan di negeri tetangga India dan Malaysia, memenuhi syarat untuk bahan baku industri umumnya dan bahan baku composites khususnya.
Bila di negara lain gedebog pisang mulai dilirik untuk membuat berbagai perabot rumah tangga, produk-produk seni dan kerajinan bahkan juga untuk komponen kendaraan bermotor, mengapa tidak kita canangkan sebagai salah satu bahan bangunan yang berteknologi tinggi namun terjangkau bagi masyarakat luas ke depan?
Teknologi membuat serat dari gedebog pisangnya sederhana, teknologi untuk composites-nya dan bahkan pabriknya-pun kini telah kita punya, lantas apalagi masalahnya?
Masalah yang juga bisa berarti peluang (bagi yang mau menggarapnya) adalah tersebarnya bahan baku tersebut. Bagi Anda yang bisa melihat ini sebagai peluang, disinilah peluang tersebut.
- Bila Anda mahasiswa teknik tingkat skripsi, Anda bisa menjadikan ini bahan skripsi Anda ? sehingga kelak Anda-lah ahli di bidang gedebog pisang yang berpeluang luar biasa ini. Lebih dari itu, kami bersedia menjadi sponsor untuk thesis S1, S2 maupun S3 untuk subject yang relevan dengan gedebog pisang ini.
- Bila anda ahli logistik dengan jaringan luas; mendidik masyarakat untuk mengolah serat gedebog pisang kemudian mengumpulkannya untuk dijual ke industri composites kami ? barangkali inilah peluang baru bagi bisnis Anda.
- Bila Anda aktifis LSM untuk pemberdayaan masyarakat, bisa jadi gedebog pisang ini menjadi project pemberdayaan yang paripurna bagi institusi Anda.
- Bila Anda politikus yang ingin secara konkrit menciptakan pekerjaan seluas mungkin untuk mengumpulkan dukungan yang genuine bagi partai Anda dalam pemilu 2014, maka bisa jadi pula gedebog pisang ini juga merupakan salah satu peluang Anda untuk dapat membangun konstituen Anda yang mengakar di masyarakat.
Bagi Anda yang tertarik untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang peluang ini, silahkan menghubungi kami di gede...@dinarislam.com. Bersama, Insya Allah kita bisa! Amin.
Posted in Business Opportunity
Posted on 26 July 2010. Tags: Al-Qur'an, bapak para nabi, baru belajar, bibit padi, budaya suap, bulir padi, Daarul Muttaqiin, dialog ketauhidan, ekonomi, gagal panen, ilmu perpadian, Karyawan, kekuatan, korupsi, kuasa Allah, memberi makan, memberi minum, Nabi Ibrahim, panen padi, pekerjaan, pelajaran, Pemberi Rizki, pesantren wirausaha, petak sawah, petani, pupuk organic, riba, ribawi, rizki, sumber air, sumber rizki, surat Asy-SYu'araa', syariah, takut dipecat, tauhid
Kemarin adalah hari yang luar biasa bagi kami di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin, hari dimana kami kembali memanen padi yang kami tanam sendiri ? setelah 40 tahun saya sendiri tidak melakukannya, karena sebelum ini panen padi terakhir yang saya ingat adalah panen padi semasa kecil di tahun 1970-an. Namun bukan panen padi-nya sendiri yang menjadikan ini luar biasa, tetapi pelajaran yang bisa kami peroleh dari padi-padi yang kami tuai tersebut.
2 minggu sebelumnya, petak-petak sawah tetangga kami juga dipanen. Tentu petaninya lebih berpengalaman dari kami sendiri karena seumur-umur memang ini pekerjaan mereka. Ketika sama-sama belum dipanen, hamparan padi merekapun nampak lebih hijau karena memang dipupuk dengan sangat memadai. Namun rupanya Allah berkehendak lain, ketika padi dipanen oleh tetangga kami tersebut ? sangat sedikit yang ada isinya. Panenannya gagal tahun ini tanpa bisa dijelaskan ? apa yang menyebabkan padinya tidak berisi.
Padi kami sendiri alhamdulillah, meskipun dipupuk seadanya dengan pupuk organik ? hasilnya menunjukkan panenan yang baik karena mayoritas padinya berisi. Apakah ini karena kami lebih mengetahui tentang ilmu perpadian dari tetangga-tetangga kami? Tentu tidak ? karena kami baru belajar kembali tentang ilmu perpadian ini. Yang jelas tidak ada kekuatan lain dalam hal ini selain kekuatanNya, siapa yang bisa memberi isi ke dalam bulir-bulir padi tersebut bila Dia tidak menghendakiNya?
Disinilah letak pelajaran itu; ketika melihat bulir padi yang berisi dan bulir padi yang tidak berisi, kita begitu mudah memahami bahwa hanya Allah-lah yang bisa membuatnya demikian. Bisa saja padi ditanam di hamparan sawah yang sama, menggunakan bibit padi yang sama, diairi dari sumber air yang sama ? tetapi yang satu tidak diberi isi sedangkan yang lain diberi isi ? siapa yang kuasa melakukan ini? Hanya Dia-lah yang kuasa melakukannya.

Siapa yang memberi bulir padi, bila Dia tidak menghendakinya?
Bagaimana kalau pemahaman yang sama kita terapkan dalam berbagai usaha atau pekerjaan kita yang lain? Bisakah kita melihatnya seyakin melihat bulir-bulir padi tersebut? Bisakah kita hentikan aktifitas suap menyuap, korupsi, riba, kecurangan dalam ekonomi, dlsb karena kita yakin semua hal tersebut tidak akan bisa membuat ?padi? (baca: pundi-pundi harta) kita berisi – bila Allah tidak menghendakinya demikian. Bisakah kita yakin bahwa rizki itu hanya Allah-lah yang kuasa memperluas dan mempersempitnya? Bukan perusahaan atau instansi tempat kita bekerja, juga bukan penguasa yang bisa membuat aturan main usaha.
Keyakinan terhadap sumber rizki tersebut akan sangat mempengaruhi sikap dan tindak kita dalam mencari rizki. Karena orang yakin dengan korupsilah sumber rizkinya yang melimpah, maka begitu banyak kasus korupsi di negeri ini. Karena pelaku bisnis yakin sumber dana ribawi adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh modal, maka riba begitu sulit dihilangkan atau sekedar dikurangi di negeri ini.
Karena mengira perusahaan/instansi tempatnya bekerja adalah sumber rizki, banyak karyawan-karyawati shaleh/shalehah rela disuruh ini itu yang melanggar syariah seperti riba , riswah dan sejenisnya. Hati kecilnya menolak, tetapi imannya tidak cukup kuat untuk bilang tidak pada atasannya karena takut dipecat, takut tidak mendapatkan rizki.
Untuk inilah kita perlu belajar menguatkan ke-tauhid-an termasuk dalam hal pencarian rizki ini. Allah menceritakan dialog antara Nabi Ibrahim A.S dengan bapaknya di Al-Qur?an, agar menjadi contoh dan pelajaran bagi kita. Dialog ketauhidan yang indah tersebut saya kutipkan disini agar yang menulis dan yang membaca sama-sama mendapatkan manfaat. Amin.
Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.
Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa) mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?” Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.
Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’araa’ (26): 69-82)
Posted in Islamic View
Posted on 19 July 2010. Tags: AC, Al-Qur'an, aqiqah, arang, asap, batu apung, batu lava, Boyolali, bukti ilmiah, burger, citra buruk, Colonel Sanders, Daarul Muttaqiin, daging kambing, darah tinggi, denda, Departemen Pertanian, Direktorat Jendral Peternakan, fire alarm, Food Court, gembala kambing, grill, Hadits, haji, Indonesia, industri kambing, Inspirasi Usaha, Jabodetabek, kambing pedaging, kesehatan, kolesterol, lapangan pekerjaan, Mall, McDonald, peluang bisnis, pesantren wirausaha, profesi para Nabi, proses masak, qurban, rendah kolesterol, riset, Sate Kambing, stroke, sugesti, syariat Islam, trend ayam goreng, tukang sate, United States Department of Agriculture, USDA, Workshop Kambing & Domba Nasional
Sate kambing adalah salah satu makanan favorit bagi umumnya masyarakat Indonesia ? termasuk saya. Namun sayangnya makanan ini tidak ada di sembarang tempat. Di Mall, di Food Court dan tempat-tempat makan yang nyaman lainnya tidak mudah ditemukan sate kambing ini. Mengapa demikian? Mengapa sate kambing tidak bisa mengikuti trend ayam goreng misalnya yang kini ada dimana-mana, di tempat elit ber AC sampai pinggiran jalan? Bila Anda bisa dan mau menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, bisa jadi ini peluang bisnis besar Anda…!
Berikut adalah jawaban atas pertanyaan tersebut yang sudah sempat kami diskusikan dengan teman-teman di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin.
Daging kambing berbahaya bagi kesehatan?
Citra sate kambing sebagai makanan enak tetapi berdampak buruk terhadap kesehatan seperti kolesterol yang menyebabkan darah tinggi dan lain sebagainya, bisa jadi menjadi penyebab tidak adanya sate kambing ini di tempat-tempat tersebut diatas. Jawaban untuk ini adalah pembuktian ilmiah karena citra buruk kolesterol tinggi ini belum tentu benar, belum ada bukti ilmiah untuk ini. Yang ada malah bukti sebaliknya dari United States Department of Agriculture (USDA) yang menyatakan bahwa kolesterol daging kambing sesungguhnya lebih rendah dari daging sapi dan bahkan lebih rendah dari daging ayam!
Ketika saya menjelaskan datanya USDA tersebut dalam tulisan saya sebelumnya, ada pembaca yang menyanggahnya dengan alasan bahwa benar-benar ada orang yang stroke setelah makan daging kambing. Ada pula yang menyanggahnya dengan alasan bahwa orang menjadi perkasa (kejantanannya) setelah makan daging kambing, jadi dia berpendapat pasti ada zat-zat yang tidak biasa pada daging kambing ini yang berbahaya bagi orang yang berpotensi darah tinggi, dlsb.
Lagi-lagi alasan tersebut juga belum terbukti secara ilmiah; bisa jadi karena sugesti, bisa pula karena berlebihan – makan apa saja bisa berbahaya bila berlebihan, bisa juga karena penanganan daging yang salah setelah disembelih. Saya sendiri berkeyakinan, daging kambing ini pasti aman dikonsumsi secara normal ? karena kalau seandainya daging kambing berbahaya bagi manusia ? pasti para nabi tidak menggembala kambing.
Seandainya daging kambing berbahaya bagi kesehatan, pasti pula tidak disyariatkan kita memotong kambing untuk qurban, aqiqah, denda karena melanggar larangan haji, dlsb. Karena konsekwensi dari syariat ini adalah akan banyaknya event dimana orang memakan daging kambing. Cara pandang untuk selalu kembali ke Al-Qur?an dan Hadits ini memudahkan kita memgambil keputusan atau pendapat ? karena keduanya tidak akan pernah membuat kita tersesat.
Proses memasak sate kambing yang menyebarkan asap…

Bagaimana "Bakar" Sate TANPA ASAP?
Alasan kedua ini yang lebih masuk akal mengapa sate kambing tidak ada di mall dan food court yang ber- AC. Bayangkan bila dalam satu mall atau food court ada satu saja yang membakar sate dengan areng layaknya tukang sate pada umumnya, seluruh Mall atau Food Court akan dipenuhi asap ? dan fire alarm-pun berbunyi seolah terjadi kebakaran! Karena alasan inilah maka para pengelola Mall dan Food Court pada umumnya tidak mengijinkan memasak makanan yang menimbulkan asap.
Tetapi ?membakar? sate kan tidak harus dengan areng dan tidak harus menimbulkan asap, bisa di-grill misalnya? Mungkin aromanya tidak seenak kalau dibakar biasa ? tetapi ini layak dicoba.
Saat ini kami sedang me-riset cara ?membakar? sate kambing yang tidak menimbulkan asap tetapi rasa dan aromanya seenak kalau dibakar biasa, salah satunya adalah membakar sate dengan menggunakan batu lava, batu apung, dlsb. Masih ada masalah teknis sedikit dengan jenis batu yang tepat, bentuk kompor yang pas, dlsb. tetapi insya Allah masalah-masalah teknis ini akan segera teratasi.
Peluangnya…
Bisa dibayangkan bila pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas terjawab. Tiba-tiba sate kambing masuk tempat makan elit layaknya ayam goreng. Bila di Jabodetabek ada 100 tempat saja yang menjual sate kambing di ?lingkungan yang baru? ini (bisa counter di Food Court, Full Scale Restaurant atau hanya tambahan menu di restaurant/counter yang sudah ada), masing-masing menghabiskan 2 ekor kambing per hari misalnya (tukang sate yang sudah jalan baik bisa puluhan kambing per harinya), maka akan ada kebutuhan 200 ekor kambing perhari, 6.000 per bulan, 72.000 per tahun!
Bagaimana kalau sate kambing dan ?cara bakar sate? yang baru ini kita perkenalkan ke kota-kota lain dan juga negara-negara lain layaknya McDonald dan Colonel Sanders yang mengekspor Burger dan ayam goreng-nya ke seluruh penjuru dunia? Tidak terhitung kebutuhan kambing dan lapangan pekerjaan yang insya Allah tercipta.
Untuk Jabodetabek dengan target 200 ekor kambing perhari, 6.000 per bulan, 72.000 pertahun saja ? ini insya Allah sudah akan menyerap ribuan tenaga kerja. Mulai dari pelihara kambing, pabrik pakan ternak, tukang potong kambing, transportasi, juru masak, tenaga pemasaran, pemilik/penjaga restaurant, dlsb.
Bila Anda ingin bergabung untuk meng-explore peluang baru di industri perkambingan ini di sisi mana saja, silahkan menghubungi kami. Saya insya Allah akan bicara pada acara Workshop Kambing & Domba Nasional di Wisma Haji Donohudan Boyolali pekan depan (21-21 Juli 2010) yang diadakan oleh Direktorat Jendral Peternakan ? Dep. Pertanian RI, saya kebagian bicara mengenai peluang pasar kambing dan domba dan cara menangkap peluang tersebut.
Industri kambing bisa sangat menjanjikan ke depan, selain kambing susu yang sudah kita mulai ? kambing pedaging-pun ternyata tidak kalah menariknya. Semoga secara bersama-sama kita bisa menangkap peluang tersebut… Amin.
Posted in Business Opportunity