Tag Archive | "perdagangan"
Posted on 06 September 2010. Tags: akses pasar, Al-Qur'an, Allah, baju & makanan, bekerja, Berlomba dalam Kebajikan, Daarul Muttaqiin, ekonomi, ekonomi Islam, fastabiqul khairat, Food Court, Hadits, Halal, hijrah, HR. Ibnu Majah, ibadah, infaq, Jabodetabek, kaum Muhajirin, keadilan, kebersahajaan, kecurangan, kehati-hatian, kejujuran, kesetaraan, Khalifah, liability, Madinah, mahal, Mall, masjid, mayoritas umat, Medina Market, Muhammad SAW, Muhtasib, muslimin, Nabi, Nilai-Nilai, orang kaya, pasar, Pasar Madinah, Pengawas Pasar, pengelolaan, pengemis, perdagangan, pesantren wirausaha, pinggir jalan, preman, produksi, Rasulullah SAW, riba, Satpol PP, Suq Al-Madinah, surat Al-Imran, tramtib, tukang ngamen, Umar bin Khattab, Yahudi
Salah satu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Madinah yang kemudian membuat perubahan besar dalam penguasaan ekonomi adalah konsep bahwa bekerja adalah Ibadah. Melalui konsep inilah kaum Muhajirin yang berhijrah mengikuti Rasulullah SAW tanpa membawa harta-pun segera menjadi asset bagi umat dan bukannya liability – karena mereka dapat mengoptimalkan kemampuannya baik dalam kegiatan produksi maupun kegiatan perdagangan.
Digambarkan dalam sejarah bahwa setelah Hijrahnya Rasulullah SAW dan para pengikutnya, bumi-bumi yang semula gersang-pun kemudian terolah menjadi kebun-kebun yang subur dan taman-taman yang indah. Karena konsep bekerja adalah ibadah pula, maka hal-hal positif yang terkait dengan peribadatan seperti keadilan, kejujuran, kesetaraan, kehati-hatian, kebersahajaan, infaq, dlsb dapat termanifestasikan dalam kehidupan umat sehari-hari ketika mereka bekerja.
Awalnya tentu tidak mudah karena ketika kaum Muhajirin mulai aktif berdagang di Madinah misalnya, mereka berdagang di pasar yang sudah ada waktu itu yaitu pasar yang dikelola oleh Yahudi. Pengelolaan pasar oleh Yahudi yang di Al-Qur?an digambarkan bahwa mereka menganggap HALAL untuk mengambil harta orang lain ini (orang-orang umi, QS. Al-Imran [3]: 75), tentu saja bermasalah.
Oleh karena penguasaan pasar oleh kaum yahudi tersebut pula maka umat Islam semula tidak bisa sepenuhnya mengimplementasikan nilai-nilai Islam di pasar ? maka kemudian Rasulullah SAW-pun memandang penting untuk segera mendirikan pasar bagi kaum muslimin di awal-awal terbentuknya masyarakat yang akan hidup dengan nilai-nilai Islam yang menyeluruh di Madinah.
Di suatu tempat yang berjarak hanya beberapa rumah arah barat laut dari Masjid Nabi – yang telah didirikan terlebih dahulu, Rasulullah SAW mendirikan pasar dangan sabdanya ?Ini pasarmu, tidak boleh dipersempit (dengan mendirikan bangunan, dlsb di dalamnya) dan tidak boleh ada pajak di dalamnya?. (HR. Ibn Majah)
Pasar di area terbuka ini memiliki panjang sekitar 500 meter dan lebar sekitar 100 meter (luas sekitar 5 ha), jadi cukup luas untuk mengakomodasi kebutuhan penduduk kota yang kemudian berkembang pesat ? paska Hijrah. Lokasinya juga dipilih sedemikian rupa sehingga penduduk yang datang dari berbagai wilayah ? mudah mencapai pasar tersebut. Pasar Madinah inilah yang kemudian menjadi urat nadi perekonomian negara Islam yang pertama, yang berpusat di Madinah.
Lokasinya yang tidak jauh dari Masjid Nabi tetapi juga tidak terlalu dekat (selang beberapa rumah) juga memiliki nilai strategis sendiri. Nilai-nilai yang terbawa dari ketaatan beribadah di masjid dapat mewarnai aktifitas perdagangan di pasar, namun hal-hal yang buruk dari pasar seperti keramaiannya tidak mempengaruhi aktifitas dan kekhusukan umat yang beribadah di masjid.

Pasar Madinah / Medina Market / Suq Al-Madinah
Bahkan cara-cara pengelolaan pasar-pun memiliki kemiripan dengan pengelolaan Masjid. Hal ini disampaikan oleh Umar Ibn Khattab yang menjadi Muhtasib ? Pengawas Pasar ? setelah Rasulullah SAW dengan perkataaannya bahwa ?Pasar itu menganut ketentuan masjid, barang siapa datang terlebih dahulu di satu tempat duduk, maka tempat itu untuknya sampai dia berdiri dari situ dan pulang ke rumahnya atau selesai jual belinya?.
Nilai pesan yang terkandung di dalam perkataan Umar ini sejalan dengan hadits Nabi SAW tersebut di atas yang intinya adalah akses ke pasar harus sama bagi seluruh umat; tidak boleh meng-kapling-kapling pasar. Hal ini diimplemantasikan Umar dengan melarang orang membangun bangunan di pasar, menandai tempatnya, atau mempersempit jalan masuk ke pasar. Bahkan dengan tongkatnya Umar menyeru ?enyahlah dari jalan? kepada orang-orang yang menghalangi orang lain masuk ke pasar.
Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sunah Rasulullah SAW mendirikan pasar ? yang kemudian juga terus ditegakkan oleh para Khalifah tersebut di atas?
Yang jelas situasi pasar-pasar yang ada dewasa ini tidak jauh berbeda dengan kondisi pasar di Madinah yang dikelola Yahudi sebelum didirikannya pasar bagi kaum muslimin oleh Rasulullah SAW tersebut di atas. Segala macam kecurangan a la yahudi terjadi di pasar kini, dan yang paling menyolok adalah akses pasar yang tidak mudah dijangkau oleh mayoritas umat.
Di JaBoDeTabBek misalnya, Anda bisa membuat baju-baju yang indah dan makanan-makanan yang enak. Tetapi tidak berarti Anda dengan mudah bisa menjualnya ke pasar. Untuk menyewa tempat di mall atau food court pada umumnya sangat mahal ? sehingga hanya bisa dijangkau segelintir orang saja ? yang justru sudah kaya.
Bila Anda berusaha jualan di tempat-tempat terbuka, di pinggir-pinggir jalan ? maka bila tidak digusur oleh tramtib atau Satpol PP ? Anda akan menjadi bulan-bulanan para preman, tukang ngamen, pengemis, dlsb. Walhasil, kesejahteraan umat secara luas ? sulit sekali diangkat karena antara lain terbatasnya akses ke pasar ini.
Maka selain perjuangan-perjuangan lainnya seperti perjuangan melawan riba, ketidak adilan ekonomi dan sejenisnya, kini saatnya para pejuang ekonomi Islam juga harus mulai memperjuangkan pasar bagi kaum muslimin ini.
Tentu juga tidak mudah, dan juga tidak langsung sempurna seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan Para Khalifah tersebut di atas, tetapi langkah menuju kesana harus ada yang memulai.
Dengan semangat mengikuti jejak Nabi tersebut di ataslah, kami ? Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin (PWDM) ? ingin mulai melangkah merintis embrio terwujudnya pasar bagi kaum muslimin ini dengan proyek-proyek yang kami sebut Pasar Madinah, Medina Market atau Suq Al- Madinah. Pemilihan nama ini adalah wujud kerinduan kita semua ? akan lahirnya umat yang makmur ? mengikuti sunah-sunah Nabi SAW termasuk dalam hal mendirikan dan mengelola pasar.
Kami tahu, beberapa pihak juga telah mulai melakukannya lebih dahulu ? sama sekali tidak bersaing dengan apa yang telah mereka rintis, tetapi pendekatan yang kami lakukan memang akan agak berbeda. Ini hanya perlombaan dalam kebajikan ? fastabiqul khayrat, semoga memberi manfaat yang maksimal bagi umat ke depan.
Bagi yang tertarik untuk terlibat dalam project Medina Market ini, brosur yang lebih detil dari tulisan ini dapat didownload di sini.
Semoga Allah senantiasa memudahkan kita pada amal yang diridloiNya…
Posted in Entrepreneurship
Posted on 03 September 2010. Tags: 15 Dinar, aktifitas outdoors, alam bebas, Allah, aqad Mudharabah Muqayyadah, bakteri, beban berat, Bekasi, belajar, binatang, Bogor, Bungi Jumping, business practitioners, CI, Cognition, Collective Intelligence, composites, Cooperation, Coordination, crash test, Daarul Muttaqiin, Depok, DinarIslam.com, encyclopedia, Flying Fox, Food Court, hijrah, investor, Islam, Jabodetabek, Jakarta, Jamur, Kambing Ettawa, Kambing Hot Rock, kaya, kebersamaan, kelompok, kemakmuran, kick-off, kompetensi, kota satelit, Lebaran, Linux, Madinah, makanan, Mall, masjid, Masjid Gedebog, masyarakat, Medina Market, muslimin, pasar, pekerjaan, pemodal, pengalaman, pengetahuan, perdagangan, pesantren wirausaha, Planet Beku, Ramadhan, Rasulullah SAW, Ready To Cook, Ready To Eat, RTC, RTE, Santri Wirausaha, Sate Balibul, Semut, software, Strategies, supplier, Tangerang, ustadz, vision sharing, Wikipedia
Pasar memiliki kedudukan strategis dalam membangun masyarakat Islam yang utuh; begitu strategisnya masalah ini sehingga Rasulullah SAW sendiri mencontohkan membangun pasar bagi kaum muslimin di Madinah sejak masa-masa awal Hijrah. Kelemahan dalam penguasaan pasar ini pula yang membuat umat Islam kini meskipun besar dari segi jumlah namun tidak memiliki kekuatan strategis dalam perdagangan. Di mall, di pasar modern maupun tradisional, di food court, dlsb, nuansa Islami hanya muncul di bulan Ramadhan khususnya menjelang Lebaran.
Pasar tidak muncul dengan sendirinya, harus ada yang memulai – lebih banyak yang mulai akan lebih berpeluang terbentuk secara lebih cepat. Oleh karena itu saya ingin mengajak para pembaca sekalian untuk secara kolektif memikirkan dan langsung bertindak untuk mulai membangun embrio pasar bagi kaum muslimin ini. Awalnya tidak harus besar dan tidak harus langsung sempurna ? setidaknya kita mulai dengan serius menyiapkan instrumen pokok dalam membangun kemakmuran umat ini.
Untuk pekerjaan besar ini kita bisa belajar dari sekelompok semut yang sedang mengangkat makanan berupa binatang atau lainnya yang beratnya puluhan kali berat semut itu sendiri. Bagaimana semut-semut ini melaksanakan pekerjaan besar tersebut? Siapa yang punya gagasan terus kemudian mengajak yang lain? Dengan bahasa apa mereka berkomunikasi? Bagaimana mereka menyepakati arah kemana makanan dibawa? dst. Mereka dapat melakukan ini karena hewan terkecil sekalipun, bahkan sampai sekelas bakteri-pun oleh Allah diberi kemampuan untuk ?berpikir? maupun ?bertindak? secara bersama-sama dengan kelompoknya. Ilmu manusia modern kemudian menyebut hal ini sebagai Collective Intelligence (CI).

Belajar dari Semut...
Bila dengan CI-nya, semut dan bakteri-bakteri yang kecil tidak kasat mata-pun dapat membunuh manusia yang besar ini ? maka dapat kita bayangkan pekerjaan besar apa yang bisa dilakukan oleh sekelompok manusia-manusia yang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi-nya yang pasti memiliki CI yang sangat perkasa ketimbang CI-nya bakteri, semut, dlsb.
Karena potensi pemanfaatan CI yang sangat besar tersebut, maka berbagai pihak kini rame-rame berusaha mengelola CI untuk berbagai tujuan. Linux misalnya menggunakan CI untuk menghasilkan software yang gratis dan sangat bermanfaat. Wikipedia untuk menghasilkan encyclopedia yang juga gratis ? yang encyclopedia semacam ini sebelumnya hanya dibeli oleh kalangan teknokrat yang kaya.
Secara tidak langsung dalam penerapannya yang masih terbatas, Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) juga menggunakan CI ini untuk mengembangkan berbagai project, mulai dari project Kambing Ettawa, Jamur, Composites, Planet Beku, Masjid ?Gedebog?, Sate Balibul, Kambing Hot Rock dan berbagai project lain yang insya Allah semakin meaningful ke depan.
Bagaimana kami mengelola CI-ini? ya antara lain melalui tulisan-tulisan yang kami lontarkan di web ini kemudian menuai masukan; juga melalui pertemuan-pertemuan fisik yang tidak hanya melibatkan para santri wirausaha tetapi juga pihak-pihak lain yang kami pandang bisa melengkapi CI yang dibutuhkan. Pertemuan ini bisa berupa vision sharing (bila kami baru melontarkan ide), crash test (bila kami telah siap dengan suatu produk) ataupun acara kick-off (bila kami mulai sesuatu).
Nah sekarang kita juga akan menggunakan CI untuk membangun pasar kita tersebut di atas. Rencana membangun pasar ini, sengaja saya lontarkan di tulisan ini karena kita ingin mengumpulkan dan menyaring CI dari puluhan ribu pembaca setia DinarIslam.com ? yang sangat bisa jadi sebagiannya memiliki minat yang sama. Berikut adalah deskripsi ringkas dari project yang kita beri nama Medina Market ini:
Kita tahu bahwa Jakarta kini sudah semakin padat, kota-kota satelit di seputar Jakarta semakin menjamur yang kemudian dikenal dengan JaBoDeTaBek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Di salah satu wilayah ini, masih di mulut pintu tol-nya ? ada sebuah mall yang memiliki lokasi ideal untuk target Medina Market yang pertama. Mall ini berada di gerbang pusat kegiatan berbagai perumahan yang kini bermunculan di daerah tersebut.
Ada sederet foot court yang masih kosong di mall ini ? menghadap keluar ke alam bebas sehingga mempunyai pemandangan yang indah. Lebih indah lagi bila dikelola dengan berbagai aktifitas outdoors yang sekarang juga semakin marak. Inilah calon target pasar pertama kita, yang dari sekian banyak lokasi nampaknya paling cocok untuk mulai. Lokasinya juga kurang lebih di antara 2 masjid besar bertaraf internasional yang dikelola ustadz-ustadz kondang negeri ini, jadi ideal sekali untuk memulai membangun masyarakat muslim yang utuh.

Collective Intelligence untuk Medina Market
Peluangnya adalah bila seluruh counter yang menghadap ke alam bebas tersebut bersama-sama kita kelola, maka nuansanya bisa kita warnai. Dengan banyaknya pedagang sekaligus (lokasi ini hanya untuk makanan atau food court), maka banyak pilihan yang langsung hadir di lokasi ini ? sehingga juga akan segera menjadi daya tarik bagi masyarkat untuk mengunjunginya.
Karena ?mengelola? pasar secara utuh ini jelas belum menjadi kompetensi kita saat ini, maka CI tersebut di ataslah yang kami butuhkan.
1. Coordination akan kami gunakan untuk mengumpulkan para pemodal yang tertarik di project ini. Agar tidak terlalu berisiko bagi para pemodal tersebut, maka lokasi ini cukup kita sewa dahulu sehingga tahun pertama hanya butuh dana mulai dari sekitar 15 Dinar untuk 1 counter. Untuk kategori pemodal ini, kami hanya butuh sekitar 20 orang.
2. Cooperation akan kami gunakan untuk mengelola suppliers dan pihak ketiga yang produk atau jasa-nya kita butuhkan tetapi bukan bagian dari pemodal yang terlibat secara langsung di tipe pertama. Kategori ini antara lain yang kita butuhkan adalah supplier makanan RTC (Ready To Cook) ataupun RTE (Ready To Eat), pengelola Bungi Jumping, Flying Fox dan aktivitas outdoors lainnya yang berpengalaman. Dengan adanya mereka ini, pemodal counter tidak harus mampu memasak masakan yang enak sendiri ? dapat di outsourced ke provider RTC ataupun RTE.
3. Cognition kami perlukan dari para business practitioners untuk mem- ?verifikasi? dan ?fine-tuning? peluang besar yang kami lihat tersebut di atas ? yang sudah barang tentu tantangannya juga besar. Dengan adanya mereka ini, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan kita yang terbatas dalam mengelola pasar dapat disempurnakan dari waktu ke waktu.
Ibarat sekumpulan semut di atas, kita akan mengangkat segumpal bahan makanan yang sangat besar untuk ukuran tubuh kita ? maka dengan CI inilah insya Allah kita akan bisa mengangkat beban tersebut secara bersama-sama. Bila kita bisa benar-benar wujudkan pasar yang satu ini, insya Allah pasar-pasar yang lain bisa kita bangun bersama di berbagai wilayah dan berbagai kota. Pasar yang terjangkau inilah salah satu jalan untuk menuju kemakmuran yang lebih luas bagi umat, jadi harus ada yang memulai. Ayo sekarang kita mulai, siapa mau ikut?
Semoga Allah senantiasa memudahkan kita pada amal yang diridhloiNya… Amin.
NB: Untuk peminat kategori investor, kami berlakukan first come first ? sampai 20 orang pertama kemudian stop ? sama dengan peserta Mudharabah Muqayyadah gelombang I. Bila ada peminat yang lebih dari 20, maka akan dicadangkan untuk lokasi lain yang akan kita bidik kemudian. Peminat bisa menghubungi kami di menu “Contact” dari situs ini.
Posted in Business Opportunity
Posted on 25 August 2010. Tags: Amerika, awang-awang, biang keladi, BUMN, China, collapse, Competitive Devaluation, daya beli, ekspor, Euro, Fannie Mae, Federal Reserve, Freddy Mac, Gajah, harga emas, harga naik, inflasi, investasi, investasi sektor riil, jabon, Jepang, jeruk makan jeruk, kampung, korban, krisis finansial, lahan produktif, masyarakat, mata uang, mencetak uang, Nusantara, otoritas moneter, Pelanduk, pemerintah, penabung, penurunan daya beli, perdagangan, perkasa, pisang, SD, Sengon, tabungan, the Wall Street Journal, trend, uang kertas, Uni Eropa, US Dollar, Yen, Yuan
Dahulu di waktu Sekolah Dasar kita belajar pepatah yang kurang lebih berbunyi ?gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah?. Apes bener jadi pelanduk, dia tidak tahu menahu tentang urusan apa gerangan yang membuat para gajah tersebut bertarung ? tetapi dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula ? maka matilah dia karena pertarungan ini. Sebuah artikel di The Wall Street Journal kemarin yang diberi judul Getting Ready for A Dollar Collapse? bercerita tentang pertarungan gajah US Dollar melawan gajah-gajah Yuan, Euro, Yen dan berbagai mata uang kuat lainnya ? yang membuat mati para pelanduk, yaitu para penabung atau pemegang uang kertas dunia.
Pertarungan yang disebut Competitive Devaluation ini bermula dari krisis finansial global dalam 2 tahun terakhir. Biang keladinya adalah Amerika, dimana 2/3 isi balance sheet dari Federal Reserve-nya berasal dari surat berharga yang dikeluarkan oleh government sponsored enterprises ? semacam BUMN kitalah ? yaitu Fannie Mae dan Freddy Mac yang dibailed out pemerintahnya 2 tahun silam. Ini situasi ?jeruk makan jeruk?, yang hakekatnya pemerintah negeri ini sedang mencetak uang baru dari awang-awang.
Akibat perbuatannya ini ? karena uang baru terus dicetak dari awang-awang – maka ada proses penurunan daya beli US$ secara terus menerus. Hal ini nampak jelas pada perkembangan harga emas dunia dalam US$, bila rata-rata bulanan bulan Agustus 2008 harga emas berada pada angka US$ 839.02/Oz kini naik sekitar 44% pada bulan Agustus 2010 ini menjadi rata-rata US$ 1,209.66/Oz dengan trend masih ke atas. Mungkin saja akan terbatas efeknya apabila penurunan daya beli ini hanya terjadi di AS, namun ternyata efek penurunan daya beli ini tidak akan terhenti di AS. Negara-negara lain yang nilai perdagangannya sangat tinggi dengan AS, seperti: China, Uni Eropa, Jepang, dlsb akan kehilangan daya saingnya bila uang mereka terlalu PERKASA terhadap US Dollars.
Akibatnya otoritas moneter negara-negara tersebut akan menempuh caranya sendiri-sendiri untuk menurunkan daya beli uangnya dengan perbagai program Quantitative Easing atau cara-cara ?creative? lainnya dalam mencetak uang dari awang-awang. Negara-negara lain yang tadinya tidak terimbas secara langsung-pun kemudian akan terpaksa mengikuti gerakan global dalam penurunan daya beli uang kertas ini, karena bila tidak maka mereka akan semakin tidak bisa bersaing dengan produk ekspor-nya.
Wal hasil, seluruh dunia kini seperti berpacu dalam menurunkan daya beli uang kertasnya ? atau berarti juga berpacu dalam inflasi. Lantas siapa yang jadi pelanduk-nya? Masyarakat secara umum yang tidak tahu menahu menjadi korban dalam bentuk harga barang-barang yang terus melambung, secara khusus para penabung yang meskipun angka uang yang ditabungnya bertambah ? daya beli uang yang ditabung tersebut semakin lama semakin turun karena hasil tabungannya kalah berpacu dengan inflasi.
Terus bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi hal ini? Yang terbaik adalah apabila terjadi perubahan paradigma cara berfikir dari kegemaran menabung menjadi kegemaran ber-investasi di sektor riil. Bagi Anda yang masih mempunyai kampung, menginvestasikan uang Anda di kampung dalam bentuk lahan-lahan yang diproduktifkan dengan berbagai tanaman sengon, jabon dan bahkan pisang, dlsb insya Allah akan lebih memberi manfaat bagi Anda dan masyarakat sekitar Anda. Bagi yang sudah tidak memiliki kampung, masih banyak terbuka lahan di Nusantara ini untuk Anda produktifkan baik untuk pertanian, perikanan, peternakan maupun kegiatan produktif lainnya.
Mengapa sektor riil ini lebih baik dari pada memegang uang kertas atau tabungan di era competitive devaluation ini? Sederhana alasannya, benda riil apapun yang Anda pegang dengan sendirinya akan melonjak nilainya ? ketika dunia rame-rame menurunkan daya beli mata uangnya.
Ketika kita tidak menjadi pelanduk, pertarungan para gajah tidak akan membuat kita mati ? maka jangan mau jadi pelanduk! Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 05 May 2010. Tags: barter, barter kuno, barter modern, BarterClub, Barternews, coincidence of wants, Dinar Equity Exchange, dunia modern, economics outside the box, effort, FaceBook Groups, hasil panen, impor, IndoBarter Project, Jakarta, jual-beli, komunikasi, kredit, krisis finansial, Krisis Moneter, Multileg Exchanges, nilai intrinsik, perdagangan, perumahan, petani, peternak sapi, Project Ngecat Langit, rentan manipulasi, Sentul, spekulasi, teknologi informasi, transaksi barter, uang, uang fiat, warna
Sejak saya menulis tentang peluang transaksi tanpa uang atau barter hampir setahun lalu dalam tulisan Dinar Equity Exchange, tidak hentinya team kami terus bekerja mewujudkan ide tersebut dalam suatu project. Project ini sendiri secara berkelakar kami sebut sebagai Project Ngecat Langit ? untuk menggambarkan betapa besar pekerjaan dan juga peluangnya.
Barter sebenarnya sama sekali bukan hal baru karena bentuk perdagangan yang paling basic ya barter ini. Manusia modern kemudian menemukan cara yang lebih sederhana dari barter yaitu dengan berjual beli menggunakan uang. Banyak masalah teratasi dengan menggunakan uang ini, namun banyak pula masalah baru yang timbul terutama ketika uang yang digunakan adalah uang fiat ? yaitu uang yang tidak memiliki nilai intrinsik.
Terlepas dari kendala-kendala yang dihadapi dalam barter, Transaksi barter di zaman modern ini sebenarnya terus terjadi baik antar individu, perusahaan dan bahkan antar negara. Barternews memperkirakan bahwa transaksi barter tahunan di seluruh dunia saat ini telah mencapai US$ 3.7 trilyun dengan perincian seperti pada tabel di bawah.

Mengapa transaksi barter yang terkesan ?kuno? ini masih dilakukan orang dalam skala besar? Hal ini tidak terlepas dari masalah yang timbul dalam jual beli menggunakan uang fiat dimana nilai uang fiat sendiri yang cenderung turun dari waktu ke waktu. Nilai uang fiat juga rentan terhadap manipulasi, spekulasi dan ketidak adilan, uang salah satu negara bisa seolah lebih penting (lebih tinggi nilainya) dari uang negara lain.
Pengelolaan uang fiat di berbagai negara juga sering menimbulkan krisis dimana uang fiat menjadi langka atau turun drastis nilainya. Bilamana hal ini terjadi maka transaksi kebutuhan antar manusia juga terganggu. Ingat kita pada peristiwa krismon 97/98 ; dan juga krisis finansial di Amerika 2 tahun lalu. Kebutuhan basic kita akan sandang, pangan dan papan tidak menghilang dengan adanya krisis ? hanya uang yang menjadi alat tukarnya yang menghilang.
Di daerah Sentul yang jaraknya kurang dari 1 jam perjalanan dari Jakarta; ada sebuah komplek perumahan yang kini mirip kota hantu. Perumahan mewah untuk kalangan berduit ini mulai dibangun beberapa tahun sebelum krisis moneter 97/98; karena semua harus dibayar dengan uang dan sebagian terbesarnya adalah kredit ? maka ketika uang dan kredit menghilang selama krisis moneter, proses pembangunan perumahan ini-pun terhenti.
Rumah-rumah yang sudah jadi atau setengah jadi dibiarkan ngangkrak terbengkalai; pintu-pintu, besi dan apa saja yang berharga dari komplek tersebut kemudian dijarah orang dan kini tinggal puing-puing yang tidak ada harganya.
Ini ironi karena jutaan orang di negeri ini belum bisa memiliki rumah ? tetapi ada rumah-rumah dalam suatu komplek besar yang dibiarkan ngangkrak. Tidak bisa dimanfaatkan oleh orang lain karena semuanya harus dibeli dengan uang ? yang justru tidak tersedia cukup pada waktu itu.
Kejadian serupa terjadi dengan para peternak sapi susu, para petani tomat, cabe dan sejenisnya. Mereka kadang harus membuang susu atau hasil panennya karena tidak ada yang membeli produknya dengan uang yang layak. Padahal negeri ini masih harus impor susu karena kebutuhan dalam negeri lebih besar dari produksinya. Banyak ?saus tomat? pula di pasaran yang isinya bukan tomat karena pabrik saos tomat tersebut tidak bisa membeli dengan layak tomat yang sesungguhnya.
Problem-problem tersebut setidaknya bisa dikurangi atau diatasi sama sekali bila kita bisa mempertukarkan barang atau jasa yang satu dengan yang lain tanpa harus melalui uang lebih dahulu, inilah barter itu.
Memang diperlukan banyak sekali effort untuk membuat barter ini praktis dan applicable di zaman modern ini, oleh sebab itulah Project Ngecat Langit ini kita rintis. Bila barter kuno terkendala dengan syarat yang disebut coincidence of want, maka di zaman teknologi ini kita bisa men-create coincidence of wants melalui teknik-teknik barter modern seperti multileg exchanges yang diolah melalui sistem teknologi informasi yang canggih, dlsb.
Meskipun jauh dari selesai, namun sudah cukup jauh kami melangkah ? keterlibatan Anda sekalian pembaca situs ini insya Allah akan dapat mempercepat progress dari project ini. Sudah banyak yang mendaftar ikut project ini sejak tulisan saya yang pertama tersebut di atas, namun agar komunikasi terus terbangun secara luas ? kami undang Anda yang tertarik dengan project ini untuk bergabung di Group Facebook yang sengaja kita buat untuk ini yaitu grup BarterClub.
Siapa tahu dengan kerja rame-rame; kita bisa benar-benar mengecat langit kita dengan warna kita sendiri… bukan warna yang dikehendaki orang lain untuk kita. Insya Allah.
Posted in Business Opportunity
Posted on 07 March 2010. Tags: Abu Hurairah R.A., Abu Sa'id R.A., akses modal, Allah, barokah, BMT, dari anggota ke anggota, Dinar, do'a, Dr. Muhammad Yunus, dunia modern, ekonomi, Hadits, HR. Muslim, ikhtiar, investasi, Islam, Jawa Tengah, Jawa Timur, kapital, keberkahan, kebersamaan, kekuatan ekonomi, kemakmuran, kemiskinan, kiamat, kontribusi, koperasi, Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS), Koperasi Pesantren, Kyai, lingkungan, medan perang, pengusaha, perang Tabuk, perdagangan, perusahaan, Pesantren Putri, psikologi massa, Rasulullah SAW, resources, Riyadus Shalihin, santriwati, Strength in Numbers, surga, syahadat, usaha bersama
Dari sebuah hadits panjang yang saya ambilkan dari kitab Riyadus Shalihin, dari Abu Hurairah R.A. atau dari Abu Sa?id R.A. (perawi ragu namun tidak bermasalah karena keduanya adil), beliau berkata: ?Ketika perang Tabuk, orang-orang pada kelaparan? mereka berkata: ?Wahai Rasulullah, seandainya engkau memberi izin ? kami akan menyembelih unta kami, lantas kami makan dan lemaknya buat minyak.? Rasulullah bersabda: ?Lakukanlah? ; Umar datang lalu berkata: ?Wahai Rasulullah, bila engkau lakukan yang semacam itu kendaraan akan jadi sedikit. Tetapi perintahkanlah mereka untuk mengambil bekal mereka yang tersisa lalu taruhlah di depan engkau. Kemudian berdo?alah kepada Allah agar makanan tersebut berkah. Barangkali Allah mengabulkan sehingga makanan tersebut menjadi berkah?.
Lantas Rasulullah SAW bersabda: ?Ya? lalu beliau memerintahkan untuk digelar alas lantai, kemudian memerintahkan agar kelebihan bekal mereka dikumpulkan. Lantas seorang laki-laki datang dengan membawa segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kurma dan ada yang membawa segenggam roti. Sehingga terkumpullah di atas tikar sesuatu yang sedikit.
Kemudian Rasulullah SAW mendoakan agar diberi berkah. Lalu beliau bersabda: ?Ambillah, lalu taruhlah di wadah kalian?. Lantas mereka mengambil makanan tersebut, lalu ditaruh di kantong, bejana atau wadah mereka. Seluruh tempat yang di perkemahan itu dipenuhi dengan makanan. Mereka makan hingga perutnya kenyang. Sisanya-pun masih ada.
Saat itu Rasul SAW bersabda: ?Aku bersaksi, bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Bila seorang hamba berjumpa dengan Allah (kelak di hari kiamat) dan dia telah membacanya (bersyahadat), dia tidak ragu, maka dimasukkan ke surga.? (HR. Muslim)
Di antara pelajaran dari hadits tersebut di atas yang bisa kita petik adalah, bahkan Rasulullah SAW memerlukan ikhtiar selain juga berdo?a untuk dapat menyelamatkan pasukannya dari kelaparan di medan perang. Jenis ikhtiar-nyapun adalah sesuatu yang dapat kita contoh, yaitu melibatkan anggota pasukan untuk berkontribusi. Betapapun sedikitnya kontribusi ini tidak terlalu masalah, karena dengan sedikit yang diberkahi ? maka problem seluruh pasukan teratasi.
Kebersamaan umat dewasa ini-pun mestinya bisa menyelesaikan berbagai permasalahan dunia modern. Ambil contoh permasalahan dalam bidang ekonomi. Seperti yang saya tulis tentang Muhammad Yunus, bahwasanya penyebab kemiskinan yang utama adalah timpangnya akses terhadap kapital. Bila akses terhadap kapital ini diatasi, maka insya Allah kemakmuran akan tumbuh merata.
Karena alasan ini pula para pendiri bangsa ini sebenarnya sudah memiliki pemikiran yang konkrit, yaitu menjadikan Koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia. Ide dasar koperasi adalah dari anggota ke anggota, jadi seperti pada hadits tersebut di atas ? bila masing-masing anggota berkontribusi sesuai kemampuannya ? maka kapital yang terkumpul akan menjadi sangat berguna untuk mengangkat kemakmuran para anggota.
Saya pernah berceramah di sebuah Pesantren Putri di perbatasan Jawa Tengah ? Jawa Timur yang diasuh oleh seorang Kyai. Saya belajar dari pak Pak Kyai yang bukan ekonom dan bukan pula pengusaha ini, bahwa dengan mengelola segala kebutuhan santriwati-nya yang ?hanya? sekitar 4000 orang secara bersama-sama setiap tahun Koperasi Pesantren-nya menghasilkan milyaran Rupiah Sisa Hasil Usaha.
Lha umat Islam di Indonesia ini kan jumlahnya tidak kurang dari 190 juta orang, masak nggak bisa makmur bila dikelola dengan baik secara bersama-sama seperti hadits di atas dan juga yang dicontohkan Pak Kyai? Ok mungkin ngurus orang banyak memang lebih sulit (sebenarnya juga bukan alasan karena sekian banyak juga resourcesnya), maka kita bisa mulai dari yang ada di sekitar kita.
Jumlah seperti yang dikelola Pak Kyai sekitar 4000-orang tersebut dengan mudah kita jumpai di lingkungan perusahaan tempat kita bekerja, lingkungan gedung tempat kantor berada, lingkungan perumahan tempat kita tinggal, dlsb.
Bayangkan kalau Anda bisa mengelola kebutuhan sehari-hari, kebutuhan investasi dan kebutuhan lainnya dari 4,000 orang ? maka akan sangat besar kemungkinannya Anda bersama-sama anggota lain yang bergabung di dalamnya akan menikmati kemakmuran bersama. Usaha bersama secara berkelompok dari anggota untuk anggota inilah yang di Indonesia dicita-citakan menjadi sokoguru perekonomian, dalam bentuknya koperasi biasa ataupun Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) atau BMT.
Dalam konteks Koperasi/BMT berbasis Dinar, bila Koperasi/BMT Anda bisa mengumpulkan 4,000 orang yang masing-masing menabung 1 Dinar saja akan terkumpul 4,000 Dinar kapital yang akan sangat memadai untuk mulai memutar perdagangan yang barokah memenuhi kebutuhan para anggota Koperasi/BMT Anda.
Mungkin tidak banyak yang bisa dilakukan dengan 1 (satu) koin Dinar yang tersimpan di rumah, namun kalau digabung dalam 1 BMT yang beranggotakan 4,000 ? maka 4,000 Dinar menjadi kekuatan ekonomi yang sudah cukup berarti; bagaimana kalau 4 juta Dinar?, dst. Inilah yang di dalam psikologi massa disebut Strength in Numbers, kekuatan yang hanya muncul bila dilakukan secara bersama-sama. Insya Allah.
Posted in Islamic View
Posted on 09 February 2010. Tags: Berlomba dalam Kebajikan, bidang usaha, Blue Ocean, Blue Ocean Mindset, Blue Ocean Strategy, Chan Kim, Da'i, Dinar, fastabiqul khairat, gerakan, Harvard Business School Press, ikhlas, ilmu, INSEAD, juru dakwah, keagamaan, medan persaingan usaha, pasar, pengalaman, pengusaha, perdagangan, perikanan, pertanian, pesaing, pesantren wirausaha, peternakan, Red Ocean, Renee Mauborgne, sosial, sparring partners, strategi bisnis, tidak sehat, tukang cukur, ustadz
5 tahun lalu Harvard Business School Press menerbitkan buku yang legendaris bagi dunia usaha dengan judul Blue Ocean Strategy dan sub judul How To Create Uncontested Market Space and Make the Competition Irrelevant. Buku ini ditulis oleh Chan Kim dan Renee Mauborgne yang keduanya adalah professor di INSEAD.
Inti dari isi buku ini adalah strategi bagi para pelaku usaha untuk bisa keluar dari medan persaingan yang tidak sehat ? yang digambarkan sebagai red ocean karena berdarah-darahnya pertempuran di pasar ? menuju pasar yang boleh dikatakan tanpa pesaing yang digambarkan sebagai blue ocean ? karena tidak adanya setetes-pun darah yang tercecer.
Selain menginspirasi para pelaku dunia usaha; buku ini sebenarnya bisa juga memberi inspirasi bagi para aktifis gerakan sosial, keagamaan dan bahkan pada para ustad dan juru dakwah.
Dulu ada Da?i kondang yang sering memberikan pencerahan kita untuk meninggalkan persaingan yang tidak sehat. Dengan arif Da?i tersebut menceritakan betapa naifnya persaingan antara tukang ojek dengan tukang ojek, tukang cukur dengan tukang cukur, bahkan Da?i-pun katanya bersaing dengan Da?i lainnya.
Nasihat Da?i ini esensinya sama dengan isi buku tersebut di atas; bila kita jumud pada segmen kita, menganggap orang lain yang juga menggarap segmen ini adalah pesaing yang harus diserang ? maka kita akan berdarah-darah kehabisan tenaga, sementara kita sendiri akan kehabisan sumber daya kreatif kita untuk melihat adanya segmen lain yang perlu penggarapan.
Dengan wawasan tersebut di ataslah maka kami tidak pernah merasa bersaing dengan penggerak Dinar lainnya; meskipun ada yang mungkin menganggap kami sebagai pesaing dan ofensif terhadap apa yang kami lakukan ? kami tidak merasa perlu untuk membalasnya, karena ini hanya akan mengurangi kemampuan kreatif kita.

Belajar bersama di Pesantren Wirausaha
Medan amal Islami ini terlalu luas untuk kita, sehingga kita tidak harus tetap berada di red ocean; begitu banyak blue ocean di luar sana yang bisa menjadi lapangan kita untuk berbuat kreatif dan beramal secara maksimal. Bahwasanya orang lain melakukan hal yang sama, kami anggap dia bukanlah pesaing ? mereka adalah sparring partners kita untuk bisa berlomba-lomba dalam kebajikan atau fastabiqul khairat.
Bahkan kini istilah blue ocean yang menyegarkan sebagai lawan kata red ocean yang panas berdarah-darah, seolah terwujud secara lahiriah di project Pesantren Wirausaha yang kami cetuskan sejak beberapa bulan lalu. Bila Anda berkunjung kesana, Anda akan menemukan saudara-saudara Anda yang dengan tulus ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman di berbagai bidang usaha mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan dan berbagai bidang lainnya; tidak ada yang menganggap Anda pesaing atau calon pesaing.
Semua adalah saudara yang masing-masing menjadi sparring partners bagi yang lain untuk fastabiqul khairat. Dengan Blue Ocean Mindset ini, dunia terasa sejuk bagi kita sesejuk komplek Pesantren kita di atas. Semoga sparring partners kita dapat merasakan kesejukan yang sama. Wa Allahu A?lam.
Posted in Entrepreneurship
Posted on 08 February 2010. Tags: 10 indikator, ASEAN, BKPM, Doing Business 2010, free, gemah ripah loh jinawi, gratis, hukum, hukum kontrak, Indonesia, Indonesia Bisa, investasi, investor, kemudahan usaha, kinerja 100 hari, kredit, lapangan kerja, laporan, Malaysia, pajak, pemerintah, pengusaha, perdagangan, perdebatan, pesantren wirausaha, Philippines, politik, produktif, property, Santri Eksekutif, Singapore, stasiun TV, survey, tantangan, tenaga kerja, Thailand, The World Bank, TKI, Vietnam
Kemarin sore saya tersentak dengan acara di salah satu TV swasta nasional yang lagi menyoroti kinerja 100 hari pemerintahan RI yang menghadirkan nara sumber ketua BKPM. Dalam acara tersebut antara lain disajikan data dari World Bank terakhir yang menyatakan bahwa Indonesia berada pada ranking 122 dalam hal kemudahan berusaha. Begitu burukkah negeri kita ini dalam memfasilitasi para pengusaha/investor?
Setengah tidak percaya saya cari laporan lengkapnya dari World Bank dan alhamdulillah bisa saya peroleh gratis dalam bentuk laporan lengkap yang dapat di download di www.doingbusiness.org. Laporan yang paling mutakhir diberi judul Doing Business 2010, berdasarkan data yang dikumpulkan dari 183 negara sampai Mei 2009.
Laporan ini pertama kali diterbitkan tahun 2003 lalu yang saat itu hanya mendasarkan pada 5 indikator. Laporan terakhir menggunakan 10 indikator kemudahan usaha yang terdiri dari:
- Kemudahan memulai usaha.
- Ijin konstruksi.
- Tenaga kerja.
- Pendaftaran property.
- Kredit.
- Perlindungan investor.
- Pajak.
- Perdagangan lintas batas.
- Penegakan hukum kontrak.
- Penutupan usaha.
Dari 10 indikator tersebutlah Indonesia jatuhnya berada di ranking 122 dari 183 negara yang di Survey. Di negeri ASEAN saja, Indonesia hanya lebih baik dari Philippines yang berada di urutan 144. Sementara Singapore adalah ranking 1, Thailand 12, Malaysia 23 dan Vietnam 93.
Yang lebih menyedihkan lagi adalah apabila dilihat satu persatu dari 10 indikator tersebut, beberapa indikator menunjukkan hal yang jauh lebih buruk dari rata-rata yang 122 ini. Indikator kemudahan memulai usaha misalnya berada pada ranking 161, kemudahan urusan pegawai berada pada ranking 149 dan kemudahan dalam penegakan hukum kontrak berada pada urutan 146.
Anda bisa bayangkan sekarang seandainya Anda bukan warga negeri ini, Anda investor asing yang ingin investasi ? Apakah Anda akan investasi di Negara yang rangking kemudahan usahanya berada pada angka 122? Atau pada negeri tetangganya yang berada di ranking 1, 12, 23 atau bahkan 93? Inilah yang menyebabkan investasi seret di negeri ini, dan lapangan kerja sulit tercipta.
Dampaknya adalah meskipun negeri ini konon gemah ripah loh jinawi, tongkat dan batu jadi tanaman ? tetapi realitanya tidak terhitung jumlah tenaga kerja kita yang harus mencari rizki-nya di negeri lain, termasuk sejumlah besar wanita-wanita kita harus pergi meninggalkan suami dan anak-anak nya untuk bekerja di negeri yang kadang sangat tidak bersahabat dengan mereka, tahun lalu saja lebih dari 40 TKI kita yang menghadapi masalah dengan pekerjaannya.
Meskipun bisa saja data Bank Dunia tersebut bias, tetapi tidak ada salahnya untuk menggunakan data ini sebagai acuan agar kita semua bekerja keras membangun negeri. Stop perdebatan-perdebatan politik yang tidak berkesudahan, serahkan masing-masing urusan pada ahlinya. Masalah hukum misalnya biarlah ditangani para penegak hukum, sehingga tidak mengalihkan fokus seluruh elemen masyarakat dari kegiatan produktif.
Sebagai negeri di ranking 122, kita tidak bisa mengharapkan investor asing untuk membangun negeri ini; ambil hikmahnya dari kenyataan ini bahwa kita sendirilah yang harus membangunnya. Ini bukan hanya tugas pemerintah ? meskipun pemimpin-pemimpin tersebut tentu yang paling bertanggung jawab, karena mereka dahulu minta dipilih dan mereka telah berjanji untuk menciptakan lapangan kerja dan memakmurkan negeri ini.
Mulai dari diri kita, mulai dari yang kita bisa? Insya Allah, Allah akan mengajari kita dengan apa yang kita belum bisa. Bagi Anda yang tergugah untuk berusaha menciptakan lapangan kerja bagi saudara-saudari kita, kami ada program yang sepenuhnya FREE ? yaitu Program Pesantren Wirausaha yang Angkatan ke 8-nya insya Allah kick off akhir bulan ini. Saat ini sudah ada 200-an Santri Eksekutif yang insya Allah siap berkontribusi untuk membangun negeri yang saat ini masih di ranking 122 ini. Semoga Allah memudahkan langkah kita.
Posted in Entrepreneurship
Posted on 26 October 2009. Tags: chicken nugget, crowd sourcing, Dinar, Direct1st®, evolusi, khusu', knowledge based product, koin emas, mass collaboration, Muhtasib, nomaden, Pemasaran Jama'i, peningkatan produktivitas ummat, perdagangan, pesantren wirausaha, Productivity Agent (PA), Quick Freezing, Rasulullah SAW, Revolusi Pemasaran, Revolusi Produktivitas, Santri Wirausaha, siap saji, sop buntut, soto betawi, supermarket, tong seng
Dalam sejarah peradaban manusia, konsep pemenuhan kebutuhan hidup selain mengalami perubahan yang bertahap atau Evolusi ? perubahan juga bisa terjadi secara singkat atau Revolusi.
Contoh perubahan secara Evolusi terjadi di masyarakat manusia primitif yang hidup secara nomaden dengan berburu dan mengambil makanan dari pohon-pohon liar yang ada di hutan. Awalnya mereka berburu untuk sekedar memperoleh makanan untuk mereka hari itu, setelah makanan habis ? mereka berburu kembali keesokan harinya, begitu seterusnya ? sehingga waktu masyarakat primitif habis hanya untuk mencari makan, menikmatinya, kemudian tidur, esoknya mencari makan dengan berburu kembali, dst.
Dalam perjalanan ribuan tahun, perlahan-lahan diantara mereka mulai ada ide untuk bercocok tanam; kemudian ide untuk membuat roti, kemudian ide brilian berikutnya adalah menukar sebagian roti yang diproduksi oleh sekelompok manusia yang bercocok tanam dengan daging buruan yang diperoleh oleh kelompok lain yang berburu ? inilah yang kemudian diikuti oleh manusia-manusia di jaman berikutnya ? sampai jaman modern ini yang kemudian kita kenal dengan perdagangan.
Dengan perdagangan, hidup kita bisa lebih efisien dan produktif karena tidak semua yang kita butuhkan harus kita buat atau cari sendiri. Kita bisa fokus pada satu keahlian yang sangat kita kuasai, berbuat maksimal dengan keahlian tersebut ? dan menukar produk barang atau jasa yang kita hasilkan tersebut dengan barang atau jasa lain yang kita butuhkan tetapi tidak kita hasilkan sendiri.
Dengan fokus pada keahlian atau kekuatan maka produktifitas akan meningkat, tetapi produktivitas yang tinggi ini tidak akan memberi manfaat yang berarti bila tidak ada sistem pasar yang adil dan efektif. Bayangkan bila masyarakat primitif yang bercocok tanam dan membuat roti tersebut tidak bisa menukar dengan daging hasil buruan para pemburu ? maka keturunan mereka lama- kelamaan akan semakin kekurangan protein dan akhirnya punah. Sebaliknya yang berburu akan terus berburu sehingga tidak pernah menjadi manusia modern seperti sekarang.
Karena pentingnya pasar untuk menunjang produktivitas dan memakmurkan ummat inilah dalam pemerintahan Islam-pun pasar dijadikan salah satu prioritas untuk dipastikan keberadaannya, dan harus dipastikan berjalan adil sesuai syariah. Rasulullah SAW sendiri mendirikan pasar pertama bagi kaum muslimin tidak seberapa lama setelah mendirikan masjid; kemudian Rasulullah SAW sendiri pula yang pertama bertindak sebagai Muhtasib yaitu orang yang mengawasi pasar tersebut.
Jadi kita membutuhkan 2 hal untuk bisa memakmurkan ummat, yaitu:
- Bagaimana meningkatkan produktivitas.
- Make sure ada pasar yang efektif dan adil untuk ?menukar? hasil dari produktivitas kita.
Dua hal inilah yang menjadi tema sentral dalam Pesantren Wirausaha yang alhamdulillah angkatan ke-2 sudah kick off Sabtu (24/10) kemarin.
Salah satu contoh peningkatan produktivitas ummat secara keseluruhan yang insya Allah bisa di trigger oleh apa yang dilakukan para Santri Wirausaha ini adalah produk makanan sederhana yang kita kenal sebagai makanan siap saji. Bentuknya secara umum yang sudah dikenal di pasar adalah chicken nugget, chicken stick, chicken wing, dst.
Produk biasakah ini? Tergantung bagaimana kita melihatnya. Persis seperti ketika kita melihat benda yang namanya koin emas, kalau kita melihat koin emas di pusat-pusat perdagangan emas terkenal di Jakarta; hanya 1-2 saja yang terjual sebagai koleksinya para kolektor. Tetapi kemudian koin emas ini kita beri nama Dinar dan kita perkenalkan sebagai instrumen investasi dan proteksi nilai (selain juga tentu sebagai uang hakiki sepanjang zaman!), hasilnya? Wow? sampai ngumpet ke Depok-pun tetap dicari orang.
Demikian pula dengan makanan siap saji tersebut; mungkin hanya anak kecil kita saja yang sekali-sekali suka makan chicken nugget dan sejenisnya ? mayoritas kita orang dewasa tidak selera dengan makanan seperti ini, sehingga tidak terdorong untuk membelinya secara lebih sering dalam jumlah yang banyak.
Nah kalau yang tersedia dalam bentuk siap saji ini adalah makanan-makanan kesukaan kita seperti sop buntut, soto betawi, tong seng, gulai kambing, soto madura, dsb; membacanya-pun kita sudah timbul selera. Bisakah makanan-makanan seperti ini diproduksi secara siap saji dengan rasa yang paling enak dan asli seperti hasil makanan koki terbaiknya? Insya Allah bisa! Dengan teknologi pembekuan secara cepat (Quick Freezing) ? dijamin tidak ada rasa dan tekstur yang hilang dan dijamin pula kesehatannya. Para Santri Wirausaha kita yang rata-rata S1 dan S2 ? insya Allah tidak akan terlalu sulit untuk menemukan teknologi yang pas untuk ini.
Ketika sop buntut beku dan sejenisnya tersebut dipanaskan beberapa menit oleh istri kita, kita sudah bisa makan sop buntut ter-enak meskipun seandainya istri kita sendiri tidak pinter masak. Apa dampaknya produk makanan siap saji beku ini pada produktifitas ummat? Para istri tidak harus menghabiskan waktunya berjam-jam setiap hari hanya untuk mikirkan dan menyiapkan makanan yang enak untuk para suaminya; dia bisa fokus mendidik anak-anaknya atau melaksanakan tugas profesinya secara optimal ? tanpa harus meninggalkan perannya sebagai istri.
Anda yang bekerja di kantoran dengan mudah memperoleh makanan kesukaan Anda tanpa harus banyak waktu meninggalkan kantor. Ketika bulan puasa tiba, kita bersama istri bisa khusu? beribadah ? karena istri tidak ?terbebani? harus masak yang enak untuk berbuka dan makan sahur. Ketika musim lebaran tiba, semua pembantu pulang kampung dan restoran sebagian tutup ? kita tetap pula bisa menikmati makan kesukaan kita. Dan banyak lagi peluang peningkatan produktivitas yang bisa di-trigger oleh makanan siap saji yang satu ini.
Lantas bagaimana dan dimana kita akan menjualnya? Sekali lagi sama dengan contoh koin emas tersebut di atas; makanan seperti ini kalau kita taruh di supermarket belum tentu dilirik atau dibeli orang ? karena hanya dilihat sebagai makanan siapa saji biasa ? a la supermarket.
Namun kalau makanan ini diperkenalkan dengan pengetahuan yang baik, makanan siap saji beku ini dapat menjadi lifestyle baru, knowledge based product yang baru yaitu makanan yang ueenak, sehat, halal, siap saji dan makanan yang meningkatkan produktivitas keluarga Anda.
Maka para Santri Wirausaha yang secara otomatis juga akan menjadi Productivity Agent dalam system Direct1st® ? lah yang akan secara bersama ?sama membawakan produk-produk semacam ini ke masyarakat.
Dari 2 angkatan kita ada 30 orang Santri Wirausaha, bulan depan insya Allah akan ada lagi 30 peserta baru, bulan berikutnya demikian pula, dst? maka insya Allah dalam waktu yang tidak terlalu lama ? akan ada agen-agen produktifitas di setiap lingkungan tetangga Anda.
Di dunia pemasaran modern pendekatan pemasaran semacam ini sering disebut sebagai pemasaran melalui crowd sourcing atau mass collaboration, tetapi saya menyebutnya Pemasaran Jama?i. Dengan perkembangan berbagai teknologi informasi yang ada, perubahan yang ditimbulkan oleh system crowd sourcing, mass collaboration atau Pemasaran Jama?i ini terjadi dengan sangat cepat ? atau secara Revolusi.
Jadi kita kini berada dalam jaman Revolusi Produktifitas dan Pemasaran?, insya Allah kita bisa menjadi aktor dalam revolusi ini dan bukannya korban-korban revolusi. Amin.
Posted in Entrepreneurship