Tag Archive | "pengusaha"

Problem Solving Par Excellence = Peluang Yang Lahir Bersama Masalah


Salah satu materi training kewirausahaan yang kami gunakan di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin adalah Survival Strategy di lapangan usaha ? yang terdiri dari kemampuan untuk Improvise; Modify, Adapt dan Overcome (IMAO). Dari sekian ratus peserta dari 11 angkatan yang sudah jalan, berdasarkan pengamatan kami ternyata berhasil atau tidaknya program ini bagi peserta antara lain sangat terpengaruhi oleh bagaimana sikap peserta dalam memandang suatu masalah.

Dari hasil observasi terhadap para peserta tersebut, kami dapat secara sederhana mengelompokan mereka kedalam 4 golongan dalam memandang masalah.

1) Golongan ayub-ayuben: mereka ini memandang masalah-masalah yang akan dihadapi sebagai (calon) pengusaha terlalu banyak, terlalu complicated, tidak siap menghadapinya, nunggu usia tertentu, dlsb. Bagi mereka ini, program Pesantren Wirausaha ? hanyalah menjadi just another training session ? menambah wawasan tetapi tidak untuk diterapkan ? paling tidak untuk sementara ini.

2) Golongan Kedua adalah golongan yang mencoba dan berhenti: ini adalah mereka-mereka yang antusias pasca kick-off bahkan mencoba merealisir gagasan-gagasan kelompoknya, namun ketika masalah timbul ? mereka berhenti.

3) Golongan yang mencoba dan tidak menyerah: untuk sementara ini mereka belum berhasil secara konkrit, tetapi karena mereka tidak menyerah – mereka terus ketemu satu sama lain, berdiskusi dan mencari solusi. Saya sendiri berharap besar pada kelompok ini, insya Allah cepat atau lambat mereka akan berhasil nantinya.

4) Golongan yang bukan hanya berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam merintis usaha, tetapi mereka memandang setiap masalah juga sebagai peluang ? mereka lebih cerdas dari masalahnya sehingga mampu mengatasi segala permasalahan yang ada secara par excellence (terbaik di bidangnya!) ? maka bersamaan dengan penyelesaian masalah-masalah yang ada mereka menemukan peluang-peluang baru yang muncul bersamaan dengan teratasi-nya masalah tersebut.

Di kelompok peserta Pesantren Wirausaha, Golongan ke-4 inipun ada pada sekelompok kecil peserta yang akhirnya menekuni perkambingan bersama kami. Bila saat mulai ½ tahun lalu, kami belum bisa membedakan mana kambing yang baik ? dan yang tidak baik; kini kami bahkan mendapatkan piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat karena memenangkan 4 piala sekaligus untuk kambing Peranakan Ettawa bibit unggul 3 pekan lalu. Ketika masalah bibit unggul ini teratasi ? peluang untuk menjadi supplier bibit-bibit kambing unggulan kini terbuka lebar.

Kandang Composite (tampak samping)

Kandang Composite (tampak samping)

Di sisi perkandangan juga demikian; problem pengadaan kandang kambing yang kami ungkapkan di tulisan sebelumnya; mudah-mudahan segera teratasi dengan pabrik kandang-kandang kambing modern berbasis composites yang insya Allah mulai beroperasi dalam 1-2 bulan ini. Dalam beberapa bulan ke depan, kandang-kandang kambing futuristis karya industrial designer kami seperti pada gambar di samping insya Allah akan dapat Anda lihat secara fisik di lokasi Pesantren Wirausaha yang kini telah ber-metamorphosa menjadi Jonggol Farm.

Karakter kandang-kandang futuristis berbasis composites ini mampu mengatasi hampir keseluruhan masalah perkandangan secara umum, antara lain adalah:

  • Penyiapan kandang (time to run) akan menjadi sangat cepat.
  • Kandang lebih higienis dibandingkan kandang kayu karena mudah dibersihkan dan tidak meninggalkan kuman, bakteri, dlsb di pori-pori seperti bila menggunakan kayu.
  • Pembuatan kandang tidak harus memotong pohon-pohon yang sudah semakin langka ? eco friendly.
  • Life?cycle yang panjang insya Allah di atas 30 tahun akan membuat nilai ekonomis yang tinggi ? karena penyusutan tahunan yang rendah.
  • Composites yang menyerap panas akan membuat kambing nyaman di dalamnya, sehingga insya Allah produktifitas kambing lebih tinggi.
  • Knock-Down System sehingga ekonomis untuk di-install di tempat tertentu untuk kegunaan jangka pendek sekalipun (misalnya pada bulan haji untuk hewan Qurban) dan ekonomis untuk tanah yang disewa ? karena bisa dipindah-pindahkan dengan cost to reinstall yang rendah.

Dengan penyelesaian masalah secara unggul demikian, maka berbagai peluang baru untuk men-supply kandang sejenis ke para peternak di dalam dan luar negeri kini terbuka. Bahkan permintaan membuat kajian kandang berbasis composites yang datang ke kami kini bukan hanya untuk kambing, tetapi juga untuk kandang ayam dan kandang sapi.

Peluang yang lahir bersamaan dengan proses penyelesaian masalah inilah salah satu tafsir yang seharusnya bisa kita hayati kini dari ayat ?Maka bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan? (QS. Ash-Sharh (94): 5 ? 6). Sampai 2 kali Allah menyampaikan pesan tersebut dalam ayat yang berurutan untuk menyangatkan ? agar kita benar-benar paham!

Masalah-demi masalah baru mungkin akan lahir dari setiap pekerjaan yang kita tangani ke depan; namun bila sudut pandang kita tetap sesuai ayat tesebut ? maka berarti berbagai peluang baru juga akan terus bermunculan dengan timbulnya masalah. Ini pula yang nampaknya disemangati oleh ayat berikutnya ?Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)?.

Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Kita Butuh Lebih Banyak Captain of Industry, Bukannya Robber Baron


Captain of Industry adalah istilah yang awalnya muncul di Inggris di masa revolusi industri untuk menggambarkan karakter para pemimpin usaha yang unggul. Mereka-mereka ini adalah orang yang mampu menggunakan pengetahuan, bakat dan kemampuannya untuk meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, menciptakan lapangan kerja dan menyumbangkan sebagian hartanya untuk menolong orang lain. Keberadaan para Captain of Industry inilah yang konon berhasil memajukan belahan bumi bagian utara pada umumnya sampai kondisi mereka sekarang.

Sebaliknya, di belahan bumi selatan ? yang digambarkan sebagai belahan yang kalah maju dengan belahan bumi utara; keterlambatan kemajuan mereka sebagian besar karena kesalahannya sendiri. Ekonomi mereka tidak dibangun oleh para Captain of Industry tetapi oleh para Robber Baron. Kebalikan dengan Captain of Industry, Robber Baron adalah pemimpin-pemimpin usaha yang menggunakan kekuatan lobi-nya untuk mempengaruhi para pembuat Undang-Undang dan pengambil keputusan dalam suatu negara ? untuk kepentingan usahanya ? bukan untuk kepentingan bangsanya.

Bila kita mau introspeksi pada negeri kita ini, kita akan bisa menyimpulkan sendiri jawabannya. Mengapa begitu banyak pejabat publik yang akhirnya harus mendekam di penjara? Karena mereka-mereka tersebut telah menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan usaha tertentu. Tidak hanya para eksekutif-nya, banyak juga dari kalangan legislative di daerah sampai pusat yang harus berhadapan dengan hukum karena mereka terpengaruh oleh para Robber Baron ? atau bahkan yang lebih buruk menciptakan para Robber Baron baru.

Robber-BaronsKarena ulah para Robber Baron inilah, hutan-hutan kita gundul, bumi kita menjadi gersang, sumber-sumber kekayaan alam kita habis tidak jelas kemana hasilnya. Kita harus mengimpor begitu banyak kebutuhan kita mulai dari terigu, daging sapi, susu, gula dan bahkan beras dan garam ? ya karena ulah para Robber Baron ini pula.

Ulah para Robber Baron inipun semakin menjadi-jadi sejak era reformasi yang kemudian berlanjut pada otonomi daerah.

Suatu saat saya pernah diundang makan siang oleh seorang teman warga asing yang dahulu saya kenal semasa kami sama-sama bekerja di perusahaan Inggris di bidang finansial. Karena kerasannya dia di Indonesia, sampai saat ini dia tetap di Indonesia ? tetapi profesinya bukan lagi sebagai ahli keuangan, dia kini broker politik mewakili sejumlah kepentingan usaha dari negerinya.

Uniknya dia punya spesialisasi sendiri, dia tidak menggarap eksekutif dan legislative di tingkat pusat ? tetapi justru menggarap para calon kepala daerah khususnya di Tingkat II. Di daerah-daerah yang potensi alamnya besar, mereka menerjunkan tim untuk membiayai para calon kepala daerah Tingkat II tersebut dengan kompensasi-kompensasi tertentu bila kelak mereka benar-benar terpilih. Bisa kita bayangkan apa jadinya daerah tersebut, bila pada Pilkada yang menang adalah para calon yang didanai oleh ?investor? asing tersebut. Kekayaan alam daerah itu bisa ?tergadai? oleh komitmen sang kepala daerah terpilih.

Well, tidak semuanya seburuk itu. Kita masih bisa optimis, karena kita masih melihat banyak (calon) Captain of Industry di negeri ini. Diantaranya yang saya kenal pribadi adalah temen se-fakultas yang berhasil membangun jaringan inti-plasma pengolahan hasil laut. Jaringan usahanya ini 5 tahun lalu saja sudah memiliki 27 pabrik ? yang secara total tenaga kerja dan anggota plasma-nya telah lebih dari 100,000 orang.

Menariknya si kawan ini adalah ketika dia di dekati oleh salah satu partai politik untuk menjadi pendukungnya (dengan pengaruhnya pada 100,000-an pemilih, partai mana yang tidak tertarik?),  dia menolak bergabung. Padahal kalau dia bergabung, dia akan mendapatkan konsesi-konsesi tertentu untuk kemajuan usahanya ke depan. Sikap penolakan seperti inilah yang akan membuat dia tetap menjadi Captain of Industry, dan tidak menjadi Robber Baron yaitu bila dia bergabung dengan kekuatan politik untuk membesarkan usahanya.

Piala Indolaban

Piala Indolaban

Memang banyak sudah anak terbaik bangsa ini yang seperti dia, tetapi kita butuh sangat lebih banyak lagi orang-orang seperti dia yaitu para (calon) Captain of Industry di negeri ini ? untuk menyaingi keberadaan para Robber Baron yang juga tumbuh pesat sejak era reformasi. Inilah antara lain sasaran kwalitas entrepreneurs dan business leaders yang ingin kita hasilkan melalui program Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin.

Meskipun baru dirintis sekitar 10 bulan lalu, Alhamdulillah Pesantren ini telah mulai menunjukkan hasilnya. Peternakan yang kita bangun dari kajian di Pesantren ini, kemarin (15/6) pada event Kontes Ternak Tingkat Jawa Barat yang juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat ? langsung menyabet 4 piala dari 4 kambing yang kita kirimkan ke Kontes.

Ke-4 Piala tersebut adalah Juara Pertama untuk Pejantan Bibit (Raja Pejantan); Juara Pertama untuk Betina Bibit (Ratu Bibit), Juara Kedua Untuk Betina Bibit dan Juara Ketiga Untuk Pejantan Bibit semua untuk kategori Kambing PE (Peranakan Ettawa). Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik untuk memberikan kontribusi kami dengan menyediakan bibit-bibit unggul industri peternakan umumnya, dan khususnya industri kambing di Indonesia. Dari sinilah antara lain diharapkan Captain of Industry itu lahir. Semoga Allah memudahkan jalanNya untuk kita bisa beramal shalih yang diridloiNya, dan melindungi kita dari amal buruk yang dimurkaiNya. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Bila Dana Umat Bisa Digerakkan Secara Efektif


Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda menjadi wilayah Indonesia, termasuk bagian barat dari Pulau Papua. Namun demikian, pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Mengapa Belanda ngotot dengan wilayah ini? Ternyata tidak masuk dalam buku-buku sejarah, bahwa sejak tahun 1936 sebenarnya Belanda sudah tahu bahwa di wilayah tersebut terdapat salah satu cadangan tembaga dan emas terbesar di dunia.

Melalui ahli geologinya yang bernama Jean-Jacques Dozy, temuan cadangan tersebut bahkan dilaporkan dan diumumkan secara resmi pada tahun 1939 ? 6 tahun sebelum Soekarno-Hatta memimpin negeri ini untuk pertama kalinya.

Setelah melewati berbagai pertempuran, akhirnya wilayah barat Pulau Papua ? yang kemudian kita kenal dengan Irian Barat dan belakangan Irian Jaya – diserahkan ke Indonesia dalam perundingan tanggal 15 Agustus 1962 di markas besar PBB ? New York. Tangan-tangan Amerika nampak jelas ikut terlibat dalam proses ini, lagi-lagi mengapa? Kembali ke alasan semula yang kurang lebih sama dengan alasan Belanda mempertahankan wilayah tersebut ? yaitu adanya cadangan tembaga dan emas nan sangat besar tersebut.

Freeport-McMoranTidak heran kemudian yang berhasil mengolah kekayaan alam tersebut hingga kini adalah salah satu perusahaan yang paling profitable di dunia asal Amerika yang bernama Freeport McMoran. Di situs resmi perusahaan inipun mereka mengakui bahwa ?Our Grasberg mining complex is one of the world?s largest single producers of both copper and gold, and contains the largest recoverable reserves of copper and the largest single gold reserve in the world…?.

Seandainya toh, penyerahan Irian Barat ke tangan Indonesia saat itu tidak diembel-embeli dengan deal apapun ? untuk penyerahan pengolahan cadangan tembaga dan emas ini ke mereka misalnya ? mampukah Indonesia mengolah sumber daya ini sendirian di kala itu? Mungkin tidak juga, karena ukuran dana yang dibutuhkan untuk membuat jalan-jalan di puncak gunung, menerobos gunung dan berbagai pekerjaan raksasa lainnya ? kemungkinan besarnya tidak mampu didanai negeri ini sendiri saat itu. Apa lagi perlu diingat tahun 60-an Indonesia lagi miskin-miskinnya dengan cadangan emas kita di BI sempat tinggal 1.5 ton.

Di sinilah kapitalisme mulai masuk ?mengolah? hampir seluruh sumber-sumber kekayaan penting negeri ini. Tembaga, emas, nikel, minyak, gas, panas bumi…dan entah kekayaan apalagi yang kita tidak mampu mendanai pengelolaannya sendiri. Karena mereka ? investor asing – yang mendanainya, maka mereka pula yang paling menikmati keuntungan terbesarnya.

Belakangan memang ada segelintir pengusaha Indonesia yang juga ikut mendanai project-project raksasa ini, lagi-lagi hanya segelintir ini pula yang akhirnya ikut menikmati. Mayoritas rakyat tetap tidak bisa ikut menikmati kekayaan negeri ini.

Lantas apa solusinya secara syariah agar kita bisa mengatasi masalah kebutuhan kapital untuk mendanai proyek-proyek raksasa ini? Islam tidak mendorong harta terpusat pada segelintir orang yang sangat kaya, meskipun keberadaan orang yang sangat kaya ini juga tidak dilarang di Islam ? bahkan salah satu sahabat yang dijamin masuk surga adalah orang terkaya di zamannya yaitu Abdul Rahman Bin ?Auf.

Namun karena kita kesulitan mencari figure seperti Abdul Rahman Bin ?Auf di zaman ini ? yaitu figure konglomerat yang mendedikasikan hartanya untuk perjuangan umat, maka sebenarnya ada jalan bagi orang-orang kecil seperti kita-kita untuk terlibat dalam investasi raksasa nan Islami untuk kepentingan umat ini.

Bila tambang-tambang tembaga, emas, minyak, gas, panas bumi dan lain sebagainya sudah terlanjur dikuasai kapital-kapital raksasa dunia; bukankah masih berjibun kekayaan negeri ini yang belum terolah dengan baik ? yang masih menjadi peluang kita bila kita mau! Negeri yang terkaya di dunia dari segi keanekaragaman hayati ? bio diversity – ini , memiliki sumber kekayaan laut yang luar biasa, kekayaan hutan, sumber bahan pangan dari jamur yang Subhanallah efisiennya, curah hujan yang tidak habis-habisnya untuk membangun industri pertanian, peternakan dan lain sebagainya. Inilah Green Investment yang akan menjadi unggulan investasi masa depan ? yang kesempatannya masih ada di kita.

Lantas bagaimana umat ini bisa sebanyak mungkin terlibat dalam pengelolaan kekayaan negeri ini ? yang seharusnya kelak juga ikut menikmatinya? Di Indonesia pola kerja bareng secara syariah ini sebenarnya sudah banyak formatnya yang sudah dikaji dan difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Salah satunya adalah dengan pola Mudharabah; yang punya keahlian bertindak sebagai Mudharib, yang punya dana bertindak sebagai Shahibul Mal. Mudharib bisa berupa sekelompok orang yang ahli di bidangnya  - misalnya ahli kelautan untuk mengelola kekayaan laut, ahli peternakan untuk mengelola industri perkambingan dan sebagainya.  Untuk Mudharib insya Allah tidak masalah, begitu banyak perguruan tinggi bagus yang menghasilkan tenaga kerja yang mumpuni di bidangnya di negeri ini.

Yang jadi pertanyaan adalah lantas siapa yang akan menjadi Shahibul Mal-nya untuk proyek-proyek raksasa ini? Bila Shahibul Mal-nya hanya segelintir konglomerat lagi ? maka proses penyebaran kemakmuran akan terhambat. Yang seharusnya bisa menjadi Shahibul Mal adalah kita semua yang dengan sedikit uang  untuk tabungan masa depan dan sekolah anak kita, sedikit uang untuk biaya kesehatan hari tua kita, sedikit dana pensiun, dlsb bisa ikut terlibat langsung dalam investasi di sektor-sektor riil yang memiliki potensi luas di negeri ini.

Ada setidaknya 3 pintu formal dimana kita bisa menggerakkan dana masyarakat secara besar-besaran untuk investasi di negeri ini:

  1. Melalui pintu pasar modal, namun karena pasar modal ini rentan dengan permainan spekulasi pemain besar dan rentan terhadap aliran hot money ? maka investor-investor kecil mudah menjadi korban, sehingga pengumpulan dana masyarakat secara luas yang melibatkan investor kecil di negeri ini nampaknya belum akan optimal bila hendak dilakukan di pasar modal.
  2. Melalui koperasi (belakangan termasuk Koperasi Jasa Keuangan Syariah atau BMT) yang diusung sebagai soko guru perekonomian Indonesia oleh para pendiri negeri ini, tetapi belum kita jumpai koperasi-koperasi yang memiliki jaringan luas ? yang dapat menggerakkan dana masyarakat secara besar-besaran. Mungkin ini juga dampak pembatasan yang dilakukan oleh para pembuat undang-undang di negeri ini ? yang membatasi koperasi hanya boleh mengumpulkan dana dari anggotanya, calon anggota dan anggota koperasi lain yang ada kerjasama dengannya. Walhasil pengumpulan dana masyarakat lewat koperasi juga akan banyak menemui kendala.
  3. Melalui dunia perbankan. Terlepas dari adanya kritik-kritik yang menyatakan belum syar?i-nya bank syariah sekalipun, mau tidak mau kita di zaman ini sudah menggunakan jasa perbankan untuk berbagai kemudahan, untuk transfer dana, pembayaran transaksi, penyimpanan uang, dlsb. Menurut saya sendiri, mulai menggunakan yang sudah mengarah ke syar?i (meskipun seandainya belum sepenuhnya) masih lebih baik daripada menggunakan yang sama sekali tidak peduli dengan syariah.

Produk-produk perbankan berupa tabungan atau deposito dan sejenisnya, pada umumnya sudah berfungsi sebagai pengumpulan dana masyarakat ? jadi mereka, dunia perbankan sudah sangat terbiasa dengan kegiatan pengumpulan dana masyarakat secara luas ini. Hanya saja penggunaan produk tabungan atau produk deposito yang standar, tidak membuat penabung atau Shahibul Mal tahu persis ? digunakan untuk mendanai proyek-proyek apa dana mereka ini. Karena alasan inilah maka ada sebagian ulama yang menganggap aqad Mudharabah Mutlaqah yang digunakan untuk produk-produk tersebut tidak atau kurang syar?i.

bank-syariahNamun ada satu produk perbankan syariah yang menurut saya pribadi akan sepenuhnya sesuai dengan syariah karena pihak Shahibul Mal akan tahu persis dananya digunakan untuk apa, risiko investasi dan harapan hasilnya seperti apa, dan siapa pengelola usaha (Mudharib) yang sesungguhnya ? produk ini adalah apa yang disebut Mudharabah Muqayyadah. Produk inilah yang nantinya insya Allah bisa menjadi pembeda yang nyata, dan dapat mengunggulkan bank-bank syariah dibanding bank konvensional yang ribawi.

Berikut saya gunakan contoh produk perbankan dengan aqad Mudharabah Muqayyadah sebagai ilustrasi bagaimana nantinya insya Allah kami akan dapat  mengakomodasi keinginan 1757 calon investor yang sudah berminat investasi di proyek pembangunan industri kambing Indonesia.

Bila investasi tersebut langsung ke Indolaban pengelola project industri perkambingan ini, banyak masalah perlu diantisipasi.

  • Benturan dengan peraturan pasar modal dan perbankan.
  • Sistem kerjasama one (Mudharibto many (Shahibul Mal) yang tentu tidak mudah untuk dirumuskan.
  • Pekerjaan administrasi yang luar biasa banyaknya  untuk mengatur kapan dana disetor, kapan dana boleh ditarik, bagaimana bagi hasil dihitung dan kapan didistribusikan, dlsb.

Karena problem tersebutlah, maka minat para investor tersebut selama ini belum kami akomodasi. Saat ini kami sedang intensif membicarakan dengan salah satu Bank Syariah kenamaan untuk pilot project pendanaan melalui mekanisme yang syar?i berbasis aqad Mudharabah Muqayyadah ini.

Bila skema ini bisa disepakati dan dijalankan nantinya, maka investasi seperti di industri perkambingan ini akan semudah Anda membuka deposito dan tabungan di bank syariah. Selain Anda bisa melakukannya dari cabang-cabang bank tersebut, Anda akan merasa nyaman dan aman karena dari bank tersebut Anda akan menerima semacam sertifikat deposito ? yang saya sebut saja Sertifikat Mudharabah Muqayyadah. Bedanya dengan sertifikat deposito atau tabungan pada umumnya; Sertifikat Mudharabah Muqayyadah ini akan menyebutkan untuk diinvestasikan kemana dana Anda tersebut dan siapa yang akan bertindak sebagai pengelola usahanya (Mudharib).

Sebagai investor Anda akan lebih aman, karena ada pihak Bank Syariah yang dengan keahliannya insya Allah mampu melakukan penilaian kelayakan investasi yang dikelola Mudharib dengan sebaik-baiknya, bank pula yang akan mengurusi pekerjaan administratifnya bila dana Anda jatuh tempo untuk dicairkan atau bagi hasil waktunya diterima, dlsb.

Bagi Bank Syariah ini peluang besar sekali karena mereka akan dapat menggerakkan dana masyarakat dalam skala besar untuk memfasilitasi pembiayaan proyek raksasa dengan cara yang tidak dimiliki oleh bank konvensional ? inilah keunggulan Syariah.

Bagi pengelola usaha, selain ini cara yang aman untuk meraih pembiayaan dari dana masyarakat dalam skala luas yang sesuai syariah dan tidak berbenturan dengan hukum positif negeri ini ? karena menggunakan legal framework yang syah dari dunia perbankan ? juga dapat memperoleh manfaat dari jaringan cabang-cabang perbankan dan akses terhadap sistem administrasinya yang rata-rata mumpuni untuk pekerjaan semacam ini.

Dengan pola pembiayaan yang menguntungkan semua pihak ini, sungguh kita bisa berharap bahwa nantinya sumber-sumber kekayaan negeri ini dapat dikelola oleh Mudharib-Mudharib dari para professional umat ini sendiri, dan didanai oleh umat secara luas sehingga tidak terjadi penumpukan kapital dan kemakmuran di golongan tertentu saja ? ??? ?? ?????? ?????? ????? ??????????? ??????kaila yakuuna duulatam bainal agniyaa i minkum ? ?agar harta itu jangan hanya berputar pada golongan yang kaya diantara kamu…? (QS. Al-Hasyr (59): 7)

Bisa jadi masih agak panjang jalannya sebelum produk semacam ini bener-bener siap, tetapi kini harapan itu besar sekali. Bagi yang berminat baik untuk menjadi calon Mudharib maupun calon Shahibul Mal – silahkan mulai bergabung di Facebook Group Susu Kambing ? insya Allah dalam waktu dekat akan ada gathering untuk vision sharing bersama antara Indolaban, Bank Syariah yang akan mensupport project ini, dan para peminat. Semoga Allah memudahkan kita pada jalan amal yang diridloiNya. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Susu Kambing Malaysia Rasa Jawa, Why…?


Ahad lalu kami team dari project Indolaban berkesempatan mengunjungi salah satu peternakan kambing paling modern yang ada di Johor ? Malaysia. Meskipun sangat melelahkan karena lokasi kandang kambing yang sekitar 6 jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur, insya Allah perjalanan ini tidak sia-sia.

Paling tidak, kami team Indolaban berharap bisa ikut membantu program pemerintah yang melalui janji Presiden kita akhir bulan lalu (31/03/2010) di Tulungagung diungkapkan bahwa, Kami akan membicarakan dan merumuskannya dalam sebuah kebijakan nasional sehingga pengembangan kambing ettawa ini bisa terus berkembang pesat .

Bagaimana janji tersebut bisa dimplemantasikan? Setidaknya ada 3 point yang kita bisa ambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh negeri jiran kita:

  1. Harus memiliki VISI bahwa yang sedang kita bangun adalah sebuah industri spesifik yang terkait dengan perkambingan ini. Bukan sekedar beternak kambing terus kemudian setelah berhasil kambing-kambing kita dan produk yang dihasilkan tetap bernilai rendah untuk standar dunia. Tanpa terbangunnya industri ini, maka kerja keras para peternak kita untuk menghasilkan kambing dan susu ? tidak akan memberikan reward yang pantas untuk mereka.
  2. Untuk membangun industri di point pertama tersebut diperlukan  standar kwalitas pengelolaan peternakan kita, agar mampu menghasilkan produk dengan standar yang diakui dunia seperti HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) misalnya. Tanpa pencapaian standar seperti ini, produk-produk kambing kita seperti susu dan bahan turunannya akan sulit untuk menembus pasar dunia.
  3. Untuk pencapaian point 1 dan 2 ; kita harus bisa ?Kerja Berpasukan? ? bahasa Malaysia yang artinya teamwork. Seluruh stakeholder perkambingan harus bisa bekerja sama, saling mengisi dan menyempurnakan ? bukan saling bersaing dan menjatuhkan ? sehingga terbangun industri yang kokoh yang siap bersaing dengan industri sejenis di negara lain.

Ironi memang ketika kita melihat berbagai produk berbasis susu kambing seperti moisturizing, body lotion, sabun, dlsb. yang kita jumpai di pasaran Indonesia saat ini adalah produk Malaysia ? ya antara lain dari peternakan yang kami kunjungi tersebut di atas. Padahal di dalam kandang kambing mereka disana, mayoritas kambingnya ya dari Jawa – Indonesia. Tenaga kerjanya juga sebagiannya dari Indonesia.

Jadi kita kirim kambing-kambing kita dengan harga murah kesana; kemudian juga tenaga-tenaga kasar untuk pemeliharaan kambingnya; namun setelah menghasilkan produk yang mahal ? maka produk yang mahal ini balik lagi ke Indonesia. Dibeli oleh orang-orang kaya Indonesia yang mampu membeli sabun mahal susu kambing, juga pelembab tubuh berkwalitas tinggi dari susu kambing.

"Kerja Berpasukan"

"Kerja Berpasukan" = GOTONG ROYONG

Mengapa mereka bisa menikmati nilai tambah yang tinggi sedangkan kita belum? Jawabannya adalah karena mereka sudah bisa membangun industri perkambingannya sedangkan kita baru mencanangkannya. Karena terbangunnya industri ini, peternak mereka tidak terlalu susah untuk memperoleh pakan yang murah, peralatan-peralatan peternakan yang lengkap, obat-obat perkambingan yang tersedia cukup, dlsb. Contoh kecil untuk hal ini adalah nipple ? semacam dot susu dari logam untuk membuat system pemberian air minum yang cukup bagi kandang kambing, harganya hanya sekitar Rp 45 ribu per buah ? tetapi hal-hal kecil demikian tidak mudah kita peroleh di sini ? sementara di Malaysia barang seperti ini bahkan bisa kita beli di peternakan kambing yang besar.

Bagaimana hal-hal detil yang nampaknya sepele tetapi sangat dibutuhkan untuk tumbuhnya industri perkambingan yang berkwalitas bisa ditangani? Jawabannya adalah ?Kerja Berpasukan? tadi. Maka bila janji Presiden SBY dalam kesempatan tersebut di atas ? bahwa anggaran pengembangan kambing akan masuk pada APBN 2011;  maka berikutlah menurut saya prioritas penggunaannya:

1) Biayai riset dan publikasikan hasilnya secara transparan; agar masyarakat luas tahu kelebihan-kelebihan susu kambing, daging kambing dan berbagai potensi lainnya yang terkait dengan kambing.

2) Fasilitasi jalan untuk mempermudah perizinan yang terkait dengan POM, MUI dan sertifikasi internasional HACCP tersebut di atas ? agar produk-produk kambing kita mudah diterima pasar, baik domestik maupun internasional.

3) Fasilitasi rakyat untuk mampu belajar mengelola kambing dengan baik dan benar. Contoh gambar di atas adalah kambing yang bisa berbaris rapi untuk diperah susunya, bagaimana bisa membuat kambing berbaris rapi untuk diperah susunya? ? SDM yang mengelola kambing yang pertama harus dilatih untuk mampu mengelola kambing-kambing tersebut. Setelah itu baru dia bisa melatih kambingnya untuk bisa berbaris setiap saat mau diperah susunya.

4) Fasilitasi rakyat untuk memperoleh bibit-bibit unggul kambing secara murah atau bahkan GRATIS.

5) Bangun jaringan industri dan pemasaran, baik yang terkait dengan kebutuhan bahan/alat bagi para peternak ? maupun yang terkait dengan hasil-hasil dari peternakan kambing ini.

Bila terbangun teamwork yang baik antara pemerintah, pengusaha, peternak dan masyarakat pada umumnya; maka sangat bisa jadi industri perkambingan ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kerakyatan kita yang sesungguhnya. Menggembala kambing adalah apa yang dilakukan oleh seluruh nabi-nabi, maka tidak ada salahnya kita menseriusi urusan perkambingan ini sebagai salah satu upaya untuk membangun kedaulatan ekonomi di negeri ini. Insya Allah.

Posted in Political EconomyComments (0)

Déjà vu: Membumikan Ide Menjadi Realitas


Déjà vu adalah sebuah frasa Perancis yang artinya secara harfiah adalah “pernah lihat”. Maksudnya mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Fenomena ini juga disebut dengan istilah paramnesia dari bahasa Yunani para yang artinya adalah “sejajar” dan mnimi yang artinya  ”ingatan”.

Ketika di akhir pekan ini saya menemukan buku dengan judul Your Idea, Inc. (Adamsmedia, 2010) karya orang biasa yang kemudian menjadi pengusaha Sandy Abrams setelah mendirikan dan mengkomandoi sendiri perusahaan yang kini raksasa bernama Moisture Jamzz, Inc ? saya seperti mengalami déjà vu tersebut. 12 langkah yang diuraikan Sandy yang menuturkan pengalamannya dalam mengaktualisasikan ide besar dia menjadi sebuah realitas pasar ? bagi saya istilah anak betawinya ?gue banget? ? karena hampir keseluruhan hal yang dia tuturkan tersebut juga pernah saya alami/lakukan.

Kalau langkah-langkah ini cocok untuk Sandy Abrams, cocok untuk saya ? maka barangkali  langkah-langkah inipun bisa memandu Anda dalam membumikan ide besar Anda menjadi realitas. Berikut 12 langkah yang dilakukan oleh Sandy tersebut setelah saya fine-tune dengan pengalaman saya.

1 ) Langkah Pertama adalah berani melompat untuk menjadi entrepreneur. Tidak ada waktu yang salah dalam memulai usaha. Tidak sedikit perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang ada sekarang lahir di masa krisis.  Tidak juga diharuskan kemampuan akademis tertentu untuk menjadi pengusaha yang sukses, bahkan banyak raksasa-raksasa industri modern berbasis teknologipun ? seperti Microsoft, Dell dan Apple ? semuanya didirikan oleh orang-orang yang tidak berhasil menyelesaikan kuliah di bidangnya.

2 ) Mulai wujudkan ide Anda menjadi realitas. Berjuta produk barang dan jasa ada di sekitar Anda, sebagian memenuhi kebutuhan Anda sebagian yang lainnya tidak. Sebagian kebutuhan Anda dapat dipenuhi oleh barang/jasa yang sudah ada sebagian yang lainnya tidak. Barangkali Anda bisa memperbaiki produk barang dan jasa yang sudah ada yang belum memenuhi harapan Anda; atau barangkali Anda bahkan bisa menciptakan produk barang atau jasa yang sama sekali baru yang dapat menjawab kebutuhan pasar. Bila ide besar ini ada di Anda, mengapa tidak tertantang untuk benar-benar mewujudkannya?

3 ) Bootstrapping, maksimalkan kemampuan sendiri. Meyakinkan orang lain untuk setuju dengan ide Anda ? tidaklah mudah, apalagi kalau yang Anda coba yakinkan ini adalah orang yang Anda perlukan uangnya untuk ?coba-coba? usaha. Namun jangan berkecil hati, berdasarkan data dari Inc Magazine tahun 2002; peluang sukses untuk mendatangkan keuntungan perusahaan yang dimulai dengan modal US$ 1,000 tidak kalah dari perusahaan yang dimulai dengan modal 100 kalinya. Seandainya toh ide Anda memang benar-benar brilliant, dan Anda benar-benar memerlukan uang orang lain untuk memulainya ? cari investor yang kira-kira mudah memahami ide Anda tersebut.

4 ) Pahami aspek legal dari ide atau usaha Anda. Lakukanlah riset kecil-kecilan untuk mengetahui apakah sudah ada ide sejenis di pasar, apakah sudah dipatenkan orang, apakah produk barang atau jasa yang akan Anda hasilkan tidak melanggar hukum, apakah diperlukan perijinan khusus untuk memproduksi dan atau memakai produk Anda, dlsb.

5 ) Pabrikasi ide Anda menjadi produk. Di zaman networking ini, untuk menghasilkan produk yang hebat tidak harus Anda produksi sendiri. Bisa jadi diproduksi orang lain atas pesanan Anda lebih baik dan lebih ekonomis ketimbang Anda memproduksinya sendiri. Dinar yang kami pasarkan misalnya, belum pernah kami berpikir untuk memproduksinya sendiri ? karena Logam Mulia ? PT. Aneka tambang TBK (BUMN) telah memiliki segala kemampuan, peralatan, bahan baku, pengakuan internasional dan hal lainnya yang diperlukan untuk memproduksi Dinar ketimbang kami memproduksinya sendiri.

6 ) Persiapkan kantor/ruang kerja yang Anda merasa nyaman dalam mengimplementasikan ide Anda. Berbeda dengan ketika Anda bekerja di perusahaan/instansi lain ? bekerja untuk mengaktualisasikan ide Anda tidak mengenal tempat dan waktu. Bila semangat Anda lagi meluap-lupa dengan ide Anda, maka saat dan di tempat itulah waktu dan tempat terbaik untuk Anda mengerjakan ide Anda. Untuk saya tempat terbaik ini adalah di rumah, selain murah ? nggak perlu sewa/beli; saya juga bisa bekerja kapan saja saya mau.

Sandy Abrams

Sandy Abrams

7 ) Pelajari dan bangun ketrampilan dalam berbagai seluk beluk pemasaran. Semua produk baik dari kategori barang maupun jasa, ujungnya harus dipasarkan. Ide Anda tidak ada manfaatnya setelah bisa diproduksi sekalipun bila akhirnya tidak dapat dipasarkan. Penguasaan Anda terhadap pasar mutlak perlu.

8 ) Manfaatkan seluruh peluang yang Anda jumpai untuk pemasaran produk Anda. Bila Anda memang expert di bidang yang terkait dengan  ide Anda, maka akan banyak kesempatan untuk Anda bicara di publik, menulis di web, dlsb. Manfaatkanlah seluruh peluang ini untuk mendongkrak kemampuan pemasaran Anda.

9 ) Temukan pembeli Anda dan lakukan penjualan yang sesungguhnya kepada mereka. Selain pasar dan strategi pemasaran, Anda harus siap untuk bener-bener menemukan by name siapa pembeli-pembeli produk Anda yang sesungguhnya. Mereka inilah yang akan benar-benar membeli produk Anda. Potensi pasar yang besar tidak jaminan bahwa produk Anda bisa terjual, produk Anda baru terjual setelah Anda benar-benar tahu siapa yang benar-benar butuh dan membeli produk Anda.

10 ) Partisipasi dalam pameran-pameran yang memungkinkan produk Anda dikenal. Hampir setiap saat ada pameran-pameran dengan berbagai tema yang diorganisir oleh bermacam-macam institusi. Bisa jadi tidak ada yang 100% pas dengan produk Anda, tetapi bila potensi pengunjung pameran-pameran tersebut juga mirip dengan potensi pasar yang Anda bidik ? maka boleh jadi pameran-pameran yang sepintas lalu tidak terkait dengan produk Anda ? bisa jadi peluang Anda untuk dikenal.

11 ) Mempersiapkan produk Anda untuk dikenal di industrinya. Bergaul dengan industri sejenis melalui pameran, pertemuan, networking, kerjasama, dlsb akan selalu banyak manfaatnya untuk memperkenalkan produk Anda. Bisa jadi karena produk Anda baru, belum ada yang pas tempatnya untuk bergabung ? namun ini juga malah bisa menjadi peluang yang luas karena Anda bisa bergabung di beberapa industri sekaligus. Untuk produk Dinar misalnya, kita bergaul dan bekerjasama secara akrab dengan berbagai pemain di industri per-emas-an. Tetapi karena Dinar juga kita presentasikan sebagai Solusi Finansial, maka kita juga bekerjasama erat dengan perbankan dan berbagai lembaga keuangan/permodalan lainnya.

12 ) Menjaga keseimbangan. Dalam arti luas keseimbangan ini selalu kita perlukan; baik antara keluarga dan usaha, kesehatan dan produktifitas diri, komersial dan sosial dlsb. Bagi kita yang beragama Islam, keseimbangan waktu antara berusaha dan kewajiban beribadah kepadaNya juga perlu sangat dijaga. Ini nampaknya sepele, namun kalau kita tidak menjaganya ? mudah sekali passion kita dalam mengejar ide-ide besar malah melalaikan kita dengan tujuan hidup yang utama yaitu mencari keridloannya. Alhamdulillah kini banyak software kecil yang bisa kita install di hp kita untuk mengingatkan waktu shalat misanya; semaju apapun usaha Anda, menjadi tidak bermanfaat bila Anda lupa waktu shalat.

Dalam mengimplementasikan ide-ide kita, hambatan terbesarnya justru lebih sering  datang dari dalam diri kita sendiri. Tidak cukup PD (percaya diri) untuk mulai melakukannya, tidak tahu harus mulai dari mana, tidak tahu siapa yang ditanya, tidak ada sparring partner untuk menguji ide kita, dlsb. Karena alasan inilah keberadaan institusi semacam yang kita miliki di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin menjadi semakin dibutuhkan.

Selain semua fasilitas pelatihan/magang di pesantren ini GRATIS (agar semua orang berkesempatan yang sama untuk menjadi pengusaha); disana Anda juga dapat merasakan langsung bagaimana kami beserta para Santri Wirausaha berjibaku mengimplementasikan ide-ide besar seperti mengembalikan minuman sehat anak-anak kita dengan susu segar dari proyek Kambing Ettawa kita, menghadirkan makanan sehat dan terjangkau dengan project Planet Jamur, dlsb. Semoga Allah memudahkan kita untuk  dapat beramal shaleh yang diridloiNya.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Strength In Numbers: Keberkahan Dari Kebersamaan


Dari sebuah hadits panjang yang saya ambilkan dari kitab Riyadus Shalihin, dari Abu Hurairah R.A. atau dari Abu Sa?id R.A. (perawi ragu namun tidak bermasalah karena keduanya adil), beliau berkata: ?Ketika perang Tabuk, orang-orang pada kelaparan? mereka berkata: ?Wahai Rasulullah, seandainya engkau memberi izin ? kami akan menyembelih unta kami, lantas kami makan dan lemaknya buat minyak.? Rasulullah bersabda: ?Lakukanlah? ; Umar datang lalu berkata: ?Wahai Rasulullah, bila engkau lakukan yang semacam itu kendaraan akan jadi sedikit. Tetapi perintahkanlah mereka untuk mengambil bekal mereka yang tersisa lalu taruhlah di depan engkau. Kemudian berdo?alah kepada Allah agar makanan tersebut berkah. Barangkali Allah mengabulkan sehingga makanan tersebut menjadi berkah?.

Lantas Rasulullah SAW bersabda: ?Ya? lalu beliau memerintahkan untuk digelar alas lantai, kemudian memerintahkan agar kelebihan bekal mereka dikumpulkan. Lantas seorang laki-laki datang dengan membawa segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kurma dan ada yang membawa segenggam roti. Sehingga terkumpullah di atas tikar sesuatu yang sedikit.

Kemudian Rasulullah SAW mendoakan agar diberi berkah. Lalu beliau bersabda: ?Ambillah, lalu taruhlah di wadah kalian?. Lantas mereka mengambil makanan tersebut, lalu ditaruh di kantong, bejana atau wadah mereka. Seluruh tempat yang di perkemahan itu dipenuhi dengan makanan. Mereka makan hingga perutnya kenyang. Sisanya-pun masih ada.

Saat itu Rasul SAW bersabda: ?Aku bersaksi, bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Bila seorang hamba berjumpa dengan Allah (kelak di hari kiamat) dan dia telah membacanya (bersyahadat), dia tidak ragu, maka dimasukkan ke surga.? (HR. Muslim)

Strength-in-NumbersDi antara  pelajaran dari hadits tersebut di atas yang bisa kita petik adalah, bahkan Rasulullah SAW memerlukan ikhtiar selain juga berdo?a untuk dapat menyelamatkan pasukannya dari kelaparan di medan perang. Jenis ikhtiar-nyapun adalah sesuatu yang dapat kita contoh, yaitu melibatkan anggota pasukan untuk berkontribusi. Betapapun sedikitnya kontribusi ini tidak terlalu masalah, karena dengan sedikit yang diberkahi ? maka problem seluruh pasukan teratasi.

Kebersamaan umat dewasa ini-pun mestinya bisa menyelesaikan berbagai permasalahan dunia modern. Ambil contoh permasalahan dalam bidang ekonomi. Seperti yang saya tulis tentang Muhammad Yunus, bahwasanya penyebab kemiskinan yang utama adalah timpangnya akses terhadap kapital. Bila akses terhadap kapital ini diatasi, maka insya Allah kemakmuran akan tumbuh merata.

Karena alasan ini pula para pendiri bangsa ini sebenarnya sudah memiliki pemikiran yang konkrit, yaitu menjadikan Koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia. Ide dasar koperasi adalah dari anggota ke anggota, jadi seperti pada hadits tersebut di atas ? bila masing-masing anggota berkontribusi sesuai kemampuannya ? maka kapital yang terkumpul akan menjadi sangat berguna untuk mengangkat kemakmuran para anggota.

Saya pernah berceramah di sebuah Pesantren Putri di perbatasan Jawa Tengah ? Jawa Timur yang diasuh oleh seorang Kyai. Saya belajar dari pak Pak Kyai yang bukan ekonom dan bukan pula pengusaha ini, bahwa dengan mengelola segala kebutuhan santriwati-nya yang ?hanya? sekitar 4000 orang secara bersama-sama setiap tahun Koperasi Pesantren-nya menghasilkan milyaran Rupiah Sisa Hasil Usaha.

Lha umat Islam di Indonesia ini kan jumlahnya tidak kurang dari 190 juta orang, masak nggak bisa makmur bila dikelola dengan baik secara bersama-sama seperti hadits di atas dan juga yang dicontohkan Pak Kyai? Ok mungkin ngurus orang banyak memang lebih sulit (sebenarnya juga bukan alasan karena sekian banyak juga resourcesnya), maka kita bisa mulai dari yang ada di sekitar kita.

Jumlah seperti yang dikelola Pak Kyai sekitar 4000-orang tersebut dengan mudah kita jumpai di lingkungan perusahaan tempat kita bekerja, lingkungan gedung tempat kantor berada, lingkungan perumahan tempat kita tinggal, dlsb.

Bayangkan kalau Anda bisa mengelola kebutuhan sehari-hari, kebutuhan investasi dan kebutuhan lainnya dari 4,000 orang ? maka akan sangat besar kemungkinannya Anda bersama-sama anggota lain yang bergabung di dalamnya akan menikmati kemakmuran bersama. Usaha bersama secara berkelompok dari anggota untuk anggota inilah yang di Indonesia dicita-citakan menjadi sokoguru perekonomian, dalam bentuknya koperasi biasa ataupun Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) atau BMT.

Dalam konteks Koperasi/BMT berbasis Dinar, bila Koperasi/BMT Anda bisa mengumpulkan 4,000 orang yang masing-masing menabung 1 Dinar saja akan terkumpul 4,000 Dinar kapital yang akan sangat memadai untuk mulai memutar perdagangan yang barokah memenuhi kebutuhan para anggota Koperasi/BMT Anda.

Mungkin tidak banyak yang bisa dilakukan dengan 1 (satu) koin Dinar yang tersimpan di rumah, namun kalau digabung dalam 1 BMT yang beranggotakan 4,000 ? maka 4,000 Dinar menjadi kekuatan ekonomi yang sudah cukup berarti; bagaimana kalau 4 juta Dinar?, dst. Inilah yang di dalam psikologi massa disebut Strength in Numbers, kekuatan yang hanya muncul bila dilakukan secara bersama-sama. Insya Allah.

Posted in Islamic ViewComments (0)

Antara Visi, Mimpi dan Do?a


Dalam sejarah dunia abad lalu, ada pemimpin dunia yang sangat terkenal akan kekuatan visinya yaitu John F. Kennedy. Di hadapan Konggres Amerika pada tahun 1961 dia mengungkapkan visinya bahwa bangsa Amerika harus bisa mencapai bulan sebelum akhir dekade itu.

Di tengah bangsa Amerika yang lagi limbung sebenarnya visi ini jauh melampaui zamannya. Visi ini muncul ketika bangsa Amerika ragu apakah jalan hidup yang mereka pilih sudah benar, apakah bukannya komunis yang benar karena saat itu komunis lagi menghebohkan dengan keberhasilan Soviet meluncurkan satelit yang mengorbit bumi. Bahkan bangsa Amerika lagi nggumun-nggumun-nya dengan keberhasilan Soviet mengirim kosmonot Yuri Gagarin ke antariksa.

Namun sekitar 8 tahun kemudian, meskipun JFK sendiri sudah meninggal ? visinya teralisasikan dengan sejarah Neil Armstrong dan Buzz Aldrin sebagai manusia-manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan pada tanggal 20 Juli 1969.

Jadi visi lebih penting ketimbang sumber daya dan kondisi yang melingkungi manusia itu sendiri. Dengan sumber daya melimpah tetapi tidak didukung oleh visi yang jelas ? maka sumber daya yang melimpah ini tidak akan banyak manfaatnya.

Sebaliknya dengan sumber daya yang terbatas dan dengan lingkungan yang tidak sepenuhnya kondusif sekalipun, pemimpin yang mempunyai visi yang kuat akan bisa mengeluarkan rakyatnya dari penderitaan dan bahkan bisa menjadi bangsa pemenang ? meskipun tidak harus tercapai pada saat dia memimpin.

Lantas bagaimana kita tahu apakah kita sudah memiliki visi yang jelas atau kita baru sekedar bermimpi? Bedanya terletak pada jabaran-nya. Visi yang jelas dapat dijabarkan menjadi Mission, Goals, Strategies dan Action Plans sampai sedetilnya. Sedangkan mimpi tidak perlu penjabaran, Anda bisa saja mimpi lagi menikmati liburan di Paris tetapi berangkatnya naik sepeda dari Depok ? namanya juga mimpi, boleh-boleh saja dan tidak perlu penjelasan detil.

Perbedaan antara visi dan mimpi ini pulalah yang antara lain membedakan sedikit karyawan yang benar-benar pindah kwadrant menjadi pengusaha, dengan mayoritas karyawan yang tetap menjadi karyawan sampai pensiun ? padahal sejak awal bekerja yang mayoritas ini juga bervisi (sebenarnya masih mimpi) menjadi pengusaha. Golongan yang pertama menjabarkan visinya dan berbuat (action plans) maka sampailah apa yang di-visi-kannya; golongan kedua tidak bermuat apa-apa dengan mimpinya ? maka mimpi tetap menjadi mimpi.

padang-pasirDalam hal visi ini, sebagai umat Islam kita sesungguhnya punya contoh tauladan yang jauh lebih agung dari John F. Kennedy. Teladan kita adalah bapak para nabi yaitu Nabi Ibrahim A.S. Bayangkan di tengah padang pasir yang gersang tidak ada pepohonan, di tempat yang sangat jauh dari keramaian manusia ? Nabi Ibrahim sudah memiliki visi yang sangat jelas akan seperti apa tempat itu nantinya. Visi ini dituangkan dalam do?a-do?a-nya yang diabadikan di Al-Qur?an antara lain sebagai berikut :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian? “ (QS. Al-Baqarah (2): 126)

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim (14): 37).

Kini ribuan tahun kemudian, visi itu benar-benar terwujud. Kita bisa menikmati buah-buahan apa saja di Mekkah, meskipun buah-buahan itu sendiri tidak ditanam di sana. Buah-buahan, makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan manusia mengalir bak air bah dari seluruh dunia ke tempat yang divisikan Nabi Ibrahim tersebut di atas. Lebih dari itu manusia yang berduyun-duyun ke Mekkah juga mayoritasnya memiliki 1 tujuan saja yaitu menyembah Allah semata yang dimanifestasikan dalam bentuk shalat.

Nah, kalau Kennedy saja yang tidak membaca petunjuk Al-Qur?an bisa membawa bangsanya mencapai bulan. Kita yang dituntun dengan petunjuk dan contoh yang sempurna dari Al-Qur?an dan Hadits ? sudah seharusnya dapat berbuat lebih dari yang dilakukan oleh JFK.

Bukan hanya petunjuk dan contoh yang sangat komprehensif yang kita punya, tetapi juga kita dibekali dengan do?a-do?a matsur seperti yang dilafalkan Nabi Ibrahim tersebut di atas. Ayo sekarang kita semua, mulai dari diri kita ? bangun dari mimpi-mimpi kita dan mulai membangun visi sambil tidak berhenti untuk terus berdo’a. Semoga Allah menunjuki jalanNya untuk kita semua? Amin.

Posted in Islamic ViewComments (0)

Blue Ocean Mindset, Bukan Bersaing Tetapi Berlomba Dalam Kebajikan


5 tahun lalu Harvard Business School Press menerbitkan buku yang legendaris bagi dunia usaha dengan judul Blue Ocean Strategy dan sub judul How To Create Uncontested Market Space and Make the Competition Irrelevant. Buku ini ditulis oleh Chan Kim dan Renee Mauborgne yang keduanya adalah professor di INSEAD.

Inti dari isi buku ini adalah strategi bagi para pelaku usaha untuk bisa keluar dari medan persaingan yang tidak sehat ? yang digambarkan sebagai red ocean karena berdarah-darahnya pertempuran di pasar ? menuju pasar yang boleh dikatakan tanpa pesaing yang digambarkan sebagai blue ocean ? karena tidak adanya setetes-pun darah yang tercecer.

Selain menginspirasi para pelaku dunia usaha; buku ini sebenarnya bisa juga memberi inspirasi bagi  para aktifis gerakan sosial, keagamaan dan bahkan pada para ustad dan juru dakwah.

Dulu ada Da?i kondang yang sering memberikan pencerahan kita untuk meninggalkan persaingan yang tidak sehat. Dengan arif Da?i tersebut menceritakan betapa naifnya persaingan antara tukang ojek dengan tukang ojek, tukang cukur dengan tukang cukur, bahkan Da?i-pun katanya bersaing dengan Da?i lainnya.

Nasihat Da?i ini esensinya sama dengan isi buku tersebut di atas; bila kita jumud pada segmen kita, menganggap orang lain yang juga menggarap segmen ini adalah pesaing yang harus diserang ? maka kita akan berdarah-darah kehabisan tenaga, sementara kita sendiri akan kehabisan sumber daya kreatif kita untuk melihat adanya segmen lain yang perlu penggarapan.

Dengan wawasan tersebut di ataslah maka kami tidak pernah merasa bersaing dengan penggerak Dinar lainnya; meskipun ada yang mungkin menganggap kami sebagai pesaing dan ofensif terhadap apa yang kami lakukan ? kami tidak merasa perlu untuk membalasnya, karena ini hanya akan mengurangi kemampuan kreatif kita.

Belajar bersama di Pesantren Wirausaha

Belajar bersama di Pesantren Wirausaha

Medan amal Islami ini terlalu luas untuk kita, sehingga kita tidak harus tetap berada di red ocean; begitu banyak blue ocean di luar sana yang bisa menjadi lapangan kita untuk berbuat kreatif dan beramal secara maksimal. Bahwasanya orang lain melakukan hal yang sama, kami anggap dia bukanlah pesaing ? mereka adalah sparring partners kita untuk bisa berlomba-lomba dalam kebajikan atau fastabiqul khairat.

Bahkan kini istilah blue ocean yang menyegarkan sebagai lawan kata red ocean yang panas berdarah-darah, seolah terwujud secara lahiriah di project Pesantren Wirausaha yang kami cetuskan sejak beberapa bulan lalu. Bila Anda berkunjung kesana, Anda akan menemukan saudara-saudara Anda yang dengan tulus ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman di berbagai bidang usaha mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan dan berbagai bidang lainnya; tidak ada yang menganggap Anda pesaing atau calon pesaing.

Semua adalah saudara yang masing-masing menjadi sparring partners bagi yang lain untuk fastabiqul khairat. Dengan Blue Ocean Mindset ini, dunia terasa sejuk bagi kita sesejuk komplek Pesantren kita di atas. Semoga sparring partners kita dapat merasakan kesejukan yang sama. Wa Allahu A?lam.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Tantangan Untuk Negeri Dengan Rangking 122!


Kemarin sore saya tersentak dengan acara di salah satu TV swasta nasional yang lagi menyoroti kinerja 100 hari pemerintahan RI yang menghadirkan nara sumber ketua BKPM. Dalam acara tersebut antara lain disajikan data dari World Bank terakhir yang menyatakan bahwa Indonesia berada pada ranking 122 dalam hal kemudahan berusaha. Begitu burukkah negeri kita ini dalam memfasilitasi para pengusaha/investor?

Setengah tidak percaya saya cari laporan lengkapnya dari World Bank dan alhamdulillah bisa saya peroleh gratis dalam bentuk laporan lengkap yang dapat di download di www.doingbusiness.org. Laporan yang paling mutakhir diberi judul Doing Business 2010, berdasarkan data yang dikumpulkan dari 183 negara sampai Mei 2009.

Laporan ini pertama kali diterbitkan tahun 2003 lalu yang saat itu hanya mendasarkan pada 5 indikator. Laporan terakhir menggunakan 10 indikator kemudahan usaha yang terdiri dari:

  1. Kemudahan memulai usaha.
  2. Ijin konstruksi.
  3. Tenaga kerja.
  4. Pendaftaran property.
  5. Kredit.
  6. Perlindungan investor.
  7. Pajak.
  8. Perdagangan lintas batas.
  9. Penegakan hukum kontrak.
  10. Penutupan usaha.

Dari 10 indikator tersebutlah Indonesia jatuhnya berada di ranking 122 dari 183 negara yang di Survey. Di negeri ASEAN saja, Indonesia hanya lebih baik dari Philippines yang berada di urutan 144. Sementara Singapore adalah ranking 1, Thailand 12,  Malaysia 23 dan Vietnam 93.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah apabila dilihat satu persatu dari 10 indikator tersebut, beberapa indikator menunjukkan hal yang jauh lebih buruk dari rata-rata yang 122 ini. Indikator kemudahan memulai usaha misalnya berada pada ranking 161, kemudahan urusan pegawai berada pada ranking 149 dan kemudahan dalam penegakan hukum kontrak berada pada urutan 146.

Anda bisa bayangkan sekarang seandainya Anda bukan warga negeri ini, Anda investor asing yang ingin investasi ? Apakah Anda akan investasi di Negara yang rangking kemudahan usahanya berada pada angka 122? Atau pada negeri tetangganya yang berada di ranking 1, 12,  23 atau bahkan 93? Inilah yang menyebabkan investasi seret di negeri ini, dan lapangan kerja sulit tercipta.

Dampaknya adalah meskipun negeri ini konon gemah ripah loh jinawi, tongkat dan batu jadi tanaman ? tetapi realitanya tidak terhitung jumlah tenaga kerja kita yang harus mencari rizki-nya di negeri lain, termasuk sejumlah besar wanita-wanita kita harus pergi meninggalkan suami dan anak-anak nya untuk bekerja di negeri yang kadang sangat tidak bersahabat dengan mereka, tahun lalu saja lebih dari 40 TKI kita yang menghadapi masalah dengan pekerjaannya.

Meskipun bisa saja data Bank Dunia tersebut bias, tetapi tidak ada salahnya untuk menggunakan data ini sebagai acuan agar kita semua bekerja keras membangun negeri. Stop perdebatan-perdebatan politik yang tidak berkesudahan, serahkan masing-masing urusan pada ahlinya. Masalah hukum misalnya biarlah ditangani para penegak hukum, sehingga tidak mengalihkan fokus seluruh elemen masyarakat dari kegiatan produktif.

Sebagai negeri di ranking 122, kita tidak bisa mengharapkan investor asing untuk membangun negeri ini; ambil hikmahnya dari kenyataan ini bahwa kita sendirilah yang harus membangunnya.  Ini bukan hanya tugas pemerintah ? meskipun pemimpin-pemimpin tersebut tentu yang paling bertanggung jawab,  karena mereka dahulu minta dipilih dan mereka telah berjanji untuk menciptakan lapangan kerja dan  memakmurkan negeri ini.

Mulai dari diri kita, mulai dari yang kita bisa? Insya Allah, Allah akan mengajari kita dengan apa yang kita belum bisa.  Bagi Anda yang tergugah untuk berusaha menciptakan lapangan kerja bagi saudara-saudari kita,  kami ada program yang sepenuhnya FREE ? yaitu Program Pesantren Wirausaha yang Angkatan ke 8-nya insya Allah kick off akhir bulan ini. Saat ini sudah ada 200-an Santri Eksekutif yang insya Allah siap berkontribusi untuk membangun negeri yang saat ini masih di ranking 122 ini. Semoga Allah memudahkan langkah kita.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Entrepreneurship: Beranikah Anda Membakar Kapal Anda?


Dalam sejarah Islam ada panglima perang yang memiliki strategi luar biasa, benar-benar luar biasa karena tidak pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Panglima perang tersebut adalah Thariq bin Ziyad yang pada tahun 97 H (sekitar tahun 711 Masehi) memimpin 7,000 pasukan Islam memasuki Spanyol yang dijaga oleh 25,000 pasukan pimpinan Raja Roderick.

Untuk menyemangati pasukannya agar tidak gentar melawan musuh yang memiliki kekuatan jauh lebih besar, dan agar tidak ada satupun dari pasukaannya yang berpikir untuk ambil langkah mundur  - apa yang di lakukan Thariq? Dia membakar seluruh kapal-kapal yang dipakai pasukannya untuk mencapai pantai tenggara spanyol. Ketika pasukannya bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan sang panglima ini, Thariq menjawabnya dengan pidato yang terkenal sbb:

?Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.?

Tekad yang sangat kuat untuk hidup mulia atau mati syahid ?Isy Kariman au Mut Syahidan? inilah yang dapat membawa kejayaan Islam dari waktu ke waktu.

Kita tahu akhirnya dalam sejarah bahwa diawali oleh tekad yang sangat kuat dan kebergantungan kepada Allah semata tersebut, Islam menjangkau wilayah yang paling luas beberapa puluh tahun kemudian setelah strategi ini ditempuh Thariq dan pasukan-pasukannya.

Ketika cerita tentang Thariq ini diajarkan secara turun temurun baik di dunia Islam maupun di luar Islam, maka sekitar 800 tahun kemudian, kurang lebih 10 generasi setelah Islam masuk Spanyol ? anak keturunan bangsa Spanyol yang bernama Hernando Cortez – pun meniru bulat-bulat strategi Thariq tersebut di atas ketika ia memimpin ekspedisi penaklukan ke Mexico.

Hernando Cortez (1485 - 1547)

Hernando Cortez (1485 - 1547)

Hernando Cortez yang memimpin expedisi penaklukan bangsa Aztecs untuk merebut emas dan harta-harta lainnya ini membakar keseluruhan 11 kapal yang digunakan untuk membawa pasukannya mencapai daratan Mexico. Dengan demikian tidak ada pikiran untuk mundur, jalan hanya satu arah yaitu maju kedepan.

Kita tahu hasil dari kebulatan tekat Hernando Cortez ini, sampai sekarang bahasa resmi yang dipakai di Mexico adalah bahasa Spanyol. Ini menunjukkan betapa berhasilnya Hernando Cortez meniru strategi Thariq bin Ziyad dalam upayanya untuk menaklukkan Mexico yang menjadi jajahan Spanyol sampai beratus tahun kemudian.

Kalau seorang Hernando Cortez saja bisa belajar dan menikmati ke-sukses-an dari meniru strategi Panglima Perang Islam Thariq bin Ziyad, masa kita umat Islam di masa kini tidak bisa mencapai kesuksesan dengan belajar dari keberhasilan tokoh pejuang sekaliber Thariq ini?

Kalau medan kita bukan/belum medan perang saat ini, minimal strategi Thariq dengan membakar kapal ini bisa kita terapkan di tekad kita untuk membangun usaha, untuk meninggalkan tempat kerja yang kita ragukan ?kebersihan?-nya misalnya.

Dari pengalaman saya berinteraksi dengan sekian banyak peserta Pesantren Wirausaha dan juga peserta yang ikut pelatihan CIED (Center for Islamic Entrepreneurship Development), penghalang terbesar dari setiap peserta yang ingin menjadi entrepreneur adalah keberaniannya untuk benar-benar terjun ke usaha ? serta benar-benar meninggalkan pekerjaan sebelumnya.

Pengalaman saya sendiri-pun menunjukkan demikian; tidak kurang dari 6 kali usaha berwiraswasta yang saya lakukan di luar jam kantor – ketika saya masih aktif sebagai eksekutif ; tidak satupun yang berhasil. Yang ke-7, ke-8 dan seterusnya insya Allah berhasil karena kapal saya benar-benar saya bakar.

Untuk mencapai karir puncak di Industri Asuransi & Investasi di usia muda, tidak tanggung-tanggung saya peroleh gelar profesi yang paling tinggi di New Zealand, Australia dan Inggris. Sangat sedikit professional asuransi & investasi Indonesia yang mencapai pengakuan semacam ini. Namun sejak lahirnya fatwa MUI bahwa bunga bank haram awal 2004 (Fatwa No 1 Tahun 2004 Tentang Bunga), tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan mengenai keharaman bunga bank dan produk-produk yang terkait dengannya di dunia finansial.

Maka alhamdulillah kapal yang namanya gelar professional dan puncak karir di industri finansial tersebut telah habis saya bakar 2 tahun lalu. Sejak saat itu, mirip yang dilakukan oleh Thariq dan juga Cortez, medan ?pertempuran? saya menjadi medan ?pertempuran? yang sama sekali baru. Tidak mudah, tetapi juga tidak mustahil ? hanya pertolongan Allah-lah yang menjadikan yang sukar itu mudah.

Jadi bagi Anda yang ingin pindah quadrant dari pegawai/eksekutif ke pengusaha, bila Anda berani membakar kapal Anda, Insya Allah Andapun juga akan berhasil!!! Wa Allahu A?lam.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes