Tag Archive | "pengelolaan harta"

Target Puasa Tahun Ini: Ketakwaan & Kemakmuran


Pada bulan Ramadhan seperti ini, ayat yang paling banyak kita dengar dari ceramah-ceramah adalah ayat ?Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,? (QS Al-Baqarah [2]: 183). Lantas sekian puluh tahun kita berpuasa di bulan Ramadhan, adakah kita sudah mencapai derajat orang-orang yang bertakwa ini?

Mungkin hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya; namun untuk menjawab ini kita butuhkan tolok ukur yang baku tentang siapa orang-orang yang bertakwa ini. Tolok ukur yang baku ini ada di 6 ayat sebelum ayat tersebut di atas yaitu tepatnya berbunyi ?Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.? (QS Al-Baqarah [2]: 177)

Secara individu di antara 235 juta penduduk Indonesia, sangat mungkin ada sekian juta orang yang mencapai atau mendekati derajat takwa ? namun secara nasional nampaknya derajat ketakwaan ini masih rendah. Mengapa demikian? Perhatikan tulisan saya sebelumnya ?Jalan Mendaki Lagi Sukar? yang didalamnya terdapat statistik bahwa rata-rata penduduk Indonesia ternyata tergolong miskin berdasarkan standar Nishab Zakat.

Kalau rata-rata miskin, lantas siapa yang bisa memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya? Lha wong sama-sama miskin, lebih banyak yang sama-sama berhak diberi ketimbang yang memberi.

Perhatikan salah satu kata kunci ?memberi…? untuk mencapai ?…orang-orang yang bertakwa? dalam ayat di atas, artinya adalah diperlukan derajat kemakmuran sedemikian rupa bagi bangsa ini sehingga rata-rata penduduknya berpenghasilan lebih besar dari Nishab Zakat. Bila sekarang rata-ratanya hanya sekitar 82.5% dari Nishab Zakat, maka diperlukan kenaikan PDB per Kapita sekitar 21% dari angka sekarang agar rata-rata penduduk negeri ini masuk kategori orang yang bisa memberi.

PDB per Kapita adalah Produk Domestik Bruto (PDB) dibagi dengan jumlah penduduk. PDB sendiri adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. Jadi untuk menaikkan PDB per Kapita minimal 21 % dari kondisi yang ada, diperlukan kenaikan dengan persentasi yang sama untuk PDB secara nasional.

Lantas bagaimana kita bisa secara bersama-sama meningkatkan PDB yang merupakan representasi dari kemakmuran ini? Pertama kita harus tahu apa-apa yang bisa menaikkan PDB dan apa-apa yang menurunkannya. Salah satu pendekatan perhitungan PDB adalah menggunakan pendekatan pengeluaran sebagai berikut:

PDB KonsumsiInvestasiPengeluaran PemerintahEksporImpor

Ketika orang-orang yang kaya memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, maka kemungkinannya adalah harta tersebut akan dikonsumsi ? karena inilah kebutuhan utama bagi orang yang tidak mampu. Ketika Konsumsi meningkat ? maka PDB akan meningkat.

Tetapi nanti dulu, bila  barang-barang yang dikonsumsi oleh penduduk tersebut ternyata adalah produk impor atau produk yang bahan bakunya impor; bersamaan dengan konsumsi naik ? maka impor-pun naik sehingga PDB belum tentu meningkat. Karena nilai Impor menjadi faktor pengurang dalam perhitungan PDB tersebut di atas, maka semakin besar Impor ? semakin rendah PDB atau semakin miskinlah kita semua.

Umat Islam 'bisa' berSINERGI?

Umat Islam 'bisa' berSINERGI?

Inilah problem kita. Ketika kita membagi-bagikan makanan dalam berbagai kesempatan, kita sering membagi-bagikan mie instant yang berbahan baku terigu ? yang mayoritasnya berbahan baku Impor. Ketika kita membagi pakaian, pakaian tersebut terbuat sebagian besarnya dari kapas. Kapas yang dipakai untuk memproduksi pakaian-pakaian kita 99.5%-nya adalah Impor.

Jadi, selagi ketergantungan kita begitu besar pada sandang dan pangan yang berbasis bahan baku Impor ? maka PDB tersebut menjadi sulit terangkat. Setiap kali Konsumsi meningkat, Impor juga meningkat.

Maka yang diperlukan berikutnya adalah diperbanyak Investasi untuk mengolah potensi-potensi yang ada di sekitar kita ? yang ada di negeri ini ? minimal untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Diperlukan pula Pengeluaran Pemerintah yang mendorong atau memfasilitasi Investasi tersebut. Investor yang mengolah bahan baku lokal harus dipermudah dengan kemudahan peraturan dan fasilitas, agar PDB terangkat.

Investasi dan Pengeluaran Pemerintah hendaknya difokuskan untuk mencari solusi pengganti dari ketergantungan produk atau bahan baku Impor. Bila selama ini kita diserbu oleh bahan baku pangan berupa terigu yang harus diImpor misalnya, mengapa tidak didorong usaha-usaha yang meng-eksplorasi bahan pangan lokal seperti jamur, tepung pisang, tepung garut, sagu, mocaf (modified cassava flour), dlsb?

Demikian juga untuk sandang, Indonesia hanya sedikit sekali produksi kapasnya ? hanya sekitar 0.5% dari kebutuhan. Lantas mengapa tidak difokuskan mencari bahan baku sandang yang tidak tergantung pada kapas yang harus diimpor 99.5%-nya, kita ganti dengan serat dari Gedebog Pisang yang tumbuh dengan mudah di seluruh negeri misalnya.

Dengan kita menyadari apa-apa yang meningkatkan PDB dus meningkatkan pula PDB per Kapita atau kemakmuran tersebut di atas ? dan apa-apa pula yang menurunkannya; maka insya Allah kita bisa berbuat searah dengan upaya peningkatannya ? dan bukan sebaliknya.

Tentu hal ini tidak ada yang mudah dan inilah ?Jalan Mendaki Lagi Sukar? itu; juga tidak akan terjadi secara instant, perlu kerja keras bertahun-tahun dengan mensinergikan seluruh elemen umat. Namun bila kita tidak mulai-nya dari sekarang, sulit membayangkan kapan kemakmuran akan datang kepada umat ini?

Maka melalui ibadah puasa kita tahun ini, marilah kita berlomba mencapai derajat takwa yang sesungguhnya, derajat takwa yang membawa kita untuk mampu ?memberi…?, derajat takwa yang memakmurkan!!! Insya Allah…

Posted in Islamic ViewComments (0)

Apa Yang Dilakukan Penghuni Surga Ketika Mereka Masih Di Dunia?


?Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta. Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.? (QS. Adz-Dzariyaat (51): 15 ? 23)

Surga adalah cita-cita setiap muslim dan kita semua tentu sangat menginginkannya untuk bisa sampai kesana kelak. Surga adalah rakhmat dariNya semata, namun rakhmat ini juga harus diraih dengan perbuatan baik ketika kita masih hidup di dunia. Tantangannya adalah bagaimana kita men-design aktifitas hidup kita sehingga semoga  di akhirat nanti atas rakhmatNya kita bisa sampai surga ini.  Nah rangkaian ayat-ayat di atas adalah salah satu resep perbuatan baik yang akan dapat membawa pelakunya menuju surga.

Intinya adalah para penghuni surga ini dahulunya ? ketika hidup di dunia ? mereka adalah orang-orang yang berbuat baik. Perbuatan baik apa yang membuat mereka sampai ke sana? Dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya yang antara lain adalah:

  1. Sedikit sekali tidur di waktu malam, maksudnya banyak beribadah (bertahajud).
  2. Banyak-banyak memohon ampun kepadaNya, terutama di akhir-akhir malam.
  3. Menyisihkan sebagian hartanya, untuk diberikan kepada orang miskin yang meminta maupun yang tidak meminta.
  4. Berbagai tanda-tanda yang ada di bumi, menguatkan keimananNya akan Sang Pencipta.
  5. Memperhatikan yang ada pada diri sendiri (juga untuk meningkatkan keimanan kepadaNya).
  6. Sebab-sebab rizki-nya ada di langit, dan di langit pula adanya apa yang dijanjikan kepadanya.

Di antara 6 perbuatan baik yang diresepkan Al-Qur?an tersebut, nomor 6 mungkin yang paling sulit dipahami, dihayati dan apalagi di amalkan. Karena ini pula yang terkait dengan tema sentral situs ini, maka perbuatan baik nomor 6 ini yang kita elaborate.

Meskipun jelas-jelas di akhir rangkaian ayat-ayat tersebut Allah memastikan bahwa yang dijanjikanNya pasti benar-benar terjadi ? dus termasuk (sebab-sebab) rizki dari langit; berapa  banyak diantara kita yang bisa meng-imani ini secara sungguh-sungguh? Karena begitu banyak orang yang tidak yakin akan rizki dari langit ini, berbagai masalah muncul dalam masyarakat kita sehari-hari.

  1. Kasus korupsi demi korupsi yang terbongkar secara berurutan akhir-akhir ini, tidak lain penyebabnya karena orang mengira bahwa rizki-nya hanya bisa diperoleh melalui jalan korupsi.
  2. Ratusan ribu saudari-saudari kita, terpaksa pergi ke negara lain tanpa muhrim untuk bekerja menyongsong rizki-nya karena mereka mengira sumber-sumber rizkinya ada di negeri-negeri yang jauh tersebut.
  3. Entah berapa juta saudara muslim kita harus bekerja menyerempet bahaya bergelut dengan riba, karena mereka mengira bahwa rizki-nya hanya datang melalui tempat kerjanya yang masih ribawi.
  4. Berapa juta lagi saudara-saudara kita yang kehilangan kemerdekaannya, terpaksa melaksanakan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya ? karena takut kehilangan rizki pula.
  5. Berapa banyak orang yang mengira bahwa rizki-nya adalah rizki yang di tangan orang lain, sehingga tidak segan-segan merampas hak orang lain tersebut.
  6. Berapa banyak orang yang mengira bahwa rizkinya bisa disabot atau direbut oleh orang lain, sehingga mereka pelit berbagi ilmu dan ketrampilan ? karena takut ilmu dan ketrampilan yang diajarkan kepada orang lain tersebut menjadi pengurang rizki (menjadi pesaing).
  7. Berapa banyak orang yang mengira rizkinya ada di pangkat dan jabatan, sehingga mereka rela menempuh hal-hal yang tidak HALAL demi untuk mendapatkan pangkat dan jabatannya.
  8. dlsb.

OK, katakanlah kita ingin secara sungguh-sungguh mengikuti resep-resep perbuatan baik tersebut di atas yang dengan rakhmatNya insya Allah dapat membawa kita sampai ke surga. Lantas bagaimana konkritnya dengan poin ke 6 tersebut yaitu bagaimana kita menangkap rizki dari langit? Salah satunya pernah saya ulas dalam tulisan terpisah dengan judul “Dan di Langit Terdapat Rizkimu?”; tentu masih banyak lagi cara- cara menangkap rizki dari langit ini; apalagi bila dikaitkan dengan 2 ayat sebelumnya yaitu potensi yang ada di bumi dan yang ada pada diri kita masing-masing.

Bagi yang belum PD (Percaya Diri) untuk mengangkap rizki dari langit ini; kami di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin memberikan fasilitas untuk Pelatihan GRATIS baik dalam bentuk kelas berkelompok, in-house training maupun konsultasi individual.

Di luar itu semua, kita juga harus yakin dengan ayat penutupnya; bahwa yang dijanjikanNya adalah pasti benar! Jadi mari kita songsong rizki kita langsung dari Sang Maha Pemberi :) .

Posted in Islamic ViewComments (0)

Antara Yaknizun, Yuhsinun dan Dullatan


Setidaknya saya menemukan 3 istilah yang terkait dengan pengelolaan harta di Al-Qur?an yang berbeda hukumnya satu sama lain. Istilah pertama adalah Yaknizun yang artinya “menimbun” di ayat berikut:

?? Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih?? (QS. At-Taubah (9): 34)

Istilah ke-2 Yuhsinun (di Al-Qur?an Tuhsinun karena untuk orang kedua) yang artinya “menyimpan” dalam konteks ketahanan ekonomi dalam ayat berikut:

?Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.? (QS. Yusuf (12): 47-48)

Dan yang ke-3 Dullatan yang artinya “beredar” di ayat berikut:

?? supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…? (QS. Al-Hasyr (59): 7)

Harta kita dalam bentuk apapun apakah uang kertas Rupiah, barang dagangan/komoditi, emas atau Dinar dan lain sebagainya bila tidak hati-hati mengelolanya bisa jatuh ke kelompok pertama (Yaknizun) yang diancam siksa yang pedih.

Sebagian kecil atau secukupnya, harta kita bisa saja kita simpan misalnya untuk kebutuhan anak-anak sekolah sekian tahun yang akan datang, untuk biaya kesehatan dan keperluan kita ketika mencapai usia lanjut/pensiun ? maka yang ini insya Allah masuk kategori boleh (Yuhsinun) karena ini bagian dari membangun ketahanan ekonomi ? agar kita tidak tergantung pada orang lain ketika tidak lagi produktif dan agar kita dapat meninggalkan generasi yang kuat. Kuncinya adalah secukupnya sesuai perkiraan kebutuhan kita dan tidak berlebihan ? insya Allah diri kita yang tahu kewajaran kebutuhan ini.

Yang tidak ada batasannya adalah harta kita yang kita gunakan di jalan Allah; harta yang berputar (Dullatan) tidak hanya di golongan orang kaya saja.

Lantas bagaimana kita memanfaatkan agar harta kita masuk kategori berputar di jalan Allah di zaman modern ini?

pasarBanyak sekali pintu amal yang insya Allah bisa kita lakukan untuk memutar harta di jalan Allah ini. Pertama jelas kalau kita infaqkan untuk berbagai kegiatan seperti menyantuni anak yatim, membangun sekolah, membangun daerah korban bencana, membantu saudara-saudara kita di Palestina yang terdholimi oleh rezim Yahudi, dlsb.

Di luar konteks infaq yang jelas tersebut di atas, saat ini juga banyak sekali peluang untuk memutar harta Anda sehingga ??tidak hanya berputar di golongan yang kaya?. Dengan apa? Dengan menginvestasikannya di sektor riil dan menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya.

Harta yang dipakai untuk keperluan terakhir ini insya Allah juga bisa menjadi bagian dari penegakan syariah di negeri ini. Kok bisa? Problem terbesar di negeri ini adalah problem kemiskinan yang timbul dari banyaknya pengangguran. Sedangkan tujuan syariah (maqasid syariah) adalah menjaga iman, menjaga jiwa, menjaga kehormatan, menjaga pikiran dan menjaga harta.

Ketika begitu banyak orang miskin di negeri ini ? karena tidak terjaganya harta, maka dampak berikutnya adalah hilangnya kehormatan. Ratusan ribu wanita-wanita kita yang harus bekerja di luar negeri dan sebagian harus kehilangan kehormatannya bahkan ada juga yang harus kehilangan jiwanya ? maka ini juga bagian dari tidak terciptanya lapangan kerja yang cukup di dalam negeri.

Di dalam negeri-pun, bukan cerita baru kalau banyak orang-orang yang semula Islam harus kehilangan Imannya karena kemiskinan, karena tidak bisa membayar biaya kesehatan, karena tidak bisa menyekolahkan anaknya, dlsb.

Harta Anda insya Allah bisa berperan dalam menciptakan lapangan kerja untuk mengatasi masalah kemiskinan ini. Itulah sebabnya program Gerakan Dinar yang kita canangkan-pun tidak hanya mendorong orang untuk  membeli dan menyimpan Dinarnya; tetapi kita juga dorong untuk digunakan dalam menggerakkan sektor produktif.

Lantas bagaimana kalau Anda tidak terbiasa untuk berusaha? Maka program untuk melatih Anda hingga menjadi entrepreneur yang Qowiyyun Amin (kuat/professional lagi sangat bisa dipercaya) ? pun kita sediakan dalam program Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin yang kini sudah mencapai angkatan ke-8.

Dalam waktu dekat, hasil kerjasama kami dengan Koperasi BMT Daarul Muttaqiin insya Allah juga akan segera meresmikan beroperasinya Dinar House di Cibubur ? yang insya Allah menjadi Pusat Solusi Pembiayaan Usaha berbasis Dinar yang terbuka bagi siapapun untuk datang dan berdiskusi mencari solusi dengan team ahli kami disana.

Dengan berbagai program tersebut di atas, insya Allah kita bisa menjauh dari perilaku menimbun atau Yaknizun. Kita akan bisa membangun ketahanan ekonomi  atau Yuhsinun untuk keluarga masing-masing, dan lebih jauh lagi kita-pun insya Allah akan dapat memutar harta (Dullatan) untuk mengentaskan kemiskinan, menjaga kehormatan sampai menjaga iman yang merupakan rangkaian tujuan syariah atau maqasid syariah ini.

Semoga Allah meridloi langkah-langkah kita dan memudahkan kita ke amalan yang diridloiNya. Amin.

Posted in Islamic ViewComments (0)

Long Term Investment Focus: Dinar, Sapi atau Surga?


Semalam harga emas dunia mengalami penurunan yang cukup significant, yaitu mencapaipenurunan US$ 17/oz dari kisaran angka US$ 1,054/oz ke kisaran angka US$ 1,037/oz.

Bagi Anda yang baru membeli emas atau Dinar kemarin, mungkin akan ?merasa rugi? karena penurunan ini. Tetapi bagi Anda yang telah mulai membeli Dinar tahun lalu pada kisaran harga emas dunia US$ 800 ?an/oz; tentu tidak akan merasakan penurunan harian ini sebagai kerugian; apalagi yang sudah mulai membeli Dinar 2 tahun lalu di awal-awal kita memperkenalkan Dinar pada saat emas masih berada di kisaran US$ 700-an/oz.

Kita akan senantiasa merasa ?rugi? manakala investasi kita berorientasi jangka pendek. Bila orientasi kita jangka panjang, maka insya Allah kita tidak akan pernah merasa ‘rugi‘.

Untuk tataran investasi duniawi misalnya, perhatikan grafik di atas yang menunjukkan hargaemas sejak awal tahun 70-an ketika pertama kalinya uang kertas mulai tidak dikaitkan lagi dengan harga emas dunia. Sejak saat itu harga emas dunia sudah berpuluh kali lipat mengalami kenaikan.

Demikian pula dengan investasi sektor riil yang disini saya ambilkan sapi sebagai contoh. Data dari Moore Research Center pada grafik di bawah menunjukkan trend kenaikan harga sapi hidup sejak awal tahun 1970-an hingga kini. Bisa dibayangkan bila Anda mulai membeli sapi tahun 70-an dan beranak setiap 2 tahun? pasti sapi Anda sangat banyak saat ini, padahal setiap ekor sapi ukuran sedang harganya di kisaran 7 Dinar!

Harga Sapi (1970 - 2009)

Dengan contoh tersebut di atas, kita bisa melihat bahwa untuk standar dunia saja kita sudah dengan mudah ?merugi? bila fokus kita jangka pendek ? dan sebaliknya kita tidak ?merugi? bila fokus investasi kita jangka panjang.

Analogi seperti investasi duniawi tersebut juga berlaku untuk investasi yang lebih panjang lagi ? yaitu investasi untuk hidup yang abadi sesudah kita mati. Seluruh keuntungan atau kerugian yang kita alami di dunia ini, tidak akan sepadan bila dibandingkan dengan keuntungan/kerugian di akhirat kelak. Oleh karenanya, fokus investasi kita harus memiliki orientasi jangka waktu yang sangat panjang ? meliputi dunia dan akhirat ? bila kita tidak ingin merugi.

Lantas apakah dengan demikian kita harus membuat dikotomi mana untuk investasi dunia dan mana untuk investasi akhirat? Tidak juga, karena dikotomi ini tidak perlu bila kita bisa menyelaraskan kehidupan dunia kita dengan tujuan jangka panjang kita yaitu hidup yang abadi di akhirat kelak. Bahkan salah satu do?a sapu jagad yang kita semua hafal adalah digabungkannya 2 kebaikan ini yaitu kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat.

Jadi bagaimana mengatur komposisi investasi kita agar bisa memperoleh 2 kebaikan tersebut di atas? Silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang Prinsip 1/3 Dalam Pengelolaan Harta, kalau prinsip ini bisa kita terapkan ? maka insya Allah kebaikan hidup di dunia dan di akhirat akan bisa kita peroleh secara bersama.

Bagaimana prakteknya? Selain hasil investasinya yang sebagian kita shadaqah-kan ? investasi kita haruslah di jalan yang dibenarkan secarasyariah. Kita dapat  investasikan harta kita untuk proyek-proyek yang memberi kemaslahatan ummat secara luas, antara lain bisa dalam beberapa contoh berikut :

  • Semilyar lebih manusia di dunia saat ini kelaparan, maka investasi untuk menghasilkan/meningkatkan produksi pangan dunia ? insya Allahbila dengan niat yang lurus akan dapat bernilai ?memberi makan? umat manusia secara luas. Contoh konkrit: menanam ketela ungguluntuk bahan MOCAF (modified cassava flour) ? produk ini insya Allah kelak akan menggantikan gandum yang berusaha memonopoli makanan dunia – padahal di negeri ini gandum ini tidak tumbuh.
  • Generasi kita dan anak-anak kita adalah generasi yang salah minum dan salah makan; orang dewasanya minum minuman kaleng dan minuman botol dengan gula yang buruk bagi kesehatan, makanannya adalah makanan instant kering yang tidak mengandung kadar gizi yang memadai, anak-anaknya sejak bayi minum susu bubuk yang kita tidak tahu persis apa isinya. Maka investasi untuk memperbaikipola makan dan pola minum ini, insya Allah juga akan bernilai ?meninggalkan generasi yang kuat? kedepan.
  • Begitu banyak negeri ini harus mengimpor barang-barang kebutuhan sehari-hari, maka investasi yang dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan penduduk negeri ini insya Allah akan dapat ?memerdekakan? bangsa ini dari penjajahan sesama manusia.
  • Puluhan juta orang menganggur di Indonesia saat ini, sementara banyak sekali peluang usaha ataupun peluang kerja yang tidak tertangani. Maka investasi dalam pendidikan/pelatihan kerja atau pelatihan wiraswasta yang bisa me-link-kan dunia kerja/usaha dengan sumber daya manusia yang ada ? insya Allah akan dapat menyebarkan kemakmuran secara luas.
  • Dan masih banyak lagi peluang investasi yang bisa di?align?kan dengan tujuan hidup kita sesudah mati.

Tentu dalam berbagai investasi tersebut ada risikonya, namun dengan niat lurus insya Allah risiko ini bersifat jangka pendek ? karena niat yang baik-pun sudah mendapatkan pahala satu kebaikan. Meskipun demikian kita juga perlu meminimalisasikan risiko ini, agar bila investasi sektor riil kita gagal ? kita masih tetap bisa menyekolahkan anak, bisa membayar biaya kesehatan hari tua tanpa menjadi beban orang lain dan lain sebagainya ? maka tidak juga salah bila sebagian saja harta kita yang digunakan untuk membangun ketahanan ekonomi dalam bentuk Dinar danDirham.

Jadi mana di antara 3 investasi tersebut yang kita pilih? Kalau saya sih pinginnya bisa memilih semuanya. Rabbana aatinaa fid dunya hasanah wafil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaa bannaar. Amin.

Posted in Financial PlanComments (0)

Prinsip 1/3 Dalam Pengelolaan Harta


Ada sebuah nasihat yang sangat Indah kepada diri saya sendiri yang juga insya Allah bermanfaat bagi pembaca. Nasihat ini saya ambilkan dari kitab Riyadus ?Shalihin yang ditulis oleh orang sholeh zaman dahulu yang terkenal keikhlasannya. Saking ikhlasnya Imam Nawawi, konon kitab asli dari Riyadus Shalihin tersebut tidak bisa dibakar oleh api.
Nasihat ini sendiri berasal dari hadits Rasulullah SAW yang panjang sebagai berikutDariAbu Hurairah RA, dari nabi SAW, beliau bersabda, ? Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan:? Hujanilah kebun Fulan.? (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti kemana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun: ?wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu??, pemilik kebun menjawab: ?Fulan- yaitu nama yang dia dengar di awan tadi?. Pemilik kebun bertanya: ?Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku??. Dia menjawab, ? Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan: Siramlah kebun Fulan ? namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini??. Pemilik kebun menjawab :? Bila kamu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bershadaqah 1/3-nya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya 1/3-nya, dan yang 1/3-nya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya)?(HR. Muslim).

Bayangkan, bila Allah mengirimkan awan khusus untuk menyirami kebun kita. Di kala orang lain kekeringan, lahan kita tetap subur. Di kala usaha lain pada bangkrut usaha kita tetap maju, di kala krisis moneter menghantam negeri ini ? kita tetap survive. Dan ketika usaha kita berjalan baik sementara saudara-saudara kita kesulitan. 1/3 hasil usaha kita untuk mereka ? alangkah indahnya shadaqah ini.

Bagaimana kita bisa memperoleh pertolongan Allah dengan awan khusus tersebut? Kuncinya ya yang di hadits itu:

  1. Kita bersama keluarga kita hanya mengkonsumsi 1/3 dari hasil kerja kita.
  2. Lalu 1/3-nya lagi kita investasikan kembali.
  3. Terakhir 1/3 dishadaqahkan ke sekeliling kita yang membutuhkannya.

Karena janji Allah dan rasulNya pasti benar, maka kalau 3 hal tersebut kita lakukan ? Insya Allah pastilah awan khusus tersebut mendatangi kita. Namun jangan dibayangkan bahwa awan khusus tersebut harus benar-benar berupa awan yang mendatangi kita. Bisa saja awan khusus tersebut berupa teman?teman kita yang jujur yang memudahkan kita dalam berusaha, atasan kita yang adil yang memperjuangkan hak-hak kita, atau karyawan kita yang hati-hati dalam menjaga asset usaha kita, dan berbagai bentuk ?awan khusus? lainnya. Wa Allahu A?lam bishshawab.

Posted in Islamic ViewComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is online
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes