Tag Archive | "pengalaman"

Collective Intelligence Untuk Membangun Pasar


Pasar memiliki kedudukan strategis dalam membangun masyarakat Islam yang utuh; begitu strategisnya masalah ini sehingga Rasulullah SAW sendiri mencontohkan membangun pasar bagi kaum muslimin di Madinah sejak masa-masa awal Hijrah. Kelemahan dalam penguasaan pasar ini pula yang membuat umat Islam kini meskipun besar dari segi jumlah namun tidak memiliki kekuatan strategis dalam perdagangan. Di mall, di pasar modern maupun tradisional, di food court, dlsb, nuansa Islami hanya muncul di bulan Ramadhan khususnya menjelang Lebaran.

Pasar tidak muncul dengan sendirinya, harus ada yang memulai – lebih banyak yang mulai akan lebih berpeluang terbentuk secara lebih cepat. Oleh karena itu saya ingin mengajak para pembaca sekalian untuk secara kolektif memikirkan dan langsung bertindak untuk mulai membangun embrio pasar bagi kaum muslimin ini. Awalnya tidak harus besar dan tidak harus langsung sempurna ? setidaknya kita mulai dengan serius menyiapkan instrumen pokok dalam membangun kemakmuran umat ini.

Untuk pekerjaan besar ini kita bisa belajar dari sekelompok semut yang sedang mengangkat makanan berupa binatang atau lainnya yang beratnya puluhan kali berat semut itu sendiri. Bagaimana semut-semut ini melaksanakan pekerjaan besar tersebut? Siapa yang punya gagasan terus kemudian mengajak yang lain? Dengan bahasa apa mereka berkomunikasi? Bagaimana mereka menyepakati arah kemana makanan dibawa? dst. Mereka dapat melakukan ini karena hewan terkecil sekalipun, bahkan sampai sekelas bakteri-pun oleh Allah diberi kemampuan untuk ?berpikir? maupun ?bertindak? secara bersama-sama dengan kelompoknya. Ilmu manusia modern kemudian menyebut hal ini sebagai Collective Intelligence (CI).

Belajar dari Semut...

Belajar dari Semut...

Bila dengan CI-nya, semut dan bakteri-bakteri yang kecil tidak kasat mata-pun dapat membunuh manusia yang besar ini ? maka dapat kita bayangkan pekerjaan besar apa yang bisa dilakukan oleh sekelompok manusia-manusia yang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi-nya yang pasti memiliki CI yang sangat perkasa ketimbang CI-nya bakteri, semut, dlsb.

Karena potensi pemanfaatan CI yang sangat besar tersebut, maka berbagai pihak kini rame-rame berusaha mengelola CI untuk berbagai tujuan. Linux misalnya menggunakan CI untuk menghasilkan software yang gratis dan sangat bermanfaat. Wikipedia untuk menghasilkan encyclopedia yang juga gratis ? yang encyclopedia semacam ini sebelumnya hanya dibeli oleh kalangan teknokrat yang kaya.

Secara tidak langsung dalam penerapannya yang masih terbatas, Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) juga menggunakan CI ini untuk mengembangkan berbagai project, mulai dari project Kambing Ettawa, JamurComposites, Planet Beku, Masjid ?Gedebog?, Sate Balibul, Kambing Hot Rock dan berbagai project lain yang insya Allah semakin meaningful ke depan.

Bagaimana kami mengelola CI-ini? ya antara lain melalui tulisan-tulisan yang kami lontarkan di web ini kemudian menuai masukan; juga melalui pertemuan-pertemuan fisik yang tidak hanya melibatkan para santri wirausaha tetapi juga pihak-pihak lain yang kami pandang bisa melengkapi CI yang dibutuhkan. Pertemuan ini bisa berupa vision sharing (bila kami baru melontarkan ide)crash test (bila kami telah siap dengan suatu produk) ataupun acara kick-off (bila kami mulai sesuatu).

Nah sekarang kita juga akan menggunakan CI untuk membangun pasar kita tersebut di atas. Rencana membangun pasar ini, sengaja saya lontarkan di tulisan ini karena kita ingin mengumpulkan dan menyaring CI dari puluhan ribu pembaca setia DinarIslam.com ? yang sangat bisa jadi sebagiannya memiliki minat yang sama. Berikut adalah deskripsi ringkas dari project yang kita beri nama Medina Market ini:

Kita tahu bahwa  Jakarta kini sudah semakin padat, kota-kota satelit di seputar Jakarta semakin menjamur yang kemudian dikenal dengan JaBoDeTaBek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Di salah satu wilayah ini, masih di mulut pintu tol-nya ? ada sebuah mall yang memiliki lokasi ideal untuk target Medina Market yang pertama. Mall ini berada di gerbang pusat kegiatan berbagai perumahan yang kini bermunculan di daerah tersebut.

Ada sederet foot court yang masih kosong di mall ini ? menghadap keluar ke alam bebas sehingga mempunyai pemandangan yang indah. Lebih indah lagi bila dikelola dengan berbagai aktifitas outdoors yang sekarang juga semakin marak. Inilah calon target pasar pertama kita, yang dari sekian banyak lokasi nampaknya paling cocok untuk mulai. Lokasinya juga kurang lebih di antara 2 masjid besar bertaraf internasional yang dikelola ustadz-ustadz kondang negeri ini, jadi ideal sekali untuk memulai membangun masyarakat muslim yang utuh.

Collective Intelligence untuk Medina Market

Collective Intelligence untuk Medina Market

Peluangnya adalah bila seluruh counter yang menghadap ke alam bebas tersebut bersama-sama kita kelola, maka nuansanya bisa kita warnai. Dengan banyaknya pedagang sekaligus (lokasi ini hanya untuk makanan atau food court), maka banyak pilihan yang langsung hadir di lokasi ini ? sehingga juga akan segera menjadi daya tarik bagi masyarkat untuk mengunjunginya.

Karena ?mengelola? pasar secara utuh ini jelas belum menjadi kompetensi kita saat ini, maka CI tersebut di ataslah yang kami butuhkan.

1. Coordination akan kami gunakan untuk mengumpulkan para pemodal yang tertarik di project ini. Agar tidak terlalu berisiko bagi para pemodal tersebut, maka lokasi ini cukup kita sewa dahulu sehingga tahun pertama hanya butuh dana mulai dari sekitar 15 Dinar untuk 1 counter. Untuk kategori pemodal ini, kami hanya butuh sekitar 20 orang.

2. Cooperation akan kami gunakan untuk mengelola suppliers dan pihak ketiga yang produk atau jasa-nya kita butuhkan tetapi bukan bagian dari pemodal yang terlibat secara langsung di tipe pertama. Kategori ini antara lain yang kita butuhkan adalah supplier makanan RTC (Ready To Cook) ataupun RTE (Ready To Eat), pengelola Bungi Jumping, Flying Fox dan aktivitas outdoors lainnya yang berpengalaman. Dengan adanya mereka ini, pemodal counter tidak harus mampu memasak masakan yang enak sendiri ? dapat di outsourced ke provider RTC ataupun RTE.

3. Cognition kami perlukan dari para business practitioners untuk mem- ?verifikasi? dan ?fine-tuning? peluang besar yang kami lihat tersebut di atas ? yang sudah barang tentu tantangannya juga besar. Dengan adanya mereka ini, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan kita yang terbatas dalam mengelola pasar dapat disempurnakan dari waktu ke waktu.

Ibarat sekumpulan semut di atas, kita akan mengangkat segumpal bahan makanan yang sangat besar untuk ukuran tubuh kita ? maka dengan CI inilah insya Allah kita akan bisa mengangkat beban tersebut secara bersama-sama. Bila kita bisa benar-benar wujudkan pasar yang satu ini, insya Allah pasar-pasar yang lain bisa kita bangun bersama di berbagai wilayah dan berbagai kota. Pasar yang terjangkau inilah salah satu jalan untuk menuju kemakmuran yang lebih luas bagi umat, jadi harus ada yang memulai. Ayo sekarang kita mulai, siapa mau ikut?

Semoga Allah senantiasa memudahkan kita pada amal yang diridhloiNyaAmin.

NB: Untuk peminat kategori investor, kami berlakukan first come first ? sampai 20 orang pertama kemudian stop ? sama dengan peserta Mudharabah Muqayyadah gelombang I. Bila ada peminat yang lebih dari 20, maka akan dicadangkan untuk lokasi lain yang akan kita bidik kemudian. Peminat bisa menghubungi kami di menu “Contact” dari situs ini.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Setelah Masjid Dari Pelepah Kurma & Tatal, Insya Allah Akan Ada Masjid Dari Gedebog Pisang


Masjidnya Rasulullah SAW dahulu pertama kalinya dibangun dari pohon dan pelepah kurma. Kemudian para Wali ? penyebar agama Islam di negeri ini, konon membuat tiang Masjid Demak dengan tatal atau serbuk kayu. Maka kini umat yang berusaha mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para Wali tersebut, berniat untuk membangun Masjid dari bahan yang tersedia melimpah dan dengan teknologi yang tersedia pada zamannya… Masjid dari Gedebog Pisang dengan teknologi composites.

Mesjid yang akan kita juluki dengan nickname Masjid ?Gedebog? namun nama resminya Masjid Daarul Muttaqqiin ini insya Allah akan segera dimulai pembangunannya. Masjid ini akan berada di lingkungan Pesantren Wirausaha Daarul MuttaqiinJonggol Farm, Jonggol, Bogor ? Jawa Barat, sekitar 26 km ke arah tenggara dari Jakarta.

Sebagaimana fungsi masjid pada umumnya yaitu tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT semata; termasuk namun tidak terbatas pada aktifitas shalat, mengaji, i’tikaf, menuntut ilmu, dlsb, Masjid ?Gedebog? ini juga kami visikan sebagai sumber inspirasi dalam membangun kemakmuran umat.

Dasarnya adalah mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dalam hadits yang Diriwayatkan oleh Annas RA., ?Beberapa  barang  datang kepada Rasulullah dari Bahrain.  Rasulullah memerintahkan  kepada para sahabat untuk membagikannya di masjid, dan barang itu  merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima Rasulullah SAW. Ia meninggalkannya  untuk  shalat  tanpa menengoknya sama sekali. Setelah usai shalat, Nabi duduk  di depan barang-barang tersebut dan membagikannya kepada siapa saja yang ia lihat. Al Abbas datang kepada beliau dan berkata, ?Wahai Rasulullah berikan padaku sebagian barang-barang itu, karena saya perlu memiliki bekal untuk saya dan Aqil.? Rasulullah lalu meminta ia untuk meng- ambilnya sendiri…?. (HR. Bukhari)

masjid-gedebog-pisang2Visi kemakmuran dunia dan akhirat sebagaimana tertuang dalam do?a yang paling mashur ?Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ?adzabannar? ini kemudian kami artikulasikan dalam langkah-langkah konkrit sebagai berikut:

  • Pembangunan Masjid ?Gedebog? ini akan melibatkan aktifitas ekonomi dari ribuan atau bahkan puluhan ribu masyarakat langsung maupun tidak langsung. Yang langsung adalah aktifitas para ahli, pekerja, supplier, konsultan, kontraktor dan sub kontraktor;  sedangkan yang tidak langsung adalah para petani yang mengumpulkan gedebog kemudian mengolahnya menjadi anyaman atau tali, para pengumpulnya, jasa transportasinya, dst.
  • Pengalaman membangun masjid dengan teknologi material composites ini akan menjadi pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan kolektif masyarakat yang terlibat di dalamnya. Dengan ketrampilan tersebut, insya Allah secara bersama-sama kita bisa menggarap pasar yang lebih luas ? yaitu industri konstruksi secara umum, tidak hanya masjid ? tetapi sesudah ini rumah-rumah, gedung-gedung dan bahkan kapal-kapal yang dibutuhkan sangat banyak untuk negeri kepulauan inipun bisa kita bangun sendiri dengan teknologi composites yang sama.
  • Para jamaah dan peziarah yang akan mengunjungi masjid ini insya Allah kelak akan selalu terstimulasi pikiran dan kreatifitasnya, bahwa dari bahan gedebog yang selama ini dipandang tidak berguna, dengan izin Allah bisa dibangun bangunan yang kokoh ? tempat mengagungkan namaNya.  Insya Allah generasi masyarakat yang kreatif mensyukuri nikmat Allah, mengolah dan memakmurkan bumi akan benar-benar  lahir. Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud [11]: 61).
  • Setelah masjid ini jadi nantinya; berbagai program untuk memakmurkannya telah menanti. Sekolah Tahfidz Al-Quran sejak usia dini, pesantren wirausaha kelas reguler dan eksekutif, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Pusat Pemberdayaan Umat, dlsb adalah beberapa program untuk kemakmuran masjid yang telah hampir tuntas kami susun.
  • Lokasi Masjid yang berada di pusat kegiatan Jonggol Farm yang di dalamnya sudah mulai berjalan embrio industri kambing susu dan kambing pedaging, industri susu kambing dan produk-produk turunannya, industri jamur dan pengolahan produk jamur, industri pengolahan buah dan hasil pertanian, dlsb insya Allah akan mendekatkan program pemakmuran umat ini dengan realitas ekonomi modern.
  • Masjid yang dibangun dari Gedebog Pisang yang merupakan salah satu tanaman surga ini insya Allah juga akan membawa nuansa tidak terputusnya urusan dunia kita dengan urusan akhirat, surga menjadi nampak begitu dekat setiap kali kita memandangi dan mengolah pohon-pohon pisang ini – semoga dengan pohon pisang yang kita olah menjadi rumahNya ini, kelak di akhirat kita benar-benar diizinkanNya untuk sampai kesana ?…berada di antara  pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…?. (QS. Al-Waqi?ah [56]: 28-30)

masjid-gedebog-pisang3Bagaimana Anda dapat terlibat dalam program ini? Sebagai individu Anda dapat membantu kami dengan dana, sumber daya, material, pemikiran dan minimal do?a. Bila Anda bekerja di perusahaan-perusahaan atau institusi-institusi yang memiliki program Corporate Social Responsibility, Anda dapat menjadi penghubung kami agar person in charge untuk CSR di korporasi atau institusi Anda setidaknya aware atas apa yang sedang kami usahakan ? dan siapa tahu, apa yang kami lakukan in line dengan yang mereka pikirkan sehingga kita bisa bersinergi.

Penjelasan lebih detil dari Masjid ?Gedebog? Daarul Muttaqiin ini tersedia dalam bentuk file PDF yang dapat Anda unduh dengan klik disini. Bila diperlukan penjelasan lebih detil atau bahkan presentasi khusus, insya Allah dengan senang hati kami akan dapat lakukan.

Bila kelak masjid ini selesai terbangun, insya Allah ini akan menjadi pencapaian maksimal dari upaya hamba-hamba Allah yang lemah ini dalam memahami dan mensyukuri nikmatNya, mencerna sebagian kecil dari ilmu yang diberikan olehNya, menerapkan teknologi yang telah dimudahkanNya dan memadukan serta menggalang kekuatan umat yang telah digerakkan hatinya oleh Dia yang menguasai hati.

LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH…

Posted in Islamic ViewComments (0)

Empathy dan La Défense a la Indonesia


Empathy berasal dari bahasa Yunani Empatheia yang artinya secara ringkas adalah kemampuan untuk dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain ? secara emosi, pengalaman maupun perasaan. Bulan puasa sebenarnya adalah bulan yang tepat bagi kita semua untuk melatih diri kita masing-masing, agar kita mampu ber-empathy terhadap apa yang dialami orang-orang lain yang tidak seberuntung kita-kita yang terbiasa mengakses internet ini.

Bagi kita lapar hanya siang hari, itupun kebanyakan hanya selama sebulan Ramadhan ini. Di negeri yang rata-rata penduduknya masih di bawah garis kemiskinan menurut standar Islam yaitu di bawah Nishab Zakat ini, berjuta-juta orang bisa jadi lapar dalam kondisi kesehariannya, siang dan malam sepanjang tahun. Kebanyakan kita tidak bisa ikut merasakan apa yang mereka alami secara perasaan dan emosi karena kita belum mampu melatih empathy kita terhadap mereka.

Segelintir orang-orang hebat di sekitar kita, mampu ber-empathy ini secara penuh ? bahkan ketika mereka sering menangis pun bukan karena merasa kesedihan untuk dirinya sendiri; mereka menangis karena merasakan penderitaan orang-orang yang diurusnya. Mereka bukan pejabat yang kita pilih karena janji-janjinya untuk mensejahterakan rakyat, mereka tergerak untuk berbuat karena dorongan empathy tadi.

Kalau saja yang kita pilih sebagai para wakil kita, para pimpinan daerah sampai presiden adalah orang-orang yang mampu ber-empathy seperti suami istri yang saya ceritakan dalam tulisan “Belajar dari Orang Hebat Di Sekitar kita“, maka besar kemungkinan rakyat ini tidak ada lagi yang sampai harus kelaparan sepanjang tahun.

Mungkin karena salah kita sendiri, memilih orang-orang yang tidak mampu ber-empathy terhadap penderitaan rakyat sehingga baik wakil kita maupun pemimpin-pemimpin kita ? nampaknya memang tidak peduli dengan kita – rakyatnya. Ketika rakyat rame-rame menolak wakil kita membuat gedung baru misalnya, pagi ini untuk pertama kalinya saya lihat rancangan bangunan yang mulai disosialisasikan.

Entah ide siapa ini, tetapi sepintas nampaknya DPR kita ingin berkantor di kantor yang mirip dengan bangunan La Défense ? Paris, dikala rakyatnya masih banyak yang kelaparan. Lihat perbandingan design gedung baru DPR-RI dengan La Défense di atas ? mirip bukan? Mungkinkah ini oleh-oleh dari salah satu studi banding mereka?

empathyTetapi tidak ada gunanya juga kita menyesali pilihan kita terhadap wakil-wakil kita di DPR maupun pimpinan pemerintahan di daerah sampai pusat. Sebagai pribadi, sebagai karyawan swasta, sebagai pimpinan di perusahaan ? kita semua insya Allah masih bisa mengasah empathy kita untuk peka terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar ? antara lain melalui puasa Ramadhan ini..

Bila empathy ini tumbuh secara menjamur di masyarakat, maka insya Allah segala beban penderitaan bangsa ini akan bisa diatasi. Bila empathy tumbuh di masyarakat pula, maka insya Allah di tahun 2014 kelak ketika kita memilih wakil kita kembali dan juga pimpinan-pimpinan negeri ini ? kita bisa mendapatkan orang-orang yang tumbuh juga kemampuan nya untuk ber-empathy terhadap kita yang diwakili atau dipimpinnya.

Cukuplah uswatun hasanah kita Rasulullah SAW sebagai suri tauladan, kemampuan beliau ber-empathy terhadap umatnya sampai diceritakan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur?an: ?Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.? (QS. At-Taubah [9]: 128)

Posted in Islamic ViewComments (0)

7 “I” Untuk Para (Calon) Entrepreneur


Mengikuti anjuran Rasulullah SAW melalui hadits yang berbunyi: ?Kalimat hikmah (perkataan yang baik/bijaksana) adalah senjatanya orang mukmin, dimanapun ia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya? (HR. At-Tirmidzi/Ibnu Majjah), maka kali ini kita mengambil pelajaran dari kiat sukses salah seorang pengusaha keturunan yang terkenal di Indonesia.  Setelah saya selaraskan dengan nilai-nilai Islam, maka kiat sukses ini saya sajikan dalam 7 “I” berikut:

1. Informasi

Ayat pertama di Al-Qur?an yang turun ke Rasulullah SAW adalah Iqra?...(bacalah…), ini untuk menggambarkan betapa pentingnya membaca atau menangkap informasi ini. Membaca apa yang tersurat seperti yang ada di Al-Qur?an ataupun membaca apa yang tersirat di alam sekitar kita.

Hasil dari ?bacaan? tersebut terkumpullah informasi di otak kita yang kemudian sebagian bisa menjadi peluang untuk berusaha. Bila Anda tahu misalnya masyarakat sekitar Anda membutuhkan sesuatu, dan Anda-pun tahu bagaimana atau dimana sesuatu tersebut bisa diperoleh ? maka Anda sudah bisa jadi pengusaha dalam pemenuhan sesuatu kebutuhan tersebut.

Beberapa dekade lalu contohnya ada pengusaha di Indonesia yang menangkap informasi bahwa masyarakat perlu cara minum yang mudah, maka mulailah dia membotolkan air yang terus kemudian berkembang menjadi air dalam kemasan gelas plastik, dalam galon, dlsb. Tanpa kita sadari inilah hasil informasi yang diolah oleh pengusaha tersebut sehingga kita begitu mudah menyajikan minum untuk tamu kita misalnya. Seandainya produk air dalam kemasan ini belum ada, maka mungkin kita masih harus merebus air setiap saat ada tamu di rumah!

2. Intelligence

Intelligence adalah kemampuan untuk menangkap dan mempelajari fakta kemudian trampil pula mengolahnya. Informasi yang sama berseliweran di depan kita semua, namun sebagian kita bisa menangkap kemudian mengolahnya menjadi suatu usaha ? sebagian yang lain tidak menangkap apa-apa, faktor intelligence inilah yang sangat berperan dalam hal ini.

Karena berupa ketrampilan atau skills otak, maka intelligence ini bisa diasah atau dilatih. Bila diasah untuk ketrampilan mengolah peluang usaha misalnya, maka pemilik intelligence ini akan memiliki apa yang disebut business acumen yaitu kemampuan untuk secara cepat memahami situasi kemudian cepat pula mengambil keputusan bisnisnya.

Bagaimana melatihnya? Sesi-sesi idea brainstorming seperti yang kami adakan di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin adalah salah satu contohnya.

3. Intuisi

Kadang sebuah informasi tidak begitu jelas, antara ada dan tiada. Namun bagi entrepreneur yang berbakat dan berketrampilan, dia sudah bisa mengambil keputusan berdasarkan intuisi-nya.

Intuisi adalah pengetahuan atau kepercayaan tentang sesuatu berdasarkan insting, tanpa harus membuktikan bahwa sesuatu itu ada beneran atau tidak. Intuisi tentang suatu bidang usaha ? lagi-lagi bisa diasah dengan pengalaman dan praktek di lapangan.

4. Ilham

Setiap kita sebenarnya telah diberi ilham untuk mampu membedakan sesuatu itu buruk atau baik ?fa alhamahaa fujuu ra haa wa takwahaa? (QS. Asy-Syams [91]: 8), jadi tanpa bertanya ke siapapun sebenarnya hati kecil kita bisa berfatwa untuk diri kita sendiri apakah suatu jalan itu akan membawa kepada suatu kebajikan/ketakwaan atau membawa keburukan.

Hanya saja lagi-lagi bila hati ini tidak dilatih untuk menggunakan ilham tersebut, maka hati ini akan mati ? tidak mampu  lagi membedakan mana suatu kejahatan dan mana suatu kebajikan.

Seorang muslim yang bekerja/berusaha dalam lingkungan ribawi misalnya, awalnya hati kecil menolak, gelisah, dlsb. Namun karena tidak ditinggalkannya pekerjaan/usaha tersebut lama kelamaan hatinya tidak bekerja lagi ? dia enjoy saja di lingkungan ribawi tersebut.

5. Inisiasi

Setelah kita menangkap peluang, mengolahnya dengan cerdas, intuisi kita mengatakan ini peluang yang baik dan hati kecil kita pun comfortable dengan ide tersebut ? maka ini belum apa-apa dan tidak akan menjadi apa-apa sebelum pekerjaan mengolah peluang tersebut benar-benar diinisiasi atau dimulai.

Inilah yang paling berat, banyak orang pinter dengan berjuta ide ?man of ideas? tetapi tidak menjadikan satupun ide-nya diterapkan. Di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi tersedia ratusan ribu atau bahkan jutaan thesis-thesis dari S1 sampai S3, namun hanya sebagian sangat kecil saja dari pemikiran-pemikiran cemerlang tersebut ter-inisiasi-kan dalam sesuatu yang riil.

Tidak ada cara lain untuk melawan ketakutan terhadap sesuatu selain menghadapinya, maka inisiasi inilah cara kita untuk melawan ketakutan akan gagal dalam mengimplementasikan rencana, dalam membangun usaha dan seterusnya.

6. Istiqamah

Setelah kita mulai mengimplementasikan rencana-rencana usaha kita, berbagai masalah akan bermunculan. Peluang itu berkorelasi langsung dengan risiko, artinya di setiap risiko yang kita hadapi ? ada peluang bagi kita bila kita berhasil mengatasi risiko tersebut.

masjid-pasca-tsunami

Bila Allah berkehendak...

Yang diperlukan adalah sikap istiqamah dalam implementasi usaha, yaitu kemampuan kita untuk secara tekun dan terus menerus mengatasi masalah-masalah yang muncul dari rencana yang diimplementasikan dan tidak lari dari masalah atau kesulitan, ?maka sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan? (QS. Al-Inshirah [94]: 5-6).

Lebih dari itu bila usaha yang kita implementasikan adalah dalam rangka ketaatan kita kepada Sang Pencipta, misalnya diniatkan untuk menciptakan lapangan kerja yang banyak, diniatkan untuk memberi makan di hari kelaparan, maka insya Allah Allah akan menurunkan malaikatnya membantu kelancaran usaha kita.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Al-Fushshilat [41]: 30)

7. Insya Allah

Sebagai orang beriman, kita yakin betul bahwa segala sesuatu hanya terjadi bila Allah menghendakinya terjadi. Sebaliknya, sekeras apapun kita mengusahakannya bila Allah tidak menghendaki sesuatu itu terjadi ? maka pasti tidak akan terjadi. Maka tidak ada yang bisa kita sombongkan dari segala upaya ini, karena hanya Dia-lah yang menetukan keberhasilan atau kegagalannya, yang kita bisa lakukan adalah sekedar berusaha.

Lantas bagaimana kita menyikapi dengan I yang ke-7 ini  untuk menunjang keberhasilan kita? Kiat-nya adalah menyelaraskan usaha kita dengan kehendak Allah; karena yang Dia kehendaki pasti terjadi ? maka bila kita bisa menangkap kehendakNya di alam ini, itulah peluang sukses terbesar kita.

Lantas bagaimana kita bisa menangkap kehendak Allah ini? Kembali ke I yang pertama ? yaitu informasi atau membaca apa yang tersurat (di Al-Qur?an) dan yang tersirat di alam. Insya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Blue Ocean Mindset, Bukan Bersaing Tetapi Berlomba Dalam Kebajikan


5 tahun lalu Harvard Business School Press menerbitkan buku yang legendaris bagi dunia usaha dengan judul Blue Ocean Strategy dan sub judul How To Create Uncontested Market Space and Make the Competition Irrelevant. Buku ini ditulis oleh Chan Kim dan Renee Mauborgne yang keduanya adalah professor di INSEAD.

Inti dari isi buku ini adalah strategi bagi para pelaku usaha untuk bisa keluar dari medan persaingan yang tidak sehat ? yang digambarkan sebagai red ocean karena berdarah-darahnya pertempuran di pasar ? menuju pasar yang boleh dikatakan tanpa pesaing yang digambarkan sebagai blue ocean ? karena tidak adanya setetes-pun darah yang tercecer.

Selain menginspirasi para pelaku dunia usaha; buku ini sebenarnya bisa juga memberi inspirasi bagi  para aktifis gerakan sosial, keagamaan dan bahkan pada para ustad dan juru dakwah.

Dulu ada Da?i kondang yang sering memberikan pencerahan kita untuk meninggalkan persaingan yang tidak sehat. Dengan arif Da?i tersebut menceritakan betapa naifnya persaingan antara tukang ojek dengan tukang ojek, tukang cukur dengan tukang cukur, bahkan Da?i-pun katanya bersaing dengan Da?i lainnya.

Nasihat Da?i ini esensinya sama dengan isi buku tersebut di atas; bila kita jumud pada segmen kita, menganggap orang lain yang juga menggarap segmen ini adalah pesaing yang harus diserang ? maka kita akan berdarah-darah kehabisan tenaga, sementara kita sendiri akan kehabisan sumber daya kreatif kita untuk melihat adanya segmen lain yang perlu penggarapan.

Dengan wawasan tersebut di ataslah maka kami tidak pernah merasa bersaing dengan penggerak Dinar lainnya; meskipun ada yang mungkin menganggap kami sebagai pesaing dan ofensif terhadap apa yang kami lakukan ? kami tidak merasa perlu untuk membalasnya, karena ini hanya akan mengurangi kemampuan kreatif kita.

Belajar bersama di Pesantren Wirausaha

Belajar bersama di Pesantren Wirausaha

Medan amal Islami ini terlalu luas untuk kita, sehingga kita tidak harus tetap berada di red ocean; begitu banyak blue ocean di luar sana yang bisa menjadi lapangan kita untuk berbuat kreatif dan beramal secara maksimal. Bahwasanya orang lain melakukan hal yang sama, kami anggap dia bukanlah pesaing ? mereka adalah sparring partners kita untuk bisa berlomba-lomba dalam kebajikan atau fastabiqul khairat.

Bahkan kini istilah blue ocean yang menyegarkan sebagai lawan kata red ocean yang panas berdarah-darah, seolah terwujud secara lahiriah di project Pesantren Wirausaha yang kami cetuskan sejak beberapa bulan lalu. Bila Anda berkunjung kesana, Anda akan menemukan saudara-saudara Anda yang dengan tulus ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman di berbagai bidang usaha mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan dan berbagai bidang lainnya; tidak ada yang menganggap Anda pesaing atau calon pesaing.

Semua adalah saudara yang masing-masing menjadi sparring partners bagi yang lain untuk fastabiqul khairat. Dengan Blue Ocean Mindset ini, dunia terasa sejuk bagi kita sesejuk komplek Pesantren kita di atas. Semoga sparring partners kita dapat merasakan kesejukan yang sama. Wa Allahu A?lam.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes