Tag Archive | "pemimpin"
Posted on 16 August 2010. Tags: Allah, amal nyata, amal shalih, anak sekolah, belajar, belajar efektif, biaya pendidikan, ceramah, duduk di kelas, duduk di majelis, gratis, Jakarta Timur, jenazah, kampanye, keikhlasan, makan siang, mantan pilot, manula, membaca buku, mengaji, Orang Hebat, orang miskin, orang tua renta, pejabat publik, pemimpin, pendidikan luar sekolah, politikus, praktek langsung, project amal, seragam, SMA, SMP, suami istri, teknologi, ustadz
Sering kita mendengar ceramah dari ustadz-ustadz kondang di televisi, tetapi tidak menggerakkan kita untuk beramal. Demikian pula banyak pejabat tinggi negeri ini, para politikus, pimpinan-pimpinan daerah berorasi berapi-api (terutama saat kampanye!) tetapi lagi-lagi tidak menggerakkan amal perbuatan yang berarti. Mengapa demikian? Bisa jadi karena apa yang mereka sampaikan tidak keluar dari hati, atau tidak berdasarkan amal nyata yang mereka contohkan.
Sebaliknya ada orang-orang tertentu, mereka bukan ustadz dan bukan pula pejabat. Mereka tidak pula pernah menyuruh kita berbuat ini itu ? tetapi justru dari apa yang mereka perbuat ? kita tergerak untuk beramal shalih mengikuti jejaknya. Bagi saya inilah orang-orang hebat itu, dengan izin Allah mampu menggerakkan orang lain untuk berbuat sesuatu yang positif secara maksimal. Mereka inilah guru-guru dari kategori orang-orang hebat yang digerakkan Allah langsung untuk mengajari kita beramal.
Alhamdulillah saya ketemu orang-orang seperti ini dengan profile yang di luar bayangan kebanyakan orang. Ada suami istri di bilangan Jakarta Timur yang menurut saya luar biasa. Sang suami mantan pilot berusia di atas 70 tahunan; sang istri nampak jauh lebih muda meskipun usianya juga sudah 60-an. Yang membuat mereka luar biasa adalah apa yang mereka lakukan.
Sekitar 20 tahun lalu, mereka mulai menangis tergerak hatinya melihat kemiskinan yang ada di sekitarnya. Melihat anak-anak usia sekolah yang orang tuanya tidak mampu membayar iurannya sehingga tidak bisa sekolah. Melihat orang-orang tua renta ? miskin di sekitarnya yang tidak ada yang mengurus.
Maka mulailah suami istri ini mendirikan pendidikan luar sekolah untuk anak-anak tersebut yang sepenuhnya GRATIS, termasuk seragam dan makan siangnya. Juga mulai menyantuni satu demi satu para manula yang terlantar di sekitarnya.
Kini 20 tahun kemudian, ada sekitar 500-an orang setingkat SMP dan SMA yang sekolah GRATIS di tempat ini lengkap dengan segala sesuatu yang dibutuhkan para siswa seperti buku-buku, seragam dan makan siangnya setiap hari sekolah!
Untuk orang lanjut usia yang kini dalam daftar santunan suami istri hebat ini telah mencapai 100 orang. Setiap ketemu ibu ini, saya sering sekali melihat dia menangis ? bukan menangisi dirinya sendiri dan bukan pula oleh beban berat yang ditanggungnya ? tetapi menangisi penderitaan orang-orang yang disantuni ini.
Setiap kali beliau memandikan jenazah orang-orang yang disantuni ini ? (karena yang disantuni adalah lanjut usia, berhentinya santunan ya ketika mereka satu per satu meninggal dunia), datang pula sekian banyak manula lain yang mendaftar untuk disantuni.
Lantas dari mana sumber dana suami istri ini untuk membiayai seluruh pendidikan 500-an siswa siswi dan 100-an manula ini? Sedangkan keduanya tidak bekerja lagi dalam arti mencari nafkah kayak kita-kita? Jawaban yang mereka selalu sampaikan bila ada yang menanyakan hal ini adalah semata dari Allah. Mereka tidak pernah minta sumbangan kemanapun, tetapi Allah-lah yang menggerakkan orang-orang lain untuk datang dan menyumbang biaya pendidikan anak-anak tidak mampu tersebut dan santunan para manula.
Bahkan untuk tulisan inipun saya tidak sebutkan nama yayasan dan lokasi tepatnya agar tidak mengurangi keikhlasan suami istri tersebut, namun bila diantara Anda pembaca ada yang tergerak untuk membantu perjuangan suami istri hebat ini ? silahkan hubungi kami, nanti akan diberikan alamat jelas dan nama yayasannya untuk Anda sampaikan langsung kepada mereka.
Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari perjuangan suami istri ini?
1) Kita bisa mengikuti jejak beliau-beliau ini dengan mendukung langsung apa yang mereka lakukan. Dukungan ini yang paling bermanfaat adalah berupa dana karena akan selalu dibutuhkan; tetapi terkadang juga tenaga. Pagi ini ketika saya bertemu lagi keluarga ini, mereka lagi sangat membutuhkan ahli bordir yang mau menyumbangkan ilmunya untuk melatih para siswa siswi yang dibina suami istri ini untuk bisa mandiri. Pasalnya ada yang menyumbang sejumlah mesin bordir yang sangat bermanfaat, namun belum diperoleh siapa yang mengajari penggunaannya.
2) Bagaimana kita bisa rame-rame copy-paste apa-apa yang dilakukan suami istri ini, bukan hanya untuk Jakarta Timur tetapi juga untuk berbagai daerah lain. Anak-anak miskin yang tidak bisa sekolah dan orang-orang usia lanjut yang tidak ada yang urus bukan hanya monopoli Jakarta Timur, problem sejenis merata ke hampir seluruh nusantara.
Suami istri ini dengan senang hati, bila diantara kita ada yang mau magang ? belajar langsung dari mereka ini bagaimana mengelola ?project amal? semacam ini. Nampaknya memang tidak mudah, tetapi beliau-beliau ini sudah membuktikan bahwa ini bisa dilakukan. Bahkan menurut beliau, kita-kita harus bisa melakukannya dengan lebih baik karena kita lebih muda, menguasai teknologi, memiliki jaringan dan lain sebagainya yang mereka tidak memiliki-nya ketika 20 tahun lalu memulai.
Terkadang belajar yang baik tidak harus duduk di kelas dan membaca buku, mengaji yang baik tidak harus duduk di majelis dan mendengarkan ceramah ? terkadang kita bisa belajar lebih efektif dengan mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh para pelaku langsung seperti pasangan suami istri di atas.
Semoga Allah memudahkan kita semua pada Amal Shalih yang diridloi-Nya. Amin.
Posted in Islamic View
Posted on 22 July 2010. Tags: 20 Dinar, beban hidup, BPS, Dinar, grafik, Indonesia, Islam, jalan mendaki, kemakmuran, lapangan pekerjaan, miskin, nishab zakat, PDB per Kapita, pemimpin, pengentasan kemiskinan, perusahaan mapan, Produk Domestik Bruto, rakyat, Republika, Rupiah, statistik, surat Al-Balad, usaha, zakat
Harian Republika edisi kemarin Rabu 21 Juli 2010 memuat data statistik yang sepintas menggembirakan, yaitu statistik Produk Domestik Bruto Per Kapita dalam 10 tahun terakhir yang naik hampir 4 kalinya. Statistik yang diambil dari BPS ini menunjukkan bahwa pada tahun 2000 PDB Per Kapita kita hanya Rp 6,751,000, akhir tahun lalu (2009) angka ini telah mencapai Rp 24,261,000.
Bertambah makmur kah rata-rata rakyat Indonesia selama 10 tahun terakhir ini? Di sinilah masalahnya. Bila kita melihat angka dalam Rupiah tersebut di atas yang kemudian saya sajikan ulang secara grafik di bawah, seharusnya kita telah jauh bertambah makmur selama 10 tahun terakhir.

PDB Per Kapita dalam Rupiah
Tetapi kenyataan yang dirasakan oleh mayoritas rakyat mungkin berbeda dengan grafik tersebut. Perasaan hidup terasa tambah berat karena barang-barang kebutuhan yang semakin mahal ? sangat bisa dipahami karena mungkin memang itulah yang terjadi di lapangan.
Untuk dapat melihat realita ini secara akurat, lagi-lagi Islam punya tools-nya yaitu Nishab Zakat. Orang yang penghasilannya melebihi Nishab Zakat dianggap mampu dan dia harus bayar zakat. Sebaliknya, yang penghasilannya di bawah Nishab Zakat dia berhak untuk menerima uang zakat. Nishab Zakat ini dinyatakan dalam Dinar yaitu 20 Dinar.
Bila PDB Per Kapita kita anggap merepresentasikan penghasilan penduduk Indonesia rata-rata; maka ketika grafik di atas saya konversikan dengan Dinar hasilnya akan seperti pada grafik di bawah.

PDB Per Kapita dalam Dinar
Selama 10 tahun terakhir, hanya 2 tahun dimana PDB Per Kapita kita mampu melampaui Nishab Zakat yaitu tahun 2001 (20.35 Dinar) dan 2002 (21.20 Dinar). Tahun-tahun berikutnya cenderung menurun dan terendah tahun 2009 yang tinggal 16.55 Dinar. Apa maknanya PDB Per Kapita yang di bawah Nishab Zakat ini? Artinya rata-rata penduduk negeri ini berhak menerima zakat dan belum wajib zakat.
Maknanya adalah rata-rata penduduk negeri ini masih tergolong miskin menurut standar Islam, dengan timbangan yang kita yakini akurat sepanjang zaman yaitu Nishab Zakat yang 20 Dinar tersebut.
Namun realita ini tidak perlu membuat kita bersedih atau berkecil hati karena kemiskinan tidak teratasi dengan hanya bersedih, bahkan akan bertambah parah bila kita berkecil hati. Yang kita perlukan adalah setelah sadar akan realita ini adalah apa yang bisa kita perbuat untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.
Inilah peluang itu, kini terbuka peluang lebar bagi kita untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar untuk bisa berbuat sesuatu dalam ikut memerangi kemiskinan. Membangun usaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya tentu tidak mudah, lebih mudah bekerja di perusahaan atau instansi yang mapan ? dengan berbagai fasilitasnya.
Namun kalau mayoritas kita berpikiran demikian lantas tugas siapa untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya ini? Tugas pemerintahkah? Para pemimpin negeri ini tentu akan ditanya nanti atas kepemimpinannya, namun kita sebagai individu juga akan tetap ditanya atas apa yang kita lakukan.
Ayat-ayat di bawah bukan hanya ditujukan untuk para pemimpin negeri ini, tetapi untuk kita semua. Punya jawabankah kita bila waktunya kelak kita ditanya akan hal ini?
?????????????? ????????????? (???) ????? ????????? ??????????? (???) ????? ?????????? ??? ??????????? (???) ????? ???????? (???) ???? ??????????? ??? ??????? ??? ??????????? (?(??
?Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan,? (QS. Al-Balad (90): 10-14)
Posted in Islamic View
Posted on 02 July 2010. Tags: Abu Bakar Siddiq, Al-Qur'an, amar ma'ruf, Amr bin Al-'As, Anthokia, berbuat adil, berbuat kerusakan, budaya suap, demokrasi, dhalim, Do's & Don'ts, dosa, Hadits, Heraklius, jaman edan, kemenangan, Khalifah, khamr, korupsi, melanggar janji, menabur kebencian, nahi munkar, pasukan Muslimin, pasukan Romawi, pemimpin, perang, puasa, riba, shalat malam, suka marah, surat Al-Baqarah, Tips, usaha & karir, zaman gila, zina
Dampak dari hidup di alam ?demokrasi? khususnya dalam dasawarsa terakhir ? ternyata tidak semuanya baik bagi keyakinan kita. Pikiran kita ? termasuk pikiran para pemimpin umat yang tadinya kita sangat hormati - bisa terbawa arus karena berpikir bahwa banyaknya pengikut-lah yang akan membawa kemenangan.
Bayangkan kalau sekarang semua orang berpikir yang banyaklah yang memang; maka tidak akan ada lagi golongan sedikit umat yang dengan keyakinannya berpegang teguh pada prinsip-prinsip perjuangannya di bidang apapun. Yang di politik, meninggalkan cita-cita awalnya karena berpikir dengan itu mereka tidak akan menang ? karena tidak akan berhasil memperoleh suara yang banyak.
Dalam ekonomi akhirnya mengikuti prinsip ?jaman edan ? sopo sing ora edan ora kumanan? (zaman gila ? siapa yang tidak gila tidak kebagian). Riba ditabrak, korupsi – suap menjadi budaya, semua karena orang mengikuti kebiasaan golongan yang banyak. Bila golongan yang banyak melakukan suap dan korupsi untuk untuk memenangkan project atau memajukan usahanya ? maka seolah hanya ini jalan kemenangan itu.
Tetapi alhamdulillah kita masih punya Al-Qur?an dan Al Hadits yang bila kita berpegang pada keduanya kita tidak akan tersesat ? bahkan tidak akan bisa disesatkan oleh golongan yang banyak sekalipun. Ketika Panglima perang Islam Amr bin al-?As memberi tahu Khalifah Abu Bakar Siddiq mengenai banyaknya jumlah tentara Romawi yang harus dihadapinya, Abu Bakar menjawab, ?Kalian orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kalian dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh jikalau kalian terlibat di dalam dosa-dosa.?
Al-Qur?an yang dibaca oleh Abu Bakar, tentu masih sama dengan Al-Qur?an yang kini kita baca. Ketika keyakinan atas kebenaran ayat ??Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah (2): 249), diterapkan oleh Abu Bakar dan mampu membawa kemenangan pada tentara Islam ? maka keyakinan terhadap Al?Qur?an yang sama tersebut juga insya Allah bisa membawa kita yang hidup di zaman ini untuk menang di segala bidang. Hanya perbuatan dosa yang bisa membuat umat ini kalah ? walaupun jumlahnya banyak!
Penyebab kemenangan Islam di masa lalu, bahkan juga terungkap dari pengakuan musuh. Ketika Heraklius tiba di Anthokia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, ?Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan. Bukankah mereka manusia seperti kalian??; Mereka menjawab, ?Ya!?; ?Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataukah mereka?? ?Kamilah yang lebih banyak jumlahnya di manapun kami saling berhadapan.? ?Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?? Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, ?Karena mereka biasa shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran, dan saling berbuat adil di antara sesamanya. Sementara kami suka minum arak, berzinah, melakukan hal-hal terlarang, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena, menyuruh kepada kebencian, dan berbuat kerusakan di bumi.?
Jadi belajar dari kemenangan umat ini di masa lampau; kini kita punya tips untuk meraih kemenangan ? dalam bidang apapun, termasuk untuk usaha dan karir ? meskipun kita dari golongan yang sedikit. Tips itu saya ringkaskan dalam bentuk ?Do?s? yaitu hal-hal yang harus dilakukan, dan ?Don?ts? yaitu hal-hal yang jangan dilakukan!
?Do?s? ? nya adalah :
- Berpegang teguh pada Al-Qur?an dan Hadits
- Shalat malam (sebagai tambahan yang wajib)
- Puasa (baik yang wajib maupun yang sunat)
- Menepati janji
- Menyuruh kepada kebajikan (amar ma?ruf)
- Mencegah kemungkaran (nahi munkar)
- Berbuat Adil
?Don?ts?-nya adalah :
- Minum Khamr
- Berzina
- Melakukan hal-hal yang terlarang
- Melanggar janji
- Suka marah
- Berbuat dhalim
- Menabur kebencian
- Berbuat kerusakan di bumi
Semoga bermanfaat bagi yang menulis dan juga yang membacanya. Amin
Posted in Islamic View
Posted on 29 June 2010. Tags: Bank Sentral, Canada, Dubai, ekonomi dunia, emas, G-20, Gold, harga emas, harga naik, harga turun, investor, Irlandia, Italy, krisis, massal, masyarakat, pasar dunia, pelaku usaha, pemimpin, Portugal, Recovery and New Beginnings, safe haven, Spanyol, stabilitas ekonomi, Stability; Growth & Job, supply and demand, tersirat, tersurat, Toronto, Yunani
Pertemuan para pemimpin dunia kelompok G-20 baru berlangsung akhir pekan lalu 26-27 Juni 2010 di Toronto, Canada. Di permukaan, pertemuan reguler dari para pemimpin dunia tersebut mengusung tema yang keren ?Recovery and New Beginnings?. Itu setidaknya yang tersurat, lantas apa yang tersirat dari pertemuan tersebut?
Namanya juga tersirat ? tidak tertulis hitam di atas putih ? maka sifatnya multi tafsir. Bagi saya sendiri melihat temanya yang ?Recovery and New Beginnings? ini menyiratkan bahwa sejak krisis berlangsung 2 tahun lalu, berbagai pertemuan dalam berbagai tingkat belum berhasil membuat ekonomi dunia recover dan memulai hal yang baru ? makanya baru berniat recover dan memulai yang baru sekarang.
Bila belajar dari pertemuan sebelumnya dengan tema ?Stability, Growth & Job?; yang ternyata tidak memberi hasil yang diharapkan, karena tidak lama setelah pertemuan ini, justru guncangan demi guncangan malah menyusul seperti krisis di Dubai, Yunani, Portugal, Irlandia, Italy, Spanyol, dlsb ? maka akankah dunia berharap hasil konkrit dari pertemuan?pertemuan semacam ini?
Nampaknya para pelaku usaha secara global lebih banyak yang tidak berharap pada pertemuan semacam ini. Dari kacamata harga emas hal ini nampak jelas bisa dilihat. Bila pertemuan G-20 sebelumnya (April 2009) diadakan pada saat harga emas berada pada angka rata-rata sekitar US$ 890/oz; pada saat G-20 kali ini diadakan, harga emas sudah berada di kisaran US$ 1,255 /oz atau naik lebih dari 40%!!

Harga Emas Dunia: Dari Pertemuan G-20 ke Pertemuan Berikutnya
Artinya ketika para pemimpin dunia menjanjikan Stability, Growth and Job; tidak demikian yang dirasakan pasar. Pasar masih terus cemas dengan realita stabilitas ekonomi yang tidak kunjung datang. Kecemasan ini membuat mereka mencari tempat untuk melabuhkan dananya secara aman (safe haven), yaitu antara lain ke emas.
Ketika supply emas relatif tetap (hanya tumbuh sekitar 1.5% per tahun), sementara permintaan meningkat ? maka mekanisme supply and demand yang mendorong harga emas di pasaran dunia meningkat lebih dari 40% sejak pertemuan G-20 tahun lalu ke pertemuan G-20 tahun ini.
Lebih-lebih kini yang cemas bukan hanya investor perorangan, tetapi juga investor institusional dan bahkan Bank Sentral dunia mulai diam-diam juga membeli emas di pasar.
Jadi sebenarnya para pemimpin negara-negara di dunia apalagi kelompok G-20 ini, mereka bisa mengendalikan harga emas dengan baik secara elegan bila mereka mau, yaitu dengan cara menstabilkan ekonomi di negaranya masing-masing. Bila ini tercapai, pelaku ekonomi dan masyarakat luas akan merasa nyaman berusaha dan tidak merasa perlu memperbanyak dananya yang disimpan di safe haven ? emas.
Sebaliknya bila mereka tidak berhasil mengendalikan ekonominya, pelaku usaha, masyarakat luas dan bahkan bank sentral mereka sendiri akan cemas dan terus berusaha maksimal mengamankan hartanya di safe haven emas. Perilaku massal inilah yang mendongkrak harga emas dunia sampai tumbuh diatas 40% sejak pertemuan G-20 sebelumnya.
Apakah sampai pertemuan G-20 berikutnya tahun depan harga emas dunia akan terus tumbuh sampai di atas 40% mengikuti periode yang lewat? Sangat tergantung seberapa jauh para pemimpin tersebut bisa meyakinkan pelaku pasar dan masyarakat luas bahwa ?Recovery and New Beginning? yang mereka janjikan kali ini benar-benar terjadi. Bila mereka berhasil harga emas bisa turun, bila sebaliknya maka kenaikanlah yang akan terjadi. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 09 April 2010. Tags: 15 Agustus 1971, Alat Tukar, Amerika, Backed Currencies, barter, Bernard Lietaer, beyond the horizon, blueprint, Bretton Woods Agreement, bursa saham, casino, Credit Balances, dunia, Dunia Islam, e-gold, emas, fenomena, Frequent Flyers Miles, fulus, Ibnu Taimiyyah, kebutuhan transaksi, kemakmuran, menciptakan lapangan kerja, nilai uang, orang kaya, pemerintah, pemimpin, perak, perbankan, retailers, Reward Points, sektor riil, sistem keuangan, spekulasi, syariat Islam, teknologi, telekomunikasi, The Future of Money, transaksi barang dan jasa, Uang Masa Depan, uang swasta, University of California at Berkeley, Vouchers
Sepuluh tahun yang lalu (2001) seorang peneliti di Center of Sustainable Resources - University of California at Berkeley Bernard Lietaer menulis buku dengan judul The Future of Money: Creating New Wealth, Work and a Wiser World. Dalam bukunya yang futuristic ini Bernard antara lain menulis tentang berbagai fenomena pencarian uang baru yang sudah mulai saat itu ? karena kekecewaan masyarakat tentang sistem uang yang ada dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Menurut Bernard, sistem keuangan dunia dewasa ini tidak ubahnya seperti Casino raksasa yang dioperasikan dengan penuh spekulatif – 100 kali lebih besar dari transaksi total bursa saham di seluruh dunia per harinya. Hanya 2 % saja dari perputaran tersebut yang terkait dengan transaksi barang dan jasa; 98% -nya murni untuk spekulasi.
Bila buku yang ditulis sebagai hasil penelitian Bernard ini dikaitkan dengan pendapat Ibnu Taimiyyah bahwa penguasa hanya boleh mencetak fulus sebesar kebutuhan transaksi barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat suatu negeri ? maka ya hanya 2 % itu-lah uang yang perlu ada di dunia sesungguhnya.
Apa dampak dari besarnya porsi uang yang digunakan untuk keperluan transaksi spekulatif tersebut dibandingkan dengan yang dibutuhkan untuk transaksi riil? Nilai uang menjadi sangat rentan terhadap ulah spekulan, porsi terbesar uang tidak menggerakkan sektor riil, pemerintah-pemerintah dunia menjadi sibuk menjaga nilai uang ? ketimbang menggerakkan sektor riil. Lapangan pekerjaan tidak mudah tersedia; kemakmuran sulit terwujud ? dan dunia menjadi tidak bijaksana karena lebih banyak mengharapkan durian runtuh dari ?hasil spekulasi? ketimbang hasil dari kerjaan yang riil.
Namun, di setiap zaman, di setiap masyarakat ? selalu ada sekelompok kecil orang yang melihat sesuatu sampai melewati batas horizon (beyond the horizon), mereka ini sudah mulai mencari solusi untuk problem yang bahkan sebagian terbesar masyarakatnya belum menyadari adanya problem tersebut.

Bernard Lietaer
Dalam hal problem besar yang terkait uang ini misalnya; Bernard berhasil mengidentifikasi setidaknya saat itu sudah ada 1,900 ?an komunitas di seluruh dunia ? termasuk ratusan diantaranya di Amerika - yang sudah mulai mengeluarkan ?uang?-nya sendiri dalam berbagai bentuknya.
Di antara ?uang swasta? tersebut yang paling luas dikenal di masyarakat antara lain adalah Frequent Flyers Miles yang dikeluarkan oleh industri penerbangan; Reward Points yang dikeluarkan oleh perbankan dan kini juga industri telekomunikasi; Vouchers yang dikeluarkan oleh para retailers; Credit Balances yang dikeluarkan pengelola transaksi barter; dan yang paling me-representasi-kan uang yang sesungguhnya adalah apa yang disebut Backed Currencies.
Backed Currencies adalah currencies atau alat tukar yang nilainya dijamin atau didukung langsung dengan barang atau jasa. Di antara barang-barang ini yang paling baku nilainya dan memang sudah digunakan sebagai uang selama ribuan tahun adalah emas dan perak. Maka backed currencies berbasis emas yang sudah dikenal luas di dunia maya seperti e-gold, menjadi primadona dalam pencarian uang modern tersebut.
Meskipun emas adalah uang yang paling ideal; berbagai pihak yang berusaha menggunakan emas sebagai uang di masa lampau banyak mengalami kegagalan. Contoh terbesarnya adalah kegagalan Bretton Woods Agreement yang buyar Agustus 1971 ? hanya ¼ abad saja usianya. Mengapa demikian? Sederhana saja ? penggunaan emas sebagai uang haruslah disertai serangkaian peraturan yang sangat lengkap dan menyeluruh untuk menjamin ketersediaan emas sebagai uang itu sendiri.
Peraturan dan petunjuk pelaksanaan penggunaan emas yang sangat menyeluruh ini, adanya hanyalah di Syariat Islam seperti yang terdapat pada tulisan saya terdahulu.
Seperti judul bukunya Bernard tersebut di atas, uang masa depan haruslah uang yang bisa mendatangkan kemakmuran, uang yang berguna untuk menciptakan lapangan kerja dan uang yang bisa membuat dunia lebih bijaksana. Sekali lagi inilah yang akan terjadi bila uang dikelola sesuai Syariat Islam, hanya dengan Syariat inilah uang tidak menjadi harta yang tertimbun ? uang benar-benar mendatangkan kemakmuran bukan hanya pada golongan yang kaya saja.
Jadi sesungguhnya blueprint uang masa depan yang memakmurkan itu telah lama ada di Dunia Islam dan telah pula diterapkan selama ribuan tahun; kini blueprint inipun siap diterapkan di era teknologi ini. Tinggal kita sendiri mau mengikuti orang lain yang dengan susah payah mencari bentuk uang modernnya; atau kita kembali menggunakan uang yang sudah ada di Syariat Islam ? rujukan yang kita yakini kebenarannya. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 04 March 2010. Tags: Action Plans, Al-Qur'an, Allah, Amerika, antariksa, Baitullah, bulan, bumi, Buzz Aldrin, Depok, do'a, do'a matsur, Goals, Hadits, Islam, JFK, John F. Kennedy, Karyawan, kekuatan visi, komunis, kosmonot, lingkungan, manusia pertama, Mekkah, mimpi, Mission, Nabi Ibrahim, Neil Armstrong, padang pasir, Paris, pemimpin, pengusaha, pensiun, pindah kwadrant, satelit, shalat, Soviet, Strategies, sumber daya, surat Al-Baqarah, visi, Yuri Gagarin
Dalam sejarah dunia abad lalu, ada pemimpin dunia yang sangat terkenal akan kekuatan visinya yaitu John F. Kennedy. Di hadapan Konggres Amerika pada tahun 1961 dia mengungkapkan visinya bahwa bangsa Amerika harus bisa mencapai bulan sebelum akhir dekade itu.
Di tengah bangsa Amerika yang lagi limbung sebenarnya visi ini jauh melampaui zamannya. Visi ini muncul ketika bangsa Amerika ragu apakah jalan hidup yang mereka pilih sudah benar, apakah bukannya komunis yang benar karena saat itu komunis lagi menghebohkan dengan keberhasilan Soviet meluncurkan satelit yang mengorbit bumi. Bahkan bangsa Amerika lagi nggumun-nggumun-nya dengan keberhasilan Soviet mengirim kosmonot Yuri Gagarin ke antariksa.
Namun sekitar 8 tahun kemudian, meskipun JFK sendiri sudah meninggal ? visinya teralisasikan dengan sejarah Neil Armstrong dan Buzz Aldrin sebagai manusia-manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan pada tanggal 20 Juli 1969.
Jadi visi lebih penting ketimbang sumber daya dan kondisi yang melingkungi manusia itu sendiri. Dengan sumber daya melimpah tetapi tidak didukung oleh visi yang jelas ? maka sumber daya yang melimpah ini tidak akan banyak manfaatnya.
Sebaliknya dengan sumber daya yang terbatas dan dengan lingkungan yang tidak sepenuhnya kondusif sekalipun, pemimpin yang mempunyai visi yang kuat akan bisa mengeluarkan rakyatnya dari penderitaan dan bahkan bisa menjadi bangsa pemenang ? meskipun tidak harus tercapai pada saat dia memimpin.
Lantas bagaimana kita tahu apakah kita sudah memiliki visi yang jelas atau kita baru sekedar bermimpi? Bedanya terletak pada jabaran-nya. Visi yang jelas dapat dijabarkan menjadi Mission, Goals, Strategies dan Action Plans sampai sedetilnya. Sedangkan mimpi tidak perlu penjabaran, Anda bisa saja mimpi lagi menikmati liburan di Paris tetapi berangkatnya naik sepeda dari Depok ? namanya juga mimpi, boleh-boleh saja dan tidak perlu penjelasan detil.
Perbedaan antara visi dan mimpi ini pulalah yang antara lain membedakan sedikit karyawan yang benar-benar pindah kwadrant menjadi pengusaha, dengan mayoritas karyawan yang tetap menjadi karyawan sampai pensiun ? padahal sejak awal bekerja yang mayoritas ini juga bervisi (sebenarnya masih mimpi) menjadi pengusaha. Golongan yang pertama menjabarkan visinya dan berbuat (action plans) maka sampailah apa yang di-visi-kannya; golongan kedua tidak bermuat apa-apa dengan mimpinya ? maka mimpi tetap menjadi mimpi.
Dalam hal visi ini, sebagai umat Islam kita sesungguhnya punya contoh tauladan yang jauh lebih agung dari John F. Kennedy. Teladan kita adalah bapak para nabi yaitu Nabi Ibrahim A.S. Bayangkan di tengah padang pasir yang gersang tidak ada pepohonan, di tempat yang sangat jauh dari keramaian manusia ? Nabi Ibrahim sudah memiliki visi yang sangat jelas akan seperti apa tempat itu nantinya. Visi ini dituangkan dalam do?a-do?a-nya yang diabadikan di Al-Qur?an antara lain sebagai berikut :
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian? “ (QS. Al-Baqarah (2): 126)
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim (14): 37).
Kini ribuan tahun kemudian, visi itu benar-benar terwujud. Kita bisa menikmati buah-buahan apa saja di Mekkah, meskipun buah-buahan itu sendiri tidak ditanam di sana. Buah-buahan, makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan manusia mengalir bak air bah dari seluruh dunia ke tempat yang divisikan Nabi Ibrahim tersebut di atas. Lebih dari itu manusia yang berduyun-duyun ke Mekkah juga mayoritasnya memiliki 1 tujuan saja yaitu menyembah Allah semata yang dimanifestasikan dalam bentuk shalat.
Nah, kalau Kennedy saja yang tidak membaca petunjuk Al-Qur?an bisa membawa bangsanya mencapai bulan. Kita yang dituntun dengan petunjuk dan contoh yang sempurna dari Al-Qur?an dan Hadits ? sudah seharusnya dapat berbuat lebih dari yang dilakukan oleh JFK.
Bukan hanya petunjuk dan contoh yang sangat komprehensif yang kita punya, tetapi juga kita dibekali dengan do?a-do?a matsur seperti yang dilafalkan Nabi Ibrahim tersebut di atas. Ayo sekarang kita semua, mulai dari diri kita ? bangun dari mimpi-mimpi kita dan mulai membangun visi sambil tidak berhenti untuk terus berdo’a. Semoga Allah menunjuki jalanNya untuk kita semua? Amin.
Posted in Islamic View
Posted on 01 March 2010. Tags: aset bermasalah, aset fisik, Balance Sheet, Bank of England, Bank Sentral, Dinar, dirham, ekonomi, fulus, hasil jerih payah, Ibnu Taimiyyah, Inggris, kebijakan publik, kebun, kesombongan manusia, komputer, kredit perumahan, krisis, mencetak uang, neraca, nilai intrinsik, otoritas moneter, pemerintah, pemimpin, penurunan daya beli, Poundsterling, quantitative easing, rakyat, sistem keuangan, suku bunga, surat utang negara, teknik canggih, tembaga, ternak, The Bank's Monetary Policy Committee, uang, uang kertas, US$, wakil rakyat
Mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah tentang bagaimana seharusnya penguasa negeri mencetak fulus: ?Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka?.
Andai saja pemikiran Ibnu Taimiyyah tersebut dijadikan rujukan oleh para pemegang otoritas moneter dan keuangan dunia; Insya Allah berbagai krisis yang mendera umat seluruh dunia ini tidak akan terjadi. Karena kesombongan manusia, mereka enggan mencari petunjuk yang benar ? alih-alih belajar dari kekeliruan sebelumnya ? mereka malah membenamkan umat manusia ke potensi krisis yang lebih besar lagi.
Saya ambilkan bukti nyatanya dari apa yang dilakukan oleh pemerintah Inggris tahun lalu. Ketika upaya penyelamatan ekonomi melalui pengendalian suku bunga yang saat itu sudah mencapai 0.5% – TERENDAH dalam 315 tahun terakhir! ? dirasa belum juga menyembuhkan krisis yang ada, mereka mulai mencari akal (-akalan) untuk memoles ekonomi mereka.
Maka diketemukanlah caranya yang diberi nama keren Quantitative Easing ? yang terkesan canggih, sehingga tidak mudah dipahami rakyat. Apa sih Quantitative Easing ini sebenarnya? Berikut adalah pemahaman saya yang awam ? mohon maaf kepada para ekonom karena saya berusaha menyederhanakan ilmu Anda yang canggih.

Bank of England
Quantitative Easing adalah salah satu cara bank sentral ? di Inggris berarti Bank of England ? ?mencetak? sejumlah besar ?uang baru? di Balance Sheet-nya. Tidak perlu repot-repot mencetak secara fisik uang kertas atau koin-nya ? tetapi semata-mata hanya menambahkan angka baru secara elektronik di neraca bank sentral tersebut.
Setelah terbentuk, lalu untuk apa ?catatan? uang ini? Untuk membeli aset-aset bermasalah dari dunia perbankan (seperti kredit perumahan), surat utang negara, dlsb. Dengan cara ini ?uang? yang tadinya hanya khayalan yang hanya diketikkan di neraca bank sentral, kini telah memasuki sistem keuangan negeri itu.
Karena setiap bank memiliki account di bank sentral, maka bank sentral juga tidak perlu repot-repot memindahkan uang fisik (yang memang nggak ada fisiknya) ke bank-bank tersebut, semua hanya entry di data komputer.
Di Inggris ada komite yang disebut The Bank?s Monetary Policy Committee yang memiliki otoritas untuk mencetak ?tambahan uang? dalam khayalan tersebut. Saat ini komite ini memiliki izin untuk menambah ?uang? di balance sheet bank sentral sampai sejumlah 150 milyar poundsterling atau US$ 207 milyar! Dari batas yang diizinkan tersebut, saat ini komite telah menggunakan ½ dari jatah yang ada.
Lantas apa dampaknya bagi rakyat Inggris? Sementara solusi ini belum tentu bisa menyelamatkan mereka dari krisis ? yang sudah jelas adalah sebaliknya yaitu nilai uang yang ada di masyarakat akan terus turun ? inilah yang dilarang oleh Ibnu Taimiyyah tersebut di atas.
Teknik-teknik canggih dalam mengatasi krisis semacam ini, sangat mungkin dilakukan oleh negara-negara lain juga; oleh karenanya rakyat atau melalui wakil-wakilnya hendaknya memiliki akses terhadap para pengambil kebijakan-kebijakan publik sehingga ada yang memahami dan mengawasi mereka.
Kalau kita tidak yakin tentang pengawasan ini, rakyat tetap bisa berbuat mengamankan hasil jerih payahnya yaitu dengan mempertahankan aset fisik atau uang dengan nilai intrinsik yang bisa berupa Dinar, Dirham, kebun, ternak, dlsb. Wa Allahu A?lam.
Posted in Islamic View
Posted on 01 March 2010. Tags: Amerika, Amerika Selatan, aset, barter, benda riil, bottom-up, Brasil, BRIC, China, daya beli tetap, dunia, Dunia Islam, fluktuasi, Hillary Clinton, India, Jerman, mata uang, Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, minyak, muslim, nilai tukar, OPEC, Palestina, pemerintah, pemimpin, perdagangan dunia, platform, politik, rakyat, re--invent the wheel, reserve currencies, Rusia, sistem finansial global, syariah, top-down, uang fiat, Uighur, US Treasury Debt, US$, Yuan, Zhu Guang Yau
Kinerja US$ terus menjadi keprihatinan para pemimpin dunia, terutama negara yang memegang US$ dalam jumlah terbesar seperti China. Di sela-sela pertemuan dengan para petinggi Amerika tahun lalu, secara terus terang Asisten Menteri Keuangan China Zhu Guang Yau mengungkapkan: ?Pemerintah China sebagai pemerintahan yang bertanggung jawab, pertama dan paling penting harus bertanggung jawab pada rakyat China. Jadi tentu kami prihatin dengan keamanan aset-aset China?. Yang dimaksud aset-aset China dalam pertemuan ini adalah aset China dalam bentuk US Treasury Debt yang kini nilainya telah mencapai US$ 801.5 milyar.
Meskipun pertemuan ditutup dengan penuh semangat seperti yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton ?kami telah meletakkan dasar-dasar yang positif, kooperatif dan hubungan yang komprehensif abad 21?; dunia tidak menutup mata atas upaya-upaya lain yang nampaknya juga dilakukan oleh China sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap rakyat China ? seperti yang diungkapkan oleh Zhu tersebut.
Ada 2 hal yang dilakukan China untuk menggantikan atau setidaknya mengurangi ketergantungan terhadap US$ dalam perdagangan internasional.
- Pendekatan bottom-up untuk menggantikan US$ dengan Yuan, tidak melalui sistem perbankan ? tetapi melalui perdagangan. Dengan negara terbesar di Amerika selatan ? Brasil misalnya , mereka telah menyepakati rencana untuk menggunakan Yuan langsung sebagai pengganti US$ dalam perdagangan antara kedua negara ini. Setelah itu, target besar berikutnya adalah OPEC yang diharapkan akan segera dapat menerima Yuan untuk pembayaran minyak produksi mereka.
- Langkah yang masih misterius karena sangat dirahasiakan, kemungkinan besar melibatkan juga negara kuat Jerman, selain Brasil, Rusia dan India yang bersama China sebelumnya telah intensif bicara dalam forum BRIC.

US Treasuries
Yang mereka sedang persiapkan secara rahasia nampaknya semacam sistem barter yang canggih, yang tidak melibatkan uang fiat seperti US$. Hal ini sedikit bocor oleh pernyataan salah satu konsultan mereka yang antara lain mengungkapkan: ?Ketika terjadi keambrukan (sistem finansial dunia yang didominasi US$), sistem ini tidak akan membutuhkan reserve currencies lagi, karena 95% dari transaksi akan berupa barter atau imbal dagang yang canggih melalui platform perdagangan yang sedang di-design untuk siap beroperasi awal 2010. Sistem baru ini akan meniadakan peran bank yang selama ini menjadi jalur sempit (bottleneck) dalam perdagangan secara lokal, nasional dan internasional?.
Betapapun siapnya negara China untuk menggantikan Amerika dalam perdagangan dunia, negara-negara yang penduduk terbesarnya Muslim seharusnya memiliki langkah-langkah tersendiri dan tidak mengikuti atau terbawa arus oleh negara lain, baik itu Amerika maupun China. Keduanya tidak bersahabat dengan Dunia Islam seperti apa yang ditunjukkan Amerika di Palestina, dan apa yang dilakukan China terhadap saudara-saudara kita Muslim Uighur.
Selain karena faktor politik ini, sebenarnya Dunia Islam telah memiliki platform perdagangan yang berbasis Dinar, yang memang sudah mengedepankan perdagangan benda riil ke benda riil lainnya. Dengan sistem Dinar, perdagangan tidak perlu ribet seperti dalam sistem barter ? tetapi juga tidak perlu rentan terhadap fluktuasi nilai mata uang masing-masing negara karena nilai daya beli Dinar yang baku secara universal ? tidak terpengaruh waktu dan tempat.
Negara-negara yang mau menggunakan sistem Dinar ini juga tidak perlu re-invent the wheel karena sistem yang mengatur perdagangan berbasis Dinar ini sudah lengkap, utuh dan proven karena telah lebih dari 1000 tahun diterapkan Dunia Islam ? itulah Syariah.
Dengan keunggulan-keunggulan sistem Dinar ini; seharusnya Dunia Islam yang memimpin perdagangan dunia ke depan. Apalagi sumber daya alam terbesar seperti minyak, panas bumi, gas, hutan dan lain sebagainya tersedia dengan cukup di Dunia Islam tersebut.
Namun kalau harapan ini terlalu jauh, bila pendekatan top-down dari pemimpin-peminpin negara Islam untuk rakyatnya sulit diharapkan; maka umat Islam yang cerdas-pun dapat memulainya dengan pola bottom-up. Umat sendiri yang secara luas menyebarkan dan menggunakan sistem perdagangan berbasis Dinar yang adil, maka setelah itu pemerintah-pemerintah negeri muslim suka atau tidak suka akan mengikuti kemauan dan kepentingan rakyatnya. Insya Allah?
Posted in Political Economy
Posted on 28 February 2010. Tags: big picture, Brasil, BRIC, China, Dinar, Dunia Islam, ekonomi, Eropa, EU, Euro, Europian Union, GDP, Gross Domestic Product, IMF, IMF minded, India, inflasi, kekayaan alam, kesamaan ideologis, mata uang, MDC, muslim, Muslim Dominated Countries, pemimpin, penjajahan ekonomi, riba, Rusia, sistem finansial global, sistem keuangan, uang, Ural, US$, visi, Yekaterinburg
BRIC adalah sebutan untuk 4 negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia yaitu Brasil, Rusia, India dan China. Pada pertengahan tahun lalu (Juni 2009) para pemimpin negara mereka bertemu di Yekaterinburg, wilayah pegunungan Ural ? Rusia.
Yang menarik sekali kita ikuti adalah agenda pertemuan mereka ini, yaitu membahas rencana penggantian mata uang US$ sebagai alat transaksi Global. Ke-4 negara tersebut juga bertekad untuk membentuk sistem finansial global baru, menggantikan sistem finansial yang selama ini dianut oleh seluruh negara-negara di dunia.
Entah kapan uang dan sistem finansial baru versi BRIC ini bisa terwujud, namun pertemuan para pemimpin negara-negara BRIC tersebut sudah selayaknya menjadi pelajaran bagi negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang juga sering disebut MDC (Muslim Dominated Countries) ini.
Pelajaran pertama adalah kenyataan bahwa mata uang US$ tidak akan selamanya bisa bertahan sebagai mata uang utama dunia, sehingga harus secara serius segera dipikirkan penggantinya ? sampai melibatkan pertemuan tingkat tinggi antar pimpinan Negara. Bersamaan dengan penggantian mata uang ini, sistem finansial dunia yang selama ini IMF minded juga selayaknya diganti.
Pelajaran kedua adalah, kalau pemimpin-pemimpin dunia yang sama sekali tidak memiliki kesamaan ideologis satu sama lain saja bisa bertemu untuk mencari solusi bersama yang terkait dengan uang dan sistem finansial; sudah selayaknya pemimpin-pemimpin Dunia Islam lebih potensi lagi untuk bertemu mengatasi masalah uang dan sistem finansial ini.

Gross Domestic Product (GDP)
Para pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini setidaknya memiliki kesamaan ideologis dan memiliki kesamaan tanggung jawab terhadap rakyatnya, yaitu membebaskan rakyatnya dari penindasan/penjajahan ekonomi yang antara lain termanifestasikan dalam bentuk penggunaan mata uang negara lain sebagai alat transaksi antar mereka.
Bagi Dunia Islam pencarian mata uang pengganti US$ dan sistem keuangan ala IMF ini jauh lebih mudah ketimbang negara-negara di Eropa membentuk Euro atau negara-negara BRIC dalam melakukan pencarian mata uang barunya. Dunia Islam sudah memiliki Dinar yang telah dipakai lebih dari 1400 tahun, dan satu-satunya mata uang dunia yang bebas dari inflasi sepanjang sejarah.
Dari sisi ukuran-pun kalau negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim ini bergabung, skala ekonomi yang diukur dari total GDP-nya juga lumayan besar; lihat grafik-grafik di atas yang menujukkan total GDP dari MDC, untuk data tahun 2008 memang baru sekitar ½ total GDP dari BRIC, dan ¼ total GDP dari EU; tetapi potensinya tidak kalah besar dengan Negara-negara di EU maupun BRIC karena kekayaan alam yang melimpah di MDC ini.
Kendalanya memang mungkin tidak mudah menyatukan visi 32 negara-negara MDC; tetapi lagi-lagi negara yang tidak memiliki kesamaan ideologis seperti 27 negara-negara yang tergabung dalam European Union (EU) saja bisa bersatu dalam masalah uang dan perdagangan; masa kita tidak dapat bersatu?
Well, kalau toh pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini belum memiliki visi untuk bersatu seperti yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin EU dan BRIC ? tidak ada salahnya juga kita memulai sesuatu yang sudah bisa kita lakukan yang kelak insya Allah bisa menjadi alat pemersatu umat ? setidaknya dalam masalah uang dan sistem keuangan ini.
Inilah big picture dari sistem keuangan bebas Riba berbasis Dinar yang mulai kita rintis dalam beberapa tahun terakhir. Semoga Allah memudahkan jalan yang kita tempuh ini. Amin
Posted in Political Economy
Posted on 25 February 2010. Tags: bahan bakar, bandara, budaya, customer service, designer, Digital Nomad, fitrah, Generasi Pekerja Baru, hemat biaya, hemat waktu, instansi, internet, Jakarta, Jonggol, kandang kambing, karir, kaum wanita, keluarga, kemacetan, Mall, marginal, masjid, mobil, pakaian nasional, pemerintah, pemimpin, penulis, perubahan, perusahaan, pesaing, produktif, programmer, quality time, rumah, sarung, self drive, teknologi, terminal, wartawan
Ada pemandangan baru yang sejak beberapa tahun ini mulai marak di café, restaurant, food court, bandara, terminal dan bahkan di emperan Masjid. Pemandangan ini adalah orang-orang yang tidak mengenal usia asyik ber-internet dengan berbagai keperluannya. Kebanyakan mungkin (masih) untuk sekedar main-main atau membuang waktu percuma; tetapi tidak sedikit pula di antara mereka yang sedang serius bekerja menangani hal-hal yang sangat produktif.
Para pekerja yang tidak lagi tergantung pada tempat dan waktu ini, mereka bisa bekerja kapan saja dan dimana saja asal bisa connect dengan internet. Melalui internet ini pula pekerjaan mereka dilaporkan keatasannya, di-share dengan mitra kerja, ditindak lanjuti sub-ordinate-nya; di-response kliennya, dlsb. Pekerja generasi baru inilah yang disebut pekerja Digital Nomad.
Bagi perusahaan yang meng-optimalkan pekerja Digital Nomad ini bisa sangat diuntungkan karena tidak harus menyediakan kantor yang mahal, biaya transportasi, listrik, dlsb. Bagi pekerja Digital Nomad sendiri, ini juga menjadi peluang tersendiri untuk bisa bekerja sesuai selera kapan dan dimana dia suka - hemat waktu dan biaya. Penghematan ini mulai dari waktu perjalanan ke kantor sampai biaya pakaian. Bagi pemerintah ini juga bisa menghasilkan penghematan yang luar biasa dalam bentuk berkurangnya kemacetan, kebutuhan listrik, bahan bakar, dlsb.
Dahulu ketika saya masih ngantor di pusat kota misalnya, setiap hari saya sekitar 3 jam pergi pulang di mobil. Dengan saya memutuskan untuk tidak bekerja di pusat kota Jakarta pada saat usia produktif; kepadatan lalu lintas Jakarta telah berkurang satu mobil setiap hari; 15 liter bensin dihemat setiap hari; sekian CO2 terkurangi.
Bila langkah ini diikuti oleh 1,000 orang, maka kepadatan lalu lintas Jakarta akan berkurang secara significant. Apalagi kalau yang mengikutinya 1 juta orang. Maka inilah menurut saya salah satu cara Jakarta melawan kemacetan dan polusi udara. Bukan hanya kemacetan dan bahan bakar yang dihemat, tetapi juga dari makanan dan pakaian.
Bila Anda bekerja di kantor ? ongkos makan siang Anda cenderung jauh lebih mahal ketimbang keluarga Anda yang di rumah. Pakaian juga demikian, bila Anda eksekutif secara berkala Anda harus membeli baju baru, dasi dan bahkan jas untuk bekerja. Ini semua tidak Anda perlukan bila Anda pekerja Digital Nomad. Bekerja dengan sarungan-pun jadilah, karena sarung ini adalah salah satu pakaian nasional kita yang selama ini termarginalkan.
Apakah ini mudah dilakukan? Mudah sih tidak, karena menyangkut perubahan budaya yang luar biasa. Tetapi bagi pimpinan-pimpinan kantor yang berwawasan ke depan, bisa jadi inilah peluang Anda untuk membawa perusahan atau instansi Anda untuk unggul di era teknologi yang mau tidak mau kita telah memasukinya. Bila Anda tidak segera mulai, sedangkan pesaing Anda memulai lebih dahulu ? kemungkinan besar Anda akan kalah bersaing dalam efisiensi dan akan ditinggalkan oleh tenaga-tenaga terbaik Anda. Mengapa demikian?
Kalau ditanya diri kita masing-masing; besar kemungkinan kita sebenarnya ingin bekerja secara bebas tidak dikungkung tempat dan waktu. Nah kalau tenaga terbaik Anda ditawari oleh pesaing Anda dengan system kerja bebas semacam ini, besar peluangnya dia akan terpengaruh. Sebaliknya kecil sekali kemungkinan Anda bisa merekrut tenaga-tenaga yang sudah terbiasa kerja secara Nomad untuk nongkrong di kantor tertentu pada jam tertentu.
Apakah pekerjaan ala Digital Nomad ini hanya cocok untuk pekerjaan seperti penulis, wartawan, designer, programmer dan sejenisnya? Sebelum saya ikut menerjuninya dahulu saya juga berpendapat demikian. Namun setelah saya benar-benar terjun di dalamnya; ternyata bekerja dengan model Digital Nomad, dapat pula dilakukan untuk pekerjaan-pekerjaan yang dahulu tidak terbayangkan ? toko emas ?pun seperti Dinar Islam dapat dijalankan fully secara Digital Nomad. Kadang saya bekerja di rumah, kadang di Masjid, kadang di Mall; kadang di Mobil bahkan sering dari kandang kambing di Jonggol yang sudah internet ready.
Pekerjaan seperti yang Anda lakukan sekarang-pun sangat mungkin ditangani secara Digital Nomad bila Anda (dan atasan Anda bagi yang punya atasan) mau berpikir serius. Hampir seluruh pekerjaan kantoran pada umumnya, bisa dilakukan oleh para Digital Nomad sekarang; hanya sebagian kecil saja yang belum bisa dilakukan seperti pekerjaan customer services, dan pekerjaan lain yang membutuhkan kehadiran fisik ? tetapi inipun jumlahnya akan terus menurun sejalan dengan kemajuan teknologi.
Apakah Anda siap untuk pekerjaan Digital Nomad ini? Tes-nya sederhana saja. Drive atau penggerak produktifitas Anda ada dalam diri Anda atau ada di luar diri Anda? Bila Anda memiliki self drive untuk bekerja optimal tanpa harus ditongkrongi atasan Anda; maka insya Allah Anda siap untuk memasuki jenis pekerjaan para Digital Nomad.
Siapa sih yang tidak ingin bekerja dekat rumah, bisa mengatur waktu secara fleksibel, bisa memiliki quality time untuk keluarga? Lebih-lebih bagi kaum wanita. Dengan Digital Nomad Anda bisa berkarir sampai manapun ? tanpa harus meninggalkan fitrah ke-ibu-an Anda untuk dekat dan mendidik anak-anak Anda kapan-pun mereka membutuhkannya. Insya Allah?
Posted in Business Opportunity