Tag Archive | "pelajaran"

Tauhid Dalam Mencari Rizki, Belajar Dari Bapaknya Para Nabi


Kemarin adalah hari yang luar biasa bagi kami di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin, hari dimana kami kembali memanen padi yang kami tanam sendiri ? setelah 40 tahun saya sendiri tidak melakukannya, karena sebelum ini panen padi terakhir yang saya ingat adalah panen padi semasa kecil di tahun 1970-an. Namun bukan panen padi-nya sendiri yang menjadikan ini luar biasa, tetapi pelajaran yang bisa kami peroleh dari padi-padi yang kami tuai tersebut.

2 minggu sebelumnya, petak-petak sawah tetangga kami juga dipanen. Tentu petaninya lebih berpengalaman dari kami sendiri karena seumur-umur memang ini pekerjaan mereka. Ketika sama-sama belum dipanen, hamparan padi merekapun nampak lebih hijau karena memang dipupuk dengan sangat memadai.  Namun rupanya Allah berkehendak lain, ketika padi dipanen oleh tetangga kami tersebut ? sangat sedikit yang ada isinya. Panenannya gagal tahun ini tanpa bisa dijelaskan ? apa yang menyebabkan padinya tidak berisi.

Padi kami sendiri alhamdulillah, meskipun dipupuk seadanya dengan pupuk organik ? hasilnya menunjukkan panenan yang baik karena mayoritas padinya berisi. Apakah ini karena kami lebih mengetahui tentang ilmu perpadian dari tetangga-tetangga kami? Tentu tidak ? karena kami baru belajar kembali tentang ilmu perpadian ini. Yang jelas tidak ada kekuatan lain dalam hal ini selain kekuatanNya, siapa yang bisa memberi isi ke dalam bulir-bulir padi tersebut bila Dia tidak menghendakiNya?

Disinilah letak pelajaran itu; ketika melihat bulir padi yang berisi dan bulir padi yang tidak berisi, kita begitu mudah memahami bahwa hanya Allah-lah yang bisa membuatnya demikian. Bisa saja padi ditanam di hamparan sawah yang sama, menggunakan bibit padi yang sama, diairi dari sumber air yang sama ? tetapi yang satu tidak diberi isi sedangkan yang lain diberi isi ? siapa yang kuasa melakukan ini? Hanya Dia-lah yang kuasa melakukannya.

Siapa yang memberi bulir padi, bila Dia tidak menghendakinya?

Siapa yang memberi bulir padi, bila Dia tidak menghendakinya?

Bagaimana kalau pemahaman yang sama kita terapkan dalam berbagai usaha atau pekerjaan kita yang lain? Bisakah kita melihatnya seyakin melihat bulir-bulir padi tersebut? Bisakah kita hentikan aktifitas suap menyuap, korupsi, riba, kecurangan dalam ekonomi, dlsb karena kita yakin semua hal tersebut tidak akan bisa membuat ?padi? (baca: pundi-pundi harta) kita berisi – bila Allah tidak menghendakinya demikian. Bisakah kita yakin bahwa rizki itu hanya Allah-lah yang kuasa memperluas dan mempersempitnya? Bukan perusahaan atau instansi tempat kita bekerja, juga bukan penguasa yang bisa membuat aturan main usaha.

Keyakinan terhadap sumber rizki tersebut akan sangat mempengaruhi sikap dan tindak kita dalam mencari rizki. Karena orang yakin dengan korupsilah sumber rizkinya yang melimpah, maka begitu banyak kasus korupsi di negeri ini. Karena pelaku bisnis yakin sumber dana ribawi adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh modal, maka riba begitu sulit dihilangkan atau sekedar dikurangi di negeri ini.

Karena mengira perusahaan/instansi tempatnya bekerja adalah sumber rizki, banyak karyawan-karyawati shaleh/shalehah rela disuruh ini itu yang melanggar syariah seperti riba , riswah dan sejenisnya. Hati kecilnya menolak, tetapi imannya tidak cukup kuat untuk bilang tidak pada atasannya karena takut dipecat, takut tidak mendapatkan rizki.

Untuk inilah kita perlu belajar menguatkan ke-tauhid-an termasuk dalam hal pencarian rizki ini. Allah menceritakan dialog antara Nabi Ibrahim A.S dengan bapaknya di Al-Qur?an, agar menjadi contoh dan pelajaran bagi kita.  Dialog ketauhidan yang indah tersebut saya kutipkan disini agar yang menulis dan yang membaca sama-sama mendapatkan manfaat. Amin.

Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.

Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa) mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?” Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.

Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’araa’ (26): 69-82)

Posted in Islamic ViewComments (0)

Belajar Dari Kehidupan Bebek Liar


Ketika saya mulai menulis tentang Netpreneur beberapa waktu lalu, ternyata banyak response dari pembaca yang serius ingin melakukan hal yang sama atau mirip dengan apa yang saya lakukan.

Dari response tersebut, saya dapat memahami bahwa apa yang dulu saya rasakan tentang kebosanan dan kejenuhan di tempat kerja ? juga dialami oleh sekian banyak orang lain. Tidak peduli dia di perusahaan besar atau kecil, perusahaan bonafid atau tidak, sebagai karyawan biasa atau eksekutif ? selalu ada (dan banyak) yang merasa bosan, jenuh, stuck , merasa didhalimi dan berbagai perasaan tidak mengenakkan lainnya.

Lantas pertanyaannya, meskipun sekian banyak orang tidak bahagia dengan pekerjaannya selama ini ? mengapa sebagian besar mereka tetap bertahan sampai pensiun? Macam-macam jawabannya, tetapi apapun jawabannya yang jelas mereka tidak (berani) memulai segera untuk berubah?

Berikut adalah 3 hal yang paling sering menjadi mental block yang mengunci kita dalam ?penjara? pekerjaan dan bagaimana cara melepaskan diri darinya.
1). Tidak memiliki bekal/modal untuk mulai berusaha: Tidak semua usaha memerlukan modal. Pengetahuan kita, pengalaman, jaringan pergaulan, dlsb; bisa menjadi modal yang tidak kalah berdaya-nya dengan modal uang.

2) Tidak memiliki ide untuk usaha: Ide yang orisinil memang paling baik dalam usaha, tetapi kita tidak harus memulai ide tersebut dari nol. Kita dapat menerapkan teori 3N dari khasanah kearifan Jawa yaitu Namatke (memperhatikan), Nirokke (menirukan), dan Nambahi . Kita dapat nyontek bisnis lain yang sudah jalan, mungkin di negeri lain, mungkin di bidang lain, mungkin dengan komiditi/barang dagangan yang lain ? tetapi kalaupun harus nyontek, maka nyonteklah yang pinter. Paling tidak itu tadi, jangan nyontek mentah-mentah tetapi setidaknya bisa Nambahi. Bukankah 3N pula yang dilakukan Jepang sampai menguasai pasar mobil dan elektronik dunia dewasa ini?

3) Job Security: Banyak orang yang rela bersusah-susah bekerja dengan perasaan yang tidak enak sekalipun karena berpendapat bahwa dengan bekerjalah (di tempat bekerjanya yang sekarang)  jaminan pekerjaan dan kelangsungan masa depannya terjaga, bahkan ada pensiun, biaya kesehatan, dst.

Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena persentase pensiunan yang bisa mempertahankan kwalitas kehidupannya sama dengan semasa belum pensiun adalah sangat sedikit. Yang sedikit inipun karena mereka tidak mengandalkan uang pensiunannya semata.

Stuck in 'Job Prison'?

Stuck in 'Job Prison'?

Ilusi job security ini juga terjadi pada karyawan-karyawan di perusahaan besar. Dalam realitanya berapa banyak karyawan atau bahkan eksekutif perusahaan besar yang harus kehilangan pekerjaan dan segala fasilitasnya oleh berbagai sebab.

Dengan menjadi entrepreneur juga tidak ada akan mudah, tetapi juga tidak sesulit yang dibayangkan kebanyakan orang. Ada pelajaran yang sangat menarik dari alam yang mendorong saya melompat menjadi entrepreneur pada usia yang sebenarnya ?agak telat? menurut hitungan saya sendiri. Pelajaran ini saya ambil dari salah satu episod televisi yang menyajikan kehidupan spesies bebek liar tertentu.

Induk bebek-bebek ini bersarang pada ketinggian 4?20m di atas air ? tempat mereka mencari makan. Bayi-bayi bebek spesies ini umumnya menetas pada malam hari dan tentu juga menetasnya pada sarang tersebut ? yang sekian meter di atas air.

Pada pagi hari pertamanya melihat dunia, bebek-bebek kecil ini menyaksikan induknya melompat dari sarang terjun ke air untuk mencari makan. Tanpa berfikir panjang ? bisa berenang atau tidak, beresiko atau tidak ? bebek-bebek kecil tersebut langsung terjun ke air mengikuti induknya untuk mencari makan.

Bayangkan! betapa Maha Kuasanya Allah dalam memberi rizki ke bebek-bebek yang baru umur sehari ini, sekaligus menyelamatkannya dalam lompatan yang menurut pikiran manusia sebenarnya sangat berbahaya.

Atas kehendak Allah, bebek-bebek kecil ini tidak dibekali otak yang canggih seperti kita manusia. Namu justru karena itu, mereka berani melompat mengikuti instingnya untuk langsung terjun, berenang dan mencari rizki.

Kita manusia, Alhamdulillah selain insting kita juga dibekali otak yang canggih. Dengan otak ini insya Allah kita akan lebih mampu untuk survive dalam ?lompatan? kita pada kesempatan pertama. Wa Allahu A?lam.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Pelajaran Dari Krisis Dubai & Century


Akhir pekan lalu bersamaan dengan ummat Islam di seluruh dunia merayakan Iedhul Adha dan masyarakat Amerika merayakan Thanksgiving Day ? masyarakat financial diresahkan oleh kabar Technical Default-nya Dubai World semacam BUMN-nya Dubai.

Mengapa kegagalan sebuah ?BUMN? investasi semacam Dubai World (tidak ada hubungannya dengan Dinar World yang kita miliki!) bisa membuat pasar seluruh dunia panik? Size atau ukuran yang jadi masalah. Dubai World memiliki potensi gagal bayar terhadap hutang yang nilainya mencapai US$ 60 Milyar ? atau hampir sama besar dengan cadangan devisa negara kita!

Bayangkan bila Dubai World benar-benar tidak bisa membayar hutangnya pada bank-bank besar dunia, seluruh perbankan dunia bisa jadi kena getahnya ? karena sistem financial dunia yang terkait satu sama lain.

Mirip dengan kisruh Bank Century di Indonesia ? yang dengan alasan Dampak Sistemik-nya; bank sentral United Arab Emirates di hari Ahad kemarin memutuskan untuk menolong Dubai World dengan fasilitas darurat khusus sehingga ketika semua pasar modal dan pasar uang seluruh dunia buka hari Senin kemarin ? krisis Dubai World nampak sudah terselesaikan.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sini? Bayangkan kalau Anda seorang penabung di sebuah bank besar di Amerika (atau dimanapun di dunia), tiba-tiba ada sebuah perusahaan raksasa di negeri nun jauh di Arab yang gagal bayar hutangnya  terhadap bank Anda ? maka ada kemungkinan bank Anda akan terseret pada rantai kebangkrutan yang sama. Dan apa yang terjadi terhadap uang Anda?

Well, mungkin Anda berpendapat kan ada Penjamin Simpanan? Betul, ini cukup menenangkan. Namun saya sebagai orang awam juga berfikir, kalau sistem Penjamin Simpanan berjalan dengan baik? bukankah seharusnya tidak ada sejumlah besar nasabah Bank Century yang sampai harus berdemo dari waktu ke waktu untuk menuntut uangnya balik? Bukankah Hak Angket DPR untuk kasus Bank Century juga tidak perlu kalau lagi-lagi Penjamin Simpanan ini memang berjalan baik?

Jadi untuk amannya memang dalam berinvestasi kita tidak disarankan untuk menaruh seluruh telur pada keranjang yang sama; tidak masalah kalau sebagian uang kita berada di dunia perbankan ? karena kemudahannya untuk transaksi kita akui belum tertandingi oleh sistem yang lain. Namun menaruh semua asset kita di dunia perbankan juga kurang bijaksana ? karena potensi masalah ? yang oleh orang pemerintah sendiri diperkenalkan ke publik sebagai ? Dampak Sistemik.

Tentu kita tidak ingin kalau hasil jerih payah kita bertahun-tahun ludes oleh hantu baru bernama ? Dampak Sistemik ? yang konon bisa terjadi kalau bank kecil saja (sekelas Bank Century) dibiarkan ambruk.

Kasus Bank Century memang bak buah simalakama di negeri ini sekarang; kalau upaya penyelamatannya sudah dilakukan dengan kajian yang paripurna dan demi kepentingan penyelamatan sektor keuangan Indonesia semata karena Dampak Sistemik tersebut benar-benar ada – maka orang awam seperti kita jadi paham ? betapa rawannya sistem perbankan ini. Di antara puluhan bank yang perkasa, satu bank lemah bisa menghancurkan seluruhnya karena hantu Dampak Sistemik ini.

Sebaliknya, bila sebenarnya perbankan cukup aman dan hantu Dampak Sistemik tersebut tidak pernah ada ? maka harus ada yang bertanggung jawab atas kebohongan besar di negeri ini yang menyita begitu banyak waktu, tenaga dan pikiran bangsa ini. Semoga Allah menunjukkan yang haq-itu haq sehingga kita bisa mengikutinya; dan yang bathil itu bathil agar kita bisa menjauhinya. Amin.

Posted in Political EconomyComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes