Tag Archive | "pasar"

Dan Nabi-pun Mendirikan Pasar


Salah satu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Madinah yang kemudian membuat perubahan besar dalam penguasaan ekonomi adalah konsep bahwa bekerja adalah Ibadah. Melalui konsep inilah kaum Muhajirin yang berhijrah mengikuti Rasulullah SAW tanpa membawa harta-pun segera menjadi asset bagi umat dan bukannya liability – karena mereka dapat mengoptimalkan kemampuannya baik dalam kegiatan produksi maupun kegiatan perdagangan.

Digambarkan dalam sejarah bahwa setelah Hijrahnya Rasulullah SAW dan para pengikutnya, bumi-bumi yang semula gersang-pun kemudian terolah menjadi kebun-kebun yang subur dan taman-taman yang indah. Karena konsep bekerja adalah ibadah pula, maka hal-hal positif yang terkait dengan peribadatan seperti keadilan, kejujuran, kesetaraan, kehati-hatian, kebersahajaan, infaq, dlsb dapat termanifestasikan dalam kehidupan umat sehari-hari ketika mereka bekerja.

Awalnya tentu tidak mudah karena ketika kaum Muhajirin mulai aktif berdagang di Madinah misalnya, mereka berdagang di pasar yang sudah ada waktu itu yaitu pasar yang dikelola oleh Yahudi. Pengelolaan pasar oleh Yahudi yang di Al-Qur?an digambarkan bahwa mereka menganggap HALAL untuk mengambil harta orang lain ini (orang-orang umi, QS. Al-Imran [3]: 75), tentu saja bermasalah.

Oleh karena penguasaan pasar oleh kaum yahudi tersebut pula maka umat Islam semula tidak bisa sepenuhnya mengimplementasikan nilai-nilai Islam di pasar ? maka kemudian Rasulullah SAW-pun memandang penting untuk segera mendirikan pasar bagi kaum muslimin di awal-awal terbentuknya masyarakat yang akan hidup dengan nilai-nilai Islam yang menyeluruh di Madinah.

Di suatu tempat yang berjarak hanya beberapa rumah arah barat laut dari Masjid Nabi – yang telah didirikan terlebih dahulu, Rasulullah SAW mendirikan pasar dangan sabdanya ?Ini pasarmu, tidak boleh dipersempit (dengan mendirikan bangunan, dlsb di dalamnya) dan tidak boleh ada pajak di dalamnya?. (HR. Ibn Majah)

Pasar di area terbuka ini memiliki panjang sekitar 500 meter dan lebar sekitar 100 meter (luas sekitar 5 ha), jadi cukup luas untuk mengakomodasi kebutuhan penduduk kota yang kemudian berkembang pesat ? paska Hijrah. Lokasinya juga dipilih sedemikian rupa sehingga penduduk yang datang dari berbagai wilayah ? mudah mencapai pasar tersebut. Pasar Madinah inilah yang kemudian menjadi urat nadi perekonomian negara Islam yang pertama, yang berpusat di Madinah.

Lokasinya yang tidak jauh dari Masjid Nabi tetapi juga tidak terlalu dekat (selang beberapa rumah) juga memiliki nilai strategis sendiri. Nilai-nilai yang terbawa dari ketaatan beribadah di masjid dapat mewarnai aktifitas perdagangan di pasar, namun hal-hal yang buruk dari pasar seperti keramaiannya tidak mempengaruhi aktifitas dan kekhusukan umat yang beribadah di masjid.

Pasar Madinah / Medina Market / Suq Al-Madinah

Pasar Madinah / Medina Market / Suq Al-Madinah

Bahkan cara-cara pengelolaan pasar-pun memiliki kemiripan dengan pengelolaan Masjid. Hal ini disampaikan oleh Umar Ibn Khattab yang menjadi Muhtasib ? Pengawas Pasar ? setelah Rasulullah SAW dengan perkataaannya bahwa ?Pasar itu menganut ketentuan masjid, barang siapa datang terlebih dahulu di satu tempat duduk, maka tempat itu untuknya sampai dia berdiri dari situ dan pulang ke rumahnya atau selesai jual belinya?.

Nilai pesan yang terkandung di dalam perkataan Umar ini sejalan dengan hadits Nabi SAW tersebut di atas yang intinya adalah akses ke pasar harus sama bagi seluruh umat; tidak boleh meng-kapling-kapling pasar. Hal ini diimplemantasikan Umar dengan melarang orang membangun bangunan di pasar, menandai tempatnya, atau mempersempit jalan masuk ke pasar. Bahkan dengan tongkatnya Umar menyeru ?enyahlah dari jalan? kepada orang-orang yang menghalangi orang lain masuk ke pasar.

Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sunah Rasulullah SAW mendirikan pasar ? yang kemudian juga terus ditegakkan oleh para Khalifah tersebut di atas?

Yang jelas situasi pasar-pasar yang ada dewasa ini tidak jauh berbeda dengan kondisi pasar di Madinah yang dikelola Yahudi sebelum didirikannya pasar bagi kaum muslimin oleh Rasulullah SAW tersebut di atas. Segala macam kecurangan a la yahudi terjadi di pasar kini, dan yang paling menyolok adalah akses pasar yang tidak mudah dijangkau oleh mayoritas umat.

Di JaBoDeTabBek misalnya, Anda bisa membuat baju-baju yang indah dan makanan-makanan yang enak. Tetapi tidak berarti Anda dengan mudah bisa menjualnya ke pasar. Untuk menyewa tempat di mall atau food court pada umumnya sangat mahal ? sehingga hanya bisa dijangkau segelintir orang saja ? yang justru sudah kaya.

Bila Anda berusaha jualan di tempat-tempat terbuka, di pinggir-pinggir jalan ? maka bila tidak digusur oleh tramtib atau Satpol PP ? Anda akan menjadi bulan-bulanan para preman, tukang ngamen, pengemis, dlsb. Walhasil, kesejahteraan umat secara luas ? sulit sekali diangkat karena antara lain terbatasnya akses ke pasar ini.

Maka selain perjuangan-perjuangan lainnya seperti perjuangan melawan riba, ketidak adilan ekonomi dan sejenisnya, kini saatnya para pejuang ekonomi Islam juga harus mulai memperjuangkan pasar bagi kaum muslimin ini.

Tentu juga tidak mudah, dan juga tidak langsung sempurna seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan Para Khalifah tersebut di atas, tetapi langkah menuju kesana harus ada yang memulai.

Dengan semangat mengikuti jejak Nabi tersebut di ataslah, kami ? Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin (PWDM) ? ingin mulai melangkah merintis embrio terwujudnya pasar bagi kaum muslimin ini dengan proyek-proyek yang kami sebut Pasar MadinahMedina Market atau Suq Al- Madinah. Pemilihan nama ini adalah wujud kerinduan kita semua ? akan lahirnya umat yang makmur ? mengikuti sunah-sunah Nabi SAW termasuk dalam hal mendirikan dan mengelola pasar.

Kami tahu, beberapa pihak juga telah mulai melakukannya lebih dahulu ? sama sekali tidak bersaing dengan apa yang telah mereka rintis, tetapi pendekatan yang kami lakukan memang akan agak berbeda. Ini hanya perlombaan dalam kebajikanfastabiqul khayrat, semoga memberi manfaat yang maksimal bagi umat ke depan.

Bagi yang tertarik untuk terlibat dalam project Medina Market ini, brosur yang lebih detil dari tulisan ini dapat didownload di sini.

Semoga Allah senantiasa memudahkan kita pada amal yang diridloiNya

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Collective Intelligence Untuk Membangun Pasar


Pasar memiliki kedudukan strategis dalam membangun masyarakat Islam yang utuh; begitu strategisnya masalah ini sehingga Rasulullah SAW sendiri mencontohkan membangun pasar bagi kaum muslimin di Madinah sejak masa-masa awal Hijrah. Kelemahan dalam penguasaan pasar ini pula yang membuat umat Islam kini meskipun besar dari segi jumlah namun tidak memiliki kekuatan strategis dalam perdagangan. Di mall, di pasar modern maupun tradisional, di food court, dlsb, nuansa Islami hanya muncul di bulan Ramadhan khususnya menjelang Lebaran.

Pasar tidak muncul dengan sendirinya, harus ada yang memulai – lebih banyak yang mulai akan lebih berpeluang terbentuk secara lebih cepat. Oleh karena itu saya ingin mengajak para pembaca sekalian untuk secara kolektif memikirkan dan langsung bertindak untuk mulai membangun embrio pasar bagi kaum muslimin ini. Awalnya tidak harus besar dan tidak harus langsung sempurna ? setidaknya kita mulai dengan serius menyiapkan instrumen pokok dalam membangun kemakmuran umat ini.

Untuk pekerjaan besar ini kita bisa belajar dari sekelompok semut yang sedang mengangkat makanan berupa binatang atau lainnya yang beratnya puluhan kali berat semut itu sendiri. Bagaimana semut-semut ini melaksanakan pekerjaan besar tersebut? Siapa yang punya gagasan terus kemudian mengajak yang lain? Dengan bahasa apa mereka berkomunikasi? Bagaimana mereka menyepakati arah kemana makanan dibawa? dst. Mereka dapat melakukan ini karena hewan terkecil sekalipun, bahkan sampai sekelas bakteri-pun oleh Allah diberi kemampuan untuk ?berpikir? maupun ?bertindak? secara bersama-sama dengan kelompoknya. Ilmu manusia modern kemudian menyebut hal ini sebagai Collective Intelligence (CI).

Belajar dari Semut...

Belajar dari Semut...

Bila dengan CI-nya, semut dan bakteri-bakteri yang kecil tidak kasat mata-pun dapat membunuh manusia yang besar ini ? maka dapat kita bayangkan pekerjaan besar apa yang bisa dilakukan oleh sekelompok manusia-manusia yang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi-nya yang pasti memiliki CI yang sangat perkasa ketimbang CI-nya bakteri, semut, dlsb.

Karena potensi pemanfaatan CI yang sangat besar tersebut, maka berbagai pihak kini rame-rame berusaha mengelola CI untuk berbagai tujuan. Linux misalnya menggunakan CI untuk menghasilkan software yang gratis dan sangat bermanfaat. Wikipedia untuk menghasilkan encyclopedia yang juga gratis ? yang encyclopedia semacam ini sebelumnya hanya dibeli oleh kalangan teknokrat yang kaya.

Secara tidak langsung dalam penerapannya yang masih terbatas, Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) juga menggunakan CI ini untuk mengembangkan berbagai project, mulai dari project Kambing Ettawa, JamurComposites, Planet Beku, Masjid ?Gedebog?, Sate Balibul, Kambing Hot Rock dan berbagai project lain yang insya Allah semakin meaningful ke depan.

Bagaimana kami mengelola CI-ini? ya antara lain melalui tulisan-tulisan yang kami lontarkan di web ini kemudian menuai masukan; juga melalui pertemuan-pertemuan fisik yang tidak hanya melibatkan para santri wirausaha tetapi juga pihak-pihak lain yang kami pandang bisa melengkapi CI yang dibutuhkan. Pertemuan ini bisa berupa vision sharing (bila kami baru melontarkan ide)crash test (bila kami telah siap dengan suatu produk) ataupun acara kick-off (bila kami mulai sesuatu).

Nah sekarang kita juga akan menggunakan CI untuk membangun pasar kita tersebut di atas. Rencana membangun pasar ini, sengaja saya lontarkan di tulisan ini karena kita ingin mengumpulkan dan menyaring CI dari puluhan ribu pembaca setia DinarIslam.com ? yang sangat bisa jadi sebagiannya memiliki minat yang sama. Berikut adalah deskripsi ringkas dari project yang kita beri nama Medina Market ini:

Kita tahu bahwa  Jakarta kini sudah semakin padat, kota-kota satelit di seputar Jakarta semakin menjamur yang kemudian dikenal dengan JaBoDeTaBek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Di salah satu wilayah ini, masih di mulut pintu tol-nya ? ada sebuah mall yang memiliki lokasi ideal untuk target Medina Market yang pertama. Mall ini berada di gerbang pusat kegiatan berbagai perumahan yang kini bermunculan di daerah tersebut.

Ada sederet foot court yang masih kosong di mall ini ? menghadap keluar ke alam bebas sehingga mempunyai pemandangan yang indah. Lebih indah lagi bila dikelola dengan berbagai aktifitas outdoors yang sekarang juga semakin marak. Inilah calon target pasar pertama kita, yang dari sekian banyak lokasi nampaknya paling cocok untuk mulai. Lokasinya juga kurang lebih di antara 2 masjid besar bertaraf internasional yang dikelola ustadz-ustadz kondang negeri ini, jadi ideal sekali untuk memulai membangun masyarakat muslim yang utuh.

Collective Intelligence untuk Medina Market

Collective Intelligence untuk Medina Market

Peluangnya adalah bila seluruh counter yang menghadap ke alam bebas tersebut bersama-sama kita kelola, maka nuansanya bisa kita warnai. Dengan banyaknya pedagang sekaligus (lokasi ini hanya untuk makanan atau food court), maka banyak pilihan yang langsung hadir di lokasi ini ? sehingga juga akan segera menjadi daya tarik bagi masyarkat untuk mengunjunginya.

Karena ?mengelola? pasar secara utuh ini jelas belum menjadi kompetensi kita saat ini, maka CI tersebut di ataslah yang kami butuhkan.

1. Coordination akan kami gunakan untuk mengumpulkan para pemodal yang tertarik di project ini. Agar tidak terlalu berisiko bagi para pemodal tersebut, maka lokasi ini cukup kita sewa dahulu sehingga tahun pertama hanya butuh dana mulai dari sekitar 15 Dinar untuk 1 counter. Untuk kategori pemodal ini, kami hanya butuh sekitar 20 orang.

2. Cooperation akan kami gunakan untuk mengelola suppliers dan pihak ketiga yang produk atau jasa-nya kita butuhkan tetapi bukan bagian dari pemodal yang terlibat secara langsung di tipe pertama. Kategori ini antara lain yang kita butuhkan adalah supplier makanan RTC (Ready To Cook) ataupun RTE (Ready To Eat), pengelola Bungi Jumping, Flying Fox dan aktivitas outdoors lainnya yang berpengalaman. Dengan adanya mereka ini, pemodal counter tidak harus mampu memasak masakan yang enak sendiri ? dapat di outsourced ke provider RTC ataupun RTE.

3. Cognition kami perlukan dari para business practitioners untuk mem- ?verifikasi? dan ?fine-tuning? peluang besar yang kami lihat tersebut di atas ? yang sudah barang tentu tantangannya juga besar. Dengan adanya mereka ini, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan kita yang terbatas dalam mengelola pasar dapat disempurnakan dari waktu ke waktu.

Ibarat sekumpulan semut di atas, kita akan mengangkat segumpal bahan makanan yang sangat besar untuk ukuran tubuh kita ? maka dengan CI inilah insya Allah kita akan bisa mengangkat beban tersebut secara bersama-sama. Bila kita bisa benar-benar wujudkan pasar yang satu ini, insya Allah pasar-pasar yang lain bisa kita bangun bersama di berbagai wilayah dan berbagai kota. Pasar yang terjangkau inilah salah satu jalan untuk menuju kemakmuran yang lebih luas bagi umat, jadi harus ada yang memulai. Ayo sekarang kita mulai, siapa mau ikut?

Semoga Allah senantiasa memudahkan kita pada amal yang diridhloiNyaAmin.

NB: Untuk peminat kategori investor, kami berlakukan first come first ? sampai 20 orang pertama kemudian stop ? sama dengan peserta Mudharabah Muqayyadah gelombang I. Bila ada peminat yang lebih dari 20, maka akan dicadangkan untuk lokasi lain yang akan kita bidik kemudian. Peminat bisa menghubungi kami di menu “Contact” dari situs ini.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Setelah Masjid Dari Pelepah Kurma & Tatal, Insya Allah Akan Ada Masjid Dari Gedebog Pisang


Masjidnya Rasulullah SAW dahulu pertama kalinya dibangun dari pohon dan pelepah kurma. Kemudian para Wali ? penyebar agama Islam di negeri ini, konon membuat tiang Masjid Demak dengan tatal atau serbuk kayu. Maka kini umat yang berusaha mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para Wali tersebut, berniat untuk membangun Masjid dari bahan yang tersedia melimpah dan dengan teknologi yang tersedia pada zamannya… Masjid dari Gedebog Pisang dengan teknologi composites.

Mesjid yang akan kita juluki dengan nickname Masjid ?Gedebog? namun nama resminya Masjid Daarul Muttaqqiin ini insya Allah akan segera dimulai pembangunannya. Masjid ini akan berada di lingkungan Pesantren Wirausaha Daarul MuttaqiinJonggol Farm, Jonggol, Bogor ? Jawa Barat, sekitar 26 km ke arah tenggara dari Jakarta.

Sebagaimana fungsi masjid pada umumnya yaitu tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT semata; termasuk namun tidak terbatas pada aktifitas shalat, mengaji, i’tikaf, menuntut ilmu, dlsb, Masjid ?Gedebog? ini juga kami visikan sebagai sumber inspirasi dalam membangun kemakmuran umat.

Dasarnya adalah mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dalam hadits yang Diriwayatkan oleh Annas RA., ?Beberapa  barang  datang kepada Rasulullah dari Bahrain.  Rasulullah memerintahkan  kepada para sahabat untuk membagikannya di masjid, dan barang itu  merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima Rasulullah SAW. Ia meninggalkannya  untuk  shalat  tanpa menengoknya sama sekali. Setelah usai shalat, Nabi duduk  di depan barang-barang tersebut dan membagikannya kepada siapa saja yang ia lihat. Al Abbas datang kepada beliau dan berkata, ?Wahai Rasulullah berikan padaku sebagian barang-barang itu, karena saya perlu memiliki bekal untuk saya dan Aqil.? Rasulullah lalu meminta ia untuk meng- ambilnya sendiri…?. (HR. Bukhari)

masjid-gedebog-pisang2Visi kemakmuran dunia dan akhirat sebagaimana tertuang dalam do?a yang paling mashur ?Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ?adzabannar? ini kemudian kami artikulasikan dalam langkah-langkah konkrit sebagai berikut:

  • Pembangunan Masjid ?Gedebog? ini akan melibatkan aktifitas ekonomi dari ribuan atau bahkan puluhan ribu masyarakat langsung maupun tidak langsung. Yang langsung adalah aktifitas para ahli, pekerja, supplier, konsultan, kontraktor dan sub kontraktor;  sedangkan yang tidak langsung adalah para petani yang mengumpulkan gedebog kemudian mengolahnya menjadi anyaman atau tali, para pengumpulnya, jasa transportasinya, dst.
  • Pengalaman membangun masjid dengan teknologi material composites ini akan menjadi pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan kolektif masyarakat yang terlibat di dalamnya. Dengan ketrampilan tersebut, insya Allah secara bersama-sama kita bisa menggarap pasar yang lebih luas ? yaitu industri konstruksi secara umum, tidak hanya masjid ? tetapi sesudah ini rumah-rumah, gedung-gedung dan bahkan kapal-kapal yang dibutuhkan sangat banyak untuk negeri kepulauan inipun bisa kita bangun sendiri dengan teknologi composites yang sama.
  • Para jamaah dan peziarah yang akan mengunjungi masjid ini insya Allah kelak akan selalu terstimulasi pikiran dan kreatifitasnya, bahwa dari bahan gedebog yang selama ini dipandang tidak berguna, dengan izin Allah bisa dibangun bangunan yang kokoh ? tempat mengagungkan namaNya.  Insya Allah generasi masyarakat yang kreatif mensyukuri nikmat Allah, mengolah dan memakmurkan bumi akan benar-benar  lahir. Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud [11]: 61).
  • Setelah masjid ini jadi nantinya; berbagai program untuk memakmurkannya telah menanti. Sekolah Tahfidz Al-Quran sejak usia dini, pesantren wirausaha kelas reguler dan eksekutif, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Pusat Pemberdayaan Umat, dlsb adalah beberapa program untuk kemakmuran masjid yang telah hampir tuntas kami susun.
  • Lokasi Masjid yang berada di pusat kegiatan Jonggol Farm yang di dalamnya sudah mulai berjalan embrio industri kambing susu dan kambing pedaging, industri susu kambing dan produk-produk turunannya, industri jamur dan pengolahan produk jamur, industri pengolahan buah dan hasil pertanian, dlsb insya Allah akan mendekatkan program pemakmuran umat ini dengan realitas ekonomi modern.
  • Masjid yang dibangun dari Gedebog Pisang yang merupakan salah satu tanaman surga ini insya Allah juga akan membawa nuansa tidak terputusnya urusan dunia kita dengan urusan akhirat, surga menjadi nampak begitu dekat setiap kali kita memandangi dan mengolah pohon-pohon pisang ini – semoga dengan pohon pisang yang kita olah menjadi rumahNya ini, kelak di akhirat kita benar-benar diizinkanNya untuk sampai kesana ?…berada di antara  pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…?. (QS. Al-Waqi?ah [56]: 28-30)

masjid-gedebog-pisang3Bagaimana Anda dapat terlibat dalam program ini? Sebagai individu Anda dapat membantu kami dengan dana, sumber daya, material, pemikiran dan minimal do?a. Bila Anda bekerja di perusahaan-perusahaan atau institusi-institusi yang memiliki program Corporate Social Responsibility, Anda dapat menjadi penghubung kami agar person in charge untuk CSR di korporasi atau institusi Anda setidaknya aware atas apa yang sedang kami usahakan ? dan siapa tahu, apa yang kami lakukan in line dengan yang mereka pikirkan sehingga kita bisa bersinergi.

Penjelasan lebih detil dari Masjid ?Gedebog? Daarul Muttaqiin ini tersedia dalam bentuk file PDF yang dapat Anda unduh dengan klik disini. Bila diperlukan penjelasan lebih detil atau bahkan presentasi khusus, insya Allah dengan senang hati kami akan dapat lakukan.

Bila kelak masjid ini selesai terbangun, insya Allah ini akan menjadi pencapaian maksimal dari upaya hamba-hamba Allah yang lemah ini dalam memahami dan mensyukuri nikmatNya, mencerna sebagian kecil dari ilmu yang diberikan olehNya, menerapkan teknologi yang telah dimudahkanNya dan memadukan serta menggalang kekuatan umat yang telah digerakkan hatinya oleh Dia yang menguasai hati.

LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH…

Posted in Islamic ViewComments (0)

Antara Hamburger dan Sate Balibul


Di pusat finansial London dahulu ada restaurant dengan nama ?SATU? yang menyajikan berbagai masakan Asia Tenggara termasuk dari Indonesia seperti nasi goreng, sate, pisang goreng, dlsb. Restaurant elit dalam kategori fine dining ini nampaknya bukan punya orang Indonesia, dan dalam pekerjaan saya yang lama sering ke daerah ini ? tidak pernah menjumpai satupun karyawan-nya ada orang Indonesia. Siapapun pemilik restaurant tersebut tidak perlu membayar satu sen-pun ke pemerintah Indonesia, perusahaan di Indonesia ataupun orang-orang di Indonesia meskipun mereka memasak menggunakan resep Indonesia dan nama-nama masakan dari Indonesia.

Demikianlah berbagai menu masakan Indonesia seperti nasi goreng dan sate mendunia, tanpa negeri ini bisa mengambil manfaatnya satu sen-pun. Hal ini jelas sangat berbeda dengan misalnya bagaimana Hamburger, French Fries (hanya kentang goreng !), Fried Chicken (hanya ayam goreng tepung!), dlsb masuk menguasai pasar makanan cepat saji di Indonesia.  Bisa saja pengusaha Indonesia membuat restaurant cepat saji dengan menu seperti ini, namun sampai saat ini setiap anak-anak kita makan Hamburger, French Fries, Fried Chicken (orang seusia saya umumnya kurang suka menu tersebut), maka kemungkinan terbesarnya sebagian uangnya akan lari ke pemegang franchise dari makanan-makanan tersebut di luar negeri.

Hamburger & French Fries

Hamburger & French Fries

Disinilah ironi itu, ketika orang-orang di negeri yang tergolong miskin ikut menikmati makanan dari negeri-negeri yang tergolong kaya ? mereka membayar sebagian dari ongkos makanan tersebut ke negeri kaya melalui sistem franchise, dlsb. Sebaliknya ketika orang-orang kaya di manca negara menikmati menu dari negara-negara miskin, mereka tidak merasa perlu untuk membayar satu sen-pun ke negara miskin yang menghasilkan menu tersebut.

Inilah antara lain ketimpangan ekonomi dunia yang ditimbulkan oleh Sistem Ekonomi Kapitalis, dimana negara-negara yang maju dengan kapital yang kuat mampu mengatur orang lain untuk mengikuti sistemnya. Melalui hak patent, intellectual property right dan sejenisnya mereka mampu menyedot hasil dari setiap makanan cepat saji yang dimakan generasi muda bangsa ini, setiap software yang kita gunakan di rumah maupun kantor-kantor kita, bahkan juga dari setiap mainan ?game? yang dimainkan anak-anak kecil di negeri seperti kita.

Lantas apa yang mereka lakukan yang kita tidak lakukan sebenarnya, sehingga terjadi ketimpangan ini? Salah satunya adalah apa yang disebut Proses Industrialisasi. Ambil contohnya pada perbandingan makanan-makanan di bawah.

Sebelum Hamburger, French Fries, Fried Chicken dan sejenisnya masuk ke pasar Indonesia, menu makanan-makanan tersebut telah menjadi industri di negaranya. Diantara karakter industri adalah adanya standar proses, standar mutu, kelengkapan dan kontinyuitas. Ketika anak kita makan hamburger di salah satu restaurant cepat saji tersebut misalnya, penyajiannya sama dari satu lokasi ke lokasi lain, waktu delivery-nya sama, rasanya sama dan seterusnya. Di sisi supply bahan baku berupa tepung, daging, saus, sayuran dan segala macamnya juga ada standar yang sama dan masing-masing komponen harus selalu ada di setiap menu.

Bisa saja istri-istri kita membuat makanan-makanan yang lebih enak dari restaurant cepat saji tersebut, tetapi Proses Industrialisasinya yang tidak mudah untuk membuat makanan yang enak tersebut dalam jumlah banyak setiap hari dan di seluruh negeri. Tetapi tidak mudah  tidak berarti tidak mungkin, bila ada diantara kita yang mau bekerja keras secara team ? maka sangat mungkin kita-pun bisa meng-industrialisasi-kan  menu-menu makanan asal negeri ini yang terkenal dengan keragaman citarasa-nya ini.

Untuk sate saja misalnya misalnya, ada puluhan jenis sate di negeri ini yang semua enak-enak. Ada sate Madura, sate Padang, sate Jogja, sate Betawi, sate Tegal, dst. Sate Tegal sendiri ada beberapa spesialisasi, diantaranya adalah Sate Balibul (dibawah lima bulan) atau bahkan Batibul (dibawah tiga bulan) yang selain sangat enak meskipun dengan bumbu minimalis ? hanya kecap dan cabe, dia juga sangat empuk dagingnya.

Lantas bagaimana kalau kita mau meng-industrialisasi-kan Sate Balibul misalnya untuk kelak bersaing dengan berbagai makanan cepat saji seperti Hamburger tersebut di atas, sehingga mampu bersaing di negeri sendiri syukur-syukur bersaing secara global sebagai makanan favorit dunia? Di luar menu pendamping seperti nasi goreng dan nasi putih saja, berikut setidaknya pekerjaan yang perlu dilakukan khusus untuk mendukung tercapainya industri Sate Balibul ini:

1. Diperlukan adanya peternakan kambing skala industri, yang setiap hari mampu mensupply kambing-kambing muda di bawah 5 bulan dalam jumlah yang mengimbangi demand ? bila tidak maka industri Sate Balibul akan gagal. Peternakan skala industri ini bisa melibatkan inti dan plasma dari ribuan petani/peternak.

2. Diperlukan industri pemotongan kambing yang sehat, sehingga menghasilkan daging-daging kambing yang rendah kolesterol ? yaitu daging-daging kambing yang telah melalui proses rigor mortis dimana lemak jenuh-nya telah berubah menjadi lemak tidak jenuh.

3. Diperlukan rantai supply yang mampu menangani bahan baku daging kambing terutama, untuk selalu tersedia dalam kondisi terbaiknya setiap saat diperlukan.

4. Diperlukan proses standar membakar sate yang bisa diterima secara umum baik dari sisi hygienis dan ergonomis-nya (membakar sate dengan cara yang ada sekarang sangat melelahkan pekerja), maupun menghilangkan efek negatifnya seperti asap yang ngebul dan efek carcinogenic dari arang.

5. Diperlukan kampanye pemasaran yang Luar Biasa karena selama ini makanan-makanan dari kambing terlanjur ?dikambing-hitam?kan sebagai sumber kolesterol dan hal-hal negatif lainnya.

6. Diperlukan manajemen yang creative dan mumpuni untuk mengelola jaringan restaurant cepat saji berbasis kambing muda ini.

7. Diperlukan pengelolaan merek dagang, sistem franchise, sistem kendali mutu, dlsb agar Sate Balibul yang dipasarkan dimanapun di seluruh Indonesia atau bahkan dunia tetap memiliki standar mutu dan citarasa yang relatif sama ? meskipun di berbagai negara ada kemungkinan memerlukan modifikasi rasa.

8. Dlsb.

Industri Sate Balibul?

Industri Sate Balibul?

Bila Proses Industrialisasi tersebut dapat dilakukan, maka ada peluang di era globalisasi ini nantinya ketika misalnya jaringan restaurant cepat saji bernama Balibul ada di seluruh dunia ? sebagaimana Hamburger kini ada di seluruh dunia ? setiap warga dunia makan Sate Balibul, sebagian uangnya mengalir ke negeri ini dalam bentuk franchise fee, dalam bentuk pembayaran bahan baku, dalam bentuk gaji tenaga kerja ahli di bidang persatean Balibul, dst. dst.

Maka itulah buah industrialisasi, ketika kita berhasil membuat suatu industri ? betapapun nampaknya sepele seperti Sate Balibul ini misalnya, efeknya terhadap kesejahteraan masyarakat akan luar biasa. Industrialisasi ini pulalah yang selama ini memakmurkan negara-negara yang makanan-nya ikut kita makan, yang software-nya kita pakai sehari-hari, yang film-nya kita tonton, dst.

Poin 1 ? 8 tersebut di atas bisa dilakukan oleh swasta untuk mewujudkan industri ini; namun ada hal-hal lain yang harus dilakukan oleh pemerintah yaitu ketersediaan Infrastruktur Industri, perizinan yang mudah, sistem perpajakan yang menunjang, dlsb. Dalam kondisi Indonesia saat ini, mewujudkan industri tersebut masih sangat sulit karena kita adalah negara di urutan 122 dalam hal kemudahan usaha.

Saya justru kawatir, industri-industri semacam ini lahir dari negara-negara tetangga kita meskipun menggunakan menu makanan kita. Singapore misalnya, tingkat kemudahan usaha menempati no 1 di Dunia ?jadi sangat mudah melahirkan usaha di sana. Negara tetangga lainnya Thailand di urutan 12, Malaysia urutan 23 dan bahkan Vietnam saja berada lebih baik dari kita yaitu di urutan 93.  Bila daya saing industri ini tidak ada lompatan perbaikan yang luar biasa dari para pihak yang berwenang di negeri ini, memakmurkan rakyat akan tetap sulit atau bahkan semakin sulit ke depan.

Maka melalui tulisan ini, saya mengajak ribuan pembaca tulisan-tulisan saya untuk mau mulai memikirkan hal-hal kecil tetapi insya Allah berdampak besar dalam konteks memberi makan di hari kelaparan, mumpung ini bulan puasa ? kita dapat merasakan betapa tidak enaknya lapar. Bila industri-industri yang sebelumnya tidak terbayang-kan pun terbangun, lapangan kerja insya Allah tercipta, ekonomi berputar lebih cepat, impor berkurang dan ekspor meningkat ? maka disitulah kemakmuran insya Allah akan datang.

Seandainya Allah kelak bertanya ke kita ?mengapa engkau biarkan tetanggamu, sekian banyak penduduk negerimu sampai kelaparan di bumiKu yang gemah ripah loh jinawi ? yang di dalmnya semuanya telah Aku sediakan??, kita inginnya bisa menjawab ?Sudah Ya Allah, Aku bekerja keras di siang hari, berdo?a kepadaMu di malam hari, ingin agar aku, keluargaku, tetanggaku dan masyarakat di negeriku terhindar dari rasa lapar karena miskin Ya Allah; mengenai hasil, itu kuasaMu jua yang menentukan Ya Allah…?. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Memaknai Kemerdekaan: Belajar Swasembada Ala Gandhi


Mumpung ini bulan Agustus, saya ingin menulis lagi tentang makna kemerdekaan bagi saya. Ini terkait dengan salah satu sebab mengapa rata-rata penduduk negeri ini bertambah miskin justru di era reformasi khususnya 10 tahun terakhir. Hal ini antara lain karena kita menjadi bangsa konsumtif, ekonomi kita lebih banyak didorong oleh konsumsi ketimbang produksi. Kita lebih banyak menjadi pasar dari produk orang lain, ketimbang pemasar bagi produk-produk kita sendiri.

Kalau sebagian bahan pangan kita dari terigu yang harus diimpor, demikian pula daging, susu dan gula lebih ekonomis (lebih murah) produk impor, tekstil dan produk tekstil kalah murah dengan produk china, sebagian terbesar peralatan elektronik, komputer, kendaraan bermotor juga produk impor, lantas apa yang kita produksi sendiri?

Coba kita renungkan dari bangun pagi sampai tidur lagi malamnya, bagian mana yang kita produksi?

Ketika bangun kita gosok gigi dan mandi pagi, hampir pasti pasta gigi yang kita pakai produksi perusahaan asing demikian pula sabunnya. Kemudian mencukur jenggot atau kumis, foam dan silet-nya juga pasti produksi asing. Ketika berganti baju, kemungkinannya adalah baju tersebut buatan China atau negeri lain, kalau toh buatan dalam negeri ? hampir pasti kapas atau bahan tekstil-nya diimpor juga.

Kemudian sarapan pagi pakai roti atau pakai mie ? kedua produk ini terbuat dari terigu yang pasti juga bahannya diimpor. Sebelum berangkat kerja sempat menelpon beberapa orang, handset-nya pasti impor ? dan pulsa teleponnya dibayarkan ke perusahaan Indonesia ? yang sahamnya juga dimiliki asing seperti Malaysia, Qatar, dlsb.

Kemudian naik kendaraan, mungkin dibuat/di-assembling di dalam negeri tetapi komponen utamanya juga impor. Ketika mengisi bensin, well sebagian besar kita masih memilih pom bensinya Pertamina. Tetapi tahukah kita bahwa minyak mentah untuk bahan bensin tersebut juga harus diimpor? Makanya ada subsidi yang sering diributkan itu, sudah sejak beberapa tahun lalu kita menjadi net importir untuk minyak ? jadi kita lebih banyak mengimpor ketimbang mengekspor.

Sampailah kita ke kantor membuka komputer mulai kerja; kemungkinan besarnya kita menggunakan PC atau Mac ? yang keduanya juga impor. Perhatikan pula seluruh peralatan kerja kita, sampai pensil sekalipun kemungkinan adalah produk impor.

Malam hari kita pulang, sempat nonton televisi yang produk Jepang, Korea, China atau negara-negara lain. Istri di rumah nggak sempat masak, telpon jaringan fastfood untuk makan malam ? lagi?lagi sebagian yang kita makan otomatis lari keluar karena makanan tersebut dijual disini atas lisensi franchise dari negara lain.

Kemudian kita lelah dan berangkat tidur, mulai dari matras tempat tidur, sampai bantal dan selimut-pun kemungkinan besar didominasi oleh produk atau bahan impor. Wow!

Nah mengapa semua ini bisa terjadi? Para ekonom rata-rata sepakat ini adalah karena faktor efisiensi. Negara-negara yang bisa membuat produk lebih efisien ? dus lebih murah ? akan dengan mudah bersaing di pasar yang semakin tanpa batas. Kalau ini dalilnya, lantas dimana peluang kita? Bagian mana dari kebutuhan kita yang bisa kita penuhi sendiri? Untuk menjawab pertanyaan inipun kini menjadi tidak mudah ? saking sudah terkepungnya kita dengan produk impor tersebut.

Ada setidaknya 2 hal  yang sebenarnya bisa mendongkrak produksi di luar Faktor Efisiensi tersebut, yaitu:

1) Keberpihakan pada produksi dalam negeri. Bisa jadi lebih mahal karena belum seefisien negara maju, namun kalau kelebihan harga tersebut juga kembali ke industri dan lapangan kerja di dalam negeri ? maka efek globalnya akan meningkatkan produksi dalam negeri ? dan menekan konsumsi produk-produk impor.

2) Sentimental Value dari produk-produk yang kita konsumsi. Meskipun produk impor lebih murah, kita tetap memilih produk kita sendiri karena adanya nilai lebih ya sentimental value tersebut.

Dalam hal sentimental value ini, kita bisa belajar misalnya dari apa yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi dalam membangun fondasi kemerdekaan India dari jajahan Inggris ? yang lamanya hampir sama dengan penjajahan Belanda di Indonesia. Gandhi misalnya mengajak rakyat India untuk mandiri dalam hal apapun.

Bendera Perjuangan India

Bendera Perjuangan India

Bahkan bendera perjuangan pemerintahan sementara mereka ? Provisional Government of Free India – sebelum merdeka 1947 bergambar charkha, yaitu alat pemintal benang secara manual yang dikampanyekan negeri itu sebagai alat produksi sekaligus simbul perlawanan terhadap dominasi produk impor India saat itu ? yaitu tekstil.

Keberhasilan Gandhi membawa rakyatnya swasembada pakaian inilah yang kemudian ikut andil dalam membawa kemerdekaan negeri itu, sekaligus tekstil juga menjadi produk unggulannya sampai berpuluh tahun kemudian.

Semangat swasembada ala Gandhi inilah barangkali yang sekarang perlu kita bangun, agar negeri ini mampu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Kita bisa mulai dari yang paling basic dahulu, yaitu sandang, pangan dan papan. Untuk pangan dan papan sudah pernah saya tulis dalam tulisan-tulisan sebelumnya, untuk sandang saya beri contoh apa yang bisa kita lakukan sebagai berikut:

banana-fiber

Serat Pisang

Bahan pakaian kita saat ini baik yang sifatnya serat alami kapas maupun serat syntetis mayoritasnya adalah impor. Kalau kita menanam kapas, jelas kita kalah efisien dengan negara lain yang industri perkapasannya sudah maju. Tetapi serat untuk pakaian kan tidak harus kapas? Bisa serat Gedebog Pisang misalnya,  yang secara kwalitas tidak kalah ketimbang kapas ? bahkan Serat Gedebog ini lebih mendekati sutera!

Perhatikan contoh gambar serat gedebog pisang di samping. Gambar yang di atas (Half Degummed Banana Fiber) adalah yang kita rencanakan menjadi bahan bangunan dan yang di bawah yang menyerupai sutera tersebut (Banana Fiber) adalah untuk bahan pakaian.

Gedebog Pisang ini melimpah di sekitar kita dan dapat tumbuh hampir dimana saja di seluruh nusantara. Untuk mengolah serat pisang sampai kwalitas mendekati sutera tersebut saya yakin juga bukan hal yang sulit, dan insya Allah bisa diolah dalam skala rumah tangga.

Pemintal Benang Sederhana

Pemintal Benang Sederhana

Lantas setelah menjadi serat, memprosesnya menjadi benang-pun tidak harus skala industri. Alat-alat sederhana dari kayu seperti di samping inilah yang kita butuhkan untuk memintal benang tersebut.

Hasilnya adalah benang-benang menarik seperti dalam contoh berikut di bawah. Setelah menjadi benang ini, bisa saja dibuat kain untuk berbagai jenis pakaian, atau langsung dirajut menjadi pakaian yang indah seperti yang dilakukan oleh puteri saya dalam blog-nya Life is a Beautiful Crochet.

Benang INDAH Gedebog Pisang

Benang INDAH Gedebog Pisang

Hasil keseluruhan dari proses ini kemungkinan besarnya masih akan kalah efisien dengan industri per-tekstil-an China sehingga baju-baju yang kita proses dari Gedebog Pisang ini masih akan lebih mahal. Namun ini produk kita sendiri, tanaman pisang adalah hasil tanaman sendiri ? yang menanamnya akan menjadi pekerjaan bagi jutaan rumah tangga di Indonesia.

Menganyamnya menjadi benang bisa menjadi pekerjaan anak-anak perempuan dan istri kita di rumah; demikian pula merajutnya menjadi baju.

Bahkan karena seluruh proses ini adalah proses industri tekstil yang eco-friendly serta dilakukan secara manual dengan tangan, maka nilai-nya menjadi bernilai tinggi karena hasil olah kerajinan (craft) bukan produk massal industri. Produk semacam ini juga memiliki pasar tersendiri ? karena menduduki posisi produk kerajinan yang ramah lingkungan yang sekarang mulai menjadi perhatian serius bagi masyarakat terdidik dunia.

Walhasil kita tidak bersaing dengan harga murah produk industri tekstil China, tetapi kita bersaing dengan sentimental value dari industri kreatif yang bisa jadi disinilah peluang untuk kita. Kalau Gandhi sentimental value-nya untuk melawan penjajahan Inggris, sedangkan kita sentimental value-nya adalah untuk kemerdekaan ekonomi bagi kita semua. Merdeka dari serbuan produk asing dan dari dominasi ekonomi negeri kuat terhadap negeri yang lemah.

Agar bisa mengimplementasikan perjuangan untuk merdeka secara ekonomi ini, tentu saya dan team tidak bisa bekerja sendirian. Bila Anda tertarik untuk ikut memperjuangkan hal ini, silahkan hubungi kami di gede...@dinarislam.com. Antara lain kita butuh mitra LSM Pemberdayaan Umat, kita butuh mitra ahli mesin dan proses industri khususnya tekstil, kita butuh designer yang creative dan kita butuh masyarakat luas untuk menanam pisang, mengolah gedebog-nya menjadi serat, memintalnya menjadi benang, merajutnya menjadi pakaian bernilai tinggi dan lain sebagainya. Insya Allah secara bersama-sama kita bisa meraih kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya. Merdeka!!!

Posted in Political EconomyComments (0)

Harga Emas: Antara Selera dan Realita


Sejak saya belajar ilmu pertanian 30 tahun lalu sampai sekarang, daya beli petani kita tidak banyak berubah. Kebanyakan mereka masih termasuk golongan masyarakat yang memiliki daya beli terendah di negeri ini, mengapa demikian? Karena mereka kebanyakan mengikuti selera dalam pola tanamnya. Ketika cabe di pasar harganya tinggi, maka serentak petani rame-rame menanam cabe. Pada saat mereka panen harga jatuh karena demand cabe kan tidak serta merta naik ketika supply tinggi dari panenan yang melimpah.

Tetapi ada sekelompok teman-teman saya yang sangat sukses di bidang pertanian/perkebunan. Mereka tidak menanam sesuatu hanya karena orang lain rame-rame menanamnya. Mereka hanya menanam suatu jenis tanaman apabila sudah diriset seberapa besar pasarnya, dan siapa-siapa yang sudah akan mengisi pasar tersebut. Dengan demikian pada saat mereka panen, pasar cukup kuat menyerap hasil panennya dan harga terjaga.

Pola tanam (bisa juga dibaca: investasi) yang sama sebenarnya juga terjadi di bursa saham dan pasar emas dunia, selera (appetite) sangat mempengaruhi keputusan investasi kebanyakan investor. Turun drastisnya harga emas dunia tadi malam misalnya adalah karena secara tiba-tiba begitu banyak investor yang selera untuk mengambil risiko investasi-nya membaik.

Ketika beberapa negara Eropa diguncang krisis, para investor dihinggapi rasa ketakutan sehingga mereka rame-rame mengamankan dana investasinya sebagian di emas; permintaan emas yang melonjak saat itu mendorong harga emas tinggi selama beberapa bulan terakhir.

Kemudian ketika beberapa pekan terakhir ada kabar bahwa kondisi keuangan bank-bank besar Eropa ternyata tidak seburuk yang dibayangkan sebelumnya, karena bank-bank besar tersebut ternyata lolos stress tests ? maka para investor kembali merasa aman untuk mengalihkan dananya dari safe haven emas, ke bentuk-bentuk investasi yang lebih berisiko seperti saham, mutual fund dan lain sebagainya. Itulah sebabnya harga emas yang rendah hari-hari ini, akan bersamaan dengan tingginya harga-harga di saham dan sejenisnya.

Lantas apakah kita perlu rame-rame mengikuti masyarakat investor yang memburu saham dan sejenisnya tersebut? Kalau saya tidak akan saya lakukan karena tingginya harga-harga saham secara global hari-hari ini juga bukan karena didorong oleh kinerja perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan saham-saham tersebut. Lagi-lagi tingginya harga saham-saham tersebut lebih banyak didorong oleh selera atau appetite para investor untuk lebih berani mengambil risiko. Ketika selera memudar (dan selera memang gampang sekali pudar oleh berbagai sebab!), maka harga saham akan kembali berguguran. Lihat tulisan saya dengan judul Pilihan Investasi: Saham atau Emas?

Lantas apa yang akan saya lakukan? Belajar dari teman-teman yang sukses di bidang pertanian/perkebunan tersebut ? saya akan lebih banyak mengambil keputusan berdasarkan riset pasar dan realita yang ada pada supply and demand emas secara global dan dalam jangka panjang.

Untungnya tidak seluruh riset dan realita tersebut harus kita kumpulkan dan analisa sendiri; banyak sekali kajian para pakar di bidang ini yang bisa kita baca dan pelajari analisa mereka. Salah satunya adalah yang pernah saya kumpulkan dalam satu tulisan yang berjudul Prediksi Harga Emas oleh Para Ahlinya.

Dengan memahami realita-realita semacam ini, insya Allah kita bisa memaksimalkan keputusan yang didasarkan pada informasi yang memadai (well informed decisions) ? bukan hanya didorong oleh selera sesaat kita. Wa Allahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Trend Harga Emas: Sejauh Mana Mata Memandang


Pertanyaan yang terus sampai ke saya, khususnya dari para pengguna Dinar baru adalah?…kapan membeli Dinar yang paling tepat??. Pertanyaan sejenis pada saat harga lagi rendah seperti sekarang adalah ?…apakah harga akan turun lagi?? , kemudian pada saat harga lagi tinggi pertanyaannya adalah ?…apakah harga akan terus naik?? dan seterusnya.

Jawaban saya selalu sama yaitu Wa Allahu A?lam ? dan Allah-lah yang Maha Tahu, karena seberapa ahli-pun kita, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Paling banter kita memahami apa yang sudah terjadi sampai saat ini, kemudian menduga-duga apa yang selanjutnya akan terjadi. Berbagai teknik forecasting dikembangkan orang, tetap saja tidak ada yang menjamin keakuratan hasilnya.

Trend Harga Emas (2 Tahun)

Trend Harga Emas (2 Tahun)

Dari sekian banyak teknik ?duga-menduga? tersebut yang saya suka menggunakannya adalah analisa trendline, karena selain sederhana ? di standar grafik Excel ada fasilitas ini. Anda juga bisa mengolahnya sendiri berdasarkan harga-harga emas dan nilai tukar Rupiah yang ada di pasar.

Perhatikan 2 grafik contoh yang saya olah berdasarkan data harga emas dalam US$/Oz dan harga dalam Rupiah/Gram. Grafik pertama saya ambil dari data 2 tahun terakhir, trendline untuk harga emas dalam Rupiah cembung ke bawah yang dapat diartikan bahwa untuk 2 tahun terakhir cenderung stabil atau bahkan menurun. Sebaliknya trendline dalam US$, cekung ke atas yang dapat diartikan bahwa harga dalam US$ cenderung naik secara significant.

Trend Harga Emas (10 Tahun)

Trend Harga Emas (10 Tahun)

Grafik kedua saya ambilkan data yang sama, hanya untuk periode yang lebih panjang yaitu 10 tahun terakhir. Perhatikan sekarang trendline-nya baik dalam US$ maupun dalam Rupiah; keduanya menunjukkan cekung ke atas secara tajam. Artinya dalam 10 tahun terakhir harga emas baik dalam US$ maupun dalam Rupiah mengalami kecenderungan naik yang significant.

Lantas apa makna dari kedua grafik tersebut pada keputusan kita? Untuk dana-dana jangka panjang seperti tabungan untuk pergi haji, biaya anak sekolah, dana pensiun, tabungan untuk membeli atau memperbaiki rumah, tabungan modal usaha, dlsb. insya Allah akan selalu cocok untuk dikonversikan ke Dinar kapan saja.

Untuk dana jangka menengah, seperti rencana anak masuk sekolah dalam 1-2 tahun ini misalnya ? maka dapat dikonversikan ke Dinar atau tetap dalam Rupiah, tidak terlalu banyak perbedaannya dari sisi daya beli ? meskipun dari sisi ketenangan pikiran bisa jadi berbeda.

Untuk dana jangka pendek yaitu biaya kebutuhan rutin bulanan misalnya, atau biaya lain yang akan digunakan kurang dari setahun ini ? kecuali kebutuhan tersebut dapat dibeli/dibayar dengan Dinar ? maka untuk dana jangka pendek ini tetap dipertahankan dalam Rupiah akan lebih ekonomis.

US$ Money Supply

US$ Money Supply

Bila uang Anda saat ini masih dalam US$ ceritanya lain lagi; saya termasuk yang sangat tidak menganjurkan Anda memegang US$ baik untuk kepentingan jangka pendek maupun kepentingan jangka panjang. 2 grafik di atas menyampaikan pesan yang loud and clear (suara keras dan sangat jelas) bahwa ibarat pilot tempur dengan pesawat Dollar, kini saatnya Anda menekan tombol penyelamat dan tinggalkan pesawat Dollar Anda. Pesan yang sama-pun disampaikan PBB sebulan lalu; jadi bukan pendapat saya yang subjektif.

Pesan inipun juga tidak terlepas dari realita US$ sendiri yang di ? ?cetak? dalam berbagai bentuknya dengan jumlah yang sangat-sangat berlebihan 2 tahun terakhir seperti ditunjukkan oleh grafik di atas. Lagi pula kita-pun tidak membutuhkan US$ sebagai alat tukar, untuk apa pula kita pegang?

Jadi, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sangat tergantung dari rencana investasi Anda atau kapan dana-dana tersebut Anda akan gunakan, dan tergantung pula dengan currency uang yang sekarang Anda pegang. Wa Allahu A?lam.

Posted in Financial PlanComments (0)

Memenangi Peperangan Tidak Harus Melalui Pertempuran


Dalam dunia militer, pertempuran (battle) dibedakan dengan peperangan (war). War dapat terdiri dari sejumlah battle. Dalam suatu peperangan, bisa saja salah satu pihak memenangi sebagian besar battle tetapi kalah dalam war ? seperti yang dialami tentara Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Tetapi bisa juga suatu pihak kalah dalam ?battle? tetapi secara keseluruhan menang dalam war, seperti yang dialami Hamas di Jalur Gaza melawan serangan Israel tahun lalu. Begitu banyak bangunan rumah, sekolah dan masjid-masjid dihancurkan zionis Israel ? tetapi setelah pertempuran usai Hamas dan puluhan ribu simpatisannya merayakan dan mensyukuri kemenangannya secara besar-besaran di Damaskus ? sejak saat itu dunia lebih memahami dan mendukung perjuangan mereka, dunia menjadi paham bahwa Israel-lah teroris yang sesungguhnya.

Para pelaku dunia usaha khususnya di bidang pemasarannya, sering mengibaratkan apa yang mereka lakukan adalah seperti berperang dengan para pesaingnya. Sayangnya sebagian mereka (bahkan perusahaan besar sekalipun), sering tidak bisa membedakan mana yang battle dan mana yang war. Akibatnya seperti yang saya tulis dalam ilustrasi ?Uang Kertas & Tukang Cukur?, mereka bertempur habis-habisan sampai tidak ada pihak yang bisa meng-klaim memenangi peperangannya.

Di sisi lain, banyak sekali juga usaha-usaha yang bisa melenggang maju memenangi ?peperangan? tanpa harus melalui ?pertempuran? yang berdarah-darah. Usaha semacam ini adalah usaha-usaha yang bisa menemukan blue ocean-nya sendiri, sehingga persaingan menjadi irrelevant untuk mereka ini ? mereka tidak perlu ?bertempur? untuk dapat memenangkan ?perang?-nya sendiri (memajukan usahanya).
Bagaimana kita bisa memenangi ?peperangan? dalam usaha ini tanpa harus melalui ?pertempuran? yang menghabiskan resources kita? Berikut adalah 5 Strategy ?perang? tanpa ?bertempur? yang umumnya efektif dalam dunia usaha:

1) Create Differentiation atau buat produk barang atau jasa Anda berbeda dengan produk barang atau jasa yang ada di pasar. Ketika kami memperkenalkan Dinar misalnya, kami tidak merasa perlu bersaing dengan penyedia Dinar yang lain maupun bersaing dengan toko emas ? dengan melihat/membaca situs inipun Anda sudah akan merasakan perbedaan itu.

2) Focus On The Moment of Truth, yaitu menghadirkan produk barang atau jasa kita pada saat customer mengambil keputusannya untuk membeli/memanfaatkan produk barang atau jasa tersebut. Bagi kami misalnya moment of truth ini adalah Anda bisa membeli ribuan Dinar atau mencairkan kembali kapan saja Anda mau- dengan harga yang transparant setiap saat tersaji di situs ini secara real time.

3) Good, Better and Best yaitu menghadirkan pilihan yang semuanya baik bagi pasar Anda. Dalam hal Dinar ini adalah ketika Anda mengalihkan uang Anda ke Dinar yang aman terhadap inflasi dan daya belinya stabil sepanjang zaman ? ini adalah hal yang baik (Good); ketika Anda bisa menjualnya kembali bahkan dengan harga yang hanya 1% – 2% di bawah harga jual Dinar Islam melalui transaksi antar pengguna yang sering diiklankan di situs ini ? maka inilah hal yang lebih baik (Better). Ketika Anda bisa membelanjakan Dinar Anda untuk transaksi modal ke sektor riil secara mudah ? seperti yang kami fasilitasi dengan transaksi Mudharabah Muqayyadah di industri perkambingan misalnya ? maka inilah yang terbaik (best).

4) Value Proposition yaitu apa manfaat yang dirasakan oleh customer kita dari produk barang atau jasa tersebut; bagi kami value proposition ini kami ungkapkan dengan bahasa sederhana ?Islamic Investment & Wealth Protection?; Ketika Anda berinvestasi di stock, deposito, reksadana, dlsb; Anda hanya berinvestasi ? angka investasi Anda bisa saja terus meningkat ? tetapi ketika nilai Rupiah jatuh misalnya ? maka tidak ada artinya angka besar tersebut, atau dengan kata lain nilai investasi Anda TIDAK terproteksi. Sebaliknya di Dinar, selain nilainya terapresiasi terus menerus ? paling tidak selama dekade terakhir yang Anda dapat saksikan data real time 10 tahunan di situs ini, nilai ini justru akan melonjak ketika Rupiah turun daya belinya. Inilah fungsi “Wealth Protection” itu.

5) Plan, Do, Measure and Adjust; semua hal tersebut tidak ada gunanya apabila tidak diimplementasikan. Dinar beserta implementasinya sampai transaksi riil (Best) di pasar tidak ada manfaatnya kecuali benar-benar diterapkan. Ekonomi berbasis Dinar (Dinarnomics) bukan hanya wacana, tetapi adalah hal riil yang mulai ada di masyarakat. Tentu akan memerlukan penyempurnaan terus menerus, itulah sebabnya kita terus melakukan kajian-kajian (measure) dan penyesuaian (adjust) di lapangan.

Semoga Allah memudahkan jalanNya bagi kita semua untuk terus beramal shalih yang diridloiNya. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Kali Ini Bukan PIG FLU, Tetapi PIIGS ?FLU? Yang Mewabah


Tahun lalu wabah FLU BABI (Swine Flu atau Pig Flu) sempat membuat panik dunia setelah ditemukannya flu ini menjalar ke manusia di Amerika, Mexico dan Canada. Hari?hari ini dunia kembali dibuat panik tetapi bukan oleh PIG tetapi oleh PIIGS, acronym dari Portugal, Ireland, Italy, Greece dan Spain.

?Flu? di pasar uang dunia begitu terasa dalam beberapa hari perdagangan terakhir, bahkan ketika bailout senilai 750 Milyar Euro terhadap Yunani atau Greece sudah di commit oleh European Union dan IMF.  Komitmen raksasa untuk mengatasi kebolongan di epicentrum krisis tersebut nampaknya tidak membuat para pemain pasar lega.

Hanya 2 hari setelah bailout tersebut diumumkan, para pemain pasar kembali memburu jaring penyelamat untuk investasinya ? yaitu antara lain emas. Karena permintaan yang melonjak inilah maka pagi ini ? saat artikel ini saya tulis – harga emas berada di atas US$ 1,230/Oz atau dalam US$ telah mengalami peningkatan lebih dari 34% dibanding harga emas dunia tahun lalu. Harga ini memecahkan rekor tertinggi sebelumnya yang berada di kisaran US$ 1,226/Oz yang tercapai di awal Desember tahun lalu.

Mengapa seolah pasar tidak percaya terhadap upaya?upaya negara yang dilanda krisis tersebut untuk dapat mengatasi masalahnya? Ada 2 hal yang sangat mendasar yang menyebabkan hal ini:

  1. Hutang yang sudah begitu besar yang diderita oleh negara-negara yang dilanda krisis tersebut, perhatikan faktanya di grafik atas. Yunani dan Italy bahkan hutangnya per akhir tahun lalu saja sudah melebihi GDP-nya. Nenek-nenek kita dahulu juga tahu kalau problem hutang ini tidak bisa diatasi dengan hutang baru, semua bantuan baik dari EU, IMF, dlsb TIDAK ADA yang GRATIS ? pada waktunya harus dibayar.
  2. Negara-negara tersebut juga mengalami defisit pada anggaran belanjanya, sekaligus juga perekonomiannya tidak tumbuh ? sebagian malah merosot seperti yang dialami Spanyol.

swine-flu-cartoon-capitalist-pigsMasalah defisit ini sungguh tidak mudah diatasi karena menyangkut budaya. Pegawai-pegawai pemerintah di negara tersebut misalnya tidak akan mudah bisa diturunkan gajinya. Layanan publik juga tidak mudah diturunkan standarnya (dipotong anggarannya).

Walhasil bailout dari EU dan IMF untuk Yunani nampaknya hanya semacam obat untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi bukan obat untuk menyembuhkan penyakit. PIIGS ?FLU? (krisis) mungkin masih akan terus kambuh, bukan hanya terhadap Greece dan PIIGS tetapi terhadap semua negara yang memiliki ketahanan ?tubuh? (ekonomi) yang sama.

Symptoms atau gejala-gejala ketahanan ekonomi yang lemah ini antara lain ya 3 hal di atas yaitu:

  1. Hutangnya banyak.
  2. Anggarannya defisit.
  3. Pertumbuhan ekonominya rendah atau bahkan turun atau tidak tumbuh.

Jadi harga emas masih akan terus bergejolak karena dari waktu ke waktu orang butuh jaring penyelamat, dan emas-lah yang terbukti dapat berperan sebagai jaring penyelamat yang mudah diperoleh, efektif dalam mengatasi masalah inflasi dan gejolak ekonomi lainnya. Wa Allahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Susu Kambing Malaysia Rasa Jawa, Why…?


Ahad lalu kami team dari project Indolaban berkesempatan mengunjungi salah satu peternakan kambing paling modern yang ada di Johor ? Malaysia. Meskipun sangat melelahkan karena lokasi kandang kambing yang sekitar 6 jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur, insya Allah perjalanan ini tidak sia-sia.

Paling tidak, kami team Indolaban berharap bisa ikut membantu program pemerintah yang melalui janji Presiden kita akhir bulan lalu (31/03/2010) di Tulungagung diungkapkan bahwa, Kami akan membicarakan dan merumuskannya dalam sebuah kebijakan nasional sehingga pengembangan kambing ettawa ini bisa terus berkembang pesat .

Bagaimana janji tersebut bisa dimplemantasikan? Setidaknya ada 3 point yang kita bisa ambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh negeri jiran kita:

  1. Harus memiliki VISI bahwa yang sedang kita bangun adalah sebuah industri spesifik yang terkait dengan perkambingan ini. Bukan sekedar beternak kambing terus kemudian setelah berhasil kambing-kambing kita dan produk yang dihasilkan tetap bernilai rendah untuk standar dunia. Tanpa terbangunnya industri ini, maka kerja keras para peternak kita untuk menghasilkan kambing dan susu ? tidak akan memberikan reward yang pantas untuk mereka.
  2. Untuk membangun industri di point pertama tersebut diperlukan  standar kwalitas pengelolaan peternakan kita, agar mampu menghasilkan produk dengan standar yang diakui dunia seperti HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) misalnya. Tanpa pencapaian standar seperti ini, produk-produk kambing kita seperti susu dan bahan turunannya akan sulit untuk menembus pasar dunia.
  3. Untuk pencapaian point 1 dan 2 ; kita harus bisa ?Kerja Berpasukan? ? bahasa Malaysia yang artinya teamwork. Seluruh stakeholder perkambingan harus bisa bekerja sama, saling mengisi dan menyempurnakan ? bukan saling bersaing dan menjatuhkan ? sehingga terbangun industri yang kokoh yang siap bersaing dengan industri sejenis di negara lain.

Ironi memang ketika kita melihat berbagai produk berbasis susu kambing seperti moisturizing, body lotion, sabun, dlsb. yang kita jumpai di pasaran Indonesia saat ini adalah produk Malaysia ? ya antara lain dari peternakan yang kami kunjungi tersebut di atas. Padahal di dalam kandang kambing mereka disana, mayoritas kambingnya ya dari Jawa – Indonesia. Tenaga kerjanya juga sebagiannya dari Indonesia.

Jadi kita kirim kambing-kambing kita dengan harga murah kesana; kemudian juga tenaga-tenaga kasar untuk pemeliharaan kambingnya; namun setelah menghasilkan produk yang mahal ? maka produk yang mahal ini balik lagi ke Indonesia. Dibeli oleh orang-orang kaya Indonesia yang mampu membeli sabun mahal susu kambing, juga pelembab tubuh berkwalitas tinggi dari susu kambing.

"Kerja Berpasukan"

"Kerja Berpasukan" = GOTONG ROYONG

Mengapa mereka bisa menikmati nilai tambah yang tinggi sedangkan kita belum? Jawabannya adalah karena mereka sudah bisa membangun industri perkambingannya sedangkan kita baru mencanangkannya. Karena terbangunnya industri ini, peternak mereka tidak terlalu susah untuk memperoleh pakan yang murah, peralatan-peralatan peternakan yang lengkap, obat-obat perkambingan yang tersedia cukup, dlsb. Contoh kecil untuk hal ini adalah nipple ? semacam dot susu dari logam untuk membuat system pemberian air minum yang cukup bagi kandang kambing, harganya hanya sekitar Rp 45 ribu per buah ? tetapi hal-hal kecil demikian tidak mudah kita peroleh di sini ? sementara di Malaysia barang seperti ini bahkan bisa kita beli di peternakan kambing yang besar.

Bagaimana hal-hal detil yang nampaknya sepele tetapi sangat dibutuhkan untuk tumbuhnya industri perkambingan yang berkwalitas bisa ditangani? Jawabannya adalah ?Kerja Berpasukan? tadi. Maka bila janji Presiden SBY dalam kesempatan tersebut di atas ? bahwa anggaran pengembangan kambing akan masuk pada APBN 2011;  maka berikutlah menurut saya prioritas penggunaannya:

1) Biayai riset dan publikasikan hasilnya secara transparan; agar masyarakat luas tahu kelebihan-kelebihan susu kambing, daging kambing dan berbagai potensi lainnya yang terkait dengan kambing.

2) Fasilitasi jalan untuk mempermudah perizinan yang terkait dengan POM, MUI dan sertifikasi internasional HACCP tersebut di atas ? agar produk-produk kambing kita mudah diterima pasar, baik domestik maupun internasional.

3) Fasilitasi rakyat untuk mampu belajar mengelola kambing dengan baik dan benar. Contoh gambar di atas adalah kambing yang bisa berbaris rapi untuk diperah susunya, bagaimana bisa membuat kambing berbaris rapi untuk diperah susunya? ? SDM yang mengelola kambing yang pertama harus dilatih untuk mampu mengelola kambing-kambing tersebut. Setelah itu baru dia bisa melatih kambingnya untuk bisa berbaris setiap saat mau diperah susunya.

4) Fasilitasi rakyat untuk memperoleh bibit-bibit unggul kambing secara murah atau bahkan GRATIS.

5) Bangun jaringan industri dan pemasaran, baik yang terkait dengan kebutuhan bahan/alat bagi para peternak ? maupun yang terkait dengan hasil-hasil dari peternakan kambing ini.

Bila terbangun teamwork yang baik antara pemerintah, pengusaha, peternak dan masyarakat pada umumnya; maka sangat bisa jadi industri perkambingan ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kerakyatan kita yang sesungguhnya. Menggembala kambing adalah apa yang dilakukan oleh seluruh nabi-nabi, maka tidak ada salahnya kita menseriusi urusan perkambingan ini sebagai salah satu upaya untuk membangun kedaulatan ekonomi di negeri ini. Insya Allah.

Posted in Political EconomyComments (0)

Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes