Tag Archive | "Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham"

Emas & Kemakmuran Negeri Ini


Dalam beberapa tulisan saya sebelumnya saya sering menyebutkan bahwa cadangan emas Bank Indonesia hanya sekitar 96 ton. Angka 96 ton tersebut benar adanya ketika saya melakukan riset untuk buku ‘Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham.

Kemudian baru sempat revisit angka tersebut ketika ada pembaca yang menanyakan sumber data yang saya gunakan. Berdasarkan data World Gold Council (WGC), yang kemudian saya verifikasi dengan data dari laporan tahunan BI – ternyata ada penurunan cadangan emas BI yang cukup significant karena hampir  mencapai  24% dari cadangan sebelumnya.

Berdasarkan data WGC tersebut, sampai tahun 2006 cadangan emas BI adalah sebesar 96.4 ton emas, tetapi pada tahun 2007 lalu cadangan ini tinggal 73.1 ton emas atau mengalami penurunan 23.3 ton. Jumlah 23.3 ton emas ini tentu sangat banyak; kok nggak banyak dari kita – termasuk saya sendiri  - yang tahu penjualan cadangan emas ini  ketika hal tersebut dilaksanakan?

Jawabannya ada di laporan keuangan BI untuk tahun buku 2006 yang keluar bulan Mei 2007. Dalam penjelasan laporan perubahan ekuitas disebutkan bahwa pada tahun buku 2005, BI masih memiliki saldo emas sebesar 3,087,615.7493 TOZ (96.4 ton emas) tetapi pada akhir tahun buku 2006 saldo emas ini tinggal 2,347,045.9083 TOZ (73.1 ton emas). Sisanya berupa SSB Emas atau Gold Bond yang dijual dalam rangka mendukung kecukupan likuiditas berkaitan dengan percepatan pelunasan pinjaman IMF.

Jadi nampaknya kita terpaksa menjual aset baik kita untuk membayar hutang, apa boleh buat…

Kalau kita lihat jauh kebelakang lagi sampai ke awal-awal tahun kemerdekaan kita, ternyata kita pernah cukup kaya dalam hal cadangan emas ini. Puncaknya tahun 1951 ketika cadangan kita mencapai 248.8 ton emas. Namun kita juga pernah sangat miskin mulai pertengahan tahun 60-an sampai akhir tahun 1970-an, puncaknya adalah tahun 1971 ketika cadangan emas kita tinggal 1.8 ton. Kemudian selama ¼ abad sejak 1981 cadangan emas kita di BI stabil pada kisaran 96 ton, sampai akhirnya tahun 2006 lalu cadangan emas kita mulai berkurang kembali karena kita butuh bayar hutang.

Yang perlu kita renungkan adalah, kita tahu emas sebagai aset memiliki nilai atau daya beli yang stabil dan riil, 1 kg emas ½ abad lalu sama berharganya (daya belinya) dengan 1 kg emas sekarang – sama-sama cukup untuk membeli sekitar 250 ekor kambing! Emas tidak seperti uang kertas yang nilainya relatif terhadap waktu, Rp 1 juta ½ abad lalu sangat berbeda dengan Rp 1 juta sekarang.

Jadi kalau di awal kemerdekaan kekayaan riil dalam wujud cadangan emas di bank sentral kita sampai 248.8 ton dan sekarang tinggal 73.1 ton (kurang dari 30%nya!), jangan jangan kita sebagai bangsa memang tambah miskin sekarang?

Memang mengukur kekayaan suatu negara tidak cukup hanya dengan satu indikator saja, banyak indikator lain yang di luar tema sentral situs ini. Namun satu indikator yang ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Bagi saudara kita yang sudah sukup umur untuk merasakan kondisi ekonomi kita dalam 6 dasawarsa sejak kemerdekaan, pasti mereka bisa bercerita lebih banyak dari saya soal bagaimana hidup di rentang waktu dasawarsa tersebut. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Bersiap Menghadapi Fenomena Wealth Transfer


Tulisan saya kali ini saya ambilkan dari isi buku berjudul “Guide to Investing in Gold andSilver” karya Michael Maloney yang diterbitkan oleh Business Plus – Hachette Book Group (2008). Buku yang seharusnya sudah bisa kita beli di Indonesia tahun lalu ini, tidak tahu kenapa baru bisa kita jumpai di toko buku asing kenamaan Jakarta sekarang – mungkin karena penerbitnya yang tidak terlalu terkenal sehingga distribusi globalnya lelet.

Penulisnya sendiri adalah tokoh penting dalam dunia emasperak dan berbagai bisnis metal lainnya. Dia bahkan juga penasihat investasi yang mendorong orang sekaliber Robert Kiyosakimengalihkan sebagian besar investasinya ke perakRobert Kiyosaki bahkan memberi pengantar pada buku ini dengan menyebut penulis sebagai orang yang pandai merangkai titik-titik menjadi informasi yang bermakna – sementara orang lain mungkin hanya dapat melihat sebagai titik-titik yang tidak bermakna.

Banyak sekali isi dari buku ini yang mirip dengan buku saya “Mengembalikan KemakmuranIslam dengan Dinar dan Dirham” (Spriritual Learning Center, 2007); khususnya yang menyangkut pandangan tentang uang dan mengapa uang hanya bisa diperankan secara sempurna oleh emas dan perak. Bahkan di awal tulisannya Michael berusaha meluruskan salah kaprah dalam pemahaman tentang Currency dan Money di masyarakat.

Menurutnya apa yang disebut ‘uang’ oleh masyarakat sekarang sebenarnya hanyalah Currency – yaitu alat tukar yang hanya berlaku sesaat. Currency tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan nilai (store of value) yaitu prasyarat untuk dapat disebut sebagai uang (Money).

Sebaliknya uang yang sesungguhnya atau Money, selain dia dapat digunakan sebagai alat tukar (medium of exchange); dia juga berperan sebagai penyimpan nilai (store of value). Jadi Money pasti juga berupa Currency, sedangkan Currency belum tentu berupa Money.

Menurut Michael, hanya emas dan perak-lah yang dapat berperan sebagai Money sejak dahulu, sekarang, dan masa yang akan datang.  Nampaknya pendapat ini Fitrah, karena pendapat serupa sudah dinyatakan oleh Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddinsekitar 900 tahun lalu. Kalau Imam Ghazali mendasarkan pendapatnya ini pada pemahaman yang sangat dalam tentang syariahemas dan perakMichael Maloney mendasarkan pendapatnya pada alasan-alasan ekonomi.

Menurut Michael, berikut adalah alasannya mengapa hanya emas dan perak-lah uang yang sesungguhnya (money) itu :

  1. Selama lebih dari 5.000 tahun, hanya emas dan perak yang terbukti sebagai asset yang tidak pernah gagal. Ini karena emas danperak adalah tangible assets yang secara inherent membawa nilai-nya sendiri.
  2. Emas dan perak adalah asset yang bisa sepenuhnya private dan tidak merupakan bagian dari system financial– dia tidak akan terganggu oleh kegagalam system financial manapun.
  3. Emas dan perak adalah asset yang tidak merupakan liability pihak lain. Sebaliknya uang kertas, saham, obligasi dlsb. adalah asset yang merupakan liability pihak lain. Uang kertas adalah liability dari negara yang mengeluarkannya, demikian pula saham dan obligasi adalah liability bagi yang mengeluarkannya. Apa jadinya bila yang memiliki liability tersebut gagal memenuhi kewajibannya? maka uang kertas, saham, obligasi, dlsb menjadi tidak ada nilainya.
  4. Emas dan Perak dapat sepenuhnya dimiliki secara pribadi.
  5. Emas dan Perak berfungsi sebagai safe-haven atau jaring pengaman investasi dikala terjadi gejolak ekonomi.
  6. Emas dan Perak terbukti aman dikala inflasi tinggi maupun deflasi.
  7. Emas dan perak memiliki value density yang tinggi, mudah disimpan dan mudah bergerak dengan nilai yang tinggi.
  8. Nilai jual dan beli yang umumnya memiliki spread yang rendah – pemiliknya tidak kehilangan nilai yang berarti ketika melakukan jual beli; beda dengan real estate misalnya yang ongkos transaksinya bisa sangat tinggi oleh berbagai sebab seperti notaris, pajak, legal audit dslb.
  9. Karakteristiknya jelas, emas 24 karat yang satu sama nilainya dengan emas 24 karat lainnya meskipun bentuknya berbeda-beda.
  10. Emas dan perak secara fisik – adalah uang dengan sendirinya – tanpa perlu pengakuan oleh pihak manapun bahwa dia uang.

Dengan 10 alasan tersebut, penulis buku di atas sekarang sibuk meng-edukasi masyarakat dunia akan suatu fenomena besar yang sedang dan akan terus terjadi yang dia sebut sebagai Wealth Transfer atau Perpindahan Kemakmuran.

Karena hampir seluruh mayoritas masyarakat dunia baik bersifat individu, korporasi maupun negara menyimpan ‘kemakmurannya’ dalam bentuk asset berupa currency, stock, bond dan sejenisnya – yang sejatinya tidak dapat berperan sebagai penyimpan nilai atau store of value; maka asset dari masyrakat dunia tersebut akan dengan mudah menurun atau bahkan hilang sama sekali nilainya.

Lantas kemana nilai-nilai asset tersebut berkurang atau menghilang? Ke benda lain yang yang bisa menyimpan nilai dengan sempurna tentu saja. Yang paling mudah salah dua-nya ya  emas dan perak itu tadi. Ketika uang kertas nilainya turun, pastilah emas dan peraknilainya melonjak. Pada saat itu, dengan emas dan perak yang sedikit saja – Anda akan dapat menguasai berbagai asset lainnya. Disitulah letak Wealth Transfer yang dikatakan oleh Michael Maloney ini.

Fenomena Wealth Transfer ini bisa terjadi secara sangat cepat seperti yang sungguh nyata terjadi di Indonesia tahun 1998, atau secara gradual yang terjadi di seluruh belahan dunia dalam dekade terakhir dan insya Allah masih akan terus terjadi.

Untungnya dengan fenomena ini adalah pilihan sebenarnya ada pada diri kita; kita bisa mempersiapkan diri ketika proses Wealth Transfer ini terjadi – kemakmuran meninggalkan kita atau kemakmuran yang menuju ke kita – kuncinya adalah emas dan perak ada pada siapa saat fenomena tersebut terjadi? Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)


Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes