Tag Archive | "mata uang"
Posted on 01 September 2010. Tags: Amerika Serikat, analisa, aset, aset riil, awang-awang, Bank Sentral, batubara, belajar, biji besi, cadangan devisa, cadangan gas, China, corporate bonds, diversifikasi aset, dunia, emas, ex-nihilo, financial assets, government bond, Guyana, harga emas, institusi finansial, Jepang, kampanye, kayu, komputer, Korea, krisis finansial, mata uang, musim membeli, open market operation, out of nothing, pelaku pasar, peluang harga naik, pemerintah, pengamat ekonomi, penurunan daya beli, quantitative easing, rakyat, September, supply uang, Thailand, uang, US$
Saya pernah menulis tentang Quantitative Easing ini di bulan Maret 2009 ketika dunia sedang berada di puncak krisis finansial. Saya tulis kembali sekarang dengan judul Quantitative Easing 2 (QE 2) sebagaimana para pengamat ekonomi menyebutnya akhir-akhir ini, karena mulai bermunculannya wacana atau lebih tepatnya analisa kemungkinan beberapa bank sentral dunia melakukannya lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Quantitative Easing adalah kebijakan bank sentral untuk menambah supply uang dengan meng-credit-kan di account-nya sendiri uang dalam jumlah besar secara ex-nihilo atau out of nothing atau dalam bahasa kita dari awang-awang. Bahkan uang ini juga tidak perlu dicetak, karena cukup di entry di account bank sentral ? bahwa uang mereka bertambah ? maka bertambahlah uangnya.
Uang yang diketikan dari awang-awang ini kemudian beredar melalui apa yang disebut open market operation, yaitu ketika uang (yang hanya ada di data komputer) tersebut kemudian benar-benar digunakan untuk membeli financial assets berupa government bonds, corporate bonds, dlsb serta mengalir ke bank-bank dan institusai finansial lainnya.

Pencetakan Uang dari Awang-Awang
Langkah bank-bank sentral melakukan quantitative easing ini tidak terlalu bermasalah selagi pelaku pasar dan pengguna uang pemerintah tersebut masih mempercayainya. Masalahnya adalah ketika hal ini semakin sering dilakukan ? maka nilai mata uang dari negara tersebut akan terus tergerus dengan cepat dan merugikan siapapun yang memegangnya.
China misalnya yang memegang US$ terbesar, sejak beberapa tahun terakhir mulai khawatir akan menurunnya daya beli aset mereka yang berupa US$ tersebut. Karena kekhawatiran inilah maka China terus mendiversifikasi cadangan devisanya dari US Dollars, mereka kini aktif membeli mata uang negara lain selain AS, seperti Jepang, Thailand, Korea dan bahkan beberapa negara latin.
Pemerintah China dan perusahaan-perusahaan negara-nya juga mulai mengumpulkan aset riil di luar mata uang. Di antara yang mereka kumpulkan adalah emas, biji besi, cadangan gas, batubara dan bahkan cadangan kayu dari hutan-hutan di Guyana. Dari perbagai persiapan ini, maka bila nilai US$ terus mengalami penurunan ? dan bahkan suatu saat bisa benar-benar kehilangan nilainya sama sekali, maka bisa jadi China adalah negara yang paling siap menghadapinya. China bahkan juga sudah mendorong dan memfasilitasi rakyatnya untuk rame-rame membeli emas.
Paling tidak langkah China ini pasti menggembirakan rakyatnya karena setahun terakhir rakyat China yang memindahkan tabungan US$-nya menjadi emas mengalami keuntungan rata-rata sekitar 30% – yaitu rata-rata appresiasi harga emas dunia dalam US$ setahun terakhir.
Dengan semakin ramenya wacana atau analisa akan kemungkinan terjadinya Quantitative Easing Gelombang ke 2 (QE 2), sangat mungkin trend kenaikan harga emas dunia masih akan terus berlanjut ? apalagi minggu ini kita sudah akan memasuki bulan September ? dimana kenaikan harga emas musiman biasa juga terjadi.
Bila China beserta rakyatnya telah melakukan antisipasi yang proper terhadap kebijakan negara lain terhadap uangnya ? khususnya AS, mengapa tidak kita juga ?belajar sampai negeri China? dalam pengelolaan aset ini? Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 25 August 2010. Tags: Amerika, awang-awang, biang keladi, BUMN, China, collapse, Competitive Devaluation, daya beli, ekspor, Euro, Fannie Mae, Federal Reserve, Freddy Mac, Gajah, harga emas, harga naik, inflasi, investasi, investasi sektor riil, jabon, Jepang, jeruk makan jeruk, kampung, korban, krisis finansial, lahan produktif, masyarakat, mata uang, mencetak uang, Nusantara, otoritas moneter, Pelanduk, pemerintah, penabung, penurunan daya beli, perdagangan, perkasa, pisang, SD, Sengon, tabungan, the Wall Street Journal, trend, uang kertas, Uni Eropa, US Dollar, Yen, Yuan
Dahulu di waktu Sekolah Dasar kita belajar pepatah yang kurang lebih berbunyi ?gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah?. Apes bener jadi pelanduk, dia tidak tahu menahu tentang urusan apa gerangan yang membuat para gajah tersebut bertarung ? tetapi dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula ? maka matilah dia karena pertarungan ini. Sebuah artikel di The Wall Street Journal kemarin yang diberi judul Getting Ready for A Dollar Collapse? bercerita tentang pertarungan gajah US Dollar melawan gajah-gajah Yuan, Euro, Yen dan berbagai mata uang kuat lainnya ? yang membuat mati para pelanduk, yaitu para penabung atau pemegang uang kertas dunia.
Pertarungan yang disebut Competitive Devaluation ini bermula dari krisis finansial global dalam 2 tahun terakhir. Biang keladinya adalah Amerika, dimana 2/3 isi balance sheet dari Federal Reserve-nya berasal dari surat berharga yang dikeluarkan oleh government sponsored enterprises ? semacam BUMN kitalah ? yaitu Fannie Mae dan Freddy Mac yang dibailed out pemerintahnya 2 tahun silam. Ini situasi ?jeruk makan jeruk?, yang hakekatnya pemerintah negeri ini sedang mencetak uang baru dari awang-awang.
Akibat perbuatannya ini ? karena uang baru terus dicetak dari awang-awang – maka ada proses penurunan daya beli US$ secara terus menerus. Hal ini nampak jelas pada perkembangan harga emas dunia dalam US$, bila rata-rata bulanan bulan Agustus 2008 harga emas berada pada angka US$ 839.02/Oz kini naik sekitar 44% pada bulan Agustus 2010 ini menjadi rata-rata US$ 1,209.66/Oz dengan trend masih ke atas. Mungkin saja akan terbatas efeknya apabila penurunan daya beli ini hanya terjadi di AS, namun ternyata efek penurunan daya beli ini tidak akan terhenti di AS. Negara-negara lain yang nilai perdagangannya sangat tinggi dengan AS, seperti: China, Uni Eropa, Jepang, dlsb akan kehilangan daya saingnya bila uang mereka terlalu PERKASA terhadap US Dollars.
Akibatnya otoritas moneter negara-negara tersebut akan menempuh caranya sendiri-sendiri untuk menurunkan daya beli uangnya dengan perbagai program Quantitative Easing atau cara-cara ?creative? lainnya dalam mencetak uang dari awang-awang. Negara-negara lain yang tadinya tidak terimbas secara langsung-pun kemudian akan terpaksa mengikuti gerakan global dalam penurunan daya beli uang kertas ini, karena bila tidak maka mereka akan semakin tidak bisa bersaing dengan produk ekspor-nya.
Wal hasil, seluruh dunia kini seperti berpacu dalam menurunkan daya beli uang kertasnya ? atau berarti juga berpacu dalam inflasi. Lantas siapa yang jadi pelanduk-nya? Masyarakat secara umum yang tidak tahu menahu menjadi korban dalam bentuk harga barang-barang yang terus melambung, secara khusus para penabung yang meskipun angka uang yang ditabungnya bertambah ? daya beli uang yang ditabung tersebut semakin lama semakin turun karena hasil tabungannya kalah berpacu dengan inflasi.
Terus bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi hal ini? Yang terbaik adalah apabila terjadi perubahan paradigma cara berfikir dari kegemaran menabung menjadi kegemaran ber-investasi di sektor riil. Bagi Anda yang masih mempunyai kampung, menginvestasikan uang Anda di kampung dalam bentuk lahan-lahan yang diproduktifkan dengan berbagai tanaman sengon, jabon dan bahkan pisang, dlsb insya Allah akan lebih memberi manfaat bagi Anda dan masyarakat sekitar Anda. Bagi yang sudah tidak memiliki kampung, masih banyak terbuka lahan di Nusantara ini untuk Anda produktifkan baik untuk pertanian, perikanan, peternakan maupun kegiatan produktif lainnya.
Mengapa sektor riil ini lebih baik dari pada memegang uang kertas atau tabungan di era competitive devaluation ini? Sederhana alasannya, benda riil apapun yang Anda pegang dengan sendirinya akan melonjak nilainya ? ketika dunia rame-rame menurunkan daya beli mata uangnya.
Ketika kita tidak menjadi pelanduk, pertarungan para gajah tidak akan membuat kita mati ? maka jangan mau jadi pelanduk! Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 04 August 2010. Tags: 1 Dinar, 1 kambing, 20 Dinar, adil, angka besar, angka nol, Bank Indonesia, Bank Sentral, bayar parkir, daya beli stabil, Dinar, Gubernur BI, harga kacau, Indonesia, inflasi, ironi, Islam, jutawan, Ka'bah, kaya, kencleng infaq, kiamat, masyarakat, mata uang, miskin, nishab zakat, Pak Ogah, pemerintah, pemotongan nilai, penurunan daya beli, Redenominasi, Reorientasi Nilai, Rupiah, sanering, Sanering Rupiah, shalat, timbangan, Unit of Account, zakat
Adalah konsekwensi logis dari mata uang yang terus mengalami inflasi akan bertambah terus nol-nya dari waktu ke waktu. Untuk Rupiah, 3 angka nol yang pernah dibuang dengan susah payah tahun 1965/1966 melalui apa yang dikenal dengan Sanering Rupiah, 3 angka nol (000) tersebut 32 tahun kemudian kembali memenuhi angka uang kita bahkan kembalinya cenderung tidak cukup 3 angka nol, melainkan malah menjadi 4 atau bahkan 5 angka nol. Mau bukti? Lihat di dompet Anda ? kemungkinan besar hanya uang dengan 4 atau 5 angka nol yang ada di dompet ? karena yang nolnya hanya 3 kemungkinan sudah untuk bayar parkir, masuk kencleng infaq atau diberikan ke Pak Ogah…
Akibat dari bertambahnya angka nol terus menerus tersebut, secara berkala memang dibutuhkan otoritas yang berani mengambil keputusan untuk me-reset kembali agar angka-angka nol tersebut kembali ke jumlah semula. Proses me-reset ini bisa melalui Sanering bila ekonomi lagi gonjang-ganjing, atau melalui proses Redenominasi bila ekonomi lagi stabil. Yang pertama (Sanering) disertai penurunan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai, yang kedua (Redenominasi) hanya pencatatan beberapa angka nol-nya yang dihilangkan sedangkan daya beli masyarakat seharusnya tidak berubah.
Proses keduanya membuat panik, menyakitkan, membingungkan dan segala macam konsekwensinya ? tetapi saya sendiri berpandangan justru harus dilakukan dengan berani dan cepat. Bila berlama-lama, justru akan membuat kebingungan dan ketidak pastian yang lama. Bila kita menutup mata, justru angka-angka nol yang bisa terus bertambah tersebut akan berlama-lama merepotkan dan menghantui kita semua.

Redenominasi Rupiah?
Bila dilakukan dengan berani dan cepat; rasa sakit tersebut akan berlangsung cepat ? namun setelah itu kita akan bersyukur telah melalui masa yang menyakitkan tersebut. Bayangkan bila tahun 1965 (diimplementasikan sampai 1966) pemerintah negeri ini tidak berani mengambil keputusan Sanering ? Indonesia mungkin tidak akan pernah bisa membangun ? dan bisa Anda bayangkan berapa angka nol uang kita sekarang?
Demikian pula bila otoritas sekarang tidak berani mengambil keputusan untuk meng-implementasikan proses Redenominasi ini; berapa angka nol uang kita pada saat Anak Anda yang baru lahir sekarang masuk perguruan tinggi 18 tahun yang akan datang? Jadi Redenominasi tetap harus dilakukan, tinggal masalahnya kapan dan siapa yang berani mengambil keputusan tidak popular tetapi perlu ini. Saya mengenal cukup baik (Pjs) Gubernur BI yang sekarang dan sungguh saya berharap beliau berani melakukannya, karena bila tidak maka yang terjadi adalah membiarkan hantu Redenominasi ini berlarut-larut ke pejabat berikutnya, kemudian pejabat berikutnya lagi, dst.
Bila Redenominasi tidak dilakukan, ironi yang terjadi seperti yang kita alami sekarang akan terus berlanjut. Ironi karena rata-rata penduduk Indonesia secara harfiah dapat disebut ?Jutawan? (Millionaire) karena PDB Per Kapita kita mencapai lebih dari Rp 24,000,000/tahun, tetapi rata-rata ?Jutawan? tersebut adalah orang miskin menurut standar Islam ? karena nilai Rp 24,000,000,- ini hanya setara sekitar 16.50 Dinar atau tidak mencapai Nishab Zakat yang 20 Dinar.
Bila keputusan Redenominasi benar-benar dilaksanakan, yang perlu dipersiapkan oleh masyarakat adalah proses Reorientasi Nilai. Mengapa proses ini perlu? Berikut saya berikan ilustrasinya.
Saya pernah mendengar keluhan pelayan hotel di daerah wisata negeri ini yang dikunjungi banyak turis asing. Ketika mereka mengantarkan pesanan room service, sering diberi tips hanya Rp 1,000,- atau bahkan koin Rp 500,-. Hal yang sama yang terjadi pada sopir taksi, para wisatawan asing tersebut tidak jarang yang menagih kembalian meskipun kembalian tersebut hanya Rp 1,000,- atau bahkan Rp 500,-.
Mengapa kesan pelitnya beberapa turis asing tersebut terjadi? Inilah masalah Reorientasi Nilai itu. Meskipun sebelum datang ke Indonesia mereka sudah pelajari angka-angka di uang kita ini dan konversinya ke nilai uang mereka; Orientasi Nilai dibenak mereka masih tetap menyatakan bahwa angka 1,000 atau 500 adalah angka yang besar. Karena ketika membayar tips dan menagih kembalian, otak mereka tidak selalu sempat mengkonversi nilai ke angka nilai yang benar ? maka itulah yang terjadi, nilai tips hanya Rp 1,000 dan uang kembalian taksi secara recehan ?pun diminta.
Ini pula yang akan terjadi pada proses Redenominasi, orientasi di otak kita telah terbiasa dengan angka-angka besar. Ketika angka-angka tersebut berubah menjadi kecil, kita harus melatih otak kita untuk terbiasa dengan angka-angka yang menjadi kecil ini. Nampaknya mudah, tetapi karena ini harus terjadi secara massal bagi seluruh pengguna Rupiah ? maka diperlukan sosialisasi yang efektif.
Apa dampaknya bila Reorientasi Nilai tidak berjalan efektif? Harga-harga bisa kacau. Misalnya si embok tukang bayem biasa menjual satu ikat bayemnya Rp 2,500,-. Dalam mata uang Rupiah baru angka tersebut seharusnya menjadi Rp 2.5,- tetapi di benak si embok menyatakan bahwa angka Rp 2.5 ini terlalu kecil, maka dinaikanlah harga bayem dinaikkan menjadi Rp 3,-. Tanpa sadar Anda sebagai pembeli-pun meresponse angka Rp 3 tersebut dapat diterima karena lebih mudah membayarnya ? dan terasa kecil oleh Anda. Maka apa yang terjadi sesungguhnya adalah inflasi 20% terhadap harga bayem.
Jadi baik produsen, pedagang mapun konsumen harus membiasakan kembali response otomatisnya yang akurat terhadap harga atau nilai barang-barang yang wajar ? inilah Reorientasi yang saya maksud.
Disinilah sebenarnya keunggulan dan kebenaran Islam itu dapat terbukti dengan jelas. Kita tidak perlu kehilangan orientasi dalam hal apapun dan kapanpun ? karena tuntunannya, arahannya, nilai-nilainya berlaku baku sepanjang zaman. Seperti shalat yang kita tidak perlu lagi bertanya menghadap kemana, tinggal kita tahu dimana kita berada dan dimana Ka?bah berada ? maka seluruh umat sepakat ke situlah kita menghadap.
Demikian pula dalam hal nilai, kita bisa dengan mudah dan jelas dengan timbangan yang tidak pernah berubah untuk menimbang siapa yang kaya dan siapa yang miskin dengan Nishab Zakat yang 20 Dinar. Yang kaya wajib membayar zakat, yang miskin berhak menerima zakat ? betapa kacaunya hak dan kewajiban ini seandainya nilai Nishab tersebut perlu Sanering ataupun Redenominasi dari waktu kewaktu.
Maka saya-pun berandai-andai, Seandainya saja otoritas yang ada sekarang berani menggunakan satuan Dinar setidaknya sebagai unit of account atau timbangan yang adil ? maka generasi-generasi yang akan datang dan gubernur-gubernur bank sentral yang akan datang sampai hari kiamat akan bersyukur ? betapa mudahnya tugas mereka karena tidak harus lagi dari waktu ke waktu mengambil keputusan yang amat sangat sulit seperti Redenominasi Rupiah ini.
Sekali Dinar digunakan, nilai/daya belinya stabil ? 1 Dinar = 1 kambing tetap sampai akhir zaman, maka tidak akan lagi pernah diperlukan Redenominasi atau bahkan Sanering. Bila ini terjadi maka Reorientasi juga tidak akan perlu dilakukan lagi. WaAllahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 14 July 2010. Tags: Alat Tukar, Amerika, Article of Agreement of IMF, Bank for International Settlements, Bank Sentral, bank swasta, Basel, BIS, cadangan emas, currency, diam-diam, ekonomi, emas, emas fisik, Gold Swap, IMF, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italy, jatuh, Kitco, krisis finansial, laporan tahunan, mata uang, Portugal, sistem finansial global, Spanyol, Switzerland, the Wall Street Journal, Yunani
Meskipun secara formal sistem keuangan global yang dikomandoi IMF masih melarang penggunaan emas dalam salah satu Article of Agreement-nya yang mengikat pada seluruh anggota IMF, namun rupanya secara diam-diam emas telah kembali masuk ke dalam sistem keuangan global yang dikelola oleh IMF sendiri. Tepatnya melalui jalur Bank for International Settlements (BIS), yaitu ?bank?-nya bank-bank sentral dunia yang bermarkas di Basel ? Switzerland.
Adalah laporan BIS tutup tahun buku 31/03/2010 yang di publikasikan akhir bulan lalu (28/06/2010) yang pertama kalinya mengungkap masalah tersebut. Meskipun ngumpet dalam catatan keterangan laporan keuangannya seperti yang saya copy-kan dari laporan tahunan BIS 2010 dibawah (laporan detailnya dapat Anda download sendiri dari situs resmi BIS dengan klik disini), realita ini mengundang berbagai pertanyaan besar dan spekulasi serius tentang masa depan sistem keuangan global.

Gold Swap in BIS
Di bagian yang saya beri tanda di samping, disana dijelaskan bahwa the Bank (maksudnya BIS) memegang 346 ton emas tahun buku terakhir ini (yang tahun sebelumnya masih Nol!) terkait dengan operasi Gold Swap ? dimana bank menukar currencies dengan emas fisik. Pertanyaan besarnya adalah emas siapa ini? Harian ekonomi terkemuka the Wall Street Journal misalnya memberitahu analis Kitco ? bahwa Gold Swap tersebut dilakukan antara BIS dengan bank swasta.
Justru tambah mencurigakan karena dari data yang dimiliki Kitco (pemain emas yang database-nya paling menjadi referensi dunia) tidak ada satu bank swasta-pun di dunia yang di dalam kekayaannya memiliki asset emas secara fisik senilai 346 Ton tersebut (dengan harga emas sekarang kurang lebih senilai US$ 13.5 Milyar!). Jumlah ini juga setara kurang lebih 4.7 kali cadangan emas yang dimiliki bank sentral Indonesia.
Walhasil besar kemungkinan bahwa emas tersebut adalah milik suatu negara atau beberapa negara yang mengalami kesulitan keuangan serius sepanjang tahun buku 2009/2010. Kita tahu yang mengalami kesulitan keuangan pada periode tersebut dengan berbagai tingkatannya antara lain adalah Yunani, Portugal, Irlandia, Spanyol, Italy, Inggris dan bahkan Amerika ? maka boleh jadi emas di kantong BIS tersebut berasal dari salah satu atau beberapa negara tersebut.
Lantas mengapa yang di swap bukan antar beberapa currency seperti pada umumnya, tetapi kali ini suatu currency dengan emas? Disinilah proses kembalinya emas dalam sistem keuangan global itu mulai; ketika satu atau beberapa currency ? alat tukar sesaat ? dari suatu negara atau beberapa negara tidak lagi bisa dipercayai ? maka apa yang bisa disetor oleh negara tersebut untuk ditukar dengan currency negara lain yang masih bisa dipercayai? Emas-lah jawabannya yang paling mudah, paling praktis dan paling bisa dipercaya.
Karena hal ini sudah terjadi pada tingkat BIS secara diam-diam; maka besar kemungkinan ini akan juga bisa terjadi pada sistem keuangan di tingkat bawahnya (dalam suatu negara) dan seterusnya.
Lantas mengapa pula hal-hal tersebut seolah dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi di zaman yang serba transparan ini? Bisa dibayangkan memang betapa dahsyat-nya dampak dari tidak dipercayai-nya currency suatu negara ? bagi ekonomi negara tersebut ? bila hal ini dilakukan secara terang-terangan. Mata uang negara-negara tersebut bisa langsung jatuh seperti yang kita alami tahun 1997/1998 atau bahkan lebih buruk lagi.
Jadi memang tidak terlalu penting bagi kita untuk tahu siapa yang mata uangnya tidak lagi dipercayai oleh BIS tersebut di atas – sehingga harus menyetorkan emasnya untuk ditukar currency lain yang dibutuhkan, namun yang jelas kini kita telah mendapatkan lagi satu tambahan bukti ? bahwa mata uang yang sesungguhnya, yang paling bisa dipercayai ketika yang lain tidak bisa dipercayai adalah mata uang yang berupa emas ini. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 13 July 2010. Tags: ahli meteorology & geofisika, anomali musim, banjir, benang merah, bumi utara, cermin, demand, diversifikasi aset, dorongan ke atas, ekonomi stabil, emas, emas perhiasan, frequency, fundamental, grafik, harga emas, harga naik, harga terendah, hujan deras, jangka panjang, jangka pendek, Juli, kemarau, komoditi, Maret, mata uang, musim dingin, musim hujan, musim membeli, pelaku pasar, perubahan, petani, pola tanam, prediksi, rentan isu, safe haven, severity, statistik, teknologi, uang fiat
Dahulu waktu saya kecil, petani-petani di desa-pun seolah dapat memprediksi kapan hujan mulai turun dan kapan berhentinya. Dengan demikian mereka bisa merencanakan pola tanam-nya secara akurat. Kini 40 tahun kemudian, perubahan musim ini sulit sekali diprediksi bahkan dengan teknologi tinggi sekalipun. Sekarang kita berada di bulan Juli, musim hujan mestinya sudah berakhir 4 bulan lalu ? tetapi sekarang hujan deras dan banjir masih melanda di beberapa wilayah.
Seperti juga pada musim hujan dan kemarau, naik turunnya harga emas seharusnya predictable karena harga emas adalah cermin bagi harga komoditi-komoditi kebutuhan utama manusia. Ketika komoditi banyak dibutuhkan (demand tinggi) misalnya pada musim dingin di belahan bumi utara (di musim dingin orang butuh lebih banyak makanan, pakaian dan energi) ? harga emas akan cenderung naik, lihat statistiknya pada tulisan saya sebelumnya ?Musim Membeli Emas…?. Musim harga emas rendah mestinya juga sudah mulai berlangsung sejak 4 bulan lalu Karena di belahan bumi utara ? yang secara umum penduduknya lebih makmur ? musim dinginnya telah berakhir di bulan Maret.
Apa yang sebenarnya terjadi secara cepat dalam beberapa tahun belakangan ? yang tidak (belum) terjadi selama puluhan tahun sebelumnya? Untuk perubahan musim hujan, biarlah para ahli meteorology dan geofisika yang menjelaskannya.
Untuk tinggi rendahnya harga emas yang nampaknya tidak lagi mengikuti musim, para ekonom dan pelaku pasar punya teorinya sendiri-sendiri. Diantara sekian banyak teori, berikut saya sarikan benang merahnya :
- Di masa ekonomi stabil dan relatif tidak bergejolak seperti yang dialami dunia dalam beberapa dasawarsa yang lewat ? orang comfortable untuk menaruh uangnya dalam mata uang fiat dan memutarnya dalam berbagai usaha yang menguntungkan. Emas hanya dibeli dalam jumlah secukupnya untuk diversifikasi aset, bahan perhiasan, dlsb.
- Ketika ekonomi dunia bergejolak hebat seperti yang terjadi dalam 2 tahun terakhir, ada jenis kebutuhan emas yang baru yang tiba-tiba meningkat yaitu kebutuhan untuk safe haven ? tempat melabuhkan aset secara aman.
- Ketika kebutuhan emas untuk safe haven ini yang dominan di pasar, maka harga emas menjadi mudah sekali bergejolak. Mudah sekali diterpa isu, sehingga yang mempengaruhi harga emas bukan lagi faktor yang bersifat fundamental ? tetapi lebih banyak pada persepsi sesaat dari para pelaku pasar.

Emas Setahun Terakhir
Karena faktor-faktor penyebab tersebut akan tetap terjadi atau bahkan dalam severity (tingkat pengaruh) yang lebih kuat dan frequency yang lebih sering, maka harga emas akan terus bergejolak hebat dalam jangka pendek. Namun arah jangka panjangnya (setahun lebih) nampak jelas sekali dorongan ke atasnya.
Lihat pergerakan setahun terakhir pada grafik di samping misalnya. Pada bulan Desember 2009 lalu, harga emas dunia sempat naik mencapai US$ 1,226/Oz tetapi juga sempat turun ke angka US$ 1,083/Oz atau sempat turun dalam rentang 12% di bulan tersebut. Namun secara keseluruhan bila kita tarik waktu setahun terakhir ? harga emas dunia naik sekitar 30%-an yaitu dari kisaran harga US$ 920/Oz awal Juli 2009 ke angka US$ 1,205/Oz saat ini.
Untuk bulan ini dan bulan depan, saya sendiri berharap masih ada musim harga emas rendah ? meskipun hanya 2 bulan ? bukannya 6 bulan seperti di masa lalu. Tepatnya berapa, tidak ada yang bisa tahu secara pasti ? hanya berdasarkan pergerakan harga setahun terakhir ? nilai terendah ke depan kemungkinan besarnya tidak sampai menyentuh garis hijau pada grafik di atas. Wa Allahu A?lam.
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 30 June 2010. Tags: 'Ubadah bin Shamit, Akhsana Al Qoshoshi, Al-Qur'an, alat tukar intrinsik, aliran modal, apriori barat, benda riil, emas & perak, fenomena alam, Hadits, HR. Muslim, IMF, Islam, ketahanan ekonomi, krisis finansial, main reserve currency, mata uang, Nabi, Nabi Yusuf, negara berkembang, new reserve system, paceklik global, pasar komoditi, PBB, pemerintah, penurunan nilai, perang, SDR, self insurance, sentimen pribadi, sistem finansial global, Special Drawing Rights, surat Yusuf, tinggalkan US$, United Nations, US Dollar, US$, uswatun hasanah, Yuhsinun
Ketika 10 bulan lalu saya menulis Tinggalkan Dollar Selagi Sempat!, banyak yang mengkritik tulisan tersebut sebagai provokatif, tidak realistik, sentimen pribadi, apriori terhadap barat dan lain sebagainya. Nah sekarang terbukti 10 bulan kemudian United Nations (PBB) ? badan yang paling dihormati pemerintah-pemerintah dunia ? seperti menguatkan seruan tersebut dalam laporannya paling gres yang dikeluarkan kemarin. Siapa yang tidak realistik sekarang?
Seperti dikutip kantor berita Reuters yang kemudian menyebar ke seluruh dunia lewat berbagai media, laporan terbaru PBB yang di released Selasa kemarin menyerukan ditinggalkannya US Dollar sebagai mata uang cadangan utama dunia (main reserve currency). Alasan utamanya adalah sudah terbukti bahwa US$ tidak dapat menjaga nilainya.
Disebutkan pula di laporan ini bahwa negara-negara berkembang paling dirugikan dengan penurunan nilai terus menerus dari US$ dalam beberapa tahun belakangan ini. ?Termotivasi oleh keinginan memproteksi diri (self-insurance) dari gejolak pasar komoditi dan aliran modal, banyak negara berkembang menumpuk US$ sebagai cadangan selama dasawarsa 2000-an? kata laporan tersebut.
Laporan ini juga menyerukan disiapkannya sebuah sistem pencadangan baru (new reserve system) yang tidak tergantung pada satu atau bahkan beberapa mata uang; hanya saja laporan ini nampak tidak jelas lantas seperti apa pencadangan baru ini nantinya. Mereka hanya menyebutkan ?seperti? Special Drawing Rights (SDR-nya IMF).
Sebenarnya umat Islam sungguh beruntung memiliki 2 pegangan yang dengan pegangan tersebut umat ini tidak akan pernah tersesat selamanya. Ditengah kebingungan dunia kini, bahkan PBB-pun bingung seperti apa reserve currency yang bisa membawa stabilitas sistem finansial global; kita memiliki uswatun hasanah yang telah menuntun kita seperti apa uang kita seharusnya.
Bila saja kita ikuti apa yang ada di hadits berikut contohnya, maka kita tidak akan tersesat dalam urusan mata uang ini. Dalam Hadis Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa?i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ?Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: ?(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya?ir dengan sya?ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai?.
Dalam Islam, alat tukar ini adalah benda riil yang memiliki nilai yang sesungguhnya ? nilai intrinsik. Bentuknya bisa macam-macam tetapi semua memiliki nilai riil. Bisa dari golongan emas dan perak, bisa pula dari golongan kebutuhan pokok. Jadi bila reserve system kita mengandalkan benda riil yang disebutkan di hadits tersebut di atas atau yang sejenisnya ? maka insya Allah kita tidak akan pernah bisa dirugikan oleh jatuhnya mata uang US$ seperti yang diungkapkan oleh laporan PBB tersebut di atas.
Bahkan untuk mengantisipasi paceklik global dalam berbagai bentuknya, bisa karena krisis finansial, fenomena alam, maupun karena perang ? kita bisa membangun ketahanan ekonomi (yuhsinun) sendiri dengan mencontoh apa yang dilakukan Nabi Yusuf A.S. berikut:
???? ????????? ????? ?????? ??????? ???? ???????? ???????? ?? ????????? ????? ??????? ????? ?????????
“Yusuf berkata: Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) secara sungguh-sungguh; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.? (QS. Yusuf (12): 47).
Mari sekarang kita ?bertanam? sungguh-sungguh sampai minimal 7 tahun ke depan, maka ketika dunia dilanda ?paceklik global? kita tidak hanya bisa menyelamatkan diri ? tetapi juga bisa menyantuni rakyat negara lain seperti kisah Nabi Yusuf yang di Al-Qur?an digambarkan sebagai kisah yang paling indah Akhsana Al Qoshoshi.
Semoga Allah mumudahkan jalan-Nya bagi kita untuk beramal yang diridhloi-Nya. Amin.
Posted in Financial Plan
Posted on 28 June 2010. Tags: 2035, Amerika, aset, Bank Sentral, Buah Simalakama, cadangan devisa, cadangan emas, China, diam-diam, dilematis, Dinar, dirham, Dollar Australia, Dollar Canada, emas, Euro, Eva, film, Imam Ghazali, Islam, Jan, masalah, mata uang, pengadaan, pengamat Dollar, penurunan nilai, Perang Dunia II, rakyat, reserve currencies, rintis, Rusia, Saudi Arabia, solusi aplikasi, Sophie, Sophie's Choice, survey, Uang Yang Adil, UBS, ulama besar, US$, Yuan, zaman modern
Pada tahun 1982 ada film dengan latar belakang Perang Dunia ke II yang diberi judul Sophie?s Choice. Film yang meraih banyak piala ini, menceritakan pengalaman seorang ibu (Sophie) dengan dua anaknya ? laki (Jan) dan perempuan (Eva) ? yang ditahan oleh serdadu musuh. Si ibu diberi tawaran oleh serdadu musuh, salah satu dari anaknya hendak dibunuh ? tetapi si ibu disuruh memilih yang mana. Bila dia tidak mau memilih ? maka keduanya akan dibunuh.
Si ibu tidak bisa memilih, tetapi harus memilih ? maka dipilihlah anak laki-lakinya Jan yang tetap hidup dan anak perempuannya Eva yang dibunuh musuh. Pilihan yang amat sangat sulit ? sehingga sepanjang sisa hidupnya siibu ini hanya bisa menyesali keputusan yang harus diambilnya.

Sophie's Choice
Judul film ini begitu terkenalnya sehingga istilah Sophie?s Choice menjadi istilah baru saat itu untuk menggambarkan bila kita dihadapkan pada suatu kondisi yang sama tidak enaknya ? sama seperti istilah ?Buah Simalakama? yang kita kenal.
Istilah ini-pun belakangan digunakan oleh para pengamat Dollar untuk menggambarkan kesulitan dunia untuk memilih antara mempertahankan Dollar sebagai reserve currency atau menggantinya dengan mata uang lain yang belum diketahui apa bentuknya.
Seperti China misalnya; mereka tahu US$ akan ambruk ? namun bila dia berbuat sesuatu yang drastis untuk mengganti US$ dengan mata uang lain ? maka cadangan devisanya yang sangat besar akan hancur nilainya bersamaan dengan hancurnya nilai US$. Demikian pula dengan export-nya ke Amerika akan runtuh bersamaan dengan runtuhnya ekonomi Amerika.
Lantas tidak berbuat sesuatu? Bukan juga pilihan. Ketika US$ perlahan turun nilainya ? perlahan tetapi pasti China menurun pula daya saing ekspor-nya ke Amerika; dan devisa yang terkumpul dalam US$ juga terus tergerus nilainya.
Dihadapkan situasi dilematis tersebut, China melakukan hal yang cerdik dengan diam-diam meningkatkan cadangan emasnya dan rakyatnya-pun didorong untuk mengamankan asetnya dalam bentuk emas. Minggu lalu China juga membuat langkah yang penuh misteri dengan memperlebar rentang harga nilai tukar antara Yuan dengan US$ – sebagian pengamat mengartikan ini sebagai langkah cerdik berikutnya untuk secara perlahan China mempersiapkan pengganti US$.
Langkah serupa juga dilakukan oleh Rusia; di minggu yang sama Rusia mengumumkan keinginannya untuk memimpin rezim baru dunia dalam hal reserve currency. Rusia memulainya dengan menambahkan Dollar Cananda dan Dollar Australia di keranjang reserve currency-nya, jadi tidak hanya tergantung US Dollars.
Langkah diam-diam meningkatkan cadangan emas oleh Bank Sentral juga akhirnya terkuak, setidaknya ini diakui China tahun lalu yang mengungkapkan bahwa cadangan emasnya telah menjadi double dibandingkan dengan data publik sebelumnya. Demikian pula Saudia Arabia yang sepekan lalu akhirnya mengakui juga langkah diam-diamnya yang telah menaikkan cadangan emas Bank Sentral-nya menjadi 2x dari cadangan yang selama ini diketahui publik.
Yang mengejutkan adalah hasil survey yang dilakukan oleh UBS terhadap para pimpinan Bank Sentral di seluruh dunia; lebih dari separuh ternyata berpendapat bahwa dominasi US$ sebagai reserve currency tidak akan bertahan sampai ¼ abad yang akan datang atau tepatnya tahun 2035.
Lantas apa gantinya? Ada yang berpendapat gantinya adalah mata uang negara Asia (mungkin maksudnya China?), ada yang berpendapat Euro, tetapi mayoritas terbesarnya adalah yang berpendapat bahwa emas-lah mata uang pengganti itu.
Mungkin inilah penyebabnya; meskipun saat ini emas dipojok-pojokkan ? tetapi Bank Sentral dunia rupaya pada diam-diam juga membeli kembali emas. Setelah 2 dekade sebagai net sellers; kini mereka menjadi net buyers.
Apa makna ini semua sebenarnya? Kebenaran Islam bahwa mata uang yang adil adalah Dinar atau Dirham seperti diungkapkan oleh Imam Ghazali ? cepat atau lambat akan terbukti kembali di zaman modern ini. Kita tidak perlu menghadapi situasi pilihan yang amat sulit seperti Sophie?s Coice tersebut di atas; pilihan itu sudah ada di 2 petunjuk kita ? dan ulama-ulama besar kita-pun telah mengungkapkan kebenarannya.
Entah kapan itu terjadinya, di zaman kita, anak kita atau cucu kita tidak masalah. Tetapi apa yang kita mulai rintis untuk pengadaannya, mengatasi masalahnya, mencari solusi aplikasinya, dst. ? insya Allah akan menjadi bekal yang baik sehingga generasi berikutnya tinggal menyempurnakannya bila waktunya tiba. Insya Allah.
Posted in Political Economy
Posted on 21 June 2010. Tags: aset, Bank Indonesia, Dinar, emas, grafik, Gubernur, harga emas, harga terendah, harga tertinggi, investasi sektor riil, konversi uang, London, mata uang, New York, pakar emas, pasar emas, pelemahan Rupiah, penurunan daya beli, prediksi, Rupiah, Rupiah Perkasa, SEMU, Sidney, uang kertas, US$, US$ Index
Sudah beberapa pekan ini harga emas dunia berada di atas rekor-nya akhir tahun lalu di angka US$ 1,226/Oz; bahkan dalam perdagangan Jum?at lalu sempat diperdagangkan di atas US$ 1,260/Oz. Sampai pagi ini-pun ketika pasar Sidney mulai buka harga emas masih berada di sekitar angka rekor tertinggi tersebut.
Tidak ada yang mengejutkan dengan pencapaian rekor ini karena beberapa jam sebelum pasar London dibuka dan kemudian juga pasar New York Jum’at lalu, di situs ini juga sudah kita sajikan prediksi para pakar per-emasan dunia yang memang keseluruhannya memprediksi naik. Perbedannya hanya pada sampai berapa kenaikan ini terjadi, kapan terjadinya dan apa alasannya.
Ada hal yang tersirat dari pendapat para pakar tersebut tentang kenaikan harga emas yang mereka prediksi. Di masa-masa yang lalu ketika emas tinggi, biasanya dibarengi dengan US$ yang lemah. Contohnya lihat di grafik pada area yang saya beri shadow merah, lihat misalnya pada saat rekor tertinggi Maret 2008 ketika harga emas mencapai angka US$ 968/Oz ? saat itu US$ Index mencapai angka terendahnya di bawah 72.

Gold vs US$ Index
Sebaliknya lihat di area yang saya beri shadow kuning, harga emas tertinggi kali ini tidak terjadi pada saat US$ Index berada di angka terendah. US$ Index malah sebenarnya pada angka yang cukup tinggi yaitu diatas angka 85. Apa maknanya ini sebenarnya?
Walaupun US$ lagi masih perkasa dibandingkan dengan berbagai mata uang lainnya di dunia, dibandingkan emas daya belinya mencapai titik terendah. Artinya keperkasaan mata uang kertas ini (tidak hanya US$ tetapi juga seluruh mata uang kertas lainnya) adalah SEMU. Itulah sebabnya mengapa para ahli emas yang saya kutip pendapatnya tersebut, tidak ada satupun yang menggunakan faktor penguatan US$ akan mampu mengerem laju kenaikan harga emas dunia.
Bagaimana dengan Rupiah? Sampai saat ini Rupiah masih jauh lebih perkasa ketimbang US$ sekalipun. Bila harga emas dalam US$ per pagi ini (21/06) mengalami kenaikan sampai 34.8 % selama setahun terakhir, harga emas dalam Rupiah hanya mengalami kenaikan sebesar 16.81%! Karena keperkasaannya inilah maka harga emas dalam Rupiah belum memecahkan rekor tertingginya Februari tahun lalu di atas Rp 374,000/gram.
Mampukah Rupiah akan terus bertahan sebegitu perkasanya mengalahkan US$? Inilah masalahnya yang perlu diantisipasi. Pejabat Gubernur Bank Indonesia sendiri telah mengungkapkan kemungkinan melemahnya Rupiah tahun depan yang tinggal kurang lebih 6 bulan lagi.
Jadi mungkin kita tidak bisa berlama-lama menikmati keperkasaan Rupiah ini. Selagi dia perkasa ? ini adalah waktu yang baik untuk meng-konversi-kan uang Anda menjadi aset yang lebih tahan terhadap penurunan daya beli mata uang, seperti investasi sektor riil, menukarnya menjadi Dinar, dlsb. Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 17 June 2010. Tags: Alf Field, Arnold Bock, Bank Sentral, Consumers Price Index, CPI, David Rosenberg, debasement, dekade, Dinar, Dubai Sabbatical, Egon von Greyerz, emas, Euro Pacific Capital, expert, fenomena moneter, Foreign Exchange, Forextraders.com, fundamental, GDP, Global Strategist, Gluskin Scheff, harga emas, harga terendah, harga tinggi, Harry Schultz, horrific scale, hutang pemerintah, hyper inflasi, ilmu masa depan, inflasi, investasi, jumlah uang, Kitco, krisis ekonomi, mata uang, Matterhorn Asset Management, Merril Lynch Economist, newsletter, obligasi, para ahli, pemerintah, penurunan nilai, perputaran uang, Peter Cooper, Peter Krauth, Peter Schiff, PIIGS Flu, prediksi, Rob McEwen, Rupiah, safe haven, Shadowstats.com, statistik, suku bunga, supply and demand, Swiss, systemic meltdown, trend, uang kertas, US Gold Corp Inc., US$, World's Best Gold Analyst
Bagi yang mengira bahwa harga emas dunia di kisaran US$ 1,230/oz atau di Indonesia pada kisaran Rp 367,000/gr hari-hari ini sudah ketinggian sehingga berniat menjual emas/Dinarnya atau menunda investasinya, tulisan saya kali ini barangkali bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan Anda. Kali ini bukan pendapat saya yang dominan, tetapi saya ambilkan dari 10 Ahli per-emas-an dunia yang sangat kompeten di bidangnya.
Saya sarikan prediksi harga emas oleh para ahli ini, masing-masing lengkap dengan alasannya sebagai berikut:
1. Peter Schiff (President & Chief Global Strategist dari Euro Pacific Capital)
Peter Schiff ini memprediksi harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz ? US$ 10,000/oz dalam 5 sampai 10 tahun mendatang, dengan alasan bahwa masyarakat dunia akan semakin takut dengan penurunan nilai (debasement) mata uang kertasnya menyusul serangkaian krisis ekonomi, real estate, mortgage meltdown, credit crunch, subprime debacle dan entah apa lagi nama krisis-krisis berikutnya.
2. David Rosenberg (Mantan Merril Lynch Economist, Sekarang Chief Economist & Strategist di Gluskin Scheff)
David memberikan estimasi yang menurutnya sendiri masih konservatif di angka US$ 3,000/oz dalam waktu dekat. Alasannya adalah bila didasarkan pada rasio harga emas dan GDP 3 dekade ke belakang, harga emas seharusnya berada pada US$ 5,300/oz. Bila disetarakan dengan CPI (Consumers Price Index) , maka harga emas seharusnya sudah berada pada kisaran US$ 2,300/oz. Bila rasio yang digunakan adalah rasio harga emas dengan jumlah uang M1, maka harga emas harusnya sudah berada pada angka US$ 3,100/oz.
3. Alf Field (Tekenal di dunia sebagai World?s Best Gold Analyst)
Alf memprediksi harga emas akan berada pada rentang US 5,000/Oz ? US$ 10,000/Oz. Alasannya adalah bila mengikuti trend tahun 70-an ke 80-an dimana harga emas melonjak 24.3 x dalam 1 dekade, kenaikan emas dekade ini akan mencapai US$ 6,221/Oz yang merupakan perkalian harga terendah dekade ini US$ 256 x 24.3. Penyebab fundamentalnya adalah krisis sekarang yang dia sebutnya sebagai systemic meltdown, dan pemerintah dunia membanjiri ekonomi dengan uang kertas untuk mengatasi krisis-krisis tersebut yang justru berdampak pada hilangnya nilai uang kertas.
4. Forextraders.Com
Situs Foreign Exchange ini memprediksi harga emas akan berada pada kisaran US$ 3,000/oz ? US$ 4,000/oz dalam 5 tahun mendatang. Alasannya orang semakin khawatir dengan kestabilan keuangan publik di AS, kekurang seriusan pemerintah menangani problem social security, kredibilitas dollar yang terus terpuruk dan kelemahan fundamental ekonomi dunia.
5. Harry D. Schultz (dari Newsletter berbayar: International Harry Schultz Letter)
Harry memprediksi harga emas akan mencapai US$ 6,000/Oz tanpa memberi target waktu yang pasti. Alasannya adalah harga emas akan melonjak sangat tinggi bila terjadi hyperinflasi, sedangkan hyperinflasi adalah fenomena moneter yang bisa terjadi secara dadakan, kapan saja ? berbeda dengan fenomena ekonomi pada umumnya yang terjadinya secara gradual.
6. Egon von Greyerz (Managing Derector dari Matterhorn Asset Management ? Swiss)
Menurut Egon emas akan mencapai kisaran US$ 5,000/oz ? US$ 10,000/oz dalam beberapa tahun mendatang. Alasannya: pertama bila real inflation seperti yang disajikan oleh Shadowstats.com digunakan untuk mengukur harga emas yang wajar, maka harga emas akan berkisar 6 kali dari harga sekarang. Kedua, realitas bahwa supply emas yang tidak akan pernah cukup untuk memenuhi demand terhadap emas yang tumbuh lebih cepat.
7. Peter Cooper (Penulis buku ?Dubai Sabbatical: The Road to US$ 5,000 Gold”)
Peter memperkirakan harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam waktu yang tidak terlalu lama. Alasannya adalah saat ini pemerintah di dunia memaksakan rezim suku bunga yang rendah untuk mengatasi krisis; pada saat suku bunga rendah ? obligasi pemerintah menjadi menarik. Namun situasi ini tidak akan bertahan lama, obligasi akan segera jatuh dan orang perlu pelarian uangnya ke tempat yang aman ? tempat aman apalagi yang lebih aman dari obligasi pemerintah kalau bukan emas? Sedangkan supply emas selalu terbatas, maka bila ada lonjakan demand ? yang pasti terjadi adalah lonjakan harga.
8. Rob McEwen (Chief Executive Officer ? CEO dari US Gold Corp Inc.)
Rob berpendapat bahwa harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam rentang waktu antara 2012 ? 2014. Alasannya: hutang pemerintah yang terus tumbuh dan akan mencapai skala yang dia sebut sebagai horrific scale. Dari masalah hutang yang pelik tersebut, menurut Rob akhir tahun ini saja harga emas sudah bisa mencapai US$ 2,000/oz.
9. Peter Krauth (Expert kenamaan di bidang Metals and Mining Stocks).
Peter memprediksi emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam beberapa tahun mendatang. Alasannya adalah potensi inflasi yang semakin besar, lonjakan demand, Central Banks tidak lagi menjadi net sellers tetapi malah menjadi net buyers, dan krisis yang terus bermunculan seperti yang terjadi di PIIGS.
10. Arnold Bock (Komentator pada situs emas paling terkenal di dunia Kitco.com)
Menurut Arnold harga emas akan naik secara parabolic sampai mencapai US$ 10,000/oz pada tahun 2012. Dia memiliki 6 alasan untuk prediksinya ini, yaitu:
- Kegagalan pemerintah-pemerintah membayar hutang;
- Bangkrutnya raksasa-raksasa finansial dunia;
- Inflasi dan devaluasi mata uang dunia;
- Manipulasi harga emas sehingga masih ? rendah? sekarang;
- Keterbatasan supply emas dibandingkan dengan peningkatan demand-nya;
- Kebutuhan untuk melabuhkan dana-dana di tempat yang aman atau safe haven.
Lantas bagaimana menurut pendapat saya sendiri? Sekali lagi saya tidak ahli dan tidak menguasai ilmu masa depan itu ? hanya Allah Yang Maha Tahu apa yang akan terjadi. Hanya saja seandainya mengikuti statistik 10 tahun terakhir di Indonesia, dimana harga emas awal 2000 adalah Rp 66,000 /gram dan sekarang di kisaran Rp 367,000 /gram atau naik menjadi 5.56 kalinya dalam 10 tahun; maka saya tidak akan kaget bila dalam 10 tahun mendatang harga emas di Indonesia bisa mencapai Rp 2,000,000/gram atau Dinar mencapai diatas Rp 8.5 juta/Dinar. Wa Allahu A?lam.
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 24 May 2010. Tags: 1 Dinar, Alat Tukar, biaya sekolah anak, daya beli tetap, devaluasi, Dinar, emas, epicentrum, era ekonomi global, gempa finansial, Independently Based On Its Own Demand & Supply, Indonesia Stock Exchange, Inherent Intrinsic Value, instrumen investasi, Insurance Against Currency Devaluation, Insurance Against Inflation, investasi sektor riil, jangka pendek, kaidah investasi, kambing, kebijakan publik, krisis finansial, mata uang, mekanisme pasar, Optimal Security Against Geo-Political & Financial Market Instability, Perencanaan Haji, portfolio, Portfolio Diversifier & Stabilizer, Rasulullah SAW, renovasi rumah, Rupiah, saham, supply and demand, tabungan hari tua, Yunani
Dalam beberapa pekan terakhir ini kita benar-benar merasakan betapa terintegrasinya ekonomi dunia sekarang. Bahkan krisis di negara yang sangat jauh baik dari sisi geografis maupun dari sisi hubungan ekonomi-pun, dampaknya dapat kita rasakan sampai negeri ini. Rupiah bisa lunglai, saham-saham di Indonesia Stock Exchange ikut anjlog ? padahal pusat epicentrum gempa finansial dunia-nya ada nun jauh di Yunani sana.
Lantas dengan komponen apa kita bisa membangun ?bangunan tahan gempa finansial? kita? Agar rencana pendidikan anak-anak yang masih belasan tahun, rencana pergi haji 5 tahun mendatang, rencana renovasi rumah setiap 10 tahun, tabungan hari tua agar tetap mandiri sampai akhir hayat, dlsb. - tidak setiap saat terekspose risiko krisis finansial global.
Emas atau Dinar-lah salah satu batu bata yang kokoh untuk bangunan finansial Anda sebagai jawaban dari risiko tersebut di atas , yang insya Allah tahan gempa krisis finansial global dengan frequency kejadian dan severity yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Emas/Dinar memiliki 6 alasan yang tidak terbantahkan dan tidak dimiliki oleh instrumen investasi lainnya sebagai berikut:
1) Insurance Against Inflation
Harga kambing di zaman Rasulullah SAW 1 Dinar, sekarang-pun uang 1 Dinar tetap dapat untuk membeli kambing ukuran besar. Apakah ada uang lain di dunia yang terbukti stabil daya belinya (dengan average inflasi 0%) sepanjang lebih dari 1,400 tahun ??
2) Insurance Against Currency Devaluation
Negara-negara di dunia bila dalam posisi kepepet sering melakukan tindakan drastis men-devaluasi mata uangnya; bila ini terjadi, maka rakyat yang tidak siap selalu jadi korban. Emas atau Dinar adalah instrumen yang paling efektif dan praktis untuk cover risiko ini.
3) Optimal Security Against Geo-Political & Financial Market Instability
Ekonomi dan politik dunia saat ini seperti berada pada tanah yang labil, ?gempa? dalam skala besar bisa mulai dari krisis politik yang kemudian merambat ekonomi ? dan sebaliknya bisa berawal dari ekonomi kemudian merembet ke politik. Selagi ada tempat ?investasi? yang lebih stabil, mengapa tidak pilih tempat tersebut?
4) Independently Based On Its Own Demand & Supply
Harga emas atau Dinar tidak ditentukan oleh kebijakan politik atau ekonomi suatu Negara manapun; harga emas bagian terbesarnya adalah dihasilkan oleh mekanisme supply and demand di market. Banyak pihak berusaha mempermainkannya selama ini, namun mekanisme pasar tetap lebih dominan.
5) Inherent Intrinsic Value
Emas membawa nilainya sendiri (inherent), tidak bisa didevaluasi oleh kebijakan suatu negara. Tidak pernah pula dalam sejarah peradaban manusia emas kehilangan daya belinya.
6) Portfolio Diversifier & Stabilizer
Sebagus apapun emas/Dinar sebagai instrumen investasi, saya tetap tidak menyarankan Anda memindahkan seluruh investasi Anda ke emas/Dinar. Kaidah investasi jangan menaruh seluruh telur pada keranjang yang sama ? tetap berlaku; bukan karena risiko terhadap emasnya ? tetapi karena kebutuhan Anda yang bisa tiba-tiba berubah.
Jadi jadikan emas/Dinar sebagai salah satu saja dari portfolio Anda; selebihnya bisa investasi di sektor riil; dan untuk kebutuhan jangka pendek dimana Anda memerlukan Rupiah sebagai alat tukar ? kemungkinan besarnya Anda juga masih tetap memerlukan Rupiah ini sebagai bagian dari portfolio Anda.
Posted in Financial Plan