Tag Archive | "manajemen"

Antara Hamburger dan Sate Balibul


Di pusat finansial London dahulu ada restaurant dengan nama ?SATU? yang menyajikan berbagai masakan Asia Tenggara termasuk dari Indonesia seperti nasi goreng, sate, pisang goreng, dlsb. Restaurant elit dalam kategori fine dining ini nampaknya bukan punya orang Indonesia, dan dalam pekerjaan saya yang lama sering ke daerah ini ? tidak pernah menjumpai satupun karyawan-nya ada orang Indonesia. Siapapun pemilik restaurant tersebut tidak perlu membayar satu sen-pun ke pemerintah Indonesia, perusahaan di Indonesia ataupun orang-orang di Indonesia meskipun mereka memasak menggunakan resep Indonesia dan nama-nama masakan dari Indonesia.

Demikianlah berbagai menu masakan Indonesia seperti nasi goreng dan sate mendunia, tanpa negeri ini bisa mengambil manfaatnya satu sen-pun. Hal ini jelas sangat berbeda dengan misalnya bagaimana Hamburger, French Fries (hanya kentang goreng !), Fried Chicken (hanya ayam goreng tepung!), dlsb masuk menguasai pasar makanan cepat saji di Indonesia.  Bisa saja pengusaha Indonesia membuat restaurant cepat saji dengan menu seperti ini, namun sampai saat ini setiap anak-anak kita makan Hamburger, French Fries, Fried Chicken (orang seusia saya umumnya kurang suka menu tersebut), maka kemungkinan terbesarnya sebagian uangnya akan lari ke pemegang franchise dari makanan-makanan tersebut di luar negeri.

Hamburger & French Fries

Hamburger & French Fries

Disinilah ironi itu, ketika orang-orang di negeri yang tergolong miskin ikut menikmati makanan dari negeri-negeri yang tergolong kaya ? mereka membayar sebagian dari ongkos makanan tersebut ke negeri kaya melalui sistem franchise, dlsb. Sebaliknya ketika orang-orang kaya di manca negara menikmati menu dari negara-negara miskin, mereka tidak merasa perlu untuk membayar satu sen-pun ke negara miskin yang menghasilkan menu tersebut.

Inilah antara lain ketimpangan ekonomi dunia yang ditimbulkan oleh Sistem Ekonomi Kapitalis, dimana negara-negara yang maju dengan kapital yang kuat mampu mengatur orang lain untuk mengikuti sistemnya. Melalui hak patent, intellectual property right dan sejenisnya mereka mampu menyedot hasil dari setiap makanan cepat saji yang dimakan generasi muda bangsa ini, setiap software yang kita gunakan di rumah maupun kantor-kantor kita, bahkan juga dari setiap mainan ?game? yang dimainkan anak-anak kecil di negeri seperti kita.

Lantas apa yang mereka lakukan yang kita tidak lakukan sebenarnya, sehingga terjadi ketimpangan ini? Salah satunya adalah apa yang disebut Proses Industrialisasi. Ambil contohnya pada perbandingan makanan-makanan di bawah.

Sebelum Hamburger, French Fries, Fried Chicken dan sejenisnya masuk ke pasar Indonesia, menu makanan-makanan tersebut telah menjadi industri di negaranya. Diantara karakter industri adalah adanya standar proses, standar mutu, kelengkapan dan kontinyuitas. Ketika anak kita makan hamburger di salah satu restaurant cepat saji tersebut misalnya, penyajiannya sama dari satu lokasi ke lokasi lain, waktu delivery-nya sama, rasanya sama dan seterusnya. Di sisi supply bahan baku berupa tepung, daging, saus, sayuran dan segala macamnya juga ada standar yang sama dan masing-masing komponen harus selalu ada di setiap menu.

Bisa saja istri-istri kita membuat makanan-makanan yang lebih enak dari restaurant cepat saji tersebut, tetapi Proses Industrialisasinya yang tidak mudah untuk membuat makanan yang enak tersebut dalam jumlah banyak setiap hari dan di seluruh negeri. Tetapi tidak mudah  tidak berarti tidak mungkin, bila ada diantara kita yang mau bekerja keras secara team ? maka sangat mungkin kita-pun bisa meng-industrialisasi-kan  menu-menu makanan asal negeri ini yang terkenal dengan keragaman citarasa-nya ini.

Untuk sate saja misalnya misalnya, ada puluhan jenis sate di negeri ini yang semua enak-enak. Ada sate Madura, sate Padang, sate Jogja, sate Betawi, sate Tegal, dst. Sate Tegal sendiri ada beberapa spesialisasi, diantaranya adalah Sate Balibul (dibawah lima bulan) atau bahkan Batibul (dibawah tiga bulan) yang selain sangat enak meskipun dengan bumbu minimalis ? hanya kecap dan cabe, dia juga sangat empuk dagingnya.

Lantas bagaimana kalau kita mau meng-industrialisasi-kan Sate Balibul misalnya untuk kelak bersaing dengan berbagai makanan cepat saji seperti Hamburger tersebut di atas, sehingga mampu bersaing di negeri sendiri syukur-syukur bersaing secara global sebagai makanan favorit dunia? Di luar menu pendamping seperti nasi goreng dan nasi putih saja, berikut setidaknya pekerjaan yang perlu dilakukan khusus untuk mendukung tercapainya industri Sate Balibul ini:

1. Diperlukan adanya peternakan kambing skala industri, yang setiap hari mampu mensupply kambing-kambing muda di bawah 5 bulan dalam jumlah yang mengimbangi demand ? bila tidak maka industri Sate Balibul akan gagal. Peternakan skala industri ini bisa melibatkan inti dan plasma dari ribuan petani/peternak.

2. Diperlukan industri pemotongan kambing yang sehat, sehingga menghasilkan daging-daging kambing yang rendah kolesterol ? yaitu daging-daging kambing yang telah melalui proses rigor mortis dimana lemak jenuh-nya telah berubah menjadi lemak tidak jenuh.

3. Diperlukan rantai supply yang mampu menangani bahan baku daging kambing terutama, untuk selalu tersedia dalam kondisi terbaiknya setiap saat diperlukan.

4. Diperlukan proses standar membakar sate yang bisa diterima secara umum baik dari sisi hygienis dan ergonomis-nya (membakar sate dengan cara yang ada sekarang sangat melelahkan pekerja), maupun menghilangkan efek negatifnya seperti asap yang ngebul dan efek carcinogenic dari arang.

5. Diperlukan kampanye pemasaran yang Luar Biasa karena selama ini makanan-makanan dari kambing terlanjur ?dikambing-hitam?kan sebagai sumber kolesterol dan hal-hal negatif lainnya.

6. Diperlukan manajemen yang creative dan mumpuni untuk mengelola jaringan restaurant cepat saji berbasis kambing muda ini.

7. Diperlukan pengelolaan merek dagang, sistem franchise, sistem kendali mutu, dlsb agar Sate Balibul yang dipasarkan dimanapun di seluruh Indonesia atau bahkan dunia tetap memiliki standar mutu dan citarasa yang relatif sama ? meskipun di berbagai negara ada kemungkinan memerlukan modifikasi rasa.

8. Dlsb.

Industri Sate Balibul?

Industri Sate Balibul?

Bila Proses Industrialisasi tersebut dapat dilakukan, maka ada peluang di era globalisasi ini nantinya ketika misalnya jaringan restaurant cepat saji bernama Balibul ada di seluruh dunia ? sebagaimana Hamburger kini ada di seluruh dunia ? setiap warga dunia makan Sate Balibul, sebagian uangnya mengalir ke negeri ini dalam bentuk franchise fee, dalam bentuk pembayaran bahan baku, dalam bentuk gaji tenaga kerja ahli di bidang persatean Balibul, dst. dst.

Maka itulah buah industrialisasi, ketika kita berhasil membuat suatu industri ? betapapun nampaknya sepele seperti Sate Balibul ini misalnya, efeknya terhadap kesejahteraan masyarakat akan luar biasa. Industrialisasi ini pulalah yang selama ini memakmurkan negara-negara yang makanan-nya ikut kita makan, yang software-nya kita pakai sehari-hari, yang film-nya kita tonton, dst.

Poin 1 ? 8 tersebut di atas bisa dilakukan oleh swasta untuk mewujudkan industri ini; namun ada hal-hal lain yang harus dilakukan oleh pemerintah yaitu ketersediaan Infrastruktur Industri, perizinan yang mudah, sistem perpajakan yang menunjang, dlsb. Dalam kondisi Indonesia saat ini, mewujudkan industri tersebut masih sangat sulit karena kita adalah negara di urutan 122 dalam hal kemudahan usaha.

Saya justru kawatir, industri-industri semacam ini lahir dari negara-negara tetangga kita meskipun menggunakan menu makanan kita. Singapore misalnya, tingkat kemudahan usaha menempati no 1 di Dunia ?jadi sangat mudah melahirkan usaha di sana. Negara tetangga lainnya Thailand di urutan 12, Malaysia urutan 23 dan bahkan Vietnam saja berada lebih baik dari kita yaitu di urutan 93.  Bila daya saing industri ini tidak ada lompatan perbaikan yang luar biasa dari para pihak yang berwenang di negeri ini, memakmurkan rakyat akan tetap sulit atau bahkan semakin sulit ke depan.

Maka melalui tulisan ini, saya mengajak ribuan pembaca tulisan-tulisan saya untuk mau mulai memikirkan hal-hal kecil tetapi insya Allah berdampak besar dalam konteks memberi makan di hari kelaparan, mumpung ini bulan puasa ? kita dapat merasakan betapa tidak enaknya lapar. Bila industri-industri yang sebelumnya tidak terbayang-kan pun terbangun, lapangan kerja insya Allah tercipta, ekonomi berputar lebih cepat, impor berkurang dan ekspor meningkat ? maka disitulah kemakmuran insya Allah akan datang.

Seandainya Allah kelak bertanya ke kita ?mengapa engkau biarkan tetanggamu, sekian banyak penduduk negerimu sampai kelaparan di bumiKu yang gemah ripah loh jinawi ? yang di dalmnya semuanya telah Aku sediakan??, kita inginnya bisa menjawab ?Sudah Ya Allah, Aku bekerja keras di siang hari, berdo?a kepadaMu di malam hari, ingin agar aku, keluargaku, tetanggaku dan masyarakat di negeriku terhindar dari rasa lapar karena miskin Ya Allah; mengenai hasil, itu kuasaMu jua yang menentukan Ya Allah…?. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Dan Di Langit Terdapat Rizkimu Dan Apa Yang Dijanjikan Kepadamu


Ibnu Katsir ketika mentafsirkan ayat yang saya jadikan judul tulisan ini (QS. Adz-Dzariyaat (51): 22) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan  ?Dan di langit terdapat rizkimu?? adalah hujan yang membawa rizki; sedangkan yang dimaksud  dengan ?Dan Apa yang dijanjikan kepadamu? adalah surga bagi orang-orang yang bertakwa.

Ibnu Katsir yang kitab tafsirnya menjadi rujukan umat seluruh dunia karena kedalaman ilmunya; insya Allah jauh lebih besar peluang benarnya ketimbang kelirunya. Lantas mengapa bagi kita yang hidup di Jakarta ini, hujan secara perlahan tetapi pasti dicitrakan sebagai penyebab musibah tahunan yang hari-hari ini melanda ? yaitu banjir? Pasti yang salah bukan ayat atau tafsirnya; tetapi perilaku kita yang salah dalam mengelola ?potensi? rizki dari hujan ini.

Pada tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk mengembalikan pandangan bahwa hujan sebagai sumber rizki ? agar kita pandai mengelola dan mensyukuri-nya; bukan sebaliknya memandang hujan sebagai sumber musibah sehingga banyak orang berharap agar hujan tidak turun!

Sesungguhnya kita sangat-sangat beruntung hidup di negeri kepulauan yang berada paling dekat dengan katulistiwa. Negeri yang berada di Equator Belt ini hanya Indonesia, beberapa negara Amerika latin khususnya Brasil dan beberapa negara Afrika. Tetapi Afrika sangat kering, dan Brasil tidak terlalu banyak memiliki wilayah laut seperti kita di Indonesia.

Dengan posisi yang seperti inilah, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak memiliki hujan. Dampak dari hujan tropis ini berikutnya adalah di Indonesia-lah terdapat paling banyak spesies tumbuhan, binatang dan microorganism yang kemudian dikenal sebagai biodiversity.

Karena posisi yang unique ini pulalah maka ketika United Nation menyatakan tahun ini sebagai 2010 International Year of Biodiversity ? Indonesia menjadi salah satu pusat perayaannya, yaitu di Bali mulai akhir pekan ini.

Sejalan dengan tafsir di atas, kemudian juga bukti kekayaan biodiversity yang tidak ada duanya tersebut ? masihkah kita belum bisa melihat rizki dari langit yang dibawa oleh hujan itu? Kalau melihat saja kita belum bisa, tentu kita akan kesulitan untuk memiliki visi pengelolaannya.

Untuk belajar menangkap secara harfiah ?rizki dari langit? yang terbawa oleh hujan ini, team kami di Pesantren Wirausaha ? Jonggol membuat eksperimen kecil dalam laboratorium sederhana untuk pembibitan Jamur.

Jamur Tiram Putih

Jamur Tiram Putih

Jamur adalah sumber protein yang sehat dan bisa diproduksi dari ?awang-awang?. Karena untuk menghasilkan 10 kg jamur perhari selama  4-5 bulan berturut-turut, awalnya hanya dibutuhkan jaringan yang diambil dari jamur induk sebesar ujung jarum.

Untuk bisa tumbuh baik, jamur pada umumnya memerlukan suhu udara antara 22o C – 28o C dan kelembaban udara antara 60% – 70%. Suhu dan kelembaban yang dipersyaratkan untuk pertumbuhan jamur ini dengan mudah dapat dipenuhi oleh sebagian besar wilayah negeri ini. Dari mana negeri ini memperoleh keberuntungan tersebut? Ya dari hujan yang secara kontinyu mengguyur sebagian besar wilayah negeri ini secara reguler.

Jadi secara internal negeri ini sesungguhnya sangat beruntung dengan rizki yang terbawa seiring dengan seringnya turun hujan. Kita bisa membanjiri dunia dengan protein yang murah ? yang bisa diproduksi secara massal di Indonesia.

Untuk memproduksi jamur secara massal ini tidak dibutuhkan tanah yang luas, tidak membutuhkan pupuk-pupuk yang mahal (yang sering diributkan subsidinya), tidak membutuhkan modal yang besar (yang hanya dimiliki para konglomerat dan tuan tanah); yang kita butuhkan terutama adalah lingkungan dengan suhu dan kelembaban yang tepat yang sudah dianugerahkan oleh Allah secara melimpah melalui curah hujan negeri ini.

Yang kita butuhkan kemudian adalah ilmu perjamuran dan ketrampilan wirausaha/manajemen yang memadai; namun lagi-lagi ilmu membuat benih jamur insya Allah tidak sesulit membuat roket ? Anda bisa belajar bareng kami (kami juga lagi belajar soalnya) GRATIS; me-manage industri jamur saya yakin juga tidak sesulit mengelola bank yang di bailout (yang kalau kita lihat di televisi nampaknya nggak ada yang bisa mengelola dengan benar!); jadi orang-orang kebanyakan seperti Anda dan saya insya Allah bisa memproduksi protein yang murah ini secara massal.

Bila ini benar-benar dapat kita lakukan, maka kebutuhan protein negeri ini akan dapat tercukupi dengan murah? dan syukur-syukur kita bisa menjadi solusi bagi milyaran penduduk dunia yang kini sedang kekurangan pangan dan gizi.

Allaahumma shayyiban naafi?an; Ya Allah jadikanlah hujan ini manfaat?

Posted in EntrepreneurshipComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes