Tag Archive | "lapangan pekerjaan"

Antara Hamburger dan Sate Balibul


Di pusat finansial London dahulu ada restaurant dengan nama ?SATU? yang menyajikan berbagai masakan Asia Tenggara termasuk dari Indonesia seperti nasi goreng, sate, pisang goreng, dlsb. Restaurant elit dalam kategori fine dining ini nampaknya bukan punya orang Indonesia, dan dalam pekerjaan saya yang lama sering ke daerah ini ? tidak pernah menjumpai satupun karyawan-nya ada orang Indonesia. Siapapun pemilik restaurant tersebut tidak perlu membayar satu sen-pun ke pemerintah Indonesia, perusahaan di Indonesia ataupun orang-orang di Indonesia meskipun mereka memasak menggunakan resep Indonesia dan nama-nama masakan dari Indonesia.

Demikianlah berbagai menu masakan Indonesia seperti nasi goreng dan sate mendunia, tanpa negeri ini bisa mengambil manfaatnya satu sen-pun. Hal ini jelas sangat berbeda dengan misalnya bagaimana Hamburger, French Fries (hanya kentang goreng !), Fried Chicken (hanya ayam goreng tepung!), dlsb masuk menguasai pasar makanan cepat saji di Indonesia.  Bisa saja pengusaha Indonesia membuat restaurant cepat saji dengan menu seperti ini, namun sampai saat ini setiap anak-anak kita makan Hamburger, French Fries, Fried Chicken (orang seusia saya umumnya kurang suka menu tersebut), maka kemungkinan terbesarnya sebagian uangnya akan lari ke pemegang franchise dari makanan-makanan tersebut di luar negeri.

Hamburger & French Fries

Hamburger & French Fries

Disinilah ironi itu, ketika orang-orang di negeri yang tergolong miskin ikut menikmati makanan dari negeri-negeri yang tergolong kaya ? mereka membayar sebagian dari ongkos makanan tersebut ke negeri kaya melalui sistem franchise, dlsb. Sebaliknya ketika orang-orang kaya di manca negara menikmati menu dari negara-negara miskin, mereka tidak merasa perlu untuk membayar satu sen-pun ke negara miskin yang menghasilkan menu tersebut.

Inilah antara lain ketimpangan ekonomi dunia yang ditimbulkan oleh Sistem Ekonomi Kapitalis, dimana negara-negara yang maju dengan kapital yang kuat mampu mengatur orang lain untuk mengikuti sistemnya. Melalui hak patent, intellectual property right dan sejenisnya mereka mampu menyedot hasil dari setiap makanan cepat saji yang dimakan generasi muda bangsa ini, setiap software yang kita gunakan di rumah maupun kantor-kantor kita, bahkan juga dari setiap mainan ?game? yang dimainkan anak-anak kecil di negeri seperti kita.

Lantas apa yang mereka lakukan yang kita tidak lakukan sebenarnya, sehingga terjadi ketimpangan ini? Salah satunya adalah apa yang disebut Proses Industrialisasi. Ambil contohnya pada perbandingan makanan-makanan di bawah.

Sebelum Hamburger, French Fries, Fried Chicken dan sejenisnya masuk ke pasar Indonesia, menu makanan-makanan tersebut telah menjadi industri di negaranya. Diantara karakter industri adalah adanya standar proses, standar mutu, kelengkapan dan kontinyuitas. Ketika anak kita makan hamburger di salah satu restaurant cepat saji tersebut misalnya, penyajiannya sama dari satu lokasi ke lokasi lain, waktu delivery-nya sama, rasanya sama dan seterusnya. Di sisi supply bahan baku berupa tepung, daging, saus, sayuran dan segala macamnya juga ada standar yang sama dan masing-masing komponen harus selalu ada di setiap menu.

Bisa saja istri-istri kita membuat makanan-makanan yang lebih enak dari restaurant cepat saji tersebut, tetapi Proses Industrialisasinya yang tidak mudah untuk membuat makanan yang enak tersebut dalam jumlah banyak setiap hari dan di seluruh negeri. Tetapi tidak mudah  tidak berarti tidak mungkin, bila ada diantara kita yang mau bekerja keras secara team ? maka sangat mungkin kita-pun bisa meng-industrialisasi-kan  menu-menu makanan asal negeri ini yang terkenal dengan keragaman citarasa-nya ini.

Untuk sate saja misalnya misalnya, ada puluhan jenis sate di negeri ini yang semua enak-enak. Ada sate Madura, sate Padang, sate Jogja, sate Betawi, sate Tegal, dst. Sate Tegal sendiri ada beberapa spesialisasi, diantaranya adalah Sate Balibul (dibawah lima bulan) atau bahkan Batibul (dibawah tiga bulan) yang selain sangat enak meskipun dengan bumbu minimalis ? hanya kecap dan cabe, dia juga sangat empuk dagingnya.

Lantas bagaimana kalau kita mau meng-industrialisasi-kan Sate Balibul misalnya untuk kelak bersaing dengan berbagai makanan cepat saji seperti Hamburger tersebut di atas, sehingga mampu bersaing di negeri sendiri syukur-syukur bersaing secara global sebagai makanan favorit dunia? Di luar menu pendamping seperti nasi goreng dan nasi putih saja, berikut setidaknya pekerjaan yang perlu dilakukan khusus untuk mendukung tercapainya industri Sate Balibul ini:

1. Diperlukan adanya peternakan kambing skala industri, yang setiap hari mampu mensupply kambing-kambing muda di bawah 5 bulan dalam jumlah yang mengimbangi demand ? bila tidak maka industri Sate Balibul akan gagal. Peternakan skala industri ini bisa melibatkan inti dan plasma dari ribuan petani/peternak.

2. Diperlukan industri pemotongan kambing yang sehat, sehingga menghasilkan daging-daging kambing yang rendah kolesterol ? yaitu daging-daging kambing yang telah melalui proses rigor mortis dimana lemak jenuh-nya telah berubah menjadi lemak tidak jenuh.

3. Diperlukan rantai supply yang mampu menangani bahan baku daging kambing terutama, untuk selalu tersedia dalam kondisi terbaiknya setiap saat diperlukan.

4. Diperlukan proses standar membakar sate yang bisa diterima secara umum baik dari sisi hygienis dan ergonomis-nya (membakar sate dengan cara yang ada sekarang sangat melelahkan pekerja), maupun menghilangkan efek negatifnya seperti asap yang ngebul dan efek carcinogenic dari arang.

5. Diperlukan kampanye pemasaran yang Luar Biasa karena selama ini makanan-makanan dari kambing terlanjur ?dikambing-hitam?kan sebagai sumber kolesterol dan hal-hal negatif lainnya.

6. Diperlukan manajemen yang creative dan mumpuni untuk mengelola jaringan restaurant cepat saji berbasis kambing muda ini.

7. Diperlukan pengelolaan merek dagang, sistem franchise, sistem kendali mutu, dlsb agar Sate Balibul yang dipasarkan dimanapun di seluruh Indonesia atau bahkan dunia tetap memiliki standar mutu dan citarasa yang relatif sama ? meskipun di berbagai negara ada kemungkinan memerlukan modifikasi rasa.

8. Dlsb.

Industri Sate Balibul?

Industri Sate Balibul?

Bila Proses Industrialisasi tersebut dapat dilakukan, maka ada peluang di era globalisasi ini nantinya ketika misalnya jaringan restaurant cepat saji bernama Balibul ada di seluruh dunia ? sebagaimana Hamburger kini ada di seluruh dunia ? setiap warga dunia makan Sate Balibul, sebagian uangnya mengalir ke negeri ini dalam bentuk franchise fee, dalam bentuk pembayaran bahan baku, dalam bentuk gaji tenaga kerja ahli di bidang persatean Balibul, dst. dst.

Maka itulah buah industrialisasi, ketika kita berhasil membuat suatu industri ? betapapun nampaknya sepele seperti Sate Balibul ini misalnya, efeknya terhadap kesejahteraan masyarakat akan luar biasa. Industrialisasi ini pulalah yang selama ini memakmurkan negara-negara yang makanan-nya ikut kita makan, yang software-nya kita pakai sehari-hari, yang film-nya kita tonton, dst.

Poin 1 ? 8 tersebut di atas bisa dilakukan oleh swasta untuk mewujudkan industri ini; namun ada hal-hal lain yang harus dilakukan oleh pemerintah yaitu ketersediaan Infrastruktur Industri, perizinan yang mudah, sistem perpajakan yang menunjang, dlsb. Dalam kondisi Indonesia saat ini, mewujudkan industri tersebut masih sangat sulit karena kita adalah negara di urutan 122 dalam hal kemudahan usaha.

Saya justru kawatir, industri-industri semacam ini lahir dari negara-negara tetangga kita meskipun menggunakan menu makanan kita. Singapore misalnya, tingkat kemudahan usaha menempati no 1 di Dunia ?jadi sangat mudah melahirkan usaha di sana. Negara tetangga lainnya Thailand di urutan 12, Malaysia urutan 23 dan bahkan Vietnam saja berada lebih baik dari kita yaitu di urutan 93.  Bila daya saing industri ini tidak ada lompatan perbaikan yang luar biasa dari para pihak yang berwenang di negeri ini, memakmurkan rakyat akan tetap sulit atau bahkan semakin sulit ke depan.

Maka melalui tulisan ini, saya mengajak ribuan pembaca tulisan-tulisan saya untuk mau mulai memikirkan hal-hal kecil tetapi insya Allah berdampak besar dalam konteks memberi makan di hari kelaparan, mumpung ini bulan puasa ? kita dapat merasakan betapa tidak enaknya lapar. Bila industri-industri yang sebelumnya tidak terbayang-kan pun terbangun, lapangan kerja insya Allah tercipta, ekonomi berputar lebih cepat, impor berkurang dan ekspor meningkat ? maka disitulah kemakmuran insya Allah akan datang.

Seandainya Allah kelak bertanya ke kita ?mengapa engkau biarkan tetanggamu, sekian banyak penduduk negerimu sampai kelaparan di bumiKu yang gemah ripah loh jinawi ? yang di dalmnya semuanya telah Aku sediakan??, kita inginnya bisa menjawab ?Sudah Ya Allah, Aku bekerja keras di siang hari, berdo?a kepadaMu di malam hari, ingin agar aku, keluargaku, tetanggaku dan masyarakat di negeriku terhindar dari rasa lapar karena miskin Ya Allah; mengenai hasil, itu kuasaMu jua yang menentukan Ya Allah…?. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Memaknai Kemerdekaan: Belajar Swasembada Ala Gandhi


Mumpung ini bulan Agustus, saya ingin menulis lagi tentang makna kemerdekaan bagi saya. Ini terkait dengan salah satu sebab mengapa rata-rata penduduk negeri ini bertambah miskin justru di era reformasi khususnya 10 tahun terakhir. Hal ini antara lain karena kita menjadi bangsa konsumtif, ekonomi kita lebih banyak didorong oleh konsumsi ketimbang produksi. Kita lebih banyak menjadi pasar dari produk orang lain, ketimbang pemasar bagi produk-produk kita sendiri.

Kalau sebagian bahan pangan kita dari terigu yang harus diimpor, demikian pula daging, susu dan gula lebih ekonomis (lebih murah) produk impor, tekstil dan produk tekstil kalah murah dengan produk china, sebagian terbesar peralatan elektronik, komputer, kendaraan bermotor juga produk impor, lantas apa yang kita produksi sendiri?

Coba kita renungkan dari bangun pagi sampai tidur lagi malamnya, bagian mana yang kita produksi?

Ketika bangun kita gosok gigi dan mandi pagi, hampir pasti pasta gigi yang kita pakai produksi perusahaan asing demikian pula sabunnya. Kemudian mencukur jenggot atau kumis, foam dan silet-nya juga pasti produksi asing. Ketika berganti baju, kemungkinannya adalah baju tersebut buatan China atau negeri lain, kalau toh buatan dalam negeri ? hampir pasti kapas atau bahan tekstil-nya diimpor juga.

Kemudian sarapan pagi pakai roti atau pakai mie ? kedua produk ini terbuat dari terigu yang pasti juga bahannya diimpor. Sebelum berangkat kerja sempat menelpon beberapa orang, handset-nya pasti impor ? dan pulsa teleponnya dibayarkan ke perusahaan Indonesia ? yang sahamnya juga dimiliki asing seperti Malaysia, Qatar, dlsb.

Kemudian naik kendaraan, mungkin dibuat/di-assembling di dalam negeri tetapi komponen utamanya juga impor. Ketika mengisi bensin, well sebagian besar kita masih memilih pom bensinya Pertamina. Tetapi tahukah kita bahwa minyak mentah untuk bahan bensin tersebut juga harus diimpor? Makanya ada subsidi yang sering diributkan itu, sudah sejak beberapa tahun lalu kita menjadi net importir untuk minyak ? jadi kita lebih banyak mengimpor ketimbang mengekspor.

Sampailah kita ke kantor membuka komputer mulai kerja; kemungkinan besarnya kita menggunakan PC atau Mac ? yang keduanya juga impor. Perhatikan pula seluruh peralatan kerja kita, sampai pensil sekalipun kemungkinan adalah produk impor.

Malam hari kita pulang, sempat nonton televisi yang produk Jepang, Korea, China atau negara-negara lain. Istri di rumah nggak sempat masak, telpon jaringan fastfood untuk makan malam ? lagi?lagi sebagian yang kita makan otomatis lari keluar karena makanan tersebut dijual disini atas lisensi franchise dari negara lain.

Kemudian kita lelah dan berangkat tidur, mulai dari matras tempat tidur, sampai bantal dan selimut-pun kemungkinan besar didominasi oleh produk atau bahan impor. Wow!

Nah mengapa semua ini bisa terjadi? Para ekonom rata-rata sepakat ini adalah karena faktor efisiensi. Negara-negara yang bisa membuat produk lebih efisien ? dus lebih murah ? akan dengan mudah bersaing di pasar yang semakin tanpa batas. Kalau ini dalilnya, lantas dimana peluang kita? Bagian mana dari kebutuhan kita yang bisa kita penuhi sendiri? Untuk menjawab pertanyaan inipun kini menjadi tidak mudah ? saking sudah terkepungnya kita dengan produk impor tersebut.

Ada setidaknya 2 hal  yang sebenarnya bisa mendongkrak produksi di luar Faktor Efisiensi tersebut, yaitu:

1) Keberpihakan pada produksi dalam negeri. Bisa jadi lebih mahal karena belum seefisien negara maju, namun kalau kelebihan harga tersebut juga kembali ke industri dan lapangan kerja di dalam negeri ? maka efek globalnya akan meningkatkan produksi dalam negeri ? dan menekan konsumsi produk-produk impor.

2) Sentimental Value dari produk-produk yang kita konsumsi. Meskipun produk impor lebih murah, kita tetap memilih produk kita sendiri karena adanya nilai lebih ya sentimental value tersebut.

Dalam hal sentimental value ini, kita bisa belajar misalnya dari apa yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi dalam membangun fondasi kemerdekaan India dari jajahan Inggris ? yang lamanya hampir sama dengan penjajahan Belanda di Indonesia. Gandhi misalnya mengajak rakyat India untuk mandiri dalam hal apapun.

Bendera Perjuangan India

Bendera Perjuangan India

Bahkan bendera perjuangan pemerintahan sementara mereka ? Provisional Government of Free India – sebelum merdeka 1947 bergambar charkha, yaitu alat pemintal benang secara manual yang dikampanyekan negeri itu sebagai alat produksi sekaligus simbul perlawanan terhadap dominasi produk impor India saat itu ? yaitu tekstil.

Keberhasilan Gandhi membawa rakyatnya swasembada pakaian inilah yang kemudian ikut andil dalam membawa kemerdekaan negeri itu, sekaligus tekstil juga menjadi produk unggulannya sampai berpuluh tahun kemudian.

Semangat swasembada ala Gandhi inilah barangkali yang sekarang perlu kita bangun, agar negeri ini mampu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Kita bisa mulai dari yang paling basic dahulu, yaitu sandang, pangan dan papan. Untuk pangan dan papan sudah pernah saya tulis dalam tulisan-tulisan sebelumnya, untuk sandang saya beri contoh apa yang bisa kita lakukan sebagai berikut:

banana-fiber

Serat Pisang

Bahan pakaian kita saat ini baik yang sifatnya serat alami kapas maupun serat syntetis mayoritasnya adalah impor. Kalau kita menanam kapas, jelas kita kalah efisien dengan negara lain yang industri perkapasannya sudah maju. Tetapi serat untuk pakaian kan tidak harus kapas? Bisa serat Gedebog Pisang misalnya,  yang secara kwalitas tidak kalah ketimbang kapas ? bahkan Serat Gedebog ini lebih mendekati sutera!

Perhatikan contoh gambar serat gedebog pisang di samping. Gambar yang di atas (Half Degummed Banana Fiber) adalah yang kita rencanakan menjadi bahan bangunan dan yang di bawah yang menyerupai sutera tersebut (Banana Fiber) adalah untuk bahan pakaian.

Gedebog Pisang ini melimpah di sekitar kita dan dapat tumbuh hampir dimana saja di seluruh nusantara. Untuk mengolah serat pisang sampai kwalitas mendekati sutera tersebut saya yakin juga bukan hal yang sulit, dan insya Allah bisa diolah dalam skala rumah tangga.

Pemintal Benang Sederhana

Pemintal Benang Sederhana

Lantas setelah menjadi serat, memprosesnya menjadi benang-pun tidak harus skala industri. Alat-alat sederhana dari kayu seperti di samping inilah yang kita butuhkan untuk memintal benang tersebut.

Hasilnya adalah benang-benang menarik seperti dalam contoh berikut di bawah. Setelah menjadi benang ini, bisa saja dibuat kain untuk berbagai jenis pakaian, atau langsung dirajut menjadi pakaian yang indah seperti yang dilakukan oleh puteri saya dalam blog-nya Life is a Beautiful Crochet.

Benang INDAH Gedebog Pisang

Benang INDAH Gedebog Pisang

Hasil keseluruhan dari proses ini kemungkinan besarnya masih akan kalah efisien dengan industri per-tekstil-an China sehingga baju-baju yang kita proses dari Gedebog Pisang ini masih akan lebih mahal. Namun ini produk kita sendiri, tanaman pisang adalah hasil tanaman sendiri ? yang menanamnya akan menjadi pekerjaan bagi jutaan rumah tangga di Indonesia.

Menganyamnya menjadi benang bisa menjadi pekerjaan anak-anak perempuan dan istri kita di rumah; demikian pula merajutnya menjadi baju.

Bahkan karena seluruh proses ini adalah proses industri tekstil yang eco-friendly serta dilakukan secara manual dengan tangan, maka nilai-nya menjadi bernilai tinggi karena hasil olah kerajinan (craft) bukan produk massal industri. Produk semacam ini juga memiliki pasar tersendiri ? karena menduduki posisi produk kerajinan yang ramah lingkungan yang sekarang mulai menjadi perhatian serius bagi masyarakat terdidik dunia.

Walhasil kita tidak bersaing dengan harga murah produk industri tekstil China, tetapi kita bersaing dengan sentimental value dari industri kreatif yang bisa jadi disinilah peluang untuk kita. Kalau Gandhi sentimental value-nya untuk melawan penjajahan Inggris, sedangkan kita sentimental value-nya adalah untuk kemerdekaan ekonomi bagi kita semua. Merdeka dari serbuan produk asing dan dari dominasi ekonomi negeri kuat terhadap negeri yang lemah.

Agar bisa mengimplementasikan perjuangan untuk merdeka secara ekonomi ini, tentu saya dan team tidak bisa bekerja sendirian. Bila Anda tertarik untuk ikut memperjuangkan hal ini, silahkan hubungi kami di gede...@dinarislam.com. Antara lain kita butuh mitra LSM Pemberdayaan Umat, kita butuh mitra ahli mesin dan proses industri khususnya tekstil, kita butuh designer yang creative dan kita butuh masyarakat luas untuk menanam pisang, mengolah gedebog-nya menjadi serat, memintalnya menjadi benang, merajutnya menjadi pakaian bernilai tinggi dan lain sebagainya. Insya Allah secara bersama-sama kita bisa meraih kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya. Merdeka!!!

Posted in Political EconomyComments (0)

Jalan Yang Mendaki Lagi Sukar


Harian Republika edisi kemarin Rabu 21 Juli 2010 memuat data statistik yang sepintas menggembirakan, yaitu statistik Produk Domestik Bruto Per Kapita dalam 10 tahun terakhir yang naik hampir 4 kalinya. Statistik yang diambil dari BPS ini menunjukkan bahwa pada tahun 2000 PDB Per Kapita kita hanya Rp 6,751,000, akhir tahun lalu (2009) angka ini telah mencapai Rp 24,261,000.

Bertambah makmur kah rata-rata rakyat Indonesia selama 10 tahun terakhir ini? Di sinilah masalahnya. Bila kita melihat angka dalam Rupiah tersebut di atas yang kemudian saya sajikan ulang secara grafik di bawah, seharusnya kita telah jauh bertambah makmur selama 10 tahun terakhir.

PDB Per Kapita dalam Rupiah

PDB Per Kapita dalam Rupiah

Tetapi kenyataan yang dirasakan oleh mayoritas rakyat mungkin berbeda dengan grafik tersebut. Perasaan hidup terasa tambah berat karena barang-barang kebutuhan yang semakin mahal ? sangat bisa dipahami karena mungkin memang itulah yang terjadi di lapangan.

Untuk dapat melihat realita ini secara akurat, lagi-lagi Islam punya tools-nya yaitu Nishab Zakat. Orang yang penghasilannya melebihi Nishab Zakat dianggap mampu dan dia harus bayar zakat. Sebaliknya, yang penghasilannya di bawah Nishab Zakat dia berhak untuk menerima uang zakat. Nishab Zakat ini dinyatakan dalam Dinar yaitu 20 Dinar.

Bila PDB Per Kapita kita anggap merepresentasikan penghasilan penduduk Indonesia rata-rata; maka ketika grafik di atas saya konversikan dengan Dinar hasilnya akan seperti pada grafik di bawah.

PDB Per Kapita dalam Dinar

PDB Per Kapita dalam Dinar

Selama 10 tahun terakhir, hanya 2 tahun dimana PDB Per Kapita kita mampu melampaui Nishab Zakat yaitu tahun 2001 (20.35 Dinar) dan 2002 (21.20 Dinar). Tahun-tahun berikutnya cenderung menurun dan terendah tahun 2009 yang tinggal 16.55 Dinar. Apa maknanya PDB Per Kapita yang di bawah Nishab Zakat ini? Artinya rata-rata penduduk negeri ini berhak menerima zakat dan belum wajib zakat.

Maknanya adalah rata-rata penduduk negeri ini masih tergolong miskin menurut standar Islam, dengan timbangan yang kita yakini akurat sepanjang zaman yaitu Nishab Zakat yang 20 Dinar tersebut.

Namun realita ini tidak perlu membuat kita bersedih atau berkecil hati karena kemiskinan tidak teratasi dengan hanya bersedih, bahkan akan bertambah parah bila kita berkecil hati. Yang kita perlukan adalah setelah sadar akan realita ini adalah apa yang bisa kita perbuat untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.

Inilah peluang itu, kini terbuka peluang lebar bagi kita untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar untuk bisa berbuat sesuatu dalam ikut memerangi kemiskinan. Membangun usaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya tentu tidak mudah, lebih mudah bekerja di perusahaan atau instansi yang mapan ? dengan berbagai fasilitasnya.

Namun kalau mayoritas kita berpikiran demikian lantas tugas siapa untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya ini? Tugas pemerintahkah? Para pemimpin negeri ini tentu akan ditanya nanti atas kepemimpinannya, namun kita sebagai individu juga akan tetap ditanya atas apa yang kita lakukan.

Ayat-ayat di bawah bukan hanya ditujukan untuk para pemimpin negeri ini, tetapi untuk kita semua. Punya jawabankah kita bila waktunya kelak kita ditanya akan hal ini?

?????????????? ????????????? (???) ????? ????????? ??????????? (???) ????? ?????????? ??? ??????????? (???) ????? ???????? (???) ???? ??????????? ??? ??????? ??? ??????????? (?(??

?Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan,? (QS. Al-Balad (90): 10-14)

Posted in Islamic ViewComments (0)

Inspirasi Usaha: Mengapa di Mall & Food Court Tidak Ada Sate Kambing?


Sate kambing adalah salah satu makanan favorit bagi umumnya masyarakat Indonesia ? termasuk saya. Namun sayangnya makanan ini tidak ada di sembarang tempat. Di Mall, di Food Court dan tempat-tempat makan yang nyaman lainnya tidak mudah ditemukan sate kambing ini. Mengapa demikian? Mengapa sate kambing tidak bisa mengikuti trend ayam goreng misalnya yang kini ada dimana-mana, di tempat elit ber AC sampai pinggiran jalan? Bila Anda bisa dan mau menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, bisa jadi ini peluang bisnis besar Anda…!

Berikut adalah jawaban atas pertanyaan tersebut yang sudah sempat kami diskusikan dengan teman-teman di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin.

Daging kambing berbahaya bagi kesehatan?

Citra sate kambing sebagai makanan enak tetapi berdampak buruk terhadap kesehatan seperti kolesterol yang menyebabkan darah tinggi dan lain sebagainya, bisa jadi menjadi penyebab tidak adanya sate kambing ini di tempat-tempat tersebut diatas. Jawaban untuk ini adalah pembuktian ilmiah karena citra buruk kolesterol tinggi ini belum tentu benar, belum ada bukti ilmiah untuk ini. Yang ada malah bukti sebaliknya dari United States Department of Agriculture (USDA) yang menyatakan bahwa kolesterol daging kambing sesungguhnya lebih rendah dari daging sapi dan bahkan lebih rendah dari daging ayam!

Ketika saya menjelaskan datanya USDA tersebut dalam tulisan saya sebelumnya, ada pembaca yang menyanggahnya dengan alasan bahwa benar-benar ada orang yang stroke setelah makan daging kambing. Ada pula yang menyanggahnya dengan alasan bahwa orang menjadi perkasa (kejantanannya) setelah makan daging kambing, jadi dia berpendapat pasti ada zat-zat yang tidak biasa pada daging kambing ini yang berbahaya bagi orang yang berpotensi darah tinggi, dlsb.

Lagi-lagi alasan tersebut juga belum terbukti secara ilmiah; bisa jadi karena sugesti, bisa pula karena berlebihan – makan apa saja bisa berbahaya bila berlebihan, bisa juga karena penanganan daging yang salah setelah disembelih. Saya sendiri berkeyakinan, daging kambing ini pasti aman dikonsumsi secara normal ? karena kalau seandainya daging kambing berbahaya bagi manusia ? pasti para nabi tidak menggembala kambing.

Seandainya daging kambing berbahaya bagi kesehatan, pasti pula tidak disyariatkan kita memotong kambing untuk qurban, aqiqah, denda karena melanggar larangan haji, dlsb. Karena konsekwensi dari syariat ini adalah akan banyaknya event dimana orang memakan daging kambing. Cara pandang untuk selalu kembali ke Al-Qur?an dan Hadits ini memudahkan kita memgambil keputusan atau pendapat ? karena keduanya tidak akan pernah membuat kita tersesat.

Proses memasak sate kambing yang menyebarkan asap…

Bakar Sate = ASAP?

Bagaimana "Bakar" Sate TANPA ASAP?

Alasan kedua ini yang lebih masuk akal mengapa sate kambing tidak ada di mall dan food court yang ber- AC. Bayangkan bila dalam satu mall atau food court ada satu saja yang membakar sate dengan areng layaknya tukang sate pada umumnya, seluruh Mall atau Food Court akan dipenuhi asap ? dan fire alarm-pun berbunyi seolah terjadi kebakaran! Karena alasan inilah maka para pengelola Mall dan Food Court pada umumnya tidak mengijinkan memasak makanan yang menimbulkan asap.

Tetapi ?membakar? sate kan tidak harus dengan areng dan tidak harus menimbulkan asap, bisa di-grill misalnya? Mungkin aromanya tidak seenak kalau dibakar biasa ? tetapi ini layak dicoba.

Saat ini kami sedang me-riset cara ?membakar? sate kambing yang tidak menimbulkan asap tetapi rasa dan aromanya seenak kalau dibakar biasa, salah satunya adalah membakar sate dengan menggunakan batu lava, batu apung, dlsb. Masih ada masalah teknis sedikit dengan jenis batu yang tepat, bentuk kompor yang pas, dlsb. tetapi insya Allah masalah-masalah teknis ini akan segera teratasi.

Peluangnya…

Bisa dibayangkan bila pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas terjawab. Tiba-tiba sate kambing masuk tempat makan elit layaknya ayam goreng. Bila di Jabodetabek ada 100 tempat saja yang menjual sate kambing di ?lingkungan yang baru? ini (bisa counter di Food Court, Full Scale Restaurant atau hanya tambahan menu di restaurant/counter yang sudah ada), masing-masing menghabiskan 2 ekor kambing per hari misalnya (tukang sate yang sudah jalan baik bisa puluhan kambing per harinya), maka akan ada kebutuhan 200 ekor kambing perhari, 6.000 per bulan, 72.000 per tahun!

Bagaimana kalau sate kambing dan ?cara bakar sate? yang baru ini kita perkenalkan ke kota-kota lain dan juga negara-negara lain layaknya McDonald dan Colonel Sanders yang mengekspor Burger dan ayam goreng-nya ke seluruh penjuru dunia? Tidak terhitung kebutuhan kambing dan lapangan pekerjaan yang insya Allah tercipta.

Untuk Jabodetabek dengan target 200 ekor kambing perhari, 6.000 per bulan, 72.000 pertahun saja ? ini insya Allah sudah akan menyerap ribuan tenaga kerja. Mulai dari pelihara kambing, pabrik pakan ternak, tukang potong kambing, transportasi, juru masak, tenaga pemasaran, pemilik/penjaga restaurant, dlsb.

Bila Anda ingin bergabung untuk meng-explore peluang baru di industri perkambingan ini di sisi mana saja, silahkan menghubungi kami. Saya insya Allah akan bicara pada acara Workshop Kambing & Domba Nasional di Wisma Haji Donohudan Boyolali pekan depan (21-21 Juli 2010) yang diadakan oleh Direktorat Jendral Peternakan ? Dep. Pertanian RI, saya kebagian bicara mengenai peluang pasar kambing dan domba dan cara menangkap peluang tersebut.

Industri kambing bisa sangat menjanjikan ke depan, selain kambing susu yang sudah kita mulai ? kambing pedaging-pun ternyata tidak kalah menariknya. Semoga secara bersama-sama kita bisa menangkap peluang  tersebut… Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Goat & Gold Investment: Risk and Reward


Ketika beberapa waktu lalu saya diundang untuk memberi masukan di rapat BOD investment company-nya negeri jiran ? CEO yang membawa saya ke BOD-nya kesulitan menjelaskan apa profesi saya sekarang ? rata-rata mereka mengenal saya lama di dunia finansial.

Maka akhirnya saya sendiri yang memperkenalkan apa yang saya lakukan sekarang; ringkasnya saya jelaskan bahwa saat ini saya tidak lagi di dunia finansial tetapi di sektor riil yang saya sebut sebagai Goat & Gold Invesment. Tambah penasaran mereka ? karena ini adalah hal yang sama sekali baru di dunia investasi.

Nah penjelasan saya di rapat BOD ?BUMN?- nya negeri jiran tersebut, relevan sekali dengan minat para pembaca situs ini yang mem-bludak untuk investasi di kambing selain di Dinar yang sudah jalan selama ini.

Kambing dan emas atau Dinar adalah dua hal yang sangat erat dalam sistem ekonomi dan Syariah Islam. Selain seluruh nabi-nabi menggembala kambing, kambing dan Dinar digunakan untuk standar pelaksanaan hukum-hukum tertentu dalam syariah. Misalnya ketika Anda pergi haji bersama istri, karena tidak tahu atau tidak tahan sehingga Anda melakukan hubungan suami istri sebelum tahallul ? maka Anda terkena denda untuk menyembelih 7 ekor kambing atau 1 ekor unta. Sedangkan Dinar sudah sering saya jelaskan sebagai standar nishab zakat, nishab pencuri, uang darah, dlsb.

Karena kambing dan Dinar merupakan bagian tidak terpisahkan dari syariat agama akhir zaman ini, maka pastilah keberadaannya dijamin oleh yang membuat syariat itu sendiri sampai akhir zaman. Hal ini memudahkan kita dalam memilih bidang investasi atau pekerjaan, karena yang kita lakukan hanyalah menyesuaikan dengan apa yang dikehendakiNya.

Selain penggunaannya dalam pelaksanaan syariah, secara historis keduanya juga memiliki hubungan nilai yang sangat dekat ? yaitu harga kambing standar qurban bertahan di sekitar 1 Dinar selama lebih dari 1400 tahun. Inilah kaidah itu; standar Hukum Islam itu valid dan dapat diandalkan sampai akhir zaman.

Dengan fakta-fakta tersebut di atas-lah maka insya Allah tidak salah bila kita menjadikan Goat & Gold ini sebagai instrumen investasi kita. Yang kemudian perlu disadari adalah bahwa dalam hal investasi, kambing memiliki karakter yang sangat berbeda dengan emas atau Dinar. Justru perbedaan karakter inilah yang membuat keduanya bisa disinergikan untuk saling melengkapi.

Dinar sebagai investasi merupakan instrumen yang sangat aman karena tidak pernah kehilangan nilai atau daya beli; appresiasi nilainya mampu mengalahkan inflasi. Namun meskipun appresiasi nilai Dinar ini bisa berkisar antara 3 ? 5 kali bagi hasil deposito dalam 10 tahun terakhir, 1 Dinar akan tetap 1 Dinar bila Anda simpan dalam berapa lama-pun. Dinar tidak beranak dan daya belinya tetap setara 1 ekor kambing.

Kavling di Jonggol Farm

Kavling di Jonggol Farm

Di sisi lain kambing, standarnya 2 tahun beranak 3 kali. Jumlah anak normalnya sekali beranak adalah 2 meskipun bisa lebih atau berkurang. Namun memelihara kambing adalah investasi yang penuh risiko. Kematian oleh berbagai sebab penyakit adalah ancaman utamanya, selain risiko-risiko lain yang tingkatnya lebih rendah seperti kelambatan reproduksi, berkurangnya hasil susu karena problem pakan, dlsb.

Risiko-risiko tersebut bisa di minimize dengan adanya team dokter yang competent, adanya ahli reproduksi dan ahli pakan ? tetapi  risiko-risiko tersebut di atas tidak bisa dihilangkan sama sekali.

Dalam ilmu risk management yang syar?i; risiko-risiko yang harus kita hadapi tersebut tidak boleh kita transfer ke orang lain seperti asuransi konvensional ataupun mekanisme risk transfer lainnya ? karena berarti ini memindahkan mudharat ke orang/pihak lain atau jual beli dengan gharar.

Lantas bagaimana solusinya? Dalam Islam dikenal konsep yang sangat indah yaitu tolong menolong atau ta’awun. Maka kepada para investor atau Shahibul Mal di project investasi kambing, kami perkenalkan konsep ta’awun dengan Shahibul Mal lain dan atau dengan kami. Ini yang disebut risk sharing; jadi risk transfer dilarang ? namun risk sharing dianjurkan.

Kandang Kambing - Jonggol Farm

Kandang Kambing - Jonggol Farm

Dalam aqad Mudharabah Muqayyadah yang untuk sementara ini kami batasi minimal setara 10 kambing per peserta ? maka ada 10 peserta dalam 1 kandang kambing standar kami yang isinya sampai 100 ekor kambing. Bila tanpa ta’awun, pemilik 10 ekor kambing yang mengalami musibah kematian 3 ekor kambing misalnya ? maka dia akan menanggung sendiri kehilangan 30% dari investasinya tersebut. Tetapi bila kematian 3 ekor ini di-share dengan pemilik 100 ekor kambing, maka kehilangan ini rata-rata hanya 3%. Sebaliknya juga demikian bila beranak dan menghasilkan susu ?hasilnya juga di-share ke sesama pemilik kambing lain dalam kandang yang sama.

Dengan menggabungkan ke dalam bilangan yang lebih besar ? risiko insya Allah akan lebih stabil dan terkendali  - inilah yang disebut law of large numbers atau hukum bilangan besar dalam ilmu risk management.

Perlu disadari bahwa meskipun berbagai upaya tersebut dilakukan, investasi kambing tetap akan lebih berisiko ketimbang Dinar ? meskipun memang investasi kambing ini juga berpeluang memberi reward yang lebih besar ketimbang Dinar. Disamping reward lain berupa banyaknya lapangan pekerjaan yang tumbuh dari adanya investasi kambing ini.

Lantas bagaimana Anda memilih antara kedua investasi ini? Prinsip dasar investasi tidak menaruh seluruh telur dalam satu kandang-lah yang berlaku. Untuk persiapan pergi haji, biaya kesehatan, biaya anak sekolah dan lain sebagainya yang merupakan kebutuhan pokok Anda bila ada uang ? maka memegangnya dalam Dinar secukupnya untuk keperluan-keperluan tersebut ? insya Allah akan sangat aman dan bermanfaat.

Di atas keperluan yang sifatnya pokok tersebut bila Anda masih memiliki dana lebih ? baru ke investasi seperti ke per-kambing-an ini. Insya Allah hasilnya akan beda, karena selain ada harapan hasil finansial yang lebih tinggi ? banyaknya lapangan pekerjaan yang tercipta dari project semacam ini insya Allah membawa barakah.

Bila Anda tertarik lebih jauh dengan project perkambingan ini dan peluang-peluang yang hadir bersamanya, kami sudah siapkan satu situs khusus di jonggolfarm.com. Meskipun demikian mohon maaf bila kami belum bisa memenuhi minat para (calon) Shahibul Mal seluruhnya ? karena untuk memenuhi membludaknya peminat yang sudah ada saja saat ini ? insya Allah diperlukan waktu sampai sekitar 3 bulan yang akan datang untuk persiapan kandang, bibit, pakan, dlsb.

Sambil menunggu sarana prasarana tersebut, dana peminat kami simpan dalam Dinar agar tidak kehilangan daya beli. Setiap kandang dan bibit tersedia, tentu kami prioritaskan pada Shahibul Mal yang telah lama dananya di kami dalam bentuk Dinar ini. Maka Goat & Gold kini menjadi pasangan investasi yang ideal untuk Anda.

Semoga Allah senantiasa memudahkan jalanNya pada kita semua. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes