Tag Archive | "konsumtif"

Memaknai Kemerdekaan: Belajar Swasembada Ala Gandhi


Mumpung ini bulan Agustus, saya ingin menulis lagi tentang makna kemerdekaan bagi saya. Ini terkait dengan salah satu sebab mengapa rata-rata penduduk negeri ini bertambah miskin justru di era reformasi khususnya 10 tahun terakhir. Hal ini antara lain karena kita menjadi bangsa konsumtif, ekonomi kita lebih banyak didorong oleh konsumsi ketimbang produksi. Kita lebih banyak menjadi pasar dari produk orang lain, ketimbang pemasar bagi produk-produk kita sendiri.

Kalau sebagian bahan pangan kita dari terigu yang harus diimpor, demikian pula daging, susu dan gula lebih ekonomis (lebih murah) produk impor, tekstil dan produk tekstil kalah murah dengan produk china, sebagian terbesar peralatan elektronik, komputer, kendaraan bermotor juga produk impor, lantas apa yang kita produksi sendiri?

Coba kita renungkan dari bangun pagi sampai tidur lagi malamnya, bagian mana yang kita produksi?

Ketika bangun kita gosok gigi dan mandi pagi, hampir pasti pasta gigi yang kita pakai produksi perusahaan asing demikian pula sabunnya. Kemudian mencukur jenggot atau kumis, foam dan silet-nya juga pasti produksi asing. Ketika berganti baju, kemungkinannya adalah baju tersebut buatan China atau negeri lain, kalau toh buatan dalam negeri ? hampir pasti kapas atau bahan tekstil-nya diimpor juga.

Kemudian sarapan pagi pakai roti atau pakai mie ? kedua produk ini terbuat dari terigu yang pasti juga bahannya diimpor. Sebelum berangkat kerja sempat menelpon beberapa orang, handset-nya pasti impor ? dan pulsa teleponnya dibayarkan ke perusahaan Indonesia ? yang sahamnya juga dimiliki asing seperti Malaysia, Qatar, dlsb.

Kemudian naik kendaraan, mungkin dibuat/di-assembling di dalam negeri tetapi komponen utamanya juga impor. Ketika mengisi bensin, well sebagian besar kita masih memilih pom bensinya Pertamina. Tetapi tahukah kita bahwa minyak mentah untuk bahan bensin tersebut juga harus diimpor? Makanya ada subsidi yang sering diributkan itu, sudah sejak beberapa tahun lalu kita menjadi net importir untuk minyak ? jadi kita lebih banyak mengimpor ketimbang mengekspor.

Sampailah kita ke kantor membuka komputer mulai kerja; kemungkinan besarnya kita menggunakan PC atau Mac ? yang keduanya juga impor. Perhatikan pula seluruh peralatan kerja kita, sampai pensil sekalipun kemungkinan adalah produk impor.

Malam hari kita pulang, sempat nonton televisi yang produk Jepang, Korea, China atau negara-negara lain. Istri di rumah nggak sempat masak, telpon jaringan fastfood untuk makan malam ? lagi?lagi sebagian yang kita makan otomatis lari keluar karena makanan tersebut dijual disini atas lisensi franchise dari negara lain.

Kemudian kita lelah dan berangkat tidur, mulai dari matras tempat tidur, sampai bantal dan selimut-pun kemungkinan besar didominasi oleh produk atau bahan impor. Wow!

Nah mengapa semua ini bisa terjadi? Para ekonom rata-rata sepakat ini adalah karena faktor efisiensi. Negara-negara yang bisa membuat produk lebih efisien ? dus lebih murah ? akan dengan mudah bersaing di pasar yang semakin tanpa batas. Kalau ini dalilnya, lantas dimana peluang kita? Bagian mana dari kebutuhan kita yang bisa kita penuhi sendiri? Untuk menjawab pertanyaan inipun kini menjadi tidak mudah ? saking sudah terkepungnya kita dengan produk impor tersebut.

Ada setidaknya 2 hal  yang sebenarnya bisa mendongkrak produksi di luar Faktor Efisiensi tersebut, yaitu:

1) Keberpihakan pada produksi dalam negeri. Bisa jadi lebih mahal karena belum seefisien negara maju, namun kalau kelebihan harga tersebut juga kembali ke industri dan lapangan kerja di dalam negeri ? maka efek globalnya akan meningkatkan produksi dalam negeri ? dan menekan konsumsi produk-produk impor.

2) Sentimental Value dari produk-produk yang kita konsumsi. Meskipun produk impor lebih murah, kita tetap memilih produk kita sendiri karena adanya nilai lebih ya sentimental value tersebut.

Dalam hal sentimental value ini, kita bisa belajar misalnya dari apa yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi dalam membangun fondasi kemerdekaan India dari jajahan Inggris ? yang lamanya hampir sama dengan penjajahan Belanda di Indonesia. Gandhi misalnya mengajak rakyat India untuk mandiri dalam hal apapun.

Bendera Perjuangan India

Bendera Perjuangan India

Bahkan bendera perjuangan pemerintahan sementara mereka ? Provisional Government of Free India – sebelum merdeka 1947 bergambar charkha, yaitu alat pemintal benang secara manual yang dikampanyekan negeri itu sebagai alat produksi sekaligus simbul perlawanan terhadap dominasi produk impor India saat itu ? yaitu tekstil.

Keberhasilan Gandhi membawa rakyatnya swasembada pakaian inilah yang kemudian ikut andil dalam membawa kemerdekaan negeri itu, sekaligus tekstil juga menjadi produk unggulannya sampai berpuluh tahun kemudian.

Semangat swasembada ala Gandhi inilah barangkali yang sekarang perlu kita bangun, agar negeri ini mampu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Kita bisa mulai dari yang paling basic dahulu, yaitu sandang, pangan dan papan. Untuk pangan dan papan sudah pernah saya tulis dalam tulisan-tulisan sebelumnya, untuk sandang saya beri contoh apa yang bisa kita lakukan sebagai berikut:

banana-fiber

Serat Pisang

Bahan pakaian kita saat ini baik yang sifatnya serat alami kapas maupun serat syntetis mayoritasnya adalah impor. Kalau kita menanam kapas, jelas kita kalah efisien dengan negara lain yang industri perkapasannya sudah maju. Tetapi serat untuk pakaian kan tidak harus kapas? Bisa serat Gedebog Pisang misalnya,  yang secara kwalitas tidak kalah ketimbang kapas ? bahkan Serat Gedebog ini lebih mendekati sutera!

Perhatikan contoh gambar serat gedebog pisang di samping. Gambar yang di atas (Half Degummed Banana Fiber) adalah yang kita rencanakan menjadi bahan bangunan dan yang di bawah yang menyerupai sutera tersebut (Banana Fiber) adalah untuk bahan pakaian.

Gedebog Pisang ini melimpah di sekitar kita dan dapat tumbuh hampir dimana saja di seluruh nusantara. Untuk mengolah serat pisang sampai kwalitas mendekati sutera tersebut saya yakin juga bukan hal yang sulit, dan insya Allah bisa diolah dalam skala rumah tangga.

Pemintal Benang Sederhana

Pemintal Benang Sederhana

Lantas setelah menjadi serat, memprosesnya menjadi benang-pun tidak harus skala industri. Alat-alat sederhana dari kayu seperti di samping inilah yang kita butuhkan untuk memintal benang tersebut.

Hasilnya adalah benang-benang menarik seperti dalam contoh berikut di bawah. Setelah menjadi benang ini, bisa saja dibuat kain untuk berbagai jenis pakaian, atau langsung dirajut menjadi pakaian yang indah seperti yang dilakukan oleh puteri saya dalam blog-nya Life is a Beautiful Crochet.

Benang INDAH Gedebog Pisang

Benang INDAH Gedebog Pisang

Hasil keseluruhan dari proses ini kemungkinan besarnya masih akan kalah efisien dengan industri per-tekstil-an China sehingga baju-baju yang kita proses dari Gedebog Pisang ini masih akan lebih mahal. Namun ini produk kita sendiri, tanaman pisang adalah hasil tanaman sendiri ? yang menanamnya akan menjadi pekerjaan bagi jutaan rumah tangga di Indonesia.

Menganyamnya menjadi benang bisa menjadi pekerjaan anak-anak perempuan dan istri kita di rumah; demikian pula merajutnya menjadi baju.

Bahkan karena seluruh proses ini adalah proses industri tekstil yang eco-friendly serta dilakukan secara manual dengan tangan, maka nilai-nya menjadi bernilai tinggi karena hasil olah kerajinan (craft) bukan produk massal industri. Produk semacam ini juga memiliki pasar tersendiri ? karena menduduki posisi produk kerajinan yang ramah lingkungan yang sekarang mulai menjadi perhatian serius bagi masyarakat terdidik dunia.

Walhasil kita tidak bersaing dengan harga murah produk industri tekstil China, tetapi kita bersaing dengan sentimental value dari industri kreatif yang bisa jadi disinilah peluang untuk kita. Kalau Gandhi sentimental value-nya untuk melawan penjajahan Inggris, sedangkan kita sentimental value-nya adalah untuk kemerdekaan ekonomi bagi kita semua. Merdeka dari serbuan produk asing dan dari dominasi ekonomi negeri kuat terhadap negeri yang lemah.

Agar bisa mengimplementasikan perjuangan untuk merdeka secara ekonomi ini, tentu saya dan team tidak bisa bekerja sendirian. Bila Anda tertarik untuk ikut memperjuangkan hal ini, silahkan hubungi kami di gede...@dinarislam.com. Antara lain kita butuh mitra LSM Pemberdayaan Umat, kita butuh mitra ahli mesin dan proses industri khususnya tekstil, kita butuh designer yang creative dan kita butuh masyarakat luas untuk menanam pisang, mengolah gedebog-nya menjadi serat, memintalnya menjadi benang, merajutnya menjadi pakaian bernilai tinggi dan lain sebagainya. Insya Allah secara bersama-sama kita bisa meraih kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya. Merdeka!!!

Posted in Political EconomyComments (0)

Peradaban Barat Yang Memiskinkan Kelas Menengah


Kalau saja judul di atas murni dari pandangan seorang Muslim seperti saya, orang mungkin segera men-cap saya sebagai anti barat.  Tetapi kali ini pandangan tersebut bukanlah dari saya, judul tulisan ini saya ambilkan dari karya columnist handal di The Market Oracle, Andrew G Marshall dengan judul aslinya ?Western Civilization and the economic Crisis, The Impoverishment of the Middle Class?.

Awalnya, menurut Andrew ? Peradaban Barat nampak bekerja dengan baik. Diawali dengan revolusi industri abad 18 dan 19, tumbuhlah kelas menengah yang semakin banyak jumlahnya dan semakin makmur. Namun Peradaban Barat ini, ternyata tidak akan berusia lama. Beberapa puluh tahun terakhir, yang namanya kelas menengahnya hanya berusaha bertahan melalui pemupukan hutang.

Diawali dengan tahun 1958 yang merupakan awal kemunculan credit card modern oleh Bank of Amerika yang kemudian berevolusi menjadi Visa, kemudian disusul oleh Master Card tahun 1966 ? maka dekade-dekade berikutnya terjadilah pertumbuhan eksponensial dari credit card ini.

Sejak di Amerika dicabut batasan tingkat bunga yang bisa dikenakan pada para pemegang credit card tahun 1979, kombinasi dari deregulasi ini dan kemajuan teknologi membuat penyebar luasan credit card di masyarakat menjadi tidak terbendung lagi.

Tidak perduli lagi apakah pemegang kartu tersebut benar-benar membutuhkannya; tidak juga terlalu perlu apakah dia mampu membayarnya; yang penting member mereka terus bertambah dan bertambah pula pendapatan mereka. Tidak hanya dari pembayaran bunga, issuer credit card juga memperoleh tambahan penghasilan dari late payment fees, dlsb; sehingga pendapatan mereka juga menggelembung.

Credit Card DebtBudaya credit card, juga telah mendorong perilaku ngutang bahkan untuk barang-barang yang tidak terlalu penting sekalipun, seperti: membeli TV, membayar liburan, dlsb.

Walhasil, budaya ini telah menjebak masyarakat menengah dalam jebakan hutang yang melilit dari tahun ke tahun. Bila pada tahun 2001, masyarakat Amerika ?baru? berhutang 96% dari disposable income-nya ; 5 tahun kemudian persentase ini telah naik menjadi 129%. Bukan hanya di Amerika, pada tahun tersebut masyarakat Inggris telah berhutang Pounsterling 1.3 trilyun.

Kini 5 tahun setelah signal ketidak beresan budaya ngutang tersebut mulai terdeteksi (2006), bank-bank sentral dunia berada dalam situasi yang sangat dilematis. Mereka hanya bisa mengerem arus ?peminjam? ini bila suku bunga dinaikkan. Namun bila suku bunga dinaikkan ? akan semakin banyak yang tidak bisa membayar. Ini terbukti bahwa pada tahun 2009, hanya 10% penurunan outstanding balance dari  credit card di AS yang  berasal dari pembayaran credit card balance-nya. Yang terjadi adalah masyarakat yang gali lubang tutup lubang, membuka credit card baru untuk menutup yang lama.

Masalah ini mungkin bisa diatasi bila pemerintah berhasil meningkatkan lapangan kerja dan meningkatkan penghasilan rakyatnya ? sehingga mereka mampu membayar hutang. Namun kenyataan menunjukkan hal yang  sebaliknya; karena pemerintah sibuk menalangi bank-bank dan lembaga keuangan yang gagal sampai trilyunan Dollars ? juga karena kegalan peminjam yang lain! Pemerintah terpaksa mengamankan kebijakan fiskalnya dengan memotong anggaran ? yang berarti bukan mengurangi pengangguran tetapi malah menambah pengangguran.

Akibat dari lingkaran setan proses pemiskinan melalui gaya hidup ngutang ini, menurut Andrew tersebut di atas ?Masyarakat kelas menengah di dunia barat, bertahan hidup (surviving) hanya dengan berhutang, mereka akan menjadi korban Class DefaultMasyarakat kelas atas akan semakin konsumtif, sedangkan masyarakat kelas menengah akan tenggelam ke kelas di bawahnya atau kelas pekerja?.

Well, apakah budaya kita mirip dengan budaya yang digambarkan oleh Andrew tersebut? Kalau iya ? ini mungkin waktu terbaik kita untuk keluar dari sistem ribawi ke sistem perdagangan tanpa riba. Keluar dari gaya hidup ngutang, ke gaya hidup produktif. Keluar dari gaya hidup konsumtif ke gaya hidup infaq dan shadaqah.

Insya Allah kita tidak akan ikut terjerembab di lubang biawak, bila kita tidak mengikuti mereka. Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

Bila Dinar & Dirham Dipergunakan Sebagai Alat Transaksi


Dari Aiman r.a berkata : ?Saya masuk ke rumah Aisyah, di situ ada baju perempuan yang terbuat dari benang seharga lima Dirham. Kata Aisyah: ?Lihatlah sahaya perempuanku, perhatikanlah dia!, dia merasa megah karena memakai pakaian itu dalam rumah.  Saya pernah memakai baju itu pada masa Rasulullah SAW. Setiap wanita yang ingin berdandan di Madinah, selalu mengirimkan utusannya kepadaku buat meminjamnya?. (Shahih Bukhari, Kitab 47, Hadits no 796)

Diriwayatkan dari ?Urwa : ?Bahwa Nabi memberinya satu Dinar untuk membeli domba untuk beliau. ?Urwa membeli dua ekor domba untuk beliau dengan uang tersebut. Kemudian dia menjual satu ekor domba seharga satu Dinar, dan membawa satu Dinar tersebut bersama satu ekor dombanya kepada Nabi. Atas dasar ini Nabi berdoa kepada Allah untuk memberkahi transaksi ?Urwa. Sehingga ?Urwa selalu memperoleh keuntungan (dari setiap perdagangannya) ? bahkan seandainya dia membeli debu?.  (Di riwayat lain) ?Urwa berkata: ?Saya mendengar Rasulullah SAW berkata, ?Selalu ada kebaikan pada kuda sampai hari kiamat??. (Periwayat lainnya lagi menambahkan ?saya melihat 70 ekor kuda di rumah ?Urwa.?) (Sufyan berkata, ?Nabi menyuruh ?Urwa untuk membeli domba untuk beliau sebagai hewan qurban?.) (Shahih Bukhari, Kitab 56, Hadits No 836)

Diriwayatkan dari Abdullah Ibn UmarUmar ibn Al Khattab memberi nama untanya Bukhti untuk qurban. Ada yang menawar 300 Dinar untuk unta ini. Ia datang kepada Nabi SAW dan berkata : ? Ya Rasulullah, unta saya Bukhti yang saya niatkan untuk qurban ditawar 300 Dinar. Boleh kah saya jual kemudian saya membeli unta lain dengan uang tersebut? Jangan, qurban kan saja yang ini.? (Hadits Sunan Abudawud, Kitab 10, hadits no 1752)

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik dari serangkaian hadits tersebut di atas, diantaranya adalah:

1) Kita  bisa memperoleh perpektif yang lebih jelas tentang kehidupan Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Bahwa keluarga beliau dan para sahabatnya hidup sederhana dan begitu akrab satu sama lain ? sampai baju Aisyah yang indah sering dipinjamkan kepada kepada wanita-wanita Madinah.

2) Daya beli Dirham juga relatif stabil meskipun kursnya terhadap Dinar bisa saja berfluktuasi; yang disebut baju yang indah namun tidak berlebihan untuk Aisyah yang hidup sederhana ? adalah seharga 5 Dirham. Dengan 5 Dirham, sekarang Anda-pun masih bisa memperoleh baju yang relatif indah yang tidak berlebihan.

3) Harga yang wajar untuk kambing standar saat itu adalah 1 Dinar; bahwasanya ?Urwah bisa membeli 2 ekor kambing dengan 1 Dinar ? ini nampaknya karena kepandaian ?Urwah berdagang sehingga beliau dido?akan secara khusus oleh Rasulullah SAW. 2 ekor kambing yang dibeli ?Urwah kemudian salah satunya dijual lagi dengan harga 1 Dinar dan 1 ekor yang lain dipertahankan untuk keperluan qurban Rasulullah SAW ? ini menguatkan fakta bahwa baik kambing yang dijual maupun yang diserahkan ke Rasulullah SAW adalah kambing yang wajar ukurannya untuk  harga 1 Dinar (buktinya orang lain mau membeli 1 Dinar, dan Rasulullah-pun mau menerima kambing yang diperuntukkan sebagai hewan qurban beliau seharga 1 Dinar tersebut). 1 Dinar saat ini tetap dapat untuk membeli 1 ekor kambing dengan standar yang baik ? ini membuktikan betapa stabilnya daya beli Dinar terhadap benda riil.

4) Kita jadi tahu ukuran atau nilai ?kendaraan mewah? saat itu yaitu unta terbaik seharga 300 Dinar. Atau kalau saat ini kira-kira setara SUV menengah atas Toyota Fortuner atau Mitsubishi Pajero Sport. Nilai seperti inilah yang dijadikan qurban oleh sahabat Rasulullah SAW yang mampu seperti Umar. Jadi bila Anda tergolong orang yang mampu berqurban dengan hewan qurban pilihan; lakukanlah itu ? ( www.lembuageng.com menyediakan hewan-hewan qurban top end ini).

5) Pelajaran yang tidak kalah menariknya adalah customary atau kebiasaan masyarakat saat itu ? kapan menggunakan Dinar untuk transaksi dan kapan menggunakan Dirham.

capitalUntuk kebutuhan transaksi yang nilainya tidak terlalu besar seperti untuk membeli baju, makanan sehari-hari dan lain sebagainya tentu tidak praktis menggunakan Dinar ? maka digunakanlah Dirham. Jadi kalau sekarang-pun kita hendak mengganti uang fiat dengan uang riil untuk kebutuhan transaksi sehari-hari seperti membeli makanan dan belanja sehari-hari lainnya, Dirham insya Allah akan lebih sesuai ketimbang Dinar.

Memang dengan teknologi yang kita miliki teknologi M-Dinar, bisa saja kita membeli buku di Dinar World seharga 0.075 Dinar misalnya ; namun penggunaan Dinar untuk transaksi kecil di luar pasar yang sudah terintegrasi dengan sistem elektronik semacam Dinar World dan M-Dinar ini kemungkinan masih perlu waktu untuk bisa berjalan praktis.

Di luar transaksi dengan nilai kecil tersebut, sudah sangat banyak transaksi lain yang bisa kita fasilitasi dengan menggunakan Dinar ? yaitu transaksi barang/jasa yang bernilai cukup besar. Karena Islam tidak mengajari kita untuk boros, tentu transaksi yang bernilai cukup besar ini arahnya bukan untuk kebutuhan konsumtif tetapi untuk kebutuhan produktif.

?Urwah menggunakan Dinar untuk perdagangan kambingnya dan unta Umar juga dinilai dalam satuan Dinar ? ini contoh yang baik untuk penggunaan Dinar sebagai transaksi perdagangan dan sebagai timbangan yang adil atau unit of account yang saat itupun sudah praktis apalagi sekarang. Dalam bahasa ekonomi, transaksi-transaksi atau penilaian yang sudah praktis dilakukan dengan Dinar seperti dalam 2 contoh hadits  tersebut adalah masuk kategori transaksi barang modal.

Karena Dinar kita arahkan untuk transaksi barang modal ? artinya untuk menggerakkan kegiatan produktif ? bukan konsumtif, maka tema sentral yang diusung kami adalah Investasi & Proteksi Nilai. Tema inilah yang  sering disalah pahami oleh pihak yang tidak bosan-bosannya mengkritisi kami, dalam pandangan mereka investasi ini diartikan sekedar membeli Dinar terus disimpan atau sekedar menumpuk Dinar untuk ditunggu naik nilainya. Tuduhan ini sama sekali tidak berdasar, karena sejak awal sekali kami memperkenalkan Dinar ? para pengguna Dinar sudah kami ingatkan untuk tidak menimbun. Lihat tulisan kami  Bangun Ketahanan Ekonomi Keluarga Tetapi Jangan Menimbun misalnya.

Justru karena kami melihat bahwa transaksi dengan menggunakan Dinar yang paling mungkin untuk dilakukan saat ini adalah transaksi barang modal atau investasi tersebut, maka tidak terlepas dari gerakan sosialisasi Dinar ini ? kita juga mendorong kegiatan produktif masyarakat yang bisa didanai atau digerakkan dengan Dinar.

Pesantren Wirausaha, Pinjaman Modal Usaha Tanpa Beban, Project Planet Jamur, Project Susu Kambing, IndoBarter, dan Berbagai Solusi Pembiayaan Berbasis Dinar yang kami lakukan bersama BMT Daarul Muttaqiin, dlsb. adalah upaya konkrit untuk mendorong penggunaan Dinar untuk transaksi produktif barang modal atau investasi. Di sini investasi artinya memutar aset atau menjadikan aset  bergerak memutar roda kegiatan produktif lainnya.

Jadi saat ini Dinar telah secara praktis digunakan untuk kebutuhan transaksi-transaksi yang bersifat produktif, sedangkan untuk transaksi yang bersifat konsumtif ? ini sebenarnya lebih tepat dilakukan dengan Dirham.  Namun karena nilai Dirham saat ini masih didominasi oleh biaya cetaknya yang mahal, sementara kami belum fokuskan di sini. Semoga Allah memudahkan kita kepada jalan amal sholeh yang diridloiNya?

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Pinjaman Tanpa Beban Dari Kami & BMT Daarul Muttaqiin


Dalam berbagai tulisan saya di situs ini saya banyak sekali menekankan bahwa bila Dinar hendak digunakan sebagai investasi, maka orientasinya harus jangka panjang. Oleh karenanya yang cocok direncanakan dengan Dinar adalah kebutuhan-kebutuhan jangka panjang seperti biaya sekolah anak, Ongkos Naik Haji (ONH), tabungan untuk pembelian rumah, dana pensiun, dlsb.

Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa kita juga sering menghadapi problem jangka pendek sesaat seperti biaya pengobatan atau kebutuhan mendesak lainnya. Dinar Anda tentu juga sangat berguna untuk kebutuhan yang mendesak tersebut.

Masalahnya adalah bagaimana bila kebutuhan mendesak tersebut timbul pada saat harga Dinar rendah seperti hari-hari ini? Kalau Dinar dijual pada saat harga rendah sedangkan waktu beli harganya masih tinggi ? kan rugi? Disinilah letak keunggulan kami beserta para mitranya untuk tidak henti-hentinya mencari solusi terbaik agar pengguna Dinar tidak dirugikan.

Untuk mengantisipasi potensi kerugian seperti dalam kasus tersebut misalnya, kami bekerjasama dengan BMT Daarul Muttaqiin kini dapat memberikan fasilitas Pinjaman Tanpa Beban apapun ? dengan jaminan Dinar Anda.

Jadi bila Anda membutuhkan Rupiah dari Dinar Anda sedangkan saat itu harga Dinar lagi rendah kalau dijual sayang, maka Anda dapat mengajukan Pinjaman Tanpa Beban (tanpa bunga, tanpa margin atau apapun namanya) dengan menyerahkan Dinar yang Anda miliki sebagai jaminannya.

Anda bisa memperoleh Pinjaman Tanpa Beban ini sampai 90% dari harga beli Dinar Anda ? mengacu pada harga beli Dinar di DinarIslam.com.

Sebagaimana sifatnya pinjaman ini adalah untuk kepentingan dana darurat, maka pinjaman dibatasi waktunya maksimal dalam 6 bulan. Bila dalam waktu tersebut peminjam belum melunasi pinjamannya, maka Dinar yang digunakan sebagai jaminan akan dijual pada harga yang berlaku saat itu.

Bila ada kelebihan atas hasil penjualan ini maka sisanya akan dikembalikan ke peminjam, atau sebaliknya juga demikian ? bila hasil penjualan jaminan tidak cukup untuk melunasi pinjaman ? maka sisanya akan ditagih kembali.

Pinjaman Tanpa Beban untuk keperluan darurat ini tidak diarahkan untuk keperluan komersial atau konsumtif, jadi yang mengajukan pinjaman akan diminta menjelaskan sifat dari kebutuhan dana darurat tersebut sebelum pinjaman disetujui. Persetujuan pinjaman adalah hak prerogatif BMT Daarul Muttaqiin.

Semoga tambahan solusi ini bermanfaat bagi para pengguna Dinar. Amin.

Posted in Financial PlanComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes