Tag Archive | "koin emas"

Survival Kit Untuk Kondisi Darurat


Ada bagian menarik dari buku-buku sejarah Perang Dunia II yang jarang menjadi perhatian, bagian ini adalah yang membahas perbekalan standar para pilot tempur kala itu yang konon berlanjut sampai sekarang.

Bekal apa kiranya yang harus ada pada checklist para pilot tersebut sebelum terbang on mission memasuki wilayah musuh? Ternyata salah satu bekal wajibnya adalah sejumlah koin emas dan kadang juga dilengkapi cincin emas.

Mengapa koin/cincin emas menjadi menu wajib di bekal para pilot ini? Sederhana alasannya yaitu bila sang pilot tertembak jatuh di wilayah musuh – koin/cincin emas inilah yang selalu bisa menjadi survival kit yang laku ditukar barang apa saja di wilayah manapun di seluruh dunia.

Foto di atas misalnya adalah survival kit yang disebut United States Government Escape and Evasion Barter Kit. Koin-koin dan cincin emas ini ditaruh dalam kotak karet hitam dan disegel. Diluarnya ditulis If Found Return to ComNavAirLant (CNAL 34) Norfolk, Virginia’.

Para war strategist nampaknya tahu betul bahwa hanya emas yang berlaku universal bahkan di pedalaman wilayah musuh sekalipun. Untuk memudahkan para pilot, bentuk koin dan cincin emas dipilih karena satuannya yang relatif kecil – namun nilai tukarnya tinggi sehingga cukup untuk bekal hidup para pilot yang jatuh di wilayah musuh sampai mereka bisa diselamatkan.

Dinar Survival Kit

Dinar Survival Kit

Kita memang bukan pilot tempur dan kita juga tidak lagi berperang, namun survival kit tersebut juga kita perlukan untuk mengantisipasi kondisi-kondisi krisis yang tidak kita harapkan.

Krisis ini bisa bersifat umum seperti Krisis Moneter – yang kita alami tahun 1997/1998 dan krisis hiper inflasi yang kita alami di tahun 1965; bisa pula bersifat pribadi seperti krisis kehilangan pekerjaan, anak sakit, dlsb.

Bentuk krisis atau kondisi darurat-nya bisa berbeda, namun koin emas tetap dapat menjadi bagian dari survival kit yang sangat berguna pada saat diperlukan. Dengan daya belinya yang terjaga sepanjang waktu, koin emas seperti Dinar - insya Allah bisa mendampingi Anda melalui masa krisis yang tidak Anda harapkan.

Jadi bukan hanya kotak PPPK yang seharusnya ada di setiap rumah; survival kit berisi beberapa koin emas bisa sangat membantu di masa sulitInsya Allah.

  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Revolusi Produktivitas: Crowd Sourcing, Mass Collaboration… dan Pemasaran Jama'i!


Dalam sejarah peradaban manusia, konsep pemenuhan kebutuhan hidup selain mengalami perubahan yang bertahap atau Evolusi perubahan juga bisa terjadi secara singkat atau Revolusi.

Contoh perubahan secara Evolusi terjadi di masyarakat manusia primitif yang hidup secara nomaden dengan berburu dan mengambil makanan dari pohon-pohon liar yang ada di hutan. Awalnya mereka berburu untuk sekedar memperoleh makanan untuk mereka hari itu, setelah makanan habis – mereka berburu kembali keesokan harinya, begitu seterusnya – sehingga waktu masyarakat primitif habis hanya untuk mencari makan, menikmatinya, kemudian tidur, esoknya mencari makan dengan berburu kembali, dst.

Dalam perjalanan ribuan tahun, perlahan-lahan diantara mereka mulai ada ide untuk bercocok tanam; kemudian ide untuk membuat roti, kemudian ide brilian berikutnya adalah menukar sebagian roti yang diproduksi oleh sekelompok manusia yang bercocok tanam dengan daging buruan yang diperoleh oleh kelompok lain yang berburu – inilah yang kemudian diikuti oleh manusia-manusia di jaman berikutnya – sampai jaman modern ini  yang kemudian kita kenal dengan perdagangan.

Dengan perdagangan, hidup kita bisa lebih efisien dan produktif karena tidak semua yang kita butuhkan harus kita buat atau cari sendiri. Kita bisa fokus pada satu keahlian yang sangat kita kuasai, berbuat maksimal dengan keahlian tersebut – dan menukar produk barang atau jasa yang kita hasilkan tersebut dengan barang atau jasa lain yang kita butuhkan tetapi tidak kita hasilkan sendiri.

Dengan fokus pada keahlian atau kekuatan maka produktifitas akan meningkat, tetapi produktivitas yang tinggi ini tidak akan memberi manfaat yang berarti bila tidak ada sistem pasar yang adil dan efektif. Bayangkan bila masyarakat primitif yang bercocok tanam dan membuat roti tersebut tidak bisa menukar dengan daging hasil buruan para pemburu – maka keturunan mereka lama- kelamaan akan semakin kekurangan protein dan akhirnya punah. Sebaliknya yang berburu akan terus berburu sehingga tidak pernah menjadi manusia modern seperti sekarang.

Karena pentingnya pasar untuk menunjang produktivitas dan memakmurkan ummat inilah dalam pemerintahan Islam-pun pasar dijadikan salah satu prioritas untuk dipastikan keberadaannya, dan harus dipastikan berjalan adil sesuai syariah. Rasulullah SAW sendiri mendirikan pasar pertama bagi kaum muslimin tidak seberapa lama setelah mendirikan masjid; kemudian Rasulullah SAW sendiri pula yang pertama bertindak sebagai Muhtasib yaitu orang yang mengawasi pasar tersebut.

Jadi kita membutuhkan 2 hal untuk bisa memakmurkan ummat, yaitu:

  1. Bagaimana meningkatkan produktivitas.
  2. Make sure ada pasar yang efektif  dan adil untuk ‘menukar’ hasil dari produktivitas kita.

Dua hal inilah yang menjadi tema sentral dalam Pesantren Wirausaha yang alhamdulillah angkatan ke-2 sudah kick off Sabtu (24/10) kemarin.

Salah satu contoh peningkatan produktivitas ummat secara keseluruhan yang insya Allah bisa di trigger oleh apa yang dilakukan para Santri Wirausaha ini adalah produk makanan sederhana yang kita kenal sebagai makanan siap saji. Bentuknya secara umum yang sudah dikenal di pasar adalah chicken nugget, chicken stick, chicken wing, dst.

Produk biasakah ini? Tergantung bagaimana kita melihatnya. Persis seperti ketika kita melihat benda yang namanya koin emas, kalau kita melihat koin emas di pusat-pusat perdagangan emas terkenal di Jakarta; hanya 1-2 saja yang terjual sebagai koleksinya para kolektor. Tetapi kemudian koin emas ini kita beri nama Dinar dan kita perkenalkan sebagai instrumen investasi dan proteksi nilai (selain juga  tentu sebagai uang hakiki sepanjang zaman!), hasilnya? Wow… sampai ngumpet ke Depok-pun tetap dicari orang.

Demikian pula dengan makanan siap saji tersebut; mungkin hanya anak kecil kita saja yang sekali-sekali suka makan chicken nugget dan sejenisnya – mayoritas kita orang dewasa tidak selera dengan makanan seperti ini, sehingga tidak terdorong untuk membelinya secara lebih sering dalam jumlah yang banyak.

Nah kalau yang tersedia dalam bentuk siap saji ini adalah makanan-makanan  kesukaan kita seperti sop buntut, soto betawi, tong seng, gulai kambing, soto madura, dsb; membacanya-pun kita sudah timbul selera. Bisakah makanan-makanan seperti ini diproduksi secara siap saji dengan rasa yang paling enak dan asli seperti hasil makanan koki terbaiknya? Insya Allah bisa! Dengan teknologi pembekuan secara cepat (Quick Freezing) – dijamin tidak ada rasa dan tekstur yang hilang dan dijamin pula kesehatannya. Para Santri Wirausaha kita yang rata-rata S1 dan S2 – insya Allah tidak akan terlalu sulit untuk menemukan teknologi yang pas untuk ini.

Ketika sop buntut beku dan sejenisnya  tersebut dipanaskan beberapa menit oleh istri kita, kita sudah bisa makan sop buntut ter-enak meskipun seandainya  istri kita sendiri tidak pinter masak.  Apa dampaknya produk makanan siap saji beku ini pada produktifitas ummat? Para istri tidak harus menghabiskan waktunya berjam-jam setiap hari hanya untuk mikirkan dan menyiapkan makanan yang enak untuk para suaminya; dia bisa fokus mendidik anak-anaknya atau melaksanakan tugas profesinya secara optimal – tanpa harus meninggalkan perannya sebagai istri.

Anda yang bekerja di kantoran dengan mudah memperoleh makanan kesukaan Anda tanpa harus banyak waktu meninggalkan kantor. Ketika bulan puasa tiba, kita bersama istri bisa khusu’ beribadah – karena istri tidak ‘terbebani’ harus masak yang enak untuk berbuka dan makan sahur. Ketika musim lebaran tiba, semua pembantu pulang kampung dan restoran sebagian tutup – kita tetap pula bisa menikmati makan kesukaan kita. Dan banyak lagi peluang peningkatan produktivitas yang bisa di-trigger oleh makanan siap saji yang satu ini.

Lantas bagaimana dan dimana kita akan menjualnya? Sekali lagi sama dengan contoh  koin emas tersebut di atas; makanan seperti ini kalau kita taruh di supermarket belum tentu dilirik atau dibeli orang – karena hanya dilihat sebagai makanan siapa saji biasa – a la supermarket.

Namun kalau makanan ini diperkenalkan dengan pengetahuan yang baik, makanan siap saji beku ini dapat menjadi lifestyle baru, knowledge based product yang baru yaitu makanan yang ueenak, sehat, halal, siap saji dan makanan yang meningkatkan produktivitas keluarga Anda.

Maka para Santri Wirausaha yang secara otomatis juga akan menjadi Productivity Agent dalam system Direct1st® – lah yang akan secara bersama –sama membawakan produk-produk semacam ini ke masyarakat.

Dari 2 angkatan kita ada 30 orang Santri Wirausaha, bulan depan insya Allah akan ada lagi 30 peserta baru, bulan berikutnya demikian pula, dst… maka insya Allah dalam waktu yang tidak terlalu lama – akan ada agen-agen produktifitas di setiap lingkungan tetangga Anda.

Di dunia pemasaran modern pendekatan pemasaran semacam ini sering disebut sebagai pemasaran melalui crowd sourcing atau mass collaboration, tetapi saya menyebutnya Pemasaran Jama’i. Dengan perkembangan berbagai teknologi informasi yang ada, perubahan yang ditimbulkan oleh system crowd sourcing, mass collaboration atau Pemasaran Jama’i ini terjadi dengan sangat cepat – atau secara Revolusi.

Jadi kita kini berada dalam jaman Revolusi Produktifitas dan Pemasaran…, insya Allah kita bisa menjadi aktor dalam revolusi ini dan bukannya korban-korban revolusi. Amin.

  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

New Business Model: Bisnis Yang Tidak Pernah Merugi?


Di dunia business modern, sukses tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan produk baik berupa barang atau jasa. Sukses bisnis bisa dilahirkan dari produk barang atau jasa yang ‘biasa-biasa’ saja tetapi yang dibawakan secara luar biasa.

Di masa kecil saya sampai SMA misalnya, tidak kebayang kita minum air putih harus beli.  Di kantin sekolah yang harus beli kalau kita minum cendol, dawet, es sirup dan sejenisnya. Tetapi sejak air putih dikemas dalam botol dan kemudian juga dalam gelas, maka air putih yang biasanya gratis ini kini menjadi barang dagangan yang laris manis lebih laris dari kacang goreng.

Contoh lain business model yang dekat dengan kita adalah koin emas. Di pusat-pusat perdagangan emas di Jakarta, di Melawai, Cikini dan lain sebagainya – Anda bisa jumpai banyak koin emas dari berbagi model di toko-toko. Kalau Anda tanya si engkoh yang jaga toko – apakah koin-koin emas tersebut laris dibeli orang? Jawabannya pasti tidak. Terkadang kolektor datang mencari koin tertentu, tetapi ini sangat jarang. Jadi tempatnya sudah berada di pusat perdagangan emas yang mudah dijangkau, produknya indah dengan kadar yang bagus – tetapi jarang dibeli orang.

Sebaliknya, kami tidak memajang barang dagangan kami berupa koin emas yang sama – lokasi kamipun ‘ngumpet’ di Depok yang tidak mudah dijangkau oleh pasar utama kami penduduk menengah atas  Jakarta, tetapi koin emas kami laris dibeli orang. Mengapa? Karena koin emas yang sama ini kami bawakan secara berbeda. Koin emas kami istilah bisnisnya memiliki Value Proposition yang fit dengan kebutuhan pasar kami.

Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan instrumen investasi alternatif yang juga berperan sekaligus sebagai store of value yang sempurna yang tidak dimiliki oleh instrumen investasi lainnya selain bisnis sektor riil. Kita semua kenal ada instrumen investasi tabungan, deposito, reksadana,  dlsb; yang semuanya berperan sebagai instrumen investasi tetapi tidak dapat berperan sebagai proteksi nilai – store of value – karena hasilnya akan tergerus inflasi.

Model bisnis yang tidak biasa, seperti mengemas air dalam botol atau gelas, memperkenalkan koin emas sebagai instrumen investasi dan proteksi nilai dlsb; awalnya kelihatan ‘konyol’ tetapi setelah pasar bisa menerimanya – hasilnya insya Allah akan luar biasa. Dalam dunia saya yang dulu, saya banyak sekali mengenal ahli-ahli investasi – yang mentertawakan ide tentang Dinar saya. Di benak mereka saya akan membuka toko emas, tetapi tidak di pusat perdagangan emas – dagangannya cuma satu pula – koin emas yang diberi nama Dinar apa menariknya? Hal yang sama saya pikir juga pasti terjadi ketika seorang pengusaha brillian mengungkapkan idenya akan mengemas air dalam botol dan menjualnya, apa menariknya…?

Dua contoh business model tersebut di atas sudah luar biasa…namun keduanya masih bisa saja merugi. Sekarang maukah Anda saya bawa ke business model yang lebih luar biasa lagi? Business model yang tidak akan pernah merugi? yaitu berbisnis dengan Allahbusiness model amal shalih namanya.

Berbeda dengan bisnis duniawi yang hanya berjalan 2 arah; si pengusaha dengan value proposition-nya mencari untung langsung dari pembeli barang atau jasanya; dalam bisnis model amal shalih ada pembeli lain yang Dia tidak memerlukan barang atau jasa yang kita tawarkan, tetapi Dia pula yang akan membayar dengan sangat mahal. Siapa pembeli ini? Dialah Allah Yang Maha Pemurah.

Barang dagangan apa yang Dia tertarik membeli dengan harga yang luar biasa ini? Harta dan jiwa kita yang kita pergunakan untuk berjuang di jalanNya. Untuk 2 barang dagangan ini, bahkan dalam Al-Quran Allah benar-benar menggunakan istilah “…membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka, dengan memberi mereka surga…” (QS At-Taubah: 111).  Di tempat lain Allah menggunakan istilah perniagaan (atau bisnis), “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ?” (QS As-Shaf: 10)

Memang barang dagangan yang luar biasa yang ditawar Allah tersebut adalah konteks-nya jihad dalam arti perang di jalan Allah. Namun kalau jihad ini belum menjadi kesempatan kita, maka  kini juga sangat banyak ‘pasar’ lain yang memerlukan inovasi kita untuk melayaninya; pasar ini mungkin tidak sedang memiliki daya beli untuk membeli barang dan jasa yang akan kita tawarkan; tetapi yang akan membeli tetap Dia Yang Maha Kaya, Yang Maha Benar janjiNya?

Melayani orang-orang miskin, menciptakann lapangan kerja untuk mereka; membantu saudara-saudara kita yang lagi terkena musibah; membela saudara-saudara kita yang lagi didhalimi; memperjuangkan keadilan dan kedaulatan ekonomi yang kini masih ‘terjajah’ dan masih banyak lagi pasar-pasar amal yang insya Allah pembelinya tidak pernah mengingkari janjiNya.

Inilah model bisnis baru yang di dunia barat dicoba dilahirkan dengan istilah social business, kita menyebutnya business amal shalih…bisnis yang tidak akan pernah merugi sebagaimana janji Allah berikut:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu menghar apkan perniagaan yang tidak akan merugi,” (QS Faathir: 29)

Jadi bila kita ingin bisnis yang tidak pernah merugi, jawabannya hanya satu yaitu berbisnis dengan Allah…, Mau…? Insya Allah.

  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Likwiditas Dinar: Dimana Anda Bisa Menukarkan Dinar Anda?


Pertanyaan yang paling sering muncul dari masyarakat yang baru mengenal atau membeli Dinar adalah “Dimana menukarnya kembali ke Rupiah bila dibutuhkan dananya?”. Berikut adalah jawaban yang hampir selalu saya berikan – tergantung apakah penanya puas dengan jawaban pendek atau jawaban panjang.

Kita tahu (lewat penjelasan sebelumnya) bahwa Dinar adalah emas 22 karat seberat 4.25 gram, yang di Indonesia diproduksi langsung oleh produsen emas paling terpercaya yaitu Unit Bisnis Logam Mulia – PT. Aneka Tambang, Tbk (BUMN). Jadi baik bendanya maupun siapa yang memproduksinya sangat dapat dipercaya.

Sejak ribuan tahun lalu sampai sekarang seluruh peradaban manusia di muka bumi mengakui tingginya nilai emas ini. Beda dengan uang kertas yang hanya berlaku di negara/wilayah tertentu dalam kurun waktu tertentu. Emas berlaku secara universal dan tidak mengenal istilah kadaluwarsa.

Karena sifatnya yang universal inilah emas/koin emas juga dahulu dipakai sebagai perbekalan dalam perjalanan perang, pengembaraan, da’wah dan perjalanan menuju negeri yang baru lainnya.

Dewasa inipun koin emas masih digunakan sebagai salah satu perbekalan survival kit bagi pilot tempur negara modern apabila mereka mulai perjalanan on mission -nya. Bekal mereka bukan uang kertas negaranya, melainkan koin emas yang bisa di -‘uang’-kan di manapun mereka mendarat atau tertembak jatuh.

Meskipun sifat koin emas yang universal tadi, tentu ada tempat-tempat terbaik untuk menjualnya. Berikut adalah urut-urutan tempat menjual terbaik apabila Anda membutuhkan uang kertas tunai dari Dinar Anda.

1) Sesama Pengguna: Karena tidak memerlukan biaya operasi, pajak, dlsb. maka jual beli Dinar antar sesama pengguna adalah yang paling menguntungkan kedua belah pihak. Penjual dapat menikmati harga yang baik, pembeli pun dapat memperoleh Dinar dengan harga yang baik. Tepatnya berapa? tergantung kesepakatan diantara keduanya – yang cukup sering terjadi sekitar pertengahan antara harga jual/beli Dinar.

2) DinarIslam.com (dan Mitra Penggerak Dinar lainnya): Karena secara resmi kami beroperasi dengan Ijin (SIUP) toko emas, maka terkena peraturan perpajakan untuk toko emas – yaitu pajak netto 2% (pajak keluaran dikurangi pajak masukan). Pajak netto ini ikut menjadi faktor dalam menentukan harga jual dan harga beli Dinar. Terdapat perbedaan harga 4% antara harga jual dan harga beli Dinar, dimana 2% dipakai untuk alokasi pajak, dan 2% untuk fee kami.

3) Logam Mulia: Bila sesama pengguna dan Dinar Islam menghargai Dinar sebagai Dinar – termasuk ongkos-ongkos cetak/pengadaan dan unsur pajaknya; tidak demikian dengan Logam Mulia. Sebagai produsen Dinar mereka tentu mau membeli Dinar dari masyarakat kembali, tetapi karena kemungkinan Dinar tersebut akan dilebur kembali menjadi emas – maka ongkos cetak dan pajak yang merupakan komponen pembentuk harga awal Dinar tidak termasuk dalam harga pembelian kembali mereka.

4) Toko/Tukang Emas: Sama halnya dengan Logam Mulia; Toko atau tukang emas akan melihat Dinar sebagai emas biasa. Mereka akan bersedia membeli Dinar Emas karena melihat emasnya bukan karena bentuk Dinarnya. Dengan demikian ongkos pembuatan, pajak dan lain sebagainya tidak menjadi bagian dari perhitungan harga beli mereka.

Dengan urut-urutan tersebut, Insya Allah Anda akan selalu dapat meng-‘uang’-kan Dinar Anda dimanapun berada. Hanya akan lebih baik harganya apabila Anda meng-‘uang’-kannya ke sesama pengguna, atau kalau tidak ketemu bisa ke DinarIslam.com/mitranya; nggak ketemu juga bisa ke Logam Mulia —baru alternatif terakhir ke toko atau tukang emas. Wallahu A’lam.

  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (1)

Haruskah Dinar Berupa Koin?


Dalam tulisan saya sebelumnya dengan judul “Dinar Emas : 22 Karat Atau 24 Karat-Kah ?” saya menjelaskan mengenai berapa karat koin Dinar seharusnya. Kali ini saya ingin mengulas lebih dalam menyangkut apakah Dinar harus berupa koin emas atau bisa berupa emas dalam bentuk lain.

Dari sekian banyak sumber yang coba saya gali, satu-satunya dalil kuat yang mengatur tentang Dinar adalah mengatur tentang beratnya – yaitu apabila dipertukarkan sama jenis (emas dengan emas) haruslah sama beratnya.

Haditsnya adalah Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi s.a.w bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama jumlahnya  dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”

Dari tulisan sebelumnya kita ketahui bahwa dunia Islam baru mencetak dan menggunakan Dinar-nya sendiri sekitar tahun 75 H-76 H. Bisa dibayangkan saat itu betapa sulitnya mencetak Dinar dengan baik, lihat Dinar Islam diawal-awal pencetakannya seperti gambar di atas. Kalau dilihat bentuknya, tidak bisa dakatakan standar bukan?

Lebih jauh lagi semasa Rasulullah SAW hidup, Islam belum mencetak Dinarnya sendiri. Kurang lebih Dinar Romawi yang dipakai zaman itu dapat dilihat di Gambar di bawah, Dinar inilah yang kemungkinan besar juga dipakai dalam perdagangan di dunia Islam saat itu. Jadi sekali lagi, bentuk atau tulisan yang ada di Dinar tersebut nampaknya memang tidak diatur secara khusus dalam Islam.

Dengan pengaturan Dinar yang khusus pada berat dan tidak mengatur karat maupun bentuk, sesungguhnya mengandung banyak kemudahan dan fleksibilitas bagi umat Islam sampai akhir zaman untuk dapat tetap menggunakan Dinar emas Islam sebagai timbangan yang adil dalam muamalah dengan cara yang paling praktis sesuai dengan zamannya.

Bayangkan kalau misalnya dipersyaratkan harus berupa koin; maka bagaimana kita bisa melakukan transaksi pembelian barang seharga 0.8501 Dinar misalnya? Juga kalau kita mendanai pembelian Jumbo jet A 380 seharga 2.5 juta Dinar? Yang pertama problem pencetakan Dinar dalam pecahan kecil-kecil, yang kedua ketidak praktisan mencetak 10.6 ton Emas menjadi koin Dinar.

Sebaliknya dengan fokus hanya mengatur beratnya bahwa 1 Dinar adalah 1 mithqal emas yang setara dengan 4.25 gram emas, maka penggunaan Dinar bisa menjadi sangat fleksibel di zaman modern ini sekalipun. Transaksi pertama dalam contoh di atas 0.8501 Dinar maupun transaksi kedua 2.5 juta Dinar keduanya bisa dikelola secara efisien dengan teknologi e-Dinar, m-Dinar, egold, Goldmoney dan lain sebagainya.

Uang Emas Byzantium (Romawi) = Solidos

Uang Emas Byzantium (Romawi) = Solidos

Dalam seluruh sistem transaksi Dinar atau emas berbasis teknologi tersebut di atas, stok Dinar tidak harus dalam bentuk koin yang tercetak Dinar – melainkan stok emas lantakan yang memiliki berat yang sama. Meskipun permintaaan fisik koin tetap dimungkinkan.

Dr. Wahbah Al-Zuhayli dalam kitabnya yang banyak sekali jadi rujukan para ekonom syariah Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh, menguraikan tentang keharusan kesamaan berat dan kebebasan bentuk cetakan ini sebagai berikut :

“Bila uang ditukar dengan uang yang sama jenisnya (mis: emas dengan emas), maka keduanya harus memiliki sama berat, bahkan bila keduanya memiliki perbedaan kwalitas (kadar) maupun kwalitas cetakan. Ini mengikuti hadits tersebut diatas ‘Emas dengan emas dalam jumlah yang sama…’.  Jadi  jumlah emas (diukur dengan berat) adalah satu-satunya pertimbangan…”. (Vol I. Bab 8 hal 282)

Penafsiran tersebut diatas akan memudahkan aplikasi Dinar dalam kehidupan sehari-hari kita ke depan. Meskipun kita akan selalu berusaha mencetak koin Dinar sebanyak-banyaknya dengan mitra kita Logam Mulia, kalau kebutuhan masyarakat melebihi dari kemampuan Logam Mulia mencetaknya – maka account Dinar yang di-backup 100 % dengan emas lantakan seperti contoh tersebut diatas juga dapat menjadi solusi.

Bagaimana kalau pemilik account menghendaki Dinarnya secara fisik? Tentu pengelola account harus memberikannya secara fisik – hanya kalau karena fisik koinnya tidak bisa dicetak karena terbatasnya kemampuan pencetak koin (di Indonesia hanya Logam Mulia), maka berdasarkan penafsiran hadits oleh Dr. Wahbah Zuhayli tersebut dapat pula diberi emas seberat Dinar yang mau diambil fisiknya tersebut.

Bagaimana dengan kadarnya? Kalau tidak bisa memperoleh kadar yang pas sama (22 karat) kadarnya bisa dilebihi (24 karat – karena emas lantakan umumnya 24 karat) sehingga tidak merugikan yang berhak menerima. Penerima tidak boleh diberi emas yang beratnya kurang, walaupun kadarnya lebih. Wa Allahu A’lam.

  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)


Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes