Tag Archive | "Jonggol Farm"

Setelah Masjid Dari Pelepah Kurma & Tatal, Insya Allah Akan Ada Masjid Dari Gedebog Pisang


Masjidnya Rasulullah SAW dahulu pertama kalinya dibangun dari pohon dan pelepah kurma. Kemudian para Wali ? penyebar agama Islam di negeri ini, konon membuat tiang Masjid Demak dengan tatal atau serbuk kayu. Maka kini umat yang berusaha mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para Wali tersebut, berniat untuk membangun Masjid dari bahan yang tersedia melimpah dan dengan teknologi yang tersedia pada zamannya… Masjid dari Gedebog Pisang dengan teknologi composites.

Mesjid yang akan kita juluki dengan nickname Masjid ?Gedebog? namun nama resminya Masjid Daarul Muttaqqiin ini insya Allah akan segera dimulai pembangunannya. Masjid ini akan berada di lingkungan Pesantren Wirausaha Daarul MuttaqiinJonggol Farm, Jonggol, Bogor ? Jawa Barat, sekitar 26 km ke arah tenggara dari Jakarta.

Sebagaimana fungsi masjid pada umumnya yaitu tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT semata; termasuk namun tidak terbatas pada aktifitas shalat, mengaji, i’tikaf, menuntut ilmu, dlsb, Masjid ?Gedebog? ini juga kami visikan sebagai sumber inspirasi dalam membangun kemakmuran umat.

Dasarnya adalah mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dalam hadits yang Diriwayatkan oleh Annas RA., ?Beberapa  barang  datang kepada Rasulullah dari Bahrain.  Rasulullah memerintahkan  kepada para sahabat untuk membagikannya di masjid, dan barang itu  merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima Rasulullah SAW. Ia meninggalkannya  untuk  shalat  tanpa menengoknya sama sekali. Setelah usai shalat, Nabi duduk  di depan barang-barang tersebut dan membagikannya kepada siapa saja yang ia lihat. Al Abbas datang kepada beliau dan berkata, ?Wahai Rasulullah berikan padaku sebagian barang-barang itu, karena saya perlu memiliki bekal untuk saya dan Aqil.? Rasulullah lalu meminta ia untuk meng- ambilnya sendiri…?. (HR. Bukhari)

masjid-gedebog-pisang2Visi kemakmuran dunia dan akhirat sebagaimana tertuang dalam do?a yang paling mashur ?Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ?adzabannar? ini kemudian kami artikulasikan dalam langkah-langkah konkrit sebagai berikut:

  • Pembangunan Masjid ?Gedebog? ini akan melibatkan aktifitas ekonomi dari ribuan atau bahkan puluhan ribu masyarakat langsung maupun tidak langsung. Yang langsung adalah aktifitas para ahli, pekerja, supplier, konsultan, kontraktor dan sub kontraktor;  sedangkan yang tidak langsung adalah para petani yang mengumpulkan gedebog kemudian mengolahnya menjadi anyaman atau tali, para pengumpulnya, jasa transportasinya, dst.
  • Pengalaman membangun masjid dengan teknologi material composites ini akan menjadi pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan kolektif masyarakat yang terlibat di dalamnya. Dengan ketrampilan tersebut, insya Allah secara bersama-sama kita bisa menggarap pasar yang lebih luas ? yaitu industri konstruksi secara umum, tidak hanya masjid ? tetapi sesudah ini rumah-rumah, gedung-gedung dan bahkan kapal-kapal yang dibutuhkan sangat banyak untuk negeri kepulauan inipun bisa kita bangun sendiri dengan teknologi composites yang sama.
  • Para jamaah dan peziarah yang akan mengunjungi masjid ini insya Allah kelak akan selalu terstimulasi pikiran dan kreatifitasnya, bahwa dari bahan gedebog yang selama ini dipandang tidak berguna, dengan izin Allah bisa dibangun bangunan yang kokoh ? tempat mengagungkan namaNya.  Insya Allah generasi masyarakat yang kreatif mensyukuri nikmat Allah, mengolah dan memakmurkan bumi akan benar-benar  lahir. Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud [11]: 61).
  • Setelah masjid ini jadi nantinya; berbagai program untuk memakmurkannya telah menanti. Sekolah Tahfidz Al-Quran sejak usia dini, pesantren wirausaha kelas reguler dan eksekutif, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Pusat Pemberdayaan Umat, dlsb adalah beberapa program untuk kemakmuran masjid yang telah hampir tuntas kami susun.
  • Lokasi Masjid yang berada di pusat kegiatan Jonggol Farm yang di dalamnya sudah mulai berjalan embrio industri kambing susu dan kambing pedaging, industri susu kambing dan produk-produk turunannya, industri jamur dan pengolahan produk jamur, industri pengolahan buah dan hasil pertanian, dlsb insya Allah akan mendekatkan program pemakmuran umat ini dengan realitas ekonomi modern.
  • Masjid yang dibangun dari Gedebog Pisang yang merupakan salah satu tanaman surga ini insya Allah juga akan membawa nuansa tidak terputusnya urusan dunia kita dengan urusan akhirat, surga menjadi nampak begitu dekat setiap kali kita memandangi dan mengolah pohon-pohon pisang ini – semoga dengan pohon pisang yang kita olah menjadi rumahNya ini, kelak di akhirat kita benar-benar diizinkanNya untuk sampai kesana ?…berada di antara  pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…?. (QS. Al-Waqi?ah [56]: 28-30)

masjid-gedebog-pisang3Bagaimana Anda dapat terlibat dalam program ini? Sebagai individu Anda dapat membantu kami dengan dana, sumber daya, material, pemikiran dan minimal do?a. Bila Anda bekerja di perusahaan-perusahaan atau institusi-institusi yang memiliki program Corporate Social Responsibility, Anda dapat menjadi penghubung kami agar person in charge untuk CSR di korporasi atau institusi Anda setidaknya aware atas apa yang sedang kami usahakan ? dan siapa tahu, apa yang kami lakukan in line dengan yang mereka pikirkan sehingga kita bisa bersinergi.

Penjelasan lebih detil dari Masjid ?Gedebog? Daarul Muttaqiin ini tersedia dalam bentuk file PDF yang dapat Anda unduh dengan klik disini. Bila diperlukan penjelasan lebih detil atau bahkan presentasi khusus, insya Allah dengan senang hati kami akan dapat lakukan.

Bila kelak masjid ini selesai terbangun, insya Allah ini akan menjadi pencapaian maksimal dari upaya hamba-hamba Allah yang lemah ini dalam memahami dan mensyukuri nikmatNya, mencerna sebagian kecil dari ilmu yang diberikan olehNya, menerapkan teknologi yang telah dimudahkanNya dan memadukan serta menggalang kekuatan umat yang telah digerakkan hatinya oleh Dia yang menguasai hati.

LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH…

Posted in Islamic ViewComments (0)

Green Investment & Green Lifestyle: Membangun Tanpa Menebang Pohon, Bisakah?


Beberapa hari lalu di siang hari saya berjalan di jalan utama kota Depok yaitu Jalan Margonda Raya. Ada perasaan aneh yang luar biasa saya rasakan, saya tidak merasa ini Depok yang dulu saya kenal atau bahkan ini bagian Indonesia yang bercitra hijau pepohonan negeri tropis yang dahulu kita banggakan. Saya merasa seperti di kota-kota arab Damaskus, Dubai, Abu Dhabi, dlsb. Dalam hal apa kesamaan perasaan ini? Dalam hal puaanas-nya dan gueersang-nya yang minta ampun.

Bagaimana ini terjadi? Beberapa tahun terakhir Pemda kota Depok berusaha mengatasi masalah klasik yaitu kemacetan jalan di pagi hari ketika orang-orang Depok berangkat kerja ke Jakarta dan sore hari ketika mereka balik ke rumah. Lebar jalan dipandang tidak cukup maka harus ditambah satu jalur lagi di kiri dan kini juga di kanan.

Akibatnya pohon-pohon yang dahulu masih ada beberapa di pinggir jalan, kini harus ditebang semua. Menangis rasanya melihat pohon-pohon terakhir tersebut ditumbangkan satu demi satu dengan buldoser. Berapa puluh tahun diperlukan untuk menumbuhkan pohon tersebut? Hanya diperlukan waktu beberapa jam saja untuk meratakannya dengan tanah.

Pemda Depok tentu punya alasan dengan apa yang dilakukannya, agar warganya nyaman ketika berangkat dan pulang kerja karena tidak dihantui kemacetan. Benarkah sasaran ini tercapai? Mungkin perlu survey untuk menjawabnya. Namun dari pengamatan saya pribadi kemacetan tidak teratasi dengan menebang pohon dan melebarkan jalan ini.

Jalan yang sisi kiri (dari arah Jakarta menuju kota Depok) yang sudah selesai dilebarkan sejak beberapa bulan lalu, ketika sore hari bertepatan dengan karyawan pulang kantor dari Jakarta ? malah diisi oleh para pedagang dan parkir mobil dan sepeda motor dari pengunjung toko atau restoran yang kini rata-rata kekurangan tempat parkir di sepanjang jalan ini. Walhasil kemacetan yang berusaha diatasi dengan mengorbankan pohon-pohon-pun juga tidak sepenuhnya teratasi.

Seandainya toh Pemda Depok berhasil mengatasi kemacetan ini, di ujungnya sana yaitu Jakarta ? problem serupa atau bahkan lebih serius tengah menghadang para pekerja yang melajo Depok ? Jakarta setiap hari.

Bedasarkan perhitungan pengamat transportasi dari Universitas Trisakti yang di publikasikan di Kompas kemarin (19/07/2010), diperkirakan tinggal 2 tahun lagi yaitu tahun 2012 (maju dari perkiraan semula 2015) di Jakarta akan terjadi kemacetan total atau stagnasi di jalan. Kita bisa membeli mobil tetapi kita tidak bisa pergi kemana-mana karena tidak ada jalan untuk mobil kita.

Begini dramatiskah? Sang pengamat nampaknya punya data akurat untuk ini. Antara lain adalah pertumbuhan jumlah kendaraan yang mencapai 8% per tahun, sedangkan pertumbuhan jalan hanya 0.01 %per tahun. Jadi pada tahun 2012 tersebut  jumlah ruang yang ada di jalan sudah tertutup oleh jumlah mobil dan motor yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

Tanda-tanda akan terjadinya stagnasi total di jalan ini sudah ada, yaitu ketika kita berada di lampu merah pada jam-jam tertentu. Ketika giliran kita sudah mendapatkan lampu hijau, kita tetap belum bisa jalan karena dari arah yang lain ? yang lampunya sudah merah ? ekor kendaraannya masih menghalangi jalan kita.

Pertumbuhan kendaraan yang tidak sepadan dengan pertumbuhan jalan inilah yang menyebabkan kemacetan akan terus bertambah parah di Jakarta maupun kota-kota penunjangnya seperti Depok ini. Jadi selama tidak ada kebijakan yang bisa menjadi tuas pengungkit dalam mengatasi kemacetan ini, kemacetan tidak akan selesai dengan menebang berapapun pohon.

Padi di halaman Jonggol Farm

Padi di halaman Jonggol Farm

Tuas pengungkit tersebut bukannya tidak ada atau tidak terpikirkan. Setidaknya pertengahan tahun 1990-an, pemerintah Orde Baru waktu itu pernah memikirkan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Jonggol agar terjadi pemecahan konsentrasi kepadatan aktivitas di Jakarta. Pemisahan pusat pemerintahan dari pusat perdagangan atau bisnis ini juga sudah lama terjadi di negara-negara lain di dunia seperti Malaysia, Australia, Amerika, Arab Saudi, dlsb. Sekitar 30 tahun sebelumnya bahkan di negeri ini pada jaman Orde Lama juga pernah ada pemikiran yang lebih visioner lagi yaitu memindahkan pusat pemerintahan dari Jawa ke Kalimantan Tengah.

Kalau saja ide-ide cerdas tersebut dijalankan sejak tahun 1960-an atau paling tidak tahun 1990-an ; mungkin kita tidak perlu menghadapi benang kusut kemacetan JaBoDeTaBek seperti yang sedang kita hadapi ini. Kalau saja ide-ide tersebut dijalankan, barangkali kita tetap bisa tinggal di Jakarta atau Depok yang sejuk penuh pepohonan yang rindang di jalan-jalan.

Well, tetapi dalam hidup kita tidak bisa dan tidak boleh ber-andai-andai; bila pemerintah pusat atau daerah tidak bisa mengatasi problem yang ada, kita sebagai warga bisa ikut membantunya. Dengan apa kita membantunya? Setidaknya dengan tidak ikut menambah parah masalah yang ada.

Kalau toh pemerintah tidak jadi memindahkan pusat pemerintahannya ke Jonggol misalnya, biarlah kita-kita sebagian penduduk yang pindah kesana. Bukan hanya pindah dalam arti rumahnya saja yang  disana, tetapi pusat aktivitas bisnis-pun bisa disana. Di era teknologi telekomunikasi seperti sekarang ini, apa sih yang tidak bisa dilakukan dari jarak jauh? Apalagi Jonggol hanya sekitar 25 Km dari Jakarta Timur/Cibubur.

Pohon Jinjing usia 8 bulan

Pohon Jinjing usia 8 bulan

Tulisan ini misalnya saya tulis dan saya upload dari Jonggol, dari gubug di sekitar tanaman padi yang siap panen minggu depan insya Allah. Di lahan yang di dalamnya kita tanami kembali dengan ribuan pohon dalam 8 bulan terakhir, yang insya Allah 3 atau 4 tahun lagi tanah ini telah menjadi hutan tanaman produktif. Di areal yang sama ada kandang-kandang kambing yang siap memenuhi seluruh kebutuhan daging dan susu sehat untuk restorasi generasi yang akan datang.

Generasi Hijau yang tidak harus tumbuh dewasa dan tua di tengah kemacetan jalan, generasi yang tidak harus menghirup udara bertimbal, generasi yang tidak harus tumbuh dengan memakan junk-food dan soft-drink yang membahayakan kesehatan.

Mulai dari yang kita tahu dan kita bisa, insya Allah Allah akan memberi tahu apa yang kita belum tahu dan menuntun kita terhadap yang apa kita belum bisa. Amin.

Posted in Political EconomyComments (0)

Problem Solving Par Excellence = Peluang Yang Lahir Bersama Masalah


Salah satu materi training kewirausahaan yang kami gunakan di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin adalah Survival Strategy di lapangan usaha ? yang terdiri dari kemampuan untuk Improvise; Modify, Adapt dan Overcome (IMAO). Dari sekian ratus peserta dari 11 angkatan yang sudah jalan, berdasarkan pengamatan kami ternyata berhasil atau tidaknya program ini bagi peserta antara lain sangat terpengaruhi oleh bagaimana sikap peserta dalam memandang suatu masalah.

Dari hasil observasi terhadap para peserta tersebut, kami dapat secara sederhana mengelompokan mereka kedalam 4 golongan dalam memandang masalah.

1) Golongan ayub-ayuben: mereka ini memandang masalah-masalah yang akan dihadapi sebagai (calon) pengusaha terlalu banyak, terlalu complicated, tidak siap menghadapinya, nunggu usia tertentu, dlsb. Bagi mereka ini, program Pesantren Wirausaha ? hanyalah menjadi just another training session ? menambah wawasan tetapi tidak untuk diterapkan ? paling tidak untuk sementara ini.

2) Golongan Kedua adalah golongan yang mencoba dan berhenti: ini adalah mereka-mereka yang antusias pasca kick-off bahkan mencoba merealisir gagasan-gagasan kelompoknya, namun ketika masalah timbul ? mereka berhenti.

3) Golongan yang mencoba dan tidak menyerah: untuk sementara ini mereka belum berhasil secara konkrit, tetapi karena mereka tidak menyerah – mereka terus ketemu satu sama lain, berdiskusi dan mencari solusi. Saya sendiri berharap besar pada kelompok ini, insya Allah cepat atau lambat mereka akan berhasil nantinya.

4) Golongan yang bukan hanya berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam merintis usaha, tetapi mereka memandang setiap masalah juga sebagai peluang ? mereka lebih cerdas dari masalahnya sehingga mampu mengatasi segala permasalahan yang ada secara par excellence (terbaik di bidangnya!) ? maka bersamaan dengan penyelesaian masalah-masalah yang ada mereka menemukan peluang-peluang baru yang muncul bersamaan dengan teratasi-nya masalah tersebut.

Di kelompok peserta Pesantren Wirausaha, Golongan ke-4 inipun ada pada sekelompok kecil peserta yang akhirnya menekuni perkambingan bersama kami. Bila saat mulai ½ tahun lalu, kami belum bisa membedakan mana kambing yang baik ? dan yang tidak baik; kini kami bahkan mendapatkan piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat karena memenangkan 4 piala sekaligus untuk kambing Peranakan Ettawa bibit unggul 3 pekan lalu. Ketika masalah bibit unggul ini teratasi ? peluang untuk menjadi supplier bibit-bibit kambing unggulan kini terbuka lebar.

Kandang Composite (tampak samping)

Kandang Composite (tampak samping)

Di sisi perkandangan juga demikian; problem pengadaan kandang kambing yang kami ungkapkan di tulisan sebelumnya; mudah-mudahan segera teratasi dengan pabrik kandang-kandang kambing modern berbasis composites yang insya Allah mulai beroperasi dalam 1-2 bulan ini. Dalam beberapa bulan ke depan, kandang-kandang kambing futuristis karya industrial designer kami seperti pada gambar di samping insya Allah akan dapat Anda lihat secara fisik di lokasi Pesantren Wirausaha yang kini telah ber-metamorphosa menjadi Jonggol Farm.

Karakter kandang-kandang futuristis berbasis composites ini mampu mengatasi hampir keseluruhan masalah perkandangan secara umum, antara lain adalah:

  • Penyiapan kandang (time to run) akan menjadi sangat cepat.
  • Kandang lebih higienis dibandingkan kandang kayu karena mudah dibersihkan dan tidak meninggalkan kuman, bakteri, dlsb di pori-pori seperti bila menggunakan kayu.
  • Pembuatan kandang tidak harus memotong pohon-pohon yang sudah semakin langka ? eco friendly.
  • Life?cycle yang panjang insya Allah di atas 30 tahun akan membuat nilai ekonomis yang tinggi ? karena penyusutan tahunan yang rendah.
  • Composites yang menyerap panas akan membuat kambing nyaman di dalamnya, sehingga insya Allah produktifitas kambing lebih tinggi.
  • Knock-Down System sehingga ekonomis untuk di-install di tempat tertentu untuk kegunaan jangka pendek sekalipun (misalnya pada bulan haji untuk hewan Qurban) dan ekonomis untuk tanah yang disewa ? karena bisa dipindah-pindahkan dengan cost to reinstall yang rendah.

Dengan penyelesaian masalah secara unggul demikian, maka berbagai peluang baru untuk men-supply kandang sejenis ke para peternak di dalam dan luar negeri kini terbuka. Bahkan permintaan membuat kajian kandang berbasis composites yang datang ke kami kini bukan hanya untuk kambing, tetapi juga untuk kandang ayam dan kandang sapi.

Peluang yang lahir bersamaan dengan proses penyelesaian masalah inilah salah satu tafsir yang seharusnya bisa kita hayati kini dari ayat ?Maka bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan? (QS. Ash-Sharh (94): 5 ? 6). Sampai 2 kali Allah menyampaikan pesan tersebut dalam ayat yang berurutan untuk menyangatkan ? agar kita benar-benar paham!

Masalah-demi masalah baru mungkin akan lahir dari setiap pekerjaan yang kita tangani ke depan; namun bila sudut pandang kita tetap sesuai ayat tesebut ? maka berarti berbagai peluang baru juga akan terus bermunculan dengan timbulnya masalah. Ini pula yang nampaknya disemangati oleh ayat berikutnya ?Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)?.

Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Goat & Gold Investment: Risk and Reward


Ketika beberapa waktu lalu saya diundang untuk memberi masukan di rapat BOD investment company-nya negeri jiran ? CEO yang membawa saya ke BOD-nya kesulitan menjelaskan apa profesi saya sekarang ? rata-rata mereka mengenal saya lama di dunia finansial.

Maka akhirnya saya sendiri yang memperkenalkan apa yang saya lakukan sekarang; ringkasnya saya jelaskan bahwa saat ini saya tidak lagi di dunia finansial tetapi di sektor riil yang saya sebut sebagai Goat & Gold Invesment. Tambah penasaran mereka ? karena ini adalah hal yang sama sekali baru di dunia investasi.

Nah penjelasan saya di rapat BOD ?BUMN?- nya negeri jiran tersebut, relevan sekali dengan minat para pembaca situs ini yang mem-bludak untuk investasi di kambing selain di Dinar yang sudah jalan selama ini.

Kambing dan emas atau Dinar adalah dua hal yang sangat erat dalam sistem ekonomi dan Syariah Islam. Selain seluruh nabi-nabi menggembala kambing, kambing dan Dinar digunakan untuk standar pelaksanaan hukum-hukum tertentu dalam syariah. Misalnya ketika Anda pergi haji bersama istri, karena tidak tahu atau tidak tahan sehingga Anda melakukan hubungan suami istri sebelum tahallul ? maka Anda terkena denda untuk menyembelih 7 ekor kambing atau 1 ekor unta. Sedangkan Dinar sudah sering saya jelaskan sebagai standar nishab zakat, nishab pencuri, uang darah, dlsb.

Karena kambing dan Dinar merupakan bagian tidak terpisahkan dari syariat agama akhir zaman ini, maka pastilah keberadaannya dijamin oleh yang membuat syariat itu sendiri sampai akhir zaman. Hal ini memudahkan kita dalam memilih bidang investasi atau pekerjaan, karena yang kita lakukan hanyalah menyesuaikan dengan apa yang dikehendakiNya.

Selain penggunaannya dalam pelaksanaan syariah, secara historis keduanya juga memiliki hubungan nilai yang sangat dekat ? yaitu harga kambing standar qurban bertahan di sekitar 1 Dinar selama lebih dari 1400 tahun. Inilah kaidah itu; standar Hukum Islam itu valid dan dapat diandalkan sampai akhir zaman.

Dengan fakta-fakta tersebut di atas-lah maka insya Allah tidak salah bila kita menjadikan Goat & Gold ini sebagai instrumen investasi kita. Yang kemudian perlu disadari adalah bahwa dalam hal investasi, kambing memiliki karakter yang sangat berbeda dengan emas atau Dinar. Justru perbedaan karakter inilah yang membuat keduanya bisa disinergikan untuk saling melengkapi.

Dinar sebagai investasi merupakan instrumen yang sangat aman karena tidak pernah kehilangan nilai atau daya beli; appresiasi nilainya mampu mengalahkan inflasi. Namun meskipun appresiasi nilai Dinar ini bisa berkisar antara 3 ? 5 kali bagi hasil deposito dalam 10 tahun terakhir, 1 Dinar akan tetap 1 Dinar bila Anda simpan dalam berapa lama-pun. Dinar tidak beranak dan daya belinya tetap setara 1 ekor kambing.

Kavling di Jonggol Farm

Kavling di Jonggol Farm

Di sisi lain kambing, standarnya 2 tahun beranak 3 kali. Jumlah anak normalnya sekali beranak adalah 2 meskipun bisa lebih atau berkurang. Namun memelihara kambing adalah investasi yang penuh risiko. Kematian oleh berbagai sebab penyakit adalah ancaman utamanya, selain risiko-risiko lain yang tingkatnya lebih rendah seperti kelambatan reproduksi, berkurangnya hasil susu karena problem pakan, dlsb.

Risiko-risiko tersebut bisa di minimize dengan adanya team dokter yang competent, adanya ahli reproduksi dan ahli pakan ? tetapi  risiko-risiko tersebut di atas tidak bisa dihilangkan sama sekali.

Dalam ilmu risk management yang syar?i; risiko-risiko yang harus kita hadapi tersebut tidak boleh kita transfer ke orang lain seperti asuransi konvensional ataupun mekanisme risk transfer lainnya ? karena berarti ini memindahkan mudharat ke orang/pihak lain atau jual beli dengan gharar.

Lantas bagaimana solusinya? Dalam Islam dikenal konsep yang sangat indah yaitu tolong menolong atau ta’awun. Maka kepada para investor atau Shahibul Mal di project investasi kambing, kami perkenalkan konsep ta’awun dengan Shahibul Mal lain dan atau dengan kami. Ini yang disebut risk sharing; jadi risk transfer dilarang ? namun risk sharing dianjurkan.

Kandang Kambing - Jonggol Farm

Kandang Kambing - Jonggol Farm

Dalam aqad Mudharabah Muqayyadah yang untuk sementara ini kami batasi minimal setara 10 kambing per peserta ? maka ada 10 peserta dalam 1 kandang kambing standar kami yang isinya sampai 100 ekor kambing. Bila tanpa ta’awun, pemilik 10 ekor kambing yang mengalami musibah kematian 3 ekor kambing misalnya ? maka dia akan menanggung sendiri kehilangan 30% dari investasinya tersebut. Tetapi bila kematian 3 ekor ini di-share dengan pemilik 100 ekor kambing, maka kehilangan ini rata-rata hanya 3%. Sebaliknya juga demikian bila beranak dan menghasilkan susu ?hasilnya juga di-share ke sesama pemilik kambing lain dalam kandang yang sama.

Dengan menggabungkan ke dalam bilangan yang lebih besar ? risiko insya Allah akan lebih stabil dan terkendali  - inilah yang disebut law of large numbers atau hukum bilangan besar dalam ilmu risk management.

Perlu disadari bahwa meskipun berbagai upaya tersebut dilakukan, investasi kambing tetap akan lebih berisiko ketimbang Dinar ? meskipun memang investasi kambing ini juga berpeluang memberi reward yang lebih besar ketimbang Dinar. Disamping reward lain berupa banyaknya lapangan pekerjaan yang tumbuh dari adanya investasi kambing ini.

Lantas bagaimana Anda memilih antara kedua investasi ini? Prinsip dasar investasi tidak menaruh seluruh telur dalam satu kandang-lah yang berlaku. Untuk persiapan pergi haji, biaya kesehatan, biaya anak sekolah dan lain sebagainya yang merupakan kebutuhan pokok Anda bila ada uang ? maka memegangnya dalam Dinar secukupnya untuk keperluan-keperluan tersebut ? insya Allah akan sangat aman dan bermanfaat.

Di atas keperluan yang sifatnya pokok tersebut bila Anda masih memiliki dana lebih ? baru ke investasi seperti ke per-kambing-an ini. Insya Allah hasilnya akan beda, karena selain ada harapan hasil finansial yang lebih tinggi ? banyaknya lapangan pekerjaan yang tercipta dari project semacam ini insya Allah membawa barakah.

Bila Anda tertarik lebih jauh dengan project perkambingan ini dan peluang-peluang yang hadir bersamanya, kami sudah siapkan satu situs khusus di jonggolfarm.com. Meskipun demikian mohon maaf bila kami belum bisa memenuhi minat para (calon) Shahibul Mal seluruhnya ? karena untuk memenuhi membludaknya peminat yang sudah ada saja saat ini ? insya Allah diperlukan waktu sampai sekitar 3 bulan yang akan datang untuk persiapan kandang, bibit, pakan, dlsb.

Sambil menunggu sarana prasarana tersebut, dana peminat kami simpan dalam Dinar agar tidak kehilangan daya beli. Setiap kandang dan bibit tersedia, tentu kami prioritaskan pada Shahibul Mal yang telah lama dananya di kami dalam bentuk Dinar ini. Maka Goat & Gold kini menjadi pasangan investasi yang ideal untuk Anda.

Semoga Allah senantiasa memudahkan jalanNya pada kita semua. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Model Matematika Kambing: Work Smart-nya Para Nabi


Bahwasanya seluruh nabi-nabi menggembala kambing, ini hadits-nya shahih dan sudah pernah saya tulis dalam tulisan saya sebelumnya. Namun potensi ekonomi yang luar biasa yang terbawa dari ekonomi berbasis kambing ini yang belum banyak diungkap oleh para pakar perkambingan sekalipun. Dalam tulisan ini saya ingin share potensi tersebut dengan menggunakan model matematika, yang kemudian hasilnya saya tuangkan dalam grafik agar mudah dipahami.

Untuk membuat model ini, perlu diketahui karakter kambing ini antara lain kemampuan beranaknya yang 3 kali dalam 2 tahun; rata-rata anak 2 meskipun bisa 3, 4 atau 1. Kemudian kambing adalah juga merupakan hewan yang mudah mati bila terkena penyakit, rasio kematian yang dianggap wajar adalah 5%.

Nah kalau sebagai contoh Anda pelihara 100 ekor kambing sekarang, berapa ekor kambing akan Anda miliki 10 tahun yang akan datang bila diambil rata-rata beranak 3 kali dalam 2 tahun, rata-rata sekali beranak 2 dan rasio kematian 5%? Anda akan terkejut dengan jumlahnya, pada akhir tahun ke 10 jumlah kambing di kandang Anda bisa mencapai  681,000 ekor! Wow, nggak masuk akal? Berikut penjelasannya.

Skenario #1: Bila 3 x kali beranak dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Skenario #1: Beranak 3x dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Dengan rasio kematian 5% per tahun; kambing indukan awal yang tadinya 100 ? akan tinggal 63 ekor pada tahun ke 10. Tetapi kambing turunan 1, sudah ada 300-ekor pada akhir tahun ke 2 dan telah menjadi 1790-an ekor pada akhir tahun ke 10. Kemudian mulai tahun ke 4 lahir kambing turunan ke 2, yang pada akhir tahun ke 10 telah menjadi sekitar 22,000 ekor.

Mulai tahun ke 6 lahir turunan ke 3, yang kemudian pada akhir tahun ke 10 jumlah turunan ke 3 ini telah mencapai sekitar 149,000 ekor. Pada tahun ke 8 lahir turunan ke 4, yang 2 tahun kemudian yaitu akhir tahun ke 10 turunan ke 4 ini telah mencapai 509,000 ekor.

Skenario #2: Beranak 3x dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Skenario #2: Beranak 3x dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Jadi kambing Anda saat itu dari induk awal sampai turunan ke 4-nya adalah 63+1,790+22,000+149,000+509,000 = 681,853 ekor. Apakah semudah ini kita beternak kambing? Tentu tidak. Untuk menggarap potensi yang besar tersebut tantangannya tidak kalah besarnya:

  • Untuk menjaga agar kematian rata-rata berada disekitar angka 5% saja ? ini dibutuhkan berbagai keahlian dokter hewan untuk mengatasi berbagai penyakit yang bisa menyerang kambing.
  • Untuk membuat kambing hamil dan beranak tepat waktu setiap 8 bulan, dibutuhkan serangkaian ahli-ahli reproduksi hewan yang canggih.
  • Untuk menjaga kesehatan kambing agar dapat hidup sampai usia 10 tahun, dibutuhkan ahli-ahli pakan dan nutrisi hewan yang paripurna.
  • Walhasil intinya tidak mudah, namun potensi tersebut riil dan bisa dicapai.
Skenario #3: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Skenario #3: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Saya sendiri optimis, bahwa seluruh keahlian tersebut pasti ada di anak-anak bangsa ini. Tinggal menemukan saja orang-orang yang tepat untuk ini.

Katakanlah kita tidak berhasil membuat tingkat kematian hanya 5% tetapi 10%, maka kambing kita pada tahun ke 10 masih akan mencapai di atas 500,000 ekor. Bila kita gagal membuat kambing beranak tepat waktu setiap 8 bulan dengan anak rata-rata 2; tetapi hanya tercapai separuhnya saja; maka kambing kita pada akhir tahun ke 10 akan turun drastis tetapi masih di atas 58,000 ekor.

Skenario #4: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Skenario #4: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Anggap kita gagal keduanya, yaitu kambing hanya beranak ½ dari target (3 ekor dalam 2 tahun, bukan 6 ekor dalam 2 tahun), kemudian kita juga hanya bisa menekan kematian pada tingkat 10% populasi per tahun ? maka kambing kita di akhir tahun ke 10 masih berjumlah di kisaran 43,000 ekor.

Jadi rentang hasil peternak yang biasa saja dengan peternak yang berhasil sampai akhir tahun ke 10 adalah antara 43,000 ? 680,000 ekor. Seandainya toh kita hanya menjadi peternak yang biasa-biasa saja tetapi benar-benar dilakukan, maka problem daging dan susu nasional yang sampai sekarang masih mengandalkan produk import insya Allah bisa kita atasi.

Inilah barangkali salah satu rahasia ekonomi para nabi, mereka bekerja dengan cerdas menggembala kambing karena multiplier effect yang luar biasa ini. Apa yang kami lakukan di peternakan kambing kami di Jonggol, adalah baru langkah awal untuk mengikuti jejak para nabi tersebut.

Meskipun 4 piala dalam kontes ternak se Jawa Barat telah bisa kami raih, tidak berarti apa yang kami lakukan sudah berhasil. Masalah-masalah seperti menekan rasio kematian, masalah pakan, masalah reproduksi tetap masih harus diatasi sekuat tenaga agar minimal kita bisa menjadi peternak yang biasa-biasa saja.

Karena risiko besar yang masih harus diatasi tersebutlah yang membuat kami selama ini belum menerima ? titipan? investasi kambing; namun bagi (calon) investor yang mau mempelajari perkambingan ini dan mau menangung risiko sama seperti yang kami hadapi ? insya Allah kami mulai bisa libatkan segera.

Ada 2 pola investasi yang segera kami buka ? dan bagi yang berminat mulai bisa menghubungi kami untuk mendaftarkan minatnya (Letter of Intent), yaitu:

  1. Investor hanya bertindak sebagai Shahibul Mal dalam aqad Mudharabah Muqayyadah. Melalui pola ini investor bisa menyimpan dananya di BMT mitra kami seperti BMT Daarul Muttaqiin atau Bank Syariah yang ada kerjasama dengan kami, secara spesifik dalam simpanan tersebut diaqadkan untuk berternak kambing di peternakan kambing Indolaban – Jonggol Farm (karena insya Allah nantinya ada peternakan-peternakan lainnya).
  2. Investasi langsung dimana (calon) investor benar-benar terlibat dalam peternakannya. Investor bisa membeli kavling di Jonggol Farm yang cukup untuk membuat kandang, dlsb. Tanah, kandang lengkap isinya menjadi milik penuh investor. Bila diperlukan support dari sisi pemeliharaan kambing, kesehatan, pakan, dlsb. dapat di outsourced ke team kami yang ada di lokasi; demikian pula dengan pengolahan dan pemasaran produknya.

Sama dengan Pola Investasi Syariah pada umumnya; tidak ada jaminan apapun dari kami mengenai hasil atau return-nya; yang ada adalah usaha bersama untuk menekan risiko dan ber-amal jama?i secara maksimal ? agar kelak kita bisa berdaulat dari sisi ekonomi ? mulai dari kambing ini.

Lantas bagaimana prosedurnya bila Anda berminat? Selain mengirim surat/email yang menyatakan minat tersebut ke indo...@dinarislam.com, Anda kami undang untuk berkunjung ke Jonggol agar Anda bener-bener tahu apa yang kami lakukan disana, tahu risiko-nya selain juga tahu potensi hasilnya. Semoga Allah memudahkan kita untuk beramal yang diridloi-Nya. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is online
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes