Tag Archive | "i’tikaf"

Setelah Masjid Dari Pelepah Kurma & Tatal, Insya Allah Akan Ada Masjid Dari Gedebog Pisang


Masjidnya Rasulullah SAW dahulu pertama kalinya dibangun dari pohon dan pelepah kurma. Kemudian para Wali ? penyebar agama Islam di negeri ini, konon membuat tiang Masjid Demak dengan tatal atau serbuk kayu. Maka kini umat yang berusaha mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para Wali tersebut, berniat untuk membangun Masjid dari bahan yang tersedia melimpah dan dengan teknologi yang tersedia pada zamannya… Masjid dari Gedebog Pisang dengan teknologi composites.

Mesjid yang akan kita juluki dengan nickname Masjid ?Gedebog? namun nama resminya Masjid Daarul Muttaqqiin ini insya Allah akan segera dimulai pembangunannya. Masjid ini akan berada di lingkungan Pesantren Wirausaha Daarul MuttaqiinJonggol Farm, Jonggol, Bogor ? Jawa Barat, sekitar 26 km ke arah tenggara dari Jakarta.

Sebagaimana fungsi masjid pada umumnya yaitu tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT semata; termasuk namun tidak terbatas pada aktifitas shalat, mengaji, i’tikaf, menuntut ilmu, dlsb, Masjid ?Gedebog? ini juga kami visikan sebagai sumber inspirasi dalam membangun kemakmuran umat.

Dasarnya adalah mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dalam hadits yang Diriwayatkan oleh Annas RA., ?Beberapa  barang  datang kepada Rasulullah dari Bahrain.  Rasulullah memerintahkan  kepada para sahabat untuk membagikannya di masjid, dan barang itu  merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima Rasulullah SAW. Ia meninggalkannya  untuk  shalat  tanpa menengoknya sama sekali. Setelah usai shalat, Nabi duduk  di depan barang-barang tersebut dan membagikannya kepada siapa saja yang ia lihat. Al Abbas datang kepada beliau dan berkata, ?Wahai Rasulullah berikan padaku sebagian barang-barang itu, karena saya perlu memiliki bekal untuk saya dan Aqil.? Rasulullah lalu meminta ia untuk meng- ambilnya sendiri…?. (HR. Bukhari)

masjid-gedebog-pisang2Visi kemakmuran dunia dan akhirat sebagaimana tertuang dalam do?a yang paling mashur ?Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ?adzabannar? ini kemudian kami artikulasikan dalam langkah-langkah konkrit sebagai berikut:

  • Pembangunan Masjid ?Gedebog? ini akan melibatkan aktifitas ekonomi dari ribuan atau bahkan puluhan ribu masyarakat langsung maupun tidak langsung. Yang langsung adalah aktifitas para ahli, pekerja, supplier, konsultan, kontraktor dan sub kontraktor;  sedangkan yang tidak langsung adalah para petani yang mengumpulkan gedebog kemudian mengolahnya menjadi anyaman atau tali, para pengumpulnya, jasa transportasinya, dst.
  • Pengalaman membangun masjid dengan teknologi material composites ini akan menjadi pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan kolektif masyarakat yang terlibat di dalamnya. Dengan ketrampilan tersebut, insya Allah secara bersama-sama kita bisa menggarap pasar yang lebih luas ? yaitu industri konstruksi secara umum, tidak hanya masjid ? tetapi sesudah ini rumah-rumah, gedung-gedung dan bahkan kapal-kapal yang dibutuhkan sangat banyak untuk negeri kepulauan inipun bisa kita bangun sendiri dengan teknologi composites yang sama.
  • Para jamaah dan peziarah yang akan mengunjungi masjid ini insya Allah kelak akan selalu terstimulasi pikiran dan kreatifitasnya, bahwa dari bahan gedebog yang selama ini dipandang tidak berguna, dengan izin Allah bisa dibangun bangunan yang kokoh ? tempat mengagungkan namaNya.  Insya Allah generasi masyarakat yang kreatif mensyukuri nikmat Allah, mengolah dan memakmurkan bumi akan benar-benar  lahir. Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud [11]: 61).
  • Setelah masjid ini jadi nantinya; berbagai program untuk memakmurkannya telah menanti. Sekolah Tahfidz Al-Quran sejak usia dini, pesantren wirausaha kelas reguler dan eksekutif, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Pusat Pemberdayaan Umat, dlsb adalah beberapa program untuk kemakmuran masjid yang telah hampir tuntas kami susun.
  • Lokasi Masjid yang berada di pusat kegiatan Jonggol Farm yang di dalamnya sudah mulai berjalan embrio industri kambing susu dan kambing pedaging, industri susu kambing dan produk-produk turunannya, industri jamur dan pengolahan produk jamur, industri pengolahan buah dan hasil pertanian, dlsb insya Allah akan mendekatkan program pemakmuran umat ini dengan realitas ekonomi modern.
  • Masjid yang dibangun dari Gedebog Pisang yang merupakan salah satu tanaman surga ini insya Allah juga akan membawa nuansa tidak terputusnya urusan dunia kita dengan urusan akhirat, surga menjadi nampak begitu dekat setiap kali kita memandangi dan mengolah pohon-pohon pisang ini – semoga dengan pohon pisang yang kita olah menjadi rumahNya ini, kelak di akhirat kita benar-benar diizinkanNya untuk sampai kesana ?…berada di antara  pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…?. (QS. Al-Waqi?ah [56]: 28-30)

masjid-gedebog-pisang3Bagaimana Anda dapat terlibat dalam program ini? Sebagai individu Anda dapat membantu kami dengan dana, sumber daya, material, pemikiran dan minimal do?a. Bila Anda bekerja di perusahaan-perusahaan atau institusi-institusi yang memiliki program Corporate Social Responsibility, Anda dapat menjadi penghubung kami agar person in charge untuk CSR di korporasi atau institusi Anda setidaknya aware atas apa yang sedang kami usahakan ? dan siapa tahu, apa yang kami lakukan in line dengan yang mereka pikirkan sehingga kita bisa bersinergi.

Penjelasan lebih detil dari Masjid ?Gedebog? Daarul Muttaqiin ini tersedia dalam bentuk file PDF yang dapat Anda unduh dengan klik disini. Bila diperlukan penjelasan lebih detil atau bahkan presentasi khusus, insya Allah dengan senang hati kami akan dapat lakukan.

Bila kelak masjid ini selesai terbangun, insya Allah ini akan menjadi pencapaian maksimal dari upaya hamba-hamba Allah yang lemah ini dalam memahami dan mensyukuri nikmatNya, mencerna sebagian kecil dari ilmu yang diberikan olehNya, menerapkan teknologi yang telah dimudahkanNya dan memadukan serta menggalang kekuatan umat yang telah digerakkan hatinya oleh Dia yang menguasai hati.

LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH…

Posted in Islamic ViewComments (0)

Susu Bersih di Antara Kotoran dan Darah


Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS 16 : 66)
Saya mungkin termasuk orang yang sangat kurang minum susu sepanjang hidup saya; waktu saya kecil di desa, saya hanya minum ASI ibu saya sampai usia satu tahun lebih sedikit karena keburu lahir adik saya. Selepas itu sebagai anak miskin desa, keluarga kita tidak biasa membeli susu karena terlalu mahal bagi keluarga-keluarga miskin di desa.
Setelah dewasa, dan alhamdulillah sebenarnya saya mampu membeli susu, namun inipun tidak saya lakukan ? kecuali hanya untuk anak-anak kita ? karena susu bukan-lah minuman yang popular bagi orang-orang segenarasi saya. Banyak orang dewasa seusia saya yang tidak suka minum susu, mungkin karena sedari kecil memang tidak dilatih minum susu, atau mungkin juga karena politik dagang yang tidak mengunggulkan susu (khususnya susu segar) sebagai pilihan minuman yang menyehatkan.
Beberapa tahun terakhir setiap kali i?tikaf  di Masjidil Haram; saya menjadi terbiasa berbuka dengan susu segar, karena ketika menjelang magrib di Masjidil Haram selain air zamzam, susu segar inilah yang banyak dibagikan oleh para penyedia iftor. Saya sempat bertanya mengapa banyak sekali susu dibagikan gratis untuk berbuka para shaimin (orang yang berpuasa) ?, bukan aneka ragam juice atau soft drink misalnya yang rata-rata orang jaman ini lebih suka ?, ternyata memang susu inilah minuman terbaik yang disebutkan di Al-Qur?an seperti dalam ayat tersebut diatas.
Susu yang disebut sebagai minuman bersih yang mudah dicerna dalam ayat tersebut tentu yang dimaksud adalah susu murni yang belum dicampur oleh berbagai zat macam-macam , menjadi susu bubuk yang kita tidak tahu lagi riwayatnya – sudah diisi apa saja misalnya susu bubuk ini ? Wa Allahu hu A?lam.
Lantas mengapa kita mengganti minuman murni yang bersih dan mudah dicerna tersebut dengan minuman yang kita tidak tahu lagi isinya ? tidak hanya susu tetapi juga berbagai bentuk soft drink-nya ?.  Inilah bagian dari konspirasi politik dagang yang disebut corporatocracy yang juga pernah saya tulis sebelumnya.
Bayangkan kalau jutaan penduduk Indonesia lebih suka minum susu segar; akan ada pekerjaan bagi berjuta peternak sapi atau kambing perah di Indonesia , keberadaan mereka tidak akan pernah bisa digantikan oleh produsen susu bubuk yang harus impor 70% susu bubuknya dari berbagai negara lain. Bukan saja peternak yang diuntungkan, tetapi juga petani-petani yang menanam rumput dan berbagai makanan ternak lainnya, para loper susu segar dan berbagai kesempatan kerja lainnya.
Kalau kita jadikan gerakan nasional, maka gerakan minum susu segar ini tidak hanya akan menyehatkan badan kita tetapi juga akan menyehatkan ekonomi kita. Sebagaimana kebenaran Al-Qur?an yang kita yakini berlaku sampai akhir zaman, maka minum susu segar (karena di ?resep?kan di dalam Al-Qur?an) mestinya juga tetap baik dan bermanfaat sampai akhir zaman. Ramuan minuman yang formulanya dibuat oleh Sang Maha Pencipta, pasti lebih baik dari minuman apapun yang formulanya buatan makhluk yang penuh segala macam kelemahan.
Nah sekarang ada produk minuman yang sangat bagus, namanya susu segar; kini tantangannya ada pada  pegusaha dan calon pengusaha muslim untuk mewujudkan segala system distribusi, pemasaran, penanganan pasca panen dlsb. untuk menangani produk yang satu ini sehingga dapat kembali menjadi minuman pilihan kita.
Gerakan minum susu segar ini adalah hanya salah satu contoh apa yang bisa kita lakukan dalam Gerakan Masyarakat Produktif (disingkat GeMa Produktif ; sebelumnya kita rencanakan sebagai Gerakan Umat Produktif ? namun kita putuskan untuk memperluas menjadi Gerakan Masyarakat Produktif).
Sambil kami menyiapkan system distribusi dan pemasarannya, para peternak atau para calon peternak sapi perah  yang tertarik untuk bergabung dalam GeMa Produktif ini sudah dapat menghubungi kami.
Akan banyak tantangannya kedepan, dan pastinya tidak akan mudah?namun di ayat tersebut kita sudah disuruh benar-benar belajar ?? Kami memberimu minum?susu bersih diantara darah dan kotoran?? . Maka Insyaallah kita akan bisa belajar?

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl (16): 66)

Saya mungkin termasuk orang yang sangat kurang minum susu sepanjang hidup saya; waktu saya kecil di desa, saya hanya minum ASI ibu saya sampai usia 1 tahun lebih sedikit karena keburu lahir adik saya. Selepas itu sebagai anak miskin desa, keluarga kita tidak biasa membeli susu karena terlalu mahal bagi keluarga-keluarga miskin di desa.

Setelah dewasa, dan alhamdulillah sebenarnya saya mampu membeli susu, namun inipun tidak saya lakukan ? kecuali hanya untuk anak-anak kita ? karena susu bukan-lah minuman yang popular bagi orang-orang segenerasi saya. Banyak orang dewasa seusia saya yang tidak suka minum susu, mungkin karena sedari kecil memang tidak dilatih minum susu, atau mungkin juga karena politik dagang yang tidak mengunggulkan susu (khususnya susu segar) sebagai pilihan minuman yang menyehatkan.

Beberapa tahun terakhir setiap kali i?tikaf di Masjidil Haram; saya menjadi terbiasa berbuka dengan susu segar, karena ketika menjelang maghrib di Masjidil Haram selain air zamzam, susu segar inilah yang banyak dibagikan oleh para penyedia iftor. Saya sempat bertanya mengapa banyak sekali susu dibagikan gratis untuk berbuka para shaimin (orang yang berpuasa)? Bukan aneka ragam juice atau soft drink misalnya yang rata-rata orang jaman ini lebih suka, ternyata memang susu inilah minuman terbaik yang disebutkan di Al-Qur?an seperti dalam ayat tersebut di atas.

Susu yang disebut sebagai minuman bersih yang mudah dicerna dalam ayat tersebut tentu yang dimaksud adalah susu murni yang belum dicampur oleh berbagai zat macam-macam, menjadi susu bubuk yang kita tidak tahu lagi riwayatnya – sudah diisi apa saja misalnya susu bubuk ini? Wa Allahu A?lam.

Lantas mengapa kita mengganti minuman murni yang bersih dan mudah dicerna tersebut dengan minuman yang kita tidak tahu lagi isinya? tidak hanya susu tetapi juga berbagai bentuk soft drink-nya? Inilah bagian dari konspirasi politik dagang yang disebut corporatocracy yang juga pernah saya tulis sebelumnya.

Bayangkan kalau jutaan penduduk Indonesia lebih suka minum susu segar; akan ada pekerjaan bagi berjuta peternak sapi atau kambing perah di Indonesia, keberadaan mereka tidak akan pernah bisa digantikan oleh produsen susu bubuk yang harus impor 70% susu bubuknya dari berbagai negara lain. Bukan saja peternak yang diuntungkan, tetapi juga petani-petani yang menanam rumput dan berbagai makanan ternak lainnya, para loper susu segar dan berbagai kesempatan kerja lainnya.

Kalau kita jadikan gerakan nasional, maka gerakan minum susu segar ini tidak hanya akan menyehatkan badan kita tetapi juga akan menyehatkan ekonomi kita. Sebagaimana kebenaran Al-Qur?an yang kita yakini berlaku sampai akhir zaman, maka minum susu segar (karena di ?resep?kan di dalam Al-Qur?an) mestinya juga tetap baik dan bermanfaat sampai akhir zaman. Ramuan minuman yang formulanya dibuat oleh Sang Maha Pencipta, pasti lebih baik dari minuman apapun yang formulanya buatan makhluk yang penuh segala macam kelemahan.

Nah sekarang ada produk minuman yang sangat bagus, namanya susu segar; kini tantangannya ada pada  pegusaha dan calon pengusaha muslim untuk mewujudkan segala sistem distribusi, pemasaran, penanganan pasca panen dlsb. untuk menangani produk yang satu ini sehingga dapat kembali menjadi minuman pilihan kita.

Gerakan minum susu segar ini adalah hanya salah satu contoh apa yang bisa kita lakukan dalam Gerakan Masyarakat Produktif (disingkat GeMa Produktif ; sebelumnya kita rencanakan sebagai Gerakan Umat Produktif ? namun kita putuskan untuk memperluas menjadi Gerakan Masyarakat Produktif).

Sambil kami menyiapkan sistem distribusi dan pemasarannya, para peternak atau para calon peternak sapi perah  yang tertarik untuk bergabung dalam GeMa Produktif ini sudah dapat menghubungi kami.

Akan banyak tantangannya ke depan, dan pastinya tidak akan mudah? namun di ayat tersebut kita sudah disuruh benar-benar belajar ?? Kami memberimu minum? susu bersih diantara darah dan kotoran?? . Maka Insya Allah kita akan bisa belajar?

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Bila Lebah Tidak Menghasilkan Cukup Madu


Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.
Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS 16 : 68-69)
Alhamdulillah hari ini saya bisa mulai menulis lagi setelah sekitar dua minggu absen tidak menulis karena perjalanan i?tikaf. Dalam kesempatan menjalani ritual i?tikaf , makan-minum, tidur dan tentu beribadah di Masjidil Haram sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang baru lalu ? banyak sekali kesempatan bisa saya pakai untuk membaca, merenungkan dan men ?tadaburi- ayat-ayat Al-qur?an. Dari sumber segala ilmu inilah insyaallah saya akan siap menulis kembali untuk setahun kedepan, sampai tibanya waktu i?tikaf kembali?insyaallah.
Pertama saya akan menulis tentang dua ayat di surat An Nahl tersebut diatas. Dalam dua ayat ini sungguh terdapat pelajaran yang luar biasa sehingga Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk memikirkannya.
Di ayat pertama lebah diperintahkan untuk membuat sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Ini mengisyaratkan bagi kita bahwa dari sisi lebahnya ? perintah untuk bekerjasama dengan manusia ini sudah diberikan langsung oleh Allah kepadanya (lebah), tinggal bagaimana kita manusia menangkap peluang ini untuk menghasilkan sesuatu yang sangat berguna bagi kita.
Di ayat kedua, Allah ?menitipkan? pabrik obat bagi kesehatan kita di perut-perut lebah tersebut. Madu yang dihasilkan dari perut-perut lebah tersebut sejatinya juga diperlukan oleh masyarakat lebah sendiri sebagai sumber makanan mereka, namun mereka memproduksinya dengan sangat berlebih ? jauh lebih banyak dari yang mereka butuhkan sendiri; kelebihan produksi inilah yang kemudian menjadi madu yang sangat banyak kasiyatnya bagi kesehatan kita semua bangsa manusia.
Kemampuan berproduksi lebih dari yang dibutuhkan masyarakat lebah inilah yang saya ingin tekankan sebagai pelajaran dalam tulisan ini. Bayangkan kalau lebah tidak memproduksi madunya secara lebih, dari mana bangsa manusia mendapatkan madu ?. Lebih lanjut bila mereka berproduksi kurang dari kebutuhan, bisa jadi masyarakat lebah akan saling berperang satu sama lain untuk memperebutkan madu. Atau satu masyarakat lebah  demi untuk memenuhi kebutuhannya rela mengeksploitasi masyarakat lebah yang lain. Tetapi ini tidak terjadi di masyarakat lebah.
Mengapa sampai Allah memerintahkan kita untuk belajar dari lebah ini , sangat bisa jadi salah satunya adalah agar kita belajar ?berproduksi lebih? seperti yang dilakukan oleh masyarakat lebah ini. Bayangkan, lebah yang tidak memiliki otak yang sempurna seperti manusia saja ? mereka bisa berproduksi lebih. Masya? manusia yang diberi otak sehingga berilmu tinggi, mampu menciptakan berbagai teknologi tidak bisa berproduksi cukup untuk kebutuhannya sendiri ?.
Lihat-lah bangsa kita sebagai contohnya; kita masih harus mengimpor bahan-bahan makanan kita berupa 4.66 juta ton gandum senilai Rp 22.5 trilyun;  3.45 juta ton kedelai senilai Rp 5.95 trilyun ; 0.2 juta ton susu senilai Rp 7.55 trilyun ; daging sapi senilai Rp 4.8 trilyun; buah senilai Rp 3.38 trilyun dan bahkan juga impor garam senilai 0.9 trilyun.
Lihat apa yang kita import tersebut, semua sesungguhnya kita memiliki sumber dayanya untuk berproduksi secara cukup. Gandum mungkin memang tidak terlalu pas diproduksi ditanah-tanah kita, namun gandum kan dahulunya memang bukan makanan pokok kita ?, mengapa ujug-ujug jadi bahan makanan pokok yang harus kita impor ?.
Waktu kecil ibu saya di desa bisa membuat kue-kue dan segala macam makanan dari tepung yang sangat enak yaitu tepung yang dihasilkan dari umbi tanaman garut ( di daerah lain disebut arerut), yang dengan mudah dapat ditanam di kebon-kebon kita sendiri dan diolah secara tradisionil juga oleh kita sendiri. Mie sebagai menu makanan utama (bukan sebagai lauk !) baru kita kenal dua sampai tiga dasawarsa terakhir; lantas mengapa gandum (bahan dasar mie) tiba-tiba menjadi bahan pangan yang terbesar yang harus kita impor dari negara lain ?. Bukankah ini bentuk eksploitasi bangsa lain terhadap bangsa kita. Sampai-sampai mereka bisa mengubah menu utama di makanan kita ?.
Banyak hal yang salah di negeri ini sehingga kita tidak harus mengandalkan pemerintah untuk mengatasinya; sebagai warga negara kita bisa mulai dari diri kita memecahkan masyalah-masyalah yang kecil di lingkungan kita sehingga kita bisa ?berproduksi lebih? ? mengikuti contoh lebah yang kita diminta untuk memikirkannya di ayat tersebut diatas.
Dari upaya untuk ?memproduksi lebih? inilah ide memproduktifkan lahan seperti yang sudah mulai saya tulis tahun lalu akan kita upayakan segera bisa dimulai; namun sebelum benar-benar kita mulai ? ada masalah yang masih harus kita atasi lebih dahulu yaitu aspek pemasaran hasil-hasil pertanian yang juga masih sangat timpang di negeri ini.
Contohnya adalah ketika kita harus impor susu senilai Rp 7.5 trilyun lebih; kita masih membaca adanya peternak susu kita yang sampai membuang susunya kejalanan karena tidak bisa memasarkan hasil produksinya dengan harga yang wajar. Ketika anak-anak kita harus mengkonsumsi saus tomat yang konon bahannya ternyata bukan tomat (bisa ketela dlsb); sebagian petani-petani kita masih harus memilih tomat-tomatnya membusuk tidak di panen ? karena kalau di panen harganya anjlog tidak mengejar ongkos produksinya.
Ini adalah sebagian saja dari contoh-contoh masalah produksi dan juga distribusi yang nampaknya kita memang harus belajar dari lebah. Di masyarakat lebah memang ada anggota masyarakatnya yang tidak berproduksi, yaitu lebah-lebah jantan yang tugasnya hanya satu sepanjang hidupnya ? yaitu mengawini ratu lebah.
Jumlah lebah jantan ini hanya sekitar 15% saja dari lebah yang ada di koloni, tetapi bisa berarti ribuan lebah. Pada hari H ? yaitu harinya ratu lebah muda siap kawin; ratu lebah yang sangat perkasa dibandingkan dengan lebah jantan sekalipun ? terbang sekuat tenaga dan setinggi mungkin kelangit diikuti oleh ribuan lebah jantan yang mengejarnya.
Dari ribuan lebah jantan ini, hanya satu yang bisa mengejar ratu lebah dan mengawininya di udara. Karena keperkasaan sang ratu; lebah jantan yang sukses ini ? akan mengalami nasib yang tragis yaitu mati dengan badan remuk berkeping-keping setelah mengawini sang ratu.
Akan halnya ribuan lebah jantan yang gagal mengawini ratu; dia menjadi lebah yang tidak berguna. Ketika mereka balik ke sarangpun akan ditolak oleh para lebah penjaga di gerbang sarang, keberadaan mereka sudah tidak dibutuhkan lagi. Ribuan lebah jantan ini akhirnya mati ngenes di pohon-pohon di luar sarang.
Akan halnya 85 % masyarakat lebah sisanya ? yang terbesarnya adalah masyarakat lebah pekerja, mereka hidup tentram damai bersama ratu mereka.  Mereka berproduksi lebih, sehingga bukan hanya memakmurkan sarang mereka ? tetapi juga berproduksi lebih untuk bangsa manusia.
Jadi apa yang harus kita lakukan untuk memproduksi lebih ?, memperbanyak ?lebah pekerja? ini ? bekerja dalam arti benar-benar berproduksi ? bukan hanya sekedar bekerja dengan datang ke kantor dari pagi, menunggu waktu pulang sore hari ? tetapi tidak menghasilkan apa-apa ? yang terakhir ini lebih mirip lebah jantan yang gagal mengawini ratu  dan bukan lebah pekerja.
Program Pesantren Wirausaha kami yang kelas perdananya akan kita mulai tanggal 10 Oktober 2009 bulan depan, insyallah ingin menghasilkan sebanyak mungkin ?lebah-lebah pekerja? yang akan menghasilkan ?produksi lebih? tersebut diatas. Insyaallah.

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl (16): 68-69)

Alhamdulillah hari ini saya bisa mulai menulis lagi setelah sekitar 2 minggu absen tidak menulis karena perjalanan i?tikaf. Dalam kesempatan menjalani ritual i?tikaf, makan-minum, tidur dan tentu beribadah di Masjidil Haram 10 hari terakhir bulan Ramadhan yang baru lalu ? banyak sekali kesempatan bisa saya pakai untuk membaca, merenungkan dan men?tadaburi ayat-ayat Al-Qur?an. Dari sumber segala ilmu inilah insya Allah saya akan siap menulis kembali untuk setahun ke depan, sampai tibanya waktu i?tikaf kembali? insya Allah.

Pertama saya akan menulis tentang 2 ayat di surat An-Nahl tersebut di atas. Dalam 2 ayat ini sungguh terdapat pelajaran yang luar biasa sehingga Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk memikirkannya.

Di ayat pertama lebah diperintahkan untuk membuat sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Ini mengisyaratkan bagi kita bahwa dari sisi lebahnya ? perintah untuk bekerjasama dengan manusia ini sudah diberikan langsung oleh Allah kepadanya (lebah), tinggal bagaimana kita manusia menangkap peluang ini untuk menghasilkan sesuatu yang sangat berguna bagi kita.

Di ayat kedua, Allah ?menitipkan? pabrik obat bagi kesehatan kita di perut-perut lebah tersebut. Madu yang dihasilkan dari perut-perut lebah tersebut sejatinya juga diperlukan oleh masyarakat lebah sendiri sebagai sumber makanan mereka, namun mereka memproduksinya dengan sangat berlebih ? jauh lebih banyak dari yang mereka butuhkan sendiri; kelebihan produksi inilah yang kemudian menjadi madu yang sangat banyak khasiatnya bagi kesehatan kita semua bangsa manusia.

Kemampuan berproduksi lebih dari yang dibutuhkan masyarakat lebah inilah yang saya ingin tekankan sebagai pelajaran dalam tulisan ini. Bayangkan kalau lebah tidak memproduksi madunya secara lebih, dari mana bangsa manusia mendapatkan madu? Lebih lanjut bila mereka berproduksi kurang dari kebutuhan, bisa jadi masyarakat lebah akan saling berperang satu sama lain untuk memperebutkan madu. Atau satu masyarakat lebah demi untuk memenuhi kebutuhannya rela mengeksploitasi masyarakat lebah yang lain. Tetapi ini tidak terjadi di masyarakat lebah.

Mengapa sampai Allah memerintahkan kita untuk belajar dari lebah ini, sangat bisa jadi salah satunya adalah agar kita belajar ?berproduksi lebih? seperti yang dilakukan oleh masyarakat lebah ini. Bayangkan, lebah yang tidak memiliki otak yang sempurna seperti manusia saja ? mereka bisa berproduksi lebih. Masa? manusia yang diberi otak sehingga berilmu tinggi, mampu menciptakan berbagai teknologi tidak bisa berproduksi cukup untuk kebutuhannya sendiri?

Lihat-lah bangsa kita sebagai contohnya; kita masih harus mengimpor bahan-bahan makanan kita berupa 4.66 juta ton gandum senilai Rp 22.5 trilyun;  3.45 juta ton kedelai senilai Rp 5.95 trilyun ; 0.2 juta ton susu senilai Rp 7.55 trilyun ; daging sapi senilai Rp 4.8 trilyun; buah senilai Rp 3.38 trilyun dan bahkan juga impor garam senilai 0.9 trilyun.

Lihat apa yang kita impor tersebut, semua sesungguhnya kita memiliki sumber dayanya untuk berproduksi secara cukup. Gandum mungkin memang tidak terlalu pas diproduksi di tanah-tanah kita, namun gandum kan dahulunya memang bukan makanan pokok kita? Mengapa ujug-ujug jadi bahan makanan pokok yang harus kita impor?

Waktu kecil ibu saya di desa bisa membuat kue-kue dan segala macam makanan dari tepung yang sangat enak yaitu tepung yang dihasilkan dari umbi tanaman garut (di daerah lain disebut arerut), yang dengan mudah dapat ditanam di kebon-kebon kita sendiri dan diolah secara tradisionil juga oleh kita sendiri. Mie sebagai menu makanan utama (bukan sebagai lauk!) baru kita kenal dua sampai 3 dasawarsa terakhir; lantas mengapa gandum (bahan dasar mie) tiba-tiba menjadi bahan pangan yang terbesar yang harus kita impor dari negara lain? Bukankah ini bentuk eksploitasi bangsa lain terhadap bangsa kita. Sampai-sampai mereka bisa mengubah menu utama di makanan kita?

Banyak hal yang salah di negeri ini sehingga kita tidak harus mengandalkan pemerintah untuk mengatasinya; sebagai warga negara kita bisa mulai dari diri kita memecahkan masalah-masalah yang kecil di lingkungan kita sehingga kita bisa ?berproduksi lebih? ? mengikuti contoh lebah yang kita diminta untuk memikirkannya di ayat tersebut di atas.

Dari upaya untuk ?berproduksi lebih? inilah ide memproduktifkan lahan seperti yang sudah mulai saya tulis sebelumnya akan kita upayakan segera bisa dimulai; namun sebelum benar-benar kita mulai ? ada masalah yang masih harus kita atasi lebih dahulu yaitu aspek pemasaran hasil-hasil pertanian yang juga masih sangat timpang di negeri ini.

Contohnya adalah ketika kita harus impor susu senilai Rp 7.5 trilyun lebih; kita masih membaca adanya peternak susu kita yang sampai membuang susunya ke jalanan karena tidak bisa memasarkan hasil produksinya dengan harga yang wajar. Ketika anak-anak kita harus mengkonsumsi saus tomat yang konon bahannya ternyata bukan tomat (bisa ketela dlsb); sebagian petani-petani kita masih harus memilih tomat-tomatnya membusuk tidak di panen ? karena kalau di panen harganya anjlog tidak mengejar ongkos produksinya.

Ini adalah sebagian saja dari contoh-contoh masalah produksi dan juga distribusi yang nampaknya kita memang harus belajar dari lebah. Di masyarakat lebah memang ada anggota masyarakatnya yang tidak berproduksi, yaitu lebah-lebah jantan yang tugasnya hanya satu sepanjang hidupnya ? yaitu mengawini ratu lebah.

Jumlah lebah jantan ini hanya sekitar 15% saja dari lebah yang ada di koloni, tetapi bisa berarti ribuan lebah. Pada hari H ? yaitu harinya ratu lebah muda siap kawin; ratu lebah yang sangat perkasa dibandingkan dengan lebah jantan sekalipun ? terbang sekuat tenaga dan setinggi mungkin kelangit diikuti oleh ribuan lebah jantan yang mengejarnya.

Dari ribuan lebah jantan ini, hanya satu yang bisa mengejar ratu lebah dan mengawininya di udara. Karena keperkasaan sang ratu; lebah jantan yang sukses ini ? akan mengalami nasib yang tragis yaitu mati dengan badan remuk berkeping-keping setelah mengawini sang ratu.

Akan halnya ribuan lebah jantan yang gagal mengawini ratu; dia menjadi lebah yang tidak berguna. Ketika mereka balik ke sarangpun akan ditolak oleh para lebah penjaga di gerbang sarang, keberadaan mereka sudah tidak dibutuhkan lagi. Ribuan lebah jantan ini akhirnya mati ngenes di pohon-pohon di luar sarang.

Akan halnya 85% masyarakat lebah sisanya ? yang terbesarnya adalah masyarakat lebah pekerja, mereka hidup tentram damai bersama ratu mereka.  Mereka berproduksi lebih, sehingga bukan hanya memakmurkan sarang mereka ? tetapi juga berproduksi lebih untuk bangsa manusia.

Jadi apa yang harus kita lakukan untuk memproduksi lebih? Memperbanyak ?lebah pekerja? ini ? bekerja dalam arti benar-benar berproduksi ? bukan hanya sekedar bekerja dengan datang ke kantor dari pagi, menunggu waktu pulang sore hari ? tetapi tidak menghasilkan apa-apa ? yang terakhir ini lebih mirip lebah jantan yang gagal mengawini ratu dan bukan lebah pekerja.

Program Pesantren Wirausaha kami yang kelas perdananya akan kita mulai tanggal 10 Oktober 2009 bulan depan, insya Allah ingin menghasilkan sebanyak mungkin ?lebah-lebah pekerja? yang akan menghasilkan ?produksi lebih? tersebut diatas. Insya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

I?tikaf Dan Terapi Gelas Panas


Sekian tahun lalu ketika saya masih bekerja di lingkungan yang stress-full, salah satu teknik yang saya pakai untuk mengendalikan stress adalah apa yang disebut Terapi Gelas Panas.

Prinsipnya sederhana saja, persis seperti kita memegang gelas panas ? semakin panas suatu gelas (karena isinya air panas) semakin sebentar kita bisa memegangnya. Bila kita memaksakan memegang gelas panas tersebut dalam waktu yang lebih lama ? maka tangan kita bisa melepuh dibuatnya. Kita tahu secara reflek kapan tepatnya harus melepas gelas dari tangan kita sebelum tangan kita melepuh, bahkan kalau kita tadinya tidak tahu suatu gelas terlalu panas untuk kita pegang ? baru menyentuh saja tangan kita langsung kita lepaskan kembali.

Setelah dibiarkan agak dingin, maka kita coba untuk memegangnya kembali. Bila waktunya cukup aman gelas tersebut kita pegang ? tanpa membuat tangan melepuh, maka baru gelas bisa kita pegang terus sampai keperluan kita selesai.

Menangani masalah yang menyita pikiran juga demikian; bila suatu masalah terlalu berat untuk kita pikirkan ? maka jangan dipaksa terus dipikirin sampai terbawa mimpi, bisa stress kita dibuatnya. Pikirkan sedikit saja dahulu untuk sekedar tahu ada masalah tersebut, kemudian lepas lagi dari pikiran kita.

Sering masalah yang kita hadapi tidak seburuk awalnya ketika masalah tersebut pertama kali muncul, masalah-masalah yang membuat stress terkadang justru masalah sederhana saja tetapi awal kemunculannya pada waktu yang kita tidak siap menerimanya. Maka cari waktu yang baik ketika pikiran kita siap benar mengatasi masalah tersebut, dan selesaikan pada waktu-waktu yang baik tersebut.

Beruntunglah bagi umat ini yang diberi syariat untuk menegakkan shalat 5 waktu, karena shalat yang khusu? akan dapat menyegarkan dan memulihkan pikiran kita dari waktu ke waktu. Di tengah pekerjaan yang sangat rumit dari pagi sekalipun, datang waktu dhuhur kita lepas sejenak pekerjaan tersebut dengan shalat. Habis dhuhur dilanjutkan kembali dan dilepas waktu shalat Ashar, begitu seterusnya ? maka insya Allah tidak akan sempat stress pikiran kita. Terapi gelas panas berupa shalat ini, hanya dimiliki ummat Islam dan khususnya yang rajin menegakkan shalat dengan khusu? ? soalnya kalau shalatnya tidak khusu? bahkan masalah yang ada akan terbawa sampai shalat sekalipun!

Kalau shalat menjadi Terapi Gelas Panas untuk mengatasi masalah yang bersifat harian, ada lagi yang lebih hebat karena bisa mengatasi masalah yang sifatnya menahun yaitu I?tikaf. I?tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Para ulama sepakat bahwa i?tikaf, khususnya 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, adalah ibadah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Beliau sendiri melakukanya 10 hari penuh di bulan Ramadhan. Aisyah, Umar bin Khattab, dan Anas bin Malik menegaskan hal itu, ?Adalah Rasulullah SAW beri?tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.? (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan, pada tahun wafatnya Rasulullah SAW beri?tikaf selama 20 hari.

Menurut Ibnu Qayyim ?I?tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beri?tikaf dan bersimpuh di hadapan Allah, berkhalwat dengan-Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah?.

Dengan syariat i?tikaf inilah kita bisa melepas ?gelas panas? atau masalah  yang kita pegang menahun, bahkan kita pegang sepanjang karir kita ? untuk mendekatkan diri sepenuhnya kepada Allah, mohon ampunanNya, mohon petunjukNya agar setelah i?tikaf kita menjadi orang yang lebih baik ? lebih dekat kejalanNya.

Begitu seharusnya setiap kali kita selesai melaksanakan i?tikaf, kita seperti menaiki anak tangga ? yang dari waktu ke waktu semakin dekat- semakin dekat kepadaNya.

Buku “Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham”, yang kemudian diimplementasikan dalam gerakan Dinar dan kemudian lahirnya situs ini, juga diawali dari i?tikaf di Masjidil Haram (2006).

Malam ini memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, waktunya saya berangkat i?tikaf kembali. Maka sesudah tulisan ini, saya mohon diri kepada para pembaca untuk tidak menulis dan tidak menjawab email selama masa i?tikaf. Insya Allah bila masih diberi usia, diberi rizki ilmu, dlsb., selesai i?tikaf di awal bulan Syawal saya akan mulai menulis dan menjawab email kembali.

Aktifitas rutin Dinar Islam sendiri tetap akan buka untuk melayani  masyarakat yang membutuhkan Dinar atau informasi tentang Dinar. Untuk ini silahkan menghubungi Customer Services kami via telepon di 021 722 3411 dan 0818 88 7224, atau via sms ke SMS Centre 0811 88 7224, atau via email ke i...@dinarislam.com atau langsung ke Sofi (s...@dinarislam.com) dan Eny (e...@dinarislam.com).

Dinar Islam akan libur Lebaran mulai tanggal 21 September 2009 – 25 September 2009. Pada saat libur Lebaran ini, transaksi ditiadakan dan Customer Cervices juga ikut libur. Khusus untuk layanan SMS & email insya Allah tetap ONLINE 24 JAM!

Selamat Iedul Fitri 1430 H, Taqaballahu Minna Wa Minkum?.

Posted in Islamic ViewComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes