Tag Archive | "investasi sektor riil"
Posted on 25 August 2010. Tags: Amerika, awang-awang, biang keladi, BUMN, China, collapse, Competitive Devaluation, daya beli, ekspor, Euro, Fannie Mae, Federal Reserve, Freddy Mac, Gajah, harga emas, harga naik, inflasi, investasi, investasi sektor riil, jabon, Jepang, jeruk makan jeruk, kampung, korban, krisis finansial, lahan produktif, masyarakat, mata uang, mencetak uang, Nusantara, otoritas moneter, Pelanduk, pemerintah, penabung, penurunan daya beli, perdagangan, perkasa, pisang, SD, Sengon, tabungan, the Wall Street Journal, trend, uang kertas, Uni Eropa, US Dollar, Yen, Yuan
Dahulu di waktu Sekolah Dasar kita belajar pepatah yang kurang lebih berbunyi ?gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah?. Apes bener jadi pelanduk, dia tidak tahu menahu tentang urusan apa gerangan yang membuat para gajah tersebut bertarung ? tetapi dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula ? maka matilah dia karena pertarungan ini. Sebuah artikel di The Wall Street Journal kemarin yang diberi judul Getting Ready for A Dollar Collapse? bercerita tentang pertarungan gajah US Dollar melawan gajah-gajah Yuan, Euro, Yen dan berbagai mata uang kuat lainnya ? yang membuat mati para pelanduk, yaitu para penabung atau pemegang uang kertas dunia.
Pertarungan yang disebut Competitive Devaluation ini bermula dari krisis finansial global dalam 2 tahun terakhir. Biang keladinya adalah Amerika, dimana 2/3 isi balance sheet dari Federal Reserve-nya berasal dari surat berharga yang dikeluarkan oleh government sponsored enterprises ? semacam BUMN kitalah ? yaitu Fannie Mae dan Freddy Mac yang dibailed out pemerintahnya 2 tahun silam. Ini situasi ?jeruk makan jeruk?, yang hakekatnya pemerintah negeri ini sedang mencetak uang baru dari awang-awang.
Akibat perbuatannya ini ? karena uang baru terus dicetak dari awang-awang – maka ada proses penurunan daya beli US$ secara terus menerus. Hal ini nampak jelas pada perkembangan harga emas dunia dalam US$, bila rata-rata bulanan bulan Agustus 2008 harga emas berada pada angka US$ 839.02/Oz kini naik sekitar 44% pada bulan Agustus 2010 ini menjadi rata-rata US$ 1,209.66/Oz dengan trend masih ke atas. Mungkin saja akan terbatas efeknya apabila penurunan daya beli ini hanya terjadi di AS, namun ternyata efek penurunan daya beli ini tidak akan terhenti di AS. Negara-negara lain yang nilai perdagangannya sangat tinggi dengan AS, seperti: China, Uni Eropa, Jepang, dlsb akan kehilangan daya saingnya bila uang mereka terlalu PERKASA terhadap US Dollars.
Akibatnya otoritas moneter negara-negara tersebut akan menempuh caranya sendiri-sendiri untuk menurunkan daya beli uangnya dengan perbagai program Quantitative Easing atau cara-cara ?creative? lainnya dalam mencetak uang dari awang-awang. Negara-negara lain yang tadinya tidak terimbas secara langsung-pun kemudian akan terpaksa mengikuti gerakan global dalam penurunan daya beli uang kertas ini, karena bila tidak maka mereka akan semakin tidak bisa bersaing dengan produk ekspor-nya.
Wal hasil, seluruh dunia kini seperti berpacu dalam menurunkan daya beli uang kertasnya ? atau berarti juga berpacu dalam inflasi. Lantas siapa yang jadi pelanduk-nya? Masyarakat secara umum yang tidak tahu menahu menjadi korban dalam bentuk harga barang-barang yang terus melambung, secara khusus para penabung yang meskipun angka uang yang ditabungnya bertambah ? daya beli uang yang ditabung tersebut semakin lama semakin turun karena hasil tabungannya kalah berpacu dengan inflasi.
Terus bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi hal ini? Yang terbaik adalah apabila terjadi perubahan paradigma cara berfikir dari kegemaran menabung menjadi kegemaran ber-investasi di sektor riil. Bagi Anda yang masih mempunyai kampung, menginvestasikan uang Anda di kampung dalam bentuk lahan-lahan yang diproduktifkan dengan berbagai tanaman sengon, jabon dan bahkan pisang, dlsb insya Allah akan lebih memberi manfaat bagi Anda dan masyarakat sekitar Anda. Bagi yang sudah tidak memiliki kampung, masih banyak terbuka lahan di Nusantara ini untuk Anda produktifkan baik untuk pertanian, perikanan, peternakan maupun kegiatan produktif lainnya.
Mengapa sektor riil ini lebih baik dari pada memegang uang kertas atau tabungan di era competitive devaluation ini? Sederhana alasannya, benda riil apapun yang Anda pegang dengan sendirinya akan melonjak nilainya ? ketika dunia rame-rame menurunkan daya beli mata uangnya.
Ketika kita tidak menjadi pelanduk, pertarungan para gajah tidak akan membuat kita mati ? maka jangan mau jadi pelanduk! Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 23 July 2010. Tags: adjust, Allah, amal shalih, aqad Mudharabah Muqayyadah, battle, Blue Ocean, Damaskus, daya beli tetap, deposito, differentiation, Dinar, Dinarnomics, ekonomi basis Dinar, Gaza, Hamas, industri perkambingan, inflasi, investasi, investasi sektor riil, Islamic Investment, kajian, masjid, masyarakat, measure, Moment of Truth, Nazi Jerman, pasar, pelaku usaha, penyesuaian, Peperangan, Perang Dunia II, pertempuran, pesaing, Planned But Not Executed, real time, reksadana, rencana, Rupiah, stock, strategi pemasaran, teroris, toko/tukang emas, transaksi modal, transaksi riil, tukang cukur, uang kertas, value proposition, war, Wealth Protection, Zionis Israel
Dalam dunia militer, pertempuran (battle) dibedakan dengan peperangan (war). War dapat terdiri dari sejumlah battle. Dalam suatu peperangan, bisa saja salah satu pihak memenangi sebagian besar battle tetapi kalah dalam war ? seperti yang dialami tentara Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Tetapi bisa juga suatu pihak kalah dalam ?battle? tetapi secara keseluruhan menang dalam war, seperti yang dialami Hamas di Jalur Gaza melawan serangan Israel tahun lalu. Begitu banyak bangunan rumah, sekolah dan masjid-masjid dihancurkan zionis Israel ? tetapi setelah pertempuran usai Hamas dan puluhan ribu simpatisannya merayakan dan mensyukuri kemenangannya secara besar-besaran di Damaskus ? sejak saat itu dunia lebih memahami dan mendukung perjuangan mereka, dunia menjadi paham bahwa Israel-lah teroris yang sesungguhnya.
Para pelaku dunia usaha khususnya di bidang pemasarannya, sering mengibaratkan apa yang mereka lakukan adalah seperti berperang dengan para pesaingnya. Sayangnya sebagian mereka (bahkan perusahaan besar sekalipun), sering tidak bisa membedakan mana yang battle dan mana yang war. Akibatnya seperti yang saya tulis dalam ilustrasi ?Uang Kertas & Tukang Cukur?, mereka bertempur habis-habisan sampai tidak ada pihak yang bisa meng-klaim memenangi peperangannya.
Di sisi lain, banyak sekali juga usaha-usaha yang bisa melenggang maju memenangi ?peperangan? tanpa harus melalui ?pertempuran? yang berdarah-darah. Usaha semacam ini adalah usaha-usaha yang bisa menemukan blue ocean-nya sendiri, sehingga persaingan menjadi irrelevant untuk mereka ini ? mereka tidak perlu ?bertempur? untuk dapat memenangkan ?perang?-nya sendiri (memajukan usahanya).
Bagaimana kita bisa memenangi ?peperangan? dalam usaha ini tanpa harus melalui ?pertempuran? yang menghabiskan resources kita? Berikut adalah 5 Strategy ?perang? tanpa ?bertempur? yang umumnya efektif dalam dunia usaha:
1) Create Differentiation atau buat produk barang atau jasa Anda berbeda dengan produk barang atau jasa yang ada di pasar. Ketika kami memperkenalkan Dinar misalnya, kami tidak merasa perlu bersaing dengan penyedia Dinar yang lain maupun bersaing dengan toko emas ? dengan melihat/membaca situs inipun Anda sudah akan merasakan perbedaan itu.
2) Focus On The Moment of Truth, yaitu menghadirkan produk barang atau jasa kita pada saat customer mengambil keputusannya untuk membeli/memanfaatkan produk barang atau jasa tersebut. Bagi kami misalnya moment of truth ini adalah Anda bisa membeli ribuan Dinar atau mencairkan kembali kapan saja Anda mau- dengan harga yang transparant setiap saat tersaji di situs ini secara real time.
3) Good, Better and Best yaitu menghadirkan pilihan yang semuanya baik bagi pasar Anda. Dalam hal Dinar ini adalah ketika Anda mengalihkan uang Anda ke Dinar yang aman terhadap inflasi dan daya belinya stabil sepanjang zaman ? ini adalah hal yang baik (Good); ketika Anda bisa menjualnya kembali bahkan dengan harga yang hanya 1% – 2% di bawah harga jual Dinar Islam melalui transaksi antar pengguna yang sering diiklankan di situs ini ? maka inilah hal yang lebih baik (Better). Ketika Anda bisa membelanjakan Dinar Anda untuk transaksi modal ke sektor riil secara mudah ? seperti yang kami fasilitasi dengan transaksi Mudharabah Muqayyadah di industri perkambingan misalnya ? maka inilah yang terbaik (best).
4) Value Proposition yaitu apa manfaat yang dirasakan oleh customer kita dari produk barang atau jasa tersebut; bagi kami value proposition ini kami ungkapkan dengan bahasa sederhana ?Islamic Investment & Wealth Protection?; Ketika Anda berinvestasi di stock, deposito, reksadana, dlsb; Anda hanya berinvestasi ? angka investasi Anda bisa saja terus meningkat ? tetapi ketika nilai Rupiah jatuh misalnya ? maka tidak ada artinya angka besar tersebut, atau dengan kata lain nilai investasi Anda TIDAK terproteksi. Sebaliknya di Dinar, selain nilainya terapresiasi terus menerus ? paling tidak selama dekade terakhir yang Anda dapat saksikan data real time 10 tahunan di situs ini, nilai ini justru akan melonjak ketika Rupiah turun daya belinya. Inilah fungsi “Wealth Protection” itu.
5) Plan, Do, Measure and Adjust; semua hal tersebut tidak ada gunanya apabila tidak diimplementasikan. Dinar beserta implementasinya sampai transaksi riil (Best) di pasar tidak ada manfaatnya kecuali benar-benar diterapkan. Ekonomi berbasis Dinar (Dinarnomics) bukan hanya wacana, tetapi adalah hal riil yang mulai ada di masyarakat. Tentu akan memerlukan penyempurnaan terus menerus, itulah sebabnya kita terus melakukan kajian-kajian (measure) dan penyesuaian (adjust) di lapangan.
Semoga Allah memudahkan jalanNya bagi kita semua untuk terus beramal shalih yang diridloiNya. Amin.
Posted in Entrepreneurship
Posted on 15 July 2010. Tags: aset, barakah, bergejolak, DGR, DJIA, Dow Gold Ratio, Dow Jones Industrial Average, dunia, emas, grafik, harga naik, harga turun, Indonesia, investasi, investasi sektor riil, jangka panjang, jangka pendek, Kitco, pasar saham, pertumbuhan nilai, saham, trend, untung rugi
Ini adalah salah satu pertanyaan yang sangat sering sampai ke saya, yaitu pembaca yang menanyakan pilihan investasi antara bermain saham atau investasi emas? Jawaban saya adalah tergantung dengan tujuan investasi Anda; bila Anda suka yang bergejolak jangka pendek ? bisa untung besar tetapi juga rugi besar ? barangkali saham pilihannya. Tetapi bila Anda menghendaki pertumbuhan nilai aset jangka panjang, emas-lah jawabannya.
Biasanya pertanyaan berikutnya adalah, lho emas kan sama juga bergejolak ? bisa untung besar dan rugi besar juga kan? Disinilah BEDAnya! Untuk jangka pendek emas memang bergejolak sama dengan saham, tetapi trend jangka panjangnya jelas ke atas. Sebaliknya saham, dia bergejolak di tempat tanpa diiringi oleh trend jangka panjang ke atas.
Untuk menjelaskan hal ini saya tampilkan data 10 tahun terakhir dari pasar internasional, karena harga emas kita maupun harga saham di Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh pasar dunia. Data emas saya ambilkan dari Kitco, sedangkan untuk representasi data saham saya ambilkan dari Index yang paling terkenal di dunia yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA). Hasilnya saya sajikan pada grafik di bawah.
Perhatikan gejolak saham selama 10 tahun terakhir, dia bergejolak sangat significant. Pernah mencapai angka 13,930 bulan Oktober 2007 dan turun tinggal 7,062 pada bulan Februari 2009 ? nyaris tinggal ½ dari angka tertingginya. Bila ditarik garis dari Januari 2000 (10,940), angka rata-rata bulanan DJIA saat ini masih turun sekitar 8%, yaitu pada angka 10,138.
Artinya apa angka-angka ini? Bila Anda invest saham di pasar saham internasional sejak Januari tahun 2000, dan Anda pertahankan sampai sekarang ? secara rata-rata kurang lebih aset Anda tersebut tidak mengalami pertumbuhan dan bahkan mengalami sedikit penurunan.
Lantas bagaimana dengan emas? well untuk jangka pendek sama bergejolak-nya. Tetapi trend kenaikan jangka panjangnya sangat jelas. Bila Anda investasi emas januari 2000, bareng dengan investasi saham Anda tersebut di atas. Yang di saham nilainya kurang lebih sama atau bahkan turun sedangkan yang di emas nilainya naik lebih dari 4 kalinya; dari rata-rata bulanan di kisaran US$ 284/oz (Januari 2000) ke angka US$ 1,204/oz (rata-rata bulanan saat ini ? Juli 2010).

Dow Gold Ratio (DGR)
Lebih jelas lagi adalah apa yang disebut Dow Gold Ratio (DGR) yang saya sajikan dengan menggunakan basis data yang sama dengan grafik di atas. Bila pada Januari 2000 angka DGR berada pada kisaran 38, saat ini angka tersebut tinggal di kisaran 8.45. Artinya seandainya 1 gram emas tahun 2000 mendapatkan 1 lembar saham PT. XYZ yang merupakan perusahaan rata-rata di tingkat dunia; maka 1 gram emas yang sama saat ini dapat untuk membeli kurang lebih 4.5 lembar saham perusahaan tersebut pada harganya saat ini.
Beda analis tentu bisa sangat beda pendapatnya mengenai pilihan investasi ini; tetapi data yang reliable dari sumber yang terpercaya ? insya Allah akan lebih memudahkan Anda dalam menentukan pilihan investasi Anda! Meskipun pilihan antara 2 investasi tersebut di atas jelas, ada pilihan investasi lain yang bisa jadi lebih baik lagi – seperti sektor riil yang Anda kelola langsung dengan baik – bukan hanya untung, insya Allah juga lebih barakah! Wa Allahu A’lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 13 July 2010. Tags: 1/1000 Dinar, Al-Qur'an, Allah, amal shalih, anak muda, beban hidup, cepek, Cibubur, dana pensiun, Depok, Dinar, do'a khatam, film, husnul khatimah, inflasi, investasi sektor riil, jangka panjang, jaringan sosial, kompetensi, ladang, masa depan, mentor, Pak Ogah, pohon, proteksi nilai, Rupiah, sawah, Si Unyil, tabungan hari tua, tarif, ternak, TVRI, uang fiat, uang receh, umur terbaik
Tahun 80-an ada film seri boneka yang sangat terkenal di TVRI yaitu Si Unyil. Selain tokoh-tokohnya yang terkenal seperti Si Unyil sendiri dan teman-temannya, ada tokoh lain yang kemudian sampai kini melahirkan sebuah ?profesi? tersendiri di masyarakat yaitu yang disebut Pak Ogah.
Disebut Pak Ogah karena setiap kali ada pekerjaan dia menghindar dengan bahasanya yang khas ?Ogah aah…?. Pak Ogah ini kemudian pekerjaannya nongkrong di gardu dan suka meminta uang kepada anak-anak yang lewat dengan ucapannya ?Cepek Den…?. Cepek yang berarti uang Seratus Rupiah, di tahun 80-an adalah uang yang cukup berharga ? nilainya kurang lebih setara dengan 1/1000 (1 per mil) Dinar. Pada dasawarsa tersebut Cepek adalah uang receh terkecil yang paling mudah di dapat.
Kemudian ketika tahun 80-an akhir mulai ada anak-anak muda ?kreatif?, yang pekerjaannya ?njagain? putaran-putaran jalan; belokan atau persimpangan yang tidak dijaga polisi, lokasi jalan rusak dan lain sebagainya dimana pengemudi harus melambatkan kendaraannya ? maka ?profesi? anak-anak muda tersebut secara umum disebut Pak Ogah. Entah siapa yang mulai menyebutnya demikian, tetapi yang jelas pastilah tokoh Pak Ogah dalam film si Unyil yang meng-?ilhami? masyarakat untuk menyebutnya sebagai Pak Ogah untuk jenis pekerjaan ini.
Kini 20-30 tahun kemudian, profesi tersebut merajalela di seantero negeri. Sebagian keberadaannya sangat dibutuhkan, misalnya ada jalan yang hanya bisa dilalui satu kendaraan ? anak-anak muda ini kreatif mengaturnya agar kendaraan yang lewat dapat bergantian. Sebagian lain sangat mengganggu, misalnya di jalan raya besar antar provinsi ? dipasangi drum di tengah jalan agar orang melambatkan kendaraannya ? kemudian dimintain uang.

Berapa tarif "Pak Ogah" saat ini?
Yang kemudian juga menarik untuk kita ambil pelajaran adalah ?tarif? mereka-mereka ini. Tarif atas pekerjaan mereka ini tidak ditentukan oleh mereka sendiri, tetapi oleh satuan mata uang terkecil yang paling mudah di peroleh. Mengapa demikian? Karena pengguna jalan pada dasarnya enggan mengeluarkan biaya seperti ini ? maka uang receh terkecil yang ada di mobil-lah yang paling umum diberikan.
Bila tahun 80-an tarif mereka Cepek karena uang receh terkecil yang paling mudah diperoleh saat itu adalah pecahan koin Rp 100,-; kini pecahan uang Rupiah yang paling mudah diperoleh sudah beranjak antara Rp 1.000,- sampai Rp 2.000,-.
Hampir setiap hari saya berkendara dari Depok ke Cibubur yang jarak tempuhnya kurang dari 10 km, sekali jalan saya harus menyiapkan minimal 3 uang receh untuk para Pak Ogah di jalan-jalan yang saya lalui. Karena uang Rp 1.000,- an semakin sulit diperoleh; maka sering uang Rp 2.000,- lah yang kita berikan untuk mereka. Ini berarti tarif rata-rata mereka kini adalah Rp 1.500,- atau tetap sekitar 1/1000 (1 per mil) Dinar.
Inilah fakta itu, bahwa tarif untuk Pak Ogah-pun secara otomatis menyesuaikan dengan inflasi uang fiat. Bila sejak akhir 80-an hingga kini tarif rata-rata Pak Ogah telah naik 15 kalinya (dari rata-rata Rp 100,- ke rata-rata Rp 1.500,-) dalam uang fiat Rupiah; dalam Dinar konversinya tetap kurang lebih setara 1/1000 (1 per mil) Dinar.
Apa makna angka-angka ini pada biaya hidup kita? Bukan hanya ongkos untuk Pak Ogah yang naik 15 kalinya sejak akhir 80-an hingga kini; tetapi seluruh biaya hidup kita sehari-hari kurang lebih mengalami kenaikan seperti ini.
Bila pengelolaan dana jangka panjang kita seperti dana pensiun, tunjangan hari tua, dlsb. tidak bisa tumbuh melebihi inflasi tersebut ? maka pastilah beban hidup akan terasa semakin berat pada saat kita pensiun. Generasi yang mulai bekerja di masa kejayaan ?Si Unyil? tersebut di atas, saat ini sudah banyak yang mulai memasuki usia pensiun ? beban berat dampak inflasi itu kini begitu nyata…!
Agar beban hidup tidak semakin berat ketika kita pensiun, berikut langkah-langkah yang bisa Anda rencanakan dan aplikasikan sedini mungkin.
Dan yang tidak kalah pentingnya sering-sering berdoa; antara lain dengan do?a yang ada di penggalan do?a khatam Al-Quran: ?Allahummaj?al khayra ?umry aakhirahu wa khayra ?amaly khawaatimahu wa khayra ayyaami yauma alqooka fiih? yang artinya , ?Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan yang terbaik dari hariku adalah hari ketika aku bertemu denganMu.?
Posted in Financial Plan
Posted on 21 June 2010. Tags: aset, Bank Indonesia, Dinar, emas, grafik, Gubernur, harga emas, harga terendah, harga tertinggi, investasi sektor riil, konversi uang, London, mata uang, New York, pakar emas, pasar emas, pelemahan Rupiah, penurunan daya beli, prediksi, Rupiah, Rupiah Perkasa, SEMU, Sidney, uang kertas, US$, US$ Index
Sudah beberapa pekan ini harga emas dunia berada di atas rekor-nya akhir tahun lalu di angka US$ 1,226/Oz; bahkan dalam perdagangan Jum?at lalu sempat diperdagangkan di atas US$ 1,260/Oz. Sampai pagi ini-pun ketika pasar Sidney mulai buka harga emas masih berada di sekitar angka rekor tertinggi tersebut.
Tidak ada yang mengejutkan dengan pencapaian rekor ini karena beberapa jam sebelum pasar London dibuka dan kemudian juga pasar New York Jum’at lalu, di situs ini juga sudah kita sajikan prediksi para pakar per-emasan dunia yang memang keseluruhannya memprediksi naik. Perbedannya hanya pada sampai berapa kenaikan ini terjadi, kapan terjadinya dan apa alasannya.
Ada hal yang tersirat dari pendapat para pakar tersebut tentang kenaikan harga emas yang mereka prediksi. Di masa-masa yang lalu ketika emas tinggi, biasanya dibarengi dengan US$ yang lemah. Contohnya lihat di grafik pada area yang saya beri shadow merah, lihat misalnya pada saat rekor tertinggi Maret 2008 ketika harga emas mencapai angka US$ 968/Oz ? saat itu US$ Index mencapai angka terendahnya di bawah 72.

Gold vs US$ Index
Sebaliknya lihat di area yang saya beri shadow kuning, harga emas tertinggi kali ini tidak terjadi pada saat US$ Index berada di angka terendah. US$ Index malah sebenarnya pada angka yang cukup tinggi yaitu diatas angka 85. Apa maknanya ini sebenarnya?
Walaupun US$ lagi masih perkasa dibandingkan dengan berbagai mata uang lainnya di dunia, dibandingkan emas daya belinya mencapai titik terendah. Artinya keperkasaan mata uang kertas ini (tidak hanya US$ tetapi juga seluruh mata uang kertas lainnya) adalah SEMU. Itulah sebabnya mengapa para ahli emas yang saya kutip pendapatnya tersebut, tidak ada satupun yang menggunakan faktor penguatan US$ akan mampu mengerem laju kenaikan harga emas dunia.
Bagaimana dengan Rupiah? Sampai saat ini Rupiah masih jauh lebih perkasa ketimbang US$ sekalipun. Bila harga emas dalam US$ per pagi ini (21/06) mengalami kenaikan sampai 34.8 % selama setahun terakhir, harga emas dalam Rupiah hanya mengalami kenaikan sebesar 16.81%! Karena keperkasaannya inilah maka harga emas dalam Rupiah belum memecahkan rekor tertingginya Februari tahun lalu di atas Rp 374,000/gram.
Mampukah Rupiah akan terus bertahan sebegitu perkasanya mengalahkan US$? Inilah masalahnya yang perlu diantisipasi. Pejabat Gubernur Bank Indonesia sendiri telah mengungkapkan kemungkinan melemahnya Rupiah tahun depan yang tinggal kurang lebih 6 bulan lagi.
Jadi mungkin kita tidak bisa berlama-lama menikmati keperkasaan Rupiah ini. Selagi dia perkasa ? ini adalah waktu yang baik untuk meng-konversi-kan uang Anda menjadi aset yang lebih tahan terhadap penurunan daya beli mata uang, seperti investasi sektor riil, menukarnya menjadi Dinar, dlsb. Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 03 June 2010. Tags: 10 tahun, 2011, aset, asumsi, Bank Indonesia, be Ready, Dinar, DPR, emas, grafik, harga emas, hasil jerih payah, investasi sektor riil, kinerja emas, pelemahan Rupiah, penghasilan, prediksi, proteksi nilai, Rupiah, Rupiah Perkasa, statistik, trend, US$
Dalam rapat kerjanya dengan DPR kemarin (02/06/2010), pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia menyampaikan bahwa ada kecenderungan Rupiah melemah di tahun depan. Diprediksi oleh BI, Rupiah akan berada dikisaran Rp 9.200 ? Rp 9.600 per US$. Apa artinya ini pada aset dan hasil kerja kita semua?
Kalau aset kita dan penghasilan kita hanya tumbuh dikisaran 5% per tahun, maka ini berarti melemahnya Rupiah tahun depan akan menghabiskan hampir keseluruhan pertumbuhan aset atau penghasilan kita.
Jadi dalam hal aset kita harus mengelolanya sedemikian rupa sehingga harus tumbuh di atas angka pelemahan Rupiah yang akan berkisar pada angka 5% tersebut di atas. Demikian pula dalam hal penghasilan, kita harus bekerja keras sehingga penghasilan kita bisa tumbuh di atas angka tersebut untuk sekedar mampu mempertahankan kesejahteraan yang ada.
Selain investasi sektor riil yang selalu kita dorong di situs ini, emas atau Dinar masih tetap akan menjadi proteksi unggulan untuk mempertahankan nilai aset tersebut di atas. Berdasarkan statistik pertumbuhan harga emas 10 tahun terakhir yang saya sajikan ulang dari tulisan saya kemarin, perhatikan garis titik-titik yang di-generated dari rata-rata pertumbuhan bulanan selama 10 tahun terakhir pada grafik di bawah.
Bila pertumbuhan harga emas mengikuti konsistensi statistik, maka akhir tahun ini harga emas dalam US$ insya Allah sudah akan menembus angka US$ 1,300. Bila hal yang terburuk sekalipun dari prediksi BI tersebut yang terjadi, yaitu Rupiah berada pada angka Rp 9,600/US$ – maka harga Dinar sudah akan berada di atas Rp 1.7 juta/Dinar. Artinya ketika Rupiah melemah di sekitar angka 5%, emas atau Dinar menguat sampai sekitar 9.7% – lebih dari cukup untuk meng-offset pelemahan Rupiah.
Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya yaitu Rupiah ternyata seperkasa sekarang atau tidak mengalami pelemahan? Dengan asumsi Rupiah pada angka sekarang, sekali lagi bila kinerja harga emas dunia mengikuti trend 10 tahun terakhir ? maka harga emas/Dinar dalam Rupiah insya Allah masih akan tumbuh sekitar 6% dari posisinya sekarang.
Prediksi BI bisa juga keliru, demikian pula prediksi saya. Hanya Allah-lah yang Maha Tahu, Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 24 May 2010. Tags: 1 Dinar, Alat Tukar, biaya sekolah anak, daya beli tetap, devaluasi, Dinar, emas, epicentrum, era ekonomi global, gempa finansial, Independently Based On Its Own Demand & Supply, Indonesia Stock Exchange, Inherent Intrinsic Value, instrumen investasi, Insurance Against Currency Devaluation, Insurance Against Inflation, investasi sektor riil, jangka pendek, kaidah investasi, kambing, kebijakan publik, krisis finansial, mata uang, mekanisme pasar, Optimal Security Against Geo-Political & Financial Market Instability, Perencanaan Haji, portfolio, Portfolio Diversifier & Stabilizer, Rasulullah SAW, renovasi rumah, Rupiah, saham, supply and demand, tabungan hari tua, Yunani
Dalam beberapa pekan terakhir ini kita benar-benar merasakan betapa terintegrasinya ekonomi dunia sekarang. Bahkan krisis di negara yang sangat jauh baik dari sisi geografis maupun dari sisi hubungan ekonomi-pun, dampaknya dapat kita rasakan sampai negeri ini. Rupiah bisa lunglai, saham-saham di Indonesia Stock Exchange ikut anjlog ? padahal pusat epicentrum gempa finansial dunia-nya ada nun jauh di Yunani sana.
Lantas dengan komponen apa kita bisa membangun ?bangunan tahan gempa finansial? kita? Agar rencana pendidikan anak-anak yang masih belasan tahun, rencana pergi haji 5 tahun mendatang, rencana renovasi rumah setiap 10 tahun, tabungan hari tua agar tetap mandiri sampai akhir hayat, dlsb. - tidak setiap saat terekspose risiko krisis finansial global.
Emas atau Dinar-lah salah satu batu bata yang kokoh untuk bangunan finansial Anda sebagai jawaban dari risiko tersebut di atas , yang insya Allah tahan gempa krisis finansial global dengan frequency kejadian dan severity yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Emas/Dinar memiliki 6 alasan yang tidak terbantahkan dan tidak dimiliki oleh instrumen investasi lainnya sebagai berikut:
1) Insurance Against Inflation
Harga kambing di zaman Rasulullah SAW 1 Dinar, sekarang-pun uang 1 Dinar tetap dapat untuk membeli kambing ukuran besar. Apakah ada uang lain di dunia yang terbukti stabil daya belinya (dengan average inflasi 0%) sepanjang lebih dari 1,400 tahun ??
2) Insurance Against Currency Devaluation
Negara-negara di dunia bila dalam posisi kepepet sering melakukan tindakan drastis men-devaluasi mata uangnya; bila ini terjadi, maka rakyat yang tidak siap selalu jadi korban. Emas atau Dinar adalah instrumen yang paling efektif dan praktis untuk cover risiko ini.
3) Optimal Security Against Geo-Political & Financial Market Instability
Ekonomi dan politik dunia saat ini seperti berada pada tanah yang labil, ?gempa? dalam skala besar bisa mulai dari krisis politik yang kemudian merambat ekonomi ? dan sebaliknya bisa berawal dari ekonomi kemudian merembet ke politik. Selagi ada tempat ?investasi? yang lebih stabil, mengapa tidak pilih tempat tersebut?
4) Independently Based On Its Own Demand & Supply
Harga emas atau Dinar tidak ditentukan oleh kebijakan politik atau ekonomi suatu Negara manapun; harga emas bagian terbesarnya adalah dihasilkan oleh mekanisme supply and demand di market. Banyak pihak berusaha mempermainkannya selama ini, namun mekanisme pasar tetap lebih dominan.
5) Inherent Intrinsic Value
Emas membawa nilainya sendiri (inherent), tidak bisa didevaluasi oleh kebijakan suatu negara. Tidak pernah pula dalam sejarah peradaban manusia emas kehilangan daya belinya.
6) Portfolio Diversifier & Stabilizer
Sebagus apapun emas/Dinar sebagai instrumen investasi, saya tetap tidak menyarankan Anda memindahkan seluruh investasi Anda ke emas/Dinar. Kaidah investasi jangan menaruh seluruh telur pada keranjang yang sama ? tetap berlaku; bukan karena risiko terhadap emasnya ? tetapi karena kebutuhan Anda yang bisa tiba-tiba berubah.
Jadi jadikan emas/Dinar sebagai salah satu saja dari portfolio Anda; selebihnya bisa investasi di sektor riil; dan untuk kebutuhan jangka pendek dimana Anda memerlukan Rupiah sebagai alat tukar ? kemungkinan besarnya Anda juga masih tetap memerlukan Rupiah ini sebagai bagian dari portfolio Anda.
Posted in Financial Plan
Posted on 18 May 2010. Tags: aset, benda riil, biaya kesehatan hari tua, biaya sekolah anak, China, daya beli tetap, debasement, Dinar, e-mail, emas, excess fund, fluktuasi, fundamental, GDP, grafik, haji, harga emas, harga tinggi, hasil jerih payah, hutang, investasi sektor riil, jangka menengah, jangka panjang, jangka pendek, jatuh, kampanye, keperluan riil, ketahanan ekonomi, ketahanan ekonomi keluarga, liability, mata uang, menabung, OECD, Organisation for Economic Co-operation and Development, pendorong naik turun, penurunan nilai, proteksi nilai, rumah, spekulasi, titik tertinggi, trend, uang kertas, waktu beli, waktu jual
Hal yang paling banyak ditanyakan oleh pembaca situs ini ke saya adalah pertanyaan seputar kapan waktu terbaik untuk membeli Dinar/Emas dan kapan waktu terbaik untuk menjualnya. Tulisan ini untuk memberi jawaban secara umum, agar jumlah e-mail yang saya harus jawab menurun
.
Untuk membeli emas atau Dinar dengan tujuan membangun ketahanan ekonomi jangka panjang, agar anak-anak bisa sekolah sampai tuntas, agar ketika tua kita tidak menjadi beban orang lain, agar aset yang merupakan hasil jerih payah kita tidak terus menurun nilainya dari waktu ? ke waktu; maka membeli emas untuk tujuan ini dapat dilakukan kapan saja.
Dalam rentang waktu jangka menengah/panjang, tidak ada istilah ketinggian untuk harga emas atau Dinar. Ketika harga Dinar pertama kali menyentuh nilai Rp 1,000,000/Dinar (emas di kisaran Rp 237,000/gram) sekitar 2.5 tahun lalu ? tepatnya tanggal 27 Oktober 2007; saat itu banyak yang berpendapat harga Dinar sudah ketinggian ? lalu sementara permintaan Dinar menurun.
Ironinya ketika 13 bulan kemudian (27/11/2008) harga Dinar menyentuh angka Rp 1,400,000/Dinar (emas di kisaran Rp 325,000/gram), permintaan Dinar justru mencapai titik tertingginya. Kemudian 3 bulan berikutnya lagi (19/02/2009) ketika angka menyentuh Rp 1,600,000/ Dinar (emas di kisaran Rp 373,000/gram), kembali permintaan Dinar mencapai titik tertinggi berikutnya.
Dari fakta-fakta di atas, Anda akan mudah memahami bahwa bila Anda menabung untuk tujuan proteksi nilai atau membangun ketahanan ekonomi dalam jangka panjang ? maka tidak ada waktu yang salah untuk memindahkan aset Anda dari aset yang berpeluang mengalami debasement (penurunan nilai) yaitu uang kertas ke aset yang terbukti memiliki daya beli stabil sepanjang zaman yaitu emas atau Dinar.
Apakah trend yang terjadi seperti yang ditunjukkan oleh angka-angka tersebut di atas akan terus berlangsung? dan harga emas/Dinar yang sekarang dianggap sudah benar-benar ketinggian oleh sebagian orang ? akhirnya akan turun juga?
Dalam jangka pendek iya, bisa jadi harga emas/Dinar akan turun. Namun sekali lagi dalam jangka panjangnya ? lebih banyak faktor fundamental yang mendorongnya naik ketimbang turun. Salah satu faktor yang sangat dominan adalah realitas bahwa uang kertas dunia saat ini dibangun dengan hutang ? ketika hutang menumpuk dan tidak ada lagi yang bisa/mau memberi hutangan baru ? sedangkan hutang lama harus dibayar ? maka pasti uang kertas jatuh nilainya.
Grafik di atas adalah prediksi OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk negara-negara yang konon paling kuat ekonominya. Rata-rata negara anggota OECD ternyata akan memiliki hutang (liabilities) yang melebihi GDP-nya tahun depan (2011). Dari grafik di atas, dapat kita ambil kesimpulan sederhana bahwa seluruh mata uang negara-negara anggota OECD akan turun significant (mengalami debasement) dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama ? kecuali China. Ketika nilai uang kertas jatuh, apa yang terjadi dengan harga emas dan benda riil lainnya? Sederhana, harga emas dan benda riil lainnya akan melambung!
Untuk sementara China berkemungkinan bisa bertahan paling lama dalam hal kekuatan mata uangnya. China juga merupakan negara yang sangat pintar dalam mendorong rakyatnya membangun ketahanan ekonomi ? dengan menganjurkan langsung dan mempermudah rakyatnya membeli emas ? mumpung ekonomi mereka kuat dan uang mereka lagi perkasa.
Jadi kalau kita mau belajar sampai ke negeri China termasuk dalam hal ketahanan ekonomi ini, maka insya Allah tidak ada waktu yang salah untuk membeli emas atau Dinar.
Membeli emas/Dinar hanya akan salah bila tujuannya untuk spekulasi jangka pendek. Karena dalam jangka pendek harga emas akan terus bergejolak ? sehingga sangat mungkin Anda merugi karena fluktuasi ini.
Lantas kapan waktu menjualnya yang terbaik? Yang terbaik adalah ketika Anda membutuhkannya untuk keperluan riil seperti membayar sekolah, pergi haji, membayar rumah, membayar biaya kesehatan, memindahkan ke investasi sektor riil, dlsb. Anda tidak akan pernah menyesal mencairkan emas atau Dinar Anda untuk keperluan-keperluan yang riil tersebut.
Sebaliknya bila Anda menjual emas/Dinar hanya karena tertarik harga lagi tinggi ? maka sangat mungkin Anda bisa menyesal karena angka tertinggi saat ini ? bisa saja menjadi kelihatan sangat rendah hanya dalam belasan bulan ke depan seperti contoh angka-angka tersebut di atas.
Ringkasnya adalah membeli emas/Dinar yang terbaik adalah pada saat Anda memiliki excess fund untuk keperluan jangka panjang; dan menjualnya terbaik adalah ketika Anda membutuhkannya untuk menutup kebutuhan yang riil.
Sebaliknya membeli emas/Dinar untuk tujuan spekulasi jangka pendek selalu berpeluang untuk rugi karena fluktuasi jangka pendek; dan demikian pula menjual emas/Dinar hanya karena melihat harga tinggi sesaat ? juga bisa menyesal ? karena rekor-rekor tertinggi harga emas akan terus bermunculan sejalan dengan debasement mata uang kertas. Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 31 March 2010. Tags: Al-Qur'an, Allah, beredar, biaya kesehatan, biaya sekolah anak, BMT Daarul Muttaqiin, Cibubur, dana pensiun, Dinar, Dinar House, Dullatan, emas, entrepreneur, Gerakan Dinar, hukum, infaq, investasi sektor riil, Jangan Menimbun, kemiskinan, ketahanan ekonomi, komoditi, maqasid syariah, menciptakan lapangan kerja, menjaga harta, menyimpan, orang kaya, Palestina, pengangguran, pengelolaan harta, perak, pesantren wirausaha, produktif, Qowiyyun Amin, Rupiah, Solusi Pembiayaan, surat At-Taubah, surat Yusuf, syariah, uang kertas, Yahudi, Yaknizun, Yuhsinun
Setidaknya saya menemukan 3 istilah yang terkait dengan pengelolaan harta di Al-Qur?an yang berbeda hukumnya satu sama lain. Istilah pertama adalah Yaknizun yang artinya “menimbun” di ayat berikut:
?? Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih?? (QS. At-Taubah (9): 34)
Istilah ke-2 Yuhsinun (di Al-Qur?an Tuhsinun karena untuk orang kedua) yang artinya “menyimpan” dalam konteks ketahanan ekonomi dalam ayat berikut:
?Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.? (QS. Yusuf (12): 47-48)
Dan yang ke-3 Dullatan yang artinya “beredar” di ayat berikut:
?? supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…? (QS. Al-Hasyr (59): 7)
Harta kita dalam bentuk apapun apakah uang kertas Rupiah, barang dagangan/komoditi, emas atau Dinar dan lain sebagainya bila tidak hati-hati mengelolanya bisa jatuh ke kelompok pertama (Yaknizun) yang diancam siksa yang pedih.
Sebagian kecil atau secukupnya, harta kita bisa saja kita simpan misalnya untuk kebutuhan anak-anak sekolah sekian tahun yang akan datang, untuk biaya kesehatan dan keperluan kita ketika mencapai usia lanjut/pensiun ? maka yang ini insya Allah masuk kategori boleh (Yuhsinun) karena ini bagian dari membangun ketahanan ekonomi ? agar kita tidak tergantung pada orang lain ketika tidak lagi produktif dan agar kita dapat meninggalkan generasi yang kuat. Kuncinya adalah secukupnya sesuai perkiraan kebutuhan kita dan tidak berlebihan ? insya Allah diri kita yang tahu kewajaran kebutuhan ini.
Yang tidak ada batasannya adalah harta kita yang kita gunakan di jalan Allah; harta yang berputar (Dullatan) tidak hanya di golongan orang kaya saja.
Lantas bagaimana kita memanfaatkan agar harta kita masuk kategori berputar di jalan Allah di zaman modern ini?
Banyak sekali pintu amal yang insya Allah bisa kita lakukan untuk memutar harta di jalan Allah ini. Pertama jelas kalau kita infaqkan untuk berbagai kegiatan seperti menyantuni anak yatim, membangun sekolah, membangun daerah korban bencana, membantu saudara-saudara kita di Palestina yang terdholimi oleh rezim Yahudi, dlsb.
Di luar konteks infaq yang jelas tersebut di atas, saat ini juga banyak sekali peluang untuk memutar harta Anda sehingga ??tidak hanya berputar di golongan yang kaya?. Dengan apa? Dengan menginvestasikannya di sektor riil dan menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya.
Harta yang dipakai untuk keperluan terakhir ini insya Allah juga bisa menjadi bagian dari penegakan syariah di negeri ini. Kok bisa? Problem terbesar di negeri ini adalah problem kemiskinan yang timbul dari banyaknya pengangguran. Sedangkan tujuan syariah (maqasid syariah) adalah menjaga iman, menjaga jiwa, menjaga kehormatan, menjaga pikiran dan menjaga harta.
Ketika begitu banyak orang miskin di negeri ini ? karena tidak terjaganya harta, maka dampak berikutnya adalah hilangnya kehormatan. Ratusan ribu wanita-wanita kita yang harus bekerja di luar negeri dan sebagian harus kehilangan kehormatannya bahkan ada juga yang harus kehilangan jiwanya ? maka ini juga bagian dari tidak terciptanya lapangan kerja yang cukup di dalam negeri.
Di dalam negeri-pun, bukan cerita baru kalau banyak orang-orang yang semula Islam harus kehilangan Imannya karena kemiskinan, karena tidak bisa membayar biaya kesehatan, karena tidak bisa menyekolahkan anaknya, dlsb.
Harta Anda insya Allah bisa berperan dalam menciptakan lapangan kerja untuk mengatasi masalah kemiskinan ini. Itulah sebabnya program Gerakan Dinar yang kita canangkan-pun tidak hanya mendorong orang untuk membeli dan menyimpan Dinarnya; tetapi kita juga dorong untuk digunakan dalam menggerakkan sektor produktif.
Lantas bagaimana kalau Anda tidak terbiasa untuk berusaha? Maka program untuk melatih Anda hingga menjadi entrepreneur yang Qowiyyun Amin (kuat/professional lagi sangat bisa dipercaya) ? pun kita sediakan dalam program Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin yang kini sudah mencapai angkatan ke-8.
Dalam waktu dekat, hasil kerjasama kami dengan Koperasi BMT Daarul Muttaqiin insya Allah juga akan segera meresmikan beroperasinya Dinar House di Cibubur ? yang insya Allah menjadi Pusat Solusi Pembiayaan Usaha berbasis Dinar yang terbuka bagi siapapun untuk datang dan berdiskusi mencari solusi dengan team ahli kami disana.
Dengan berbagai program tersebut di atas, insya Allah kita bisa menjauh dari perilaku menimbun atau Yaknizun. Kita akan bisa membangun ketahanan ekonomi atau Yuhsinun untuk keluarga masing-masing, dan lebih jauh lagi kita-pun insya Allah akan dapat memutar harta (Dullatan) untuk mengentaskan kemiskinan, menjaga kehormatan sampai menjaga iman yang merupakan rangkaian tujuan syariah atau maqasid syariah ini.
Semoga Allah meridloi langkah-langkah kita dan memudahkan kita ke amalan yang diridloiNya. Amin.
Posted in Islamic View
Posted on 14 March 2010. Tags: 1 Dinar, aset, barter modern, beban hidup, benda riil, beras Jepang, daya beli tetap, Dinar, dunia modern, emas, fitrah, fulus, gelombang sinus, grafik, harga barang & jasa, harga beras, harga naik, hyper inflasi, Ibnu Taimiyyah, Ilmu Ekonomi, IndoBarter Project, inflasi, International Rice Research Institute, investasi sektor riil, IRRI, Islam, kambing, kaya, kebutuhan transaksi, kemakmuran, korban, mata uang, mekanisme pasar, mencetak uang, Milton Friedman, miskin, otoritas moneter, pemerintah, penggerak sektor riil, pensiun, penurunan daya beli, perputaran uang, pertukaran barang, pesantren wirausaha, rakyat, rumah tangga, Rupiah, sistem ekonomi barat, statistik, supply and demand, supply uang, Teori Monetarist, US$
Dalam Ilmu Ekonomi, yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan harga-harga terhadap barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Menurut para penganut Teori Monetarist, penyebab utama inflasi ini adalah supply uang. Bahkan dalam pandangan Monetarist Economist terkenal Milton Friedman “Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon.”
Dalam sistem ekonomi barat ada yang berpendapat bahwa inflasi ini ada positifnya karena antara lain berguna untuk mendorong investasi sektor riil. Ketika inflasi tinggi orang cenderung untuk tidak mempertahankan assetnya dalam bentuk uang ? tetapi dalam bentuk barang, kebutuhan akan barang inilah yang mengangkat produksi dan memutar ekonomi.
Dalam Islam, produksi sektor riil tidak didorong oleh inflasi tetapi oleh putaran uang yang lebih cepat. Kekayaan bukan untuk ditimbun tetapi berputar ke masyarakat luas ? berputar tidak hanya pada yang kaya tetapi juga pada yang miskin. Dalam pandangan Ibnu Taimiyyah, pemerintah yang mencetak fulus melebihi kebutuhan transaksi ? dus menyebabkan inflasi ? adalah pemerintah yang mendhalimi rakyatnya.
Pandangan Ibnu Taimiyyah inilah yang sebenarnya lebih pas untuk manusia modern di zaman ini sekalipun. Pemerintah-pemerintah dunia akan mampu menjaga kemakmuran rakyatnya bila mereka bisa menurunkan atau bahkan menghilangkan inflasi ? kalau saja mereka mau!
Contoh betapa inflasi menyengsarakan rakyat seluruh dunia dapat Anda lihat pada grafik di samping. Grafik yang saya buat berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Rice Research Institute (IRRI) ini menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir saja, harga beras di dunia telah mengalami kenaikan rata-rata hampir 2X lipat. Padahal sangat sedikit porsi penduduk dunia yang bisa meningkatkan penghasilannya 2X lipat dalam periode tersebut.
Artinya, rata-rata penduduk dunia menurun tingkat kemakmurannya ? karena penurunan daya beli uangnya ini. Hal ini juga bisa kita rasakan di rumah tangga kita masing-masing. Bisa saja penghasilan kita meningkat dari tahun ke tahun, tetapi kok beban hidup tidak terasa lebih ringan ya?? Bila Anda merasakan hal yang sama ? sangat bisa jadi ini karena kenaikan penghasilan Anda kalah cepat dengan inflasi terhadap harga-harga kebutuhan pokok Anda.
Yang bisa mengendalikan inflasi ini adalah pemerintah khususnya otoritas moneter; rakyat seperti kita tidak bisa mengendalikan inflasi ini. Meskipun demikian, sebenarnya ada yang bisa dilakukan oleh rakyat seperti kita-kita untuk tidak menjadi korban inflasi ini. Dengan apa kita dapat melakukan ?perlawanan? terhadap inflasi ini?
Dengan meminimise penggunaan uang yang menjadi penyebab inflasi tersebut. Menurut para penganut paham Monetarist di atas, inflasi kan disebabkan oleh supply uang ? ya jangan taruh kekayaan Anda yang kegunaannya bersifat jangka panjang dalam bentuk uang. Bila Mayoritas kekayaan Anda tersimpan dalam nominal mata uang (Rupiah, US$, dlsb), maka daya beli kekayaan Anda tersebut akan terus menurun bersamaan dengan waktu. Bila dalam 5 tahun terakhir saja harga beras internasional rata-rata naik 2X, berarti daya beli uang Anda terhadap beras turun tinggal ½-nya ? maka bisa Anda bayangkan bila 15 tahun dari sekarang Anda pensiun misalnya ? maka saat itu daya beli asset Anda bisa jadi sangat tidak memadai untuk kehidupan saat itu.
Dalam situasi inflasi yang sangat tinggi sekalipun (hyper inflasi), harga barang-barang naik relatif bersamaan ? maka nilai tukar benda riil yang satu relatif stabil terhadap benda riil yang lain. Artinya bila asset Anda berupa benda riil yang tidak aus atau rusak, maka daya beli asset Anda tersebut insya Allah akan relatif stabil. Salah satu benda riil yang tidak aus/rusak, sangat likuid dan statitisk daya belinya terbukti sepanjang zaman adalah Emas atau Dinar.
Emas atau Dinar terbukti memiliki daya beli relatif stabil sepanjang lebih dari 1, 400 tahun; bukan hanya dengan 1 Dinar tetap dapat membeli 1 ekor kambing sejak zaman Nabi ? sampai sekarang; untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras pun insya Allah relatif stabil. Bila data dari IRRI tersebut saya sajikan kembali dalam nilai emas; maka Anda akan bisa lihat pada grafik di samping bahwa harga beras rata-rata berfluktuasi di sekitar 0.7 oz emas/ton beras. Ada yang di kisaran 1 oz emas/ton beras, namun ada juga yang di 0.5 oz emas/ton beras.
Perbedaan harga karena jenis/kwalitas ini wajar, karena di barang apapun termasuk di kambing pun juga demikian. Kambing-kambing yang kami pelihara di Pesantren Daarul Muttaqiin untuk indukan rata-rata 2 Dinar, bahkan pejantan unggul bisa berharga di atas 10 Dinar. Tetapi secara umum di pasar 1 Dinar akan tetap dapat untuk membeli kambing yang cukup baik.
Demikian pula di beras; ada beras Jepang yang sangat mahal, tetapi dengan 0.7 Oz emas atau sekitar 5 Dinar Anda tetap dapat membeli beras 1 ton di sepanjang masa. Masih ada satu lagi, dalam 5 tahun terakhir setelah ditimbang/dinilai dengan emas-pun harga beras tidak menjadi datar ? tetapi bergelombang membentuk gelombang sinus; inilah dampak dari naik turunnya harga yang fitrah karena mekanisme pasar supply and demand ? bukan lagi faktor inflasi.
Karena inflasi bisa dilawan dengan pertukaran barang yang satu dengan yang lain tanpa menggunakan uang; maka inilah yang melatar belakangi bangsa-bangsa di dunia sedang berlomba menciptakan Sistem Barter Modern ? seperti juga yang sedang kita kaji dalam IndoBarter Project. Tidak akan mudah memang, tetapi untuk sesuatu problem yang tidak pernah bisa diatasi oleh pemerintah-pemerintah dunia ? yaitu problem inflasi; maka hal yang sulit tersebut cukup menantang untuk dicoba ? Insya Allah.
Posted in Financial Plan