Tag Archive | "industri perkambingan"

Sawu Sufufakum: Membangun Business Ecosystem Untuk Ekonomi Umat


Bagi yang rajin shalat jamaah 5 waktu, 5 kali sehari kita mendengar ucapan sawu sufufakumdari para imam yang memimpin shalat. Tuntunan ucapan ini berasal dari hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: ?Luruskan (samakanlah) shaf-shaf kalian (beliau mengulangi 3 kali), maka demi Allah  hendaklah kalian meluruskan shaf kalian atau sungguh Allah akan menyelisihkan di antara hati-hati kalian.? (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud). Jadi 5 kali sehari kita diingatkan untuk merapatkan barisan, bahkan Allah-pun menyukai rapatnya barisan ini seperti dalam ayat ?Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti bangunan yang tersusun kokoh?  (QS As-Shaf [61]: 4).

Maka seandainya saja umat ini, dapat mengimplementasikan rapatnya barisan shalat ini kedalam kehidupan sehari-hari ? pastilah umat ini unggul di segala bidang seperti yang dijanjikan pula oleh Allah dalam ayat ?Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman? (QS Al-?Imran [3]: 139).

Ketika rapatnya barisan ini diimplementasikan dalam lingkungan usaha yang kemudian dikenal dengan istilah Business Ecosystem ? pun menjadikan business tersebut unggul ? meskipun yang menerapkan bukan orang yang beriman. Menurut penggagas teori Business Ecosystem ini – James F. Moore ? kekuatan business-business besar dunia terletak pada kokohnya Business Ecosystem yang berhasil dibangunnya.

James F. Moore

James F. Moore

Teorinya yang memenangkan McKinsey Award ini menjelaskan Business Ecosystem sebagai berikut: ?Komunitas ekonomi yang didukung oleh organisasi-organisasi dan individu-individu yang saling berinteraksi – mereka adalah organism (makhluk hidup) dalam dunia business. Organism ini terdiri dari suppliers, producers, competitors dan semua stakeholders. Dari waktu ke waktu mereka ber-evolusi  dalam peran dan kemampuan. Mereka merapat dalam barisannya masing-masing dengan dipimpin oleh satu atau lebih perusahaan inti. Perusahaan inti ini bisa saja berganti peran dari waktu ke waktu, kepemimpinan dari ecosystem ini  ditentukan oleh kemampuannya menggerakkan organism-organism di dalamnya, berbagi visi, merapatkan investasi dan memfasilitasi peran yang saling menunjang?.

Besarnya raksasa-raksasa usaha seperti Microsoft, Cysco dan lain sebagainya menurut Moore adalah karena mereka berhasil membangun ecosystem ini. Ecosystem mereka ini terdiri dari ribuan organism berupa suppliers, marketers, manufacturers, installers, dlsb yang saling ?menghidupi? satu sama lain.

Nah, bila teori ?rapatnya barisan? ini sukses diterapkan oleh orang-orang yang tidak pernah shalat, seharusnya umat ini dapat lebih unggul dari mereka karena kita setiap hari belajar merapatkan barisan ini 5 kali. Maka tidak seharusnya negeri yang mayoritas penduduknya rajin belajar merapatkan barisan ini menjadi negeri yang rata-rata penduduknya miskin.

Lantas bagaimana kita memulai membangun ecosystem kita sendiri yang sesungguhnya diambil dari nilai-nilai shalat berjamaah ini? Kita bisa mulai dari diri kita sendiri, mulai dari yang kita bisa. Kemudian dari yang kita bisa tersebut, kita tempatkan diri kita dalam barisan jamaah yang sesuai ? bisa sebagai imam maupun sebagai makmum. Sebagai imam harus memiliki visi yang jelas kemana ?jamaah? (business ecosystem) akan dibawa, sebagai makmum kita merapat di barisan dan mengisi shaf-shaf yang masih kosong. Imam selalu bisa salah/batal dan bisa diganti, makmum yang dibelakangnya harus mampu setiap saat menggantikan imam bila perlu.

Contoh aplikasinya yang sangat kecil tetapi sedang membangun ecosystem adalah situs ini. Awalnya adalah hanya ada Gerai Dinar yang menyebar-luaskan Dinar emas secara fisik maupun know how yang menunjangnya. Kemudian merapat di belakangnya puluhan agen yang rata-rata capable menggantikan peran kami kapan saja bila diperlukan.

Karena Dinar tidak untuk ditimbun, tetapi harus mampu menggerakkan ekonomi ? maka muncullah institusi keuangan BMT ? Daarul Muttaqiin (DM) dan jaringan-jaringan BMT/Koperasi lain yang bekerjasama dengannya. Kemudian karena kami dan DM membutuhkan mitra-mitra usaha yang professional dan terpercaya - Qowiyyun Amin ? maka lahirlah Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM).

Melalui program-program PWDM inilah kemudian Business Ecosystem yang lebih besar mulai ter-visi-kan. Dari berbagai angkatan (sekarang sudah 12 angkatan) kini telah lahir embrio-embrio dari industri perkambingan nasionalindustri jamurindustri makanan berbasis kambingindustri makanan bekuindustri composite materials dan insya Allah berbagai industri lain ke depan.

Selain masing-masing industri tersebut saling terkait dan saling membutuhkan layaknya sebuah ecosystem atau shaf dalam shalat, berbagai institusi lain kini tengah mulai bergabung ? mengisi shaf-shaf yang sebelumnya kosong. Ada beberapa perguruan tinggi negeri ternama yang kini mengolah pakan ternak untuk industri kambing kami, perguruan tinggi lain membuatkan pabrik pengolahan susu, ada pemain industri pangan besar yang siap mendukung project Planet Beku, ada perusahaan pembuat tas yang siap melengkapinya dengan tas khusus makanan beku, dlsb.

Sejauh ini memang baru beberapa ratus tenaga kerja yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam berbagai project tersebut. Namun di depan mata insya Allah kami juga siap membesarkan ecosystem ini menjadi ecosystem yang menampung ribuan atau puluhan ribu organism yang hidup di dalamnya baik dari kategori institusi atau individu. Bagaimana caranya?

Salah satu program kami sate kambing masuk mal ? urusan pemasarannya sudah ditampung oleh team yang dikepalai oleh seorang Doktor ekonomi dari institusi kenamaan. Mereka sanggup memasarkan 200 ekor kambing potong setiap hari, atau 6,000 ekor setiap bulan dan 72,000 setiap tahun. Bila rata-rata petani kambing bisa memelihara 12 ekor kambing setahun  dan menjualnya 1 ekor setiap bulan; maka pengadaan kambing potong tersebut bisa menciptakan 6,000 lapangan pekerjaan bagi peternak kambing.

Shalat Berjamaah: Lurus & Rapat

Shalat Berjamaah: Shaf Lurus & Rapat

Lantas project composites untuk membangun rumah dari Gedebog Pisang yang juga sangat banyak diresponse positif oleh pembaca; project percontohannya akan segera dimulai. Bahkan untuk pertama kalinya Rumah Gedebog yang akan kami bangun bukanlah rumah kita-kita, tetapi rumahnya Allah alias sebuah Masjid di Jonggol. Pembuatan mesin untuk mengolah gedebog menjadi bahan bangunan yang kokoh kini telah mulai, design masjid-nya pun insya Allah rampung dalam beberapa pekan ke depan.

Bersamaan dengan dimulainya pembangunan Masjid dari Gedebog Pisang inilah, insya Allah business ecosystem yang kita bangun bersama tersebut akan semakin membengkak ukurannya. Ribuan ibu-ibu di desa akan dapat segera mengolah Gedebog Pisang menjadi anyaman-anyaman yang kemudian kita beli untuk bahan baku industri composites tersebut di atas. Bahkan kalau mau, Anda sekarang sudah dapat mulai menanam pisang atau mengajak orang lain menanam pisang. Buahnya Anda jual ke pasar seperti biasa, Gedebog Pisangnya Anda olah menjadi anyaman ? kemudian Anda jual ke kami.

Bila tadinya kita hanya shalat di mushalla yang kecil dengan beberapa puluh jamaah (agen Dinar awalnya), saat ini kita sedang siap-siap shalat hari raya di lapangan yang akan melibatkan ribuan atau bahkan puluhan ribu jamaah. Tentu saja selain imam harus tahu betul kemana arah kiblat dan jamaah-jamaah pinter yang siap menggantikan imam kapan saja bila dibutuhkan, kita juga butuh jamaah umum yang tertib dan mau merapatkan barisan ? mengisi shaf-shaf yang masih kosong di depan… Sawu Sufufakum…! Allahu Akbar!!!

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Memenangi Peperangan Tidak Harus Melalui Pertempuran


Dalam dunia militer, pertempuran (battle) dibedakan dengan peperangan (war). War dapat terdiri dari sejumlah battle. Dalam suatu peperangan, bisa saja salah satu pihak memenangi sebagian besar battle tetapi kalah dalam war ? seperti yang dialami tentara Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Tetapi bisa juga suatu pihak kalah dalam ?battle? tetapi secara keseluruhan menang dalam war, seperti yang dialami Hamas di Jalur Gaza melawan serangan Israel tahun lalu. Begitu banyak bangunan rumah, sekolah dan masjid-masjid dihancurkan zionis Israel ? tetapi setelah pertempuran usai Hamas dan puluhan ribu simpatisannya merayakan dan mensyukuri kemenangannya secara besar-besaran di Damaskus ? sejak saat itu dunia lebih memahami dan mendukung perjuangan mereka, dunia menjadi paham bahwa Israel-lah teroris yang sesungguhnya.

Para pelaku dunia usaha khususnya di bidang pemasarannya, sering mengibaratkan apa yang mereka lakukan adalah seperti berperang dengan para pesaingnya. Sayangnya sebagian mereka (bahkan perusahaan besar sekalipun), sering tidak bisa membedakan mana yang battle dan mana yang war. Akibatnya seperti yang saya tulis dalam ilustrasi ?Uang Kertas & Tukang Cukur?, mereka bertempur habis-habisan sampai tidak ada pihak yang bisa meng-klaim memenangi peperangannya.

Di sisi lain, banyak sekali juga usaha-usaha yang bisa melenggang maju memenangi ?peperangan? tanpa harus melalui ?pertempuran? yang berdarah-darah. Usaha semacam ini adalah usaha-usaha yang bisa menemukan blue ocean-nya sendiri, sehingga persaingan menjadi irrelevant untuk mereka ini ? mereka tidak perlu ?bertempur? untuk dapat memenangkan ?perang?-nya sendiri (memajukan usahanya).
Bagaimana kita bisa memenangi ?peperangan? dalam usaha ini tanpa harus melalui ?pertempuran? yang menghabiskan resources kita? Berikut adalah 5 Strategy ?perang? tanpa ?bertempur? yang umumnya efektif dalam dunia usaha:

1) Create Differentiation atau buat produk barang atau jasa Anda berbeda dengan produk barang atau jasa yang ada di pasar. Ketika kami memperkenalkan Dinar misalnya, kami tidak merasa perlu bersaing dengan penyedia Dinar yang lain maupun bersaing dengan toko emas ? dengan melihat/membaca situs inipun Anda sudah akan merasakan perbedaan itu.

2) Focus On The Moment of Truth, yaitu menghadirkan produk barang atau jasa kita pada saat customer mengambil keputusannya untuk membeli/memanfaatkan produk barang atau jasa tersebut. Bagi kami misalnya moment of truth ini adalah Anda bisa membeli ribuan Dinar atau mencairkan kembali kapan saja Anda mau- dengan harga yang transparant setiap saat tersaji di situs ini secara real time.

3) Good, Better and Best yaitu menghadirkan pilihan yang semuanya baik bagi pasar Anda. Dalam hal Dinar ini adalah ketika Anda mengalihkan uang Anda ke Dinar yang aman terhadap inflasi dan daya belinya stabil sepanjang zaman ? ini adalah hal yang baik (Good); ketika Anda bisa menjualnya kembali bahkan dengan harga yang hanya 1% – 2% di bawah harga jual Dinar Islam melalui transaksi antar pengguna yang sering diiklankan di situs ini ? maka inilah hal yang lebih baik (Better). Ketika Anda bisa membelanjakan Dinar Anda untuk transaksi modal ke sektor riil secara mudah ? seperti yang kami fasilitasi dengan transaksi Mudharabah Muqayyadah di industri perkambingan misalnya ? maka inilah yang terbaik (best).

4) Value Proposition yaitu apa manfaat yang dirasakan oleh customer kita dari produk barang atau jasa tersebut; bagi kami value proposition ini kami ungkapkan dengan bahasa sederhana ?Islamic Investment & Wealth Protection?; Ketika Anda berinvestasi di stock, deposito, reksadana, dlsb; Anda hanya berinvestasi ? angka investasi Anda bisa saja terus meningkat ? tetapi ketika nilai Rupiah jatuh misalnya ? maka tidak ada artinya angka besar tersebut, atau dengan kata lain nilai investasi Anda TIDAK terproteksi. Sebaliknya di Dinar, selain nilainya terapresiasi terus menerus ? paling tidak selama dekade terakhir yang Anda dapat saksikan data real time 10 tahunan di situs ini, nilai ini justru akan melonjak ketika Rupiah turun daya belinya. Inilah fungsi “Wealth Protection” itu.

5) Plan, Do, Measure and Adjust; semua hal tersebut tidak ada gunanya apabila tidak diimplementasikan. Dinar beserta implementasinya sampai transaksi riil (Best) di pasar tidak ada manfaatnya kecuali benar-benar diterapkan. Ekonomi berbasis Dinar (Dinarnomics) bukan hanya wacana, tetapi adalah hal riil yang mulai ada di masyarakat. Tentu akan memerlukan penyempurnaan terus menerus, itulah sebabnya kita terus melakukan kajian-kajian (measure) dan penyesuaian (adjust) di lapangan.

Semoga Allah memudahkan jalanNya bagi kita semua untuk terus beramal shalih yang diridloiNya. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Bila Dana Umat Bisa Digerakkan Secara Efektif


Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda menjadi wilayah Indonesia, termasuk bagian barat dari Pulau Papua. Namun demikian, pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Mengapa Belanda ngotot dengan wilayah ini? Ternyata tidak masuk dalam buku-buku sejarah, bahwa sejak tahun 1936 sebenarnya Belanda sudah tahu bahwa di wilayah tersebut terdapat salah satu cadangan tembaga dan emas terbesar di dunia.

Melalui ahli geologinya yang bernama Jean-Jacques Dozy, temuan cadangan tersebut bahkan dilaporkan dan diumumkan secara resmi pada tahun 1939 ? 6 tahun sebelum Soekarno-Hatta memimpin negeri ini untuk pertama kalinya.

Setelah melewati berbagai pertempuran, akhirnya wilayah barat Pulau Papua ? yang kemudian kita kenal dengan Irian Barat dan belakangan Irian Jaya – diserahkan ke Indonesia dalam perundingan tanggal 15 Agustus 1962 di markas besar PBB ? New York. Tangan-tangan Amerika nampak jelas ikut terlibat dalam proses ini, lagi-lagi mengapa? Kembali ke alasan semula yang kurang lebih sama dengan alasan Belanda mempertahankan wilayah tersebut ? yaitu adanya cadangan tembaga dan emas nan sangat besar tersebut.

Freeport-McMoranTidak heran kemudian yang berhasil mengolah kekayaan alam tersebut hingga kini adalah salah satu perusahaan yang paling profitable di dunia asal Amerika yang bernama Freeport McMoran. Di situs resmi perusahaan inipun mereka mengakui bahwa ?Our Grasberg mining complex is one of the world?s largest single producers of both copper and gold, and contains the largest recoverable reserves of copper and the largest single gold reserve in the world…?.

Seandainya toh, penyerahan Irian Barat ke tangan Indonesia saat itu tidak diembel-embeli dengan deal apapun ? untuk penyerahan pengolahan cadangan tembaga dan emas ini ke mereka misalnya ? mampukah Indonesia mengolah sumber daya ini sendirian di kala itu? Mungkin tidak juga, karena ukuran dana yang dibutuhkan untuk membuat jalan-jalan di puncak gunung, menerobos gunung dan berbagai pekerjaan raksasa lainnya ? kemungkinan besarnya tidak mampu didanai negeri ini sendiri saat itu. Apa lagi perlu diingat tahun 60-an Indonesia lagi miskin-miskinnya dengan cadangan emas kita di BI sempat tinggal 1.5 ton.

Di sinilah kapitalisme mulai masuk ?mengolah? hampir seluruh sumber-sumber kekayaan penting negeri ini. Tembaga, emas, nikel, minyak, gas, panas bumi…dan entah kekayaan apalagi yang kita tidak mampu mendanai pengelolaannya sendiri. Karena mereka ? investor asing – yang mendanainya, maka mereka pula yang paling menikmati keuntungan terbesarnya.

Belakangan memang ada segelintir pengusaha Indonesia yang juga ikut mendanai project-project raksasa ini, lagi-lagi hanya segelintir ini pula yang akhirnya ikut menikmati. Mayoritas rakyat tetap tidak bisa ikut menikmati kekayaan negeri ini.

Lantas apa solusinya secara syariah agar kita bisa mengatasi masalah kebutuhan kapital untuk mendanai proyek-proyek raksasa ini? Islam tidak mendorong harta terpusat pada segelintir orang yang sangat kaya, meskipun keberadaan orang yang sangat kaya ini juga tidak dilarang di Islam ? bahkan salah satu sahabat yang dijamin masuk surga adalah orang terkaya di zamannya yaitu Abdul Rahman Bin ?Auf.

Namun karena kita kesulitan mencari figure seperti Abdul Rahman Bin ?Auf di zaman ini ? yaitu figure konglomerat yang mendedikasikan hartanya untuk perjuangan umat, maka sebenarnya ada jalan bagi orang-orang kecil seperti kita-kita untuk terlibat dalam investasi raksasa nan Islami untuk kepentingan umat ini.

Bila tambang-tambang tembaga, emas, minyak, gas, panas bumi dan lain sebagainya sudah terlanjur dikuasai kapital-kapital raksasa dunia; bukankah masih berjibun kekayaan negeri ini yang belum terolah dengan baik ? yang masih menjadi peluang kita bila kita mau! Negeri yang terkaya di dunia dari segi keanekaragaman hayati ? bio diversity – ini , memiliki sumber kekayaan laut yang luar biasa, kekayaan hutan, sumber bahan pangan dari jamur yang Subhanallah efisiennya, curah hujan yang tidak habis-habisnya untuk membangun industri pertanian, peternakan dan lain sebagainya. Inilah Green Investment yang akan menjadi unggulan investasi masa depan ? yang kesempatannya masih ada di kita.

Lantas bagaimana umat ini bisa sebanyak mungkin terlibat dalam pengelolaan kekayaan negeri ini ? yang seharusnya kelak juga ikut menikmatinya? Di Indonesia pola kerja bareng secara syariah ini sebenarnya sudah banyak formatnya yang sudah dikaji dan difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Salah satunya adalah dengan pola Mudharabah; yang punya keahlian bertindak sebagai Mudharib, yang punya dana bertindak sebagai Shahibul Mal. Mudharib bisa berupa sekelompok orang yang ahli di bidangnya  - misalnya ahli kelautan untuk mengelola kekayaan laut, ahli peternakan untuk mengelola industri perkambingan dan sebagainya.  Untuk Mudharib insya Allah tidak masalah, begitu banyak perguruan tinggi bagus yang menghasilkan tenaga kerja yang mumpuni di bidangnya di negeri ini.

Yang jadi pertanyaan adalah lantas siapa yang akan menjadi Shahibul Mal-nya untuk proyek-proyek raksasa ini? Bila Shahibul Mal-nya hanya segelintir konglomerat lagi ? maka proses penyebaran kemakmuran akan terhambat. Yang seharusnya bisa menjadi Shahibul Mal adalah kita semua yang dengan sedikit uang  untuk tabungan masa depan dan sekolah anak kita, sedikit uang untuk biaya kesehatan hari tua kita, sedikit dana pensiun, dlsb bisa ikut terlibat langsung dalam investasi di sektor-sektor riil yang memiliki potensi luas di negeri ini.

Ada setidaknya 3 pintu formal dimana kita bisa menggerakkan dana masyarakat secara besar-besaran untuk investasi di negeri ini:

  1. Melalui pintu pasar modal, namun karena pasar modal ini rentan dengan permainan spekulasi pemain besar dan rentan terhadap aliran hot money ? maka investor-investor kecil mudah menjadi korban, sehingga pengumpulan dana masyarakat secara luas yang melibatkan investor kecil di negeri ini nampaknya belum akan optimal bila hendak dilakukan di pasar modal.
  2. Melalui koperasi (belakangan termasuk Koperasi Jasa Keuangan Syariah atau BMT) yang diusung sebagai soko guru perekonomian Indonesia oleh para pendiri negeri ini, tetapi belum kita jumpai koperasi-koperasi yang memiliki jaringan luas ? yang dapat menggerakkan dana masyarakat secara besar-besaran. Mungkin ini juga dampak pembatasan yang dilakukan oleh para pembuat undang-undang di negeri ini ? yang membatasi koperasi hanya boleh mengumpulkan dana dari anggotanya, calon anggota dan anggota koperasi lain yang ada kerjasama dengannya. Walhasil pengumpulan dana masyarakat lewat koperasi juga akan banyak menemui kendala.
  3. Melalui dunia perbankan. Terlepas dari adanya kritik-kritik yang menyatakan belum syar?i-nya bank syariah sekalipun, mau tidak mau kita di zaman ini sudah menggunakan jasa perbankan untuk berbagai kemudahan, untuk transfer dana, pembayaran transaksi, penyimpanan uang, dlsb. Menurut saya sendiri, mulai menggunakan yang sudah mengarah ke syar?i (meskipun seandainya belum sepenuhnya) masih lebih baik daripada menggunakan yang sama sekali tidak peduli dengan syariah.

Produk-produk perbankan berupa tabungan atau deposito dan sejenisnya, pada umumnya sudah berfungsi sebagai pengumpulan dana masyarakat ? jadi mereka, dunia perbankan sudah sangat terbiasa dengan kegiatan pengumpulan dana masyarakat secara luas ini. Hanya saja penggunaan produk tabungan atau produk deposito yang standar, tidak membuat penabung atau Shahibul Mal tahu persis ? digunakan untuk mendanai proyek-proyek apa dana mereka ini. Karena alasan inilah maka ada sebagian ulama yang menganggap aqad Mudharabah Mutlaqah yang digunakan untuk produk-produk tersebut tidak atau kurang syar?i.

bank-syariahNamun ada satu produk perbankan syariah yang menurut saya pribadi akan sepenuhnya sesuai dengan syariah karena pihak Shahibul Mal akan tahu persis dananya digunakan untuk apa, risiko investasi dan harapan hasilnya seperti apa, dan siapa pengelola usaha (Mudharib) yang sesungguhnya ? produk ini adalah apa yang disebut Mudharabah Muqayyadah. Produk inilah yang nantinya insya Allah bisa menjadi pembeda yang nyata, dan dapat mengunggulkan bank-bank syariah dibanding bank konvensional yang ribawi.

Berikut saya gunakan contoh produk perbankan dengan aqad Mudharabah Muqayyadah sebagai ilustrasi bagaimana nantinya insya Allah kami akan dapat  mengakomodasi keinginan 1757 calon investor yang sudah berminat investasi di proyek pembangunan industri kambing Indonesia.

Bila investasi tersebut langsung ke Indolaban pengelola project industri perkambingan ini, banyak masalah perlu diantisipasi.

  • Benturan dengan peraturan pasar modal dan perbankan.
  • Sistem kerjasama one (Mudharibto many (Shahibul Mal) yang tentu tidak mudah untuk dirumuskan.
  • Pekerjaan administrasi yang luar biasa banyaknya  untuk mengatur kapan dana disetor, kapan dana boleh ditarik, bagaimana bagi hasil dihitung dan kapan didistribusikan, dlsb.

Karena problem tersebutlah, maka minat para investor tersebut selama ini belum kami akomodasi. Saat ini kami sedang intensif membicarakan dengan salah satu Bank Syariah kenamaan untuk pilot project pendanaan melalui mekanisme yang syar?i berbasis aqad Mudharabah Muqayyadah ini.

Bila skema ini bisa disepakati dan dijalankan nantinya, maka investasi seperti di industri perkambingan ini akan semudah Anda membuka deposito dan tabungan di bank syariah. Selain Anda bisa melakukannya dari cabang-cabang bank tersebut, Anda akan merasa nyaman dan aman karena dari bank tersebut Anda akan menerima semacam sertifikat deposito ? yang saya sebut saja Sertifikat Mudharabah Muqayyadah. Bedanya dengan sertifikat deposito atau tabungan pada umumnya; Sertifikat Mudharabah Muqayyadah ini akan menyebutkan untuk diinvestasikan kemana dana Anda tersebut dan siapa yang akan bertindak sebagai pengelola usahanya (Mudharib).

Sebagai investor Anda akan lebih aman, karena ada pihak Bank Syariah yang dengan keahliannya insya Allah mampu melakukan penilaian kelayakan investasi yang dikelola Mudharib dengan sebaik-baiknya, bank pula yang akan mengurusi pekerjaan administratifnya bila dana Anda jatuh tempo untuk dicairkan atau bagi hasil waktunya diterima, dlsb.

Bagi Bank Syariah ini peluang besar sekali karena mereka akan dapat menggerakkan dana masyarakat dalam skala besar untuk memfasilitasi pembiayaan proyek raksasa dengan cara yang tidak dimiliki oleh bank konvensional ? inilah keunggulan Syariah.

Bagi pengelola usaha, selain ini cara yang aman untuk meraih pembiayaan dari dana masyarakat dalam skala luas yang sesuai syariah dan tidak berbenturan dengan hukum positif negeri ini ? karena menggunakan legal framework yang syah dari dunia perbankan ? juga dapat memperoleh manfaat dari jaringan cabang-cabang perbankan dan akses terhadap sistem administrasinya yang rata-rata mumpuni untuk pekerjaan semacam ini.

Dengan pola pembiayaan yang menguntungkan semua pihak ini, sungguh kita bisa berharap bahwa nantinya sumber-sumber kekayaan negeri ini dapat dikelola oleh Mudharib-Mudharib dari para professional umat ini sendiri, dan didanai oleh umat secara luas sehingga tidak terjadi penumpukan kapital dan kemakmuran di golongan tertentu saja ? ??? ?? ?????? ?????? ????? ??????????? ??????kaila yakuuna duulatam bainal agniyaa i minkum ? ?agar harta itu jangan hanya berputar pada golongan yang kaya diantara kamu…? (QS. Al-Hasyr (59): 7)

Bisa jadi masih agak panjang jalannya sebelum produk semacam ini bener-bener siap, tetapi kini harapan itu besar sekali. Bagi yang berminat baik untuk menjadi calon Mudharib maupun calon Shahibul Mal – silahkan mulai bergabung di Facebook Group Susu Kambing ? insya Allah dalam waktu dekat akan ada gathering untuk vision sharing bersama antara Indolaban, Bank Syariah yang akan mensupport project ini, dan para peminat. Semoga Allah memudahkan kita pada jalan amal yang diridloiNya. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Pasar 30, 60 dan 160 Juta Orang, Siapa Yang Punya?


Berdasarkan data dari Internet World Stats yang untuk Indonesia nampaknya menggunakan data APJII, penetrasi pengguna Internet di Indonesia masih menempati ranking paling rendah dibandingkan negara-negara ASEAN. Penetrasi kita baru mencapai 12.5%, dibandingkan Singapore yang mencapai 72.4% – bahkan pendatang baru Vietnam sudah mencapai 25.7%.

Rendah dalam penetrasi tidak berarti rendah dalam jumlah pengguna. Karena penduduk Indonesia mencapai lebih dari 240 juta tahun lalu, penetrasi yang hanya 12.5% ini ? kini telah mencapai 30 juta pengguna internet di Indonesia sampai kwartal ke 3 tahun lalu. Pengguna internet di Indonesia saja, kurang lebih sama dengan jumlah penduduk 3 negara tetangga digabung yaitu Malaysia, Singapore dan Brunei.

Dari sudut pandang seorang pemasar, hal ini adalah luar biasa! Bayangkan, bila kita bisa menggarap pengguna internet di Indonesia saja ? Anda seperti memiliki pasar yang segede 3 negara tersebut di atas. Dan jangan lupa, pengguna internet Indonesia adalah juga tergolong masyarakat menengah atas ? yang daya beli rata-ratanya saya yakin tidak kalah dengan daya beli rata-rata penduduk di ke-3 negara tersebut.

Nah sekarang masalahnya adalah apakah di dalam pasar yang besarnya tahun lalu saja mencapai 30 juta orang tersebut, kita sebagai pasar (pembeli) saja? atau kita juga dapat menjadi pemasar (penjual)? Di sinilah peluang itu!

asia2010topUntuk berjualan di internet, tidak harus dibutuhkan modal yang besar. Bahkan perbedaan perusahaan raksasa dengan perusahaan kecil ? tidak begitu nampak bila keduanya tampil di internet. Di internet orang lebih membutuhkan reliability informasi dan layanan ketimbang ukuran perusahaan.

Dinar adalah contohnya. Di Indonesia Dinar hanya diproduksi oleh Logam Mulia ? PT. Aneka Tambang Tbk (BUMN) ? yaitu raksasa BUMN di bidangnya. Namun dalam hal penjualan Dinar via internet ? meskipun DinarIslam.Com hanya menjual satu jenis produk dari produsen raksasa ini, insya Allah pasar DinarIslam.Com tidak kalah dengan pasar yang dijangkau oleh produsennya sendiri.

Peluang-peluang semacam ini belum terjadi 10 tahun lalu misalnya. Ketika itu kami meluncurkan situs KeluargaMuslim.Com ? yang ditangani team yang kuat ? dan bermitra dengan organisasi sosial yang sudah besar, namun karena saat itu pengguna internet masih kurang dari 2 juta orang ? maka tidak banyak yang bisa digarap, sehingga situs tersebut hanya bisa bertahan 2 tahun.

Gambaran betapa besarnya pasar internet ini juga dapat dilihat di situs-situs baru yang kami luncurkan sebulan terakhir. Di KambingOnline.Com misalnya, ada iklan peluang investasi di industri perkambingan yang sedang kami bangun ? belum sebulan iklan ini sudah diminati oleh 1,757 peminat investasi sampai pagi ini.

Di situs Dinar World ada mainan Islami Zakati yang dalam 2 pekan diminati oleh 356 pengunjung. Masalah berapa banyak yang benar-benar terjadi terjadi transaksi, ini hanya masalah teknis untuk membuat produk/iklan lebih menarik, reliable dan deliverable, namun peluang besar itu benar-benar ada.

Melihat peluang yang besar tersebut, dan agar umat ini tidak hanya jadi pasar ? tetapi juga menjadi pemasar, maka angkatan Pesantren Wirausaha berikutnya (angkatan 12) yang akan kita adakan awal bulan depan ? insya Allah akan menggarap tema Netpreneur ini.

Netpreneurship yang kita bangun tidak hanya membangun bisnis dunia maya seperti bisnis dotcom pada umumnya, tetapi kita ingin membangun sektor riil yang didukung teknologi dunia maya untuk menjangkau pasar dan sumber dayanya. Sama seperti ketika kita membangun DinarIslam.Com; Dinar Islam secara fisiknya benar-benar ada ? sehingga bagi masyarakat yang kurang comfortable dengan transaksi internet tetap dapat bertransaksi secara fisik.

Demikian pula dengan KambingOnline.Com, kita hanya luncurkan setelah kandang-kandang kambing bertaraf Internasional terbangun, terisi dengan kambing dan bahkan sudah menghasilkan bibit kambing dan susu kambing.

Dengan langkah-langkah ini, kita ingin mengajak umat agar menjadikan teknologi internet yang mau tidak mau telah hadir dalam kehidupan kita sebagai peluang untuk menggapai kedaulatan ekonomi. Bila pasar tersebut kini seukuran 30 juta orang, maka ketika penetrasi kita mencapai penetrasi yang sama dengan Vietnam saja di angka sekitar 25% – maka saat itu pasar ini ukurannya telah menjadi 60 juta orang minimal; ketika penetrasi internet kita menyamai Malaysia saat ini yaitu di angka sekitar 65%, maka pasar inipun minimal menjadi 160 juta orang!!! Lantas siapa lagi yang seharusnya menggarap pasar ini, selain kita?? Semoga Allah memudahan langkah kita ini. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Inspirasi & Solusi Qur?ani Untuk Dunia Usaha


Zulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”. (QS. Al-Kahfi (18): 95-96)

Bahwasanya Al-Qur?an sebagai petunjuk, pasti kita sudah sering membacanya ? karena disampaikan di awal Al-Qur?an bahwa ?Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa? (QS. Al-Baqarah (2): 2). Pertanyaannya adalah sudahkah kita benar-benar kembali ke Al-Qur?an ketika kita butuh petunjuk? Sudahkah kita mencari panduan pemecahan masalah yang kita hadapi di Al-Qur?an untuk segala jenis urusan?

Untuk urusan business misalnya, dahulu waktu saya aktif di direksi suatu group perusahaan besar ? setiap ada masalah yang perlu diatasi atau diperbaiki ? larinya pasti ke consultant yang dibayar mahal ? kadang bahkan sangat mahal sekali! Tidak terpikir sedikit-pun untuk mencari solusinya di Al-Qur?an. Rata-rata eksekutif seperti saya dahulu, atau eksekutif-eksekutif zaman ini ? bagian terbesarnya pasti tidak menjadikan Al-Qur?an sebagai sumber inspirasi dan solusi dari perbagai problem yang dihadapinya di dunia usaha.

Alhamdulillah melalui program Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin yang kini sudah sampai angkatan ke 10, dan angkatan ke 11 insya Allah kick off akhir pekan ini ? bersama para Santri Wirausaha ? kita justru memperoleh inspirasi dan solusi usaha-usaha yang kita bangun dari ayat-ayat Al-Qur?an.

Ketika kita mem-visi-kan industri perkambingan untuk solusi kebutuhan minuman sehat dan bersih ? sumber rujukan kita adalah Surat An-Nahl (16) Ayat 66. Ketika kita mencari solusi bahan pangan yang murah untuk swasembada pangan jangka panjang, kita menemukan Jamur sebagai salah satu solusinya berdasarkan tafsir Surat Adz-Dzaariyaat (51) Ayat 22.

Ketika sebagian besar BMT (bahkan juga bank) memiliki problem dengan Non Performing Loan (NPL); Alhamdulillah BMT Daarul Muttaqiin ? yang merupakan financial arm-nya Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin ? tidak memiliki problem tersebut karena kita belajar dari Surat Al-Baqarah (2) Ayat 283 tentang dianjurkannya (hendaklah) ada barang jaminan.

Ketika usaha mulai berjalan, problem baru-pun bermunculan ? dan insya Allah bersama para santri kami akan tetap kembali ke Al-Qur?an untuk mencari pemecahannya. Surat yang saya kutip di awal tulisan ini adalah salah satu contoh penyelesaian masalah yang kita hadapi dalam membangun kandang kambing yang kokoh, cepat dan ekonomis.

Kandang Kambing

Kandang Kambing

Ketika kami mulai membangun kandang demi kandang untuk kambing Peranakan Ettawa (PE) yang dikembangkan di pesantren, kami belajar dari kesalahan demi kesalahan. Kandang pertama yang kami bangun ? ternyata salah design dan salah bahan. Kandang ke-2 yang kita bangun ? design sudah benar tetapi bahannya masih salah. Baru kandang generasi ke-3 berhasil kami bangun dengan design dan bahan yang benar, bahkan dari sisi workmanship-nya memenuhi standar kandang kambing penghasil susu kelas dunia… :)

Eh ternyata problem baru muncul. Kandang dengan kwalitas bahan kayu yang baik dan dikerjakan dengan kwalitas yang baik ? ternyata sulit dikembangkan dalam skala industri. Kayu-kayu yang baik sangat mahal dan susah dicari, kwalitas pekerjaan yang baik membuat pembangunan kandang memakan waktu yang lama ? sampai 3 bulan baru selesai.

Lantas apa solusi yang ditawarkan Al-Qur?an? Lewat penuturan Zulkarnain tersebut di atas, kita belajar bahwa bahan material yang terkuat sampai akhir zaman berasal dari minimal 2 zat yang berbeda yang diolah sedemikian rupa sehingga saling memperkuat sifat zat yang satu dengan lainnya. Dalam bahasa modernnya ini dikenal sebagai composite materials atau disingkat composites.

Teknologi composites ini sekarang begitu maju sehingga dari bodi pesawat, satelit, mobil, bahan jembatan, sampai kandang kambing-pun bisa dibuat dari composites ini. Tentu kalau kita membeli composites yang sudah jadi ? pasti mahal ? dan belum tentu cocok untuk kandang kambing.

Tetapi bagaimana kalau kita bisa membuat koran-koran bekas, serbuk gergajian, batang padi, batang bambu, dlsb dengan sedikit pengolahan dan di reinforce akhirnya bisa menjadi bahan yang sekuat besi? Maka inilah solusi dari ayat tersebut di atas.

Keahlian di bidang composites ini ternyata juga sudah sangat dikuasai oleh anak-anak terbaik bangsa ini, bahkan diantara mereka sekarang menjadi konsultan perusahaan internasional yang membuat material untuk pesawat, satelit, mesin industri, dlsb.

Jadi inspirasi dan solusi Al-Qur?an itu real dan ada di sekitar kita, tinggal kita mau menggunakannya atau tidak. Di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin, Anda akan dapat langsung menghayati bagaimana jamur tumbuh hanya mengandalkan kelembaban yang sudah dilimpahkan Allah kepada bumi kita; bagaimana kambing-kambing susu menghasilkan susu bersih bahkan tidak harus berbau kambing walau keluar dari perut kambing.

Dan insya Allah dalam beberapa bulan mendatang, Anda juga akan dapat melihat bagaimana ilmunya Zulkarnain tersebut di atas dimanifestasikan menjadi pabrik yang memproduksi kandang kambing yang sangat kokoh dan bisa diinstall dimana saja diseluruh dunia dengan sangat cepat. Jadi kelak kalau Anda mau membuat kandang kambing, tidak lagi harus mencari kayu langka ? yang semakin langka, tidak lagi harus menunggu 3 bulan baru selesai ? dalam waktu seminggu-pun insya Allah kandang Anda sudah akan siap pakai. Karena tidak lagi kita menebang pohon untuk membuat kandang dan sejenisnya, maka insya Allah dunia akan tetap hijau dan nyaman untuk dihuni.

Sebagai peluang, subhanallah - betapa kayanya Al-Qur’an ini bila digali sebagai sumber ide.  Di Pesantren Wirausaha, tadinya kami hanya ingin bisa pelihara kambing dengan baik, kemudian wawasan meluas menjadi mentargetkan untuk membangun industri susu dan produk-produk turunan kambing, kini bersama angkatan ke 10 kita sudah berfikir untuk memasuki industri composites. Kalau sekarang sudah ada gerakan menghafal Al-Qur’an yang dipelopori oleh Ustad terkenal, maka pesantren kecil kami Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin – ingin memelopori Gerakan Pengamal Qur’an – Berpikir dan Bertindak Berdasarkan Al-Qur’anInsya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Life Is A Beautiful Crochet


Tulisan kali ini terinspirasi oleh blog putri sulung saya crochetscorner.blogspot.com yang memuat hobinya yaitu membuat crochet (dibacanya krose), yaitu  sulaman atau rajutan benang untuk membuat baju, perlengkapan pribadi, peralatan rumah tangga, dlsb.

Awalnya dia hanya membuat baju untuk keperluan sendiri, baju wisudanya dia rajut sendiri dengan indah sehingga banyak menginspirasi orang lain. Kini bersama komunitas crochet-nya dia sedang memecahkan rekor untuk membuat masterpiece batik dari crochet yang terbesar di Indonesia ? yang otomatis juga di dunia.

Bagaimana dia merealisasikan idenya ini? Inilah yang menginspirasi saya untuk pengembangan bisnis sektor riil kita ke depan.

Membuat crochet sungguh pekerjaan yang memakan banyak waktu ? hanya para hobbyist yang bisa melakukannya dengan telaten. Untuk membuat material dari crochet seluas 1 m2 misalnya diperlukan waktu rata-rata 78 jam efektif ? tergantung tingkat keahlian dan kerapian kerjanya. Nah bisa dibayangkan waktu yang diperlukan untuk mencetak rekor batik crochet berpuluh meter persegi yang digagasnya tersebut ? bila harus dilakukannya sendiri.

Namun sekarang adalah era teknologi, dimana komunitas yang unique mudah sekali terbangun. Maka dia buatlah misi untuk memecahkan rekor ini bukan hanya pekerjaan dia, tetapi merupakan misi bersama komunitasnya. Melalui kontribusi seluruh komunitasnya-lah, insya Allah Juni 2010 ini rekor batik dari crochet terbesar di Indonesia dan dunia akan terpecahkan.

Lantas apa inspirasi penting yang bisa kita peroleh dari upaya putri saya bersama komunitas crochet-nya tersebut? Inspirasi kerja bareng bersama orang-orang yang memiliki kesamaan atau setidaknya kemiripan minat, untuk mewujudkan misi bersama ? inilah pelajaran yang kita petik.

Sebesar apapun pekerjaan ini, bila dilakukan bareng dengan saling melengkapi ? maka insya Allah akan terasa ringan dan lebih cepat tercapai.

Untuk proses membangun industri perkambingan yang ide awalnya dari gagasan para Santri Wirausaha di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin misalnya, sudah cukup jauh kami melangkah dalam 8 bulan terakhir. Sudah ada ratusan kambing yang kami pelihara, puluhan yang beranak, susu kambing segar-pun telah kami produksi dari kandang yang berstandar internasional ? namun ini semua masih sangat jauh dari yang kita ingin wujudkan.

Visi kita adalah membangun industri perkambingan nasional yang komplit, yang dengannya masyarakat kita bisa swasembada susu dan daging. Visi besar inilah yang terlalu berat bila kita ingin mencapainya sendirian.

Oleh karenanya terinspirasi proses pemecahan rekor crochet tersebut di atas, kami ingin membangun industri perkambingan ini bersama-sama dengan masyarakat yang memiliki ketertarikan yang sama atau mirip.

kambing-onlineBila putri saya menggunakan blog untuk membangun komunitasnya, maka saya gunakan web ini (yang sudah memiliki pengunjung banyak) untuk mulai menarik minat masyarakat. Kemudian untuk efektifitas sistem kerjasama antar para peminat industri perkambingan ini, kami telah siapkan pula portal khusus untuk industri perkambingan yaitu KambingOnline.Com.

Melalui situs kami yang terbaru ini para pelaku industri perkambingan dapat menawarkan atau mencari hal-hal yang diperlukan untuk usahanya. Misalnya kami sendiri di INDOLABAN saat ini masih memerlukan supply berbagai peralatan dan mesin-mesin untuk pengolahan susu, pengemasan dan pengolahan produk-produk turunannya seperti sabun susu, moisturizing, dlsb.

Kami yakin di luar sana banyak sekali supplier industri yang siap untuk menjadi mitra kami, hanya kami belum kenal saja…; nah melalui KambingOnline.Com kami berharap dapat mengenal lebih banyak pemain dari berbagai sisi untuk terwujudnya industri perkambingan nasional yang siap bersaing di pasar internasional.

Situs KambingOnline.Com tidak hanya bermanfaat bagi kami, bagi seluruh peminat industri perkambingan insya Allah situs ini akan memberi manfaat yang besar pula. Anda bisa memasang iklan gratis untuk mencari atau menawarkan barang atau jasa yang terkait dengan industri perkambingan. Melalui cara ini Anda akan mengenal dan kolaborasi dengan pemain yang lain di industri yang sama.

Insya Allah melalui kerjasama dengan ribuan anggota yang akan mendaftar di KambingOnline.Com ini nantinya, rajutan industri perkambingan nasional kita akan menghasilkan masterpiece industri ? Dari Kita Untuk Kita.

Life is a beautiful crochet; maka setiap kita bisa merajut karya bersama orang lain yang seminat ? untuk menghasilkan sebuah masterpiece dari bidang yang kita pilih yaitu kehidupan yang indah dan bermanfaat untuk sesama. Insya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Susu Kambing Malaysia Rasa Jawa, Why…?


Ahad lalu kami team dari project Indolaban berkesempatan mengunjungi salah satu peternakan kambing paling modern yang ada di Johor ? Malaysia. Meskipun sangat melelahkan karena lokasi kandang kambing yang sekitar 6 jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur, insya Allah perjalanan ini tidak sia-sia.

Paling tidak, kami team Indolaban berharap bisa ikut membantu program pemerintah yang melalui janji Presiden kita akhir bulan lalu (31/03/2010) di Tulungagung diungkapkan bahwa, Kami akan membicarakan dan merumuskannya dalam sebuah kebijakan nasional sehingga pengembangan kambing ettawa ini bisa terus berkembang pesat .

Bagaimana janji tersebut bisa dimplemantasikan? Setidaknya ada 3 point yang kita bisa ambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh negeri jiran kita:

  1. Harus memiliki VISI bahwa yang sedang kita bangun adalah sebuah industri spesifik yang terkait dengan perkambingan ini. Bukan sekedar beternak kambing terus kemudian setelah berhasil kambing-kambing kita dan produk yang dihasilkan tetap bernilai rendah untuk standar dunia. Tanpa terbangunnya industri ini, maka kerja keras para peternak kita untuk menghasilkan kambing dan susu ? tidak akan memberikan reward yang pantas untuk mereka.
  2. Untuk membangun industri di point pertama tersebut diperlukan  standar kwalitas pengelolaan peternakan kita, agar mampu menghasilkan produk dengan standar yang diakui dunia seperti HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) misalnya. Tanpa pencapaian standar seperti ini, produk-produk kambing kita seperti susu dan bahan turunannya akan sulit untuk menembus pasar dunia.
  3. Untuk pencapaian point 1 dan 2 ; kita harus bisa ?Kerja Berpasukan? ? bahasa Malaysia yang artinya teamwork. Seluruh stakeholder perkambingan harus bisa bekerja sama, saling mengisi dan menyempurnakan ? bukan saling bersaing dan menjatuhkan ? sehingga terbangun industri yang kokoh yang siap bersaing dengan industri sejenis di negara lain.

Ironi memang ketika kita melihat berbagai produk berbasis susu kambing seperti moisturizing, body lotion, sabun, dlsb. yang kita jumpai di pasaran Indonesia saat ini adalah produk Malaysia ? ya antara lain dari peternakan yang kami kunjungi tersebut di atas. Padahal di dalam kandang kambing mereka disana, mayoritas kambingnya ya dari Jawa – Indonesia. Tenaga kerjanya juga sebagiannya dari Indonesia.

Jadi kita kirim kambing-kambing kita dengan harga murah kesana; kemudian juga tenaga-tenaga kasar untuk pemeliharaan kambingnya; namun setelah menghasilkan produk yang mahal ? maka produk yang mahal ini balik lagi ke Indonesia. Dibeli oleh orang-orang kaya Indonesia yang mampu membeli sabun mahal susu kambing, juga pelembab tubuh berkwalitas tinggi dari susu kambing.

"Kerja Berpasukan"

"Kerja Berpasukan" = GOTONG ROYONG

Mengapa mereka bisa menikmati nilai tambah yang tinggi sedangkan kita belum? Jawabannya adalah karena mereka sudah bisa membangun industri perkambingannya sedangkan kita baru mencanangkannya. Karena terbangunnya industri ini, peternak mereka tidak terlalu susah untuk memperoleh pakan yang murah, peralatan-peralatan peternakan yang lengkap, obat-obat perkambingan yang tersedia cukup, dlsb. Contoh kecil untuk hal ini adalah nipple ? semacam dot susu dari logam untuk membuat system pemberian air minum yang cukup bagi kandang kambing, harganya hanya sekitar Rp 45 ribu per buah ? tetapi hal-hal kecil demikian tidak mudah kita peroleh di sini ? sementara di Malaysia barang seperti ini bahkan bisa kita beli di peternakan kambing yang besar.

Bagaimana hal-hal detil yang nampaknya sepele tetapi sangat dibutuhkan untuk tumbuhnya industri perkambingan yang berkwalitas bisa ditangani? Jawabannya adalah ?Kerja Berpasukan? tadi. Maka bila janji Presiden SBY dalam kesempatan tersebut di atas ? bahwa anggaran pengembangan kambing akan masuk pada APBN 2011;  maka berikutlah menurut saya prioritas penggunaannya:

1) Biayai riset dan publikasikan hasilnya secara transparan; agar masyarakat luas tahu kelebihan-kelebihan susu kambing, daging kambing dan berbagai potensi lainnya yang terkait dengan kambing.

2) Fasilitasi jalan untuk mempermudah perizinan yang terkait dengan POM, MUI dan sertifikasi internasional HACCP tersebut di atas ? agar produk-produk kambing kita mudah diterima pasar, baik domestik maupun internasional.

3) Fasilitasi rakyat untuk mampu belajar mengelola kambing dengan baik dan benar. Contoh gambar di atas adalah kambing yang bisa berbaris rapi untuk diperah susunya, bagaimana bisa membuat kambing berbaris rapi untuk diperah susunya? ? SDM yang mengelola kambing yang pertama harus dilatih untuk mampu mengelola kambing-kambing tersebut. Setelah itu baru dia bisa melatih kambingnya untuk bisa berbaris setiap saat mau diperah susunya.

4) Fasilitasi rakyat untuk memperoleh bibit-bibit unggul kambing secara murah atau bahkan GRATIS.

5) Bangun jaringan industri dan pemasaran, baik yang terkait dengan kebutuhan bahan/alat bagi para peternak ? maupun yang terkait dengan hasil-hasil dari peternakan kambing ini.

Bila terbangun teamwork yang baik antara pemerintah, pengusaha, peternak dan masyarakat pada umumnya; maka sangat bisa jadi industri perkambingan ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kerakyatan kita yang sesungguhnya. Menggembala kambing adalah apa yang dilakukan oleh seluruh nabi-nabi, maka tidak ada salahnya kita menseriusi urusan perkambingan ini sebagai salah satu upaya untuk membangun kedaulatan ekonomi di negeri ini. Insya Allah.

Posted in Political EconomyComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes