Tag Archive | "Indolaban"

Model Matematika Kambing: Work Smart-nya Para Nabi


Bahwasanya seluruh nabi-nabi menggembala kambing, ini hadits-nya shahih dan sudah pernah saya tulis dalam tulisan saya sebelumnya. Namun potensi ekonomi yang luar biasa yang terbawa dari ekonomi berbasis kambing ini yang belum banyak diungkap oleh para pakar perkambingan sekalipun. Dalam tulisan ini saya ingin share potensi tersebut dengan menggunakan model matematika, yang kemudian hasilnya saya tuangkan dalam grafik agar mudah dipahami.

Untuk membuat model ini, perlu diketahui karakter kambing ini antara lain kemampuan beranaknya yang 3 kali dalam 2 tahun; rata-rata anak 2 meskipun bisa 3, 4 atau 1. Kemudian kambing adalah juga merupakan hewan yang mudah mati bila terkena penyakit, rasio kematian yang dianggap wajar adalah 5%.

Nah kalau sebagai contoh Anda pelihara 100 ekor kambing sekarang, berapa ekor kambing akan Anda miliki 10 tahun yang akan datang bila diambil rata-rata beranak 3 kali dalam 2 tahun, rata-rata sekali beranak 2 dan rasio kematian 5%? Anda akan terkejut dengan jumlahnya, pada akhir tahun ke 10 jumlah kambing di kandang Anda bisa mencapai  681,000 ekor! Wow, nggak masuk akal? Berikut penjelasannya.

Skenario #1: Bila 3 x kali beranak dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Skenario #1: Beranak 3x dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Dengan rasio kematian 5% per tahun; kambing indukan awal yang tadinya 100 ? akan tinggal 63 ekor pada tahun ke 10. Tetapi kambing turunan 1, sudah ada 300-ekor pada akhir tahun ke 2 dan telah menjadi 1790-an ekor pada akhir tahun ke 10. Kemudian mulai tahun ke 4 lahir kambing turunan ke 2, yang pada akhir tahun ke 10 telah menjadi sekitar 22,000 ekor.

Mulai tahun ke 6 lahir turunan ke 3, yang kemudian pada akhir tahun ke 10 jumlah turunan ke 3 ini telah mencapai sekitar 149,000 ekor. Pada tahun ke 8 lahir turunan ke 4, yang 2 tahun kemudian yaitu akhir tahun ke 10 turunan ke 4 ini telah mencapai 509,000 ekor.

Skenario #2: Beranak 3x dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Skenario #2: Beranak 3x dalam 2 tahun @2 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Jadi kambing Anda saat itu dari induk awal sampai turunan ke 4-nya adalah 63+1,790+22,000+149,000+509,000 = 681,853 ekor. Apakah semudah ini kita beternak kambing? Tentu tidak. Untuk menggarap potensi yang besar tersebut tantangannya tidak kalah besarnya:

  • Untuk menjaga agar kematian rata-rata berada disekitar angka 5% saja ? ini dibutuhkan berbagai keahlian dokter hewan untuk mengatasi berbagai penyakit yang bisa menyerang kambing.
  • Untuk membuat kambing hamil dan beranak tepat waktu setiap 8 bulan, dibutuhkan serangkaian ahli-ahli reproduksi hewan yang canggih.
  • Untuk menjaga kesehatan kambing agar dapat hidup sampai usia 10 tahun, dibutuhkan ahli-ahli pakan dan nutrisi hewan yang paripurna.
  • Walhasil intinya tidak mudah, namun potensi tersebut riil dan bisa dicapai.
Skenario #3: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Skenario #3: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 5%

Saya sendiri optimis, bahwa seluruh keahlian tersebut pasti ada di anak-anak bangsa ini. Tinggal menemukan saja orang-orang yang tepat untuk ini.

Katakanlah kita tidak berhasil membuat tingkat kematian hanya 5% tetapi 10%, maka kambing kita pada tahun ke 10 masih akan mencapai di atas 500,000 ekor. Bila kita gagal membuat kambing beranak tepat waktu setiap 8 bulan dengan anak rata-rata 2; tetapi hanya tercapai separuhnya saja; maka kambing kita pada akhir tahun ke 10 akan turun drastis tetapi masih di atas 58,000 ekor.

Skenario #4: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Skenario #4: Beranak 3x dalam 2 tahun @1 ekor & tingkat kematian populasi 10%

Anggap kita gagal keduanya, yaitu kambing hanya beranak ½ dari target (3 ekor dalam 2 tahun, bukan 6 ekor dalam 2 tahun), kemudian kita juga hanya bisa menekan kematian pada tingkat 10% populasi per tahun ? maka kambing kita di akhir tahun ke 10 masih berjumlah di kisaran 43,000 ekor.

Jadi rentang hasil peternak yang biasa saja dengan peternak yang berhasil sampai akhir tahun ke 10 adalah antara 43,000 ? 680,000 ekor. Seandainya toh kita hanya menjadi peternak yang biasa-biasa saja tetapi benar-benar dilakukan, maka problem daging dan susu nasional yang sampai sekarang masih mengandalkan produk import insya Allah bisa kita atasi.

Inilah barangkali salah satu rahasia ekonomi para nabi, mereka bekerja dengan cerdas menggembala kambing karena multiplier effect yang luar biasa ini. Apa yang kami lakukan di peternakan kambing kami di Jonggol, adalah baru langkah awal untuk mengikuti jejak para nabi tersebut.

Meskipun 4 piala dalam kontes ternak se Jawa Barat telah bisa kami raih, tidak berarti apa yang kami lakukan sudah berhasil. Masalah-masalah seperti menekan rasio kematian, masalah pakan, masalah reproduksi tetap masih harus diatasi sekuat tenaga agar minimal kita bisa menjadi peternak yang biasa-biasa saja.

Karena risiko besar yang masih harus diatasi tersebutlah yang membuat kami selama ini belum menerima ? titipan? investasi kambing; namun bagi (calon) investor yang mau mempelajari perkambingan ini dan mau menangung risiko sama seperti yang kami hadapi ? insya Allah kami mulai bisa libatkan segera.

Ada 2 pola investasi yang segera kami buka ? dan bagi yang berminat mulai bisa menghubungi kami untuk mendaftarkan minatnya (Letter of Intent), yaitu:

  1. Investor hanya bertindak sebagai Shahibul Mal dalam aqad Mudharabah Muqayyadah. Melalui pola ini investor bisa menyimpan dananya di BMT mitra kami seperti BMT Daarul Muttaqiin atau Bank Syariah yang ada kerjasama dengan kami, secara spesifik dalam simpanan tersebut diaqadkan untuk berternak kambing di peternakan kambing Indolaban – Jonggol Farm (karena insya Allah nantinya ada peternakan-peternakan lainnya).
  2. Investasi langsung dimana (calon) investor benar-benar terlibat dalam peternakannya. Investor bisa membeli kavling di Jonggol Farm yang cukup untuk membuat kandang, dlsb. Tanah, kandang lengkap isinya menjadi milik penuh investor. Bila diperlukan support dari sisi pemeliharaan kambing, kesehatan, pakan, dlsb. dapat di outsourced ke team kami yang ada di lokasi; demikian pula dengan pengolahan dan pemasaran produknya.

Sama dengan Pola Investasi Syariah pada umumnya; tidak ada jaminan apapun dari kami mengenai hasil atau return-nya; yang ada adalah usaha bersama untuk menekan risiko dan ber-amal jama?i secara maksimal ? agar kelak kita bisa berdaulat dari sisi ekonomi ? mulai dari kambing ini.

Lantas bagaimana prosedurnya bila Anda berminat? Selain mengirim surat/email yang menyatakan minat tersebut ke indo...@dinarislam.com, Anda kami undang untuk berkunjung ke Jonggol agar Anda bener-bener tahu apa yang kami lakukan disana, tahu risiko-nya selain juga tahu potensi hasilnya. Semoga Allah memudahkan kita untuk beramal yang diridloi-Nya. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Bila Dana Umat Bisa Digerakkan Secara Efektif


Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda menjadi wilayah Indonesia, termasuk bagian barat dari Pulau Papua. Namun demikian, pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Mengapa Belanda ngotot dengan wilayah ini? Ternyata tidak masuk dalam buku-buku sejarah, bahwa sejak tahun 1936 sebenarnya Belanda sudah tahu bahwa di wilayah tersebut terdapat salah satu cadangan tembaga dan emas terbesar di dunia.

Melalui ahli geologinya yang bernama Jean-Jacques Dozy, temuan cadangan tersebut bahkan dilaporkan dan diumumkan secara resmi pada tahun 1939 ? 6 tahun sebelum Soekarno-Hatta memimpin negeri ini untuk pertama kalinya.

Setelah melewati berbagai pertempuran, akhirnya wilayah barat Pulau Papua ? yang kemudian kita kenal dengan Irian Barat dan belakangan Irian Jaya – diserahkan ke Indonesia dalam perundingan tanggal 15 Agustus 1962 di markas besar PBB ? New York. Tangan-tangan Amerika nampak jelas ikut terlibat dalam proses ini, lagi-lagi mengapa? Kembali ke alasan semula yang kurang lebih sama dengan alasan Belanda mempertahankan wilayah tersebut ? yaitu adanya cadangan tembaga dan emas nan sangat besar tersebut.

Freeport-McMoranTidak heran kemudian yang berhasil mengolah kekayaan alam tersebut hingga kini adalah salah satu perusahaan yang paling profitable di dunia asal Amerika yang bernama Freeport McMoran. Di situs resmi perusahaan inipun mereka mengakui bahwa ?Our Grasberg mining complex is one of the world?s largest single producers of both copper and gold, and contains the largest recoverable reserves of copper and the largest single gold reserve in the world…?.

Seandainya toh, penyerahan Irian Barat ke tangan Indonesia saat itu tidak diembel-embeli dengan deal apapun ? untuk penyerahan pengolahan cadangan tembaga dan emas ini ke mereka misalnya ? mampukah Indonesia mengolah sumber daya ini sendirian di kala itu? Mungkin tidak juga, karena ukuran dana yang dibutuhkan untuk membuat jalan-jalan di puncak gunung, menerobos gunung dan berbagai pekerjaan raksasa lainnya ? kemungkinan besarnya tidak mampu didanai negeri ini sendiri saat itu. Apa lagi perlu diingat tahun 60-an Indonesia lagi miskin-miskinnya dengan cadangan emas kita di BI sempat tinggal 1.5 ton.

Di sinilah kapitalisme mulai masuk ?mengolah? hampir seluruh sumber-sumber kekayaan penting negeri ini. Tembaga, emas, nikel, minyak, gas, panas bumi…dan entah kekayaan apalagi yang kita tidak mampu mendanai pengelolaannya sendiri. Karena mereka ? investor asing – yang mendanainya, maka mereka pula yang paling menikmati keuntungan terbesarnya.

Belakangan memang ada segelintir pengusaha Indonesia yang juga ikut mendanai project-project raksasa ini, lagi-lagi hanya segelintir ini pula yang akhirnya ikut menikmati. Mayoritas rakyat tetap tidak bisa ikut menikmati kekayaan negeri ini.

Lantas apa solusinya secara syariah agar kita bisa mengatasi masalah kebutuhan kapital untuk mendanai proyek-proyek raksasa ini? Islam tidak mendorong harta terpusat pada segelintir orang yang sangat kaya, meskipun keberadaan orang yang sangat kaya ini juga tidak dilarang di Islam ? bahkan salah satu sahabat yang dijamin masuk surga adalah orang terkaya di zamannya yaitu Abdul Rahman Bin ?Auf.

Namun karena kita kesulitan mencari figure seperti Abdul Rahman Bin ?Auf di zaman ini ? yaitu figure konglomerat yang mendedikasikan hartanya untuk perjuangan umat, maka sebenarnya ada jalan bagi orang-orang kecil seperti kita-kita untuk terlibat dalam investasi raksasa nan Islami untuk kepentingan umat ini.

Bila tambang-tambang tembaga, emas, minyak, gas, panas bumi dan lain sebagainya sudah terlanjur dikuasai kapital-kapital raksasa dunia; bukankah masih berjibun kekayaan negeri ini yang belum terolah dengan baik ? yang masih menjadi peluang kita bila kita mau! Negeri yang terkaya di dunia dari segi keanekaragaman hayati ? bio diversity – ini , memiliki sumber kekayaan laut yang luar biasa, kekayaan hutan, sumber bahan pangan dari jamur yang Subhanallah efisiennya, curah hujan yang tidak habis-habisnya untuk membangun industri pertanian, peternakan dan lain sebagainya. Inilah Green Investment yang akan menjadi unggulan investasi masa depan ? yang kesempatannya masih ada di kita.

Lantas bagaimana umat ini bisa sebanyak mungkin terlibat dalam pengelolaan kekayaan negeri ini ? yang seharusnya kelak juga ikut menikmatinya? Di Indonesia pola kerja bareng secara syariah ini sebenarnya sudah banyak formatnya yang sudah dikaji dan difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Salah satunya adalah dengan pola Mudharabah; yang punya keahlian bertindak sebagai Mudharib, yang punya dana bertindak sebagai Shahibul Mal. Mudharib bisa berupa sekelompok orang yang ahli di bidangnya  - misalnya ahli kelautan untuk mengelola kekayaan laut, ahli peternakan untuk mengelola industri perkambingan dan sebagainya.  Untuk Mudharib insya Allah tidak masalah, begitu banyak perguruan tinggi bagus yang menghasilkan tenaga kerja yang mumpuni di bidangnya di negeri ini.

Yang jadi pertanyaan adalah lantas siapa yang akan menjadi Shahibul Mal-nya untuk proyek-proyek raksasa ini? Bila Shahibul Mal-nya hanya segelintir konglomerat lagi ? maka proses penyebaran kemakmuran akan terhambat. Yang seharusnya bisa menjadi Shahibul Mal adalah kita semua yang dengan sedikit uang  untuk tabungan masa depan dan sekolah anak kita, sedikit uang untuk biaya kesehatan hari tua kita, sedikit dana pensiun, dlsb bisa ikut terlibat langsung dalam investasi di sektor-sektor riil yang memiliki potensi luas di negeri ini.

Ada setidaknya 3 pintu formal dimana kita bisa menggerakkan dana masyarakat secara besar-besaran untuk investasi di negeri ini:

  1. Melalui pintu pasar modal, namun karena pasar modal ini rentan dengan permainan spekulasi pemain besar dan rentan terhadap aliran hot money ? maka investor-investor kecil mudah menjadi korban, sehingga pengumpulan dana masyarakat secara luas yang melibatkan investor kecil di negeri ini nampaknya belum akan optimal bila hendak dilakukan di pasar modal.
  2. Melalui koperasi (belakangan termasuk Koperasi Jasa Keuangan Syariah atau BMT) yang diusung sebagai soko guru perekonomian Indonesia oleh para pendiri negeri ini, tetapi belum kita jumpai koperasi-koperasi yang memiliki jaringan luas ? yang dapat menggerakkan dana masyarakat secara besar-besaran. Mungkin ini juga dampak pembatasan yang dilakukan oleh para pembuat undang-undang di negeri ini ? yang membatasi koperasi hanya boleh mengumpulkan dana dari anggotanya, calon anggota dan anggota koperasi lain yang ada kerjasama dengannya. Walhasil pengumpulan dana masyarakat lewat koperasi juga akan banyak menemui kendala.
  3. Melalui dunia perbankan. Terlepas dari adanya kritik-kritik yang menyatakan belum syar?i-nya bank syariah sekalipun, mau tidak mau kita di zaman ini sudah menggunakan jasa perbankan untuk berbagai kemudahan, untuk transfer dana, pembayaran transaksi, penyimpanan uang, dlsb. Menurut saya sendiri, mulai menggunakan yang sudah mengarah ke syar?i (meskipun seandainya belum sepenuhnya) masih lebih baik daripada menggunakan yang sama sekali tidak peduli dengan syariah.

Produk-produk perbankan berupa tabungan atau deposito dan sejenisnya, pada umumnya sudah berfungsi sebagai pengumpulan dana masyarakat ? jadi mereka, dunia perbankan sudah sangat terbiasa dengan kegiatan pengumpulan dana masyarakat secara luas ini. Hanya saja penggunaan produk tabungan atau produk deposito yang standar, tidak membuat penabung atau Shahibul Mal tahu persis ? digunakan untuk mendanai proyek-proyek apa dana mereka ini. Karena alasan inilah maka ada sebagian ulama yang menganggap aqad Mudharabah Mutlaqah yang digunakan untuk produk-produk tersebut tidak atau kurang syar?i.

bank-syariahNamun ada satu produk perbankan syariah yang menurut saya pribadi akan sepenuhnya sesuai dengan syariah karena pihak Shahibul Mal akan tahu persis dananya digunakan untuk apa, risiko investasi dan harapan hasilnya seperti apa, dan siapa pengelola usaha (Mudharib) yang sesungguhnya ? produk ini adalah apa yang disebut Mudharabah Muqayyadah. Produk inilah yang nantinya insya Allah bisa menjadi pembeda yang nyata, dan dapat mengunggulkan bank-bank syariah dibanding bank konvensional yang ribawi.

Berikut saya gunakan contoh produk perbankan dengan aqad Mudharabah Muqayyadah sebagai ilustrasi bagaimana nantinya insya Allah kami akan dapat  mengakomodasi keinginan 1757 calon investor yang sudah berminat investasi di proyek pembangunan industri kambing Indonesia.

Bila investasi tersebut langsung ke Indolaban pengelola project industri perkambingan ini, banyak masalah perlu diantisipasi.

  • Benturan dengan peraturan pasar modal dan perbankan.
  • Sistem kerjasama one (Mudharibto many (Shahibul Mal) yang tentu tidak mudah untuk dirumuskan.
  • Pekerjaan administrasi yang luar biasa banyaknya  untuk mengatur kapan dana disetor, kapan dana boleh ditarik, bagaimana bagi hasil dihitung dan kapan didistribusikan, dlsb.

Karena problem tersebutlah, maka minat para investor tersebut selama ini belum kami akomodasi. Saat ini kami sedang intensif membicarakan dengan salah satu Bank Syariah kenamaan untuk pilot project pendanaan melalui mekanisme yang syar?i berbasis aqad Mudharabah Muqayyadah ini.

Bila skema ini bisa disepakati dan dijalankan nantinya, maka investasi seperti di industri perkambingan ini akan semudah Anda membuka deposito dan tabungan di bank syariah. Selain Anda bisa melakukannya dari cabang-cabang bank tersebut, Anda akan merasa nyaman dan aman karena dari bank tersebut Anda akan menerima semacam sertifikat deposito ? yang saya sebut saja Sertifikat Mudharabah Muqayyadah. Bedanya dengan sertifikat deposito atau tabungan pada umumnya; Sertifikat Mudharabah Muqayyadah ini akan menyebutkan untuk diinvestasikan kemana dana Anda tersebut dan siapa yang akan bertindak sebagai pengelola usahanya (Mudharib).

Sebagai investor Anda akan lebih aman, karena ada pihak Bank Syariah yang dengan keahliannya insya Allah mampu melakukan penilaian kelayakan investasi yang dikelola Mudharib dengan sebaik-baiknya, bank pula yang akan mengurusi pekerjaan administratifnya bila dana Anda jatuh tempo untuk dicairkan atau bagi hasil waktunya diterima, dlsb.

Bagi Bank Syariah ini peluang besar sekali karena mereka akan dapat menggerakkan dana masyarakat dalam skala besar untuk memfasilitasi pembiayaan proyek raksasa dengan cara yang tidak dimiliki oleh bank konvensional ? inilah keunggulan Syariah.

Bagi pengelola usaha, selain ini cara yang aman untuk meraih pembiayaan dari dana masyarakat dalam skala luas yang sesuai syariah dan tidak berbenturan dengan hukum positif negeri ini ? karena menggunakan legal framework yang syah dari dunia perbankan ? juga dapat memperoleh manfaat dari jaringan cabang-cabang perbankan dan akses terhadap sistem administrasinya yang rata-rata mumpuni untuk pekerjaan semacam ini.

Dengan pola pembiayaan yang menguntungkan semua pihak ini, sungguh kita bisa berharap bahwa nantinya sumber-sumber kekayaan negeri ini dapat dikelola oleh Mudharib-Mudharib dari para professional umat ini sendiri, dan didanai oleh umat secara luas sehingga tidak terjadi penumpukan kapital dan kemakmuran di golongan tertentu saja ? ??? ?? ?????? ?????? ????? ??????????? ??????kaila yakuuna duulatam bainal agniyaa i minkum ? ?agar harta itu jangan hanya berputar pada golongan yang kaya diantara kamu…? (QS. Al-Hasyr (59): 7)

Bisa jadi masih agak panjang jalannya sebelum produk semacam ini bener-bener siap, tetapi kini harapan itu besar sekali. Bagi yang berminat baik untuk menjadi calon Mudharib maupun calon Shahibul Mal – silahkan mulai bergabung di Facebook Group Susu Kambing ? insya Allah dalam waktu dekat akan ada gathering untuk vision sharing bersama antara Indolaban, Bank Syariah yang akan mensupport project ini, dan para peminat. Semoga Allah memudahkan kita pada jalan amal yang diridloiNya. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Life Is A Beautiful Crochet


Tulisan kali ini terinspirasi oleh blog putri sulung saya crochetscorner.blogspot.com yang memuat hobinya yaitu membuat crochet (dibacanya krose), yaitu  sulaman atau rajutan benang untuk membuat baju, perlengkapan pribadi, peralatan rumah tangga, dlsb.

Awalnya dia hanya membuat baju untuk keperluan sendiri, baju wisudanya dia rajut sendiri dengan indah sehingga banyak menginspirasi orang lain. Kini bersama komunitas crochet-nya dia sedang memecahkan rekor untuk membuat masterpiece batik dari crochet yang terbesar di Indonesia ? yang otomatis juga di dunia.

Bagaimana dia merealisasikan idenya ini? Inilah yang menginspirasi saya untuk pengembangan bisnis sektor riil kita ke depan.

Membuat crochet sungguh pekerjaan yang memakan banyak waktu ? hanya para hobbyist yang bisa melakukannya dengan telaten. Untuk membuat material dari crochet seluas 1 m2 misalnya diperlukan waktu rata-rata 78 jam efektif ? tergantung tingkat keahlian dan kerapian kerjanya. Nah bisa dibayangkan waktu yang diperlukan untuk mencetak rekor batik crochet berpuluh meter persegi yang digagasnya tersebut ? bila harus dilakukannya sendiri.

Namun sekarang adalah era teknologi, dimana komunitas yang unique mudah sekali terbangun. Maka dia buatlah misi untuk memecahkan rekor ini bukan hanya pekerjaan dia, tetapi merupakan misi bersama komunitasnya. Melalui kontribusi seluruh komunitasnya-lah, insya Allah Juni 2010 ini rekor batik dari crochet terbesar di Indonesia dan dunia akan terpecahkan.

Lantas apa inspirasi penting yang bisa kita peroleh dari upaya putri saya bersama komunitas crochet-nya tersebut? Inspirasi kerja bareng bersama orang-orang yang memiliki kesamaan atau setidaknya kemiripan minat, untuk mewujudkan misi bersama ? inilah pelajaran yang kita petik.

Sebesar apapun pekerjaan ini, bila dilakukan bareng dengan saling melengkapi ? maka insya Allah akan terasa ringan dan lebih cepat tercapai.

Untuk proses membangun industri perkambingan yang ide awalnya dari gagasan para Santri Wirausaha di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin misalnya, sudah cukup jauh kami melangkah dalam 8 bulan terakhir. Sudah ada ratusan kambing yang kami pelihara, puluhan yang beranak, susu kambing segar-pun telah kami produksi dari kandang yang berstandar internasional ? namun ini semua masih sangat jauh dari yang kita ingin wujudkan.

Visi kita adalah membangun industri perkambingan nasional yang komplit, yang dengannya masyarakat kita bisa swasembada susu dan daging. Visi besar inilah yang terlalu berat bila kita ingin mencapainya sendirian.

Oleh karenanya terinspirasi proses pemecahan rekor crochet tersebut di atas, kami ingin membangun industri perkambingan ini bersama-sama dengan masyarakat yang memiliki ketertarikan yang sama atau mirip.

kambing-onlineBila putri saya menggunakan blog untuk membangun komunitasnya, maka saya gunakan web ini (yang sudah memiliki pengunjung banyak) untuk mulai menarik minat masyarakat. Kemudian untuk efektifitas sistem kerjasama antar para peminat industri perkambingan ini, kami telah siapkan pula portal khusus untuk industri perkambingan yaitu KambingOnline.Com.

Melalui situs kami yang terbaru ini para pelaku industri perkambingan dapat menawarkan atau mencari hal-hal yang diperlukan untuk usahanya. Misalnya kami sendiri di INDOLABAN saat ini masih memerlukan supply berbagai peralatan dan mesin-mesin untuk pengolahan susu, pengemasan dan pengolahan produk-produk turunannya seperti sabun susu, moisturizing, dlsb.

Kami yakin di luar sana banyak sekali supplier industri yang siap untuk menjadi mitra kami, hanya kami belum kenal saja…; nah melalui KambingOnline.Com kami berharap dapat mengenal lebih banyak pemain dari berbagai sisi untuk terwujudnya industri perkambingan nasional yang siap bersaing di pasar internasional.

Situs KambingOnline.Com tidak hanya bermanfaat bagi kami, bagi seluruh peminat industri perkambingan insya Allah situs ini akan memberi manfaat yang besar pula. Anda bisa memasang iklan gratis untuk mencari atau menawarkan barang atau jasa yang terkait dengan industri perkambingan. Melalui cara ini Anda akan mengenal dan kolaborasi dengan pemain yang lain di industri yang sama.

Insya Allah melalui kerjasama dengan ribuan anggota yang akan mendaftar di KambingOnline.Com ini nantinya, rajutan industri perkambingan nasional kita akan menghasilkan masterpiece industri ? Dari Kita Untuk Kita.

Life is a beautiful crochet; maka setiap kita bisa merajut karya bersama orang lain yang seminat ? untuk menghasilkan sebuah masterpiece dari bidang yang kita pilih yaitu kehidupan yang indah dan bermanfaat untuk sesama. Insya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Susu Kambing Malaysia Rasa Jawa, Why…?


Ahad lalu kami team dari project Indolaban berkesempatan mengunjungi salah satu peternakan kambing paling modern yang ada di Johor ? Malaysia. Meskipun sangat melelahkan karena lokasi kandang kambing yang sekitar 6 jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur, insya Allah perjalanan ini tidak sia-sia.

Paling tidak, kami team Indolaban berharap bisa ikut membantu program pemerintah yang melalui janji Presiden kita akhir bulan lalu (31/03/2010) di Tulungagung diungkapkan bahwa, Kami akan membicarakan dan merumuskannya dalam sebuah kebijakan nasional sehingga pengembangan kambing ettawa ini bisa terus berkembang pesat .

Bagaimana janji tersebut bisa dimplemantasikan? Setidaknya ada 3 point yang kita bisa ambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh negeri jiran kita:

  1. Harus memiliki VISI bahwa yang sedang kita bangun adalah sebuah industri spesifik yang terkait dengan perkambingan ini. Bukan sekedar beternak kambing terus kemudian setelah berhasil kambing-kambing kita dan produk yang dihasilkan tetap bernilai rendah untuk standar dunia. Tanpa terbangunnya industri ini, maka kerja keras para peternak kita untuk menghasilkan kambing dan susu ? tidak akan memberikan reward yang pantas untuk mereka.
  2. Untuk membangun industri di point pertama tersebut diperlukan  standar kwalitas pengelolaan peternakan kita, agar mampu menghasilkan produk dengan standar yang diakui dunia seperti HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) misalnya. Tanpa pencapaian standar seperti ini, produk-produk kambing kita seperti susu dan bahan turunannya akan sulit untuk menembus pasar dunia.
  3. Untuk pencapaian point 1 dan 2 ; kita harus bisa ?Kerja Berpasukan? ? bahasa Malaysia yang artinya teamwork. Seluruh stakeholder perkambingan harus bisa bekerja sama, saling mengisi dan menyempurnakan ? bukan saling bersaing dan menjatuhkan ? sehingga terbangun industri yang kokoh yang siap bersaing dengan industri sejenis di negara lain.

Ironi memang ketika kita melihat berbagai produk berbasis susu kambing seperti moisturizing, body lotion, sabun, dlsb. yang kita jumpai di pasaran Indonesia saat ini adalah produk Malaysia ? ya antara lain dari peternakan yang kami kunjungi tersebut di atas. Padahal di dalam kandang kambing mereka disana, mayoritas kambingnya ya dari Jawa – Indonesia. Tenaga kerjanya juga sebagiannya dari Indonesia.

Jadi kita kirim kambing-kambing kita dengan harga murah kesana; kemudian juga tenaga-tenaga kasar untuk pemeliharaan kambingnya; namun setelah menghasilkan produk yang mahal ? maka produk yang mahal ini balik lagi ke Indonesia. Dibeli oleh orang-orang kaya Indonesia yang mampu membeli sabun mahal susu kambing, juga pelembab tubuh berkwalitas tinggi dari susu kambing.

"Kerja Berpasukan"

"Kerja Berpasukan" = GOTONG ROYONG

Mengapa mereka bisa menikmati nilai tambah yang tinggi sedangkan kita belum? Jawabannya adalah karena mereka sudah bisa membangun industri perkambingannya sedangkan kita baru mencanangkannya. Karena terbangunnya industri ini, peternak mereka tidak terlalu susah untuk memperoleh pakan yang murah, peralatan-peralatan peternakan yang lengkap, obat-obat perkambingan yang tersedia cukup, dlsb. Contoh kecil untuk hal ini adalah nipple ? semacam dot susu dari logam untuk membuat system pemberian air minum yang cukup bagi kandang kambing, harganya hanya sekitar Rp 45 ribu per buah ? tetapi hal-hal kecil demikian tidak mudah kita peroleh di sini ? sementara di Malaysia barang seperti ini bahkan bisa kita beli di peternakan kambing yang besar.

Bagaimana hal-hal detil yang nampaknya sepele tetapi sangat dibutuhkan untuk tumbuhnya industri perkambingan yang berkwalitas bisa ditangani? Jawabannya adalah ?Kerja Berpasukan? tadi. Maka bila janji Presiden SBY dalam kesempatan tersebut di atas ? bahwa anggaran pengembangan kambing akan masuk pada APBN 2011;  maka berikutlah menurut saya prioritas penggunaannya:

1) Biayai riset dan publikasikan hasilnya secara transparan; agar masyarakat luas tahu kelebihan-kelebihan susu kambing, daging kambing dan berbagai potensi lainnya yang terkait dengan kambing.

2) Fasilitasi jalan untuk mempermudah perizinan yang terkait dengan POM, MUI dan sertifikasi internasional HACCP tersebut di atas ? agar produk-produk kambing kita mudah diterima pasar, baik domestik maupun internasional.

3) Fasilitasi rakyat untuk mampu belajar mengelola kambing dengan baik dan benar. Contoh gambar di atas adalah kambing yang bisa berbaris rapi untuk diperah susunya, bagaimana bisa membuat kambing berbaris rapi untuk diperah susunya? ? SDM yang mengelola kambing yang pertama harus dilatih untuk mampu mengelola kambing-kambing tersebut. Setelah itu baru dia bisa melatih kambingnya untuk bisa berbaris setiap saat mau diperah susunya.

4) Fasilitasi rakyat untuk memperoleh bibit-bibit unggul kambing secara murah atau bahkan GRATIS.

5) Bangun jaringan industri dan pemasaran, baik yang terkait dengan kebutuhan bahan/alat bagi para peternak ? maupun yang terkait dengan hasil-hasil dari peternakan kambing ini.

Bila terbangun teamwork yang baik antara pemerintah, pengusaha, peternak dan masyarakat pada umumnya; maka sangat bisa jadi industri perkambingan ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kerakyatan kita yang sesungguhnya. Menggembala kambing adalah apa yang dilakukan oleh seluruh nabi-nabi, maka tidak ada salahnya kita menseriusi urusan perkambingan ini sebagai salah satu upaya untuk membangun kedaulatan ekonomi di negeri ini. Insya Allah.

Posted in Political EconomyComments (0)

Dinar Untuk Transaksi Modal: Bagaimana Lapangan Kerja & Kemakmuran Tercipta


Sejak tulisan saya tanggal 30 September 2009 lalu dengan judul “Susu Bersih Diantara Kotoran Dan Darah” ; disusul dengan tulisan tanggal 23 Oktober tahun yang sama dengan judul “Investasi Sehat Untuk Minuman Sehat”, tidak hentinya kami berusaha merealisasikan ide-ide tersebut untuk menjadikan karya nyata yang dapat menciptakan lapangan kerja dan membangun kemakmuran.

Meskipun belum bisa dikatakan berhasil sepenuhnya, namun patut disyukuri bahwa upaya tersebut kini – 7 bulan setelah ide pertama muncul – sudah mulai memberikan hasil. Kambing-kambing yang kami ternakkan di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin ? kini sudah puluhan yang beranak dan otomatis menghasilkan susu. Insya Allah dalam 5 bulan ke depan akan ada ratusan kambing yang menghasilkan susu di lokasi ini.

Saat ini di Pesantren Wirausaha ada sekitar 25 orang bekerja dalam berbagai bidang mulai membangun kandang dan infrastruktur lainnya, memelihara kambing, mencari rumput, dlsb. Namun kalau hanya 1 lokasi produksi susu kambing ini yang kami gerakkan dengan modal Dinar; maka lapangan kerja dan kemakmuran yang tercipta tidak akan banyak ? ya hanya sekitar 25 orang tersebut yang dapat pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Nah langkah berikutnya yang diperlukan adalah menciptakan multiplier effect dari penciptaan lapangan kerja ini. Ada 2 yang akan kami lakukan dalam waktu dekat untuk tujuan ini.

1.) Yang pertama adalah membangun kandang-kandang kambing untuk produksi susu ini satu demi satu ? sehingga nantinya terbangun puluhan atau bahkan ratusan kandang sejenis. Dari mana dananya? Ini yang akan menarik.

Karena dana kami sendiri terbatas, maka baru 1 lokasi ini yang bisa kami bangun; lokasi-lokasi berikutnya akan kami bangun melalui konsep Build and Sell berbasis Dinar. Misalkan 1 lokasi seperti ini memerlukan total investasi 500 Dinar (tanah, bangunan, 100 kambing), maka investor kami (yang selanjutnya kami sebut investor pertama) yang akan membangun sampai jadi lokasi tersebut dan sampai kambing-kambingnya menghasilkan susu.

Setelah semuanya berjalan baik, maka tanah beserta bangunan plus kambing-kambing produktif tersebut dijual ke investor ke-2 dengan harga investasi plus margin keuntungan yang wajar ? misalnya menjadi 600 Dinar.

Maka investor pertama dalam projek ini mendapatkan keuntungan 20% (sebelum bagi hasil). Sedangkan investor ke-2 mendapatkan bisnis yang sudah jalan, termasuk kambing-kambing yang produktif yang saat itu jumlahnya tentu sudah lebih dari 100 ekor ? karena selama project di tangan investor pertama-pun akan banyak kambing yang lahir.

Hasil penjualan peternakan kambing ke investor ke-2; kemudian digunakan untuk membangun komplek peternakan berikutnya. Setelah semuanya berjalan baik, baru dijual ke investor ke-2 berikutnya. Begitu seterusnya project ini sehingga kelak akan terbangun puluhan atau ratusan kandang kambing tergantung seberapa besar dana yang bisa kami kumpulkan untuk projek perkambingan ini.

2.) Lantas dijual kemana susu-susu kambing dari puluhan atau ratusan kandang tersebut tersebut? Disinilah letak peluang dan tantangan berikutnya. Selama ini petani dan peternak di Indonesia selalu menjadi korban karena lemahnya penguasaan pasar.

Untuk tidak mengulangi kelemahan yang sama; sedari dini kita juga akan bangun jaringan pasar susu kambing kita sendiri. Untuk ini kini mulai kita bangun merek dagang untuk susu kambing ini dengan nama Indolaban ? yang artinya “susu dari Indonesia”. Laban adalah bahasa Al-Qur?an untuk “air susu dari sungai di surga” (QS. Muhammad (47):15).

direct1st: First in Wealth Distribution

direct1st: First in Wealth Distribution

Jaringan pemasaran Indolaban tidak akan mengandalkan minimarket atau supermarket ? tetapi akan menggunakan jaringan penjualan langsung Direct1st® yang sistemnya juga alhamdulillah sudah siap operasi.

Bila ini semua berjalan baik, maka ribuan lapangan kerja insya Allah akan tercipta baik di sektor produksi maupun distribusi. Manfaat lain bagi bangsa ini adalah tersedianya susu produksi dalam negeri yang jumlahnya cukup ? sehingga diharapkan mengurangi ketergantungan kita pada susu impor. Bahkan siapa tahu kelak Indolaban juga menjadi andalan ekspor susu kambing ke negara-negara lain; why not? lha wong segala sumber daya yang diperlukannya ada ? baik alam, dana, maupun SDM yang melimpah.

Sama seperti project Planet Jamur yang sudah kami luncurkan lebih dahulu; untuk project Susu Kambing ini kami juga akan memberikan kesempatan seluasnya kepada para pembaca yang ingin terlibat langsung dan tumbuh bersama kami ? baik di sektor produksi/peternakannya, maupun sektor distribusi susunya; silahkan bergabung ke group Susu Kambing yang kini sudah kami buat di facebook. Semoga Allah memudahkan jalan untuk kita beramal yang diridloiNya. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes