Tag Archive | "India"

Pisang: Tanaman Surga Untuk Memakmurkan Negeri


Pasti bukan suatu kebetulan kalau Allah mengabarkan ke kita bahwa para penghuni surga dari golongan kanan ? yaitu golongan yang dimuliakan oleh Allah, kelak akan menikmati pahalanya ?…berada di antara  pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…?(QS. Al-Waqi?ah [56]:  28-30). Allah rupanya menginginkan kita menikmati sebagian kecil dari kenikmatan surgawi tersebut selagi kita masih di dunia ? dengan mudahnya Tanaman Pisang ini tumbuh di bumi pertiwi.

Istimewanya benda-benda di surga adalah semuanya baik-baik dan tidak ada yang buruk. Jadi kalau ada tetesan kecil dari benda yang ada di surga ? yaitu Pohon Pisang tersebut ? di sekitar kita, pastilah manfaatnya sangat besar untuk kemakmuran kita di dunia ini. Bahwasanya selama ini kita belum menyadarinya, bisa jadi ini karena 3 hal:

  1. Karena keimanan kita belum cukup kuat untuk meyakini bahwa surga itu ada dan apa-apa yang dikabarkan oleh Allah tentang surga tersebut adalah benar.
  2. Karena kita kurang mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkannya ke negeri ini ? dari setetes kenikmatan surga yang ada.
  3. Karena ilmu kita yang belum sampai untuk memahami nikmat berupa manfaat yang begitu besar dari pohon surga yang dengan izinNya ? sangat mudah tumbuh di negeri ini.

Pada tulisan ini saya akan fokus ke masalah ke-3, yaitu memahami manfaat yang begitu besar dari pisang ini untuk memakmurkan negeri. Kita tahu bahwa salah satu indikator kemakmuran suatu bangsa adalah Pendapatan Domestik Bruto atau PDB-nya. Di dalam tulisan saya sebelumnya saya jelaskan bahwa unsur yang membentuk PDB adalah Konsumsi, Investasi, Belanja Pemerintah, Ekspor dan Impor4 unsur pertama positif, dan 1 unsur terakhir negatif.

Artinya bila kita banyak konsumsi (tentu banyak karena kita ada 235 juta penduduk!), tetapi kita tidak kunjung makmur (tidak kunjung tinggi PDB-nya) ini adalah karena ada porsi yang amat besar dari konsumsi tersebut yang harus diimpor. Untuk kebutuhan bahan pangan berupa gandum misalnya, tahun lalu negeri ini perlu mengimpor sampai 4.66 juta ton senilai kurang lebih Rp 22.5 trilyun! Untuk kebutuhan pakaian kita yang berasal dari kapas, 99.5 %-nya masih harus diimpor!

Lantas apa kaitannya tanaman pisang dengan kemakmuran tersebut? Rupanya disinilah rahasianya. Tanaman dari surga yang tidak menyisakan sedikit-pun barang yang tidak berguna ini, sesungguhnya bisa memenuhi 3 kategori kebutuhan pokok kita sekaligus yaitu sandang, pangan dan papan.

Serat batang pisang yang diolah dengan baik, dapat menjadi serat untuk bahan tekstil yang kwalitasnya bahkan lebih baik dari kapas ? dia mendekati sutera. Bila kita paksakan tanam kapas – produksi kita hanya dapat memenuhi 0.5% dari kebutuhan kapas kita ? lantas mengapa tidak kita beralih ke Gedebog Pisang sebagai sumber serat tekstil kita? Pisang tumbuh dimana saja di seantero negeri, dan setiap satu batang pisang mengandung serat yang sangat banyak ? insya Allah kebutuhan serat untuk pakaian ini akan dapat digantikan oleh Serat Gedebog Pisang. Bila ini dapat kita lakukan, maka kita dapat memutus kebutuhan impor kita akan kapas.

Bila kita belum bisa mengolah Serat Pisang secara halus untuk bahan tekstil, pengolahan Gedebog Pisang secara sederhana sudah akan dapat menghasilkan bahan bangunan yang perkasa dengan teknologi composites yang kita punya. Ini dapat mendorong Konsumsi, Investasi dan bahkan Ekspor yang semuanya berdampak positif pada PDB yang berarti juga kemakmuran.

Republik PISANG = Negeri yang Makmur

Republik PISANG = Negeri yang Makmur

Buah Pisang yang selama ini hanya dikonsumsi sebagai buah, dan cenderung dihargai murah pada saat panen pisang di sentra-sentra produksinya ? sesungguhnya dapat diolah menjadi Tepung Pisang yang bergizi tinggi dan rasa dasar yang enak. Tepung Pisang ini dapat menjadi substitusi Tepung Terigu/Gandum yang selama ini sepenuhnya kita impor. Bila sedikit demi sedikit impor Tepung Gandum tersebut dikurangi dan menggantinya dengan Tepung Pisang ? maka disitulah proses kemakmuran itu akan dimulai.

Karakter Pisang yang bisa tumbuh dimana saja, juga akan merupakan alat untuk menyebar luaskan kemakmuran ke sejumlah besar petani.

Walhasil dengan membudidayakan Pohon Pisang secara luas dan memanfaatkan gedebog maupun buahnya untuk menutupi kebutuhan sandang, pangan dan papan dari 235 juta penduduk negeri ini ? pasti ini adalah proyek RAKSASA yang akan mampu mengdongkrak PDB (kemakmuran negeri ini) dari peningkatan Konsumsi, Investasi, Belanja Pemerintah dan Bahkan Ekspor. Pada saat yang bersamaan  impor akan menurun karena kebutuhan impor terigu dan kapas dapat ditekan seminimal mungkin.

Realistiskah proyek Pisangisasi ini? Tergantung iman dan ilmu kita untuk menjawabnya. Bila iman kita kuat dan yakin betul bahwa Allah telah melimpahkan nikmatnya ke kita, maka itulah yang diberikan Allah. Dalam sebuah hadits Qudsy dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi SAW bersabda : ?Allah Ta?ala berfirman: ?Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok, Aku mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil?. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari sisi keilmuan sebagian kita kuasai, sedangkan sebagian lain mungkin memang kita masih harus banyak belajar. Mengolah pisang menjadi Tepung Pisang misalnya, saya rasa sarjana-sarjana teknologi pangan di negeri ini yang jumlahnya sudah puluhan ribu insya Allah sudah dengan mudah dapat mengolahnya.

Mengolah Gedebog menjadi bahan bangunan yang kokoh, insya Allah kami di kelompok Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) dalam waktu dekat juga sudah akan menguasai teknologinya.

Mengolah gedebog menjadi bahan tekstil kwalitas tinggi, ini kita yang masih perlu banyak belajar. Di India sebagai produsen Pisang terbesar di dunia, hal ini sudah dilakukan orang ? bahkan kami juga sudah berhasil menemukan ahlinya disana, hanya karena dilindungi oleh Intelectual Property Right ? kami masih kesulitan untuk belajar ilmunya.

Namun ilmu-ilmu ini semua saya yakin tidak ada yang terlalu sulit untuk dikuasai, oleh karenanya melalui tulisan ini saya mengundang para peneliti maupun mahasiswa S1, S2 atau S3 yang tertarik untuk mendalami serat tekstil berkwalitas tinggi dari Gedebog Pisang ini untuk bergabung dengan team kami ? PWDM insya Allah bersedia menjadi sponsor penelitian Anda.

Melalui tulisan ini pula saya ingin mengajak kita semua untuk rame-rame menanam tanaman dari surga ini di tanah-tanah kita yang selama ini belum diproduktifkan, bersamaan dengan tumbuhnya Pohon Pisang tersebut ? kita cari teknologinya bersama-sama untuk mengolah hasilnya baik Gedebog maupun Buah Pisangnya.

Sungguh akan menjadi ironi besar bila sampai beberapa tahun ke depan bangsa ini masih tetap miskin, sedangkan tanaman dari surga-pun dapat leluasa tumbuh di sekitar kita. Semoga Allah menunjuki jalanNya yang terang benderang ke kita semua. Amin.

Posted in Islamic ViewComments (0)

Memaknai Kemerdekaan: Belajar Swasembada Ala Gandhi


Mumpung ini bulan Agustus, saya ingin menulis lagi tentang makna kemerdekaan bagi saya. Ini terkait dengan salah satu sebab mengapa rata-rata penduduk negeri ini bertambah miskin justru di era reformasi khususnya 10 tahun terakhir. Hal ini antara lain karena kita menjadi bangsa konsumtif, ekonomi kita lebih banyak didorong oleh konsumsi ketimbang produksi. Kita lebih banyak menjadi pasar dari produk orang lain, ketimbang pemasar bagi produk-produk kita sendiri.

Kalau sebagian bahan pangan kita dari terigu yang harus diimpor, demikian pula daging, susu dan gula lebih ekonomis (lebih murah) produk impor, tekstil dan produk tekstil kalah murah dengan produk china, sebagian terbesar peralatan elektronik, komputer, kendaraan bermotor juga produk impor, lantas apa yang kita produksi sendiri?

Coba kita renungkan dari bangun pagi sampai tidur lagi malamnya, bagian mana yang kita produksi?

Ketika bangun kita gosok gigi dan mandi pagi, hampir pasti pasta gigi yang kita pakai produksi perusahaan asing demikian pula sabunnya. Kemudian mencukur jenggot atau kumis, foam dan silet-nya juga pasti produksi asing. Ketika berganti baju, kemungkinannya adalah baju tersebut buatan China atau negeri lain, kalau toh buatan dalam negeri ? hampir pasti kapas atau bahan tekstil-nya diimpor juga.

Kemudian sarapan pagi pakai roti atau pakai mie ? kedua produk ini terbuat dari terigu yang pasti juga bahannya diimpor. Sebelum berangkat kerja sempat menelpon beberapa orang, handset-nya pasti impor ? dan pulsa teleponnya dibayarkan ke perusahaan Indonesia ? yang sahamnya juga dimiliki asing seperti Malaysia, Qatar, dlsb.

Kemudian naik kendaraan, mungkin dibuat/di-assembling di dalam negeri tetapi komponen utamanya juga impor. Ketika mengisi bensin, well sebagian besar kita masih memilih pom bensinya Pertamina. Tetapi tahukah kita bahwa minyak mentah untuk bahan bensin tersebut juga harus diimpor? Makanya ada subsidi yang sering diributkan itu, sudah sejak beberapa tahun lalu kita menjadi net importir untuk minyak ? jadi kita lebih banyak mengimpor ketimbang mengekspor.

Sampailah kita ke kantor membuka komputer mulai kerja; kemungkinan besarnya kita menggunakan PC atau Mac ? yang keduanya juga impor. Perhatikan pula seluruh peralatan kerja kita, sampai pensil sekalipun kemungkinan adalah produk impor.

Malam hari kita pulang, sempat nonton televisi yang produk Jepang, Korea, China atau negara-negara lain. Istri di rumah nggak sempat masak, telpon jaringan fastfood untuk makan malam ? lagi?lagi sebagian yang kita makan otomatis lari keluar karena makanan tersebut dijual disini atas lisensi franchise dari negara lain.

Kemudian kita lelah dan berangkat tidur, mulai dari matras tempat tidur, sampai bantal dan selimut-pun kemungkinan besar didominasi oleh produk atau bahan impor. Wow!

Nah mengapa semua ini bisa terjadi? Para ekonom rata-rata sepakat ini adalah karena faktor efisiensi. Negara-negara yang bisa membuat produk lebih efisien ? dus lebih murah ? akan dengan mudah bersaing di pasar yang semakin tanpa batas. Kalau ini dalilnya, lantas dimana peluang kita? Bagian mana dari kebutuhan kita yang bisa kita penuhi sendiri? Untuk menjawab pertanyaan inipun kini menjadi tidak mudah ? saking sudah terkepungnya kita dengan produk impor tersebut.

Ada setidaknya 2 hal  yang sebenarnya bisa mendongkrak produksi di luar Faktor Efisiensi tersebut, yaitu:

1) Keberpihakan pada produksi dalam negeri. Bisa jadi lebih mahal karena belum seefisien negara maju, namun kalau kelebihan harga tersebut juga kembali ke industri dan lapangan kerja di dalam negeri ? maka efek globalnya akan meningkatkan produksi dalam negeri ? dan menekan konsumsi produk-produk impor.

2) Sentimental Value dari produk-produk yang kita konsumsi. Meskipun produk impor lebih murah, kita tetap memilih produk kita sendiri karena adanya nilai lebih ya sentimental value tersebut.

Dalam hal sentimental value ini, kita bisa belajar misalnya dari apa yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi dalam membangun fondasi kemerdekaan India dari jajahan Inggris ? yang lamanya hampir sama dengan penjajahan Belanda di Indonesia. Gandhi misalnya mengajak rakyat India untuk mandiri dalam hal apapun.

Bendera Perjuangan India

Bendera Perjuangan India

Bahkan bendera perjuangan pemerintahan sementara mereka ? Provisional Government of Free India – sebelum merdeka 1947 bergambar charkha, yaitu alat pemintal benang secara manual yang dikampanyekan negeri itu sebagai alat produksi sekaligus simbul perlawanan terhadap dominasi produk impor India saat itu ? yaitu tekstil.

Keberhasilan Gandhi membawa rakyatnya swasembada pakaian inilah yang kemudian ikut andil dalam membawa kemerdekaan negeri itu, sekaligus tekstil juga menjadi produk unggulannya sampai berpuluh tahun kemudian.

Semangat swasembada ala Gandhi inilah barangkali yang sekarang perlu kita bangun, agar negeri ini mampu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Kita bisa mulai dari yang paling basic dahulu, yaitu sandang, pangan dan papan. Untuk pangan dan papan sudah pernah saya tulis dalam tulisan-tulisan sebelumnya, untuk sandang saya beri contoh apa yang bisa kita lakukan sebagai berikut:

banana-fiber

Serat Pisang

Bahan pakaian kita saat ini baik yang sifatnya serat alami kapas maupun serat syntetis mayoritasnya adalah impor. Kalau kita menanam kapas, jelas kita kalah efisien dengan negara lain yang industri perkapasannya sudah maju. Tetapi serat untuk pakaian kan tidak harus kapas? Bisa serat Gedebog Pisang misalnya,  yang secara kwalitas tidak kalah ketimbang kapas ? bahkan Serat Gedebog ini lebih mendekati sutera!

Perhatikan contoh gambar serat gedebog pisang di samping. Gambar yang di atas (Half Degummed Banana Fiber) adalah yang kita rencanakan menjadi bahan bangunan dan yang di bawah yang menyerupai sutera tersebut (Banana Fiber) adalah untuk bahan pakaian.

Gedebog Pisang ini melimpah di sekitar kita dan dapat tumbuh hampir dimana saja di seluruh nusantara. Untuk mengolah serat pisang sampai kwalitas mendekati sutera tersebut saya yakin juga bukan hal yang sulit, dan insya Allah bisa diolah dalam skala rumah tangga.

Pemintal Benang Sederhana

Pemintal Benang Sederhana

Lantas setelah menjadi serat, memprosesnya menjadi benang-pun tidak harus skala industri. Alat-alat sederhana dari kayu seperti di samping inilah yang kita butuhkan untuk memintal benang tersebut.

Hasilnya adalah benang-benang menarik seperti dalam contoh berikut di bawah. Setelah menjadi benang ini, bisa saja dibuat kain untuk berbagai jenis pakaian, atau langsung dirajut menjadi pakaian yang indah seperti yang dilakukan oleh puteri saya dalam blog-nya Life is a Beautiful Crochet.

Benang INDAH Gedebog Pisang

Benang INDAH Gedebog Pisang

Hasil keseluruhan dari proses ini kemungkinan besarnya masih akan kalah efisien dengan industri per-tekstil-an China sehingga baju-baju yang kita proses dari Gedebog Pisang ini masih akan lebih mahal. Namun ini produk kita sendiri, tanaman pisang adalah hasil tanaman sendiri ? yang menanamnya akan menjadi pekerjaan bagi jutaan rumah tangga di Indonesia.

Menganyamnya menjadi benang bisa menjadi pekerjaan anak-anak perempuan dan istri kita di rumah; demikian pula merajutnya menjadi baju.

Bahkan karena seluruh proses ini adalah proses industri tekstil yang eco-friendly serta dilakukan secara manual dengan tangan, maka nilai-nya menjadi bernilai tinggi karena hasil olah kerajinan (craft) bukan produk massal industri. Produk semacam ini juga memiliki pasar tersendiri ? karena menduduki posisi produk kerajinan yang ramah lingkungan yang sekarang mulai menjadi perhatian serius bagi masyarakat terdidik dunia.

Walhasil kita tidak bersaing dengan harga murah produk industri tekstil China, tetapi kita bersaing dengan sentimental value dari industri kreatif yang bisa jadi disinilah peluang untuk kita. Kalau Gandhi sentimental value-nya untuk melawan penjajahan Inggris, sedangkan kita sentimental value-nya adalah untuk kemerdekaan ekonomi bagi kita semua. Merdeka dari serbuan produk asing dan dari dominasi ekonomi negeri kuat terhadap negeri yang lemah.

Agar bisa mengimplementasikan perjuangan untuk merdeka secara ekonomi ini, tentu saya dan team tidak bisa bekerja sendirian. Bila Anda tertarik untuk ikut memperjuangkan hal ini, silahkan hubungi kami di gede...@dinarislam.com. Antara lain kita butuh mitra LSM Pemberdayaan Umat, kita butuh mitra ahli mesin dan proses industri khususnya tekstil, kita butuh designer yang creative dan kita butuh masyarakat luas untuk menanam pisang, mengolah gedebog-nya menjadi serat, memintalnya menjadi benang, merajutnya menjadi pakaian bernilai tinggi dan lain sebagainya. Insya Allah secara bersama-sama kita bisa meraih kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya. Merdeka!!!

Posted in Political EconomyComments (0)

Rumah Dari Gedebog Pisang, Bukan Mimpi…


Salah satu wisdom dalam berwirausaha yang saya pelajari dari para wirausahawan sukses Indonesia adalah kemampuan mereka menggarab basic needs atau kebutuhan pokok. Ini ciri khas potensi besar di negara-negara yang memang basic needs-nya masih mendominasi belanja masyarakat. Di negeri kita basic need ini tidak terlepas dari 3 hal yaitu Sandang, Pangan dan Papan.

Di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin hanya sandang yang belum kita garap karena kita belum menemukan celah yang pas untuk bersaing dengan serbuan produk murah yang berasal dari China. Untuk pangan kita masuk melalui sudut pandang dan peluang yang unique antara lain melalui project Planet JamurSusu Kambing dan Daging Kambing.

Untuk papan, lagi-lagi insya Allah kita akan masuk melalui celah peluang yang unique pula yaitu melalui bahan-bahan bangunan berteknologi tinggi namun murah sehingga terjangkau oleh seluas mungkin masyarakat Indonesia. Selain terjangkau, kami juga mencanangkan bangunan tahan gempa ? karena gempa bumi kini di Indonesia sudah menjadi rutinitas yang bisa terjadi kapan saja.

Bahan bangunan apa yang memenuhi kriteria tersebut? Bahan bangunan berbasis composites yang teknologinya kini kami dalami dan bahkan pabrik composites kami yang pertama telah dalam proses instalasi ? insya Allah bisa menjawab tantangan tersebut. Awalnya pabrik composites ini memang akan membangun kandang-kandang kambing berteknologi tinggi dengan serat alami dari bambu.

Namun teknologi dan pabrik yang sama sesungguhnya dapat juga dipakai untuk memproduksi berbagai bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan dari berbagai material. Salah satunya yang kami bidik adalah gedebog pisang atau dalam bahasa inggris disebut banana pseudostem (maaf saya belum ketemu bahasa Indonesia yang pas untuk gedebog pisang ini karena umumnya disebut batang pisang ? tetapi kurang pas karena dia sesungguhnya bukan batang).

Gedebog/Batang Pisang

Gedebog/Batang Pisang

Mengapa gedebog pisang?

  1. Karena pisang (Musa Acuminata Colla) adalah tumbuhan rakyat yang bisa tumbuh dimana saja dengan melimpah di negeri ini.
  2. Gedebog pisang selama ini lebih banyak dianggap sebagai sampah ketimbang bahan baku yang bisa jadi bernilai ekonomi tinggi.
  3. Penyebarannya di masyarakat luas memungkinkan pemberdayaannya akan menimbulkan lapangan kerja yang luas pula.
  4. Serat yang dihasilkan dari gedebog pisang atau banana pseudostem fibre dari berbagai riset yang dilakukan di negeri tetangga India dan Malaysia, memenuhi syarat untuk bahan baku industri umumnya dan bahan baku composites khususnya.

Bila di negara lain gedebog pisang mulai dilirik untuk membuat berbagai perabot rumah tangga, produk-produk seni dan kerajinan bahkan juga untuk komponen kendaraan bermotor, mengapa tidak kita canangkan sebagai salah satu bahan bangunan yang berteknologi tinggi namun terjangkau bagi masyarakat luas ke depan?

Teknologi membuat serat dari gedebog pisangnya sederhana, teknologi untuk composites-nya dan bahkan pabriknya-pun kini telah kita punya, lantas apalagi masalahnya?

Masalah yang juga bisa berarti peluang (bagi yang mau menggarapnya) adalah tersebarnya bahan baku tersebut. Bagi Anda yang bisa melihat ini sebagai peluang, disinilah peluang tersebut.

  • Bila Anda mahasiswa teknik tingkat skripsi, Anda bisa menjadikan ini bahan skripsi Anda ? sehingga kelak Anda-lah ahli di bidang gedebog pisang yang berpeluang luar biasa ini. Lebih dari itu, kami bersedia menjadi sponsor untuk thesis S1, S2 maupun S3 untuk subject yang relevan dengan gedebog pisang ini.
  • Bila anda ahli logistik dengan jaringan luas; mendidik masyarakat untuk mengolah serat gedebog pisang kemudian mengumpulkannya untuk dijual ke industri composites kami ? barangkali inilah peluang baru bagi bisnis Anda.
  • Bila Anda aktifis LSM untuk pemberdayaan masyarakat, bisa jadi gedebog pisang ini menjadi project pemberdayaan yang paripurna bagi institusi Anda.
  • Bila Anda politikus yang ingin secara konkrit menciptakan pekerjaan seluas mungkin untuk mengumpulkan dukungan yang genuine bagi partai Anda dalam pemilu 2014, maka bisa jadi pula gedebog pisang ini juga merupakan salah satu peluang Anda untuk dapat membangun konstituen Anda yang mengakar di masyarakat.

Bagi Anda yang tertarik untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang peluang ini, silahkan menghubungi kami di gede...@dinarislam.com. Bersama, Insya Allah kita bisa! Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

China Bersiap Memimpin Perdagangan Dunia Tanpa US$?


Kinerja US$ terus menjadi keprihatinan para pemimpin dunia, terutama negara yang memegang US$ dalam jumlah terbesar seperti China. Di sela-sela  pertemuan dengan para petinggi Amerika tahun lalu, secara terus terang Asisten Menteri Keuangan China Zhu Guang Yau mengungkapkan: ?Pemerintah China sebagai pemerintahan yang bertanggung jawab, pertama dan paling penting harus bertanggung jawab pada rakyat China. Jadi tentu kami prihatin dengan keamanan aset-aset China?. Yang dimaksud aset-aset China dalam pertemuan ini adalah aset China dalam bentuk US Treasury Debt yang kini nilainya telah mencapai US$ 801.5 milyar.

Meskipun pertemuan ditutup dengan penuh semangat seperti yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton ?kami telah meletakkan dasar-dasar yang positif, kooperatif dan hubungan yang komprehensif abad 21?; dunia tidak menutup mata atas upaya-upaya lain yang nampaknya juga dilakukan oleh China sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap rakyat China ? seperti yang diungkapkan oleh Zhu tersebut.

Ada 2 hal yang dilakukan China untuk menggantikan atau setidaknya mengurangi ketergantungan terhadap US$ dalam perdagangan internasional.

  1. Pendekatan bottom-up untuk menggantikan US$ dengan Yuan, tidak melalui sistem perbankan ? tetapi melalui perdagangan. Dengan negara terbesar di Amerika selatan ? Brasil misalnya , mereka telah menyepakati rencana untuk menggunakan Yuan langsung sebagai pengganti US$ dalam perdagangan antara kedua negara ini. Setelah itu, target besar berikutnya adalah OPEC yang diharapkan akan segera dapat menerima Yuan untuk pembayaran minyak produksi mereka.
  2. Langkah yang masih misterius karena sangat dirahasiakan, kemungkinan besar melibatkan juga negara kuat Jerman, selain Brasil, Rusia dan India yang bersama China sebelumnya telah intensif bicara dalam forum BRIC.
US Treasuries

US Treasuries

Yang mereka sedang persiapkan secara rahasia nampaknya semacam sistem barter yang canggih, yang tidak melibatkan uang fiat seperti US$. Hal ini sedikit bocor oleh pernyataan salah satu konsultan mereka yang antara lain mengungkapkan: ?Ketika terjadi keambrukan (sistem finansial dunia yang didominasi US$), sistem ini tidak akan membutuhkan reserve currencies lagi, karena 95% dari transaksi akan berupa barter atau imbal dagang yang canggih melalui platform perdagangan yang sedang di-design untuk siap beroperasi awal 2010. Sistem baru ini akan meniadakan peran bank yang selama ini menjadi jalur sempit (bottleneck) dalam perdagangan secara lokal, nasional dan internasional?.

Betapapun siapnya negara China untuk menggantikan Amerika dalam perdagangan dunia, negara-negara yang penduduk terbesarnya Muslim seharusnya memiliki langkah-langkah tersendiri dan tidak mengikuti atau terbawa arus oleh negara lain, baik itu Amerika maupun China. Keduanya tidak bersahabat dengan Dunia Islam seperti apa yang ditunjukkan Amerika di Palestina, dan apa yang dilakukan China terhadap saudara-saudara kita Muslim Uighur.

Selain karena faktor politik ini, sebenarnya Dunia Islam telah memiliki platform perdagangan yang berbasis Dinar, yang memang sudah mengedepankan perdagangan benda riil ke benda riil lainnya. Dengan sistem Dinar, perdagangan tidak perlu ribet seperti dalam sistem barter ? tetapi juga tidak perlu rentan terhadap fluktuasi nilai mata uang masing-masing negara karena nilai daya beli Dinar yang baku secara universal ? tidak terpengaruh waktu dan tempat.

Negara-negara yang mau menggunakan sistem Dinar ini juga tidak perlu re-invent the wheel karena sistem yang mengatur perdagangan berbasis Dinar ini sudah lengkap, utuh dan proven karena telah lebih dari 1000 tahun diterapkan Dunia Islam ? itulah Syariah.

Dengan keunggulan-keunggulan sistem Dinar ini; seharusnya Dunia Islam yang memimpin perdagangan dunia ke depan. Apalagi sumber daya alam terbesar seperti minyak, panas bumi, gas, hutan dan lain sebagainya tersedia dengan cukup di Dunia Islam tersebut.

Namun kalau harapan ini terlalu jauh, bila pendekatan top-down dari pemimpin-peminpin negara Islam untuk rakyatnya sulit diharapkan;  maka umat Islam yang cerdas-pun dapat memulainya dengan pola bottom-up. Umat sendiri yang secara luas menyebarkan dan menggunakan sistem perdagangan berbasis Dinar yang adil, maka setelah itu pemerintah-pemerintah negeri muslim suka atau tidak suka akan mengikuti kemauan dan kepentingan rakyatnya. Insya Allah?

Posted in Political EconomyComments (0)

Bila BRIC Membuat Uangnya Sendiri, Bagaimana Dengan Kita?


BRIC adalah sebutan untuk 4 negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia yaitu Brasil, Rusia, India dan China. Pada pertengahan tahun lalu (Juni 2009) para pemimpin negara mereka bertemu di Yekaterinburg, wilayah pegunungan Ural ? Rusia.

Yang menarik sekali kita ikuti adalah agenda pertemuan mereka ini, yaitu membahas rencana penggantian mata uang US$ sebagai alat transaksi Global. Ke-4 negara tersebut juga bertekad untuk membentuk sistem finansial global baru, menggantikan sistem finansial yang selama ini dianut oleh seluruh negara-negara di dunia.

Entah kapan uang dan sistem finansial baru versi BRIC ini bisa terwujud, namun pertemuan para pemimpin negara-negara BRIC tersebut sudah selayaknya menjadi pelajaran bagi negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang juga sering disebut MDC (Muslim Dominated Countries) ini.

Pelajaran pertama adalah kenyataan bahwa mata uang US$ tidak akan selamanya bisa bertahan sebagai mata uang utama dunia, sehingga harus secara serius segera dipikirkan penggantinya ? sampai melibatkan pertemuan tingkat tinggi antar pimpinan Negara. Bersamaan dengan penggantian mata uang ini, sistem finansial dunia yang selama ini IMF minded juga selayaknya diganti.

Pelajaran kedua adalah, kalau pemimpin-pemimpin dunia yang sama sekali tidak memiliki kesamaan ideologis satu sama lain saja bisa bertemu untuk mencari solusi bersama yang terkait dengan uang dan sistem finansial; sudah selayaknya pemimpin-pemimpin Dunia Islam lebih potensi lagi untuk bertemu mengatasi masalah uang dan sistem finansial ini.

Gross Domestic Product (GDP)

Gross Domestic Product (GDP)

Para pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini setidaknya memiliki kesamaan ideologis dan memiliki kesamaan tanggung jawab terhadap rakyatnya, yaitu membebaskan rakyatnya dari penindasan/penjajahan ekonomi yang antara lain termanifestasikan dalam bentuk penggunaan mata uang negara lain sebagai alat transaksi antar mereka.

Bagi Dunia Islam pencarian mata uang pengganti US$ dan sistem keuangan ala IMF ini jauh lebih mudah ketimbang negara-negara di Eropa membentuk Euro atau negara-negara BRIC dalam melakukan pencarian mata uang barunya. Dunia Islam sudah memiliki Dinar yang telah dipakai lebih dari 1400 tahun, dan satu-satunya mata uang dunia yang bebas dari inflasi sepanjang sejarah.

Dari sisi ukuran-pun kalau negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim ini bergabung, skala ekonomi yang diukur dari total GDP-nya juga lumayan besar; lihat grafik-grafik di atas yang menujukkan total GDP dari MDC, untuk data tahun 2008 memang baru sekitar ½ total GDP dari BRIC, dan ¼ total GDP dari EU; tetapi potensinya tidak kalah besar dengan Negara-negara di EU maupun BRIC karena kekayaan alam yang melimpah di MDC ini.

Kendalanya memang mungkin tidak mudah menyatukan visi 32 negara-negara MDC; tetapi lagi-lagi negara yang tidak memiliki kesamaan ideologis seperti 27 negara-negara yang tergabung dalam European Union (EU) saja bisa bersatu dalam masalah uang dan perdagangan; masa kita tidak dapat bersatu?

Well, kalau toh pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini belum memiliki visi untuk bersatu seperti yang dilakukan  oleh pemimpin-pemimpin EU dan BRIC ? tidak ada salahnya juga kita memulai sesuatu yang sudah bisa kita lakukan yang kelak insya Allah bisa menjadi alat pemersatu umat ? setidaknya dalam masalah uang dan sistem keuangan ini.

Inilah big picture dari sistem keuangan bebas Riba berbasis Dinar yang mulai kita rintis dalam beberapa tahun terakhir. Semoga Allah memudahkan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Posted in Political EconomyComments (0)

Greenspan-Guidotti Rule: Harga Emas Dunia & Peluang Meraih Kemerdekaan Kita


Ketika saya mulai menyempatkan diri untuk menulis di blog 2 tahun lalu, ada tulisan awal saya bertanggal 30 Desember 2007 yang berjudul Kehancuran Uang Kertas Mengikuti Deret Fibonacci.  Karena pembaca saya saat itu belum sebanyak sekarang, dan orang belum melihat buktinya ? maka tentu lebih banyak yang tidak percaya daripada yang percaya ? saya tentu memaklumi hal ini.

Kini hampir 2 tahun kemudian coba kita tengok kembali ke belakang. Ketika tulisan tersebut saya buat, harga Dinar masih Rp 1,096,900 dan harga emas dunia berada pada angka US$ 833.75; Menjelang 2 tahun harga Dinar kini sudah mencapai Rp 1,597,770,- dan harga emas dunia sudah berada pada angka US$ 1,215.70. Deret Fibonacci saya belum terbukti 100% memang, tetapi sudah sangat dekat ? tinggal sejengkal langkah lagi ? untuk terbukti.

Ini mengerikan saya sendiri yang menulisnya karena berarti kehancuran uang kertas itu begitu dekatnya. Kalau uang kertas merepresentasikan peradaban jaman ini, mungkin ini salah satu tafsir Al-Qur’an berikut:

QS Al-Maarij (70): 5-7

?Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan kami memandangnya dekat (pasti terjadi).? (QS. Al Ma?aarij (70): 5 ? 7)

Karena penasaran saya, kemudian saya berusaha mencari bukti ilmiah lain yang bisa menjelaskan ke masyarakat zaman ini tentang fenomena kehancuran uang kertas ini. Maka saya ambillah teori dari dedengkotnya uang kertas abad ini yaitu Alan Greenspan (dahulunya The Federal Reserve Chairman) dan Pablo Guidotti (dahulunya  Deputi Minister of Finance ? Argentina).  Kedua orang ini kemudian menghasilkan  apa yang disebut Greenspan-Guidotti Rule, saya singkat saja menjadi GGR untuk kemudahan penulisan berikutnya.

Inti dari GGR ini sebenarnya sangat sederhana yaitu: ?Suatu negara harus memiliki cadangan yang minimal setara dengan hutang external jangka pendek (jatuh tempo setahun atau kurang)?.  Dengan kata lain rasio antara reserve dan hutang jangka pendek minimal 1; bila kurang dari ini maka negara dalam bahaya kebangkrutan ekonomi.

Untuk contoh, lagi-lagi saya nggak mau menggunakan negeri sendiri takut ada yang marah. Maka saya ambil contoh negara yang sering secara misleading disebut sebagai  adi kuasa atau super power ? Amerika Serikat. Alasan lain saya pilih negara ini karena uangnya US$ selama ini dipakai untuk mengukur harga emas internasional.

Bila GGR mensyaratkan rasio minimal 1 agar negara bebas dari ancaman kebangkrutan, maka seperti apa peluang AS untuk bangkrut dalam jangka pendek? Marilah kita lihat cadangan dan hutang jangka pendeknya.

Untuk cadangan, saat ini AS memiliki:

  1. 8,133.5 ton emas senilai sekitar US$ 300 Milyar.
  2. Cadangan strategis berupa minyak 725 juta barrel senilai sekitar US$ 58 Milyar.
  3. Amerika juga memiliki cadangan dalam mata uang asing sebesar US$ 136 Milyar (data IMF).

Total dari 3 cadangan utama ini hanya US$ 494 milyar, katakanlah ditambah lain-lain kita bulatkan saja jadi US$ 500 Milyar.

Mari sekarang kita lihat hutang jangka pendeknya. Menurut US Treasury, Amerika saat ini harus me-refinance- sekitar US$ 2 trilyun hutang jangka pendek; ini diluar defisit anggaran belanjanya yang mencapai US$ 1.5 trilyun, atau Amerika membutuhkan US$ 3.5 trilyun dalam 12 bulan kedepan.

Ambil yang US$ 2 trilyun hutang jangka pendeknya dahulu; kemudian kita lihat kemana mereka berhutang. Ternyata sejak tahun 1985 Amerika sudah menjadi negara yang  hutangnya lebih besar ketimbang piutangnya ke negara lain (net debtor). Sekarang sekitar 44% dari US$ 2 trilyun hutang tersebut adalah hutang terhadap pihak luar. Artinya hutang Amerika jangka pendek yang harus segera dilunasi ke pihak di luar Amerika saja telah mencapai US$ 880 milyar, yang jauh lebih besar dari cadangan mereka yang hanya US$ 500 Milyar tersebut di atas. Dari sini saja jelas Amerika akan segera menjadi negara yang GAGAL berdasarkan Greenspan-Guidotti Rule.

Mungkin Anda akan berpikir bahwa sebagai negara besar, Amerika pasti bisa mengatasi masalah ini. Tetapi nanti dulu, perlu diingat bahwa bukan hanya terhadap hutang jangka pendek terhadap pihak luar yang Amerika akan gagal ? untuk membiayai total hutang yang US$ 2 trilyun dan defisit belanja yang US$ 1.5 trilyun  atau total US$ 3.5 trilyun ? sampai saat ini para ahli negeri itu juga belum ketemu solusi yang berkelanjutan (sustainable).

Saving bangsa Amerika saat ini hanya di kisaran US$ 600 Milyar pertahun; jadi kalau seluruh saving ini untuk membiayai hutang dan kebutuhan jangka pendek-pun tidak akan memadai. Mereka masih kekurangan dana sekitar US$ 3 Trilyun atau sekitar 40 % dari GDP mereka.

Well, tentu mereka akhirnya punya solusi untuk ini ? meskipun bukan solusi yang sustainable, apa solusi itu? Mencetak uang dari awang-awang ? atau dalam bahasa awam mereka “printing money out of thin air”. Bahasa teknisnya bisa keren-keren seperti quantitative easing, debt monetizing, dlsb. Tetapi pertanyaannya sampai kapan mereka dapat melakukan ini? Kalau ada orang berhutang kepada Anda, setiap kali ditagih terus menunda atau malah minta hutangan baru ? apakah akan Anda terus berikan? Inilah nampaknya yang mulai dilakukan China dan India dengan mengurangi ketergantungannya pada US$ dan mulai secara serius meningkatkan cadangan emasnya.

Lantas apa hubungan ini semua dengan harga emas dunia? Sederhana saja, kalau harga emas sekarang senilai US$ 1,215.70; apa jadinya kalau US$ tidak lagi dipercaya orang dan nilainya terus menurun, tinggal 1/2, tinggal 1/4 (seperti yang kita alami tahun 97/98) dan seterusnya. Maka harga emas dunia bisa berlipat ganda melebihi kelipatan yang sebelumnya saya perhitungkan dalam Deret Fibonacci tersebut di atas.

Fibonacci bisa keliru, demikian pula dengan Greenspan dan Guidotti. Tetapi kehancuran sistem ribawi sudah dipastikan di Al-Qur?an (QS. Al-Baqarah (2): 276) jadi 100% saya percayai kebenarannya.

Lantas apa solusinya bagi kita sebagai bangsa dan pribadi? Lagi-lagi balik ke Al-Qur?an (QS. Yusuf (12): 47-48) yang kebenarannya pasti :??.Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) secara sungguh-sungguh; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan??. Ini cara Qur?ani untuk mempersiapkan diri menghadapi paceklik panjang dimulai dari gempa financial dahsyat yang epicentrum-nya US$ tersebut di atas.

bercocok-tanamDalam skala bangsa, kita punya seluruh sumber alam yang kita butuhkan berupa laut, hutan, tambang, lahan-lahan yang subur?  maka tidak cukupkah waktu 7 tahun ke depan  untuk mengolahnya secara sungguh-sungguh dan mengelola penggunaannya secara efisien? Kalau ini dapat kita lakukan, maka insya Allah negeri ini akan dapat bener-bener merdeka ? mumpung sistem yang penjajah kita akan segera kalah perang (ekonomi) ? ingat tahun 45 kita diberi rahmat Allah berupa kemerdekaan (baru kemerdekaan fisik, belum kemerdekaan ekonomi, pemikiran, dlsb.) melalui kekalahan perang negeri penjajah kita waktu itu!

Ok, bicara negara dan bangsa mungkin terlalu luas; bagaimana kalau kita mulai dari diri kita sendiri? Bagaimana kalau kita berusaha secara maksimal untuk bisa memakmurkan bumi tempat kita berpijak ? sehingga dalam 7 tahun ke depan kita bisa benar-benar merdeka dari segala bentuk ketergantungan terhadap sesama manusia ? menjadi semata-mata hanya mengabdi, menyembah dan bergantung hanya kepadaNya, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.? (QS. Al-Ikhlas (112):2). Insya Allah Bisa!

Bagi yang ingin membuat langkah konkrit dalam hal ini, dapat bergabung dengan para peserta Pesantren Wirausaha ? yang saat ini tengah mulai berjibaku untuk bisa belajar memakmurkan sejengkal bumi Allah yang diamanahkan ke kita di Jonggol-Bogor. Semoga Allah permudah kita dengan amal yang diridhoiNya, Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Gold Reserve: Mereka Mungkin Tahu Yang Dilakukannya, Sedangkan Kita?


Saya punya 2 keponakan laki-laki yang usianya hampir sebaya 3 dan 4 tahun yang lagi lucu-lucunya. Tidak hanya lucu, anak-anak ini rupanya juga cerdas. Karena selisih umur yang sangat dekat ini, mereka suka sekali berantem berebut mainan.

Rupanya si kecil yang 3 tahun mempunyai kecerdasan yang melebihi usianya; untuk mengelabui kakaknya yang lebih tua ? agar tidak merebut mainannya ? dengan idenya sendiri si kecil suka berkata  ?jelek? jelek? jelek?? pada mainan yang lagi dimainkannya dengan asyik. Maka si kakak menduga bahwa mainan tersebut memang jelek dan tidak tertarik untuk merebutnya.

Dari memahami permainan keponakan saya tersebut, saya tersentak dengan data cadangan emas negara-negara besar dunia. Rupanya ?permainan? inilah yang dimainkan negara-negara besar Dunia terhadap emas. Mereka melalui jalur IMF, melarang penggunaan emas sebagai referensi mata uang dan bahkan mengawasi perdagangannya secara ketat. Mereka juga rajin ?mencitrakan? emas sebagai hal yang buruk.

Saking besar pengaruh mereka ini, sampai-sampai otoritas pasar modal kita pun sempat beberapa tahun lalu ikut-ikutan memojokkan investasi emas dengan membuat citra buruk tentang investasi emas. Dalam iklannya mereka menggambarkan seorang ibu yang serakah dengan tumpukan emas di gelangnya kemudian nyengir memamerkan gigi emasnya pula.

Nampaknya negara-negara besar dunia, sedang mempraktekkan ilmu yang sama dengan yang dimiliki keponakan saya yang 3 tahun tersebut di atas. Mereka senang mengatakan ?jelek?jelek?jelek? pada investasi emas. Padahal mereka sendiri asyik mengamankan cadangan kekayaannya dalam bentuk emas.

Lihat grafik di atas buktinya, Top 10 negara dalam hal cadangan emas mayoritas adalah negara-negara barat yang suka mengkampanyekan bahwa emas adalah hal yang jelek untuk uang maupun untuk investasi. Negara yang sadar bahwa mereka selama ini ?tertipu? dengan pencitraan buruk emas ? pun segera mengejarnya; hal ini misalnya dilakukan oleh China beberapa tahun terakhir dan India baru-baru ini.

top-10-countries-in-gold-reserve1Bukan hanya dari sisi kwantitif yang besar – karena rata-rata mereka memang negara besar, secara persentase terhadap total reserve mereka ? cadangan emas mereka juga sangat besar. Amerika mencapai 77%, Perancis mendekati 71%, Jerman mendekati 70%, Italy mendekati 67% dan Belanda mendekati 60%. Bila dirata-rata dari top 10 tersebut, maka cadangan emas rata-rata mereka adalah 38.5 % dari total reserve-nya.

Lantas dimana kita dan negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam lainnya? Meskipun bagian dari syariat kita membutuhkan uang emas (Dinar) misalnya untuk menentukan nishab zakat, hukum potong tangan, uang darah (diyat), dlsb; tidak satu-pun negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Indonesia memiliki cadangan emas yang memadai.

Indonesia misalnya; di bank sentral kita ? Bank Indonesia ? kita hanya memiliki cadangan emas sebesar 2,347,046.31 troy ounce atau sekitar 73 ton emas per akhir tahun lalu sesuai data BI di laporan tahunan tahun buku 2008. Dengan tingkat harga saat ini US$ 1,140/oz ; maka cadangan emas kita ini hanya bernilai US$ 2.68 Milyar, atau sekitar 4.15% dari cadangan devisa terakhir yang berada pada kisaran 64.5 milyar. Trend cadangan emas kita di BI juga bukannya naik, malah turun.

Setelah 1/4 abad bertengger pada posisi di kisaran 96 ton emas, sekarang tinggal 73 ton emas atau turun 24% dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini. Kemana perginya emas kita tersebut? menurut laporan BI tahun buku 2006, sebagian emas kita tersebut dilego untuk mempercepat pelunasan hutang kita ke IMF!

Jadi sekarang terserah kita? keponakan saya yang usia 4 tahun saja, kini tidak mempan lagi dikibuli adiknya yang berkata ?jelek?jelek?jelek? pada mainannya; masya kita tetap akan membiarkan pasar emas dunia dikuasai mereka? Padahal mereka memojokkan citra emas, dan mereka juga mengumpulkannya dari tangan bangsa-bangsa lain yang lalai mengamankan asset riil-nyaKalau toh otoritas kita tidak mengamankan asset riil bangsa ini, masya kita sebagai pribadi juga tidak mengamankan asset kita sendiri? Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

Supply-Demand Paradox: Kenaikan Harga Emas Dunia Semakin Nyata


Banyak temen-temen saya yang berpesan untuk diberitahu kapan waktunya yang baik untuk membeli Dinar;  saya selalu katakan bahwa bila tujuannya untuk spekulasi jangka pendek ? maka waktu membeli emas/Dinar bisa selalu salah. Sebaliknya bila orientasinya untuk mengamankan asset jangka panjang, maka membeli kapan-pun bisa selalu benar.

Ini juga tercermin dengan apa yang terjadi di pasar internasional, hari-hari kemarin harga di kisaran US$ 1,060/oz dikira sudah terlalu tinggi ? sehingga orang berharap turun. Tetapi malah yang terjadi sebaliknya, harga terus naik secara significant ? sampai menyentuh angka tertinggi US$ 1,089/oz semalam.

Kenaikan semalam juga bukan dikarenakan oleh melemahnya US$, karena sebaliknya US$ malah menguat beberapa poin. Kenaikan emas semalam disebabkan oleh fenomena pasar emas yang disebut supply-demand paradox.

Intinya begini, bila supply emas bertambah ? logikanya harga akan turun pada saat demand yang relatif tetap. Lha tadi malam IMF mengumumkan realisasi penjualan emas-nya yang sudah lama di koar-koarkan. IMF melepas 200 ton emas ke bank sentral India – dari sekitar 400 ton emas yang sudah lama direncanakan untuk dijual.

1-year-spot-gold-in-KitcoTambahan 200 ton emas segar dari IMF ini seharusnya menambah supply dan menurunkan harga bukan? Ternyata yang terjadi malah sebaliknya ? dengan diborongnya emas IMF oleh India, pasar mempersepsikan ada kekuatan besar lain selain China dan Rusia yang siap-siap memborong emas dalam jumlah besar ? kapan saja emas tersebut ada. Ini juga wujud menurunnya kepercayaan dunia terhadap sistem mata uang kertas ? yang dikomandoi oleh US Dollars.

Eksekusi separuh dari rencana pelepasan emas IMF juga disambut baik oleh pasar ? dengan naiknya harga emas secara tajam ? karena langkah ini akan mengurangi ketidak pastian dalam harga emas dunia yang dapat dipicu oleh tindakan-tindakan IMF terhadap emas yang dimilikinya. Dengan persediaan emas untuk dilepas mereka yang tinggal 200-an ton; market merasa comfortable ? bahwa IMF tidak akan banyak lagi berperan dalam harga emas internasional ini.

Ketidak percayaan terhadap US$ sebagai ukuran atau unit of account, kini juga menjalar di pasar emas dunia. Bila selama ini harga emas dunia selalu dinyatakan dalam US$, kini dipelopori oleh dealer emas besar yang sangat terkenal yaitu Kitco yang berbasis di Canada ?pergerakan harga emas dunia secara lebih real-nya sudah bisa diikuti dalam sekeranjang mata uang besar dunia ? bukan hanya dalam US$.

Pergerakan harga emas yang real ini oleh Kitco dinamai Kitco Gold Index atau disingkat KGX.  Dua grafik yang saya sajikan di tulisan ini diambil dari situs mereka untuk real time semalam dan untuk setahun terakhir.

Dari 2 grafik tersebut diukur dengan KGX, kita bisa lihat emas naik 2,44 % semalam dan 29,71% setahun terakhir. Artinya kenaikan hargaemas semalam, maupun setahun terakhir sungguh nyata.

Jadi meskipun hari-hari ini Dinar akan kelihatan mahal, masih sangat mungkin lebih mahal lagi beberapa bulan kedepan? tidak ada waktu yang keliru untuk mengamankan hasil jerih payah bertahun-tahun Anda sekarang. Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes