Salah satu momok perekonomian yang menyengsarakan rakyat adalah inflasi, bahkan salah satu unsur di Index Kesengsaraan (Misery Index) yang saya tulis pekan lalu juga masalah inflasi ini. Betapa tidak menyengsarakan; lha wong momok inflasi ini menyerang ke siapa saja tanpa terkecuali.
Si embok di desa karena kemiskinannya hanya mampu membeli beras paling murah seharga Rp 2,500/kg tahun 2003; beras yang sama kini baru bisa dibeli dengan harga Rp 4,025/kg. Pasangan muda yang 5 tahun lalu melahirkan anak pertamanya dengan biaya Rp 5 juta; anak ke-3-nya yang lahir tahun ini, di rumah sakit yang sama dengan layanan yang sama harus dibayarnya dengan biaya lebih dari Rp 8 juta.
Kenaikan harga-harga secara umum ini dapat Anda hitung sendiri perkiraan kasarnya dengan menggunakan Index Harga Konsumen, yang antara lain datanya bisa kita peroleh dari situs resminya Bank Indonesia. Dengan cara yang sama inflasi yang tercermin dari Index Harga Konsumen ini bukan hanya menyengsarakan kita semua saat ini, tetapi juga bisa menyengsarakan kita di masa-masa mendatang bila tidak kita pahami dan atasi dari sekarang.
Mengapa demikian? Bila selama ini tabungan kita memberikan hasil 6% misalnya di bank, bertambahkah uang kita? Angkanya memang bertambah, tetapi karena Indek Harga Konsumen mengalamai kenaikan rata-rata 8.75% per tahun selama 5 tahun terakhir ? maka sejatinya daya beli tabungan kita tersebut bukannya bertambah ? malah berkurang.
Demikian-pula berbagi bentuk investasi kita lainnya; kalau selama ini angkanya kelihatan besar ? coba Anda kurangkan dengan kenaikan Index Harga Konsumen; masihkah angkanya positif? Kalau masih positif, masihkah angkanya cukup menarik untuk Perencanaan Keuangan Anda jangka panjang?
Namun sebenarnya inflasi ini bisa dengan relative mudah kita lawan, yaitu bila tabungan kita berupa benda riil yang apresiasi nilainya melebihi inflasi. Dinar adalah salah satu contoh saja dari benda riil yang bisa mengalahkan inflasi ini; dari grafik dan data tersebut di atas, kita tahu 5 tahun terakhir Dinar mengalami apresiasi nilai ratra-rata 20.32% sedangkan Inflasi rata-rata ?hanya? 8.75%.
Dinar memberikan hasil investasi yang jelas lebih dari cukup untuk mengimbangi melonjaknya harga-harga barang dan jasa karena inflasi, seperti dalam beberapa contoh kasus tersebut di atas. Jadi, tools untuk melawan inflasi ini sungguh ada? tinggal kita mau gunakan atau tidak, ini sepenuhnya terserah kita?, Wa Allahu A?lam.


Untuk Indonesia, ekonom dunia yang secara khusus nampak punya ?kepentingan? di Indonesia adalah Prof . Steve H. Hank yang di akhir masa pemerintahan Orde Baru 1998 dulu berbicara intensif dengan presiden Indonesia waktu itu dengan ide Currency Board System-nya.


