Tag Archive | "hutang"

Kurangi Konsumsi, Tingkatkan Investasi, Produksi & Partisipasi


Dalam wawancara dengan kantor berita Antara pekan lalu (9/07/2010) Menteri Keuangan kita menyatakan bahwa kegiatan konsumsi merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia semester pertama tahun ini, Tentu yang paling besar adalah dari konsumsi, dan itu masih terus dominan menggerakkan pertumbuhan kita. katanya.

Situasi ini tidak berubah dari tahun sebelumnya dimana pertumbuhan ekonomi kita juga didorong oleh konsumsi, khususnya konsumsi masyarakat yang mencapai pertumbuhan 4.9% year on year pada pertumbuhan ekonomi yang dicatatkan pada angka 5.4%.

Apanya yang salah dengan ini? Mungkin secara nasional hal ini tidak terlalu salah karena ekonomi toh tumbuh anyway. Namun yang menjadi masalah adalah siapa yang menikmati pertumbuhan ekonomi ini? Pertumbuhan ekonomi yang terlalu mengandalkan pertumbuhan konsumsi masyarakat, bisa jadi malah memiskinkan masyarakat itu sendiri – tergantung pada siapa yang memproduksi barang atau jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat tersebut.

Saya ambil 2 contoh untuk memperjelas masalah ini. Dahulu waktu saya SMP, hanya orang kaya di desa saya yang bisa membeli sepeda motor. Sekarang kalau saya pulang ke desa, orang miskin di desa saya-pun kini bisa membeli motor. Bagaimana mereka membeli motor? Dengan uang Rp 500,000 mereka bisa membayar uang muka kredit motor. Kemudian dengan kerja kerasnya selama 3 tahun berikutnya, dengan menarik ojek, dlsb. baru dia bisa membayar kredit motor tersebut. Industri sepeda motor tumbuh, tetapi sebagiannya ditopang oleh kerja keras orang-orang seperti ini yang menghabiskan sebagian besar pendapatannya hanya untuk membayar kredit motornya.

Contoh kedua adalah telekomunikasi. Sebagai manager perusahaan asing 20 tahun lalu saya sudah mendapatkan fasilitas mobile telephone. Tetapi mobile telephone saat itu ukurannya segede accu mobil, dan harganya sama dengan mobil dinas saya. Saat itu yang perlu membeli mobile telephone dan membayar tagihan bulanannya hanya kantor-kantor perusahaan besar atau orang-orang yang memang benar-benar mampu membayarnya. Kini para Pekerja Rumah Tangga (PRT)-pun menghabiskan sejumlah besar dari penghasilannya untuk membeli telepon genggam dan membayar pulsanya.

Di satu sisi mungkin ada baiknya karena motor maupun telepon genggam kini bukan hanya untuk golongan yang benar-benar mampu; masyarakat yang sebenarnya kurang mampu-pun dapat menikmatinya.

Sisi negatifnya adalah, tanpa disadari konsumsi suatu barang atau jasa oleh masyarakat yang sebenarnya tidak atau belum mampu – justru akan mengorbankan masyarakat itu sendiri.

Krisis finansial dunia yang dimulai di Amerika 2 tahun lalu misalnya, penyebabnya adalah kredit perumahan yang dinikmati oleh masyarakat yang sebenarnya tidak mampu membayarnya. Dalam contoh kredit motor tersebut, yang menjadi korbannya adalah masyarakat yang tidak mampu membeli – harus menghabiskan 3 tahun waktu produktif berikutnya hanya untuk sebagian besarnya membayar hutang.

Dalam contoh telepon genggam, para PRT yang kecanduan “haha hihi” di telepon akan gagal mengumpulkan tabungan karena hasil kerja kerasnya akan lari ke produsen telepon genggam dan para operator telepon seluler.

blackberry-messengerLantas bagaimana caranya agar kita tidak menjadi korban dari ekonomi yang mengandalkan konsumsi ini?

  1. Rule of thumb-nya yang pertama dan paling efektif adalah JANGAN mengkonsumsi barang atau jasa yang sebenarnya kita belum mampu untuk mengkonsumsinya, apalagi yang sebenarnya tidak terlalu kita perlukan atau bahkan tidak bermanfaat .
  2. Gunakan kelebihan dana hasil kerja keras kita untuk kegiatan yang bersifat produktif atau investasi. Belajar berusaha, meningkatkan skills, membeli barang-barang produksi dlsb yang intinya untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna.
  3. Seiring dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya berbagai jejaring sosial, terlibatlah dalam ekonomi partisipatif dan kegiatan positif lainnya dan jangan sebaliknya menjadi korban kemajuan teknologi.

Untuk yang terakhir ini seperti pisau bermata 2; teknologi bisa menjadi unsur konsumsi yang menggerogoti kantong kita atau menjadi faktor produksi yang meningkatkan produktifitas kita.

Internet, Facebook, BBM (BlackBerry Messenger), dlsb bisa jadi alat yang efektif bagi kita untuk membangun jejaring sosial, menambah/memperluas pengetahuan dan wawasan, bahkan juga memasarkan produk barang, jasa dan keahlian kita – sebaliknya JANGAN hanya menjadi cost centre dalam belanja bulanan kita.

Mari berhenti menjadi korban ekonomi konsumsi dan mulai berinvestasi, berproduksi dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi…

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Balon Yang Diputus Talinya, Hendak Pergi Kemana?


Selama 2500 tahun lebih emas adalah uang bagi seluruh peradaban manusia. Bahkan setelah Perang Dunia II-pun melalui Bretton Woods Agreement 1945, uang masih dikaitkan dengan emas. Seperti dalam rangkaian balon di samping, balon pertama US$ diikat dengan emas 1 oz setara dengan US$ 35. Kemudian rangkaian balon berikutnya (Rupiah, Yen, dlsb) diikat dengan US$ atau langsung terhadap emas.

Lantas apa jadinya ketika ikatan terhadap emas tersebut diputus sejak 15 Agustus 1971 melalui kejadian yang mengguncang dunia yang disebut Nixon Shock? Seperti balon yang dilepas dari ikatannya – harga emas terus membubung tinggi. Bila pada tahun-tahun sebelum ikatan tersebut dilepas harga emas dunia berada pada kisaran US$ 35/Oz; pada tahun 1971 ketika ikatan dilepas, harga emas mulai merangkak ke angka US$ 40/Oz – kini harga itu telah mencapai US$ 1.200-an/Oz atau dalam US$ naik 30 kali-nya selama kurun waktu 40 tahun saja.

Balon Rupiah lebih tinggi lagi terbangnya. Bila pada tahun pelepasan ikatan tersebut harga emas masih dikisaran Rp 500/gram; kini harga itu di kisaran Rp 350,000/gram atau naik  700 kalinya selama 40 tahun terakhir!

Well, itu sejarah mata uang dan harga emas – suka atau tidak suka itulah realitanya. Yang lebih penting bagi kita adalah bukan sejarah masa lalunya, tetapi memahami kemana arah terbangnya balon-balon tersebut ke depan, sehingga kita bisa mengambil keputusan yang bijak untuk diri, anak cucu dan generasi yang akan datang. Berikut adalah poin-poin yang akan menentukan arah terbang balon-balon tersebut:

US-Treasury-Debt-for-gold

  • Sampai saat ini yang nampak di depan mata adalah uang akan terus dicetak tanpa ikatan apapun di seluruh dunia – persis seperti balon, isinya adalah awang-awang (udara).
  • Negara-negara di dunia terus menambah hutang, di Amerika yang uangnya (US$) digunakan untuk harga emas dunia – hutang tersebut kini telah mencapai US$ 12.8 trilyun, naik sekitar US$ 3 trilyun dari tahun sebelumnya.
  • Rule of Thumb-nya setiap kenaikan hutang Amerika US$ 1 trilyun, harga emas naik sekitar US$ 125/Oz, perhatikan pada grafik di samping untuk memahami hubungan antara US Treasury Debt ini dengan harga emas.
  • Untuk memberikan hasil yang berubah, diperlukan cara yang berubah pula. Maka bila belum ada perubahan dalam sistem pengelolaan uang dunia – kita juga belum bisa mengharapkan adanya perubahan dalam trend harga barang-barang tidak terkecuali emas.

Dari fakta-fakta tersebut di atas, saya melihatnya bahwa balon-balon tersebut rasanya belum akan turun dan balik ke pengikatnya. Yang terjadi mungkin malah sebaliknya, mereka akan semakin terbang tinggi dan kemudian menghilang. Barangkali inipula yang dilihat oleh Bank for International Settlements (BIS) sehingga secara diam-diam mereka mulai ‘memasukkan’ emas sebagai ‘alat tukar’ swap-nya, mereka mulai memerlukan kembali ikatan itu! Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +2 (from 2 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Bagaimana Spekulan Menghancurkan (Ekonomi) Dunia


Meskipun dengan pengalaman 21 tahun di pasar pengelolaan risiko dan investasi, saya tetap tidak mudah untuk dapat memahami bagaimana spekulan menghancurkan ekonomi Indonesia (1997/1998), Amerika (2008) dan Eropa (2010). Sampai baru-baru ini membaca tulisan sederhana dari Dr. Jeffrey Lewis dari Silver-Coin-Investor.com, yang setelah saya corat-coret dalam gambar di samping– saya ketemu gambarannya yang sederhana tentang masalah ini.

Dr. Jeffrey Lewis

Dr. Jeffrey Lewis

Untuk mudahnya memahami ulah spekulan ini, kita gunakan personifikasi 3 oknum yang berteman satu sama lain. Jon si pengutang, Bob dan Jim yang keduanya suka berjudi. Jon yang suka hidup di atas kemampuannya sendiri, selalu berhutang dari satu orang ke orang lain – dan membayar hutang dengan hutang lainnya.

Bulan ini Jon butuh lagi hutang, dan temannya yang lagi punya duit dari hasil judi – Bob rela memberi pinjaman Rp 1 juta (huruf A di gambar) – padahal Bob tahu kalau Jon sebenarnya nggak pernah mampu membayar hutang ini kecuali dengan hutang lainnya! Bagi Bob ini tidak apa, karena berdasarkan teori judi-nya toh nanti dia akan bisa me-recover piutangnya ke Jon lewat judi lagi dengan orang lain – bahkan menurut teorinya, dia bisa untung karena hutang ini.

Untuk menjalankan teorinya, pergilah Bob ke warung kopi untuk mencari teman yang bisa diajak berjudi – Warung Kopi ini adalah representasi dari apa yang disebut Derivatives Market di dunia nyata! ketemulah Bob dengan penjudi lainnya bernama Jim yang juga sangat mengenal Jon.

warung-kopi

Warung Kopi (ilustrasi)

Maka Bob bercerita kepada Jim bahwa dia baru memberi pinjaman (lagi) ke Jon sebesar Rp 1 juta; Jim yang tahu tabiat Jon langsung mentertawakan langkah Bob memberi pinjaman ke Jon. Disinilah awal perjudian itu, karena Bob tahu kalau Jim berkeyakinan bahwa Jon tidak akan mampu membayar hutangnya – atau kalau toh akhirnya membayar pasti tidak akan tepat waktu – maka ditantanglah Jim untuk taruhan.

Isi tawaran taruhannya Bob adalah sebagai berikut: bila Jon membayar hutang tepat waktu – maka Bob akan memberi Jim uang 2 kali lipat dari nilai hutang Jon (B). Sebaliknya karena Jim tahu betul siapa si Jon ini, maka dia memberi penawaran taruhan balik sebagai berikut: Bila Jon  membayar hutang tepat waktu – maka Jim akan memberi Bob uang 2.5 kali dari nilai hutang Jon (C). Mereka sepakat dengan perjanjian judi ini, tinggal menunggu hutangnya Jon jatuh tempo.

Sambil menunggu hutang jatuh tempo, Bob memutar otak kotornya agar memenangkan perjudian ini. Maka di belakang layar dia bergerilya ke Jon, menawari Jon uang Rp 1 juta (E) agar menggunakan uang ini untuk membayar balik hutangnya ke Bob tepat waktu – dengan demikian Bob akan menang taruhan dan untung Rp 1.5 juta – yaitu Rp 2.5 juta dari kekalahannya Jim minus Rp 1 juta yang dipinjamkan awal ke Jon (C – A).

Jim-pun tidak kalah kotor otaknya; didekatinyalah Jon untuk diberi uang Rp 1  juta (D) – agar digunakan uang tersebut untuk membayar hutang Jon ke Bob tepat waktu. Dalam teorinya Bob akan kalah taruhan sehingga harus memberinya uang Rp 2 juta (B), bila ini terjadi maka Jim dengan mudah untung Rp 1 juta – yaitu Rp 2 juta dari kekalahan Bob dikurangi Rp 1 juta yang diberikan ke Jim untuk membayar hutang tepat waktu (BD).

Siapa yang akhirnya menang? Bob dan Jim keduanya berpeluang memang dan keduanya juga berpeluang kalah. Sedangkan Jon terpupuk kegemarannya untuk berhutang dari waktu-ke waktu karena dalam pikirannya akan selalu ada yang ‘membantu’ dia membayari hutangnya.

Begitu seterusnya sampai salah satu pihak jatuh dengan kekalahan-kekalahan judi-nya atau ketidak mampuan untuk membayar hutang-hutang lainnya yang jatuh tempo, saat itulah seluruh sistem perjudian yang nilainya jauh di atas nilai hutang semula ini hancur – Jim dan Bob bangkrut dan Jon juga tidak akan mampu bertahan karena selama ini hidup dari hutang – dan kini tidak ada lagi yang menghutanginya.

Dalam dunia nyata, sosok Jon adalah sosok negara-negara di dunia yang memang kegemarannya berhutang dari waktu ke waktu. Sosok Jim dan Bob adalah para pemain derivatives raksasa dunia yang akhir-akhir ini banyak dituding menjadi biang keladi krisis ekonomi global.

Lantas bagaimana kita selamat dari hutang dan perjudian ini? Kembali ke jalan Syariah – dimana perjudian – maisir dan gharar dilarang; dimana setiap hari kita dianjurkan untuk berlindung dari hutang yang melilit – maka insya Allah dengan Syariah kita selamat. Amin.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Harga Emas: Mengapa Terjadi Anomali Musim?


Ketika melihat harga emas dunia yang mencapai US$ 1,240/Oz pagi ini saya sendiri terkejut, mengapa? Karena dalam pola naik turunnya emas tahunan berdasarkan data 5 tahun sebelumnya, harusnya bulan Juni dan bulan Juli adalah bulan dimana harga emas mencapai titik terendah – bersamaan dengan awal musim panas di belahan bumi utara.

Kemudian saya lihat lebih detil analisanya Kitco, dari mana kenaikan yang mencapai lebih dari +US$ 20/Oz semalam? Ternyata mayoritasnya didorong oleh permintaan yang tiba-tiba melonjak. Kalau saja US$ tidak menguat semalam, maka dorongan permintaan ini bahkan mampu mengangkat kenaikan harga emas sampai di atas +US$ 23/Oz.

Masih penasaran, saya ingin lihat lebih jauh lagi setahun terakhir apa benar permintaan ini melonjak. Ternyata benar sekali, analisa grafis dari Kitco di bawah menguatkan hal ini. Bila saja US$ tidak menguat dengan perkasanya sepanjang setahun terakhir bersamaan dengan melemahnya mata uang lainnya seperti Euro, maka harga emas saat ini seharusnya sudah sekitar +US$ 100/Oz lebih tinggi dari harga sekarang – atau berada di kisaran US$ 1,340/Oz (lihat pada garis biru).

Kitco Gold Index

Kitco Gold Index

Itu adalah faktanya; nah sekarang yang perlu kita dalami adalah mengapa sampai ada trend yang meningkat demikian tajam dalam arus pembelian emas dunia? Hampir seluruh analisa yang saya baca sependapat bahwa peningkatan permintaan adalah karena investor dunia membutuhkan tempat berlabuh yang aman (safe haven) bagi dana investasinya – di tengah berbagai krisis yang melanda dunia dengan tidak henti-hentinya dalam 24 bulan terakhir.

Lantas apakah trend – perasaan tidak nyaman dengan sistem keuangan dunia saat ini – akan terus berlanjut atau cenderung berkurang? Sangat tergantung bagaimana pemerintah dunia mengatasi problemnya masing-masing, terutama terhadap problem hutang dan defisit anggarannya.

Bila kondisi ini kita kaitkan dengan laporan dari The Bank for International Settlements (BIS) yang saya sajikan dalam tulisan saya 04/05/2010 lalu, maka nampak jelas dari analisa mereka-pun bahwa problem hutang tersebut akan meningkat dengan tajam pada tahun-tahun mendatang – dan tidak ada trend yang menurun. Untuk kita yang di Indonesia, Bank Sentral (BI) kita bahkan juga mengindikasikan bahwa ada kecenderungan menurunnya daya beli Rupiah tahun depan.

Dengan fakta-fakta tersebut di atas, nampaknya anomali tingginya harga emas di musim yang seharusnya rendah ini – berkemungkinan untuk berlangsung dalam jangka panjang. Atau dengan kata lain, tingginya harga emas sekarang yang mencapai US$ 1,240/Oz – bisa jadi ini the new low! Bila the new low–nya saja mencapai US$ 1,240/Oz, maka bisa dibayangkan berapa the new high-nya dalam beberapa bulan ke depan? Wa Allahu A’lam; Hanya Allah Yang Maha Tahu.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Kapan Waktu Beli Emas/Dinar Terbaik & Kapan Waktu Jual?


Hal yang paling banyak ditanyakan oleh pembaca situs ini ke saya adalah pertanyaan seputar kapan waktu terbaik untuk membeli Dinar/Emas dan kapan waktu terbaik untuk menjualnya. Tulisan ini untuk memberi jawaban secara umum, agar jumlah e-mail yang saya harus jawab menurun :) .

Untuk membeli emas atau Dinar dengan tujuan membangun ketahanan ekonomi jangka panjang, agar anak-anak bisa sekolah sampai tuntas, agar ketika tua kita tidak menjadi beban orang lain, agar aset yang merupakan hasil jerih payah kita tidak terus menurun nilainya dari waktu – ke waktu; maka membeli emas untuk tujuan ini dapat dilakukan kapan saja.

Dalam rentang waktu jangka menengah/panjang, tidak ada istilah ketinggian untuk harga emas atau Dinar. Ketika harga Dinar pertama kali menyentuh nilai Rp 1,000,000/Dinar (emas di kisaran Rp 237,000/gram) sekitar 2.5 tahun lalu – tepatnya tanggal 27 Oktober 2007; saat itu banyak yang berpendapat harga Dinar sudah ketinggian – lalu sementara permintaan Dinar menurun.

Ironinya ketika 13 bulan kemudian (27/11/2008)  harga Dinar menyentuh angka Rp 1,400,000/Dinar (emas di kisaran Rp 325,000/gram), permintaan Dinar justru mencapai titik tertingginya. Kemudian 3 bulan berikutnya lagi (19/02/2009) ketika angka menyentuh Rp 1,600,000/ Dinar (emas di kisaran Rp 373,000/gram), kembali permintaan Dinar mencapai titik tertinggi berikutnya.

Dari fakta-fakta di atas, Anda akan mudah memahami bahwa bila Anda menabung untuk tujuan proteksi nilai atau membangun ketahanan ekonomi  dalam jangka panjang – maka tidak ada waktu yang salah untuk memindahkan aset Anda dari aset yang berpeluang mengalami debasement (penurunan nilai) yaitu uang kertas ke aset yang terbukti memiliki daya beli stabil sepanjang zaman yaitu emas atau Dinar.

Apakah trend yang terjadi seperti yang ditunjukkan oleh angka-angka tersebut di atas akan terus berlangsung? dan harga emas/Dinar yang  sekarang dianggap sudah benar-benar ketinggian oleh sebagian orang – akhirnya akan turun juga?

Dalam jangka pendek iya, bisa jadi harga emas/Dinar akan turun. Namun sekali lagi dalam jangka panjangnya – lebih banyak faktor fundamental yang mendorongnya naik ketimbang turun. Salah satu faktor yang sangat dominan adalah realitas bahwa uang kertas dunia saat ini dibangun dengan hutang – ketika hutang menumpuk dan tidak ada lagi yang bisa/mau memberi hutangan  baru – sedangkan hutang lama harus dibayar – maka pasti uang kertas jatuh nilainya.

OECDGrafik di atas adalah prediksi OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk negara-negara yang konon paling kuat ekonominya. Rata-rata negara anggota OECD ternyata akan memiliki hutang (liabilities) yang melebihi GDP-nya tahun depan (2011). Dari grafik di atas, dapat kita ambil kesimpulan sederhana bahwa seluruh mata uang negara-negara anggota OECD akan turun significant (mengalami debasement) dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama – kecuali China. Ketika nilai uang kertas jatuh, apa yang terjadi dengan harga emas dan benda riil lainnya? Sederhana, harga emas dan benda riil lainnya akan melambung!

Untuk sementara China berkemungkinan bisa bertahan paling lama dalam hal kekuatan mata uangnya. China juga merupakan negara yang sangat pintar dalam mendorong rakyatnya membangun ketahanan ekonomi – dengan menganjurkan langsung dan mempermudah rakyatnya membeli emas – mumpung ekonomi mereka kuat dan uang mereka lagi perkasa.

Jadi kalau kita mau belajar sampai ke negeri China termasuk dalam hal ketahanan ekonomi ini, maka insya Allah tidak ada waktu yang salah untuk membeli emas atau Dinar.

Membeli emas/Dinar hanya akan salah bila tujuannya untuk spekulasi jangka pendek. Karena dalam jangka pendek harga emas akan terus bergejolak – sehingga sangat mungkin Anda merugi karena fluktuasi ini.

Lantas kapan waktu menjualnya yang terbaik? Yang terbaik adalah ketika Anda membutuhkannya untuk keperluan riil seperti membayar sekolah, pergi haji, membayar rumah, membayar biaya kesehatan, memindahkan ke investasi sektor riil, dlsb. Anda tidak akan pernah menyesal mencairkan emas atau Dinar Anda untuk keperluan-keperluan yang riil tersebut.

Sebaliknya bila Anda menjual emas/Dinar hanya karena tertarik harga lagi tinggi – maka sangat mungkin Anda bisa menyesal karena angka tertinggi saat ini – bisa saja menjadi kelihatan sangat rendah hanya dalam belasan bulan ke depan seperti contoh angka-angka tersebut di atas.

Ringkasnya adalah membeli emas/Dinar yang terbaik adalah pada saat Anda memiliki excess fund untuk keperluan jangka panjang; dan menjualnya terbaik adalah ketika Anda membutuhkannya untuk menutup kebutuhan yang riil.

Sebaliknya membeli emas/Dinar untuk tujuan spekulasi jangka pendek selalu berpeluang untuk rugi karena fluktuasi jangka pendek; dan demikian pula menjual emas/Dinar hanya karena melihat harga tinggi sesaat – juga bisa menyesal – karena rekor-rekor tertinggi harga emas akan terus bermunculan sejalan dengan debasement mata uang kertas. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (1)

Kali Ini Bukan PIG FLU, Tetapi PIIGS ‘FLU’ Yang Mewabah


Tahun lalu wabah FLU BABI (Swine Flu atau Pig Flu) sempat membuat panik dunia setelah ditemukannya flu ini menjalar ke manusia di Amerika, Mexico dan Canada. Hari–hari ini dunia kembali dibuat panik tetapi bukan oleh PIG tetapi oleh PIIGS, acronym dari Portugal, Ireland, Italy, Greece dan Spain.

‘Flu’ di pasar uang dunia begitu terasa dalam beberapa hari perdagangan terakhir, bahkan ketika bailout senilai 750 Milyar Euro terhadap Yunani atau Greece sudah di commit oleh European Union dan IMF.  Komitmen raksasa untuk mengatasi kebolongan di epicentrum krisis tersebut nampaknya tidak membuat para pemain pasar lega.

Hanya 2 hari setelah bailout tersebut diumumkan, para pemain pasar kembali memburu jaring penyelamat untuk investasinya – yaitu antara lain emas. Karena permintaan yang melonjak inilah maka pagi ini – saat artikel ini saya tulis – harga emas berada di atas US$ 1,230/Oz atau dalam US$ telah mengalami peningkatan lebih dari 34% dibanding harga emas dunia tahun lalu. Harga ini memecahkan rekor tertinggi sebelumnya yang berada di kisaran US$ 1,226/Oz yang tercapai di awal Desember tahun lalu.

Mengapa seolah pasar tidak percaya terhadap upaya–upaya negara yang dilanda krisis tersebut untuk dapat mengatasi masalahnya? Ada 2 hal yang sangat mendasar yang menyebabkan hal ini:

  1. Hutang yang sudah begitu besar yang diderita oleh negara-negara yang dilanda krisis tersebut, perhatikan faktanya di grafik atas. Yunani dan Italy bahkan hutangnya per akhir tahun lalu saja sudah melebihi GDP-nya. Nenek-nenek kita dahulu juga tahu kalau problem hutang ini tidak bisa diatasi dengan hutang baru, semua bantuan baik dari EU, IMF, dlsb TIDAK ADA yang GRATIS – pada waktunya harus dibayar.
  2. Negara-negara tersebut juga mengalami defisit pada anggaran belanjanya, sekaligus juga perekonomiannya tidak tumbuh – sebagian malah merosot seperti yang dialami Spanyol.

swine-flu-cartoon-capitalist-pigsMasalah defisit ini sungguh tidak mudah diatasi karena menyangkut budaya. Pegawai-pegawai pemerintah di negara tersebut misalnya tidak akan mudah bisa diturunkan gajinya. Layanan publik juga tidak mudah diturunkan standarnya (dipotong anggarannya).

Walhasil bailout dari EU dan IMF untuk Yunani nampaknya hanya semacam obat untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi bukan obat untuk menyembuhkan penyakit. PIIGS ‘FLU’ (krisis) mungkin masih akan terus kambuh, bukan hanya terhadap Greece dan PIIGS tetapi terhadap semua negara yang memiliki ketahanan ‘tubuh’ (ekonomi) yang sama.

Symptoms atau gejala-gejala ketahanan ekonomi yang lemah ini antara lain ya 3 hal di atas yaitu:

  1. Hutangnya banyak.
  2. Anggarannya defisit.
  3. Pertumbuhan ekonominya rendah atau bahkan turun atau tidak tumbuh.

Jadi harga emas masih akan terus bergejolak karena dari waktu ke waktu orang butuh jaring penyelamat, dan emas-lah yang terbukti dapat berperan sebagai jaring penyelamat yang mudah diperoleh, efektif dalam mengatasi masalah inflasi dan gejolak ekonomi lainnya. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Harga Emas Akan Naik Secara Eksponensial?


The Bank for International Settlements (BIS) adalah organisasi internasional yang anggotanya para bank sentral dari negara-negara di dunia. Tujuan dari organisasi ini adalah untuk meningkatkan kerjasama antara bank-bank sentral tersebut, disamping juga berfungsi menjadi semacam bank-nya para bank sentral dunia.

Dengan anggota dan fungsinya tersebut, kita bisa bayangkan betapa powerful-nya pengaruh organisasi yang bermarkas di Basel – Switzerland ini dalam up and down-nya sistem keuangan dunia di zaman ini.  Peran mereka yang sentral dalam tata kelola uang di dunia – juga membuat mereka memiliki akses informasi yang sangat comprehensive dalam setiap aspek keuangan dari para anggotanya.

Dengan kekuatan dan akses informasinya tersebut, laporan hasil riset dan pernyataan-pernyataan dari BIS ini layak untuk menjadi masukan yang serius bagi para pengambil keputusan keuangan atau ekonomi di semua negara – termasuk kita.

Di antara laporan-laporan tersebut yang menurut saya sangat perlu kita pahami adalah laporan hasil riset bulan Maret lalu dengan judul The Future of Public Debt: Prospects and Implications yang dapat kita unduh dari situs resmi mereka.

Bank for International SettlementsBerikut adalah statement inti dari laporan tersebut yang implikasinya bisa sangat serius di masa-masa yang akan datang. Abstract dari laporan ini sudah diawali dengan (dalam terjemahan bebas saya): Sejak awal krisis finansial, hutang negara-negara industri terus meningkat secara dramatis, dan sejauh yang dapat dilihat ke depan (foreseeable future) hutang ini akan terus naik di masa-masa mendatang….

Kemudian hasil riset ini menyimpulkan 4 hal sebagai berikut:

  1. Problem fiskal dari negara industri sesungguhnya lebih serius dari laporan resmi pemerintah di negara-negara tersebut. Sungguh menakutkan bahwa hutang publik mereka akan tumbuh diatas 100% dari GDP…. Lihat grafik di atas untuk trend-nya (klik untuk melihat lebih jelasnya).
  2. Meningkatnya hutang publik tersebut di atas telah merubah persepsi selama ini bahwa hutang jangka panjang negara dalam berbagai bentuknya yang selama ini dianggap berisiko rendah, ke depannya akan menjadi berisiko tinggi. Hutang pemerintah Yunani misalnya, kini sudah menjadi junk - yaitu yang sangat rendah nilainya.
  3. Problem hutang yang terlalu tinggi akan menekan akumulasi modal, menurunkan pertumbuhan produktifitas dan menurunkan potensi pertumbuhan jangka panjang.
  4. Mendung ketimpangan fiskal jangka panjang menimbulkan risiko instabilitas moneter. Dinamika hutang yang tidak stabil akan meningkatkan inflasi yang disebabkan oleh godaan pada para pengelola keuangan negara untuk menurunkan tingkat hutang dengan mencetak uang dalam berbagai bentuknya.

Puncak gunung es yang merupakan tanda-tanda problem yang sangat besar tersebut juga sudah bermunculan dalam bentuk krisis di berbagai negara dalam 2 tahun terakhir. Krisis di Amerika, Inggris, Iceland, Dubai, Latvia, Yunani, Portugal, Spanyol…  - dan entah negara mana lagi yang akan segera menyusul – adalah bukti-bukti kebenaran laporan tersebut di atas.

Lantas apa kaitannya ini semua dengan harga emas? Emas akan menjadi semakin penting perannya dalam memberikan perlindungan terhadap inflasi. Karena kesadaran terhadap hal ini akan meluas, maka sangat mungkin emas akan mengalami kenaikan harga yang eksponensial ke depan.

2 hal yang akan menjadi pendorong kenaikan eksponensial harga emas ini yaitu yang pertama adalah karena penurunan nilai uang kertas, dan yang kedua adalah karena kenaikan demand:

  1. Ketika nilai uang kertas jatuh harga emas akan menjadi sangat mahal bila dibeli dengan uang kertas tersebut.
  2. Harga emas yang mahal tidak akan menurunkan minat orang untuk membeli emas,  malah justru sebaliknya akan semakin banyak orang memburunya karena dalam situasi inflasi tinggi – emas inilah jaring penyelamatnya. Demand yang tinggi inilah yang mendorong kenaikan harga emas berikutnya.

Well, kabar baiknya adalah kenaikan ini mungkin tidak terjadi sekarang atau dalam waktu dekat, tetapi akan seiring dengan garis-garis merah di grafik tersebut di atas. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Perkiraan Harga Emas Versi National Inflation Association (NIA)


The National Inflation Association (NIA) adalah organisasi yang didedikasikan untuk mempersiapkan warga Amerika dalam menghadapi hyperinflasi. Targetnya bukan hanya mampu bertahan (survive) tetapi sedapat mungkin juga tetap makmur ketika hyperinflasi terjadi.

Kekhawatiran akan segera terjadinya hyperinflasi di Amerika ini bukannya tanpa alasan mengingat saat ini Amerika terlibat dalam hutang yang nilainya tidak kurang dari US$ 12 trilyun; disamping memiliki kewajiban yang tidak ada dananya (unfunded liability) sebesar US$ 55 trilyun.

Dengan commitment bailout US$ 11.8  trilyun dan sudah direalisir US$ 3.6 trilyun; maka para pendiri NIA ini yakin Amerika akan segera bangkrut. Hyperinflasi sudah di depan mata karena Federal Reserve hanya memiliki 1 cara untuk membiayai deficit yang ada yaitu mencetak uang dari awang-awang.

Ada 3 pilihan investasi yang menurut NIA harus dilakukan oleh warga negara Amerika untuk selamat dan bahkan tetap makmur meskipun hyperinflasi melanda. Ke-3 investasi ini meliputi segala sesuatu yang terkait dengan emas, perak dan pertanian dalam arti luas (termasuk perikanan, peternakan, kehutanan, dlsb).

Pola pemikiran alternative investasi masa depan selain emas/perak yaitu investasi sektor pertanian dalam arti luas tersebut banyak kemiripannya dengan yang juga kami tengah coba dalam berbagai project seperti project Planet Jamur dan project Susu Kambing.

Kekawatiran NIA akan terjadinya hyperinflasi ini sebenarnya juga nampak jelas bila kita melihat harga emas dalam dasawarsa terakhir. Lihat trendnya yang cenderung exponential, khususnya sejak pertengahan dasawarsa ini. Ternyata kecenderungan hyperinflasi ini tidak hanya terhadap US$ saja, tetapi juga terhadap Euro dan Poundsterling seperti grafik di atas.

Bila US$, Euro dan Poundsterling mengalami kecenderungan hyperinflasi yang sama; maka kecil kemungkinan mata uang lainnya akan bebas dari risiko hyperinflasi yang sama.

Lantas apa kaitannya potensi hiperinflasi ini dengan harga emas? Menurut NIA, harga emas yang ada sekarang terlalu rendah dibandingkan dengan harga yang seharusnya. Menurut mereka ini saat inipun harga emas sudah seharusnya well above US$ 2,000/Oz.

Percaya? Well kita lihat saja nanti bersamaan dengan berlalunya waktu. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Peradaban Barat Yang Memiskinkan Kelas Menengah


Kalau saja judul di atas murni dari pandangan seorang Muslim seperti saya, orang mungkin segera men-cap saya sebagai anti barat.  Tetapi kali ini pandangan tersebut bukanlah dari saya, judul tulisan ini saya ambilkan dari karya columnist handal di The Market Oracle, Andrew G Marshall dengan judul aslinya Western Civilization and the economic Crisis, The Impoverishment of the Middle Class.

Awalnya, menurut Andrew Peradaban Barat nampak bekerja dengan baik. Diawali dengan revolusi industri abad 18 dan 19, tumbuhlah kelas menengah yang semakin banyak jumlahnya dan semakin makmur. Namun Peradaban Barat ini, ternyata tidak akan berusia lama. Beberapa puluh tahun terakhir, yang namanya kelas menengahnya hanya berusaha bertahan melalui pemupukan hutang.

Diawali dengan tahun 1958 yang merupakan awal kemunculan credit card modern oleh Bank of Amerika yang kemudian berevolusi menjadi Visa, kemudian disusul oleh Master Card tahun 1966 – maka dekade-dekade berikutnya terjadilah pertumbuhan eksponensial dari credit card ini.

Sejak di Amerika dicabut batasan tingkat bunga yang bisa dikenakan pada para pemegang credit card tahun 1979, kombinasi dari deregulasi ini dan kemajuan teknologi membuat penyebar luasan credit card di masyarakat menjadi tidak terbendung lagi.

Tidak perduli lagi apakah pemegang kartu tersebut benar-benar membutuhkannya; tidak juga terlalu perlu apakah dia mampu membayarnya; yang penting member mereka terus bertambah dan bertambah pula pendapatan mereka. Tidak hanya dari pembayaran bunga, issuer credit card juga memperoleh tambahan penghasilan dari late payment fees, dlsb; sehingga pendapatan mereka juga menggelembung.

Credit Card DebtBudaya credit card, juga telah mendorong perilaku ngutang bahkan untuk barang-barang yang tidak terlalu penting sekalipun, seperti: membeli TV, membayar liburan, dlsb.

Walhasil, budaya ini telah menjebak masyarakat menengah dalam jebakan hutang yang melilit dari tahun ke tahun. Bila pada tahun 2001, masyarakat Amerika ‘baru’ berhutang 96% dari disposable income-nya ; 5 tahun kemudian persentase ini telah naik menjadi 129%. Bukan hanya di Amerika, pada tahun tersebut masyarakat Inggris telah berhutang Pounsterling 1.3 trilyun.

Kini 5 tahun setelah signal ketidak beresan budaya ngutang tersebut mulai terdeteksi (2006), bank-bank sentral dunia berada dalam situasi yang sangat dilematis. Mereka hanya bisa mengerem arus ‘peminjam’ ini bila suku bunga dinaikkan. Namun bila suku bunga dinaikkan – akan semakin banyak yang tidak bisa membayar. Ini terbukti bahwa pada tahun 2009, hanya 10% penurunan outstanding balance dari  credit card di AS yang  berasal dari pembayaran credit card balance-nya. Yang terjadi adalah masyarakat yang gali lubang tutup lubang, membuka credit card baru untuk menutup yang lama.

Masalah ini mungkin bisa diatasi bila pemerintah berhasil meningkatkan lapangan kerja dan meningkatkan penghasilan rakyatnya – sehingga mereka mampu membayar hutang. Namun kenyataan menunjukkan hal yang  sebaliknya; karena pemerintah sibuk menalangi bank-bank dan lembaga keuangan yang gagal sampai trilyunan Dollars – juga karena kegalan peminjam yang lain! Pemerintah terpaksa mengamankan kebijakan fiskalnya dengan memotong anggaran – yang berarti bukan mengurangi pengangguran tetapi malah menambah pengangguran.

Akibat dari lingkaran setan proses pemiskinan melalui gaya hidup ngutang ini, menurut Andrew tersebut di atas Masyarakat kelas menengah di dunia barat, bertahan hidup (surviving) hanya dengan berhutang, mereka akan menjadi korban Class DefaultMasyarakat kelas atas akan semakin konsumtif, sedangkan masyarakat kelas menengah akan tenggelam ke kelas di bawahnya atau kelas pekerja.

Well, apakah budaya kita mirip dengan budaya yang digambarkan oleh Andrew tersebut? Kalau iya – ini mungkin waktu terbaik kita untuk keluar dari sistem ribawi ke sistem perdagangan tanpa riba. Keluar dari gaya hidup ngutang, ke gaya hidup produktif. Keluar dari gaya hidup konsumtif ke gaya hidup infaq dan shadaqah.

Insya Allah kita tidak akan ikut terjerembab di lubang biawak, bila kita tidak mengikuti mereka. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Efek US Healthcare Reform & Krisis Yunani Pada Masa Depan Harga Emas


Harga emas dunia bergerak tidak menentu dan menjadi semakin sulit diprediksi untuk sementara ini. Faktor-faktor penggerak harga-nya begitu banyak, sehingga gejolak jangka pendeknya menjadi significant.

Faktor dalam negeri Amerika yang berpengaruh langsung pada harga emas dunia (US$/Oz) antara lain adalah kemenangan Presiden Obama untuk meng-goal-kan reformasi pelayanan kesehatan yang menjadi salah satu agenda utama ketika dia mencalonkan diri sebagai presiden negeri itu.

Keberhasilan ini meningkatkan kepercayaan dunia usaha terhadap kepemimpinannya – dus memperkuat uangnya. Saat ini US$ Index berada di kisaran angka 81, yang merupakan salah satu puncak tertinggi selama 3 bulan terakhir. Dengan US$ yang lagi perkasa ini, maka harga emas dunia dalam US$ untuk sementara tentu cenderung tertekan.

Namun ini bisa jadi hanyak efek sementara, pendapat yang menolak reformasi pelayanan kesehatan tersebut juga berpeluang yang sama untuk benarnya. Mereka yang menolak memiliki argumen yang kuat bahwa dengan adanya reformasi pelayanan kesehatan ini, anggaran belanja pemerintah bisa membengkak dari rata-rata 20% terhadap GDP meningkat ke kisaran 30% dari GDP. Hal ini akan menimbulkan structural deficit yang semakin tidak bisa diatasi dan akhirnya bisa mengakibatkan fiscal meltdown. Amerika akan semakin sulit menjual hutang-hutangnya dan daya beli uang mereka akan hancur. Bila ini terjadi semua barang tidak terkecuali emas akan melambung harganya bila dibeli dengan US$.

Di luar faktor dalam negeri Amerika (yang berpengaruh terhadap daya beli US$), ada puncak gunung es potensi krisis financial dunia yang bisa di trigger oleh problem di Yunani yang kini bagaikan buah simalakama di Eropa. Jerman yang merupakan salah satu negara terkuat di Uni Eropa sudah terang-terangan tidak akan mau melibatkan diri dalam bailout Yunani.

Pada saat yang bersamaan European Central Bank President Jean-Claude Trichet dan French President Nicolas Sarkozy tidak merasa nyaman dengan ide George Papandreou – Perdana Menteri Yunani untuk mencari pertolongan ‘bail us out’ ke IMF. Rupanya Perancis merasa malu bila ada bangsa Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa – harus menjalani operasi penyelamatan ala IMF.

Walhasil krisis Yunani akan semakin ruwet – dan yang paling jelas efeknya akan kemana-mana. Efek langsungnya adalah, entah sumbernya dari manapun – di sistem keuangan dunia akan ada pihak yang terpaksa perlu ‘mencetak uang’ dalam jumlah besar untuk aksi penyelamatan krisis ini.

Aksi ‘pencetakan uang’ ini – apalagi dalam jumlah yang tidak terkendali bila situasi krisis meluas – pada akhirnya akan melambungkan harga-harga secara umum, termasuk tentu saja harga emas.

Jadi konsisten dengan pikiran utama saya di situs ini, bahwa dalam jangka pendek bisa saja harga emas tertekan turun – tetapi untuk jangka menengah panjang, insya Allah lebih banyak faktor pendorong untuk naik ketimbang sebaliknya. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is online
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes