Tag Archive | "hasil jerih payah"
Posted on 18 August 2010. Tags: Alat Tukar, Amerika, anomali musim, Asia Tenggara, bisa terjadi, Dinar, dinar islam, emas, Eropa, harga emas, hasil jerih payah, Indonesia, inflasi, investor, jangka panjang, jangka pendek, kecelakaan, kematian, kesuksesan usaha, Manajemen Risiko, Maret, Medium of Exchange, musim membeli, pasti terjadi, penurunan daya beli, risiko, Risiko Penurunan Nilai, September, Store of Value, Strategi Pengendalian Risiko, Teori Peluruhan Eksponensial, uang fiat, uang kertas, Unit of Account
Waktu saya belajar tentang Manajemen Risiko dahulu, hal yang mendasar yang kita pelajari antara lain adalah bagaimana memilah-milah risiko dari yang bisa terjadi dengan yang pasti terjadi. Untuk risiko yang masuk kategori bisa terjadi (kecelakaan misalnya), kemudian dipilah berdasarkan severity dan frequency-nya untuk kemudian dihindari, diminimisasi atau dihadapi. Untuk risiko yang pasti terjadi (kematian misalnya) ? tidak ada pilihan lain kecuali harus dihadapi.
Naik turunnya harga emas dunia adalah juga merupakan suatu risiko; tetapi masuk kategori yang mana? Tergantung dari seberapa jauh kita memandangnya, untuk jangka pendek dia adalah risiko yang bisa terjadi (bisa naik atau turun), tetapi untuk jangka panjang dia lebih mendekati risiko yang pasti terjadi ? uang fiat hampir pasti turun daya belinya terhadap emas. Sampai saat ini belum ada satupun uang kertas dunia yang mampu bertahan daya belinya terhadap emas dalam rentang waktu yang panjang.
Ambil contoh kasus harga emas tahun ini misalnya; bila dilihat dari statistik seharusnya sejak akhir Maret lalu sampai awal September nanti harga emas mestinya berada pada musim rendah. Namun untuk tahun ini nampaknya pola pergerakan harga musiman ini tidak berlaku, bahkan bulan Juni lalu harga emas dunia sempat berada di kisaran angka US$ 1,266/Oz. Per pagi ini harga emas dunia berada pada kisaran angka US$ 1,225/Oz – mengalami penurunan US$ 42/Oz atau turun 3% dari harga tertingginya 2 bulan lalu, namun angka ini masih US$ 270/Oz lebih tinggi atau mengalami kenaikan 28.33% dari harga emas Dunia yang pada bulan yang sama tahun lalu yang berada di kisaran US$ 955/Oz.
Semakin panjang kita menarik rentang waktu yang kita lihat, akan semakin jelas penurunan daya beli uang kertas terhadap emas ini. Anda bisa perhatikan misalnya pada grafik 10 tahunan yang ada pada situs ini (statistik “Dinar Islam Growth” sebelah kanan bawah) ? trend naiknya dalam rentang waktu yang panjang menjadi amat sangat jelas.
Setelah apa yang terjadi dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara 1997/1998, Amerika tahun 2008 dan Eropa tahun 2010 ini, kita semua baik individu, perusahaan maupun negara nampaknya kini memang perlu mengkaji kembali Strategi Pengendalian Risiko yang dihadapinya. Satu aspek risiko yang begitu nyata mendekati kepastian, yaitu risiko penurunan daya beli uang kita ? sangat bisa jadi masih luput dari konsideran kita dalam konteks implementasi Pengendalian Risiko.
Akan tidak ada gunanya misalnya suatu usaha mencapai sukses luar biasa dan menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi para investornya ? bila keuntungan tersebut dihargai dengan suatu nilai uang kertas yang nilainya sendiri mengalami peluruhan dengan cepat. Demikian pula dengan hasil jerih payah kita; tidak ada gunanya kita tabung bila nilai daya belinya tidak bisa kita pertahankan.
Karena risiko penurunan nilai (baca: inflasi) uang kertas adalah suatu keniscayaan atau mendekati kategori risiko jenis kedua ? yaitu risiko yang pasti terjadi, maka mau tidak mau kudu kita hadapi. Dengan apa kita menghadapinya? Ya antara lain menggunakan emas atau Dinar ini. Seandainya toh karena satu dan lain hal emas atau Dinar belum bisa difungsikan sebagai Alat Tukar atau Medium of Exchange; penggunaan emas atau Dinar sebagai Unit of Account dan Store of Value akan dapat sangat efektif dalam pengelolaan risiko penurunan daya beli uang kertas atau inflasi. Wa Allahu A?lam
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 03 June 2010. Tags: 10 tahun, 2011, aset, asumsi, Bank Indonesia, be Ready, Dinar, DPR, emas, grafik, harga emas, hasil jerih payah, investasi sektor riil, kinerja emas, pelemahan Rupiah, penghasilan, prediksi, proteksi nilai, Rupiah, Rupiah Perkasa, statistik, trend, US$
Dalam rapat kerjanya dengan DPR kemarin (02/06/2010), pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia menyampaikan bahwa ada kecenderungan Rupiah melemah di tahun depan. Diprediksi oleh BI, Rupiah akan berada dikisaran Rp 9.200 ? Rp 9.600 per US$. Apa artinya ini pada aset dan hasil kerja kita semua?
Kalau aset kita dan penghasilan kita hanya tumbuh dikisaran 5% per tahun, maka ini berarti melemahnya Rupiah tahun depan akan menghabiskan hampir keseluruhan pertumbuhan aset atau penghasilan kita.
Jadi dalam hal aset kita harus mengelolanya sedemikian rupa sehingga harus tumbuh di atas angka pelemahan Rupiah yang akan berkisar pada angka 5% tersebut di atas. Demikian pula dalam hal penghasilan, kita harus bekerja keras sehingga penghasilan kita bisa tumbuh di atas angka tersebut untuk sekedar mampu mempertahankan kesejahteraan yang ada.
Selain investasi sektor riil yang selalu kita dorong di situs ini, emas atau Dinar masih tetap akan menjadi proteksi unggulan untuk mempertahankan nilai aset tersebut di atas. Berdasarkan statistik pertumbuhan harga emas 10 tahun terakhir yang saya sajikan ulang dari tulisan saya kemarin, perhatikan garis titik-titik yang di-generated dari rata-rata pertumbuhan bulanan selama 10 tahun terakhir pada grafik di bawah.
Bila pertumbuhan harga emas mengikuti konsistensi statistik, maka akhir tahun ini harga emas dalam US$ insya Allah sudah akan menembus angka US$ 1,300. Bila hal yang terburuk sekalipun dari prediksi BI tersebut yang terjadi, yaitu Rupiah berada pada angka Rp 9,600/US$ – maka harga Dinar sudah akan berada di atas Rp 1.7 juta/Dinar. Artinya ketika Rupiah melemah di sekitar angka 5%, emas atau Dinar menguat sampai sekitar 9.7% – lebih dari cukup untuk meng-offset pelemahan Rupiah.
Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya yaitu Rupiah ternyata seperkasa sekarang atau tidak mengalami pelemahan? Dengan asumsi Rupiah pada angka sekarang, sekali lagi bila kinerja harga emas dunia mengikuti trend 10 tahun terakhir ? maka harga emas/Dinar dalam Rupiah insya Allah masih akan tumbuh sekitar 6% dari posisinya sekarang.
Prediksi BI bisa juga keliru, demikian pula prediksi saya. Hanya Allah-lah yang Maha Tahu, Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 18 May 2010. Tags: aset, benda riil, biaya kesehatan hari tua, biaya sekolah anak, China, daya beli tetap, debasement, Dinar, e-mail, emas, excess fund, fluktuasi, fundamental, GDP, grafik, haji, harga emas, harga tinggi, hasil jerih payah, hutang, investasi sektor riil, jangka menengah, jangka panjang, jangka pendek, jatuh, kampanye, keperluan riil, ketahanan ekonomi, ketahanan ekonomi keluarga, liability, mata uang, menabung, OECD, Organisation for Economic Co-operation and Development, pendorong naik turun, penurunan nilai, proteksi nilai, rumah, spekulasi, titik tertinggi, trend, uang kertas, waktu beli, waktu jual
Hal yang paling banyak ditanyakan oleh pembaca situs ini ke saya adalah pertanyaan seputar kapan waktu terbaik untuk membeli Dinar/Emas dan kapan waktu terbaik untuk menjualnya. Tulisan ini untuk memberi jawaban secara umum, agar jumlah e-mail yang saya harus jawab menurun
.
Untuk membeli emas atau Dinar dengan tujuan membangun ketahanan ekonomi jangka panjang, agar anak-anak bisa sekolah sampai tuntas, agar ketika tua kita tidak menjadi beban orang lain, agar aset yang merupakan hasil jerih payah kita tidak terus menurun nilainya dari waktu ? ke waktu; maka membeli emas untuk tujuan ini dapat dilakukan kapan saja.
Dalam rentang waktu jangka menengah/panjang, tidak ada istilah ketinggian untuk harga emas atau Dinar. Ketika harga Dinar pertama kali menyentuh nilai Rp 1,000,000/Dinar (emas di kisaran Rp 237,000/gram) sekitar 2.5 tahun lalu ? tepatnya tanggal 27 Oktober 2007; saat itu banyak yang berpendapat harga Dinar sudah ketinggian ? lalu sementara permintaan Dinar menurun.
Ironinya ketika 13 bulan kemudian (27/11/2008) harga Dinar menyentuh angka Rp 1,400,000/Dinar (emas di kisaran Rp 325,000/gram), permintaan Dinar justru mencapai titik tertingginya. Kemudian 3 bulan berikutnya lagi (19/02/2009) ketika angka menyentuh Rp 1,600,000/ Dinar (emas di kisaran Rp 373,000/gram), kembali permintaan Dinar mencapai titik tertinggi berikutnya.
Dari fakta-fakta di atas, Anda akan mudah memahami bahwa bila Anda menabung untuk tujuan proteksi nilai atau membangun ketahanan ekonomi dalam jangka panjang ? maka tidak ada waktu yang salah untuk memindahkan aset Anda dari aset yang berpeluang mengalami debasement (penurunan nilai) yaitu uang kertas ke aset yang terbukti memiliki daya beli stabil sepanjang zaman yaitu emas atau Dinar.
Apakah trend yang terjadi seperti yang ditunjukkan oleh angka-angka tersebut di atas akan terus berlangsung? dan harga emas/Dinar yang sekarang dianggap sudah benar-benar ketinggian oleh sebagian orang ? akhirnya akan turun juga?
Dalam jangka pendek iya, bisa jadi harga emas/Dinar akan turun. Namun sekali lagi dalam jangka panjangnya ? lebih banyak faktor fundamental yang mendorongnya naik ketimbang turun. Salah satu faktor yang sangat dominan adalah realitas bahwa uang kertas dunia saat ini dibangun dengan hutang ? ketika hutang menumpuk dan tidak ada lagi yang bisa/mau memberi hutangan baru ? sedangkan hutang lama harus dibayar ? maka pasti uang kertas jatuh nilainya.
Grafik di atas adalah prediksi OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk negara-negara yang konon paling kuat ekonominya. Rata-rata negara anggota OECD ternyata akan memiliki hutang (liabilities) yang melebihi GDP-nya tahun depan (2011). Dari grafik di atas, dapat kita ambil kesimpulan sederhana bahwa seluruh mata uang negara-negara anggota OECD akan turun significant (mengalami debasement) dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama ? kecuali China. Ketika nilai uang kertas jatuh, apa yang terjadi dengan harga emas dan benda riil lainnya? Sederhana, harga emas dan benda riil lainnya akan melambung!
Untuk sementara China berkemungkinan bisa bertahan paling lama dalam hal kekuatan mata uangnya. China juga merupakan negara yang sangat pintar dalam mendorong rakyatnya membangun ketahanan ekonomi ? dengan menganjurkan langsung dan mempermudah rakyatnya membeli emas ? mumpung ekonomi mereka kuat dan uang mereka lagi perkasa.
Jadi kalau kita mau belajar sampai ke negeri China termasuk dalam hal ketahanan ekonomi ini, maka insya Allah tidak ada waktu yang salah untuk membeli emas atau Dinar.
Membeli emas/Dinar hanya akan salah bila tujuannya untuk spekulasi jangka pendek. Karena dalam jangka pendek harga emas akan terus bergejolak ? sehingga sangat mungkin Anda merugi karena fluktuasi ini.
Lantas kapan waktu menjualnya yang terbaik? Yang terbaik adalah ketika Anda membutuhkannya untuk keperluan riil seperti membayar sekolah, pergi haji, membayar rumah, membayar biaya kesehatan, memindahkan ke investasi sektor riil, dlsb. Anda tidak akan pernah menyesal mencairkan emas atau Dinar Anda untuk keperluan-keperluan yang riil tersebut.
Sebaliknya bila Anda menjual emas/Dinar hanya karena tertarik harga lagi tinggi ? maka sangat mungkin Anda bisa menyesal karena angka tertinggi saat ini ? bisa saja menjadi kelihatan sangat rendah hanya dalam belasan bulan ke depan seperti contoh angka-angka tersebut di atas.
Ringkasnya adalah membeli emas/Dinar yang terbaik adalah pada saat Anda memiliki excess fund untuk keperluan jangka panjang; dan menjualnya terbaik adalah ketika Anda membutuhkannya untuk menutup kebutuhan yang riil.
Sebaliknya membeli emas/Dinar untuk tujuan spekulasi jangka pendek selalu berpeluang untuk rugi karena fluktuasi jangka pendek; dan demikian pula menjual emas/Dinar hanya karena melihat harga tinggi sesaat ? juga bisa menyesal ? karena rekor-rekor tertinggi harga emas akan terus bermunculan sejalan dengan debasement mata uang kertas. Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 17 May 2010. Tags: Al-Qur'an, Alat Tukar, angin, bercocok tanam, beternak kambing, Beyond Currency, Beyond Petroleum, BP, BP Alternative Energy, British Petroleum, business unit, corporate identity, currency, daya beli, Dinar, dunia, emas, energi minyak, energi surya, fungsi uang, garam, Hadits, hasil jerih payah, hydrogen, intrinsik, jangka panjang, kambing, komunikasi, Konsep Waktu Paruh, krisis, Krisis Moneter, Krismon, Medium of Exchange, penurunan daya beli, perusahaan minyak, PIIGS Flu, pohon, prognosis, Rupiah, sawah, statistik, Store of Value, Survival Kit, Survival Strategy, survive, tabungan, tagline, timbangan, uang kertas, Unit of Account, US$, wabah
Yang paling sering disalah pahami orang tentang gerakan saya menyebarluaskan Dinar ? adalah seolah saya menafikan keberadaan uang kertas. Padahal tulisan saya yang paling popular di web ini dengan judul ?Mengelola Uang Berdasarkan Fungsinya?? yang telah dibaca lengkap (bukan hanya penggalannya) oleh lebih dari 10,000 orang, justru mengakui fungsi uang kertas sebagai alat tukar ini.
Untuk meminimise kesalahpahaman ini, saya tidak malu untuk menyontek komunikasi yang digunakan oleh salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia yang dahulu dikenal orang sebagai British Petroleum (BP). Pada tahun 2002 ketika mereka merubah namanya menjadi BP plc. ; mereka menambahkan tagline ?Beyond Petroleum? dalam corporate identity-nya.
Nampaknya BP ingin mengkomunikasikan ke masyarakat dunia bahwa mereka tidak hanya bergerak di bidang perminyakan; karena setelah ber-identitas baru tersebut BP juga meluncurkan business unit baru yang disebut BP Alternative Energy. Business Unit baru inilah yang kemudian mengembangkan energi lain di luar minyak seperti energi surya, angin, hydrogen, dlsb. Jadi meskipun business utama BP yang juga memberikan income terbesarnya masih dari industri perminyakan, mereka sudah berpikir di luar perminyakan ? karena boleh jadi minyak tidak akan selamanya tersedia untuk mereka explore ? mereka tentu ingin tetap survive meskipun sumber energi utama kelak berubah dari minyak ke energi-energi lain di luar minyak.

"Beyond Petroleum"
Mirip dengan yang dilakukan oleh BP tersebut di atas ? inilah yang kita lakukan dengan gerakan penyebar luasan Dinar. Kalau BP mengembangkan strateginya barangkali berdasarkan prognosis bahwa minyak tidak akan selamanya tersedia; maka gerakan Dinar menggunakan prognosis bahwa uang kertas tidak akan bisa bertahan dalam jangka panjang.
Prognosis terhadap uang kertas ini didukung oleh statistik yang sangat kuat, sampai-sampai kita bisa menghitung waktu paruh daya beli uang kertas Rupiah yang hanya 4.3 tahun; US$ hanya 5.0 tahun, dlsb. Jadi bila anak Anda lahir hari ini dan Anda mulai menabung uang kertas Rupiah untuk masa depannya; maka daya beli uang tabungan Anda tersebut tinggal 1/16 (½^4) pada saat anak Anda berulang tahun ke 17! Bila Anda menabungnya dalam US$, maka tabungan Anda nilai daya belinya juga tinggal 1/16 pada saat anak Anda tersebut berusia 20 tahun.
Karena statistiknya demikian ? bahwa daya beli uang kertas meluruh bersamaan dengan waktu ? dan zat yang meluruh pasti akhirnya habis; maka kita butuh alternatif lain dari uang kertas ini. Alternatif lain inilah yang saya sebut Beyond Currency.
Bila uang kertas hanya berfungsi sebagai currency ? yaitu alat tukar yang hanya berfungsi sesaat; maka yang kita butuhkan untuk survive dalam jangka panjang adalah uang yang sesungguhnya ? Beyond Currency ? yaitu uang yang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar atau Medium of Exchange atau currency, tetapi juga berfungsi sebagai unit pencatatan/timbangan yang adil (Unit of Account) dan sekaligus juga mampu mempertahankan nilai dari hasil jerih payah kita (Store of Value).
Uang yang sesungguhnya inipun tidak harus emas; benda-benda lain yang bernilai intrinsik sampai garam sekalipun dapat menjadi uang dalam arti luas tersebut.
Kita pernah mengalami krisis 97/98 dimana saat itu uang kita tiba-tiba anjlog daya belinya tinggal ¼-nya dalam beberapa bulan saja (padahal seharusnya daya beli uang kita baru turun tinggal ¼-nya setelah 2 kali waktu paruh atau 8.6 tahun!), bukan hanya daya belinya yang anjlog ? saat itu barang-barang kebutuhan kita juga menghilang di pasaran. Minyak goreng, susu bubuk, dlsb menjadi rebutan di toko-toko yang masih memiliki stok.
Pada saat krisis, uang bisa saja menghilang atau turun daya belinya; tetapi kebutuhan kita akan makan minum, kebutuhan anak-anak kita untuk susu, dlsb tetap perlu dipenuhi.
Jadi ?uang? selain uang kertas yang rentan krisis ? harus juga menjadi bagian dari survival kit kita ? bila kita ingin survive dalam jangka panjang. Selain emas atau Dinar yang praktis, kita bisa juga menggunakan ternak kambing misalnya sebagai cadangan ?tabungan? kita di masa yang sangat sulit sekalipun.
Juga bukan hanya ternak kambing yang di-resep-kan dalam hadits sahih sebagai sumber penghasilan jangka panjang yang bisa diandalkan; antisipasi krisis melalui bercocok tanam dengan sungguh-sungguh selama 7 tahun ? bahkan resepnya ada di Al-Qur?an.
Maka tidak heran bila daya tahan masyarakat pedesaan terhadap krisis seperti yang kita alami tahun 1997/1998 lebih besar ketimbang masyarakat perkotaan. Sampai-sampai ketika saya masih rajin pulang kampung di masa krismon tersebut ? embok-embok di desa suka bertanya ?krismon iki opo to le?? ? (Krismon ini apa sih nak?). Mereka tidak terganggu dengan krisis moneter karena mereka memang sudah terbiasa hidup beyond currency.
Jadi mari kita rame-rame menghidupkan kehidupan desa, dengan kambing dan ternak lainnya, dengan pohon-pohonnya, dengan sawah-sawahnya ? maka bila wabah PIIGS meluas ke seluruh dunia ? Insya Allah kita bisa survive. Sekarang memang kita masih butuh uang kertas sebagai currency atau alat tukar, tetapi ketika uang kertas ini kehilangan daya belinya seperti yang sudah-sudah ? kitapun harus siap hidup Beyond Currency. Amin
Posted in Financial Plan
Posted on 06 May 2010. Tags: Amerika, aset, Baht, Bank Sentral, ekonomi, emas, Eropa, grafik, harga naik, hasil jerih payah, hutang pemerintah, Indonesia, investor, jangka panjang, jatuh, jatuh tempo, kenaikan demand, krisis finansial, mata uang, menular, nilai tukar, penularan krisis, penurunan daya beli, Portugal, Rupiah, sistem finansial global, Spanyol, Thailand, uang kertas, US$, Yunani
Sekitar 13 tahun lalu di awal 1997 serentetan krisis dalam skala regional bermula di Thailand. Diawali dengan hengkangnya para investor karena penurunan pertumbuhan ekonomi negeri itu, krisis kemudian diperburuk dengan ulah spekulator mata uang sampai-sampai Bank Sentral Thailand harus menguras sampai 90% dari cadangan devisanya hanya untuk mempertahankan nilai tukar uang Baht-nya.
Celakanya, krisis ini tidak berhenti di Thailand. Negara-negara tetangganya segera tertular dan bahkan yang terparah dan paling sulit sembuhnya adalah negeri kita. Pada puncak krisis nilai uang kertas kita pernah tinggal kurang lebih 1/6-nya dari nilai sebelum krisis (Akhir 1996 US$ 1 = Rp 2,350; Juli 1998 US$ 1 = Rp 14,000) bila dibandingkan dengan US Dollar. Padahal di negeri dimana krisis berawal; uangnya hanya mengalami koreksi 61% saja (Akhir 1996 US$ 1 = Baht 25.50; Juli 1998 US$ 1 = Baht 41.12).
Pelajaran pertama yang kita ambil dari krisis 1997/1998 tersebut adalah bahwa krisis finansial bersifat sangat menular karena kelemahan sistem finansial global saat ini. Pelajaran keduanya adalah negara-negara yang tertular oleh krisis finansial, bisa menjadi korban yang bahkan lebih parah dari negara yang mengalami krisis yang pertama.
Kini 13 tahun kemudian, kita melihat proses penularan krisis berulang. Belum juga dunia sembuh oleh menularnya krisis di Amerika 2 tahun lalu, krisis sejenis sekarang siap mewabah di Eropa. Yunani yang menjadi pemicu pertamanya, per kemarin hutang pemerintahnya sudah jatuh ke nilai terendah pada tingkat Junk (sampah!). Krisis Yunani sudah menulari Portugal, Spanyol dan bisa jadi akan segera pula menular ke negara-negara lain.

A Greek crisis is coming to America?
Pada setiap krisis tersebut; uang kertas selalu hancur di negara-negara yang terkena krisis. Setiap kali pula uang kertas hancur, pelarian utama yang paling mudah bagi masyarakat yang ingin menyelamatkan asetnya adalah ke emas. Tidak heran bila harga emas justru melonjak pada setiap krisis terjadi; pertama karena daya beli uang kertas yang dipakainya menurun, kedua karena dorongan naiknya permintaan.
Sebelum krisis melanda negeri ini 1997/1998; harga emas di Indonesia pada awal 1997 hanya di kisaran Rp 23,400/gram; di puncak krisis 1998 emas berada pada kisaran harga Rp 147,000/gram. Meskipun akhirnya sempat membaik ke kisaran angka Rp 65,000-an akhir 1999/awal 2000; perlahan namun pasti harga emas menjulang sampai Rp 340,000/gram kini. Harga emas saat ini sudah lebih dari 5 kalinya bila dibandingkan harga emas paska krisis, dan 14.5 kalinya dibandingkan harga emas sebelum krisis!
Grafik yang saya sajikan di atas adalah kenaikan harga emas gradual yang terjadi dalam kondisi normal. Bila dalam kondisi normal saja harga emas naik menjadi lebih 5 kalinya dalam 10 tahun terakhir; apa jadinya bila krisis Yunani meluas?
Dalam beberapa pekan ke depan seluruh dunia finansial akan melototi bagaimana krisis Yunani ini di handled oleh pemerintahnya dan juga pemerintah negeri-negeri yang saling terkait. Puncaknya adalah tanggal 19 Mei 2010 dimana hutang Yunani senilai 8.5 Milyar Euro akan jatuh tempo!
Kita memang jauh dari Yunani baik secara fisik maupun keterkaitan ekonomi, ekonomi kita juga lagi baik-baiknya, namun karena tanpa krisispun harga emas naik seperti yang tercermin dari grafik tersebut di atas ? maka penyelamatan aset ke emas/Dinar untuk mengamankan hasil jerih payah jangka panjang selalu advisable untuk dilakukan kapan saja. Jangan menunggu krisis menular…!!! Wa Allahu A?lam.
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 20 April 2010. Tags: Al-Qur'an, bahan pangan, barang dagangan, benda riil, bibit ternak, cadangan emas, daya beli tetap, daya saing, devisa, Dewan Emas Dunia, Dinar, ekspor, emas, Eropa, grafik, hasil jerih payah, IMF, impor, Indonesia, jangka panjang, kemerdekaan, komputer, krisis, langkah antisipatif, mata uang, mesin produksi, mobil, Nabi Yusuf, nilai tukar rupiah, otoritas moneter, paceklik panjang, panen, pelunasan hutang, RIX, Rupiah Index, Rupiah Perkasa, Total Reserves, US$, World Gold Council
Hari-hari ini Rupiah mencapai angka terkuat terhadap US$ sejak 3 tahun terakhir dengan nilai tukar di bawah Rp 9,000/US$. Rupiah memiliki nilai tukar di bawah Rp 9,000/US$ terakhir sebelumnya adalah pada bulan Juni 2007.
Kekuatan Rupiah ini juga bisa dipantau secara lebih akurat melaui Rupiah Index (RIX) yang sudah saya perkenalkan di situs ini sejak Desember 2009 lalu. Bila pada saat saya perkenalkan RIX berada pada angka 56.28; angka RIX tersebut kini berada pada angka 62.97 ? kenaikan yang luar biasa selama 5 bulan terakhir.
Bagus kah keperkasaan Rupiah ini bagi kita? Secara umum tentu bagus karena penghasilan kita yang rata-rata dalam Rupiah memiliki daya beli yang lebih baik. Apalagi mengingat berbagai kebutuhan kita seperti bahan pangan, susu, pakaian, komputer, mobil, dlsb; sebagiannya masih harus diimpor.
Hanya saja Rupiah yang terlalu kuat bila berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama, dapat menurunkan daya saing produk-produk ekspor kita. Jadi para otoritas moneter dan perdagangan negeri ini kudu waspada ? agar Rupiah tetap perkasa namun tidak sampai menurunkan kemampuan kita untuk menghasilkan devisa.
Lantas apa yang perlu kita lakukan selagi Rupiah perkasa seperti sekarang ini? Untuk skala individu, inilah waktu yang baik untuk mengamankan jerih payah kita dalam bentuk benda riil seperti emas/Dinar, mesin-mesin produksi, stok barang dagangan, stok bibit ternak (yang sebagiannya sekarang masih impor) dan lain sebagainya.

Gold / Total Reserves
Untuk skala negara menurut saya inilah waktu terbaik untuk mengembalikan cadangan emas kita ke tingkat yang wajar ? minimal setara dengan yang dimiliki oleh negara-negara lain. Kita tahu bahwa Indonesia pernah memiliki cadangan emas sekitar 249 ton tahun 1951; kini cadangan tersebut hanya sekitar 73 ton saja. Bahkan 4 tahun yang lalu kita menjual sekitar 24% cadangan emas kita untuk mempercepat pembayaran hutang ke IMF.
Bila kita berhasil mengembalikan cadangan emas kita ke tingkat yang pernah kita miliki pada awal kemerdekaan tersebut; maka ini akan mengangkat persentase cadangan emas kita terhadap Total Reserves ke tingkat yang kurang lebih sama dengan rata-rata persentase cadangan emas negara lain terhadap Total Reserves-nya masing-masing. Peningkatan cadangan emas inilah yang dilakukan oleh negara-negara di benua Eropa sepanjang 10 tahun terakhir (sebelum krisis), sehingga persentase cadangan emas mereka terhadap Total Reserves-nya meningkat dari rata-rata 30% ke angka rata-rata 55%, seperti yang ditunjukkan oleh grafik di atas yang datanya saya ambil dari data Dewan Emas Dunia (World Gold Council).
Dari grafik yang sama tersebut selama 10 tahun terakhir ini, Indonesia memiliki persentase cadangan emas terhadap Total Reserves yang kurang lebih hanya 1/3 dari yang dimiliki oleh negara-negara di dunia. Bila dibandingkan dengan persentase sejenis untuk negara-negara Eropa, maka persentase cadangan emas kita terhadap Total Reserves turun dari sekitar 1/10 dari yang dimiliki oleh rata-rata negara-negara di Eropa tersebut 10 tahun lalu, menjadi tinggal kurang lebih 1/18 -nya sekarang. Hal ini karena cadangan emas negara-negara di Eropa naik sedangkan kita malah turun (akhir 2006).
Mengapa cadangan emas ini penting? Karena semakin besar cadangan emas kita terhadap Total Reserves, semakin stabil daya beli uang kita ? semakin aman dari guncangan nilai mata uang seperti yang pernah kita alami secara berulang kali dalam 40 tahun terakhir.
Bila hal ini dilakukan oleh negeri ini, insya Allah ini menjadi ?hasil panenan yang dipertahankan di bulirnya? seperti yang dicontohkan oleh Nabi Yusuf A.S. dalam Al-Qur?an ketika menyiapkan rakyatnya untuk menghadapi paceklik panjang. Paceklik panjang di zaman modern ini bisa terjadi melalui hancurnya nilai mata uang seperti yang pernah kita alami tahun 1997/1998.
Bila otoritas negeri ini tidak memandang perlu akan hal ini; maka kita secara pribadi-pun bisa melakukan langkah-langkah antisipatif ini – selagi Rupiah masih perkasa. Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 02 April 2010. Tags: akurat, Allah, asumsi, daya beli tetap, emas, fluktuasi, grafik, harga emas, hasil jerih payah, jangka pendek, masa depan, prediksi, spekulasi, statistik, teori
Meskipun berpuluh ahli berhasil mengembangkan teorinya sendiri-sendiri untuk memprediksi harga emas ke depan, sampai saat ini ternyata tidak ada satu teori-pun yang bisa memberikan kepastian akan keakuratan prediksi tersebut.
Di situs inipun selalu kami katakan bahwa prediksi-prediksi harga emas yang kami ungkapkan dalam berbagai tulisan kami sifatnya hanya berusaha memahami statistik yang ada untuk masa yang sudah lewat, sedangkan yang sifatnya ke depan ? hanya Allah-lah yang tahu.
Untuk menggambarkan betapa sulitnya memprediksi harga emas ini, pada grafik di bawah (grafik lengkapnya) saya sajikan ringkasan prediksi harga emas untuk Senin depan (karena hari ini tidak ada transaksi) ? yang disajikan berdasarkan berbagai teori dan asumsi. Hasilnya mencengangkan, dalam arti perbedaan satu prediksi/asumsi dengan prediksi/asumsi lainnya.
Dari 40-an angka yang keluar dengan berbagai pendekatan teori tersebut, angka yang terendah adalah US$ 859.85/Oz dan angka yang tertinggi US$ 1267.26/Oz. Pendapat terbanyak mengerucut pada range US$ 1,105/Oz sampai dengan US$ 1,126/Oz.
Lantas bagaimana kita menyikapi tidak adanya kepastian harga emas kedepan ini? Sederhana, yaitu jangan berspekulasi dengan harga emas!
Emas terbukti efektif untuk perlindungan nilai dari jerih payah kita karena setelah beribu tahun-pun memiliki daya beli yang relatif tetap terhadap berbagai kebutuhan kita.
Namun untuk jangka pendek, fluktuasi harga ini begitu besar ? sehingga tidak ada satu orang ahli-pun yang bisa memprediksi harganya ke depan dengan akurat. Dan hanya Allah-lah Yang Maha Tahu ? Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 18 March 2010. Tags: 1 Dinar, barter, Barter Trade Credit, bebas inflasi, benda riil, business to business, data inflasi, data processing, daya beli, daya beli tetap, Dinar, dirham, dunia, emas, Euro, gandum, garam, grafik, Hadits, hasil jerih payah, HR. Muslim, Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali, IMF, inflasi, iodium, kambing, kurma, muamalah, nilai intrinsik, otak, pasar, pemerintah, penurunan daya beli, perak, Poundsterling, Rasulullah SAW, Rupiah, shadow government statistics, Sing Dollar, Sistem Barter, sistem moneter, sya'ir, Syariah Islam, teknologi, timbangan, tunai, uang, uang baru, uang emas, uang kertas, US Dollar, Yen
Dalam tulisan saya awal pekan ini tentang bagaimana kita bisa mengalahkan inflasi, saya telah memberi gambaran betapa daya beli umat manusia di seluruh dunia tergerus oleh inflasi yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintahan negerinya masing-masing.
Kalau ada yang masih berpikir bahwa ada uang kertas dunia yang bertahan daya belinya, maka perhatikanlah kinerja uang kertas yang selama ini dipandang kuat di dunia seperti grafik di samping. Daya beli terhadap emas untuk Rupiah misalnya tinggal 20% selama 10 tahun terakhir, bila di awal tahun 2000 Anda bisa membeli 1 gram emas seharga Rp 66,000,- maka kini dengan uang yang sama Anda hanya bisa membeli 0.2 gram emas karena per gramnya kini telah menjadi Rp 330,000,-.
Bukan hanya Rupiah tetapi berbagai mata uang perkasa dunia-pun nasibnya hanya sedikit lebih baik dari Rupiah; dalam kurun waktu 10 tahun yang sama daya beli Poundsterling terhadap emas tinggal 23%, US Dollars tinggal 25%, Yen dan Sing Dollar tinggal 30% dan Euro tinggal 34%.
Mengapa emas pembandingnya? bukan data inflasi di masing-masing negara? Sederhana, di negara maju sekalipun seperti di Amerika yang katanya paling transparan dalam informasi ? data inflasi resmi pemerintah negeri itu diragukan oleh rakyatnya sendiri sehingga munculah Shadow Government Statistic misalnya ? pemerintah dianggap mempunyai ?kepentingan? terhadap data inflasi ini sehingga data yang dikeluarkan bisa jadi bukanlah data yang sebenarnya.
Di lain pihak daya beli emas sudah terbukti stabil selama lebih dari 1,400 tahun – bahwa 4.25 gram emas yang disebut 1 Dinar, selalu cukup untuk membeli 1 ekor kambing. Sehingga emas (bersama perak) memang layak sebagai satu-satunya timbangan yang adil dalam bermuamalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam ?Ihya Ulumuddin sejak 10 abad lalu.
Dengan penurunan daya beli uang kertas seperti tersebut di atas, disadari atau tidak umat manusia akan semakin banyak yang merindukan hadirnya uang yang adil yang nilainya bebas inflasi ? meskipun bisa jadi uang ini tidak diakui sebagai uang oleh sistem moneter yang dianut dunia saat ini.
Bila otoritas-otoritas keuangan dunia menerima kembali uang bernilai intrinsik seperti emas/Dinar atau perak/Dirham, maka urusan pencarian uang baru ini selesai sudah. Tinggal copy paste dari Syariah Islam tentang bagaimana penggunaan emas dan perak ini diatur ? semuanya sudah komplit dan sudah dijalankan selama lebih dari 1000 tahun.
Masalahnya adalah sistem keuangan dunia saat ini yang dikomandoi IMF menolak kehadiran uang emas ini, jadi apa kira-kira yang akan terjadi? Masyarakat akan semakin tidak mempercayai rezim uang kertas dunia, tetapi uang bernilai intrinsik yang didambakan terhambat kehadirannya sehingga sulit untuk tersedia secara cukup di masyarakat. Maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah Sistem Barter yang akan berkembang.

Sistem Barter
Dengan berbagai perkembangan teknologi data processing yang semakin cepat dan murah, tidak mustahil sistem barter nan canggih akan segera tersedia di pasar. Bahkan di negeri tetangga misalnya sudah ada perusahaan yang menawarkan sistem barter ini untuk transaksi perdagangan business to business. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan ini telah meng-klaim memiliki ratusan ribu customer based dan telah memiliki ?uang?-nya sendiri yang disebut Barter Trade Credit.
Bila sistem barter berkembang (ketika uang kertas terus menurun legitimasinya), maka benda-benda riil lah yang berharga dan bukan lagi uang kertas. Dahulu saya sulit memahami mengapa sampai garam-pun disebut dalam Hadits Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa?i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ?Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: ?(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya?ir dengan sya?ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.?
Setelah mempelajari sistem barter ini, kini saya tahu rupanya tidak ada yang tidak penting dalam setiap benda yang disebut di dalam hadits barter tersebut di atas – jadi bukan hanya emas dan perak yang berharga tetapi garam-pun sangat berharga. Hidup menjadi sungguh hambar tanpa garam ? karena makanan yang seharusnya enak-pun menjadi tidak ada rasanya, otak yang seharusnya cerdas menjadi tidak berfungsi (iodium dalam garam juga berfungsi mencerdaskan otak).
Jadi kalau garam-pun bernilai untuk barter, benda-benda lain yang Anda miliki dan peroleh dengan susah payah ? tentu bernilai dan bermanfaat untuk Anda. Kalaupun toh Anda sudah tidak membutuhkannya lagi, bisa jadi ada orang lain yang membutuhkannya ? mengapa tidak berfikir untuk dibarter saja? Wa allahu A?lam.
Posted in Business Opportunity
Posted on 03 March 2010. Tags: 1 Dinar, 4.25 gram, barang dagangan, benda riil, beras, daya beli riil, daya beli US$, depresiasi nilai, Dinar, emas, gula, harga barang & jasa, harga emas, harga naik, hasil jerih payah, IMF, investasi, jangka panjang, kambing, kebun, komputer, mata uang, minyak goreng, murah, nilai baku, Paradox, penurunan daya beli, relatif, Rupiah, software, tinggalkan US$, trend, uang kertas, US$, US$ Index
Melalui beberapa tulisan saya sebelumnya, saya sudah mengungkapkan ?keperkasaan? uang kertas US$ maupun Rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Rupiah misalnya saat artikel ini saya tulis berada pada nilai tukar Rp 9,257/US$ ; ini angka yang luar biasa ?perkasa? mengingat Rupiah sempat menyentuh angka Rp 12,000/US$ pada puncak krisis akhir 2008.
Logikanya adalah apabila Rupiah lagi perkasa, bukankah barang-barang kebutuhan kita bisa kita beli dengan murah saat ini? Ternyata tidak seluruhnya demikian. Untuk barang-barang yang biasa kita beli dari luar seperti komputer, software, dlsb.; memang terasa penurunan harga barang-barang ini dalam Rupiah.
Namun untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gula, dlsb; ibu-ibu yang suka belanja lebih tahu ? harga barang-barang kebutuhan seperti ini tidak mengenal turun. Bahkan khususnya beras, saat ini lagi dirasakan mahal-mahalnya oleh masyarakat kita.
Mengapa demikian? Karena menguat atau melemahnya Rupiah bukan diukur dari daya beli riil terhadap kebutuhan kita sehari-hari; melainkan diukur relatif terhadap kekuatan mata uang lain. Padahal mata uang negara lain ini baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama tidak mencerminkan daya beli riilnya juga.
Paradox kekuatan mata uang terhadap daya beli riilnya ini lebih mudah bila dilihat dengan harga barang yang bersifat baku. Lagi-lagi saya gunakan emas sebagai barang yang memiliki nilai daya beli baku karena sudah terbukti lebih dari 1400 tahun 4.25 gram emas (1 Dinar) cukup untuk membeli 1 ekor kambing.
Perhatikan grafik di samping untuk melihat Paradox daya beli US$ ini secara visual. Anda bisa lihat pada umumnya harga emas turun ketika kekuatan US$ yang diukur dengan US$ Index naik, namun beberapa bulan terakhir meskipun US$ Index naik ? harga emas dalam US$ juga tetap naik.
Apa maknanya ini? Inilah tanda-tanda menurunnya daya beli secara keseluruhan dari sistem mata uang dunia. US$ yang sedang menunjukkan keperkasaannya saja, daya belinya secara significant menurun sampai lebih dari 50% dalam waktu kurang dari 5 tahun saja (tepatnya sejak januari 2006). Apalagi mata uang negara lain yang pada umumnya lemah!
Trend inilah yang saya duga juga dipahami oleh petinggi IMF, sehingga merekapun mendorong bangsa-bangsa di dunia untuk siap-siap meninggalkan US$ – terlepas dibalik ini sangat bisa jadi mereka juga memiliki agenda lain untuk mengantisipasi kehancuran US$ ini.
Lantas apa langkah antisipasi kita untuk terhindar dari depresiasi nilai terhadap hasil jerih payah kita berpuluh tahun? Usahakan simpanan jangka panjang Anda dalam bentuk benda-benda atau investasi yang memiliki aset riil seperti Emas/Dinar, kebun, barang dagangan, dlsb. Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 01 March 2010. Tags: aset bermasalah, aset fisik, Balance Sheet, Bank of England, Bank Sentral, Dinar, dirham, ekonomi, fulus, hasil jerih payah, Ibnu Taimiyyah, Inggris, kebijakan publik, kebun, kesombongan manusia, komputer, kredit perumahan, krisis, mencetak uang, neraca, nilai intrinsik, otoritas moneter, pemerintah, pemimpin, penurunan daya beli, Poundsterling, quantitative easing, rakyat, sistem keuangan, suku bunga, surat utang negara, teknik canggih, tembaga, ternak, The Bank's Monetary Policy Committee, uang, uang kertas, US$, wakil rakyat
Mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah tentang bagaimana seharusnya penguasa negeri mencetak fulus: ?Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka?.
Andai saja pemikiran Ibnu Taimiyyah tersebut dijadikan rujukan oleh para pemegang otoritas moneter dan keuangan dunia; Insya Allah berbagai krisis yang mendera umat seluruh dunia ini tidak akan terjadi. Karena kesombongan manusia, mereka enggan mencari petunjuk yang benar ? alih-alih belajar dari kekeliruan sebelumnya ? mereka malah membenamkan umat manusia ke potensi krisis yang lebih besar lagi.
Saya ambilkan bukti nyatanya dari apa yang dilakukan oleh pemerintah Inggris tahun lalu. Ketika upaya penyelamatan ekonomi melalui pengendalian suku bunga yang saat itu sudah mencapai 0.5% – TERENDAH dalam 315 tahun terakhir! ? dirasa belum juga menyembuhkan krisis yang ada, mereka mulai mencari akal (-akalan) untuk memoles ekonomi mereka.
Maka diketemukanlah caranya yang diberi nama keren Quantitative Easing ? yang terkesan canggih, sehingga tidak mudah dipahami rakyat. Apa sih Quantitative Easing ini sebenarnya? Berikut adalah pemahaman saya yang awam ? mohon maaf kepada para ekonom karena saya berusaha menyederhanakan ilmu Anda yang canggih.

Bank of England
Quantitative Easing adalah salah satu cara bank sentral ? di Inggris berarti Bank of England ? ?mencetak? sejumlah besar ?uang baru? di Balance Sheet-nya. Tidak perlu repot-repot mencetak secara fisik uang kertas atau koin-nya ? tetapi semata-mata hanya menambahkan angka baru secara elektronik di neraca bank sentral tersebut.
Setelah terbentuk, lalu untuk apa ?catatan? uang ini? Untuk membeli aset-aset bermasalah dari dunia perbankan (seperti kredit perumahan), surat utang negara, dlsb. Dengan cara ini ?uang? yang tadinya hanya khayalan yang hanya diketikkan di neraca bank sentral, kini telah memasuki sistem keuangan negeri itu.
Karena setiap bank memiliki account di bank sentral, maka bank sentral juga tidak perlu repot-repot memindahkan uang fisik (yang memang nggak ada fisiknya) ke bank-bank tersebut, semua hanya entry di data komputer.
Di Inggris ada komite yang disebut The Bank?s Monetary Policy Committee yang memiliki otoritas untuk mencetak ?tambahan uang? dalam khayalan tersebut. Saat ini komite ini memiliki izin untuk menambah ?uang? di balance sheet bank sentral sampai sejumlah 150 milyar poundsterling atau US$ 207 milyar! Dari batas yang diizinkan tersebut, saat ini komite telah menggunakan ½ dari jatah yang ada.
Lantas apa dampaknya bagi rakyat Inggris? Sementara solusi ini belum tentu bisa menyelamatkan mereka dari krisis ? yang sudah jelas adalah sebaliknya yaitu nilai uang yang ada di masyarakat akan terus turun ? inilah yang dilarang oleh Ibnu Taimiyyah tersebut di atas.
Teknik-teknik canggih dalam mengatasi krisis semacam ini, sangat mungkin dilakukan oleh negara-negara lain juga; oleh karenanya rakyat atau melalui wakil-wakilnya hendaknya memiliki akses terhadap para pengambil kebijakan-kebijakan publik sehingga ada yang memahami dan mengawasi mereka.
Kalau kita tidak yakin tentang pengawasan ini, rakyat tetap bisa berbuat mengamankan hasil jerih payahnya yaitu dengan mempertahankan aset fisik atau uang dengan nilai intrinsik yang bisa berupa Dinar, Dirham, kebun, ternak, dlsb. Wa Allahu A?lam.
Posted in Islamic View