Tag Archive | "harga turun"
Posted on 27 July 2010. Tags: 10 tahun, akurat, Allah Maha Tahu, analisa trendline, biaya sekolah anak, cekung, cembung, currency, dana pensiun, daya beli, Excel, forecasting, grafik, harga emas, harga naik, harga turun, jangka menengah, jangka panjang, jangka pendek, kapan saja, Loud & Clear, mencetak uang, modal usaha, musim membeli, nilai tukar rupiah, para ahli, pasar, pengguna Dinar, pergi haji, Pesawat Dollar, pilot tempur, rencana investasi, renovasi rumah, Rupiah, sejauh mata memandang, tabungan, trend, uang, US$
Pertanyaan yang terus sampai ke saya, khususnya dari para pengguna Dinar baru adalah?…kapan membeli Dinar yang paling tepat??. Pertanyaan sejenis pada saat harga lagi rendah seperti sekarang adalah ?…apakah harga akan turun lagi?? , kemudian pada saat harga lagi tinggi pertanyaannya adalah ?…apakah harga akan terus naik?? dan seterusnya.
Jawaban saya selalu sama yaitu Wa Allahu A?lam ? dan Allah-lah yang Maha Tahu, karena seberapa ahli-pun kita, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Paling banter kita memahami apa yang sudah terjadi sampai saat ini, kemudian menduga-duga apa yang selanjutnya akan terjadi. Berbagai teknik forecasting dikembangkan orang, tetap saja tidak ada yang menjamin keakuratan hasilnya.

Trend Harga Emas (2 Tahun)
Dari sekian banyak teknik ?duga-menduga? tersebut yang saya suka menggunakannya adalah analisa trendline, karena selain sederhana ? di standar grafik Excel ada fasilitas ini. Anda juga bisa mengolahnya sendiri berdasarkan harga-harga emas dan nilai tukar Rupiah yang ada di pasar.
Perhatikan 2 grafik contoh yang saya olah berdasarkan data harga emas dalam US$/Oz dan harga dalam Rupiah/Gram. Grafik pertama saya ambil dari data 2 tahun terakhir, trendline untuk harga emas dalam Rupiah cembung ke bawah yang dapat diartikan bahwa untuk 2 tahun terakhir cenderung stabil atau bahkan menurun. Sebaliknya trendline dalam US$, cekung ke atas yang dapat diartikan bahwa harga dalam US$ cenderung naik secara significant.

Trend Harga Emas (10 Tahun)
Grafik kedua saya ambilkan data yang sama, hanya untuk periode yang lebih panjang yaitu 10 tahun terakhir. Perhatikan sekarang trendline-nya baik dalam US$ maupun dalam Rupiah; keduanya menunjukkan cekung ke atas secara tajam. Artinya dalam 10 tahun terakhir harga emas baik dalam US$ maupun dalam Rupiah mengalami kecenderungan naik yang significant.
Lantas apa makna dari kedua grafik tersebut pada keputusan kita? Untuk dana-dana jangka panjang seperti tabungan untuk pergi haji, biaya anak sekolah, dana pensiun, tabungan untuk membeli atau memperbaiki rumah, tabungan modal usaha, dlsb. insya Allah akan selalu cocok untuk dikonversikan ke Dinar kapan saja.
Untuk dana jangka menengah, seperti rencana anak masuk sekolah dalam 1-2 tahun ini misalnya ? maka dapat dikonversikan ke Dinar atau tetap dalam Rupiah, tidak terlalu banyak perbedaannya dari sisi daya beli ? meskipun dari sisi ketenangan pikiran bisa jadi berbeda.
Untuk dana jangka pendek yaitu biaya kebutuhan rutin bulanan misalnya, atau biaya lain yang akan digunakan kurang dari setahun ini ? kecuali kebutuhan tersebut dapat dibeli/dibayar dengan Dinar ? maka untuk dana jangka pendek ini tetap dipertahankan dalam Rupiah akan lebih ekonomis.

US$ Money Supply
Bila uang Anda saat ini masih dalam US$ ceritanya lain lagi; saya termasuk yang sangat tidak menganjurkan Anda memegang US$ baik untuk kepentingan jangka pendek maupun kepentingan jangka panjang. 2 grafik di atas menyampaikan pesan yang loud and clear (suara keras dan sangat jelas) bahwa ibarat pilot tempur dengan pesawat Dollar, kini saatnya Anda menekan tombol penyelamat dan tinggalkan pesawat Dollar Anda. Pesan yang sama-pun disampaikan PBB sebulan lalu; jadi bukan pendapat saya yang subjektif.
Pesan inipun juga tidak terlepas dari realita US$ sendiri yang di ? ?cetak? dalam berbagai bentuknya dengan jumlah yang sangat-sangat berlebihan 2 tahun terakhir seperti ditunjukkan oleh grafik di atas. Lagi pula kita-pun tidak membutuhkan US$ sebagai alat tukar, untuk apa pula kita pegang?
Jadi, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sangat tergantung dari rencana investasi Anda atau kapan dana-dana tersebut Anda akan gunakan, dan tergantung pula dengan currency uang yang sekarang Anda pegang. Wa Allahu A?lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 15 July 2010. Tags: aset, barakah, bergejolak, DGR, DJIA, Dow Gold Ratio, Dow Jones Industrial Average, dunia, emas, grafik, harga naik, harga turun, Indonesia, investasi, investasi sektor riil, jangka panjang, jangka pendek, Kitco, pasar saham, pertumbuhan nilai, saham, trend, untung rugi
Ini adalah salah satu pertanyaan yang sangat sering sampai ke saya, yaitu pembaca yang menanyakan pilihan investasi antara bermain saham atau investasi emas? Jawaban saya adalah tergantung dengan tujuan investasi Anda; bila Anda suka yang bergejolak jangka pendek ? bisa untung besar tetapi juga rugi besar ? barangkali saham pilihannya. Tetapi bila Anda menghendaki pertumbuhan nilai aset jangka panjang, emas-lah jawabannya.
Biasanya pertanyaan berikutnya adalah, lho emas kan sama juga bergejolak ? bisa untung besar dan rugi besar juga kan? Disinilah BEDAnya! Untuk jangka pendek emas memang bergejolak sama dengan saham, tetapi trend jangka panjangnya jelas ke atas. Sebaliknya saham, dia bergejolak di tempat tanpa diiringi oleh trend jangka panjang ke atas.
Untuk menjelaskan hal ini saya tampilkan data 10 tahun terakhir dari pasar internasional, karena harga emas kita maupun harga saham di Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh pasar dunia. Data emas saya ambilkan dari Kitco, sedangkan untuk representasi data saham saya ambilkan dari Index yang paling terkenal di dunia yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA). Hasilnya saya sajikan pada grafik di bawah.
Perhatikan gejolak saham selama 10 tahun terakhir, dia bergejolak sangat significant. Pernah mencapai angka 13,930 bulan Oktober 2007 dan turun tinggal 7,062 pada bulan Februari 2009 ? nyaris tinggal ½ dari angka tertingginya. Bila ditarik garis dari Januari 2000 (10,940), angka rata-rata bulanan DJIA saat ini masih turun sekitar 8%, yaitu pada angka 10,138.
Artinya apa angka-angka ini? Bila Anda invest saham di pasar saham internasional sejak Januari tahun 2000, dan Anda pertahankan sampai sekarang ? secara rata-rata kurang lebih aset Anda tersebut tidak mengalami pertumbuhan dan bahkan mengalami sedikit penurunan.
Lantas bagaimana dengan emas? well untuk jangka pendek sama bergejolak-nya. Tetapi trend kenaikan jangka panjangnya sangat jelas. Bila Anda investasi emas januari 2000, bareng dengan investasi saham Anda tersebut di atas. Yang di saham nilainya kurang lebih sama atau bahkan turun sedangkan yang di emas nilainya naik lebih dari 4 kalinya; dari rata-rata bulanan di kisaran US$ 284/oz (Januari 2000) ke angka US$ 1,204/oz (rata-rata bulanan saat ini ? Juli 2010).

Dow Gold Ratio (DGR)
Lebih jelas lagi adalah apa yang disebut Dow Gold Ratio (DGR) yang saya sajikan dengan menggunakan basis data yang sama dengan grafik di atas. Bila pada Januari 2000 angka DGR berada pada kisaran 38, saat ini angka tersebut tinggal di kisaran 8.45. Artinya seandainya 1 gram emas tahun 2000 mendapatkan 1 lembar saham PT. XYZ yang merupakan perusahaan rata-rata di tingkat dunia; maka 1 gram emas yang sama saat ini dapat untuk membeli kurang lebih 4.5 lembar saham perusahaan tersebut pada harganya saat ini.
Beda analis tentu bisa sangat beda pendapatnya mengenai pilihan investasi ini; tetapi data yang reliable dari sumber yang terpercaya ? insya Allah akan lebih memudahkan Anda dalam menentukan pilihan investasi Anda! Meskipun pilihan antara 2 investasi tersebut di atas jelas, ada pilihan investasi lain yang bisa jadi lebih baik lagi – seperti sektor riil yang Anda kelola langsung dengan baik – bukan hanya untung, insya Allah juga lebih barakah! Wa Allahu A’lam.
Posted in Financial Plan
Posted on 29 June 2010. Tags: Bank Sentral, Canada, Dubai, ekonomi dunia, emas, G-20, Gold, harga emas, harga naik, harga turun, investor, Irlandia, Italy, krisis, massal, masyarakat, pasar dunia, pelaku usaha, pemimpin, Portugal, Recovery and New Beginnings, safe haven, Spanyol, stabilitas ekonomi, Stability; Growth & Job, supply and demand, tersirat, tersurat, Toronto, Yunani
Pertemuan para pemimpin dunia kelompok G-20 baru berlangsung akhir pekan lalu 26-27 Juni 2010 di Toronto, Canada. Di permukaan, pertemuan reguler dari para pemimpin dunia tersebut mengusung tema yang keren ?Recovery and New Beginnings?. Itu setidaknya yang tersurat, lantas apa yang tersirat dari pertemuan tersebut?
Namanya juga tersirat ? tidak tertulis hitam di atas putih ? maka sifatnya multi tafsir. Bagi saya sendiri melihat temanya yang ?Recovery and New Beginnings? ini menyiratkan bahwa sejak krisis berlangsung 2 tahun lalu, berbagai pertemuan dalam berbagai tingkat belum berhasil membuat ekonomi dunia recover dan memulai hal yang baru ? makanya baru berniat recover dan memulai yang baru sekarang.
Bila belajar dari pertemuan sebelumnya dengan tema ?Stability, Growth & Job?; yang ternyata tidak memberi hasil yang diharapkan, karena tidak lama setelah pertemuan ini, justru guncangan demi guncangan malah menyusul seperti krisis di Dubai, Yunani, Portugal, Irlandia, Italy, Spanyol, dlsb ? maka akankah dunia berharap hasil konkrit dari pertemuan?pertemuan semacam ini?
Nampaknya para pelaku usaha secara global lebih banyak yang tidak berharap pada pertemuan semacam ini. Dari kacamata harga emas hal ini nampak jelas bisa dilihat. Bila pertemuan G-20 sebelumnya (April 2009) diadakan pada saat harga emas berada pada angka rata-rata sekitar US$ 890/oz; pada saat G-20 kali ini diadakan, harga emas sudah berada di kisaran US$ 1,255 /oz atau naik lebih dari 40%!!

Harga Emas Dunia: Dari Pertemuan G-20 ke Pertemuan Berikutnya
Artinya ketika para pemimpin dunia menjanjikan Stability, Growth and Job; tidak demikian yang dirasakan pasar. Pasar masih terus cemas dengan realita stabilitas ekonomi yang tidak kunjung datang. Kecemasan ini membuat mereka mencari tempat untuk melabuhkan dananya secara aman (safe haven), yaitu antara lain ke emas.
Ketika supply emas relatif tetap (hanya tumbuh sekitar 1.5% per tahun), sementara permintaan meningkat ? maka mekanisme supply and demand yang mendorong harga emas di pasaran dunia meningkat lebih dari 40% sejak pertemuan G-20 tahun lalu ke pertemuan G-20 tahun ini.
Lebih-lebih kini yang cemas bukan hanya investor perorangan, tetapi juga investor institusional dan bahkan Bank Sentral dunia mulai diam-diam juga membeli emas di pasar.
Jadi sebenarnya para pemimpin negara-negara di dunia apalagi kelompok G-20 ini, mereka bisa mengendalikan harga emas dengan baik secara elegan bila mereka mau, yaitu dengan cara menstabilkan ekonomi di negaranya masing-masing. Bila ini tercapai, pelaku ekonomi dan masyarakat luas akan merasa nyaman berusaha dan tidak merasa perlu memperbanyak dananya yang disimpan di safe haven ? emas.
Sebaliknya bila mereka tidak berhasil mengendalikan ekonominya, pelaku usaha, masyarakat luas dan bahkan bank sentral mereka sendiri akan cemas dan terus berusaha maksimal mengamankan hartanya di safe haven emas. Perilaku massal inilah yang mendongkrak harga emas dunia sampai tumbuh diatas 40% sejak pertemuan G-20 sebelumnya.
Apakah sampai pertemuan G-20 berikutnya tahun depan harga emas dunia akan terus tumbuh sampai di atas 40% mengikuti periode yang lewat? Sangat tergantung seberapa jauh para pemimpin tersebut bisa meyakinkan pelaku pasar dan masyarakat luas bahwa ?Recovery and New Beginning? yang mereka janjikan kali ini benar-benar terjadi. Bila mereka berhasil harga emas bisa turun, bila sebaliknya maka kenaikanlah yang akan terjadi. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 07 May 2010. Tags: Allah, aset, aset bangsa, bank swasta, BUMN, bursa dunia, Dinar, emas, epicentrum, Eropa, Euro, Gold Wars, harga emas, harga naik, harga turun, Index Dow Jones Industrial, investor asing, isu, jatuh, kemerdekaan, komplikasi parah, krisis finansial, mata uang, menular, otoritas dunia, pejabat, pemerintah, perdagangan dunia, perkasa, pertahankan nilai kekayaan, perusahaan asing, Portugal, Rupiah, sistem finansial global, sistem keuangan, Spanyol, telekomunikasi, uang kertas, Unit of Account, US$, wabah global, Yunani
Dalam tulisan saya 2 hari lalu tentang Gold Wars saya ungkapkan bahwa emas ?dibenci? pemerintah dan otoritas dunia, karena begitu mudah digunakan untuk membaca masalah-masalah yang melanda sistem finansial yang ada. Melesatnya harga emas dunia semalam yang menembus angka di atas US$ 1,200/Oz membuktikan hal ini, bahwa sistem keuangan dunia lagi sakit dan ada kemungkinan komplikasi yang parah.
Awalnya penyakit itu berasal dari krisis yang melanda Yunani, kemudian menular ke tetangganya yang pertahanan ?tubuh? ekonominya juga lemah seperti Portugal dan Spanyol, kemudian seluruh Eropa terpengaruh dengan anjloknya Euro mendekati 9% sejak awal tahun ini.
Dan puncaknya semalam ketika dalam beberapa jam perdagangan saja Index Dow Jones Industrial terpangkas hampir 1000 points. Secara umum dalam perdagangan bursa dunia kemarin, rata-rata indexs turun di atas 3%.
Dengan wabah yang ditularkan oleh Yunani ini, semua nilai aset yang ditentukan dengan mata uang kertas menjadi semu. US$ yang nampak relatif perkasa saja bila dibandingkan dengan mata uang kertas lainnya, setahun terakhir nilainya turun sebesar hampir 25% dibandingkan dengan emas ? atau per pagi ini harga emas dalam US$ setahun terakhir naik sekitar 32%.
Apakah dampak krisis ini juga akan menjangkau kita yang ribuan miles jauhnya dari Yunani? secara fisik memang kita berjauhan dari epicentrum krisis. Namun secara sistem, semua saling terkait. Ketika bursa dunia berjatuhan, maka bursa kita-pun ikut jatuh.
Selain sistem yang saling terkait, komplikasi lain yang sifatnya internal kita juga ada, yaitu pertahanan ?tubuh? dari sistem keuangan kita lagi rentan isu pergantian pejabat otoritas keuangan negeri ini. Karena berbagai hal inilah nilai uang Rupiah kita dalam sepekan terakhir turun sampai sekitar 4% bila dibandingkan dengan US$, dan turun sekitar 8% bila dibandingkan dengan harga emas.
Karena selama ini kita menggunakan unit of account Rupiah dalam menilai aset-aset atau transaksi kita, maka ketika nilai mata uang kertas kita jatuh ? nilai aset-aset tersebut juga ikut jatuh. Misalkan sepekan lalu Anda bernegosiasi untuk membeli rumah seharga Rp 1 Milyar ? saat itu nilainya setara dengan 685 Dinar; bila Anda selesaikan transaksi tersebut hari ini maka rumah yang harganya Rp 1 Milyar tersebut ? kini cukup Anda beli seharga 628 Dinar. Dalam Rupiah tetap, tetapi dalam Dinar rumah tersebut telah turun nilainya sebesar 8% lebih ? dalam sepekan!

A banner says "We are struggling to live"
Proses yang sama inilah yang membuat aset-aset negeri ini, baik yang berasal dari BUMN maupun swasta ? berpindah tangan dari kepemilikan bangsa ini ketangan asing paska krisis 1997/1998. Ketika nilai uang kita paska krisis tinggal ¼-nya dibandingkan dengan sebelum krisis, betapa murahnya aset-aset bangsa ini bila dibeli dengan mata uang asing yang lebih perkasa melalui masa krisis.
Sehingga jangan heran bila Anda sempat berjalan di sepanjang jalan protokol ibukota yaitu dari ujung Jl. Thamrin di utara sampai ke ujung Jl. Sudirman di selatan ? tengoklah kiri kanan dan lihatlah papan nama ? panan nama yang menjulang indah di pencakar langit ? pencakar langit pusat bisnis kebanggaan kita tersebut, lalu bertanyalah siapa yang memiliki saham (mayoritas) perusahaan-perusahaan tersebut? jawabannya kemungkinan besar bukan kita lagi.
Di pintu gerbang Jalan Thamrin ada perusahaan telekomunikasi kebanggaan bangsa ini (dahulu) ? kini negeri ini tinggal memiliki saham 14.29 % saja; 65 %-nya milik asing dan sisanya 20.71% publik ? yang bisa jadi sebagiannya juga asing.
Mendekati ujung Jalan Sudirman ada bank swasta kebanggaan kita (dahulu), bank ini didirikan oleh para pengusaha pejuang yang sebagian besarnya saya kenal pribadi dengan sangat baik. Bahkan waktu mereka mendirikan bank tersebut tahun 1955 ? motifnya bukan untuk mencari keuntungan, tetapi ingin mengisi kemerdekaan! Ironi sekali, karena bank tersebut kini ultimate shareholder-nya adalah suatu group perusahaan dari negeri jiran.
Pengalaman-pengalaman memilukan banyak terjadi dialami oleh temen-temen yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang diambil alih pihak asing ini, bukan masalah materi ? tetapi lebih kepada masalah harga diri. Setelah 65 tahun merdeka, ternyata yang banyak ?mengisi? kemerdekaan ini bukan lagi kita ? tetapi para investor asing baik dari negeri jiran maupun dari negeri yang jauh :(
Lantas bagaimana kita menghindari pengalaman ini terus dan terus terulang, baik dalam skala pribadi maupun dalam skala bangsa? Jawabannya adalah pertahankan nilai kekayaan kita dengan unit of account yang sesungguhnya, yang nilainya tidak mudah rusak oleh isu dan tidak terpengaruh oleh wabah penyakit global seperti penyakit yang ditularkan oleh negeri nun jauh disana ? Yunani.
Dinar bisa menjadi solusi yang konkrit untuk hal ini, kalau toh di tingkat perusahaan atau negara belum bisa mengambil Dinar ini sebagai solusi ? toh kita sudah bisa mengamankan aset kita sendiri dengan Dinar ini. Mulai yang kita bisa, mulai yang kita tahu ? insya Allah, Allah akan membimbing kita terhadap apa yang kita belum tahu… Amin.
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 18 April 2010. Tags: aset investasi, bursa saham, cadangan emas, Dinar, dunia, Eropa, Exchange-Traded Fund, Gold, Gold ETF, Goldman Sachs, harga emas, harga naik, harga turun, investment bank, jangka panjang, jangka pendek, Jerman, Marcus Goldman, menabung, pemerintah, penipuan, prediksi, raksasa financial, SEC, spekulasi, supply and demand, US Secutities and Exchange Comminission, Warren Buffet
Marcus Goldman (1821-1904) adalah nama pendiri investment bank kesohor Goldman Sachs yang kini tengah meramaikan pasar dunia. Sejak didirikan pada tahun 1869, kinerja perusahaan tersebut terus meroket ? hingga menjadi portfolio favorit investment guru di zaman modern ini seperti Warren Buffet, dlsb.
Namun keperkasaan Goldman kini tengah diuji karena sepanjang akhir pekan lalu, Goldman Sachs dirundung gugatan yang awalnya hanya diajukan oleh US Securities and Exchange Commission (SEC) atas adanya dugaan penipuan yang dilakukan oleh salah satu raksasa financial dunia tersebut. Setelah gugatan awal di negerinya sendiri ini, Goldman Sachs nampaknya juga akan menghadapi gugatan sejenis di Eropa oleh pemerintah Jerman.

Marcus Goldman (1821-1904)
Lantas apa hubungannya antara tuntutan ke Goldman Sachs ini dengan harga emas dunia yang turun drastis akhir pekan lalu? Bukankah biasanya kalau ada guncangan di bursa saham, harga emas justru naik karena orang mencari pelarian yang aman atas aset investasinya?
Kali ini tidak, karena sebagian portfolio yang terkait dengan Goldman Sachs juga berupa Gold ETF (Exchange-Traded Fund); gejolak yang menimpa Goldman Sachs juga mendorong penjualan investasi berupa Gold ETF ini; Penjualan Gold ETF kemudian mendorong pelepasan cadangan emas yang dimiliki para pengelola Gold ETF tersebut. Pelepasan cadangan emas, mendorong bertambahnya supply emas di pasaran. Penambahan supply ketika demand relatif stabil tentu berdampak menurunkan harga.
Jadi sepanjang pekan ini ? tergantung perkembangan tuntutan SEC terhadap Goldman Sachs ? maka harga emas dunia akan cenderung turun atau rendah. Ini menjadi kesempatan baik bagi yang ingin merencanakan menabung emas/Dinar untuk keperluan jangka panjang. Untuk yang ingin berspekulasi jangka pendek ? saya tetap menyarankan “jangan“, karena prospek harga emas untuk jangka pendek terlalu sulit diprediksi bahkan oleh para ahli sekalipun. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 23 March 2010. Tags: Amerika, bailout, daya beli US$, dunia, emas, Eropa, European Central Bank, fiscal meltdown, GDP, George Papandreou, harga emas, harga naik, harga turun, hutang, IMF, jangka menengah, jangka panjang, jangka pendek, Jean-Claude Trichet, Jerman, krisis, krisis finansial, masa depan, Nicolas Sarkozy, Obama, pemerintah, pencetakan uang, Perancis, Perdana Menteri, Presiden, reformasi pelayanan kesehatan, sistem keuangan, structural deficit, Uni Eropa, US Healthcare Reform, US$, US$ Index, Yunani
Harga emas dunia bergerak tidak menentu dan menjadi semakin sulit diprediksi untuk sementara ini. Faktor-faktor penggerak harga-nya begitu banyak, sehingga gejolak jangka pendeknya menjadi significant.
Faktor dalam negeri Amerika yang berpengaruh langsung pada harga emas dunia (US$/Oz) antara lain adalah kemenangan Presiden Obama untuk meng-goal-kan reformasi pelayanan kesehatan yang menjadi salah satu agenda utama ketika dia mencalonkan diri sebagai presiden negeri itu.
Keberhasilan ini meningkatkan kepercayaan dunia usaha terhadap kepemimpinannya ? dus memperkuat uangnya. Saat ini US$ Index berada di kisaran angka 81, yang merupakan salah satu puncak tertinggi selama 3 bulan terakhir. Dengan US$ yang lagi perkasa ini, maka harga emas dunia dalam US$ untuk sementara tentu cenderung tertekan.
Namun ini bisa jadi hanyak efek sementara, pendapat yang menolak reformasi pelayanan kesehatan tersebut juga berpeluang yang sama untuk benarnya. Mereka yang menolak memiliki argumen yang kuat bahwa dengan adanya reformasi pelayanan kesehatan ini, anggaran belanja pemerintah bisa membengkak dari rata-rata 20% terhadap GDP meningkat ke kisaran 30% dari GDP. Hal ini akan menimbulkan structural deficit yang semakin tidak bisa diatasi dan akhirnya bisa mengakibatkan fiscal meltdown. Amerika akan semakin sulit menjual hutang-hutangnya dan daya beli uang mereka akan hancur. Bila ini terjadi semua barang tidak terkecuali emas akan melambung harganya bila dibeli dengan US$.
Di luar faktor dalam negeri Amerika (yang berpengaruh terhadap daya beli US$), ada puncak gunung es potensi krisis financial dunia yang bisa di trigger oleh problem di Yunani yang kini bagaikan buah simalakama di Eropa. Jerman yang merupakan salah satu negara terkuat di Uni Eropa sudah terang-terangan tidak akan mau melibatkan diri dalam bailout Yunani.
Pada saat yang bersamaan European Central Bank President Jean-Claude Trichet dan French President Nicolas Sarkozy tidak merasa nyaman dengan ide George Papandreou ? Perdana Menteri Yunani untuk mencari pertolongan ?bail us out? ke IMF. Rupanya Perancis merasa malu bila ada bangsa Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa ? harus menjalani operasi penyelamatan ala IMF.
Walhasil krisis Yunani akan semakin ruwet ? dan yang paling jelas efeknya akan kemana-mana. Efek langsungnya adalah, entah sumbernya dari manapun ? di sistem keuangan dunia akan ada pihak yang terpaksa perlu ?mencetak uang? dalam jumlah besar untuk aksi penyelamatan krisis ini.
Aksi ?pencetakan uang? ini ? apalagi dalam jumlah yang tidak terkendali bila situasi krisis meluas ? pada akhirnya akan melambungkan harga-harga secara umum, termasuk tentu saja harga emas.
Jadi konsisten dengan pikiran utama saya di situs ini, bahwa dalam jangka pendek bisa saja harga emas tertekan turun ? tetapi untuk jangka menengah panjang, insya Allah lebih banyak faktor pendorong untuk naik ketimbang sebaliknya. Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy
Posted on 10 March 2010. Tags: Allah, Anas R.A., bandul jam, benda riil, darah & harta, dewa ekonomi, Dinar, dirham, emas, fitrah, fluktuasi, Friederich August von Hayek, fulus, grafik, Hadits Ashabus Sunan, harga emas, harga emas harian, harga naik, harga turun, Ibnu Taimiyyah, Ilmu Ekonomi, Indonesia, inflasi, Islam, jangka panjang, jangka pendek, John Naisbitt, jumlah uang, kekuatan, kertas, mahal, mata uang, mekanisme pasar, Pembentang, Pemberi Rizki, pemenang Nobel, Penahan, pendorong naik turun, Penentu Harga, penurunan daya beli, posisi jam 6, Rasulullah SAW, Rupiah, tembaga, uang kertas, uang nasional, uang swasta
Sudah beberapa hari ini harga emas mengalami penurunan dan puncaknya semalam ketika pasar internasional turun secara significant dari US$ 1,121/Oz ke angka US$ 1,108/Oz. Akibatnya pagi ini harga Dinar kembali turun mendekati angka Rp 1.4 juta lagi. Ini kabar baik bagi kita yang di Indonesia, bahwa uang kita masih bernilai baik ? meskipun (mungkin) ini hanya bersifat jangka pendek.
Pada kesempatan ini saya ingin share data harga emas dalam Rupiah yang sudah terkumpul di sistem kami sejak 14 September 2007. Pada grafik di bawah Anda akan lihat pergerakan naik turunnya harga emas harian, yang kurang lebih berimbang antara hari-hari dimana harga emas naik dan hari-hari dimana harga emas turun.
Naik turunnya harga emas harian ini lebih banyak didorong oleh mekanisme pasar yang bekerja secara global; ketika harga tinggi orang banyak yang menjual emasnya sehingga supply meningkat dan akan mendorong harga turun. Demikian pula ketika harga rendah, banyak peminat akan berburu emas sehingga demand meningkat dan harga kembali naik, demikian seterusnya.
Kalau harga emas hanya didorong oleh mekanisme pasar, maka seharusnya angka berfluktuasi pada kisaran nilai tertentu – seperti bandul jam yang berayun di sekitar angka 6. Namun ternyata tidak demikian yang terjadi pada harga emas; di awal sistem kami mulai mencatat harga emas harian, harga ini berada di kisaran Rp 220,000/gram ; kini harga berada pada kisaran Rp 330,000/gram atau naik sekitar 50% dalam 2.5 tahun terakhir.
Artinya selain mekanisme pasar yang mendorong berayunnya harga emas secara harian tersebut; ada kekuatan lain yang hari demi hari mendorong harga emas ke atas. Kekuatan lain ini hanya nampak bila kita lihat dalam rentang waktu yang panjang - kekuatan apa ini? Inilah yang namanya inflasi atau penurunan daya beli uang kertas terhadap benda riil yang dalam hal ini diwakili oleh emas.
Naik turunnya harga karena mekanisme pasar ini tidak boleh dicampuri oleh siapapun; bahkan dalam Islam, Rasulullah SAW-pun tidak mau mempengaruhi-nya sebagaimana Hadits Ashabus Sunan dengan perawi yang shahih sebagai berikut:
Telah meriwayatkan dari Anas R.A., ia berkata :? Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, ?Wahai Rasulullah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami. Rasulullah SAW lalu menjawab, ?Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta.?
Sebaliknya dorongan kenaikan harga secara terus menerus yang disebabkan oleh inflasi mata uang kertas, ini tidak boleh terjadi. Penguasa negeri wajib mengendalikan jumlah uang (fulus) yang beredar sehingga rakyat tidak terdhalimi oleh penurunan nilainya. Inilah yang sudah juga diingatkan oleh Ibnu Taimiyyah berikut:
?Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga, kertas, dlsb.) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka.?
Masalahnya sekarang adalah kita hidup di zaman uang kertas; di seluruh dunia uang kertas inilah yang digunakan ? dan tidak ada satu negarapun yang terbukti bisa mengendalikan inflasi. Maka sangat bisa jadi kini zamannya sudah semakin dekat prediksi pemenang hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1974 Friedrich August Von Hayek, dan juga prediksi ?Dewa? Ekonomi-nya dunia barat John Naisbitt untuk terbukti: masanya uang ?swasta? untuk berjaya menggantikan uang nasional.
Bila megatrend itu bener-bener terjadi, maka insya Allah kita-pun sudah siap untuk menyongsongnya. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke JalanNya. Amin.
Posted in Islamic View
Posted on 08 March 2010. Tags: 1 Dinar, 15 Agustus 1971, Amerika, anggaran belanja, anti-inflation monetary policy, bearish, dasawarsa, data inflasi, daya beli tetap, emas, enterpreneurship, etos kerja, GDP, Guru ??? Berdiri, harga emas, harga tinggi, harga turun, ikhtiar, Index Kesengsaraan, industri teknologi, inflasi, Interest Rate, investasi, John Williams, kambing, keluarga, kemakmuran, Misery Index, Murid ??? Berlari, nilai baku, Obama, pemerintah, pencetakan uang, pengangguran, penurunan, potongan pajak, Presiden, rakyat, Ronald Reagan, shadow government statistics, titik terendah, uang kertas, unnecessary cost on the economy, US$
Saya pernah menulis tentang Misery Index atau Index Kesengsaraan suatu negara yang diukur dengan 4 komponen yaitu Inflasi, Pengangguran, Interest Rate dan GDP. Kali ini saya ingin meng-elaborate salah satu dari unsur yang menyengsarakan rakyat tersebut yaitu inflasi.
Banyak cara untuk mengukur inflasi, namun di negara maju sekalipun data inflasi dari pemerintah sering diragukan oleh rakyatnya. Di Amerika misalnya yang menganggap dirinya paling transparan, data inflasinya dibantah oleh seorang kakek-kakek John Williams dari Shadow Government Statistics.
Ada data inflasi yang sebenarnya tidak bisa berbohong yaitu harga barang yang satu dibandingkan dengan barang yang lain yang bersifat baku. Yang selalu kita contohkan di sini adalah harga emas, 1 Dinar terbukti stabil cukup untuk membeli seekor kambing selama lebih dari 1400 tahun. Jadi harga emas ini bisa untuk mendeteksi apakah suatu negara mampu mengendalikan inflasi atau tidak, bila negara tidak bisa mengendalikan inflasi ? maka negara tersebut tidak akan bisa memakmurkan rakyatnya ? lihat di tulisan saya mengenai Misery Index tersebut untuk detilnya.
Contoh konkrit dari korelasi antara harga emas dengan inflasi yang juga merupakan indikator kemakmuran ini dapat dilihat dari sejarah harga emas di Amerika 100 tahun terakhir seperti dalam grafik di bawah. Sampai tahun 1971 ketika harga emas dipatok pada nilai US$ 35/Oz (US$ 21/Oz sampai 1930) ? rakyat seharusnya cukup makmur karena daya beli uang mereka tetap.
Namun perhatikan setelah tahun 1971 ketika negeri itu tidak lagi mengkaitkan pencetakan uangnya dengan emas; inflasi langsung melonjak dan puncaknya tahun 1980 ketika negeri itu berada dalam keterpurukan yang serius yang ditandai dengan inflasi yang mencapai angka 13.2%.
Yang menarik adalah negeri itu pernah berhasil mengendalikan inflasi ini dengan sangat baik yaitu ketika presidennya Ronald Reagan. 3 tahun di awal pemerintahannya dia berhasil menurunkan tingkat inflasinya menjadi tinggal 3.2% saja. Anda bisa perhatikan dari grafik di atas bahwa puncak inflasi bersamaan dengan puncak harga emas tertinggi tahun 80-an yaitu US$ 615/Oz; kemudian awal penurunan harga emas dimulai dari keberhasilan Reagan mengendalikan inflasi ini.
Di awali dengan kemampuan pemerintah AS mengendalikan inflasi ini, harga emas terus turun dan mencapai titik terendahnya tahun 2001 ketika harga emas tinggal hanya US$ 278/Oz saja.
Pertanyaannya adalah, kalau harga emas dalam US$ pernah begitu lama mengalami penurunan (bearish) ? mungkinkah ini akan terjadi kembali ke depan diawali dengan era Obama sekarang? Saya berpendapat hal ini kecil sekali kemungkinannya terjadi, karena Obama dan pemerintahan dunia saat ini tidak melakukan 4 hal esensial yang dilakukan oleh Reagan yaitu:
1) Di awal pemerintahannya Reagan mencanangkan pemotongan pajak untuk merangsang investasi, tumbuhnya enterpreneurship dan membangkitkan etos kerja. Kita tahu kemudian dalam sejarah bahwa raksasa-raksasa industri teknologi tumbuh pesat saat itu dan mereka tetap ada sampai sekarang.
2) Langkah kedua adalah menghilangkan unnecessary cost on the economy. (Kita perlu belajar banyak dari langkah kedua ini bila kita ingin bangun dari keterpurukan kita saat ini yang dalam skala dunia berada di urutan 122 dari 183 negara dalam hal kemudahan berusaha.)
3) Mengendalikan anggaran belanja pemerintah. (Lagi ?lagi di bidang ini kita juga perlu belajar; ketika kita lagi terpuruk ya jangan membeli mobil baru yang mahal untuk para pejabat, jangan memekarkan daerah karena akan menambah beban negara, jangan memperbanyak Pilkada, Pileg , Pilpres, dlsb. yang semuanya berdampak pada beban biaya yang harus ditanggung rakyat.)
4) Yang ke-4 Reagan mencanangkan anti-inflation monetary policy yang kemudian terbukti ampuh menurunkan tingkat inflasi tinggal ¼-nya saja hanya dalam waktu 3 tahun.
4 hal tersebut di atas tidak dilakukan oleh pemerintahan Obama sekarang dan negara-negara lain yang senangnya meniru apa yang mereka lakukan, kini mereka mendapatkan guru yang ‘?’ berdiri, maka muridpun ‘?’ berlari.
Harga emas yang menjulang selama dasawarsa terakhir belum ada tanda-tanda berakhir, karena ini juga cerminan inflasi yang sesungguhnya dari uang kertas maka rakyat di seluruh dunia harus mulai berikhtiar sekuat tenaga untuk bisa memakmurkan diri dan keluarganya karena policy pemerintahnya masing-masing nampaknya tidak atau belum akan membawa kemakmuran bagi mereka dalam waktu dekat. Wa Allahu A?lam dan saya bisa saja keliru.
Posted in Political Economy
Posted on 22 February 2010. Tags: alat ukur, Amerika, daya beli, daya beli tetap, Dinar, ekonomi, emas, Euro, fundamental, harga emas, harga naik, harga turun, hasil jerih payah, Indonesia, jangka menengah, jangka pendek, Jepang, kekuatan, mata uang, minus, penurunan daya beli, perkasa, Rupiah, stamina, The Winner, timbangan, uang kertas, Uni Eropa, universal, US$, waspada, Yen
Untuk bisa melihat kinerja uang kertas kita dalam perspektif yang lebih luas, pada kesempatan ini saya ingin menyajikan perkembangan harga emas sampai 5 tahun terakhir dilihat dari kaca mata uang Rupiah, US$, Euro dan Yen.
Kita gunakan harga emas dalam mata uang masing-masing ? karena harga emas inilah alat ukur yang paling universal dan stabil sepanjang zaman. Kita patut bersyukur bahwasanya dalam 6 ? 12 bulan terakhir, mata uang kita jauh lebih perkasa dibandingkan dengan 3 mata uang kuat dunia yaitu US$, Euro dan Yen.
Hal ini dapat kita lihat bahwa di antara 4 mata uang yang kita observasi daya belinya terhadap emas; dalam 6 ? 12 bulan terakhir harga emas dalam Rupiah-lah yang kenaikannya paling rendah. Dalam Rupiah kenaikan harga emas malah minus atau mengalami penurunan selama 12 bulan terakhir.
Meskipun kita dapat berbangga dengan Rupiah kita dalam jangka pendek, namun kita tetap harus mewaspadai daya beli uang kita ini karena dalam jangka menengah 5 tahun saja Rupiah berkinerja paling lemah bila dibandingkan dengan 3 mata uang kuat dunia Yen, US$ dan Euro tersebut di atas. Dalam timbangan emas, harga emas dunia telah mengalami kenaikan 161% selama 5 tahun terakhir bila dibeli dengan Rupiah. Sementara bila dibeli dengan Yen, US$ dan Euro masing-masing hanya mengalami kenaikan 125%, 157% dan 150%.
Apa maknanya ini semua? Karena mata uang merepresentasikan kekuatan ekonomi suatu negara. Maka selama kurun waktu 5 tahun terakhir, Jepang masih paling kuat fundamental ekonominya dibandingkan dengan negara-negara Uni Eropa, Amerika dan Indonesia.
Kita tentu berharap stamina kita yang lagi fit sehingga memiliki ke-unggul-an dalam 6-12 bulan terakhir dibandingkan dengan negara-negara yang secara umum memiliki fundamental ekonomi yang lebih kuat dari kita tersebut ? dapat bertahan lama sampai bertahun-tahun mendatang.
Bagaimana kalau kondisi unggul ini tidak bisa bertahan lama? Ada cara lain untuk mempertahankan hasil jerih payah kita agar tetap memiliki daya beli unggul sepanjang zaman ? yaitu emas atau Dinar. Selagi Rupiah perkasa seperti hari-hari ini, harga emas sesungguhnya lagi rendah-rendahnya dalam Rupiah ? relatif terhadap mata uang lain di dunia. Wa Allahu A?lam.
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 21 February 2010. Tags: analisa statistik, bearish, bullish, Cacat Sejarah, crowd psychology, Daily Moving Average, daya beli tetap, Deret Fibonacci, Elliot Wave Theory, emas, gelombang corrective, gelombang motive, grafik, harga emas, harga naik, harga turun, investasi, investor, jangka panjang, jangka pendek, Nadeem Walayat, Nature's Laws, Optimis, pasar, pasar modal, penurunan daya beli, Pesimis, pola, Polynomial, psikologi, Ralph Nelson Elliot, rhythmical, ritmis, teori, The Secret of Universe, The Wave Principle, trend, uang kertas, US$
Beberapa kali saya menulis tentang teori yang berkembang di pasar modal yang juga berlaku di pasar emas dalam skala global. Di antara yang pernah saya tulis tersebut adalah tentang Deret Fibonacci; analisa Moving Average, Trend Polynomial dan lain sebagainya.
Meskipun tidak ada yang bisa menjamin kebenaran teori manusia untuk memprediksi masa depan tersebut, paling tidak analisa-analisa yang menggunakan data statistik ini dapat menambah wacana kita untuk lebih memahami apa yang terjadi di masa lalu, yang terjadi sekarang, dan menduga apa yang sekiranya mungkin terjadi berikutnya.

Ralph Nelson Elliot
Ada 1 lagi teori yang juga banyak digunakan untuk memahami perilaku pasar ini yaitu yang disebut Elliot Wave Theory. Teori yang dikembangkan oleh seorang accountant Ralph Nelson Elliot (1871-1948) ini mendasarkan pada asumsi bahwa manusia secara bersama-sama memiliki perilaku yang rhythmical, maka keputusan-keputusannya dalam berinvestasi, dlsb; juga pada umumnya bersifat ritmis.
Psikologi investor secara kolektif (crowd psychology) bergerak dari optimisme ke pesimisme secara berulang membentuk pola tertentu seperti dalam grafik di atas. Pada saat pasar sedang bullish (berkecenderungan naik), gerakan naik ini didorong oleh gelombang motive yaitu gelombang no 1, 3 dan 5 dalam gambar. Dalam perjalanan naik ini dari waktu ke waktu ada koreksi seperti yang ditunjukkan oleh gelombang corrective 2 dan 4. Satu gelombang motive terdiri dari 5 sub gelombang, dan satu gelombang corrective terdiri dari 3 sub gelombang.
Pada saat pasar Bearish (berkecenderungan turun), sebaliknya terjadi ? gelombang penurunan menurut Elliot akan secara simetris mengikuti pola yang berkebalikan dengan kenaikannya membentuk segitiga sama kaki (di grafik perhatikan rangkaian gelombang 2-3-4-5-A-B-C).

Elliot Wave Theory
Untuk contoh penerapan Elliot Wave Theory pada harga emas saat ini, saya tidak perlu membuatnya sendiri karena di internet sudah ada yang membuatnya yaitu antara lain Nadeem Walayat dari www.walayatstreet.com atau www.marketoracle.co.uk. yang analisa grafisnya saya sajikan di samping.
Berdasarkan analisa si Walayat ini, saat ini harga emas sedang berada pada gelombang corrective 4 dimana harga emas bisa turun sampai kisaran US$ 1,050/oz. karena gelombang corrective terdiri dari setidaknya 5 sub gelombang- maka bisa saja terjadi beberapa kali koreksi yang berujung pada kisaran angka tersebut di atas. Maka bila saat artikel ini saya tulis harga emas dunia berada pada angka US$ 1,118.50 ? jangan terkejut bila dalam waktu tidak terlalu lama bisa saja harga emas kembali turun ke kisaran US$ 1,050/Oz.
Meskipun demikian, karena gelombang utamanya sedang berada di gelombang corrective 4; sangat mungkin juga dalam waktu tahun ini juga harga emas akan kembali bergerak ke atas mengikuti gelombang motive 5. Karakter puncak gelombang motive ini selalu melebihi puncak gelombang motive sebelumnya. Maka bila puncak gelombang motive 3 berada pada angka US$ 1,226.30 yang terjadi awal Desember tahun lalu, puncak gelombang motive 5 menurut Walayat akan mencapai US$ 1,333/Oz yang bisa terjadi sebelum akhir tahun ini.
Setelah mencapai puncak gelombang motive 5 ? kemudian menurut Teori Elliot Wave ini harga emas akan berbalik arah menjadi bearish market yang memiliki kaki-kaki simetris dengan kenaikannya. Jadi kalau mengikuti teorinya si Elliot ini harga emas akan berkecenderungan turun tahun depan (2011), benarkah ini yang akan terjadi?
Sekali lagi tidak ada yang bisa memprediksi masa depan secara akurat; Teori Elliot Wave mungkin ada benarnya, namun juga ada cacatnya. Cacat di Teori Elliot Wave ini tidak pernah saya jumpai di ulas di buku-buku yang biasanya menjadi rujukan para analis.
Cacat tersebut adalah cacat sejarah, yaitu ketika teori tersebut diperkenalkan melalui buku The Wave Principle (1938) dan juga revisi komplitnya pada Nature?s Laws ? The Secret of Universe (1946) ? rezim uang saat itu masih menggunakan emas sebagai back-upnya. Artinya Teori Elliot Wave mempunyai kemungkinan benar lebih besar bila uang yang dipakai di pasar memiliki daya beli relatif tetap.
Sebaliknya ketika nilai uang terus mengalami penurunan karena seluruh uang kertas dunia saat ini tidak lagi memiliki daya beli tetap, maka kaki-kaki bearish A, B, C tidak akan mudah terjadi dan bila toh terjadi tidak akan pernah sama panjang dengan kaki-kaki bullish 1,2 dan 3. Apa makna dari ini semua pada harga emas tahun ini atau tahun depan? Saya masih berpegang dengan teori saya sendiri, yaitu dalam jangka pendek harga emas bisa turun ? tetapi kecenderungan jangka panjangnya akan lebih berpeluang naik ketimbang turun. Bukan karena emas semakin mahal sesungguhnya, melainkan karena daya beli uang kertas yang digunakan untuk membelinya yang akan terus menurun. Wa Allahu A?lam.
Posted in Dinar Prospecting