Tag Archive | "harga emas"

Antisipasi Quantitative Easing 2: Belajar Sampai Negeri China


Saya pernah menulis tentang Quantitative Easing ini di bulan Maret 2009 ketika dunia sedang berada di puncak krisis finansial. Saya tulis kembali sekarang dengan judul Quantitative Easing 2 (QE 2) sebagaimana para pengamat ekonomi menyebutnya akhir-akhir ini, karena mulai bermunculannya wacana atau lebih tepatnya analisa kemungkinan beberapa bank sentral dunia melakukannya lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Quantitative Easing adalah kebijakan bank sentral untuk menambah supply uang dengan meng-credit-kan di account-nya sendiri uang dalam jumlah besar secara ex-nihilo atau out of nothing atau dalam bahasa kita dari awang-awang. Bahkan uang ini juga tidak perlu dicetak, karena cukup di entry di account bank sentral – bahwa uang mereka bertambah – maka bertambahlah uangnya.

Uang yang diketikan dari awang-awang ini kemudian beredar melalui apa yang disebut open market operation, yaitu ketika uang (yang hanya ada di data komputer) tersebut kemudian benar-benar digunakan untuk membeli financial assets berupa government bonds, corporate bonds, dlsb serta  mengalir ke bank-bank dan institusai finansial lainnya.

Pencetakan Uang dari Awang-Awang

Pencetakan Uang dari Awang-Awang

Langkah bank-bank sentral melakukan quantitative easing ini tidak terlalu bermasalah selagi pelaku pasar dan pengguna uang pemerintah tersebut masih mempercayainya. Masalahnya adalah ketika hal ini semakin sering dilakukan – maka nilai mata uang dari negara tersebut akan terus tergerus dengan cepat dan merugikan siapapun yang memegangnya.

China misalnya yang memegang US$ terbesar, sejak beberapa tahun terakhir mulai khawatir akan menurunnya daya beli aset mereka yang berupa US$ tersebut. Karena kekhawatiran inilah maka China terus mendiversifikasi cadangan devisanya dari US Dollars, mereka kini aktif membeli mata uang negara lain selain AS, seperti Jepang, Thailand, Korea dan bahkan beberapa negara latin.

Pemerintah China dan perusahaan-perusahaan negara-nya juga mulai mengumpulkan aset riil di luar mata uang. Di antara yang mereka kumpulkan adalah emas, biji besi, cadangan gas, batubara dan bahkan cadangan kayu dari hutan-hutan di Guyana. Dari perbagai persiapan ini, maka bila nilai US$ terus mengalami penurunan – dan bahkan suatu saat bisa benar-benar kehilangan nilainya sama sekali, maka bisa jadi China adalah negara yang paling siap menghadapinya. China bahkan juga sudah mendorong dan memfasilitasi rakyatnya untuk rame-rame membeli emas.

Paling tidak langkah China ini pasti menggembirakan rakyatnya karena setahun terakhir rakyat China yang memindahkan tabungan US$-nya menjadi emas mengalami keuntungan rata-rata sekitar 30% – yaitu rata-rata appresiasi harga emas dunia dalam US$ setahun terakhir.

Dengan semakin ramenya wacana atau analisa akan kemungkinan terjadinya Quantitative Easing Gelombang ke 2 (QE 2), sangat mungkin trend kenaikan harga emas dunia masih akan terus berlanjut – apalagi minggu ini kita sudah akan memasuki bulan September – dimana kenaikan harga emas musiman biasa juga terjadi.

Bila China beserta rakyatnya telah melakukan antisipasi yang proper terhadap kebijakan negara lain terhadap uangnya – khususnya AS, mengapa tidak kita juga “belajar sampai negeri China” dalam pengelolaan aset ini? Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Investasi di Era Competitive Devaluation: Jangan Mau Jadi Pelanduk


Dahulu di waktu Sekolah Dasar kita belajar pepatah yang kurang lebih berbunyi gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah. Apes bener jadi pelanduk, dia tidak tahu menahu tentang urusan apa gerangan yang  membuat para gajah tersebut bertarung – tetapi dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula – maka matilah dia karena pertarungan ini. Sebuah artikel di The Wall Street Journal kemarin yang diberi judul Getting Ready for A Dollar Collapse? bercerita tentang pertarungan gajah US Dollar melawan  gajah-gajah Yuan, Euro, Yen dan berbagai mata uang kuat lainnya – yang membuat mati para pelanduk, yaitu para penabung atau pemegang uang kertas dunia.

Pertarungan yang disebut Competitive Devaluation ini bermula dari krisis finansial global dalam 2 tahun terakhir. Biang keladinya adalah Amerika, dimana  2/3 isi balance sheet dari Federal Reserve-nya berasal dari surat berharga yang dikeluarkan oleh government sponsored enterprises – semacam BUMN kitalah – yaitu Fannie Mae dan Freddy Mac yang dibailed out pemerintahnya 2 tahun silam. Ini situasi ‘jeruk makan jeruk’, yang hakekatnya pemerintah negeri ini sedang mencetak uang baru dari awang-awang.

Akibat perbuatannya ini – karena uang baru terus dicetak dari awang-awang – maka ada proses penurunan daya beli US$ secara terus menerus. Hal ini nampak jelas pada perkembangan harga emas dunia dalam US$, bila rata-rata bulanan bulan Agustus 2008 harga emas berada pada angka US$ 839.02/Oz kini naik sekitar 44% pada bulan Agustus 2010 ini menjadi rata-rata US$ 1,209.66/Oz dengan trend masih ke atas. Mungkin saja akan terbatas efeknya apabila penurunan daya beli ini  hanya terjadi di AS, namun ternyata efek penurunan daya beli ini tidak akan terhenti di AS. Negara-negara lain yang nilai perdagangannya sangat tinggi dengan AS, seperti: China, Uni Eropa, Jepang, dlsb akan kehilangan daya saingnya bila uang mereka terlalu PERKASA terhadap  US Dollars.

quantitative-easingAkibatnya otoritas moneter negara-negara tersebut akan menempuh caranya sendiri-sendiri untuk menurunkan daya beli uangnya dengan perbagai program Quantitative Easing atau cara-cara ‘creative’ lainnya dalam mencetak uang dari awang-awang. Negara-negara lain yang tadinya tidak terimbas secara langsung-pun kemudian akan terpaksa mengikuti gerakan global dalam penurunan daya beli uang kertas ini, karena bila tidak maka mereka akan semakin tidak bisa bersaing dengan produk ekspor-nya.

Wal hasil, seluruh dunia kini seperti berpacu dalam menurunkan daya beli uang kertasnya – atau berarti juga berpacu dalam inflasi. Lantas siapa yang jadi pelanduk-nya? Masyarakat secara umum yang tidak tahu menahu menjadi korban dalam bentuk harga barang-barang yang terus melambung, secara khusus para penabung yang meskipun angka uang yang ditabungnya bertambah – daya beli uang yang ditabung tersebut semakin lama semakin turun karena hasil tabungannya kalah berpacu dengan inflasi.

Terus bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi hal ini? Yang terbaik adalah apabila terjadi perubahan paradigma cara berfikir dari kegemaran menabung menjadi kegemaran ber-investasi di sektor riil. Bagi Anda yang masih mempunyai kampung, menginvestasikan uang Anda di kampung dalam bentuk lahan-lahan yang diproduktifkan dengan berbagai tanaman sengon, jabon dan bahkan pisang, dlsb insya Allah akan lebih memberi manfaat bagi Anda dan masyarakat sekitar Anda. Bagi yang sudah tidak memiliki kampung, masih banyak terbuka lahan di Nusantara ini untuk Anda produktifkan baik untuk pertanian, perikanan, peternakan maupun kegiatan produktif lainnya.

Mengapa sektor riil ini lebih baik dari pada memegang uang kertas atau tabungan di era competitive devaluation ini? Sederhana alasannya, benda riil apapun yang Anda pegang dengan sendirinya akan melonjak nilainya – ketika dunia rame-rame menurunkan daya beli mata uangnya.

Ketika kita tidak menjadi pelanduk, pertarungan para gajah tidak akan membuat kita mati – maka jangan mau jadi pelanduk! Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Penggunaan Emas/Dinar Dalam Pengelolaan Risiko


Waktu saya belajar tentang Manajemen Risiko dahulu, hal yang mendasar yang kita pelajari antara lain adalah bagaimana memilah-milah risiko dari yang bisa terjadi dengan yang pasti terjadi.  Untuk risiko yang masuk kategori bisa terjadi (kecelakaan misalnya), kemudian dipilah berdasarkan severity dan frequency-nya untuk kemudian dihindari, diminimisasi atau dihadapi. Untuk risiko yang pasti terjadi (kematian misalnya) – tidak ada pilihan lain kecuali harus dihadapi.

Naik turunnya harga emas dunia adalah juga merupakan suatu risiko; tetapi masuk kategori yang mana? Tergantung dari seberapa jauh kita memandangnya, untuk jangka pendek dia adalah risiko yang bisa terjadi (bisa naik atau turun), tetapi untuk jangka panjang dia lebih mendekati risiko yang pasti terjadi – uang fiat hampir pasti turun daya belinya terhadap emas. Sampai saat ini belum ada satupun uang kertas dunia yang mampu bertahan daya belinya terhadap emas dalam rentang waktu yang panjang.

Ambil contoh kasus harga emas tahun ini misalnya; bila dilihat dari statistik seharusnya sejak akhir Maret lalu sampai awal September nanti harga emas mestinya berada pada musim rendah. Namun untuk tahun ini nampaknya pola pergerakan harga musiman ini tidak berlaku, bahkan bulan Juni lalu harga emas dunia sempat berada di kisaran angka US$ 1,266/Oz.  Per pagi ini harga emas dunia berada pada kisaran angka US$ 1,225/Oz – mengalami penurunan US$ 42/Oz atau turun 3% dari harga tertingginya 2 bulan lalu, namun angka ini masih US$ 270/Oz lebih tinggi atau mengalami kenaikan 28.33% dari harga emas Dunia yang pada bulan yang sama tahun lalu yang berada di kisaran US$ 955/Oz.

Semakin panjang kita menarik rentang waktu yang kita lihat, akan semakin jelas penurunan daya beli uang kertas terhadap emas ini. Anda bisa perhatikan misalnya pada grafik 10 tahunan yang ada pada situs ini (statistik Dinar Islam Growth” sebelah kanan bawah) – trend naiknya dalam rentang waktu yang panjang menjadi amat sangat jelas.

penurunan-daya-beliSetelah apa yang terjadi dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara 1997/1998, Amerika tahun 2008 dan Eropa tahun 2010 ini, kita semua baik individu, perusahaan maupun negara nampaknya kini memang perlu mengkaji kembali Strategi Pengendalian Risiko yang dihadapinya. Satu aspek risiko yang begitu nyata mendekati kepastian, yaitu risiko penurunan daya beli uang kita – sangat bisa jadi masih luput dari konsideran kita dalam konteks implementasi Pengendalian Risiko.

Akan tidak ada gunanya misalnya suatu usaha mencapai sukses luar biasa dan menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi para investornya – bila keuntungan tersebut dihargai dengan suatu nilai uang kertas yang nilainya sendiri mengalami peluruhan dengan cepat. Demikian pula dengan hasil jerih payah kita; tidak ada gunanya kita tabung bila nilai daya belinya tidak bisa kita pertahankan.

Karena risiko penurunan nilai (baca: inflasi) uang kertas adalah suatu keniscayaan atau mendekati kategori risiko jenis kedua – yaitu risiko yang pasti terjadi, maka mau tidak mau kudu kita hadapi. Dengan apa kita menghadapinya? Ya antara lain menggunakan emas atau Dinar ini. Seandainya toh karena satu dan lain hal emas atau Dinar belum bisa difungsikan sebagai Alat Tukar atau Medium of Exchange; penggunaan emas atau Dinar sebagai Unit of Account dan Store of Value akan dapat sangat efektif dalam pengelolaan risiko penurunan daya beli uang kertas atau inflasi. Wa Allahu A’lam

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Menduga Harga Emas Dari Pergerakan Barang Di Laut


Di luar data-data resmi pemerintah yang umumnya digunakan untuk indikator ekonomi seperti angka inflasi, tingkat pengangguran, indeks harga konsumen, dlsb; para ekonom juga sering menggunakan data lain yang tidak biasa digunakan sebagai indikator ekonomi – namun tidak kalah akurat atau bahkan sering lebih akurat dalam menggambarkan situasi ekonomi global yang sesungguhnya. Di antara data yang tidak biasa ini adalah indeks biaya pengangkutan laut yang dikeluarkan oleh Baltic Exchange -  London.

Indeks yang disebut Baltic Dry Index (BDI) ini menggambarkan tingkat biaya pengangkutan laut dari seluruh dunia. Setiap hari data ini dikumpulkan oleh Baltic dari sejumlah besar broker pengangkutan laut di seluruh dunia, jadi data ini sangat akurat dan up-to-date. Bahkan keakuratan dan ke-up–to–date-annya menyerupai pergerakan harga emas dunia, sehingga dari kedua data ini bisa dianalisa korelasinya.

Baltic Dry Index (2 tahun)

Baltic Dry Index (2 tahun)

Bagaimana BDI ini bisa bercerita tentang ekonomi dunia? Jumlah kapal-kapal pengangkut di seluruh dunia tidak bisa bertambah atau berkurang secara drastis, artinya supply kapasitas kapal relatif stabil atau kalau toh bertambah bertambah secara gradual dengan persentase pertambahan yang sangat kecil. Dari supply kapasitas pengangkutan yang relatif stabil tersebut, bila jumlah barang yang perlu diangkut (demand pengangkutan) besar maka harga akan naik – dan sebaliknya bila jumlah barang yang perlu diangkut sedikit maka akan terjadi persaingan yang hebat antar perusahaan pengangkutan laut sehingga harga pengangkutan akan jatuh.

Ketika dunia mengalami krisis ekonomi secara serius, konsumsi barang dunia berkurang drastis sehingga yang perlu diangkut di laut juga turun secara drastis pula. Harga-harga pengangkutan laut-pun anjlog oleh sebab demand yang rendah. Perhatikan grafik BDI di atas untuk catur wulan terakhir 2008.

Baltic Dry Index (6 bulan)

Baltic Dry Index (6 bulan)

Setelah itu dunia berusaha melakukan recovery dengan susah payah seperti yang ditunjukkan periode 2 tahun terakhir dari grafik tersebut di atas. Bila kita perbesar grafik tersebut untuk melihat perkembangannya selama 6 bulan terakhir, kita akan melihat seperti pada grafik yang ke-2 di samping. Dimana terjadi penurunan demand lagi dalam 2 bulan terakhir – meskipun tidak separah akhir 2008.

Lantas apa hubungannya informasi yang tersurat dan yang tersirat dari BDI tersebut dengan harga emas dunia? Normal-nya harga emas akan mengikuti harga komoditi fisik lainnya, bila harga–harga komoditi rendah karena demand yang turun maka demikian pula yang akan terjadi pada harga emas.

Hal ini bisa ditunjukkan dengan grafik ke-3 di bawah, dimana pada grafik BDI yang pertama di atas saya timpakan dengan grafik harga emas dunia pada periode yang sama. Tidak sama persis tetapi kita bisa melihat kemiripan pola-nya satu sama lain.

Gold vs BDI

Gold vs BDI

Bila tidak ada faktor lain yang mempengaruhinya selain semata oleh supply and demand, bisa jadi 2 grafik tersebut (Gold dan BDI) akan berhimpitan satu sama lain. Namun karena harga emas lebih rentan dipengaruhi isu sesaat dibandingkan harga-harga pengangkutan laut, maka dari waktu ke waktu terjadi perbedaan arah dari 2 grafik tersebut.

2 minggu terakhir misalnya, arah grafik BDI sudah balik ke atas – namun arah grafik emas malah ke bawah – inilah yang saya sebut faktor selera dalam tulisan saya 2 hari lalu dengan judul “Harga Emas: Antara Selera dan Realita”. Setelah ‘selera’ sesaat tersebut berlalu, maka grafik emas akan kembali ke fitrah-nya yaitu naik!

Selain faktor selera tersebut di atas ada perbedaan lain yaitu adanya dorongan ke atas pada harga emas yang TIDAK dimiliki oleh BDI, perhatikan misalnya pada periode setahun antara Mei 2009 – Mei 2010. Apa yang menyebabkan dorongan ke atas ini? Inilah faktor inflasi atau penurunan daya beli uang kertas. BDI diukur dengan uang kertas dengan asumsi daya belinya stabil, sedangkan harga emas yang diukur dengan uang kertas pula akan kelihatan naik – bukan karena nilainya yang naik, tetapi oleh daya beli uang kertas yang sejatinya turun.

Jadi akan kemana arah harga emas, hari-hari, minggu-minggu atau bulan-bulan ke depan? Salah satunya dapat diduga dari ujung grafik BDI tersebut ke atas. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Harga Emas: Antara Selera dan Realita


Sejak saya belajar ilmu pertanian 30 tahun lalu sampai sekarang, daya beli petani kita tidak banyak berubah. Kebanyakan mereka masih termasuk golongan masyarakat yang memiliki daya beli terendah di negeri ini, mengapa demikian? Karena mereka kebanyakan mengikuti selera dalam pola tanamnya. Ketika cabe di pasar harganya tinggi, maka serentak petani rame-rame menanam cabe. Pada saat mereka panen harga jatuh karena demand cabe kan tidak serta merta naik ketika supply tinggi dari panenan yang melimpah.

Tetapi ada sekelompok teman-teman saya yang sangat sukses di bidang pertanian/perkebunan. Mereka tidak menanam sesuatu hanya karena orang lain rame-rame menanamnya. Mereka hanya menanam suatu jenis tanaman apabila sudah diriset seberapa besar pasarnya, dan siapa-siapa yang sudah akan mengisi pasar tersebut. Dengan demikian pada saat mereka panen, pasar cukup kuat menyerap hasil panennya dan harga terjaga.

Pola tanam (bisa juga dibaca: investasi) yang sama sebenarnya juga terjadi di bursa saham dan pasar emas dunia, selera (appetite) sangat mempengaruhi keputusan investasi kebanyakan investor. Turun drastisnya harga emas dunia tadi malam misalnya adalah karena secara tiba-tiba begitu banyak investor yang selera untuk mengambil risiko investasi-nya membaik.

Ketika beberapa negara Eropa diguncang krisis, para investor dihinggapi rasa ketakutan sehingga mereka rame-rame mengamankan dana investasinya sebagian di emas; permintaan emas yang melonjak saat itu mendorong harga emas tinggi selama beberapa bulan terakhir.

Kemudian ketika beberapa pekan terakhir ada kabar bahwa kondisi keuangan bank-bank besar Eropa ternyata tidak seburuk yang dibayangkan sebelumnya, karena bank-bank besar tersebut ternyata lolos stress tests – maka para investor kembali merasa aman untuk mengalihkan dananya dari safe haven emas, ke bentuk-bentuk investasi yang lebih berisiko seperti saham, mutual fund dan lain sebagainya. Itulah sebabnya harga emas yang rendah hari-hari ini, akan bersamaan dengan tingginya harga-harga di saham dan sejenisnya.

Lantas apakah kita perlu rame-rame mengikuti masyarakat investor yang memburu saham dan sejenisnya tersebut? Kalau saya tidak akan saya lakukan karena tingginya harga-harga saham secara global hari-hari ini juga bukan karena didorong oleh kinerja perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan saham-saham tersebut. Lagi-lagi tingginya harga saham-saham tersebut lebih banyak didorong oleh selera atau appetite para investor untuk lebih berani mengambil risiko. Ketika selera memudar (dan selera memang gampang sekali pudar oleh berbagai sebab!), maka harga saham akan kembali berguguran. Lihat tulisan saya dengan judul Pilihan Investasi: Saham atau Emas?

Lantas apa yang akan saya lakukan? Belajar dari teman-teman yang sukses di bidang pertanian/perkebunan tersebut – saya akan lebih banyak mengambil keputusan berdasarkan riset pasar dan realita yang ada pada supply and demand emas secara global dan dalam jangka panjang.

Untungnya tidak seluruh riset dan realita tersebut harus kita kumpulkan dan analisa sendiri; banyak sekali kajian para pakar di bidang ini yang bisa kita baca dan pelajari analisa mereka. Salah satunya adalah yang pernah saya kumpulkan dalam satu tulisan yang berjudul Prediksi Harga Emas oleh Para Ahlinya.

Dengan memahami realita-realita semacam ini, insya Allah kita bisa memaksimalkan keputusan yang didasarkan pada informasi yang memadai (well informed decisions) – bukan hanya didorong oleh selera sesaat kita. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Trend Harga Emas: Sejauh Mana Mata Memandang


Pertanyaan yang terus sampai ke saya, khususnya dari para pengguna Dinar baru adalah“…kapan membeli Dinar yang paling tepat?”. Pertanyaan sejenis pada saat harga lagi rendah seperti sekarang adalah “…apakah harga akan turun lagi?” , kemudian pada saat harga lagi tinggi pertanyaannya adalah “…apakah harga akan terus naik?” dan seterusnya.

Jawaban saya selalu sama yaitu Wa Allahu A’lam – dan Allah-lah yang Maha Tahu, karena seberapa ahli-pun kita, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Paling banter kita memahami apa yang sudah terjadi sampai saat ini, kemudian menduga-duga apa yang selanjutnya akan terjadi. Berbagai teknik forecasting dikembangkan orang, tetap saja tidak ada yang menjamin keakuratan hasilnya.

Trend Harga Emas (2 Tahun)

Trend Harga Emas (2 Tahun)

Dari sekian banyak teknik ‘duga-menduga’ tersebut yang saya suka menggunakannya adalah analisa trendline, karena selain sederhana – di standar grafik Excel ada fasilitas ini. Anda juga bisa mengolahnya sendiri berdasarkan harga-harga emas dan nilai tukar Rupiah yang ada di pasar.

Perhatikan 2 grafik contoh yang saya olah berdasarkan data harga emas dalam US$/Oz dan harga dalam Rupiah/Gram. Grafik pertama saya ambil dari data 2 tahun terakhir, trendline untuk harga emas dalam Rupiah cembung ke bawah yang dapat diartikan bahwa untuk 2 tahun terakhir cenderung stabil atau bahkan menurun. Sebaliknya trendline dalam US$, cekung ke atas yang dapat diartikan bahwa harga dalam US$ cenderung naik secara significant.

Trend Harga Emas (10 Tahun)

Trend Harga Emas (10 Tahun)

Grafik kedua saya ambilkan data yang sama, hanya untuk periode yang lebih panjang yaitu 10 tahun terakhir. Perhatikan sekarang trendline-nya baik dalam US$ maupun dalam Rupiah; keduanya menunjukkan cekung ke atas secara tajam. Artinya dalam 10 tahun terakhir harga emas baik dalam US$ maupun dalam Rupiah mengalami kecenderungan naik yang significant.

Lantas apa makna dari kedua grafik tersebut pada keputusan kita? Untuk dana-dana jangka panjang seperti tabungan untuk pergi haji, biaya anak sekolah, dana pensiun, tabungan untuk membeli atau memperbaiki rumah, tabungan modal usaha, dlsb. insya Allah akan selalu cocok untuk dikonversikan ke Dinar kapan saja.

Untuk dana jangka menengah, seperti rencana anak masuk sekolah dalam 1-2 tahun ini misalnya – maka dapat dikonversikan ke Dinar atau tetap dalam Rupiah, tidak terlalu banyak perbedaannya dari sisi daya beli – meskipun dari sisi ketenangan pikiran bisa jadi berbeda.

Untuk dana jangka pendek yaitu biaya kebutuhan rutin bulanan misalnya, atau biaya lain yang akan digunakan kurang dari setahun ini – kecuali kebutuhan tersebut dapat dibeli/dibayar dengan Dinar – maka untuk dana jangka pendek ini tetap dipertahankan dalam Rupiah akan lebih ekonomis.

US$ Money Supply

US$ Money Supply

Bila uang Anda saat ini masih dalam US$ ceritanya lain lagi; saya termasuk yang sangat tidak menganjurkan Anda memegang US$ baik untuk kepentingan jangka pendek maupun kepentingan jangka panjang. 2 grafik di atas menyampaikan pesan yang loud and clear (suara keras dan sangat jelas) bahwa ibarat pilot tempur dengan pesawat Dollar, kini saatnya Anda menekan tombol penyelamat dan tinggalkan pesawat Dollar Anda. Pesan yang sama-pun disampaikan PBB sebulan lalu; jadi bukan pendapat saya yang subjektif.

Pesan inipun juga tidak terlepas dari realita US$ sendiri yang di – “cetak” dalam berbagai bentuknya dengan jumlah yang sangat-sangat berlebihan 2 tahun terakhir seperti ditunjukkan oleh grafik di atas. Lagi pula kita-pun tidak membutuhkan US$ sebagai alat tukar, untuk apa pula kita pegang?

Jadi, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sangat tergantung dari rencana investasi Anda atau kapan dana-dana tersebut Anda akan gunakan, dan tergantung pula dengan currency uang yang sekarang Anda pegang. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Balon Yang Diputus Talinya, Hendak Pergi Kemana?


Selama 2500 tahun lebih emas adalah uang bagi seluruh peradaban manusia. Bahkan setelah Perang Dunia II-pun melalui Bretton Woods Agreement 1945, uang masih dikaitkan dengan emas. Seperti dalam rangkaian balon di samping, balon pertama US$ diikat dengan emas 1 oz setara dengan US$ 35. Kemudian rangkaian balon berikutnya (Rupiah, Yen, dlsb) diikat dengan US$ atau langsung terhadap emas.

Lantas apa jadinya ketika ikatan terhadap emas tersebut diputus sejak 15 Agustus 1971 melalui kejadian yang mengguncang dunia yang disebut Nixon Shock? Seperti balon yang dilepas dari ikatannya – harga emas terus membubung tinggi. Bila pada tahun-tahun sebelum ikatan tersebut dilepas harga emas dunia berada pada kisaran US$ 35/Oz; pada tahun 1971 ketika ikatan dilepas, harga emas mulai merangkak ke angka US$ 40/Oz – kini harga itu telah mencapai US$ 1.200-an/Oz atau dalam US$ naik 30 kali-nya selama kurun waktu 40 tahun saja.

Balon Rupiah lebih tinggi lagi terbangnya. Bila pada tahun pelepasan ikatan tersebut harga emas masih dikisaran Rp 500/gram; kini harga itu di kisaran Rp 350,000/gram atau naik  700 kalinya selama 40 tahun terakhir!

Well, itu sejarah mata uang dan harga emas – suka atau tidak suka itulah realitanya. Yang lebih penting bagi kita adalah bukan sejarah masa lalunya, tetapi memahami kemana arah terbangnya balon-balon tersebut ke depan, sehingga kita bisa mengambil keputusan yang bijak untuk diri, anak cucu dan generasi yang akan datang. Berikut adalah poin-poin yang akan menentukan arah terbang balon-balon tersebut:

US-Treasury-Debt-for-gold

  • Sampai saat ini yang nampak di depan mata adalah uang akan terus dicetak tanpa ikatan apapun di seluruh dunia – persis seperti balon, isinya adalah awang-awang (udara).
  • Negara-negara di dunia terus menambah hutang, di Amerika yang uangnya (US$) digunakan untuk harga emas dunia – hutang tersebut kini telah mencapai US$ 12.8 trilyun, naik sekitar US$ 3 trilyun dari tahun sebelumnya.
  • Rule of Thumb-nya setiap kenaikan hutang Amerika US$ 1 trilyun, harga emas naik sekitar US$ 125/Oz, perhatikan pada grafik di samping untuk memahami hubungan antara US Treasury Debt ini dengan harga emas.
  • Untuk memberikan hasil yang berubah, diperlukan cara yang berubah pula. Maka bila belum ada perubahan dalam sistem pengelolaan uang dunia – kita juga belum bisa mengharapkan adanya perubahan dalam trend harga barang-barang tidak terkecuali emas.

Dari fakta-fakta tersebut di atas, saya melihatnya bahwa balon-balon tersebut rasanya belum akan turun dan balik ke pengikatnya. Yang terjadi mungkin malah sebaliknya, mereka akan semakin terbang tinggi dan kemudian menghilang. Barangkali inipula yang dilihat oleh Bank for International Settlements (BIS) sehingga secara diam-diam mereka mulai ‘memasukkan’ emas sebagai ‘alat tukar’ swap-nya, mereka mulai memerlukan kembali ikatan itu! Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +2 (from 2 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Perubahan Musim Pada Harga Emas


Dahulu waktu saya kecil, petani-petani di desa-pun seolah dapat memprediksi kapan hujan mulai turun dan kapan berhentinya. Dengan demikian mereka bisa merencanakan pola tanam-nya secara akurat. Kini 40 tahun kemudian, perubahan musim ini sulit sekali diprediksi bahkan dengan teknologi tinggi sekalipun. Sekarang kita berada di bulan Juli, musim hujan mestinya sudah berakhir 4 bulan lalu – tetapi sekarang hujan deras dan banjir masih melanda di beberapa wilayah.

Seperti juga pada musim hujan dan kemarau, naik turunnya harga emas seharusnya predictable karena harga emas adalah cermin bagi harga komoditi-komoditi kebutuhan utama manusia. Ketika komoditi banyak dibutuhkan (demand tinggi) misalnya pada musim dingin di belahan bumi utara (di musim dingin orang butuh lebih banyak makanan, pakaian dan energi) – harga emas akan cenderung naik, lihat statistiknya pada tulisan saya sebelumnya Musim Membeli Emas…”. Musim harga emas rendah mestinya juga sudah mulai berlangsung sejak 4 bulan lalu Karena di belahan bumi utara – yang secara umum penduduknya lebih makmur – musim dinginnya telah berakhir di bulan Maret.

Apa yang sebenarnya terjadi secara cepat dalam beberapa tahun belakangan – yang tidak (belum) terjadi selama puluhan tahun sebelumnya? Untuk perubahan musim hujan, biarlah para ahli meteorology dan geofisika yang menjelaskannya.

Untuk tinggi rendahnya harga emas yang nampaknya tidak lagi mengikuti musim, para ekonom dan pelaku pasar punya teorinya sendiri-sendiri. Diantara sekian banyak teori, berikut saya sarikan benang merahnya :

  • Di masa ekonomi stabil dan relatif tidak bergejolak seperti yang dialami dunia dalam beberapa dasawarsa yang lewat – orang comfortable untuk menaruh uangnya dalam mata uang fiat dan memutarnya dalam berbagai  usaha yang menguntungkan. Emas hanya dibeli dalam jumlah secukupnya untuk diversifikasi aset, bahan perhiasan, dlsb.
  • Ketika ekonomi dunia bergejolak hebat seperti yang terjadi dalam 2 tahun terakhir, ada jenis kebutuhan emas yang baru yang tiba-tiba meningkat yaitu kebutuhan untuk safe haven – tempat melabuhkan aset secara aman.
  • Ketika kebutuhan emas untuk safe haven ini yang dominan di pasar, maka harga emas menjadi mudah sekali bergejolak. Mudah sekali diterpa isu, sehingga yang mempengaruhi harga emas bukan lagi faktor yang bersifat fundamental – tetapi lebih banyak pada persepsi sesaat dari para pelaku pasar.
Emas Setahun Terakhir

Emas Setahun Terakhir

Karena faktor-faktor penyebab tersebut akan tetap terjadi atau bahkan dalam severity (tingkat pengaruh) yang lebih kuat dan frequency yang lebih sering, maka harga emas akan terus bergejolak hebat dalam jangka pendek. Namun arah jangka panjangnya (setahun lebih) nampak jelas sekali dorongan ke atasnya.

Lihat pergerakan setahun terakhir pada grafik di samping misalnya. Pada bulan Desember 2009 lalu, harga emas dunia sempat naik mencapai US$ 1,226/Oz tetapi juga sempat turun ke angka US$ 1,083/Oz atau sempat turun dalam rentang 12% di bulan tersebut. Namun secara keseluruhan bila kita tarik waktu setahun terakhir – harga emas dunia naik sekitar 30%-an yaitu dari kisaran harga US$ 920/Oz awal Juli 2009 ke angka US$ 1,205/Oz saat ini.

Untuk bulan ini dan bulan depan, saya sendiri berharap masih ada musim harga emas rendah – meskipun hanya 2 bulan – bukannya 6 bulan seperti di masa lalu. Tepatnya berapa, tidak ada yang bisa tahu secara pasti – hanya berdasarkan pergerakan harga setahun terakhir – nilai terendah ke depan kemungkinan besarnya tidak sampai menyentuh garis hijau pada grafik di atas. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

G-20 & Gold: Yang Tersurat & Yang Tersirat


Pertemuan para pemimpin dunia kelompok G-20 baru berlangsung akhir pekan lalu 26-27 Juni 2010 di Toronto, Canada. Di permukaan, pertemuan reguler dari para pemimpin dunia tersebut mengusung tema yang keren Recovery and New Beginnings. Itu setidaknya yang tersurat, lantas apa yang tersirat dari pertemuan tersebut?

Namanya juga tersirat – tidak tertulis hitam di atas putih – maka sifatnya multi tafsir. Bagi saya sendiri melihat temanya yang Recovery and New Beginnings ini menyiratkan bahwa sejak krisis berlangsung 2 tahun lalu, berbagai pertemuan dalam berbagai tingkat belum berhasil membuat ekonomi dunia recover dan memulai hal yang baru – makanya baru berniat recover dan memulai yang baru sekarang.

Bila belajar dari pertemuan sebelumnya dengan tema Stability, Growth & Job; yang ternyata tidak memberi hasil yang diharapkan, karena tidak lama setelah pertemuan ini, justru guncangan demi guncangan malah menyusul seperti krisis di Dubai, Yunani, Portugal, Irlandia, Italy, Spanyol, dlsb – maka akankah dunia berharap hasil konkrit dari pertemuan–pertemuan semacam ini?

Nampaknya para pelaku usaha secara global lebih banyak yang tidak berharap pada pertemuan semacam ini. Dari kacamata harga emas hal ini nampak jelas bisa dilihat. Bila pertemuan G-20 sebelumnya (April 2009) diadakan pada saat harga emas berada pada angka rata-rata sekitar US$ 890/oz; pada saat G-20 kali ini diadakan, harga emas sudah berada di kisaran US$ 1,255 /oz atau naik lebih dari 40%!!

Harga Emas Dunia: Dari Pertemuan G-20 ke Pertemuan Berikutnya

Harga Emas Dunia: Dari Pertemuan G-20 ke Pertemuan Berikutnya

Artinya ketika para pemimpin dunia menjanjikan Stability, Growth and Job; tidak demikian yang dirasakan pasar. Pasar masih terus cemas dengan realita stabilitas ekonomi yang tidak kunjung datang. Kecemasan ini membuat mereka mencari tempat untuk melabuhkan dananya secara aman (safe haven), yaitu antara lain ke emas.

Ketika supply emas relatif tetap (hanya tumbuh sekitar 1.5% per tahun), sementara permintaan meningkat – maka mekanisme supply and demand yang mendorong harga emas di pasaran dunia meningkat lebih dari 40% sejak pertemuan G-20 tahun lalu ke pertemuan G-20 tahun ini.

Lebih-lebih kini yang cemas bukan hanya investor perorangan, tetapi juga investor institusional dan bahkan Bank Sentral dunia mulai diam-diam juga membeli emas di pasar.

Jadi sebenarnya para pemimpin negara-negara di dunia apalagi kelompok G-20 ini, mereka bisa mengendalikan harga emas dengan baik secara elegan bila mereka mau, yaitu dengan cara menstabilkan ekonomi di negaranya masing-masing. Bila ini tercapai, pelaku ekonomi dan masyarakat luas akan merasa nyaman berusaha dan tidak merasa perlu memperbanyak dananya yang disimpan di safe havenemas.

Sebaliknya bila mereka tidak berhasil mengendalikan ekonominya, pelaku usaha, masyarakat luas dan bahkan bank sentral mereka sendiri akan cemas dan terus berusaha maksimal mengamankan hartanya di safe haven emas. Perilaku massal inilah yang mendongkrak harga emas dunia sampai tumbuh diatas 40% sejak pertemuan G-20 sebelumnya.

Apakah sampai pertemuan G-20 berikutnya tahun depan harga emas dunia akan terus tumbuh sampai di atas 40% mengikuti periode yang lewat? Sangat tergantung seberapa jauh para pemimpin tersebut bisa meyakinkan pelaku pasar dan masyarakat luas bahwa Recovery and New Beginning’ yang mereka janjikan kali ini benar-benar terjadi. Bila mereka berhasil harga emas bisa turun, bila sebaliknya maka kenaikanlah yang akan terjadi. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Harga Emas Dunia Di Rekor Tertinggi, So What…?


Sudah beberapa pekan ini harga emas dunia berada di atas rekor-nya akhir tahun lalu di angka US$ 1,226/Oz; bahkan dalam perdagangan Jum’at lalu sempat diperdagangkan di atas US$ 1,260/Oz. Sampai pagi ini-pun ketika pasar Sidney mulai buka  harga emas masih berada di sekitar angka rekor tertinggi tersebut.

Tidak ada yang mengejutkan dengan pencapaian rekor ini karena beberapa jam sebelum pasar London dibuka dan kemudian juga pasar New York Jum’at lalu, di situs ini juga sudah kita sajikan prediksi para pakar per-emasan dunia yang memang keseluruhannya memprediksi naik. Perbedannya hanya pada sampai berapa kenaikan ini terjadi, kapan terjadinya dan apa alasannya.

Ada hal yang tersirat dari pendapat para pakar tersebut tentang kenaikan harga emas yang mereka prediksi. Di masa-masa yang lalu ketika emas tinggi, biasanya dibarengi dengan US$ yang lemah. Contohnya lihat di grafik pada area yang saya beri shadow merah, lihat misalnya pada saat rekor tertinggi Maret 2008 ketika harga emas mencapai angka US$ 968/Oz – saat itu US$ Index mencapai angka terendahnya di bawah 72.

Gold vs US$ Index

Gold vs US$ Index

Sebaliknya lihat di area yang saya beri shadow kuning, harga emas tertinggi kali ini tidak terjadi pada saat US$ Index berada di angka terendah. US$ Index malah sebenarnya pada angka yang cukup tinggi yaitu diatas angka 85. Apa maknanya ini sebenarnya?

Walaupun US$ lagi masih perkasa dibandingkan dengan berbagai mata uang lainnya di dunia, dibandingkan emas daya belinya mencapai titik terendah. Artinya keperkasaan mata uang kertas ini (tidak hanya US$ tetapi juga seluruh mata uang kertas lainnya) adalah SEMU. Itulah sebabnya mengapa para ahli emas yang saya kutip pendapatnya tersebut, tidak ada satupun  yang menggunakan faktor penguatan US$ akan mampu mengerem laju kenaikan harga emas dunia.

Bagaimana dengan Rupiah? Sampai saat ini Rupiah masih jauh lebih perkasa ketimbang US$ sekalipun. Bila harga emas dalam US$ per pagi ini (21/06) mengalami kenaikan sampai 34.8 % selama setahun terakhir, harga emas dalam Rupiah hanya mengalami kenaikan sebesar 16.81%! Karena keperkasaannya inilah maka harga emas dalam Rupiah belum memecahkan rekor tertingginya Februari tahun lalu di atas Rp 374,000/gram.

Mampukah Rupiah akan terus bertahan sebegitu perkasanya mengalahkan US$? Inilah masalahnya yang perlu diantisipasi. Pejabat Gubernur Bank Indonesia sendiri telah mengungkapkan kemungkinan melemahnya Rupiah tahun depan yang tinggal kurang lebih 6 bulan lagi.

Jadi mungkin kita tidak bisa berlama-lama menikmati keperkasaan Rupiah ini. Selagi dia perkasa – ini adalah waktu yang baik untuk meng-konversi-kan uang Anda menjadi aset yang lebih tahan terhadap penurunan daya beli mata uang, seperti investasi sektor riil, menukarnya menjadi Dinar, dlsb. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes