Tag Archive | "Hadits Qudsi"

Pisang: Tanaman Surga Untuk Memakmurkan Negeri


Pasti bukan suatu kebetulan kalau Allah mengabarkan ke kita bahwa para penghuni surga dari golongan kanan ? yaitu golongan yang dimuliakan oleh Allah, kelak akan menikmati pahalanya ?…berada di antara  pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…?(QS. Al-Waqi?ah [56]:  28-30). Allah rupanya menginginkan kita menikmati sebagian kecil dari kenikmatan surgawi tersebut selagi kita masih di dunia ? dengan mudahnya Tanaman Pisang ini tumbuh di bumi pertiwi.

Istimewanya benda-benda di surga adalah semuanya baik-baik dan tidak ada yang buruk. Jadi kalau ada tetesan kecil dari benda yang ada di surga ? yaitu Pohon Pisang tersebut ? di sekitar kita, pastilah manfaatnya sangat besar untuk kemakmuran kita di dunia ini. Bahwasanya selama ini kita belum menyadarinya, bisa jadi ini karena 3 hal:

  1. Karena keimanan kita belum cukup kuat untuk meyakini bahwa surga itu ada dan apa-apa yang dikabarkan oleh Allah tentang surga tersebut adalah benar.
  2. Karena kita kurang mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkannya ke negeri ini ? dari setetes kenikmatan surga yang ada.
  3. Karena ilmu kita yang belum sampai untuk memahami nikmat berupa manfaat yang begitu besar dari pohon surga yang dengan izinNya ? sangat mudah tumbuh di negeri ini.

Pada tulisan ini saya akan fokus ke masalah ke-3, yaitu memahami manfaat yang begitu besar dari pisang ini untuk memakmurkan negeri. Kita tahu bahwa salah satu indikator kemakmuran suatu bangsa adalah Pendapatan Domestik Bruto atau PDB-nya. Di dalam tulisan saya sebelumnya saya jelaskan bahwa unsur yang membentuk PDB adalah Konsumsi, Investasi, Belanja Pemerintah, Ekspor dan Impor4 unsur pertama positif, dan 1 unsur terakhir negatif.

Artinya bila kita banyak konsumsi (tentu banyak karena kita ada 235 juta penduduk!), tetapi kita tidak kunjung makmur (tidak kunjung tinggi PDB-nya) ini adalah karena ada porsi yang amat besar dari konsumsi tersebut yang harus diimpor. Untuk kebutuhan bahan pangan berupa gandum misalnya, tahun lalu negeri ini perlu mengimpor sampai 4.66 juta ton senilai kurang lebih Rp 22.5 trilyun! Untuk kebutuhan pakaian kita yang berasal dari kapas, 99.5 %-nya masih harus diimpor!

Lantas apa kaitannya tanaman pisang dengan kemakmuran tersebut? Rupanya disinilah rahasianya. Tanaman dari surga yang tidak menyisakan sedikit-pun barang yang tidak berguna ini, sesungguhnya bisa memenuhi 3 kategori kebutuhan pokok kita sekaligus yaitu sandang, pangan dan papan.

Serat batang pisang yang diolah dengan baik, dapat menjadi serat untuk bahan tekstil yang kwalitasnya bahkan lebih baik dari kapas ? dia mendekati sutera. Bila kita paksakan tanam kapas – produksi kita hanya dapat memenuhi 0.5% dari kebutuhan kapas kita ? lantas mengapa tidak kita beralih ke Gedebog Pisang sebagai sumber serat tekstil kita? Pisang tumbuh dimana saja di seantero negeri, dan setiap satu batang pisang mengandung serat yang sangat banyak ? insya Allah kebutuhan serat untuk pakaian ini akan dapat digantikan oleh Serat Gedebog Pisang. Bila ini dapat kita lakukan, maka kita dapat memutus kebutuhan impor kita akan kapas.

Bila kita belum bisa mengolah Serat Pisang secara halus untuk bahan tekstil, pengolahan Gedebog Pisang secara sederhana sudah akan dapat menghasilkan bahan bangunan yang perkasa dengan teknologi composites yang kita punya. Ini dapat mendorong Konsumsi, Investasi dan bahkan Ekspor yang semuanya berdampak positif pada PDB yang berarti juga kemakmuran.

Republik PISANG = Negeri yang Makmur

Republik PISANG = Negeri yang Makmur

Buah Pisang yang selama ini hanya dikonsumsi sebagai buah, dan cenderung dihargai murah pada saat panen pisang di sentra-sentra produksinya ? sesungguhnya dapat diolah menjadi Tepung Pisang yang bergizi tinggi dan rasa dasar yang enak. Tepung Pisang ini dapat menjadi substitusi Tepung Terigu/Gandum yang selama ini sepenuhnya kita impor. Bila sedikit demi sedikit impor Tepung Gandum tersebut dikurangi dan menggantinya dengan Tepung Pisang ? maka disitulah proses kemakmuran itu akan dimulai.

Karakter Pisang yang bisa tumbuh dimana saja, juga akan merupakan alat untuk menyebar luaskan kemakmuran ke sejumlah besar petani.

Walhasil dengan membudidayakan Pohon Pisang secara luas dan memanfaatkan gedebog maupun buahnya untuk menutupi kebutuhan sandang, pangan dan papan dari 235 juta penduduk negeri ini ? pasti ini adalah proyek RAKSASA yang akan mampu mengdongkrak PDB (kemakmuran negeri ini) dari peningkatan Konsumsi, Investasi, Belanja Pemerintah dan Bahkan Ekspor. Pada saat yang bersamaan  impor akan menurun karena kebutuhan impor terigu dan kapas dapat ditekan seminimal mungkin.

Realistiskah proyek Pisangisasi ini? Tergantung iman dan ilmu kita untuk menjawabnya. Bila iman kita kuat dan yakin betul bahwa Allah telah melimpahkan nikmatnya ke kita, maka itulah yang diberikan Allah. Dalam sebuah hadits Qudsy dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi SAW bersabda : ?Allah Ta?ala berfirman: ?Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok, Aku mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil?. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Dari sisi keilmuan sebagian kita kuasai, sedangkan sebagian lain mungkin memang kita masih harus banyak belajar. Mengolah pisang menjadi Tepung Pisang misalnya, saya rasa sarjana-sarjana teknologi pangan di negeri ini yang jumlahnya sudah puluhan ribu insya Allah sudah dengan mudah dapat mengolahnya.

Mengolah Gedebog menjadi bahan bangunan yang kokoh, insya Allah kami di kelompok Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) dalam waktu dekat juga sudah akan menguasai teknologinya.

Mengolah gedebog menjadi bahan tekstil kwalitas tinggi, ini kita yang masih perlu banyak belajar. Di India sebagai produsen Pisang terbesar di dunia, hal ini sudah dilakukan orang ? bahkan kami juga sudah berhasil menemukan ahlinya disana, hanya karena dilindungi oleh Intelectual Property Right ? kami masih kesulitan untuk belajar ilmunya.

Namun ilmu-ilmu ini semua saya yakin tidak ada yang terlalu sulit untuk dikuasai, oleh karenanya melalui tulisan ini saya mengundang para peneliti maupun mahasiswa S1, S2 atau S3 yang tertarik untuk mendalami serat tekstil berkwalitas tinggi dari Gedebog Pisang ini untuk bergabung dengan team kami ? PWDM insya Allah bersedia menjadi sponsor penelitian Anda.

Melalui tulisan ini pula saya ingin mengajak kita semua untuk rame-rame menanam tanaman dari surga ini di tanah-tanah kita yang selama ini belum diproduktifkan, bersamaan dengan tumbuhnya Pohon Pisang tersebut ? kita cari teknologinya bersama-sama untuk mengolah hasilnya baik Gedebog maupun Buah Pisangnya.

Sungguh akan menjadi ironi besar bila sampai beberapa tahun ke depan bangsa ini masih tetap miskin, sedangkan tanaman dari surga-pun dapat leluasa tumbuh di sekitar kita. Semoga Allah menunjuki jalanNya yang terang benderang ke kita semua. Amin.

Posted in Islamic ViewComments (0)

Memperpanjang Usia (Usaha) Dengan Nilai-Nilai


Di dunia usaha ada ratusan perusahaan yang umurnya ratusan tahun, bahkan di Jepang ada perusahaan yang  lahir tahun 578 atau hanya 8 tahun setelah kelahiran Nabi kita Muhammad SAW sebelum akhirnya tutup 3 tahun lalu 2006 ? pada usia 1428 tahun! Perusahaan tersebut adalah  Kongo Gumi yang menekuni bidang konstruksi.  Saat ditutup Kongo Gumi dijalankan oleh Masakazu Kongo, yaitu generasi ke 40 dari pendirinya. Contoh-contoh lain banyak, diantaranya adalah perusahaan gelas di Italia Barovier & Toso yang berumur 710 tahun dan di  Jerman ada Hotel Pilgrim Haus yang berumur 702 tahun.

Ada pelajaran sangat berharga dari perusahaan-perusahaan yang umurnya ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun tersebut, yaitu nilai-nilai yang di pegang oleh orang-orang yang menjalankannya.  Jadi bukan capital, bukan teknologi, bukan bentuk perusahaan (koperasi, PT, BUMN, dlsb) dan bukan kepandaian seseorang yang membuat suatu perusahaan langgeng ? tetapi adalah nilai-nilai yang dipegang bersama.  Perusahaan-perusahaan yang usianya sangat-sangat panjang tersebut justru kebanyakan perusahaan keluarga yang memegang teguh nilai yang dibangun oleh pendirinya, kemudian diturunkan ke anak-anak, cucu-cucu, sampai cicit-cicitnya (saya tidak tahu istilah untuk menyebut cucu dari keturunan yang ke 40 seperti  pada Kongo Gumi di atas!).

Nah bagaimana kita membangun usaha kita? Adakah nilai-nilai yang kita yakini dan pegang bersama? Jawabannya sebenarnya pada umumnya ada, dan ini pada sering dituangkan di situs perusahaan- laporan tahunan dan lain sebagainya. Masalahnya adalah mungkin perumusan nilai-nilai tersebut tidak terlalu dijiwai oleh para pelaku usaha itu sendiri, sehingga jangankan diturunkan ? diamalkan oleh generasi pertama-pun tidak.

Kita sebagai umat Rasulullah SAW, sungguh beruntung kita memiliki uswatun hasanah ? contoh yang sempurna untuk segala sendi kehidupan kita. Untuk berusaha/bekerja mencari penghidupan-pun, kita memiliki pedoman yang sangat baik. Salah satu contohnya adalah hadits di bawah ini (sayangnya saya tidak ketemu buku/kitab dimana saya menemukan hadits ini dulu, sehingga kalau toh ada kekeliruan dalam mengutibnya ? saya mohon ampun hanya kepadaNya ? dan saya hanya mengambil nilai-nilai yang terkandung di dalamnya).

Dalam sebuah Hadits diceritakan perintah Allah kepada Malaikat Mikail yaitu malaikat yang tugasnya mendistribusikan rizki. Terjemahan bebas dari perintah tersebut adalah sebagai berikut: ?Kamu (Mikail) dalam melaksanakan tugas membagi rizki akan menemui 3 golongan manusia (maka perlakukanlah manusia tersebut sesuai golongannya). Golongan pertama adalah orang-orang yang hanya akhirat cita-citanya, maka kepada golongan ini jaminlah rizkinya di langit dan di bumi. Golongan kedua adalah orang-orang yang mencari rizki untuk hidupnya, untuk memberi nafkah anak istrinya , namun mereka melakukannya dengan penuh Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan, maka mudahkanlah dia dan beri dia yang baik-baik. Golongan ketiga adalah yang mencari di luar dari golongan pertama dan kedua (artinya tidak mencita-citakan akhirat, bahkan ketika mencari nafkah untuk diri dan anak istrinya kadang tidak jujur, kadang tidak hati-hati, kadang pula tidak adil), maka biarkanlah mereka (tidak dimudahkan/tidak ditolong, tidak pula diberi yang baik-baik) dan apabila mereka akhirnya (dengan susah payah) memperoleh apa yang mereka upayakan, itu tidak lebih daripada yang sudah Aku (Allah) tentukan?.

Belajar dari Hadits Qudsi tersebut, kita mungkin bukan termasuk golongan yang pertama.  Namun kita tentu juga tidak ingin menjadi golongan ketiga. Maka pantaslah kalau kita mentargetkan minimal harus masuk golongan yang kedua yaitu golongan orang-orang yang akan dimudahkan dan diberi yang baik-baik oleh Allah.  Namun syaratnya untuk mencapai golongan kedua ini kita harus berpegang teguh pada Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan. Ketiga hal ini Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan adalah nilai-nilai yang dibutuhkan dalam muamalah sepanjang zaman.

Karena nilai-nilai yang dibawakan oleh Islam ini valid sepanjang zaman, valid 1400 tahun lalu, valid sekarang dan valid hingga akhir zaman ? maka seharusnya institusi apapun yang dibangun di atas nilai-nilai tersebut ? tak terkecuali institusi usaha ? dapat tetap exist sepanjang zaman ? sejauh nilai-nilai ini tetap dipegang oleh para pelakunya. Mau rizki yang mudah, baik dan langgeng? Jujur, Hati-hati dan Adil kuncinya?!, Insya Allah.

Posted in Islamic ViewComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is online
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes