Tag Archive | "fatwa MUI"

Kita Butuh Tuas Pengungkit Untuk Perubahan Besar


Dahulu waktu SMP kita pernah belajar tentang cara kerja tuas (pengungkit), yaitu tongkat yang dapat dipakai untuk memindahkan beban berat. Semakin panjang lengan kuasa dari tongkat tersebut, akan semakin kecil gaya yang dibutuhkan untuk memindahkan beban yang ada. Atas prinsip kerja tuas atau pengungkit inilah maka mobil-mobil besar seperti truk dan bus, perlu dilengkapi dengan besi panjang untuk membuka ban-nya. Sementara hal yang sama tidak dibutuhkan untuk mobil yang kecil, sedan, jip, dlsb.

Lantas apa hubungannya, pelajaran SMP tentang tuas atau pengungkit tersebut dengan problem yang kita hadapi sehari-hari? Hubungannya terletak pada kesamaan dalam 2 hal:

  1. Posisi dimana kita berdiri yang mempengaruhi berapa banyak gaya (usaha) yang dibutuhkan untuk mengatasi problema yang ada;
  2. Diperlukannya alat yang bernama tuas atau pengungkit tersebut.
Cara Kerja Tuas (ilustrasi)

Cara Kerja Tuas (ilustrasi)

Untuk masalah pertama adalah posisi dimana kita berpijak. Terkadang masalah itu menjadi sangat besar dan kita sulit melihat jalan keluarnya karena kita berada terlalu dekat (titik O) atau bahkan di dalam pusat pusaran dari masalah tersebut (titik A).

Ambil contoh misalnya Anda bekerja dalam suatu perusahaan yang kerjanya membangun project. Untuk pendanaan project-project tersebut perusahaan Anda harus menggunakan uang bank konvensional yang tentu saja membebankan Anda bunga ? yang menurut fatwa MUI adalah Riba.

Kemudian untuk memenangkan tender-tender project Anda, perusahaan  Anda-pun harus sering suap-sana suap-sini, kong-kalikong mengatur siapa yang menang tender dan siapa yang tidak, dlsb.

Baik riba, maupun suap atau riswah dan sejenisnya adalah hal yang sangat terlarang dalam Islam ? namun karena Anda berada dalam perusahaan yang ?merasa? harus hidup dengan cara ini, maka upaya untuk keluar dari 2 masalah besar ini menjadi terlalu berat.

Lantas apa solusinya? Merubah posisi (repositioning) dimana kita berpijak, jangan lagi berada di pusat pusaran masalah. Kalau masalah tersebut dalam contoh adalah riba dan riswah, maka menjauhlah dari keduanya dahulu. Takut ?sulit? hidup di tempat berpijak yang baru? Temukan ?tuas? Anda ? maka Insya Allah perubahan besar akan dapat Anda lakukan.

?Tuas? Anda bisa berupa hal-hal berikut misalnya ;

  • Keahlian yang unique, yang dengan itu Anda dapat menemukan niche market tersendiri.
  • Jaringan persahabatan dengan orang-orang yang berprestasi, visioner sehingga Anda ikut ?terlempar? ke atas.
  • Bila Anda berwiraswasta, menemukan karyawan-karyawan yang jujur dan tulus ikut membangun usaha Anda ? bukannya menggerogoti dari dalam.
  • Pasangan hidup (suami/istri) yang secara proaktif menjadi mitra diskusi Anda yang produktif, bukan pasangan hidup yang membuat Anda stress atau ayub-ayuben.
  • Mitra kerja/usaha  yang bisa mengisi kekurangan Anda.
  • Momentum perubahan lingkungan (teknologi, sosial, politik, dlsb) yang dapat Anda manfaatkan.
  • Dlsb.

Namun perlu diingat bahwa tuas tersebut hanya bermanfaat bila Anda berpijak di tempat yang benar. Dalam ilustrasi di atas, Anda harus berada di titik B, bukannya O apalagi A. Tuas menjadi tidak berguna ketika Anda berada di titik O atau A. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak orang hebat, dengan ilmu yang hebat ? dan juga pasangan hidup yang hebat, tetapi tidak berhasil membuat karya yang hebat ? karena mereka berada di tempat berpijak yang salah.

Untuk bumi tempat berpijak ini, Islam mempunyai syariat berhijrah yang Indah. Bahkan kita tidak bisa excuse bahwa kita terpaksa harus melakukan ini dan itu yang dilarang agama (riba dan riswah misalnya) hanya karena kita hidup di dalam negeri dimana hal-hal yang terlarang tersebut masih menjadi budaya.

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? …” (QS. An-Nisaa’ (4): 97)

Ayo kita ?berhijrah? dan menemukan ?tuas? kita masing-masing; maka insya Allah problem besar umat ini bisa diatasi… Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Entrepreneurship: Beranikah Anda Membakar Kapal Anda?


Dalam sejarah Islam ada panglima perang yang memiliki strategi luar biasa, benar-benar luar biasa karena tidak pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Panglima perang tersebut adalah Thariq bin Ziyad yang pada tahun 97 H (sekitar tahun 711 Masehi) memimpin 7,000 pasukan Islam memasuki Spanyol yang dijaga oleh 25,000 pasukan pimpinan Raja Roderick.

Untuk menyemangati pasukannya agar tidak gentar melawan musuh yang memiliki kekuatan jauh lebih besar, dan agar tidak ada satupun dari pasukaannya yang berpikir untuk ambil langkah mundur  - apa yang di lakukan Thariq? Dia membakar seluruh kapal-kapal yang dipakai pasukannya untuk mencapai pantai tenggara spanyol. Ketika pasukannya bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan sang panglima ini, Thariq menjawabnya dengan pidato yang terkenal sbb:

?Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.?

Tekad yang sangat kuat untuk hidup mulia atau mati syahid ?Isy Kariman au Mut Syahidan? inilah yang dapat membawa kejayaan Islam dari waktu ke waktu.

Kita tahu akhirnya dalam sejarah bahwa diawali oleh tekad yang sangat kuat dan kebergantungan kepada Allah semata tersebut, Islam menjangkau wilayah yang paling luas beberapa puluh tahun kemudian setelah strategi ini ditempuh Thariq dan pasukan-pasukannya.

Ketika cerita tentang Thariq ini diajarkan secara turun temurun baik di dunia Islam maupun di luar Islam, maka sekitar 800 tahun kemudian, kurang lebih 10 generasi setelah Islam masuk Spanyol ? anak keturunan bangsa Spanyol yang bernama Hernando Cortez – pun meniru bulat-bulat strategi Thariq tersebut di atas ketika ia memimpin ekspedisi penaklukan ke Mexico.

Hernando Cortez (1485 - 1547)

Hernando Cortez (1485 - 1547)

Hernando Cortez yang memimpin expedisi penaklukan bangsa Aztecs untuk merebut emas dan harta-harta lainnya ini membakar keseluruhan 11 kapal yang digunakan untuk membawa pasukannya mencapai daratan Mexico. Dengan demikian tidak ada pikiran untuk mundur, jalan hanya satu arah yaitu maju kedepan.

Kita tahu hasil dari kebulatan tekat Hernando Cortez ini, sampai sekarang bahasa resmi yang dipakai di Mexico adalah bahasa Spanyol. Ini menunjukkan betapa berhasilnya Hernando Cortez meniru strategi Thariq bin Ziyad dalam upayanya untuk menaklukkan Mexico yang menjadi jajahan Spanyol sampai beratus tahun kemudian.

Kalau seorang Hernando Cortez saja bisa belajar dan menikmati ke-sukses-an dari meniru strategi Panglima Perang Islam Thariq bin Ziyad, masa kita umat Islam di masa kini tidak bisa mencapai kesuksesan dengan belajar dari keberhasilan tokoh pejuang sekaliber Thariq ini?

Kalau medan kita bukan/belum medan perang saat ini, minimal strategi Thariq dengan membakar kapal ini bisa kita terapkan di tekad kita untuk membangun usaha, untuk meninggalkan tempat kerja yang kita ragukan ?kebersihan?-nya misalnya.

Dari pengalaman saya berinteraksi dengan sekian banyak peserta Pesantren Wirausaha dan juga peserta yang ikut pelatihan CIED (Center for Islamic Entrepreneurship Development), penghalang terbesar dari setiap peserta yang ingin menjadi entrepreneur adalah keberaniannya untuk benar-benar terjun ke usaha ? serta benar-benar meninggalkan pekerjaan sebelumnya.

Pengalaman saya sendiri-pun menunjukkan demikian; tidak kurang dari 6 kali usaha berwiraswasta yang saya lakukan di luar jam kantor – ketika saya masih aktif sebagai eksekutif ; tidak satupun yang berhasil. Yang ke-7, ke-8 dan seterusnya insya Allah berhasil karena kapal saya benar-benar saya bakar.

Untuk mencapai karir puncak di Industri Asuransi & Investasi di usia muda, tidak tanggung-tanggung saya peroleh gelar profesi yang paling tinggi di New Zealand, Australia dan Inggris. Sangat sedikit professional asuransi & investasi Indonesia yang mencapai pengakuan semacam ini. Namun sejak lahirnya fatwa MUI bahwa bunga bank haram awal 2004 (Fatwa No 1 Tahun 2004 Tentang Bunga), tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan mengenai keharaman bunga bank dan produk-produk yang terkait dengannya di dunia finansial.

Maka alhamdulillah kapal yang namanya gelar professional dan puncak karir di industri finansial tersebut telah habis saya bakar 2 tahun lalu. Sejak saat itu, mirip yang dilakukan oleh Thariq dan juga Cortez, medan ?pertempuran? saya menjadi medan ?pertempuran? yang sama sekali baru. Tidak mudah, tetapi juga tidak mustahil ? hanya pertolongan Allah-lah yang menjadikan yang sukar itu mudah.

Jadi bagi Anda yang ingin pindah quadrant dari pegawai/eksekutif ke pengusaha, bila Anda berani membakar kapal Anda, Insya Allah Andapun juga akan berhasil!!! Wa Allahu A?lam.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes