Tag Archive | "entrepreneur"

Survival Strategy: Pelajaran Dari Dunia Intelligence


Orang sudah lama mencontoh teknik-teknik dari dunia militer untuk diterapkan di dunia usaha karena banyaknya kemiripan antara 2 medan ini – medan perang dengan medan persaingan usaha. Salah satu yang terkenal adalah The Art of War -nya  Sun Tzu – seorang Jendral Perang China yang diyakini sebagai ahli strategi pada zamannya.

Yang dekat dengan strategi perang adalah strategi intelligence yang juga berkembang sangat matang – melebihi strategi bisnis pada umumnya. Oleh karenanya belakangan mulai banyak strategi bisnis yang diambil/dikembangkan dari dunia intelligence. Saya ambil contoh untuk tulisan ini Survival Strategy yang sangat dibutuhkan oleh para pemula di bidang usaha.

Peluang berhasilnya para pemula bervariasi tergantung dengan bidang yang dipilihnya. Pada bidang yang relatif tidak ada entry barrier – seperti business dot com yang marak lahir 2 dasawarsa terakhir, orang dengan mudah masuk ke dunia dot com ini tetapi success ratenya sangat rendah – kurang dari 2%.

Sebaliknya di business yang entry barrier-nya tinggi – bisa modal, teknologi, pasar, dlsb – pemain baru tidak banyak tetapi success rate bagi mereka yang berhasil mengatasi barrier tersebut menjadi sangat tinggi. Misalnya Anda buka restoran franchise dari merek terkenal, Anda punya modal besar untuk menyewa tempat terbaik di Mall yang baru dibuka di lokasi strategis – maka meskipun Anda baru di bidang ini, success rate Anda bisa di atas 50%.

Kebanyakan kita masuk dunia usaha seperti pada contoh yang pertama; modal terbatas, competitive edge di bidang teknologi, pasar, dlsb juga biasa – biasa saja. Jadi kita masuk golongan yang success rate-nya rendah tersebut di atas.

Karena mayoritas kegagalan usaha baru ini terjadi di awal-awal usaha 1-2 tahun pertama, maka kalau kita bisa melampaui 2 tahun  pertama di bidang usaha yang baru kita tekuni tersebut, kemungkinan besar kita akan mengakumulasi pengetahuan dan ketrampilan cukup untuk setidaknya mampu bertahan di bidang ini dalam jangka pendek, dan memiliki kemungkinan success untuk jangka panjang.

Nah dalam hal membangun kemampuan untuk bertahan di bisnis (survive) pada usia awal inilah kita bisa belajar dari salah satu Survival Strategy-nya dunia intelligence yang disebut IMAO atau singkatan dari Improvise, Modify, Adapt dan Overcome.

Survival StrategyStrategi ini diajarkan kepada para calon agen intelligence sebelum mereka diterjunkan di lapangan atau daerah lawan.  Sebagus apapun mereka digembleng dengan berbagai pengetahuan dan latihan fisik di camp, dunia di luar sana bisa sangat berbeda dengan medan teori dan latihan. Oleh karenanya untuk mampu survive di medan yang bisa jadi sama sekali berbeda ini, mereka harus mampu ber-improvisasi, memodifikasi situasi, beradaptasi dengan kondisi dan mengatasi (overcome) seluruh permasalahan yang muncul.

Sebagai entrepreneur pemula Anda perlu ber-Improvise manakala medan usaha yang Anda jumpai tidak seperti yang Anda bayangkan sebelumnya. Improvisasi ini meliputi pengkajian berbagai kemungkinan dari usaha Anda dilihat dari perspektif yang berbeda.

Bila ternyata di lapangan sumber daya (resources) yang Anda miliki tidak sepenuhnya cocok (match) dengan medan yang Anda hadapi, maka Anda-pun harus siap me-modify sumber daya tersebut sehingga bisa optimal menopang usaha Anda.

Ketika Anda sudah ber-improvisasi dan memodifikasi resources secara maksimal, namun lapangan tetap tidak mudah ditaklukkan, tetap tidak bersahabat dengan usaha baru Anda, maka waktunya Anda untuk ber-adaptasi (adapt) dengan lingkungan usaha yang berbeda tersebut.

Setelah inipun masalah-demi masalah baru tetap akan bermunculan; maka Anda juga harus mampu meng-overcome (mengatasi) setiap masalah yang muncul tersebut pada waktunya – be ready.

Meskipun strategi semacam ini tidak berasal dari dunia Islam, namun mengandung banyak kebaikan untuk meningkatkan kemampuan kita bertahan – maka insya Allah baik pula kita terapkan.

Kalimat hikmah (perkataan yang baik/bijaksana) adalah senjatanya orang mukmin, dimanapun ia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya.” (HR. at-Tirmidzi/Ibnu Majah)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Entrepreneurship: Beranikah Anda Membakar Kapal Anda?


Dalam sejarah Islam ada panglima perang yang memiliki strategi luar biasa, benar-benar luar biasa karena tidak pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Panglima perang tersebut adalah Thariq bin Ziyad yang pada tahun 97 H (sekitar tahun 711 Masehi) memimpin 7,000 pasukan Islam memasuki Spanyol yang dijaga oleh 25,000 pasukan pimpinan Raja Roderick.

Untuk menyemangati pasukannya agar tidak gentar melawan musuh yang memiliki kekuatan jauh lebih besar, dan agar tidak ada satupun dari pasukaannya yang berpikir untuk ambil langkah mundur  - apa yang di lakukan Thariq? Dia membakar seluruh kapal-kapal yang dipakai pasukannya untuk mencapai pantai tenggara spanyol. Ketika pasukannya bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan sang panglima ini, Thariq menjawabnya dengan pidato yang terkenal sbb:

Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.

Tekad yang sangat kuat untuk hidup mulia atau mati syahid Isy Kariman au Mut Syahidan inilah yang dapat membawa kejayaan Islam dari waktu ke waktu.

Kita tahu akhirnya dalam sejarah bahwa diawali oleh tekad yang sangat kuat dan kebergantungan kepada Allah semata tersebut, Islam menjangkau wilayah yang paling luas beberapa puluh tahun kemudian setelah strategi ini ditempuh Thariq dan pasukan-pasukannya.

Ketika cerita tentang Thariq ini diajarkan secara turun temurun baik di dunia Islam maupun di luar Islam, maka sekitar 800 tahun kemudian, kurang lebih 10 generasi setelah Islam masuk Spanyol – anak keturunan bangsa Spanyol yang bernama Hernando Cortez – pun meniru bulat-bulat strategi Thariq tersebut di atas ketika ia memimpin ekspedisi penaklukan ke Mexico.

Hernando Cortez (1485 - 1547)

Hernando Cortez (1485 - 1547)

Hernando Cortez yang memimpin expedisi penaklukan bangsa Aztecs untuk merebut emas dan harta-harta lainnya ini membakar keseluruhan 11 kapal yang digunakan untuk membawa pasukannya mencapai daratan Mexico. Dengan demikian tidak ada pikiran untuk mundur, jalan hanya satu arah yaitu maju kedepan.

Kita tahu hasil dari kebulatan tekat Hernando Cortez ini, sampai sekarang bahasa resmi yang dipakai di Mexico adalah bahasa Spanyol. Ini menunjukkan betapa berhasilnya Hernando Cortez meniru strategi Thariq bin Ziyad dalam upayanya untuk menaklukkan Mexico yang menjadi jajahan Spanyol sampai beratus tahun kemudian.

Kalau seorang Hernando Cortez saja bisa belajar dan menikmati ke-sukses-an dari meniru strategi Panglima Perang Islam Thariq bin Ziyad, masa kita umat Islam di masa kini tidak bisa mencapai kesuksesan dengan belajar dari keberhasilan tokoh pejuang sekaliber Thariq ini?

Kalau medan kita bukan/belum medan perang saat ini, minimal strategi Thariq dengan membakar kapal ini bisa kita terapkan di tekad kita untuk membangun usaha, untuk meninggalkan tempat kerja yang kita ragukan ‘kebersihan’-nya misalnya.

Dari pengalaman saya berinteraksi dengan sekian banyak peserta Pesantren Wirausaha dan juga peserta yang ikut pelatihan CIED (Center for Islamic Entrepreneurship Development), penghalang terbesar dari setiap peserta yang ingin menjadi entrepreneur adalah keberaniannya untuk benar-benar terjun ke usaha – serta benar-benar meninggalkan pekerjaan sebelumnya.

Pengalaman saya sendiri-pun menunjukkan demikian; tidak kurang dari 6 kali usaha berwiraswasta yang saya lakukan di luar jam kantor – ketika saya masih aktif sebagai eksekutif ; tidak satupun yang berhasil. Yang ke-7, ke-8 dan seterusnya insya Allah berhasil karena kapal saya benar-benar saya bakar.

Untuk mencapai karir puncak di Industri Asuransi & Investasi di usia muda, tidak tanggung-tanggung saya peroleh gelar profesi yang paling tinggi di New Zealand, Australia dan Inggris. Sangat sedikit professional asuransi & investasi Indonesia yang mencapai pengakuan semacam ini. Namun sejak lahirnya fatwa MUI bahwa bunga bank haram awal 2004 (Fatwa No 1 Tahun 2004 Tentang Bunga), tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan mengenai keharaman bunga bank dan produk-produk yang terkait dengannya di dunia finansial.

Maka alhamdulillah kapal yang namanya gelar professional dan puncak karir di industri finansial tersebut telah habis saya bakar 2 tahun lalu. Sejak saat itu, mirip yang dilakukan oleh Thariq dan juga Cortez, medan ‘pertempuran’ saya menjadi medan ‘pertempuran’ yang sama sekali baru. Tidak mudah, tetapi juga tidak mustahil – hanya pertolongan Allah-lah yang menjadikan yang sukar itu mudah.

Jadi bagi Anda yang ingin pindah quadrant dari pegawai/eksekutif ke pengusaha, bila Anda berani membakar kapal Anda, Insya Allah Andapun juga akan berhasil!!! Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Entrepreneurship 2.0: Peluang Wirausaha di Era Informasi


Tulisan kali ini saya ambilkan dari isi salah satu bab di buku Six Pixels of Separation karya Mitch Joel – President of Twist Image (Business Pluss, New York – 2009). Buku yang membahas bisnis berbasis teknologi informasi ini secara umum sangat menarik (lihat video “Interview with Mitch Joel”), tetapi yang satu bab tentang Entrepreneurship 2.0 mudah untuk dicerna dan diterapkan oleh siapapun – tanpa harus berlatar belakang IT.

Berbeda ternyata dengan anggapan masyarakat luas bahwa untuk bisa sukses berbisnis di era informasi ini haruslah sangat menguasai IT dan seluk beluknya. Mitch Joel sendiri juga orang yang gaptek – gagap teknologi; tetapi nampaknya dia sangat sukses dengan new media ini.

Begitu banyak tools yang bisa kita manfaatkan untuk mulai berbisnis dengan menggunakan teknologi ini – bahkan tanpa kita harus membayar satu sen-pun. Anda bisa mempromosikan produk Anda sepuasnya melalui blog misalnya, mengupdate ‘clientbase’ Anda di facebooktwitter dan berbagai media gratisan lainnya.

Karena saking banyaknya media yang bisa dipakai, kita malah justru sering bingung – menggunakan yang mana yang efektif untuk tujuan bisnis kita. Nah melalui Entrepreneurship 2.0 inilah Mitch Joel memformulasikan apa yang kita butuhkan dengan sederhana.

Intinya adalah apa yang dia sebut sebagai 5 C’s of Entrepreneurship 2.0 sebagai berikut:

1) Connectinghari gini kita tidak bisa lagi untuk tidak selalu connect dengan sumber informasi – internet, email dan sejenisnya. Begitu banyak opportunity kita hilang bila kita kehilangan connection ini.

2) Creating: setiap kita sebenarnya punya banyak kemampuan untuk meng-create sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Creation ini bisa berupa tulisan (seperti yang saya lakukan di web ini), ide, gambar, film, ataupun barang dan jasa yang kemungkinan akan dibutuhkan oleh orang lain.

3) Conversation: melalui media yang mayoritas gratisan ini – kita bisa mengkomunikasikan hasil kreasi kita di butir 2 dan memperoleh response/masukan yang juga gratis.

4) Community: dari kreasi kita yang secara kontinyu kita komunikasikan dengan audien kita tersebut – akan terbentuklah komunitas yang sudah tersaring dengan minat yang relatif sama.

5) Commercial: Setelah komunitas terbentuk, maka barulah  kita ataupun anggota komunitas kita dapat saling memberi manfaat dalam bentuk bisnis, sosial, keagamaan, dlsb.

Nah mari sekarang kita lihat aplikasi dari teori 5 C’s tersebut pada contoh kasus riil yang kita lakukan di Pesantren Wirausaha. Saya ambil contoh kasus ini karena ‘produk’ yang namanya Pesantren Wirausaha ini baru dan masih di titik yang sangat awal, namun hasilnya mulai kelihatan sehingga bisa diikuti siapapun secara gratis.

Pada akhir Agustus 2009 saya menulis tentang Berwirausaha Sebagai Wasilah Untuk Mendekatkan Diri Pada Allah inilah kreasi awal tersebut yaitu ide tentang Pesantren Wirausaha; karena banyaknya response dan pertanyaan – 2 hari kemudian di bulan yang sama saya per jelas dengan tulisan Pesantren Wirausaha: Training, Coaching & Mentoring…

Response yang terus berdatangan membuat kita bersemangat untuk benar-benar memulai program Pesantren Wirausaha ini, tidak sampai 2 bulan kemudian alhamdulillah Pesantren Wirausaha Angkatan I-pun kick off. Saat ini program Pesantren Wirausaha ini sudah diikuti oleh lebih dari 120 orang dan insya Allah akan terus bertambah.

Bisnis riil yang benar-benar kita mulai-pun lahir setelah komunitas ini terbentuk; peternakan kambing di Jonggol, Bogor adalah salah satunya.

Yang kita ingin contohkan disini adalah – di era informasi ini – betapa cepatnya kita bisa meng-create ide-ide, menyebar luaskannya, mengumpulkan response, dan mengimplementasikannya menjadi suatu ‘produk’. Dalam kasus ‘produk’ Pesantren Wirausaha – waktu yang dibutuhkan hanya 4 bulan – dari ide sampai produk benar-benar jalan.

Pendekatan yang sama bisa dilakukan juga untuk produk-produk barang dan jasa lainnya, mau coba…? Insya Allah Anda juga bisa!

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Mitch Joel Talks about the Six Pixels of Separation Book


Mitch Joel, President of Twist Image, provides insights and answers questions about his new book, “Six Pixels of Separation: Everyone is Connected. Connect your Business to Everyone.” Six Pixels of Separation teaches entrepreneurs and individuals how to have a global audience and consumer base in a world where we’re all connected. The book focuses on how technology and new media (almost all of it free) is empowering individuals to build personal brands that will rival the biggest of corporate brands, and how all business owners can now leverage the global community to connect, share and grow.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in VideoComments (0)

Gerak Cepat Pesantren Wirausaha: Yes, There Is A Free Lunch


Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) Mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (QS. Al-Insan (76): 5-10)

Alhamdulillah program Pesantren Wirausaha yang kami canangkan 3 bulan lalu, hari Sabtu (14/11) kemarin telah memasuki kick off angkatan ke-3 untuk kelompok eksekutif; meskipun program kick off ini berlangsung seharian – tidak nampak wajah lelah dari para peserta – bahkan beberapa diantara mereka tidak ingin segera pulang setelah program usai.

Berbeda dengan Angkatan 1 dan Angkatan 2 yang kami batasi jumlahnya sampai 15 orang per angkatan; Angkatan ke-3 ini diikuti oleh sekitar 40-an peserta. Karena jumlahnya yang besar, Angkatan ke-3 ini tidak lagi kami adakan di kantor kami, tapi diadakan di lokasi peternakan Lembu Ageng – Tapos. Lokasi kick off yang langsung di lapangan ini selain lebih leluasa dari sisi ruangan, tempat parkir,  dlsb; juga lebih mendekatkan peserta dengan environment usaha yang riil – lengkap dengan bau-bau sapinya… :) .

Selain kiat-kiat untuk mencapai sukses usaha, ada upaya penting yang selalu kita ajak kepada para peserta Pesantren Wirausaha di seluruh angkatan untuk belajar bersama kami yaitu bagaimana kita bisa berbisnis dengan bisnis model ke-3. Bisnis model ke-1 adalah apa yang disebut Profit Maximizing Business – bisnis yang hanya mengejar untung semata; Bisnis model ke-2 adalah yang disebut Social Business; Bisnis model ke-3 adalah bisnis yang mengejar Ridha Allah.

Pada business model ke-1, para pebisnis mengejar keuntungan/balasan dari manusia lain yang menjadi pelanggannya; Bisnis model ke-2 pebisnisnya mencari kepuasan pribadi dalam berbagai bentuknya (pengakuan masyarakat, nama, popularitas, dukungan politik, dlsb); Busines model ke-3 – para pebisnisnya sama sekali tidak mengharapkan apapun dari manusia lain – karena hanya Ridha Allah yang dikejar.

Pesantren Wirausaha Angkatan ke-3

Pesantren Wirausaha Angkatan ke-3

Bila di dalam business model ke-1 dan ke-2 ada istilah no free lunch – yang artinya setiap perbuatan (yang dikiaskan dengan memberi makan siang) seseorang pada orang lain – pasti ada pamrihnya; bagaimana dalam bisnis model ke-3 kita? Yes, there is a free lunch dalam arti harfiah maupun kiasan. Segala yang kita lakukan tidak mengharapkan balasan ataupun ucapan terima kasih kecuali hanya untuk mencari keridlaan Allah semata, yang kita lakukan dilandasi rasa takut kepada Allah – seperti dalam ayat tersebut di atas.

Dengan penjiwaan konsep model bisnis ke-3 ini, insya Allah para peserta akan rela bercapai-capai untuk mengejar suatu pengalaman kemudian dengan suka rela pula menyebarkannya ke anggota lain yang berhalangan, dan juga kemudian ke masyarakat luas. Dengan kerelaan untuk berbagi dan saling melengkapi, program-program usaha kita insya Allah bisa berjalan sangat cepat atas kemudahan dan bimbingan dariNya.

Foto di atas adalah contohnya, kandang kambing ini adalah ‘prakteknya’ angkatan ke-2 yang kick off 2 pekan lalu. Kini bukan hanya kandang yang sudah terisi kambing yang ada; di latar belakang nampak hamparan ladang yang sedang diolah untuk siap kita tanami rumput gajah. Insya Allah kambing-kambing yang kita pelihara di kandang ini, tercukupi pakannya dari rumput yang kita tanam sendiri di sekitar kandang nantinya.

Model business berbasis kambing karya peserta Pesantren Wirausaha angkatan ke-2 ini rupanya tidak hanya diminati angkatan ini, angkatan lain dan bahkan pembaca tulisan saya tanggal 10/11/09 tentang Kambingnomics juga ikut meminati program ini.

Hanya saja di awal-awal usaha ini, banyak risiko yang mesti siap kita hadapi – oleh karenanya para peminat investasi murni di bidang ini masih kita minta bersabar dahulu – sampai kita yakin betul bahwa investasi ini bisa sebaik hitungan di atas kertas atau paling tidak mendekatinya. Yang sudah kami libatkan dalam investasi ini saat ini baru para investor yang sekaligus entrepreneur – ya para peserta Pesantren Wirausaha itu tadi – karena mereka-mereka ini selain siap berinvestasi juga siap terjun ke lapangan dan menanggung risiko bersama kami.

Beberapa bulan kedepan, bila upaya ini telah memberikan tingkat hasil yang lebih riil dan risiko awal usaha sudah di-minimize insya Allah baru kita akan libatkan para investor murni (tidak harus terlibat dalam pengusahaannya). Salah satu mekanismenya misalnya melalui aqad Mudharabah Muqayyadah untuk investasi kambing di BMT Daarul Muttaqiin, dan berbagai mekanisme lain yang dimungkinkan untuk ini. Mudah-mudahan upaya ini terus mendapatkan kemudahan dan bimbinganNya. Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Wirausaha Sebagai Wasilah Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah


Hadits yang sangat popular selama bulan puasa ini adalah sabda Rasulullah SAW yang berbunyi :

“Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (Hadits Riwayat Ahmad 4/144,115,116, 5/192 Tirmidzi 804, Ibnu Majah 1746, Ibnu Hiban 895, dishahihkan oleh Tirmidzi)

Sayangnya kebanyakan kita memahami dan mengamalkan hadits ini secara tekstual semata, ‘memberi makan orang berbuka puasa’ tanpa berusaha memahami pesan mulia yang terkandung di dalamnya. Tentu saja sangat baik kita berame-rame memberi makanan berbuka puasa di masjid-masjid, di panti-panti dan di masyarakat sekitar kita. Namun ini saja tidak cukup, perintah ‘memberi makan’ ini berlaku sepanjang waktu baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.

Dalam tulisan saya terdahulu tentang Dialog Penghuni Surga Dengan Penghuni Neraka misalnya, di situ saya jelaskan salah satu penyebab seorang berada di neraka saqar adalah dahulunya tidak memberi makan orang miskin! (QS 74 : 39 -44).

Sama dengan amalan-amalan lainnya, sholat berjamaah di Masjid, banyak-banyak membaca Al’quran, bershadaqah dan seterusnya; semua diberi balasan berlipat ganda di bulan Ramadhan , tetapi ini tidak berarti pahala yang melimpah tersebut bisa menggantikan kewajiban kita di bulan lain. Maka demikian pulalah urusan memberi makan ini, ‘latihan’ kita untuk memberi makan orang lain untuk berbuka puasa seyogyanya mendorong kita untuk giat ‘memberi makan’ orang lain pula di luar bulan Ramadhan – karena hanya dengan memberi buka puasa di bulan Ramadhan saja tidak membebaskan kewajiban kita untuk (terus-menerus) memberi makan orang miskin.

Cara yang efektif, kontinyu dan elegant untuk ‘memberi makan’ orang lain ini adalah dengan menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Bayangkan kalau kita bisa mempunyai usaha kecil saja dengan 10 orang karyawan misalnya; masing-masing karyawan ini memiliki pasangan (suami/istri) – dan masing-masing punya 3 anak – maka sudah 50 orang yang terbantu untuk makan dan kebutuhan lainnya sepanjang tahun – termasuk juga selama bulan Ramadhan tentu saja! Kalau 10 orang bisa melakukan hal yang sama (menjadi entrepreneur) – maka sudah 500 orang yang tercukupi pangan dan kebutuhan lainnya. Bagaimana kalau yang muncul 1000 orang dan seterusnya? Maka tidak akan ada lagi kemiskinan yang menghantui umat ini.

Maka menjadi wirausaha-pun insya Allah bisa menjadi wasilah atau jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya sebagaimana diperintahkan dalam Al-Quran: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS 5 :35)

Karena berjihad dalam arti perang melawan musuh-musuh Allah seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di Palestina melawan penjajah Yahudi yang merampas  dan mengusir mereka dari negerinya belum menjadi kesempatan kita saat ini, berjuang melawan kemiskinan yang diciptakan oleh musuh yang sama bisa menjadi pilihan kita untuk mendekatkan diri kita kepada Allah.

Maka pada kesempatan ini saya ingin mengajak sebanyak-banyaknya saudaraku se-iman untuk rame-rame berjuang membebaskan umat ini dari kemiskinan, keterpurukan dan ketertindasan ekonomi. Sebanyak-banyaknya kita lahirkan entrepreneur muslim yang Qowiyyun Amin sehingga insya Allah di Akhirat kelak kita bisa menjadi orang-orang yang bertanya (QS 74 : 39-42) dan bukan orang-orang yang ditanya (QS 74 : 43-47).

Kami menyediakan fasilitas training, coaching dan mentoring bagi yang ingin terjun di bidang kewirausahaan Islami ini. Dan lebih dari itu, akses terhadap permodalan juga dimungkinkan bagi yang benar-benar serius dan memiliki potensi yang baik. Insya Allah semuanya free of charge karena inilah wasilah (jalan) pilihan kami untuk mendekatkan diri kepadaNya; semoga niat baik di bulan baik ini dapat membuatNya ridlo…Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (4)


Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes