Tag Archive | "eksekutif"

Planned But Not Executed (PBNE) or Executed But Never Planned (EBNP)


Dalam sejarah Perang Dunia II; titik balik dari agresi Jerman konon karena mereka tidak melaksanakan apa yang direncanakannya sendiri (Planned But Not Executed-PBNE), yaitu tidak meng-invasi Inggris lewat laut seperti rencana semula; mereka malah memilih jalur konfrontasi udara yang dikenal dengan Battle of Britain yang tidak pernah mereka rencanakan (Executed But Never Planned ?EBNP).

Dalam perjalanan hidup kita, inilah yang sering terjadi. Kita merencanakan sesuatu matang-matang, tetapi kemudian tidak melaksanakannya (PBNE). Atau sebaliknya, kita terpaksa melaksanakan sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan (EBNP). Baik PBNE maupun EBNP, keduanya adalah sumber kegagalan. Bila kita dapat meminimise keduanya, maka insya Allah dapat memaximise peluang sukses kita.

Dalam usaha atau karir, bila kita kebanyakan PBNE maka inilah yang dalam bahasa sehari-hari kita kenal sebagai OmDo (Omong Doang). Sebaliknya bila terlalu banyak EBNP, maka ini manajemen a la pemadam kebakaran ? hanya sibuk ketika timbul api. Keduanya harus semaksimal mungkin kita hindari bila ingin sukses..

battle-of-britainBanyak sekali (mantan) karyawan, manajer, eksekutif yang kelabakan belajar berwirausaha ketika karir atau pekerjaannya terancam atau ketika pensiun tiba. Mereka terpaksa berusaha ini ? itu yang sebenarnya tidak pernah direncanakannya (EBNP). Hasilnya tentu tidak banyak yang sukses.

Sebaliknya juga terjadi, banyak sekali diantara mereka ? terutama tenaga-tenaga muda fresh graduate cemerlang yang punya cita-cita tinggi. Mereka ingin membangun usaha impiannya selagi mereka muda, namun untuk ini mereka butuh pengalaman kerja, butuh modal awal, dlsb. sehingga mereka memutuskannya untuk bekerja dahulu di perusahaan yang sudah mapan. Sayangnya ketika mereka keenakan bekerja di perusahaan besar, gaji baik, tunjangan melimpah ? mereka lupa dengan cita-cita semula,  mereka tidak melaksanakan apa yang dicita-citakannya (PBNE). Kemudian tibalah masanya pekerjaan/karir terancam atau usia pensiun tiba ? mereka terpaksa harus berusaha ini ? itu ketika resources sudah banyak berkurang (EBNP).

Demikianlah siklus lingkaran setan EBNP-PBNE-EBNP-PBNE terus mengungkung kita dari pencapaian yang maksimal dalam hidup, karir, keluarga, usaha, dlsb. Lingkaran setan ini terjadi pada tingkat individu, keluarga, perusahaan dan bahkan negara.

Dalam tingkat negara, negara ini pernah mentas dari keterpurukan akhir 1960-an sampai puncak pencapaian tahun 1990-an karena saat itu ada rencana jangka panjang yang dikomunikasikan dan diimplementasikan dengan cukup disiplin yaitu apa yang dikenal dengan REPELITA I, II, III,IV, V, dst. Sampai anak-anak SD dan SMP pun tahu apa isi dan sasaran REPELITA-REPELITA tersebut.

Sejak era reformasi, 4 pemerintahan silih berganti ? masing-masing punya rencananya sendiri. Wa Allahu A?lam, mungkin hanya para birokrat  dan legislator yang tahu apakah rencana-rencana tersebut dilaksanakan dengan baik; atau sebaliknya terjebak dalam lingkaran EBNP-PBNE-EBNP-PBNE.

Lantas bagaimana kita bisa keluar dari lingkaran EBNP-PBNE-EBNP-PBNE tersebut?

PLAN1) Buatlah RENCANA; apapun rencana itu. Dalam dunia perencanaan, ada istilah ?gagal untuk membuat rencana sama dengan merencanakan untuk gagal?. Bila Anda ingin sebagai professional sampai pensiun misalnya ? maka rencanakanlah dengan baik dan bangun kompetensi Anda di profesi yang Anda pilih.

Bila Anda kini karyawan, manager atau eksekutif yang merencanakan untuk pindah kwadrant, maka rencanakanlah dengan baik dibidang usaha apa Anda akan terjun dan pada usia berapa akan membakar kapal Anda, dst.

2) Disiplinlah dalam mengimplementasikan rencana Anda. Tanpa disiplin dalam implementasi ini, yang terjadi adalah lingkaran EBNP-PBNE-EBNP-PBNE tersebut.

3 ) Setelah kita merencanakan dan berusaha mengimplementasikan secara maksimal, maka bersamaan dengan itulah dengan bertawakkal kepada Allah ? insya Allah Allah akan menyempurnakan upaya dan rizki kita ? rizki yang tidak harus berarti materi, bisa berupa keimanan, sakinah dan amal ibadah yang diridloi-Nya.

?… Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya…? (QS. Ath-Thalaaq (65): 3)

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Ayub-Ayuben: Ketika Kita Takut Jatuh


Bagi Anda yang belum bisa berenang, bayangkan Anda berdiri di pinggir kolam yang dalam…; Apa yang Anda rasakan? Yang hampir pasti muncul adalah rasa takut untuk tenggelam. Seolah kolam menarik Anda untuk terjun, tetapi ada rasa takut yang sulit digambarkan kecuali oleh istilah jawa yang disebut ayub-ayuben.

Ayub-ayuben juga terjadi ketika Anda berada di tempat yang tinggi, melihat ke bawah dan ada rasa takut jatuh yang sulit digambarkan. Namun untuk kepentingan tulisan ini tidak saya gunakan ayub-ayuben di tempat yang tinggi sebagai bahan bahasan karena saya tidak ingin mendorong Anda melompat jatuh.

Bagi Anda yang masih ayub-ayuben di pinggir kolam yang dalam, sebenarnya ada cara ilmiah untuk melawannya dengan akal. Yaitu dengan mengetahui bahwa massa jenis tubuh manusia sebenarnya berada di angka rata-rata 1.01 gr/cm3. Apa maknanya ini? Bila massa jenis air 1.00 gr/cm3 (pada suhu 4 oC), dengan sedikit effort saja ? asal Anda tidak panik ? tubuh Anda akan mengambang ? karena massa jenis tubuh Anda yang sangat mendekati massa jenis air ini.

Massa jenis air laut bahkan mencapai 1.03 gr/cm3, artinya tubuh kita seharusnya otomatis mengambang di laut ? lagi-lagi bila kita tidak panik ketika kecebur di laut sekalipun!

Ayub-ayuben berada di pinggir kolam renang ini mirip sekali dengan apa yang kita rasakan sebelum terjun pada dunia usaha atau wiraswasta. Sebagai karyawan, Anda terlanjur merasakan betapa enaknya menerima gaji setiap bulan, biaya kesehatan, pensiun dan lain sebaginya. Bagi yang mencapai tingkat eksekutif menerima juga berbagai fasilitas melimpah seperti mobil, sopir, semua biaya ditanggung ? bahkan tidak jarang juga yang mendapat fasilitas rumah. Enak bukan?

Comfort zone inilah yang membuat mayoritas karyawan dan juga eksekutif ayub-ayuben untuk terjun menjadi wiraswastawan, sampai mereka terpaksa melakukannya ketika harus (di) pensiun (kan) dari perusahaan atau institusi tempatnya semula bekerja.

Lantas bagaimana menghilangkan rasa ayub-ayuben ini? Sama dengan menyadari bahwa tubuh kita bermassa jenis 1.01 gr/cm3 tersebut di atas. Sebagaimana kita ditakdirkan untuk mudah berenang atau mengambang di atas air, kita juga ditakdirkan mudah (bahkan dijamin) untuk mendapatkan rizki sampai akhir hayat kita. Yang membuat tubuh kita seperti ini, sama dengan yang memberinya rizki kita semua.

Bahkan dalam salah satu tulisan saya sebelumnya ?Dan Di Langit Terdapat Rizkimu…?, saya beri contoh betapa rizki Allah ditaburkan di sekitar kita tanpa kita sadari. Rizki kita bukan dari kantor tempat kita bekerja, bukan dari instansi tempat kita mengabdi ? mereka hanya sarana yang untuk sementara waktu dipilih Allah untuk menyalurkan rizki yang diberikanNya kepada kita.

Sarana bisa berganti kapan saja tidak masalah, sumber yang memberinya akan tetap ada. Bahkan ketika kita merasa rizki yang kita terima kurang, mungkin sarananya yang lagi  macet ? kita diajariNya untuk minta langsung kepada Sang Pemberi Rizki dengan cara beristigfar (QS. Nuh (71): 10 -12).

Lebih jauh lagi, alangkah indahnya bila kita bisa berperan menjadi sarana untuk penyaluran rizki dariNya untuk orang-orang di sekitar kita. Hal ini antara lain bisa kita lakukan bila kita menciptakan lapangan kerja bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Kita berani nyebur ke kolam yang dalam atau bahkan laut sekalipun, karena kita yakin bisa mengambang. Kita berani menempuh risiko-risiko usaha yang tidak terbayangkan sebelumnya karena kita yakin rizki Allah selalu ada untuk kita semua ? sampai akhir hayat kita.

Jadi ayo lawan rasa ayub-ayuben ini, ayo ciptakan lapangan kerja… negeri ini sangat membutuhkannya! Insya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Kita Butuh Lebih Banyak Captain of Industry, Bukannya Robber Baron


Captain of Industry adalah istilah yang awalnya muncul di Inggris di masa revolusi industri untuk menggambarkan karakter para pemimpin usaha yang unggul. Mereka-mereka ini adalah orang yang mampu menggunakan pengetahuan, bakat dan kemampuannya untuk meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, menciptakan lapangan kerja dan menyumbangkan sebagian hartanya untuk menolong orang lain. Keberadaan para Captain of Industry inilah yang konon berhasil memajukan belahan bumi bagian utara pada umumnya sampai kondisi mereka sekarang.

Sebaliknya, di belahan bumi selatan ? yang digambarkan sebagai belahan yang kalah maju dengan belahan bumi utara; keterlambatan kemajuan mereka sebagian besar karena kesalahannya sendiri. Ekonomi mereka tidak dibangun oleh para Captain of Industry tetapi oleh para Robber Baron. Kebalikan dengan Captain of Industry, Robber Baron adalah pemimpin-pemimpin usaha yang menggunakan kekuatan lobi-nya untuk mempengaruhi para pembuat Undang-Undang dan pengambil keputusan dalam suatu negara ? untuk kepentingan usahanya ? bukan untuk kepentingan bangsanya.

Bila kita mau introspeksi pada negeri kita ini, kita akan bisa menyimpulkan sendiri jawabannya. Mengapa begitu banyak pejabat publik yang akhirnya harus mendekam di penjara? Karena mereka-mereka tersebut telah menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan usaha tertentu. Tidak hanya para eksekutif-nya, banyak juga dari kalangan legislative di daerah sampai pusat yang harus berhadapan dengan hukum karena mereka terpengaruh oleh para Robber Baron ? atau bahkan yang lebih buruk menciptakan para Robber Baron baru.

Robber-BaronsKarena ulah para Robber Baron inilah, hutan-hutan kita gundul, bumi kita menjadi gersang, sumber-sumber kekayaan alam kita habis tidak jelas kemana hasilnya. Kita harus mengimpor begitu banyak kebutuhan kita mulai dari terigu, daging sapi, susu, gula dan bahkan beras dan garam ? ya karena ulah para Robber Baron ini pula.

Ulah para Robber Baron inipun semakin menjadi-jadi sejak era reformasi yang kemudian berlanjut pada otonomi daerah.

Suatu saat saya pernah diundang makan siang oleh seorang teman warga asing yang dahulu saya kenal semasa kami sama-sama bekerja di perusahaan Inggris di bidang finansial. Karena kerasannya dia di Indonesia, sampai saat ini dia tetap di Indonesia ? tetapi profesinya bukan lagi sebagai ahli keuangan, dia kini broker politik mewakili sejumlah kepentingan usaha dari negerinya.

Uniknya dia punya spesialisasi sendiri, dia tidak menggarap eksekutif dan legislative di tingkat pusat ? tetapi justru menggarap para calon kepala daerah khususnya di Tingkat II. Di daerah-daerah yang potensi alamnya besar, mereka menerjunkan tim untuk membiayai para calon kepala daerah Tingkat II tersebut dengan kompensasi-kompensasi tertentu bila kelak mereka benar-benar terpilih. Bisa kita bayangkan apa jadinya daerah tersebut, bila pada Pilkada yang menang adalah para calon yang didanai oleh ?investor? asing tersebut. Kekayaan alam daerah itu bisa ?tergadai? oleh komitmen sang kepala daerah terpilih.

Well, tidak semuanya seburuk itu. Kita masih bisa optimis, karena kita masih melihat banyak (calon) Captain of Industry di negeri ini. Diantaranya yang saya kenal pribadi adalah temen se-fakultas yang berhasil membangun jaringan inti-plasma pengolahan hasil laut. Jaringan usahanya ini 5 tahun lalu saja sudah memiliki 27 pabrik ? yang secara total tenaga kerja dan anggota plasma-nya telah lebih dari 100,000 orang.

Menariknya si kawan ini adalah ketika dia di dekati oleh salah satu partai politik untuk menjadi pendukungnya (dengan pengaruhnya pada 100,000-an pemilih, partai mana yang tidak tertarik?),  dia menolak bergabung. Padahal kalau dia bergabung, dia akan mendapatkan konsesi-konsesi tertentu untuk kemajuan usahanya ke depan. Sikap penolakan seperti inilah yang akan membuat dia tetap menjadi Captain of Industry, dan tidak menjadi Robber Baron yaitu bila dia bergabung dengan kekuatan politik untuk membesarkan usahanya.

Piala Indolaban

Piala Indolaban

Memang banyak sudah anak terbaik bangsa ini yang seperti dia, tetapi kita butuh sangat lebih banyak lagi orang-orang seperti dia yaitu para (calon) Captain of Industry di negeri ini ? untuk menyaingi keberadaan para Robber Baron yang juga tumbuh pesat sejak era reformasi. Inilah antara lain sasaran kwalitas entrepreneurs dan business leaders yang ingin kita hasilkan melalui program Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin.

Meskipun baru dirintis sekitar 10 bulan lalu, Alhamdulillah Pesantren ini telah mulai menunjukkan hasilnya. Peternakan yang kita bangun dari kajian di Pesantren ini, kemarin (15/6) pada event Kontes Ternak Tingkat Jawa Barat yang juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat ? langsung menyabet 4 piala dari 4 kambing yang kita kirimkan ke Kontes.

Ke-4 Piala tersebut adalah Juara Pertama untuk Pejantan Bibit (Raja Pejantan); Juara Pertama untuk Betina Bibit (Ratu Bibit), Juara Kedua Untuk Betina Bibit dan Juara Ketiga Untuk Pejantan Bibit semua untuk kategori Kambing PE (Peranakan Ettawa). Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik untuk memberikan kontribusi kami dengan menyediakan bibit-bibit unggul industri peternakan umumnya, dan khususnya industri kambing di Indonesia. Dari sinilah antara lain diharapkan Captain of Industry itu lahir. Semoga Allah memudahkan jalanNya untuk kita bisa beramal shalih yang diridloiNya, dan melindungi kita dari amal buruk yang dimurkaiNya. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Inspirasi & Solusi Qur?ani Untuk Dunia Usaha


Zulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”. (QS. Al-Kahfi (18): 95-96)

Bahwasanya Al-Qur?an sebagai petunjuk, pasti kita sudah sering membacanya ? karena disampaikan di awal Al-Qur?an bahwa ?Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa? (QS. Al-Baqarah (2): 2). Pertanyaannya adalah sudahkah kita benar-benar kembali ke Al-Qur?an ketika kita butuh petunjuk? Sudahkah kita mencari panduan pemecahan masalah yang kita hadapi di Al-Qur?an untuk segala jenis urusan?

Untuk urusan business misalnya, dahulu waktu saya aktif di direksi suatu group perusahaan besar ? setiap ada masalah yang perlu diatasi atau diperbaiki ? larinya pasti ke consultant yang dibayar mahal ? kadang bahkan sangat mahal sekali! Tidak terpikir sedikit-pun untuk mencari solusinya di Al-Qur?an. Rata-rata eksekutif seperti saya dahulu, atau eksekutif-eksekutif zaman ini ? bagian terbesarnya pasti tidak menjadikan Al-Qur?an sebagai sumber inspirasi dan solusi dari perbagai problem yang dihadapinya di dunia usaha.

Alhamdulillah melalui program Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin yang kini sudah sampai angkatan ke 10, dan angkatan ke 11 insya Allah kick off akhir pekan ini ? bersama para Santri Wirausaha ? kita justru memperoleh inspirasi dan solusi usaha-usaha yang kita bangun dari ayat-ayat Al-Qur?an.

Ketika kita mem-visi-kan industri perkambingan untuk solusi kebutuhan minuman sehat dan bersih ? sumber rujukan kita adalah Surat An-Nahl (16) Ayat 66. Ketika kita mencari solusi bahan pangan yang murah untuk swasembada pangan jangka panjang, kita menemukan Jamur sebagai salah satu solusinya berdasarkan tafsir Surat Adz-Dzaariyaat (51) Ayat 22.

Ketika sebagian besar BMT (bahkan juga bank) memiliki problem dengan Non Performing Loan (NPL); Alhamdulillah BMT Daarul Muttaqiin ? yang merupakan financial arm-nya Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin ? tidak memiliki problem tersebut karena kita belajar dari Surat Al-Baqarah (2) Ayat 283 tentang dianjurkannya (hendaklah) ada barang jaminan.

Ketika usaha mulai berjalan, problem baru-pun bermunculan ? dan insya Allah bersama para santri kami akan tetap kembali ke Al-Qur?an untuk mencari pemecahannya. Surat yang saya kutip di awal tulisan ini adalah salah satu contoh penyelesaian masalah yang kita hadapi dalam membangun kandang kambing yang kokoh, cepat dan ekonomis.

Kandang Kambing

Kandang Kambing

Ketika kami mulai membangun kandang demi kandang untuk kambing Peranakan Ettawa (PE) yang dikembangkan di pesantren, kami belajar dari kesalahan demi kesalahan. Kandang pertama yang kami bangun ? ternyata salah design dan salah bahan. Kandang ke-2 yang kita bangun ? design sudah benar tetapi bahannya masih salah. Baru kandang generasi ke-3 berhasil kami bangun dengan design dan bahan yang benar, bahkan dari sisi workmanship-nya memenuhi standar kandang kambing penghasil susu kelas dunia… :)

Eh ternyata problem baru muncul. Kandang dengan kwalitas bahan kayu yang baik dan dikerjakan dengan kwalitas yang baik ? ternyata sulit dikembangkan dalam skala industri. Kayu-kayu yang baik sangat mahal dan susah dicari, kwalitas pekerjaan yang baik membuat pembangunan kandang memakan waktu yang lama ? sampai 3 bulan baru selesai.

Lantas apa solusi yang ditawarkan Al-Qur?an? Lewat penuturan Zulkarnain tersebut di atas, kita belajar bahwa bahan material yang terkuat sampai akhir zaman berasal dari minimal 2 zat yang berbeda yang diolah sedemikian rupa sehingga saling memperkuat sifat zat yang satu dengan lainnya. Dalam bahasa modernnya ini dikenal sebagai composite materials atau disingkat composites.

Teknologi composites ini sekarang begitu maju sehingga dari bodi pesawat, satelit, mobil, bahan jembatan, sampai kandang kambing-pun bisa dibuat dari composites ini. Tentu kalau kita membeli composites yang sudah jadi ? pasti mahal ? dan belum tentu cocok untuk kandang kambing.

Tetapi bagaimana kalau kita bisa membuat koran-koran bekas, serbuk gergajian, batang padi, batang bambu, dlsb dengan sedikit pengolahan dan di reinforce akhirnya bisa menjadi bahan yang sekuat besi? Maka inilah solusi dari ayat tersebut di atas.

Keahlian di bidang composites ini ternyata juga sudah sangat dikuasai oleh anak-anak terbaik bangsa ini, bahkan diantara mereka sekarang menjadi konsultan perusahaan internasional yang membuat material untuk pesawat, satelit, mesin industri, dlsb.

Jadi inspirasi dan solusi Al-Qur?an itu real dan ada di sekitar kita, tinggal kita mau menggunakannya atau tidak. Di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin, Anda akan dapat langsung menghayati bagaimana jamur tumbuh hanya mengandalkan kelembaban yang sudah dilimpahkan Allah kepada bumi kita; bagaimana kambing-kambing susu menghasilkan susu bersih bahkan tidak harus berbau kambing walau keluar dari perut kambing.

Dan insya Allah dalam beberapa bulan mendatang, Anda juga akan dapat melihat bagaimana ilmunya Zulkarnain tersebut di atas dimanifestasikan menjadi pabrik yang memproduksi kandang kambing yang sangat kokoh dan bisa diinstall dimana saja diseluruh dunia dengan sangat cepat. Jadi kelak kalau Anda mau membuat kandang kambing, tidak lagi harus mencari kayu langka ? yang semakin langka, tidak lagi harus menunggu 3 bulan baru selesai ? dalam waktu seminggu-pun insya Allah kandang Anda sudah akan siap pakai. Karena tidak lagi kita menebang pohon untuk membuat kandang dan sejenisnya, maka insya Allah dunia akan tetap hijau dan nyaman untuk dihuni.

Sebagai peluang, subhanallah - betapa kayanya Al-Qur’an ini bila digali sebagai sumber ide.  Di Pesantren Wirausaha, tadinya kami hanya ingin bisa pelihara kambing dengan baik, kemudian wawasan meluas menjadi mentargetkan untuk membangun industri susu dan produk-produk turunan kambing, kini bersama angkatan ke 10 kita sudah berfikir untuk memasuki industri composites. Kalau sekarang sudah ada gerakan menghafal Al-Qur’an yang dipelopori oleh Ustad terkenal, maka pesantren kecil kami Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin – ingin memelopori Gerakan Pengamal Qur’an – Berpikir dan Bertindak Berdasarkan Al-Qur’anInsya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Belajar Dari Kehidupan Bebek Liar


Ketika saya mulai menulis tentang Netpreneur beberapa waktu lalu, ternyata banyak response dari pembaca yang serius ingin melakukan hal yang sama atau mirip dengan apa yang saya lakukan.

Dari response tersebut, saya dapat memahami bahwa apa yang dulu saya rasakan tentang kebosanan dan kejenuhan di tempat kerja ? juga dialami oleh sekian banyak orang lain. Tidak peduli dia di perusahaan besar atau kecil, perusahaan bonafid atau tidak, sebagai karyawan biasa atau eksekutif ? selalu ada (dan banyak) yang merasa bosan, jenuh, stuck , merasa didhalimi dan berbagai perasaan tidak mengenakkan lainnya.

Lantas pertanyaannya, meskipun sekian banyak orang tidak bahagia dengan pekerjaannya selama ini ? mengapa sebagian besar mereka tetap bertahan sampai pensiun? Macam-macam jawabannya, tetapi apapun jawabannya yang jelas mereka tidak (berani) memulai segera untuk berubah?

Berikut adalah 3 hal yang paling sering menjadi mental block yang mengunci kita dalam ?penjara? pekerjaan dan bagaimana cara melepaskan diri darinya.
1). Tidak memiliki bekal/modal untuk mulai berusaha: Tidak semua usaha memerlukan modal. Pengetahuan kita, pengalaman, jaringan pergaulan, dlsb; bisa menjadi modal yang tidak kalah berdaya-nya dengan modal uang.

2) Tidak memiliki ide untuk usaha: Ide yang orisinil memang paling baik dalam usaha, tetapi kita tidak harus memulai ide tersebut dari nol. Kita dapat menerapkan teori 3N dari khasanah kearifan Jawa yaitu Namatke (memperhatikan), Nirokke (menirukan), dan Nambahi . Kita dapat nyontek bisnis lain yang sudah jalan, mungkin di negeri lain, mungkin di bidang lain, mungkin dengan komiditi/barang dagangan yang lain ? tetapi kalaupun harus nyontek, maka nyonteklah yang pinter. Paling tidak itu tadi, jangan nyontek mentah-mentah tetapi setidaknya bisa Nambahi. Bukankah 3N pula yang dilakukan Jepang sampai menguasai pasar mobil dan elektronik dunia dewasa ini?

3) Job Security: Banyak orang yang rela bersusah-susah bekerja dengan perasaan yang tidak enak sekalipun karena berpendapat bahwa dengan bekerjalah (di tempat bekerjanya yang sekarang)  jaminan pekerjaan dan kelangsungan masa depannya terjaga, bahkan ada pensiun, biaya kesehatan, dst.

Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena persentase pensiunan yang bisa mempertahankan kwalitas kehidupannya sama dengan semasa belum pensiun adalah sangat sedikit. Yang sedikit inipun karena mereka tidak mengandalkan uang pensiunannya semata.

Stuck in 'Job Prison'?

Stuck in 'Job Prison'?

Ilusi job security ini juga terjadi pada karyawan-karyawan di perusahaan besar. Dalam realitanya berapa banyak karyawan atau bahkan eksekutif perusahaan besar yang harus kehilangan pekerjaan dan segala fasilitasnya oleh berbagai sebab.

Dengan menjadi entrepreneur juga tidak ada akan mudah, tetapi juga tidak sesulit yang dibayangkan kebanyakan orang. Ada pelajaran yang sangat menarik dari alam yang mendorong saya melompat menjadi entrepreneur pada usia yang sebenarnya ?agak telat? menurut hitungan saya sendiri. Pelajaran ini saya ambil dari salah satu episod televisi yang menyajikan kehidupan spesies bebek liar tertentu.

Induk bebek-bebek ini bersarang pada ketinggian 4?20m di atas air ? tempat mereka mencari makan. Bayi-bayi bebek spesies ini umumnya menetas pada malam hari dan tentu juga menetasnya pada sarang tersebut ? yang sekian meter di atas air.

Pada pagi hari pertamanya melihat dunia, bebek-bebek kecil ini menyaksikan induknya melompat dari sarang terjun ke air untuk mencari makan. Tanpa berfikir panjang ? bisa berenang atau tidak, beresiko atau tidak ? bebek-bebek kecil tersebut langsung terjun ke air mengikuti induknya untuk mencari makan.

Bayangkan! betapa Maha Kuasanya Allah dalam memberi rizki ke bebek-bebek yang baru umur sehari ini, sekaligus menyelamatkannya dalam lompatan yang menurut pikiran manusia sebenarnya sangat berbahaya.

Atas kehendak Allah, bebek-bebek kecil ini tidak dibekali otak yang canggih seperti kita manusia. Namu justru karena itu, mereka berani melompat mengikuti instingnya untuk langsung terjun, berenang dan mencari rizki.

Kita manusia, Alhamdulillah selain insting kita juga dibekali otak yang canggih. Dengan otak ini insya Allah kita akan lebih mampu untuk survive dalam ?lompatan? kita pada kesempatan pertama. Wa Allahu A?lam.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Entrepreneurship: Beranikah Anda Membakar Kapal Anda?


Dalam sejarah Islam ada panglima perang yang memiliki strategi luar biasa, benar-benar luar biasa karena tidak pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Panglima perang tersebut adalah Thariq bin Ziyad yang pada tahun 97 H (sekitar tahun 711 Masehi) memimpin 7,000 pasukan Islam memasuki Spanyol yang dijaga oleh 25,000 pasukan pimpinan Raja Roderick.

Untuk menyemangati pasukannya agar tidak gentar melawan musuh yang memiliki kekuatan jauh lebih besar, dan agar tidak ada satupun dari pasukaannya yang berpikir untuk ambil langkah mundur  - apa yang di lakukan Thariq? Dia membakar seluruh kapal-kapal yang dipakai pasukannya untuk mencapai pantai tenggara spanyol. Ketika pasukannya bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan sang panglima ini, Thariq menjawabnya dengan pidato yang terkenal sbb:

?Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.?

Tekad yang sangat kuat untuk hidup mulia atau mati syahid ?Isy Kariman au Mut Syahidan? inilah yang dapat membawa kejayaan Islam dari waktu ke waktu.

Kita tahu akhirnya dalam sejarah bahwa diawali oleh tekad yang sangat kuat dan kebergantungan kepada Allah semata tersebut, Islam menjangkau wilayah yang paling luas beberapa puluh tahun kemudian setelah strategi ini ditempuh Thariq dan pasukan-pasukannya.

Ketika cerita tentang Thariq ini diajarkan secara turun temurun baik di dunia Islam maupun di luar Islam, maka sekitar 800 tahun kemudian, kurang lebih 10 generasi setelah Islam masuk Spanyol ? anak keturunan bangsa Spanyol yang bernama Hernando Cortez – pun meniru bulat-bulat strategi Thariq tersebut di atas ketika ia memimpin ekspedisi penaklukan ke Mexico.

Hernando Cortez (1485 - 1547)

Hernando Cortez (1485 - 1547)

Hernando Cortez yang memimpin expedisi penaklukan bangsa Aztecs untuk merebut emas dan harta-harta lainnya ini membakar keseluruhan 11 kapal yang digunakan untuk membawa pasukannya mencapai daratan Mexico. Dengan demikian tidak ada pikiran untuk mundur, jalan hanya satu arah yaitu maju kedepan.

Kita tahu hasil dari kebulatan tekat Hernando Cortez ini, sampai sekarang bahasa resmi yang dipakai di Mexico adalah bahasa Spanyol. Ini menunjukkan betapa berhasilnya Hernando Cortez meniru strategi Thariq bin Ziyad dalam upayanya untuk menaklukkan Mexico yang menjadi jajahan Spanyol sampai beratus tahun kemudian.

Kalau seorang Hernando Cortez saja bisa belajar dan menikmati ke-sukses-an dari meniru strategi Panglima Perang Islam Thariq bin Ziyad, masa kita umat Islam di masa kini tidak bisa mencapai kesuksesan dengan belajar dari keberhasilan tokoh pejuang sekaliber Thariq ini?

Kalau medan kita bukan/belum medan perang saat ini, minimal strategi Thariq dengan membakar kapal ini bisa kita terapkan di tekad kita untuk membangun usaha, untuk meninggalkan tempat kerja yang kita ragukan ?kebersihan?-nya misalnya.

Dari pengalaman saya berinteraksi dengan sekian banyak peserta Pesantren Wirausaha dan juga peserta yang ikut pelatihan CIED (Center for Islamic Entrepreneurship Development), penghalang terbesar dari setiap peserta yang ingin menjadi entrepreneur adalah keberaniannya untuk benar-benar terjun ke usaha ? serta benar-benar meninggalkan pekerjaan sebelumnya.

Pengalaman saya sendiri-pun menunjukkan demikian; tidak kurang dari 6 kali usaha berwiraswasta yang saya lakukan di luar jam kantor – ketika saya masih aktif sebagai eksekutif ; tidak satupun yang berhasil. Yang ke-7, ke-8 dan seterusnya insya Allah berhasil karena kapal saya benar-benar saya bakar.

Untuk mencapai karir puncak di Industri Asuransi & Investasi di usia muda, tidak tanggung-tanggung saya peroleh gelar profesi yang paling tinggi di New Zealand, Australia dan Inggris. Sangat sedikit professional asuransi & investasi Indonesia yang mencapai pengakuan semacam ini. Namun sejak lahirnya fatwa MUI bahwa bunga bank haram awal 2004 (Fatwa No 1 Tahun 2004 Tentang Bunga), tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan mengenai keharaman bunga bank dan produk-produk yang terkait dengannya di dunia finansial.

Maka alhamdulillah kapal yang namanya gelar professional dan puncak karir di industri finansial tersebut telah habis saya bakar 2 tahun lalu. Sejak saat itu, mirip yang dilakukan oleh Thariq dan juga Cortez, medan ?pertempuran? saya menjadi medan ?pertempuran? yang sama sekali baru. Tidak mudah, tetapi juga tidak mustahil ? hanya pertolongan Allah-lah yang menjadikan yang sukar itu mudah.

Jadi bagi Anda yang ingin pindah quadrant dari pegawai/eksekutif ke pengusaha, bila Anda berani membakar kapal Anda, Insya Allah Andapun juga akan berhasil!!! Wa Allahu A?lam.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

?Pesantren Wirausaha?: Training, Coaching & Mentoring Untuk Menghasilkan Qowiyyun Amin


Tulisan ini untuk menjawab banyaknya minat dan pertanyaan dari tulisan beberapa hari yang lalu tentang Wirausaha Sebagai Wasilah Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah.   Berikut adalah jawaban-jawaban kami atas beberapa pertanyaan yang umum:

Seperti apa program ini sesungguhnya?

Program ini idenya adalah untuk melahirkan para wirausahawan yang memenuhi kriteria Qowiyyun Aminprofessional di bidangnya dan sangat bisa dipercaya. Karena orang yang bisa dipercaya menurut hemat kami akan lahir dari orang-orang yang beriman kepada Allah (dia akan merasa diawasi terus sepanjang waktu oleh Allah) dan hari akhir (dia harus pertanggung jawabkan setiap perbuatannya sampai akhirat), maka program yang tepat salah satunya mesti menanamkan keimanan ini juga.

Oleh karenanya program ini kita buat semacam ?Pesantren Wirausaha? yang inti di dalamnya adalah kombinasi antara program Training, Coaching dan Mentoring pada 2 bidang sekaligus yaitu menguatkan aqidah dan membangun kompetensi muamalah. Program Training adalah untuk membekali para peserta dengan pengetahuan dan ketrampilan yang cukup mengenai jenis usaha yang akan digelutinya.

Training, Coaching & Mentoring

Training, Coaching & Mentoring

Coaching diarahkan untuk memandu peserta dalam mencapai sasaran yang disepakati; Coaching diambil dari kata coach yang artinya kereta atau gerbong, yaitu alat untuk memindahkan orang atau barang dari titik A ke titik B. Maka program coaching akan membawa peserta dari titik A (kondisi sebelumnya) ke titik B (kondisi yang hendak dicapai).

Mentoring adalah proses dimana orang-orang yang telah lebih dahulu trampil dan pengalaman di bidang tertentu menjadi role-model yang secara langsung mengajari, menyemangati, mendorong dan membimbing peserta untuk mencapai target ketrampilan dan kemampuan yang memadai untuk terjun dalam bidang usaha yang diminati peserta.

Siapa yang eligible untuk mengikuti program ini?

Prinsipnya karena target kita ingin melahirkan para wirausahawan yang Qowiyyun Amin dari semua tingkatan; maka kita tidak membuat batasan pendidikan dan usia. Tetapi kami akan melakukan assessment secara seksama satu persatu untuk mendeteksi keseriusan calon peserta dalam menempuh program ini. Karena program ini bukan untuk orang yang mencari pekerjaan; tetapi program untuk orang-orang yang akan menciptakan pekerjaan, maka program in jelas bukan untuk peserta yang daripada nganggur sambil menunggu panggilan lamaran pekerjaan ? maka ikut program ini. Kejujuran peserta dibutuhkan sedari awal ini.

Berapa lama program ini akan berlangsung? Apakah full time atau partime? Fisik atau virtual?

Ada 2 kategori program yang akan kita jalankan insya Allah. Pertama adalah kelompok peserta reguler, ini diperuntukkan bagi peserta yang akan full time berada di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin ? belajar langsung dari usaha-usaha yang sudah jalan dan akan berjalan di group pesantren ini, dan baru akan dinyatakan lulus (tidak pakai kertas  ijazah) setelah yang bersangkutan benar-benar bisa mandiri sebagai seorang pengusaha di bidangnya dan dapat dipercaya, syukur-syukur malah menjadi rujukan di bidangnya. Peserta reguler ini akan ditempatkan di fasilitas kami yang sedang dipersiapkan di Tapos dan Jonggol.

Kedua adalah program eksekutif yang diarahkan untuk orang-orang yang saat ini sudah sibuk sebagai pegawai atau eksekutif namun ingin pindah quadrant menjadi pengusaha, pemilik usaha atau bahkan investor. Karena mereka belum bisa meninggalkan kesibukannya  yang sekarang, maka waktu dan tempat bisa disepakati dengan masing-masing kelompok. Kelompok-kelompok akan kami usulkan ke para peserta yang mendaftar yang kemudian bisa di fine-tune antar peserta sendiri yang lebih sesuai satu sama lain baik dari sisi bidang yang diminati, lokasi tempat tinggal/tempat kerja, dlsb.

Program reguler sepenuhnya fisik, peserta berada di lokasi pesantren dan bertatap muka langsung dengan para resource person (trainer, coach dan mentor). Program eksekutif bersifat semi-virtual; pertemun fisik hanya pada waktu-waktu dan program yang disepakati, selebihnya bisa menggunakan sarana teknologi.

Kapan program berjalan, berapa biayanya/dari mana sumber dananya?

Insya Allah program bisa jalan tahun ini juga, bahkan pendaftaran peminat sudah mulai kami tampung. Sambil melakukan persiapan fisik untuk kelompok reguler di Tapos dan Jonggol, kami juga akan mulai mengundang para peminat untuk wawancara, dlsb setelah iedul fitri.

Kepada peserta kami tidak kenakan biaya, bahkan kepada peserta reguler akan mendapatkan uang saku dari kami. Namun karena target mereka menjadi tangan di atas, bukan tangan di bawah ? secara bertahap mereka akan didorong mampu berkarya untuk mendanai programnya sendiri sampai akhirnya lulus sebagai orang yang benar-benar mandiri.

Dana untuk program ini diambilkan dari program Baitul Mal-nya BMT Darul Muttaqiin yang akan terisi dari aktifitas Baitul Tamwil BMT yang sama, juga dari donatur yang secara sukarela tanpa ikatan apapun menyumbang untuk program ini.

Bagaimana cara mendaftar pada program ini?

Calon peserta yang tertarik dapat mengirimkan email ke wirausaha@dinarislam.com, dengan  memperkenalkan dirinya (CV) serta jenis-jenis usaha yang diminatinya.

Apa yang diharapkan pengelola program Pesantren Wirausaha ini?

Sama dengan pengelola pesantren, pesantren kilat, pesantren Ramadhan dan berbagai pesantren lainnya; kami hanya berharap program ini dapat menjadi wasilah dalam mendekatkan diri kami padaNya, semoga dengan ini Dia bisa ridhlo terhadap kami ?, kamipun ridlo dengan apapun yang sudah dan akan diberikanNya pada kami? insya Allah.

Posted in EntrepreneurshipComments (5)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes