Tag Archive | "Dr. Muhammad Yunus"

Strength In Numbers: Keberkahan Dari Kebersamaan


Dari sebuah hadits panjang yang saya ambilkan dari kitab Riyadus Shalihin, dari Abu Hurairah R.A. atau dari Abu Sa?id R.A. (perawi ragu namun tidak bermasalah karena keduanya adil), beliau berkata: ?Ketika perang Tabuk, orang-orang pada kelaparan? mereka berkata: ?Wahai Rasulullah, seandainya engkau memberi izin ? kami akan menyembelih unta kami, lantas kami makan dan lemaknya buat minyak.? Rasulullah bersabda: ?Lakukanlah? ; Umar datang lalu berkata: ?Wahai Rasulullah, bila engkau lakukan yang semacam itu kendaraan akan jadi sedikit. Tetapi perintahkanlah mereka untuk mengambil bekal mereka yang tersisa lalu taruhlah di depan engkau. Kemudian berdo?alah kepada Allah agar makanan tersebut berkah. Barangkali Allah mengabulkan sehingga makanan tersebut menjadi berkah?.

Lantas Rasulullah SAW bersabda: ?Ya? lalu beliau memerintahkan untuk digelar alas lantai, kemudian memerintahkan agar kelebihan bekal mereka dikumpulkan. Lantas seorang laki-laki datang dengan membawa segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kurma dan ada yang membawa segenggam roti. Sehingga terkumpullah di atas tikar sesuatu yang sedikit.

Kemudian Rasulullah SAW mendoakan agar diberi berkah. Lalu beliau bersabda: ?Ambillah, lalu taruhlah di wadah kalian?. Lantas mereka mengambil makanan tersebut, lalu ditaruh di kantong, bejana atau wadah mereka. Seluruh tempat yang di perkemahan itu dipenuhi dengan makanan. Mereka makan hingga perutnya kenyang. Sisanya-pun masih ada.

Saat itu Rasul SAW bersabda: ?Aku bersaksi, bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Bila seorang hamba berjumpa dengan Allah (kelak di hari kiamat) dan dia telah membacanya (bersyahadat), dia tidak ragu, maka dimasukkan ke surga.? (HR. Muslim)

Strength-in-NumbersDi antara  pelajaran dari hadits tersebut di atas yang bisa kita petik adalah, bahkan Rasulullah SAW memerlukan ikhtiar selain juga berdo?a untuk dapat menyelamatkan pasukannya dari kelaparan di medan perang. Jenis ikhtiar-nyapun adalah sesuatu yang dapat kita contoh, yaitu melibatkan anggota pasukan untuk berkontribusi. Betapapun sedikitnya kontribusi ini tidak terlalu masalah, karena dengan sedikit yang diberkahi ? maka problem seluruh pasukan teratasi.

Kebersamaan umat dewasa ini-pun mestinya bisa menyelesaikan berbagai permasalahan dunia modern. Ambil contoh permasalahan dalam bidang ekonomi. Seperti yang saya tulis tentang Muhammad Yunus, bahwasanya penyebab kemiskinan yang utama adalah timpangnya akses terhadap kapital. Bila akses terhadap kapital ini diatasi, maka insya Allah kemakmuran akan tumbuh merata.

Karena alasan ini pula para pendiri bangsa ini sebenarnya sudah memiliki pemikiran yang konkrit, yaitu menjadikan Koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia. Ide dasar koperasi adalah dari anggota ke anggota, jadi seperti pada hadits tersebut di atas ? bila masing-masing anggota berkontribusi sesuai kemampuannya ? maka kapital yang terkumpul akan menjadi sangat berguna untuk mengangkat kemakmuran para anggota.

Saya pernah berceramah di sebuah Pesantren Putri di perbatasan Jawa Tengah ? Jawa Timur yang diasuh oleh seorang Kyai. Saya belajar dari pak Pak Kyai yang bukan ekonom dan bukan pula pengusaha ini, bahwa dengan mengelola segala kebutuhan santriwati-nya yang ?hanya? sekitar 4000 orang secara bersama-sama setiap tahun Koperasi Pesantren-nya menghasilkan milyaran Rupiah Sisa Hasil Usaha.

Lha umat Islam di Indonesia ini kan jumlahnya tidak kurang dari 190 juta orang, masak nggak bisa makmur bila dikelola dengan baik secara bersama-sama seperti hadits di atas dan juga yang dicontohkan Pak Kyai? Ok mungkin ngurus orang banyak memang lebih sulit (sebenarnya juga bukan alasan karena sekian banyak juga resourcesnya), maka kita bisa mulai dari yang ada di sekitar kita.

Jumlah seperti yang dikelola Pak Kyai sekitar 4000-orang tersebut dengan mudah kita jumpai di lingkungan perusahaan tempat kita bekerja, lingkungan gedung tempat kantor berada, lingkungan perumahan tempat kita tinggal, dlsb.

Bayangkan kalau Anda bisa mengelola kebutuhan sehari-hari, kebutuhan investasi dan kebutuhan lainnya dari 4,000 orang ? maka akan sangat besar kemungkinannya Anda bersama-sama anggota lain yang bergabung di dalamnya akan menikmati kemakmuran bersama. Usaha bersama secara berkelompok dari anggota untuk anggota inilah yang di Indonesia dicita-citakan menjadi sokoguru perekonomian, dalam bentuknya koperasi biasa ataupun Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) atau BMT.

Dalam konteks Koperasi/BMT berbasis Dinar, bila Koperasi/BMT Anda bisa mengumpulkan 4,000 orang yang masing-masing menabung 1 Dinar saja akan terkumpul 4,000 Dinar kapital yang akan sangat memadai untuk mulai memutar perdagangan yang barokah memenuhi kebutuhan para anggota Koperasi/BMT Anda.

Mungkin tidak banyak yang bisa dilakukan dengan 1 (satu) koin Dinar yang tersimpan di rumah, namun kalau digabung dalam 1 BMT yang beranggotakan 4,000 ? maka 4,000 Dinar menjadi kekuatan ekonomi yang sudah cukup berarti; bagaimana kalau 4 juta Dinar?, dst. Inilah yang di dalam psikologi massa disebut Strength in Numbers, kekuatan yang hanya muncul bila dilakukan secara bersama-sama. Insya Allah.

Posted in Islamic ViewComments (0)

Pesantren Wirausaha Angkatan I: Seperti Belajar Berenang


Alhamdulillah Sabtu kemarin (10/10/09) Pesantren Wirausaha yang kita canangkan sejak beberapa bulan lalu kelas eksekutif perdananya telah mulai dan insya Allah berjalan dengan baik. Dengan antusiasme tinggi tetapi dengan suasana santai,  15 orang peserta dengan latar belakang pendidikan rata-rata SI dan S II mengikuti program kick off dari jam 09.00 sampai jam 15.00.

Untuk mudah ditangkap dan diimplementasikan para peserta, program Pesantren Wirausaha ini kita buat seperti melatih Anda untuk belajar berenang. Anda bisa baca berapa banyak-pun buku teori berenang dari penulis-penulis terbaik, setelah Anda nyemplung ke kolam renang hanya dengan bekal ilmu yang telah Anda pelajari teorinya tersebut ? kemungkinan besar Anda akan tenggelam.

Untuk belajar berenang, pelatih (coach) Anda hanya perlu mengajari teori dasar secukupnya ? setelah itu Anda terjun ke kolam renang di dampingi oleh sang pelatih. Pelatih akan mulai dari yang paling kecil risikonya ? tetapi paling esensial yaitu mengajari Anda untuk dapat mengapung di air dan tidak tenggelam. Setelah Anda bisa mengapung, Anda bisa mulai meluncur, kemudian belajar ambil nafas dan seterusnya sampai Anda bisa benar-benar berenang.

Dengan analogi tersebut, apa yang dalam dunia wirausaha dapat kita mulai dengan risiko kecil namun sangat esensial? ya belajar jualan! Menjual produk orang lain yang kita minati dan kita memiliki passion untuk produk tersebut. Setelah kita mendalami produk yang kita cintai ini, mengenal pasarnya, dan terbukti bisa menjualnya dengan baik ? baru kita dapat memproduksinya sendiri, mengembangkannya kelak, dst.

Agar proses belajar ?mengambang? (berjualan) ini berjalan dengan baik, kami tidak menentukan produk tertentu untuk latihan menjual. Kepada masing-masing peserta kita serahkan untuk memilih produknya sendiri, produk yang paling diminati yang yang nantinya akan menjadi usaha yang akan digelutinya.

Produk tersebut kemudian didalami dan didiskusikan dengan peserta lain (dan tentu di dampingi oleh coach), inilah saringan pertama apakah produk-produk yang diminati peserta tersebut adalah produk yang layak dijadikan usaha si peserta kelak atau tidak. Saringan yang sesungguhnya adalah setelah produk tersebut benar-benar dijual di pasar!

Produk-produk yang terpilih oleh angkatan perdana ini, akan menjadi produk bersama yang akan digunakan sebagai latihan menjual oleh seluruh peserta di angkatan ini. Dengan produk yang merupakan hasil seleksi bersama ini, peluang masing-masing peserta untuk bisa menjualnya diharapkan sangat besar.

Bila dari 15 orang diangkatan ini  misalnya nanti terpilih 10 produk.  Maka insya Allah akan ada 1-2 orang yang bisa menjual keseluruhan 10 produk, ada yang bisa menjual hanya 9, 8, 7, 6, dst. Adakah yang tidak bisa menjual sama sekali? insya Allah tidak ada! Karena kalau toh ada seorang peserta yang kesulitan menjual satu produk-pun; dia bisa belajar dari 14 peserta lainnya, peserta lain dengan suka rela akan membantu sampai semua bisa benar-benar menjual.

Teknik ini kita ambil dari hikmah shalat berjamaah; kemungkinan besar shalat kita banyak kekurangannya ? tetapi ketika kita shalat berjamaah ? maka kita akan ikut kesempurnaan shalat berjamaah. Hal yang sama ini akan berlaku pula ketika kita bermuamalah secara jama?i.  Ketidak sempurnaan yang satu insya Allah akan tertutup oleh  yang lain.

Belajar bermuamalah secara jama?i inilah yang membuat Muhammad Yunus sukses mengentaskan kemiskinan dengan Grameen Bank-nya di Bangladesh. Tingkat kegagalan (calon) pengusaha yang berkelompok dalam binaan Grameen Bank ini konon hanya 1 dari setiap 40 calon pengusaha.

Karena teknik yang kita pakai mengacu pada nilai-nilai shalat berjamaah, kita berharap keberhasilan kita minimal sama dengan tingkat keberhasilan pola Grameen Bank; hanya boleh 1 kegagalan dari setiap 3 angkatan (45 orang)?atau kita berharap 15 orang dari kelas perdana ini 100%-nya kelak menjadi pengusaha semua? Insya Allah!

Catatan:

Kelas eksekutif berikutnya insya Allah akan kick-off tanggal 24/10/09, namun ini juga sudah penuh karena untuk efektifitasnya program ini kami hanya menerima 15 peserta per angkatan. Bila Anda tertarik, masih mungkin untuk mengikuti program ini untuk angkatan ke 3 atau 4 yang dijadwalkan insya Allah di bulan November 2009, untuk ini silahkan mengirimkan CV Anda ke alamat kami di wirausaha@dinarislam.com.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Belajar Dari Muhammad Yunus


Banyak orang mengenal Dr. Muhammad Yunus sebagai pemenang hadiah nobel tahun 2006 dan pendiri konglomerasi bisnis the Grameen Family of Companies yang meliputi tidak kurang dari 25 bidang usaha. Dia pernah diundang ke Indonesia dan ketemu pemimpin-pemimpin negeri ini, tetapi sejauh ini saya belum melihat negeri ini belajar dari pemenang hadiah nobel yang satu ini.

Saya ceritakan perjalanan karir Dr. Muhammad Yunus di sini dengan harapan kita dapat belajar dari beliau dan tidak malu-malu untuk meniru hal-hal yang luar biasa yang telah dilakukannya, khususnya dalam memberi akses kapital terhadap kaum miskin.

Ketika lulus dari perguruan tinggi di Amerika dengan gelar doctor ekonomi, Dr. Muhammad Yunus memilih pulang ke kampung halamannya Bangladesh untuk mengajar dan menjadi professor di salah satu perguruan tinggi di sana.

Sementara dia menikmati posisi yang nyaman dengan pekerjaannya, pikirannya terteror oleh kenyataan bahwa tidak jauh dari tempat dia mengajar ? ratusan ribu orang menderita kelaparan di negerinya.

Dari investigasi yang dia kemudian lakukan, dia mendapati bahwa sebenarnya orang-orang yang dihimpit oleh kemiskinan dan kelaparan tersebut bukan karena mereka malas bekerja. Mereka adalah pekerja-pekerja yang sangat keras, hanya saja penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dari 42 orang yang diinterview di dalam suatu kampung, dia dapati bahwa masalah utama dari kemiskinan yang akut ini ternyata bukan masalah kemauan untuk bekerja keras ataupun ketidak adanya ketrampilan, penyebab utamanya ternyata adalah kapital! Orang-orang yang diinterview tersebut rata-rata punya ketrampilan yang memadai untuk membuat kerajinan tangan dan sejenisnya, tetapi mereka tercekik oleh rentenir yang bunganya bisa mencapai 1000%.

Begitu tingginya bunga tersebut , sehingga masyarakat yang tersandera oleh rentenir ini tidak akan pernah mentas dari kemiskinan. Sebaliknya dari waktu-kewaktu hidupnya akan semakin berat.

Dr. Yunus kemudian bereksperiman berikutnya dengan mengidentifikasi berapa sebenarnya kapital yang dibutuhkan oleh 42 orang tersebut untuk keluar dari lingkaran setan rentenir; Dia dapati total hanya butuh pinjaman US$ 27 (1974) untuk membiayai pekerjaannya!

Ironisnya ketika Dr. Yunus berusaha merekomendasikan 42 orang tersebut untuk mendapatkan pinjaman dari bank, Dr. Yunus ditertawakan oleh eksekutif bank yang ditemuinya. Intinya bank tidak bisa memberikan pinjaman karena orang-orang tersebut tidak memiliki jaminan. Tentu saja mereka tidak memiliki jaminan karena untuk makan sehari-hari saja mereka tidak cukup.

Dr. Yunus menceritakan pengalaman hari itu dengan kata-katanya sendiri sebagai berikut :

?Biasanya saya bisa tidur nyenyak begitu kepala saya menyentuh bantal, tetapi malam itu saya tergeletak di tempat tidur dengan rasa yang sangat malu. Saya bagian dari masyarakat yang tidak bisa memberi pinjaman US$ 27 terhadap 42 orang yang memiliki ketrampilan dan mampu bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri.?

Kini lebih dari 30 tahun sejak Dr. Yunus gelisah tidak bisa tidur, lebih dari 100 juta orang telah terbantu keluar dari lingkaran setan kemiskinan di Bangladesh oleh bank yang didirikannya yaitu Grameen Bank. Kinerja yang luar biasa karena 39 dari setiap 40 orang yang dibantunya berhasil mentas dari kemiskinan!

Kita memang tidak perlu menunggu pemerintah atau pemimpin-pemimpin kita meniru apa yang dilakukan oleh Dr. Yunus; kita sendiri sesungguhnya bisa berbuat untuk membantu mengatasi kemiskinan di sekitar kita.

Bagaimana caranya? saya melihat Baitul Maal wa Tamwil (BMT) bisa menjadi solusinya. Setiap 20 orang dari kita bisa bergabung dan mempelopori pendirian Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) atau BMT. Dari fungsi Baitul Maal (fungsi sosial) ? BMT, kita bisa memberi pinjaman tanpa beban kepada kaum miskin yang membutuhkannya.

Posted in Political EconomyComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes