Tag Archive | "Dinar"

Dunia Akan Membutuhkan Uang Baru Atau Sistem Barter Yang Canggih


Dalam tulisan saya awal pekan ini tentang bagaimana kita bisa mengalahkan inflasi, saya telah memberi gambaran betapa daya beli umat manusia di seluruh dunia tergerus oleh inflasi yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintahan negerinya masing-masing.

Kalau ada yang masih berpikir bahwa ada uang kertas dunia yang bertahan daya belinya, maka perhatikanlah kinerja uang kertas yang selama ini dipandang kuat di dunia seperti grafik di samping. Daya beli terhadap emas untuk Rupiah misalnya tinggal 20% selama 10 tahun terakhir, bila di awal tahun 2000 Anda bisa membeli 1 gram emas seharga Rp 66,000,- maka kini dengan uang yang sama Anda hanya bisa membeli 0.2 gram emas karena per gramnya kini telah menjadi Rp 330,000,-.

Bukan hanya Rupiah tetapi berbagai mata uang perkasa dunia-pun nasibnya hanya sedikit lebih baik dari Rupiah; dalam kurun waktu 10 tahun yang sama daya beli Poundsterling terhadap emas tinggal 23%, US Dollars tinggal 25%, Yen dan Sing Dollar tinggal 30% dan Euro tinggal 34%.

Mengapa emas pembandingnya? bukan data inflasi di masing-masing negara? Sederhana, di negara maju sekalipun seperti di Amerika yang katanya paling transparan dalam informasi – data inflasi resmi pemerintah negeri itu diragukan oleh rakyatnya sendiri sehingga munculah Shadow Government Statistic misalnya – pemerintah dianggap mempunyai ‘kepentingan’ terhadap data inflasi ini sehingga data yang dikeluarkan bisa jadi bukanlah data yang sebenarnya.

Di lain pihak daya beli emas sudah terbukti stabil selama lebih dari 1,400 tahun – bahwa 4.25 gram emas yang disebut 1 Dinar, selalu cukup untuk membeli 1 ekor kambing. Sehingga emas (bersama perak) memang layak sebagai satu-satunya timbangan yang adil dalam bermuamalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam ‘Ihya Ulumuddin sejak 10 abad lalu.

Dengan penurunan daya beli uang kertas seperti tersebut di atas, disadari atau tidak umat manusia akan semakin banyak yang merindukan hadirnya uang yang adil yang nilainya bebas inflasi – meskipun bisa jadi uang ini tidak diakui sebagai uang oleh sistem moneter yang dianut dunia saat ini.

Bila otoritas-otoritas keuangan dunia menerima kembali uang bernilai intrinsik seperti emas/Dinar atau perak/Dirham, maka urusan pencarian uang baru ini selesai sudah. Tinggal copy paste dari Syariah Islam tentang bagaimana penggunaan emas dan perak ini diatur – semuanya sudah komplit dan sudah dijalankan selama lebih dari 1000 tahun.

Masalahnya adalah sistem keuangan dunia saat ini yang dikomandoi IMF menolak kehadiran uang emas ini, jadi apa kira-kira yang akan terjadi? Masyarakat akan semakin tidak mempercayai rezim uang kertas dunia, tetapi uang bernilai intrinsik yang didambakan terhambat kehadirannya sehingga sulit untuk tersedia secara cukup di masyarakat. Maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah Sistem Barter yang akan berkembang.

Sistem Barter

Sistem Barter

Dengan berbagai perkembangan teknologi data processing yang semakin cepat dan murah, tidak mustahil sistem barter nan canggih akan segera tersedia di pasar. Bahkan di negeri tetangga misalnya sudah ada perusahaan yang menawarkan sistem barter ini untuk transaksi perdagangan business to business. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan ini telah meng-klaim memiliki ratusan ribu customer based dan telah memiliki ‘uang’-nya sendiri yang disebut Barter Trade Credit.

Bila sistem barter berkembang (ketika uang kertas terus menurun legitimasinya), maka benda-benda riil lah yang berharga dan bukan lagi uang kertas. Dahulu saya sulit memahami mengapa sampai garam-pun disebut dalam Hadits Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”

Setelah mempelajari sistem barter ini, kini saya tahu rupanya tidak ada yang tidak penting dalam setiap benda yang disebut di dalam hadits barter tersebut di atas – jadi bukan hanya emas dan perak yang berharga tetapi garam-pun sangat berharga. Hidup menjadi sungguh hambar tanpa garam – karena makanan yang seharusnya enak-pun menjadi tidak ada rasanya, otak yang seharusnya cerdas menjadi tidak berfungsi (iodium dalam garam juga berfungsi mencerdaskan otak).

Jadi kalau garam-pun bernilai untuk barter, benda-benda lain yang Anda miliki dan peroleh dengan susah payah – tentu bernilai dan bermanfaat untuk Anda. Kalaupun toh Anda sudah tidak membutuhkannya lagi, bisa jadi ada orang lain yang membutuhkannya – mengapa tidak berfikir untuk dibarter saja? Wa allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 5.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (0)

Investasi, Proteksi Nilai & Productivity: Kini Ketiganya Bisa Bersinergi


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada suatu pilihan dilematis tentang penggunaan dana investasi atau simpanan kita. Misalnya Anda mampu menabung 1 Dinar sebulan untuk biaya sekolah anak-anak Anda. Setelah 5 tahun Anda akan memiliki minimal 60 Dinar di tabungan Dinar Anda – yang insya Allah cukup untuk membiayai anak Anda masuk perguruan tinggi yang baik sekian tahun yang akan datang.

Namun sebelum dana tersebut digunakan untuk membiayai sekolah anak Anda, Anda juga ingin sekali terjun berwiraswasta dan yakin tentang peluang bisnis yang akan Anda tekuni – hanya modal yang jadi kendala. Dalam situasi demikian, mana yang akan Anda pilih?

  • Menggunakan dana tabungan biaya pendidikan anak Anda, dengan risiko ada kemungkinan Anda kesulitan memenuhi biaya pendidikan anak Anda nantinya.
  • Atau mempertahankan tabungan anak Anda apa adanya, dengan risiko mengurungkan niat Anda untuk berwiraswasta karena hambatan permodalan ini.
  • Atau menggunakan untuk usaha dahulu kemudian menabung kembali biaya sekolah anak Anda dari hasil usaha, dengan risiko saat itu harga Dinar/emas sudah tinggi sehingga akan berat untuk mengumpulkan 60 Dinar kembali seperti semula.

Situasi dilematis seperti ini dan sejenisnya, kini ada solusinya yang lebih aman untuk ketiganya. Ibarat soal ujian pilihan berganda (multiple choice), pilihan Anda kini bukan hanya pilih A atau B atau C; tetapi Anda kini bisa memilih ketiganya sekaligus yaitu A dan B dan C. Anda kini bisa memiliki tabungan Dinar yang terus tumbuh untuk keperluan jangka panjang Anda sekeluarga, Nilai daya beli Dinar yang stabil menjadi proteksi bagi investasi Anda dan pada saat yang bersamaan Anda dapat menggunakan tabungan tersebut sebagai jaminan atas modal usaha Anda.

Program Investasi, Proteksi dan Productivity dalam bentuk Pinjaman Tanpa Beban untuk komersial ini adalah produk terbaru hasil kreasi bersama kami dengan Koperasi BMT Daarul Muttaqiin. Intinya adalah Anda bisa memperoleh pinjaman modal dagang – kita fokuskan dahulu pada modal dagang karena kita memerlukan putaran yang cepat – sampai sebesar 90% dari simpanan Dinar Anda – tanpa beban biaya apapun sampai waktu maksimal 3 bulan. Bila dalam waktu 3 bulan Anda tidak bisa mengembalikan sebagian atau seluruhnya, maka tabungan Anda baru diambil sebesar jumlah yang gagal bayar tersebut.

Adapun syarat dan kondisi dari Pinjaman Tanpa Beban untuk tujuan komersial ini adalah sebagai berikut:

  1. Peminjam harus anggota koperasi/pemilik Tabungan M-Dinar dari BMT Daarul Muttaqiin atau peserta Qirad.
  2. Jumlah pinjaman tidak dibatasi, asal ada jaminan berupa Dinar fisik, Tabungan M-Dinar, atau modal Qirad yang besarnya 100/90 (111%) dari nilai pinjaman.
  3. Jaminan tidak harus dari pihak si peminjam, tetapi bisa dari pihak lain yang bersedia menjadi kafil (penjamin) dari si peminjam.
  4. Selama dijaminkan, Dinar senilai jaminan di simpanan atau Qirad tidak mendapatkan bagi hasil.
  5. Waktu pinjaman maksimum 3 bulan.
  6. Tidak dikenakan beban biaya apapun.
  7. Pinjaman diberikan dalam bentuk Dinar, dan dikembalikan juga dalam bentuk Dinar dalam jumlah yang sama.
  8. Peminjam hanya bisa meminjam sekali dalam satu periode; dia harus melunasi pinjaman sebelumnya bila hendak mengajukan pinjaman berikutnya.
  9. Karena program ini merupakan bentuk layanan pelengkap (complement) terhadap nasabah kami, maka Dinar yang bisa dijadikan jaminan oleh peminjam atau oleh kafil hanyalah Dinar standar Logam Mulia yang dibeli langsung dari kami ataupun melalui agen-agen resmi. Demikian pula pengembalian pinjaman juga harus merupakan Dinar standar Logam Mulia yang dibeli langsung dari kami atau agen-agen resminya.

Tata cara untuk mengajukan program Pinjaman Tanpa Beban ini juga kita buat sederhana sebagai berikut:

  1. Calon peminjam mengajukan proposal peminjaman yang bentuknya bebas, tetapi setidaknya menjelaskan tentang: detil usaha perdagangan yang memerlukan pendanaan, penanggung jawab usaha, besar dana yang dibutuhkan dan rencana pengembaliannya.
  2. Nama dan nomor account/aqad tabungan yang akan menjadi jaminan; kalau jaminan dari kafil maka yang dibutuhkan adalah nama dan nomor account/aqad dari kafil tersebut.
  3. Menandatangani Surat Perjanjian Pinjaman; bila melibatkan kafil – maka diperlukan juga surat jaminan dari kafil.

Dengan produk Pinjaman Tanpa Beban untuk kebutuhan komersial ini, insya Allah Dinar Anda akan semakin bermanfaat – bukan hanya untuk diri Anda beserta keluarga, tetapi juga menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

Lantas dengan produk ini apa yang kami peroleh? Imbalan langsung dari pinjaman ini mungkin memang tidak ada karena kan ini Program Pinjaman (Qard) – tidak boleh ada tambahan yang diperjanjikan di depan dalam bentuk apapun.

Balasan tidak langsungnya insya Allah sangat banyak, karena yang akan membalas adalah Dia Yang Maha Kaya yang ketika memberi rizki tidak perlu menghitung-hitung, dan Dia sangat mampu memberi rizki yang tidak kita sangka-sangka. Dia hanya akan membalas kebaikan dengan kebaikan pula, Hal Jaza Ul Ikhsan Illal Ikhsan….

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 5.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (0)

Mengalahkan Inflasi, Insya Allah Kita Bisa


Dalam Ilmu Ekonomi, yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan harga-harga terhadap barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Menurut para penganut Teori Monetarist, penyebab utama inflasi ini adalah supply uang. Bahkan dalam pandangan Monetarist Economist terkenal Milton Friedman “Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon.”

Dalam sistem ekonomi barat ada yang berpendapat bahwa inflasi ini ada positifnya karena antara lain berguna untuk mendorong investasi sektor riil. Ketika inflasi tinggi orang cenderung untuk tidak mempertahankan assetnya dalam bentuk uang – tetapi dalam bentuk barang, kebutuhan akan barang inilah yang mengangkat produksi dan memutar ekonomi.

Dalam Islam, produksi sektor riil tidak didorong oleh inflasi tetapi oleh putaran uang yang lebih cepat. Kekayaan bukan untuk ditimbun tetapi berputar ke masyarakat luas – berputar tidak hanya pada yang kaya tetapi juga pada yang miskin. Dalam pandangan Ibnu Taimiyyah, pemerintah yang mencetak fulus melebihi kebutuhan transaksi – dus menyebabkan inflasi – adalah pemerintah yang mendhalimi rakyatnya.

Pandangan Ibnu Taimiyyah inilah yang sebenarnya lebih pas untuk manusia modern di zaman ini sekalipun. Pemerintah-pemerintah dunia akan mampu menjaga kemakmuran rakyatnya bila mereka bisa menurunkan atau bahkan menghilangkan inflasi – kalau saja mereka mau!

Rice Price in US$Contoh betapa inflasi menyengsarakan rakyat seluruh dunia dapat Anda lihat pada grafik di samping. Grafik yang saya buat berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Rice Research Institute (IRRI) ini menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir saja, harga beras di dunia telah mengalami kenaikan rata-rata hampir 2X lipat. Padahal sangat sedikit porsi penduduk dunia yang bisa meningkatkan penghasilannya 2X lipat dalam periode tersebut.

Artinya, rata-rata penduduk dunia menurun tingkat kemakmurannya – karena penurunan daya beli uangnya ini. Hal ini juga bisa kita rasakan di rumah tangga kita masing-masing. Bisa saja penghasilan kita meningkat dari tahun ke tahun, tetapi kok beban hidup tidak terasa lebih ringan ya…? Bila Anda merasakan hal yang sama – sangat bisa jadi ini karena kenaikan penghasilan Anda kalah cepat dengan inflasi terhadap harga-harga kebutuhan pokok Anda.

Yang bisa mengendalikan inflasi ini adalah pemerintah khususnya otoritas moneter; rakyat seperti kita tidak bisa mengendalikan inflasi ini. Meskipun demikian, sebenarnya ada yang bisa dilakukan oleh rakyat seperti kita-kita untuk tidak menjadi korban inflasi ini. Dengan apa kita dapat melakukan ‘perlawanan’ terhadap inflasi ini?

Dengan meminimise penggunaan uang yang menjadi penyebab inflasi tersebut. Menurut para penganut paham Monetarist di atas, inflasi kan disebabkan oleh supply uang – ya jangan taruh kekayaan Anda yang kegunaannya bersifat jangka panjang dalam bentuk uang. Bila Mayoritas kekayaan Anda tersimpan dalam nominal mata uang (Rupiah, US$, dlsb), maka daya beli kekayaan Anda tersebut akan terus menurun bersamaan dengan waktu. Bila dalam 5 tahun terakhir saja harga beras internasional rata-rata naik 2X, berarti daya beli uang Anda terhadap beras turun tinggal ½-nya – maka bisa Anda bayangkan bila 15 tahun dari sekarang Anda pensiun misalnya – maka saat itu daya beli asset Anda bisa jadi sangat tidak memadai untuk kehidupan saat itu.

Dalam situasi inflasi yang sangat tinggi sekalipun (hyper inflasi), harga barang-barang naik relatif bersamaan – maka nilai tukar benda riil yang satu relatif stabil terhadap benda riil yang lain. Artinya bila asset Anda berupa benda riil yang tidak aus atau rusak, maka daya beli asset Anda tersebut insya Allah akan relatif stabil. Salah satu benda riil yang tidak aus/rusak, sangat likuid dan statitisk daya belinya terbukti sepanjang zaman adalah Emas atau Dinar.

Rice Price in GoldEmas atau Dinar terbukti memiliki daya beli relatif stabil sepanjang lebih dari 1, 400 tahun; bukan hanya dengan 1 Dinar tetap dapat membeli 1 ekor kambing sejak zaman Nabi – sampai sekarang; untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras pun insya Allah relatif stabil. Bila data dari IRRI tersebut saya sajikan kembali dalam nilai emas; maka Anda akan bisa lihat pada grafik di samping bahwa harga beras rata-rata berfluktuasi di sekitar 0.7 oz emas/ton beras. Ada yang di kisaran 1 oz emas/ton beras, namun ada juga yang di 0.5 oz emas/ton beras.

Perbedaan harga karena jenis/kwalitas ini wajar, karena di barang apapun termasuk di kambing pun juga demikian. Kambing-kambing yang kami pelihara di Pesantren Daarul Muttaqiin untuk indukan rata-rata 2 Dinar, bahkan pejantan unggul bisa berharga di atas 10 Dinar. Tetapi secara umum di pasar 1 Dinar akan tetap dapat untuk membeli kambing yang cukup baik.

Demikian pula di beras; ada beras Jepang yang sangat mahal, tetapi dengan 0.7 Oz emas atau sekitar 5 Dinar Anda tetap dapat membeli beras 1 ton di sepanjang masa. Masih ada satu lagi, dalam 5 tahun terakhir setelah ditimbang/dinilai dengan emas-pun harga beras tidak menjadi datar – tetapi bergelombang membentuk gelombang sinus; inilah dampak dari naik turunnya harga yang fitrah karena mekanisme pasar supply and demand – bukan lagi faktor inflasi.

Karena inflasi bisa dilawan dengan pertukaran barang yang satu dengan yang lain tanpa menggunakan uang; maka inilah yang melatar belakangi bangsa-bangsa di dunia sedang berlomba menciptakan Sistem Barter Modern – seperti juga yang sedang kita kaji dalam IndoBarter Project. Tidak akan mudah memang, tetapi untuk sesuatu problem yang tidak pernah bisa diatasi oleh pemerintah-pemerintah dunia – yaitu problem inflasi; maka hal yang sulit tersebut cukup menantang untuk dicoba – Insya Allah.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Antara Mekanisme Pasar Yang Fitrah & Inflasi Yang Harus Dicegah


Sudah beberapa hari ini harga emas mengalami penurunan dan puncaknya semalam ketika pasar internasional turun secara significant dari US$ 1,121/Oz ke angka US$ 1,108/Oz. Akibatnya pagi ini harga Dinar kembali turun mendekati angka Rp 1.4 juta lagi. Ini kabar baik bagi kita yang di Indonesia, bahwa uang kita masih bernilai baik – meskipun (mungkin) ini hanya bersifat jangka pendek.

Pada kesempatan ini saya ingin share data harga emas dalam Rupiah yang sudah terkumpul di sistem kami sejak 14 September 2007. Pada grafik di bawah Anda akan lihat pergerakan naik turunnya harga emas harian, yang kurang lebih berimbang antara hari-hari dimana harga emas naik dan hari-hari dimana harga emas turun.

Naik turunnya harga emas harian ini lebih banyak didorong oleh mekanisme pasar yang bekerja secara global; ketika harga tinggi orang banyak yang menjual emasnya sehingga supply meningkat dan akan mendorong harga turun. Demikian pula ketika harga rendah, banyak peminat akan berburu emas sehingga demand meningkat dan harga kembali naik, demikian seterusnya.

daily-changeKalau harga emas hanya didorong oleh mekanisme pasar, maka seharusnya angka berfluktuasi pada kisaran nilai tertentu – seperti bandul jam yang berayun di sekitar angka 6.  Namun ternyata tidak demikian yang terjadi pada harga emas; di awal sistem kami mulai mencatat harga emas harian, harga ini berada di kisaran Rp 220,000/gram ; kini harga berada pada kisaran Rp 330,000/gram atau naik sekitar 50% dalam 2.5 tahun terakhir.

Artinya selain mekanisme pasar yang mendorong berayunnya harga emas secara harian tersebut; ada kekuatan lain yang hari demi hari mendorong harga emas ke atas. Kekuatan lain ini hanya nampak bila kita lihat dalam rentang waktu yang panjang  - kekuatan apa ini? Inilah yang namanya inflasi atau penurunan daya beli uang kertas terhadap benda riil yang dalam hal ini diwakili oleh emas.

Naik turunnya harga karena mekanisme pasar ini tidak boleh dicampuri oleh siapapun; bahkan dalam Islam, Rasulullah SAW-pun tidak mau mempengaruhi-nya sebagaimana Hadits Ashabus Sunan dengan perawi yang shahih sebagai berikut:

Telah meriwayatkan dari Anas R.A., ia berkata :Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami. Rasulullah SAW lalu menjawab, ‘Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta.”

Sebaliknya dorongan kenaikan harga secara terus menerus yang disebabkan oleh inflasi mata uang kertas, ini tidak boleh terjadi. Penguasa negeri wajib mengendalikan jumlah uang (fulus) yang beredar sehingga rakyat tidak terdhalimi oleh penurunan nilainya. Inilah yang sudah juga diingatkan oleh Ibnu Taimiyyah berikut:

Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga, kertas, dlsb.) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka.”

Masalahnya sekarang adalah kita hidup di zaman uang kertas; di seluruh dunia uang kertas inilah yang digunakan – dan tidak ada satu negarapun yang terbukti bisa mengendalikan inflasi. Maka sangat bisa jadi kini zamannya sudah semakin dekat prediksi pemenang hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1974 Friedrich August Von Hayek, dan juga prediksi ‘Dewa’ Ekonomi-nya dunia barat John Naisbitt untuk terbukti: masanya uang ‘swasta’ untuk berjaya menggantikan uang nasional.

Bila megatrend itu bener-bener terjadi, maka insya Allah kita-pun sudah siap untuk menyongsongnya. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke JalanNya. Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Islamic ViewComments (0)

Belajarlah Emas Walau Sampai Negeri China


Pada dasawarsa pertama kemerdekaan RI, negeri ini pernah memiliki cadangan emas sebesar 248 ton tetapi kemudian cadangan emas ini juga pernah nyaris habis tahun 1971 menjadi tinggal 1.8 ton saja. Ketika Oil Boom tahun 70-an sampai puncaknya 1981, negeri ini alhamdulillah berhasil kembali membangun cadangan emasnya sampai mencapai sekitar 96 ton.

Sayangnya selama ¼ abad kemudian tepatnya sampai 2006, cadangan emas ini tidak berhasil dinaikkan dan bahkan berkurang 24%-nya pada akhir 2006 sehingga tinggal 73 ton saja. Lihat detilnya di tulisan saya sebelumnya dengan judul Emas & Kemakmuran Negeri Ini.

Mengapa sampai bangsa ini tidak menganggap penting cadangan emas yang bisa menjadi instrumen untuk membangun ketahanan ekonomi (Yukhsinun) selama lebih dari ¼ abad terakhir? Dugaan saya sendiri adalah karena ekonomi kita adalah ekonomi ala IMF banget. Kita tahu dalam sistem IMF, bahkan mereka melarang negara-negara anggotanya menggunakan emas sebagai rujukan mata uangnya (Article IV, Section 2. B).

Akibat pelarangan ini sampai-sampainya otoritas pasar modal kita beberapa tahun lalu ketika ingin mempromosikan dagangannya menggunakan iklan yang memojokkan emas. Dalam iklan tersebut investasi emas digambarkan sebagai investasinya ibu-ibu yang suka pamer, yang lagi meringis menunjukkan gigi emasnya sambil mengangkat tangannya yang dipenuhi gelang emas.

Inilah gambaran betapa kita ter-makan oleh propaganda anti emas yang di stimulir oleh IMF melalui salah satu pasal di Articles of Agreement tersebut. Negara-negara yang tidak termakan propaganda oleh IMF ini melakukan hal yang exactly sebaliknya. Kita bisa belajar dari China misalnya untuk yang terakhir ini.

Ketika kita mengurangi cadangan emas kita sampai 24%-nya; China berhasil meningkatkan cadangan emasnya dari 600-an ton tahun 2003, sampai mencapai 1,054 ton akhir tahun lalu. Ketika institusi resmi pasar modal kita membuat iklan yang  memojokkan orang-orang yang berinvestasi pada emas, pemerintah China bahkan mendorong rakyatnya agar rame-rame membeli emas melalui kampanye besar-besaran yang disiarkan oleh China Central Television. Lebih jauh lagi pemerintah China juga mendirikan Shanghai Gold Exchange untuk mempermudah rakyatnya dalam berinvestasi emas.

Mengapa China melakukan hal yang berlawanan dengan resep umum IMF ini? Dugaan saya lagi karena China tahu bahwa sesungguhnya emas itulah instrumen yang paling efektif dalam mengamankan kekayaan negeri itu beserta kekayaan rakyatnya.

Di antara negara-negara yang paling drastis penurunan cadangan emasnya, mayoritasnya justru negara yang penduduk mayoritasnya muslim seperti Indonesia. Bangladesh contohnya saat ini tinggal memiliki cadangan emas sebesar 3.5 ton saja; Iraq tinggal 5.9 ton; dan negeri jiran kita kini hanya memiliki 36.4 ton padahal sebelum krisis 1997/1998 mereka memiliki cadangan emas sekitar 2 kali  dari yang dimilikinya sekarang.

Mungkin Anda bertanya, lho kan memang menimbun emas adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam? Betul, menimbun emas dan perak dan tidak dinafkahkan di jalan Allah diancam dengan siksa yang sangat pedih. Tetapi di sisi lain, emas dan perak juga dijadikan hakim/timbangan yang adil dalam bermuamalah. Bahkan batas kewajiban orang kaya dengan hak orang miskin juga ditentukan dengan emas ini yaitu dalam bentuk nishab zakat yang 20 Dinar.

Artinya membangun cadangan emas baik oleh negara maupun rakyat, tidak harus identik dengan menimbun. Ketika kita berhasil menjadikan emas/Dinar kita sebagai hakim yang adil dalam menggerakkan ekonomi; maka di situlah ketahanan ekonomi umat dan bangsa ini insya Allah akan terbangun.

Misi untuk menjadikan emas/Dinar sebagai penggerak sektor riil seperti yang pernah saya tulis misalnya, adalah salah satu upaya kecil yang bisa kita lakukan untuk membangun ketahanan ekonomi agar kita tidak mudah terjajah – dan pada saat bersamaan kita juga terlibat langsung dalam mempercepat putaran ekonomi.

6 bulan sejak tulisan tersebut kita luncurkan, kini produk-produk solusi pembiayaan berbasis emas/Dinar benar-benar telah dapat ditangani dengan baik oleh kami beserta mitra-mitranya. Semoga Allah selalu menunjuki kita jalanNya. Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Strength In Numbers: Keberkahan Dari Kebersamaan


Dari sebuah hadits panjang yang saya ambilkan dari kitab Riyadus Shalihin, dari Abu Hurairah R.A. atau dari Abu Sa’id R.A. (perawi ragu namun tidak bermasalah karena keduanya adil), beliau berkata: “Ketika perang Tabuk, orang-orang pada kelaparan” mereka berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya engkau memberi izin – kami akan menyembelih unta kami, lantas kami makan dan lemaknya buat minyak.” Rasulullah bersabda: “Lakukanlah” ; Umar datang lalu berkata: “Wahai Rasulullah, bila engkau lakukan yang semacam itu kendaraan akan jadi sedikit. Tetapi perintahkanlah mereka untuk mengambil bekal mereka yang tersisa lalu taruhlah di depan engkau. Kemudian berdo’alah kepada Allah agar makanan tersebut berkah. Barangkali Allah mengabulkan sehingga makanan tersebut menjadi berkah”.

Lantas Rasulullah SAW bersabda: “Ya” lalu beliau memerintahkan untuk digelar alas lantai, kemudian memerintahkan agar kelebihan bekal mereka dikumpulkan. Lantas seorang laki-laki datang dengan membawa segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kurma dan ada yang membawa segenggam roti. Sehingga terkumpullah di atas tikar sesuatu yang sedikit.

Kemudian Rasulullah SAW mendoakan agar diberi berkah. Lalu beliau bersabda: “Ambillah, lalu taruhlah di wadah kalian”. Lantas mereka mengambil makanan tersebut, lalu ditaruh di kantong, bejana atau wadah mereka. Seluruh tempat yang di perkemahan itu dipenuhi dengan makanan. Mereka makan hingga perutnya kenyang. Sisanya-pun masih ada.

Saat itu Rasul SAW bersabda: “Aku bersaksi, bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Bila seorang hamba berjumpa dengan Allah (kelak di hari kiamat) dan dia telah membacanya (bersyahadat), dia tidak ragu, maka dimasukkan ke surga.” (HR. Muslim)

Strength-in-NumbersDi antara  pelajaran dari hadits tersebut di atas yang bisa kita petik adalah, bahkan Rasulullah SAW memerlukan ikhtiar selain juga berdo’a untuk dapat menyelamatkan pasukannya dari kelaparan di medan perang. Jenis ikhtiar-nyapun adalah sesuatu yang dapat kita contoh, yaitu melibatkan anggota pasukan untuk berkontribusi. Betapapun sedikitnya kontribusi ini tidak terlalu masalah, karena dengan sedikit yang diberkahi – maka problem seluruh pasukan teratasi.

Kebersamaan umat dewasa ini-pun mestinya bisa menyelesaikan berbagai permasalahan dunia modern. Ambil contoh permasalahan dalam bidang ekonomi. Seperti yang saya tulis tentang Muhammad Yunus, bahwasanya penyebab kemiskinan yang utama adalah timpangnya akses terhadap kapital. Bila akses terhadap kapital ini diatasi, maka insya Allah kemakmuran akan tumbuh merata.

Karena alasan ini pula para pendiri bangsa ini sebenarnya sudah memiliki pemikiran yang konkrit, yaitu menjadikan Koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia. Ide dasar koperasi adalah dari anggota ke anggota, jadi seperti pada hadits tersebut di atas – bila masing-masing anggota berkontribusi sesuai kemampuannya – maka kapital yang terkumpul akan menjadi sangat berguna untuk mengangkat kemakmuran para anggota.

Saya pernah berceramah di sebuah Pesantren Putri di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur yang diasuh oleh seorang Kyai. Saya belajar dari pak Pak Kyai yang bukan ekonom dan bukan pula pengusaha ini, bahwa dengan mengelola segala kebutuhan santriwati-nya yang ‘hanya’ sekitar 4000 orang secara bersama-sama setiap tahun Koperasi Pesantren-nya menghasilkan milyaran Rupiah Sisa Hasil Usaha.

Lha umat Islam di Indonesia ini kan jumlahnya tidak kurang dari 190 juta orang, masak nggak bisa makmur bila dikelola dengan baik secara bersama-sama seperti hadits di atas dan juga yang dicontohkan Pak Kyai? Ok mungkin ngurus orang banyak memang lebih sulit (sebenarnya juga bukan alasan karena sekian banyak juga resourcesnya), maka kita bisa mulai dari yang ada di sekitar kita.

Jumlah seperti yang dikelola Pak Kyai sekitar 4000-orang tersebut dengan mudah kita jumpai di lingkungan perusahaan tempat kita bekerja, lingkungan gedung tempat kantor berada, lingkungan perumahan tempat kita tinggal, dlsb.

Bayangkan kalau Anda bisa mengelola kebutuhan sehari-hari, kebutuhan investasi dan kebutuhan lainnya dari 4,000 orang – maka akan sangat besar kemungkinannya Anda bersama-sama anggota lain yang bergabung di dalamnya akan menikmati kemakmuran bersama. Usaha bersama secara berkelompok dari anggota untuk anggota inilah yang di Indonesia dicita-citakan menjadi sokoguru perekonomian, dalam bentuknya koperasi biasa ataupun Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) atau BMT.

Dalam konteks Koperasi/BMT berbasis Dinar, bila Koperasi/BMT Anda bisa mengumpulkan 4,000 orang yang masing-masing menabung 1 Dinar saja akan terkumpul 4,000 Dinar kapital yang akan sangat memadai untuk mulai memutar perdagangan yang barokah memenuhi kebutuhan para anggota Koperasi/BMT Anda.

Mungkin tidak banyak yang bisa dilakukan dengan 1 (satu) koin Dinar yang tersimpan di rumah, namun kalau digabung dalam 1 BMT yang beranggotakan 4,000 – maka 4,000 Dinar menjadi kekuatan ekonomi yang sudah cukup berarti; bagaimana kalau 4 juta Dinar?, dst. Inilah yang di dalam psikologi massa disebut Strength in Numbers, kekuatan yang hanya muncul bila dilakukan secara bersama-sama. Insya Allah.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Islamic ViewComments (0)

Paradox US$, Rupiah & Harga Emas


Melalui beberapa tulisan saya sebelumnya, saya sudah mengungkapkan ‘keperkasaan’ uang kertas US$ maupun Rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Rupiah misalnya saat artikel ini saya tulis berada pada nilai tukar Rp 9,257/US$ ; ini angka yang luar biasa ‘perkasa’ mengingat Rupiah sempat menyentuh angka Rp 12,000/US$ pada puncak krisis akhir 2008.

Logikanya adalah apabila Rupiah lagi perkasa, bukankah barang-barang kebutuhan kita bisa kita beli dengan murah saat ini? Ternyata tidak seluruhnya demikian. Untuk barang-barang yang biasa kita beli dari luar seperti komputer, software, dlsb.; memang terasa penurunan harga barang-barang ini dalam Rupiah.

Namun untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gula, dlsb; ibu-ibu yang suka belanja lebih tahu – harga barang-barang kebutuhan seperti ini tidak mengenal turun. Bahkan khususnya beras, saat ini lagi dirasakan mahal-mahalnya oleh masyarakat kita.

Mengapa demikian? Karena menguat atau melemahnya Rupiah bukan diukur dari daya beli riil terhadap kebutuhan kita sehari-hari; melainkan diukur relatif terhadap kekuatan mata uang lain. Padahal mata uang negara lain ini baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama tidak mencerminkan daya beli riilnya juga.

usd-index-0310Paradox kekuatan mata uang terhadap daya beli riilnya ini lebih mudah bila dilihat dengan harga barang yang bersifat baku. Lagi-lagi saya gunakan emas sebagai barang yang memiliki nilai daya beli baku karena sudah terbukti lebih dari 1400 tahun 4.25 gram emas (1 Dinar) cukup untuk membeli 1 ekor kambing.

Perhatikan grafik di samping untuk melihat Paradox daya beli US$ ini secara visual. Anda bisa lihat pada umumnya harga emas turun ketika kekuatan US$ yang diukur dengan US$ Index naik, namun beberapa bulan terakhir meskipun US$ Index naik – harga emas dalam US$ juga tetap naik.

Apa maknanya ini? Inilah tanda-tanda menurunnya daya beli secara keseluruhan dari sistem mata uang dunia. US$ yang sedang menunjukkan keperkasaannya saja, daya belinya secara significant menurun sampai lebih dari 50% dalam waktu kurang dari 5 tahun saja (tepatnya sejak januari 2006). Apalagi mata uang negara lain yang pada umumnya lemah!

Trend inilah yang saya duga juga dipahami oleh petinggi IMFsehingga merekapun mendorong bangsa-bangsa di dunia untuk siap-siap meninggalkan US$ – terlepas dibalik ini sangat bisa jadi mereka juga memiliki agenda lain untuk mengantisipasi kehancuran US$ ini.

Lantas apa langkah antisipasi kita untuk terhindar dari depresiasi nilai terhadap hasil jerih payah kita berpuluh tahun? Usahakan simpanan jangka panjang Anda dalam bentuk benda-benda atau investasi yang memiliki aset riil seperti Emas/Dinar, kebun, barang dagangan, dlsb. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Barter Di Ekonomi Modern, Mungkinkah?


Dalam sejarah peradaban manusia; penemuan konsep uang sejak sekitar 5,000 tahun lalu oleh bangsa Mesopotamia (3000 SM) merupakan penemuan yang  paling penting untuk mempermudah terjadinya perdagangan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.

‘Uang’ Shekel yang diperkenalkan zaman itu adalah setara berat 180 butir gandum untuk benda-benda yang dianggap berharga seperti perak, perunggu, tembaga, dlsb. Tercatat dalam sejarah 13 Abad kemudian (1760 SM) bahkan uang juga mulai secara resmi masuk dalam sistem hukum yang dikenal dengan Hukum Hammurabi – karena diperkenalkan oleh Raja ke 6 dari bangsa Babylonia yang bernama Hammurabi.

prasasti Hukum Hammurabi

prasasti Hukum Hammurabi

Sebelum uang dikenal, perdagangan antar umat manusia mengandalkan Sistem Barter. Karena barter saat itu hanya dilakukan antar 2 belah pihak yang secara kebetulan saling membutuhkan barang atau jasa pihak lain, maka perdagangan tentu sulit untuk terjadi secara aktif. Hambatan perdagangan ini adalah karena kondisi yang disebut coincidence of wants (kebutuhan yang secara kebetulan saling sesuai) sebagai prasyarat terjadinya barter – tidak mudah terpenuhi.

Kemudahan yang difasilitasi oleh adanya konsep uang inilah yang kemudian selama beribu tahun kemudian – hingga kini – menjadi mesin penggerak perdagangan yang utama. Dalam perdagangan yang menggunakan konsep uang, tidak harus lagi ada kondisi coincidence of wants.

Hanya saja dalam perkembangannya, manusia modern yang kelewat tergantung pada uang – kemudian menjadikan uang bukan semata sebagai alat tukar dalam perdagangan. Sejak manusia modern menggunakan uang kertas yang semakin canggih; bahkan sekarang uang kertas-nya pun tidak harus  dicetak lagi – cukup diketikkan dalam angka-angka komputer di bank sentral yang disebut Quantitative Easing misalnya, selain sebagai solusi uang juga dapat menjadi musibah bagi sesama.

Uang dapat menjadi satu alat untuk menjajah satu bangsa oleh bangsa lain; uang juga dapat menjadi alat yang efektif bagi penguasa untuk menarik ‘pajak’ secara tersembunyi kepada seluruh rakyat tanpa kecuali melalui apa yang disebut inflasi. Ketergantungan kepada uang juga dapat membuat sebagian manusia menjadi sangat miskin karena ulah sebagian yang lain – ingat apa yang kita alami di Indonesia selama puncak krisis tahun 1997-1998.

Lantas apakah dengan efek samping-efek samping yang saya sebutkan di atas, uang harus ditinggalkan dan kita kembali ke zaman barter seperti sebelum 5000 tahun lalu? Tentu jawabannya juga tidak sedemikian ekstrim. Hal-hal positif yang terkait dengan uang (seperti fleksibilitasnya dalam menjembatani kebutuhan antara manusia yang tidak selalu bisa memenuhi syarat coincidence of wants) tetap terus dapat dipakai; pada saat yang bersamaan efek samping-nya harus diminimalisir. Dinar (uang emas) dan Dirham (uang peraklah) yang sebenarnya mampu membuktikan fungsi uang yang sesungguhnya ini selama ribuan tahun – tanpa berbagai efek samping seperti yang kita kenal sekarang.

Di sisi lain seefektif apapun uang dapat berfungsi memfasilitasi perdagangan; konsep barter sesungguhnya juga tetap menjadi konsep perdagangan yang valid sepanjang zaman. Dalilnya adalah Hadits Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”

barter-modernKarena Islam adalah agama akhir zaman, maka apa-apa yang diajarkan dalam Islam tentu juga valid sampai akhir zaman. Penggalan kalimat terakhir dari Hadits di atas yang berbunyi “…Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai ini mengisyaratkan kita dapat melakukan barter sampai akhir zaman.

Bukti empiris keberadaan barter di zaman modern inipun pernah saya tulis dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Dinar Equity Exchange…”; dan bahkan Negara-negara kuat dunia saat ini sedang mempersiapkan sistem barter yang canggih untuk bisa memfasilitasi perdagangan diantara mereka tanpa harus tergantung pada mata uang tertentu, untuk ini lihat tulisan saya lainnya seperti “China Bersiap Memimpin Perdagangan Dunia…”.

2 sistem barter modern yang saya perkenalkan dalam tulisan-tulisan tersebut di atas, keduanya bisa berjalan efektif bila bisa menciptakan – kondisi yang ribuan tahun lalu bermasalah – kondisi coincidence of wants.

Dengan teknologi data processing yang bisa bekerja sangat cepat dan murah seperti sekarang ini, maka coincidence of wants ini bisa dipertemukan dari sejumlah besar pihak peserta barter – tidak terbatas pada hanya 2 pihak seperti ribuan tahun lalu.  Dari sinilah teknik-teknik barter modern yang kemudian disebut Multileg Exchange atau Multileg Barter berkembang.

Dengan perkembangan-perkembangan perdagangan modern tersebut; visi gerakan Dinar kami tidak hanya terbatas pada menyediakan Dinar yang dibutuhkan oleh masyarakat dan menjadikan Dinar sebagai penggerak sektor riil – tetapi kita juga terus melakukan riset dan pengembangan yang terkait dengan perdagangan pada umumnya.

Dalam kaitan dengan kepeloporan di bidang barter modern ini misalnya, kami bekerjasama dengan beberapa pihak kini tengah mengkajinya dan menyiapkannya dalam project yang kita sebut IndoBarter Project – agar kita tidak ketinggalan dari China, India, Brasil, Rusia, Jerman, dlsb dalam hal perdagangan global kelak yang bisa jadi tidak lagi akan mengandalkan keberadaan sistem keuangan dunia yang kini semakin rapuh.

Talent- talent terbaik negeri ini di bidang finansial, taxation, IT, legal, trading, dlsb. silahkan menghubungi kami (team@dinarislam.com) dengan mengirimkan CV-nya bila tertarik untuk terlibat dalam Project Indobarter ini. Hanya yang benar-benar bisa memberikan kontribusi pada project ini yang akan diundang untuk bergabung dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya. Semoga kita bisa belajar walau sampai negeri China untuk hal ini…

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (0)

Quantitative Easing: Cara Baru Bank Sentral Dunia Mencetak Uang


Mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah tentang bagaimana seharusnya penguasa negeri mencetak fulusJumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”.

Andai saja pemikiran Ibnu Taimiyyah tersebut dijadikan rujukan oleh para pemegang otoritas moneter dan keuangan dunia; Insya Allah berbagai krisis yang mendera umat seluruh dunia ini tidak akan terjadi. Karena kesombongan manusia, mereka enggan mencari petunjuk yang benar – alih-alih belajar dari kekeliruan sebelumnya – mereka malah membenamkan umat manusia ke potensi krisis yang lebih besar lagi.

Saya ambilkan bukti nyatanya dari apa yang dilakukan oleh pemerintah Inggris tahun lalu. Ketika upaya penyelamatan ekonomi melalui pengendalian suku bunga yang saat itu sudah mencapai 0.5% – TERENDAH dalam 315 tahun terakhir! – dirasa belum juga menyembuhkan krisis yang ada, mereka mulai mencari akal (-akalan) untuk memoles ekonomi mereka.

Maka diketemukanlah caranya yang diberi nama keren Quantitative Easing – yang terkesan canggih, sehingga tidak mudah dipahami rakyat. Apa sih Quantitative Easing ini sebenarnya? Berikut adalah pemahaman saya yang awam – mohon maaf kepada para ekonom karena saya berusaha menyederhanakan ilmu Anda yang canggih.

Bank of England

Bank of England

Quantitative Easing adalah salah satu cara bank sentral – di Inggris berarti Bank of England‘mencetak’ sejumlah besar ‘uang baru’ di Balance Sheet-nya. Tidak perlu repot-repot mencetak secara fisik uang kertas atau koin-nya – tetapi semata-mata hanya menambahkan angka baru secara elektronik di neraca bank sentral tersebut.

Setelah terbentuk, lalu untuk apa ‘catatan’ uang ini? Untuk membeli aset-aset bermasalah dari dunia perbankan (seperti kredit perumahan), surat utang negara, dlsb. Dengan cara ini ‘uang’ yang tadinya hanya khayalan yang hanya diketikkan di neraca bank sentral, kini telah memasuki sistem keuangan negeri itu.

Karena setiap bank memiliki account di bank sentral, maka bank sentral juga tidak perlu repot-repot memindahkan uang fisik (yang memang nggak ada fisiknya) ke bank-bank tersebut, semua hanya entry di data komputer.

Di Inggris ada komite yang disebut The Bank’s Monetary Policy Committee yang memiliki otoritas untuk mencetak ‘tambahan uang’ dalam khayalan tersebut. Saat ini komite ini memiliki izin untuk menambah ‘uang’ di balance sheet bank sentral sampai sejumlah 150 milyar poundsterling atau US$ 207 milyar! Dari batas yang diizinkan tersebut, saat ini komite telah menggunakan ½ dari jatah yang ada.

Lantas apa dampaknya bagi rakyat Inggris? Sementara solusi ini belum tentu bisa menyelamatkan mereka dari krisis – yang sudah jelas adalah sebaliknya yaitu nilai uang yang ada di masyarakat akan terus turun – inilah yang dilarang oleh Ibnu Taimiyyah tersebut di atas.

Teknik-teknik canggih dalam mengatasi krisis semacam ini, sangat mungkin dilakukan oleh negara-negara lain juga; oleh karenanya rakyat atau melalui wakil-wakilnya hendaknya memiliki akses terhadap para pengambil kebijakan-kebijakan publik sehingga ada yang memahami dan mengawasi mereka.

Kalau kita tidak yakin tentang pengawasan ini, rakyat tetap bisa berbuat mengamankan hasil jerih payahnya yaitu dengan mempertahankan aset fisik atau uang dengan nilai intrinsik yang bisa berupa Dinar, Dirham, kebun, ternak, dlsbWa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Islamic ViewComments (0)

Dinar Equity Exchange: Jual Beli Yang Nyaris Tanpa ‘Uang’


Krisis finansial global sungguh memberikan banyak hikmah bagi yang mau mengambil pelajaran darinya, salah satunya adalah pasar property di Amerika Serikat seperti yang ditulis oleh penulis kondang Robert Kiyosaki dalam bukunya The Real Book of Real Estate (Vanguard Press, 2009).

Dalam buku tersebut sebenarnya Robert Kiyosaki tidak menulisnya sendiri, dia hanya meng-compile pengalaman-pengalaman dari para praktisi real estate terbaik di negeri itu. Dari sekian banyak pengalaman-pengalaman tersebut, di sini saya hanya ambil satu saja yang menurut saya paling menarik yaitu pengalaman yang ditulis oleh Wayne Palmer seorang Exchangor atau Equity Marketing Specialist (EMS).

Profesi apakah EMS ini sebenarnya? Saya kesulitan mencari padanannya yang pas tetapi kurang lebih adalah semacam fasilitator perdagangan barter terutama untuk asset-aset bernilai tinggi seperti rumah, hotel, perkantoran, tanah perkebunan, dlsb.

Profesi EMS ini menjadi semakin penting belakangan ini di Amerika justru setelah mereka dilanda krisis. Begitu banyak orang ingin menjual atau mengganti rumahnya tetapi begitu sedikit pembeli yang punya uang. Uang (likuiditas) menyusut dengan drastis sehingga kalau hanya mengandalkan harus adanya uang untuk terjadi transaksi property, maka sangat sedikit property yang bisa berganti tangan semasa krisis ini.

Lantas apa solusinya? Barter antara pemilik rumah yang satu dengan pemilik rumah yang lain menjadi pilihan yang sangat menarik. Hanya saja barter rumah bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena seandainya si A dan si B sama-sama ingin menukar rumahnya – belum tentu A cocok dengan rumah si B dan sebaliknya.

sebelum-exchangeDisinilah dibutuhkan keahlian khusus untuk meng-arrange sejumlah orang yang ingin menukar rumahnya satu sama lain, yang masing-masing mendapatkan apa yang diinginkannya dan sekaligus memperoleh orang yang mau menerima apa yang ingin ditawarkannya.

Sebelum saya memberikan contoh, saya ganti dahulu mata uang atau timbangannya menjadi Dinar dan bukannya US$ – Mengapa? Karena sifat uang kertas yang nilainya terus menurun termasuk US$ – membuat mata uang US$ ini sebenarnya tidak dapat digunakan sebagai penilai yang adil bagi objek-objek yang akan di-barter-kan.

Sebaliknya Dinar adalah benda riil yang memiliki nilai intrinsik dan terbukti memiliki tingkat inflasi rata-rata 0% lebih dari 1400 tahun, akan menjadi penilai yang sempurna bagi sistem Equity Marketing yang di Amerka Serikat bahkan sudah ada asosiasinya yaitu National Council of Exchangors dan Society of Exchange Counselors ini.

Karena berbasis Dinar, maka sistem barter property ini saya namakan saja Dinar Equity Exchange (DEE). Bagaimana cara kerjanya? Berikut sebagai contoh.

Perhatikan gambar di atas; Pak Abdullah saat ini memiliki rumah setara 160 Dinar yang sebagian masih hutang KPR setara 60 Dinar. Karena naik pangkat dan pekerjaannya menuntut Pak Abdullah pindah rumah ke dekat kantor, maka beliau ingin pindah ke rumah di pusat kota meskipun harus menambah/memperbesar pinjaman rumahnya.

Pak Abdurahman juga demikian, disamping ingin memperbesar rumah dari rumahnya yang sekarang setara 100 Dinar, Pak Abdurahman perlu uang tunai setara 20 Dinar. Karena gajinya lumayan besar, Pak Abdurahman tidak keberatan untuk mengambil KPR untuk menutupi kekurangan dari pembelian rumahnya yang baru.

Pak Abdurrahman tertarik dengan rumah pak Abdullah, tetapi Pak Abdullah tentu tidak tertarik dengan rumah Pak Abdurrahman karena yang dibutuhkan Pak Abdullah adalah Rumah yang lebih besar di pusat kota, bukan rumah yang lebih kecil. Jadi barter belum bisa terjadi hanya 2 orang antara pak Abdullah dengan pak Abdurrahmann.

sesudah-exchangeMaka perlu kehadiran pihak ke-3, katakanlah namanya pak Abdurrazak yang sudah pensiun dan pingin rumah di pinggiran kota. Pak Abdurrazak ini punya rumah yang besar, namun juga punya hutang yang banyak. Dia hanya ingin pindah ke rumah yang kecil saja, dan juga ingin seluruh hutangnya lunas. Rumah Pak Abdurrahman sudah memadai bagi Pak Abdurrazak sekarang. Secara kebetulan rumah Pak Abdurrazak juga diminati oleh Pak Abdullah. Maka 3 orang tersebut bisa saling melakukan barter dalam 1 scheme dan hasilnya seperti pada gambar di samping.

Karena terdiri dari 3 pihak, maka solusi ini disebut Three-Way Exchange, sangat langka barter bisa terjadi antara 2 pihak saja atau Two-Way Exchange. Yang lebih sering diperlukan keterlibatan banyak pihak untuk bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Kalau tiga juga tidak cukup, dicari orang ke-4, kalau 4 belum cukup maka dicari orang ke-5 dan seterusnya. Barter yang melibatkan sejumlah besar orang ini disebut Multileg Exchange.

Di zaman informasi ini, urusan me-matching-kan antara sekian banyak kebutuhan dan sekian banyak penawaran dapat dilakukan dengan teknologi – minimal untuk identifikasi awal calon-calon exchangor yang diperkirakan tepat untuk diajak dalam 1 exchange scheme. Jadi secara teknis  tidak terlalu sulit untuk mengimplementasikan Dinar Equity Exchange ini.

Namun sebelum Anda keburu ingin menukar rumahnya melalui sistem ini ke rumah yang lebih besar atau sebaliknya; tunggu dahulu kesiapan kita untuk merapikan segala sesuatunya.

Di antara yang masih kita perlukan adalah team yang mengurusi aspek legal, perpajakan, pembiayaan, pertanahan, ahli penilai, ahli properti, dlsb. Setelah team ini ada, teknologi siap – maka insya Allah konsep Dinar Equity Exchange ini akan jalan pada waktunya. Bila Anda memiliki salah satu keahlian tersebut dan ingin aktif mengimplementasikan konsep ini, kami akan dengan senang hati mengundang Anda pada acara brainstorming session dan pembentukan team inti kita (team@dinarislam.com). Insya Allah.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (0)

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes