Posted on 13 July 2010. Tags: ahli meteorology & geofisika, anomali musim, banjir, benang merah, bumi utara, cermin, demand, diversifikasi aset, dorongan ke atas, ekonomi stabil, emas, emas perhiasan, frequency, fundamental, grafik, harga emas, harga naik, harga terendah, hujan deras, jangka panjang, jangka pendek, Juli, kemarau, komoditi, Maret, mata uang, musim dingin, musim hujan, musim membeli, pelaku pasar, perubahan, petani, pola tanam, prediksi, rentan isu, safe haven, severity, statistik, teknologi, uang fiat
Dahulu waktu saya kecil, petani-petani di desa-pun seolah dapat memprediksi kapan hujan mulai turun dan kapan berhentinya. Dengan demikian mereka bisa merencanakan pola tanam-nya secara akurat. Kini 40 tahun kemudian, perubahan musim ini sulit sekali diprediksi bahkan dengan teknologi tinggi sekalipun. Sekarang kita berada di bulan Juli, musim hujan mestinya sudah berakhir 4 bulan lalu ? tetapi sekarang hujan deras dan banjir masih melanda di beberapa wilayah.
Seperti juga pada musim hujan dan kemarau, naik turunnya harga emas seharusnya predictable karena harga emas adalah cermin bagi harga komoditi-komoditi kebutuhan utama manusia. Ketika komoditi banyak dibutuhkan (demand tinggi) misalnya pada musim dingin di belahan bumi utara (di musim dingin orang butuh lebih banyak makanan, pakaian dan energi) ? harga emas akan cenderung naik, lihat statistiknya pada tulisan saya sebelumnya ?Musim Membeli Emas…?. Musim harga emas rendah mestinya juga sudah mulai berlangsung sejak 4 bulan lalu Karena di belahan bumi utara ? yang secara umum penduduknya lebih makmur ? musim dinginnya telah berakhir di bulan Maret.
Apa yang sebenarnya terjadi secara cepat dalam beberapa tahun belakangan ? yang tidak (belum) terjadi selama puluhan tahun sebelumnya? Untuk perubahan musim hujan, biarlah para ahli meteorology dan geofisika yang menjelaskannya.
Untuk tinggi rendahnya harga emas yang nampaknya tidak lagi mengikuti musim, para ekonom dan pelaku pasar punya teorinya sendiri-sendiri. Diantara sekian banyak teori, berikut saya sarikan benang merahnya :
- Di masa ekonomi stabil dan relatif tidak bergejolak seperti yang dialami dunia dalam beberapa dasawarsa yang lewat ? orang comfortable untuk menaruh uangnya dalam mata uang fiat dan memutarnya dalam berbagai usaha yang menguntungkan. Emas hanya dibeli dalam jumlah secukupnya untuk diversifikasi aset, bahan perhiasan, dlsb.
- Ketika ekonomi dunia bergejolak hebat seperti yang terjadi dalam 2 tahun terakhir, ada jenis kebutuhan emas yang baru yang tiba-tiba meningkat yaitu kebutuhan untuk safe haven ? tempat melabuhkan aset secara aman.
- Ketika kebutuhan emas untuk safe haven ini yang dominan di pasar, maka harga emas menjadi mudah sekali bergejolak. Mudah sekali diterpa isu, sehingga yang mempengaruhi harga emas bukan lagi faktor yang bersifat fundamental ? tetapi lebih banyak pada persepsi sesaat dari para pelaku pasar.

Emas Setahun Terakhir
Karena faktor-faktor penyebab tersebut akan tetap terjadi atau bahkan dalam severity (tingkat pengaruh) yang lebih kuat dan frequency yang lebih sering, maka harga emas akan terus bergejolak hebat dalam jangka pendek. Namun arah jangka panjangnya (setahun lebih) nampak jelas sekali dorongan ke atasnya.
Lihat pergerakan setahun terakhir pada grafik di samping misalnya. Pada bulan Desember 2009 lalu, harga emas dunia sempat naik mencapai US$ 1,226/Oz tetapi juga sempat turun ke angka US$ 1,083/Oz atau sempat turun dalam rentang 12% di bulan tersebut. Namun secara keseluruhan bila kita tarik waktu setahun terakhir ? harga emas dunia naik sekitar 30%-an yaitu dari kisaran harga US$ 920/Oz awal Juli 2009 ke angka US$ 1,205/Oz saat ini.
Untuk bulan ini dan bulan depan, saya sendiri berharap masih ada musim harga emas rendah ? meskipun hanya 2 bulan ? bukannya 6 bulan seperti di masa lalu. Tepatnya berapa, tidak ada yang bisa tahu secara pasti ? hanya berdasarkan pergerakan harga setahun terakhir ? nilai terendah ke depan kemungkinan besarnya tidak sampai menyentuh garis hijau pada grafik di atas. Wa Allahu A?lam.
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 07 February 2010. Tags: Amerika, cadangan devisa, China, Cracker, demand, efek psikologis, ekonomi, emas, Euro, Gajah, Google, HAM, harga emas, harga rendah, harga turun, jatuh, korban, Korea, Lawrence Williams, masalah, mata uang, Mineweb, musim membeli, Pelanduk, peluang harga naik, pemain pasar, penjualan senjata, penurunan daya beli, perang, Perang Dingin, perseteruan, politik ekonomi, Taiwan, teknologi, Tibet, US$, Yen
Tulisan ini saya sarikan dari tulisan Lawrence Williams di Mineweb yang muncul di tengah terpuruknya harga emas dunia sejak pekan lalu. Dalam kondisi harga emas yang rendah seperti sekarang ini, banyak pemain pasar yang serius mengkaji kemungkinan pilihan ? apakah ini waktu yang baik untuk membeli (bila ada prospek harga emas kembali tinggi), atau justru menjual (bila trend penurunan diperkirakan akan berlanjut).
Lawrence Williams adalah salah satunya yang melihat kemungkinan harga emas akan naik dari sudut pandang politik ekonomi, khususnya yang terkait dengan perkembangan terakhir mengenai memburuknya hubungan China dan Amerika.
Meskipun para pemimpin kedua negara ini sering bertemu untuk berbagai perundingan, permusuhan di antara keduanya juga tidak bisa disembunyikan. Perseteruan ini mulai dari isu kekuatan mata uang, masalah Tibet, masalah Taiwan, masalah HAM, Cracker, Google dan berbagai masalah lain yang nampaknya sepele tetapi bisa memicu ?perang? antara keduanya ? setidaknya perang dingin.
Yang paling serius di antara isu-isu tersebut adalah langkah Amerika untuk menjual senjata ke Taiwan senilai US$ 6.4 milyar baru-baru ini. Kegeraman China bisa mendorong negeri itu juga menjual atau meningkatkan penjualan senjatanya ke negara-negara yang dipandang tidak bersahabat terhadap Amerika. Skenario terburuknya adalah bisa pecah perang fisik yang melibatkan keduanya di Wilayah Taiwan atau Korea.
Karena skenario perang fisik ini kemungkinan terjadinya cukup kecil, maka yang lebih besar kemungkinan terjadi di antara keduanya adalah perang dingin yang fokusnya pada politik dan ekonomi.
Meskipun China secara penguasaan teknologi dan ekonomi masih dibawah Amerika, namun cadangan devisanya dalam bentuk US$ yang sangat besar bisa menjadi pisau bermata dua bagi Amerika. Bila China memutuskan mengalihkan sebagian cadangan devisanya ? misalnya, dampaknya bisa luar biasa bagi nilai US$ yang merepresentasikan kekuatan ekonomi Amerika ini.
Disinilah kaitannya dengan harga emas dunia. Bila China menurunkan cadangan devisa US$-nya, apa alternatifnya? Euro, Yen dan mata uang lain kemungkinannya tidak lebih menarik bagi China dibandingkan dengan US$. Jadi apa yang lebih menarik dari US$ bagi China? Emas tentu saja salah satunya.
Peralihan cadangan US$ China sedikit saja ke emas, bisa melambungkan harga emas karena 3 hal sekaligus:
- Dikarenakan meningkatnya demand oleh China sendiri.
- Menurunnya daya beli US$ yang digunakan sebagai pembanding harga emas dunia.
- Efek psikologis pasar yang akan ikutan memburu emas ? bila mengetahui China berburu emas dan meninggalkan US$.
Biarlah GAJAH beradu dengan GAJAH, tetapi Pelanduk jangan menjadi Korban ? bahkan kalau bisa Pelanduk yang UNTUNG!! Wa Allahu A?lam.
Posted in Political Economy