Tag Archive | "daya beli"

Investasi di Era Competitive Devaluation: Jangan Mau Jadi Pelanduk


Dahulu di waktu Sekolah Dasar kita belajar pepatah yang kurang lebih berbunyi gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah. Apes bener jadi pelanduk, dia tidak tahu menahu tentang urusan apa gerangan yang  membuat para gajah tersebut bertarung – tetapi dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula – maka matilah dia karena pertarungan ini. Sebuah artikel di The Wall Street Journal kemarin yang diberi judul Getting Ready for A Dollar Collapse? bercerita tentang pertarungan gajah US Dollar melawan  gajah-gajah Yuan, Euro, Yen dan berbagai mata uang kuat lainnya – yang membuat mati para pelanduk, yaitu para penabung atau pemegang uang kertas dunia.

Pertarungan yang disebut Competitive Devaluation ini bermula dari krisis finansial global dalam 2 tahun terakhir. Biang keladinya adalah Amerika, dimana  2/3 isi balance sheet dari Federal Reserve-nya berasal dari surat berharga yang dikeluarkan oleh government sponsored enterprises – semacam BUMN kitalah – yaitu Fannie Mae dan Freddy Mac yang dibailed out pemerintahnya 2 tahun silam. Ini situasi ‘jeruk makan jeruk’, yang hakekatnya pemerintah negeri ini sedang mencetak uang baru dari awang-awang.

Akibat perbuatannya ini – karena uang baru terus dicetak dari awang-awang – maka ada proses penurunan daya beli US$ secara terus menerus. Hal ini nampak jelas pada perkembangan harga emas dunia dalam US$, bila rata-rata bulanan bulan Agustus 2008 harga emas berada pada angka US$ 839.02/Oz kini naik sekitar 44% pada bulan Agustus 2010 ini menjadi rata-rata US$ 1,209.66/Oz dengan trend masih ke atas. Mungkin saja akan terbatas efeknya apabila penurunan daya beli ini  hanya terjadi di AS, namun ternyata efek penurunan daya beli ini tidak akan terhenti di AS. Negara-negara lain yang nilai perdagangannya sangat tinggi dengan AS, seperti: China, Uni Eropa, Jepang, dlsb akan kehilangan daya saingnya bila uang mereka terlalu PERKASA terhadap  US Dollars.

quantitative-easingAkibatnya otoritas moneter negara-negara tersebut akan menempuh caranya sendiri-sendiri untuk menurunkan daya beli uangnya dengan perbagai program Quantitative Easing atau cara-cara ‘creative’ lainnya dalam mencetak uang dari awang-awang. Negara-negara lain yang tadinya tidak terimbas secara langsung-pun kemudian akan terpaksa mengikuti gerakan global dalam penurunan daya beli uang kertas ini, karena bila tidak maka mereka akan semakin tidak bisa bersaing dengan produk ekspor-nya.

Wal hasil, seluruh dunia kini seperti berpacu dalam menurunkan daya beli uang kertasnya – atau berarti juga berpacu dalam inflasi. Lantas siapa yang jadi pelanduk-nya? Masyarakat secara umum yang tidak tahu menahu menjadi korban dalam bentuk harga barang-barang yang terus melambung, secara khusus para penabung yang meskipun angka uang yang ditabungnya bertambah – daya beli uang yang ditabung tersebut semakin lama semakin turun karena hasil tabungannya kalah berpacu dengan inflasi.

Terus bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi hal ini? Yang terbaik adalah apabila terjadi perubahan paradigma cara berfikir dari kegemaran menabung menjadi kegemaran ber-investasi di sektor riil. Bagi Anda yang masih mempunyai kampung, menginvestasikan uang Anda di kampung dalam bentuk lahan-lahan yang diproduktifkan dengan berbagai tanaman sengon, jabon dan bahkan pisang, dlsb insya Allah akan lebih memberi manfaat bagi Anda dan masyarakat sekitar Anda. Bagi yang sudah tidak memiliki kampung, masih banyak terbuka lahan di Nusantara ini untuk Anda produktifkan baik untuk pertanian, perikanan, peternakan maupun kegiatan produktif lainnya.

Mengapa sektor riil ini lebih baik dari pada memegang uang kertas atau tabungan di era competitive devaluation ini? Sederhana alasannya, benda riil apapun yang Anda pegang dengan sendirinya akan melonjak nilainya – ketika dunia rame-rame menurunkan daya beli mata uangnya.

Ketika kita tidak menjadi pelanduk, pertarungan para gajah tidak akan membuat kita mati – maka jangan mau jadi pelanduk! Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Harga Emas: Antara Selera dan Realita


Sejak saya belajar ilmu pertanian 30 tahun lalu sampai sekarang, daya beli petani kita tidak banyak berubah. Kebanyakan mereka masih termasuk golongan masyarakat yang memiliki daya beli terendah di negeri ini, mengapa demikian? Karena mereka kebanyakan mengikuti selera dalam pola tanamnya. Ketika cabe di pasar harganya tinggi, maka serentak petani rame-rame menanam cabe. Pada saat mereka panen harga jatuh karena demand cabe kan tidak serta merta naik ketika supply tinggi dari panenan yang melimpah.

Tetapi ada sekelompok teman-teman saya yang sangat sukses di bidang pertanian/perkebunan. Mereka tidak menanam sesuatu hanya karena orang lain rame-rame menanamnya. Mereka hanya menanam suatu jenis tanaman apabila sudah diriset seberapa besar pasarnya, dan siapa-siapa yang sudah akan mengisi pasar tersebut. Dengan demikian pada saat mereka panen, pasar cukup kuat menyerap hasil panennya dan harga terjaga.

Pola tanam (bisa juga dibaca: investasi) yang sama sebenarnya juga terjadi di bursa saham dan pasar emas dunia, selera (appetite) sangat mempengaruhi keputusan investasi kebanyakan investor. Turun drastisnya harga emas dunia tadi malam misalnya adalah karena secara tiba-tiba begitu banyak investor yang selera untuk mengambil risiko investasi-nya membaik.

Ketika beberapa negara Eropa diguncang krisis, para investor dihinggapi rasa ketakutan sehingga mereka rame-rame mengamankan dana investasinya sebagian di emas; permintaan emas yang melonjak saat itu mendorong harga emas tinggi selama beberapa bulan terakhir.

Kemudian ketika beberapa pekan terakhir ada kabar bahwa kondisi keuangan bank-bank besar Eropa ternyata tidak seburuk yang dibayangkan sebelumnya, karena bank-bank besar tersebut ternyata lolos stress tests – maka para investor kembali merasa aman untuk mengalihkan dananya dari safe haven emas, ke bentuk-bentuk investasi yang lebih berisiko seperti saham, mutual fund dan lain sebagainya. Itulah sebabnya harga emas yang rendah hari-hari ini, akan bersamaan dengan tingginya harga-harga di saham dan sejenisnya.

Lantas apakah kita perlu rame-rame mengikuti masyarakat investor yang memburu saham dan sejenisnya tersebut? Kalau saya tidak akan saya lakukan karena tingginya harga-harga saham secara global hari-hari ini juga bukan karena didorong oleh kinerja perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan saham-saham tersebut. Lagi-lagi tingginya harga saham-saham tersebut lebih banyak didorong oleh selera atau appetite para investor untuk lebih berani mengambil risiko. Ketika selera memudar (dan selera memang gampang sekali pudar oleh berbagai sebab!), maka harga saham akan kembali berguguran. Lihat tulisan saya dengan judul Pilihan Investasi: Saham atau Emas?

Lantas apa yang akan saya lakukan? Belajar dari teman-teman yang sukses di bidang pertanian/perkebunan tersebut – saya akan lebih banyak mengambil keputusan berdasarkan riset pasar dan realita yang ada pada supply and demand emas secara global dan dalam jangka panjang.

Untungnya tidak seluruh riset dan realita tersebut harus kita kumpulkan dan analisa sendiri; banyak sekali kajian para pakar di bidang ini yang bisa kita baca dan pelajari analisa mereka. Salah satunya adalah yang pernah saya kumpulkan dalam satu tulisan yang berjudul Prediksi Harga Emas oleh Para Ahlinya.

Dengan memahami realita-realita semacam ini, insya Allah kita bisa memaksimalkan keputusan yang didasarkan pada informasi yang memadai (well informed decisions) – bukan hanya didorong oleh selera sesaat kita. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Trend Harga Emas: Sejauh Mana Mata Memandang


Pertanyaan yang terus sampai ke saya, khususnya dari para pengguna Dinar baru adalah“…kapan membeli Dinar yang paling tepat?”. Pertanyaan sejenis pada saat harga lagi rendah seperti sekarang adalah “…apakah harga akan turun lagi?” , kemudian pada saat harga lagi tinggi pertanyaannya adalah “…apakah harga akan terus naik?” dan seterusnya.

Jawaban saya selalu sama yaitu Wa Allahu A’lam – dan Allah-lah yang Maha Tahu, karena seberapa ahli-pun kita, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Paling banter kita memahami apa yang sudah terjadi sampai saat ini, kemudian menduga-duga apa yang selanjutnya akan terjadi. Berbagai teknik forecasting dikembangkan orang, tetap saja tidak ada yang menjamin keakuratan hasilnya.

Trend Harga Emas (2 Tahun)

Trend Harga Emas (2 Tahun)

Dari sekian banyak teknik ‘duga-menduga’ tersebut yang saya suka menggunakannya adalah analisa trendline, karena selain sederhana – di standar grafik Excel ada fasilitas ini. Anda juga bisa mengolahnya sendiri berdasarkan harga-harga emas dan nilai tukar Rupiah yang ada di pasar.

Perhatikan 2 grafik contoh yang saya olah berdasarkan data harga emas dalam US$/Oz dan harga dalam Rupiah/Gram. Grafik pertama saya ambil dari data 2 tahun terakhir, trendline untuk harga emas dalam Rupiah cembung ke bawah yang dapat diartikan bahwa untuk 2 tahun terakhir cenderung stabil atau bahkan menurun. Sebaliknya trendline dalam US$, cekung ke atas yang dapat diartikan bahwa harga dalam US$ cenderung naik secara significant.

Trend Harga Emas (10 Tahun)

Trend Harga Emas (10 Tahun)

Grafik kedua saya ambilkan data yang sama, hanya untuk periode yang lebih panjang yaitu 10 tahun terakhir. Perhatikan sekarang trendline-nya baik dalam US$ maupun dalam Rupiah; keduanya menunjukkan cekung ke atas secara tajam. Artinya dalam 10 tahun terakhir harga emas baik dalam US$ maupun dalam Rupiah mengalami kecenderungan naik yang significant.

Lantas apa makna dari kedua grafik tersebut pada keputusan kita? Untuk dana-dana jangka panjang seperti tabungan untuk pergi haji, biaya anak sekolah, dana pensiun, tabungan untuk membeli atau memperbaiki rumah, tabungan modal usaha, dlsb. insya Allah akan selalu cocok untuk dikonversikan ke Dinar kapan saja.

Untuk dana jangka menengah, seperti rencana anak masuk sekolah dalam 1-2 tahun ini misalnya – maka dapat dikonversikan ke Dinar atau tetap dalam Rupiah, tidak terlalu banyak perbedaannya dari sisi daya beli – meskipun dari sisi ketenangan pikiran bisa jadi berbeda.

Untuk dana jangka pendek yaitu biaya kebutuhan rutin bulanan misalnya, atau biaya lain yang akan digunakan kurang dari setahun ini – kecuali kebutuhan tersebut dapat dibeli/dibayar dengan Dinar – maka untuk dana jangka pendek ini tetap dipertahankan dalam Rupiah akan lebih ekonomis.

US$ Money Supply

US$ Money Supply

Bila uang Anda saat ini masih dalam US$ ceritanya lain lagi; saya termasuk yang sangat tidak menganjurkan Anda memegang US$ baik untuk kepentingan jangka pendek maupun kepentingan jangka panjang. 2 grafik di atas menyampaikan pesan yang loud and clear (suara keras dan sangat jelas) bahwa ibarat pilot tempur dengan pesawat Dollar, kini saatnya Anda menekan tombol penyelamat dan tinggalkan pesawat Dollar Anda. Pesan yang sama-pun disampaikan PBB sebulan lalu; jadi bukan pendapat saya yang subjektif.

Pesan inipun juga tidak terlepas dari realita US$ sendiri yang di – “cetak” dalam berbagai bentuknya dengan jumlah yang sangat-sangat berlebihan 2 tahun terakhir seperti ditunjukkan oleh grafik di atas. Lagi pula kita-pun tidak membutuhkan US$ sebagai alat tukar, untuk apa pula kita pegang?

Jadi, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sangat tergantung dari rencana investasi Anda atau kapan dana-dana tersebut Anda akan gunakan, dan tergantung pula dengan currency uang yang sekarang Anda pegang. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Pasar 30, 60 dan 160 Juta Orang, Siapa Yang Punya?


Berdasarkan data dari Internet World Stats yang untuk Indonesia nampaknya menggunakan data APJII, penetrasi pengguna Internet di Indonesia masih menempati ranking paling rendah dibandingkan negara-negara ASEAN. Penetrasi kita baru mencapai 12.5%, dibandingkan Singapore yang mencapai 72.4% – bahkan pendatang baru Vietnam sudah mencapai 25.7%.

Rendah dalam penetrasi tidak berarti rendah dalam jumlah pengguna. Karena penduduk Indonesia mencapai lebih dari 240 juta tahun lalu, penetrasi yang hanya 12.5% ini – kini telah mencapai 30 juta pengguna internet di Indonesia sampai kwartal ke 3 tahun lalu. Pengguna internet di Indonesia saja, kurang lebih sama dengan jumlah penduduk 3 negara tetangga digabung yaitu Malaysia, Singapore dan Brunei.

Dari sudut pandang seorang pemasar, hal ini adalah luar biasa! Bayangkan, bila kita bisa menggarap pengguna internet di Indonesia saja – Anda seperti memiliki pasar yang segede 3 negara tersebut di atas. Dan jangan lupa, pengguna internet Indonesia adalah juga tergolong masyarakat menengah atas – yang daya beli rata-ratanya saya yakin tidak kalah dengan daya beli rata-rata penduduk di ke-3 negara tersebut.

Nah sekarang masalahnya adalah apakah di dalam pasar yang besarnya tahun lalu saja mencapai 30 juta orang tersebut, kita sebagai pasar (pembeli) saja? atau kita juga dapat menjadi pemasar (penjual)? Di sinilah peluang itu!

asia2010topUntuk berjualan di internet, tidak harus dibutuhkan modal yang besar. Bahkan perbedaan perusahaan raksasa dengan perusahaan kecil – tidak begitu nampak bila keduanya tampil di internet. Di internet orang lebih membutuhkan reliability informasi dan layanan ketimbang ukuran perusahaan.

Dinar adalah contohnya. Di Indonesia Dinar hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT. Aneka Tambang Tbk (BUMN) – yaitu raksasa BUMN di bidangnya. Namun dalam hal penjualan Dinar via internet – meskipun DinarIslam.Com hanya menjual satu jenis produk dari produsen raksasa ini, insya Allah pasar DinarIslam.Com tidak kalah dengan pasar yang dijangkau oleh produsennya sendiri.

Peluang-peluang semacam ini belum terjadi 10 tahun lalu misalnya. Ketika itu kami meluncurkan situs KeluargaMuslim.Com – yang ditangani team yang kuat – dan bermitra dengan organisasi sosial yang sudah besar, namun karena saat itu pengguna internet masih kurang dari 2 juta orang – maka tidak banyak yang bisa digarap, sehingga situs tersebut hanya bisa bertahan 2 tahun.

Gambaran betapa besarnya pasar internet ini juga dapat dilihat di situs-situs baru yang kami luncurkan sebulan terakhir. Di KambingOnline.Com misalnya, ada iklan peluang investasi di industri perkambingan yang sedang kami bangun – belum sebulan iklan ini sudah diminati oleh 1,757 peminat investasi sampai pagi ini.

Di situs Dinar World ada mainan Islami Zakati yang dalam 2 pekan diminati oleh 356 pengunjung. Masalah berapa banyak yang benar-benar terjadi terjadi transaksi, ini hanya masalah teknis untuk membuat produk/iklan lebih menarik, reliable dan deliverable, namun peluang besar itu benar-benar ada.

Melihat peluang yang besar tersebut, dan agar umat ini tidak hanya jadi pasar – tetapi juga menjadi pemasar, maka angkatan Pesantren Wirausaha berikutnya (angkatan 12) yang akan kita adakan awal bulan depan – insya Allah akan menggarap tema Netpreneur ini.

Netpreneurship yang kita bangun tidak hanya membangun bisnis dunia maya seperti bisnis dotcom pada umumnya, tetapi kita ingin membangun sektor riil yang didukung teknologi dunia maya untuk menjangkau pasar dan sumber dayanya. Sama seperti ketika kita membangun DinarIslam.Com; Dinar Islam secara fisiknya benar-benar ada – sehingga bagi masyarakat yang kurang comfortable dengan transaksi internet tetap dapat bertransaksi secara fisik.

Demikian pula dengan KambingOnline.Com, kita hanya luncurkan setelah kandang-kandang kambing bertaraf Internasional terbangun, terisi dengan kambing dan bahkan sudah menghasilkan bibit kambing dan susu kambing.

Dengan langkah-langkah ini, kita ingin mengajak umat agar menjadikan teknologi internet yang mau tidak mau telah hadir dalam kehidupan kita sebagai peluang untuk menggapai kedaulatan ekonomi. Bila pasar tersebut kini seukuran 30 juta orang, maka ketika penetrasi kita mencapai penetrasi yang sama dengan Vietnam saja di angka sekitar 25% – maka saat itu pasar ini ukurannya telah menjadi 60 juta orang minimal; ketika penetrasi internet kita menyamai Malaysia saat ini yaitu di angka sekitar 65%, maka pasar inipun minimal menjadi 160 juta orang!!! Lantas siapa lagi yang seharusnya menggarap pasar ini, selain kita?? Semoga Allah memudahan langkah kita ini. Amin.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Survival Strategy: Beyond Currency


Yang paling sering disalah pahami orang tentang gerakan saya menyebarluaskan Dinar – adalah seolah saya menafikan keberadaan uang kertas. Padahal tulisan saya yang paling popular di web ini dengan judul “Mengelola Uang Berdasarkan Fungsinya…” yang telah dibaca lengkap (bukan hanya penggalannya) oleh lebih dari 10,000 orang, justru mengakui fungsi uang kertas sebagai alat tukar ini.

Untuk meminimise kesalahpahaman ini, saya tidak malu untuk menyontek komunikasi yang digunakan oleh salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia yang dahulu dikenal orang sebagai British Petroleum (BP). Pada tahun 2002 ketika mereka merubah namanya menjadi BP plc. ; mereka menambahkan tagline “Beyond Petroleum” dalam corporate identity-nya.

Nampaknya BP ingin mengkomunikasikan ke masyarakat dunia bahwa mereka tidak hanya bergerak di bidang perminyakan; karena setelah ber-identitas baru tersebut BP juga meluncurkan business unit baru yang disebut BP Alternative EnergyBusiness Unit baru inilah yang kemudian mengembangkan energi lain di luar minyak seperti energi surya, angin, hydrogen, dlsb. Jadi meskipun business utama BP yang juga memberikan income terbesarnya masih dari industri perminyakan, mereka sudah berpikir di luar perminyakan – karena boleh jadi minyak tidak akan selamanya tersedia untuk mereka explore – mereka tentu ingin tetap survive meskipun sumber energi utama kelak berubah dari minyak ke energi-energi lain di luar minyak.

Beyond Petroleum

"Beyond Petroleum"

Mirip dengan yang dilakukan oleh BP tersebut di atas – inilah yang kita lakukan dengan gerakan penyebar luasan Dinar. Kalau BP mengembangkan strateginya barangkali berdasarkan prognosis bahwa minyak tidak akan selamanya tersedia; maka gerakan Dinar menggunakan prognosis bahwa uang kertas tidak akan bisa bertahan dalam jangka panjang.

Prognosis terhadap uang kertas ini didukung oleh statistik yang sangat kuat, sampai-sampai kita bisa menghitung waktu paruh daya beli uang kertas Rupiah yang hanya 4.3 tahun; US$ hanya 5.0 tahun, dlsb. Jadi bila anak Anda lahir hari ini dan Anda mulai menabung uang kertas Rupiah untuk masa depannya; maka daya beli uang tabungan Anda tersebut tinggal 1/16 (½^4) pada saat anak Anda berulang tahun ke 17! Bila Anda menabungnya dalam US$, maka tabungan Anda nilai daya belinya juga tinggal 1/16 pada saat anak Anda tersebut berusia 20 tahun.

Karena statistiknya demikian – bahwa daya beli uang kertas meluruh bersamaan dengan waktu – dan zat yang meluruh pasti akhirnya habis; maka kita butuh alternatif lain dari uang kertas ini. Alternatif lain inilah yang saya sebut Beyond Currency.

Bila uang kertas hanya berfungsi sebagai currency – yaitu alat tukar yang hanya berfungsi sesaat; maka yang kita butuhkan untuk survive dalam jangka panjang  adalah uang yang sesungguhnya – Beyond Currency – yaitu uang yang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar atau Medium of Exchange atau currency, tetapi juga berfungsi sebagai unit pencatatan/timbangan yang adil (Unit of Account) dan sekaligus juga mampu mempertahankan nilai dari hasil jerih payah kita (Store of Value).

Uang yang sesungguhnya inipun tidak harus emas; benda-benda lain yang bernilai intrinsik sampai garam sekalipun dapat menjadi uang dalam arti luas tersebut.

Kita pernah mengalami krisis 97/98 dimana saat itu uang kita tiba-tiba anjlog daya belinya tinggal ¼-nya dalam beberapa bulan saja (padahal seharusnya daya beli uang kita baru turun tinggal ¼-nya setelah 2 kali waktu paruh atau 8.6 tahun!), bukan hanya daya belinya yang anjlog – saat itu barang-barang kebutuhan kita juga menghilang di pasaran. Minyak goreng, susu bubuk, dlsb menjadi rebutan di toko-toko yang masih memiliki stok.

Pada saat krisis, uang bisa saja menghilang atau turun daya belinya; tetapi kebutuhan kita akan makan minum, kebutuhan anak-anak kita untuk susu, dlsb tetap perlu dipenuhi.

Jadi ‘uang’ selain uang kertas yang rentan krisis –  harus juga menjadi bagian dari survival kit kita – bila kita ingin survive dalam jangka panjang. Selain emas atau Dinar yang praktis, kita bisa juga menggunakan ternak kambing misalnya sebagai cadangan ‘tabungan’ kita di masa yang sangat sulit sekalipun.

Juga bukan hanya ternak kambing yang di-resep-kan dalam hadits sahih sebagai sumber penghasilan jangka panjang yang bisa diandalkan; antisipasi krisis melalui bercocok tanam dengan sungguh-sungguh selama 7 tahun – bahkan resepnya ada di Al-Qur’an.

Maka tidak heran bila daya tahan masyarakat pedesaan terhadap krisis seperti yang kita alami tahun 1997/1998 lebih besar ketimbang masyarakat perkotaan. Sampai-sampai ketika saya masih rajin pulang kampung di masa krismon tersebut – embok-embok di desa suka bertanya krismon iki opo to le? – (Krismon ini apa sih nak?). Mereka tidak terganggu dengan krisis moneter karena mereka memang sudah terbiasa hidup beyond currency.

Jadi mari kita rame-rame menghidupkan kehidupan desa, dengan kambing dan ternak lainnya, dengan pohon-pohonnya, dengan sawah-sawahnya – maka bila wabah PIIGS meluas ke seluruh dunia – Insya Allah kita bisa survive. Sekarang memang kita masih butuh uang kertas sebagai currency atau alat tukar, tetapi ketika uang kertas ini kehilangan daya belinya seperti yang sudah-sudah – kitapun harus siap hidup Beyond Currency. Amin

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Menakar Kekuatan Mata Uang Dengan Melihat Waktu Paruhnya Terhadap Emas


Dalam tulisan saya beberapa hari lalu dengan judul “Menduga Sisa Nilai Mata Uang Dengan Teori Peluruhan”, telah saya perkenalkan Konsep Waktu Paruh (half-life) yaitu waktu yang diperlukan materi subjek peluruhan eksponensial untuk menjadi tinggal separuhnya dari materi semula. Nilai sisa dari materi subjek peluruhan eksponensial setelah waktu paruh ke T = 100%/2^T.

Konsep Waktu Paruh ini yang berdasarkan statistik nampaknya juga berlaku pada nilai daya beli mata uang kertas terhadap emas. Kita gunakan emas sebagai referensi karena emas-lah yang terbukti memiliki daya beli tetap selama 1400 tahun lebih, di samping juga data statistik harga emas tersedia secara lengkap untuk waktu yang sangat panjang – sampai ratusan tahun.

Hanya saja untuk keperluan ini saya gunakan statistik 10 tahun saja karena ada salah satu mata uang yaitu Euro yang berusia sangat muda – baru sekitar 11 tahun. Mata uang yang saya sajikan disini adalah mata uang besar dunia yang kita familiar seperti Rupiah, US$, Singapore Dollar, Japan Yen, British Pound, Euro dan mata uang yang selama ini kita anggap daya belinya stabil yaitu Riyal.

Hasilnya kita dapat lihat dalam grafik di atas, semakin lemah mata uang terhadap emas, semakin cepat dia meluruh. Rupiah misalnya dalam 10 tahun terakhir daya belinya terhadap emas tinggal 20 persen, bila dihitung dari Januari 2000 – maka pada rentang waktu 10 tahun:

  • Rupiah kini berada pada waktu paruh ke 2.3; atau Rupiah memiliki waktu paruh 4.3 tahun.
  • Poundsterling telah mengalami waktu paruh ke 2.1 (1 waktu paruh = 4.7 th).
  • US$ telah mengalami waktu paruh ke 2 (1 waktu paruh = 5.0 th).
  • Saudi Riyal telah mengalami waktu paruh ke 2 (1 waktu paruh = 5.0 th).
  • Singapore Dollar telah mengalami waktu paruh ke 1.7 (1 waktu paruh = 4.9 th).
  • Japan Yen telah mengalami waktu paruh ke 1.7 (1 waktu paruh = 4.9 th).
  • Euro telah mengalami waktu paruh ke 1.6 (1 waktu paruh = 6.4 th).

Euro masih kelihatan perkasa, karena dia adalah mata uang muda yang awalnya nampak cukup kuat. Tetapi ke depannya Euro juga memiliki masa depan yang tidak kalah suramnya – lihat tulisan saya “Euro: Mata Uang Modern Yang Bisa Jadi Tidak Berusia Panjang”.

1 Saudi Riyal

1 Saudi Riyal

Saudi Riyal yang selama ini selalu dianggap sebagai mata uang yang stabil dari cerita-cerita jamaah haji; sekian puluh tahun lalu orang beli teh susu dengan harga 1 Riyal; sekarang-pun dapat. Bisa jadi untuk teh susu sekarang-pun masih dapat dengan harga 1 Riyal; namun minuman dan makanan lain semakin sulit dibeli dengan 1 Riyal. Jus buah bahkan kini berharga rata-rata 5 Riyal.

Yang paling akurat adalah mengukurnya dengan harga emas; bagi Anda yang pergi haji/umrah tahun 2000, saat itu Anda masih bisa membeli emas dengan harga Riyal 35/gram. Bila Anda pergi haji/umrah tahun ini – rata-rata harga emas sudah berada di kisaran Riyal 135/gram.

Jadi, nampaknya tidak ada mata uang kertas yang kita kenal yang bisa survive dari peluruhan nilai yang bersifat eksponensial ini. Oleh karenanya berdasarkan teori ini maka tidak ada mata uang kertas yang aman untuk tabungan dana panjang kita baik berupa tabungan pensiun, biaya pendidikan anak-anak, biaya kesehatan hari tua, dlsb.

Solusinya tidak harus kita menyimpan tabungan di emas/Dinar semua, karena kalau tidak hati-hati malah bisa jatuh ke hukum Yaknizun. Tabungan kita bisa berupa benda riil yamg bergerak (barang dagangan, barang modal, dlsb). Dengan kesungguhan kita, insya Allah kita bisa membendung arus peluruhan nilai ini dengan konsep Yuhsinun dan bahkan memutarnya untuk manfaat yang lebih luas dengan konsep Dullatan. Insya Allah.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Bila Dinar & Dirham Dipergunakan Sebagai Alat Transaksi


Dari Aiman r.a berkata : Saya masuk ke rumah Aisyah, di situ ada baju perempuan yang terbuat dari benang seharga lima Dirham. Kata Aisyah: “Lihatlah sahaya perempuanku, perhatikanlah dia!, dia merasa megah karena memakai pakaian itu dalam rumah.  Saya pernah memakai baju itu pada masa Rasulullah SAW. Setiap wanita yang ingin berdandan di Madinah, selalu mengirimkan utusannya kepadaku buat meminjamnya”. (Shahih Bukhari, Kitab 47, Hadits no 796)

Diriwayatkan dari ‘Urwa : Bahwa Nabi memberinya satu Dinar untuk membeli domba untuk beliau. ‘Urwa membeli dua ekor domba untuk beliau dengan uang tersebut. Kemudian dia menjual satu ekor domba seharga satu Dinar, dan membawa satu Dinar tersebut bersama satu ekor dombanya kepada Nabi. Atas dasar ini Nabi berdoa kepada Allah untuk memberkahi transaksi ‘Urwa. Sehingga ‘Urwa selalu memperoleh keuntungan (dari setiap perdagangannya) – bahkan seandainya dia membeli debu”.  (Di riwayat lain) ‘Urwa berkata:Saya mendengar Rasulullah SAW berkata, “Selalu ada kebaikan pada kuda sampai hari kiamat””. (Periwayat lainnya lagi menambahkan “saya melihat 70 ekor kuda di rumah ‘Urwa.”) (Sufyan berkata, “Nabi menyuruh ‘Urwa untuk membeli domba untuk beliau sebagai hewan qurban”.) (Shahih Bukhari, Kitab 56, Hadits No 836)

Diriwayatkan dari Abdullah Ibn UmarUmar ibn Al Khattab memberi nama untanya Bukhti untuk qurban. Ada yang menawar 300 Dinar untuk unta ini. Ia datang kepada Nabi SAW dan berkata : “ Ya Rasulullah, unta saya Bukhti yang saya niatkan untuk qurban ditawar 300 Dinar. Boleh kah saya jual kemudian saya membeli unta lain dengan uang tersebut? Jangan, qurban kan saja yang ini.(Hadits Sunan Abudawud, Kitab 10, hadits no 1752)

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik dari serangkaian hadits tersebut di atas, diantaranya adalah:

1) Kita  bisa memperoleh perpektif yang lebih jelas tentang kehidupan Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Bahwa keluarga beliau dan para sahabatnya hidup sederhana dan begitu akrab satu sama lain – sampai baju Aisyah yang indah sering dipinjamkan kepada kepada wanita-wanita Madinah.

2) Daya beli Dirham juga relatif stabil meskipun kursnya terhadap Dinar bisa saja berfluktuasi; yang disebut baju yang indah namun tidak berlebihan untuk Aisyah yang hidup sederhana – adalah seharga 5 Dirham. Dengan 5 Dirham, sekarang Anda-pun masih bisa memperoleh baju yang relatif indah yang tidak berlebihan.

3) Harga yang wajar untuk kambing standar saat itu adalah 1 Dinar; bahwasanya ‘Urwah bisa membeli 2 ekor kambing dengan 1 Dinar – ini nampaknya karena kepandaian ‘Urwah berdagang sehingga beliau dido’akan secara khusus oleh Rasulullah SAW. 2 ekor kambing yang dibeli ‘Urwah kemudian salah satunya dijual lagi dengan harga 1 Dinar dan 1 ekor yang lain dipertahankan untuk keperluan qurban Rasulullah SAW – ini menguatkan fakta bahwa baik kambing yang dijual maupun yang diserahkan ke Rasulullah SAW adalah kambing yang wajar ukurannya untuk  harga 1 Dinar (buktinya orang lain mau membeli 1 Dinar, dan Rasulullah-pun mau menerima kambing yang diperuntukkan sebagai hewan qurban beliau seharga 1 Dinar tersebut). 1 Dinar saat ini tetap dapat untuk membeli 1 ekor kambing dengan standar yang baik – ini membuktikan betapa stabilnya daya beli Dinar terhadap benda riil.

4) Kita jadi tahu ukuran atau nilai ‘kendaraan mewah’ saat itu yaitu unta terbaik seharga 300 Dinar. Atau kalau saat ini kira-kira setara SUV menengah atas Toyota Fortuner atau Mitsubishi Pajero Sport. Nilai seperti inilah yang dijadikan qurban oleh sahabat Rasulullah SAW yang mampu seperti Umar. Jadi bila Anda tergolong orang yang mampu berqurban dengan hewan qurban pilihan; lakukanlah itu – ( www.lembuageng.com menyediakan hewan-hewan qurban top end ini).

5) Pelajaran yang tidak kalah menariknya adalah customary atau kebiasaan masyarakat saat itu – kapan menggunakan Dinar untuk transaksi dan kapan menggunakan Dirham.

capitalUntuk kebutuhan transaksi yang nilainya tidak terlalu besar seperti untuk membeli baju, makanan sehari-hari dan lain sebagainya tentu tidak praktis menggunakan Dinar – maka digunakanlah Dirham. Jadi kalau sekarang-pun kita hendak mengganti uang fiat dengan uang riil untuk kebutuhan transaksi sehari-hari seperti membeli makanan dan belanja sehari-hari lainnya, Dirham insya Allah akan lebih sesuai ketimbang Dinar.

Memang dengan teknologi yang kita miliki teknologi M-Dinar, bisa saja kita membeli buku di Dinar World seharga 0.075 Dinar misalnya ; namun penggunaan Dinar untuk transaksi kecil di luar pasar yang sudah terintegrasi dengan sistem elektronik semacam Dinar World dan M-Dinar ini kemungkinan masih perlu waktu untuk bisa berjalan praktis.

Di luar transaksi dengan nilai kecil tersebut, sudah sangat banyak transaksi lain yang bisa kita fasilitasi dengan menggunakan Dinar – yaitu transaksi barang/jasa yang bernilai cukup besar. Karena Islam tidak mengajari kita untuk boros, tentu transaksi yang bernilai cukup besar ini arahnya bukan untuk kebutuhan konsumtif tetapi untuk kebutuhan produktif.

‘Urwah menggunakan Dinar untuk perdagangan kambingnya dan unta Umar juga dinilai dalam satuan Dinar – ini contoh yang baik untuk penggunaan Dinar sebagai transaksi perdagangan dan sebagai timbangan yang adil atau unit of account yang saat itupun sudah praktis apalagi sekarang. Dalam bahasa ekonomi, transaksi-transaksi atau penilaian yang sudah praktis dilakukan dengan Dinar seperti dalam 2 contoh hadits  tersebut adalah masuk kategori transaksi barang modal.

Karena Dinar kita arahkan untuk transaksi barang modal – artinya untuk menggerakkan kegiatan produktif – bukan konsumtif, maka tema sentral yang diusung kami adalah Investasi & Proteksi Nilai. Tema inilah yang  sering disalah pahami oleh pihak yang tidak bosan-bosannya mengkritisi kami, dalam pandangan mereka investasi ini diartikan sekedar membeli Dinar terus disimpan atau sekedar menumpuk Dinar untuk ditunggu naik nilainya. Tuduhan ini sama sekali tidak berdasar, karena sejak awal sekali kami memperkenalkan Dinar – para pengguna Dinar sudah kami ingatkan untuk tidak menimbun. Lihat tulisan kami  Bangun Ketahanan Ekonomi Keluarga Tetapi Jangan Menimbun misalnya.

Justru karena kami melihat bahwa transaksi dengan menggunakan Dinar yang paling mungkin untuk dilakukan saat ini adalah transaksi barang modal atau investasi tersebut, maka tidak terlepas dari gerakan sosialisasi Dinar ini – kita juga mendorong kegiatan produktif masyarakat yang bisa didanai atau digerakkan dengan Dinar.

Pesantren Wirausaha, Pinjaman Modal Usaha Tanpa Beban, Project Planet Jamur, Project Susu Kambing, IndoBarter, dan Berbagai Solusi Pembiayaan Berbasis Dinar yang kami lakukan bersama BMT Daarul Muttaqiin, dlsb. adalah upaya konkrit untuk mendorong penggunaan Dinar untuk transaksi produktif barang modal atau investasi. Di sini investasi artinya memutar aset atau menjadikan aset  bergerak memutar roda kegiatan produktif lainnya.

Jadi saat ini Dinar telah secara praktis digunakan untuk kebutuhan transaksi-transaksi yang bersifat produktif, sedangkan untuk transaksi yang bersifat konsumtif – ini sebenarnya lebih tepat dilakukan dengan Dirham.  Namun karena nilai Dirham saat ini masih didominasi oleh biaya cetaknya yang mahal, sementara kami belum fokuskan di sini. Semoga Allah memudahkan kita kepada jalan amal sholeh yang diridloiNya

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Euro: Uang Fiat Modern Yang Bisa Jadi Tidak Berusia Panjang


Meskipun kelahirannya menghebohkan dunia dan sempat menjadi harapan bangsa-bangsa di dunia untuk menjadi alternative reserve currencyEuro yang ibarat usia manusia sekarang baru memasuki usia ABG – ternyata tidak tumbuh sehat. Bahkan menurut investor legendaris Jim Rogers dalam siaran televisi business terkemuka CNBC pekan lalu menyatakan bahwa usia Euro paling-paling hanya bisa bertahan sekitar 15 tahun lagi dari sekarang (lihat video di link ini).

Jadi kalau dihitung sejak kelahirannya mulai digunakan resmi sebagai unit of account 1 Januari 1999 – dan jika prediksi Jim Rogers benar berarti usia Euro secara keseluruhan tidak akan lebih dari 30 tahun saja.

Di luar prediksi Jim Rogers tersebut, sebenarnya kita bisa melihat masa depan Euro ini secara lebih jelas bila kita gunakan timbangan emas. Sejak kelahirannya 11 tahun lalu itu, sampai sekarang nilai tukar Euro terhadap emas tinggal 30% saja. Bila trend menurun ini berlanjut, maka 15 tahun yang akan datang – daya beli Euro terhadap emas akan tinggal di kisaran 5% dibandingkan dengan saat kelahirannya.

Jim Rogers di CNBC

Jim Rogers di CNBC

Euro yang semula diharapkan menjadi mata uang modern yang hebat dan perkasa, ternyata kini memiliki masa depan yang sama suramnya dengan berbagai mata uang fiat lain di dunia. Lantas pelajaran apa yang mestinya dapat kita petik dari uang paling modern – yang lahir di era teknologi  ini?

Bayangkan bila uang yang digunakan sehari-hari oleh setidaknya 16 negara yang konon tergolong paling maju, dengan total penduduk di atas 327 juta dan dengan GDP terbesar di dunia (sekitar EUR 12.25 trilyun atau sekitar USD 16.52 trilyun) saja bisa jadi tidak akan survive dalam waktu yang lama – maka apa jadinya nasib uang fiat lain yang dikeluarkan oleh negara-negara yang lebih lemah ekonominya.

Dengan fakta tersebut di atas, maukah Anda menabung dalam Euro untuk biaya sekolah anak Anda sekian belas tahun yang akan datang? Saya rasa tidak.  Nah bila dengan Euro saja Anda tidak tertarik, bagaimana dengan mata uang lain yang ‘tidak lebih perkasa’ dari Euro dalam jangka panjang? Anda kini punya pilihan Anda sendiri. Mata uang negara-negara di dunia di luar European Union rata-rata telah berusia lebih panjang dari Euro – dalam arti namanya telah bertahan lebih lama, tetapi dalam arti daya beli rata-rata tidak bernasib lebih baik dari nasib Euro tersebut untuk kurun waktu yang sama. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Dunia Akan Membutuhkan Uang Baru Atau Sistem Barter Yang Canggih


Dalam tulisan saya awal pekan ini tentang bagaimana kita bisa mengalahkan inflasi, saya telah memberi gambaran betapa daya beli umat manusia di seluruh dunia tergerus oleh inflasi yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintahan negerinya masing-masing.

Kalau ada yang masih berpikir bahwa ada uang kertas dunia yang bertahan daya belinya, maka perhatikanlah kinerja uang kertas yang selama ini dipandang kuat di dunia seperti grafik di samping. Daya beli terhadap emas untuk Rupiah misalnya tinggal 20% selama 10 tahun terakhir, bila di awal tahun 2000 Anda bisa membeli 1 gram emas seharga Rp 66,000,- maka kini dengan uang yang sama Anda hanya bisa membeli 0.2 gram emas karena per gramnya kini telah menjadi Rp 330,000,-.

Bukan hanya Rupiah tetapi berbagai mata uang perkasa dunia-pun nasibnya hanya sedikit lebih baik dari Rupiah; dalam kurun waktu 10 tahun yang sama daya beli Poundsterling terhadap emas tinggal 23%, US Dollars tinggal 25%, Yen dan Sing Dollar tinggal 30% dan Euro tinggal 34%.

Mengapa emas pembandingnya? bukan data inflasi di masing-masing negara? Sederhana, di negara maju sekalipun seperti di Amerika yang katanya paling transparan dalam informasi – data inflasi resmi pemerintah negeri itu diragukan oleh rakyatnya sendiri sehingga munculah Shadow Government Statistic misalnya – pemerintah dianggap mempunyai ‘kepentingan’ terhadap data inflasi ini sehingga data yang dikeluarkan bisa jadi bukanlah data yang sebenarnya.

Di lain pihak daya beli emas sudah terbukti stabil selama lebih dari 1,400 tahun – bahwa 4.25 gram emas yang disebut 1 Dinar, selalu cukup untuk membeli 1 ekor kambing. Sehingga emas (bersama perak) memang layak sebagai satu-satunya timbangan yang adil dalam bermuamalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali dalam ‘Ihya Ulumuddin sejak 10 abad lalu.

Dengan penurunan daya beli uang kertas seperti tersebut di atas, disadari atau tidak umat manusia akan semakin banyak yang merindukan hadirnya uang yang adil yang nilainya bebas inflasi – meskipun bisa jadi uang ini tidak diakui sebagai uang oleh sistem moneter yang dianut dunia saat ini.

Bila otoritas-otoritas keuangan dunia menerima kembali uang bernilai intrinsik seperti emas/Dinar atau perak/Dirham, maka urusan pencarian uang baru ini selesai sudah. Tinggal copy paste dari Syariah Islam tentang bagaimana penggunaan emas dan perak ini diatur – semuanya sudah komplit dan sudah dijalankan selama lebih dari 1000 tahun.

Masalahnya adalah sistem keuangan dunia saat ini yang dikomandoi IMF menolak kehadiran uang emas ini, jadi apa kira-kira yang akan terjadi? Masyarakat akan semakin tidak mempercayai rezim uang kertas dunia, tetapi uang bernilai intrinsik yang didambakan terhambat kehadirannya sehingga sulit untuk tersedia secara cukup di masyarakat. Maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah Sistem Barter yang akan berkembang.

Sistem Barter

Sistem Barter

Dengan berbagai perkembangan teknologi data processing yang semakin cepat dan murah, tidak mustahil sistem barter nan canggih akan segera tersedia di pasar. Bahkan di negeri tetangga misalnya sudah ada perusahaan yang menawarkan sistem barter ini untuk transaksi perdagangan business to business. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan ini telah meng-klaim memiliki ratusan ribu customer based dan telah memiliki ‘uang’-nya sendiri yang disebut Barter Trade Credit.

Bila sistem barter berkembang (ketika uang kertas terus menurun legitimasinya), maka benda-benda riil lah yang berharga dan bukan lagi uang kertas. Dahulu saya sulit memahami mengapa sampai garam-pun disebut dalam Hadits Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi S.A.W bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”

Setelah mempelajari sistem barter ini, kini saya tahu rupanya tidak ada yang tidak penting dalam setiap benda yang disebut di dalam hadits barter tersebut di atas – jadi bukan hanya emas dan perak yang berharga tetapi garam-pun sangat berharga. Hidup menjadi sungguh hambar tanpa garam – karena makanan yang seharusnya enak-pun menjadi tidak ada rasanya, otak yang seharusnya cerdas menjadi tidak berfungsi (iodium dalam garam juga berfungsi mencerdaskan otak).

Jadi kalau garam-pun bernilai untuk barter, benda-benda lain yang Anda miliki dan peroleh dengan susah payah – tentu bernilai dan bermanfaat untuk Anda. Kalaupun toh Anda sudah tidak membutuhkannya lagi, bisa jadi ada orang lain yang membutuhkannya – mengapa tidak berfikir untuk dibarter saja? Wa allahu A’lam.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 5.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (0)

Investasi, Proteksi Nilai & Productivity: Kini Ketiganya Bisa Bersinergi


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada suatu pilihan dilematis tentang penggunaan dana investasi atau simpanan kita. Misalnya Anda mampu menabung 1 Dinar sebulan untuk biaya sekolah anak-anak Anda. Setelah 5 tahun Anda akan memiliki minimal 60 Dinar di tabungan Dinar Anda – yang insya Allah cukup untuk membiayai anak Anda masuk perguruan tinggi yang baik sekian tahun yang akan datang.

Namun sebelum dana tersebut digunakan untuk membiayai sekolah anak Anda, Anda juga ingin sekali terjun berwiraswasta dan yakin tentang peluang bisnis yang akan Anda tekuni – hanya modal yang jadi kendala. Dalam situasi demikian, mana yang akan Anda pilih?

  • Menggunakan dana tabungan biaya pendidikan anak Anda, dengan risiko ada kemungkinan Anda kesulitan memenuhi biaya pendidikan anak Anda nantinya.
  • Atau mempertahankan tabungan anak Anda apa adanya, dengan risiko mengurungkan niat Anda untuk berwiraswasta karena hambatan permodalan ini.
  • Atau menggunakan untuk usaha dahulu kemudian menabung kembali biaya sekolah anak Anda dari hasil usaha, dengan risiko saat itu harga Dinar/emas sudah tinggi sehingga akan berat untuk mengumpulkan 60 Dinar kembali seperti semula.

Situasi dilematis seperti ini dan sejenisnya, kini ada solusinya yang lebih aman untuk ketiganya. Ibarat soal ujian pilihan berganda (multiple choice), pilihan Anda kini bukan hanya pilih A atau B atau C; tetapi Anda kini bisa memilih ketiganya sekaligus yaitu A dan B dan C. Anda kini bisa memiliki tabungan Dinar yang terus tumbuh untuk keperluan jangka panjang Anda sekeluarga, Nilai daya beli Dinar yang stabil menjadi proteksi bagi investasi Anda dan pada saat yang bersamaan Anda dapat menggunakan tabungan tersebut sebagai jaminan atas modal usaha Anda.

Program Investasi, Proteksi dan Productivity dalam bentuk Pinjaman Tanpa Beban untuk komersial ini adalah produk terbaru hasil kreasi bersama kami dengan Koperasi BMT Daarul Muttaqiin. Intinya adalah Anda bisa memperoleh pinjaman modal dagang – kita fokuskan dahulu pada modal dagang karena kita memerlukan putaran yang cepat – sampai sebesar 90% dari simpanan Dinar Anda – tanpa beban biaya apapun sampai waktu maksimal 3 bulan. Bila dalam waktu 3 bulan Anda tidak bisa mengembalikan sebagian atau seluruhnya, maka tabungan Anda baru diambil sebesar jumlah yang gagal bayar tersebut.

Adapun syarat dan kondisi dari Pinjaman Tanpa Beban untuk tujuan komersial ini adalah sebagai berikut:

  1. Peminjam harus anggota koperasi/pemilik Tabungan M-Dinar dari BMT Daarul Muttaqiin atau peserta Qirad.
  2. Jumlah pinjaman tidak dibatasi, asal ada jaminan berupa Dinar fisik, Tabungan M-Dinar, atau modal Qirad yang besarnya 100/90 (111%) dari nilai pinjaman.
  3. Jaminan tidak harus dari pihak si peminjam, tetapi bisa dari pihak lain yang bersedia menjadi kafil (penjamin) dari si peminjam.
  4. Selama dijaminkan, Dinar senilai jaminan di simpanan atau Qirad tidak mendapatkan bagi hasil.
  5. Waktu pinjaman maksimum 3 bulan.
  6. Tidak dikenakan beban biaya apapun.
  7. Pinjaman diberikan dalam bentuk Dinar, dan dikembalikan juga dalam bentuk Dinar dalam jumlah yang sama.
  8. Peminjam hanya bisa meminjam sekali dalam satu periode; dia harus melunasi pinjaman sebelumnya bila hendak mengajukan pinjaman berikutnya.
  9. Karena program ini merupakan bentuk layanan pelengkap (complement) terhadap nasabah kami, maka Dinar yang bisa dijadikan jaminan oleh peminjam atau oleh kafil hanyalah Dinar standar Logam Mulia yang dibeli langsung dari kami ataupun melalui agen-agen resmi. Demikian pula pengembalian pinjaman juga harus merupakan Dinar standar Logam Mulia yang dibeli langsung dari kami atau agen-agen resminya.

Tata cara untuk mengajukan program Pinjaman Tanpa Beban ini juga kita buat sederhana sebagai berikut:

  1. Calon peminjam mengajukan proposal peminjaman yang bentuknya bebas, tetapi setidaknya menjelaskan tentang: detil usaha perdagangan yang memerlukan pendanaan, penanggung jawab usaha, besar dana yang dibutuhkan dan rencana pengembaliannya.
  2. Nama dan nomor account/aqad tabungan yang akan menjadi jaminan; kalau jaminan dari kafil maka yang dibutuhkan adalah nama dan nomor account/aqad dari kafil tersebut.
  3. Menandatangani Surat Perjanjian Pinjaman; bila melibatkan kafil – maka diperlukan juga surat jaminan dari kafil.

Dengan produk Pinjaman Tanpa Beban untuk kebutuhan komersial ini, insya Allah Dinar Anda akan semakin bermanfaat – bukan hanya untuk diri Anda beserta keluarga, tetapi juga menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

Lantas dengan produk ini apa yang kami peroleh? Imbalan langsung dari pinjaman ini mungkin memang tidak ada karena kan ini Program Pinjaman (Qard) – tidak boleh ada tambahan yang diperjanjikan di depan dalam bentuk apapun.

Balasan tidak langsungnya insya Allah sangat banyak, karena yang akan membalas adalah Dia Yang Maha Kaya yang ketika memberi rizki tidak perlu menghitung-hitung, dan Dia sangat mampu memberi rizki yang tidak kita sangka-sangka. Dia hanya akan membalas kebaikan dengan kebaikan pula, Hal Jaza Ul Ikhsan Illal Ikhsan….

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 5.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (2)

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is online
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes