Tag Archive | "BUMN"

Investasi di Era Competitive Devaluation: Jangan Mau Jadi Pelanduk


Dahulu di waktu Sekolah Dasar kita belajar pepatah yang kurang lebih berbunyi ?gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah?. Apes bener jadi pelanduk, dia tidak tahu menahu tentang urusan apa gerangan yang  membuat para gajah tersebut bertarung ? tetapi dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula ? maka matilah dia karena pertarungan ini. Sebuah artikel di The Wall Street Journal kemarin yang diberi judul Getting Ready for A Dollar Collapse? bercerita tentang pertarungan gajah US Dollar melawan  gajah-gajah Yuan, Euro, Yen dan berbagai mata uang kuat lainnya ? yang membuat mati para pelanduk, yaitu para penabung atau pemegang uang kertas dunia.

Pertarungan yang disebut Competitive Devaluation ini bermula dari krisis finansial global dalam 2 tahun terakhir. Biang keladinya adalah Amerika, dimana  2/3 isi balance sheet dari Federal Reserve-nya berasal dari surat berharga yang dikeluarkan oleh government sponsored enterprises ? semacam BUMN kitalah ? yaitu Fannie Mae dan Freddy Mac yang dibailed out pemerintahnya 2 tahun silam. Ini situasi ?jeruk makan jeruk?, yang hakekatnya pemerintah negeri ini sedang mencetak uang baru dari awang-awang.

Akibat perbuatannya ini ? karena uang baru terus dicetak dari awang-awang – maka ada proses penurunan daya beli US$ secara terus menerus. Hal ini nampak jelas pada perkembangan harga emas dunia dalam US$, bila rata-rata bulanan bulan Agustus 2008 harga emas berada pada angka US$ 839.02/Oz kini naik sekitar 44% pada bulan Agustus 2010 ini menjadi rata-rata US$ 1,209.66/Oz dengan trend masih ke atas. Mungkin saja akan terbatas efeknya apabila penurunan daya beli ini  hanya terjadi di AS, namun ternyata efek penurunan daya beli ini tidak akan terhenti di AS. Negara-negara lain yang nilai perdagangannya sangat tinggi dengan AS, seperti: China, Uni Eropa, Jepang, dlsb akan kehilangan daya saingnya bila uang mereka terlalu PERKASA terhadap  US Dollars.

quantitative-easingAkibatnya otoritas moneter negara-negara tersebut akan menempuh caranya sendiri-sendiri untuk menurunkan daya beli uangnya dengan perbagai program Quantitative Easing atau cara-cara ?creative? lainnya dalam mencetak uang dari awang-awang. Negara-negara lain yang tadinya tidak terimbas secara langsung-pun kemudian akan terpaksa mengikuti gerakan global dalam penurunan daya beli uang kertas ini, karena bila tidak maka mereka akan semakin tidak bisa bersaing dengan produk ekspor-nya.

Wal hasil, seluruh dunia kini seperti berpacu dalam menurunkan daya beli uang kertasnya ? atau berarti juga berpacu dalam inflasi. Lantas siapa yang jadi pelanduk-nya? Masyarakat secara umum yang tidak tahu menahu menjadi korban dalam bentuk harga barang-barang yang terus melambung, secara khusus para penabung yang meskipun angka uang yang ditabungnya bertambah ? daya beli uang yang ditabung tersebut semakin lama semakin turun karena hasil tabungannya kalah berpacu dengan inflasi.

Terus bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi hal ini? Yang terbaik adalah apabila terjadi perubahan paradigma cara berfikir dari kegemaran menabung menjadi kegemaran ber-investasi di sektor riil. Bagi Anda yang masih mempunyai kampung, menginvestasikan uang Anda di kampung dalam bentuk lahan-lahan yang diproduktifkan dengan berbagai tanaman sengon, jabon dan bahkan pisang, dlsb insya Allah akan lebih memberi manfaat bagi Anda dan masyarakat sekitar Anda. Bagi yang sudah tidak memiliki kampung, masih banyak terbuka lahan di Nusantara ini untuk Anda produktifkan baik untuk pertanian, perikanan, peternakan maupun kegiatan produktif lainnya.

Mengapa sektor riil ini lebih baik dari pada memegang uang kertas atau tabungan di era competitive devaluation ini? Sederhana alasannya, benda riil apapun yang Anda pegang dengan sendirinya akan melonjak nilainya ? ketika dunia rame-rame menurunkan daya beli mata uangnya.

Ketika kita tidak menjadi pelanduk, pertarungan para gajah tidak akan membuat kita mati ? maka jangan mau jadi pelanduk! Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

Goat & Gold Investment: Risk and Reward


Ketika beberapa waktu lalu saya diundang untuk memberi masukan di rapat BOD investment company-nya negeri jiran ? CEO yang membawa saya ke BOD-nya kesulitan menjelaskan apa profesi saya sekarang ? rata-rata mereka mengenal saya lama di dunia finansial.

Maka akhirnya saya sendiri yang memperkenalkan apa yang saya lakukan sekarang; ringkasnya saya jelaskan bahwa saat ini saya tidak lagi di dunia finansial tetapi di sektor riil yang saya sebut sebagai Goat & Gold Invesment. Tambah penasaran mereka ? karena ini adalah hal yang sama sekali baru di dunia investasi.

Nah penjelasan saya di rapat BOD ?BUMN?- nya negeri jiran tersebut, relevan sekali dengan minat para pembaca situs ini yang mem-bludak untuk investasi di kambing selain di Dinar yang sudah jalan selama ini.

Kambing dan emas atau Dinar adalah dua hal yang sangat erat dalam sistem ekonomi dan Syariah Islam. Selain seluruh nabi-nabi menggembala kambing, kambing dan Dinar digunakan untuk standar pelaksanaan hukum-hukum tertentu dalam syariah. Misalnya ketika Anda pergi haji bersama istri, karena tidak tahu atau tidak tahan sehingga Anda melakukan hubungan suami istri sebelum tahallul ? maka Anda terkena denda untuk menyembelih 7 ekor kambing atau 1 ekor unta. Sedangkan Dinar sudah sering saya jelaskan sebagai standar nishab zakat, nishab pencuri, uang darah, dlsb.

Karena kambing dan Dinar merupakan bagian tidak terpisahkan dari syariat agama akhir zaman ini, maka pastilah keberadaannya dijamin oleh yang membuat syariat itu sendiri sampai akhir zaman. Hal ini memudahkan kita dalam memilih bidang investasi atau pekerjaan, karena yang kita lakukan hanyalah menyesuaikan dengan apa yang dikehendakiNya.

Selain penggunaannya dalam pelaksanaan syariah, secara historis keduanya juga memiliki hubungan nilai yang sangat dekat ? yaitu harga kambing standar qurban bertahan di sekitar 1 Dinar selama lebih dari 1400 tahun. Inilah kaidah itu; standar Hukum Islam itu valid dan dapat diandalkan sampai akhir zaman.

Dengan fakta-fakta tersebut di atas-lah maka insya Allah tidak salah bila kita menjadikan Goat & Gold ini sebagai instrumen investasi kita. Yang kemudian perlu disadari adalah bahwa dalam hal investasi, kambing memiliki karakter yang sangat berbeda dengan emas atau Dinar. Justru perbedaan karakter inilah yang membuat keduanya bisa disinergikan untuk saling melengkapi.

Dinar sebagai investasi merupakan instrumen yang sangat aman karena tidak pernah kehilangan nilai atau daya beli; appresiasi nilainya mampu mengalahkan inflasi. Namun meskipun appresiasi nilai Dinar ini bisa berkisar antara 3 ? 5 kali bagi hasil deposito dalam 10 tahun terakhir, 1 Dinar akan tetap 1 Dinar bila Anda simpan dalam berapa lama-pun. Dinar tidak beranak dan daya belinya tetap setara 1 ekor kambing.

Kavling di Jonggol Farm

Kavling di Jonggol Farm

Di sisi lain kambing, standarnya 2 tahun beranak 3 kali. Jumlah anak normalnya sekali beranak adalah 2 meskipun bisa lebih atau berkurang. Namun memelihara kambing adalah investasi yang penuh risiko. Kematian oleh berbagai sebab penyakit adalah ancaman utamanya, selain risiko-risiko lain yang tingkatnya lebih rendah seperti kelambatan reproduksi, berkurangnya hasil susu karena problem pakan, dlsb.

Risiko-risiko tersebut bisa di minimize dengan adanya team dokter yang competent, adanya ahli reproduksi dan ahli pakan ? tetapi  risiko-risiko tersebut di atas tidak bisa dihilangkan sama sekali.

Dalam ilmu risk management yang syar?i; risiko-risiko yang harus kita hadapi tersebut tidak boleh kita transfer ke orang lain seperti asuransi konvensional ataupun mekanisme risk transfer lainnya ? karena berarti ini memindahkan mudharat ke orang/pihak lain atau jual beli dengan gharar.

Lantas bagaimana solusinya? Dalam Islam dikenal konsep yang sangat indah yaitu tolong menolong atau ta’awun. Maka kepada para investor atau Shahibul Mal di project investasi kambing, kami perkenalkan konsep ta’awun dengan Shahibul Mal lain dan atau dengan kami. Ini yang disebut risk sharing; jadi risk transfer dilarang ? namun risk sharing dianjurkan.

Kandang Kambing - Jonggol Farm

Kandang Kambing - Jonggol Farm

Dalam aqad Mudharabah Muqayyadah yang untuk sementara ini kami batasi minimal setara 10 kambing per peserta ? maka ada 10 peserta dalam 1 kandang kambing standar kami yang isinya sampai 100 ekor kambing. Bila tanpa ta’awun, pemilik 10 ekor kambing yang mengalami musibah kematian 3 ekor kambing misalnya ? maka dia akan menanggung sendiri kehilangan 30% dari investasinya tersebut. Tetapi bila kematian 3 ekor ini di-share dengan pemilik 100 ekor kambing, maka kehilangan ini rata-rata hanya 3%. Sebaliknya juga demikian bila beranak dan menghasilkan susu ?hasilnya juga di-share ke sesama pemilik kambing lain dalam kandang yang sama.

Dengan menggabungkan ke dalam bilangan yang lebih besar ? risiko insya Allah akan lebih stabil dan terkendali  - inilah yang disebut law of large numbers atau hukum bilangan besar dalam ilmu risk management.

Perlu disadari bahwa meskipun berbagai upaya tersebut dilakukan, investasi kambing tetap akan lebih berisiko ketimbang Dinar ? meskipun memang investasi kambing ini juga berpeluang memberi reward yang lebih besar ketimbang Dinar. Disamping reward lain berupa banyaknya lapangan pekerjaan yang tumbuh dari adanya investasi kambing ini.

Lantas bagaimana Anda memilih antara kedua investasi ini? Prinsip dasar investasi tidak menaruh seluruh telur dalam satu kandang-lah yang berlaku. Untuk persiapan pergi haji, biaya kesehatan, biaya anak sekolah dan lain sebagainya yang merupakan kebutuhan pokok Anda bila ada uang ? maka memegangnya dalam Dinar secukupnya untuk keperluan-keperluan tersebut ? insya Allah akan sangat aman dan bermanfaat.

Di atas keperluan yang sifatnya pokok tersebut bila Anda masih memiliki dana lebih ? baru ke investasi seperti ke per-kambing-an ini. Insya Allah hasilnya akan beda, karena selain ada harapan hasil finansial yang lebih tinggi ? banyaknya lapangan pekerjaan yang tercipta dari project semacam ini insya Allah membawa barakah.

Bila Anda tertarik lebih jauh dengan project perkambingan ini dan peluang-peluang yang hadir bersamanya, kami sudah siapkan satu situs khusus di jonggolfarm.com. Meskipun demikian mohon maaf bila kami belum bisa memenuhi minat para (calon) Shahibul Mal seluruhnya ? karena untuk memenuhi membludaknya peminat yang sudah ada saja saat ini ? insya Allah diperlukan waktu sampai sekitar 3 bulan yang akan datang untuk persiapan kandang, bibit, pakan, dlsb.

Sambil menunggu sarana prasarana tersebut, dana peminat kami simpan dalam Dinar agar tidak kehilangan daya beli. Setiap kandang dan bibit tersedia, tentu kami prioritaskan pada Shahibul Mal yang telah lama dananya di kami dalam bentuk Dinar ini. Maka Goat & Gold kini menjadi pasangan investasi yang ideal untuk Anda.

Semoga Allah senantiasa memudahkan jalanNya pada kita semua. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Pasar 30, 60 dan 160 Juta Orang, Siapa Yang Punya?


Berdasarkan data dari Internet World Stats yang untuk Indonesia nampaknya menggunakan data APJII, penetrasi pengguna Internet di Indonesia masih menempati ranking paling rendah dibandingkan negara-negara ASEAN. Penetrasi kita baru mencapai 12.5%, dibandingkan Singapore yang mencapai 72.4% – bahkan pendatang baru Vietnam sudah mencapai 25.7%.

Rendah dalam penetrasi tidak berarti rendah dalam jumlah pengguna. Karena penduduk Indonesia mencapai lebih dari 240 juta tahun lalu, penetrasi yang hanya 12.5% ini ? kini telah mencapai 30 juta pengguna internet di Indonesia sampai kwartal ke 3 tahun lalu. Pengguna internet di Indonesia saja, kurang lebih sama dengan jumlah penduduk 3 negara tetangga digabung yaitu Malaysia, Singapore dan Brunei.

Dari sudut pandang seorang pemasar, hal ini adalah luar biasa! Bayangkan, bila kita bisa menggarap pengguna internet di Indonesia saja ? Anda seperti memiliki pasar yang segede 3 negara tersebut di atas. Dan jangan lupa, pengguna internet Indonesia adalah juga tergolong masyarakat menengah atas ? yang daya beli rata-ratanya saya yakin tidak kalah dengan daya beli rata-rata penduduk di ke-3 negara tersebut.

Nah sekarang masalahnya adalah apakah di dalam pasar yang besarnya tahun lalu saja mencapai 30 juta orang tersebut, kita sebagai pasar (pembeli) saja? atau kita juga dapat menjadi pemasar (penjual)? Di sinilah peluang itu!

asia2010topUntuk berjualan di internet, tidak harus dibutuhkan modal yang besar. Bahkan perbedaan perusahaan raksasa dengan perusahaan kecil ? tidak begitu nampak bila keduanya tampil di internet. Di internet orang lebih membutuhkan reliability informasi dan layanan ketimbang ukuran perusahaan.

Dinar adalah contohnya. Di Indonesia Dinar hanya diproduksi oleh Logam Mulia ? PT. Aneka Tambang Tbk (BUMN) ? yaitu raksasa BUMN di bidangnya. Namun dalam hal penjualan Dinar via internet ? meskipun DinarIslam.Com hanya menjual satu jenis produk dari produsen raksasa ini, insya Allah pasar DinarIslam.Com tidak kalah dengan pasar yang dijangkau oleh produsennya sendiri.

Peluang-peluang semacam ini belum terjadi 10 tahun lalu misalnya. Ketika itu kami meluncurkan situs KeluargaMuslim.Com ? yang ditangani team yang kuat ? dan bermitra dengan organisasi sosial yang sudah besar, namun karena saat itu pengguna internet masih kurang dari 2 juta orang ? maka tidak banyak yang bisa digarap, sehingga situs tersebut hanya bisa bertahan 2 tahun.

Gambaran betapa besarnya pasar internet ini juga dapat dilihat di situs-situs baru yang kami luncurkan sebulan terakhir. Di KambingOnline.Com misalnya, ada iklan peluang investasi di industri perkambingan yang sedang kami bangun ? belum sebulan iklan ini sudah diminati oleh 1,757 peminat investasi sampai pagi ini.

Di situs Dinar World ada mainan Islami Zakati yang dalam 2 pekan diminati oleh 356 pengunjung. Masalah berapa banyak yang benar-benar terjadi terjadi transaksi, ini hanya masalah teknis untuk membuat produk/iklan lebih menarik, reliable dan deliverable, namun peluang besar itu benar-benar ada.

Melihat peluang yang besar tersebut, dan agar umat ini tidak hanya jadi pasar ? tetapi juga menjadi pemasar, maka angkatan Pesantren Wirausaha berikutnya (angkatan 12) yang akan kita adakan awal bulan depan ? insya Allah akan menggarap tema Netpreneur ini.

Netpreneurship yang kita bangun tidak hanya membangun bisnis dunia maya seperti bisnis dotcom pada umumnya, tetapi kita ingin membangun sektor riil yang didukung teknologi dunia maya untuk menjangkau pasar dan sumber dayanya. Sama seperti ketika kita membangun DinarIslam.Com; Dinar Islam secara fisiknya benar-benar ada ? sehingga bagi masyarakat yang kurang comfortable dengan transaksi internet tetap dapat bertransaksi secara fisik.

Demikian pula dengan KambingOnline.Com, kita hanya luncurkan setelah kandang-kandang kambing bertaraf Internasional terbangun, terisi dengan kambing dan bahkan sudah menghasilkan bibit kambing dan susu kambing.

Dengan langkah-langkah ini, kita ingin mengajak umat agar menjadikan teknologi internet yang mau tidak mau telah hadir dalam kehidupan kita sebagai peluang untuk menggapai kedaulatan ekonomi. Bila pasar tersebut kini seukuran 30 juta orang, maka ketika penetrasi kita mencapai penetrasi yang sama dengan Vietnam saja di angka sekitar 25% – maka saat itu pasar ini ukurannya telah menjadi 60 juta orang minimal; ketika penetrasi internet kita menyamai Malaysia saat ini yaitu di angka sekitar 65%, maka pasar inipun minimal menjadi 160 juta orang!!! Lantas siapa lagi yang seharusnya menggarap pasar ini, selain kita?? Semoga Allah memudahan langkah kita ini. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Ketika Aset Anda Nilainya Ditentukan Oleh Isu


Dalam tulisan saya 2 hari lalu tentang Gold Wars saya ungkapkan bahwa emas ?dibenci? pemerintah dan otoritas dunia, karena begitu mudah digunakan untuk membaca masalah-masalah yang melanda sistem finansial yang ada. Melesatnya harga emas dunia semalam yang menembus angka di atas US$ 1,200/Oz membuktikan hal ini, bahwa sistem keuangan dunia lagi sakit dan ada kemungkinan komplikasi yang parah.

Awalnya penyakit itu berasal dari krisis yang melanda Yunani, kemudian menular ke tetangganya yang pertahanan ?tubuh? ekonominya juga lemah seperti Portugal dan Spanyol, kemudian seluruh Eropa terpengaruh dengan anjloknya Euro mendekati 9% sejak awal tahun ini.

Dan puncaknya semalam ketika dalam beberapa jam perdagangan saja Index Dow Jones Industrial terpangkas hampir 1000 points. Secara umum dalam perdagangan bursa dunia kemarin, rata-rata indexs turun di atas 3%.

Dengan wabah yang ditularkan oleh Yunani ini, semua nilai aset yang ditentukan dengan mata uang kertas menjadi semu. US$ yang nampak relatif perkasa saja bila dibandingkan dengan mata uang kertas lainnya, setahun terakhir nilainya turun sebesar hampir 25% dibandingkan dengan emas ? atau per pagi ini harga emas dalam US$ setahun terakhir naik sekitar 32%.

Apakah dampak krisis ini juga akan menjangkau kita yang ribuan miles jauhnya dari Yunani? secara fisik memang kita berjauhan dari epicentrum krisis. Namun secara sistem, semua saling terkait. Ketika bursa dunia berjatuhan, maka bursa kita-pun ikut jatuh.

Selain sistem yang saling terkait, komplikasi lain yang sifatnya internal kita juga ada, yaitu pertahanan ?tubuh? dari sistem keuangan kita lagi rentan isu pergantian pejabat otoritas keuangan negeri ini. Karena berbagai hal inilah nilai uang Rupiah kita dalam  sepekan terakhir turun sampai sekitar 4% bila dibandingkan dengan US$, dan turun sekitar 8% bila dibandingkan dengan harga emas.

Karena selama ini kita menggunakan unit of account Rupiah dalam menilai aset-aset atau transaksi kita, maka ketika nilai mata uang kertas kita jatuh ? nilai aset-aset tersebut juga ikut jatuh. Misalkan sepekan lalu Anda bernegosiasi untuk membeli rumah seharga Rp 1 Milyar ? saat itu nilainya  setara dengan 685 Dinar; bila Anda selesaikan transaksi tersebut hari ini maka rumah yang harganya Rp 1 Milyar tersebut ? kini cukup Anda beli seharga 628 Dinar. Dalam Rupiah tetap, tetapi dalam Dinar rumah tersebut telah turun nilainya sebesar 8% lebih ? dalam sepekan!

Banner: "We are struggling to live"

A banner says "We are struggling to live"

Proses yang sama inilah yang membuat aset-aset negeri ini, baik yang berasal dari BUMN maupun swasta ? berpindah tangan dari kepemilikan bangsa ini ketangan asing paska krisis 1997/1998. Ketika nilai uang kita paska krisis tinggal ¼-nya dibandingkan dengan sebelum krisis, betapa murahnya aset-aset bangsa ini bila dibeli dengan mata uang asing yang lebih perkasa melalui masa krisis.

Sehingga jangan heran bila Anda sempat berjalan di sepanjang jalan protokol ibukota yaitu dari ujung Jl. Thamrin di utara sampai ke ujung Jl. Sudirman di selatan ? tengoklah kiri kanan dan lihatlah papan nama ? panan nama yang menjulang indah di pencakar langit ? pencakar langit pusat bisnis kebanggaan kita tersebut, lalu bertanyalah siapa yang memiliki saham (mayoritas) perusahaan-perusahaan tersebut? jawabannya kemungkinan besar bukan kita lagi.

Di pintu gerbang Jalan Thamrin ada perusahaan telekomunikasi kebanggaan bangsa ini (dahulu) ? kini negeri ini tinggal memiliki saham 14.29 % saja; 65 %-nya milik asing dan sisanya 20.71% publik ? yang bisa jadi sebagiannya juga asing.

Mendekati ujung Jalan Sudirman ada bank swasta kebanggaan kita (dahulu), bank ini didirikan oleh para pengusaha pejuang yang sebagian besarnya saya kenal pribadi dengan sangat baik.  Bahkan waktu mereka mendirikan bank tersebut tahun 1955 ? motifnya bukan untuk mencari keuntungan, tetapi ingin mengisi kemerdekaan! Ironi sekali, karena bank tersebut kini ultimate shareholder-nya adalah suatu group perusahaan dari negeri jiran.

Pengalaman-pengalaman memilukan banyak terjadi dialami oleh temen-temen yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang diambil alih pihak asing ini, bukan masalah materi ? tetapi lebih kepada masalah harga diri. Setelah 65 tahun merdeka, ternyata yang banyak ?mengisi? kemerdekaan ini bukan lagi kita ? tetapi para investor asing baik dari negeri jiran maupun dari negeri yang jauh :(

Lantas bagaimana kita menghindari pengalaman ini terus dan terus terulang, baik dalam skala pribadi maupun dalam skala bangsa? Jawabannya adalah pertahankan nilai kekayaan kita dengan unit of account yang sesungguhnya, yang nilainya tidak mudah rusak oleh isu dan tidak terpengaruh oleh wabah penyakit global seperti penyakit yang ditularkan oleh negeri nun jauh disana ? Yunani.

Dinar bisa menjadi solusi yang konkrit untuk hal ini, kalau toh di tingkat perusahaan atau negara belum bisa mengambil Dinar ini sebagai solusi ? toh kita sudah bisa mengamankan aset kita sendiri dengan Dinar ini. Mulai yang kita bisa, mulai yang kita tahu ? insya Allah, Allah akan membimbing kita terhadap apa yang kita belum tahu… Amin.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes